Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit pada ibu hamil seringkali mengintai. Hal itu karena, selama masa
kehamilan, sistem kekebalan tubuh mengalami perubahan. Oleh karena itu, ibu harus
pandai-pandai dalam menjaga kesehatan sendiri, dan juga kesehatan janin. Janin
mempunyai setengah DNA dari sang ayah. Sehingga, sistem kekebalan tubuh ibu akan
mendeteksi janin sebagai benda asing. Maka dari itu, saat hamil, sistem kekebalan tubuh
akan berubah agar tidak menimbulkan bahaya pada janin dala kandungan. Perubahan-
perubahan tersebut meliputi:

1) produksi cytokines berkurang, cytokines yakni protein yang dilepas sel imunitas
untuk membuat sel lain untuk membantu melawan infeksi.
2) aktivitas sel NK (natural killer) semakin berkurang, sel darah putih yang yang
menyerang sel yang telah terinfeksi virus atau bagian dari tumor.
3) produksi macrophages jadi meningkat, sel yang bertugas untuk menghancurkan
bakteri, tetapi tak memberikan jaminan untuk melindungi Anda dari infeksi bakteri.
4) aktivitas sel T semakin berkurang, sel yang membantu mengendalikan infeksi virus.
Fungsi sel T, ibu hamil yang semakin menurun menjadikan ibu hamil lebih rentan
terhadap resiko infeksi yang dulu saat sistem kekebalan tubuh berfungsi dengan
normal, tak menyebabkan sakit.

Selain itu, kekebalan ibu hamil yang menurun, akan kian rendah, dipengaruhi oleh
beberapa faktor :

1) Aktivitas sehari-hari yang tetap tinggi.


2) Faktor cuaca yang berubah-ubah secara ekstrem, dari panas menjadi dingin.
3) Berinteraksi dengan banyak orang, terutama yang tak sehat.
4) Pola hidup tak sehat, seperti kekurangan nutrisi.

Infeksi bisa disebabkan oleh bakteri, virus dan parasit sedangakan penularan dapat
terjadi intrauterin, pada waktu persalinan atau pascalahir. Transmisi bisa secara
transplasental ataaupun melalui aliran darah atau cairan amnion.

1
Infeksi dapat mengakibatkan imunitas tubuh selama masa kehamilan semakin
menurun menjadikan ibu hamil lebih rentan infeksi. Dikhawatirkan, ketika Ibu hamil
sakit, ada dua yang dikhawatiran, yakni apakah penyakit dapat berbahaya bagi janin,
serta apakah obat yang akan diminum bisa berbahaya untuk janin. Sejumlah penyakit
infeksi saat hamil memang lebih beresiko terhadap ibu, namun juga dapat
membahayakan janin.

B. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah “ASKEB IV
Patologi” juga agar dapat mengetahui tentang apa saja Penyakit Infeksi Pada Ibu Hamil
(Varicella, Hepatitis B, dan Demam Berdarah Dengue)

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. VARICELLA

Cacar air dalam bahasa inggris disebut sebagai Chickenpox,atau dalam bahasa
kedokteran disebut sebagai varicella. Penyakit yang sangat menular ini disebabkan oleh
virus yang bernama Varicella Zooter Virus (VZV). Varicella atau cacar air merupakan
infeksi akut menular. Cacar air adalah suatu penyakit yang umum ditemui pada anak-
anak. 90% kasus cacar air terjadi pada anak dibawah 10 tahun. Dan lebih dari 90% orang
yang telah mengalami cacar air pada saat mereka berusia 15 tahun. Insiden penyakit ini
paling tinggi terlihat pada usia 5-9 tahun. Cacar air terjadi akibat infeksi primer (pertama
kali) Varisella Zooter Virus (VZV). Karena disebabkan virus, penyakit ini sembuh
dengan sendirinya. Namun setelah sembuh, VZV tidak benar-benar hilang dari tubuh.
Virus ini akan menetap dibagian saraf tertentu dan nantinya dapat teraktivasi dalam
bentuk herpes zoter (cacar ular atau shingles). Herpes zoter ini umumnya terjadi pada usia
diatas 60 tahun dan pada sebagian besar kasus hanya terjadi sekali. (3 : 26)

