Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perawat merupakan profesi tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan
kesehatan langsung baik kepada individu, keluarga dan masyarakat. Sebagai tenaga
profesional, perawat menjalankan dan melaksanakan kegiatan praktek keperawatan
dengan mengunakan ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang dapat
dipertanggung jawabkan. Dimana ciri sebagai profesi adalah mempunyai body of
knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta ilmunya dapat diimplementasikan
kepada masyarakat langsung.
Keperawatan sebagai bagian integral pelayanan kesehatan merupakan bentuk
pelayanan professional yang didasarkan pada ilmu keperawatan. Pada
perkembangannya ilmu keperawatan selalu mengikuti perkembangan zaman yang
selalu diiukuti dengan perubahan umat manusia.
Demikian juga dengan pelayanan keperawatan di Indonesia ke depan
diharapkan harus mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat secara
profesional sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat serta teknologi bidang
kesehatan yang senantiasa berkembang. Pelaksanaan asuhan keperawatan di sebagian
besar dilakukan dirumah sakit dan puskesmas umumnya telah menerapkan pendekatan
ilmiah melalui proses keperawatan, tanpa menyampingkan peranan praktik mandiri
yang dilakukan oleh tenaga keperawatan.
Dalam teori Keperawatan banyak tokoh yang telah banyak memaparkan
tentang model dan proses tindakan keperawatan salah satunya Florence Nightingale
yang telah banyak memberikan gambaran tentang keperawatan modern, dan masih
banyak tokoh-tokoh dunia keperawatan.
Seorang tenaga kesehatan khususnya keperawatan yang melakukan tindakan
keperawatan senantiasa memperhatikan tugas pokok dalam dunia keperawatan yaitu
memberikan Kebutuhan Dasar Manusia karena hal itu menjadi tugas pokok seorang
keperawatan dengan melihat standar dan kode etik keperawatan yang tercantum dalam
UU Keperawatan.
Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang dimaksud adalah bentuk
implementasi praktek keperawatan yang ditujukan kepada pasien/klien baik kepada
individu, keluarga dan masyarakat dengan tujuan upaya peningkatan kesehatan dan
kesejahteraan guna mempertahankan dan memelihara kesehatan serta menyembuhkan
dari sakit, dengan kata lain upaya praktek keperawatan berupa promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitasi.

1
Dalam melakukan praktek keperawatan, perawat secara langsung berhubungan
dan berinteraksi kepada penerima jasa pelayanan, dan pada saat interaksi inilah sering
timbul beberapa hal yang tidak diinginkan baik disengaja maupun tidak disengaja,
kondisi demikian inilah sering menimbulkan konflik baik pada diri pelaku dan
penerima praktek keperawatan. Oleh karena itu profesi keperawatan harus mempunyai
standar profesi dan aturan lainnya yang didasari oleh ilmu pengetahuan yang
dimilikinya, guna memberi perlindungan kepada masyarakat. Dengan adanya standar
praktek profesi keperawatan inilah dapat dilihat apakah seorang perawat melakukan
malpraktek, kelalaian ataupun bentuk pelanggaran praktek keperawatan lainnya. UU
Keperawatan tersebut memberikan pondasi dalam menjalankan tugas sebagai
keperawatan. Dan yang lebih mendasar ialah memberikan perlindungan hukum bila
mana terjadi permasalahan dalam melakukan keselahan dalam memberikan tindakan
keperawatan sejauh tidak keluar dari standard kode etik keperawatan.
Dewasa ini, perkembangan keperawatan dunia menjadi acuan bagi perawat
untuk melakukan perubahan mendasar dalam kegiatan profesinya. Perawat yang dulu
membantu pelaksanaan tugas dokter, menjadi bagian dari upaya mencapai tujuan
pelayanan klinis, kini perawat menginginkan pelayanan keperawatan mandiri sebagai
upaya mencapai tujuan asuhan keperawatan.
Paradigma terhadap tuntutan perubahan tentunya mengubah sebagian besar
bentuk hubungan perawat dengan manajemen organisasi. Jika praktik keperawatan
dilihat sebagai praktik profesional maka harus ada otoritas atau kewenangan, ada
kejelasan batasan, siapa melakukan apa. Karena diberi kewenangan maka perawat juga
dapat digugat, perawat harus bertanggung jawab terhadap setiap keputusan dan
tindakan yang dilakukan. Keluarnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan yang kemudian diamandemen dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun
2009 tentang Kesehatan dan diamandemen kembali pada Tahun 2014, Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan
Pemerintah Nomor 32 Tahun 2001 tentang Tenaga Kesehatan, Keputusan Menteri
kesehatan RI Nomor 1239 tahun 2001 tentang Registrasi dan Praktik Perawat,
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 148 Tahun 2010 tentang Izin dan
Penyelenggaraan Praktik Perawat, serta Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1796
Tahun 2011 tentang RegistrasiTenaga Kesehatan, lebih mengukuhkan perawat sebagai
suatu profesi di Indonesia. Dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 148
Tahun 2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat serta Undang-Undang
Terbaru No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan tersebut lebih menjelaskan lagi
batasan kewenangan profesi perawat. sehingga perawat mempunyai legitimasi dalam
menjalankan praktik profesinya. Semakin meningkatnya pendidikan dan kesadaran

2
masyarakat sebagai penerima jasa pelayanan keperawatan memberian kepastian
hukum pada perawat, pasien dan sarana kesehatan. Kepastian hukum berlaku untuk
pasien dan perawat, sesuai dengan hak dan kewajiban masing-masing, dimana hak dan
kewajiban perawat harus dilaksanakan secara seimbang Meskipun pada tahun 2010
telah dikeluarkan Permenkes Nomor 148 Tahun 2010 tentang Izin dan
Penyelenggaraan Praktik Perawat, namun proses registrasi perawat daitur dalam
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1239 Tahun 2001, dimana kewajiban
registrasi perawat dimulai ketika perawat baru lulus dari proses pendidikan. Kewajiban
proses registrasi perawat sesuai dengan Kepmenkes Nomor 1239 Tahun 2001 adalah
lisensi Surat Izin Perawat (SIP), Surat Izin Kerja (SIK) dan Surat Izin Praktik Perawat
(SIPP). Sementara pengaturan tentang SIPP diatur secara terpisah sejak
dikeluarkannya Permenkes RI Nomor 148 Tahun 2010 tentang izin dan
Penyelenggaraan Praktik Perawat. Namun sejak keluarnya Permenkes RI Nomor 161
Tahun 2010 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan, acuan dalam Kepmenkes RI Nomor
1239 tersebut dicabut, yang mana perawat sudah tidak lagi mengunakan SIP lagi
melainkan diganti dengan Surat Tanda Registrasi (STR). Namun dalam
pelaksanaannya banyak kasus yang terjadi dalam hal pemenuhan hak dan kewajiban
perawat ini tidak berjalan dengan baik.
1.2 Rumusan Masalah
Tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:
1. Bagaimana jenis-jenis etika keperawatan?
2. Bagaimana penyelenggaraan praktik keperawatan?
3. Bagaimana untuk mendapatkan surat ijin praktik keperawatan?
4. Apa saja syarat untuk mendapatkan STR?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Menganalisa teori dan konsep etika keperawatan dan, sebagai landasan dalam
menentukan sikap saat melaksanakan praktek keperawatan.
2. Menganalisa konsep etik dan aspek legal dalam persepktif Islam, sebagai dasar
dalam perilaku Islami selama praktek keperawatan.
3. Mengidentifikasi standar praktek profesi keperawatan untuk diterapkan dalam
praktek keperawatan.
4. Mengidentifikasi berbagai aspek etik dan legal yang berhubungan dengan
manajemen asuhan keperawatan dan manajemen pelayanan keperawatan seperti
kelalaian (negligence), malpractek dan pelanggaran prevacy.
5. Mengidentitikasi batasan hak dan kewajiban perawat dalam perspektif etik dan
aspek legal dalam keperawatan

