Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH KEBUDAYAAN ISLAM

01 Desember 2012 - dibaca : 7.515 kali

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

MUHAMMAD telah meninggalkan warisan rohani yang agung, yang telah menaungi dunia
dan memberi arah kepada kebudayaan dunia selama dalam beberapa abad yang lalu. Ia akan
terus demikian sampai Tuhan menyempurnakan cahayaNya ke seluruh dunia. Warisan yang
telah memberi pengaruh besar pada masa lampau itu, dan akan demikian, bahkan lebih lagi
pada masa yang akan datang, ialah karena ia telah membawa agama yang benar dan
meletakkan dasar kebudayaan satu-satunya yang akan menjamin kebahagiaan dunia ini.
Agama dan kebudayaan yang telah dibawa Muhammad kepada umat manusia melalui wahyu
Tuhan itu, sudah begitu berpadu sehingga tidak dapat lagi terpisahkan.

Kalau pun kebudayaan Islam ini didasarkan kepada metoda-metoda ilmu pengetahuan dan
kemampuan rasio, hal ini sama seperti yang menjadi pegangan kebudayaan Barat masa kita
sekarang, dan kalau pun sebagai agama Islam berpegang pada pemikiran yang subyektif dan
pada pemikiran metafisika namun hubungan antara ketentuan-ketentuan agama dengan dasar
kebudayaan itu erat sekali. Soalnya ialah karena cara pemikiran yang metafisik dan perasaan
yang subyektif di satu pihak, dengan kaidah-kaidah logika dan kemampuan ilmu pengetahuan
di pihak lain oleh Islam dipersatukan dengan satu ikatan, yang mau tidak mau memang perlu
dicari sampai dapat ditemukan, untuk kemudian tetap menjadi orang Islam dengan iman yang
kuat pula. Dari segi ini kebudayaan Islam berbeda sekali dengan kebudayaan Barat yang
sekarang menguasai dunia, juga dalam melukiskan hidup dan dasar yang menjadi
landasannya berbeda. Perbedaan kedua kebudayaan ini, antara yang satu dengan yang lain
sebenarnya prinsip sekali, yang sampai menyebabkan dasar keduanya itu satu sama lain
saling bertolak belakang.

Sistem ekonomi dasar kebudayaan Barat. Sebagai akibatnya, di Barat telah timbul pula
aliran-aliran yang hendak membuat segala yang ada di muka bumi ini tunduk kepada
kehidupan dunia ekonomi. Begitu juga tidak sedikit orang yang ingin menempatkan sejarah
umat manusia dari segi agamanya, seni, filsafat, cara berpikir dan pengetahuannya dengan
ukuran ekonomi. Pikiran ini tidak terbatas hanya pada sejarah dan penulisannya, bahkan
beberapa aliran filsafat Barat telah pula membuat pola-pola etik atas dasar kemanfaatan
materi ini semata-mata. Sungguh pun aliran-aliran demikian ini dalam pemikirannya sudah
begitu tinggi dengan daya ciptanya yang besar sekali, namun perkembangan pikiran di Barat
itu telah membatasinya pada batas-batas keuntungan materi yang secara kolektif dibuat oleh
pola-pola etik itu secara keseluruhan. Dan dari segi pembahasan ilmiah hal ini sudah
merupakan suatu keharusan yang sangat mendesak.

Sebaliknya mengenai masalah rohani, masalah spiritual, dalam pandangan kebudayaan Barat
ini adalah masalah pribadi semata, orang tidak perlu memberikan perhatian bersama untuk
itu. Oleh karenanya membiarkan masalah kepercayaan ini secara bebas di Barat merupakan
suatu hal yang diagungkan sekali, melebihi kebebasan dalam soal etik. Sudah begitu rupa
mereka mengagungkan masalah kebebasan etik itu demi kebebasan ekonomi yang sudah
sama sekali terikat oleh undang-undang. Undang-undang ini akan dilaksanakan oleh tentara
atau oleh negara dengan segala kekuatan yang ada.

Kisah kebudayaan Barat mencari kebahagiaan umat manusia


Kebudayaan yang hendak menjadikan kehidupan ekonomi sebagai dasarnya, dan pola-pola
etik didasarkan pula pada kehidupan ekonomi itu dengan tidak menganggap penting arti
kepercayaan dalam kehidupan umum, dalam merambah jalan untuk umat manusia mencapai
kebahagiaan seperti yang dicita-citakannya itu, menurut hemat saya tidak akan mencapai
tujuan. Bahkan tanggapan terhadap hidup demikian ini sudah sepatutnya bila akan
menjerumuskan umat manusia ke dalam penderitaan berat seperti yang dialami dalam abad-
abad belakangan ini. Sudah seharusnya pula apabila segala pikiran dalam usaha mencegah
perang dan mengusahakan perdamaian dunia tidak banyak membawa arti dan hasilnya pun
tidak seberapa. Selama hubungan saya dengan saudara dasarnya adalah sekerat roti yang saya
makan atau yang saudara makan, kita berebut, bersaing dan bertengkar untuk itu, masing-
masing berpendirian atas dasar kekuatan hewaninya, maka akan selalu kita masing-masing
menunggu kesempatan baik untuk secara licik memperoleh sekerat roti yang di tangan
temannya itu. Masing-masing kita satu sama lain akan selalu melihat teman itu sebagai
lawan, bukan sebagai saudara. Dasar etik yang tersembunyi dalam diri kita ini akan selalu
bersifat hewani, sekali pun masih tetap tersembunyi sampai pada waktunya nanti ia akan
timbul. Yang selalu akan menjadi pegangan dasar etik ini satu-satunya ialah keuntungan.
Sementara arti perikemanusiaan yang tinggi, prinsip-prinsip akhlak yang terpuji, altruisma,
cinta kasih dan persaudaraan akan jatuh tergelincir, dan hampir-harnpir sudah tak dapat
dipegang lagi.