Penyakit penyakit ini adalah infeksi dari Varicella Zooster Virus (VZV). Virus ini
ditularkan melalui percikan ludah penderita atau melalui benda-benda yang
terkontaminasi oleh cairan dari lepuhan kulit. Penderita bisa menularkan penyakitnya
mulai dari timbulnya gejala sampai lepuhan yang terakhir mengering. Untuk mencegah
penularan, sebaiknya penderita diisolasi. Jika seseorang pernah menderita cacar air maka,
dia akan memiliki kekebalan dan tidak akan menderita cacar air lagi. Tetapi virusnya bisa
tetap tertidur didalam tubuh manusia, lalu kadang menjadi aktif kembali dan
menyebabkan herpes zoster. (3 : 26)

 Penilaian Klinik
a. Demam seperti influenza
b. Timbul erupsi kemerahan pada kulit yang diikuti dengan terbentuknya vesikel
pada punggung, muka dan ekstremitas
c. Gatal dan nyeri pada daerah lesi
d. Virus varicella dapat menginfeksi janin secara transplasenter
(4 : 223)

3
 Penaganan (pengawasan dokter)
Karena cacar air pada umumnya ringan dan sembuh dengan sendirinya, penangan
cacar air terutama ditunjukan untuk meringankan gejala. Yang dapat dilakukan ialah :
tirah baring secukunya, parasetamol untuk menurunkan demam, Calamine dan mandi
dengan air suam-suam kuku untuk meringankan rasa gatal, sarung tangan untuk
mencegah anak menggaruk ruam mungkin dibutuhkan pada anak-anak yang sangat kecil,
makanan yang lembut dan menyejukan jika ada ruam didalam mulut. Sedangkan
beberapa penaganan yang tidak dianjurkan adalah : antihistamin yang bersifat sedatif
(membuat tidur) seperti chlorpheniramine. Obat ini tidak signifikan untuk menagani rasa
gatal pada cacar air, antivirus tidak direkomendasikan penggunaanya pada cacar air tanpa
komplikasi. Bahkan jika mulai diberikan pada hari dimana ruam pertama kali muncul,
antivirus hanya mengurangi satu hari dari lamanya sakit. Penelitian yang dilakukan juga
menunjukkan bahwa acylovir (salah satu antivirus) tidak bermakna dalam menurunkan
resiko komplikasi pada cacar air. Selain itu penggunaan antivirus secara teori juga dapat
merubahnya respon kekebalan tubuh sehingga virus dapat teraktivasi kembali lebih cepat
dalam bentuk herprs zoter (cacar ular). Antivirus dapat dipertimbangkan untuk kegunaan
pada cacar air dengan komplikasi yang berat, cacar air pada bayi dibawah usia 28 hari,
atau pada orang dengan sisitem kekebalan tubuh yang rendah. Pemberian antivirus ini
harus dilakukan dalam jangka waktu 48 jam setelah ruam pertama kali muncul .
antibiotik hanya dibutuhkan jika ada infeksi kulit oleh bakteri. (3 : 27)

 Bahaya Varicella pada Ibu Hamil


Jika ibu hamil terjangkit cacar air akan menambah resiko pada janin : kematian
janin atau sindroma varisella kongenital berupa kelainan bentuk dan saraf yang parah
sehingga bayi mengalami retardasi mental. Bisa juga bayi lahir prematur. Bahkan ibu
bisa mengalami komplikasi berupa radang otak atau radanag paru. Bagi ibu hamil, cacar
air bisa membahayakan kesehatan ibu dan janin dalam kandungan. Sekitar 20% janin
dari ibu penderita cacar air beresiko meninggal dunia dalam waktu lima hingga sepuluh
hari setelah dilahirkan. (3 : 29)

Jika cacar air menyerang ibu hamil dalam trimester pertama, bisa saja bayi lahir
dengan berat badan lahir rendah atau kealainan janin. Misalnya kelainan mata, otak, kaki,
tangan, paru, dan tulang rahang mengecil. Jika terjadi pada trimester kedua dan ketiga,
cacar air umunya tidak menyebabkan kelainan bawaan, namun kemungianan bayi lahir