3
6. Menjelaskan upaya perlindungan hukum bagi perawat melalui sistem credenseling
yang terdiri dari Registrasi, Lisensi, Sertifikasi, Akreditasi
7. Dapat menjelaskan informed concent, peran perawat sebagai saksi ahli, dan
sebagai advocate dari pasien
8. Menerapkan model penyelesaian masalan dilemma etik
9. Menyusun rencana penyelesaian masalah hukum (aspek legal) dengan berbagai
kondisi dan masalah yang kompleks dalam praktek keperawatan
1) Agar dapat memahami jenis-jenis etika keperawatan
2) Untuk memperdalam pengertahuan penulis ketika melakukan praktik
keperawatan
3) agar ketika ingin membuka praktik sudah memiliki SIPP
4) Agar tidak setiap perawat dapat memenuhi syarat untuk mendapatkan STR
1.4 Batasan Masalah
1. Hanya membahas teori tentang jenis tenaga keperawatan, pendidikan, registrasi
dan STR, SIPP, dan praktik keperawatan
1.5 Manfaat Penulisan
1. Bagi Penulis
Agar penulis lebih mengetahui jenis tenaga keperawatan, mengetahui UU yang
ada pada etika keperawatan dan mengerti bagaimana praktik keperawatan yang
baik.
2. Bagi Universitas Muhammadiah Jakarta
Hasil penulisan makalah ini dapat bermanfaat sebagai salah satu tambahan
referensi pengetahuan tentang informasi jenis keperawatan, pendidikan, dan
pentingnya surat ijin pratik perawat.
1.6 Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini yaitu menggunakan metode pustaka yang
dilakukan dengan mempelajari dan mengumpulkan data dari pustaka yang
berhubungan dengan berupa buku maupun informasi dari internet.
1.7 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika pada penulisan makalah ini sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat
penulisan, hipotesis, dan sistematika penulisan.
BAB II DASAR TEORI
Berisi pengertian, jenis-jenis tenaga, pendidikan, registrasi dan STR registrasi,
SIPP dan Praktik keperawatan.
BAB III PENUTUP

4
Terdiri dari kesimpulan dan saran-saran.
BAB II
KONSEP TEORI

2.1 Pengertian Perawat


Perawat merupakan bagian integral (terpenting) dalam suatu instansi kesehatan
karena perawat merupakan kerangka dasar yang tidak dapat dipisahkan dalam proses
memberikan pelayanan kesehatan.
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat
keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif serta
ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang
mencakup seluruh siklus kehidupan manusia (lokakarya keperawatan nasional 1983).
Dalam keperawatan profesuonal, mencakup pelayanan kesehatan di bidang bio-psiko-
sosio-spiritual yang merupakan bentuk perawatan holistic. Keperawatan adalah
kegiatan pemberian asuhan kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat,
baik dalam keadaan sehat maupun sakit (UU Keperawatan pasal 1 ayat 1).
Menurut UU nomor 38 tahun 2014 pasal 1 yang dimaksud dengan perawat
adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan, baik di dalam
maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan Peraturan
Perundangundangan. Sedangkan Keperawatan adalah kegiatan pemberian asuhan
kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik dalam keadaan sakit
maupun sehat.
2.2 Jenis - jenis tenaga keperawatan
Di jelaskan dalam Undang- undang nomor 38 tahun 2014 tentang keperawatan.
Jenis Perawat terdiri atas:
a. Perawat profesi
b. Perawat vokasi.
Perawat profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:
1. Ners dan
2. Ners spesialis.
a. Perawat profesi
1) Ners
Adalah tenaga profesional yang mandiri, bekerja secara otonom dan berkolaborasi
dengan yang lain dan telah menyelsaikan program pendidikan profesi keperawatan,
telah lulus uji kompetensi perawat profesional. Perawat profesional yang telah
memenuhi persyarata berhak memperoleh SIPP (Surat Ijin Praktik Perawat

5
Profesional) yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. Dalam
menjalankan praktiknya perawat profesional bisa di pelayanan kesehatan umum
dan secara mandiri (jika telah memenuhi persyaratan diatas)
2) Ners spesialis
Adalah seorang perawat yang disiapkan diatas level perawat profesional dan
mempunyai kewenangan spesialis atau kewenangan yang diperluas dan telah lulus
uji kompetensi perawat profesional spesialis.
b. Perawat vokasi
Adalah seorang yang mempunyai kewenangan untuk melakukan praktik dengan
batasan tertentu dibawah superfisi langsung maupun tidak langsung oleh Perawat
Profesional. Untuk melakukan registrasi perawat vokasional memiliki ijzah perawat
Diploma. Dalam menjalankan praktiknya perawat vokasional dapat melakukan
praktik keperawatan dipelayanan kesehatan bersama dan berhak mendapatkan SIPV
(Surat Ijin Perawat Vokasional) dari dinas kesehatan kabupaten/kota.
Adapun jenis Kualifikasi dan Pengelompokan Tenaga Kesehatan
Pasal 8
Tenaga di bidang kesehatan terdiri atas:
a. Tenaga Kesehatan; dan
b. Asisten Tenaga Kesehatan.
Pasal 9
1. Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a harus
memiliki kualifikasi minimum Diploma Tiga, kecuali tenaga medis.
2. Ketentuan lebih lanjut mengenai kualifikasi minimum Tenaga Kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 10
1. Asisten Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf b
harus memiliki kualifikasi minimum pendidikan menengah di bidang
kesehatan.
2. Asisten Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
bekerja di bawah supervisi Tenaga Kesehatan.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai Asisten Tenaga Kesehatan diatur dengan
Peraturan Menteri.
Pasal 11
1. Tenaga Kesehatan dikelompokkan ke dalam:
a. tenaga medis
b. tenaga psikologi klinis
c. tenaga keperawatan

6
d. tenaga kebidanan
e. tenaga kefarmasian
f. tenaga kesehatan masyarakat
g. tenaga kesehatan lingkungan
h. tenaga gizi
i. tenaga keterapian fisik
j. tenaga keteknisian medis
k. tenaga teknik biomedika
l. tenaga kesehatan tradisional, dan
m. tenaga kesehatan lain
1. Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga medis sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas dokter, dokter gigi, dokter spesialis, dan
dokter gigi spesialis.
2. Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga psikologi klinis
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah psikologi klinis.
3. Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga keperawatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri atas berbagai jenis perawat.
4. Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kebidanan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d adalah bidan.
5. Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kefarmasian
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e terdiri atas apoteker dan tenaga teknis
kefarmasian.
6. Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kesehatan masyarakat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f terdiri atas epidemiolog kesehatan,
tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga
administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan kependudukan, serta
tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga.
7. Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kesehatan lingkungan
sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) huruf g terdiri atas tenaga sanitasi lingkungan,
entomolog kesehatan, dan mikrobiolog kesehatan.
8. Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga gizi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf h terdiri atas nutrisionis dan dietisien.
9. Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga keterapian fisik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf i terdiri atas fisioterapis, okupasi terapis,
terapis wicara, dan akupunktur.
10. Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga keteknisian medis
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf j terdiri atas perekam medis dan informasi

