Anda di halaman 1dari 15

Langen Kinanti

240210140103

I. TUJUAN

Mahasiswa dapat melaksanakan penilaian mutu ikan segar dan telur


berdasarkan karakteristik tertentu sesuai dengan standar internasional yang
berlaku.
Langen Kinanti
240210140103

II. TEORI DASAR

Sebagai bahan pangan, ikan merupakan sumber protein, lemak, vitamin


dan mineral yang sangat baik dan prospektif. Oleh karena ikan adalah komoditi
pangan yang dihasilkan dari perairan untuk dikonsumsi maka perlu mengetahui
tingkat kesegaran ikan yang dapat dilakukan uji berdasarkan penilaian indera
manusia. Pada saat ditangkap, ikan masih bernafas hingga beberapa waktu
kemudian. Seluruh jaringan peredaran darah ikan masih mampu menyerap
oksigen sehingga proses kimia yang terjadi dapat berlangsung secara aerob.
Namun, setelah ikan ditangkap dan mati, produk tersebut rentan sekali terhadap
kerusakan terutama oleh mikroorganisme, sehingga pembusukan akan terjadi
dengan cepat. Pembusukan menyebabkan bahan pangan menurun mutunya
bahkan tidak layak dikonsumsi. Penyimpangan sifat sensori (warna, tekstur, bau
dan rasa) yang tidak diinginkan serta kemungkinan menyebabkan penyakit.
Pembusukan dapat diamati secara subyektif dan obyektif. Pengamatan subyektif
dilakukan melalui uji sensori, sedangkan pengamatan obyektif menggunakan cara
analisis kimia atau mikrobiologi. Penilaian mutu ikan segar setelah dipotong dapat
diketahui dengan melihat ciri-ciri fisik ikan tersebut. Selain itu, dapat pula
dilakukan dengan indera penciuman kita yaitu dengan mencium baunya (odor)
ataupun dengan indera perabaan kita yaitu dengan menyentuh permukaan kulit
dan dagingnya (Hadiwiyoto, 1993)
Telur merupakan suatu produk yang berasal dari unggas dan dapat
dikonsumsi oleh manusia dengan memiliki struktur fisik yang khas. Telur
tersusun dari kulit, kantung udara dan isi yang terdiri dari putih telur dan kuning
telur. Mutu atau kualitas telur utuh ditentukan berdasarkan kondisi kulit
(kebersihan, keretakan, bentuk dan tekstur/kekerasan), kantung udara (kedalaman,
volume dan posisi) serta isi telur (kejernihan, kebersihan dan ketegaran).
Penentuan mutu telur utuh sering dilakukan dengan cara candling yaitu
pengamatan kondisi telur utuh dengan bantuan sumber sinar yang cukup sebagai
latar belakang. Dengan beberapa kelemahan, candling dapat digunakan untuk
mengetahui adanya penyimpangan pada kulit dan isi telur. Menurut U.S. Egg
Grading Manual (2000), penilaian kualitas telur terbagi menjadi dua bagian
Langen Kinanti
240210140103

yakni, penilaian eksterior (bagian luar) dan interior (bagian dalam) telur. Penilaian
eksterior telur meliputi ukuran, bentuk, dan kebersihan cangkang sedangkan
penilaian interior telur dilihat dari kondisi kantong udara,putih (albumen) dan
kuning telur (egg yolk).
Cara penilaian mutu ikan dan telur ini dengan menggunakan uji skoring.
Pemilihan jenis uji ini dikarenakan pada penilaian panelis memberikan skor pada
setiap kriteria mutu dan deskripsi yang digunakan. Besar skor yang diberikan pada
kriteria mutu berada dalam skala nilai 1 – 10. Dalam penggunaan skor ini kadang-
kadang juga digunakan nilai positif dan negatif dimana nilai positif diberikan
untuk skala di atas titik balik atau titik netral dan nilai negatif di bawah titik balik
atau titik netral. Hal ini akan menghasilkan skor yang disebut dengan skor
simetrik.
Langen Kinanti
240210140103

