Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

HARGA DIRI RENDAH

Disusun Oleh

FAHRURROZI
013.01.2840

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES) MATARAM
MATARAM
2016
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Masalah Utama Klien : Harga Diri Rendah

B. Proses Terjadinya Masalah

1. Pengertian

- Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian

diri dengan mengnalisa seberapakah perilaku sesuai dengan ideal diri.

(kulliat, 2002).
- Harga diri rendah adalah merupakan suatu keadaan

dimana individu mengalami evaluasi diri yang negatif tentang

kemampuan diri. (case kaitio, 1997).


- Harga diri rendah merupakan gangguan konsep diri

merasa gagal mencapai keinginan.

2. Etiologi

Menurut kelliat, gangguan harga diri rendah disebabkan secara :

a. Situasianal

Yaitu terjadi secara tiba-tiba,misalnya pemerkosaan di tuduh

KKN, harus operasi, kecelakaan, dicerai pasangannya, putus hubungan

kerja, dipernjara secara tiba-tiba.

Klien yang dirawat dapat terjadi harg diri rendah karena:

- Privacy yang kurang diperhatikan. Misalnya pemeriksaan yang

sembarangan pemasangan alat yang tidak sopan.

- Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang yang tidak

tercapai karena dirawat / penyakit / sakit.


- Perlakuakn petugas yang tidak menghargai. Misalnya berbagai

pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan yang

dilakukan tanpa persetujuan.

b. Kronik.

Yaitu parasaan negatif terhadap diri yang telah berlangsung lama

yaitu sebelum sakit dirawat di rumah sakit.

Kejadian sakit akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya

sendiri.

3. Faktor Prediposisi

1) Perolokan orang tua tidak takut.

2) Kegagalan yang terulang kembali.

3) Ideal dari yang ditetapkan.

4) Ketergantungan terhadap orang lain.

4. Faktor Presipitasi

1) Pisah dengan orang tua yang berarti.

2) Cita-cita yang tidak bisa dicapai.

3) Keluarga tidak harmonis.

4) Pola asuh yang ketat.

5. Rentang respon konsep diri.

R. Adaptif R. Maladaptif

Aktualisasi Konsep diri Harga diri Kesatuan Depersonalisasi


a.
diri Fator psikologi.
positif rendah identitas
Pada klien yang mengalami gangguan konsep diri harga diri rendah

diakibatkan karena koping individu tidak efektif, maka klien akan

merasa minder, tidak mampu, tidak bicara, yang terjadi karena :

- Privasi yang kurang diperhatikan.

- Harapan akan struktur.

- Perlakukan petugas yang kurang baik.

Dari ketiga hal diatas akan menyebabkan individu sering menyadari

sehingga ia akan memikirkannya secara terus-menerus sehingga

rangsangan internal turut di ikuti yang kemudian akan mengakibatkan

ia merasuk diri.

C. Pohon Masalah

Resiko menciderai diri orang lain dan lingkungan


Defisit perawatan diri

Resiko perubaha persepsi sensori (halusinasi)

Kerusakan interaksi sosial : menarik diri Kurangnya minat atau


motivasi perawatan diri

Gangguan konsep diri : harga diri rendah

Koping individu tidak efektif

D. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji

 Perasaan negatif tentang diri rendah


 Hilang kepercayaan diri

 Merasa gagal mencapai keinginan

 Menyatakan diri tidak berharga, tidak berguna dan tidak mampu

 Mengeluh tidak mau melakukan pesan dan fungsi sebagai mana mestinya

 Menarik diri dari kehidupan sosial

 Banyak diam dan sulit berkomunikasi

E. Diagnosa keperawatan dan prioritas

 Gangguan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri

rendah

 Gangguan konsep diri, harga diri rendah berhubungan dengan koping

individu tak efektif

 Kurangnya motivatif dan perawatan diri berhubungan dengan menarik diri

F. Rencana tindakan keperawatan

 Dx 1. Gangguang interaksi sosial : menarik diri berhubungan dem\ngan

harga diri rendah

 TUM :

Klien dapat berhubungan dengan orang lain seacara optimal

 TUK :

1. TUK 1 : klien dapat membina hubungan saling percaya


a. Kriteria evaluasi : setelah dilakukan 2x pertemuan klien dapat

menunjukkan ekspresi wajah bersahabat, kontak mata,

menyebutkan namanya, mau mengutarakan masalah yang dihadapi.

b. Intervensi :

1. sapa klien dengan ramah

2. perkenalakan diri dengan sopan

3. tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai oleh

klien

4. jelaskan tujuan pertemuan

5. tunjukan empati dalam menerima klien apa adanya.

