Anda di halaman 1dari 67

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hakikat negara kesatuan Republik Indonesia adalah negara kebangsaan

modern. Negara kebangsaan modern adalah negara yang pembentukannya

didasarkan pada semangat kebangsaan –atau nasionalisme– yaitu pada tekad suatu

masyarakat untuk membangun masa depan bersama di bawah satu negara yang

sama walaupun warga masyarakat tersebut berbeda-beda agama, ras, etnik, atau

golongannya.

Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan

dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berdasarkan

Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, perlu ditingkatkan secara terus

menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang Negara

Kesatuan Republik Indonesia. Secara historis, negara Indonesia telah diciptakan

sebagai Negara Kesatuan dengan bentuk Republik.

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang berkedaulatan rakyat

dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil

dan beradab, Persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat

kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan

suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam perkembangannya sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 sampai dengan

penghujung abad ke-20, rakyat Indonesia telah mengalami berbagai peristiwa

yang mengancam keutuhan negara. Untuk itu diperlukan pemahaman yang

mendalam dan komitmen yang kuat serta konsisten terhadap prinsip dan semangat

1
kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang

berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Konstitusi Negara

Republik Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa

Indonesia, khususnya generasi muda sebagai generasi penerus.

Indonesia harus menghindari sistem pemerintahan otoriter yang memasung

hak-hak warga negara untuk menjalankan prinsip-prinsip demokrasi dalam

kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kehidupan yang demokratis

di dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat,

pemerintahan, dan organisasi-organisasi non-pemerintahan perlu dikenal,

dipahami, diinternalisasi, dan diterapkan demi terwujudnya pelaksanaan prinsip-

prinsip demokrasi. Selain itu, perlu pula ditanamkan kesadaran bela negara,

penghargaan terhadap hak azasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian

lingkungan hidup, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, ketaatan

membayar pajak, serta sikap dan perilaku anti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang

memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu

melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia

yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD

1945.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari materi ini adalah sebagai berikut :

1. Apa konsep dan karakteristik bangsa dan negara serta Negara Kesatuan

Republik Indonesia?

2
2. Apa faktor pembentukan identitas bangsa?

3. Bagaimana cara mengidentifikasi unsur-unsur negara dengan benar ?

4. Apa saja bentuk-bentuk negara dan bentuk pemerintahan?

5. Bagaimana cara mengembankan sikaf fositif dalam mengelola dan

mengembangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia?

6. Bagaimana rumusan konsep dasar tentang HAM ?

7. Bagaimana sejarah perkembangan HAM ?

8. Bagaimana cara Memecahkan problematik HAM di indonesia?

C. Tujuan

Tujuan yang hendak dicapai dalam materi ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk memformulasikan konsep dan karakteristik bangsa dan negara serta

Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Mengidentifikasi faktor pembentukan identitas bangsa

3. Dapat menyebutkan tujuan dan fungsi negara sebagai organisasi masyarakat

dan kesatuan

4. Mampu mengidentifikasi unsur-unsur negara dengan benar

5. Dapat menyebutkan bentuk-bentuk negara dan bentuk pemerintahan

6. Dapat mendiskripsikan Negara Kesatuan Republik Indonesia

7. Mampu mengembankan sikaf fositif dalam mengelola dan mengembangkan

Negara Kesatuan Republik Indonesia

8. Dapat mengemukakan rumusan konsep dasar tentang HAM

9. Mendeskripsikan sejarah perkembangan HAM

10. Memecahkan problematik HAM di indonesia

3
D. Manfaat

Manfaat yang dapat diambil dari makalah ini adalah :

1. Agar mahasiswa mampu memformalisasikan konsep dan karakteristik

bangsa dan negara.

2. Kemampuan mengidentifikasi faktor pembentuk identitas bangsa.

3. Kemampuan menyebutkan tujuan dan fungsi negara sebagai organisasi

masyarakat dan kekuasaan.

4. Menambah pengetahuan kita tentang pengertian HAM.

5. Kita dapat mengetahui UU yang mengatur HAM di Indonesia.

6. Kita dapat mengetahui asal mula perkembangan pemikiran tentang HAM.

7. Kita dapat mengetahui generasi perkembangan pemikiran HAM.

8. Kita menjadi tahu hubungan antara HAM dan demokrasi.

9. Kita dapat mengetahui apa saja pelanggaran-pelanggaran HAM.

10. Kita dapat mengetahui upaya pencegahan HAM di Indonesia

4
BAB 2 PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Negara

1. Pengertian Bangsa

Bangsa biasa dikaitkan dengan komunitas seseorang yang diikat oleh

rasa atau perasaan yang satu. Otto Bauer (1970) menyebutkan bahwa

bangsa adalah suatu persatuan karakter yang timbul karena persatuan

nasib. Karakter ini terbentuk karena pengalaman sejarah budaya yang

tumbuh dan berkembang bersama dengan tumbuh kembangnya bangsa.

Bangsa menurut hukum adalah rakyat atau orang-orang yang berada dalam

suatu masyarakat hukum yang terorganisir, yang menempati bagian atau

wilayah tertentu, berbicara dalam bahasa yang sama, memiliki sejarah,

kebiasaan, dan kebudayaan yang sama, serta terorganisir dalam suatu

pemerintahan yang berdaulat.

Formulasi konsep bangsa merupakan sekelompok manusia yang: (1)

memiliki cita-cita bersama yang mengikat menjadi satu kesatuan;(2)

memiliki sejarah hidup bersama, sehingga tercipta rasa senasip

sepenanggungan ; (3) memiliki adat, budaya, kebudayaan yang sama

sebagai akibat pengaaman hidup bersama; (4) memiliki karakter , perangai

yang sama yang menjadi pribadi dan jatidiri; (5) menempati suatu wilayah

tertentu yang merupakan kesatuan wilayah; (6) terorganisir dalam suatu

pemerintahan yang berdaulat sehingga mereka terikat dalam suatu wilayah

hukum.

5
2. Faktor – Faktor Pembentuk Identitas Bangsa

Identitas adalah ciri khas yang membedakan suatu subjek dengan

yang lain nya. Identitas memiliki kedekatan dengan jatidiri sebagai ciri-

ciri atau keadaan khusus seseorang dan didalamnya ada jiwa, semangat

dan gaya gerak yang dimiliki seseorang atau sekolompok orang untuk

mencapai tujuan tertentu.

Ramlan Subakti (1992), menegaskan ada beberapa faktor yang

diperkirakan dapat menjadi pembentukan identitas bersama suatu

bangsa yaitu :(1) faktor primordial, terkaid dengan kekerabatan dan

kesamaan suku bangsa, daerah, bahasa, dan adat istiadat dalam

membentuk negara bangsa; (2) faktor sakral, terkait dengan kesamaan

agama yang dianut oleh suatu masyarakat, atau ikatan idielogi dalam

masyarakat yang dapat membentuk negara bangsa; (3) faktor tokoh,

terkait dengan seseorang tokoh yang disegani dan dihormati secara luas

yang mampu menyatukan bangsa; (4) faktor sejarah, terkait dengan

persepsi sama tentang asal usul, pengalaman masalalu; (5) faktor

Bhineka Tunggal Ika, terkait dengan prinsip bersatu dalam perbedaan

walaupun berbeda dalam suku, agama, ras/ etnis dan golongan serta

adat istiadat; dan (6) faktor kelembagaan terkaid dengan proses

pembentukan bangsa berupa lembaga-lembaga pemerintahan dan

politik.

Mengenai konsep dasar negara, Meriam Budiarjo (1972), melakukan

beberapa elaborasi beberapa definisi negara dari beberapa ahli sebagai berikut:

6
a. Roger H. Soltau: Negara adalah alat atau wewenang yang

mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama

atas masyarakat.

b. Harold J. Laski: negara adalah suatu masyarakat yang

diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat

memaksa terhadap individu atau kelompok yang merupakan

bagian dari pada masyarakat itu.

c. Max Waber: Negara adalah suatu assosiasi yang mempunyai

monopili dalam penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam

suatu wilayah.

d. Robert Mc. Iver: Negara adalah assosiasi yang

menyelenggarakan penertiban didalam suatu masyarakat dalam

suatu wilayah dengan berdasarkan syistem hukum yang

diselenggarakan oleh suatu pemerintah yang untuk maksut

tersebut diberi kekuasaan memaksa.