III. ALAT DAN BAHAN

3.1 Alat
 Piring
 Pisau
 Senter
 Talenan
 Tissue

3.2 Bahan
 Ikan kembung
 Ikan mas segar
 Telur ayam
Langen Kinanti
240210140103

IV. PROSEDUR

4.1 Penilaian Mutu Ikan


 Ikan yang telah disediakan diamati dalam boot masing-masing
 Disediakan pisau untuk pengamatan lebih lanjut, seperti untuk melihat
bagian dalam ikan (isi perut)
 Penilaian diberikan sesuai dengan sifat yang telah disediakan dalam
tabel klasifikasi mutu ikan segar secara organoleptik.
Tabel 1. Kriteria Mutu Ikan
Kriteria Mutu dan Deskripsi Nilai
A. Mata (Eyes)
 Bola mata menonjol, pupilnya hitam cerah mengkilat, kornea 10
selaput mata jernih
 Bola mata agak cekung, warna pupil berubah keabu-abuan, kornea
agak keruh 7
 Bola mata agak cekung, pupil putih susu, kornea keruh 4
 Bola mata dan bagian hitamnya tenggelam, tampak lendir kuning
1
yang tebal
B. Insang (Gills)
 Warna merah cemerlang, bersih tanpa lendir yang berasal dari 10
bakteri. Bau segar spesifik dengan jenisnya
 Insang mulai timbul kepudaran warna dari merah muda ke merah
coklat tampak agak berlendir. Bau asam lebih nyata 7
 Perubahan lebih nyata, lendir tebal, bau lebih menusuk 4
 Warna jadi merah coklat sampai coklat atau kelabu tertutup dengan
1
lendir tebal
C. Lendir di Permukaan Kulit
 Lapisan lendir tipis homogen, jernih/transparan, mengkilap cerah, 10
tidak ada perubahan warna
 Lendir di permukaan kulit mulai mengendap keruh, agak putih
susu, kecerahan mulai suram 7
 Lendir tebal tidak merata, terjadi pengumpulan, mulai timbul 4
berbagai penyimpangan warna
 Lendir berwarna kekuningan sampai coklat dan tebal tidak merata,
kecerahan hilang, pemutihan nyata terjadi pengeringan lendir 1
karena udara
D. Daging dan Perut (Flesh & Belly)
 Sayatan daging cemerlang dan berwarna asli, tidak ada kemerahan 10
sepanjang tulang belakang, perut utuh belum ada diskolorasi, ginjal
merah terang, dinding perut dagingnya utuh, bau isi perut segar.
Langen Kinanti
240210140103

 Sayatan daging masih cemerlang, dinding perut mulai lembek, mlai


timbul diskolorasi, warna ginjal mulai pudar, bau off odor mulai 7
tercium.
 Sayatan daging kehilangan kecemerlangannya jadi lunak,
pemerahan sepanjang tulang belakang, rusuk sudah lembek, bau isi 4
perut makin menusuk.
 Daging menjadi pudar, warna merah jelas sepanjang tulang
belakang, dinding perut membubur, isi perut hancur (berwarna 1
tanah), bau menusuk.
E. Tekstur
10
 Dada, kenyal, sulit menyobek dari tulang belakang, kadang-kadang
agak lunak sesuai dengan jenisnya.
7
 Daging agak lunak, belum ada bekas jari bila ditekan.
 Lunak, bekas jari lama hilangnya 4
 Sangat lunak, bekas jari tak mau hilang, sisik banyak yang hilang 1
dan mudah disobek dari tulang belakang
F. Bau (Odor)
 Segar, bau laut, bau spesifik menurut jenis 10
 Bau segar / bau laut mulai menghilang 9
 Tak berbau / netral 8
 Bau susu, belum ada bau asam, ada bau-bau ikan asin atau bau 7
cold-storage 6
 Bau susu asam, bau susu kental 5
 Bau kental rebus atau logam 4
3
 Bau asam asetat, bau rumput atau bau sabun
1
 Bau amonia mulai tercium
0
 Bau amonia kuat, ada bau H2S
 Bau busuk, bau indol

4.2 Penilaian Mutu Telur


Telur diamati dari kulit sampai bagian dalam telur (menggunakan
teropong untuk mengamati kantung udara) dan dibandingkan dengan grade mutu
yang telah disediakan

Tabel 2. Mutu Telur Utuh Segar Sistem Amerika Serikat


Kriteria mutu Mutu AA Mutu A Mutu B Mutu C
1.Kulit Cangkang
- Kutuhan Utuh Utuh Utuh Utuh
- Kebersihan Bersih Bersih Agak bercak Bercak ringan
- Bentuk Normal Normal Agak Menyimpang
menyimpang
2.Kantung Udara
- Bentuk Teratur Teratur bergerak Pecah, pindah-
- Kedalaman 1/8 inci 2/8 inci 3/8 inci pindah
Langen Kinanti
240210140103

