Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator yang peka
terhadap kualitas dan aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan
hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015, angka kematian ibu per
100.000 kelahiran hidup mengalami penurunan menjadi 305 per 100.000
kelahiran hidup (Dinkes RI, 2015).
Angka Kematian Ibu di Provinsi Sumatera Barat mengalami
penurunan dari tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2014 sejumlah 126,55 per
100.000 kelahiran hidup, dan pada tahun 2015 menjadi 111,16 per 100.000
kelahiran hidup atau sebanyak 619 kasus. Sedangkan pada tahun 2015 AKI di
kota Payakumbuh sebanyak 107 kasus. Penyebab kematian maternal yang
disebabkan oleh perdarahan sebesar (21,12%), hipertensi (24,22%), infeksi
(2,76%), gangguan system perdarahan sebesar (8,52%), dan lain-lain
(40,49%) (Dinkes Kota Payakumbuh, 2015). Kematian maternal pada waktu
hamil sebesar 27,00%, waktu persalinan sebesar 15,05%, dan pada waktu
nifas sebesar 57,95% (Dinkes Kota Payakumbuh, 2015). Hal ini menunjukkan
bahwa upaya yang dilakukan pemerintah dalam menurunkan Angka Kematian
Ibu telah berhasil. Peningkatan pelayanan kesehatan perlu dilakukan
meningkat masih cukup tingginya angka kematian tersebut. Salah satu
penyebab AKI adalah hipertensi yang didalamnya termasuk Pre Eklamsia. Pre
Eklamsia merupakan penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, protein urine
dan oedema yang timbul karena kehamilan (Rukiyah dan Yulianti, 2015).
Pre Eklamsia menurut gejala klinisnya dibagi menjadi Pre Eklamsia
Ringan (PER) dan Pre Eklamsia Berat (PEB). Pre Eklamsia Berat (PEB)
merupakan Pre Eklamsia dengan tekanan darah sistolik >160 mmHg dan
tekanan darah distolik >110 mmHg disertai ptotein urine lebih 5 g/24 jam
(Prawirohardjo, 2014). Pre Eklamsia Berat (PEB) yang tidak ditangani dengan
baik dapat memyebabkan eklamsia, sehingga memerlukan penanganan dengan
tindakan kegawatdaruratan obstetric. Seorang bidan berperan dalam melakukn
deteksi dini serta memberikan asuhan pada ibu bersalin dengan Pre Eklamsia
Berat sesuai kebutuhan dengan melakukan kolaborasi dengan dr.SpOG untuk

1
pemberian anti kejang/anti kovulsan untuk mencegah kejang MgSO4 4 gram
secara IV, anti hipertensi untuk menurunkan tekanan darah 10-20 mg per oral
(Nugroho, 2014), memantau tekanan darah dan protein urine, kehamilan
diakhiri (terminasi) setiap saat bila keadaan hemodinamika sudah stabil
(Prawirohardjo, 2014).
Akibat atau komplikasi dari Pre Eklamsia Berat bagi ibu bias
mengakibatkan perdarahan intracranial, gagal ginjal akut, trombositopenia,
oedema paru, depresi, dan hipertensi yang tidak terkendalikan, dan akibat Pre
Eklamsia Berat (PEB) bagi janin bias mengakibatkan intrauterine fetal growth
restriction, solusio plasenta, prematuritas, kematian janin intrauterine, dan
sindroma distress nafas (Prawirohardjo, 2014).
Berdasarkan studi pendahuluan yang diperoleh dari RSUD Dr Adnaan
WD Payakumbuh dapat diketahui bahwa jumlah persalinan selama 1 tahun
pada periode 2016 sampai 2017 sejumlah 958 persakinan. Persalinan normal
sebanyak 423 (43,15%) orang, persalinan patologi 525 (50,81%) yang terdiri
dari : Pre Eklamsia Berat 93 (17,61%) orang, Pre Eklamsia Ringan 40 (7,61%)
orang, eklamsia 5 (0,09%) orang, persalinan dengan KPD 131 (24,13%)
orang, persalinan kala I lama 70 (12,36%) orang, persalinan presentasi bokong
25 (2%) orang, persalinan kala II lama 27 (7,72%) orang, dan persalinan
serotinus 60 (12,45%) orang.
Berdasarkan uraian diatas angka kejadian ibu bersalin dengan Pre
Eklamsia Berat masih cukup tinggi, dan apabila tidak mendapatkan
penanganan yang baik dapat menyebabkan kematian pada ibu bersalin
sehingga penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian sebagai tugas laporan
kasus kebidanan dengan judul “Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin Pada Ny.Y
G4P3A0H3 Usia Kehamilan 38-39 Minggu Dengan Pre Eklamsi Berat (PEB) di
RSUD Dr Adnaan WD Payakumbuh”

B. Rumusan Masalah
Bagaimana asuhan kebidanan ibu bersalin pada Ny.Y G4P3A0H3 usia

2
kehamilan 38-39 minggu dengan Pre Eklamsi Berat (PEB) di RSUD Dr
Adnaan
WD Payakumbuh
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu melaksanakan asuhan kebidanan ibu bersalin pada Ny.Y G4P3A0H3
usia kehamilan 38-39 minggu dengan Pre Eklamsi Berat (PEB) di RSUD
Dr Adnaan WD Payakumbuh.
2. Tujuan Khusus
1) Melakukan pengkajian secara lengkap pada ibu bersalin pada Ny.Y
G4P3A0H3 usia kehamilan 38-39 minggu dengan Pre Eklamsi Berat
(PEB) di RSUD Dr Adnaan WD Payakumbuh
2) Melakukan interpretasi data dengan menentukan diagnose kebidanan
masalah dan kebutuhan ibu bersalin pada Ny.Y G4P3A0H3 usia
kehamilan 38-39 minggu dengan Pre Eklamsi Berat (PEB) di RSUD Dr
Adnaan WD Payakumbuh
3) Menentukan diagnose potensial pada ibu bersalin pada Ny.Y G4P3A0H3
usia kehamilan 38-39 minggu dengan Pre Eklamsi Berat (PEB) di
RSUD Dr Adnaan WD Payakumbuh
4) Melakukan tindakan segera atau kolaborasi pada ibu bersalin pada Ny.Y
G4P3A0H3 usia kehamilan 38-39 minggu dengan Pre Eklamsi Berat
(PEB) di RSUD Dr Adnaan WD Payakumbuh
5) Menyusun rencana tindakan pada ibu bersalin pada Ny.Y G4P3A0H3 usia
kehamilan 38-39 minggu dengan Pre Eklamsi Berat (PEB) di RSUD Dr
Adnaan WD Payakumbuh
6) Melakukan tindakan dari perencanaan yang sudah disusun pada ibu
bersalin pada Ny.Y G4P3A0H3 usia kehamilan 38-39 minggu dengan Pre
Eklamsi Berat (PEB) di RSUD Dr Adnaan WD Payakumbuh
7) Melakukan evaluasi setelah dilakukan perencanaan asuhan kebidanan
ibu bersalin pada Ny.Y G4P3A0H3 usia kehamilan 38-39 minggu dengan
Pre Eklamsi Berat (PEB) di RSUD Dr Adnaan WD Payakumbuh
D. Manfaat Laporan
1. Bagi Peneliti
Mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dari perkuliahan dan
pengalaman nyata dalam penelitian khususnya di bidang pelayanan
kebidanan pada ibu bersalin dengan pre eklamsia berat (PEB).

3
2. Bagi Profesi
Dapat memberikan bahan pertimbangan pada tenaga kesehatan lainnya
dalam melakukan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan pre eklamsia
berat (PEB).
3. Bagi Institusi
a. Bagi RSUD
Untuk memberikan bahan pertimbangan bagi bidan dalam penyusunan
kebijakan program pelayanan kebidanan khususnya tentang pemberian
asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan pre eklamsia berat (PEB).
b. Bagi Pendidikan
Dapat menjadi referensi dan bahan bacaan di perpustakaan khususnya
tentang asuhan kebidanan ibu bersalin dengan pre eklamsia berat (PEB).

BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR PERSALINAN


1. Definisi
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri)
yang dapat hidup ke dunia luar dari dalam rahim melalui jalan lahir atau
dengan jalan lain (synopsis obstetric).
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan
pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hamper cukup bulan, disusul dengan
pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh ibu (obstetric fisiologi).
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri) yang cukup

4
bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan
lain dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan ibu sendiri).(Ilmu
kebidanan penyakit kandungan dan keluarga berencana 2014).
Partus adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat
hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. (ilmu kebidanan, 2015).
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dari janin turun ke
dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban di dorong
keluar melalui jalan lahir.(Sarwono, 2015)
Persalinan normal disebut juga partus spontan adalah proses lahirnya
bayi pada letak belakang kepala dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-
alat serta tidak melukai ibu dan bayi pada umumnya berlangsung kurang dari
24 jam. (Rustam Mochtar, 2014). Persalinan normal adalah proses
pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu)
lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 28
jam, tanpa kompilkasi baik pada ibu maupun pada janin. (Prawiroharjo,2015).
Persalinan normal adalah peristiwa lahirnya bayi hidup dan placenta dari
dalam uterus dengn presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa
menggunakan alat pertolongan pada usia kehamilan 30-40 minggu atau lebih
dengan berat badan bayi 2500 gram atau lebih dengan lama persalinan kurang
dari 24 jam yang dibantu dengan kekuatan kontraksi uterus dan tenaga
mengejan.
Persalinan fisiologis adalah persalinan dengan proses pengeluaran
hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar
kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lahir lain dengan bantuan
atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri).
Persalinan normal adalah persalinan yang dimulai secara spontan
(dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir), beresiko rendah pada
awal persalinan dan presentasi belakang kepala pada usia kehamilan antara
37-42 minggu setelah persalinan ibu maupun bayi berada dalam kondisi baik
(WHO).
2. Sebab-sebab yang menimbulkan persalinan