3. Tujuan dan Fungsi Negara

Tujuan negara ada bermacam- macam, antara lain: (1) untuk

memperluas kekuasaan semata-mata; (2) untuk menyelenggarakan

ketertiban umum; dan (3) untuk mencapai kesejahteraan umum. Selain

itu, mengenai tujuan negara terdapat beberapa pandangan, antara lain

sebagai berikut.

a. Ajaran Plato

7
Menurut Plato, negara bertujuan untuk memajukan kesusilaan

manusia sebagai individu dan sebagai mahluk sosial.

b. Ajaran Negara Kesatuan

Ajaran ini dikemukakan oleh Machiavelli dan Shang Yang, negara

bertujuan untuk memperluas kekuasaan semata-mata dan karena itu

disebut negara kesatuan. Menurut ajaran ini orang mendirikan

negara itu maksutnya untuk menjadikan negara itu besar dan jaya.

Rakyat menjadi alat belaka, dan di-korbankan untuk perluasan

kekuasaan itu.

c. Ajaran Theokratis (Kedaulatan Tuhan)

Menurut ajaran ini tujuan negara untuk mencapai penghidupan dan

kehidupan aman dan tentram dengan taat kepada pimpinan tuhan.

Pimpinan negara menjalankan kekuasaan hanyalah berdasarkan

kekusaan tuhan yang diberikan kepadanya.

d. Ajaran Negara Polisi

Menurut ajaran ini negara bertujuan mengatur semata-mata

keamanan dan ketertiban dalam negara.

e. Ajaran Negara Hukum

Menurut ajaran ini negara bertujuan untuk menyelenggarakan

ketertiban hukum dan pedoman kepada hukum. Dalam negara

hukum, segala kekuasaan alat-alat pemerintahan, semua orang harus

tunduk dan taat kepada hukum. Rakyat tidak boleh bertindak

semaunya sendiri yang betentangan dengan hukum. Hak-hak rakyat

8
dijamin sepenuhnya oleh negara. Sebaliknya rakyat berkewajiban

mematuhi seluruh peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah dari

negara itu.

f. Negara Kesejahteraan

Tujuan negara menurut pandangan negara kesejahteraan adalah

mewujudkan kesejahteraan umum. Dalam negara kesejahteraan,

setiap negara harus menyelenggarakan beberapa fungsi minimum

yaitu : (1) Melaksanakan ketertiban umum ; (2) Mengusahan

kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya ; (3) Memperkuat

pertahanan; dan (4) Menegakkan keadilan.

4. Unsur-unsur Negara

a. Unsur Rakyat

Rakyat suatu negara dimaksutkan semua orang yang pada suatu

waktu berada di bawah naungan kekuasaan negara. Rakyat dalam

hubungan ini diartikan sebagai sekumpulan manusia yang

dipersatukan oleh suatu rasa persamaan dan yang bersama-sama

mendiami suatu wilayah tertentu.

b. Unsur wilayah

Wilayah suatu negara bukan hanya wilayah geografi atau wilayah

dalam arti sempit, tetapi wilayah dalam arti luas yang berbasis pada

pengertian hukum. Yaitu wilayah di atas dimana dilaksanakan

yuridis negara dan meliputi wilayah geografis maupun udara diatas

wilayah itu samapai ketingian tidak terbatas, dan dan laut disektar

9
pantai negara itu, yaitu apa yang disebut “laut teritorial”. Dalam

batas-batas wilayah dalam arti yang luas ini negara

menjalankan”kedaulatan teritorial”.

c. Unsur Pemerintahan yang Berdaulat

Pemerintahan merupakan salah satu unsur konstitutif negara.

Pemerintah adalah negara yang mengatur dan memimpin negara.

Tanpa pemerintah tidak mungkin negara itu berjalan secara baik.

Pemerintah melaksanakan tujuan-tujuan negara dalam menciptakan

kesejahteraan bersama.

d. Unsur Tujuan

Tujuan sebagai unsur negara harus tercantum didalam Undang-

Undang Dasar Negara. Hal ini untuk memberikan arah kemana

masyarakat yang telah diorganisasikan itu harus dibawa dalam

mengejar cita-cita nasionalnya.

5. Bentuk-Bentuk Negara Kesatuan

a. Bentuk Negara

Terminologi bentuk negara dalam penerapan sehari-hari sering

ambiguous. Di satu sisi bentuk negara digunakan untuk payung

pembagian negara atas monarki dan republik. Sesuai dengan pasal 1

ayat 1 UUD 1945 : Negara indonesia adalah negara kesatuan yang

berbentuk republik. Sedangkan disisi lain digunakan untuk

membagi negara dalam bentuk kesatuan, serikat, maupun

perserikatan negara. Kepustakaan bidang ilmu kenegaraan juga

10
menyajikan penggunaan istilah yang berbeda. Menanggapi

pemaknaan istilah yang mengandung kerancuan tersebut sebaiknya

kita mengikuti arah perkembangan dalam praktik kenegaraan yaitu:

(1). Terkait dengan sifat hubungan suatu negara kedalam maupun

keluar, bentuk negara dibagi menjadi negara kesatuan dan

negara serikat. Termasuk bentuk negara adalah dominion dan

protektorat. Dominion adalah suatu negara merdeka, tetapi

masih tetap dalam lingkungan kerajaan inggris. Dan tetap

mengakui raja/ratu diwakili oleh gubernur jendral. Sedangkan,

protektorat adalah suatu negara yang ada dibawah lindungan

negara lain.

(2). Bentuk pemerintah digunakan terkait dengan jumlah orang

yang diserahi memerintah serta sifat pemerintahannya.

Termasuk bentuk pemerintahan antara lain:

 Monarkhi adalah suatu bentuk pemerintahan dimana

kekuasaan negara dipegang oleh raja untuk kepentingan

semua rakyat.

 Tirani adalah suatu bentuk pemerintahan dimana kekuasaan

negara dipegang oleh satu orang yang menjalankan

kekuasaan itu untuk kepentingan penguasa sendiri.

 Aristokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan dimana

kekuasaan negara berada ditangan sejumlah kecil orang

11
terbaik yang menjalankan kekuasaannya untuk kepentingan

semua orang.

 Timokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan dimana

tindakan penguasa hanya dilaksanakan dan ditunjukan

untuk kepentingan penguasa sendiri.

 Oligarkhi adalah suatu bentuk pemerintahan dimana

kekuasaan negara berada ditangan sejumlah kecil orang

yang menjalankan kekuasaannya untuk kepentingan mereka

sendiri.

 Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan dimana

kekuasan negara berada ditangan rakyat yang menjalankan

kekuasaan nya untuk kepentingan semua orang.

b. Bentuk Kenegaraan

Disebut bentuk kenegaraan karena ikatan itu menyerupai negara

tetapi tidak merupakan suatu negara. Contohnya : (1) perserikatan

negara-negara; (2) uni personil dan uni riil; (3) daerah mandat

adalah daerah yang tadinya jajahan negara yang kalah dalam perang

dunia 1 yang diletakan dibawah pimpinan salah satu negara yang

menang dalam perang dunia ke 1 dengan pengawasan dari liga

bangsa-bangsa; (4) daerah jajahan ; (5) daerah trust, daerah yang

sesudah perang dunia II diurus oleh beberapa negara dibawah

pengawasan dewan perwakilan dari PBB.

12
B. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

1. Hakikat NKRI

Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa berhubungan dengan

manusia lain. Manusiajuga membentuk kelompok-kelompok bersama untuk

menjaga kelangsungan hidup dan mencapai tujuannya. Kita hidup dalam sebuah

keluarga dan merupakan bagian dan keluarga tersebut. Kita juga hidup dalam

suatu masyarakat dan menjadi bagian dan masyarakat.

Sebagai bagian dan keluarga, kita adalah anggota keluarga. Sebagai bagian

dan masyarakat, kita adalah warga masyarakat. Selanjutnya dalam hidup

bernegara, kita menjadi bagian dan negara. Sebagai bagian dan negara kita adalah

warga negara. Sebagai warga negara yang baik, sudah semestinya kita tahu dan

memahami hakikat bangsa dan negara kita.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (disingkat NKRI), juga dikenal

dengan nama Nusantara yang artinya negara kepulauan. Wilayah NKRI meliputi

wilayah kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Situasi akhir-

akhir ini kita melihat ada beberapa upaya kelompok-kelompok tertentu yang

berupaya untuk memecah belah NKRI baik dari dalam maupun negara asing. Saat

ini Indonesia telah kehilangan arah dan pegangan ideologi dalam kehidupan

berbangsa & bernegara.