3/8 inci
3.Kuning Telur
- Letak ditengah Agak tengah Menepi Menepi
- Penampakan Samar Samar Jelas Jelas sekali
- Pembesaran Belum ada Belum ada Agak besar Melebar
- Cacat Bebas cacat Bebas Cacat ringan Cacat jelas
4.Bagian putih
- Kebeningan Bening Bening Bening Bening
- Kekentalan Kental sekali Kental Agak lembek Encer, berair
- Noda darah Bebas Bebas Bebas ada sedikit
Langen Kinanti
240210140103

V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Penentuan kesegaran ikan dan kualitas telur dapat dilakukan secara fisika,
kimia dan mikrobiologi. Penilaian mutu ikan segar dan kualitas telur yang
dilakukan pad praktikum kali ini berdasarkan sifat organoleptiknya, serta
penilaian mutu telur utuh berdasarkan gradE-grade tertentu menurut sistem
Amerika Serikat.

5.1. Klasifikasi Mutu Ikan Segar


Pada pengujian mutu ikan, dilakukan pengamatan terhadap ikan mas dan
ikan kembung yang masih segar. Karakteristik ikan segar dapat diketahui dari
mata (eyes), insang (gills), lendir di permukaan kulitnya, daging dan perut (flesh
dan belly), tekstur dan bau (odor). Pengujian dialkukan berdasarkan penampakan
dari semua komponen karakteristik ikan segar. Ikan mas dan ikan kembung untuk
setiap kriteria mutu mendapatkan nilai atau skor 1-10, semakin besar skor
menunjukkan semakin baik mutu dari sampel ikan yang diuji. Berikut ini
merupakan data hasil pengamatan terhadap penilaian ikan segar secara
organoleptik yang terdapat pada tabel 1-2.

Tabel 1. Klasifikasi Mutu Ikan Darat Segar Secara Organoleptik


Ikan Mas Nilai
Mata 10
Insang 10
Lendir 10
Daging perut 10
Tekstur 10
Bau 10
(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2016)

Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa karakteristik ikan mas


yang diamati sangat baik dimana bola mata ikan mas masih menonjol, pupilnya
hitam cerah mengkilat namun kornea dari mata ikan tersebut sudah agak keruh.
Menurut Adawiyah (2007) yang menyatakan ikan yang segar memiliki ciri-ciri
bola mata yang cerah, pupil mata yang berwarna hitam pekat dan kornea mata
yang berwarna putih dan tidak keabu-abuan. Insangnya mulai timbul kepudaran,
Langen Kinanti
240210140103

bersih tanpa lendir yang berasal dari bakteri, dan baunya masih segar. Menurut
Afrianto (1989) yang menyatakan insang ikan yang segar memiliki insang
berwarna merah cerah dan tanpa lendir, dan hal ini menjadi indikator bahwa ikan
ini layak untuk dikonsumsi. Lendir di permukaan kulit ikan mas tipis homogen,
jernih/transparan, mengkilap cerah, dan sudah ada sedikit perubahan warna.
Sayatan pada daging ikan mas masih cemerlang dan berwarna asli, dinding perut
sudah mulai agak lembek, tidak ada kemerahan sepanjang tulang belakang, perut
utuh belum ada diskolorasi, warna ginjal mulai pudar, bau isi perut segar. Dada
dari ikan mas teksturnya sudah agak lunak, sulit menyobek dari tulang belakang.
Bau ikan masih segar atau seperti bau laut. Menurut Afrianto (1989) yang
menyatakan ikan yang masih segar memiliki tanda-tanda daging yang masih padat
dan elastis bila ditekan atau dengan kata lain akan kembali seperti semula bila
ditekan.
Berdasarkan pada deskripsi tersebut dapat disimpulkan bahwa kualitas
ikan mas masih sangat baik. Hal tersebut disebabkan karena pengamatan
dilakukan segera setelah ikan mas mati sehingga karakteristik ikan mas yang
diamati memiliki skor mutu 60 sehingga dapat dikategorikan bahwa ikan mas
tersebut masih dalam kondisi sangat baik.