5
Sebab-sebab yang menimbulkan terjadinya persalinan (partus) sampai
saat ini masih merupakan teori-teori yang kompleks, antara lain :
a. Teori penurunan hormone
Satu sampai dua minggu sebelum persalinan mulai terjadi penurunan
kadar hormone estrogen dan progesterone. Progesteron bekerja sebagai
penenang otot-otot polos rahim. Akan menyebabkan kekejangan pembuluh
darah sehingga timbul his bila kadar progesterone turun.
b. Teori placenta tua
Menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron yang
menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan menimbulkan
kontraksi rahim.
c. Teori distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan ischemia Otot
otot rahim , sehingga menggangu sirkulasi utero plasenter.
d. Teori iritasi mekanik
Di belakang serviks terletak ganglion serviks bila ganglion ini digeser
dan ditekan misalnya oleh kepala janin akan timbul kontraksi uterus.
e. Induksi partus (Induction of Labour)
Partus dapat pula ditimbulkan dengan jalan:
o laminasia : beberapa laminaria dimasukkan kanalis serviks dengan
tujuan merangsang pleksus frankenhauses
o Amniotomi : pemecahan ketuban
o Oksitosis drip : pemberian oksitosin menurut tetesan per infuse.
Beberapa istilah dalam persalinan menurut tua kehamilan
1. Abortus (keguguran)
Terhentinya dan dikeluarkannya hasil konsepsi umur kehamilan
sebelum 28 minggu dan berat janin kurang dari 1000 gram.
2. Prematuritas
Persalinan sebelum umur kehamilan 28 minggu-36 minggu dan berat
janin kurang dari 2499 gram
3. Persalinan aterm
Persalinan antara umur haiml 27-42 minggu dan berat bayi diatas 2500
gram
4. Persalinan serotinus
Persalinan melampaui usia kehamilan 42 minggu dan janin terdapat
tanda post maturitas

6
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam persalinan
a. Passage (jalan lahir) terdiri dari : jalan lahir, panggul, dan otot-otot
dasar panggul
b. Power : terdiri dari his dan tenaga mengejan ibu
c. Passanger : terdiri dari janin, air ketuban dan placenta
d. Respon psikologis
e. Penolong
4. Tanda-tanda inpartu (persalinan)
a) Keluar lender bercampur darah yang lebih banyak karena robekan-
robekan kecil pada serviks.
b) Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya. Rasa sakit oleh adanya
his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.
c) ada pemeriksaan dalam : serviks mendatar, pembukaan telah ada

5. Pembagian tahap dalam persalinan


Proses persalinan terdiri dari 4 kala yaitu :
a. Kala I (kala pembukaan)
Inpartu (partus mulai) ditandai dengan keluarnya lender bercampur
darah (bloodshow) karena serviks muali membuka (dilatasi) dan mendatar
(effelement). Kala pembukaan dibagi atas 2 fase yaitu :
1) Fase laten : dimana pembukaan serviks berlangsung lambat, sampai
pembukaan 3 cm berlangsung dalam 7-8 jam.
2) Fase aktif : berlangsung selama 6 jam dan dibagi menjadi 3 fase yaitu :
a. Fase akselerasi : berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm.
b. Fase dilatasi maksimal (steady) : selama 2 jam pembukaan
berlangung cepat menjadi 9 cm.
c. Fase deselerasi : berlangsung lambat dalam waktu 2 jam
pembukaan 10 cm atau lengkap.
Fase-fase yang ditulis diatas di jumpai pada primigravida pada
multigravidapun menjadi demikian tetapi terjadi lebih pendek,
perbedaannya sebagai berikut :
o Primigravida
Serviks mendatar (effacement) dulu baru dilatasi
Berlangusng 13-14 jam
o Multigravida
Mendatar dan membuka bisa berlangsung bersamaan
Berlangsung selama 6-7 jam
· b. Kala II (Kala Pengeluaran Janin)
Pada kala pengeluaran janin his terkoordinir, kuat, cepat dan lebih

7
aman kira-kira 2-3 menit sekali, kepala janin telah turun masuk ruang
panggul sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang
secara reflektoris, menimbulkan rasa ibu merasa seperti BAB karean
tekanan pada rectum dengan tanda anus terbuka pada waktu his, kepala
janin mulai tampak atau kelihatan, vulva membuka dan perineum menonjol.
Dengan his memerah yang terpimpin akan lahirlah kepala diikuti
oleh seluruh badan janin. Kala II pada primi 1,5 – 2 jam sedangkan pada
multi 0,5 – 1 jam
· c. Kala III (Kala Pengeluaran Uri)
Setelah bayi lahir, kontraksi rahim beristirahat sebentar, uterus teraba
keras dengan fundus uteri setinggi pusat, berisi placenta yang menjadi tebal
2x sebelumnya. Beberapa saat kemudian dating his. Pelepasan dan
pengeluaran ini dalam waktu 5 – 15 menit. Seluruh placenta terlepas di
dorong ke dalam vagina dan akan lahir spontan atau dengan sedikit
dorongan diatas simpisis atau fundus uteri. Seluruh proses biasanya
berlangsung 5 – 30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran plasenta di sertai
dengan pengeluaran darah kira-kira 100 – 200 cc.
Untuk tanda-tanda dari lepasnya placenta adalah sebagai berikut :
o Uterus globuler (menjadi bundar)
o Uterus terdorong ke atas
o Tali pusat bertambah panjang
o Terjadi perdarahan atau semburan darah tiba-tiba.
· d. Kala IV ( 2 jam post partum)
Kala IV dimaksudkan untuk melakukan observasi karena
perdarahan post partum paling sering terjadi pada 2 jam post partum.
Observasi yang dilakukan adalah :
Tingkat kesadaran klien
Pemeriksaan tanda-tanda vital
Kontraksi uterus
Terjadinya perdarahan
Lamanya persalinan pada primi dan multi gravid :
Kala Primigravida Multigravida
Kala I 10 – 12 jam 6 – 8 jam
Kala II 1,5 – 2 jam 1,5 – 1 jam
Kala III 10 menit 10 menit
Kala IV 2 jam 2 jam

8
Jumlah (tanpa memasukkan
kala IV yang bersifat 10 – 12 jam 6 – 10 jam
observatif)

6. Mekanisme persalinan normal


Pada minggu-minggu terakhir kehamilan, segmen bawah rahim meluas
untuk menerima kepala janin terutama pada primi dan juga pada multi pada
saat-saat partus mulai. Untunglah bahwa 98% janin adalah letak kepala. Kenapa
lebih banyak letak kepala, dikemukakan 2 teori akan hal itu, yaitu:
a. Teori Akomodasi
Bentuk rahim yang memungkinkan bokong dan ekstremitas yang
volumenya besar berada diatas keapal dibawah diruang yang lebih sempit.
b. Teori Gravitasi
Karena kepala yang relative besar dan berat turun kebawah oleh karena itu
his yang kuat, teratur dan sering makan kepala janin turun memasuki PAP
(engagement)karena menyesuaikan diri dengan jalan lahir, kepala
bertambah menekuk (fleksi maskimal) sehingga lingkaran kepala yang
memasuki panggul. Gerakan-gerakan utama proses kelahiran bayi adalah :
1) Turunnya kepala, dibagi dalam :
Masuknya kepala ke PAP
Pada primigravida sudah terjadi pada bulan terakhir kehamilan tapi
pada multipara biasanya baru terjadi pada permulaan pesalinan.
Majunya kepala
Pada primigravida majunya kepala terjadi setelah kepala masuk ke
dalam rongga panggul dan biasanya baeru mulai pada kala II. Pada
multipara maju dan masuknya kepala ke rongga panggul
bersamaan. Yang menyebabkan majunya kepala yaitu :
o Tekanan cairan intra uteri
o Tekanan langsung oleh fundus pada bokong
o Kekuatan mengejan
o Melurusnya badan bayi oleh perubahan bentuk rahim

2) Fleksi
Keuntungan dari bertambahnya fleksi adalah bahwa ukuran kepala
yang lebih kecil melalui jalan lahir diameter sub occipital bregmatika
(9,5 cm) menggantikan diameter sub occipital frontalis (11 cm).
3) Putar paksi dalam

9
ialah pemutaran dari bagian depan memutar ke depan, ke bawah
simpisis.
4) Ekstensi
Setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai di dasar panggul
terjadilah ekstensi atau defleksi dari kepala yang disebabkan karena
sumbu jalan lahir mengarah ke depan dan atas sehingga kepala harus
mengadakan ekstensi untuk melaluinya.
5) Putar paksi luar
Setelah kepala lahir, maka kepala akan memutar kembali kearah
punggung anak untuk menghindarkan torsi pada leher yang terjadi
karena putaran paksi dalam.
6) Ekspulsi
Setelah putaran paksi luar, bahu depan sampai dibawah simphysis dan
menjadi hipomochlion untuk kelahiran bahu belakang, kemudian bahu
depan menyusul dan selanjutnya seluruh badan bayi lahir searah paksi
jalan lahir.
7. Ruptura Perineum dapat terjadi pada persalinan normal
Ruptura perineum dapat dibagi menjadi 3 tingkat yaitu :
a. Tingkat I : Robekan hanya mengenai kulit dan mukosa sekita 1 – 1,5
cm
b. Tingkat II : Robekan lebih dalam sudah mengenai mukosa levatorani
c. Tingkat III : Robekan pada kulit, mukosa, perineal body, mukosa
sphincterani.
Sebab-sebab rupture perineum yaitu :
1) Partus presipitalis
2) Kepala janin besar dan janin besar
3) Pada presentasi defleksi (dahi, muka)
4) Pada primigravida (para)
5) Pada letak sungsang dan after loming head
6) Pimpinan persalinan yang salah
7) Pada obsteri operatif pervaginam : ekstraksi vakum, ekstraksi forcep,
versi, dan eksistensi dan embriotomi