2. Sejarah Berdirinya NKRI

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah suatu wilayah negara

kepulauan besar yang terdiri dari ribuan pulau dan diapit oleh dua samudra dan

13
dua benua, serta didiami oleh ratusan juta penduduk. Disamping itu Indonesia

memiliki keanekaragaman budaya dan adat istiadat yang berlainan satu sama lain,

dan tercemin dalam satu ikatan kesatuan yang terkenal dengan sebutan Bhinneka

Tunggal Ika. Karena letak wilayah Indonesia di sekitar khatulistiwa, maka

Indonesia memiliki iklim tropis dan rnemiliki dua musim, yaitu musim hujan dan

musim kemarau.

Indonesia memiliki 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi

nama dan 6.000 pulau tidak berpenghuni). Di sini ada 3 dari 6 pulau terbesar di

dunia yaitu Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Wilayah Indonesia terbentang

sepanjang 3.977 m di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Luas daratan

Indonesia 1.922.570 km2 dan luas perairannya 3.257.483 km2.

Indonesia merupakan negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia.

Terdapat lebih dari 740 suku bangsa/etnis, di mana di Papua saja terdapat 270

suku. Selain itu, negara ini merupakan negara dengan bahasa daerah terbanyak,

yaitu 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku

bangsa di Indonesia. Bahasa nasional yang merupakan bahasa pemersatu adalah

bahasa Indonesia.

14
3. Sejarah Bangsa Indonesia

Berdasarkan perjalanan sejarah Bangsa Indonesia, pada saat digulirkannya

tanam paksa (Cultuure Stelsel) tahun 1615 oleh pihak Belanda telah menyebabkan

hancurnya struktur tanah yang dimiliki pribumi, dimana tanah sebagai modal

dasar pribumi dalam menjalankan segala aktivitasnya. Dengan adanya tanam

paksa yang diterapkan telah mengubah jenis tanaman pribumi dengan jenis

tanaman yang didatangkan dari Eropa yang nota bene tidak di kuasai oleh

pribumi, hal ini menyebabkan pribumi tidak lagimampu mengelola tanah yang

dimilikinya dan tidak mengerti jenis tanaman yang berasaldari Eropa, sehingga

pribumi pada saat itu terbodohkan, termiskinkan, terbelakang dan tertindas. Hal

inilah kemudian yang di manfaatkan oleh pihak Belanda untuk membangun

pemerintahan yang dinamakan Hindia Belanda guna mengatur kehidupan pribumi

yang semakin tertindas,yang pada akhirnya terjadilah sistem kerja rodi untuk

mengeksplorasihasil bumi yang ada di Indonesia.

Pada awal tahun 1900 pemerintah Hindia-Belanda menerapkan kebijakan

politikethis sebagai bentuk balas budi kepada pribumi dengan mengadakan suatu

sistem pendidikan di wilayah Indonesia. Akan tetapi karena biaya yang

dibebankan untuk mendapatkan pendidikan ini terlalu mahal, maknanya tidak

semua pribumi mampu menikmati pendidikan yang diterapkan di Indonesia.

Sehingga pada tahun 1908, Dr. Soetomoe membangun pendidikan bagi

kaum pribumi secara informal dan gratis dengan nama Budi Utomo sebagai

15
bentuk kepedulian terhadap pribumi yang semakin tertindas. Pada akhirnya

pendidikan pribumi tersebut diteruskan oleh Ki HajarDewantara dengan

mendirikan Taman Siswa pada tahun 1920 secara formal, pendidikanpribumi yang

di jalankan oleh Dr. Soetomoe dan Ki Hajar Dewantara telah membangkitkan

jiwa-jiwa kebangsaan dan persatuan untuk melakukan perlawanan kepada

Belanda, yang pada akhirnya mengakumulasi lahirnya Bangsa Indonesia pada

tanggal 28 Oktober 1928 melalui momen Sumpah Pemuda pada kongres Pemuda

II di Jakarta yang berasal dari Jong-jong atau pemuda-pemuda dari berbagai

kepulauan di Indonesia yang memiliki komitmen untuk mengangkat harkat dan

martabat hidup Orang-orang Indonesia (pribumi). Bangsa Indonesia yang terlahir

pada tanggal 28 Oktober 1928 kemudian bahu membahu mengadakan perlawanan

kepada pihak Belanda untuk merebut kemerdekaan Indonesia dan barulah 17

tahun kurang 2 bulan kurang 11 hari atau tepatnya pada tanggal17 Agustus 1945

atas berkat rahmat Allah Subhanahu Wata’ala, Bangsa Indonesia dapat mencapai

kemerdekaannya dalam bentuk Teks Proklamasi yang dibacakan oleh Dwi-

TunggalSoekarno-Hatta.

Keesokan harinya, tepatnya pada tanggal 18 Agustus 1945 Bangsa

Indonesia membentuk suatu Negara Republik Indonesia dengan disahkannya

konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 sebagai aturan dasar di dalam kehidupan

berbangsa dan bernegara

16
4. Sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Ditandai dengan dibacakannya teks proklamasi oleh Ir. Soekarno pada

tanggal 17 Agustus 1945. Namun proklamasi itu sendiri merupakan rangkaian

peristiwa yang melatar belakangi terjadinya proklamasi tersebut.29 April 1945.

BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia)

atau dalam bahasa Jepang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai yang didirikan oleh

pemerintah Jepang pada tanggal yang beranggotakan 63 orang.

06 Agustus 1945

Sebuah bom atom meledak di kota Hiroshima, Jepang. Pada saat itu,

padahal Jepang sedang menjajah Indonesia,

07 Agustus 1945

BPUPKI kemudian berganti pada tanggal menjadi PPKI (Panitia Persiapan

Kemerdekaan Indonesia) atau dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Junbi inkai.

9 Agustus 1945

Bom atom kedua kembali dijatuhkan di kota Nagasaki yang membuat

Negara Jepang Menyerah Kepada Amerika Serikat. Momen ini dimanfaatkan

Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.

10 Agustus 1945

17
Sutan Syahrir mendengar lewat radio bahwa Jepang telah menyerah pada

sekutu, yang membuat para pejuang Indonesia semakin mempersiapkan

kemerdekaannya. saat kembalinya Soekarno dari Dalat, sutan syahrir mendesak

kemerdekaan Indonesia.

15 Agustus 1945

Jepang benar-benar menyerah pada Sekutu.

16 Agustus 1945

Dinihari Para pemuda membawa Soekarno beserta keluarga dan Hatta ke

Rengas Dengklok dengan tujuan agar Soekarno dan Hatta tidak terpengaruh oleh

Jepang. Wikana dan Mr. Ahmad Soebarjo di Jakarta menyetujui untuk

memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu diutuslah Yusuf

Kunto menjemput Soekarno dan keluarga dan juga Hatta. Soekarno dan Hatta

kembali ke Jakarta awalnya ia dibawa ke rumah nishimura baru kemudian di bawa

kembali ke rumah Laksamana Maeda. untuk membuat konsep kemerdekaan. Teks

porklamasi pun disusun pada dini hari yang diketik oleh Sayuti Malik.

17 Agustus 1945

Pagi hari di kediaman Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Teks

proklamasi dibacakan tepatnya pada pukul 10:00 WIB dan dikibarkanlah Bendera

Merah Putih yang dijahit oleh Istri Soekarno, Fatmawati. Peristiwa tersebut

disambut gembira oleh seluruh rakyat Indonesia.

18
18 Agustus 1945

PPKI mengambil keputusan, mengesahkan UUD 1945, dan terbentuknya

NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta terpilihnya Ir. Soekarno dan

Moh. Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Republik Indonesia.

Isi Teks Proklamasi 1945

Berikut isi teks proklamasi yang telah dikonsep oleh Ir. Soekarno

Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa berhubungan dengan

manusia lain. Manusiajuga membentuk kelompok-kelompok bersama untuk

menjaga kelangsungan hidup dan mencapai tujuannya. Kita hidup dalam sebuah

keluarga dan merupakan bagian dan keluarga tersebut. Kita juga hidup dalam

suatu masyarakat dan menjadi bagian dan masyarakat.

19
Sebagai bagian dan keluarga, kita adalah anggota keluarga. Sebagai bagian

dan masyarakat, kita adalah warga masyarakat. Selanjutnya dalam hidup

bernegara, kita menjadi bagian dan negara. Sebagai bagian dan negara kita adalah

warga negara. Sebagai warga negara yang baik, sudah semestinya kita tahu dan

memahami hakikat bangsa dan negara kita.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (disingkat NKRI), juga dikenal

dengan nama Nusantara yang artinya negara kepulauan. Wilayah NKRI meliputi

wilayah kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Situasi akhir-

akhir ini kita melihat ada beberapa upaya kelompok-kelompok tertentu yang

berupaya untuk memecah belah NKRI baik dari dalam maupun negara asing. Saat

ini Indonesia telah kehilangan arah dan pegangan ideologi dalam kehidupan

berbangsa & bernegara.