Tabel 2. Klasifikasi Mutu Ikan Laut Segar Secara Organoleptik


Ikan
Nilai
Kembung
Mata 1
Insang 4
Lendir 7
Daging perut 6
Tekstur 5
Bau 5
(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2016)
Berdasarkan hasil pengamatan, sampel ikan kembung yang diamati
menunjukkan bahwa bola mata dan bagian hitamnya tenggelam dan tampak
lender kuning yang tebal. Menurut Afrianto (1989), pada ikan yang sudah
mengalami kemunduran mutu nya cenderung memiliki ciri-ciri mata yang tampak
suram, tenggelam, dan berkerut. Dapat dikatakan bahwa ikan kembung sudah
mengalami kemunduran mutu. Insang pada ikan kembung sudah mengalami
Langen Kinanti
240210140103

pemudaran warna dari merah muda ke merah coklat yang lebi nyata, berlendir
tebal, dan baunya busuk. Menurut Stansby (1963), warna insang dikatakan
indikator, apakah ikan masih segar atau tidak. Ikan yang masih segar berwarna
coklat gelap, hal ini menunjukkan bahwa insang belum teroksidasi sehingga
warnanya masih terlihat asli. Perubahan warna insang dari merah muda ke merah
cokelat menandakan telah terjadinya otooksidasi ikatan ganda yang terkonjungsi,
radikal bebas yang terlepas selama oksidasi lemak, dan aktivitas enzim (Yunizal
dan Wibowo, 1998). Lendir dipermukaan kulit mulai mengendap keruh, agak
putih susu, dan kecerahan mulai asam. Pada dinding dan perutnya, sayatan daging
masih cemerlang, dinding perut mulai lembek, mulai tumbuh diskolorisasi, warna
ginjal mulai pudar, dan bau off odor mulai tercium. Tekstur ikan sudah lunak
sehingga bekas jari tidak mau hilang apabila ikan ditekan. Selain itu ikan sudah
mulai berbau kental rebus atau logam. Berdasarkan penilaian tersebut disimpulkan
bahwa ikan kembung yang diamati memiliki total skor 28 yakni jauh lebih rendah
dari total skor mutu ikan mas segar.

Berdasarkan deskripsi dari pengujian kedua jenis ikan di atas dapat


disimpulkan bahwa kualitas ikan mas lebih baik daripada kualitas ikan kembung.
Hal tersebut disebabkan karena ikan mas yang digunakan adalah ikan mas yang
masih hidup, sehingga kesegarannya masih terjaga. Sedangkan, ikan kembung
yang mutunya sudah menurun disebabkan karena ikan yang digunakan sudah
mati. Kemungkinan ikan kembung sudah menurun tingkat kesegarannya akibat
penyimpanan yang kurang tepat dan terlalu lama sehingga terjadi perubahan
biokimawi yang terjadi sangat cepat.
Setelah ikan mati, maka akan terjadi perubahan biokimia pasca mortem
pada ikan. Seperti yang dijelaskan oleh Forrest et al., 1975 dikutip Nurwanto,
(2003) bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada ikan dapat terlihat pada
daging ikan. Secara fisik daging ikan mula-mula akan kehilangan glastisitasnya
kemudian akan kejang, kaku lalu menjadi lemas lagi. Fase pasca mortem ini dapat
dibagi tiga yaitu pre rigor, rigor mortis, dan post rigor. Pada fase pre rigor
konsentrasi ATP masih cukup tinggi dan energi yang terbentuk masih rendah,
tidak cukup untuk mengakibatkan terjadinya penggabungan antara protein aktin
dan protein miosin menjadi aktomiosin, sehingga daging ikan menjadi lunak dan
Langen Kinanti
240210140103

