Anda di halaman 1dari 37

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Skrining Fitokimia

Skrining fitokimia merupakan cara untuk mengidentifikasi bioaktif yang belum tampak

melalui suatu tes atau pemeriksaan yang dapat dengan cepat memisahkan antara bahan alam

yang memiliki kandungan fitokimia tertentu dengan bahan alam yang tidak memiliki

kandungan fitokimia tertentu. Skrining fitokimia merupakan tahap pendahuluan dalam suatu

penelitian fitokimia yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang golongan senyawa

yang terkandung dalam tanaman yang sedang diteliti. Metode skrining fitokimia dilakukan

dengan melihat reaksi pengujian warna dengan menggunakan suatu pereaksi warna. Hal yang

berperan penting dalam skrining fitokimia adalah pemilihan pelarut dan metode ekstraksi

(Kristianti dkk., 2008). Skrining fitokimia serbuk simplisia dan sampel dalam bentuk basah

meliputi pemeriksaan kandungan senyawa alkaloida, flavonoida, terpenoida/ steroida, tanin

dan saponin menurut prosedur yang telah dilakukan oleh Harbone (Harbone, 1987) dan Depkes

(Depkes, 1995).

Fitokimia merupakan ilmu pengetahuan yang menguraikan aspek kimia suatu tanaman.

Kajian fitokimia meliputi uraian yang mencangkup aneka ragamsenyawa organik yang

dibentuk dan disimpan oleh organisme, yaitu struktur kimianya, biosintesisnya, perubahan

serta metabolismenya, penyebarannya secara alamiah dan fungsi biologisnya, isolasi dan

perbandingan komposisi senyawa kimia dari bermacam-macam jenis tanaman (Harborne,

1987; Sirait, 2007).

Analisis fitokimia dilakukan untuk menentukan ciri komponen bioaktif suatu ekstrak

kasar yang mempuny ai efek racun atau efek farmakologis lain y ang bermanfaat bila diujikan

dengan sistem biologi atau bioassay (Harborne, 1987). Menurut Robinson (1991) alasan lain
melakukan fitokimia adalah untuk menentukan ciri senyawa aktif penyebab efek racun atau

efek yang bermanfaat, yang ditunjukan oleh ekstrak tumbuhan kasar bila diuji dengan sistem

biologis. Pemanfaatan prosedur fitokimia telah mempunyai peranan yang mapan dalam semua

cabang ilmu tumbuhan. Meskipun cara ini penting dalam semua telaah kimia dan

biokimia juga telah dimanfaatkan dalam kajian biologis. Sejalan dengan hal tersebut, menurut

Moelyono (1996) analisis fitokimia merupakan bagian dari ilmu farmakognosi yang

mempelajari metode atau cara analisis kandungan kimia yang terdapat dalam tumbuhan atau

hewan secara keseluruhan atau bagian-bagiannya, termasuk cara isolasi atau

pemisahannya.Pada tahun terakhir ini fitokimia atau kimia tumbuhan telah berkembang

menjadi satu disiplin ilmu tersendiri, berada diantara kimia organik bahan alam dan biokimia

tumbuhan, serta berkaitan dengan keduanya. Bidang perhatiannya adalah aneka ragam

senyawa organik yang dibentuk dan ditimbun oleh tumbuhan, yaitu mengenai struktur

kimianya, biosintesisnya, perubahan serta metabolismenya, penyebarannya secara ilmiah dan

fungsi biologisnya (Harborne, 1984).

II.2 Metabolit Sekunder

Metabolisme pada makhluk hidup dapat dibagi menjadi metabolisme primer dan

metabolisme sekunder. Metabolisme primer pada tumbuhan, seperti respirasi dan fotosintesis,

merupakan proses yang esensial bagi kehidupan tumbuhan. Tanpa adanya metabolisme primer,

metabolisme sekunder merupakan proses yang tidak esensial bagi kehidupan organisme. Tidak

ada atau hilangnya metabolit sekunder tidak menyebabkan kematian secara langsung bagi

tumbuhan, tapi dapat menyebabkan berkurangnya ketahanan hidup tumbuhan secara tidak

langsunng (misalnya dari serangan herbivordan hama), ketahanan terhadap penyakit, estetika,

atau bahkan tidak memberikan efek sama sekali bagi tumbuhan tersebut (Anggarwulan

dan Solichatun, 2001).


Pada fase pertumbuhan, tumbuhan utamanya memproduksi metabolit primer,

sedangkan metabolit sekunder belum atau hanya sedikit diproduksi. Sedangkan metabolisme

sekunder terjadi pada saat sel yang lebih terspesialisasi (fase stasioner) (Najib, 2006). Metabolit

sekunder yang terdapat pada bahan alam merupakan hasil metabolit primer yang mengalami

reaksi yang spesifik sehingga menghasilkan senyawa-senyawa tertentu. Metabolit sekunder

merupakan produk metabolisme yang khas pada suatu tanaman yang dihasilkan oleh suatu

organ tapi tidak dimanfaatkan secara langsung sebagai sumber energi bagi tanaman tersebut

(Taiz dan Zeiger, 1998). Metabolit sekunder tanaman dihasilkan melalui reaksi metabolisme

primer (karbohidrat, protein dan lemak) (Anggarwulan dan Solichatun, 2001). Metabolit

sekunder merupakan senyawa yang disintesis tanaman dan digolongkan menjadi lima yaitu

glikosida, terpenoid, fenol, flavonoid dan alkaloid (Vickery, 1981). Gambar hubungan

biosintesis metabolit primer menjadi metabolit sekunder disajikan pada gambar. Metabolit

sekunder disebut juga fitoaleksin. Fitoleksin didefinisikan sebagai senyawa kimia yang

mempunyai berat molekul rendah dan memiliki sifat antimikroba atau antiparasit. Senyawa ini

diproduksi oleh tanaman pada waktu mengalami infeksi atau cekaman (stress) lingkungan.

