Anda di halaman 1dari 29

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala atas segala karunia


nikmatnya sehingga makalah pendidikan yang berjudul “Puasa dan Haji” ini
dapat diselesaikan dengan maksimal, tanpa ada halangan yang berarti.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas AIK.

Semoga dengan adanya makalah ini dapat membuka pola fikir penulis
khususnya dan pembaca pada umumnya.

Makalah ini dapat diselesaikan tidak lepas dari bantuan dari berbagai
pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Untuk itu saya ucapkan terima
kasih sebanyak banyaknya.

Saya sebagai penyusun menyadari bahwa masih banyak kesalahan dalam


penyusunan makalah ini, baik dari segi EYD, kosa kata, tata bahasa, etika
maupun isi, terlebih pada kutipan yang mungkin ada kesalahan dalam
pengetikan.

Demikian, semoga makalah ini dapat diterima sebagai ide yang dapat
membantu pembelajaran.

Malang,19 Juli 2018

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. 1


DAFTAR ISI ................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 3
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 3
1.2 Rumusan masalah ................................................................................... 3
1.3 Tujuan Penulisan .................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................. 4
2.1 Puasa dan haji ....................................................................................... 4
2.1.1 Hakikat puasa dan haji ................................................................... 4
2.1.2 Mencapai puasa dan haji yang berkualitas .................................... 7
2.1.3 Hikmah puasa dan haji dalam berbagai aspek ....................... 12
BAB III PENUTUP .................................................................................... 28
3.1 Kesimpuan ............................................................................................ 28
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 29

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Puasa dan Haji adalah Rukun Islam yaitu sesuatu yang wajib ada dan
diyakini oleh setiap orang islam. Namun dalam kenyataan, ibadah banyak
dipraktekkan sebatas melaksanakan perintah, belum dipahami apa kandungan
makna dan pesan dari berbagai bentuk atau symbol-simbol ibadah yang
dilakukan itu.
Di jaman yang modern ini banyak sekali orang melaksanakan puasa
ramadhan sebagai ibadah formalistis dan rutinitas ritual, sehingga tidak ada
perubahan atau evaluasi pasca kita melaksanakan puasa.
Haji adalah perintah Allah SWT dalam Rukun Islam dimana orang yang
mampu dalam segi materi dan jasmani maka diwajibkan untuk melaksanakn
Haji. Kewajiban Ibadah Haji mengandung banyak hikmah besar dalam
kehidupan rohani seorang mukmin, serta mengandung kemaslahatan bagi
seluruh umat islam pada sisi agama dan dunianya.

1.2 Rumusan masalah

Rumusan masalah merupakan upaya yang menyatakan secara tersirat


pertanyaan-pertanyaan, mengingat demikian pentingnya dalam penelitian,
maka sesuai dengan judulnya dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut

1. Apakah hakikat puasa dan haji?


2. Bagaimana cara agar mencapai puasa dan haji yang berkualitas?
3. Bagaimanakah hikmah puasa dan haji dalam berbagai aspek?

1.3 Tujuan Penulisan

Sesuai rumusan masalah tersebut, maka tujuan utama dari pelajaran yang
kita pelajari yaitu :
1. Mengetahui hakikat puasa dan haji
2. Mengetahui cara agar mencapai puasa dan haji yang berkualitas
3. Hikmah puasa dan haji dalam berbagai aspek

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Puasa dan haji

2.1.1 Hakikat puasa dan haji

A. Hakikat Puasa
Sebelum membahas tentang Hakikat puasa, kita harus tau apa arti dari
Hakikat. Hakikat menurut bahasa adalah intisari atau dasar. Sedangkan
puasa (shiyam) menurut bahasa berarti menahan diri dari sesuatu. Yang
mana berarti Hakikat puasa adalah dasar wajibnya menahan diri dari
sesuatu (makan, minum, hubungan seksual suami isteri dan segala yang
membatalkan sejak dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan
niat karena Allah).
Puasa juga terdapat dalam rukun islam. Yaitu rukun islam yang
keempat.
Allah Ta’aka berfirman,

‫ع لَى الَّذِينَ ِم ْن قَ ْب ِل ُك ْم لَعَلَّ ُك ْم تَتَّقُو َن‬ ِ ‫علَ ْي ُك ُم‬


َ ِ‫الصيَا ُم َك َما كُت‬
َ ‫ب‬ َ ِ‫يَا أَيُّ َه ا الَّذِينَ آ َمنُوا ُكت‬
َ ‫ب‬

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa


(Ramadhan) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian
agar kalian bertakwa” (Al-Baqarah: 183).

Karena itu, orang yang ingkar atas wajibnya puasa Ramadahan dihukum
kafir.
Seseorang jika benar-benar berpuasa dengan ikhlas sesuai dengan
sunnah Rasulullah SAW, maka akan menghasilkan,
1. Puasa termasuk sebab terbesar diraihnya ketakwaan, karena itu
melahirkan berbagai bentuk pelaksanaan perintah Allah dan berbagai
bentuk menjauhi larangan-Nya. Kesucian jiwa dan kebersihannya.
2. Mensterilkan dari akhlak yang buruk dan hina.
3. Penendalian hawa nafsu dan penundukan syahwat.

4
4. Orang yang berpuasa melatih dirinya untuk senantiasa merasa diawasi
oleh Allah SWT.

Sosok insan yang berpuasa dengan puasa yang benar dan sempurna akan
menghasilkan berbagai bentuk ketakwaan, namun sebaliknya, jika puasa
seseorang tidak membuahkan berbagai bentuk ketakwaan maka curigailah
puasa tersebut! Tidak mustahil yang didapatkannya adalah haus dan lapar
saja.

Secara lahiriyyah ia berpuasa, namun hakikatnya ia tidak berpuasa,


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫والعطش الجوع صيامه من حظه صائم رب‬

“Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga” (HR.
Ibnu Majah, Al-Hakim dan dia menshahihkannya. Al-Albani mengatakan
hasan sahih)

Alangkah indahnya ungkapan Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam


kitabnya Al-Ubudiyyah:

‫الظواهر إلى ال الحقائق إلى ينظر فالعاقل‬

“(Ciri khas) orang yang berakal adalah melihat hakikat (sesuatu), tidak
terjebak dengan lahiriyyahnya”.

Demikianlah hakikat puasa yang akan membawa manusia beriman


menuju taqwa yang merupakan puncak kemuliaan manusia di hadapan Allah
SWT.

