Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

SURFACE ANALYST UNTUK MEMBUAT GARIS KONTUR, KELERENGAN, ASPECT


DAN HILL SHADE DI KABUPATEN BOYOLALI
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Geografis
(TKP 350)
Dosen Pengampu : Sri Rahayu, S. Si., M. Si

Oleh:
Nafisah Anas
21040113120054

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015
PENDAHULUAN
Perencanaan wilayah dan kota adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana
merencanakan suatu wilayah dan kota dengan mempertimbang aspek fisik, sosial, ekonomi
dan politik sehingga tercipta ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Dalam
pertimbangan aspek fisik seorang perencana harus mampu mengidentifikasi kondisi
permukaan bumi sebagai wilayah rencananya sehingga dapat diketahui potensi dan masalah
yang dihadapi. Analisis permukaan dapat dilakukan baik secara langsung maupun melalui
penginderaan jauh. Dalam perhitungan dan prosesnya, penginderaan jauh lebih efektif
digunakan di dalam perencanaan wilayah dengan skala besar guna menghindari kesalahan
sehingga meningkatkan akurasi dan efektifitas waktu. Salah satu aplikasi alat bantu yang
dapat digunakan ialah ArcGIS. Oleh karena itu penting bagi seorang perencana wilayah dan
kota mengetahui cara mengoperasikan aplikasi ini guna mempermudah analisisnya.
ArcSIG merupakan suatu sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk
mengolah dan menyimpan data ataupun informasi keruangan (spasial). Dalam aplikasi ini,
ada beberapa tools atau alat analisis yang biasa digunakan untuk menampilkan beberapa
informasi yang diperlukan, salah satunya yaitu surface analyst. Surface analyst merupakan
analisis permukaan yang mampu menampilkan penampakkan tiga dimensi, seperti garis
kontur, kelerengan, aspect dan hill shade.
Dalam laporan ini digunakan analisis permukaan atau Surface Analysis untuk
merepresentasikan permukaan bumi. Data utama yang digunakan ialah data raster berupa
DEM (Digital Elevation Model). DEM merupakan data raster yang mengambarkan ketinggian
atau morfologi suatu wilayah. Data DEM ini dikembangkan oleh USGS dengan menggunakan
data RADAR dengan ketelitian piksel 90 x 90 meter. Dalam Analisis permukaan sub tool dari
3D analyst terdapat beberapa tools yang digunakan untuk merepresentasikan permukaan
bumi, yaitu:
1. Contour, dari data DEM dan diolah sehingga menghasilkan shapefile garis kontur
secara otomatis
2. Slope, untuk memvisualisasi atau membuat kecuraman atau kelerengan permukaan
bumi.
3. Aspect, untuk mengetahui arah aliran air di permukaan bumi.
4. Hillside, untuk memvisualisasi kenampakan permukaan bumi serta mengetahui
arahan sinar matahari.

TUJUAN
Tujuan dari dibuatnya laporan ini ialah:
1. Membuat garis kontur di Kabupaten Boyolali
2. Membuat kelerengan di Kabupaten Boyolali
3. Membuat aspect serta mengetahui arah aliran air permukaan/sungai di Kabupaten
Boyolali
4. Membuat arahan sinar matahari (iluminasi) dengan hill shade di Kabupaten Boyolali

DATA
Data yang digunakan dalam penyusunan laporan ini ialah:
1. Shapefile batas Kabupaten Boyolali
2. Shapefile batas kabupaten Provinsi Jawa Tengah
3. DEM Jawa Tengah-Jawa Timur

LANGKAH KERJA

1. Membuka applikasi ArcGIS


2. Klik kanan data raster yang akan digunakancalculate statisticsOK
3. Drag data raster beserta shapefile batas wilayah yang digunakan ke layer ArcGIS
4. Klik viewdata frame propertiescoordinate systempredifinedprojected
coordinate systemUTMWGS 198449 SapplyOK
5. Klik ArcToolboxdata management toolsrasterraster processingclip. Pada
input masukkan dem jawa tengan-jawa timur,pada output extend masukkan shapefile
boyolali, beri check list pada output raster dataset kemudian klik OK.

Membuat Garis Kontur


1. Klik 3D Analysisraster surfacecontour pada ArcCatalog. Pada input masukkan
data raster boyolali, contour interval masukkan 25 kemudian klik OK.
Membuat Kelerengan
1. Klik 3D Analysisraster surfaceslope pada ArcCatalog. Pada input masukkan data
raster boyolali, pada input measurement pilih percent kemudian klik OK.

Membuat Aspek
1. Klik 3D Analysisraster surfaceaspect pada ArcCatalog. Pada input masukkan
data slope yang sebelumnya terbentuk yang kemudian klik OK.