B. KONSEP DASAR PRE- EKLAMPSIA – EKLAMPSIA


1. Pengertian

10
Pre- eklampsia adalah penyakit hipertensi yang khas dengan
disertai proteinuria dan edema yang timbul akibat kehamilan setelh usia
kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan tanpa disertai kejang
(Kapita Selekta, 2015).
Pre- eklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita
hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi sebelumnya, sedangkan
gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih
(Rustam Muchtar, 2013).
Pre-eklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi,
edema, dan protein uria yang timbul akibat kehamilan. Penyakit ini umumnya
terjadi pada triwulan ke -3 kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya
misalnya pada mula hidafidosa (Sarwono Prawiroharjo : 2014).
Pre-eklampsia berat merupakan kesatuan penyakit yang disebabkan
oleh kehamilan walaupun belum jelas bagaimana terjadi di Indonesia
preeklampsia, eklampsia, disamping perdarahan dan infeksi masih
merupakan sebab utama kematian ibu dan sebab kematian perinatal yang
tinggi (Prof. Dr. Sarwono Prawiroharjo, 2014)
Pre-eklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang
ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg, atau lebih disertai
proteinuria dan atau diserati edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih
(Asuhan Patologi Kebidanan : 2010).
Eklampsia berasal dari Yunani yang berarti halilintar karena gejala
eklampsia dating dengan mendadak dan mendatangkan suasana gawat dalam
kebidanan. Dikemukakan beberapa teori yang dapat menerangkan kejadian
preeclampsia dan eklampsia sehingga dapat menetapkan upaya promotif dan
preventfi ( Manuaba : 2013)
Pre-eklampsia dibagi dalam 2 golongan ringan dan berat. Penyakit
digolongkan berat bila satu atau lebih tanda gejala di bawah ini :
a. Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolic 110 mmHg
atau lebih.
b. Protein uria 5 g atau lebih dalam 24 jam : 3 atau 4 + pada pemeriksaan
kualitatif.
c. Oligouria, air kencing 400ml atau kurang dalam 2-4jam
d. Keluhan serebral, gangguan penglihatan atau nyeri di daerah epigastrium.
e. Edema paru dan sianosis.
2. Etiologi

11
Apa yang menyebabkan pre-ekslampsia dan ekslampsia samapi
sekarang belum diketahui. Telah terdapat banyak teori yang mencoba
menerangkan sebab-sebab yang member jawaban yang memuaskan. Teori
yang harus dapat menerangkan hal-hal sebagai berikut :
o Sebab bertambahnya frekuensi pada primigravida, keha primigravida,
hamil ganda dan molahidasidosa.
o Kejadiannya makin meningkat dengan makin tuanya usia kehamilan.
o Gejala penyakit berkurang bila terjadi kematian janin.
Rukiyah dan Yulianti (2014), menyatakan penyebab pre eklamsia saat
ini tak bisa diketahui dengan pasti, walaupun penelitian yang dilakukan
terhadap penyakit saat ini sudah sedemikian maju. Semuanya baru didasarkan
pada teori yang dihubung-hubungkan dengan kejadian, itulah sebab pre
eklamsia disebut juga “Disease of theory”, gangguan kesehatan yang
berasumsi pada teori. Adapun teori-teori tersebut antara lain:
1) Peran Prostasiklin dan Tromboksan
Pada pre eklamsia dan eklamsia didapatkan kerusakan pada endotel
vaskuler, sehingga terjadi penurunan prosuksi prostasiklin yang pada
kehamilan normal meningkat, aktivitas penggumpalan dan fibrinolisis
yang kemudian akan diganti thrombin dan plasmin.
2) Peran Faktor Imunologis
Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivitas system komplemen
pada pre eklamsia.
3) Faktor Genetik
Kecenderungan meningkatnya frekuensi Pre Eklamsia pada anak dan
cucu ibu hamil dengan riwayat Pre Eklamsia dan bukan pada ipar
mereka.
Kelompok Ibu Hamil dengan Faktor Risiko Kehamilan

Faktor risiko pada ibu hamil adalah :

a. Primigravida kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.

b. Anak lebih dari 4.

c. Jarak persalinan terakhir dan kehamilan sekarang kurang dari 2 tahun.

d. Kurang Energi Kronis (KEK) dengan lingkar lengan atas kurang dari

23,5 cm, atau penambahan berat badan < 9 kg selama masa kehamilan.

12
e. Anemia dengan dari Hemoglobin < 11 g/dl.

f. Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi,

jenis anemia yang pengobatannya relatif mudah, bahkan murah.

Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena

terjadi menstruasi dengan perdarahan sebanyak 50-80cc setiap bulan dan

kehilangan zat besi sebesar 30 sampai 40 mgr. Di samping itu kehamilan

memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah seldarah

merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering

seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan akan makin banyak

kehilangan zat besi dan menjadi anemis.(rustam,2013)

Pengaruh anemia terhadap kehamilan:

1) Bahaya selama kehamilan:

a) Dapat terjadi abortus

b) Persalinan prematuritas

c) Hambatan tumbuh kembang

d) Mudah terjadi infeksi

e) Ancaman dekompensasi kordis (Hb<6 gr%)

f) Mola hidatidosa

g) Hiperemesis gravidarum

h) Perdarahan antepartum

i) Ketuban pecah dini (KPD).(rustam,1998;31)

g. Tinggi badan kurang dari 145 cm, atau dengan kelainan bentuk

panggul dan tulang belakang.

13
h. Riwayat hipertensi pada kehamilan sebelumnya atau sebelum

kehamilan ini.

i. Sedang/pernah menderita penyakit kronis, antara lain : tuberkulosis,

kelainan jantung-ginjal-hati, psikosis, kelainan endokrin (Diabetes

Mellitus, Sistemik Lupus Eritematosus, dll), tumor dan keganasan.

j. Riwayat kehamilan buruk: keguguran berulang, kehamilan ektopik

terganggu, mola hidatidosa, ketuban pecah dini, bayi dengan cacat

kongenital.

k. Riwayat persalinan dengan komplikasi : persalinan dengan seksio

sesarea, ekstraksivakum/ forseps.

l. Riwayat nifas dengan komplikasi : perdarahan paska persalinan,

Infeksi masa nifas, psikosis post partum (post partum blues).

m. Riwayat keluarga menderita penyakit kencing manis, hipertensi dan

riwayat cacat kongenital.

n. Kelainan jumlah janin : kehamilan ganda, janin dampit, monster.

o. Kelainan besar janin : pertumbuhan janin terhambat, Janin besar.

p. Kelainan letak dan posisi janin: lintang/oblique, sungsang pada usia

kehamilan lebih dari 32 minggu.(PWS KIA Depkes 2014)

Tidak semua kehamilan dapat digolongkan dengan kehamilan normal.


Beberapa kehamilan memang memerlukan pengawasan dan konseling yang
bersifat khusus. Apabila sejak awal kehamilan ibu tidak pernah melakukan
pemeriksaan kehamilan, maka dokter maupun bidan tidak mampu melakukan
deteksi dini kelainan ataupun komplikasi yang kemungkinan ditimbulkan dari
kehamilan ini. Faktor resiko tinggi maupun kelainan yang terdapat baik pada
ibu maupun janin akan memberikan dampak bagi proses persalinan maupun
berlangsungnya kehamilan. Untuk diperlukan tambahan wawasan bagi ibu

14
hamil untuk mengetahui apakah ibu tergolong resiko tinggi ataupun tidak. Ibu
yang termasuk dalam kehamilan resiko tinggi:

1. Ibu hamil dengan umur kurang dari 20 tahun


2. Hamil dengan umur lebih dari 35 tahun

3. Ibu dengan tinggi badan kurang dari 145cm

4. Ibu dengan berat badan kurang dari 45 kg

5. Ibu dengan jarak umur anak terakhir dengan kehamilan ini kurang dari 2
tahun 6. Ibu dengan jumlah anak lebih dari 4

Berikut akan dijelaskan kenapa hal-hal di atas merupakan resiko tinggi


bagi ibu hamil:

1. Umur ibu kurang dari 20 tahun


Bagi ibu hamil dengan umur yang kurang dari 20 tahun bukan
berarti ibu termasuk tidak normal melainkan ibu tergolong dengan resiko
tinggi. Hamil pada usia remaja tentu akan berdampak besar bagi masa
depan ibu. Organ reproduksi remaja belum matang untuk menerima
kehamilan. Dari kesiapan psikologis untuk menjalani hidup berumah
tangga juga akan berpengaruh bagi ibu muda. Memang ada kemungkinan
ibu untuk melahirkan secara normal, namun untuk kehamilan ibu sendiri
harus dalam pengawasan. Resiko yang kemungkinan dialami yaitu
perdarahan pasca persalinan, pre-eklamsi sampai terjadinya eklamsi, bayi
beresiko mengalami kecacatan kongenital. Resiko yang kemungkinan
dialami adalah terjadinya kanker serviks atau kanker leher rahim dimana
yang menjadi faktor predisposisinya yaitu kontak seksual pertama kali di
usia muda.

2. Hamil dengan umur diatas 35 tahun


Beberapa wanita hamil di atas umur 35 tahun. Perlu dipahami
bahwa semakin tua umur wanita maka kualitas sel telur yang dihasilkan

15
juga semakin menurun, sehingga resiko melahirkan bayi dengan kelainan/
cacat sangat besar terjadi. Selain itu masih ada beberapa resiko lain yang
kemungkinan bisa ditimbulkan seperti kehamilan kembar, menderita
diabetes gestasional sehingga bayi yang dilahirkan memiliki berat badan
besar, tekanan darah tinggi, resiko bayi yang dilahirkan dengan kelainan
kromosom (sindrom down) dan besar kemungkinan terjadinya keguguran
di awal kehamilan.

