Anda di halaman 1dari 15

DESA SIAGA SEHAT JIWA

A. Definisi

1. Desa Siaga

Desa siaga adalah desa yang memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk
mencegah dan mengatasi masalah kesehatan (bencana dan kegawatdaruratan kesehatan) di
desanya (Depkes RI, 2006 dalam Efendi, 2009).

Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan
kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan,
bencana dan kegawat daruratan kesehatan secara mandiri. Sebuah Desa dikatakan menjadi
desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan
Desa.

Desa Siaga yang telah dicanangkan pemerintah, merupakan gambaran masyarakat


yang sadar, mau dan mampu mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan
masyarakat, seperti kurang gizi, kejadian bencana, termasuk didalamnya gangguan jiwa,
dengan memanfaatkan potensi setempat secara gotong royong, menuju Desa Siaga.

2. Desa Siaga Sehat Jiwa

Desa siaga sehat jiwa merupakan sebuah program, yang mengajak masyarakat untuk
ikut berperan serta dalam mendeteksi penyakit serta siaga terhadap munculnya masalah
kesehatan jiwa di masyarakat (Apsari, 2010).

Rochana Dwi Astuti mengungkapkan, desa siaga sehat jiwa merupakan gambaran
masyarakat yang sadar, mau dan mampu mencegah dan mengatasi berbagai ancaman
terhadap kesehatan masyarakat, seperti kurang gizi, bencana, serta masalah gangguan
kejiwaan, dengan memanfaatkan potensi setempat secara gotong royong. Beberapa tahapan
yang akan dilaksanakan di desa siaga sehat jiwa diantaranya, meliputi persiapan, sosialisasi,
pelatihan kader, pendampingan, monitoring, dan pelaporan. dengan dibentuknya desa siaga
sehat jiwa, diharapkan dapat mengurangi dampak dan kerugian akibat dari adanya penderita
gangguan jiwa yang tidak dirawat (Apsari, 2010).

Desa Siaga Sehat Jiwa (DSSJ) merupakan pengembangan kesehatan mental berbasis
masyarakat bertujuan agar masyarakat di desa binaan tanggap terhadap masalah kesehatan
jiwa masyarakat, dapat mencegah timbulnya masalah kesehatan jiwa serta dapat
menanggulangi masalah kesehatan jiwa di masyarakat (Yuni, 2010).

Desa siaga sehat jiwa merupakan sebuah program, yang mengajak masyarakat untuk
ikut berperan serta dalam mendeteksi penyakit serta siaga terhadap munculnya masalah
kesehatan jiwa di masyarakat (Jogyatv, 2010).

Desa Siaga Sehat jiwa merupakan salah satu program CMHN (Community Mental
Health Nursing) yang bertujuan untuk (Meru, 2011) :

a. Pendidikan kesehatan jiwa untuk masyarakat sehat.

b. Pendidikan kesehatan jiwa untuk resiko masalah psikososial.

c. Resiko jiwa untuk mengalami gangguan jiwa.

d. Terapi aktivitas bagi pasien gangguan jiwa mandiri.

e. Rehabilitasi bagi pasien gangguan jiwa mandiri.

f. Askep bagi keluarga pasien gangguan jiwa

3. Community Mental Health Nursing (CMHN)

Comunity Mental Health Nursing adalah upaya untuk mewujudkan pelayanan


kesehatan jiwa dengan tujuan pasien yang tidak tertangani di masyarakat akan mendapatkan
pelayanan yang lebih baik (Meru, 2011)

CMHN adalah pelayanan keperawatan yang komprehensif, holistik, dan paripurna,


berfokus pada masyarakat yang sehat jiwa, rentang terhadap stress dan dalam tahap
pemulihan serta pencegahan kekambuhan yang berfungsi untuk membantu masyarakat dalam
menyelesaikan masalah-masalah jiwa akibat dampak bencana.