6. beri perhataian pada klien dan perhatikan kehidupan dasar klien

2. TUK II : klien dapat mengidentifikasi kedmampuan yang dimiliki

a. Kriteria evaluasi : setelah dilakukan 4x pertemuan klien dapat

mengidentifikasi kemmapuan yang dimiliki

b. Intervensi :

1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

2. Setiap bertemu klien hindarkan dari penilaian negartif

3. Utamakan memberi pujian yang realistik

3. TUK III : klien dapat menilai kedmmapuan yang dimiliki atau

figunakan

a. Kriteria evaluasi :
1. klien menilai kemampuan yang dapat digunakan dirumah sakit

Diskusikan dengan klien kemampuan yang dapat dilakukan

selama sakit

2. klien menilai kemampuan yang dapat digunakan dirumah

b. Intervensi

1. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dapat dilakukan

selama sakit

2. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dapat dilanjutkan

penggunaanya dirumah .

4. TUK IV : klien dapat merencana kegiatan sesuai dengan kemampuan

yang dimiliki

a. Kriteria evaluasi : klien dapat membuat rencana hasil.

b. Intervensi

1. Rencanakan bersama klien beraktifitas yang dapat dilakukan

setiap hari sesuai dengan kemampuannya.

2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan kemmapuannya.

3. beri contoh cara pelaksanaan sesuai kegiatan yang pernah

dilakukan.

5. TUK V : klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan sehat sakit dan

kemampuannya

a. Intervensi :

1. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah

direncanakan
2. Beri pujian atas keberhasialannya.

3. diskuiskan kemungkinan pelaksanaan dirumah

6. TUK VI : klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada

a. Kriteria evalusia

1. Keluarga beri dukungan dan pujian

2. Keluarga memahami jadwal harian klien

b. Intervensi

1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat

klien harga diri rendah

2. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat

3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan dirumah


DAFTAR PUSTAKA

Bagian Keperawatan Kumunitas FIK UI (2000), kumpulan proses keperawatan :

Makalah Keperawatan Jiwa. Jakarta Tidak Dipublikasikan.

Kaplan, MSI Sadokk, MD (2000) sinopsi, psikiatrik, Edisi 7: Jakarta : Binapura

Aksora.

Keliat. B. A. 2006. Modul MPKP Jiwa UI . Jakarta : Egc.

Keliat. B. A. 2006. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.

Stuart, Gall Wiscartt, 2002. Buku Saku Keperawatan Jiwa, edisi 3. EGC. Jakarta.
SP 1 Klien HDR

Orientasi
“Selamat pagi! Bagaimana keadaan T hari ini? T terlihat segar”

”Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang kemampuan dan kegiatan yang


pernah T lakukan? Setelah itu kita akan nilai kegiatan mana yang masih dapat T
lakukan di Rumah Sakit. Setelah itu kita nilai, kita akan pilih satu kegiatan untuk
kita latih.”

”Dimana kita duduk? Bagaimana kalau di ruang tamu? Berapa lama? Bagaimana
kalau 20 menit?

Kerja
”T, apa saja kemampuan yang T miliki? Bagus, apa lagi? Saya buat daftarnya ya!
Apa pula kegiatan rumah tangga yang biasa T lakukan? Bagaimana dengan
merapikan kamar? Menyapu? Mencuci piring dan seterusnya. Wah bagus sekali
ada lima kemampuan dan kegiatan yang T miliki!”

”T, dari kelima kegiatan/kemampuan ini, yang masih dapat dikerjakan di rumah
sakit? (mis. Ada tiga yang masih dapat dilakukan). Bagus sekali ada tiga kegiatan
yang masih bisa dikerjakan di rumah sakit ini!”

”Sekarang, coba T pilih satu kegiatan yang masih bisa dikerjakan di rumah sakit
ini. Baik, yang nomor satu, merapikan tempat tidur? Kalau begitu, bagaimana
kalau sekarang kita latihan merapikan tempat tidur T. Mari kita lihhat tempat tidur
T! Coba lihat, sudah rapikah tempat tidurnya?”

”Nah, kalau kita mau merapikan tempat tidur, mari kita pindahkan dulu bantal dan
selimutnya. Bagus! Sekarang kita angkat spreinya, dan kasurnya kita balik. Nah
sekarang kita pasang lagi seprainya, kita mulai dari arah atas, ya bagus! Sekarang
sebelah kaki, tarik dan masukkan, lalu sebelah pinggir masukkan. Sekarang ambil
bantal, rapikan dan letakkan di sebeah atas/kepala. Mari kita lipat selimut!
Bagus!”

”T sudah bisa merapikan tempat tidur dengan baik sekali. Coba perhatikan
bedakan dengan sebelum dirapikan! Bagus!”