Fitoaleksin merupakan senyawa kimia yang berasal dari derivat flavonoid dan isoflavon,

turunan sederhana dari fenilpropanoid, dan derivat dari sesquiterpens. Fitoaleksin berasal dari

biosintesis metabolit primer yaitu seperti 6-methoxymellein dan sesquiterpens serta derivat dari

asam melonat dan asam mevalonat. Fitoaleksin dapat terjadi dari dua jalur yaitu jalur

asam mevalonat dan jalur biosintesa deoksiselulosa difosfat. Biosintesis fitoaleksin

menggunakan prekursor yang berasal dari jalur metabolit sekunder (Hammerschmidt, 1999

dalam Simanjuntak, 2002).


II. 3 Flavonoid

Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari dari 15 atom karbon yang umumnya

tersebar di dunia tumbuhan. Senyawa flavanoid merupakan suatu kelompok senyawa fenol

yang terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah,

ungu, dan biru serta sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan.

Pada tumbuhan tinggi, flavonoid terdapat baik dalam bagian vegetative maupun dalam

bunga. Senyawa ini berperan penting dalam menentukan warna, rasa, bau, serta kualitas nutrisi

makanan. Tumbuhan umumnya hanya menghasilkan senyawa flavonoid tertentu. Keberadaan

flavonoid pada tingkat spesies, genus atau familia menunjukkan proses evolusi yang terjadi

sepanjang sejarah hidupnya. Bagi tumbuhan, senyawa flavonoid berperan dalam pertahanan
diri terhadap hama, penyakit, herbivori, kompetisi, interaksi dengan mikrobia, dormansi biji,

pelindung terhadap radiasi sinar UV, molekul sinyal pada berbagai jalur transduksi, serta

molekul sinyal pada polinasi dan fertilitas jantan.

Flavanoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana

dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu rantai propane (C3) sehingga membentuk suatu

susunan C6-C3-C6.

II.3.1 Klasifikasi Flavanoid

Jika dilihat dari struktur dasarnya flavonoid terdiri dari dua cincin benzen yang terikat

dengan 3 atom carbon (propana). Dari kerangka ini flavonoid dapat dibagi menjadi 3 struktur

dasar yaitu Flavonoid atau 1,3-diarilpropana, isoflavonoid atau 1,2-diarilpropana, dan

neoflafonoid atau 1,1-diarilpropana.

II.3.2 Penggolongan Flavonoid

Nama flavonoid sendiri berasal dari kata Flavon yang merupakan senyawa fenol yang

banyak terdapat di alam. Senyawa flavon ini memiliki struktur yang mirip dengan struktur

dasar flavonoid tetapi pada jembatan propana terdapat oksigen yang membentuk siklik

sehingga memiliki 3 cincin heterosiklik.


Dalam makanan sehari-hari Flavonoid terkandung dalam beberapa macam dan jenis,

berikut ini table macam-macam kandungan jenis Flavonoid yang terdapat dalam makanan.

Food Serving Flavonoid Flavonoid type

size content

(mg/serving*)

Apple 200 g 4–24 Flavonol 4–8 mg/serv.

Catechins 4–24 mg/serv.

Apricot 200 g 20–50 Catechins

Aubergine 200 g 1500 Anthocyanins

Beans 200 g 70–110 Catechins

Black berry 100 g 13-400 Anthocyanins: 100-400 mg/serv.

Catechins: 13 mg/serv.

Black 100 g 130–400 Anthocyanins

currant

Black grape 200 g 3–1500 Anthocyanins: 60–1500 mg/serv.

Flavonol: 3–8 mg/serv.

Black tea 2 dl 6–100 Catechins: 12–100 mg/serv.

infusion Flavonol: 6–9 mg/serv.

Blueberry 100 g 3–500 Anthocyanins: 25–500 mg/serv.

Flavonols: 3–16 mg/serv.

Broccoli 200 g 8–20 Flavonol

Capsicum 100 g 0.5–1 Flavones

pepper
Celery 200 g 4–28 Flavones

Cherry 200 g 10–900 Anthocyanins: 70–900 mg/serv.

Catechins: 10–44 mg/serv.

Cherry 200 g 3–40 Flavonol

tomato

Chocolate 50 g 23–30 Catechins

Cider 2 dl 8 Catechins

Curly kale 200 g 60–120 Flavonol

Grape 200 g 6–35 Catechins

Grapefruit 2 dl 20–130 Flavanones

juice

Green tea 2 dl 4–160 Catechins: 20–160 mg/serv.

infusion Flavonol: 4–7 mg/serv.

Leek 200 g 6–45 Flavonol

Lemon 2 dl 10–60 Flavanones

juice

Orange 2 dl 40–140 Flavanones

juice

Parsley 5g 1.2–9.2 Flavones

Peach 200 g 10–28 Catechins

Plum 200 g 4–50 Anthocyanins

Red 200 g 50 Anthocyanins

cabbage
Red 100 g 2-48 Catechins

raspberry

Red wine 1 dl 8–35 Catechins: 8–30 mg/serv.

Anthocyanins: 20–35 mg/serv.