Sebaliknya paham sosialisme yang berpendapat bahwa perjuangan kelas yang harus disudahi
dengan kekuasaan berada di tangan kaum buruh, merupakan salah satu keharusan alam.
Selama persaingan dan perjuangan mengenai harta itu dijadikan pokok kehidupan, selama
pertentangan antar-kelas itu wajar, maka pertentangan antar-bangsa juga wajar, dengan tujuan
yang sama seperti pada perjuangan kelas. Dari sinilah konsepsi nasionalisme itu, dengan
sendirinya, memberi pengaruh yang menentukan terhadap sistem ekonomi. Apabila
perjuangan bangsa-bangsa untuk menguasai harta itu wajar, apabila adanya penjajahan untuk
itu wajar pula, bagaimana mungkin perang dapat dicegah dan perdamaian di dunia dapat
dijamin? Pada menjelang akhir abad ke-20 ini kita telah dapat menyaksikan - dan masih dapat
kita saksikan - adanya bukti-bukti, bahwa perdamaian di muka bumi dengan dasar
kebudayaan yang semacam ini hanya dalam impian saja dapat dilaksanakan, hanya dalam
cita-cita yang manis bermadu, tetapi dalam kenyataannya tiada lebih dari suatu fatamorgana
yang kosong belaka

B. RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan hal-hal sebagai berikut

1. Apa pengertian kebudayaan ?

2. Apa kebudayaan islam itu ?

3. Bagaimana perkembangan budaya islam saat ini ?

C. TUJUAN

Setelah mendiskusikan tema ini, maka kita dapa memperoleh beberapa tujuan sebagai berikut
;

1. dapat mengetahui pengertian kebudayaan

2. dapat mengetahui sejarah terbentuknya kebudayaan islam

3. dapat membedakan kebudayaan local dengan kebudayaan islam

4. dapat mengambil keputusan mengenai kebudayaan yang dapat kita laksanakan dalam
kehidupan sehari-hari
D. MANFAAT

Dari tujuan di atas maka setealah mendiskusikan kita dapat memperoleh mamfaat begitu
besar seperti

1. dapat mengetahui pengertian kebudayaan kemudian memberitahukan informasi kepada


orang lain

2. dapat mengetahui sejarah terbentuknya kebudayaan islam pada masa kejayaan islam

3. dapat membedakan kebudayaan local dengan kebudayaan islam

4. dapat mengambil keputusan mengenai kebudayaan yang dapat kita laksanakan dalam
kehidupan sehari-hari

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. KEBUDAYAAN

1. Pengertian Kebudayaan

Kebudayaan Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks,


yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota
masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan
adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat
diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yang mana akan mempengaruhi tingkat
pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia,
sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan
perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk
yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola
perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang
kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan
bermasyarakat

2. Unsur-unsur kebuyaan
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur
kebudayaan, antara lain sebagai berikut:

· Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu: alat-


alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, kekuasaan politik .

· Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:

sistem norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk
menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya organisasi ekonomi. alat-alat dan lembaga-
lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
organisasi kekuatan (politik)

3. Wujud Kebudayaan

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan
artefak.

Gagasan (Wujud ideal)

Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan,
nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba
atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran
warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk
tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil
karya para penulis warga masyarakat tersebut.

Aktivitas (tindakan)

Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam
masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri
dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul
dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.
Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan
didokumentasikan.

Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya
semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat,
dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.

Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa
dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal
mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

4. Komponen Kebudayaan

Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:

· Kebudayaan material

Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret.
Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu
penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan
material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga,
pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.

· Kebudayaan nonmaterial

Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke


generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

5. Penetrasi budaya

Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan
ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:

· Penetrasi damai (penetration pasifique)

Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh


kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut
tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat.
Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya
masyarakat. Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi,
atau Sintesis.Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan
baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi
Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan
India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan
baru. Sedangkan Sintesisadalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada
terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.