”Coba T lakukan dan jangan lupa memberi tanda di kertas daftar kegiatan, tulis M
(mandiri) kalau T lakukan tanpa disuruh, tulis B (bantuan) kalau T melakukan
dengan dibantu, dan tulis T (tidak) kalau T tidak melakukan (perawat memberi
kertas berisi daftar kegiatan harian)”

Terminasi
”Bagaimana perasaan T setelah kita bercakap-cakap dan latihan merapikan tempat
tidur?. Ya, T ternyata banyak memiliki kemampuan yang dapat dilakukan di
rumah sakit ini. Salah satunya, merapikan tempat tidur, yang sudah T praktikkan
dengan baik sekali. Nah, kemampuan ini dapat dilakukan juga di rumah setelah
pulang. Sekarang, mari kita masukkan pada jadwal harian. T mau berapa kali
sehari merapikan tempat tidur. Bagus, dua kali yaitu pagi jam berapa? Lalu
sehabis istirahat, jam 4 sore”
”Besok pagi kita latihan lagi kemampuan yang kedua. T masih ingat kegiatan
pada lagi yang mampu dilakukan di rumah sakit selain merapikan tempat tidur?
Ya bagus, cuci piring.....kalau begitu kita akan latihan mencuci piring besok jam 8
pagi di dapur ruangan ini sehabis makan pagi. Sampai jumpa ya!”

SP 1 Keluarga pasien HDR


Orientasi
”Selamat pagi! Bagaimana keadaan Bapak/Ibu pagi ini?”
”Bagaimana kalau pagi ini kita bercakap-cakap tentang cara merawat T? Berapa
lama? Bagaimana kalau tiga puluh menit? Baik, mari duduk di ruangan
wawancara!”

Kerja
“Apa yang Bapak/Ibu ketahui tentang masalah T?”

“Ya memang, benar sekali Pak/Bu, T itu memang terlihat tidak percaya diri dan
sering menyalahkan dirinya adalah orang paling bodoh sedunia. Dengan kata lain,
anak Bapak/Ibu mengalami masalah harga diri rendah yang ditandai dengan
munculnya pikiran-pikiran yang selalu negatif terhadap diri sendiri. Jika
keadaannya terus menerus seperti itu, T dapat mengalami masalah yang lebih
berat lagi, misalnya T jadi malu bertemu dengan orang lain dan memilih
mengurung diri.”
“Sampai di sini, Bapak/Ibu mengerti apa yang dimaksud harga diri rendah? Bagus
sekali Bapak/Ibu sudah mengerti!”

“Setelah kita mengerti bahwa masalah T dapat menjadi masalah serius, kita perlu
memberikan perawatan yang baik untuk T.”

“Bapak/Ibu, apa saja kemampuan yang dimiliki T? Ya, benar, dia juga
mengatakan hal yang sama.” (jika sama dengan kemampuan yang dikatakan oleh
T)

”T telah berlatih dua kegiatan, yaitu merapikan tempat tidur dan cuci piring. T
juga telah dibuatkan jadwal untuk kegiatan tersebut. Untuk itu, Bapak/Ibu dapat
mengingatkan T untuk melakukan kegiatan tersebut sesuai jadwal. Tolong bantu
menyiapkan alat-alatnya ya Pak/Bu. Jangan lupa memberikan pujian agar harga
dirinya meningkat. Ajak pula memberi tanda contreng pada jadwal kegiatannya.
Selain itu, jika T sudah tidak lagi dirawat di rumah sakit, Bapak/Ibu tetap perlu
memantau perkembangan T. Jika masalah harga dirinya kembali muncul dan tidak
tertangani lagi, Bapak/Ibu dapat membawa T ke Puskesmas”

”Nah bagaimana kalau sekarang kita praktikkan cara memberikan pujian kepada
T. Temui T dan tanyakan kegiatan yang sudah dia lakukan lalu berikan pujian
seperti ”Bagus sekali T, kamu sudah semakin terampil mencuci piring!”

”Coba Bapak/Ibu praktikkan sekarang.Bagus!”

Terminasi
”Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah percakapan kita ini?”

”Dapatkah Bapak/Ibu jelaskan kembali masalah yang dihadapi T dan bagaimana


cara merawatnya?”

”Bagus sekali Bapak/Ibu dapat menjelaskan dengan baik. Nah, setiap kali
Bapak/Ibu mengunjungi T lakukan seperti itu. Nanti di rumah juga demikian.”

”Bagaimana kalau kita bertemu lagi dua hari mendatang untuk latihan cara
memberi pujian langsung kepada T?”

”Pukul berapa Bapak/Ibu datang? Baik akan saya tunggu. Sampai jumpa!”