B. Hakikat haji
Di saat sekarang ini kita berada pada waktu ibadah haji. Yang mana
waktu itu sudah jelas ditentukan oleh Allah swt, sebagaimana disebutkan
dalam kitab-Nya QS al-Baqarah [2]: 197,(‫ ) َم ْعلُ ْو َمات أ َ ْش ُهر ال َح ُّج‬Ihram Haji
dilaksanakan pada bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah swt yakni
Syawwal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Dua dari tiga bulan tersebut
merupakan salah satu dari asyhur al-Hurum (empat bulan yang dimuliakan

5
Allah yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, lihat QS al-
Taubah [9]: 36).

Hakikat haji adalah kembali menuju kepada Allah swt. Namun


disimbolkan dengan menuju kepada Baitullah, sebagaimana dijadikan
sebagai definisi haji secara bahasa. Sehingga orang yang menunaikan haji
diharapkan kembali mendekat kepada Allah swt baik secara lahir maupun
batin.
Haji merupakan ibadah yang meliputi beberapa ritual atau lebih
dikenal dengan sebutan manasik. Inti dari manasik haji ada pada wukuf di
Arafah. Sebagaimana sabda baginda Nabi Muhammad saw yang
diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Ibnu Majah dari Abdurrahman bin
Ya’mur: ُ‫ ال َح ُّج َع َرفَة‬Sehingga orang yang berhaji, mau tidak mau –meski
kondisi fisik tidak mendukung- harus berada di padang Arafah pada tanggal
9 Dzulhijjah.
Hakikat wukuf di Arafah adalah mengenal diri sendiri dengan
mengakui segala kesalahan dan dosa, sebagaimana akar kata Arafah yang
berarti ‘mengenal atau mengerti’. Ketika seseorang sudah mampu mengenal
dirinya, lambat laun dia akan mengenal Tuhannya, Allah swt.
Ibadah haji merupakan sebuah bentuk peringatan terhadap sejarah perjalanan
manusia. Bapak semua manusia, Nabi Adam as ketika ditetapkan untuk
tinggal di bumi setelah berbuat kesalahan, ia terpisah dengan pasangannya
Hawa. Keduanya terpisah saling mencari satu sama lain sampai ketemu
setelah sebelumnya diajari oleh Allah swt ‘kalimat’ –lihat QS al-Baqarah [2]:
37- untuk mengenal dirinya dengan mengakui kesalahannya.
Oleh karena itu Para Ulama menilai “kalimat” itu sebagai bagian dari
sarana menuju Alloh dan doa yang berisikan pengakuan kesalahan dan
permohonan ampunan dan rahmat-Nya. Doa itu tersurat dalam firman-Nya
QS al-Aʻraf [7]: 23,

ٰ
( َ‫الخس ِِريْن‬ َ‫ِمن‬ ‫لَنَ ُك ْون ََّن‬ ‫َوت َْر َح ْمنَا‬ ‫لَنَا‬ ‫ت َ ْغ ِف ْر‬ ‫لَ ْم‬ ‫َو ِإ ْن‬ ‫أ َ ْنفُ َسنَا‬ ‫ظلَ ْمنَا‬
َ ‫)ربَّنَا‬
َ
Seyogyanya hakikat haji ini tidak hanya dilakukan bagi jamaah haji saja,
namun dianjurkan juga bagi kaum Muslimin di berbagai pelosok bumi.

6
Kembali kepada Allah swt memohon ampun (memperbanyak istighfar).
Terutama doa Nabi Adam di atas dianjurkan untuk sering-sering dipanjatkan
pada bulan Dzulqa’dah. Semoga kita semua bisa berhaji secara hakiki, Amin.
(AFR)

2.1.2 Mencapai puasa dan haji yang berkualitas

A. Mencapai puasa yang berkualitas

Puasa akan lebih berkualitas jika diisi oleh amalam-amalan. Amalan-


amalan tersebut banyak macamnya dan penuh dengan keberkahan,
diantaranya:

1. Mendirikan sholat lima waktu

Karena Shalat adalah rukun Islam kedua, siapa yang berpuasa tetapi tidak
shalat maka puasanya tidak akan memberi manfaat sedikitpun kepadanya.

َّ ‫س ِم ْعتُ يَقُو ُل عنهما هللا رضي‬


‫ّللاِ َع ْب ِد بْن َجا ِبر َع ْن‬ َ ‫سو َل‬ َّ -‫وسلم عليه هللا صلى‬- ‫بَيْنَ « يَقُو ُل‬
ُ ‫ّللاِ َر‬
َّ َ‫صالَ ِة ت َْركُ َو ْال ُك ْف ِر الش ِْر ِك َو َبيْن‬
‫الر ُج ِل‬ َّ ‫ال‬

Artinya: “Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Aku telah


mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jarak antara
seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat”.
(HR. Muslim)

َّ ‫سو ُل قَا َل قَا َل عنه هللا رضي أَ ِبي ِه َع ْن ب َُر ْيدَة َ ب ِْن‬
‫ّللاِ َع ْب ِد َع ْن‬ َّ -‫وسلم عليه هللا صلى‬- « ُ ‫ْال َع ْهد‬
ُ ‫ّللاِ َر‬
‫صالَة ُ َو َب ْينَ ُه ُم َب ْينَنَا الَّذِى‬
َّ ‫َكفَ َر فَقَدْ ت ََر َك َها فَ َم ْن ال‬

Artinya: “Abdullah bin Buraidah meriwayatkan dari bapaknya radhiyallahu


‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perjanjian
yang ada antar kami dengan mereka (orang kafir) adalah perihal shalat, maka
siapa yang meninggalkannya sungguh dia telah kafir”. (HR. Tirmidzi)

Dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 4143. Dan khusus untuk
lelaki muslim yang baligh dan berkal serta mampu maka diwajibkan untuk

7
mengerjakan shalat lima waktu berjama’ah di masjid, sebagaimana pendapat
yang paling kuat dari para ulama.

2. Berpuasa karena iman dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala.

‫سو ُل قَا َل قَا َل عنه هللا رضي ه َُري َْرة َ أ َ ِبى َع ْن‬ َّ - ‫ وسلم عليه هللا صلى‬- « ‫ام َم ْن‬
ُ ‫ّللاِ َر‬ َ ‫ص‬َ َ‫ضان‬ َ ‫ِإي َمانًا َر َم‬
‫سابًا‬ ُ ُ‫ذَ ْن ِب ِه ِم ْن ت َقَد ََّم َما َله‬
َ ‫غ ِف َر َواحْ ِت‬

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu


‘alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa pada bulan
Ramadhan karena iman dan mengharap pahala maka diampuni dosa-dosa
yang telah lalu". (HR. Bukhari dan Muslim)

3.Shalat Tarawih karena iman dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala,
sangat dianjurkan mengerjakannya secara berjama’ah dengan imam sampai
selesai.

‫سو َل أ َ َّن ه َُري َْرة َ أَبِى َع ْن‬ َّ - ‫ وسلم عليه هللا صلى‬- ‫ام َم ْن « قَا َل‬
ُ ‫ّللاِ َر‬ َ َ‫ضانَ ق‬
َ ‫سابًا إِي َمانًا َر َم‬ ُ
َ ِ‫غ ِف َر َواحْ ت‬
ُ‫ذَ ْن ِب ِه ِم ْن تَقَد ََّم َما لَه‬

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu


‘alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang beribadah pada malam hari
bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala maka diampuni dosa-
dosa yang telah lalu". (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Bersedekah

Memberi makan dan membukakkan puasa.