· Penetrasi kekerasan (penetration violante)

Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya
kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga
menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyaraka

B. KEBUDAYAAN ISLAM

SECARA umum arti kebudayaan yang sebenarnya ialah suatu hasil daya pemikiran dan
pemerahan tenaga lahir manusia, ia adalah gabungan antara tenaga fikiran dengan tenaga
lahir manusia ataupun hasil daripada gabungan tenaga batin dan tenaga lahir manusia. Apa
yang dimaksudkan gabungan antara tenaga batin (daya pemikiran) dengan tenaga lahir ialah
apa yang difikirkan oleh manusia itu terus dibiat dan dilaksanakan. Apa yang difikirkannya
itu dilahirkan dalam bentuk sikap. Maka hasil daripada gabungan inilah yang dikatakan
kebudayaan.

Jadi kalau begitu, seluruh kemajuan baik yang lahir ataupun yang batin walau dibidang
apapun, dianggap kebudayaan. Sebab hasil daripada dayapemikiran dan daya usaha tenaga
lahir manusia akan tercetuslah soal-soal politik, pendidikan, ekonomi, sastera dan seni,
pembangunan dan kemajuan-kemajuan lainnya.

Dan kalau begitu pengertian kebudayaan maka agama-agama diluar Islam juga bisa dianggap
kebudayaan. Ini adalah karena agama-agama seperti Budha, Hindu, kristen (yang telah
banyak diubah-ubah) itulahir hasil dari pemikiran (ide-ide) manusia. Ia adalah ciptaan akal
manusia.
Sebaliknya agama Islam tidak bisa dianggap kebudayaan sebab ia bukan hasil daripada
pemikiran dan ciptaan manusia, bukan hasil budi dan daya (tenaga lahir) manusia. Agama
Islam adalah sesuatu yang diwahyukan oleh Allah SWT.

Oleh sebab itu siapa yang mengatakan bahwa agama Islam itu kebudayaan maka dia telah
melakukan satu kesalahan yang besar dan bisa jatuh murtad, karena dia telah mengatakan
satu perkara mungkar, yang tidak seyogyanya disebut. Oleh karena itu, hendaklah kita
berhati-hati. begitu banyak sekali ahli kebudayaan pada masa ini menyuarakan dengan
lantang bahwa Islam adalah kebudayaan dengan alasan bahwa ia adalah cara hidup atau 'way
of life' . Agama islam adalah bukan kebudayaan, sebab ia bukan hasil daripada tenaga fikiran
dan tenaga lahir manusia.

Agama Islam adalah wahyu dari Allah SWT yang disampaikan kepada Rasulullah SAW yang
mengandung peraturan-peraturan untuk jadi panduan hidup manusia agar selamat di dunia
dan akhirat. tetapi agama-agama diluar Islam memang kebudayaan, sebab agama-agama
tersebut adalah hasil ciptaan manusia daripada daya pemikiran mereka, daripada khayalan
dan angan-angan.

Namun begitu walaupun agama islam itu bukan kebudayaan tetapi ia sangant mendorong
(bahkan turut mengatur) penganutnya berkebudayaan. Islam bukan kebudayaan tapi
mendorong manusia berkebudayaan. Islam mendorong berkebudayaan dalam berfikir,
berekonomi, berpolitik, bergaul, bermasyarakat, berpendidikan, menyusun rumah tangga dan
lain-lain. Jadi, sekali lagi dikatakan, agama Islam itu bukan kebudayaan, tapi mendorong
manusia berkebudayaan. Oleh karena itu seluruh kemajuan lahir dan batin itu adalah
kebudayaan maka dengan kata-kata lain, Islam mendorong umatnya berkemajuan.

Agama Islam mendorong umatnya berkebudayaan dalam semua aspek kehidupan termasuk
dalam bidang ibadah. Contohnya dalam ibadah yang asas yaitu sembahyang. Dalam Al-
Qur'an ada perintah :

Terjemahnya : Dirikanlah sembahyang (Al-Baqarah: 43)

Perintah itu bukan kebudayaan karena ia adalah wahyu daripada Allah SWT. Tetapi apabila
kita hendak melaksanakan perintah "dirikanlah sembahyang" maka timbullah daya pemikiran
kita, bagaimana hendak bersembahyang, dimana tempat untuk melaksanakannya dan lain-
lain. Secara ringkas, kitapun bersembahyanglah setelah mengkaji Sunnah Rasulullah yang
menguraikan kehendak wahyu itu tadi. Firman Allah :
Terjemahnya: Tiadalah Rasul itu berkata-kata melainkan wahyu yang diwahyukan padanya
(An Najm: 3-4)

Umpamanya kalau sembahyang berjemaah, kita berbaris, dalam saf-saf yang lurus dan rapat.
Jadi dalam kita melaksanakan barisan saf yanglurus dan rapat itu adalah budaya, karena ia
hasil usaha tenaga lahir kita yang terdorong dari perintah wahyu.

Dan kalau dilihat dalam ajaran Islam, kita dikehendaki bersembahyang di tempat yang bersih.
Jadi perlu tempat atau bangunan yang bersih bukan saja bersih dari najis tetapi bersih
daripada segala pemandangan yang bisa menganggu kekhusyukan kita pada saat kita
bersembahyang. Maka terpaksalah kita umat Islam menggunakan pikiran, memikirkan
perlunya tempat-tempat sembahyang yaitu mushalla, surau ataupun mesjid. Apabila kita
membangun surau atau mesjid hasil dari dorongan wahyu "Dirikanlah sembahyang" itu maka
lahirlah kemajuan, lahirlah kebudayaan.