lentur. Pada fase rigor mortis daging menjadi keras (kaku atau rigid) hal ini terjadi
setelah 1-7 jam ikan mati, dan apabila dibekukan maka fase ini terjadi setelah 3-
120 jam. Daging ikan yang kaku ini disebabkan terjadinya kontraksi yang
merupakan hasil interaksi protein aktin dan miosin membentuk aktomiosin.
Dengan terbentuknya aktomiosin ini ukuran sarkomer akan menjadi lebih pendek
sehingga daging mengkerut dan menjadi kaku, sedangkan relaksasi merupakan
kebalikannya. Pada fase rigor akan terjadi relaksasi pada daging yang melemasnya
kembali daging ikan yang telah mengalami kekakuan.
Pada ikan yang mati melemasnya daging ikan setelah mengalami kekakuan
disebabkan kerusakan struktur jaringan daging ikan. Selama enzim-enzim masih
aktif, enzim-enzim akan merusak apa saja yang dijumpainya. Enzim akan
proteolitik akan memecah protein menjadi molekul-molekul mikro. Padahal
protein ini sebagian besar merupakan penyusun benang-benang daging, penyusun
dinding sel, dan lain-lain. Karena protein telah terpecah maka kekuatan benang-
benang atau dinding sel sudah menurun.
Ikan yang setelah ditangkap langsung dibunuh, proses rigor mortis berjalan
lebih lambat dibandingkan dengan ikan yang mati dengan sendirinya. Ikan yang
menggelepar menyebabkan kekurangan oksigen dan glikogen otot rendah, maka
perubahan glikogen menjadi asam laktat menjadi sedikit dan akibatnya penurunan
pH tidak besar, mengakibatkan lebih cepat mengalami kebusukan. Keadaan asam
akan menghambat pertumbuhan bakteri.

5.2 Penilaian Mutu Telur


Menurut U.S. Egg Grading Manual, penilaian kualitas telur terbagi
menjadi dua bagian yakni, penilaian eksterior (bagian luar) dan interior (bagian
dalam) telur. Penilaian eksterior telur meliputi ukuran, bentuk, dan kebersihan
cangkang sedangkan penilaian interior telur dilihat dari kondisi kantong udara,
putih (albumen) dan kuning telur (egg yolk).
Di Indonesia, kualitas telur konsumsi diatur dalam Standar Nasiional
Indonesia (SNI) 01-3926-1995 dengan parameter yang sama seperti U.S Egg
Grading Manual. Penilaian eksterior dilakukan dengan cara melihat langsung
Langen Kinanti
240210140103

kondisi penampakan telur secara kasat mata, sedangkan penilaian interior


dilakukan dengan cara meneropong atau candling, di sortir manual satu per satu.
Telur yang digunakan dalam pengujian kali ini yaitu jenis telur ayam
negeri. Pengamatan yang dilakukan adalah mengacu pada standar telur utuh
sistem Amerika Serikat yang mencakup penilaian terhadap kulit cangkang telur,
kantong udara, kuning telur dan bagian putih telur. Pembagian grading telur
berdasarkan standar tersebut terbagi menjadi 4 mutu, yaitu mutu AA, mutu A,
mutu B dan mutu C sesuai kriterianya masing-masing. Berikut ini merupakan
hasil pengamatan dari penilaian mutu telur utuh yang dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Hasil Pengamatan Standar Mutu Telur Utuh


Kriteria mutu Penilaian
Kulit Cangkang
- Kutuhan Utuh
- Kebersihan Bersih
- Bentuk Normal

Kantung Udara
- Bentuk Teratur
- Kedalaman 2/8 inci

Kuning Telur
- Letak Menepi
- Penampakan Jelas sekali
- Pembesaran Membesar
- Cacat Cacat, jelas jenis cacatnya

Bagian putih
- Kebeningan Bening
- Kekentalan Encer, berair
- Noda darah Ada, sedikit

(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2016)


Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa telur yang diamati
memiliki grade mutu yang berbeda-beda pada setiap kriteria mutunya. Kulit
cangkang telur masuk ke dalam mutu A dimana telur memiliki karakteristik kulit
cangkang telur yang utuh, bentuknya normal, dan bersih. Penyimpanan telur
sangat mempengaruhi kualitas kulit telur atau kerabang, terutama kelembaban
lingkungan sangat mempengaruhi kekuatan kulit telur. Penyimpanan telur pada
Langen Kinanti
240210140103

