Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

PEDAGANG BESAR FARMASI (PBF)

OLEH :

Stacya Eleonora F.15.131 Kasmalia F.15.068


Irma Damayanti F.15.063 Mustika Drupadi F.15.084
Rilya Hastiana Safitri F.13.110 Musdalifah F.15.083
Friska Anggraeni F.14.051 Rusmiati F.14.119
Bambang F.15.017 Sarniah F.14.121
Riska Wahyuni F.15.114 Wa Ode Asningsih La Ici F.14.150
Riski Damayanti F.15.115 Salima S. F.15.118
Sulhija wati F.15.136 Seri Paica F.15.122
Suria F.15.137 Monica Niriwa Lewikinta F.15.077

POLITEKNIK BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA III FARMASI
KENDARI
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Undang-Undang No. 36 Tahun 2009, kesehatan adalah

keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang

memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan

ekonomis. Dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang

setinggi-tingginya maka perlu dilakukan suatu upaya kesahatan. Pelaksanaan

upaya kesehatan dapat dilakukan dalam bentuk pencegahan penyakit,

peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan oleh

pemerintah dan/atau masyarakat (Presiden Republik Indonesia, 2009).

Dalam pelaksanaan upaya kesehatan, apoteker memegang peranan

penting demi tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-

tingginya. Hal tersebut dapat dilakukan oleh seorang Apoteker dengan

melaksanakan pekerjaan kefarmasian. Pekerjaan kefarmasian tersebut yaitu

pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan


pelayanan
dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, obat atas

resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat

dan obat tradisional. Hal tersebut dapat diwujudkan oleh seorang Apoteker

melalui pengabdiannya pada pedagang besar farmasi (Presiden Republik

Indonesia, 2009).

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.

1148/MENKES/PER/VI/2011 tentang Pedagang Besar Farmasi (PBF), PBF

adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk


pengadaan, penyimpanan, penyaluran sediaan farmasi dalam jumlah besar

sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Pedagang Besar Farmasi

(PBF) sebagai merupakan salah satu unit terpenting dalam kegiatan

penyaluran sediaan farmasi ke fasilitas pelayanan kesehatan seperti apotek,

instalasi farmasi rumah sakit, puskesmas, klinik dan toko obat agar dapat

sampai ke tangan masyarakat. Apoteker sebagai penanggung jawab di PBF

harus mampu melakukan kegiatan pengelolaan sediaan farmasi di PBF

dimulai dari pengadaan, penyimpanan hingga pendistribusian sediaan farmasi

ke sarana pelayanan kesehatan (Kementerian Kesehatan RI, 2011).

Pedagang besar farmasi merupakan salah satu tempat pengabdian

profesi seorang asisten apoteker merupakan terpenting dalam

mendistribusikan sediaan farmsi melalui apotek, rumah sakit atau tokoh obat

ke tangan konsumen. Perbekalan farmasi meliputi obat, bahan obat dan alat

kesehatan. Obat adalah salah satu bahan atau paduan bahan yang dimaksud

untuk digunakan dalam menetapkan diagnosa, mencegah, mengurangkan,

menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badania dan

rohania pada manusia atau hewan.


B. Tujuan dan Manfaat PKL

1. Tujuan

Adapun tujuan dari Praktek Kerja Lapangan ini adalah untuk

mengetahui kegiatan pengadaan obat, penyimpanan dan

penyaluran/pendistribusian obat di PBF.

2. Manfaat

Adapun manfaat dari PKL ini adalah :

a. Bagi Akademik

Menambah referensi bagi perpustakaan dan sebagai masukan

untuk meningkatkan mutu pindidikan dan kelulusannya.

b. Bagi Mahasiswa

Menambah pengalaman dan dapat membandingkan antara teori

yang diajarkan dan keadaan dilapangan.

a. Menambah wawasan keilmuan tentang kegiatan di Pedagang Besar

Farmasi lebih luas dengan melihat kondisi yang ada di lapangan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pedagang Besar Farmasi (PBF)

MenurutPeraturanMenteriKesehatanRepublik Indonesia Nomor

1148/MENKES/PER/VI/2011 tentangPedagangBesarFarmasi yang

dimaksuddenganPedagangBesarFarmasi, yang selanjutnyadisingkat PBF

adalahperusahaanberbentukbadanhukum yang memilikiizinuntukpengadaan,

penyimpanan,

penyaluranobatdan/ataubahanobatdalamjumlahbesarsesuaiketentuanperaturan

perundang-undangan.