Rhubarb 100 g 200 Anthocyanins

Soy bean 200 g 120–290 Isoflavones

Soy cheeses 50 g 3.2–15.7 Isoflavones

(different

types)

Soy flour 75 g 133 Isoflavones

(full fat)

Soy flour 75 g 99 Isoflavones

(low fat)

Strawberry 200 g 4–150 Anthocyanins: 30-150 mg/serv.

Catechins: 4-100 mg/serv.

Tofu, fresh 100 g 22.6–31.1 Isoflavones

(soft or

firm)

Tofu, fried 100 g 48.4 Isoflavones

Tomato 200 g 0.4–3 Flavonol

Yellow 100 g 35–120 Flavonol

onion
Senyawa-senyawa flavon ini mempunyai kerangka 2-fenilkroman, dimana posisi orto

dari cincin A dan atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1,3-diarilpropana dihubungkan

oleh jembatan oksigen sehingga membentuk cincin heterosiklik yang baru (Cincin C).

Senyawa—senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis, bergantung pada tingkat

oksidasi dari rantai propane dari system 1,3-diarilpropana. Berdasarkan tingkat oksidasinya,

flavan adalah yang terendah dan digunakan sebagai induk tatanama flavon.

 Flavon

Gambar 2.1 Flavon

Senyawa flavon ini dapat dioksidasi sehingga memiliki bentuk yang bervariasi

bergantung pada tingkat oksidasinya. Senyawa dasar flavon yang tidak teroksidasi

disebut flavan. Berikut contoh dari flavon yang teroksidasi membentuk gugus –OH.
 Flavonol

Flavonol paling sering terdapat sebagai glikosida, biasanya 3-glikosida, dan aglikon

flavonol yang umum yaitu kamferol, kuersetin, dan mirisetin yang berkhasiat sebagai

antioksidan dan antiimflamasi. Flavonol lain yang terdapat di alam bebas kebanyakan

merupakan variasi struktur sederhana dari flavonol. Larutan flavonol dalam suasana

basa dioksidasi oleh udara tetapi tidak begitu cepat sehingga penggunaan basa pada

pengerjaannya masih dapat dilakukan

Gambar 2.2 Flavonol

 Isoflavon

Isoflavon merupakan isomer flavon, tetapi jumlahnya sangat sedikit dan sebagai

fitoaleksin yaitu senyawa pelindung yang terbentuk dalam tumbuhan sebagai

pertahanan terhadap serangan penyakit. Isoflavon sukar dicirikan karena reaksinya

tidak khas dengan pereaksi warna manapun. Beberapa isoflavon (misalnya daidzein)

memberikan warna biru muda cemerlang dengan sinar UV bila diuapi amonia, tetapi

kebanyakan yang lain tampak sebagai bercak lembayung yang pudar dengan amonia

berubah menjadi coklat.


Gambar 2.3 Isoflavon

 Katekin

Katekin terdapat pada seluruh dunia tumbuhan, terutama pada tumbuhan berkayu.

Senyawa ini mudah diperoleh dalam jumlah besar dari ekstrak kental Uncaria gambir

dan daun teh kering yang mengandung kira-kira 30% senyawa ini. Katekin berkhasiat

sebagai antioksidan.

Gambar 2.4 Katekin

Berikut ini ditunjukkan Kandungan Katekin dari beberapa sumber makanan :

Food Catechins Catechins,

mg/serving mg/100g food

Chocolate 23-30 46-61

Beans 70-110 35-55

Apricot 20-50 10-25

Cherry 10-44 5-22

Grape 6-35 3-17.5

Peach 10-28 5-14

Apple 20-86 10-43

Red raspberry 2-48 2-48

Strawberry 2-50 2-50


Blackberry 9-11 9-11

Green tea 20-160 10-80

Black tea 12-100 6-50

Red wine 8-30 8-30

Cider 8 4

 Flavanon

Flavanon terdistribusi luas di alam. Flavanon terdapat di dalam kayu, daun dan bunga.

Flavanon glikosida merupakan konstituen utama dari tanaman genus prenus dan buah

jeruk; dua glikosida yang paling lazim adalah neringenin dan hesperitin, terdapat dalam

buah anggur dan jeruk.

Gambar 2.5 Flavanon

 Leukoantosianin
Leukoantosianidin merupakan senyawa tan warna, terutama terdapat pada tumbuhan

berkayu. Senyawa ini jarang terdapat sebagai glikosida, contohnya melaksidin,

apiferol.

Gambar 2.6 Leukoantosianin

 Antosianin

Antosianin merupakan pewarna yang paling penting dan paling tersebar luas dalam

tumbuhan. Pigmen yang berwarna kuat dan larut dalam air ini adalah penyebab hampir

semua warna merah jambu, merah marak , ungu, dan biru dalam daun, bunga, dan buah

pada tumbuhan tinggi. Secara kimia semua antosianin merupakan turunan suatu

struktur aromatik tunggal yaitu sianidin, dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin

ini dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil atau dengan metilasi atau

glikosilasi.

Gambar 2.7 Antosianin


Berikut ini ditunjukkan kandungan Antosianin dari beberapa makanan yang ada :

Food Anthocyanins Anthocyanins

mg/serving mg/100g food

Aubergine 1500 750

Black berry 100-400 100-400

Black currant 130-400 130-400

Blueberry 25-500 25-500

Black grape 60-1500 30-750

Cherry 70-900 35-450

Rhubarb 200 200

Strawberry 30-150 15-75

Red wine 20-35 20-35

Red cabbage 50 25

Plum 4-50 2-25

 Auron

Auron berupa pigmen kuning emas yang terdapat dalam bunga tertentu dan briofita.