‫سو ُل قَا َل قَا َل عنه هللا رضي ْال ُج َه ِن ِى خَا ِلد ب ِْن زَ ْي ِد َع ْن‬ َّ َ‫صا ِئ ًما ف‬
َّ -‫وسلم عليه هللا صلى‬- « ‫ط َر َم ْن‬
ُ ‫ّللاِ َر‬ َ
َ‫ص الَ أَنَّهُ َغي َْر أَجْ ِر ِه ِمثْ ُل لَهُ َكان‬
ُ ُ‫صائِ ِم أَجْ ِر ِم ْن يَ ْنق‬
َّ ‫ش ْيئًا ال‬
َ

Artinya: “Zaid bin Khalid Al Juhani radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah


shallallahu ‘alaihi wasallam: "Barangsiapa yang membukakan seorang yang
berpuasa, maka baginya pahala orang berpuasa tadi, tanpa mengurangi pahala

8
orang yang berpuasa itu sedikitpun". (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam
kitab Shahih Al Jami’, no. 6415)

5. Bersungguh-sungguh dalam membaca Al- Qur’an

Yaitu dengan memperbanyak jumlah bacaan dan lebih memahaminya.

ِ ‫سو َل أ َ َّن عنهما هللا رضي َعبَّاس اب ِْن‬


‫عن‬ َّ -‫وسلم عليه هللا صلى‬- َ‫اس أَجْ َو ِد ِم ْن َكان‬
ُ ‫ّللاِ َر‬ ِ َّ‫َوأَجْ َود ُ الن‬
َ ‫سهُ َل ْي َلة ُك َّل َي ْل َقاهُ ِجب ِْري ُل َي ْل َقاهُ ِحينَ َر َم‬
‫ضانَ ِفى َي ُكونُ َما‬ ُ ‫سو ُل فَ َكانَ ْالقُ ْرآنَ يُدَ ِار‬ َّ -‫هللا صلى‬
ُ ‫ّللاِ َر‬
‫وسلم عليه‬- َ‫الريحِ ِمنَ أَجْ َودَ ِجب ِْري ُل يَ ْلقَاهُ ِحين‬
ِ ‫سلَ ِة‬ ْ
َ ‫ال ُم ْر‬.

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah


shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan, dan lebih
dermawan lagi ketika beliau berada di dalam bulan Ramadhan, ketika Jibril
mendatangi beliau, Jibril menemui beliau setiap malam, mengajarkan kepada
beliau Al Quran, adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika
ditemui oleh Jibril lebih pemurah daripada angin yang mengalir. (HR. Ahmad
dan dishahihkan oleh Al Albani)

Tentunya amalan-amalan diatas ada diantaranya yang harus dikerjakan


sepanjang tahun, bukan hanya di bulan Ramadhan saja. Tentunya juga, masih
banyak amal ibadah lainnya yang bisa dikerjakan di dalam bulan ramdhan
bulan penuh berkah ini.

B. Mencapai haji yang berkualitas (Mabrur)

Bagi umat islam yang Allah karuniai kecukupan rizki hendaklah mereka
menundaikan iibadah haji, karena haji merupakan kewajiban dan bagian dari
rukun islam.

Apa itu haji yang berkualitas atau mabrur? Ulama berbeda pendapat
dalam memaknai haji mabrur. Sebagian berpendapat bahwa ia adalah amalan
haji yang diterima di sisi Allah, dan sebagiannya lagi berpendapat yaitu haji
yang buahnya tampak pada pelakunya dengan indikasi keadaannya setelah
berhaji jauh lebih baik sebelum ia berhaji. (lihat Fathul Allam oleh Shiddiq
Hasan Khan 1/594). Salah seorang Ulama Hadis Al Hafidh Ibn Hajar al’
Asqalani dalam kitab Fathul Baarii, syarah Bukhori Muslim menjelaskan:

9
“Haji mabrur adalah haji yang maqbul yakni haji yang diterima oleh
Allah Subhanahu waTa’ala.”

Pendapat lain yang saling menguatkan dijelaskan oleh Imam Nawawi


dalam syarah Muslim: “Haji mabrur itu ialah haji yang tidak dikotori oleh
dosa, atau haji yang diterima Allah Subhanahu waTa’ala, yang tidak ada
riyanya, tidak ada sum’ah tidak rafats dan tidak fusuq.”

Selanjutnya oleh Abu Bakar Jabir al Jazaari dalam kitab, Minhajul


Muslimin mengungkapkan bahwa: “Haji mabrur itu ialah haji yang bersih
dari segala dosa, penuh dengan amal shaleh dan kebajikan-kebajikan.”
Berdasarkan rumusan yang diberikan oleh para Ulama di atas tentang
pengertian haji mabrur ini, maka dapat kita simpulkan bahwa haji mambur
adalah haji yang dapat disempurnakan segala hukum-hukum berdasarkan
perintah Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi waSallam. Sebuah predikat
haji yang tidak mendatangkan perasaan riya’ bersih dari dosa senantiasa
dibarengi dengan peningkatan amal-amal shalih, tidak ingin disanjung dan
tidak melakukan perbuatan keji dan merusak.

Makna di atas saling berdekatan, dan untuk mencapai kemabruran haji


tentu tidak dapat terlepas dari makna diatas. Dengan demikian Al-Allamah
Al-Munâwi berkata ketika menjelaskan makna ‘haji mabrur’ : ‘Maknanya
adalah haji yang diterima, yaitu haji yang tidak tercampur dengan dosa
apapun, dan diantara indikasi diterimanya adalah ia kembali melakukan
kebaikan yang pernah ia lakukan dan ia tidak kembali melakukan
kemaksiyatan.’ (Faidhul Qadîr oleh Al-Allamah Al-Munâwi 3/520)

Untuk meraih predikan haji mabrur, maka harus terkumpul di dalamnya hal-
hal sebagai berikut:

1. Hendaknya haji yang ia lakukan harus benar-benar ikhlas karena


Allah, bahwa motivasinya dalam berhaji tidak lain hanya karena
mencari ridha Allah dan bertaqarrub kepada-Nya. Ia berhaji bukan
karena riya’ dan sum’ah, dan bukan pula karena ingin di gelar dengan
sebutan haji. Ia berhaji semata-mata mencari keridhaan Allah.

10
2. Haji yang ia lakukan mesti serupa dengan sifat haji Nabi Sallallahu
Alaihi wa Sallam. Maksudnya dalam melakukan pro-ses ibadah haji,
manusia dengan segenap kemampuannya mengikuti cara yang
dicontohkan Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam.
3. Hendaknya ia menjauhi rafats (menge-luarkan perkataan yang
menimbulkan birahi/bersetubuh), berbuat fasik, dan berbantah-
bantahan. Allah berfirman:

َ ‫ث فَالَ ْال َح َّج فِي ِه َّن فَ َر‬


‫ض فَ َمن‬ َ َ‫ْال َحجِ فِي ِجدَا َل َوالَ فُسُوقَ َوالَ َرف‬

Artinya: ‘Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan


mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan
berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. (QS. Al-
Baqarah 197).
4. Harta yang ia pakai untuk berhaji adalah harta yang mubah bukan
yang haram. Bukan diperoleh dari hasil transaksi riba, tipuan, judi dan
bentuk-bentuk lainnya yang diharamkan. Tapi, didapat dari usaha
halal.