MenurutPeraturanPemerintahRepublik Indonesia Nomor 51 Tahun

2009 tentangPekerjaanKefarmasianPasal 1 ayat 12 yang

berbunyiPedagangBesarFarmasiadalahperusahaanberbentukbadanhukum

yang memilkiizinuntukpengadaan, penyimpanan,

penyaluranperbekalanfarmasidalamjumlahbesarsesuaiketentuanperaturanperu

ndang-undangan.

B. Tugas dan Fungsi PBF

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI no.

1148/MENKES/PER/VI/2011 Tentang PBF. Tugas dan fungsi PBF yaitu :

1. Menyelenggarakan pengadaan, penyimpanan dan penyaluran obat.

2. PBF mempunyai fungsi sebagai tempat pendidikan dan pelatihan.


C. Perizinan PBF

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1148/MENKES/PER/VI/2011 Tentang Pedagang Besar Farmasi, Perizinan

PBF diatur dalam :

Pasal 2

1. Setiap pendirian PBF wajib memiliki izin dari Direktur Jenderal.

2. Setiap PBF dapat mendirikan PBF Cabang.

3. Setiap pendirian PBF Cabang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib

memperoleh pengakuan dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi di wilayah

PBF Cabang berada.

Pasal 3

1. Izin PBF berlaku 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi

persyaratan.

2. Pengakuan PBF Cabang berlaku mengikuti jangka waktu izin PBF.

Pasal 4

1. Untuk memperoleh izin PBF, pemohon harus memenuhi persyaratan

sebagai berikut:

a. berbadan hukum berupa perseroan terbatas atau koperasi;

b. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);

c. memiliki secara tetap apoteker Warga Negara Indonesia sebagai

penanggung jawab;
d. komisaris/dewan pengawas dan direksi/pengurus tidak pernah terlibat,

baik langsung atau tidak langsung dalam pelanggaran peraturan

perundang-undangan di bidang farmasi;

e. menguasai bangunan dan sarana yang memadai untuk dapat

melaksanakan pengadaan, penyimpanan dan penyaluran obat serta

dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi PBF;

f. menguasai gudang sebagai tempat penyimpanan dengan perlengkapan

yang dapat menjamin mutu serta keamanan obat yang disimpan; dan

g. memiliki ruang penyimpanan obat yang terpisah dari ruangan lain

sesuai CDOB.

2. Dalam hal permohonan dilakukan dalam rangka penanaman modal,

pemohon harus memperoleh persetujuan penanaman modal dari instansi

yang menyelenggarakan urusan penanaman modal sesuai ketentuan

peraturan perundang-undangan.

Pasal 5

Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, PBF

yang akan menyalurkan bahan obat juga harus memenuhi persyaratan:

a. memiliki laboratorium yang mempunyai kemampuan untuk pengujian

bahan obat yang disalurkan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan

Direktur Jenderal; dan

b. memiliki gudang khusus tempat penyimpanan bahan obat yang terpisah

dari ruangan lain.


Pasal 6

1. Terhadap permohonan izin PBF dikenai biaya sebagai penerimaan negara

bukan pajak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

2. Dalam hal permohonan izin PBF sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

ditolak, maka biaya yang telah dibayarkan tidak dapat ditarik kembali oleh

pemohon.

D. Persyaratan PBF

Pasal 4

1. Untuk memperoleh izin PBF, pemohon harus memenuhi persyaratan

sebagai berikut :

a. berbadan hukum berupa perseroan terbatas atau koperasi;

b. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);

c. memiliki secara tetap apoteker Warga Negara Indonesia sebagai

penanggung jawab;

d. komisaris/dewan pengawas dan direksi/pengurus tidak pernah terlibat

baik langsung atau tidak langsung dalam pelanggaran peraturan

perundang-undangan di bidang farmasi dalam kurun waktu 2 (dua)

tahun terakhir;

e. menguasai bangunan dan sarana yang memadai untuk dapat

melaksanakan pengadaan, penyimpanan dan penyaluran obat serta

dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi PBF;

f. menguasai gudang sebagai tempat penyimpanan dengan perlengkapan

yang dapat menjamin mutu serta keamanan obat yang disimpan; dan g.
memiliki ruang penyimpanan obat yang terpisah dari ruangan lain

sesuai CDOB.