Jadi agama Islam mendorong manusia berkebudayaan dalam beribadah padahal ia didorong
oleh perintah wahyu "Dirikanlah sembahyang" yang bukan kebudayaan. Tapi karena hendak
mengamalkan tuntutan perintah wahyu ini, maka muncullah bangunan-bangunan mesjid dan
surau-surau yang beraneka bentuk dan didalamnya umat Islam sembahyang berbaris dalam
saf-saf yang lurus dan rapat. Ini semua merupakan kebudayaan hasil tuntutan wahyu.

Begitu juga dengan kebudayaan dalam bergaul dalam masyarakat dalam Al-Qur'an ada
perintah:

Terjemahnya: Hendaklah kamu bertolong bantu dalam berbuat kebajikan dan ketaqwaan.
Dan jangan kamu bertolong bantu dalam membuat dosa dan permusuhan (Al Maidah: 2)

Perintah ini bukan kebudayaan. Tapi apabila kita hendak mengamalkan tuntutan dan
kehendak perintah maka terbentuklah kebudayaan. Dalam bermasyarakat dan bergaul serta
bergotong royong untuk membuat kebajikan dan kebaikan serta bergotong royong juga
memberantas perkara dosa dan persengketaan tentulah perlu menggunakan pikiran. Setelah
dipikirakan untuk bergotong royong di tengah-tengah masyarakat, tentulah kita hendak
melahirkan dalam bentuk tindakan dan sikap juga. maka terbentuklah kebudayaan dalam
masyarakat.
Demikian juga dalam Al-Qur'an ada larangan:

Terjemahnya: Jangan kamu dekati zina(Al Isra': 32)


Larangan itu datang dari Allah SWT. Ia adalah wahyu bukannya kebudayaan karena ia bukan
ciptaan akal manusia. Tapi apabila kita hendak mengamalkan tuntutan perintah ini maka
terpaksa kita menggunakan akal pikiran dan melaksanakannya dalam perbuatan dan sikap.
Lalu apa saja unsur dalam pergaulan yang bisa membawa kepada zina akan kita pikirkan, dan
fisik kita segera mengelakkannya, seperti bergaul bebas antara lelaki dan perempuan,
pandang-memandang dan pembukaan aurat, semuanya akan kita hindari. Dengan itu nanti
akan lahirlah budaya setelah dipikirkan dan dilaksanakan dalam bentuk sikap dan perbuatan
hasil daripada dorongan wahyu "janganlah kamu dekati zina."

Seterusnya ada hadits yang berbunyi:

Terjemahnya: Hendaklah kamu berniaga karena sembilan persen daripada rezeki itu adalah di
dalam perniagaan

Ini adalah perintah (dorongan) daripada Rasulullah SAW yang hakikatnya daripada Allah
juga, supaya umat Islam berniaga. Atas dasar ini lahirlah fikiran dan perahan tenaga akal dan
fisik lainnya ke arah itu. Dengan itu lahirlah kebudayaan Islam dalam bidang perniagaan.
Labih kuat penghayatan terhadap hadits ini, lebih banyaklah kebudayaan di bidang
perniagaan yang dapt dicetuskan. Ini berarti umat Islam akan semakin maju. Dalam
perniagaan Allah melarang riba, tipu daya, suap dan lan-lain. Ini adalah dasar-dasar
kebudayaan Islam dalam bidang perniagaan.
Satu hadits lain berbunyi:

Terjemahnya: Tidaklah percuma seorang Islam atau menenam tanaman, lalu dimakan
daripadanya oleh burung dan manusia atau binatang, bahkan mendapat pahala sedekah
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Hasil daripada dorongan hadits ini akan lahirlah kebudayaan Islam di bidang pertanian.
pikiran dan tenaga lahir umat Islam diperah sungguh-sungguh untuk mengusahakan,
memajukan dan memodernkan teknik-teknik dan hasil pertanian. Hasilnya terbentuklah
kebudayaan Islam dibidang pertanian. jelaslah disini bahwa Islam bukanlah ajaran yang beku.
Ia menetapkan prinsip-prinsip asa dan mengatur beberapa peraturan tertentu dan
menyerahkannya sepenuhnya pada kebebasan akal dan tenaga manusia untuk membina
kemajuan di bidang pertanian.