Dalam larutan basa senyawa ini berwarna merah ros dan tampak pada kromatografi
kertas berupa bercak kuning, dengan sinar ultraviolet warna kuning kuat berubah

menjadi merah jingga bila diberi uap amonia. (Robinson, 1995)

 Kalkon

Khalkon adalah pigmen fenol kuning yang berwarna coklat kuat dengan sinar UV bila

dikromatografi kertas. Aglikon flavon dapat dibedakan dari glikosidanya, karena hanya

pigmen dalam bentuk glikosida yang dapat bergerak pada kromatografi kertas dalam

pengembang air. (Harborne, 1996)

Gambar 2.9 Kalkon

Dari berbagai jenis Flavonoid tersebut, flavon, flavanol dan antosianidin adalah jenis

yang paling banyak ditemukan di alam, sehingga sering kali dinyatakan sebagai flavonoid

utama. Sedangkan jenis-jenis flavonoid yang ditemukan di alam dan jumlahnya terbatas adalah

calcon, auron, katecin, flavonon, leukoantosianidin.

Banyaknya senyawa Flavanoid ini, bukanlah disebabkan oleh banyaknya variasi

struktur, melainkan oleh berbagai tingkat hidroksilasi, alkoksilasi, atau glikosilasi dari struktur

tersebut.

Senyawa-senyawa isoflavonoid dan neoflavonoid hanya ditemukan dalam beberapa

jenis tumbuhan, terutama suku Leguminosae. Jenis-jenis senyawa yang termasuk senyawa
isoflavonoid ialah isoflavon, rotenoid, pterokarpan, dan kumestan. Sedangkan, neoflavonoid

meliputi jenis-jenis 4-arilkumarin dan berbagai dalbergion.

 Ragam isoflavonoid:

isoflavon pterokarpan

HO O MeO O

R O O
OH
R = H daidzein O
R = OH genistein pterokarpin

rotenoid
kumestan
R

R2 O O O O
O
R3

R1 O R O
OH OMe
OMe
R1=R3=H R2=OH kumestrol R = H rotenon
R1=R3=OH R2=OMe medelolakton R = OH amorfigenin

 Ragam neoflavonoid:
4-arilkumarin dalbergion

MeO O O
MeO O

HO
O
II.3.3 Ciri Struktur Flavonoid

R1
Masing-masing R1
jenis Flavonoid mempunyai struktur dasar tertentu. Di samping itu,
4-metoksidalbergion
R1=R2=H dalbergin
Flavonoid mempunyai beberapa ciri struktur yang lain. Pada umumnya cincin A dari struktur
R1=OH R2=OMe melanein

flavonoid mempunyai pola oksigenasi yang berselang-seling, yakni pada posisi 2’, 4’ dan 6’

dari struktur terbuka calkon. Cincin B flavonoid mempunyai 1 gugus fungsi oksigen pada

posisi para atau 2 pada posisi para dan meta atau 3 pada posisi 1 di para dan 2 di meta.

OH OH OH

HO O HO O
HO OH

OH

OH O OH O OH O

apigenin kaemferol
floretin

OH
OH
+
HO O
II.3.4 Asal-Usul Biogenetik Dan Biosintetik

Spekulasi mengenai biosintesa flavanoid bermula dari analisa berbagai struktur

senyawa yang termasuk golongan ini. Pada tahun 1936 Robinson mengajukan pendapat bahwa

kerangka C6-C3-C6 dari flavonoid berkaitan dengan kerangka C6-C3 dari fenilpropanoid yang

mempunyai gugus fungsi oksigen pada posisi para, para dan meta, atau 2 meta dan 1 para dari

cincin aromatic. Akan tetapi, senyawa-senyawa fenilpropanoid, seperti asam-asam amino

fenilalanin dan tirosin, bukannya dianggap sebagai senyawa yang menurunkan flavonoid

melainkan hanya sebagai senyawa yang bertalian belaka.

Pola biosintesa flavonoid pertama kali disarankan oleh Birch. Menururut Birch, pada

tahap-tahap pertama dari biosintesa flavonoid suatu unit C6-C3 berkombinasi dengan 3 unit

C2 menghasilkan unit C6-C3-(C2+C2+C2). kerangka C15 yang dihasilkan dari kombinasi unit

mengandung gugus-gugus fungsi oksigen pada posisi-posisi yang diperlukan.


Adapun cincin A dari struktur flavonoid berasal dari jalur poliketida, yakni kondensasi

dari tiga unit asetat atau malonat, sedangkan cincin B dan tiga atom karbon dari rantai propan

berasal dari jalur fenilpropanoid (jalur sikimat).

Jalur Poliketida
Jalur Fenilpropanoid (Jalur Sikimat)

Dengan demikian, kerangka dasar karbon dari flavonoid dihasilkan dari kombinasi

antara dua jalur biosintesa yang utama untuk cincin aromatik, yakni jalur sikimat dan jalur

asetat-malonat.

Selanjutnya, sebagai akibat dari berbagai perubahan yang disebabkan oleh enzim,

ketiga atom karbon dari rantai propan dapat menghasilkan berbagai gugus fungsi, seperti ikatan

rangkap, gugus hidroksil, gugus karbonil, dan sebagainya.