2. Dalam hal permohonan dilakukan dalam rangka penanaman modal,

pemohon harus memperoleh persetujuan penanaman modal dari instansi

yang menyelenggarakan urusan penanaman modal sesuai ketentuan

peraturan perundang-undangan.

Pasal 7

1. Untuk memperoleh izin PBF, pemohon harus mengajukan permohonan

kepada Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Kepala Badan, Kepala

Dinas Kesehatan Provinsi dan Kepala Balai POM dengan menggunakan

contoh Formulir 1 sebagaimana terlampir.

2. Permohonan harus ditandatangani oleh direktur/ketua dan apoteker calon

penanggung jawab disertai dengan kelengkapan administratif sebagai

berikut:

a. fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)/identitas direktur/ketua;

b. susunan direksi/pengurus;

c. pernyataan komisaris/dewan pengawas dan direksi/pengurus tidak

pernah terlibat pelanggaran peraturan perundangundangan di bidang

farmasi dalam kurun waktu 2 (dua) tahun terakhir;

d. akta pendirian badan hukum yang sah sesuai ketentuan peraturan

perundang-undangan;

e. surat Tanda Daftar Perusahaan;

f. fotokopi Surat Izin Usaha Perdagangan;


g. fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak;

h. surat bukti penguasaan bangunan dan gudang;

i. peta lokasi dan denah bangunan

j. surat pernyataan kesediaan bekerja penuh apoteker penanggung jawab;

dan

k. fotokopi Surat Tanda Registrasi Apoteker penanggung jawab.

3. Untuk permohonan izin PBF yang akan menyalurkan bahan obat selain

harus memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus

melengkapi surat bukti penguasaan laboratorium dan daftar peralatan.

Pasal 8

1. Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak diterimanya tembusan

permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1), Kepala Dinas

Kesehatan Provinsi melakukan verifikasi kelengkapan administratif

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dan ayat (3).

2. Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak diterimanya tembusan

permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1), Kepala Balai

POM melakukan audit pemenuhan persyaratan CDOB.

3. Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak dinyatakan memenuhi

kelengkapan administratif, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi

mengeluarkan rekomendasi pemenuhan kelengkapan administratif kepada

Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Kepala Balai POM dan

pemohon dengan menggunakan contoh Formulir 2 sebagaimana terlampir.


4. Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak melakukan audit

pemenuhan persyaratan CDOB, Kepala Balai POM melaporkan pemohon

yang telah memenuhi persyaratan CDOB kepada Kepala Badan.

a. Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak menerima laporan

sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Kepala Badan POM memberikan

rekomendasi pemenuhan persyaratan CDOB kepada Direktur Jenderal

dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan

pemohon dengan menggunakan contoh Formulir 3 sebagaimana

terlampir.

5. Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak menerima rekomendasi

sebagaimana dimaksud pada ayat (4a) serta persyaratan lainnya yang

ditetapkan, Direktur Jenderal menerbitkan izin PBF dengan menggunakan

contoh Formulir 4 sebagaimana terlampir.

6. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ayat (4), ayat

(4a) dan ayat (5) tidak dilaksanakan pada waktunya, pemohon dapat

membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Direktur

Jenderal dengan tembusan kepada Kepala Badan, Kepala Balai POM dan

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dengan menggunakan contoh Formulir 5

sebagaimana terlampir.

7. Paling lama 12 (dua belas) hari kerja sejak diterimanya surat pernyataan

sebagaimana dimaksud pada ayat (6), Direktur Jenderal menerbitkan izin

PBF dengan tembusan kepada Kepala Badan, Kepala Dinas Kesehatan


Provinsi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Kepala Balai

POM.

Pasal 9

1. Untuk memperoleh pengakuan sebagai PBF Cabang, pemohon harus

mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dengan

tembusan kepada Direktur Jenderal, Kepala Balai POM, dan Kepala Dinas

Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan contoh Formulir 6

sebagaimana terlampir.