4
permatur atau menderita bintil-bintil berisi air setelah sepuluh hari dilahirkan.
Pencegahan hanya bisa dilakukan dengan vaksinasi. (3 : 29)

Jika persalinan terjadi sebelum masa inkubasi atau pada persalinan, maka karena
antibodi pada tubuh ibu belum terbentuk, bayi akan terinfeksi dan menimbulkan cacat
pada usus dan susunan saraf pusat. Karena hal tersebut, bayi yang lahir dari ibu hamil
seperti yang disampaikan diatas harus disuntik dengan VZIG atau ZI, meskipun daya
proteksinya 60-70%. (1 : 905)

Seorang ibu hamil yang belum pernah terkena penyakit cacar air, dan dia tidak
pernah menderita penyakit gangguan imunitas lainnya; jika ia terjangkit penyakit cacar
air virus ditubuh ibunya dapat menulari bayi dalam kandungannya melalaui plasenta.
Penting untuk diingat jika infeksi terjadi 28 minggu pertama kehamilannya dapat terjadi
sebuah kelainan bernama congenital varicellla syndrome atau fetal varicella syndrome
(sindroma cacar air pada bayi dalam perut ibu). (3 : 29)

Efek dari penyakit ini bagi sang bayi bermacam-macam tingkat bahayanya, yaitu :
kerusakan otak : esefalitis (radang otak), mikrosefal (perkembangan otak terhambat,
sehingga otaknya menjadi kecil), aplasia otak, dan lain-lain; kerusakan mata : mikro-
oftalamik (ukurannya kecil), katarak, korioretinis, ganggaun saraf mata dan lain-lain;
gangguan saraf : kerusakan saraf spinal (tulang belakang), gangguan saraf
motorik,(penggerak) dan sensorik (perasa), hilangnya refleks, sindroma Horner, dan lain-
lain ; kerusakan tubuh : kegagalan pembentukan tungakai tubuh (jari, tangan, kaki),
gangguan anus dan otot kandung kencing, dan lain-lain ; gangguan kulit : timbulnya
jaringan parut (seperti luka dalam), gangguan warna kulit dan lain-lain (3 : 29)

Infeksi bayi pada usia tua kehamilan atau sesaat setelah bayi lahir disebut sebagai
varicella neonatus. Pada usia kehamilan yang lanjut infeksi cacar air beresiko
menimbulkan kelahiran prematur (3 : 29)

 Pengobatan infeksi virus varicella pada kehamilan :


1. Pemberian Varisella Zoter ImunoGlobin (VZIG) dapat mencegah atau
memperlamah infeksi. Dosis pemberian adalah 125 IU per 10 kg Intramuskular,
dengan dosis maksimal 625 U atau 5 vial. Pemberian VIZG tidak direkomendasikan
secra rutin pada wanita hamil. (5 : 105)

5
2. Diberikan acyclorovir sebanyak 250-500mb/3-4 kali dalam sehari sampai gejala
kliniksnya menghilang (2 : 649)
3. Isolasi neonatus dengan varicella (infeksi trimester III) untuk mendapatkan
pengobatan dan pengawasan khusus
a. Obat acyclorovir 125 mg/PO IM
b. Perhatian komplikasi fatal
 Ensefalitis
 Pneumonia
(2 : 649)

B. HEPATITIS B
Prevalensi pengidap HBV pada ibu hamil di Indonesia berkisar antara 1-5%
dimana keadaan ini bergantung pada prevalensi VNB dipopulasi (1 : 906)

Kehamilan sendiri tidak akan memperberat infeksi virus hepatitis, akan tetapi jika
terjadi infeksi akut pada kehamilan bisa mengakibatkan terjadinya hepatitis fulminan
yang dapat menimbulkan mortalitas tinggi pada ibu dan bayi. Pada ibu dapat
menimbulkan abortus dan terjadinya perdarahan pasca persalinan karena adanaya
gangguan pembekuan darah akibat gangguan fungsi hati. Pada bayi masalah yang serius
umunya tidak terjadi pada masa neonatus, tetapi pada masa dewasa. Jika terjadi
penularan vertikal HBV 60-90% akan menjadi pengidap kronik VHB dan 30% akan
menderita kanker hati atau sirosis hati sekitar 40 tahun kemudian. Jika penularan HBV
vertikal dapat dicegah, berati mencegah terjadinya kanker hati secara primer dan dapat
ikut meningkatkan kualitas sumber daya manusia akan datang. (1 : 906)