3. Tinggi badan ibu kurang dari 145 cm


Tinggi badan seseorang mempengaruhi bentuk panggul seseorang.
Tinggi badan yang kurang dari 145 cm beresiko terjadinya panggul
sempit.Panggul yang merupakan jalan lahir bagi bayi. Bayi dapat lahir
dengan lancar apabila jalan yang dilaluinya tidak ada hambatan. Apabila
jalan untuk lahir sempit dan tidak sesuai dengan ukuran bayi, maka dapat
di pastikan bayi tidak bisa dilahirkan secara normal. Namun, tidak semua
ibu hamil dengan tinggi kurang dari 145cm diharuskan untuk operasi
caesar. Semua tergantung dari kesesuaian antara bentuk panggul dengan
besar bayi.

4. Berat badan ibu kurang dari 45 kg


Saat dimulainya kehamilan ibu memiliki berat badan kurang dari
45kg, sebaiknya ibu harus melakukan tindakan untuk meningkatkan berat
badan ibu dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi dan frekuensi
makan ditingkatkan. Berat badan yang rendah (< 45 kg) akan sangat
berpengaruh terhadap asupan nutrisi ke janin. Selain itu fungsi plasenta
juga bisa mnegalami penurunan fungsi akibat dari transport nutrisi yang
tidak adekuat. Resiko lain yang mungkin ditimbulkan adalah bayi dengan
berat badan lahir rendah (BBLR).

5. Jarak anak terakhir dengan kehamilan sekarang kurang dari 2 tahhun

16
Alat reproduksi memerlukan waktu untuk dapat berfungsi dengan
sempurna. Waktu yang diperlukan untuk masa pemulihan ini minimal 2
tahun. Beberapa penelitian menyatakan bahwa resiko untuk melahirkan
dengan jarak kurang dari 2 tahun itu besar. Ibu beresiko 3 kali lebih besar
melahirkan bayi dengan gangguan perkembangan. Pada studi yang
dilakukan oleh Dr Keely Cheslack Postava dari Colombia University
menyatakan bahwa ibu dengan jarak kehamilan terlalu dekat semakin
meningkatkan resiko bayi lahir dengan autisme.

6. Jumlah anak lebih dari 4


Jumlah anak yang terlalu banyak tentu akan berhubungan dengan
sistem alat reproduksi. Banyak komplikasi yang bisa ditimbulkan dengan
seringnya melahirkan. Komplikasi bisa terjadi baik selama kehamilan
maupun saat persalinan. Komplikasi selama kehamilan yaitu terjadinya
perdarahan antepartum, terlepasnya sebagian atau seluruh bagian plasenta
yang bisa menimbulkan kematian janin, tertutupnya jalan lahir oleh
plasenta sehingga perlu pemeriksaan dan penanganan dari dokter spesialis
kandungan anda.

Sekilas telah dijelaskan tentang kehamilan resiko tinggi yang


memang patut diwaspadai baik oleh ibu maupun suami. Sehingga
diharapkan ibu dan bayi pada akhirnya sehat dan selamat serta ibu
melahirkan bayi yang berkualitas. semoga bermanfaat info yang telah di
share bagi ibu yang sedang hamil maupun mencari informasi memulai
kehamilan.

3. Patofisiologi
Pada pre-ekslampsia terjadi spasme pembuluh darah di sertai
dengan retensi garam dan air. Pada biopsy ginjal ditemukan spasme hebat
arteriola glomerulus, pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian
sempitnya sehingga hanya dapat di lalui oleh satu sel darah merah. Jadi jika
semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka t ekanan darah

17
kan naik. Sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar
oksigenasi jaringan dapat dicukupi.
Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh
penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intertisia belum diketahui
sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Protein uria dapat
disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada
glomerulus.
Perubahan pada organ-organ :
a. Otak
Pada pre-ekslampsia aliran darah dan pemakaian oksigen tetap dalam
batas-batas normal.
b. Placenta dan rahim
Aliran darah menurun ke placenta dan menyebabakan gangguan janin
dank arena kekurangan oksigen terjadi gawat janin. Pada pre-
ekslampsia sering terjadi peningkatan tonus rahim dan kepekaannya
terhadap rangsangan, sehingga terjadi partus premature.
c. Ginjal
Filtrasi glomelurus berkurang oleh karena aliran keginjalan menurun,
hal ini menyebabkan filtrasi natrium melalui glomelurus menurun.
Sebagai akibatnya terjadi retensi garam dan air. Filtrasi glomelurus
dapat turun sampai 50 % dari normal sehingga pada keadaan lanjut
dapat terjadi oligouria dan anuria.
d. Paru-paru
Paru-paru menunjukkan berbagai tingkat edema dan perubahan karena
bronkopneumonia sebagai akibat Milan ganda, hidraminion, dan
molahidatidosa.
Teori yang saat ini banyak dikemukakan sebagai penyebab pre-
eklampsia ialah iskema placenta, akan tetapi dengan teori ini tidak
dapat diterangkan semua hal yang berkaitan dengan penyakit itu. Teori
iskemia placenta dianggap dapat menerangkan berbagai gejala pre-
ekslampsia dan ekslampsia yaitu :
- Kenaikan tekanan darah
- Pengeluaran protein pada urine
- Edema kaki, tangan sampai muka
- Terjadinya gejala subjektif seperti :
o Sakit kepala
o Mata kabur

18
o Nyeri pada epigastrium
o Sesak nafas
o Berkurangnya urine
- Menurunkan kesadaran wanita hamil samapai koma
- Terjadi kejang
Pada pemeriksaan darah kehamilan normal terdapat
peningkatan angiotensin, rennin, dan aldosteran sebagai kompensasi
sehingga peredaran darah dan metabolism dapat berlangsung. Pada pre-
eklampsia dan eklampsia terjadi penurunan angiotensin, rennin, dan
aldosteran tetapi di jumpai edema, hipertensi, dan ptotein uria.
Bagaimana teori iskema implantasi dapat menerangkan gejala
klinik tersebut. Berdasarkan teori iskemia placenta bahan troflobos akan
diserap ke dalam sirkulasi yang dapat meningkatkan sensifitas terhadap
angiotensin, rennin dan aldosteran, spasme pembuluh darah arterio dan
tertahannya garam air.
Teori iskemia daerah implantasi placenta di dukung pernyataan
sebagai berikut :Pre-ekslampsia dan ekslampsia lebih banyak terjadi
pada aspirasi. Kadang-kadang ditemukan asbes paru-paru
e. Mata
Adanya edema retina spasme pembuluh darah. Bila terdapat hal-
hal tersebut maka harus dicurigai pre-ekslampsia berat pada ekslampsia
dapat terjadi ablasio retina yang disebabkan edema intra okuler dan
merupakan salah satu indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan.
f. Keseimbangan air dan elektrolit
Pada pre-ekslampsia ringan tidak dijumpai adanya perubahan tapi
pada pre-ekslampsia berat dan ekslampsia kadar gula darah naik
sementara, asam laktat dan asam organic lainnya, sehingga cadangan
akan turun (Prof. Dr Rustam Mochtar, synopsis obstetric jilid I)

4. Tanda atau gejala pre-ekslampsia berat


a. Pre-ekslampsia berat, bila satu atau lebih tanda atau gejala dibawah ini
ditemukan :
Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg
Tekanan darah diastolik ≥ 110 mmHg
Peningkatan kadar enzim hati atau ikterus

19
Trombosit < 100.000/mm3
Oliguria < 400 ml / 24 jam
Protein uria > 30 / liter
Nyeri epigastrium
Perdarahan retina
Edema
Gangguan cerebral dan virus
Pandangan mata kabur
Bengkak pada muka dan tangan
b. Ekslampsia ditandai oleh gejala-gejala pre-ekslampsia berat dan kejang
Kejang dapat terjadi tidk tergantung dari beratnya hipertensi
Kejang bersifat tonik klonik, menyerupai kejang pada epilepsy
grand mal
Koma terjadi sesudah kejang, dapat berlangsung lama (berjam-jam).
(Sarwono, pelayanan kesehatan matemal dan neonatal)

5. Klasifikasi Pre-ekslampsia
a. Pre-ekslampsia ringan
Gejala dan tanda :
1) Tekanan darah sistolik 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan
interval pemeriksaan 6 jam
2) Tekanan darah diastolik 90 atau kenaikan 15 mmHg dengan
interval pemeriksaan 6 jam
3) Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih seminggu
4) Protein uria 0,3 gram atau lebih dengan tingkat kualitatif plus 1-
2 pada urine kateter atau urine aliran pertengahan.

b. Pre-ekslmapsia berat
Gejala dan tanda :
Tekanan darah 160 / 110 mmHg
Ovigo uria, urine kurang dari 400 cc / 24 jam
Protein uria lebih dari 3 gram/liter
Keluhan subjektif :
o Nyeri epigastrium
o Gangguan penglihatan
o Nyeri kepala
o Edema paru dan sianosis
o Gangguan kesadaran
o Pemeriksaan :
1. Kadar enzim hati meningkat disertai ikterus
2. Perdarahan pada retina
3. Trombosit kurang dari 100.000/mm

c. Ekslampsia

20
Menjelang kejang-kejang dapat didahului gejala subjektif yaitu
nyeri kepala di daerah frontal, nyeri epigastrium, penglihatan semakin
kabur dan terdapat mual dan muntah dan pemeriksaan menunjukkan
hiperfleksia atau makin terangsang.

6. Gambaran klinik
Biasanya tanda-tanda timbul dalam urutan pertambahan berat
badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi dan akhirnya protein
uria. Pada preekslampsia ringan tidak ditemukan gejala-gejala subjektif.
Pada berat didapatkan sakit kepala di daerah frontal.Skotama, diplopia.
Penglihatan kabur nyeri di daerah epigastrium, mual dan muntah. Gejala-
gejala ini sering ditemukan pada TD yang meningkat dan merupakan
petunjuk bahwa ekslampsia akan timbul. TD pun meningkat lebih tinggi,
edema menjadi lebih umum dan protein uria bertambah banyak.