7
kesehatan, teknik kardiovaskuler, teknisi pelayanan darah, refraksionis optisien/
optometris, teknisi gigi, penata anestesi, terapis gigi dan mulut, dan audiologis.
11. Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga teknik biomedika
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf k terdiri atas radiografer, elektromedis,
ahli teknoiogi laboratorium medik, fisikawan medik, radioterapis, dan ortotik
prostetik.
12. Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk daiam kelompok Tenaga Kesehatan
tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf 1 terdiri atas tenaga kesehatan
tradisional ramuan dan tenaga kesehatan tradisional keterampilan.
13. Tenaga Kesehatan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf m ditetapkan oleh
Menteri.
Pasal 12
Dalam memenuhi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang
kesehatan serta kebutuhan pelayanan kesehatan, Menteri dapat menetapkan jenis
Tenaga Kesehatan lain dalam setiap kelompok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11.
2.3 Pendidikan
Sejarah perkembangan keperawatan tidak lepas dari sejarah upaya pemeliharaan
kesehatan secara keseluruhan dan umum. Pada awalnya upaya keperawatan dilakukan
berdasarkan insting seorang Ibu (mother instink) dalam memelihara kesehatan seluruh
anggota keluarganya. Setelah itu berkembang menjadi pengabdian keagamaan sampai
didirikannya sekolah keperawatan pertama oleh Florence Nightingale tahun 1854.
Sejarah perkembangan pendidikan keperawatan di Indonesia masih sangat minim
data dari sumber autentik yang ada. Tetapi beberapa catatan menunjukkan bahwa
pendidikan keperawatan di Indonesia sudah dimulai sejak jaman penjajahan
Belanda.Pada tahun 1913 program pendidikan keperawatan pertama didirikan di
rumah sakit Semarang, pengajarnya guru-guru perawat dari Belanda muridnya
hanya sebagian kecil orang pribumi. Materi pelajaran sama dengan materi bagi siswa
perawat di Belanda, menurut beberapa catatan pata tahun 1915 lulus 2 orang perawat
pribumi yang pertama di Indonesia.
Mulai tahun 1930 syarat masuk sekolah perawat adalah pemegang ijasah Sekolah
Rakyat (SR) 6 tahun. Rumah sakit - rumah sakit misi mulai membuka sekolah
perawatan dengan dasar pendidikan MULO (sekarang setaraf SMP) lamanya
pendidikan 3 tahun, bila lulus mendapat sertifikat Diploma A. Pada tahun 1940
Sekolah Perawat Jiwa (SPJ) mulai dibuka di Bogor, lulusannya mendapat sertifikat
Diploma B. Program sekolah Bidan dibuka di rumah sakit - rumah sakit bersalin
yaitu perawat 3 tahun ditambah kebidanan 1 tahun, lulusannya mendapat ijazah
Diploma C.

8
Tahun 1942-1945, waktu jaman penjajahan Jepang pendidikan perawatpun
mengalami perubahan, yaitu mengikuti pola pendidikan perawat Jepang. Periode
tahun 1945-1950, merupakan masa peralihan karena terjadi perang kemerdekaan.
Program pendidikan perawat jadi tak menentu. Tahun 1950, konsultan pertama
datang ke Indonesia untuk mempersiapkan program Post Graduate School
(Guru Perawat) di Bandung. Tahun 1952, Sekolah Pengatur Rawat (SPR) mulai
dibuka di rumah sakit Rantja Badak (sekarang Rumah Sakit Hasan Sadikin) Bandung.
Mulai tahun 1962, dibuka pendidikan tinggi keperawatan yaitu; Akper Depkes
Jakarta, Akper Depkes Bandung dan Akper St. Carolus di Jakarta. Tahun 1985, mulai
dibuka Program Studi Ilmu Keperawatan (S1 Keperawatan) di Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, tahun 1994 di Universitas Padjadjaran Bandung, Tahun 1998
dibuka serentak pendidikan S1 keperawatan di perguruan tinggi negeri di Indonesia
seperti Universitas Gajah Mada Yogjakarta, Universitas Airlangga Surabaya,
Universitas Brawijaya Malang, USU, UNHAS dan sebagainya. Saat ini pendidikan
keperawatan menunjukkan perkembangan signifikan dalam tingkat dan jumlah
institusi pendidikan. Mulai dari tingkat Diploma III sampai S3 Keperawatan.
Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi keperawatan, baik di
dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, klasifikasi jenis perawat tidak bisa
lepas dari tingkat pendidikan yang disandang oleh perawat (khususnya pendidikan
formal). Menurut UU 38/2014 terdapat dua jenis perawat, yaitu perawat vokasi dan
perawat profesi.
1. Perawat vokasi, adalah seorang perawat yang telah selesai menempuh pendidikan
vokasi, mulai dari Diploma 3 yang bergelar Ahli Madya Keperawatan (A.Md.Kep),
Diploma 4 Keperawatan (Sarjana Terapan), magister terapan dan doktor terapan (saat
ini di Indonesia belum ada pendidikan doktor terapan bagi perawat).
2. Perawat profesi, adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan profesi
bergelar Ners (Ns), yang harus ditempuh setelah yang bersangkutan menyelesaikan
pendidikan akademik yang bergelar Sarjana Keperawatan (S.Kep). Lulusan progran
Spesialis Keperawatan dan lulusan spesialis konsultan (saat ini belum dibuka
pendidikan spesialis konsultan).
Implikasi dari jenis pendidikan ini sangat terkait dengan kompetensi, jenjang karier,
wewenang dan tanggungjawab.
Dampak langsung dari jenis perawat ini tampak pada pengakuan jenjang karier
perawat.Bagi perawat yang berstatus pegawai negeri sipil, berlaku aturan peraturan
kepegawaian sesuai peraturan menteri pendayaguaan aparatur negara (permenpan no 94
tahun 2001 yang sudah di perbarui dengan no 25 tahun 2014) yaitu terdiri dari perawat

9
terampil dan perawat ahli. Perawat terampil terdiri dari tiga level, yaitu perawat: terampil,
mahir dan penyelia. Perawat ahli terdiri dari: pratama, muda, madya dan utama. Secara
lebih lengkap, tugas, wewenang dan tanggung jawab dapat dilihat pada permenpan
dimaksud.
Bagi perawat yang bukan pegawai negeri sipil, atau pegawai negeri sipil yang
membutuhkan klasifikasi pengaturan remunerasi perawat berlaku aturan sesuai dengan
Buku Panduan Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI tahun 2006,
terdiri dari perawat klinik 1 sampai dengan perawat klinik 5. Selain untuk penentuan level
jenjang karier perawat, panduan perawat klinik ini juga dapat digunakan sebagai dasar
dalam penilian kinerja perawat (kredensialing) untuk pemberian kewenangan klinis
(clinical prevellage) sesuai kompetensi yang dimiliki. Berikut adalah kriteria jenjang
karier perawat klinik 1 sampai dengan 5.
1. Perawat klinik 1
a. Pendidikan dan pengalaman kerja
1) D-III Keperawatan + pengalaman kerja 2 tahun
2) S-1 Kep/Ners + pengalaman kerja 0 tahun
b. Kompetensi
1) Memberikan keperawatan dasar
2) Memberikan asuhan keperawatan dengan bimbingan dari perawat klinik lebih
tinggi
3) Melakukan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarganya
4) Melakukan dokumentasi asuhan keperawatan
5) Melakukan kolaborasi dengan profesi lain
2. Perawat klinik 2
a. Pendidikan dan pengalaman kerja
1) D-III Keperawatan + pengalaman kerja 5 tahun
2) S-1 Kep/Ners + pengalaman kerja 3 tahun
b. Kompetensi
1) Memberikan keperawatan dasar dalam lingkup keperawatan: Medikal
bedah/ Maternitas/ Pediatrik/ jiwa/ Komunitas/ gadar, tanpa komplikasi/
tidak komplek dengan bimbingan terbatas dari perawat klinik yang lebih
tinggi
2) Melakukan tindakan kolaborasi dengan profesi lain
3) Melakukan dokumentasi asuhan keperawatan
4) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi klien dan keluarganya serta bagi
perawat klinik pada tingkat di bawahnya
5) Membimbing PK I