Menurut biosintesa ini, pembentukan flavonoid dimulai dengan memperpanjang unit

fenilpropanoid (C6-C3) yang berasal dari turunan sinamat seperti asam p-kumarat. Kadang-

kadang asam kafeat, asam furalat, atau asam sinapat. Percobaan-percobaan juga menunjukkan

bahwa calkon dan isomer flavon yang sebanding juga berperan sebagai senyawa antara dalam
biosintesis berbagai jenis flavonoid lainnya. Adapun hubungan biogenetik antara berbagai jenis

flavonoid,
Kalkon sintase adalah enzim yang diteliti secara luas dalam penentu laju biosintesis

flavonoid. Enzim ini terkait dengan reticulum endoplasma dan bekerja sama dengan reduktase

membuat kalkon. Kalkon merupakan zat-antara langsung auron. Proses saling ubah kalkon-

flavanon dikatalisis oleh enzim chalcone isomerase (CHI). Karena saling ubah atau irreversible

kalkon dan flavanon mudah sekali, sukar untuk mengetahui apakah senyawa-antara (prazat)

antara kalkon dan golongan flavonoid lain selalu flavanon. Isomerasi dari flavanon

menghasilkan isoflavonoid dengan enzim isoflavon sintase (IFS) dengan zat-antara 2-

Hydroksiisoflavanonyang dikatalis menjadi isoflavonoid dengan 2-hidroksiisoflavanon

dehidratase (IFD). Flavanon merupakan point penting dalam metabolism flavonoid karena

menghasilkan flavon dan dihidroflavonol atau sering disebut flavanonol. Percobaan secara

enzimatik menunjukkan bahwa dihidroflavonol (flavanonol) bertindak sebagai zat-antara

beberapa golongan flavonoid. Dehidrogenasi secara enzimatik flavanon menjadi flavon oleh

enzim flavon sintase (FNS) dan flavanonol menjadi flavonol oleh enzim flavonol sintase (FLS)

telah dibuktikan. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa flavononol zat-antara untuk

antosianidin melalui leukoantosianidin dan juga katekin.

II.3.5 Sifat Flavonoid

Flavonoid merupakan golongan filifenol sehingga memiliki sifat kimia senyawa fenol, yaitu

1. Bersifat asam sehingga dapat larut dalam basa.

2. Merupakan senyawa polar karena memiliki sejumlah gugus hidroksil.

3. Sebagai antibakteri karena flavonoid sebagai derivat dari fenol dapat menyebabkan

rusaknya susunan dan perubahan mekanisme permeabilitas dari dinding sel bakteri.
4. Sebagai antioksidan yaitu kemampuan flavonoid untuk menjalankan fungsi antioksidan,

bergantung pada struktur molekkulnya, posisi gugus hidroksil memiliki peranan dalam

fungsi antioksidan dan aktivitas menyingkirkan radikal bebas.

II.4 Fenol

Senyawa fenolik merupakan senyawa yang banyak ditemukan pada tumbuhan. Fenolik

memiliki cincin aromatik satu atau lebih gugus hidroksi (OH) dan gugus – gugus lain

penyertanya. Senyawa ini diberi nama berdasarkan nama senyawa induknya, fenol. Senyawa

fenol kebanyakkan memiliki gugus hidroksil lebih dari satu sehingga disebut polifenol.

Senyawa fenol meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari tumbuhan yang mempunyai

ciri sama, yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua gugus -OH.

Gambar Kerangka dasar fenol

Senyawa fenolik di alam terdapat sangat luas, mempunyai variasi struktur yang luas,

mudah ditemukan di semua tanaman, daun, bunga dan buah. Ribuan senyawa fenolik alam

telah diketahui strukturnya, antara lain flavonoid, fenol monosiklik sederhana, fenil propanoid,

polifenol (lignin, melanin, tannin), dan kuinon fenolik.

Banyak senyawa fenolik alami mengandung sekurang-kurangnya satu gugus hidroksil

dan lebih banyak yang membentuk senyawa eter, ester atau glioksida daripada senyawa
bebasnya. Senyawa ester atau eter fenol tersebut memiliki kelarutan yang lebih besar dalam air

daripada senyawa fenol dan senyawa glioksidanya.

Dalam keadaan murni, senyawa fenol berupa zat padat yang tidak berwarna, tetapi jika

teroksidasi akan berubah menjadi gelap. Kelarutan fenol dalam air akan bertambah, jika gugus

hidroksil makin banyak.

Senyawa fenolik memiliki aktivitas biologik yang beraneka ragam, dan banyak

digunakan dalam reaksi enzimatik oksidasi kopling sebagai substrat donor H. Reaksi oksidasi

kopling, selain membutuhkan suatu oksidator juga memerlukan adanya suatu senyawa yang

dapat mendonorkan H. Senyawa fenolik merupakan contoh ideal dari senyawa yang mudah

mendonorkan atom H.

Klasifikasi Fenolik terbagi atas 4 macam, yaitu:

a. Fenol sederhana

Secara umum senyawa fenolik sederhana memiliki sifat bakterisidal, antiseptik dan

antihelmintik. Senyawa dari kelompok ini hasil subsitusi gugus fenol dalam posisi orto, meta

dan para. Contoh senyawa fenolik sederhana yang tersubsitusi oleh dua dan satu gugus –OH

berturut – turut adalah floroglukinol (1,3,5-trihidroksibenzena) dan resorkinol (1,3-

dihidroksibenzena).

b. Asam fenolat
Asam fenolat adalah turunan dari golongan asam hidroksi sinamat, yang memiliki

kelimpahan yang tinggi dalam dinding sel tanaman. Hal ini memungkinkan untuk dapat

memberikan keuntungan yang signifikan di bidang kesehatan, karena senyawa asam fenolat

(contohnya asam ferulat) memiliki aktivitas antikanker dan antioksidan. Selain itu juga dapat

menjadi prekursor dalam pembuatan senyawa aromatik lain yang bermanfaat, antara lain:

1. Sebagai antioksidan, asam ferulat kemungkinan menetralkan radikal bebas, seperti

spesies oksigen reaktif (ROS). ROS kemungkinan yang menyebabkan DNA rusak dan

mempercepat penuaan. Jika ditambahkan pada asam askorbat dan vitamin E, asam

ferulat kemungkinan dapat mengurangi stress oksidasi dan pembentukan dimer

timidine dalam kulit yang mencegah penuaan.