Rasulullah SAW bersabda:


Terjemahnya: Yang halal jelas dan yang haram pun jelas, dan diantara kedua-duanya adalah
kesamaran (syubhat), inilah yang bayak manusia tidak mengetahuinya, siapa yang takut
syubhat akan selamatlah agama dan kehormatannya dan siapa yang terjebak di dlam syubhat
dikhawatirkan terlibat dengan yang haram. (Riwarat Bukhari dan muslim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah ada menyebut yang artinya : hati ditempa oleh makanan
minum

Umat Islam yang sensitif terhadap hadits ini akan berusaha semaksimal mungkin untuk
mengahsilkan barang makanan yang bersih lagi suci di sisi syariat. Makanan mesti diproses
secara Islam. Dengan ini timbullah daya usaha ke arah melahirkan pabrik-pabrik yang
memproses makanan secara Islam, dimana penyediaan, pengemasan makanan dan
penyimpanan makanan yang suci dan dijamin halal dilakukan. Oleh karena itu, kebudayaan
Islam dibidang perusahaan dan perindustrian makanan akan timbul dengan sendirinya.
Kemajuan akan bangun dengan pesatnya. Jadi, kemajuan di bidang perindustiran makanan
sewajarnya telah lama wujud dalam masyarakt Islam jika mereka benar-benar menghayati
perintah Allah dan Rasul-Nya.

Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:

Terjemahnya: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka (dengan) kekuatn apa saja yang
kamu sanggupi daripada kuda-kuda yang ditambat untuk berpasang (yang dengan persiapan
itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang tidak
kamu ketahui, sedangkan Allah mengetahuinya (Al Anfal: 60)

Ayat Al-Qur'an ini adalah dorongan secara langsung daripada Allah supaya umat Islam
membangun kekuatan ketentaraan untuk tujuan mempertahankan agama, kedaulatan negara
dan bangsa. Jika umat Islam benar-benar memahami tuntutan ayat ini, mereka akan muncul
sebagai satu kuasa yang gagah dan tidak bisa diperkotak-katikkan oleh musuh, karena
disamping mempunyai kekuatan taqwa mereka juga mempunyai kekuatan senjata.

Kita akan jadi umat yang dapat melengkapkan diri dengan senjata modern yang sophisticated
dan modern. Dengannya umat Islam akan dapat mempertahankan diri dan dapat menentang
setiap gangguan dan penzaliman dari pihak komunis dan kapitalis seperti yang terjadi hari ini.
Tidak timbul soal negara-negara yang terpaksa "minta sedekah" dan dapat dipermainkan oleh
negara-negara penjual senjata seperti apa yang terjadi di Timur Tengah pada saat ini. Inilah
keindahan Islam bukan saja dapat mendorong manusia berkebudayaan dalam bidang
kemasyarakatan atau perniagaan, malah Islam telah mendorong penganutnya mempunyai
kebudayaan dalam bidang ketentaraan.

Begitu juga halnya dengan arahan-arahan lain dalam agama Islam ini, kalau dapat kita
laksanakan akan lahirlah kebudayaan dan kemajuan dalam kehidupan kita. Jadi Islam itu
mendorong orang berkebudayaan, Sebarang kehendak dalam ajaran Islam apabila difikir dan
dilaksanakan dengan tenaga lahir akan melahirkan kemajuan. Kemajuan yang kita cetuskan
hasil daripada dorongan agama Islam itulah yang dikatakan kebudayaan.

Seandainya satu bangsa itu berpikir dan bertindak dengan tenaga lahirnya sehingga
mencetuskan sesuatu yang tidak ditirunya dari mana-mana pihak, maka hasil itulah yang
dinamakan kebudayaan bangsa itu. Asalkan apa saja yang dipikirkannya adalah tulen, tidak
mengambil dari mana-mana pikiran bangsa-bangsa lain dan apa-apa yang dicetuskannya itu
tidak meniru apa yang telah dibuat oleh orang lain, yaitu segala-galanya betul dari apa-apa
yang dihasilkan oleh bangsa itu sendiri, ia bisa dikatakan kebudayaan bangsa itu.

Tetapi kalau satu bangsa itu memikirkan dan membuat sesuatu perkara yang sudah sedia
dibuat atau dipikirkan orang lain, maka bangsa itu adalah bangsa yang berkebudayaan bangsa
lain namanya. karena ia memikirkan sesuatu yang memang telah dipikirkan oleh bangsa lain.
Ini namanya bangsa yang berkebudayaan bangsa lain bukan berkebudayaan sendiri.

Sebagai contoh, umat Islam hari ini memakai pakaian yang terbuka seperti shirt, gaun dan
sebagainya. Ini adalah orang Islam yang berkebudayaan orang lain (Barat). apa yang
dilakukan ini bukan kebudayaan Islam, tetapi kebudayaan orang lain yang diamalkan atau
dilaksanakan oleh orang Islam. jadilah ia orang Islam yang berkebudayaan orang lain.
Artinya kalau kita meniru Jepang, maka jadilah kita orang Islam yang berkebudayaan Jepang.

Tapi jikalau orang Melayu umapamanya, mencetuskan sesuatu dan apa yang dipikirkan dan
dibuat itu tidak pernah terpikir atau dicetuskan oleh sembarang bangsa lain di dunia ini, maka
barulah apa yang dicetuskan itu dikatakan kebudayaan bangsanya, kebudayaan Melayu.

