Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Pupuk merupakan nutrisi atau unsur hara yang ditambahkan kepada tanaman, dimana
tanaman kekurangan akan unsur hara. Nutrisi pupuk dapat berupa bahan organik atau non
organik ( mineral ). Pupuk berbeda dengan suplemen. Pupuk mengandung bahan bakar yang
diperlukan pertumbuhan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu
kelancaran proses metabolisme.
Pupuk dapat berupa pupuk organik dan pupuk kimia.Pupuk kimia merupakan pupuk
berasal dari bahan-bahan kimia sehingga sangat berefek negatif pada lingkungan dan
menurunkan kuantitas dari tanaman, sedangkan pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari
sisa-sisa pembusukan atau pengomposan.Pupuk organik dapat berupa kompos, pupuk hijau,
ataupun kotoran ayam.Pupuk organik biasanya berupa zat padat.Akan tetapi, pupuk organik juga
dapat berupa pupuk cair.
Pupuk organik cair adalah larutan dari pembusukan bahan-bahan organik yang berasal
dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih dari satu
unsur.Kelebihan dari pupuk organik ini adalah dapat secara cepat mengatasi defesiensi hara,
tidak masalah dalam pencucian hara, dan mampu menyediakan hara secara cepat.Salah satu
pupuk organik cair adalah MOL (Mikro Organisme Lokal).
Berdasarkan uraian diatas, pembuatan POC (Pupuk Oganik Cair) ini sengatlah penting
untuk dikembangkan bagi petani lebih lanjut, petani akan mampu membuatnya sendiri karena
mudah dalam pembuatannya serta bahan yang digunakan sangat tidak sulit disediakan,
bersumber dari bahan yang hendak dibuang/limbah/tidak bisa dikonsumsi lagi. Disisi yag sama
petani juga nantinya akanmembutuhkan pupuk cair yang bersifat organik dan murah sehingga
penggunaan pupuk kimia akan berkurang.

1.2 Tujuan dan Kegunaan


Tujuan dari praktukum ini adalah untuk mengetahui cara membuat MOL, untuk
mengetahui manfaat dan keunggulan MOL, memanfaatkan bahan-bahan yang sudah busuk,
terutama buah-buahan dan untuk mengurangi pupuk sintetis atau kimia.
Adapun kegunaan pada praktikum pembuatan MOL buah-buahan ini adalah pemanfaatan
limbah buah-buahan dimasyarakat dapat berkurang, serata dalam hal pengurangan limbah ini
juga tercipta sesuatu yang dapat bermanfaat untuk keseharian masyarakat terutama bagi yang
ingin membuat pupuk organik cair maupun pupuk organik padat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pupuk Organik Cair

Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan
sisa -sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang
digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk organik mengandung
banyak bahan organik daripada kadar haranya. Sumber bahan organik dapat berupa kompos,
pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan
sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah
kota (sampah) (Ayub.S, 2004).
Pupuk Cair Organik adalah zat penyubur tanaman yang berasal dari bahan-bahan organik
dan berwujud cair. Pupuk cair merupakan salah satu jenis proses fermentasi. Secara garis besar
prduk fermentasi dibedakan atas produk pangan, kesehatan, energi dan lingkungan. Contoh
produk makanan adalah keju, tape, kecap, tempe, oncom dan sebagainya. Produk kesehatan yang
paling dominan adalah produksi antibiotika, vitamin dan alkohol. Dalam bidang energi misalnya
produksi bioetanol, metanol, metana dan sebagainya. Dalam bidang lingkungan misalnya
kompos, biopestisida, dan sebagainya (Ayub.S, 2004).
2.2 Kelebihan dan Kekurangan POC

Pupuk organik cair memiliki mamfaat bagi tanaman yaitu Untuk menyuburkan tanaman,
Untuk menjaga stabilitas unsur hara dalam tanah, Untuk mengurangi dampak sampah organik di
lingkungan sekitar, Untuk membantu revitalisasi produktivitas tanah, Untuk meningkatkan
kualitas produk (Suriadikarta, 2006)
Adapun keunggulan dari pupuk organik cair yaitu : (a) Mudah untuk membuatnya, (b)
Murah harganya, (c) Tidak ada efek samping bagi lingkungan maupun tanaman, (d) Bisa juga
dimanfaatkan untuk mengendalikan hama pada daun (bio-control), seperti ulat pada tanaman
sayuran. (e) Aman karena tidak meninggalkan residu, pestisida organik juga tidak mencemari
lingkungan (Suriadikarta, 2006).
Kelemahan yang umum terdapat pada pupuk organik/ hayati cair, yaitu : (a) Viabilitas
(daya hidup) mikroorganisme yang dikandungnya sangat rendah, (b) Populasi mikroorganisme
kecil (< 106 cfu/mL), bahkan cenderung tidak ada/mati seiring dengan waktu, (c) Nutrisi yang
terkandung sedikit. Umumnya nutrisi yang ada berupa tambahan bahan kimia seperti pupuk NPK
dan Urea, (d) Mikroorganisme di dalamnya sangat mudah berkurang bahkan mati, (e) Tingkat
kontaminasi sangat tinggi, (f) Seringkali menghasilkan gas (kemasan rusak) dan bau tidak sedap
(busuk), (g) Tidak tahan lama (kurang dari setahun), (h) Masalah dalam transportasi dan
penyimpanan, (i) Perlu ketekunan dan kesabaran yang tinggi dalam membuatnya, (J) Hasilnya
tidak bisa diproduksi secara masal (Suriadikarta, 2006).

2.3 Kandungan Pupuk Organik Cair

Bahan baku pupuk cair yang sangat bagus yaitu bahan organic basah atau bahan organic
yang mempunyai kandungan air tinggi seperti sisa buah-buah dan sisa sayuran (wortel, labu,
sawi,selada, kulit jeruk, pisang, durian, kol). Semakin besar kandungan selulosa dari bahan
organic (C/N ratio) maka proses penguraian oleh bakteri akan semakin lama. Selain mudah
terdekomposisi, bahan ini kaya nutrisi yang dibutuhkan tanaman (Djuarni, 2006).
Sebelum membuat pupul cair EM organic yang berbahan baku sampah organic, perlu
dibuat molase dan pembiakan bakteri EM.
1. Pembuatan Molase
Molase, yaitu: sari tetes tebu (biang gula). Atau pembuatan Molase bisa juga dengan melarutkan
gula merah/putih ke dalam air bersih (tanpa kaporit) dengan perbandingan 1:1
2. Pembiakan Bakteri EM-4
Cara pembuatan:
a) Panaskan 5 lt air air sampai mendidih
b) Masukkan bekatul, molase dan terasi, aduk hingga rata
c) Dinginkan adonan tsb hingga suhu kamar
d) Setelah dingin masukkan cairan EM, aduk hingga rata.
e) Tutup rapat selama 2 hari, jangan dibuka-buka.
f) Pada hari ke-3 dan selanjutnya, penutup jangan terlalu rapat,
g) Aduk-aduk setia harinya selama ± 10 menit
h) Setelah 1 minggu, bakteri sudah dapat diambil dan disaring, masukkan ke dalam botol
i) Simpan botol di ruang sejuk dan tidak terkena sinar matahari langsung. Cairan EM siap
digunakan untuk membuat pupuk organic
j) Agar bakteri mendapat kebutuhan oksigen, tutup botol jangan terlalu rapat atau biarkan terbuka.
Kompos cair bisa diberikan kepada tanaman maupun media tanam (tanah). Akan tetapi
akan lebih efektif jika disemprotkan langsung ke daun, terutama permukaan bawahnya. Cara ini
lebih efektif karena bagian permukaan bawah daun dapat menyerap nutrisi dengan cepat dan
efektif. Karenanya, aplikasi langsung ke daun akan memberikan efek kesuburan lebih cepat
terlihat dibanding disemprotkan ke bagian lain dari tanaman. Tidak hanya itu, pemberian kompos
cair sebagai pupuk pada tanaman, juga lebih efisien. Sebab jumlah (volume) yang diberikan
cukup kecil (Djuarni, 2006).

BAB III
METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu


Praktikum pembuatan POC (Pupuk Organik Cair) ini dilaksanakan di Laboratorium
Bioteknologi, Lantai 4, Gedung PKP (Pusat Kegiatan Penelitian), Universitas Hasanuddin,
Makassar. Pada hari Sabtu, 30 Maret 2013 pukul 07.30 sampai 09.40 WITA.

3.2 Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum pembuatan POC, yaitu Ember beserta
tutupnya, blender, dan pengaduk.
Dan adapun bahan dalam percobaan ini, adalah buah pepaya, buah nenas, buah pisang
yang busuk (masing-masing 1 kg), Gula Jawa/Gula Merah sudah dicairkan (1 botol kecil aqua)
dan air 5 - 7 liter.

3.3 Langkah kerja

Adapun prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum ini yaitu:


1. Menghancurkan pisang, papaya dan sayur dengan blender.
2. Masukkan hasil yang bahan yang halus tersebut kedalam ember.
3. Mengisi air pada ember sekitar 5 - 7 liter
4. Menuangkan molases kedalam ember.
5. Mengaduk hingga homogen.
6. Menutup ember dengan rapat dan melakbannya untuk menghindari masuknya udara yang dapat
membantu penguaraian mikroba diadalam ember.
7. Membiarkan selama ± 2 minggu. Setelah itu, melakukan penyaringan, larutan siap digunakan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Hasil dari praktikum pembuatan POC yang dilaksanakan di laboratorium Bioteknologi


lantai 4 gedung PKP (Pusat Kegiatan Penelitian), Universitas Hasanuddin, Makassar, yaitu
sebagai berikut:
NO GAMBAR KETERANGAN

Buah-buahan yang telah dihaluskan


dan ditambahkan air

Menambahkan gula merah

(Molases)

Proses pengadukan

4 Mengolesi penutup ember dan mulut


ember dengan menggunakan sabun
colek untuk mencegah
mikroorganisme pengganggu.