CMHN merupakan bentuk pengelolaan pelayanan asuhan keperawatan jiwa yang


mendasarkan pada prinsip – prinsip pelayanan keperawatan yang holistik dan komprehensif.
Keperawatan jiwa yang holistik dan komprehensif yakni pendekatan pelayanan yang meliputi
aspek biologis, psikologis, sosial kultural, dan spiritual dalam hubungannya dengan prevensi
primer, sekunder dan tersier.

B. Konsep Desa Siaga Sehat Jiwa

WHO memandang pelaksanaan Program CMHN tersebut sangat positif karena dapat
memenuhi sasaran dalam upaya penanganan masalah pasien gangguan jiwa di masyarakat.
Salah satu program dan produk dari CMHN tersebut adalah membentuk desa siaga
sehat jiwa dengan tujuan dilakukannya pendidikan kesehatan jiwa untuk masyarakat sehat,
pendidikan kesehatan jiwa untuk resiko masalah psikososial, resiko jiwa untuk mengalami
gangguan jiwa, terapi aktivitas dan rehabilitasi bagi pasien gangguan jiwa mandiri, serta
askep bagi keluarga pasien gangguan jiwa

Desa Siaga Sehat Jiwa merupakan satu bentuk pengembangan dari pencanangan Desa
Siaga yang bertujuan agar masyarakat ikut berperan serta dalam mendeteksi pasien gangguan
jiwa yang belum terdeteksi, dan membantu pemulihan pasien yang telah dirawat di rumah
sakit, serta siaga terhadap munculnya masalah kesehatan jiwa di masyarakat melalui kegiatan
keperawatan kesehatan jiwa masyarakat atau komunitas (Community Mental Health
Nursing). CMHN merupakan bentuk pengelolaan pelayanan asuhan keperawatan jiwa yang
mendasarkan pada prinsip – prinsip pelayanan keperawatan yang holistik dan komprehensif.
Keperawatan jiwa yang holistik dan komprehensif yakni pendekatan pelayanan yang meliputi
aspek biologis, psikologis, sosial kultural, dan spiritual dalam hubungannya dengan prevensi
primer, sekunder dan tersier.

C. Tujuan

Tujuan utama pengembangan Desa Siaga adalah untuk memeratakan pelayanan


kesehatan dasar kepada masyarakat. Untuk itu perlu adanya upaya kesehatan yang berbasis
masyarakat agar upaya kesehatan lebih tercapai (accessible), lebih terjangkau (affordable)
serta lebih berkuahtas (quality).

Tujuan pembentukan desa siaga menurut Efendi (2009) adalah:

1. Tujuan umum

a. Terwujudnya desa dengan masyarakat yang sehat, peduli, dan tanggap terhadap masalah-
masalah kesehatan (bencana dan kegawatdaruratan) didesanya.

2. Tujuan khusus

a. Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan


dan menerapkan perilaku hidup sehat.

b. Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong dirinya sendiri
dibidang kesehatan.
c. Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap resiko dan bahaya
yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah penyakit, dan lainnya).

d. Meningkatnya kesehatan lingkungan di desa.

D. Pengelolaan dalam Desa Siaga Sehat Jiwa

1. Kemitraan

Kemitraan dalam pelayanan kesehatan di komunitas merupakan bentuk strategi


kemitraan lintas program dan lintas sector yang terintegrasi atas prinsip kesetaraan,
keterpaduan, kesepakatan dan keterbukaan (Depkes RI., 2000). Bentuk kemitraan antara
masyarakat dan professional dilakukan melalui keputusan yang diambil secara bersama-sama
dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Hasil yang diharapkan dari upaya pengembangan kemitraan adalah semua sektor baik
pemerintah, swasta maupun masyarakat mampu menyelenggarakan pelayanan dan
pembinaan sesuai bidang, peran, kemampuan dan kesepakatan bersama.