Kenapa ia bisa dikatakan sebagai kebudayaan Melayu? Sebab disudut pikiran, ia tidak
diambil dari mana-mana bangsa, dan apa yang difikirkan itu belum pernah dicetuskan oleh
sebarang pun diatas muka bumi ini. Sebagai contoh, katalah silau pulut, yang mana orang
Jepang, orang Amerika dan lain-lain tidak pernah dibuat dan difikirkan.

Kalau begitu tentulah terlalu banyak perkara yang telah dilakukan oleh masyarakat Islam
sejak ratusan tahun dulu, hingga zaman ini bukan dari kebudayaan Islam tetapi dikaitkan
dengan kebudayaan Islam. Contohnya ada patung-patung yang pernah dibuat oleh orang-
orang Islam ratusan tahun dahulu yang sudah dikaitkan orang dengan kebudayaan Islam.
Mana ada dalam ajaran Islam yang membenarkan membuat patung? Itu sebenarnya adalah
perbuatan orang Islam yang berkebudayaan orang lain.

Perbuatan seperti ini terjadi juga dalam urusan membuat mesjid. Contohnya dapat dilihat
pada mesjid Cordova Spanyol, yang tempat sembahyangnya dibuat sudah tidak mengikut
cara Islam. Ia disalut dengan emas. Ini tidak dibenarkan sama sekali oleh ajaran Islam. Maka
ini bukan kebudayaan Islam tetapi kebudayaan orang Islam. Begitu juga dengan pancutan air
untuk mengambil wudhuk yang keluar dari mulut singa atau rusa, itu bukan daripada ajaran
Islam. Itu adalah kebudayaan orang Islam yang berkebudayaan orang lain.

Jadi apa sebenarnya kebudayaan Islam? Umumnya suatu yang dicetuskan itu bersih dengan
ajaran Islam baik dalam bentuk pemikiran ataupun sudah berupa bentuk, sikap atau
perbuatan, dan ia didorong oleh perintah wahyu. Itulah yang benar-benar dinamakan
kebudayaan Islam.

Sebab itu sembarang usaha lahir maupun batin yang bersih (tulen) yang dicetuskan oleh umat
Islam itu hasil dari dorongan ajaran Islam (wahyu) yang tidak bertentangan dengan apa juga
yang ada dalam ajaran Islam, maka barulah ia dinamakan kebudayaan (tamadun) Islam.

Oleh karena itu kalau kita tinjau, sebenarnya sangat sedikit kebudayaan Islam yang dapat kita
lihat hari ini. Apa muncul ditengah-tengah masyarakat Islam di seluruh dunia sebenarnya
adalah kemajuan dan kebudayaan hasil tajaan/ciptaan orang lain yang kita tiru, bukan
kebuadayaan Islam. Maka jadilah kita orang Islam yang berkebudayaan orang lain.

Kesimpulannya, jelaslah Islam bukan kebudayaan sebab ia bukan hasil ciptaan manusia.
Walau bagaimanapun agama Islam itu mendorong orang berkebudayaan. manakala agama-
agama di luar Islam memang kebudayaan sebab ia hasil kerja akal, khayalan dan angan-angan
manusia itu sendiri.

Justru itu, jika ajaran agama Islam ini diamalkan seungguh-sungguh, umat Islam akan jadi
maju. Dan dengan kemajuan yang dihasilkan itu, lahirlah kebudayaan atau tamadun. Makin
banyak umat Islam mengamalkan hukum, semakin banyaklah kemajuan dihasilkan dan
seterusnya makin banyak lahirlah kebudayaan atau tamadun Islam

C. PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN ISLAM


Seperti sudah kita lihat, keluhuran hidup Muhammad adalah hidup manusia yang sudah
begitu tinggi sejauh yang pernah dicapai oleh umat manusia. Hidup yang penuh dengan
teladan yang luhur dan indah bagi setiap insan yang sudah mendapat bimbingan hati nurani,
yang hendak berusaha mencapai kodrat manusia yang lebih sempurna dengan jalan iman dan
perbuatan yang baik. Dimana pulakah ada suatu keagungan dan keluhuran dalam hidup
seperti yang terdapat dalam diri Muhammad ini, yang dalam hidup sebelum kerasulannya
sudah menjadi suri teladan pula sebagai lambang kejujuran, lambang harga diri dan tempat
kepercayaan orang. Demikian juga sesudah masa kerasulannya, hidupnya penuh
pengorbanan, untuk Allah, untuk kebenaran, dan untuk itu pula Allah telah mengutusnya.
Suatu pengorbanan yang sudah berkali-kali menghadapkan nyawanya kepada maut. Tetapi,
bujukan masyarakatnya sendiri pun - yang dalam gengsi dan keturunan ia sederajat dengan
mereka - yang baik dengan harta, kedudukan atau dengan godaan-godaan lain -mereka tidak
dapat merintanginya.

Kehidupan insani yang begitu luhur dan cemerlang itu belum ada dalam kehidupan manusia
lain yang pernah mencapainya, keluhuran yang sudah meliputi segala segi kehidupan.
Apalagi yang kita lihat suatu kehidupan manusia yang sudah bersatu dengan kehidupan alam
semesta sejak dunia ini berkembang sampai akhir zaman, berhubungan dengan Pencipta alam
dengan segala karunia dan pengampunanNya. Kalau tidak karena adanya kesungguhan dan
kejujuran Muhammad menyampaikan risalah Tuhan, niscaya kehidupan yang kita lihat ini
lambat laun akan menghilangkan apa yang telah diajarkannya itu.