5 Menutup ember dengan rapat dengan


tidak ada sedikitpun celah yang masuk
kedalam ember.
6

Memberi isolasi

Tabel 5: Data Primer Setelah Diolah, 2013.

4.2 Pembahasan

Dalam pembuatan pupuk organik cair ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan pupuk
kimia yang mengakibatkan pencemaran lingkungan dan tanaman menjadi rawan hama. Hal ini
sesuai dengan pendapat Djuarni (2006) yang menyatakan, dari berbagai akibat penggunaan
pupuk kimia tersebut masalah yang timbul antara lain: 1) Tanaman menjadi sangat rawan
terhadap hama, meskipun produktivitasnya tinggi namun tidak memiliki ketahanan terhadap
hama, 2) Pembodohan terhadap petani yang diindikasikan dengan hilangnya pengetahuan lokal
dalam mengelola lahan pertanian dan ketergantungan petani terhadap paket teknologi pertanian
produk industri.
Pupuk organik adalah salah satu bahan yang dapt memperbaiki tingkat kesuburan tanah.
Hal ini sesuai denga pendapat Rohendi (2005) yang menyatakan, pupuk organik merupakan
salah satu bahan yang sangat penting dalam upaya memperbaiki kesuburan tanah secara aman,
dalam arti produk pertanian yang dihasilkan terbebas dari bahan-bahan kimia yang berbahaya
bagi kesehatan manusia sehingga aman dikonsumsi.
Pemberian bioaktivator yang diberikan ke air rendaman dengan perbandingan sekitar 200
ml bioaktivator dicampur dengan 5 liter air rendaman. Bioaktivator berfungsi untuk
mempercepat proses penguraiaan bahan-bahan pembuat pupuk. Bioaktivator yang digunakan
terdiri dari beberapa jenis-jenis mikroba, baik yang berasal dari cendawan, maupun yang berasal
dari bakteri. Biokativator yang digunakan terdiri dari bakteri yang berfungsi mempercepat
penguraian, dan mikroba yang berfungsi sebagai musuh alami terhadap OPT, atau bahkan
mikroba yang berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan tanaman karena dapat mennghasilkan
hormon pertumbuhan.
Pemberian molases (gula merah yang telah dicairkna), pemberian ini sekitar 200ml,
diberikan kedalam larutan pertama. Fungsi dari larutan molases ini sebagai makanan awal bagi
mikroba yang akan bekerja menguraikan bahan-bahan yang akan dibuat pupuk organik cair.
Gambar 3 dan 4 memperlihatkan perlakuan bahan-bahan pupuk organik setelah diberikan
bioaktivator dan tetes tebu, kemudian diaduk. Bahan-bahan yang dibuat pupuk kemudian
direndam kedalam larutan tersebut. Hal ini didukung oleh pendapat Parnata, Ayub.S, (2004),
bahwa Kondisi atau faktor-faktor pengomposan dibuat seoptimum mungkin. Sebagai contoh,
rasio C/N yang optimum adalah 25-35:1.
Untuk membuat kondisi ini bahan-bahan yang mengandung rasio C/N tinggi dicampur
dengan bahan yang mengandung rasio C/N rendah, seperti kotoran ternak. Ukuran bahan yang
besar-besar dicacah sehingga ukurannya cukup kecil dan ideal untuk proses pembuatan POC
(Ayub.S, 2004).

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan hasil diatas, maka dapat ditarik kesimpulan, yaitu sebagai
berikut:
1) Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -
sisa tanaman, hewan, dan manusia.
2) Pupuk Cair Organik adalah zat penyubur tanaman yang berasal dari bahan-bahan organik dan
berwujud cair.
3) Pupuk organik cair memiliki mamfaat bagi tanaman yaitu Untuk menyuburkan tanaman, Untuk
menjaga stabilitas unsur hara dalam tanah, Untuk mengurangi dampak sampah organik di
lingkungan sekitar, Untuk membantu revitalisasi produktivitas tanah, Untuk meningkatkan
kualitas produk

5.2 Saran
Saran saya terhadap praktikum yang telah dilakukan ini, yaitu sebaiknya dilakukan
prosedur kerja yang sesuai dengan prosedur yang sebenarnya. Dalam pembuatan POC ini
sebaiknya di lakukan pemberian sumber-sumber POC itu sendiri supaya proses penguraian dari
bahan-bahan yang digunakan cepat dalam penguraiannya, serta untuk menghindari kegagalan
dalam praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Djuarni, Nan.Ir, M.Sc., Kristian.,Setiawan,Budi Susilo.2006. Cara Cepat Membuat Kompos.


Jakarta:AgroMedia.Hal 36-38
Parnata, Ayub.S. 2004. Pupuk Organik Cair. Jakarta:PT Agromedia Pustaka. Hal 15-18.
Rohendi, E. 2005. Lokakarya Sehari Pengelolaan Sampah Pasar DKI Jakarta, sebuah prosiding. Bogor,
17 Februari 2005.
Suriadikarta, Didi Ardi., Simanungkalit, R.D.M. (2006).Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Jawa
Barat:Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Hal 2.
Sutanto, Rachman. (2002). Pertanian organik: Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan.
Jakarta:Kanisius.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pertanian adalah segala kegiatan yang berhubungan dengan bercocok tanam atau kegiatan
olah – mengolah lahan untuk menanam komoditas tertentu untuk kebutuhan pangan. Dalam
kegiatan pertanian sangat dibutuhkan keseimbangan dari beberapa faktor yang menopang
pertanian tersebut. Indonesia sebagai negara yang memiliki tanah yang sangat subur sangatlah
berpotensi untuk dijadikan sebagai negara yang maju dengan pertaniannya. Namun, belakangan
kondisi yang ada di sekitar kita malah menunjukkan hal yang berbanding terbalik. Komponen –
komponen pendukung terciptanya sistem pengolahan pertanian untuk meningkatkan kualitas dan
kuantitas hasil pertanian tidak berjalan seimbang sehingga menciptakan kondisi pertanian yang
cenderung memperihatinkan.
Salah satu komponen penting dalam kegiatan pertanian adalah pengolahan pertanian
tersebut, meliputi pengolahan tanah dan tanamannya. Dalam pengolahan pertanian, sesuatu yang
tidak bisa dilepaskan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian itu adalah pupuk
dan pemupukan.
Dalam kurun waktu yang relatif lama petani kita seringkali menggunakan pupuk
anorganik dan menggunakan pestisida untuk meningkatkan hasil pertanian mereka. Namun hasil
pemberian pupuk anorganik secara terus menerus oleh petani tersebut sekarang sudah
menunjukkan dampak – dampak yang sangat nyata. Rusaknya lingkungan dan sifat fisik tanah
pertanian sebagian besar diakibatkan oleh penggunaan pupuk anorganik yang tidak ramah
lingkungan. Penggunaan pupuk dan pestisida sintetis terus-menerus tanpa diimbangi dengan
penggunan pupuk organik akan berdampak pada kesuburan tanah baik secara fisik, kimia dan
biologi. Kesuburan tanah secara biologis sangat memegang peranan penting dalam pertanian.
Tanah berfungsi sebagai ”dapur” alami tanaman, sedangkan mikroorganisme dan
makroorganisme tanah sebagai ”koki”-nya. Jika penggunaan pupuk anorganik terus menerus
dilakukan, maka mikroorganisme yang berperan dalam penyuburan tanah akan musnah.
Oleh karena itu, untuk mengurangi kerusakan lahan pertanian akibat pemakaian pupuk
anorganik oleh petani, tim mahasiswa dalam hal ini memberikan solusi dan penawaran kepada
petani untuk menggunakan pupuk organik yang kaya unsur hara esensial yang dibutuhkan
tanaman pertanian dan ramah lingkungan karena mengandung bahan – bahan organik yang baik
untuk menjaga kondisi fisik tanah di lahan pertanian. Pupuk yang ditawarkan adalah “Pupuk
Organik Cair”
Pupuk organik yang diaplikasikan melalui daun, diduga lebih efektif karena langsung diserap
oleh tanaman dengan sedikit kehilangan dibandingkan aplikasi melalui tanah. Aplikasi pupuk cair
organik yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik maka diduga dapat memberikan kecukupan
hara yang lebih baik. Oleh karena itu diperlukan penelitian untuk mengetahui pengaruh kombinasi
pupuk organik dengan pupuk anorganik baik padat maupun cair.
Pada penelitian ini diteliti kombinasi pemberian berbagai dosis pupuk anorganik dengan pupuk
organik yang berupa pupuk kandang kambing serta dilakukan split dengan pemberian pupuk organik
cair.
Pupuk organik cair berbeda dengan pupuk organik padat yang dapat diperoleh dari alam
karena pupuk ini harus dibuat sendiri. Bahan pembuatannya berasal dari bahan organik yang
dihancurkan dan difermentasikan dalam air selama beberapa waktu.
Pupuk organik cair merupakan larutan mudah larut berisi satu atau lebih pembawa unsur
yang dibutuhkan oleh tanaman (Hadisuwito, 2007). Pembuatan formula cairan tersebut untuk
mengatasi beberapa kendala yang diakibatkan oleh pupuk padat yang diberikan melalui akar.
Kendala tersebut yaitu pupuk padat kurang efektif karena penyerapan hara melalui akar banyak
dipengaruhi oleh kondisi media tumbuh. Selain itu pupuk padat kurang cepat bereaksi untuk
memperbaiki kekurangan hara tanaman, mudah mengalami pencucian, serta kurang dapat
memenuhi kebutuhan hara. Sebaliknya, penggunaan pupuk bentuk cair dapat secara cepat
mengatasi defisiensi hara, dan mampu menyediakan hara secara cepat (Lingga dan Marsono,
2007). Menurut Hadisuwito (2007), pemberian pupuk cair dapat lebih merata dan kepekatannya
dapat diatur sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Pupuk cair yang digunakan merupakan hasil fermentasi , bahan organic kulit udang dan bulu
ayam. Bermanfaat untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, meningkatkan produksi,
memperbaiki mutu hasil, memperpanjag daya simpan, dan meningkatkan daya tahan tanaman
terhadap penyakit. Cocok untuk tanaman buah-buahan, sayuran, bunga, dan tanaman hias,
tanaman perkebunan baik pembibitan, tanaman muda maupun tanaman dewasa.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pupuk organik cair?
2. Bagaimana proses pembuatan pupuk organik cair?
3. Apa manfaaat dari pengunaan pupuk organik cair bagi tumbuhan?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu pupuk organik cair
2. Untk mengetahui proses pembuatan pupuk organik cair
3. Unt mengetahui manfaat dari penggunaan pupuk organik cair bagi tumbuhan