Dalam pelaksanaan kemitraan diperlukan komunikasi sebagai media informasi yang


diperlukan oleh semua sektor agar terjadi koordinasi dan kerjasama yang efektif dalam
mencapai tujuan. Koordinasi dapat dilakukan di setiap jenjang administrasi dengan
melaksanakan pembentukan tim di Tingkat Kabupaten, Tingkat Kecamatan dan Tingkat
Desa/Kelurahan.

Kemitraan di bagi menjadi 2 ,yaitu :

a. Kemitraan Lintas Sektor

Kemitraan lintas sektor adalah bentuk kerjasama yang dibangun antara tenaga kesehatan,
khususnya perawat CMHN dengan sektor terkait baik pemerintah maupun non pemerintah
dalam memberikan pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat yang dilakukan melalui
kesepakatan bersama tentang peran dan tanggung jawab nasing-masing.

Pelaksanaan kemitraan lintas sektor dapat dilakukan di Tingkat Kabupaten, Tingkat


Kecamatan maupun di Tingkat Desa dengan cara menggalang kerjasama dengan berbagai
sektor baik pemerintah maupun swasta dalam mencari dukungan (dana, sarana dan prasarana,
kebijakan pemerintah setempat) dalam mendukung pelaksanaan program CMHN.

b. Kemitraan Lintas Program


Kemitraan lintas program merupakan bentuk kerjasama yang dibangun antar tenaga
kesehatan (multidisiplin) yaitu tenaga kesehatan yang ada di puskesmas termasuk GP+,
maupun di luar puskesmas seperti praktik tenaga kesehatan : dokter, bidan, psikolog klinik,
psikiater dalam memberikan pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat yang dilakukan
melalui kesepakatan bersama tentang peran dan tanggung jawab masing-masing.

2. Pemberdayaan

Dalam mengembangkan Desa Siaga Sehat Jiwa perlu adanya keterlibatan masyarakat
desa setempat dalam upaya mencapai tujuan yaitu me ingkatnya derajat kesehatan
masyarakat. Strategi pemberdayaan masyarakat bermanfaat untuk mengidentifikasi,
mengatasi masalah kesehatan jiwa dan mempertahankan kesehatan jiwa di wilayahnya.
Pemberdayaan masyarakat merupakan proses pengembangan potensi baik pengetahuan
maupun keterampilan masyarakat sehingga mereka mampu mengontrol diri dan terlibat
dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Kader merupakan sumber daya masyarakat yang
perlu di kembangkan dalam pengembangan Desa Siaga Sehat Jiwa. Pemberdayaan kader
kesehatan jiwa sebagai tenaga potensial yang ada di masyarakat diharapkan mampu
mendukung program CMHN yang diterapkan di masyarakat. Seorang kader akan mampu
melakukan kegiatan apabila kader tersebut sejak awal diberikan pembekalan. Metoda dalam
mengembangkan kader kesehatan jiwa sebaiknya teratur, sistematis, rasional, yang digunakan
untuk menentukan jumlah kader.

a. Proses Rekruitmen Kader

Rekruitmen kader adalah suatu proses pencarian dan pemikatan para calon kader yang
mempunyai kemampuan dalam mengembangkan Desa Siaga Sehat Jiwa.. Proses awal dalam
merekruit kader adalah dengan melakukan sosialisasi tentang pembentukan Desa Siaga Sehat
Jiwa disertai dengan kriteria kader yang dibutuhkan. Adapun kriteria kader sebagai berikut :

1) Sehat jasmani dan rohani

2) Mampu membaca dan menulis dengan lancar menggunakan Bahasa Indonesia.

3) Bersedia menjadi kader kesehatan jiwa sebagai tenaga sukarela.

4) Mempunyai komitmen untuk melaksanakan program kesehatan jiwa masyarakat.

5) Meluangkan waktu untuk kegiatan CMHN.

6) Mendapat ijin dari suami atau istri atau keluarga.