2. Permohonan harus ditandatangani oleh kepala PBF Cabang dan apoteker

calon penanggung jawab PBF Cabang disertai dengan kelengkapan

administratif sebagai berikut:

a. fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)/identitas kepala PBF Cabang;

b. fotokopi izin PBF yang dilegalisasi oleh Direktur Jenderal;

c. surat penunjukan sebagai kepala PBF Cabang;

d. pernyataan kepala PBF Cabang tidak pernah terlibat pelanggaran

peraturan perundang-undangan di bidang farmasi dalam kurun waktu 2

(dua) tahun terakhir;

e. surat pernyataan kesediaan bekerja penuh apoteker calon penanggung

jawab;

f. surat bukti penguasaan bangunan dan gudang;

g. peta lokasi dan denah bangunan; dan h. fotokopi Surat Tanda Registrasi

Apoteker calon penanggung jawab.


3. Untuk permohonan pengakuan sebagai PBF Cabang yang akan

menyalurkan bahan obat selain harus memenuhi persyaratan sebagaimana

dimaksud pada ayat (2) harus melengkapi surat bukti penguasaan

laboratorium dan daftar peralatan.

E. Landasan Hukum PBF

Dalam pelaksanaannya, PBF mengacu pada:

1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1148/Menkes/Per/VI/2011 tentang Pedagang Besar Farmasi.

2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2014

tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Nomor 1148/Menkes/Per/VI/2011 tentang Pedagang Besar Farmasi.

3. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia

Nomor HK.03.1.34.11.12.7542 Tahun 2012 tentang Pedoman Teknis Cara

Distribusi Obat yang Baik.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan

Kefarmasian.

5. Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

6. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.


F. Pedoman CDOB

Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan

Republik Indonesia Nomor Hk.03.1.34.11.12.7542 Tahun 2012 Tentang

Pedoman Teknis Cara Distribusi Obat Yang Baik

Ketentuan Umum
Pasal 1

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:

1. Cara Distribusi Obat yang Baik, yang selanjutnya disingkat CDOB, adalah

cara distribusi/penyaluran obat dan/atau bahan obat yang bertujuan

memastikan mutu sepanjang jalur distribusi/penyaluran sesuai persyaratan

dan tujuan penggunaannya.

2. Pedagang Besar Farmasi, yang selanjutnya disingkat PBF, adalah

perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk pengadaan,

penyimpanan, penyaluran obat dan/atau bahan obat dalam jumlah besar

sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. PBF Cabang adalah cabang PBF yang telah memiliki pengakuan untuk

melakukan pengadaan, penyimpanan, penyaluran obat dan/atau bahan obat

dalam jumlah besar sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.

4. Instalasi Sediaan Farmasi adalah sarana yang digunakan untuk

mendistribusikan atau menyalurkan Sediaan Farmasi milik pemerintah,

pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota.

5. Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi, yang

digunakan untuk memengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau

keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,


penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk

manusia.

6. Bahan Obat adalah bahan baik yang berkhasiat maupun tidak berkhasiat

yang digunakan dalam pengolahan obat dengan standar dan mutu sebagai

bahan baku farmasi termasuk baku pembanding.

7. Sertifikat CDOB adalah dokumen sah yang merupakan bukti bahwa PBF

telah memenuhi persyaratan CDOB dalam mendistribusikan obat atau

bahan obat.

Ruang Lingkup
Pasal 2

Pengaturan CDOB dalam Peraturan ini, meliputi :

1. Obat; dan

2. Bahan Obat.

Penerapan CDOB
Pasal 3

1. PBF dan PBF Cabang dalam menyelenggarakan pengadaan, penyimpanan,

dan penyaluran obat dan/atau bahan obat wajib menerapkan Pedoman

Teknis CDOB.

2. Pedoman Teknis CDOB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum

dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan

ini.

Pasal 4

Selain PBF dan PBF Cabang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1),

Instalasi Sediaan Farmasi yang menyelenggarakan pengadaan, penyimpanan,


dan penyaluran obat dan/atau bahan obat juga wajib menerapkan Pedoman

Teknis CDOB.

Pasal 5

1. Terhadap PBF dan PBF Cabang yang telah menerapkan Pedoman Teknis

CDOB diberikan Sertifikat CDOB oleh Kepala Badan.

2. Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian Sertifikat CDOB sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) akan ditetapkan dengan Peraturan Kepala Badan

Pengawas Obat dan Makanan.