2. Dengan studi pada hewan dan studi in vitro, mengarahkan bahwa asam ferulat

kemungkinan memiliki hubungan dengan aktivitas antitumor perlawanan kanker

payudara dan kanker hati. Asam ferulat memiliki kemungkinan sebagai pencegah

kanker yang efektif, yang disebabkan oleh paparan senyawa karsinogenik, seperti

benzopirene dan 4-nitroquinoline 1-oksida. Namun perlu menjadi catatan, bahwa hal

itu tidak diuji coba kontrol random pada manusia, sehingga hasilnya kemungkinan pula

tidak dapat dimanfaatkan untuk manusia.

3. Pada tumbuhan, asam fenolat meningkatkan rigiditas dan kekuatan dinding sel

tanaman, melalui ikatan silang (cross linking) dengan pentosan, arabinoxilan dan

hemiselulosa, sehingga dinding sel tidak mudah dihidrolisis secara enzimatis selama

proses perkecambahan.

4. Asam fenolat banyak ditemukan dalam padi (terutama beras merah), gandum, kopi,

buah apel, nanas, jeruk dan kacang tanah.


5. Dalam perindustrian, asam ferulat memiliki kelimpahan dan dapat dimanfaatkan

sebagai prekursor dalam pembuatan vanilli, agen perasa sintesis yang sering digunakan

dalam ekstrak vanilla alami.

Asam fenolat adalah senyawa fenolik yang dapat dihasilkan salah satunya ialah dengan

reaksi kondensasi vanilli dengan asam malonat.

Adapun rumus bangun asam ferulat adalah sebagai:

Gambar: Rumus bangun asam ferulat

Asam fenolat diketahui dapat menstabilkan dan memperkuat warna antosianin. Contoh

asam fenolat yang dapat berperan sebagai ko-pigmentasi tersebut adalah asam sinapat dan asam

ferulat. Ko-pigmentrasi juga dapat terjadi dengan keberadaan logam.

c. Fenil komplek (polimer fenolik)

d. Fenil propanoid

Senyawa fenil propanoid merupakan salah satu kelompok senyawa fenol utama

yang berasal dari jalur shikimat. Senyawa fenol ini mempunyai kerangka dasar karbon yang

terdiri dari cincin benzena (C6) yang terikat pada ujung rantai karbon propana (C3).

Contoh penamaan pada senyawa fenil propanoid, yaitu


Fenil propanoid mewakili kelompok besar produk alamiah yang diturunkan dari asam

amino fenilalanin dan tirosin atau dalam beberapa kasus, di tengah jalur biosintesisnya melalui

biosintesis asam sikimat. Seperti yang terlihat dari namanya, 3 kebanyakan senyawa yang

terkandung dalam strukturnya adalah cincin fenil yang terletak dalam tiga sisi rantai karbon

propana. Karena kebanyakan fenli propanoid dialam merupakan fenolik dengan satu atau lebih

kelompok hidroksil dalam cincin aromatis, maka sering disebut sebagai tumbuhan fenolik.

Kelompok senyawa fenol yaitu fenil propanoid mempunyai turunan senyawa, yaitu :

asam sinamat, antosianin, xantonin, kumarin, ligan.

a. Sinamat

Asam sinamat memiliki rumus kimia C6H5CHCHCOOH atau

C9H8O2, berwujud kristal putih, sedikit larut dalam air, dan mempunyai

titik leleh 133°C serta titik didih 300°C. Asam sinamat termasuk senyawa

fenol yang dihasilkan dari lintasan asam sikimat dan reaksi berikutnya.

Bahan dasarnya adalah fenilalanin dan tirosin sama seperti asam kafeat,

asam p-kumarat, dan asam ferulat. Keempat senyawa tersebut penting

bukan karena terdapat melimpah dalam bentuk tak terikat (bebas), melainkan karena mereka

diubah menjadi beberapa turunan di samping protein. Turunannya termasuk fitoaleksin,

kumarin, lignin, dan berbagai flavonoid seperti antosianin. Diklasifikasi sebagai asam

karboksilat tak jenuh, ia terjadi secara alami pada sejumlah tanaman. Senyawa ini secara
bebas larut dalam pelarut-pelarut organik. Ia berada baik sebagai isomer cis maupun trans,

meskipun kemudian lebih umum. Asam sinamat juga merupakan sejenis inhibitor-sendiri yang

diproduksi oleh spora jamur untuk mencegah germinasi. Berikut adalah beberapa struktur

senyawa turunan sinamat.

−1
Asam sinamat mempunyai berat molekul 148,16 gr mol , dengan densitas 1,2475

gr/cm3. Asam sinamat mendidih pada suhu 300 °C, (572 °F), dengan titik leleh 133 °C, (271

°F). Dapat larut dalam sampai 500 mg/liter, dengan keasaman (pKa) 4,44. Asam sinamat

mempunyai titik nyala pada suhu >100 °C (212 °F). Asam sinamat digunakan sebagai

penyedap, indigo sintetik, dan produk farmasi tertentu. Kegunaan utama ialah dalam

pembuatanmetil, etil dan benzil ester untuki industry minyak wangi. Asam sinamat merupakan

prekursor, zat pendahulu untuk pemanis aspartam melalui aminasi yang dikatalisis-enzim

menjadi fenilalanin.

b. Kumarin

Nama kumarin berasal dari bahasa Karibia “Coumarou” yang berarti pohon tonka

(Coumarouna adorata Abl), yaitu tumbuhan pertama yang diketahui mengandung

kumarin. Barulah pada tahun 1868, kumarin dikenal dengan rumus C9H6O2. Senyawa yang

mengandung kumarin (2H-1-benzopyran-2-one) merupakan sebuah kelompok yang penting

dari heterosiklis dan banyak contoh yang ditemukan di alam. Kumarin sendiri pertama
kali diisolasi tahun 1822 dari kacang tonka. Kumarin dan turunannya juga telah diisolasi

dari semanggi, rumput banteng dan woodruff.