Proses rekruitmen kader dilakukan dengan cara :

1) Perawat CMHN mengadakan pertemuan dengan kepala desa dan tokoh masyarakat setempat
dengan menjelaskan tentang pembentukan Desa Siaga Sehat Jiwa dan kebutuhan kader
kesehatan jiwa.

2) Perawat CMHN menjelaskan tentang kriteria kader dan jumlah kader yang dibutuhkan untuk
tiap desa dan dusun.

3) Tokoh masyarakat melakukan pencarían calon kader berdasarkan kriteria yang telah
ditetapkan.

4) Kader yang telah direkruit mengisi biodata dalam formulir (Lampiran 1) yang telah
disediakan untuk proses seleksi selanjutnya.

Proses seleksi calon kader di Desa Siaga Sehat Jiwa adalah :

1) Perawat CMHN melakukan koordinasi dengan tokoh masyarakat/tokoh agama atau


organisasi masyarakat yang ada di masyarakat dalam menentukan calon kader yang
memenuhi syarat

2) Kader terpilih mengisi surat pernyataan bersedia sebagai kader kesehatan jiwa dan bersedia
menjalankan program CMHN ( lampiran 2 )

3) Kader terpilih diwajibkan mengikuti pelatihan kader kesehatan jiwa.

b. Proses orientasi Kader

Setiap kader yang akan melaksanakan program kesehatan jiwa akan melalui masa
orientasi yaitu mengikuti sosialisasi program CMHN dan pelatihan kader kesehatan jiwa .
Orientasi yang dilakukan juga mencakup informasi budaya kerja Desa Siaga Sehat Jiwa dan
informasi umum tentang visi, misi, program, kebijakan dan peraturan. Kegiatan orientasi
menggunakan metode klasikal selama 2 hari, praktik lapangan selama 3 hari, dan praktik
kerja (implementasi Desa Siaga Sehat Jiwa ).

Materi pelatihan kader mencakup :

1) Program Desa Siaga Sehat Jiwa

2) Deteksi dini kasus di masyarakat ( kelompok keluarga sehat, kelompok keluarga dengan
masalah psikososial, dan kelompok keluarga dengan gangguan jiwa )

3) Peran serta dalam mengerakkan masyarakat pada :


a) Pendidikan kesehatan kelompok keluarga sehat jiwa

b) Pendidikan kesehatan kelompok risiko masalah psikososial

c) Pendidikan kesehatan kelompok dengan gangguan jiwa

d) Terapi aktivitas kelompok pasien gangguan jiwa

4) Supervisi keluarga dan pasien yang telah mandiri

5) Rujukan kasus

6) Pelaporan kegiatan kader kesehatan jiwa

Selama masa orientasi, dilakukan evaluasi atau penilaian terhadap kinerja kader dalam
melaksanakan program CMHN di Desa Siaga Sehat Jiwa. Penilaian kader meliputi penilaian
selama pelatihan di kelas (pre dan post test) serta penilaian penampilan di lapangan.

3. Menejerial

Manajemen adalah proses dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Menurut
Swanburg(2000), manajemen didefinisikan sebagai ilmu atau seni tentang bagaimana
menggunakan sumber daya secara efisien, efektif, dan rasional untuk mencapai tujuan
organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pelayanan keperawatan merupakan pelayanan yang dilakukan oleh banyak orang


sehingga ilmu manajemen perlu diterapkan dalam bentuk manajemen keperawatan.
Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk
memberikan asuhan, pengobatan, dan bantuan terhadap pasien.

a. Pengorganisasian

Pengorganisasian adalah pengelompokan aktivitas untuk mencapai suatu tujuan


penugasan suatu kelompok tenaga keperawatan akan menentukan cara pengkoordinasian
aktivitas yang tepat, baik vertikal maupun horizontal, yang bertangung jawab untuk
mencapai tujuan organisasi.