Sanksi Administratif
Pasal 6

Pelanggaran terhadap ketentuan Pedoman Teknis CDOB dapat dikenai sanksi

administratif sebagai berikut :

1. Peringatan tertulis;

2. Penghentian sementara kegiatan; dan

3. Pencabutan Sertifikat CDOB.

Pasal 7

Pengenaan sanksi administratif berupa Pencabutan Sertifikat CDOB

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 angka 3 diberikan dalam hal:

1. terjadi penyimpangan penerapan CDOB yang mengakibatkan

penyalahgunaan pendistribusian obat dan/atau bahan obat; atau

2. PBF atau PBF Cabang dengan sengaja melakukan tindakan yang

mengakibatkan tidak terlaksananya penerapan CDOB.


G. Tugas dan fungsi Institusi PBF

1. Tugas Pedagang Besar Farmasi(PBF)

a). Tempat menyediakan dan menyimpan perbekalan farmasi yang

meliputi obat, bahan obat, dan alat kesehatan.

b). Sebagai sarana yang mendistribusikan perbekalan farmasi ke sarana

pelayanan kesehatan masyarakat yang meliputi : Apotek, rumah

sakit, toko obat berizin dan sarana pelayanan kesehatan masyarakat

lain serta PBF lainnya.

c). Membuat laporan dengan lengkap setiap pengadaan, penyimpanan,

penyaluran, perbekalan farmasi sehingga dapat di pertanggung

jawabkan setiap dilakukan pemeriksaan. Untuk apotek, rumah sakit

dan PBF lain melakukan pendistribusian obat bebas,obat bebas

terbatas, obat keras dan obat keras tertentu.

2. Fungsi Pedangan Besar Farmasi (PBF)

a). Sebagai sarana distribusi farmasi bagi industri-industri farmasi.

b).Untuk membantu pemerintah dalam mencapai tingkat kesempurnaan

penyediaan obat-obatan untuk pelayanan kesehatan.

c).Tempat menyimpan dan menyediakan sediaan farmasi yang meliputi

obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik

d). Sebagai tempat pendidikan dan pelatihan


BAB III
PELAKSANAAN PKL

A. Lokasi PKL

Lokasi pelaksanaan PKL (Praktek Kerja Lapangan) yaitu

dilaksanakan di PBF Hoga Permadani Nusantara yang terletak di jalan Bunga

Seroja Lorong Bonsai No 36 Kendari, Sulawesi Tenggara.

B. Visi, Misi Dan Strategi PBF Hoga Permadani Nusantara

a. Visi

Menjadi perusahaan distribusi produk farmasi dan alat kesehatan

yang berkualitas tinggi, kompetitif dan terpercaya melalui penyediaan

layanan yang prima dengan sumber daya manusia yang kompeten.

b. Misi

a) Bersama dengan rekan bisnis untuk bekerja sama yang saling

menguntungkan dan memerangi peredaran obat-obatan dan alat

kesehatan palsu.

b) Respon yang cepat dan pendistribusian yang tepat waktu.

c) Mengembangkan kualitas untuk membentuk sumber daya manusia

dengan etos kerja yang baik, jujur, dan loyal kepada perusahaan

untuk mencapai kesejahteraan.

c. Strategi

a) Membuat perencanaan jangka panjang, menengah dan pendek

memanajemen waktu dengan baik dan tepat


b) Dapat menentukan prioritas kerja antara yang penting dan yang

mendesak

c) Melakukan evaluasi dan perbaikan yang bijak agar tujuan tetap

terlaksana.