Kumarin yang terkandung dalam suatu tumbuhan dapat dikenal dari baunya.

Bila tumbuhan tersebut dikeringkan, maka akan memberikan bau yang khas. Untuk

pembuktian secara kualitatif dilakukan uji berdasarkan pada sifat fluoresensinya

dengan sinar ultraviolet (Erniwati, 2005). Kumarin merupakan senyawa metabolit sekunder

berupa minyak atsiri yang terbentuk terutama dari turunan glukosa non-atsiri saat

penuaan atau pelukaan. Skopoletin adalah kumarin beracun yang tersebar luas pada

tumbuhan dan sering dijumpai dalam kulit biji. Skopoletin merupakan salah satu senyawa yang

diduga menghambat perkecambahan biji tertentu, menyebabkan dormansi sampai senyawa

tersebut tercuci (misalnya, oleh hujan yang cukup lebat sehingga kelembapannya cukup bagi

pertumbuhan kecambah). Jadi peranannya adalah sebagai penghambat alami perkecambahan

biji.

Kumarin adalah lakton asam o-hidroksisinamat. Kumarin tidak berwarna, kristal

prismatik, dan mempunyai karakteristik bau yang wangi dan rasa pahit, aromatis,

rasa yang panas, larut dalam alkohol. Kumarin juga dapat disintesis dengan cepat. Beberapa

turunan kumarin memiliki sifat antikoagulan. Kumarin juga mempunyai aktivitas

sebagai antispasmodik.

Berikut adalah beberapa struktur senyawa turunan kumarin.


Kumarin dan turunannya adalah senyawa yang sangat reaktif. Keberadaan gugus metil

di posisi C4 atau C6 membuat inti kumarin lebih reaktif, dan dapat mengakibatkan inti kumara

menjalani reaksi halogenasi serta kondensasi dengan aldehida. C6 pada cincin aromatik dapat

mengalami serangan elektrofilik, misalnya sulfonasi atau reaksi asilasi Friedel-Craft. Sebuah

substituen metil pada inti kumarin bereaksi secara berbeda, tergantung pada posisi serangan.

Sebagai contoh, sebuah gugus metil yang terikat pada C6 atau C4 lebih reaktif dari gugus metil

di posisi C3atau C5.

c. Lignan

Senyawa lignan memiliki banyak modifikasi pada struktur induknya, yang antara lain

dapat menghasilkan penambahan cincin, penambahan atau penghilangan atom C, dan

sebagainya. Senyawaan ini tersebar luas di dunia tumbuhan, dan banyak digunakan secara

niaga sebagai antioksidan dan sebagai komponen sinergistik dalam insektisida. Selain itu,

lignan merupakan komponen kimia yang aktif dalam tumbuhan obat tertentu. Salah satu

senyawa golongan lignan, yaitu podophyllotoxin, diketahui dapat menghambat tumor. Dalam

pengobatan Cina, lignan banyak dipakai untuk mengobati penyakit hepatitis dan melindungi

organ hati.

d. Antosianin

Antosianin merupakan senyawa berwarna kebanyakan merah, biru dan ungu pada buah,

sayur dan tanaman hias. Struktur utamanya ditandai dengan adanya 2 cincin benzena (C6H6)

yang dihubungkan dengan 3 atom karbon yang membentuk cincin.


Subsitusi bebrapa gugus kimia pada rangka antosianin dapat mempengaruhi warna dan

kestabilan antosinin. Penambahan gugus glikosida atau gugus hidroksi bebas pada cincin A

menyebabkan warna cenderung biru dan relatif tidak stabil. Sebaliknya, penambahan jumlah

gugus metoksi atau metilasi akan menyebabkan warna cenderung merah dan stabil.

II.5 Saponin

Saponin merupakan senyawa dalam bentuk glikosida yang tersebar luas pada tumbuhan

tingkat tinggi. Saponin membentuk larutan koloidal dalam air dan membentuk busa yang

mantap jika dikocok dan tidak hilang dengan penambahan asam (Harbrone,1996). Saponin

merupakan golongan senyawa alam yang rumit, yang mempunyai massa dan molekul besar,
dengan kegunaan luas (Burger et.al,1998) Saponin diberi nama demikian karena sifatnya

menyerupai sabun “Sapo” berarti sabun. Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat

dan menimbulkan busa bila dikocok dengan air. Beberapa saponin bekerja sebagai

antimikroba. Dikenal juga jenis saponin yaitu glikosida triterpenoid dan glikosida struktur

steroid tertentu yang mempunyai rantai spirotekal. Kedua saponin ini larut dalam air dan etanol,

tetapi tidak larut dalam eter. Aglikonya disebut sapogenin, diperoleh dengan hidrolisis dalam

suasana asam atau hidrolisis memakai enzim (Robinson,1995).