5. Sejarah Berdirinya NKRI

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah suatu wilayah negara

kepulauan besar yang terdiri dari ribuan pulau dan diapit oleh dua samudra dan

dua benua, serta didiami oleh ratusan juta penduduk. Disamping itu Indonesia

memiliki keanekaragaman budaya dan adat istiadat yang berlainan satu sama lain,

dan tercemin dalam satu ikatan kesatuan yang terkenal dengan sebutan Bhinneka

Tunggal Ika. Karena letak wilayah Indonesia di sekitar khatulistiwa, maka

Indonesia memiliki iklim tropis dan rnemiliki dua musim, yaitu musim hujan dan

musim kemarau.

20
Indonesia memiliki 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi

nama dan 6.000 pulau tidak berpenghuni). Di sini ada 3 dari 6 pulau terbesar di

dunia yaitu Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Wilayah Indonesia terbentang

sepanjang 3.977 m di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Luas daratan

Indonesia 1.922.570 km2 dan luas perairannya 3.257.483 km2.

Indonesia merupakan negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia.

Terdapat lebih dari 740 suku bangsa/etnis, di mana di Papua saja terdapat 270

suku. Selain itu, negara ini merupakan negara dengan bahasa daerah terbanyak,

yaitu 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku

bangsa di Indonesia. Bahasa nasional yang merupakan bahasa pemersatu adalah

bahasa Indonesia.

6. Pengertian dan Sistem Pemerintahan NKRI

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kesatuan

berbentuk republik dengan sistem desentralisasi (pasal 18 UUD 1945), di mana

pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya di luar bidang

pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah

pusat.

Pasal 18 UUD 45 menyebutkan :

1. Negara Kesatuan Republik Indonesia bagi atas daerah provinsi dan daerah

provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi,

21
kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur

dengan undang-undang.

2. Pemerintahan Daerah Provinsi, daerah kabupaten dan kota mengatur

dengan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan

tugas pembantuan.

3. Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten dan kota memiliki DPRD

yang anggotanya dipilih melalui pemilihan umum.

4. Gubernur, Bupati dan Walikota masing-masing sebagai kepala

pemerintahan daerah provinsi, kabupaten dan kota dipilih secara

demokrasi.

5. Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya kecuali urusan

pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan

pemerintah pusat.

6. Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-

peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.

7. Susunan dan tata cara penyelenggaran pemerintahan daerah diatur dalam

undang-undang.

Negara Republik Indonesia adalah suatu wilayah negara kepulauan besar

yang terdiri dari ribuan pulau dan diapit oleh dua samudra dan dua benua, serta

didiami oleh ratusan juta penduduk. Disamping itu Indonesia memiliki

keanekaragaman budaya dan adat istiadat yang berlainan satu sama lain, dan

tercemin dalam satu ikatan kesatuan yang terkenal dengan sebutan Bhinneka

Tunggal Ika. Mengingat keberadaan dan demi menjaga penyelenggaran tertib

22
pemerintah yang baik dan efisien, maka kekuasaan negara tentu tidak dapat

dipusatkan dalam satu tangan kekuasaan saja. Oleh sebab itu penyebaran

kekuasaan haruslah dijalankan secara efektif untuk mencapai cita-cita dan tujuan

akhir negara sebagaimana disebutkan dalam pembukaan UUD 45. Sebagai

konsekuensinya, maka wilayah negara kesatuan republik Indonesia haruslah

dibagi atas beberap daerah, baik besar maupun kecil.

Amanat konstitusi diatas implementasinya diatur oleh peraturan perundang-

undangan tentang pemerintahan daerah dan terakhir diatur dalam UU No. 32

Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah yang mengatur pemerintahan local yang

bersifat otonom (local outonomous government) sebagai pencerminan

dilaksanakannya asas desentralisasi dibidang pemerintahan. Keberadaan

pemerintahan local yang bersifat otonom diatas ditandai oleh pemberian

wewenang yang sekaligus menjadi kewajiban bagi daerah untuk mengatur dan

mengurus urusan rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-

undangan yang berlaku. Hak dan kewajiban untuk mengurus urusan rumah tangga

sendiri inilah yang disebut dengan otonomi.

Untuk menyelenggarakan otonomi, pemerintah pusat menyerahkan

sejumlah urusan pemerintahan sebagai urusan rumah tangga daerah otonom baik

pada daerah provinsi maupun daerah kabupaten dan kota, berdasarkan kondisi

politik, ekonomi, social, dan budaya, pertahanan dan keamanan, serta syarat-

syarat keadaan dan kemampuan daerah otonom yang bersangkutan. Dalam politik

23
desentralisasi terkandung juga masalah pengaturan sumber-sumber pembiayaan

bagi daerah otonom (keuangan daerah).

Oleh sebab itu sumber-sumber keuangan bagi daerah otonom dipandang

essensial untuk mengembangkan potensi daerah yang bersangkutan. Perhatian

yang mendasar terhadap keuangan daerah semakin dibutuhkan, mengingat

daerah-daerah otonom di Indonesia juga dibebani kewajiban untuk melaksanakn

berbagai kepentingan daerah pusat yang terdapat didaerah-daerah. (Muhammad

Nishom, 2012).

Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan mengenai kelebihan dan

kekurangan NKRI, antara lain:

Kelebihan Sistem Sentralisasi:

- Keseragaman peraturan di semua wilayah,

- Kesederhanaan hukum,

- Pendapatan daerah dapat di alokasikan ke semua daerah dengan adil

dan sesuai kebutuhan.

Kelemahan Sistem Sentralisasi:

- Penumpukan pekerjaan di pusat, sehingga menghambat kinerja

pemerintahan.

- Tidak sinkron antara peraturan yang dibuat di pusat dan kondisi

lapangan di daerah,

- Pemerintah daerah menjadi pasif dan kurang inisiatif,

- Peran masyarakat daerah sangat kurang mendapat kesempatan,

24
- Keterlambatan respon dari pemerintah pusat karena kondisi geografis

Indonesia yang luas dan berat.

Sedangkan jika negara menggunakan sistem desentralisasi, daerah

memiliki kewenangan (otonomi) mengatur rumah tangga daerah untuk membuat

kebijakan dan membuat peraturan (selain 6 kewenangan pemerintah pusat di atas)

namun tetap harus selaras dengan pemerintah pusat.

Kelebihan Sistem Desentralisasi

- Daerah lebih berkembang, pembangunan lebih cepat,

- Peraturan dan kebijakan lebih tepat dan sesuai kebutuhan daerah,

- Kinerja pemerintahan lebih lancar,

- Partisipasi rakyat lebih tinggi.

Kekurangan Sistem Desentralisasi

- Ketidakseragaman peraturan pusat dan daerah. (Echo, 2015)

C. HAK ASASI MANUSIA

1. Konsep Dasar Hak-Hak Asasi Manusia

Konsep hak asasi manusia dilihat dari dimensi visi, mencakup visi

filsafati, visi yuridis - konstitusional dan visi politik (Saafroedin

Bahar,1994:82). Visi filsafati sebagian besar berasal dari teologi

agama-agama, yang menempatkan jati diri manusia pada tempat yang tinggi

sebagai makhluk Tuhan. Visi yuridis konstitusional, mengaitkan pemahaman

hak asasi manusia itu dengan tugas, hak,wewenang dan tanggungjawab negara

sebagai suatu nation-state. Sedangkan visi politik memahami hak asasi

25
manusia dalam kenyataan hidup sehari-hari, yang umumnya berwujud

pelanggaran hak asasi manusia, baik oleh sesama warga masyarakat yang

lebih kuat maupun oleh oknum-oknum pejabat pemerintah.

konsep hak asasi manusia mencakup generasi I, generasi II, generasi III,

dan pendekatan struktural (T.Mulya Lubis,1987: 3-6). Generasi I konsep

HAM , sarat dengan hak-hak yuridis, seperti tidak disiksa dan ditahan, hak

akan equality before the law (persamaan dihadapan hukum), hak akan fair trial

(peradilan yang jujur), praduga tak bersalah dan sebagainya. Generasi I ini

merupakan reaksi terhadap kehidupan kenegaraan yang totaliter dan fasistis

yang mewarnai tahun-tahun sebelum Perang Dunia II.

Generasi II konsep HAM, merupakan perluasan secara horizontal generasi I,

sehingga konsep HAM mencakup juga bidang sosial, ekonomi, politik dan

budaya. Generasi II, merupakan terutama sebagai reaksi bagi negara dunia

ketiga yang telah memperoleh kemerdekaan dalam rangka mengisi

kemerdekaananya setelah Perang Dunia II.