10
3. Perawat klinik 3
a. Pendidikan dan Pengalaman kerja
1) D-III Keperawatan + pengalaman kerja 8 thn + sertifikasi (dalam proses
mengikuti pendidikan S1 Kep)
2) S-1 Kep + pengalaman kerja 6 thn
3) S-2 Kep (Spesialis 1) + pengalaman kerja 0 thn
b. Kompetensi
1) Memberikan keperawatan dasar pada klien dalam lingkup keperawatan:
medikal bedah, maternitas, pediatric, jiwa, komunitas, gawat darurat dengan
komplikasi/kompleks
2) Melakukan tindakan keperawatan khusus dengan resiko
3) Melakukan konseling kepada klien
4) Melakukan rujukan keperawatan
5) Melakukan asuhan keperawatan dengan keputusan secara mandiri (tanpa
bimbingan)
6) Melakukan dokumentasi asuhan keperawatan
7) Melakukan kolaborasi dengan profesi lain
8) Melakukan pendidikan kesehatan bagi klien, keluarga
9) Membimbing PK II
10) Mengidentifikasi hal-hal yang perlu diteliti lebih lanjut
4. Perawat klinik 4
a. Pendidikan dan pengalaman kerja
1) S-1 Kep/Ners + pengalaman kerja 9 tahun + sertifikasi
2) S-2 Kep (spesialis 1) + pengalaman kerja 2 tahun
3) S-3 Kep (Spesialisasi 2) + pengalaman kerja 0 tahun
b. Kompetensi
1) Memberikan asuhan keperawatan khusus atau sub-spesialisasi.
2) Melakukan tindakan keperawatan khusus atau sub spesialis dengan keputusan
secara mandiri
3) Melakukan bimbingan bagi PK III
4) Melakukan dokumentasi asuhan keperawatan
5) Melakukan kolaborasi dengan profesi lain
6) Melakukan konseling kepada klien
7) Melakukan pendidikan kesehatan bagi klien, keluarga
8) Membimbing peserta didik keperawatan
9) Mengidentifikasi hal-hal yang perlu diteliti lebih lanjut

11
5. Perawat klinik 5
a. Pendidikan dan pengalaman kerja
1) S-1 Kep + pengalaman kerja 12 tahun
2) S-2 Kep (Spesialis 1 Kep/Ners Spesialis) + pengalaman kerja 4 tahun
3) S-3 Kep (Spesialis 2 Kep/Ners Spesialis Konsultan) + pengalaman kerja 1 tahun
b. Kompetensi
1) Memberikan asuhan keperawatan khusus atau sub-spesialisasi dalam lingkup
medikal bedah/ maternitas/ pediatrik/ jiwa/ komunitas/ gawat darurat
2) Melakukan tindakan keperawatan khusus atau sub-spesialis dengan keputusan
secara mandiri
3) Melakukan bimbingan bagi PK IV
4) Melakukan dokumentasi asuhan keperawatan
5) Melakukan kolaborasi dengan profesi lain
6) Melakukan konseling pada klien
7) Melakukan pendidikan kesehatan bagi klien dan keluarga
8) Membimbing peserta didik keperawatan
9) Berperan sebagai konsultan dalam lingkup bidangnya
10) Berperan sebagai peneliti
Pendidikan keperawatan di indonesia mengacu kepada Sistem Pendidikan
Nasional. Jenis pendidikan keperawatan di Indonesia mencakup:
1. Diploma III keperawatan
Tujuan program diploma III keperawatan adalah menghasilkan lulusan yang
mampu :
a. Melaksanakan pelayanan keperawatan professional dalam suatu sistem
pelayanan kesehatan sesuai kebijakan umum pemerintah yang berlandaskan
pancasila , khususnya pelayanan dan/ atau asuhan keperawatan individu,
keluarga, dan komunitas berdasarkan kaidah-kaidah keperawatan.
b. Menunjukkan sikap kepemimpinan dan bertanggung jawab dalam
mengelola asuhan keperawatan
c. Berperan serta dalam kegiatan penelitian dalam bidang keperawatan dan
menggunakan hasil penelitian serta perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi untuk meningkatakan mutu dan jangkauan pelayanan/asuahan
keperawatan.
d. Berperan serta secara aktif dalam mendidik dan melatih pasien
e. Mengembangkan diri secara terus mnerus untuk meningkatakan kemampuan
profesinya.

12
2. Pendidikan ners
Tujuan pendidikan ners adalah menciptakan lulusan yang mempunyai
pengetahuan, keterampilan, dan sikap keperawatan professional yang mampu:
a. Melaksanakan profesi keperawtan secara akuntabel dalam suatu sistem
pelayanan kesehatan sesuai kebijakasanaan umum pemerintah yang
berlandaskan pancasila, khususnya pelayanan dan/ atau asuhan keperawatan
dasar hingga tingkat kerumitan tertentu secara mandiri kepada
individu,keluarga, dan komunitas berdasarkan kaidah kaidah keperawatan
b. Mengelola pelayanan keperawatan professional tingkat dasar secara
bertanggung jawab dan menunjukkan sikap kepemimpinan.
c. Mengelola kegiatan penelitian keperawatan dasar dan terapan yang
sederhana dan menggunakan hasil penelitian serta perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) untuk meningkatkan mutu dan
jangkauan pelayanan /asuhan keperawatan.
d. Berperan serta aktif dalam mendidik dan melatih calon perawat dan tenaga
keperawatan ,serta turut berperan dalam berbagai program pendidikan
tenaga kesehatan lain.
e. Memelihara dan mengembangkan keperibadian serta sikap yang sesuai
dengan etika keperawatan dalam melaksanakan profesinya.
f. Berfungsi sebagai anggota masyrakat yang kreatif, produktif, terbuka untuk
menerima perubahan, dan beroreantasi pada masa depan.
3. Pascasarjana keperawatan
Tujuan program pasca sarjana keperawatan ini adalah menghasilkan lulusan
yang mampu
a. Mengembangkan dan menerapkan ilmu dan teknologi keperawatan sesuai
bidang spesialisasi melalui kegiatan penelitian.
b. Mengembangkan diri secara terus menerus untuk meningkatakan
kemampuan professional melalui upaya peningkatan kemampuan lulusan
sesuai bidang spesialisasi.
c. Berfungsi sebagai anggota masyarakat yang kreatif, produktif, dan terbuka
untuk menerima perubahan sehingga dapat memamfaatkan ilmu
pengetahuan yang diperoleh guana meningkatakan kesejahteraan kehidupan
masyrakat.
Program pasca sarjana keperawtan memiliki beberapa program spesialis
dan kompetensi kelulusannya, yaitu:

13
1. Kepemimpinan dan manajemen keperawatan
a. Menunjukkan perilaku kepemimpinan dan bertanggung jawab dalam
mengelola pelayanan keperawatan dengan cara:
1) Menerapkan teori kepemimpinan dan manajemen yang sesuai dengan
kondisi setempat dalam mengelola pelayanan /asuahan keperawatan
2) Melakukan perencanaan, penggorganisasian, penyusunana ketenagaan
(staffing), pengarahan, dan pengawasan dalam mengelola pelayanan
keperawatan.
3) Bertindak sebagai pemimpin formal maupun non formal untuk
meningkatakan motivasi kerja dan kinerja staf keperawatan dalam
mengelola pelayaanan asuhan keperawatan.
4) Menggunakan strategi perubahan yang digunakan untuk mengelola
pelayanan keperawatan.
b. Melaksanakan kegiatan penelitian dalam rangka pengembangan ilmu
kepemimpinanan dan manajemen keperawatan dengan cara:
1) Mengidentifikasi masalah dengan menganalisis dan menyintesis
informasi yang relevan dari berbagai sumber dan memerhatikan
persepektif lintas budaya yang mendasari semua aspek sistem kesehatan.
2) Merencanakan dan melaksanakan penelitian dalam bidang keperawatan
3) Menggunakan hasil-hasil penelitian dan IPTEK kesehatan dalam
pelayanan keperawatan sesuai dengan standar praktik keperawatan
melalui program jamianan mutu yang bersinambung.
4) Menerapkan prinsip dan teknik penalalaran yang tepat dalam berpikir
secara logis, kritis, dan mandiri.
c. Mengembangkan diri secara terus menerus untuk meningkatakan
kemampuan professional dalam mengelola pelayanan keperawatan.
d. Berfungsi sebagai anggota masyarakat yang kreatif,produktif dan terbuka
untuk menerima perubahan serta beroreantasi pada masa depan
2. Keperawatan komunitas
a. Melaksanakan praktik yang professional dan berlandaskan etika
keperawatan
b. Menunjukkan kemampuan untuk berpikir kritis dan analitis
c. Memberikan asuhan keperawatan menggunakan pendekatan proses
keperawatan
d. Melakukan kolaborasi dengan berbagai tatanan pelayanan kesehatan