7. Diagnosis
Pada umumnya diagnosis didasarkan atas adanya 2 dari tanda
utama yaitu : hipertensi, edema, dan protein uria. Hal ini memang
berguna untuk kepentingan statistik, tapi dapat merugikan penderita
karena tiap tanda dapat merupakan bahaya kendatipun ditemukan sendiri.
Adanya satu tanda harus menimbulkan kewaspadaan, apalgi karena cepat
tidaknya penyakit tidak dapat diramalkan dan bila ekslampsia terjadi,
maka prognosis bagi ibu maupun bayi menjadi jauh lebih buruk.

8. Pencegahan
Pengobatan hanya dapat dilakukan simtomatis karena etiologi
preeclampsia, dan faktor-faktor apa saja dalam kehamilan yang
menyebabkannya. Tujuan utama penanganan mencegah terjadinya pre
eklampsia berat dan eklampsia, melainkan janin hidup dan melahirkan
janin dengan trauma sekecil-kecilnya.
Pada dasarnya pengobatan atau penanganan preeclampsia terdiri
atas pengobatan medic dan penanganan obstetrik. Penanganan obstetrik
ditujukan untuk melahirkan bayi pada saat optimal, yaitu sebelum janin

21
dalam kandungan , akan tetapi sudah cukup matur untuk hidup di luar
kandungan dari pada di dalam uterus.
Pengobatan preeklmapsia yang tepat ialah pengakhiran kehamilan
karena tindakan tersebut mengingat sebabnya dan mencegah terjadinya
eklampsia dengan bayi yang masih prematur penundaan pengakhiran
kehamilan mungkin dapat menyebabkan eklampsia dan kematian janin.
Pada janin dengan berat badan rendah kemungkinan hidup pada
preeclampsia berat lebih baik di luar dari pada di dalam uterus. Cara
pengobatan dapat dilakukan dengan induksi persalinan atau persalinan
atau section cesarean menurut keadaan pada umumnya.
a. Penanganan pre eklampsai ringan
Instirahat di tempat tidur masih merupakan terapi utama untuk
penanganan. Istirahat dengan berbaring pada posisi tubuh
menyebabkan pengaliran darah ke placenta meningkat, aliran darah
ke ginjal juga banyak, tekanan vena pada ekstremitas bawah turun
dan resorbsi cairan dari daerah tersebut bertambah. Selian itu juga
mengurangi kebutuhan volume darah yang beredar. Oleh sebab itu
dengan istirahat biasanya tekanan darah turun dan edema berkurang.
Pemberian fernobarbital 3 x 3 mg sehari akan menenangkan penderita
dan dapat juga menurunkan tekanan darah.
b. Penanganan pre eklampsia berat
Para penderita yang masuk sudah ada tanda-tanda dan gejala
PEB segera harus diberi sedative yang kuat untuk mencegah
timbulnya kejang-kejang. Apabila sudah 12 – 24 jam bahaya akut
dapat diatasi dapat dilakukan cara terbaik untuk menghentikan
kehamilan, tindakan ini perlu untuk mencegah eklampsia.
Sebagai pengobatan untuk mencegah timbulnya kejang dapat
diberikan: Larutan sulfas magnesium 40% sebanyak 10 ml (4 gr)
disuntikkan IM bokong kiri dan kanan sebanyak dosis permulaan
dapat diulang 4 gram tiap 6 jam menurut keadaan. Tambahan sulfus
magnesium hanya diberikan jika dieresis baik, reflek patela + dan
kecepatan pernafasan lebih dari 16x per menit. Obat tersebut akan
menenangkan, menurunkan tekanan darah, kemungkinan kejang dan
eklampsia.

22
Apa bila terjadi oligouria, sebaiknya penderita diberi glukosa
20% secara IV. Obat diuretika tidak diberikan secara rutin. Kadang-
kadang keadaan penderita dengan pengobatan tersebut diatas menjadi
lebih baik, akan tetapi umunya pada PEB sesudah bahaya akut
sebenarnya sebaiknya di pertimbangkan untuk menghentikan
kehamilan oleh karena dalam keadaan demikian harapan janin untuk
hidup terus tidak besar dan adanya janin dalam uterus menghambat
sembuhnya penderita dan penyakitnya.Indikasi untuk pengakhiran
kehamilan ialah ringan dengan kehamilan lebih dari cukup bulan,
dengan hipertensi atau protein uria menetap selama 10 – 14 hari, dan
janin cukup matur untuk dilahirkan

BAB III
TINJAUAN KASUS

Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin Pada Ny”Y” G4P3A0H3 Usia Kehamilan 38-
39 Minggu Dengan Pre Eklamsia Berat (PEB) Di Ruang Mawar Tindakan
RSUD Dr Adnaan WD Payakumbuh

Hari /Tanggal : Senin/ 5 Maret 2018


Pukul : 20.00 WIB

23
Kala I
I. PENGKAJIAN DATA
A. Data Subjektif
1. Biodata
Nama istri : Ny”Y”
Umur : 43 tahun
Suku : Minang
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : IRT
Alamat : Situjuah
No Hp :-
Nama suami : Tn”A”
Umur : 48 tahun
Suku : Minang
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Petani
Alamat : Situjuah
2. Keluhan utama : ibu mengatakan nyeri ari-ari (+) jarang
3. Riwayat
a) Riwayat Menstruasi
Menarche : 12 tahun
Siklus : 28 hari
Lama : 6 hari
Banyak : 2-3 ganti doek /hari
Bau : Amis
Warna : Merah
Sifat darah : Encer
Penyulit : Tidak ada
b) Riwayat Pernikahan
Status pernikahan : Sah
Umur waktu nikah : 25 / 28 tahun
Pernikahan yang ke :1
Lama kawin baru hamil : 2 bulan
Jumlah anak :3
c) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Anak umur Kehamilan Persalinan Nifas
ANC Penyulit Jenis penolong usia JK BB PB K loch Lakt invol
ke
U ea asi usi
1 18th ada Tidak Spon Bidan 39 P 3200 52 Ba Baik Baik Baik
ada tan ik
2 17th ada Tidak Spon Bidan 39- L 3200 50 Ba Baik Baik Baik
ada tan 40 ik
3 11th ada Tidak Spon Bidan 40 L 3200 50 Ba Baik Baik Baik

24
ada tan ik
4 Ini
d) Riwayat Kontrasepsi
Jenis : Suntik 3 bulan
Lama pemakaian : 9 tahun
Alasan berhenti : Pengen punya anak
Keluhan : Tidak ada
e) Riwayat kebiasaan sehari-hari
HPHT : 14-06-2017
TP : 21-03-2018
Trimester I
ANC : Ada (1x)
Keluhan : Mual, muntah
Anjuran : Makan sedikit tapi sering
Obat-obatan : Antasid
Penyulit : Tidak ada
Trimester II
ANC : Ada (2x)
Keluhan : Pusing
Anjuran : Istirahat , jaga kesehatan
Obat-obatan : PCT, Fe
Penyulit : Tidak ada
Pergerakan janin : 16 minggu
Frekuensi : 2-3 x/ jam
Trimester III
ANC : Ada (2x)
Keluhan : Pusing,
Anjuran : Istirahat, tingkatkan nutrisi
Obat-obatan : B1, Fe
Penyulit : Tensi Tinggi (190/90 Mmhg)
Pergerakan janin : Ada
Frekuensi : 3-4x/ jam
f) Riwayat Kesehatan
a. Penyakit sistemik
Jantung : Tidak ada
Ginjal : Tidak ada
Hipertensi : Tidak ada
b. Penyakit keturunan
DM : Tidak ada
Asma : Tidak ada
Hemophili : Tidak ada
c. Penyakit menular
TBC : Tidak ada
Hepatitis : Tidak ada
HIV/AIDS : Tidak ada
d. Riwayat keturunan kembar : Tidak ada
g) Pola kebiasaan sehari-hari
a. Nutrisi

25
Makan terakhir
Jam : 13.00 WIB
Porsi : 1 piring nasi, lauk pauk
Minum terakhir
Jam : 15.00 WIB
Jenis : Air putih
b. Eliminasi
BAK terakhir
Jam : 16.00 WIB
Warna : Kuning
BAB terakhir
Jam : 07.00 WIB
Konsistensi : Lembek
c. Istirahat
Istirahat siang : ± 1 jam
Istirahat malam : 7-8 jam
d. Personal hygine
Mandi : 2x/hari
Keramas : 3-4x/minggu
Ganti pakaian dalam : 2x/hari
Ganti pakaian luar : 2x/hari
Keluhan : Tidak ada
e. Hubungan seksual
Frekuensi : 1x/minggu
Keluhan : Tidak ada
f. Olah raga
Jenis : Tidak ada
Frekuensi : Tidak ada
Lama : Tidak ada
Keluhan : Tidak ada
g. Pola kegiatan sehari-hari
Merokok : Tidak ada
Minum-minuman keras : Tidak ada
Obat-obatan bebas : Tidak ada
Minum jamu : Tidak ada
h. Data psikologis, social, cultural, dan spiritual
Psikologis : Ibu senang dengan kehamilan
Sosial
Hubungan dengan suami : Baik
Hubungan dengan keluarga : Baik
Hubungan dengan masyarakat : Baik
Dukungan suami : Ada
Dukungan keluarga : Ada
Dukungan masyarakat : Ada
Pengambil keputusan : Suami dan istri
Cultural : Ibu tidak percaya dengan mitos
Spiritual : Ibu rajin beribadah
B. Data Objektif