Untuk menjadi haji yang berkualitas juga ada penekanan yaitu menjaga
amal. Seperti yang dikatakan oleh Al-Munâwi, diantara indikasi diterimanya
amal haji seseorang adalah ia kembali melakukan kebaikan yang pernah
dilakukan dan tidak kembali melakukan kemaksiatan. Itu bermakna tugas
seorang hamba bukan hanya sekedar beramal shalih saja, tetapi yang lebih
berat dari itu adalah menjaga amal itu dari apa saja yang merusak dan
menggugurkan-nya, riya’, dapat merusak amal meskipun sangat tersembunyi,
dan ini banyak sekali dan tak terhitungkan.

Amal yang tidak sesuai sunnah dapat menggugurkan amal. Merasa


berjasa kepada Allah juga dapat merusak amal. Mengganggu sesama makhluk
dapat membatalkan amal, dan sengaja menentang dan meremehkan perintah
Allah dapat membatalkannya dsb.

11
2.1.3 Hikmah puasa dan haji dalam berbagai aspek
A. Hikmah Puasa
1. Dari aspek psikologis

Manfaat puasa bagi perkembangan jiwa diantaranya yaitu:

a) Puasa dapat menghilangkan sifat hewaniyah


Dalam melakukan ibadah puasa tidak hanya diwajibkan
menahan lapar dan haus semata akan tetapi wajib pula menahan dan
menutup segala atau segenap panca indera dari semacam pengaruh
dan perbuatan maksiat dan harus mampu mencegah gerakan tubuh
maupun bisikan bathin yang dapat menimbulkan pengaruh pada
perbuatan jelek dan tidak terpuji.
b) Menciptakan dan meningkatkan daya nalar
Biasanya puasa sebagai penapis dan penyaring yang
selanjutnya menentukan kadar ketakwaan seseorang (remaja). Mereka
membentuk watak yang kukuh tegak dalam segala keadaan dan
waktu.
Tidak gampang terperdaya dari terpaan dan godaan, lantaran
menghujam direlung hati iman yang mapan. Malah yang hebat lagi
puasa dapat membersihkan rohani dan meningkatkan nalar pikiran
dari segala muskil kesukaran, serta merta mampu mengentas derajat
kemanusiaan.
c) Nalar pikiran ke Alam Illahi
Sudah banyak tokoh Islam atau para ulama’ yang mashur,
cerdas lewat usahanya melalui puasa, acapkali membuahkan tulisan-
tulisan yang berharga seperti Buya Hamka, beliau melakukan
meditasinya lewat prosesi ibadah puasa, ada nalar yang mengarah
kepada ruh yang ditiupkan, disini istilahnya alam ilahiyah
d) Aku (Ego) lahir dan Aku bathin
Puasa merupakan intuisi disiplin moral dan fisik yang
menerawang ke alam ilahi, adalah tujuan mulua manusia (remaja)
mencapai tingkatan spiritual manusia yang paling tinggi .

12
e) Egois menjadi Ikhlas
Dalam perjalanan yang lebih nyat, penyakit egosentris
acapkali menggunakan golongan lain sebagai alat untuk
mempengaruhi atau menguasai sesuatu menjadi objek.

f) Puasa dan penyakit psikosomatik


Perlu adanya pembuktian adanya dari cabang ilmu kesehatan
misalnya ilmu urai tubuh (anatomi), ilmu pengobatan (farmakologi),
ilmu sebab-sebab penyakit(acteologi), ilmu asal datangnya
penyakit (patologi) dan ilmu ketentuan hilangnya
penyakit (prangnostik)
Ada lagi fungsi yang bersifat rohani atau yang bersifat Psikis,
diantaranya;
Kemudian dengan memperhatikan dan mempelajari rahasia-
rahasia puasa, berkesimpulan bahwa Allah memfardlukan puasa atas
manusia (remaja) adalah;
 Untuk menanam rasa sayang dan ramah tamah kepada fakir
miskin, kepada anak yatim dan kepada orang yang melarat
hidupnya.
 Untuk membiasakan diri dan jiwa memelihara amanah. Kita
mengetahui, bahwa puasa itu suatu amalan Allah yang berat
dan sukar. Maka apabila kita dapat memelihara segala amanah
dengan sempurna terdidiklah kita untuk memelihara segala
amanah yang dipertaruhkan kepada kita.
 Untuk menyuburkan dalam jiwa kita kekuatan menderita
apabila kita terpaksa menderita dan untuk menguatkan iradat,
atau kehendak kita dan untuk meneguhkan azimah atau
keinginan dan kemauan.
Landasan orang berpuasa dari segi psikis seperti hadits yang
di ceritakan sahabat Sa’id Bin Musayyab;
Artinya : “Dari Sa’id Bin Musayyab sesungguhnya dia telah
mendengarkan dari Abi Hurairah r.a berkat, Rasulullah telah

13
bersabda: “Semua amalan manusia adalah untuk dirinya
kecuali puasa, maka itu adalah untukku dan aku yang akan
memberikan ganjaran”. (H.R. Muslim)76.

2. Dari aspek Pendidikan


Puasa erat hubungannya dengan pedadogi atau ilmu pengetahuan,
terutama pendidikan mental, budi pekerti atau akhlak; bahkan sebagai
bentuk pendidikan kepribadian yang sangat luas pengertiannya itu.
Puasa mendidik seseorang untuk merasakan lapar dan haus yang
disengaja sehingga memiliki timbang rasa dan tepo saliro tentang betapa
sengsaranya orang-orang fakir/miskin yang sering kelaparan. Dari timbang
rasa dan tepo saliro itu diharapkan pula tumbuhnya rasa dan sikap
social, jiwa altruistis dan kesetiakawanan social yang tinggi.
Puasa mendidik kesabaran diakal kekurangan makanan/minuman dan
bersyukur dikala berkecukupan (kenyang). Dalam hubungannya dengan
pendidkan kepribadian bahwa kepribadian seseorang dibentuk melalui
latihan kebiasaan. Kalau seseorang dikenalkan pada jenis makanan dari
daun-daunan (sayur-sayuran) misalnya, tentu akan menjadi kebiasaannta
sebagai vegetarian; demikian pula kalau selalu dikenalkan pada jenis
makanan yang lezat-lezat, tentu akan menjadi kebiasaannya pula, sehingga
pada saat tidak mendapatkan makanan yang demikian, dia akan kecewa,
marah, menangis, berteriak-teriak dan sebagainya.
Puasa akan mendidk seseorang tidak terpengaruh oleh nafsu
bahimiyah (binatang ternak) yang hidupnya hanya makan, minum dan
berhubunga kelamin. Puasa kan mengikis kecenderungan “hidup hanya
untuk makan”, sehingga tiada variasi kerja dan kegiatan lainnya, kecuali
kegiatan mencari dan mengumpulkan makanan-makanan dan minuman-
minuman melulu sejak pagi buta hingga malam hari.
Puasa bagi seseorang akan mendidik (membina) agar dapat hidup
denga pola sederhana, menerima apa adanya, tak perlu mencari yang
haram dan tercela. Dia tidak akan hidup bermanja-manja dengan segala