Pengorganisasian kegiatan dan tenaga dalam pelayanan kesehatan komunitas (di


MKKJK) Desa Siaga Sehat Jiwa menggunakan pendekatan lintas sektoral dan lintas program
. Setiap perawat CMHN di puskesmas bertanggung jawab terhadap sejumlah desa yang
menjadi area binaaan. Toma dan kader pada setiap dusun bertanggung jawab terhadap
sejumlah pasien.
Pengorganisasian di MKJJK Desa Siaga Sehat Jiwa terdiri dari:

1) Struktur organisasi

Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen dalam suatu organisasi. Pada


pengertian struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan menunjukkan
bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan yang berbeda-beda diintegrasikan atau
dikoordinasikan. Struktur organisasi juga menunjukkan spesialisasi pekerjaan.

2) Daftar Jadwal Kegiatan

Daftar yang berisi jadual kegiatan, Fasilitator CMHN, Perawat CMHN, Toma, Kader,
dan penanggung jawab kegiatan pada setiap daerah binaan.

3) Daftar pasien pada kelompok binaan

E. Peran Perawat Desa Siaga Sehat Jiwa

Secara umum perawat jiwa komunitas dapat berperan sebagai perawat praktisioner,
perawat pendidik, dan peran perawat koordinator.

1. Perawat Pelaksana

Perawat pelaksana (praktisioner = direct nursing care) adalah peran perawat jiwa
komunitas yang memungkinkan terjadinya interaksi antara perawat CMHN dan
klien/keluarga dalam rangka memberikan asuhan kasus keperawatan secara langsung, melului
aktifitas asuhan dengan menggunakan proses keperawatan. Hubungan perawat klien
mempunyai tujuan peningkatan kemampuan klien dalam hal penyelesaian masalah dan
peningkatan fungsi klien. Aktifitas intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi
manajemen kasus kesehatan jiwa, intervensi keperawatan pada individu dan keluarga serta
aktivitas kolaborasi dengan tim kesehatan lain. (Kompetensi dan aktifitas manajemen kasus
terlampir).

2. Perawat Pendidik (Edukator)

Peran perawat pendidik cukup luas, tetapi secara khusus pada perawat jiwa adalah dalam
rangka menjalankan fungsi independen pendidikan kesehatan/keperawatan bagi klien dan
keluarga agar mampu menjalankan lima fungsi keluarga sehat jiwa dan mengembangkan
kemampuan penyelesaian masalah. Aktifitas keperawatan yang dapat dijalankan sesuai
dengan fungsi keluarga yang meliputi peningkatan kemampuan mengenal masalah,
mengambil keputusan, kemampuan merawat anggota keluarga yang mengalami masalah
psikososial atau gangguan jiwa, memodifikasi lingkungan klien dan keluarga yang dapat
mendukung penyelesaian masalah dan kemampuan dalam menggunakan fasilitas atau
sumber-sumber di lingkungan sekitar klien yang dapat dijadikan sebagi sumber koping dalam
menyelesaikan masalah kesehatan jiwa.

3. Perawat Koordinator

Peran perawat koordinator adalah melakukan hubungan dalam rangka koordinasi dan
negosiasi kepada pihak-pihak terkait. Aktifitas keperawatan yang dapat dikerjakan meliputi
kegiatan penemuan kasus kesehatan jiwa dan menjalankan fungsi rujukan kasus gangguan
jiwa maupun masalah psikososial yang menjadi asuhannnya.

F. Sasaran dalam Pengembangan Desa Siaga

Menurut Efendi (2009), sasaran dalam pengembangan desa siaga:

1. Pihak yang dapat memengaruhi individu dan keluarga, yaitu tokoh masyarakat, lembaga
swadaya masyarakat (LSM), kader dan media massa.