Generasi III konsep HAM, merupakan ramuan dari hak hukum, sosial,

ekonomi, politik dan budaya menjadi apa yang disebut hak akan

pembangunan (the right to development). Hak asasi manusia di nilai sebagai

totalitas yang tidak boleh dipisah-pisahkan. Dengan demikian, hak asasi

manusia sekaligus menjadi satu masalah antar disiplin yang harus didekati

secara interdisipliner. Pendekatan struktural (melihat akibat kebijakan

pemerintah yang diterapkan) dalam hak asasi manusia. seharusnya merupakan

generasi IV dari konsep HAM. Karena dalam realitas masalah-masalah

26
pelanggaran hak asasi manusia cenderung merupakan akibat kebijakan yang

tidak berpihak pada hak asasi manusia. Misalnya, berkembangnya sistem

sosial yang memihak ke atas dan memelaratkan mereka yang dibawah, suatu

pola hubungan yang "repressive". Sebab jika konsep ini tidak dikembangkan,

maka yang kita lakukan hanya memperbaiki gejala, bukan penyakit. Dan

perjuangan hak asasi manusia akan berhenti sebagai pelampiasan emosi

(emotional outlet).

Hak asasi manusia (HAM) berkaitan langsung dengan eksistensi martabat

manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. John Locke, menyebut hak-

hak asasi manusia ini meliputi hak hidup, hak milik, dan hak merdeka. Hak-

hak tersebut kemudian berkembang menjadi hak berbicara, hak beragama, hak

berusaha, hak berbudaya, hak politik, hak sama dalam hokum dan sebagainya.

Pada dasarnya setiap manusia memiliki martabat yang sama.

Wiryotenoyo (1983) menegaakan bahwa martabat manusia itu bukanlah

pemberian sesama manusia berdasarkan kebaikan hati, bukan pemberian

penguasa (di dalam negara) karena belas kasihan terhadap rakyat, melainkan

hak asasi manusia, sesuatu yang dimilik oleh manusia karena dia adalah

manusia. Hak asasi manusia tidak dapat ditiadakan atau dirubah oleh siapapun

dengan cara apapun. Hal ini berarti, tidak satupu manusia yang dapat

mengubah eksistensial seseorang, sehingga ia bermartabat lebih rendah atau

lebih tinggi ketimbang manusia lain. Karena setiap manusia memiliki martabat

yang sama, maka dalam hal hak-hak asasi manusia harus mendapat perlakuan

yang sama walaupun kondisi mereka berbeda-beda. Dengan kondisi demikian

27
menutut adanya kewajiban seseorang, bangsa dan bahkan Negara untuk

menghormati martabat manusia.

Kenyataan pada awal sejarah perkembangan negeri-negeri Barat, proses

berkembangnya ide hak-hak asasi manusia, berbarengan dengan

berkembangnya ide untuk membangun suatu Negara bangsa (nation state)

yang demokratis dan berinfrastruktur masyarakat warga (Wignjosoebroto,

1997). Hal ini berarti, bahwa setiap manusia sebangsa dalam kehidupan

komunitas bangsa yang disebut negara bangsa itu tak lagi boleh dipisah dalam

golongan. Gagasan masyarakat yang demikian adalah suatu ‘masyarakat baru’

yang berhakikat sebagai masyarakat warga yang pada asasnya berkebebasan,

bereksistensi, dan bersitegak di atas dasar paham egalitarianisme. Kebebasan

hanya bias dikurangi atas dasar kesepakatan yang dicapai tanpa rasa

keterpaksaan (antara warga dan penguasa), yang kemudian diwujudkan dalam

sebuah kontrak social antara kehidupan privat dan public, yang didokumenkan

dalam bentuk undang-undang.

UU No.39 Tahun 1999 tentang HAM , mengartikan hak asasi manusia

adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia

sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anuaerahNya yang

wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum,

Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan dan perlindungan harkat dan

martabat manusia. UU No.39 Tahun 1999 juga mendefinisikan kewajiban

dasar manusia adalah seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan

tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya hak asasi manusia.

28
2. Sejarah Perkembangan Hak-Hak Asasi Manusia

Hak asasi manusia adalah kodrat manusia yang menjadi milik setiap orang

pada segala jamannya, namun demikian kesadaran akan hak asasi manusia itu

relative baru. Ketika kezaliman para raja dan negara absolut disatu pihak dan

kedudukan kuat para warga negara di beberapa negara Barat pada abad ke-18,

mendorong orang-orang yang mencintai kebebasan untuk memikirkan,

mempromosikan, merebut dan membela hak-hak yang miliki, maka mulailah

kebangkitan perjuangan terhadap hak-hak asasi manusia.

Sejarah telah mencatat, bahwa perjuangan terhadap hak-hak asasi manusia

telah sampai pada tonggak-tonggak kemenangannya, yang secara kronologis

dapat dikemukakan sebagai berikut:

1) Kemenagan hak-hak asasi manusia terjadi di Inggris, dapat kit temukan

beberapa dokumen, yaitu:

a) Magna Charta (1215). Prinsip dasar piagam yang dicetuskan para

bangsa Inggris itu, antara lain memuat bahwa kekuasaan Raja (John

Lackland) harus dibatasi. Hak-hak asasi manusia lebih penting dari

kekuasaan Raja, tak seorangpun dari warga Negara merdeka ditahan

atau dirampas harta kekayaannya atau diperkosa atau diansingkan, atau

dengan cara apapun diperkosa hak-haknya, kecuali dengan

pertimbangan hukim.

b) Petition of Rights (1629), yang berisi tentang pemungutan pajak yang

harus disetujui oleh Parlemen. Selain itu, orang tidak boleh ditangkap

kalau tidak ada tuduhan dan bukti yang sah.

29
c) Habeas Corpus Act (1679), yang menyatakan bila menagkap seseorang

harus dengan surat-surat yang lengkap

d) Bill of Rights (1689), yang menyatakan bahwa pemungutan pajak

harus dengan persetujuan Parlemen. Selanjutnya parlemen juga berhak

mengubah keputusan Raja.

2) Dikeluarkannya Declaration of Independence (1776), yang menuat

kemerdekaan negeri itu dari pemjajahan Inggris. Di dalam pernyataan itu,

dinyatakan bahwa ada hak-hak yang telah dikaruniai oleh Tuhan, yaitu hak

hidup, merdeka dan mengejar kebahagiaan.

3) Pada waktu revolusi Prancis dikumandangkan melalui Declaration des

droits de l’Homme et du Cotoyen (Deklarasi tentang hak-hak manusia dan

penduduk) tahun 1879, berisis tentang ketentuan bahwa manusia

dilahirkan bebas dan menpunyai hak yang sama. Disamping itu disebut

pula, bahwa yang disebut dengan kemerdekaan ialah boleh bertindak

sesukanya asal tidak merugikan orang lain. Hak ini didasarkan atas

semboyan yang terkenal, yaitu liberte, eligate, dan fraternite

(kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan).

4) Ketika sedang berkecamuknya Perang Dunia II (1939-1945), Presiden

Franklin Delano Roosevelt dari Amerika Serikat, dihadapan kongres pada

tahun 1941 menyatakan adannya empat kemerdekaan (the four freedoms)

yang harus dihormati, yaitu freedoms of speech (bebas menyatakan

pendapat), freedoms of religion (bebas memeluk agama), freedoms of fear

(bebas dari rasa takut) dan freedoms of want (bebas dari kemiskinan).

30
5) The Universal Declaration of Human Rights (Pernyataan Sedunia tentang

Hak-hak Asasi Manusia) pada tanggal 10 Desember 1948, pada dasarnya

merupakan puncak kemenagan perjuangan terhadap hak-hak asasi

manusia. Pada alenia pertama Muakad dimah Pernyataan itu, ditegaskan

bahwa : “Bahwa sesungguhnya hak-hak kodrati yang diperoleh setiap

manusia berkat pemberian Tuhan seri Sekalian Alam, tidak dapat

dipisahkan dari hakekatnya, dank arena itu setiap manusia berhak akan

kehidupan yang layak, kebebasan, keselamatan, dan kebahagiaan

pribadinya”. Selanjutnya, dalam pembukaan Piagam Perserikatan Bangsa-

Bangsa (PBB), juga dinyatakan, bahwa “Kami, para bangsa dari

Perserikatab Bangsa-Bangsa bertekad untuk: melindungi angkatan-

angkatan yang akan datang terhadap bencana perperangan, yang dalam

hidup kita telah dua kali membawa penderitaan yang tak terhingga, dan

untuk meneggakkan kembali kepercayaan terhadap hak-hak asasi manusia,

pada kehormatan dan harga diri seorang manusia pada hak-hak yang sama-

sama dari laki-laki dan wanita, bangsa-bangsa besar dan kecil”.