26
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : Sedang
Status emosi : Stabil
Postur tubuh : Lordosis
Tinggi badan : 158 cm
BB sebelum hamil : 62 kg
BB sekarang : 68 kg
Lila : 26 cm
TTV, TD : 160/80 Mmhg
N : 82x/menit
P : 20x/menit
S : 36,7 0C
2. Pemeriksaan khusus
a. Kepala
Kebersihan kepala : Bersih
Kebersihan rambut : Bersih
Kekuatan : rontok
b. Mata
Skelera : Putih
Conjungtiva : Merah muda
c. Wajah
Oedema : Tidak ada
Pucat : Tidak pucat
Closmagravidarum : Tidak ada
d. Hidung
Kebersihan : Bersih
Kelainan : Tidak ada
e. Mulut
Keadaan bibir : Lembab
Kebersihan gigi : Bersih
Karies : Tidak caries
Lidah : Tidak berjamur
f. Telinga
Kebersihan telinga : Bersih
Kelainan/infeksi : Tidak infeksi
g. Leher
Kelenjar limfe : Tidak ada pembengkakan
Kelenjar tiroid : Tidak ada pembesaran
h. Payudara
Bentuk : Simetris ki/ka
Papilla : menonjol ki/ka
Ariola : Hiperpigmentasi
Massa : Tidak ada
Reaksi : Tidak ada
Kolostrum : Ada
i. Abdomen
Infeksi
Pembesaran : Sesuai dengan usia kehamilan

27
Bekas luka operasi : Tidak ada
Strie gravidarum : Ada
Linea : Nigra
Palpasi
Leopold I : TFU 32 cm, fundus teraba
bulat,lunak, tidak melenting.
Leopold II : Pada perut ibu bagian kanan teraba
panjang, memapan dan pada perut
ibu bagian kiri teraba bagian-bagian
kecil
Leopold III : Pada perut ibu bagian bawah teraba
keras, bulat, melenting
Leopold IV : Konvergen
TFU : 32 cm
TBBJ : 3.255 gram
Auskultasi
DJJ
Frekuensi : 143x/menit
Puntum max : Kuadran IV
Intensitas : Kuat
Irama : Teratur
HIS
Durasi : 30 dtk
Intensitas : Sedang
Interval : 1 menit
Frekuensi : 3x10 menit
j. Genitalia
Eksternal
Infeksi : Tidak ada
Pembengkakan : Tidak ada
Varices : Tidak ada
Oedema : Tidak ada
Internal
Pemeriksaan dalam
Dinding vagina : Normal
Porsio : Tebal
Pembukaan serviks : 4 cm
Ketuban : Utuh
Bagian terkemuka : Tidak ada
Bagian terbawah : Kepala
Posisi : UUK ka
Penurunaan : Hodge I
Molase : Tidak ada
k. Anus : Tidak ada hemoroid dan varices
l. Ekstermitas
Atas
Oedema : Tidak ada
Kebersihan kuku : Bersih

28
Pucat : Tidak pucat
Bawah
Oedema : Ada oedema
Varices : Tidak ada
Kebersihan kuku : Bersih
Pucat : Tidak pucat
Reflek patella : ki/ka +/+
3. Data penunjang
HB : 11,5 gr%
Protein urine : ++
Glukosa urine :-
Golongan darah :O
Hbshg :-
Trombosit : 183.000/mm2
Hematokrit : 30%
Leokosit : 8000
II. INTERPRETASI DATA
a. Diagnosa : Ibu G4P3A0H3 usia kehamilan 38-39
minggu, infartu kala I fase aktif, janin
hidup, tunggal, intra uterine, puka,
presentasi belakang kepala UUK ka,
dengan pre eklamsia berat (PEB)
b. Data dasar
Ibu mengatakan ni kehamilan ke empat
HPHT : 14-06-2017
TP : 21-03-2018
TD : 160/80 Mmhg
N : 82x/menit
P : 20x/menit
S : 36,7 0C
TFU : 32 cm
TBBJ : 3.255 gram
DJJ : 143x/menit, irama teratur
HIS : 3x10 menit
Palpasi
Leopold I : Bokong
Leopold II : Puka
Leopold III : Kepala
Leopold IV : Konvergen
c. Masalah : sakit menjalar ke ari-ari
d. Kebutuhan
1. Informasi hasil pemeriksaan
2. Observasi KU, TTV
3. Observasi kemajuan persalinan, DJJ dan HIS
4. Memberikan penkes tentang
a. Tindakan yang akan dilakukan
b. Miring ke kiri
c. Nutrisi

29
d. Personal hygine
5. Beri support mental dan motivasi
6. Terapi obat sesuai advis dokter
III. IDENTIFIKASI MASALAH DAN DIAGNOSA POTENSIAL
Eklamsia
IV. IDENTIFIKASI MASALAH, TINDAKAN SEGERA,
KOLABORASI
DAN RUJUKAN
Kolaborasi dengan dokter SPOG
V. PERENCANAAN
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan
2. Observasi keadaan umum dan TTV
3. Observasi kemajuan persalinan, DJJ dan HIS
4. Memberikan penkes tentang
a. Tindakan yang akan dilakukan
b. Miring ke kiri
c. Nutrisi
d. Personal hygine
5. Memberikan support mental dan motivasi
6. Terpi obat sesuai dengan advis dokter
VI. PELAKSANAAN
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa TD
160/80 Mmhg dan protein urine positif (++) yang artinya ibu
mengalami pre eklamsi berat (PEB) dan pembukaan serviks baru 4
cm, keadaan janin, baik.

2. Memantau KU dan TTV


3. Mengonservasi kemajuan persalinan serta DJJ, HIS, tiap 30 menit,
pembukaan serviks atau jika ada indikasi.
4. Memberikan penkes tentang
a. Memberitahu kepada keluarga, suami mengenai tindakan
yang akan dilakukan yaitu induksi persalinan adalah suatu
pemberian obat untuk mempercepat kemajuan persalian.
b. Menganjurkan ibu untuk miring ke kiri dan tidak berbaring
terlentang lebih dari 10 menit agar aliran darah ke janin
lancer dan menganjurkan ibu untuk tidak mengejan
sebelum pembukaan lengkap sebab hal ini akan
menyebabkan bengkak pada jalan lahir.
c. Memberikan ibu nutrisi dan cairan seperti member ibu
makan dan minum pada saat tidak ada kontraksi.

30
d. Menjelaskan kepada ibu untuk BAK ditempat tidur dengan
menggunakan pispot yang akan di bantu oleh suami.
5. Memberi motivasi pada ibu dengan memberikan kata-kata
penyemangat, memuji ibu dan menyakinkan ibu bahwa proses
persalinan akan berjalan dengan lancer serta meminta keluarga
terdekat untuk tetap mendamping dan memotivasi ibu agar rasa
cemasnya berkurang.
6. Memberikan terapi obat sesuai dengan advis dokter
Infuse RL drip 1 amp aksitosin 8-32 tpm
VII. EVALUASI
1. Ibu paham dengan hasil pemeriksaan yang disampaikan dan ibu
kelihatan cemas.
2. Keadaan umum : sedang
TTV, TD : 160/80Mmhg
N : 82x/menit
P : 20x/menit
S : 36,70C

3. Observasi kemajuan persalinan yang telah dilakukan


a. inspeksi : pengeluaran pervaginam : ada keluar cairan
ketuban dan serta pengeluaran lender
bercampur darah
b. palpasi : his, kekuatan kuat, frekuensi 4x10 menit,
durasi 40 dtk
c. auskultasi : DJJ+, frekuensi 146x/menit, teratur,puntum
kuadran IV
4. Ibu mengerti dengan penkes yang diberikan
5. Ibu sudah mendapatkan support mental dan motivasi dari keluarga
dan suami
6. Advis dokter dalam pemberian terapi
Infus RL drip 1 amp oksi

31
DATA PERKEMBANGAN I
Kala I
Tanggal : 5 Maret 2018
Pukul : 24.00 WIB
S : Subjektif
1. Ibu mengatakan sakit semakin kuat dan mules di perut
O : Objektif
1) Keadaan Umum : Sedang
2) Kesadaran : Composmentis
3) TTV TD : 150/80 mmHg
N : 82x/menit
P : 20x/menit
S : 36,60c
4) Kontraksi 4 x 10 menit selama 45 detik
5) DJJ : 145x/menit

A : Assesment
Ibu G4P3A0H3 usia kehamilan 38-39 minggu, infartu kala I fase aktif, janin
hidup, tunggal, intra uterine, puka, presentasi belakang kepala UUK ka, dengan
pre eklamsia berat (PEB)
P: Planning
Pukul : 24.05 WIB
1) Observasi KU dan TTV ibu
2) Observasi DJJ, dan HIS setiap 30 menit, pembukaan servick dan
penurunan kepala atau jika ada indikasi
3) Menganjurkan ibu untuk miring ke kiri dan tidak berbaring terlentang
lebih dari 10 menit agar aliran darah ke janin lancer dan menganjurkan ibu

32
untuk tidak mengejan sebelum pembukaan lengkap sebab hal ini akan
menyebabkan bengkak pada jalan lahir.
4) Menjelaskan kepada ibu untuk BAK ditempat tidur dengan menggunakan
pispot yang akan di bantu oleh suami.