D. KEGUNAAN PENELITIAN
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Pupuk organik cair dapat di gunakan sebagai media tanam
2. Meningkatkan kualitas dan kuantitas tanaman
3. Mampu menekan biaya produksi untuk petani dan untuk mahasiswa karena bahan baku Kascing
bersifat mudah diperbaharui dan berkelanjutan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pupuk Cair Organik

Pupuk organik merupakan pupuk dengan bahan dasar yang diambil dari alam dengan
jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung secara alami. Dapat dikatakan bahwa pupuk
organik merupakan salah satu bahan yang sangat penting dalam upaya memperbaiki kesuburan
tanah. Bahkan penggunaan pupuk organik tidak akan meninggalkan residu pada hasil tanaman
sehingga aman bagi kesehatan manusia pupuk organik (Musnamar, 2007).

Dapat dikatakan bahwa pupuk organik merupakan salah satu bahan yang sangat penting
dalam upaya memperbaiki kesuburan tanah secara aman, dalam arti produk pertanian yang
dihasilkan terbebas dari bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia sehingga
aman dikonsumsi.

Berdasarkan bentuknya, pupuk organik dibagi menjadi dua, yakni pupuk cair dan padat.
Pupuk organik cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahan – bahan organik yang berasal
dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih dari satu
unsur. Sedangkan pupuk organik padat adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri
atas bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan kotoran manusia yang
berbentuk padat (Hadisuwito, 2007).

Kelebihan dari pupuk cair organik adalah dapat secara cepat mengatasi defesiensi hara,
tidak bermasalah dalam pencucian hara dan mampu menyediakan hara secara cepat.
Dibandingkan dengan pupuk cair anorganik, pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah
dan tanaman walaupun sesering mungkin digunakan. Selain itu, pupuk ini juga memiliki bahan
pengikat, sehingga larutan pupuk yang diberikan ke permukaan tanah bisa langsung digunakan
oleh tanaman.

Pupuk cair dikatakan bagus dan siap diaplikasikan jika tingkat kematangannya sempurna.
Pengomposan yang matang bisa diketahui dengan memperhatikan keadaan bentuk fisiknya,
dimana fermentasi yang berhasil ditandai dengan adanya bercak – bercak putih pada permukaan
cairan. Cairan yang dihasilkan dari proses ini akan berwarna kuning kecoklatan dengan bau yang
menyengat (Purwendro dan Nurhidayat, 2007)

Pupuk organik cair merupakan salah satu jenis pupuk yang banyak beredar di pasaran.
Pupuk organik cair kebanyakan diaplikasikan melalui daun atau disebut sebagai pupuk cair foliar
yang mengandung hara makro dan mikro esensial (N, P, K, S, Ca, Mg, B, Mo, Cu, Fe, Mn, dan
bahan organik). Pupuk organik cair selain dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi
tanah, juga membantu meningkatkan produksi tanaman, meningkatkan kualitas produk tanaman,
mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan sebagai alternatif pengganti pupuk kandang
(Sarjana Parman, 2007). Pupuk organik cair mempunyai beberapa manfaat diantaranya adalah
(Nur Fitri, Erlina Ambarwati, dan Nasih Widya, 2007) :
1) dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil akar
pada tanaman leguminosae sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis tanaman dan
penyerapan nitrogen dari udara.
2) dapat meningkatkan vigor tanaman sehingga tanaman menjadi kokoh dan kuat, meningkatkan
daya tahan tanaman terhadap kekeringan, cekaman cuaca dan serangan patogen penyebab
penyakit.
3) merangsang pertumbuhan cabang produksi.
4) meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah, serta
5) mengurangi gugurnya daun, bunga dan bakal buah.
Pemberian pupuk organik cair harus memperhatikan konsentrasi atau dosis yang
diaplikasikan terhadap tanaman. Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa
pemberian pupuk organik cair melalui daun memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman yang
lebih baik daripada pemberian melalui tanah. Semakin tinggi dosis pupuk yang diberikan maka
kandungan unsur hara yang diterima oleh tanaman akan semakin tinggi, begitu pula dengan
semakin seringnya frekuensi aplikasi pupuk daun yang dilakukan pada tanaman, maka
kandungan unsur hara juga semakin tinggi. Namun, pemberian dengan dosis yang berlebihan
justru akan mengakibatkan timbulnya gejala kelayuan pada tanaman Oleh karena itu, pemilihan
dosis yang tepat perlu diketahui oleh para peneliti maupun petani dan hal ini dapat diperoleh
melalui pengujian-pengujian di lapangan (Abdul Rahmi Dan Jumiati, 2007).
Pupuk sangat dibutuhkan oleh banyak orang untuk menambah unsur hara bagi
pertumbuhan tanaman. Anjuran penggunaan pupuk ataupun bahan lain yang sifatnya organic
dimaksudkan untuk mengurangi masalah yang sekarang timbul akibat dipakainya bahanbahan
kimia yang telah terbukti merusak tanah dan lingkungan.Seperti penggunaan pupuk akan
berakibat merusak tanah. Penggunaan insektisida dan pestisida kimia dalam predator, hama dan
penyakit juga merusak lingkungan yang keduanya berpengaruh terhadap system pertanian.

Dari strukturnya pupuk organic yang beredar sekarang,ada yang berupa padat dan ada
pupuk organic cair. Pupuk organic padat biasnaya dibuat dengan cara pengomposan.
Pengomposan secara alami terjadi, namun dalam menyediakan kompos secara cepat dapat
dilakukan dengan cara pengomposan menggunakan mikroba terepilih yang berhasil diisolasi
dari tanah. Inokulum mikroba terpoikih tersebut sekarang tealh banyak dijual di toko-toko
pertanian sperti StarDec, Orga Simba, EM Lestari,EM4,StarBio dsb. Terdapat 17 unsur hara
yang sangat diperlukan oleh tanaman, 7 macam unsur diantaranya dibutuhkan dalam jumlah
kecil sehingga disebut sebagai unsur mikro.Unsurunsur mikro tesebut yaitu seng, tembaga,
boron,molibdenium,kobalt dan khlor. Peran unsurunsur mikro adalah terkait dengan proses
metabolisme Contoh : tembaga, berkaitan dengan proses respirasi , zat besi dan boron
mendukung proses absorbsi air dan translokasi gula dan besi berperan dalam pembentukan
khlorofil dan sintesis protein. Dengan demikian unsurunsur mikro tersebut sangat besar perannya
dalam kelangsungan hidup tanaman.
Pupuk organik umumnya dihasilkan dari proses pengomposan sehingga sering disebut
juga dengan kompos. Pengomposan merupakan proses dimana bahan-bahan organik mengalami
penguraian secara biologis , khususnya oleh mikroba-mikroba yang dapat memanfaatkan bahan
organic sebagai sumber energy.Menurut J.H.Crawford (2003),kompos
adalah hasil penguraian tidak lengkap dan dapat dipercepat secara artificial oleh populasi
berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau an
aerobik (dalam Nyoman P. Aryantha.dkk,2010) Membuat kompos perlu mengatur dan
mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat.Hal ini dapat
dilakukan dengan membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air
secukupnya,mengatur aerasi, dan penambahan aktivator
2. Kompos

Kompos atau humus adalah sisa-sisa mahluk hidup yang telah mengalami pelapukan,
bentuknya sudah berubah seperti tanah dan tidak berbau. Kompos memiliki kandungan hara
NPK yang lengkap meskipun persentasenya kecil. Kompos juga mengandung senyawa-senyawa
lain yang sangat bermanfaat bagi tanaman. Kompos ibarat multivitamin bagi tanah dan tanaman.
Kompos memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Kompos akan mengembalikan kesuburan
tanah. Tanah keras akan menjadi lebih gembur. Tanah miskin akan menjadi subur. Tanah masam
akan menjadi lebih netral. Tanaman yang diberi kompos tumbuh lebih subur dan kualitas
panennya lebih baik dari pada tanaman tanpa kompos.

Pada prinsipnya semua bahan yang berasal dari makhluk hidup atau bahan organik dapat
dikomposkan. Seresah, daun-daunan, pangkasan rumput, ranting, dan sisa kayu dapat
dikomposkan. Kotoran ternak, binatang, bahkan kotoran manusia bisa dikomposkan. Kompos
dari kotoran ternak lebih dikenal dengan istilah pupuk kandang. Sisa makanan dan bangkai
binatang bisa juga menjadi kompos. Ada bahan yang mudah dikomposkan, ada bahan yang agak
mudah, dan ada yang sulit dikomposkan. Sebagian besar bahan organik mudah dikomposkan.
Bahan yang agak mudah dikomposkan antara lain: kayu keras, batang, dan bambu. Bahan yang
sulit dikomposkan antara lain adalah kayu-kayu yang sangat keras, tulang, rambut, tanduk, dan
bulu binatang (Isroi, 2008).

3. Prinsip Pengomposan

Prinsip pengomposan adalah menurunkan C/N rasio bahan organik sehingga sama
dengan tanah (<20). Dengan semakin tingginya C/N bahan maka proses pengomposan akan
semakin lama karena C/N harus diturunkan. Didalam perendaman bahan-bahan organik pada
pembuatan kompos cair terjadi aneka perubahan hayati yang dilakukan oleh jasad renik.
Perubahan hayati yang penting yaitu sebagai berikut :
1. Penguraian hidrat arang, selulosa, hemiselulosa.