Tetapi, seribu tigaratus limapuluh tahun ini sudah lampau, namun amanat Tuhan yang
disampaikan Muhammad, masih tetap menjadi saksi kebenaran dan bimbingan hidup. Untuk
itu cukup satu saja kiranya kita kemukakan sebagai contoh, yaitu apa yang diwahyukan Allah
kepada Muhammad, bahwa dia adalah penutup para nabi dan para rasul. Empat belas abad
sudah lalu, tiada seorang juga sementara itu yang mendakwakan diri bahwa dia seorang nabi
atau rasul Tuhan lalu orang mempercayainya. Sementara dalam abad-abad itu memang sudah
lahir tokoh-tokoh di dunia yang sudah mencapai kebesaran begitu tinggi dalam pelbagai
bidang kehidupan, namun anugerah sebagai kenabian dan kerasulan tidak sampai kepada
mereka. Sebelum Muhammad memang sudah ada para nabi dan rasul yang datang silih
berganti. Mereka semua sudah memberi peringatan kepada masyarakatnya masing-masing
bahwa mereka itu sesat, dan diajaknya mereka kepada agama yang benar. Namun tiada
seorang diantara mereka itu yang menyebutkan, bahwa dia diutus kepada seluruh umat
manusia, atau bahwa dia adalah penutup para nabi dan para rasul. Sebaliknya Muhammad, ia
mengatakan itu, dan sejarah pun sepanjang abad membenarkan kata-katanya. Dan itu bukan
suatu cerita yang dibuat-buat, tetapi memang hendak memperkuat apa yang sudah ada, serta
menjelaskan sesuatunya, sebagai petunjuk dan rahmat bagi mereka yang beriman.

"Tuhan tidak akan memaksa seseorang di luar kesanggupannya. Segala usaha baik yang
dikerjakannya adalah untuk dirinya, dan yang sebaliknya pun untuk dirinya pula. 'Ya Allah,
jangan kami dianggap bersalah, bila kami lupa atau keliru. Ya Allah, janganlah Kaupikulkan
kepada kami beban seperti yang pernah Kaupikulkan kepada mereka yang sebelum kami. Ya
Allah, jangan hendaknya Kaupikulkan kepada kami beban yang kiranya takkan sanggup kami
pikul. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkau jugalah
Pelindung kami terhadap mereka yang tiada beriman itu." (Qur'an, 2: 286)

BAB III

PENUTUP

A. SIMPULAN

Kata agama dan kebudayaan merupakan dua kata yang seringkali bertumpang tindih,
sehingga mengaburkan pamahaman kita terhadap keduanya. Banyak pandangan yang
menyatakan agama merupakan bagian dari kebudayaan, tetapi tak sedikit pula yang
menyatakan kebudayaan merupakan hasil dari agama. Hal ini seringkali membingungkan
ketika kita harus meletakan agama (Islam) dalam konteks kehidupan kita sehari-hari.

Koentjaraningrat mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan gagasan dan karya manusia,


yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya
itu(i) .Koentjaraningrat juga menyatakan bahwa terdapat unsur-unsur universal yang terdapat
dalam semua kebudayaan yaitu, sistem religi, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem
pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup, serta sistem teknologi dan
peralatan(ii).

Pandangan di atas, menyatakan bahwa agama merupakan bagian dari kebudayaan. Dengan
demikian, agama (menurut pendapat di atas) merupakan gagasan dan karya manusia. Bahkan
lebih jauh Koentjaraningrat menyatakan bahwa unsur-unsur kebudayaan tersebut dapat
berubah dan agama merupakan unsur yang paling sukar untuk berubah.

Ketika Islam diterjemahkan sebagai agama (religi) berdasar pandangan di atas, maka Islam
merupakan hasil dari keseluruhan gagasan dan karya manusia. Islam pun dapat pula berubah
jika bersentuhan dengan peradaban lain dalam sejarah. Islam lahir dalam sebuah kebudayaan
dan berkembang (berubah) dalam sejarah. Islam merupakan produk kebudayaan. Islam
tidaklah datang dari langit, ia berproses dalam sejarah

Pandangan tersebut telah melahirkan pemahaman rancu terhadap Islam. Pembongkaran


terhadap sejarah Al-Qur’an, justifikasi terhadap ide-ide sekulerisme, dan desakan untuk
‘berdamai’ menjadi Islam Inklusif, merupakan produk dari kerancuan pemahaman tersebut.

Agama yang disebut dalam pandangan Kontjaraningrat di atas tentu tidak dapat dinisbatkan
kepada Islam. Pemaksaan untuk memasukan Islam dalam teori tersebut akan menghasilkan
pemahaman yang rancu. Islam seharusnya diberi kesempatan untuk menafsirkan dirinya
sendiri. Islam pun harus berikan keleluasaan untuk mendevinisikan kebudayaan.