Evaluasi
1) Keadaan umum : sedang
TTV, TD : 150/80Mmhg
N : 82x/menit
P : 20x/menit
S : 36,60C
2) Observasi kemajuan persalinan yang telah dilakukan
a. inspeksi : pengeluaran pervaginam : ada keluar cairan
ketuban dan serta pengeluaran lender bercampur darah
b. palpasi : his, kekuatan kuat, frekuensi 4x10 menit, durasi 40
dtk
c. auskultasi : DJJ+, frekuensi 145x/menit, teratur,puntum
kuadran IV
d. VT :
Pembukaan : 6 cm
Porsio : Tipis
Ketuban : Jernih
Presentasi : Kepala
Posisi : UUK ka
Penurunan : Hodge II
3) Ibu mengerti dengan penkes yang diberikan
4) Advis dokter dalam pemberian terapi
Infus RL 20 tpm + drip 1 amp oksi

33
DATA PERKEMBANGAN II
Kala II
Tanggal : 5 Maret 2018
Pukul : 05.50 WIB
S: Subjektif
1. Ibu mengatakan sakit semakin kuat
2. Ibu mengatakan sudah memiliki keinginan untuk mengedan
O: Objektif
1. Keadaan umum ibu baik, kesadaran composmetis
2. Tanda-tanda persalinan
3. a. hasil VT : pembukaan 10 cm, penurunan hoghe IV, porsio tipis
b. kekuatan sedang, frekuensi 4x10 menit, durasi 45 detik
c. keluarnya lendir bercampur darah melalui vagina
d. DJJ+, frekuensi 143x/menit,teratur, puntum max kuadran kanan bawah
A: Assesment
Ibu inpartu kala II dengan pre eklamsia berat (PEB)
P: Planning
Pukul : 06.05 WIB
1. Melakukan penatalaksanaa aktif kala II
2. Setelah kepala tanpak pada perineum dengan diameter 5-6 cm dan
melakukan putaran paksi luar, pegang dengan cara biparetal, anjurkan ibu
untuk meneran saat kontraksi, dengan lembut gerakan kepala kearah
bawah dan distal hingga bahu depan muncul di bawah arkus pubis dan
kemudian arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
3. Setelah kedua bahu lahir, geserkan tangan bawah kea rah perineum ibu
untuk menyangga kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan
atas untuk menelusuri dan memegang dan siku sebelah atas.
4. Setelah tubuh dan tangan lahir, penelusuran tangan atas berlanjur ke
punggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang kedua mata kaki (masukan
telunjuk di antara kaki dan pegang masing-masing kaki dengan ibu dan
jari-jari lainnya) dan setelah itu pemotongan tali pusat.
5. Kemudian bayi dikeringkan
6. Memeriksaan kembali uterus untuk memastikan tidak ada janin kedua
dalam uterus
Evaluasi

34
1. Bayi lahir spontan pada pukul 06.15 WIB dengan berat badan 2600
gram, jenis kelamin perempuan , menangis kuat , gerakan aktif, warna
kulit kemerahan
2. Ibu dan suami telah mengetahui keadaan ibu dan bayi baik
3. Janin tunggal, plasenta belum lahir

DATA PERKEMBANGAN III


Kala III
Tanggal : 5 Maret 2018
Pukul : 06.15 WIB

35
S: Subjektif
1. Ibu mengatakan lega dan senang dengan kelahiran bayinya
2. Ibu mengatakan perutnya sakit mules
O: Objektif
1. Keadaan umum ibu sedang
2. TTV, TD : 140/80 Mmhg P: 20x/menit
N: 80x/menit S: 36.70C
3. TFU setinggi pusat, tali pusat memanjang, uterus berbebtuk globular,
semburan darah tiba-tiba dan singkat, kontraksi keras
4. Tidak ada janin kedua
5. Plasenta belum lahir
A: Assesment
Ibu inpartu kala III normal
P: Planning
Pukul : 06.20 WIB
1. Melakukan penatalaksanaan aktif kala III
a. Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva
b. Letakan satu tangan diatas pada perut ibu, di tepi atas simpisis, untuk
mendeteksi,. Tangan lain menegang tali pusat
c. Setelah uterus berkontaksi, tegangkan tali pusat kea rah bawah sambil
tangan yang lain mendorong uterus kea rah belakang atas (dorso-
kranoal) secara hati-hati (untuk mencegah inversion uteri). Jika
plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat
dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi prosedur
diiatas.
d. Lakukan penegangan dan dorongan dorso cranial hingga plasenta
terlepas, menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian
kearah atas, mengikuti poros jalan lahir dan putar searah jarum jam.
e. Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan
kedua tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban
terplin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang
telah disediakan.
f. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan massase
uterus, letakkan telapak tangan difundus dan lakukan massase dengan
gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus
teraba keras)

36
g. Menilai perdarahan dan mengevaluasi laserasi pada vagina dan
perineum, melakukan heacting perineum dengan benang catgut.
Evaluasi
Pukul : 06.35 WIB
1. Plasenta lahir spontan jam 06.35 wib, kesan lengkap, bentuk cakram,
insersi sentralis, berat 500 gram, panjang tali pusat 50 cm.
2. Heating prenium 4/4 dengan benang catgut perdarahan ±50 cc.

DATA PERKEMBANGAN IV
Kala IV
Tanggal : 5 Maret 2018
Pukul : 06.35 WIB
S : Subjektif
1. Ibu mengatakan perutnya masih merasa mules
O : Objektif
1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran : Composmetis

37
TTV, TD : 140/80 Mmhg
N : 80x/menit
P : 20x/menit
S : 36.70C
3. Kontraksi uterus keras
4. Perdarahan ada ±40 cc, warna merah tua
A : Assesment
Ibu inpartu kala IV normal
P : Planning
Pukul : 06.45 WIB
1. Melakukan evaluasi (kala IV) tiap 15 menit jam pertama, dan 30 menit 1
jam kedua meliputi TD, nadi, suhu, TFU, kontraksi uterus, kandung
kemih, perdarahan.
2. Mengevaluasi dan menilai jumlah kehilangan darah
3. Menerapkan prinsip kebersihan dan keamanan
4. Melakukan dokumentasi
5. Memindahkan pasien ke bangsal perawatan nifas dan pemberian terapi
6. KIE tentang tanda-tanda bahaya masa nifas
7. KIE tentang cara menyusui yang benar
Evaluasi
Pukul : 06.45 WIB
1. Perdarahan ±150 cc, kala I 20 cc, kala II 40 cc, kala III 50 cc, kala IV 40
cc
2. Semua peralatan bekas pakai telah dicuci, ibu telah dibersihkan dan
diganti pakaiannya serta lingkungan sekitar ibu telah bersih
3. Semua tindakan dan pemeriksaan telah dicatat dalam rekam medis
4. Ibu telah di beri terapi berupa
Cefodroxil 500 mg 2x1
Asam mefenamat 500 mg 3x1
B comp 2x1
Diminum secara oral
5. Ibu sudah mengerti tanda bahaya mas nifas
6. Ibu sudah mengerti tentang cara menyusui yang benar
7. Selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama sejam
kedua pasca persalinan, dengan hasil
Jam Waktu TD Nadi Suhu Tinggi Kontraksi Kandung perdarahan
ke mmhg x/m (0C) fundus uterus kemih
uteri
1 07.15 140/80 80 36.6 2 jari Baik Kosong 100 cc
07.30 140/80 80 Baik Kosong 90 cc
bawah
07.45 140/70 80 Baik Kosong 80 cc

38
08.00 140/80 82 pusat Baik kosong 50 cc
2 08.30 130/80 82 36.5 2 jari Baik Kosong 20 cc
09.00 130/70 82 Baik Kosong 10 cc
bawah
pusat
8. Ibu telah dipindah keruang rawatan pukul 09.00 wib.

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan menguraikan mengenai proses asuhan pada ibu
Ny. Y atas indikasi pre eklamsia berat (PEB) dengan tindakan induksi
menggunakan pendekatan manajemen kebidanan menurut Varney yang terdiri dari
7 langkah, mulai dari pengkajian sampai evaluasi dengan ada tindaknya
kesenjangan antara teori dan praktek yang penulis alami di lapangan.
1. Pengkajian
Dalam langkah ini tahap pengumpulan semua informasi yang akurat dan
lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi pasien.
Pengumpulan data dilakukan melalui anamnesa yang terdiri dari data subjektif
dan data objektif (Sulistyawati, 2015). Menurut Prawirohardjo (2014), data
subjektif pada ibu bersalin dengan Pre Eklampsia Berat (PEB) adalah ibu
mengeluh tekanan darahnya tinggi ditandai dengan pusing dan gangguan
penglihatan. Menurut Prawirohardjo (2014), data objektif di dapatkan Tekanan
Darah ≥160/110 mmHg, pandangan mata kabur, ekstremitas mengalami
oedema,pemeriksaan protein urin positif.
Pada pengumpulan data subjektif Ny.Y mengatakan ini kehamilan yang
keempat keluhan utama pada waktu masuk ibu mengatakan tekanan darahnya

39
tinggi dan ibu mengalami bengkak pada kaki sejak ± 1 bulan yang lalu. Ibu
merasakan pusing dan telah merasakan kecang-kencang sampai pinggang. Pada
data objektif keadaan umum : sedang, kesadaran : composmentis, TTV : TD:
160/80 mmHg, N: 82x/menit, S: 36,7 0C, P: 20x/menit, BB: 68 kg, ekstermitas
bawah oedema, pengeluaran pervaginam lender darah, pembukaan 4 cm,
Protein urine : +2.
Pada langkah ini tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori
dengan kasus dilahan praktek.

2. Interpretasi Data
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis, masalah, dan
kebutuhan interpretasi yang benar atas data-data yang dikumpulkan. Langkah
awal dari perumusan diagnosis atau masalah adalah pengelolahan data analisis
dengan menggabungkan data satu dengan yang lainnya sehingga tergambar
fakta (Sulistyawati, 2015). Masalah yang ada pada ibu bersalin dengan Pre
Eklamsia Berat (PEB) yaitu cemas (Prawirohardjo, 2014). Kebutuhan ibu
bersalin dengan Pre Eklamsia Berat (PEB) yaitu KIE tentang Pre Eklamsia
Berat (PEB) dan dukungan moral (Prawirohardjo, 2014).
Diagnosa kebidanan pada kasus ini yaitu Ibu G4P3A0H3 usia kehamialn 38-
39 minggu, infartu kala I fase aktif, janin hidup, tunggal, intra uterine, puka,
presentasi belakang kepala UUK ka, dengan pre eklamsia berat (PEB) dengan
tekanan darah (160/80 mmHg), jarak kehamilan yang terlalu jauh antara anak
ke tiga dengan kehamilan sekarang dengan jarak 11 tahun, usia ibu sudah 43
tahun, pada data penunjang protein urine ibu positif (++) dan oedema pada
kaki. Ibu sudah termasuk dalam kehamilan yang beresiko tinggi. Masalah
dalam kasus ini ibu merasa cemas dengan keadaannya sekarang. Kebutuhan
yang diberikan pada ibu yaitu KIE tentang Pre Eklamsia Berat (PEB) dan
dukungan moral dari bidan dan keluarga.
Pada langkah ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan kasus
yang ada dilahan praktek.
3. Diagnosa Potensial
Pada langkah ini digunakan untuk mengidentifikasi masalah atau
diagnosis potensial lain berdasarkan rangkaian masalah yang lain juga.