2. Penguraian zat lemak dan lilin menjadi CO2 dan air

3. Terjadi peningkatan beberapa jenis unsur di dalam tubuh jasad renik terutama nitrogen (N),
fosfor (P) dan kalium (K). Unsur-unsur tersebut akan terlepas kembali bila jasad-jasad renik
tersebut mati.

4. Pembebasan unsur-unsur hara dari senyawa-senyawa organik menjadi senyawa anorganik yang
berguna bagi tanaman.

Akibat perubahan tersebut, berat, isi bahan kompos tersebut menjadi sangat berkurang.
Sebagian senyawa arang hilang, menguap ke udara. Kadar senyawa N yang larut (amoniak) akan
meningkat. Peningkatan ini tergantung pada perbandingan C/N bahan asal. Perbandingan C/N
akan semakin kecil berarti bahan tersebut mendekati C/N tanah. Idealnya C/N bahan sedikit lebih
rendah dibanding C/N tanah (Murbondo, 2004).

Dalam proses pengomposan, 2/3 dari karbon digunakan sebagai sumber energi bagi
pertumbuhan mikroorganisme, dan 1/3 lainnya untuk membentuk sel bakteri. Perbandingan C
dan N awal yang baik dalam bahan yang dikomposkan adalah 25-30 ( satuan berat n kering ),
sedangkan C/N di akhir proses adalah 12-20. Pada rasio yang lebih rendah, amonia akan
dihasilkan dan aktivitas biologi akan terhambat. Harga C/N tanah adalah 10-20, sehingga bahan
– bahan yang mempunyai nilai C/N mendekati C/N tanah dapat langsung digunakan (Damanhuri
dan Padmi, 2007).
Kecepatan suatu bahan menjadi kompos dipengaruhi oleh kandungan C/N, semakin
mendekati C/N tanah maka bahan tersebut akan semakin lebih cepat menjadi kompos. Tanah
pertanian yang baik mengandung unsur C dan N yang seimbang. Setiap bahan organik
mempunyai kandungan C/N yang berbeda.

Dalam proses pengomposan terjadi perubahan seperti 1) karbohidrat, selulosa,


hemiselulosa, lemak dan lilin menjadi CO2 dan air, 2) zat putih telur menjadi amonia, CO2 dan

air, 3) penguraian senyawa organik menjadi senyawa yang dapat diserap tanaman. Dengan
perubahan tersebut, kadar karbohidrat akan hilang atau turun dan senyawa N yang larut (amonia)
meningkat. Dengan demikian, C/N semakin rendah dan relatif stabil mendekati C/N tanah
(Indriani, 2004).

4. Pengomposan Anaerobik

Proses pengomposan anerobik berjalan tanpa adanya oksigen. Biasanya, proses ini
dilakukan dalam wadah tertutup sehingga tidak ada udara yang masuk (hampa udara). Proses
pengomposan ini melibatkan mikroorganisme anaerob untuk membantu mendekomposisikan
bahan yang dikomposkan. Bahan baku
yang dikomposkan secara anaerob biasanya berupa bahan organik yang berkadar air tinggi.

Pengomposan anaerobik akan menghasilkan gas metan (CH4), karbondioksida (CO2), dan

asam organik yang memiliki bobot molekul rendah seperti asam asetat, asam propionat, asam
butirat, asam laktat, dan asam suksinat. Gas metan bisa dimanfaatkan menjadi bahan bakar
alternatif (biogas). Sisanya berupa lumpur yang mengandung bagian padatan dan cairan. Bagian
padat ini yang disebut kompos padat dan yang cair yang disebut kompos cair (Simamora dan
Salundik, 2006).

5. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengomposan

Pembuatan kompos dipengaruhi oleh beberapa faktor :


 Nilai C/N Bahan
Semakin besar nilai C/N bahan maka proses penguraian oleh bakteri akan semakin lama.
Proses pembuatan kompos akan menurunkan C/N rasio sehingga menjadi 12-20.

 Ukuran Bahan
Bahan yang berukuran lebih kecil akan lebih cepat proses pengomposannya karena
semakin luas bahan yang tersentuh bakteri.

 Komposisi Bahan
Pengomposan dari beberapa macam bahan akan lebih baik dan lebih cepat. Pengomposan
bahan organik dari tanaman akan lebih cepat bila ditambah dengan kotoran hewan.
 Jumlah Mikroorganisme
Dengan semakin banyaknya jumlah mikroorganisme maka proses pengomposan
diharapkan akan semakin cepat. Jumlah mikroorganisme fermentasi didalam EM4 sangat
banyak, sekitar 80 genus. Mikroorganisme tersebut dipilih yang dapat bekerja efektif dalam
memfermentasikan bahan organik. Dari sekian banyak mikroorganisme ada lima golongan yang
pokok yaitu, bakteri fotosintesis, lactobasilius sp, aspergillus sp, ragi (yeast), actinomycetes.

 Kelembaban
Umumnya mikroorganisme tersebut dapat bekerja dengan kelembaban sekitar 40-60%.
Kondisi tersebut perlu dijaga agar mikroorganisme dapat bekerja secara optimal. Kelembaban
yang lebih rendah atau lebih tinggi akan menyebabkan mikroorganisme tidak berkembang atau
mati.

 Suhu
Faktor suhu sangat berpengaruh terhadap proses pengomposan karena berhubungan
0
dengan jenis mikroorganisme yang terlibat. Suhu optimum bagi pengomposan adalah 40-60 C.
Bila suhu terlalu tinggi mikroorganisme akan mati. Bila suhu relatif rendah mikroorganisme
belum dapat bekerja atau dalam keadaan dorman.
 Keasaman (pH)
Jika bahan yang dikomposkan terlalu asam, pH dapat dinaikkan dengan cara
menambahkan kapur. Sebaliknya, jika nilai pH tinggi (basa) bisa diturunkan dengan
menambahkan bahan yang bereaksi asam (mengandung nitrogen) seperti urea atau kotoran
hewan (Indriani, 2004).

6. Perbandingan C/N

Rasio C/N adalah perbandingan kadar karbon (C) dan kadar nitrogen (N) dalam satuan
bahan. Semua makhluk hidup terbuat dari sejumlah besar bahan karbon (C) serta nitrogen (N)
dalam jumlah kecil (Yuwono, 2005).

Perbandingan C/N bahan organik (bahan baku kompos) merupakan faktor terpenting dalam laju
pengomposan. Proses pengomposan akan berjalan dengan baik jika perbandingan C/N bahan
organik yang dikomposkan sekitar 25-35 (Simamora dan Salundik, 2006).

Bahan organik yang mempunyai C/N yang tinggi berarti masih mentah. Kompos yang
belum matang (C/N tinggi) dianggap merugikan bila langsung diberikan ke dalam tanah. Sebab
bahan tersebut akan diserang oleh mikroba untuk memperoleh energi (Yuwono, 2005).

7. pH

Kisaran pH kompos yang optimal adalah 6,0-8,0, derajat keasaman bahan pada
permulaan pengomposan pada umumnya asam sampai netral (pH 6,0 - 7,0). Derajat keasaman
pada awal proses pengomposan akan mengalami penurunan karena sejumlah mikroorganisme
yang terlibat dalam pengomposan mengubah bahan organik menjadi asam organik . Pada proses
selanjutnya, mikroorganisme dari jenis yang lain akan mengkonversi asam organik yang telah
terbentuk sehingga derajat keasaman yang tinggi dan mendekati netral (Djuarnani, dkk., 2005).

8. EM4

Teknologi EM (Effective Mikroorganism) dapat digunakan dalam bidang pertanian,


peternakan, perikanan, lingkungan, kesehatan dan industri. Meski sudah banyak kalangan
masyarakat yang menggunakan tapi tidak banyak yang tahu tentang EM, komposisi kandungan,
fungsi dan jenis-jenis EM.

EM merupakan campuran dari mikroorganisme bermanfaat yang terdiri dari lima


kelompok, 10 Genius 80 Spesies dan setelah di lahan menjadi 125 Spesies. EM berupa larutan
coklat dengan pH 3,5-4,0. Terdiri dari mikroorganisme Aerob dan anaerob. Meski berbeda,
dalam tanah memberikan multiple efect yang secara dramatis meningkatkan mikro flora tanah.
Bahan terlarut seperti asam amino, sacharida, alkohol dapat diserap langsung oleh akar tanaman.

Kandungan EM terdiri dari bakteri fotosintetik, bakteri asam laktat, actinomicetes, ragi
dan jamur fermentasi. Bakteri fotosintetik membentuk zat-zat bermanfaat yang menghasilkan
asam amino, asam nukleat dan zat-zat bioaktif yang berasal dari gas berbahaya dan berfungsi
untuk mengikat nitrogen dari udara. Bakteri asam laktat berfungsi untuk fermentasi bahan
organik jadi asam laktat, percepat perombakan bahan organik, lignin dan cellulose, dan menekan
pathogen dengan asam laktat yang dihasilkan.

Actinomicetes menghasilkan zat anti mikroba dari asam amino yang dihasilkan bakteri
fotosintetik. Ragi menghasilkan zat anti biotik, menghasilkan enzim dan hormon, sekresi ragi
menjadi substrat untuk mikroorganisme effektif bakteri asam laktat actinomicetes. Cendawan
fermentasi mampu mengurai bahan organik secara cepat yang menghasilkan alkohol ester anti
mikroba, menghilangkan bau busuk, mencegah serangga dan ulat merugikan dengan
menghilangkan pakan.

