Anda di halaman 1dari 3

3.

Pelaksanaan Pengujian Audit

Auditor melakukan berbagai macam pengujian yang secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga
golongan sebagai berikut.

1. Pengujian analitik

Pengujian analitik dilakukan olehh auditor pada tahap awal proses auditnya dengan cara mempelajari
perbandingan dan hubungan antara data yang satu dengan data yang lain. Pada awal proses audit,
pengujian analitik dimaksudkan untuk membantu auditor dalam memahami bisnis klien dan dalam
menemukan bidang yang memerlukan audit lebih intensif. Sebelum seorang auditor melaksanakan
audit secara rinci dan mendalam terhadap objek audit, auditor harus memperoleh gambaran yang
menyeluruh mengenai perusahaan yang diaudit. Untuk itu, analisi ratio, analisis laba bruto, analisis
terhadap laporan keungan perbandingan merupakan cara yang umumnya ditempuh oleh auditor
untuk mendapatkan gambaran menyeluruh dan secara garis besar mengenai keadaan keungan dan
hasil usaha klien.

2. Pengujian pengendalian

Pengujian pengendalian merupakan prosedur audit yang dirancang untuk memverifikasi efektivitas
pengendalian intern klien. Pengujian pengendalian terutama ditujukan untuk mendapat informasi
mengenai:

 Frekunsi pelaksanaan aktivitas pengendalian yang ditetapkan,


 Mutu pelaksanaan aktivitas pengendalian tersebut
 Karyawan yang melaksanakan aktivitas pengendalian tersebut.

3. Pengujian substantif

Pengujian substantif merupakan prosedur audit yang dirancang untuk menemukan kemungkinan
kesalahan moneter yang secara langsung mempengaruhi kewajaran penyajian laporan keuangan.
Kesalahan moneter yang terdapat dalam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan
kemungkinan terjadi karena dalam:

 Penerapan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia


 Tidak diterapkannya prinsip akuntasni bertrima umum di Indonesia.
 Ketidakkonsistenan dalam penerapan prinsip akuntasi berterima umum di Indonesia.
 Perhitungan.
 Pekerjaan penyajian penggolangan dan peringkasan informasi.
 Pencatuman pengungkapan unsur tertnetu dalam laporan keuangan.

Prosedur pengujian substantif meliputi:

1. Verifikasi atas ketepatann saldo kas dan sekdul kas.


2. Penerapan prosedur analitis.
3. Perhitungan kas yang disimpan dalam entitas.
4. Melaksanakan pengujian pisah batas kas.
5. Konfirmasi saldo simpanan pinjaman di bank.
6. Konfirmasi perjanjian atau kontrak lain dengan bank.
7. Melakukan pemindaian (sacnning) penelaahan, atau pembeuatan rekonsiliasi bank.
8. Menghimpun dan menggunakan laporan pisah batas bank.
9. Melakukan pengujia pisah batas penerimaan kas.
10. Mengusut transfer bank
11. Menyiapkan pembuktian kas.
12. Membandingkan penyajian laporan keuangan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

2.4 Pelaporan Audit

Bagian akhir dari proses audit adalah pelaporan hasil audit. Isi laporan audit terikat pada format yang
telah diterapkan oleh IAI. Laporan audit merupakan media yang dipakai oleh auditor dalam
berkomunikasi dengan masyarakat lingkungannya. Dalam laporan tersebut auditor menyatakan
pendapatnya mengenai kewajaran laporan keungan auditnya. Pendapat auditor tersebut disajikan
dalam suatu laporan tertulis yang umumnya berupa laporan audit baku. Laporan audit baku terdiri
dari tiga paragraf:

1. Paragraf pengantar

Paragraf pengantar dicantumkan sebagai paragraf perteman laporan audit baku. Terdapat tiga fakta
yang diungkapkan oleh auditor dalam paragraf pengantar yaitu: tipe jasa yang diberikan oleh auditor,
objek yang diaudit, serta pengungkapan tanggungjawab manajemen atas laporan keungan dan
tanggungjawab auditor atas pendapat yang diberikan atas laporan keungan berdasarkan hasil
auditnya.

2. Parangraf lingkup

Paragraf lingkup berisi pernyataan ringkas mengenai lingkup audit yang dilaksanakan oleh auditor.

3. Paragraf pendapat

Paragraf pendapat berisi pernyataan ringkas mengenai pendapat.

Laporan memuat kesimpulan audit tentang elemen-elemen atas tujuan audit dan rekomendasi yang
diberikan untuk memperbaiki berbagai kekurangan yang terjadi serta rencana tindak lanjut dalam
mengaplikasikan rekomendasi tersebut. Implementasi tindak lanjut atas rekomendasi yang diberikan
auditor merupakan bentuk komitmen manajemen dalam meningkatkan proses dan kinerja
perusahaan atas beberapa kelemahan/kekurangan yang masih terjadi. Auditor tidak memiliki
kewenangan memaksa dan menuntut manajemen untuk melaksanakan tindak lanjut sesuai dengan
rekomendasi yang diberikan, tetapi lebih menempatkan diri sebagai supervisor atas rencana,
pelaksanaan, dan pengendalian tindak lanjut yang dilakukan. Rekomendasi seharusnya merupakan
hasil diskusi dan rumusan bersama antara manajemen dan auditor, dan juga harus menyajikan
analisis dan manfaat yang diperoleh perusahaan jika rekomendasi tersebut dilaksanakan, serta
kerugian yang mungkin terjadi jika rekomendasi tidak dilaksanakan karena tidak ada tindakan
perbaikan yang dilakukan perusahaan.

BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Langkah-langkah audit meliputi empat tahap, yaitu:

1. Penerimaan Perikatan Audit terdiri dari: mengevaluasi integritas manajemen, mengidentifikasi


keadaan khusus dan risiko luar biasa, menentukan kompetensi untuk melaksanakan audit,
menilai independensi, menentukan kemampuan untuk menggunakan kemahiran
profesionalnya dengan kecermatan dan keseksamaan dan membuat surat perikatan audit.
2. Perencanaan Audit, terdiri dari: memahami bisnis dan industri klien, melaksanakan prosedur
analitik, mempertimbangkan tingkat materialitas awal, mempertimbangkan risiko bawaan,
mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap saldo awal, jika periaktan
dengan klien berupaa audit tahun pertama, dan memahami pengendalian intern klien.
3. Pelaksanaan Pengujian Audit, ada tiga golongan: pengujian analitik, pengujian pengendalian
dan pengujian substantif.
4. Pelaporan Audit, Isi laporan audit terikat pada format yang telah diterapkan oleh IAI. Laporan
audit baku terdiri dari tiga paragraf; paragraf pengantar, paragraf lingkup dan paragraf
pendapat.

Seluruh tahapan audit ini pada akhirnya akan menghasilkan rekomendasi yang kemudian harus
ditindaklanjuti, yang menyajikan analisis dan manfaat yang diperoleh perusahaan jika rekomendasi
tersebut dilaksanakan, serta kerugian yang mungkin terjadi jika rekomendasi tidak dilaksanakan
karena tidak ada tindakan perbaikan yang dilakukan perusahaan.