2. Pihak-pihak yang dapat memberi dukungan atau bantuan, yaitu pejabat atau dunia usaha.

3. Semua individu dan keluarga didesa.

Semua sasaran diatas diharapkan dapat lebih mandiri dalam mengatasi masalah-masalah
kesehatan. Untuk menuju desa siaga, ada beberapa criteria yang harus dipenuhi, yaitu desa
tersebut minimal mempunyai pos kesehatan desa (poskesda). Poskesda disini merupakan
suatu upaya bersumber daya masyarakat (UKBM) yang minimal melaksanakan kegiatan-
kegiatan seperti berikut:

1. Pengamatan epidemiologis penyakit menular dan yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa
(KLB) serta factor-faktor resikonya.

2. Penanggulangan penyakit menular dan yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa serta
kekurangan gizi.

3. Kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana kegawatdaruratan kesehatan.

4. Pelayanan kesehatan dasar, sesuai dengan kompetensinya.

5. Kegiatan lain-lain misalnya promosi untuk sadar gizi, perilaku hidup bersih dan sehat,
penyehatan lingkungan, dan kegiatan pengembangan.
Untuk mempermudah strategi intervensi, sasaran dibedakan menjadi tiga kelompok,
yang dalam pendekatannya harus dilakukan secara simultan, ketiga kelompok tersebut adalah
(Pahlevi, 2012):

1. Sasaran Primer

Semua individu dan keluarga di desa yang diharapkan mampu melaksanakan hidup
sehat, peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah desanya.

2. Sasaran Sekunder

Pihak - pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perilaku individu dan keluarga di desa
atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut yaitu tokoh -
tokoh pemerintahan, masyarakat, agama, perempuan, pemuda, PKK, dan lain – lain.

3. Sasaran Tersier

Pihak - pihak yang diharapkan memberikan dukungan kebijakan, peraturan perundang -


undangan, tenaga, sarana, dana, dan lain - lain yaitu Camat, Kepala Desa, pejabat
pemerintahan lainnya, dunia usaha, donatur, dan stakeholders lain.

G. Kriteria Desa Siaga

Agar sebuah desa menjadi Desa Siaga maka desa tersebut harus memiliki forum desa
/ lembaga kemasyarakatan yang aktif dan adanya sarana / akses pelayanan kesehatan
dasar. Dalam pengembangannya Desa Siaga akan meningkat dengan membagi menjadi 4
Kriteria Desa Siaga (Pahlevi, 2012) :

1. Tahap Bina

Pada tahap ini forum masyarakat desa mungkin belum aktif, namun telah ada forum /
lembaga masyarakat desa yang telah berfungsi dalam bentuk apa saja, misalnya kelompok
rembug desa, kelompok yasinan atau persekutuan doa, dan sebagainya. Demikian juga
Posyandu dan Polindesnya mungkin masih pada tahap pertama. Pembinaan intensif dari
petugas kesehatan dan petugas sektor lainnya sangat diperlukan, misalnya dalam bentuk
pendampingan saat ada pertemuan forum desa untuk meningkatkan kinerja forum dengan
pendekatan PKMD.

2. Tahap Tumbuh
Pada tahap ini forum masyarakat desa telah aktif lamdari anggota forum untuk
mengembangkan UKBM sesuai kebutuhan masyarakat selain posyandu , Demikian juga
Polindes dan Posyandu sedikitnya sudah pada tahap madya.

Pendampingan dari tim Kecamatan atau petugas dari sektor/LSM masih sangat
diperlukan untuk pengembangan kualitas Posyandu atau pengembangan UKBM lainnya.
Hal penting lain yang diperhatikan adalah pembinaan dari Puskesmas PONED sehingga
semua hamil bersalin nifas serta bayi baru lahir yang risiko tinggi dan mengalami
komplikasi dapat ditangani dengan baik. Disamping itu sistem surveilans berbasis masyarakat
juga sudah sudah dapat berjalan, artinya masyarakat mampu mengamati penyakit ( menular
dan tidak menular ) serta faktor risiko di lingkungannya secara terus menerus dan melaporkan
serta memberikan informasi pada petugas kesehatan / yang terkait.