Pada Pasal 1 Piagam PBB ditentukan sebagai tujuan Perserikatan

Internasional, yakni mengingatkan penghormatan terhadap hak-hak asasi

manusia dan kemerdekaan pokok yang dimiliki semua orang tanpa membeda-

bedakan kebangsaan, agama, jenis kelamin atau bangsa. Namun demikian

sekalipun pernyataan Perserikatan Bnagsa-Bangsa, telah menyebut hak-hak

asasi manusia, namun dalam pernyataan itu belum menentukan sanksi yang

mengikat negara-negara anggotanya. Oleh karena itu, selama enam tahun

31
(1948-1954), Panitia hak-hak asasi manusia berkerja secara marathon untuk

mempersiapakan suatu rancangan penjanjian yang melengkapi pernyataan

PBB tersebut. Hasilnya pada tahun 1966, lahirlah Internasional Convenant on

Economic, Social, and Cultural Rights (Konvensi Internasional tentang Hak-

hak Ekonomi, Sosial, dan Kultural) dan Internasional Convenan on Civil and

Political Rights (Konevensi Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik).

Karena kedua perjanjian tersebut masih mengandung kelemahan, kerena

belum bisa digunakan sebagai dasar yuridis untuk mengajukan gugatan secara

individual; maka untuk mengisi kekosongan itu, ditetapkan Optional Protocol

to the Internasional Convenant on Civil and Political Rights (Ptotokol

Manusuka pada Konevensi Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik).

Ketiga mekanisme internasional itu ternyata tidak mudah mencapai

konsensus. Baru 11 tahun sesudah rancangan pertama disampaikan pada

siding umum PBB tahun 1955 dan 18 tahun sesudah penyataan Sedunia

tentang HAM (10 Desember 1948). Namun setelah tahun 1948, PBB banyak

mengalami kemajuan bagi tercetusnya konvensi yang disepakati Sidang

Umum oleh Organisai Buruh Internasional (ILO) maupun oleh Organisasi

PBB untuk pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO), yang

diantaranya adalah:

1) Konvensi Nomor 98 tentang diberlakukannya Prinsip-prinsip hak

beroganisasi dan berunding, yeng diterima oleh ILO pada tanggal 1 juli

1949.

32
2) Konvensi Nomor 100 tentang Perupahan yang sama bagi buruh pria dan

wanita untuk pekerjaan yang sama, diterima oleh ILO tanggal 29 juni

1951.

3) Konvensi Hak-hak POlitik Wanita, yang diterima oleh Sidang Umum PBB

berdasarkan resolusi Nomor 640 (VII) tanggal 20 Desember 1952.

4) Konvensi mengenai Kewarganegaraan Wanita Bersuami, diterima oleh

Sidang Umum PBB. Berdasarkan resolusi nomor 1040 (XI) tanggal 29

Januari 1957.

5) Penyataan Hak-hak Anak, diproklamirkan oelh Sidang Umum PBB,

berdasarkan resolusi Nomor 1386 (XIV), tanggal 20 November 1959.

6) Konvensi tentang Menentang Diskriminasi dalam bidang Pendidikan,

diterima oleh Konferensi Umum UNESCO, tanggal 14 Desember 1960.

7) Konvensi tentang Ijin untuk Kawin, Usia minimum kawin dan Pencatatan

Perkawinan, berdasarkan resolusi Nomor 1783 A (XVII) tanggal 7

November 1962.

8) Konvensi Internasional tentang Hilangnya segala bentuk diskriminasi

Rasial, berdasarkan resolusi Nomor 2106 A (XX), yang diterima siding

umum PBB tanggal 21 Desember 1965.

3. Perkembangan Hak-hak Asasi Manusia di Indonesia

Diskursus mengenai hak asasi manusia ditandai dengan perdebatan yang

sangat intensif dalam tiga periode sejarah ketatanegaraan, yaitu mulai dari

tahun 1945, sebagai periode awal perdebatan hak asasi manusia, diikuti

dengan periode Konstituante (tahun 1957-1959) dan periode awal bangkitnya

33
Orde Baru (tahun 1966-1968).Perjuangan itu memerlukan waktu lama untuk

berhasil, yaitu sampai datangnya periode reformasi (tahun 1998-2000).

Periode ini diawali dengan pelengseran Soeharto dari kursi Presiden Indonesia

oleh gerakan reformasi. Pada waktu menyusun konstitusi, Undang-Undang

Dasar 1945, Soekarno dan Supomo mengajukan pendapat bahwa hak-hak

warga negara tidak perlu dicantumkan dalam pasal-pasal konstitusi.

Sebaliknya, Mohammad Hatta dan Muhammad Yamin tegas berpendapat

perlunya mencantumkan pasal mengenai kemerdekaan berserikat, berkumpul,

dan mengeluarkan pikiran dengan lisan maupun tulisan di dalam Undang-

Undang Dasar. Perdebatan dalam sidang-sidang BPUPKI tersebut merupakan

tonggak penting dalam diskursus hak asasi manusia di Indonesia, yang

memberi pijakan bagi perkembangan wacana hak asasi manusia periode-

periode selanjutnya.

menolak pencantuman pasal-pasal hak warga negara dalam Konstitusi

Indonesia? Penolakan Soekarno dan Supomo tersebut didasarkan pada

pandangan mereka mengenai dasar negara --yang dalam istilah Soekarno

disebut dengan “Philosofische grondslag” atau dalam istilah Supomo disebut

“Staatsidee”-- yang tidak berlandaskan pada faham liberalisme dan

kapitalisme. Menurut pandangan Soekarno, jaminan perlindungan hak warga

negara itu --yang berasal dari revolusi Prancis, merupakan basis dari faham

liberalisme dan individualisme yang telah menyebabkan lahirnya imperialisme

dan peperangan antara manusia dengan manusia. Soekarno menginginkan

negara yang mau didirikan itu didasarkan pada asas kekeluargaan atau gotong-

34
royong, dan karena itu tidak perlu dijamin hak warga negara di

dalamnya.Kutipan di bawah ini akan menunjukkan argumen Soekarno yang

menolak mencantumkan hak-hak warga negara.

“... saya minta dan menangis kepada tuan-tuan dan nyonya-nyonya, buanglah

sama sekali faham individualisme itu, janganlah dimasukkan dalam

UndangUndang Dasar kita yang dinamakan “rights of the citizens” yang

sebagai dianjurkan oleh Republik Prancis itu adanya”.

“... Buat apa kita membikin grondwet, apa gunanya grondwet itu kalau ia tak

dapat mengisi perutnya orang yang hendak mati kelaparan. Grondwet yang

berisi “droits de I’ homme et du citoyen” itu, tidak bisa menghilangkan

kelaparannya orang yang miskin yang hendak mati kelaparan. Maka oleh

karena itu, jikalau kita betul-betul hendak mendasarkan negara kita kepada

paham kekeluargaan, faham tolong-menolong, faham gotong-royong dan

keadilan sosial, enyahkanlah tiap-tiap pikiran, tiap-tiap faham individualisme

dan liberalisme dari padanya”.

Sedangkan Supomo menolak dicantumkannya hak warga negara dalam

pasalpasal Undang-Undang Dasar dengan alasan yang berbeda. Penolakan

Supomo didasarkan pada pandangannya mengenai ide negara integralistik

(staatsidee integralistik), yang menurutnya cocok dengan sifat dan corak

masyarakat Indonesia. Menurut faham tersebut negara harus bersatu dengan

seluruh rakyatnya, yang mengatasi seluruh golongan-golongannya dalam

lapangan apapun. Dalam negara yang demikian itu, tidak ada pertentangan

35
antara susunan hukum staat dan susunan hukum individu, karena individu

tidak lain ialah suatu bagian organik dari Staat. Makanya hak individu menjadi

tidak relevan dalam paham negara integralistik, yang justru relevan adalah

kewajiban asasi kepada negara. Paham inilah yang mendasari argumen

Supomo.