Fungsi EM untuk mengaktifkan bakteri pelarut, meningkatkan kandungan humus


tanahlactobonillus sehingga mampu memfermentasikan bahan organik menjadi asam amino. Bila
disemprotkan di daun mampu meningkatkan jumlah klorofil, fotosintesis meningkat dan percepat
kematangan buah dan mengurangi buah busuk. Juga berfungsi untuk mengikat nitrogen dari
udara, menghasilkan senyawa yang berfunsi antioksidan, menekan bau limbah, menggemburkan
tanah, meningkatkan daya dukung lahan, meningkatkan cita rasa produksi pangan, perpanjang
daya simpan produksi pertanian, meningkatkan kualitas daging, meningkatkan kualitas air dan
mengurangi molaritas Benur.

EM4 terdiri dari 95% lactobacillus yang berfungsi menguraikan bahan organik tanpa
menimbulkan panas tinggi karena mikroorganisme anaerob bekerja dengan kekuatan enzim.

BAB III
METODE PELAKSANAAN PENELITIAN

Metode yang diaplikasikan dalam kegiatan penelitian ini, meliputi lokasi, waktu kegiatan
dan bentuk kegiatan.
1. Kegiatan penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan dalam pembuatan pupuk organik
2. Lokasi Kegiatan
Kegiatan akan dilakukan di sekitar tempat tinggal salah seorang mahasiswa yang bersangkutan
dalam pembuatan pupuk organik
3. Waktu Kegiatan
Waktu kegiatan dalam penelitian ini direncanakan akan dilakukan dalam satu bulan dimulai dari
tahap persiapan, pelaksanaan dan penyusunan laporan kegiatan.

Metode pembuatan Pupuk Organik Cair


1. Pupuk kandang dihaluskan
2. Gula pasir – EM-4 – Terasi dilarutkan dalam air
3. Campuran pupuk kandang, larutan gula dan terasi dimasukkan ke dalam drum plastik
kemudian ditambahkan air bersih .
4. Drum ditutup rapat. Setiap hari dibuka dan diaduk selama 15 menit.
5. Pupuk Organik cair akan siap digunakan setelah 5 – 7 hari.

Tahap Pendampingan
Pendampingan mulai dari awal kegiatan selama proses kegiatan berlangsung sampai akhir
kegiatan.
BAB IV
DESKRIPSI WILAYAH
Tempat pembuatan pupuk organik cair ini di lakukan di kota binjai di salah satu rumah
anggota kelompok penelitian yaitu di Jalan Durung No 167, Medan.
Kota Medan memiliki luas 26.510 hektar (265,10 km²) atau 3,6% dari keseluruhan
wilayah Sumatera Utara. Dengan demikian, dibandingkan dengan kota/kabupaten lainya, Medan
memiliki luas wilayah yang relatif kecil dengan jumlah penduduk yang relatif besar. Secara
geografis kota Medan terletak pada 3° 30' – 3° 43' Lintang Utara dan 98° 35' - 98° 44' Bujur
Timur. Untuk itu topografi kota Medan cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian
2,5 - 37,5 meter di atas permukaan laut.

Secara administratif, batas wilayah Medan adalah sebagai berikut:

Utara berbatasan dengan Selat Malaka

Selatan berbatasan dengan kabupaten Deli Serdang

Barat berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang

Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang


BAB V
METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan


Pembuatan pupuk Organik Cair dilakukan di rumah salah satu anggota yang bernama
Rahmawati di Jl. Durung No 167 Pancing, Medan pada tanggal 12 Maret 2013.

Bahan dan Alat


Bahan – bahan yang dibutuhkan antara lain :
- Pupuk kandang 30 kg (kotoran kambing, ayam, sapi, dll)
- Hijauan daun (secukupnya)
- EM-4 1 liter
- Gula pasir 1 kg
- Terasih
- Air bersih

Alat yang digunakan:


- Karung Beras
- Alat Pengaduk
- Alat Penimbang
- Pisau
B. Tehnik pengumpulan data
Berdasarkan kepentingan data yang di realisasikan maka alat pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah studi literature yang mengumpulkan data-data dari
berbagai sumber.

C. Tehnik Analisis Data


Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Maka untuk
menarik kesimpulan dengan menggunakan penjelasan serta data yang di peroleh dari perlakuan
yaitu dengan menyajikan data dalam bentuk deskripsi lalu ditarik suatu kesimpulan topik
permasalahan secara relevan dalam penelitian dengan mengikuti aturan – aturan yang
disempurnakan berdasarkan fakta di lapangan.

BAB VI
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Data hasil penelitian:
Kode Kode Sampel N- Total P2O5 K2O Ph
Lab (%) (%) (%) (H2O)
Cx.890 Kotoran 0,81 0,18 0,83 6,31
Kerbau,Terasi,
Daunan dan EM4
Sumber : Labratorium Universitas Islam Sumatera Utara Fakultas Pertanian, 2013

B. Pembahasan
Dari hasil pembuatan organik cair yang telah di lakukan lebih kurang 1 bulan dari
penyiapan bahan sampai hasil akhir pemeriksaan ke Laboratorium, didapat hasil kandungan
pupuk organik cair seperti di atas yakni dengan Ph (H2O) 6,31 , N (%) 0,81, P2O5 0,18 , K2O
0,83.
C. Manfaat
Pupuk organik cair mempunyai beberapa manfaat diantaranya adalah (Nur Fitri, Erlina
Ambarwati, dan Nasih Widya, 2007) :
1) dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil akar
pada tanaman leguminosae sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis tanaman dan
penyerapan nitrogen dari udara.
2) dapat meningkatkan vigor tanaman sehingga tanaman menjadi kokoh dan kuat, meningkatkan
daya tahan tanaman terhadap kekeringan, cekaman cuaca dan serangan patogen penyebab
penyakit.
3) merangsang pertumbuhan cabang produksi.
4) meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah, serta
5) mengurangi gugurnya daun, bunga dan bakal buah.
D. Tanaman yang Sesuai Tumbuh
Tanaman yang sesuai tumbuh pada Ph 6,31 adalah papaya, melon, padi, stroberry, salak,
kakao, jagung, nanas, semangka, buah naga, dan lain sebagainya.

BAB VII
KESIMPULAN
1. Pembuatan pupuk organic/kompos dapat dilakukan dengan cara menambahkan aktivator
EM4.8
2. Pengmposan menggunakan EM4 memerlukan bahan yang murah, mudahdidapat.
3. Pengmposan dengan EM4 secara tepat guna juga memerlukan control
sebagaimanapengomposan yang lain yaitu suhu, kelembaban, dan ukuran partikel agar
pengomposan berlangsung dengan baik.
4. Tanaman yang sesuai tumbuh pada Ph 6,31 adalah papaya, melon, padi, stroberry, salak,
kakao, jagung, nanas, semangka, buah naga, dan lain sebagainya.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Kotoran sapi, urin dan susu dapat diolah menjadi pupuk cair, sebagai sumber nutrisi
tanaman. Kotoran sapi merupakan bahan yang baik untuk pupuk cair karena relatif tidak
terpolusi logam berat dan antibiotik. Kandungan fosfor yang rendah pada pupuk kandang dapat
dipenuhi dari sumber lain.
Penggunaan pupuk cair tidak hanya sebagai penyedia unsur hara, tetapi lebih diutamakan
untuk memperbaiki kondisi fisik tanah. Telah terbukti bahwa produk organik terutama pupuk
cair, mampu menjaga kesimbangan alam. Bahan organik seperti kompos memiliki peran penting
dalam menjaga efektivitas dan efisiensi penyerapan unsur hara dalam tanah. Tidak hanya itu,
pupuk cair dapat pula meningkatkan kapasitas tukar kation, menambah kemampuan tanah dalam
menahan air, meningkatkan aktivitas biologi dalam tanah, serta mampu meningkatkan pH pada
tanah asam. Berdasarkan beberapa di atas, maka hal inilah yang melatarbelakangi dibuatnya
makalah pada Mata Kuliah Manajemen Ternak Perah mengenai Pembuatan Pupuk cair.
Tujuan Pembuatan Pupuk Cair adalah untuk memanfaatkan limbah organik ternak
sebagai sumber daya alam yang berdaya guna tinggi (pupuk organik) dan untuk mengurangi
polusi lingkungan yang diakibatkan oleh ternak.
Adapun kegunaan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat memanfaatkan
limbah organik ternak menjadi pupuk Cair sehingga tidak dipandang sebagai sampah dan polusi
lingkungan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pupuk
Pupuk adalah suatu bahan yang bersifat organik ataupun anorganik, bila ditambahkan ke
dalam tanah ataupun tanaman dapat menambah unsur hara serta dapat memperbaiki sifat fisik,
kimia, dan biologi tanah, atau kesuburan tanah. Pupuk digolongkan menjadi dua, yakni pupuk
organik dan pupuk anorganik.

2.2 Pupuk organik


Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari sisa-sisa makhluk hidup yang diolah
melalui proses pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai. Pupuk organik mempunyai
komposisi kandungan unsur hara yang lengkap, tetapi jumlah tiap jenis unsur hara tersebut
rendah.Adapun jenis-jenis dari pupuk organik itu sendiri seperti pupuk kandang, pupuk kompos,
pupuk cair, dan sebagainya.
2.3 Pupuk cair organik
Pupuk organik cair adalah pupuk berfasa cair yang dibuat dari bahan-bahan organik
melalui proses pengomposan.
Terdapat dua macam tipe pupuk organik cair yang dibuat melalui proses pengomposan.
Pertama adalah pupuk organik cair yang dibuat dengan cara melarutkan pupuk organik yang
telah jadi atau setengah jadi ke dalam air. Jenis pupuk yang dilarutkan bisa berupa pupuk hijau,
pupuk kandang, pupuk kompos atau campuran semuanya. Pupuk organik cair semacam ini
karakteristiknya tidak jauh beda dengan pupuk organik padat, hanya saja wujudnya berupa
cairan. Dalam bahasa lebih mudah, kira-kira seperti teh yang dicelupkan ke dalam air lalu airnya
dijadikan pupuk.Pupuk cair tipe ini suspensi larutannya kurang stabil dan mudah mengendap.
Kita tidak bisa menyimpan pupuk tipe ini dalam jangka waktu lama. Setelah jadi biasanya harus
langsung digunakan. Pengaplikasiannya dilakukan dengan cara menyiramkan pupuk pada
permukaan tanah disekitar tanaman, tidak disemprotkan ke daun.
Kedua adalah pupuk organik cair yang dibuat dari bahan-bahan organik yang
difermentasikan dalam kondisi anaerob dengan bantuan organisme hidup. Bahan bakunya dari
material organik yang belum terkomposkan. Unsur hara yang terkandung dalam larutan pupuk
cair tipe ini benar-benar berbentuk cair. Jadi larutannya lebih stabil. Bila dibiarkan tidak
mengendap. Oleh karena itu, sifat dan karakteristiknya pun berbeda dengan pupuk cair yang
dibuat dari pupuk padat yang dilarutkan ke dalam air.