3. Tahap Kembang

Pada tahap ini forum kesehatan masyarakat telah berperan secara aktif dan mampu
mengembangkan UKBM-UKBM sesuai kebutuhan masyarakat dengan biaya berbasis
masyarakat. Sistem Kewaspadaan Dini masyarakat menghadapi bencana dan kejadian luar
biasa telah dilaksanakan dengan baik, demikian juga dengan sistem pembiyaan kesehatan
berbasis masyarakat.

Jika selama ini pembiayaan kesehatan oleh masyarakat sempat terhenti karena
kurangnya pemahaman terhadap sistem jaminan, masyarakat didorong lagi untuk
mengembangkan sistem serupa dimulai dari sistem yang sederhana dan jelas dibutuhkan oleh
masyarakat, misalnya tabulin. Pembinaan masih diperlukan meskipun tidak terlalu intensif.

4. Tahap Paripurna

Pada tahap ini semua indikator dalam kriteria Desa Siaga sudah terpenuhi. Masyarakat
sudah hidup dalam lingkungan sehat serta berperilaku hidup bersih dan
sehat. Masyarakatnya sudah mandiri dan siaga tidak hanya terhadap masalah kesehatan yang
mengancam , namun juga terhadap kemungkinan musibah / bencana non kesehatan. .
Pendampingan dari Tim Kecamatan sudah tidak diperlukan lagi.

Desa siaga tidak hanya sekedar konsep yang bertengger di atas awan. Dengan mengacu
visi Departemen Kesehatan agar rakyat indonesia dapat mewujudkan kesehatan secara
mandiri, perlu dilakukan tindakan - tindakan nyata. Sebagai contoh, pembentukan Pos
Kesehatan Desa ( Poskesdes ) yang bertujuan agar setiap desa mampu mengidentifikasi dan
mencegah bencana, wabah, kurang gizi dan persoalan - persoalan lain. Poskesdes diharapkan
pula untuk merevitalisasi upaya - upaya kesehatan bersumber masyarakat seperti posyandu,
pos obat desa, ambulans desa, bank daerah desa, kelompok pemakai air dan koperasi jamban.

H. Visi dan Misi Desa Siaga

1. Visi

a. Mewujudkan Desa menjadi Desa Siaga Sehat.

b. Menuju Desa Sehat 2010.

2. Misi

a. Menggerakkan pembangunan kesehatan.

b. Memelihara dan meningkatkan pengetahuan,SDM.

c. Memberdayakan masyarakat agar mampu berperilaku hidup sehat.

d. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan berkualitas.

e. Meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan.

f. Meningkatkan pembiayaan kesehatan.

I. Indikator Keberhasilan Desa Siaga

Keberhasilan upaya Pengembangan Desa Siaga dapat dilihat dari empat kelompok
indikatornya, yaitu (Pahlevi, 2012):

1. Indikator masukan

Indikator masukan adalah indikator untuk mengukur seberapa besar masukan telah
diberikan dalam rangka pengembangan Desa siaga. Indikator masukan terdiri atas hal-hal
berikut:

a. Ada/tidaknya Forum Masyarakat Desa.

b. Ada/tidaknya sarana pelayanan kesehatan serta perlengkapan / peralatannya.

c. Ada/tidaknya UKBM yang dibutuhkan masyarakat.

d. Ada/tidaknya tenaga kesehatan( minimal bidan ).

e. Ada/tidaknya kader aktif.


f. Ada/tidaknya sarana bangunan / Poskesdes sebagai pusat pemberdayaan masyarakat bidang
kesehatan.

g. Ada/tidaknya alat komunikasi yang telah lazim dipakai masyarakat yang dimanfaatkan untuk
mendukung penggerakan surveilans berbasis masyarakat misal: kentongan, bedug, dll.