14
3. Keperawatan maternitas
a. Memberikan asuhan keperawatan (berkaitan dengan sistem reproduksi
masa usia subur, kehamilan, pelahiaran dan persalianan ,nifas, dan bayi
baru lahirsampai usia 40 hari)
b. Mendidik dan membimbing praktisi keperawatan ,tenagan kesehatan,
dank lien yang ada dibawah tanggung jawabnya
c. Mengelola pelayanan keperawatan maternitas
4. Keperawatan medical bedah
a. Mengembangkan diri secara terus menerus untuk meningkatkan
kemampuan professional dalam keperawatan medical bedah
b. Melaksanakan kegiatan penelitian dalam rangka pengembangang ilmu
keperawatan medical bedah
c. Berfungsi sebagai anggota masyarakat yang kreatif, produktif, terbuka
untuk menerima perubahan dan beroreantasi pada masa depan.
4. Pendidikan profesi keperawatan
Pradigma keperawatan disusun menjadi empat konsep dasar yaitu, Manusia,
lingkungan, sehat dan keperawatan. Kelly (1981) dalam Ma’rifin (2003)
mengembangkan krietria profesi meliputi:
a. Layanan yang diberikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi
kemanusiaan
b. Adanya body of knowledge yang khusus dipelajari dan dikembangkan melalui
proses penelitian.
c. Layanan yang diberikan termasuk aktivitas intelektual , tanggung jawab dan
tanggung gugat secara individu merupakan suatu tantangan yang besar dan
harus dijawab
d. Perawat praktisi relative bebas dan dapat mengontroli kebijakan dan aktivitas
yang mereka perbuat (otonomi)
e. Perawat praktisi harus memiliki dasar pendidikan dan di institusi pendidikan
tinggi
f. Perawat peraktisi memberikan pelayanan dengan motivasi altursitik dan
menganggap bahwa pekerjaan yang mereka lakukan merupakan kegiatan
terpenting dalam hidupnya.
g. Terdapat kode etik yang memberikan panduan dalam mengambil kepeutusan
dan meneruskan praktik yang mereka lakukan.

15
DOKTOR

Ners MAGISTER Ners


spesialis spesialis

Ners
(Profesi)

SARJANA KEPERAWATAN
(tahap akademik)

AKPER

SPK SMU

Gambar 1. 1 Pendidikan Tinggi Keperawatan

2.4 Registrasi dan STR Registrasi


Pada UU nomor 38 tahun 2014 pasal 18 menyatakan bahwa:
1. Perawat yang menjalankan Praktik Keperawatan wajib memiliki STR.
2. STR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh Konsil
Keperawatan setelah memenuhi persyaratan
3. Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:
a. Memiliki ijazah pendidikan tinggi Keperawatan
b. Memiliki Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat profesi
c. Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental
d. Memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji profesi
e. Membuat pernyataan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika
profesi.
4. STR berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diregistrasi ulang setiap 5
tahun.
5. Persyaratan untuk Registrasi ulang sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) meliputi:
a. Memiliki STR lama
b. Memiliki Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi

16
c. Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental
d. Membuat pernyataan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika
profesi
e. Telah mengabdikan diri sebagai tenaga profesi atau vokasi di
bidangnya
f. Memenuhi kecukupan dalam kegiatan pelayanan, pendidikan,
pelatihan, dan/atau kegiatan ilmiah lainnya.
6. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan sebagaimana dimaksud
pada ayat (5) huruf e dan huruf f diatur oleh Konsil Keperawatan.
7. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara Registrasi dan Registrasi
ulang diatur dalam peraturan konsil keperawatan.
Registrasi merupakan pencantuman nama seseorang dan informasi lain pada
badan resmi baik milik pemerintah maupun non pemerintah. Perawat yang telah
terdaftar diizinkan memakai sebutan registered nurse. Untuk dapat terdaftar, perawat
harus telah menyelesaikan pendidikan keperawatan dan lulus ujian dari badan
pendaftaran dengan nilai yang diterima. Izin praktik maupun registrasi harus
diperbaharui setiap satu atau dua tahun.
Tujuan registrasi:
a. Menjamin kemamapuan perawat untuk melakukan praktik keperawatan sesuai
dengan kewenangan dan kompetensinya.
b. Mempertahankan prosedur penatalaksanaan secara objektif terhadap kasus
kelalaian tugas atau ketidak mampuan melaksanakan tugas sesuai dengan
standar kompetensi.
c. Mengidenttifikasi jumlah dan kualifikasi perawat professional dan vokasional
yang akan melakukan praktik keperawatan sesuai dengan kewenangan dan
kompetensi masing-masing.
Registrasi meliputi 2 kegiatan berikut:
a. Registrasi administrasi.
Adalah kegiatan mendaftarkan diri yang dilakukan setiap tahun, berlaku
untulk perawat professional dan vokasional.
b. Registrasi kompetensi
Adalah registrasi yang dilkakukan setiap 5 tahun untuk memperoleh
pengakuan, mendapatkan kewenangan dalam melakukan praktik keperawatan
, berlaku bagi perawat professional.
Perawat yang sudah teregistrasi mendapat Surat Izin Perawat (SIP) dan nomor register.
Perawat yang sudah melakukan registrasi akan memperoleh kewenangan dan hak
berikut:

17
 Melakukan pengkajian
 Melakukan terapi keperawatan.
 Melakukan observasi.
 Memberikan pendidikan dan konseling kesehatan.
 Melakukan intervensi medis yang didelegasikan.
 Melakukan evaluasi tindakan keperawatan di berbagai tatanan pelayanan
kesehatan.
Perawat yang tidak teregistrasi, secara hukum tidak memiliki kewenangan dan
hak tersebut. Registrasi berlaku untuk semua perawat professional yang bermaksud
melakukan praktik keperawatan di wilayah Negara republik Indonesia, termasuk
perawat berijasah luar negeri.
Mekanisme registrasi terdiri dari mekanisme registrasi administratif dan
mekanisme registrasi kompetensi yang dilakukan melalui 2 jalur, yaitu:
 Ujian registrasi nasional, dan
 Pengumpulan kredit sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Registrasi yang dilakukan perawat yang baru lulus disebut regustrasi awal dan
registrasi selanjutnyab di sebut registrasi ulang.
Persyaratan memperoleh STR (Surat Tanda Registrasi) bagi Perawat:
1. Fotokopi ijazah pendidikan keperawatan yang dilegalisir sebanyak 1 lembar
2. Fotokopi transkrip nilai akademik yang dilegalisir sebanyak 1 lembar
3. Fotokopi sertifikat kompetensi yang dilegalisir sebanyak 1 lembar
4. Surat keterangan kesehatan dari dokter yang memiliki Surat Izin
Praktik (Keterangan Kesehatan)
5. Pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan etika profesi (dalam bentuk
rekomendasi PPNI Kabupaten Kukar asli dengan stempel basah)
6. Pasfoto terbaru berwarna ukuran 4x6 sebanyak 2 (dua) lembar
Surat Tanda Registrasi (STR) adalah bukti tertulis yang diberikan oleh
pemerintah kepada tenanga kesehatan yang telah memiliki sertifikat kompetensi
sesuai ketentuan perawaturan perundang-undangan.
Untuk memperoleh SIPP, Perawat harus mengajukan permohonan kepada
Pemerintah Daerah Kabupaten /Kota dengan melampirkan :
a. fotocopy Surat Tanda Registrasi (STR) yang masih berlaku dan dilegalisisr
b. surat keterangan sehat fisik dari dokter yang memiliki Surat Ijin Praktik
c. surat pernyataan memiliki tempat praktik
d. pas foto berwarna terbaru ukuran 4×6 sebanyak 3 (tiga) lembar
e. rekomendasi dari Organisasi Profesi