 Beberapa faktor predisposisi terjadinya penularan vertikal antara lain :


Titer DNA-VHB tinggi pada ibu (makin tinggi titer makin tinggi kemungkinan
bayi tertular), terjadinya infeksi akut pada kehamilan trimester ketiga, persalinan lama
dan mutasi VHB. Kegagalan vaksinasi yang menyebabkan bayi tertular 10-20%
disebabkan oleh mutasi VHB (1 : 906)

VHB mudah menimbulkan infeksi nosokomial pada tenaga medik dan paramedik
melalui pertolongan persalinan atau operasi, karena tertusuk jarum suntik atau luka lecet,

6
terutama pada pasien dengan HbsAGg positif. VHB lebih besar berpotensi untuk
menimbulkan infeksi nosokomoial dirumah sakit dibandingkan HIV. (1 : 906)

 Gejala kliniksnya :
1. Lemas, cepat lelah
2. Infesi akut menahun
3. Ikterus
4. Nyeri abdomen
(2 : 638)

 Pencegahan
 Kewaspadaan Universal (universal precaution)
Hindari hubungan seksual dan pemakaian alat atau bahan dari pengidap. Vaksinasi
HB bagi seluruh tenaga kesehatan sangat penting, terutama yang sering terpapar
dengan darah (1 : 906-907)
 Skrining HBsAg pada ibu hamil
Skrining HBsAg pada ibu hamil, terutama pada daerah dimana terdapat prevalensi
tinggi (1 : 907)
 Imunisasi
Penularan dari ibu ke bayi sebagian besar dapat dicegah dengan imunisasi.
Pemerintah telah menaruh perhatian besar terhadap penularan vertikal VHB dengan
membuat program pemberian vaksinasi HN bagi semua bayi yang lahir difasilitas
pemerintah dengan dosis mikrogram pada hari ke 0, umr 1, dan 6 bulan, tanpa
mengetahui bayi tersebut lahir dari ibu dengan HBsAg positif atu tidak (1 : 907)

 Penangan Kehamilan dan Persalinan pada Ibu pengidap VHB


Persalinan pengidap VHB tanpa infeksi akut tidak berbeda dengan penaganan
persalinan umumnya
 Pada infeksi akut VHB dan adanya hepatitis fulminan persalinan pervaginam
usahakan dengan trauma sekecil mungkin dan rawat bersama dengan spesialis
penyakit dalam (Spesialis Hepatologi). Gejala hepatitis fulminan antara lain sangat
ikterik, nyeri perut kanan atas, kesadaran menurun dan hasil pemeriksaan urin, warna
seperti teh pekat, urolobin dan bilirubin positif, pada pemeriksaan darah selain

7
urolobin dan bilirubin positif pada pemeriksaan darah selain urolubin dan bilirubin
positif SGOT dan SPGT sangat tinggi biasanya diatas 1.000. (1 : 907)
 Pada ibu hamil dengan Viral Load tinggi dapat dipertimbangkan pemberian HBIG
atau Lamivudin pada 1-2 bulan sebelum persalinan. Mengenai hal itu masih ada
beberapa pendapat yang menyatakan lamivudin tidak ada pengaruh pada bayi, tetapi
ada yang masih mengkhawatirkan pengaruh teratogenik obat tersebut (1 : 907)
 Persalinan sebaiknya jangan dibiarkan berlangsung lama, khususnya pada ibu dengan
HBsAg positif, Wong menyatakan persalinan berlangsung lebih dari 9 jam, sedangkan
Surya menyatakan persalinan berlangsung lebih dari 16 jam, sudah meningkatkan
kemungkinan penularan VHB intrauterin. Persalinan pada ibu hamil dengan titer
VHB tinggi (3,5 pg/m) atau HbsAg positif, lebih seksio sesarea. Demikian juga jika
persalinan yang lebih dari 16 jam pada pasien pengidap HBsAg positif (1 : 907)
 Menyusui bayi, tidak merupakan masalah. Pada penelitian telah dibuktikan bahwa
penularan melalui saluran cerna membutuhkan titer virus yang jauh lebih tinggi
daripada penularan parenteral (1 : 907)