2. Indikator Proses

Indikator proses adalah indikator untk mengukur seberapa aktif upaya yang
dilaksanakan di suatu desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga Indikator proses terdiri
atas hal - hal sebagai berikut :

a. Frekuensi pertemuan Forum Masyarakat Desa.

b. Berfungsi / tidaknya UKBM Poskesdes.

c. Ada / tidaknya pembinaan dari Puskesmas PONED.

d. Berfungsi / tidaknya UKBM yang ada.

e. Berfungsi/tidaknya Sistem Kegawatdaruratan dan Penanggulangan Kegawat daruratnya dan


bencana.

f. Berfungsi / tidaknya Sistem Surveilans berbasis masyarakat.

g. Ada / tidaknya kegiatan kunjungan rumah kadarzi dan PHBS.

h. Ada / tidaknya deteksi dini gangguan jiwa di tingkat rumah tangga.

3. Indikator Keluaran

Indikator Keluaran adalah indikator untuk mengukur seberapa besar hasil kegiatan yang
dicapai di suatu desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga. Indikator keluaran terdiri atas
hal - hal berikut :

a. Cakupan pelayanan kesehatan dasar ( utamanya KIA ).

b. Cakupan pelayanan UKBM - UKBM lain.

c. Jumlah kasus kegawatdaruratan dan KLB yang ada dan dilaporkan.

d. Cakupan rumah tangga yang mendapat kunjungan rumah untuk kadarzi dan PHBS.

e. Tertanganinya masalah kesehatan dengan respon cepat.

4. Indikator Dampak.
Indikator dampak adalah indikator untuk mengukur seberapa besar dampak dari hasil
kegiatan desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga. Indikator proses terdiri dari atas hal-
hal sebagai berikut.

a. Jumlah penduduk yang menderita sakit.

b. Jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia.

c. Jumlah bayi dan balita yang meninggal dunia.

d. Jumlah balita dengan gizi buruk.

e. Tidak terjadinya KLB penyakit.

f. Respon cepat masalah kesehatan.

BAB III

PENUTUP

Desa Siaga merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau dan mampu untuk
mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat seperti kurang
gizi, penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB, kejadian bencana,
kecelakaan, dan lain-lain, dengan memanfaatkan potensi setempat, secara gotong-royong.

Inti dari kegiata Desa Siaga adalah memberdayakan masyarakat agar mau dan mampu
untuk hidup sehat. Oleh karena itu dalam pengembangannya diperlukan langkah-langkah
pendekatan edukatif. Yaitu upaya mendampingi (memfasilitasi) masyarakat untuk menjalani
proses pembelajaran yang berupa proses pemecahan masalah-masalah kesehatan yang
dihadapinya.

Daftar Pustaka

Apsari, Afirtha Diah dan Heri Purnomo. (2010). Pencanangan Desa Siaga Sehat Jiwa. Diakses
tanggal 11 April 2013 di http://www.jogjatv.tv/berita/24/11/2010/pencanangan-desa-siaga-
sehat-jiwa.

Efendi, Ferry. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.

Meru, Ijam. 2011. Community Mental Health Nursing. Diakses pada tanggal 14 April 2013 di
http://ijammeru.blogspot.com/2011/04/tutor-community-mental-health-nursing.html.
Pahlevi, Muhamad Reza. (2012). Konsep Dasar Desa Siaga. Diakses pada tanggal 12 April
2013 di http://muhamadrezapahlevi.blogspot.com/2012/07/konsep-dasar-desa-
siaga.html

Yogyatv. (2010). Pencanangan Desa Siaga Sehat Jiwa. Diakses pada tanggal 12 April 2013
di http://www.jogjatv.tv/berita/24/11/2010/pencanangan-desa-siaga-sehat-jiwa.

Yuni, Azmi. (2010). Efektifitas Pengembangan Desa Siaga Sehat Jiwa (Dssj) Terhadap
Sikap Masyarakat Tentang Masalah Kesehatan Jiwa Di Wilayah Kerja Puskesmas
Kasihan Ii Bantul Yogyakarta. Diakses pada tanggal 12 April 2013 di
http://publikasi.umy.ac.id/index.php/psik/article/view/2537