kelembaban yang rendah menunjukkan kekuatan kulit telur yang lebih tinggi
dibandingkan dengan telur yang disimpan pada tingkat kelembaban yang tinggi.
Kekuatan kulit telur ini menunjukkan keutuhan telur secara keseluruhan.
Bentuk dari kantong udara teratur dan kedalamannya sekitar 2/8 inci.
Kantung udara merupakan indikator umur atau mutu telur, karena ukurannya akan
membesar dengan meningkatnya umur simpan. Perubahan suhu lingkungan dalam
telur ketika berada dalam tubuh induk (sekitar 40°C) dan suhu luar (sekitar 27°C)
akan mengakibatkan lapisan membran bagian luar dan dalam tidak melekat satu
sama lain. Penguapan air meningkat diantara membran luar yang menempel pada
kerabang sedangkan membran dalam penempel pada albumen yang mengkerut
dan menyebabkan kantung udara membesar (Gary, et al., 2009).
Kriteria mutu kuning telur masuk ke dalam mutu B dimana letak kuning
telur menepi, penampakan kuning telur dari luar jelas sekali, ada pembesaran dan
sudah ada cacat yang jenis cacatnya jelas sekali. . Perubahan letak kuning telur
yang tela terjadi tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan mutu telur
ayam utuh. Selama penyimpanan yang lama, serat kapsul fibrosa menjadi lebih
tipis dan albumen menebal yang memungkinkan gerakan kuning telur tidak
terpusat lagi (Jacqueline, et al., 2000). Selain itu, kekuatan dan elastisitas
membran vitelin juga mempengaruhi perubahan letak kuning telur. Menurut
Hinton (1968), kekuatan dan elastisitas membran vitelin dipengaruhi oleh faktor
umur telur, ukuran telur, suhu penyimpanan, pH putih telur, dan kekentalan putih
telur.
Tingkat kebeningan dari putih telur masih bening, namun encer dan berair
serta ada sedikit noda darah. Menurut Sirait (1986), kualitas putih telur
dipengaruhi oleh keturunan, makanan, umur, penyakit, lingkungan, dan faktor-
faktor setelah telur dikeluarkan dari tubuh ayam, seperti temperatur lingkungan,
kelembaban, serta kondisi penyimpanan yang menyebabkan kekentalan putih telur
berkurang.
Pengamatan organoleptik telur ini menunjukan bahwa secara umum telur
tersebut mutunya adalah B sehingga dapat disimpulkan bahwa telur tersebut
masih lumayan bagus meskipun sudah terjadi beberapa penurunan kriteria mutu.
Langen Kinanti
240210140103

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
 Ikan mas masih sangat segar sepenuhnya, sedangkan sampel ikan
kembung sudah mengalami banyak penurunan kualitas ikan.
 Telur ayam yang diamati termasuk ke dalam telur mutu B jika dilihat dari
kriteria mutu secara umum.

6.2 Saran
 Sebaiknya disediakan pisau yang lebih tajam untuk mempermudah dalam
pemotongan ikan.
 Sebaiknya panelis lebih berani dalam melakukan pengujian.
Langen Kinanti
240210140103

DAFTAR PUSTAKA

Adawiyah, Rabiatul. 2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Haka grafis.


Jakarta.

Afrianto, E. Dan Liviawaty, E. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan.


Kanisius. Yogyakarta.

Andarwulan, N. dan P. Hariyadi. 2004. Perubahan mutu (fisik, kimia,


mikrobiologi) produk pangan selama pengolahan dan penyimpanan produk
pangan. Pelatihan Pendugaan Waktu Kedaluwarsa (Self Life), Bogor, 1-2
Desember 2004. Pusat Studi Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor.

Gary, D., Butcher, D.V.M, dan R. Miles. 2009. Ilmu Unggas, Jasa Ekstensi
Koperasi, Lembaga Ilmu Pangan dan Pertanian Universitas Florida,
Gainesville.

Hadiwiyoto, S. 1993. Teknologi Hasil Perikanan. Liberty, Yogyakarta.

Hinton, E. 1968. Least Square Analysis Using Finite Elements, MSc. Thesis.
University of Wales, Swansea.

Jacqueline, P.Y., Miles, R. dan F.B Mather. 2000. Kualitas Telur. Jasa Ekstensi
Koperasi, Lembaga Ilmu Pangan dan Pertanian Universitas Florida,
Gainesville.

Nurwanto dan Sri M. 2003. Buku Ajar Teknologi Ternak. Fakultas Peternakan.
Universitas Diponegoro. Semarang.

Sirait, C. H. 1986. Telur dan Pengolahannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan


Peternakan, Bogor.

Stansby, M.E. 1963. Industrial Fishery Technology. Reinhold Publ. Co Chapman


and Hall Ltd, London.

U.S. Egg Grading Manual. 2002. Egg-Grading Manual. Available at:


www.ces.ncsu.edu (Diakses pada tanggal 10 Juni 2016 pukul 23:07 WIB).

Yunizal dan S. Wibowo. 1998. Penanganan Ikan Segar. Instalasi Penelitian


Perikanan Laut Slipi, Jakarta.