 Profilaksis :
1. Pada ibu hamil yang tes antibodinya negatif sebaiknya mendapatkan vaksinasi
setelah persalinan. (2 : 638)
2. Bayi yang lahir dari seropositif :
a. Berikan HBIG 0,5 IM segera
b. Vaksinasi 12 jam setelah lahir atau serial. Untuk menghadiri masa dewasa muda
dalam bentuk :
 Hepatoma
 Serosis hepatitis
(2 : 638)

C. DEMAM BERDARAH DENGUE


Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut dengan ciri-ciri
demam manifestasi perdarahan, dan bertendesi mengakibatkan renjatan yang dapat
menyebabkan kematian. Puncak kasus DBD terjadi pada musim hujan yaitu bulan
Desember sampai dengan Maret. (5 : 419)

8
Demam dengue merupakan infeksi oleh Virus Dengue (sero tipe 1,2,3dan 4) yang
merupakan masalah kesehatan yang menonjol di Asia Tenggara terutama Inonesia.
Penyakit ini umumnya ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui gigitan nyamuk
Aedes Aegepti tetapi bisa juga Aedes Albopictus dan Aedes Polynesiensis. (1 : 909)

Virus Dengue sanagat mudah bermutasi sehingga manifestasi klinik mudah


berfariasi dan pencegahan dengan vaksinasi masih terus diupayakan. (1 : 909)

Secara umum penyakit ini disebut Dengue Syndrome dan dibagi menjadi 3 sesuai
gejala, dimana pada awal ketiganya susah dibedakan :

a) Dengue fever (DF)


b) Dengue hemorrhagic fever (DHF), ada 4 gradasi dimana grade III dan IV disebut
DSS
c) Dengue shock syndrome (DSS)
(1 : 909)

 Gejala Klinik
a. Dengue Fever
Panas mendadak dan berkesinambungan, sakit kepala, nyeri orbita, nyeri otot, sendi,
dan tulang belakang, mual-muntah, nyeri perut dan leukopenia. (1 : 909)

b. Dengue Hemorrahagic Fever


Pada awal seperti dengue fever, kemudian toumiquet test positif,
petekie/ekimosis/purpura, perdarahan (pada gusi dan bekas suntik, epistakis,
hematemesis, melena, hematuri) efusi pleura dan asites. Pemeriksaan laboraturium ;
trombosit 100.000 atau kurang, peningkatan hematokrit ≥20% setelah terapi cairan.
(1 : 909-910)

c. Dengue Shock Syndrome


Timbul tanda-tanda syok terutama narrow pulse pressure atau sama dengan 20
mmHg. Kematian pada pasien dengan demam dengue umumnya karena datang
dengan DHF atau DSS dan tidak mendapat penanganan yang adekuat/intensif.
(1:910)

9
 Penanganan
Tidak ada obat yang khusus. Pengobatan hanya simptomatik dan suportif disertai
pengawasan ketat secara klinik maupun laboraturium. Penanganan secara umum adalah
sebagai berikut :
a. Istrahat
b. Antipiretik untuk panas di atas 39⁰C dengan parasetamol setiap 6 jam
c. Kompres dengan air hangat (tepid water)
d. Terapi rehidrasi (minum atau parenteral jika tidak cukup)
e. Pemeriksaan laboraturim khususnya Hb, leukosit, trombosit, dan hematokrit
f. Pemeriksaan penunjang,antara lain foto torak dan USG
(1 : 910)

Hindari pemberian aspirin untuk obat panas dan antibiotika karena tidak perlu, serta
sari buah dengan pengawet. (1 : 910)

 Pengaruh demam dengue pada kehamilan


Berdasarkan gejala klinik dari penyakit ini, pengaruh yang mungkin terjadi adalah
kematian janin intrauterin. Jika infeksi terjadi menjelang persalinan dilaporkan bisa
terjadi transisi vertikal dan bayi lahir dengan gejala trombositopenia, panas,
hepatomegali, dan gangguan sirkulasi. Keadaan ini tidak terjadi jika infeksi terjadi jauh
dari masa persalinan. Pada saat persalinan bisa terjadi perdarahan, karena adanya
trombositopenia. Trombosit atau darah hanya diberikan jika terdapat perdarahan. (1:910)