18
2.5 SIPP
Surat ijin perawat atau Surat Ijin Praktik Perawat (SIPP) adalah merupakan
bukti tertulis yang diberikan kepada seseorang untuk melakukan praktik keperawatan
secara perorangan dan atau berkelompok.
Seorang perawat tidaklah mudah menjalankan tugasnya tanpa memperoleh
beberapa registrasi, sertifikasi dan surat izin praktik. Setiap perawat yang akan
menjalankan pekerjaan keperawatan wajib memiliki :
1. Surat Izin Perawat (SIP) yaitu Bukti tertulis pemberian kewenangan untuk
menjalankan pekerjaan keperawatan diseluruh wilayah Indonesia.
2. Surat Izin Kerja (SIK) yaitu bukti tertulis yang diberikan kepada perawat untuk
melakukan praktik keperawatan di sarana pelayanan kesehatan.
3. Surat Izin Praktik Perawat (SIPP) yaitu bukti tertulis yang diberikan kepada
perawat untuk menjalankan praktik perawat perorangan/kelompok.
Ke 3 Surat Izin tersebut sesuai ketentuan hukum :
 KEPMENKES 1239 tahun 2001
 UU No.23 Tentang Kesehatan Tahun 1992
 PP No.32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan
 UU No.8 Tentang Perlindungan Konsumen
Tata Cara Peermohonan Memperoleh SIP, SIK, dan SIPP
1. Registrasi untuk mendapatkan SIP (Surat Izin Perawat)
Perawat wajib mendaftarkan diri pada Dinas Kesehatan Provinsi untuk mendapatkan
SIP sebagai persyaratan pekerjaan keperawatan dan memperoleh nomor registrasi.
Sasaran registrasi adalah semua lulusan pendidikan keperawatan. Keluaran proses
registrasi dalam bentuk SIP yang berlaku diseluruh wilayah Indonesia dan memperoleh
nomor registrasi yang bersifat tetap dan berlaku sepanjang masa untuk setiap perawat.
Pejabat yang berwenang menerbitkan SIP adalah Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.
Registrasi terbagi Dua yaitu registrasi awal dan registrasi ulang. Registrasi awal
dilakukan oleh setiap perawat setelah yang bersangkutan lulus dari pendidikan
keperawatan sedangkan registrasi ulang diberikan kepada perawat yang sudah bekerja
dan dilakukan setiap 5 tahun.
Kelengkapan Registrasi Sebagai dimana yang dimaksud meliputi :
 Foto kopi ijazah pendidikan keperawatan
 Surat Keterangan sehat dari dokter
 Pas foto
2. Pembuatan SIK (Surat Izin Kerja)
Setelah mendapatkan SIP, perawat baru dapat membuat SIK. Sasaran Izin Kerja
Perawat adalah semua perawat. SIK hanya berlaku pada satu tempat sarana pelayanan

19
kesehatan. Pejabat yang menerbitkan SIK adalah Kantor Dinas Kesehatan
Kota/Kabupaten.
3. a) Penerbitan SIPP
Pembuatan SIPP dengan mengajukan permohonan kepada Kantor Dinas Kesehatan
Kota/Kabupaten setempat menggunakan form IV Kepmenkes 1239/2001. SIPP
diterbitkan kepada perawat yang minimal memiliki pendidkan dasar DIII keperawatan.
Permohonan diajukan dengan melampirkan:
1. Foto kopi Ijazah pendidikan keperawatan terakhir
2. Surat Pengalaman kerja selama 3 tahun bagi lulusan DIII keperawatan
3. Foto kopi SIP
4. Rekomendasi dari organisasi profesi PPNI
b). Pembaharuan SIPP
SIPP diperbaharui 6 bulan sebelum berakhirnya masa berlaku SIPP. Permohonan
rekomendasi PPNI untuk mendapatkan SIPP lanjutan diajukan perawat menggunakan
formulir F (terlampir). Permohonan ini dikirimkan ke Kantor Dinas Kesehatan
Kota/Kabupaten diwilayah tempat yang bersangkutan melaksanaakan praktik. Kepala
Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten menerbitkan SIPP Lanjutan, jika permohonan
disetujui. SIPP lanjutan dikirimkan kepada yang bersangkutan dengan tembusan ke
pengurus organisasi profesi Kota/Kabupaten. SIPP lanjutan tidak diterbitkan jika tidak
memenuhi persyaratan dengan memberikan alasan penolakan tersebut dengan
menggunakan formulir VII.
2.6 Praktik keperwatan
Praktik keperawatan adalah hubungan yang dinamik, penuh perhatian dan
pertolongan di mana perawat membantu klien untuk mencapai dan mempertahankan
kesehatan optimalnya, hal ini dapat dipenuhi dengan menerapkan pengetahuan dan
keterampilan keperawatan dan ilmu-ilmu lain yang berkaitan yang digunakan dalam
proses keperawatan. (Canadian nurses association/can 1986).
Regulasi praktik keperawatan diselenggarakan dengan tujuan hokum untuk
mengendalikan cakupan praktik keperawatan, ketentuan perizinan bagi perawat dan
standar asuhan keperawatan. Perawat yang melakukan praktik harus memenuhi syarat
dan ketentuan yang diatur dengan peraturan menteri kesehatan yaitu PMK nomor HK.
02.02/Menkes/148/I/2010 pada bab II tentang penyelenggaran praktik pasal 8 yang
isinya sebagai berikut:
1. Praktik keperawatan dilaksanakan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat
pertama, tingkat kedua dan tingkat ketiga.
2. Praktik keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan kepada
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

20
3. Praktik keperawatan sebagaimana dimaksud ayat (1) dilaksanakan melalui
kegiatan:
a. Melaksanakan asuhan keperawatan
b. Pelaksanaan upaya promotif, preventif, pemulihan dan pemberdayaan
masyarakat dan
c. Pelaksanaan tindakan keperawatan komplementer
4. Asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a meliputi
pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan
evaluasi keperawatan.
5. Implementasi keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meliputi
penerapan perencanaan dan pelaksanaan tindakan keperawatan.
6. Tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) meliputi pelaksanaan
prosedur keperawatan, observasi keperawatan, pendidikan kesehatan dan
konseling kesehatan.
7. Perawat dlam menjalankan asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) dapat memberikan obat bebas dan atau obat bebas terbatas.

Dimana diatur lebih lanjut dalam UU No. 38 Pasal 28 Tahun 2014 dengan
bunyi sebagai berikut:
(1) Praktik Keperawatan dilaksanakan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
dan tempat lainnya sesuai dengan Klien sasarannya.
(2) Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. Praktik Keperawatan mandiri; dan
b. Praktik Keperawatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(3) Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
didasarkan pada kode etik, standar pelayanan, standar profesi, dan
standar prosedur operasional.
(4) Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2))
didasarkan pada prinsip kebutuhan pelayanan kesehatan dan/ atau
Keperawatan masyarakat dalam suatu wilayah.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai kebutuhan pelayanan kesehatan dan/
atau Keperawatan dalam suatu wilayah sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri.