40
Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan
pencegahan, sambil terus menganati kondisi klien (Sulistyyawati, 2015). Pada
Pre Eklamsia Berat (PEB) potensial terjadi Eklamsia (Prawirohardjo, 2014).
Pada kasus ini diagnosa potensial pada ibu : bisa terjadi Eklamsia, pada bayi :
bisa terjadi Fetal Distress. Pada kasus ini tidak sampai muncul diagnosa
potensial pada ibu dan bayi karena adanya antisipasi yang tepat. Pada langkah
ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan kasus yang ada dilahan
praktik.
4. Antisipasi
adalah tindakan segera bidan untuk menyelamatkan pasien, namun
kadang juga memerlukan tindakan segera sementara menunggu instruksi dari
dokter, bahkan mungkin juga situasi pasien yang memerlukan konsultasi
dengan tim kesehatan lainnya (sulistyawati,2014). Antisipasi yang dilakukan
untuk mencegah diagnose potensial antara lain : pemantauan tekanan darah,
pemantauan KU, DJJ dan Kolaborasi dengan Dr.SpOG untuk pemberian terapi
drip Rl 1 Amp Oxy pasca persalinan induksi. Pada kasus ini antisipasi yang
diberikan adalah mandiri,kolaborasi seperti tirah baring miring kiri, kolaborasi
dengan dokter SpOG adalah pasng infuse RL drip 1 Amp Oxy 8 – 32 tts dan
observasi KU, dan tekanan darah. Pada langkah ini tidak ditemukan
kesenjangan antara teori dengan kasus yang ada dilahan praktik.
5. Perencanaan
Perencnaan asuhan ibu bersalin dengan Pre Eklamsia Berat adalah :
i. Penderita Pre Eklamsia Berat harus segera dirawat inap dan dianjurkan
tirah baring miring kekiri ( prawirohardjo, 2014 )
ii. Pemasangan Infus RL Drip 1 Amp Oxy ( prawirohardjo, 2015 )
iii. Pemeriksaan Proteinuria dan Darah untuk mengukur volume ( sujiyatini
dkk, 2013)
iv. Pengukuran tekanan darah dan Ku ( prawirohardjo, 2014 )
Pada kasus ini perencanaan yang dilakukan pada Ny. Y Yaitu :
1) Menginformasikan hasil pemeriksaan
2) Observasi keadaan umum dan TTV
3) Observasi kemajuan persalinan, DJJ dan HIS tiap 1 jam
4) Memberikan penkes tentang
a. Tindakan yang akan dilakukan
b. Miring ke kiri
c. Nutrisi
d. Personal hygine
5) Memberikan support mental dan motivasi
6) Terapi obat sesuai dengan advis dokter

41
Pada langkah ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan kasus yang
ada dilahan praktek.
6. Pelaksanaan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah
diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secra efesien dan aman. Realisasi
dari perencanaan dapat dilakukan oleh Bidan atau anggota keluarga yang
lainnya ( sulistyawati, 2014 ). Pelaksanaan tindakan pada kasus ibu bersalin
dengan Pre Eklamsia Berat disesuaikan dengan perencanaan yang telah dibuat.
Pada langkah ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan kasus yang
ada dilahan praktek.
7. Evaluasi
Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang sudah
diberikan kepada pasien ( sulistyawati, 2015) evaluasi yang diharapkan pada
ibu bersalin dengan Pre Eklamsia Berat antara lain :
a. Proteinuia ˂+4 ( fadlun dan Feryanto, 2015)
b. Tekanan darah ibu ≤140/90 mmHg ( sujiyatini,2013)
c. Ibu sudah boleh pulang karena TTV sudah menurun
Pada kasus ini evaluasi yang didapat dari Ny. Y setelah diberikan asuhan
pada tanggal 5 Maret 2018 keadaan umum ibu sudah mulai baik, tidak ada
masalah potensial yang muncul, tekanan darah ibu 130/70 mmHg, oedema
pada kaki ibu sudah berkurang ibu sudah merasa nyaman dan ibu bersedia
untuk datang lagi ke tenaga kesehatan bila ibu mengalami keluhan. Pre
eklamsia Berat ibu teratasi dan ibu dalam masa nifas normal. Pada langkah ini
tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan kasus yang ada dilahan
praktek.

BAB V
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Setelah melaksanakan asuhan kebidaan ibu bersalin pada Ny. Y dengan
Pre Eklamsia Berat dengan menerapkan manajemen Varney dapat diambil
kesimpulan :

42
a. Kesimpulan Umum
Pada Ny.Y G4P3A0H3 umur 43 tahun hamil 38-39 minggu dengan pre
eklamsia berat (PEB) dengan tekanan darah (160/80 mmHg), jarak
kehamilan yang terlalu jauh antara anak ke tiga dengan kehamilan sekarang
dengan jarak 11 tahun, usia ibu sudah 43 tahun, pada data penunjang
protein urine ibu positif (++) dan oedema pada kaki. Ibu sudah termasuk
dalam kehamilan yang beresiko tinggi.
b. Kesimpulan Khusus
Pada pengkajian Ny. Y G4P3A0H3 umur 43 tahun hamil 38-39 minggu
dengan Pre Eklamsia Berat diperoleh data Subjektif dan data Objektif.
1. Data subjektif Ny.Y mengatakan ini kehamilan yang keempat
keluhan utama pada waktu masuk ibu mengatakan tekanan
darahnya tinggi dan ibu mengalami bengkak pada kaki sejak ± 1
bulan yang lalu. Ibu merasakan pusing dan telah merasakan
kecang-kencang sampai pinggang. Sedangkan Pada data objektif
keadaan umum : sedang, kesadaran : composmentis, TTV : TD:
160/80 mmHg, N: 82x/menit, S: 36,7 0C, P: 20x/menit, BB: 68
kg, ekstermitas bawah oedema, pengeluaran pervaginam lender
darah, pembukaan 4 cm, Protein urine : +2, Hb : 11,5 gr/dl,
Golongna Darah : O, HbsAg : Negatif.
2. Interpretasi data diperoleh diagnose kebidana yaitu Ny Y umur
43 tahun hamil 38-39 minggu dengan Pre Eklamsia Berat,
dengan masalah Ny Y sakit menjalar keari-ari dan merasa cemas
dengan keadaannya yang sedang dialaminya dan kebutuhan yang
diberikan adalah KIE tentang Pre Eklamsia Berat dan support
Mental serta Motivasi dari bidan dan keluarga.
3. Diagnose potensial pada Ny Y umur 43 tahun hamil 38-39
minggu dengan Pre Eklamsia Berat tidak terjadi eklamsia dan
Fetal Distrees Karena adanya antisipasi yang tepat.
4. Antisipasi yang dilakunan pada Ny Y umur 43 tahun hamil 38-39
minggu Dengan Pre Eklamsia Berat yaitu tindakan mandiri dan
kolaborasi : seperti tirah baring miring kiri, kolaborasi dengan
dokter SpOG adalah pasng infuse RL drip 1 Amp Oxy 8 – 32 tts
dan observasi KU, dan tekanan darah.

43
5. Rencana tindakan yang diberikan pada Ny Y umur 43 tahun
hamil 38-39 Minggu Dengan Pre Eklamsia Berat Observasi Ku,
TTV, DJJ dan Kontraksi, Pemeriksaan dalam, kolaborasi dengan
dokter SpOG dalam pemberian Infus Rl drip 1 Amp Oxy 8-32 tts,
observasi kemajuan persalinan dan pertolongan persalinan
normal.
6. Pelaksanaan pada Ny Y umur 43 tahun hamil 38-39 Minggu
Dengan Pre Eklamsia Berat telah dilakukan sesau dengan apa
yang telah direncanakan.
7. Evaluasi yang diberikan Ny Y umur 43 tahun hamil 38-39
Minggu Dengan Pre Eklamsia Berat selama dirawat diperoleh
keadaan umum ibu sudah mulai baik, tidak ada masalah potensial
yang muncul, tekanan darah ibu 130/70 mmHg, oedema pada
kaki ibu sudah berkurang ibu sudah merasa nyaman dan ibu
bersedia untuk datang lagi ke tenaga kesehatan bila ibu
mengalami keluhan. Pada kasus Y umur 43 tahun hamil 38-39
Minggu Dengan Pre Eklamsia Berat dengan pengkajian sampai
evaluasi.

2. SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis akan menyampaikan saran
yang mungkin bermanfaat yaitu :
a. Bagi bidan
Diharapkan bidan dapat lebih meningkatkan wawasan dalam
menangani kasus atau melaksanakan asuhan kebidanan khususnya
pada ibu bersalin dengan Pre Eklamsia Berat
b. Bagi instansi dan Institusi
1. Rumah Sakit
Bagi rumah sakit diharapkan dapat memberikan pelayanan
yang maksimal dengan cara meningktkan mutu pelayanan
dengan manajemen kebidanan secara tepat dan professional,
sehingga pasien merasa puas dan nyaman dengan hasil pelayanan
yang diberikan khususnya pada ibu bersalin dengan Pre Eklamsia
Berat.

44
2. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan referensi tambahan secara alternative untuk
pemecahan masalah dan untuk membandingkan teori yang telah
dipelajari dibangku kuliah dan kenyataan dilapangan.
c. Bagi pasien
Diharapkan pasien atau keluarga selama masa kehamilan
melakukan pemeriksaan Antenatal Care ( ANC) secara teratur
sehingga kasus Pre Eklamsia Berat dapat terdeteksi secara dini

45