14
harus ada dan tersedia. Dia juga tidak akan hidup serakah, tamak atau
rakus. Dengan puasa akan terdidik (terbina) kepribadian luruh, harga diri
sebagai manusia, bukan sebagai “kerbau-kerbau” yang mulutnya tak
hendak berhenti mengunyah makanan.
Kita tentu masih ingat tentang firman Allah dalam Surat Al-Baqarah
ayat 183 bahwa puasa adalah agar kita bertakwa atau memiliki ketakwaan
kepada Allah. Ketwakwaan merupakan tujuan utama pendidikan; setelah
itu akhlak (budi pekerti) mulia, kepribadian luhur, disiplin (ketaatan), rasa
tanggung jawab, kecintaan kepada Tanah Air, nasionalisme,
kesetiakawanan social, dan sebagainya.
Rasulullah juga mengingatkan bahwa ilmu (pengetahuan) dan akal
(kecerdasan) tak aka nada bersama perut yang selalu diisi dengan
makanan/minuman. Perut yang kekenyangan menjadikan seseorang
mudah dan suka mengantuk serta malas berpikir, belajar atau bekerja.
Perut yang selalu dipenuhi makanan dapat melunturkan didikan
patriotism, heroism, pengabdian dan rasa tanggung jawab. Lebih buruk
lagi bila memiliki sifat tamak dan hendak meletakkan segala sesuatunya di
atas kepentingan perut. Di sinilah pentingnya pendidikan kepribadian dan
puasa merupakan salah satu saran pendidikan yang sangat efektif. Bahkan
para pemangku dunia pendidikan, umumnya berada pada kesatuan
pandangan bahwa pendidikan kepribadian mempunyai tempat yang paling
utama, sebagai anti ilmu, system dan tjuan pendidikan, yang akan
membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan,
kecerdasan, keterampilan, budi luhur, semangat yang menggelora, dan
kepribadian-kepribadian lainnya menuju terwujudnya manusia-manusia
yang berkualitas, paripurna serta berguna bagi agamam masyarakat,
bangsa dan beragama.
Dalam kaitannya dengan puasa, bahwa dalam ilmu pendidikan kita
kenal teori-teori seperti teori pengosongan, pemulihan tenaga, penurunan
atavisme, keseimbangan, pembersihan dan lain-lainnya. Semua itu
mendukung ajaran/praktik puasa dan berpantang, yang mempunyai arti
terhadap perkembangan jiwa, watak, emosional dan sebagainnya.

15
Penyelidikan lain menunjukkan bahwa pelaparan, pengosongan atau
pemiskinan yang teratur dari puasa atau berpantang, besar pengaruhnya
bagi pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan dan kecakapan. Bahkan
mudah menimbulkan inspirasi, mempertajam intusis dan mendatangkan
ilham (inovasi).
Hal itu mengingatkan kita bahwa tidak semua anak dan orang yang
pandai/cerdas dan cakap harus selalu lahir dari tengah-tengah kehidupan
keluarga dan masyarakat yang selalu hidup senang/mewah, tidak pernah
kekurangan pangan, dan selalu cukup kalori dan gizi, sebab kita melihat
juga mereka yang lahir dan dibesarkan di tengah-tengah kehidupan yang
minus, miskin dan kurang. Mereka tidak harus lahir dari lingkungan
perkotaan yang selallu mengenal daging, susu, mentega dan lain
sebagainya, melainkan dapat juga lahir dari tengah-tengah alam perdesaan
yang mengenal sayur-sayuran (vegetative).
Pada anak-anak atau orang-orang yang banyak makan dan minum
berlebih-lebihan dan tidak teratur/tidak terkontrol, banyak kita dapati
mereka yang tumpul berpikir, malas berencana, enggan bekerja/berusaha,
lebih sering mengantuk/tidur, bersikap masa bodoh, kurang kreatif dan
inovatif, kurang dinamis dan kurang memiliki elen vital.
Hubungannya puasa dengan ilmu pendidikan sebenarnya dibuktikan
pula di kalangan masyarakat Indonesia, di mana para pemangku dunia
pendidikan Islam memanfaatkan bulan Ramadhan untuk lebih
menanamkan didikan puasa, baik melalui program kulikuler di sekolah
maupun didikan melalui program nonkulikuler di lingkungan keluarga dan
masyarakat. Di situlah ajaran puasa diterangkan, dikupas dan diajarkan
secara tertib dan sistematis, terutama kepada anak-anak pelajar, mahasiswa
dan generasi muda umumnya. Bulan Ramadhan dijadikan bulan
pendidikan dan latihan missal dan sebagai kesempatan yang sangat
berharga yang hanya dating satu kali dalam satu tahun.

3. Puasa dari aspek Ilmu Kesehatan

16
a) Puasa dapat mengistirahatkan organ-organ tubuh
Manusia dalam kesehariannya atau diluar puasa bulan puasa ketika sedang
tidak berpuasa, alat-alat pencernaan di dalam tubuh akan bekerja ekstra keras,
oleh karena itu. Sudah sepatutnya alat pencernaan tersebut diberi waktu untuk
beristirahat, paling sedikitnya selama satu bulan dalam setahun.
Makanan yang masuk kedalam tubuh manusia (remaja) memerlukan proses
pencernaan kurang lebih dari delapan jam yang terdiri dari empat jam
diproses di dalam lambung dan empat jam di usus kecil (ileum).

b) Membersihkan tubuh dari racun, kotoran dan ampas


Dalam tubuh manusia terdapat sampah berbahaya semisal feaces atau
tinja, urine, CO 2 dari keringat maka dari itu tubuh akan terancam bahaya
juka mengalami sembelit yang disebabkan oleh menumpuknya sisa-sisa sari
makanan (tinja) di usus yang dampaknya akan menyebabkan tinja/racun
terserap kembali pada tubuh.

c) Mempercepat regenerasi kulit

Tubuh manusia(remaja) mengalami metabolisme energi yakni, peristiwa


perubahan dari energi yang terkandung dalam zat gizi menjadi energi
potensial dalam tubuh, sisanya akan disimpan dalam tubuh, sel ginjal, sel
kulit, pelupuk mata serta dalam bentuk lemak dan glikogen. Cadangan gizi
inilah yang akan membakar menjadi energi jika jika tubuh tidak mendapat
suplai pangan dari luar, ketika berpuasa manusia (remaja) akan cadangan
energi yang tersimpan dalam organ-organ tubuh akan dikeluarkan, yang
akhirnya melegakan pernafasan organorgan tubuh dan sel penyimpanan.
Menghambat perkembangan atau pertumbuhan bakteri, virus dan sel kanker.
Dalam tubuh manusia (anak) terdapat parasitparasit yang menumpang hidup
termasuk menumpang makan dan minum, dengan jalan menghentikan
pemasukan makanan. Maka kuman-kuman penyakit seperti bakteri-bakteri
dan selsel kanker tidak akan bisa bertahan hidup, mereka akan keluar melalui
cairan tubuh bersama sel-sel yang telah mati dan toksin.

d) Meningkatkan sistem kekebalan tubuh

17
Adanya penambahan sel darah putih, hal ini berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh para ahli kesehatan. Meningkatkan daya serap tubuh,
Umumnya orang hanya menyerap 35 % dari gizi makanan yang
dikonsumsinya dengan berpuasa penyerapan gizi dapat mencapai 85 %.
Menciptakan keseimbangan elektrolit di dalam lambun Keberadaan zat kimia
yang bersifat alkali dan bersifat asam di dalam tubuh manusia (remaja) harus
seimbang.