21
Keperawatan adalah kegiatan pemberian asuhan kepada individu, keluarga,
kelompok, atau masyarakat, baik dalam keadaan sakit maupun sehat (UU No.
38/2014 tentang Keperawatan). Pemberian asuhan oleh perawat dilaksanakan
secara sistematis berdasarkan proses keperawatan. Asuhan Keperawatan adalah
rangkaian interaksi perawat dengan klien dan lingkungannya untuk mencapai
tujuan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian klien dalam merawat dirinya.
Menurut undang-undang keperawatan 2014, sasaran pemberian asuhan
keperawatan adalah menggunakan istilah klien, bukan pasien atau penderita. Hal ini
dilakukan dengan pertimbangan bahwa sasaran pemberian asuhan keperawatan
bukan hanya pada mereka yang sakit, tetapi juga pada mereka yang berisiko
diberikan asuhan agar tidak jatuh sakit. Bahkan kepada mereka yang sehat
diberikan asuhan agar mampu mempertahankan kesehatan dan hidup lebih
produktif. Sasaran pemberian asuhan keperawatan bukan hanya kepada individuu,
tetapi juga pada kelompok, keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, batasan
pengertian klien menurut UU keperawatan adalah perseorangan, keluarga,
kelompok, atau masyarakat yang menggunakan jasa Pelayanan Keperawatan.
Pelayanan keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang
merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu
dan kiat Keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau
masyarakat, baik sehat maupun sakit. Sebagai bagian integral dari pelayanan
kesehatan, maka setiap perawat dalam memberikan asuhan keperawatan harus
memperhatikan sistem pelayanan kesehatan yang berlaku. Dalam memberikan
asuhan keperawatan, perawat wajib patuh pada standar pelayanan atau ketentuan
peraturan perundang-undangan berlaku, juga harus patuh pada standar profesi,
standar prosedur operasional dan kode etik profesi keperawatan.
Standar profesi adalah tahapan kegiatan yang wajib di lalui seorang perawat
dalam menjalankan asuhan keperawatan.Standar ini meliputi pengkajian, diagnosa,
perencanaan dan pelaksanaan tindakan keperawatan serta evaluasi dari tindakan
yang telah diberikan. Standar profesi ini bersifat sirkuler, dan harus terus
dilaksanakan sejak klien menjalani asuhan keperawatan sampai hasil evaluasi
dinyatakan dapat memenuhi kebutuhan dasar atau merawat dirinya sendiri (self
care).

22
Standar prosedur operasional adalah serangkaian tindakan keperawatan yang
telah ditetapkan dan di sahkan oleh pimpinan fasilitas pelayanan kesetan untuk
menyelesaikan masalah keperawatan klien atau diagnosa keperawatan yang telah
ditegakkan. Standar prosedur operasional ini harus dibuat oleh tim keperawatan di
masing-masing fasilitas kesehatan. Pihak yang harus bertanggung jawab dalam
menetapkan standar prosedur operasional adalah manager keperawatan
dibantu semua kepala bangsal di ruangan (kepala ruangan), di koordinir oleh
komite keperawatan dan atau ketua organisasi profesi perawat di tingkat
komisariat. Standar prosedur operasional dibuat berdasarkan fakta masalah
keperawatan terbanyak (evident based practice in nursing) di masing-masing
bangian. Kemudian dicari berbagai literatur (literature riview) tentang alternatif
tindakan keperawatan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah
keperawatan, lakukan penilain atau telaah kritis (critical appraisal) dari alternatif
tindakan yang telah dipilih, tentukan berbagai tindakan terpilih untuk ditetapkan
sebagai standar prosedur operasional sementara sesuai sarana dan prasarana
fasilitas kesehatan setempat. Standar prosedur operasional sementara ini harus di
uji coba, dilakukan evaluasi dan telaah kritis kembali, diskusi kelompok terfokus
(focus group discussion) sampai didapatkan suatu standar prosedur operasional tiap
diagnosa keperawatan, pada masing-masing ruangan. Standar prosedur operasional
sementara ini kemudian diusulkan kepada pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan
(direktur rumah sakit, kepala dinas kesehatan atau kepala puskesmas) untuk di
sahkan sebagai standar prosedur operasional. Standar prosedur operasional inilah
yang digunakan standar penilaian kinerja perawat, sesuai standar atau tidak.
Pedoman tindakan yang juga harus dipatuhi perawat dalam menjalankan asuhan
keperawatan adalah kode etik keperawatan. Kode etik adalah suatu pedoman
kegiatan yang harus dilakukan seorang perawat berdasarkan tata-nilai dan
kebutuhan masyarakat.Karena berdasarkan tata-nilai dan kebutuhan masyarakat
setempat, maka kode etik ini menjadi tolok ukur baik buruknya seorang perawat
dalam menjalankan peran dan fungsinya di masyarakat. Oleh karena itu, kode etik
ini harus dipatuhi dan kembangkan menjadi kebiasaan dalam berperilaku sehari-
hari, sehingga terbentuklah perilaku, karakter atau watak perawat dalam
menjalankan perkerjaan profesinya. Kode etik adalah sebuah tata-nilai, baru dapat
bermakna apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

23
Kode etik perawat Indonesia terdiri dari 5 (lima) prinsip tanggung jawab
perawat dalam menjalankan pekerjaan profesinya, yaitu tanggung jawab terhadap
klien, tugas, teman sejawat, profesi dan tanggung jawab terhadap masyarakat atau
negara. Prinsip kode etik perawat Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Tanggung jawab perawat terhadap klien. Perawat dalam melaksanakan
pengabdiannya senantiasa:
a. Berpedoman kepada tanggung jawab yang bersumber dari adanya kebutuhan
akan keperawatan individu, keluarga dan masyarakat.
b. Memelihara suasana linkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat
istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari individu, keluarga dan
masyarakat.
c. Dilandasi dengan rasa tulus ikhlas sesuai dengan martabat dan tradisi luhur
keperawatan.
d. Menjalin hubungan kerja sama dengan individu, keluarga dan masyarakat
dalam mengambil prakarsa dan mengadakan upaya kesehatan khususnya serta
upaya kesejahteraan umum sebagai bagian dari tugas kewajiban bagi
kepentingan masyarakat.
2. Tanggung jawab perawat terhadap tugas.
a. Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi
disertai kejujuran profesional dalam menerapkan pengetahuan serta
keterampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu keluarga dan
masyarakat.
b. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan
tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh yang
berwenang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
c. Perawat tidak akan menggunakan pengetahuan dan keterampilan keperawatan
untuk tujuan yang bertentangan dengan norma-norma kemanusiaan.
d. Perawat dalam menunaikan tugas dan kewajibannya senantiasa berusaha
dengan penuh kesadaran agar tidak terpengaruh oleh pertimbangan
kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik dan
agama yang dianut serta kedudukan sosial.
e. Perawat senantiasa mengutamakan perlindungan dan keselamatan klien/klien
dalam melaksanakan tugas keperawatan serta matang dalam

24
mempertimbangkan kemampuan jika menerima atau mengalih tugaskan
tanggung jawab yang ada hubungannya dengan keperawatan.
3. Tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lain
(teman sejawat), perawat senantiasa:
a. Memelihara hubungan baik antar sesama perawat dan dengan tenaga kesehatan
lainnya, baik dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun
dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara menyeluruh.
b. Menyebarluaskan pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya kepada
sesama perawat serta menerima pengetahuan dan pengalaman dari profesi lain
dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam bidang keperawatan.
4. Tanggung jawab perawat terhadap profesi, perawat senantiasa:
a. Berupaya meningkatkan kemampuan profesional secara sendiri-sendiri dan
atau bersama-sama dengan jalan menambah ilmu pengetahuan, keterampilan
dan pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan keperawatan.
b. Menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan menunjukan
perilaku dan sifat-sifat pribadi yang luhur.
c. Berperan dalam menentukan pembakuan pendidikan dan pelayanan
keperawatan serta menerapkan dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan
keperawatan.
d. Secara bersama-sama membina dan memelihara mutu organisasi profesi
keperawatan sebagai sarana pengabdiannya.
5. Tanggung jawab perawat terhadap pemerintah, bangsa dan tanah air (negara),
perawat senantiasa:
a. Melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai kebijaksanaan yang digariskan oleh
pemerintah dalam bidang kesehatan dan keperawatan.
b. Berperan secara aktif dalam menyumbangkan pikiran kepada pemerintah
dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dan keperawatan kepada
masyarakat.
Praktik keperawatan adalah pelayanan yang diselenggarakan oleh perawat dalam
asuhan keperawatan (UU Keperawatan pasal 1 ayat 4). Hakikat praktik keperawatan
senantiasa mengabdi kepada kemanusian atau berbentuk pelayanan kesehatan klien
askep merupakan inti praktik keperawatan hubungan professional perawat-klien