Buya Hamka menyatakan bahwa kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa itu sedia telah ada
dalam jiwa manusia sendiri(iii). Hal itulah yang universal dalam diri manusia, fitrah manusia.
Manusia melihat alam yang megah dan berbagai fenomena luar biasa, kemudian mencoba
untuk menjelaskannya.

Dari fitrah itulah menusia kemudian mencari tahu “siapa yang Maha Kuasa?”. Pencarian
manusia tersebut telah melahirkan banyak paham dan pandangan yang kemudian dipercayai
sebagai agama. Agama-agama semacam ini bukanlah agama yang diturunkan Allah Swt
kepada para nabinya, tetapi agama yang berasal dari akal budi dan gagasan manusia. Agama
semacam inilah yang tepat untuk dinisbatkan kepada teori Kuntjaraningrat di atas.

Hanya Islam yang sesuai dengan fitrah manusia. Buya Hamka menyatakan : Permulaan
perjalanan dinamakan fitrah. Akhir dari perjalanan dinamai Islam(iv). Yang dimaksud dengan
kalimat tersebut yaitu, bahwa fitrah manusia untuk mencari Yang Maha Kuasa, akan tetapi
manusia akhirnya menyerah karena akal tidak cukup untuk memahaminya. Islam
memberikan penjelasan apa yang tidak bisa dijelaskan oleh akal. Itulah kenapa agama ini
dinamakan Islam.

…maka insaflah manusia akan kelemahan dirinya, dan insaf akan ke-Maha Besarnya yang
ada itu. Maka menyerahlah dia dengan segala rela hati. Penyerahan yang demikian dalam
bahasa Arab dinamakan Islam(v).

Lebih jauh Syed Naquib Al-Attas menyatakan:

…Maka dengan pengertian faham agama yang bernisbah kepada kebudayaan seperti yang
biasa difahamkan dalam pengalaman Kebudayaan Barat itu tiada pula dapat dikenakan
kepada agama Islam –berbeda dari yang lain yang sesungguhnya merupakan keagamaan
belaka, bukan hasil renungan atau teori, bukan hasil agung dayacipta insan sebagaimana
kebudayaan itu hasil usaha dan dayaciptanya dalam tindakan menyesuaikan dirinya
menghadapi keadaan alam sekeliling. Islam adalah agama dalam erti kata yang sebenarnya,
iaitu agama yang ditanzilkan oleh Allah Yang Mahasuci lagi Mahamurni dengan perantara
wahyu menerusi PesuruhNya yang Terpilih, dan dasar-dasar akidahnya dinyatakan dalam
Kitab Suci Al-Qur’anu’l-Karim, dan amalan-amalannya dicarakan dalam Sunnah NabiNya
yang Agung itu. Dipandang sebagai suatu peristiwa sejarah pun maka Islam itulah yang
mengakibatkan timbulnya kebudayaan Islam, dan bukan sebaliknya: bukanlah sesuatu
kebudayaan itu yang mengakibatkan timbulnya agama Islam(vi).

Sementara Prof. Dr. Amer Al-Roubai menyatakan: Di Barat, agama adalah bagian dari
kebudayaan, sedangkan di Islam, budaya didefinisikan oleh agama, islam bukanlah hasil dari
produk budaya (seperti yang dituduhkan oleh Nasr Hamd Abu Zayd). Islam justru
membangun sebuah budaya, sebuah peradaban. Peradaban yang berdasarkan Al Qur’an dan
Sunnah Nabi tersebut dinamakan peradaban Islam. Peradaban Islam memiliki pandangan
hidup (worldview) yang berbeda dengan peradaban lain. Cara pandang hidup yang berbeda
inilah yang menghasilkan konsep-konsep yang berbeda pula. Oleh karena itu, merupakan hak
Islam untuk menggunakan pandangan hidupnya (dalam bahasa Al-Attas: ar-Ruyatul al Islam
li al-wujud) untuk memahami setiap keberadaan, termasuk kebudayaan.

B. SARAN

Dengan pemahaman di atas, kita dapat memulai untuk meletakan Islam dalam kehidupan
keseharian kita. Kita pun dapat membangun kebudayaan Islam dengan landasan konsep yang
berasal dari Islam pula.

Wallahu ‘alam bishawab

DAFTAR PUSTAKA

Ilmu Budaya Dasar,

Catatan Akhir:

i Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, PT. Gramedia, Jakarta, 1974.


hlm 19

ii ibid. Hlm 12

iii Hamka, Peladjaran Agama Islam, Bulan Bintang, Jakarta 1956. hlm 13.

iv ibid. hlm 16

v ibid.

vi Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, Institut Antarbangsa
Pemikiran dan Tamadun Islam (Istac), Kuala Lumpur, 2001. hlm 66

vii Prof. Dr. Amer Al-Roubai, Globalisasi dan Posisi Peradaban Islam, Jurnal ISLAMIA Thn
I No 4, Januari –Maret 2005. hlm 21

Anda mungkin juga menyukai