e) Memperbaiki fungsi hormon

Kelenjar endokrin akan menghasilkan zat-zat kimia yang mengeluarkan


hormon, jika tugasnya sudah selesai, maka pengeluaran hormon akan
dihentikan untuk sementara waktu sambil menunggu tugas yang sama
berikutnya, hal ini karena pada saat-saat terttentu misalnya disaat sedih,
gembira, cemas, bersikap sosial dan sebagainya.

f) Meningkatkan fungsi organ reproduksi


Peningkatan fungsi organ reproduksi ini erat kaitannya dengan
peremajaan sel yang mendatangkan perubahan pada sel-sel urogenitalis dan
jaringan-jaringan organ reproduksi wanita, terjadi perubahan metabolik pada
saat menjalankan puasa, terutama yang dilangsungkan lewat kelenjar-
kelenjar endokrin.

g) Meremajakan atau mempercepat pegenasi sel-sel tubuh.

Organ-organ tubuh ketika manusia menjalankan puasa organ ini akan


dalam keadaan rileks, organ-organ tubuh disini terdiri dari jaringan-jaringan
yang merupakan kumpulan dari sel-sel sejenis serta ada berbagai macam sel
dalam tubuh manusia, antara lain sel darah, sel tulang, sel syaraf, sel otot dan
sel lemak.

h) Meningkatkan fungsi fisiologis organ tubuh

Manusia (remaja) berpuasa berati memberikan kesempatan interval selam


kurang lebih empat belas jam bgi organ-organ tubuh seperti lambung, ginjal
dan lever, selama itu tubuh tidak menerima makanan maupun minuman.

18
Sehingga akan menimbulkan efek berupa rangsangan terhadap seluruh sel,
jaringan dan organ tubuh, efek rangsangan ini akan menghasilkan,
memulihkan dan meningkatkan fungsi fisiologinya, misalkan panca indra
menjadi semakin tajam dan peka.

B. Hikmah Haji
Sebuah ibadah tahunan yang besar yang Allah syari’atkan bagi para
hamba-Nya, mempunyai berbagai manfaat yang besar dan tujuan yang besar
pula, yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat. Dan diantara hikmah
ibadah haji ini adalah.

1. Mengikhlaskan Seluruh Ibadah

Beribadah semata-mata untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan


menghadapkan hati kepada-Nya dengan keyakinan bahwa tidak ada yang
diibadahi dengan haq, kecuali Dia dan bahwa Dia adalah satu-satunya pemilik
nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia. Tidak ada sekutu bagi-Nya,
tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak ada tandingan-Nya.

Dan hal ini telah diisyaratkan dalam firman-Nya.

ُّ ‫طائِفِينَ َو ْالقَائِ ِمينَ َو‬


ُّ ‫الر َّكعِ ال‬
‫س ُجو ِد‬ َّ ‫ي ِلل‬ َ ‫ت أ َ ْن َال ت ُ ْش ِر ْك بِي َش ْيئًا َو‬
َ ِ‫ط ِه ْر َب ْيت‬ َ ‫َوإِذْ بَ َّوأْنَا ِ ِِلب َْراه‬
ِ ‫ِيم َم َكانَ ْالبَ ْي‬

“Dan ingatlah ketika Kami menempatkan tempat Baitullah untuk Ibrahim


dengan menyatakan ; “Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan apapun
dan sucikan rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, beribadah, ruku dan
sujud” [al-Hajj/22: 26]

Mensucikan rumah-Nya di dalam hal ini adalah dengan cara beribadah


semata-mata kepada Allah di dekat rumah-Nya (Ka’bah) yang mulia,
mebersihkan sekitar Ka’bah dari berhala-berhala, patung-patung, najis-najis
yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan serta dari segala hal yang
mengganggu orang-orang yang sedang menjalankan haji atau umrah atau hal-
hal lain yang menyibukkan (melalaikan, -pent) dari tujuan mereka.

19
2. Mendapat Ampunan Dosa-Dosa Dan Balasan Jannah

‫ارة‬َ َّ‫ ا َ ْلعُ ْم َرة ُ ِإ َلى اَ ْلعُ ْم َر ِة َكف‬: ‫ّللاِ صلى هللا عليه وسلم َقا َل‬ ُ ‫َع ْن أ َ ِبي ه َُري َْرة َ رضي هللا عنه أ َ َّن َر‬
َّ َ ‫سو َل‬
َ‫ْس لَهُ َجزَ اء ِإ َّال ا َ ْل َجنَّة‬َ ‫ور لَي‬ ُ ‫ َو ْال َح ُّج اَ ْل َمب ُْر‬,‫ِل َما َب ْي َن ُه َما‬

“Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


“Satu umrah sampai umrah yang lain adalah sebagai penghapus dosa antara
keduanya dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali jannah” [HR
Bukhari dan Muslim, Bahjatun Nanzhirin no. 1275]

ُ‫س ْق َر َج َع َكيَ ْوم َولَدَتْهُ أ ُ ُّمه‬


ُ ‫ث َو لَ ْم يَ ْف‬
ْ ُ‫َم ْن َح َّج ِ َّّلِل فَلَ ْم يَ ْرف‬

“Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Aku mendengar Nabi


Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa barang siapa berhaji ke
Baitullah ini karena Allah, tidak melakukan rafats dan fusuuq, niscaya ia
kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya” [HR Bukhari]

Rafats : jima’ ; pendahuluannya dan ucapan kotor, Fusuuq : kemaksiatan

Sesungguhnya barangsiapa mendatangi Ka’bah, kemudian menunaikan haji


atau umrah dengan baik, tanpa rafats dan fusuuq serta dengan ikhlas karena
Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengampuni dosa-dosanya dan menuliskan jannah baginya. Dan hal inilah
yang didambakan oleh setiap mu’min dan mu’minah yaitu meraih
keberuntungan berupa jannah dan selamat dari neraka.

3. Menyambut Seruan Nabi Ibrahima Alaihissalam

‫امر يَأْتِينَ ِم ْن ُك ِل فَج َع ِميق‬


ِ ‫ض‬َ ‫اس بِ ْال َحجِ يَأْتُوكَ ِر َج ًاال َو َعلَ ٰى ُك ِل‬
ِ َّ‫َوأَذ ِْن فِي الن‬

20
“Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu
dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari
segenap penjuru yang jauh”[al-Hajj/22: 27]
Nabi Ibrahim Alaihissalam telah menyerukan (agar berhaji) kepada manusia.
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan siapa saja yang Dia kehendaki
(untuk bisa) mendengar seruan Nabi Ibrahim Alaihissalam tersebut dan
menyambutnya. Hal itu berlangsung semenjak zaman Nabi Ibrahim hingga
sekarang.