2.4 Kandungan Unsur Hara Pupuk Cair


Limbah ternak berupa fase dan urine mengandung nitrogen dan fosfor yang sangat tinggi.
Kandungan ini dibutuhkan oleh tumbuhan sehingga dijadikan bahan dasar pembuatan kompos .
Secara kimiawi pupuk organik yang baik mengandung beberapa unsur hara seperti
Nitrogen (N) = 1.5 – 2%, fosfor (P205) = 0,5 – 1% dan kalium (K20) = 0,5 – 1%.
Menyatakan bahwa urine ternak umumnya memiliki kandungan hara yang lebih tinggi
dibandingkan kototran padat, sehingga pada aplikasinya tidak sebanyak penggunaan pupuk
organik padat.
Unsur-unsur mineral dalam air susu yang relatif terdapat dalam konsentrasi yang cukup
tinggi yaitu Kalsium 0,112%, Phosfor 0,095%, Kalium 0,138%, Magnesium 0,013%, Natrium
0,095%, Klorin0,109%, dan Beelerang 0,01%. Unsur-unsur yang terdapat dalam konsentrasi
yang rendah yaitu Besi 3,0ppm, Siolikon2,0ppm, Tembaga 0,3ppm dan Fluorin 0,25ppm.
Sedangkan unsur-unsur mineral klumit atau ”trace-element” dalam susu adalah aluminium,
mangan, jod, boron, titanium, vanadium, lithium dan strontium . Susu sapi kaya akan mineral
Ca, P, K, Cl, dan Zn; tetapi rendah akan mineral Mg, Fe, Cu, dan Mn. Dedak yang tersedia untuk
peternak merupakan sumber P yang baik untuk ruminansia.

2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembuatan pupuk cair organik


Pembuatan pupuk organik cair dipengaruhi oleh beberapa faktor :

2.5.1 Nilai C/N Bahan


C/N berfungsi untuk meningkatkan kesuburan pada tanah. Penambahan bahan organik
dengan nisbah C/N tinggi mengakibatkan tanah mengalami perubahan imbangan C/N dengan
cepat, karena mikroorganisme tanah menyerang sisa pertanaman. C/N juga berfungsi untuk
menyeimbangkan ketersediaan nitrogen yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Apabila bahan
organik yang diberikan ke tanah mempunyai nisbah C/N tinggi, maka mikroorganisme tanah dan
tanaman akan berkompetisi memanfaatkan nitrogen dan tanaman selalu kalah disamping
karbohidrat yang dijadikan sebagai sumber energi dan pertumbuhan mikroba, ternyata juga
dibutuhkan N dan P. Bahan-bahan yang terakhir ini diasimilir menjadi bahan tubuhnya. Dengan
jalan ini protein tumbuhan dialihkan menjadi protein mikroba.
Rasio C/N yang efektif untuk proses pembuatan pupuk cair berkisar antara 30:1 hingga
40:1. Pada rasio C/N di antara 30 hingga 40, mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N
untuk sintesis protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk
sintesis protein sehingga dekomposisi lambat. Selama proses itu, rasio C/N akan terus
menurun.Pupuk cair yang langsung dapat digunakan memiliki rasio C/N nya kurang dari 20.
Perbandingan dari C/N pupuk cair dapat diperhitungkan dari berbagai senyawa yang
menyusun unsur hara tanah. Unsur har tanah rata-rata mengandung bahan-bahan sebagai berikut
:
Bahan Komposisi Kandungan C

Lignin 45% 28.80%

Protein 35% 17.50%

Karbohidrat 11% 4.84%

Lemak, Damar dan 3% 2.10%


Lilin

Tidak diketahui 6% 3.00%

TOTAL 100% 56.24%

Total kandungan karbon dalam unsur hara tanah adalah 56.24 persen. Sementara itu
Kadar N dalam protein adalah 16 persen, sedangkan unsur hara mengandung 35 persen protein,
jadi kadar N dalam unsur hara adalah 35 x 0.16 = 5.6 persen. Oleh karena itu hasil bagi C/N rata-
rata adalah 56.24 / 5.6 = 10.04 persen. Hubungan C dan N ini di dalam unsur hara berada dalam
keadaan hampir konstan, berada pada nilai antara 10 sampai 12.Oleh karena itulah nilai C/N ratio
10 - 12 ini dapat dianggap sebagai acuan dalam pembuatan pupuk. Dari hasil penelitian dan uji
coba pembuatan pupuk, telah diketahui bahwa untuk mendapatkan C/N ratio 10 – 12, maka
diperlukan campuran bahan baku dengan C/N ratio 30.

Tabel
Jenis Bahan Organik Kandungan C/N
1.
Urine ternak 0,8
Kotoran ayam 5,6
Kotoran sapi 15,8
Kotoran babi 11,4
Kotoran manusia (tinja) 6-10
Darah 3
Tepung tulang 8
Urine manusia 0,8
Eceng gondok 17,6
Jerami gandum 80-130
Jerami padi 80-130
Ampas tebu 110-120
Jerami jagung 50-60
Sesbania sp. 17,9
Serbuk gergaji 500
Sisa sayuran 11-27
Kandungan C/N dari berbagai sumber bahan organik
2.5.2 Kandungan NPK
Pupuk yang sudah matang memiliki kandungan hara kurang lebih: 1,69% N, 0,34%
P2O5, dan 2,81% K. dengan kata lain, dalam seratus liter pupuk cair setara dengan 1,69 liter
urea, 0,34 liter SP-36, dan 2,81 liter KCl.
Nitrogen (N) berperan penting dalam merangsang pertumbuhan vegetatif dari tanaman.
Selain itu N merupakan penyusun plasma sel dan berperan penting dalam pembentukan
protein.
Fosfor (P) adalah unsur hara makro kedua setelah nitrogen yang banyak dibutuhkan
tanaman untuk pertumbuhannya dan diserap tanaman dalam bentuk ion. Sumber utama fosfor
di dalam tanah berasal dari pelapukan mineral-mineral yang mengandung fosfat.
Kalium (K) adalah unsur hara makro yang banyak dibutuhkan tanaman, dan diserap
tanaman dalam bentuk ion K+. Di dalam tubuh tanaman kalium bukanlah sebagai penyusun
jaringan tanaman, tetapi lebih banyak berperan dalam proses metabolisme tanaman seperti
mengaktifkan kerja enzim, membuka dan menutup stomata, transportasi hasil-hasil
fotosintesis, dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan dan penyakit
tanaman.
2.5.3 Ukuran bahan
Bahan yang berukuran lebih kecil akan lebih cepat proses pengomposan pupuknya
karena semakin luas bahan yang tersentuh bakteri.
2.5.4 Komposisi bahan
Pembuatan pupuk cair dari beberapa macam bahan akan lebih baik dan lebih cepat.
Pembuatan pupuk bahan organik dari tanaman akan lebih cepat bila ditambah dengan kotoran
hewan.
2.5.5 Jumlah mikroorganisme
Dengan semakin banyaknya jumlah mikroorganisme maka proses pembuatan pupuk
diharapkan akan semakin cepat. Dari sekian banyak mikroorganisme ada lima golongan yang
pokok yaitu, bakteri fotosintesis, lactobasilius sp, aspergillus sp, ragi (yeast), dan
actinomycetes.