 Penaganan pada kehamilan


Sebaiknya ditangani oleh tim dan kalau mungkin hindari persalinan berlangsung
masa kritis. Kalau terjadi persalinan, dilakukan pengawasan intensif dan tindakan
obstetrik dengan segala kewaspadaan. Informasi atau informed consent untuk pasien,
suami serta keluarganya jangan dilupakan. (1 : 910)

10
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Infeksi bisa disebabkan oleh bakteri, virus dan parasit sedangkan penularan dapat
terjadi intrauterin, pada waktu persalinan atau pascalahir. Transmisi bisa secara
transplasental ataupun melalui aliran darah atau cairan amnion.
Beberapa penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dapat diderita oleh wanita
hamil yaitu : Varicella, Hepatitis B, dan Demam Berdarah Dengue. Gejala yang dialami
dapat berbeda-beda sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Infeksi
dapat mengakibatkan imunitas tubuh selama masa kehamilan semakin menurun
menjadikan ibu hamil lebih rentan sakit. Sejumlah penyakit infeksi saat hamil memang
lebih beresiko terhadap ibu, namun juga dapat membahayakan janin.

B. Saran
 Untuk semua wanita yang mempunyai penyakit infeksi selama kehamilannya,
disarankan untuk memeriksakan kehamilannya kepada bidan atau dokter untuk
mendapatkan penangan yang tepat
 Wanita hamil disarankan untuk memperluas pengetaghuannya tentang penyakit-
penyakit yang dapat menyertai kehamilannya seperti infeksi, sehinnga dapat
mengetahui dan mecegah penyakit yang dapat diderita selama kehalmilannya,
menjaga kesehatan, kebersihan diri,istrahat dan juga memenuhi kebutuhan nutrisi
selama kehamilannya

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirahjo Sarwono, 2009. Ilmu Kebidanan, Edisi 4. Jakarta: PT.Bina Pustaka


Sarwono.P
2. Manuaba Gde Bagus Ida, 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC
3. S.Si.T RukiahYeyeh Ai, Am.ked Yulianti Lia, 2010. Asuhan Kebidanan IV
(Patologi). Jakarta: TIM
4. Saifuddin Bari Abdul, dkk. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jkarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo
5. Mansjoer Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius
6. Sastrawinata Sulaiman, 2004. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi,Edisi 2.
Jakarta : EGC

12
MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN IV (PATOLOGI)
Penyakit Infeksi pada Kehamilan
Varicella, Hepatitis B, dan Demam Berdarah Dengue

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 8

NUR ANNISA 12 02 0070


ILFA 12 02 0060
INDAH ASWITA 12 02 0061
RAHMI NURMALA 12 02 0079
DEWI SARTIKA BURIKO 12 02 0050

JURUSAN DIII KEBIDANAN


TINGKAT : 2B

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


YAYASAN HUSADA MANDIRI POSO
TAHUN AKADEMIK 2012/2013

13
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan hidayah-Nya
penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Penyakit Infeksi Pada Kehamilan (
Varicella, Hepatitis B, dan Demam Berdarah Dengue)” tepat pada waktunya. Makalah ini
disusun dalam rangka memenuhi tugas pada mata kuliah Asuhan Kebidanan IV (Patologi)

Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah ini, untuk
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi
meningkatkan mutu makalah ini pada masa mendatang. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi petugas kesehatan dan teman – teman sejawat lainnya.

Poso, 15 Maret 2014

Penulis

14
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... ii

DAFTAR ISI..................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................1

A. Latar Belakang........................................................................................ 1
B. Tujuan..................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 3
A. Varicella................................................................................................. 3
B. Hepatitis B.............................................................................................. 6
C. Demam Berdarah Dengue....................................................................... 8

BAB III PENUTUP........................................................................................... 11


A. Kesimpulan.............................................................................................. 11
B. Saran........................................................................................................ 11

15