Hatta setuju dengan penolakan terhadap liberalisme dan individualisme,

tetapi ia kuatir dengan keinginan untuk memberikankekuasaan yang seluas-

luasnya kepada negara, bisa menyebabkan negara yang ingin didirikan itu

terjebak dalam otoritarianisme. Berikut argumen Hatta:

“Tetapi satu hal yang saya kuatirkan kalau tidak ada satu keyakinan atau satu

pertanggungan kepada rakyat dalam hukum dasar yang mengenai haknya

untuk mengeluarkan suara, saya kuatir menghianati di atas UndangUndang

Dasar yang kita susun sekarang ini, mungkin terjadi satu bentukan negara

yang tidak kita setujui”. “Sebab itu ada baiknya dalam satu fasal, misalnya

fasal yang mengenai warga negara disebutkan di sebelah hak yang sudah

diberikan juga kepada misalnya tiap-tiap warga negara rakyat Indonesia,

supaya tiap-tiap warga negara itu jangan takut mengeluarkan suaranya. Yang

perlu disebut disini hak buat berkumpul dan bersidang atau menyurat dan lain-

lain. Tanggungan ini perlu untuk menjaga supaya negara kita tidak menjadi

negara kekuasaan, sebab kita dasarkan negara kita kepada kedaulatan rakyat”.

Begitu juga dengan Yamin, menolak dengan keras argumen-argumen yang

membela tidak dicantumkannya hak warga negara dalam Undang-Undang

36
Dasar. “Supaya aturan kemerdekaan warga negara dimasukkan dalam

Undang-Undang Dasar seluas-luasnya. Saya menolak segala alasan-alasan

yang dimajukan untuk tidak memasukkannya. Aturan dasar tidaklah

berhubungan dengan liberalisme, melainkan semata-mata satu kesemestian

perlindungan kemerdekaan, yang harus diakui dalam Undang-undang Dasar,”

Yamin mengucapkan pidatonya pada sidang BPUPKI.

Perdebatan berakhir dengan suatu kompromi. Hak warga negara yang

diajukan oleh Hatta, Yamin dan Liem Koen Hian diterima untuk dicantumkan

dalam Undang-Undang Dasar, tetapi dengan terbatas. Keterbatasan itu bukan

hanya dalam arti bahwa hak-hak tersebut lebih lanjut akan diatur oleh

undangundang, tetapi juga dalam arti konseptual.360 Konsep yang digunakan

adalah “Hak Warga Negara” (“rights of the citizens”) bukan “Hak Asasi

Manusia” (human rights). Penggunaan konsep “Hak Warga Negara” itu berarti

bahwa secara implisit tidak diakui paham natural rights yang menyatakan

bahwa hak asasi manusia adalah hak yang dimiliki oleh manusia karena ia

lahir sebagai manusia. Sebagai konsekuensi dari konsep itu, maka negara

ditempatkan sebagai “regulator of rights”, bukan sebagai “guardian of human

rights” –sebagaimana ditempatkan oleh sistem Perlindungan Internasional

Hak Asasi Manusia.

Pandangan konstitusional dalam Undang-Undang Dasar 1945 menitik-

beratkan pengintegrasian (individu dalam kolektif), berlainan dengan

pandangan konstitisinalisme dibeberapa negara lain yang menguatkan

37
kebebasan para warga negara terhadap kekuasaan, sementara konstitisinalisme

Barat lebih pesimitis dan merasa cemas terhadap kekuasaan. Pasal-pasal hak-

hak kebebasan individu (hak-hak asasi manusia) dalam Rancangan Undang-

Undang Dasar, adalah merupakan hasil “konsensus” dari perdebatan panjang

berbagai paham dan pikiran serta kubu yang pro dan kontra terhadap

masuknya HAM dalam RUUD. Hal ini menyebabkan UUD 1945 menjadi

seperti sekarang, hanya sedikit yang memuat pasal-pasal tentang hak-hak

warga negara. Disamping alasan lain karena UUD 1945 dirumuskan lebih jauh

dari pernyataan Sedunia tentang Hak-hak Asasi Manusia tahun 1948.

Ketentuan UUD 1945 yang memuat hak-hak asasi ada pada pasal 27, 28, 29,

30, 31, 32, 33, dan 34.

Dari kalangan tokoh the founding fathers, seperti Soekarno, Hatta, Yamin,

dan Soepomo, serta beberapa tokoh yang lain, pada dasarnya juga sangat

menitik-beratkan pada kebersamaan, kolektivisme, integrasi, dan solidaritas,

sehingga untuk hak-hak perseorangan (individu) ha,pir tidak ada ruang dan

perhatian lagi. Hal ini dapat dimengerti jika dikaitkan dengan masalah utama

yang mereka hadapi, yaitu membina persatuan dan kesatuan bangsa yang

masih rapuh terutama dalam menuju kemerdekaan. Sebenarnya, secara agak

lengkap hak-hak asasi manusia sebagaimana Penyataan Sedunia tentang

HAM, telah muncul dalam konstitusi RIS 1949 dan UUDS 1950. Namun

demikian, kerena perkembangan politik dan ketatanegaraan RI, kedua

Undang-Undang Dasar itu dinyatakn tidak berlaku. Massa berlakunya

konstitusi RIS 1949, karena pergantian bentuk negara RIS menjadi Negara

38
Kesatuan RI dengan pemberlakuan UUDS 1950. Undang-Undang Dasar ini,

akhirnya juga tidak berlaku, akibat Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang salah

satunya menegaskan untuk kembali ke UUD 1945.

Perkembangan hak-hak asasi manusia setelah dekrit, mengalami kemajuan

pada decade 1960-an, ketika dalam MPR(S) pernah dibentuk suatu Panitia Ad

Hoc dan Badan pekerja untuk merumuskan suatu Piagam tentang Hak-hak

Asasi Manusia dan Hak-hak serta kewajiban Warga negara. Perumusan

Piagam tentang HAM dimaksudkan sebagai keberlanjutan UUD 1945 yang

mengatur Hak-hak Asasi Manusia. Namun karena perkembangn politik dari

orde lama menjadi orde baru, kerja Panitia Badan Pekerja menjadi tidak

popular sampai sekarang.

Presiden B.J. Habibie dan DPR sangat terbuka dengan tuntutan reformasi,

maka sebelum proses amandemen konstitusi bergulir, presiden lebih dulu

mengajukan Rancangan Undang-Undang Hak Asasi Manusia ke Dewan

Perwakilan Rakyat untuk dibahas. Pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat

juga tidak memakan waktu yang lama dan pada 23 September 1999 telah

dicapailah konsensus untuk mengesahkan undang-undang tersebut yakni

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Undang-

Undang tersebut dilahirkan sebagai turunan dari Ketetapan MPR No.

XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia. Undang-Undang Nomor 39

Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia memuat pengakuan yang luas

terhadap hak asasi manusia. Hak-hak yang dijamin di dalamnya mencakup

39
mulai dari pengakuan terhadap hak-hak sipil dan politik, hak-hak ekonomi,

sosial dan budaya, hingga pada pengakuan terhadap hak-hak kelompok seperti

anak, perempuan dan masyarakat adat (indigenous people). Undang-Undang

tersebut dengan gamblang mengakui paham ‘natural rights’, melihat hak asasi

manusia sebagai hak kodrati yang melekat pada manusia. Begitu juga dengan

kategorisasi hak-hak di dalamnya tampak merujuk pada instrumen-instrumen

internasional hak asasi manusia, seperti Universal Declaration of Human

Rights, International Covenan on Civil and Political Rights, International

Covenan on Economic, Social and Cultural Rights, International Convention

on the Rights of Child, dan seterusnya. Dengan demikian boleh dikatakan

Undang-Undang ini telah mengadopsi norma-norma hak yang terdapat di

dalam berbagai instrumen hak asasi manusia internasional tersebut. Di

samping memuat norma-norma hak, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999

tentang Hak Asasi Manusia juga memuat aturan mengenai Komisi Nasional

Hak Asasi Manusia (bab VII). Mulai Pasal 75 sampai Pasal 99 mengatur

tentang kewenangan dan fungsi, keanggotaan, serta struktur kelembagaan

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Jadi kalau sebelumnya Komisi

Nasional Hak Asasi Manusia berdiri berdasarkan Keputusan Presiden No. 50

Tahun 1993, maka setelah disahkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999

landasan hukumnya diperkuat dengan Undang-Undang.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 ini setelah keluarnya Amandemen

Kedua tentang Hak Asasi Manusia. “ketentuan yang baru menghapus

ketentuan yang lama” jelas tidak dapat diterapkan di sini. Kaidah tersebut

40
hanya berlaku untuk norma yang setingkat. Karena kedudukan kedua

ketentuan tersebut tidak setingkat, dan sejalan dengan “stuffenbau theorie des

rechts” (hierarchy of norm theory), norma konstitusi lebih tinggi daripada

undang-undang. Maka Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 itu tetap

berlaku dan dapat dipandang sebagai ketentuan organik dari ketentuan hak

asasi manusia yang terdapat pada amandemen kedua.