2.5.6 Kelembapan
Umumnya mikroorganisme tersebut dapat bekerja dengan kelembapan sekitar 40-60
%. Kondisi tersebut perlu dijaga agar mikroorganisme dapat bekerja secara optimal.
Kelembapan yang lebih rendah atau lebih tinggi akan menyebabkan mikrorganisme tidak
berkembang atau mati.
2.5.7 Suhu
Faktor suhu sangat berpengaruh terhadap proses pembuatan pupuk karena
berhubungan dengan jenis mikroorganisme yang terlibat. Suhu optimum untu pembuatan
pupuk adalah 40-60 0C. Bila suhu terlalu tinggi mikroorganisme akan mati. Bila suhu relatif
rendah mikroorganisme belum dapat bekerja atau dalam keadaan dorman.
2.5.8 Keasaman (pH)
Jika bahan yang dikomposkan terlalu asam, pH dapat dinaikkan dengan cara
menambahkan kapur. Sebaliknya, jika nilai pH tinggi (basa) bisa diturunkan dengan
menambahkan bahan yang bereaksi asam (mengandung nitrogen) seperti urea atau kotoran
hewan .
2.6 Sifat dan karakteristik pupuk organik cair
Pupuk organik cair tidak bisa dijadikan pupuk utama dalam bercocok tanam.
Sebaiknya gunakan pupuk organik padat sebagai pupuk utama/dasar. Pupuk organik padat
akan tersimpan lebih lama dalam media tanam dan bisa menyediakan hara untuk jangka yang
panjang. Sedangkan, nutrisi yang ada pada pupuk cair lebih rentan terbawa erosi. Namun di
sisi lain, lebih mudah dicerna oleh tanaman.
Jenis pupuk cair lebih efektif dan efesien jika diaplikasikan pada daun, bunga dan
batang dibanding pada media tanam (kecuali pada metode hidroponik). Pupuk organik cair
bisa berfungsi sebagai perangsang tumbuh. Terutama saat tanaman mulai bertunas atau saat
perubahan dari fase vegetatif ke generatif untuk merangsang pertumbuhan buah dan biji.
Daun dan batang bisa menyerap secara langsung pupuk yang diberikan melalui stomata atau
pori-pori yang ada pada permukaannya.
Pemberian pupuk organik cair lewat daun harus hati-hati. Jaga jangan sampai
overdosis, karena bisa mematikan tanaman. Pemberian pupuk daun yang berlebih juga akan
mengundang hama dan penyakit pada tanaman
Setiap tanaman mempunyai kapasitas dalam menyerap nutrisi sebagai makanannya.
Secara teoritik, tanaman hanya sanggup menyerap unsur hara yang tersedia dalam tanah tidak
lebih dari 2% per hari. Pada daun, meskipun kami belum menemukan angka persisnya, bisa
diperkirakan jumlahnya tidak lebih dari 2%. Oleh karena itu pemberian pupuk organik cair
pada daun harus diencerkan terlebih dahulu.
Karena sifatnya sebagai pupuk tambahan, pupuk organik cair sebaiknya kaya akan
unsur hara mikro. Sementara unsur hara makro dipenuhi oleh pupuk utama lewat tanah,
pupuk organik cair harus memberikan unsur hara mikro yang lebih. Untuk mendapatkan
kandungan hara mikro, bisa dipilah dari bahan baku pupuk.
2.7 Cara membuat pupuk organik cair
 Siapkan bahan-bahan berikut: 1 karung kotoran ayam, setengah karung dedak, 30 kg hijauan
(jerami, gedebong pisang, daun leguminosa), 100 gram gula merah, 50 ml bioaktivator
(EM4), air bersih secukupnya.
 Siapkan tong plastik kedap udara ukuran 100 liter sebagai media pembuatan pupuk, satu
meter selang aerotor transparan (diameter kira-kira 0,5 cm), botol plastik bekas akua ukuran 1
liter. Lubangi tutup tong seukuran selang aerotor.
 Potong atau rajang bahan-bahan organik yang akan dijadikan bahan baku. Masukkan
kedalam tong dan tambahkan air, komposisinya: 2 bagian bahan organik, 1 bagian air.
Kemudian aduk-aduk hingga merata.
 Larutkan bioaktivator seperti EM4 dan gula merah 5 liter air aduk hingga merata. Kemudian
tambahkan larutan tersebut ke dalam tong yang berisi bahan baku pupuk.
 Tutup tong dengan rapat, lalu masukan selang lewat tutup tong yang telah diberi lubang.
Rekatkan tempat selang masuk sehingga tidak ada celah udara. Biarkan ujung selang yang
lain masuk kedalam botol yang telah diberi air.
 Pastikan benar-benar rapat, karena reaksinya akan berlangsung secara anaerob. Fungsi selang
adalah untuk menyetabilkan suhu adonan dengan membuang gas yang dihasilkan tanpa harus
ada udara dari luar masuk ke dalam tong.
 Tunggu hingga 7-10 hari. Untuk mengecek tingkat kematangan, buka penutup tong cium bau
adonan. Apabila wanginya seperti wangi tape, adonan sudah matang.
 Pisahkan antara cairan dengan ampasnya dengan cara menyaringnya. Gunakan saringan kain.
Ampas adonan bisa digunakan sebagai pupuk organik padat.
 Masukkan cairan yang telah melewati penyaringan pada botol plastik atau kaca, tutup rapat.
Pupuk organik cair telah jadi dan siap digunakan. Apabila dikemas baik, pupuk bisa
digunakan sampai 6 bulan.
Tabel 2. Standar Kualitas Pupuk Organik Cair
No Parameter Satuan Min Maks
1 Kadar Air % 50 17
2 Temperatur Suhu air tanah
3 Warna kehitaman
4 Bau Berbau tanah
5 Ukuran partikel Mm 0.55 25
6 Kemampuan ikat air % 58
7 pH 6.80 7.49
8 Bahan asing % 1.5
Unsur makro
9 Bahan organik % 27 58
10 Nitrogen % 0.40
11 Karbon % 9.80 32
12 Phosphor % 0.10
13 C/N rasio 10 20
14 Kalium % 0.20
Unsur mikro
15 Arsen Mg/kg 13
16 Cadmium Mg/kg 3
17 Cobal Mg/kg 34
18 Chromium Mg/kg 2210
19 Tembaga Mg/kg 100
20 Mercuri Mg/kg 0.8
21 Nikel Mg/kg 62
22 Timbal Mg/kg 150
23 Selenium Mg/kg
24 Seng Mg/kg 500
Unsur lain
25 Calsium %
26 Magnesium % 0.60
27 Besi % 2.0
28 Alumunium % 2.20
29 Mangan % 0.10
Bakteri
30 Fecal coli MPN/gr 1000
31 Salmonella MPN/gr 3

SNI : 19-7030-2004
(Badan Standarisasi Nasional, 2011).
2.8 Analisa bahan pembuatan pupuk organik cir
1. Kotoran Sapi 60 kg x 150 = Rp 9.000
2. Sekam Padi 30 kg x 250 = Rp 7.500
3. Dedak 30 kg x 1.500 = Rp 45.000
4. Gula Merah 100 gr x 500 = Rp 50.000
5. EM4 50 ml x 1.500 = Rp 75.000
6. Air 100 Liter
Rp 177.500

2.9 Aplikasi/Penggunaan pupuk organik cair


Pupuk organik cair diaplikasikan pada daun, bunga atau batang. Caranya dengan
mengencerkan pupuk dengan air bersih terlebih dahulu kemudian disemprotkan pada
tanaman. Kepekatan pupuk organik cair yang akan disemprotkan tidak boleh lebih dari 2%.
Pada kebanyakan produk, pengenceran dilakukan hingga seratus kalinya. Artinya, setiap 1
liter pupuk diencerkan dengan 100 liter air.
Untuk merangsang pertumbuhan daun, pupuk organik cair bisa disemprotkan pada
tanaman yang baru bertunas. Sedangkan untuk menghasilkan buah, biji atau umbi, pupuk
disemprotkan saat perubahan fase tanaman dari vegetatif ke generatif. Bisa disemprotkan
langsung pada bunga ataupun pada batang dan daun. Setiap penyemprotan hendaknya
dilakukan dengan interval waktu satu minggu jika musim kering atau 3 hari sekali pada
musim hujan. Namun dosis ini harus disesuaikan lagi dengan jenis tanaman yang akan
disemprot.
Pada kasus pemupukan untuk pertumbuhan daun, gunakan pupuk organik cair yang
banyak mengandung nitrogen. Caranya adalah dengan membuat pupuk dari bahan baku kaya
nitrogen seperti kotoran ayam, hijauan dan jerami. Sedangkan pada kasus pemupukan untuk
pertumbuhan buah, gunakan bahan baku pupuk yang kaya kalium dan fosfor, seperti kotoran
kambing, kotoran sapi, sekam padi dan dedak. Kandungan setiap jenis material organik bisa
dilihat di tabel berikut.
Secara sederhana bisa dikatakan, untuk membuat pupuk perangsang daun gunakan
sumber bahan organik dari jenis daun-daunan. Sedangkan untuk membuat pupuk perangsang
buah gunakan bahan organik dari sisa limbah buah seperti sekam padi atau kulit buah-
buahan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan mengenai Pupuk Cair maka, dapat ditarik kesimpulan
bahwa pupuk cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal
dari sisa tanaman, kotoran hewan dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih dari satu
unsure.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Pembuatan Pupuk Organik Cair antara lain
ukuran bahan, komponen bahan, suhu atau Temperatur dan Keasaman (pH)
Limbah ternak berupa feses dan urine mengandung nitrogen dan fosfor yang sangat
tinggi. Kandungan ini dibutuhkan oleh tumbuhan sehingga dijadikan bahan dasar pembuatan
pupuk cair. Secara kimiawi pupuk organik yang baik mengandung beberapa unsur hara
seperti Nitrogen (N) = 1.5 – 2%, fosfor (P205) = 0,5 – 1% dan kalium (K20) = 0,5 – 1%

Daftar Pustaka

Anonim. 2010. Pupuk Cair. http://id.wikipedia.org/wiki/pupukcair. Diakses, 18 April 2009.


Dj aj a. 2008. P engel ol aan L i mbah T ernak (Fe ces ) Sapi Deng an Menggunaka n E m -
4 Dan St ardec . ww w.kat oben gke. com . Di akses, 18 Apri l 2 009.

Hadisumito. 2006. Teknologi Kompos http://menglayang.blogsome.co/dardjad kardin. teknologi


kompos. Diakses, 18 April 2009.
Indriani. 2003. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Jakarta.
Isroi. 2008. Kompos. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor.
http://id.wikipedia.org/wiki/kompos. Diakses, 18 April 2009.
Novizan. 2002. Membuat Kompos. Penebar Swadaya, Jakarta.
Nurhidayat. 2006. Fungsi dan Manfaat EM-4. http://nita/agronomy-agriculture/fungsi_manfaat_EM-
4.htm. Diakses, 19 April 2009.
http://gintingchemicalengeneeringa2.blogspot.co.id/2014/04/pembuatan-pupuk-cair-
organik.html
https://plus.google.com/114326915099908195418/posts/4DMcV1VFk1m

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Setiap tahun ribuan hektar lahan yang subur berkurang akibat penggunaan

pupuk kimia. Sungguh ironis, menggunakan racun untuk meningkatkan produksi

pangan bagi kehidupan. Tidak heran bila kesehatan dan daya tahan tubuh manusia

terus merosot.

Penggunaan pupuk organik tidak meninggalkan residu yang membahayakan

bagi kehidupan. Pengaplikasiannya mampu memperkaya sekaligus mengembalikan

ketersediaan unsur hara bagi tanah dan tumbuhan dengan aman.