4. Menyaksikan Berbagai Manfaat Bagi Kaum Muslimin

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

‫ِل َي ْش َهد ُوا َمنَا ِف َع لَ ُه ْم‬

“Agar supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” [al-


Hajj/22: 28]

Alah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan manfaat-manfaat dengan muthlaq


(secara umum tanpa ikatan) dan mubham (tanpa penjelasan) karena
banyaknya dan besarnya menafaat-manfaat yang segera terjadi dan nanti akan
terjadi baik duniawi maupun ukhrawi.

Dan diantara yang terbesar adalah menyaksikan tauhid-Nya, yakni mereka


beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Mereka datang
dengan niat mencari wajah-Nya yang mulia bukan karena riya’ (dilihat orang
lain) dan juga bukan karena sum’ah (dibicarakan orang lain). Bahkan mereka
betauhid dan ikhlas kepada-Nya, serta mengikrarkan (tauhid) di antara
hamba-hamba-Nya, dan saling menasehati di antara orang-orang yang datang
(berhaji dan sebagainya,-pent) tentangnya (tauhid).

Mereka thawaf mengelilingi Ka’bah, mengagungkan-Nya, menjalankan


shalat di rumah-Nya, memohon karunia-Nya, berdo’a supaya ibadah haji

21
mereka diterima, dosa-dosa mereka diampuni, dikembalikan dengan selamat
ke nergara masing-masing dan diberi anugerah kembali lagi untuk berdo’a
dan merendah diri kepda-Nya.

Mereka mengucapkan talbiyah dengan keras sehingga di dengar oleh orang


yang dekat ataupun yang jauh, dan yang lain bisa mempelajarinya agar
mengetahui maknanya, merasakannya, mewujudkan di dalam hati, lisan dan
amalan mereka. Dan bahwa maknanya adalah : Mengikhlaskan ibadah
semata-mata untuk Allah dan beriman bahwa Dia adalah ‘ilah mereka yang
haq, Pencipta mereka, Pemberi rizki mereka, Yang diibadahi sewaktu haji dan
lainnya.

5. Saling Mengenal Dan Saling Menasehati


Dan diantara hikmah haji adalah bahwa kaum muslimin bisa saling
mengenal dan saling berwasiat dan menasehati dengan al-haq. Mereka
datang dari segala penjuru, dari barat, timur, selatan dan utara Makkah,
berkumpul di rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tua, di Arafah, di
Muzdalifah, di Mina dan di Makkah. Mereka saling mengenal, saling
menasehati, sebagian mengajari yang lain, membimbing, menolong,
membantu untuk maslahat-maslahat dunia akhirat, maslahat taklim tata
cara haji, shalat, zakat, maslahat bimbingan, pengarahan dan dakwah ke
jala Allah.
Mereka bisa mendengar dari para ulama, apa yang bermanfaat bagi
mereka yang di sana terdapat petunjuk dan bimbingan menuju jalan yang
lurus, jalan kebahagiaan menuju tauhidullah dan ikhlas kepada-Nya,
menuju ketaatan yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
mengetahui kemaksiatan untuk dijauhi, dan supaya mereka mengetahui
batas-batas Allah dan mereka bisa saling menolong di dalam kebaikan dan
taqwa.

6. Mempelajari Agama Allah Subhanahu wa Ta’ala

22
Dan diantara manfaat haji yang besar adalah bahwa mereka bisa
mempelajari agama Allah dilingkungan rumah Allah yang tua, dan di
lingkungann masjid Nabawi dari para ulama dan pembimbing serta
memberi peringatan tentang apa yang mereka tidak ketahui mengenai
hukum-hukum agama, haji, umrah dan lainnya. Sehingga mereka bisa
menunaikan kewajiban mereka dengan ilmu.
Dari Makkah inilah tertib ilmu itu, yaitu ilmu tauhid dan agama.
Kemudian (berkembang) dari Madinah, dari seluruh jazirah ini dan dari
seluruh negeri-negeri Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada ilmu dan ahli
ilmu. Namun semua asalnya adalah dari sini, dari lingkungan rumah Allah
yang tua.

Maka wajib bagi para ulama dan da’i, dimana saja mereka berada, terlebih
lagi di lingkungan rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala ini, untuk mengajari
manusia, orang-orang yang menunaikan haji dan umrah, orang-orang asli dan
pendatang serta para penziarah, tentang agama dan manasik haji mereka.

Seorang muslim diperintahkan untuk belajar, bagaimanapun (keadaannya) ia,


dimana saja dan kapan saja ; tetapi di lingkungan rumah Allah yang tua,
urusan ini (belajar agama) lebih penting dan mendesak.

Dan di antara tanda-tanda kebaikan dan kebahagian seseorang adalah belajar


tentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Shallallahu ‘alaihi bersabda
:

‫َم ْن ي ُِر ِد هللاُ بِ ِه َخي ًْرا يُفَ ِق ْههُ فِي ال ِدي ِْن‬

“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala


memperoleh kebaikan, niscaya Dia menjadikan faqih terhadap agama” [HR
Bukhari, Kitab Al-Ilmi 3 bab : 14]

23
Di sini, di negeri Allah, di negerimu dan di negeri mana saja, jika engkau
dapati seorang alim ahli syari’at Allah, maka pergunakanlah kesempatan.
Janganlah engkau takabur dan malas. Karena ilmu itu tidak bisa diraih oleh
orang-orang yang takabur, pemalas, lemah serta pemalu. Ilmu itu
membutuhkan kesigapan dan kemauan yang tinggi.

Mundur dari menuntut ilmu, itu bukanlah sifat malu, tetapi suatu kelemahan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

ِ ‫ّللاُ َال يَ ْستَحْ ِيي ِمنَ ْال َح‬


‫ق‬ َّ ‫َو‬

“Dan Allah tidak malu dari kebenaran” [al-Ahzab/ : 53]

Karenanya seorang mukmin dan mukminah yang berpandangan luas, tidak


akan malu dalam bab ini ; bahkan ia maju, bertanya, menyelidiki dan
menampakkan kemusykilan yang ia miliki, sehingga hilanglah kemusykilan
tersebut.

7. Menyebarkan Ilmu
Di antara manfaat haji adalah menyebarkan ilmu kepada saudara-
saudaranya yang melaksanakan ibadah haji dan teman-temannya
seperjalanan, yang di mobil, di pesawat terbang, di tenda, di Mekkah dan
di segala tempat. Ini adalah kesempatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala
anugerahkan. Engkau bisa menyebarkan ilmu-mu dan menjelaskan apa
yang engkau miliki, akan tetapi haruslah dengan apa yang engkau ketahui
berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan istimbath ahli ilmu dari
keduanya. Bukan dari kebodohan dan pemikiran-pemikiran yang
menyimpang dari Al-Kitab dan As-Sunnah.