C. Struktur Organisasi PBF Hoga Permadani Nusantara

DIREKTUR

SUDIRMAN, SE

PENANGGUNG JAWAB FARMASI PENANGGUNG JAWAB ALKES


ELFIRA HARINGI, S.Farm., APT HENI, AMTE

BAG. LOGISTIK BAG BAG BAG. PEMASARAN


ADMINISTRASI
PERSONALIA YACHUB
KA. GUDANG DAN KEUANGAN

MUSRIFIN, S.AG NENENG T, S.Farm RAHMAT S.I, S.KOM

P. EKSPEDISI NENENG T, S.Farm

RANDI PRATAMA

HELPER
NUR SAFAR
D. Pelaksanaan PKL

a. Pendistribusian Obat/Produk

Alur pendistribusian yaitu apotek dan rumah sakit, yang akan

memesan barang membuat Surat Pemesanan “SP”, dimana dalam SP

tersebut tercantum nama PBF yang dituju, nomor SP, nama dan jumlah

barang yang dipesan, tanggal serta ttd dari penanggung jawab pemesan

lalu distempel. SP tersebut selanjutnya dapat diserahkan secara langsung

kepada sales, selanjutnya sales bawa sp ke Apoteker untuk di acc atau di

tanda tangan kemudian di bawa ke bagian administrasi untuk di input dan

di buat faktur, pihak admin membuat copy faktur sebanyak 5 lembar yang

berwarna hijau untuk arsip apoteker penanggung jawab PBF, putih untuk

pembayaran kess, kuning untuk pembayaran kredit, pink untuk arsip

admin dan pelaporan pajak, biru untuk bagian ekspedisi ditulis ketika

faktur keluar, dimana copy faktur berisi nama obat, jumlah, expired date,

harga satuan dan total keseluruhan gudang untuk memeriksa ketersediaan

barang yang dipesan, bila barang yang dipesan tersedia maka pihak admin

membuat. Copy faktur tersebut kemudian dicek dan ditandatangani dan

juga distempel oleh Apoteker penanggung jawab PBF. Setelah itu pihak

gudang mengambil barang yang dipesan dan mengisi kartu stok manual

kemudian di periksa kembali apakan barang yang di pesan sudah sesuai

dengan faktur kemudian di bawa di ruang ekspedisi (loading area) pada

bagian ekspedisi diperiksa kembali apakah barang sudah sesuai dengan

faktur dan outlate yang dituju serta melakukan pengemasan lalu pihak
PBF mengantarkan barang yang dipesan beserta copy faktur yang

berwarna putih untuk pembayaran kess dan copy faktur yang berwarna

kuning untuk pembayaran kredit. Alur pendisribusian menggunakan

metode FEFO (First Expired First Out) dimana barang dengan kadaluarsa

terdekat harus keluar terlebih dahulu.

b. Penerimaan Obat/Produk

Alur penerimaan obat atau produk yaitu Pihak ekspedisi

menyerahkan dokumen pengiriman (surat jalan) kepada petugas gudang,

kemudian pihak ekspedisi menurunkan barang dan meletakannya diatas

palet di loading area. Setelah pihak ekspedisi selesai menurunkan barang,

petugas gudang melakukan qc (quality control) dokumen meliputi :

tujuan pengiriman, jumlah koli, nama barang, jumlah barang, nomor

batch, tanggal kadaluarsa, dan Nomor Izin Kedar (NIE). Selanjutnya

petugas gudang melakukan qc fisik meliputi:

 Periksa original karton (tersegel/tidak)

 Untuk produk dalam kondisi tidak original karton periksa kondisi

kemasan (utuh/tidak).

Jika barang yang datang tidak sesuai dengan ketentuan, maka barang

tersebut dipisahkan dan segera menginformasikan ke distributor bahwa

obat tersebut di return, dan jika barang/obat yang datang tidak sesuai

dengan jumlah yang dipesan, maka segera menginformasikan ke

distributor agar pesanan barang tersebut segera dilengkapi sesuai surat

pesanan. Jika barang yang datang sudah sesuai dengan ketentuan, barang
diterima. Faktur kiriman ditanda tangani oleh PJF dan mengambil copy