Membuat Hillshade
1. Klik 3D Analysisraster surfacehillshade pada ArcCatalog. Pada input
masukkan data yang sebelumnya terbentuk kemudian klik OK.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan langkah kerja yang telah dilakukan didapatkan beberapa hasil, yaitu:
1. DEM Kabupaten Boyolali

Gambar
Peta DEM Kabupaten Boyolali
Sumber : Hasil Olah Pribadi
Berdasarkan peta diatas terlihat model ketinggian di Kabupaten Boyolali dengan
gradari warna dari putih-hitam, dimana semakin warna putih menandakan ketinggian
maksimum yaitu 3119 mdpl dan ketinggian terendah semakin yang berwarna hitam yaitu 32
mdpl. Dari peta terlihat bahwa Kabupaten Boyolali memiliki warna DEM warna hitam-abu-abu
yang menunjukkan ketinggian yang rendah serta terdapat ketinggian yang tinggi yang
ditunjukkan dengan gradasi warna putih-abu-abu pada daerah Kecamatan Selo, Ampel,
Cepogo, Musuk, Boyolali dan Mojongsongo. Peta DEM ini merupakan input
(masukkan/bahan) untuk pembuatan peta permukaan selanjutnya.
2. Kontur Kabupaten Boyolali

Gambar
Peta Kontur Kabupaten Boyolali
Sumber : Hasil Olah Pribadi
Berdasarkan peta diatas terlihat model garis kontur di Kabupaten Boyolali dengan
interval 25 m, Pada peta terlihat bentukkan garis dimana semakin rapat merupakan daerah
dengan kelerengan tinggi (curam) sementara garis renggang merupakan daerah dengan
kelerengan relatif lebih rendah (landai). Dari peta terlihat terdapat daerah yang memiliki
kelerengan sangat rapat yang berada di Kecamatan Ampel, Selo, Cepogo dan Musuk. Peta
kelerengan juga mampu memprediksi arah aliran air permukaan dengan melihat bentukkan
antar garis kontur yang membentuk huruf V terbalik, dimana sisi atas V terbalik merupakan
hulu (asal aliran) dan sisi bawah V terbalik merupakan hilir (tujuan aliran)
3. Kelerengan Kabupaten Boyolali

Gambar
Peta Kelerengan Kabupaten Boyolali
Sumber : Hasil Olah Pribadi
Berdasarkan peta diatas terlihat model kelerengan di Kabupaten Boyolali dengan
gradasi warna merah-hijau, dimana warna merah menunjukkan kelerengn yang curam
(berbukit) sementara warna hijau menunjukkan kelerengan yang landai (datar). Pada peta
terlihat persebaran kelerengan di Kabupaten Boyolali bervariasi, mulia dari landai-curam.
Wilayah yang memiliki kelerengan curam meliputi kecamatan Ampel, Selo, Cepogo dan
Musuk dimana di kecamatan tersebut terdapat gunung sedangkan kecamatan lainnyta relatif
lebih landai.
4. Aspect Kabupaten Boyolali

Gambar
Peta Aspect Kabupaten Boyolali
Sumber : Hasil Olah Pribadi
Berdasarkan peta diatas terlihat model arahan kelerengan di Kabupaten Boyolali .
Pada peta terlihat arahan kelerengan di Kabupaten Boyolali bervariasi, muali dari datar
sampai ke berbagai arah. Arahan tersebut dapat digunakan sebagai analisis prediksi aliran
air permukaan/sungai, longsor maupun gunung meletus dengan melihat warna garis yang
sama saling menyambung merupakan aliran yang searah. Diketahui bahwa pada peta
terdapat dua gunung di Kecamatan Ampel, Selo, Cepogo dan Musik. Jika gunung di lokasi
tersebut meletus maka aliran lava akan lebih cepat menyebar ke Kecamatan Boyolali,
Mojosongo, Teras dan Sawit. Lava akan menyebar ke arah timur ke Kecamatn Ampel,
Cepogo,Musik, Mojosongo, Boyolali, Teras, Sawit dan Banyodono yang dintai warna aspek
kuning. Selain itu lava akan menyebar kearah tenggara ke Kecamatn Musik dan Mojosongo
yang ditandai aspek berwarna hijau, dan kearah Timur Laut ke arah Kecamatan Ampel dan
Cepogo yang ditandai aspek berwarna Oranye.
5. Hillshade Kabupaten Boyolali

Gambar
Peta Hill Shade Kabupaten Boyolali
Sumber : Hasil Olah Pribadi
Berdasarkan peta diatas terlihat model Hill Shade di Kabupaten Boyolali dengan
gradasi warna putih-hitam dengan rentang nilai 0-181, hal ini dapat menunjukkan arahan sinar
matahari yang menyinari. Sinar Matahari berasal dari arah barat sehingga daerah yang
memiliki ketinggian akan menghitam dibagian timur. Pada peta terlihat terdapat warna hitam
yang mendominasi pada wilayah kecamatan Ampel, Cepogo, Musik, Boyolali, Mojosongo,
Teras, Sawit dan Banyudono, hal ini dikarenakan bentuk wilayah tersebut tertutup oleh
bayangan yang menunjukkan adanya dataran tinggi disebelah barat yakni di Kecamatan Selo
berupa Gunung.

DAFTAR PUSTAKA
BAPPEDA Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011
Http://srtm.csi.cgiar.org
Prahasta, Eddy. 2009. Sistem Informasi Geografis Konsep Konsep Dasar (Perspektif Geodesi
dan Geomatika). Bandung. Informatika.