8. Memperbanyak Ketaatan
Di antara manfaat haji adalah memperbanyak shalat dan thawaf,
sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

24
ِ ‫ت ْالعَتِي‬
‫ق‬ ِ ‫ط َّوفُوا بِ ْالبَ ْي‬
َّ َ‫ور ُه ْم َو ْلي‬
َ ُ‫ث ُ َّم ْليَ ْقضُوا تَفَثَ ُه ْم َو ْليُوفُوا نُذ‬

“Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan


mereka ; hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan
hendaklah mereka berthawaf sekeliling rumah yang tua itu (Ka’bah)” [Al-
Hajj/22 : 29]

Maka disyariatkan bagi orang yang menjalankan haji dan umrah untuk
memperbanyak thawaf semampunya dan memperbanyak shalat di tanah
haram. Oleh karena itu perbanyaklah shalat, qira’atul qur’an, tasbih, tahlil,
dzikir. Juga perbanyaklah amar ma’ruf nahi mungkar dan da’wah kepada
jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala di mana banyak orang berkumpul dari
Afrika, Eropa, Amerika, Asia dan lainnya. Maka wajib bagi mereka untuk
mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

9. Menunaikan Nadzar
Walaupun nadzar itu sebaiknya tidak dilakukan, akan tetapi seandainya
seseorang telah bernadzar untuk melakukan ketaatan, maka wajib baginya
untuk memenuhinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

ُ‫ّللاَ فَ ْلي ُِط ْعه‬


َّ ‫َم ْن نَذَ َر أَ ْن ي ُِطي َع‬

“Barangsiapa bernadzar untuk mentaati Allah, maka hendaklah dia mentaati-


Nya” [HR Bukhari]

Maka apabila seseorang bernadzar di tanah haram ini berupa shalat, thawaf
ataupun ibadah lainnya, maka wajib baginya untuk menunaikannya di tanah
haram ini.

25
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

َ ُ‫َو ْليُوفُوا نُذ‬


‫ور ُه ْم‬

“Dan hendaklah mereka menunaikan nadzar” [al-Hajj/22: 29]

10. Menolong Dan Berbuat Baik Kepada Orang Miskin


Di antara manfaat haji adalah bisa menolong dan berbuat baik kepada
orang miskin baik yang sedang menjalankan haji atau tidak di negeri yang
aman ini.

Seseorang dapat mengobati orang sakit, menjenguknya, menunjukkan ke


rumah sakit dan menolongnya dengan harta serta obat.

Ini semua termasuk manfaat-manfaat haji.

‫ِل َي ْش َهد ُوا َمنَافِ َع لَ ُه ْم‬

“….agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” [al-Hajj/22:


28]

11. Memperbanyak Dzikir Kepada Allah


Di negeri yang aman ini hendaklah memperbanyak dzikir kepada Allah,
baik dalam keadaan berdiri, duduk dan bebaring, dengan tasbih (ucapan
Subhanallah), hamdalah (ucapan Alhamdulillah), tahlil (ucapan Laa
ilaaha ilallah), takbir (ucapan Allahu Akbar) dan hauqallah (ucapan Laa
haula wa laa quwata illa billah).

Dari Abu Musa Al-As’ari Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda :

ِ ِ‫َمث َ ُل الَّذِي يَذْ ُك ُر َربَّهُ َوالَّذِي َال يَذْ ُك ُر َربَّهُ َمث َ ُل ْال َحي ِ َو ْال َمي‬
‫ت‬

26
“Perumpamaan orang yang mengingat Rabb-nya dan yang tidak mengingat-
Nya adalah sebagai orang hidup dan yang mati”. [HR Bukhari, Bahjatun
Nadzirin no. 1434]

12. Berdo’a Kepada-Nya


Di antara manfaat haji, hendaknya bersungguh-sungguh merendahkan
diri dan terus menerus berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar
Dia menerima amal, membereskan hati dan perbuatan ; agar Dia
menolong untuk mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya dan
memperbagus ibadah kepada-Nya ; agar Dia menolong untuk
menunaikan kewajiban dengan sifat yang Dia ridhai serta agar Dia
menolong untuk berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya.

13. Menunaikan Manasik Dengan Sebaik-Baiknya


Di antara manfaat haji, hendaknya melaksanakannya dengan sesempurna
mungkin, dengan sebaik-baiknya dan seikhlas mungkin baik sewaktu
melakukan thawaf, sa’i, wukuf di Arafah, berada di Muzdalifah,
melempar jumrah, maupun sewaktu shalat, qira’atul qur’an, berdzikir,
berdo’a dan lainnya. Juga hendaknya mengupayakannya dengan
kosentrasi dan ikhlas.

14. Menyembelih Kurban


Di antara manfaat haji adalah menyembelih (binatang) kurban, baik yang
wajib tatkala berihram tammatu dan qiran, maupun tidak wajib yaitu
untuk taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sewaktu haji wada’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkurban


100 ekor binatang. Para sahabat juga menyembelih kurban. Kurban itu adalah
suatu ibadah, karena daging kurban dibagikan kepada orang-orang miskin dan
yang membutuhkan di hari-hari Mina dan lainnya.

27
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpuan

1. Hakikat puasa adalah dasar wajibnya menahan diri dari sesuatu


(makan, minum, hubungan seksual suami isteri dan segala yang
membatalkan sejak dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan
niat karena Allah).

2. Hakikat haji adalah kembali menuju kepada Allah SWT.. Sehingga


orang yang menunaikan haji diharapkan kembali mendekat kepada
Allah swt baik secara lahir maupun batin.
3. Puasa akan lebih berkualitas jika diisi oleh amalam-amalan. Amalan-
amalan tersebut banyak macamnya dan penuh dengan keberkahan,
diantaranya:
 Mendirikan sholat lima waktu
 Berpuasa karena iman dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala
 Shalat Tarawih karena iman dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala,
4. Haji mabrur : ‘Maknanya adalah haji yang diterima, yaitu haji yang
tidak tercampur dengan dosa apapun, dan diantara indikasi
diterimanya adalah ia kembali melakukan kebaikan yang pernah ia
lakukan dan ia tidak kembali melakukan kemaksiyatan.
5. Banyaknya hikmah yang didapat dari puasa dan berhaji dari segi
jasmani maupun rohani

28
DAFTAR PUSTAKA

https://muslim.or.id/25769-hakekat-puasa-1.html

Materi Keislaman & Ibadah UMM. 2017. Tuntutan puasa.

Disadur dari pengajian kitab al-Ghunyah karya al-Syeikh Abdul Qadir al-
Jailani. Masjid al-Hikam Depok, 29 Juli 2017 – 5 Dzulqa’dah 1438.

Tulisan dari Ahmad Zainuddin.2011.

Ensiklopedi Islam Al-Kâmil, Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah


At-Tuwaijiri 865

Al-Zuhayly, W. 1998. Puasa dan Itikaf, Kajian berbagai Mahzab. Bandung:


Remaja Rosda Karya

BA,Sismona. 2000. Puasa pada umat-umat dahulu dan sekarang. Jakarta:


Republika

Ash-Shiddiqy, T.M. 2000. Pedoman Puasa. Semarang: Pustaka Rizki Pustaka

Poerwardaminta, W. 1967. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai


Pustka

Qardawi, Y. 2000. Fiqih Puasa. Surakarta: Era Intermedia

Syarifuddin, A. 2003. Puasa Menuju Sehat Fisik dan Psikis. Jakarta: Gema
Insan

Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun III/1419H/1999M, Disadur


oleh Abu Shalihah dari Majalah Al-Furqon nomor 72 hal.18-21. Penebit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton
Gondangrejo – Solo 57183

29

Beri Nilai