Di kehidupan sehari-hari sering muncul buih yang disebabkan karena mengkocok

suatu tanaman ke dalam air. Secara fisika buih ini timbul karena adanyapenurunan tegangan

permukaan pada cairan (air). Penurunan tegangan permukaan disebabkan karena adanya

senyawa sabun (bahasa latin = sapo) yang dapat mengkacaukan iktan hidrogen pada air.

Senyawa sabun ini biasanya memiliki dua bagian yang tidak sama sifat kepolaranya. Dalam

tumbuhan tertentu mengandung senyawa sabun yang biasa disebut saponin. Saponin berbeda

struktur dengan senywa sabun yang ada. Saponin merupakan jenis glikosida. Glikosida adalah

senyawa yang terdiri daro glikon (Glukosa, fruktosa,dll) dan aglikon (senyawa bahan aalam

lainya). Saponin umumnya berasa pahit dan dapat membentuk buih saat dikocok dengan air.

Selain itu juga bersifat beracun untuk beberapa hewan berdarah dingin (Najib, 2009). Saponin

merupakan glikosida yang memiliki aglikon berupa steroid dan triterpen. Saponin steroid

tersusun atas inti steroid (C 27) dengan molekul karbohidrat. Steroid saponin dihidrolisis

menghasilkan suatu aglikon yang dikenal sebagai saraponin.

Saponin triterpenoid tersusun atas inti triterpenoid dengan molekul karbohidrat.

Dihidrolisis menghasilkan suatu aglikon yang disebut sapogenin. Masing-masing senyawa ini

banyak dihasilkan di dalam tumbuhan (Hartono, 2009). Tumbuhan yang mengandung sponin
ini biasanya memiliki Genus Saponaria dari Keluarga Caryophyllaceae. Senywa saponin juga

ditemui pada famili sapindaceae, curcurbitaceae, dan araliaceae.

Saponin ada pada seluruh tanaman dengan konsentrasi tinggi pada bagian-bagian

tertentu, dan dipengaruhi oleh varietas tanaman dan tahap pertumbuhan. Fungsi dalam tumbuh-

tumbuhan tidak diketahui mungkin sebagai penyimpan karbohidrat atau merupakan weste

product dan metabolism tumbuh-tumbuhan kemungkinan lain adalah sebagai pelindung

terhadap serangan serangga.

Sifat-sifat Saponin :

a. Mempunyai rasa pahit

b. Dalam larutan air membentuk busa stabil

c. Menghemolisa eritrosit

d. Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi

e. Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidroksiteroid lainya

f. Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi

g. Berat molekul relative tinggi dan analisi hanya menghasilkan formula empiris yang

mendekati

Toksisitasnya mungkin karena dapat merendahkan tegangan permukaan (Surface tenstn)

dengan hidrolisis lengkap akan dihasilkan sapogenin (aglikon) dan karbohidrat (heksosa,

pentose, dan Saccharic acid) (Kim Nio,1989).

Saponin diklasifikasikan berdasarkan sifat kimia menjadi dua yaitu saponin steroid dan

saponin triterpenoid. Saponin steroid tersusun atas inti steroid (C27) dengan molekul
karbohidrat. Steroid saponin dihidrolisis menghasilkan satu aglikon yang dikenal sebagai

sapogenin. Tipe saponin ini memiliki efek antijamur. Pada binatang menunjukan

penghambatan aktifitas otot polos. Saponin steroid diekskresikan setelah koagulasi dengan

asam glukotonida dan digunakan sebagai bahan baku pada proses biosintetis obat

kortikosteroid. Saponin jenis ini memiliki aglikon berupa steroid yang di peroleh dari

metabolisme sekunder tumbuhan. Jembatan ini juga sering disebut dengan glikosida jantung,

hal ini disebabkan karena memiliki efek kuat terhadap jantung.

Salah satu contoh saponin jenis ini adalah Asparagosida (Asparagus sarmentosus),

Senyawa ini terkandung di dalam ttumbuhan Asparagus sarmentosus yang hidup dikawasan

hutan kering afrika. Tanaman ini juga biasa digunkan sebagai obat anti nyeri dan rematik oleh

orang afrika (Anonim, 2009).


Saponin tritetpenoid tersusun atas inti triterpenoid dengan molekul karbohidrat.

Dihidrolisis menghasilkan suatu aglikon yang disebut sapogenin ini merupakan suatu senyawa

yang mudah dikristalkan lewat asetilasi sehingga dapat dimurnikan. Tipe saponin ini adalah

turunan -amyrine (Amirt Pal,2002).

Salah satu jenis contoh saponin ini adalah asiatosida. Senyawa ini terdapat pada tumbuhan Gatu

kola yang tumbuh didaerah India. Senyawa ini dapat dipakai sebagai antibiotik (Anonim,

2009).
Biosintesis pada kedua jenis senyawa ini hampir sama baik saponin denga steroid maupun

triterpen. Semua senyawa ini melalui jalur asam mevalonat yang diperoleh dari asetil CoA .

Sebelum membentuk steroid biosintesis ini membentuk senyawa squalen yang merupakan

jenis triterpen yang merupakan gabungan Dari dua farnesil piroposfat. Setelah membentuk

squalen, maka terjadi reaksi oksidasi pada atom C nomor 3 sehingga terbentuk OH, setelah itu

terjadi pembentukan epoksidasqualen. Senyawa ini akan terjadi siklisasai menjadi lanosterol

yang merupakan bentuk dasar dari senyawa steroid(Arifin, 1986). Sedangkan perbedaannya

dengan triterpen adalah pada jumlah cincin dan bnetuk cincin keempat dan kelima, pada

triterpen masing-masing cincin tersebut memiliki 5 atom karbon