25
mengacu pada sistem interaksi secara positif atau hubungan terapeutik, karakteristik
hubungan secara professional:
1. Berorientasi pada kebutuhan klien
2. Diarahkan pada pencapain tujuan
3. Bertanggung jawab dalam menyelesaikan masalah klien
4. Memahami kondisi klien dengan berbagai keterbatasan
5. Memberikan penilaian berdasarkan norma yang disepakati
6. Berkewajiban membantu klien agar mampu mandiri
7. Berkewajiban membina hubungan saling percaya
8. Bekerja sesuai kaida etik, menjaga kerahasian
9. Berkomunikasi secara efektif
Dalam melakukan tindakan praktik keperawatan harus berasaskan kepada:
1. Perikemanusian
2. Nilai ilmiah
3. Etika dan profesionalitas
4. Manfaat
5. Keadaan
6. Pelindungan dan
7. Kesehatan klien dan keselamatan klien
Sumber: UU Keperawatam pasal 2
Praktik keperawatan dilaksanakan difasilitas pelayanan kesehatan dan tempat
lainnya sesuai dengan klien sasarannya baik praktik keperawatan mandiri dan praktik
keperawatan difasilitas pelayanan kesehatan. Maka dari penjabaran diatas dapat
dikatakan parktik keperawatan memiliki makna:
1. Praktik keperawatan adalah tindakan mandiri perawat professional (Ners)
melalui kerjasama yang bersifat kolaboratif baik dengan klien maupun
tenaga kesehatan yang lain dalam memberikan asuhan keperawatan yang
holistic sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya (CHS, 1992).
2. Menurut American Nursing Association (ANA): perlakuan terhadap
kompensasi pelayanan professional yang memerlukan pengetahuan khusus
tentang ilmu biologi, fisika atau ilmu alam, perilaku, psikologi sosiologi dan
teori keperawatan sebagai dasar untuk mengkaji, menegakkan diagnose,
melakukan intervensi dan evaluasi upaya peningkatan dan pemertahanan

26
kesehatan, penemuan dan pengelola masalah kesehatan, cidera atau
kecacatan, pemertahanan fungsi optimal atau meninggal dengan nyaman.
3. NCBSN (National Council of State Boards of Nursing) praktik keperawatan
berarti membantu individu atau kelompok dalam mempertahankan
kesehatan yang optimal sepanjang proses kehidupan dengan mengkaji status
kesehatannya, menentukan diagnose, merencanakan dan
mengimplementasikan strategi perawatan untuk mencapai tujuan serta
mengevaluasi respon terhadap perawatan dan pengobatan.
Dalam menyelenggarakan praktik keperawatan, perawat bertugas sebagai:
1. Pemberi asuhan keperawatan
2. Penyuluh dan konselor bagi klien
3. Pengelola pelayanan keperawatan
4. Peneliti keperawatan
5. Pelaksanaan tugas berdasarkan pelimpahan wewenang, dan/atau.
6. Pelaksanaan tugas dalam keadaan keterbatasan tertentu
Sumber: UU Keperawatan
Praktik keperawatan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Otonomi dalam pekerjaan
Perawat mempunyai kemandirian. Perawat mempunyai hak melakukan
tugasnya tanpa campur tangan.
2. Bertanggung jawab dan bertanggung gugat
Perawat harus dapat bertanggung jawab terhadap apa yang terhadap apa
yang dia kerjakan. Misal dalam hal member suntikan harus sesuai waktu
dan dosisnya. Perawat juga harus berhati-hati dan jujur serta teliti dalam
melakukan kegiatan keperawatan. Perawat juga harus siap bertanggung
gugat yaitu siap menerima semua konsekuensi dari setiap keputusan yang
diambil
3. Pengambilan keputusan yang mandiri
Kebebasan perawat untuk bertindak melaksanakan tindakan keperawatan
tanpa kendali dari luar. Seorang perawat dapat melaksanakan tugasnya
sebagai seorang perawat, karena telah memperoleh pendidikan perawat, dan
sudah menjadi sebagai perawat professional
4. Kolaborasi dengan disiplin lain

27
Dalam melakukan tindakan keperawatan, perawat harus melakukan
kolaborasi dengan disiplin ilmu lain. Misal ada orang kecelakaan dan patah
tulang, perawat membutuhkan tenaga radiologi untuk melakukan rongent
5. Pemberian pembelaan (advocacy)
Pembelaan disebut juga dukungan (advocacy). Yaitu bertindak demi hak
klien untuk mendapatkan asuhan yang bermutu dengan mengadakan
interaksi untuk kepentingan atau demi klien, dalam mengatasi masalahnya
serta berhadapan dengan pihak-pihak yang lebih luas.
6. Memfasilitasi kepentingan pasien atau klien
Tujuan praktik keperawatan keperawatan diantaranya adalah untuk
membantu individu agar mandiri, selain itu mengajak individu atau
masyarakat berpartisipasi dalam bidang kesehatan, kemudian membantu
individu mengembangkan potensi untuk memelihara kesehatan secara
optimal agar tidak tergantung pada orang lain dalam memelihara kesehatan,
serta membantu individu memperoleh derajat kesehatan secara optimal.

28
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di
bidang kesehatan. Penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang bertanggung jawab, yang memiliki etik dan moral yang tinggi,
keahlian, dan kewenangan yang secara terus menerus harus ditingkatkan mutunya
melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, sertifikasi, registrasi, perizinan, serta
pembinaan, pengawasan, dan pemantauan agar penyelenggaraan upaya kesehatan
memenuhi rasa keadilan dan perikemanusiaan serta sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi kesehatan yang selanjutnya diatur dalam UU No. 36 Tahun
2014 tentang Tenaga Kesehatan dan UU No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan.
Perawat merupakan bagian integral (terpenting) dalam suatu instansi kesehatan
karena perawat merupakan kerangka dasar yang tidak dapat dipisahkan dalam proses
memberikan pelayanan kesehatan.
3.2 Saran
Sebagai seorang perawat, hendak dapat memahami jenis dan undang - undang
etika keperawatan serta melalukan registrasi dan memilki surat ijin praktik
keperawatan.

29
DAFTAR PUSTAKA

Brotowasisto. 1992. Ketentuan-ketentuan dalam UU kesehatan No.23/92; Tentang


kesehatan yang terkait dengan pelayanan medik. Jakarta : Dirjen Pelayanan
Medik Depkes RI.
Depkes RI.1998.Standar Praktik keperawatan bagi perawat kesehatan; Jakarta :
Departemen kesehatan
Nasrullah, Dede S.Kep., Ns. 2014. Etika dan Hukum Keperawatan Untuk Mahasiswa
dan Praktisi Keperawatan. Jakarta: CV. Trans Info Media
DPP PPNI. 1996. Standar Praktik keperawatan. Jakarta : DPP PPNI
Gillies. 1989. Nursing Managemen. System Approacher Edisi 2. Philadephia: W.B
Sauders Co
Hidayat, Aziz Aimul. 2007. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika Gaffar, Laode J. 1997. Pengantar Keperawatan
Profesional.Jakarta: EGC
Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC
Nursalam. 2002. Manajemen Keperawatan: Penerapan dalam Praktik Keperawatan
Profesional. Jakarta: Salemba Medika
Nursalam. 2007. Manajemen Keperawatan: Penerapan dalam Praktik Keperawatan
Profesioanal. Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika
Salam, dkk. 2009. Pendidikan Dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba
Simamora Roymond H. M.Kep. Ns. 2009. Buku Ajar Pendidikan Dalam
Keperawatan. Jakarta: EGC
Undang-Undang Keperawatan. 2014

30