Pupuk adalah zat hara yang ditambahkan pada tumbuhan agar berkembang

dengan baik sesuai genetis dan potensi produksinya. Pupuk dapat dibuat dari bahan

organik ataupun non-organik (sintetis). Pupuk organik bisa dibuat dalam bermacam-

macam bentuk meliputi cair, curah, tablet, pelet, briket, atau granul. Pemilihan

bentuk ini tergantung pada penggunaan, biaya, dan aspek-aspek pemasaran

lainnya.

1.2. Tujuan dan kegunaan

Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui cara pembuatan pupuk

organik cair dari tumbuh-tumbuhan. Kegunaan dari praktikum ini yaitu sebagai
bahan informasi bagi pembaca khususnya mahasiswa dalam mempelajari

pembuatan pupuk organik cair dari tumbuh-tumbuhan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pupuk organik merupakan pupuk dengan bahan dasar yang diambil dari alam

dengan jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung secara alami (Musnamar,

2003). Dapat dikatakan bahwa pupuk organik merupakan salah satu bahan yang

sangat penting dalam upaya memperbaiki kesuburan tanah secara aman, dalam arti

produk pertanian yang dihasilkan terbebas dari bahan-bahan kimia yang berbahaya

bagi kesehatan manusia sehingga aman dikonsumsi.

Secara kualitatif, kandungan unsur hara dalam pupuk organik tidak dapat

lebih unggul daripada pupuk anorganik. Namun penggunaan pupuk organik secara

terus-menerus dalam rentang waktu tertentu akan menjadikan kualitas tanah lebih

baik dibanding penggunaan pupuk anorganik (Musnamar, 2003). Selain itu

penggunaan pupuk organik tidak akan meninggalkan residu pada hasil tanaman

sehingga aman bagi kesehatan manusia. Bahkan produk-produk yang dihasilkan

akan diterima negara-negara yang mensyaratkan ambang batas residu yang sudah

diberlakukan pada produk tertentu seperti teh dan kopi.

Saat ini ada beberapa jenis pupuk organik sebagai pupuk alam berdasarkan

bahan dasarnya, yaitu pupuk kandang, kompos, humus, pupuk hijau, dan pupuk

mikroba (Musnamar, 2003). Sedangkan ditinjau dari bentuknya ada pupuk organik

cair dan ada pupuk organik padat. Sebagai contoh kompos merupakan contoh

pupuk organik padat yang dibuat dari bahan organik padat (tumbuh-tumbuhan),

sedangkan thilurine adalah pupuk organik cair yang dibuat dari bahan organik cair

(urine sapi). Pupuk organik dapat dibuat dari limbah, contohnya limbah peternakan
sapi perah, baik berupa feses maupun urinenya dapat dijadikan bahan pembuatan

pupuk organik.

Umumnya limbah yang dibuang ke lingkungan menunjukkan kesan buruk

karena sifat-sifatnya yang khas dan cenderung menurunkan mutu, fungsi dan

kemampuan lingkungan. Limbah yang merupakan sisa pembuangan dari suatu

proses kegiatan manusia dapat berbentuk padat, cair dan gas, dari segi estetika

sangat kotor, tidak enak dipandang dan juga dari segi bau sangat mengganggu.

Dengan demikian secara langsung maupun tidak langsung limbah menimbulkan

ketidaknyamanan di sekitarnya sebab pembuangan limbah ke lingkungan umumnya

tidak diikuti dengan upaya pengelolaan maksimal, karena selalu dikaitkan dengan

teknologi dan pengelolaan yang relatif mahal.

Limbah yang dibuang terus-menerus tanpa ada pengelolaan yang maksimal dapat
menimbulkan gangguan keseimbangan lingkungan. Oleh karenanya, orang cenderung
mengatakan telah terjadi pencemaran, yaitu suatu keadaan di mana zat atau energi
diintroduksikan ke dalam lingkungan oleh suatu kegiatan manusia atau oleh proses alam
dalam konsentrasi sedemikian rupa sehingga menyebabkan lingkungan tidak berfungsi
seperti semula dalam arti kesehatan, kesejahteraan dan keselamatan hayati (Danusaputro,
1978).
Menurut Holdgate (1979) pencemaran lingkungan adalah dimasukkannya energi atau
substansi ke dalam lingkungan oleh kegiatan manusia, sehingga mengganggu ekosistem
kehidupan, merusak struktur lingkungan, dan melanggar peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Dix (1981), menjelaskan pencemaran sebagai suatu peristiwa perubahan
lingkungan yang menyangkut pola energi dan sumber daya misalnya air, tanah, dan udara.
III. METODOLOGI

3.1. Tempat dan Waktu

Praktikum pembuatan bipestisida ini dilaksanakan di kebun Yayasan

Labiota, Desa Buluballea, Malino Kab. Gowa, pada Hari Minggu, 10 April 2011

pukul 09.00 sampai selesai.

3.2. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu ember, parang dan karung.

Adapun bahan yang digunakan yaitu air bersih, daun tumbuh-tumbuhan yang

mengandung unsur N,P, dan K, mikrobat dan molase.

3.3. Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum ini yaitu:

1. Potong-potong tanaman kol dan batang pisang tidak terlalu kecil.


2. Masukkan hasil potongan ke dalam karung.
3. Isi air pada ember sekitar 10 liter
4. Masukkan molases dan mikrobat
5. Aduk larutan itu dengan pengaduk
6. Rendam potongan tanaman kol dan batang pisang yang telah dimasukkan ke dalam karung
pada larutan air, molases dan mikrobat tersebut.
7. Tutup ember dan biarkan selama ± 2 minggu.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Gambar: Memotong tanaman kol dan batang pisang

Gambar: Memasukkan potongan tanaman kol dan batang pisang ke dalam karung

Gambar: Isi air ke dalam ember dan mencampurnya denga molase dan bioaktivator

Gambar: Masukkan karung yang berisi potongan kol dan batang pisang ke dalam
ember

Gambar: Tutup ember kemudian biarkan selama ± 2 minggu

4.2. Pembahasan

Dalam pembuatan pupuk organik cair ini bertujuan untuk mengurangi

penggunaan pupuk kimia yang mengakibatkan pencemaran lingkungan dan

tanaman menjadi rawan hama. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonim (2011) yang

menyatakan, dari berbagai akibat penggunaan pupuk kimia tersebut masalah yang
timbul antara lain : 1) Tanaman menjadi sangat rawan terhadap hama, meskipun

produktivitasnya tinggi namun tidak memiliki ketahanan

terhadap hama, 2) Pembodohan terhadap petani yang diindikasikan dengan

hilangnya pengetahuan lokal dalam mengelola lahan pertanian dan ketergantungan

petani terhadap paket teknologi pertanian produk industri.

Pupuk organik adalah salah satu bahan yang dapt memperbaiki tingkat

kesuburan tanah. Hal ini sesuai denga pendapat Musnamar (2003) yang

menyatakan, pupuk organik merupakan salah satu bahan yang sangat penting

dalam upaya memperbaiki kesuburan tanah secara aman, dalam arti produk

pertanian yang dihasilkan terbebas dari bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi

kesehatan manusia sehingga aman dikonsumsi.

Pupuk organik terbagi menjadi dua yaitu pupuk organik cair dan pupuk organi

padat. Hal ini sesuai dengan pendapat Musnamar (2003) yang menyatakan Saat ini

ada beberapa jenis pupuk organik sebagai pupuk alam berdasarkan bahan

dasarnya, yaitu pupuk kandang, kompos, humus, pupuk hijau, dan pupuk mikroba.

Sedangkan ditinjau dari bentuknya ada pupuk organik cair dan ada pupuk organik

padat. Sebagai contoh kompos merupakan contoh pupuk organik padat yang dibuat

dari bahan organik padat (tumbuh-tumbuhan), sedangkan thilurine adalah pupuk

organik cair yang dibuat dari bahan organik cair (urine sapi). Pupuk organik dapat

dibuat dari limbah, contohnya limbah peternakan sapi perah, baik berupa feses

maupun urinenya dapat dijadikan bahan pembuatan pupuk organik.

V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum ini dapat disimpulkan

beberapa hal sebagai berikut:


1. Pupuk organik adalah salah satu bahan penting yang dapat meningkatkan

kesuburan tanah.

2. Pupuk organik ada dua macam yaitu pupuk organik cair dan pupuk organik padat.

3. Dengan penggunaan pupuk organik dapat mengurangi dampak buruk bagi

lingkungan dan manusia akibat penggunaan pupuk kimia.

5.2. Saran

Sebaiknya praktikum ini dilakukan secara tuntas mulai dari proses

pembuatannya sampai pada pengaplikasiannya pada tanaman agar lebih jelas dan

dapat diketahui secara detail bagi praktikan.

http://khaeriyah-indahnyaberbagi.blogspot.co.id/2012/06/laporan-cara-pembuatan-poc.html

DAFTAR PUSTAKA

Musnawar,Effi Ismawati. 2006. Pupuk Organik Padat.Pembuatan dan Aplikasi. Penebar


Swadaya: Jakarta
Susanto,Rachman. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius: Yogyakarta
Kartini, niluh. 2000. Diktat Pertanian Organik. FP Univ, Undayana: Denpasar
Tafia, Arik. 1999. Penggunaan Kascing (Kotoran Cacing) Sebagai Pupuk Organik dan
Peranannya Bagi Tanaman. Jakarta
Zahid A 1994. Manfaat Ekonomis dan Ekologi Daur Ulang Limbah Kooran Ternak Sapi
Menjadi Kascing, Studi Kasus di PT Pola Nusa Duta.Fak Kedokteran Hewan IPB: Bandung
Anonim. 1995.Fermentasi Bahan Organik Dengan Teknologi Effective Mocroorganismes -4
(EM4).IndonesiaanKyusei Nature Farming Societies and PT. SonggolangitPersada.Jakarta.
Djuwanto.1999. Keuntungan danKerugian Penggunaan PupukAnOrganik dan
Organik.Makalah PPM UNY : KaryaAlternatif mahasiswa.
Nyoman P. Aryantha,dkk.2010. Kompos.Pusat Penelitian Antar Universitas Ilmu Hayati