faktur sebagai bukti penerimaan barang, serta menyerahkan kembali

faktur asli kepada pihak ekspedisi. Setelah proses pengecekkan selesai,

petugas gudang menyerahkan copy faktur pada bagian pengadaan dan

semua barang wajib dimasukkan ke gudang penyimpanan dan jumlahnya

dicatat pada kartu stok manual. Batas waktu barang berada ditempat

penerimaan maksimal 1 (satu jam), bagian pengadaan akan mengecek

harga yang tertera pada faktur, apakah harga yang diberikan berubah dari

harga sebelumnya atau masih sama dengan harga yang lama. Setelah

dilakukan penyesuaian harga, faktur diserahkan pada bagian administrasi

yang kemudian daftar barang dan harganya diinput pada sistem

komputer, faktur yang telah diinput, diberikan kepada PJF untuk

kemudian diarsipkan bersama surat pesanannya berdasarkan nomor urut

dan tanggal penerimaan

c. Penyimpanan Produk

Alur penyimpanan produk yaitu barang masuk yang masih berada

di loading area di masukkan ke dalam gudang dan diletakkan diatas palet

agar terhindar dari kerusakan barang akibat pengaruh kelembaban dan

kotoran. Menyimpan obat-obatan diruangan terpisah dengan produk non

obat untuk menjaga obat-obatan agar tidak tercemar dan mencemari

produk lainnya, penyimpanan obat sesuai jenis produk dan bentuk

sediaan (meminimalisir risiko), penyimpanan obat pula berdasarkan


anjuran yang tertera dalam kemasan produk dengan menggunakan palet

dan pendingin ruangan (mempertahankan mutu) penempatanproduk

harus memperhatikan antara lain:

 Kemasan botol dan cairan diletakkan dibagian bawah

 Barang yang mu

 dah pecah diletakkan pada tempat yang mudah untuk pengambilannya

 Prioritas produk FEFO untuk penyimpanannya sehingga mudah

dimonitor

 Produk tidak bersentuhan langsung dengan dinding.

Penumpukkan karton harus sejenis dengan maksimal 5 tumpuk

untuk menghindari rusaknya produk tersebut, petugas gudang selanjutnya

menyuun produk/obat dengan rapi, dimana ada jarak tiap urutan sehingga

ada aliran udara. Penyimpanan produk terpisah dan terkunci serta

memberi panandaan pada barang rusak, expired date, terkontaminasi, dan

recall yang diduga palsu, tempat penyimpanan dilengkapi dengan

peralatan pengatur suhu (AC), pengukur suhu (Thermometer), serta kartu

kontrol suhu, penyimpanan obat disesuaikan dengan suhu tertentu sesuai

dengan jenis produknya (suhu dingin 20 C – 80 C, suhu sejuk 80 C – 150 C,

suhu terkendali 150 C – 250 C, suhu kamar 260 C – 300 C). . untuk produk

yang harus disimpan dalam suhu tertentu (suhu dingin/suhu sejuk) harus

langsung disimpan dalam kulkas/chiller begitu dikeluarkan dari

styrofoam, tidak melebihi 30 menit sejak barang diterima disuhu luar.

Petugas gudang mencatat kartu stok manual setiap ada barang yang
masuk ataupun keluar, dengan memperhatikkan nama barang, tanggal,

kuantitas, expired date, batch


BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari laporan kegiatan praktek kerja lapangan ini

yaitu:

1. Penyimpanan obat disusun berdasarkan alphabet, sementara untuk obat

prekursor mempunyai rak tersendiri, dan untuk penyusunan tiap deret obat

berdasarkan aturan FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired

First Out).

2. Penyaluran obat di PBF dapat meliputi penerimaan pesenan, pengeluaran

dan pengiriman. Pemesanan barang ke PBF dapat dilakukan secara

langsung menggunakan surat pesenan (SP), via telpon ataupun e-mail.

Untuk pelanggan yang berada di luar kota dapat melakukan pemesanan

melalui e-mail, sedangkan untuk pelanggan yang berada di dalam kota

dapat melakukan pemesanan melalui via telpon. Pelanggan yang

melakukan pemesanan melalui e-mail maupun via telpon, pada akhirnya

tetap harus membuat SP, SP tersebut diserahkan kepada pihak PBF pada

saat pengiriman barang oleh kurir dari PBF, Pbf mendistribusikan obatnya

ke PBF lainnya, apotek, rumah sakit, tokoh obat dan klinik farmasi.
B. Saran

Adapun saran yang dapat disampaikan adalah sebaiknya kerja sama

akademik dengan pihak PBF selalu terus diadakan agar mahasiswa dapat

mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan selama proses perkuliahan dan

menerapkan profesionalisme dalam bekerja.


DAFTAR PUSTKA

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Peraturan Menteri Kkesehatan


Republik Indonesia Nomor 1148/MENKES/PER/VI/2011 Tentang
Pedagang Besar Farmasi. Kemenkes RI : Jakarta.

Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia


Nomor Hk.03.1.34.11.12.7542 Tahun 2012 Tentang Pedoman Teknis
Cara Distribusi Obat Yang Baik.

Presiden Republik Indonesia. 2009. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009


Tentang Pekerjana Kefarmasian. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. 2009. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009


Tentang Kesehatan. Jakarta.