4. Problematika HAM Di Indonesia

Upaya untuk memajukan penghormata dan perlindungan terhadap hak-hak

asasi manusia (HAM) Diperkirakan telah dilakukan sejak awal sejarah umat

manusia, karena pelanggaran HAM juga telah terjadi sejak awal sejarah umat

manusia.Hal ini terutama dilihat adri ajaran agama yang dibawa oleh parah nabi

dan rosul yang penuh dengan pesan untuk menghormati nilai nilai kemanusaian

dan menegakkan keadilan.

Penghormatan, perlindungan, dan kemajua hak-hak asasi manusia di

Indonesia telah mengalami pasang surut, bersamaan dengan pasang surutnya

(dinamika) politik dan ketatanegaraan republik Indonesia. Sejak proklamasi

sampai jaman reformasi sekarang ini, tak pelak bahwa persoalan HAM terus

menjadi hal yang menarik semua kalangan, bahkan tidaksaja menjadi isu nasional,

akan tetapi juga internasional .

Begitu reformasi total digulirkan pada tahun 1998, di Indonesia telah

mengalami masa transisi dari rezim yang otoriter menuju rezim yang demokratis.

Sebagaimana dengan pengalaman Negara – Negara lain yang mengalami transisi,

41
Indonesia juga menghadapi persoalan yang berhubungandengan pelanggaran

HAM, yang terjadi di masa lampau yang tidak pernah di selesaikan secara adil

dan manusiawi. Selama pemerintahan orde lama sampai dengan orde baru, kasus

pelanggaran HAM terjadi dimana yang termasuk dengan kategori berat dan

berlangsung secara sistematis. Tidak sedikit kalangan masyarakat telah menjadi

korban, dan menderita dalam ketidakadilan, tanpa harapan akan adanya

penyelesaian secara adil.

Pelanggaran HAM dimasa lalu membawa setidak tidaknya dalam

duakonsekuensi: pertama, hak hak korban pelanggaran HAM tidak pernah

dipulihkan, sehingga pengaruh pada psikologi tidak mendapat perlakuan layanan

keadilan dan kesejah teraan. Kedua, berlanjutnya impunity, dimana pelaku dan

penanggungjawab dari kejahatan HAM tidakpernah ditindaksecara hukum. Pelaku

dan penanggungjawab pelanggaranHAM masa kini dan dimasa datang akan

menuntut perlakuan yang sama. Pada sisi lain dengan tidak pernah melupakan dan

tidak memaafkan, berarti memelihara rasa dendam dan kebencian dalam

masyarakat. Ibarat ‘api dalam sekam’, sewaktu-waktu dapat muncul pelanggaran

HAM yang baru. Berbagai peristiwa ditanah air, misalnya G-30S/PKI,DOM di

aceh, irian jaya, timur timor, pasca jajak pendapat, kasus tri sakti dan masih

banyak kasus pelanggaran HAM yang lain.; kesemuanya masih meninggalkan

persoalan ketidak adilan secara meluas. Karna itu perlu peningkatan sosialisasi

dan internalisasi makna dan nilai nilai HAM dalam kehidupan bangsa dan

bernegara Indonesia.

42
Sejak beberapa tahun terakhir, perhatian yang sedimikian meningkat

masalah HAM, pada dasarnya bisa dikonstatir.pengalaman pahit yang dirasakan

dalam kehidupan nyata mendorong untuk menyadarkan orang, bahwa tidak wajar

merekadiperlakukan seakan sebagai manusia kelas dua.Setidak yang orang merasa

merdeka oleh alam merdeka.

Namun demikian, berbagai kasus juga tetap kunjung datang, saling susul

menyusulsehingga melengkapi deretan pelanggaran HAM justru nampak

meningkat.Dalam kaitan ini tebba (dalam Abbas,2000), sempat mencontohkan :

bahwa penganggurandan kemiskinan yang semakin meningkat, pendidikan yang

semakin mahal sehingga tidak dapat diraih, ketidakbebasan mimbar akademik,

pengambil alihan hak milik tanah rakyat kecil yang kerap kali tanpa ganti rugi,

penahanan warga nergara yang acap kali tak terbukti kesalahanya, adalah sebagian

realitas sosial yang menggoda kita untuk memperhatikan sejenak keadaan hak-hak

asasi manusia Indonesia dewasa ini. Hal ini di anggap perlu dan

penting,meningkatkan kemerdekaan yang berhasil kita rebut dari tangan penjajah

bangsa asing tiga uluh enam tahun yang lalu, antara lain bertujuan untuk

menegakkan hukum, keadilan dan hak-hak asasi manusia.

Sementara itu, refleksi massa lalu, Adam Malik (Peringatan Hari

Proklamasi Kemerdekaan ke-33) pernah menyatakan bahwa masalah hukum

(khususnya hak-hak asasi manusia), belum dihayati secara luasoleh rakyat dan

aparat pemerintah. Sebagai bukti bahwa hampir setiap hari dia menreima

43
pengaduan tentang pelanggaran HAM yang di alami oleh rakyat dari berbagai

daerah di Indonesia.

Bertolak dari pemikiran di atas, maka problematika HAM di Indonesia

hendaknya segera di pecahkan dengan cermat, manusiawi,adil, serta demokratis,

yang menempatkan harkat dan martabat manusia sebagai subyek dan obyek

HAM. Dalam kaitan ini ada beberapa problema yang perlu di pecahkan dan patut

di angkat sebagai agenda nasional dan tuntutan yang mendesak , antara lain:

1. kejelasan landasan filosofis yuridis bagi HAM

Menurut aliran hukum positif, bahwa hak hak asasi manusia pada dasarnya

harus berlandaskan pada sejarah hukum.Adanya dan pengakuannya harus dimuat

dalam Undang-Undang Dasar Negara. Dengan demikian hak-hak asasi manusia

tidak abadi, tidak universal dan bukannya tidakdapat berubah. HAM dalam

pemikiran seperti ini bukanlah bercorak pra-konstitusional, melainkan harus

bersifat konstitisional.

Selain itu secara filosofis hak-hak asasi manusia pada dasarnya melekat

pada ‘kodrat’ manusia sejak lahir dan merupakan hak abadi yang tidak dapat di

ganggu gugat.Adanya Negara justru untuk melindungi hak-hak itu kehidupan,

kebebasan dan hak milik adalah bersifat ‘alamiah’ pada pribadi manusia.Dalam

alam pemikiran ini, terkandung pengakuan bahwa HAM itu tidak tergantung pada

dimuat atau tidaknya dalam Undang-Undang Dasar.Adanya dan pengakuannya

harus bersifat pra-konstitusional; dan penguasa bahkan semua anggota masyarakat

harus mengindahkan HAM tersebut.

44
Terhadap dua pemikiran paham itu, seharusnya antara keduanya tidak

harus di pertentangkan. Penyikapan akomodatif dengan mengkronologiskan

fenomena HAM dan aspek yuridis kiranya merupakan solusi yang bijak. Disadari

bahwa fenomena HAM pada dasarnya merupakan sesuatu yang berakar dalam

kehidupan manusia, maka dia berifat inbernt pada sifat kodrat manusia itu sendiri.

Jadi, segala hak yang berakar dari kodrat manusiaatau kemanusian adalah hak

yang lahir bersamadengan manusia, dan hal ini merupakan konsekuensi hakiki

dari kodratnya.Oleh karena itu HAM besifat universal, dimana saja manusia itu

berada maka hak-hak yang melekat pada dirinya harus dihormati.

Karena tidak setiap hak-hak asasi pada manusia itu seluruhnya di sadari

oleh manusia dan negaranya, maka untuk menyadarkan hal ituperlu di cantumkan

dalam ketentuan Undang -Undang Dasar Negara atau dalam produk hukum lain.

Secara demikian landasanfilosofis dan yuridis hendaknya saling

membarikannasional dan penguatan hukum agar persoalan tidak mudahdi langgar

atau di anggap sebagai tuntutan moral semua, melainkan juga adanya kekuatan

yuridis bagi HAM yang mempu mengikat manusia dan Negara.

2. political will pemerintah terhadap HAM

Kurangnya political will pemerintah Indonesia baikdi massa presiden

soekarno maupun presiden soeharto,berpengaruh kemauan politik untuk

meratifikasi instrument HAM ke dalam Negara Indonesia. Sebagaimana

pemikiran soekarno yang terlihat dalam rapat BPUPKI yang menolak masuknya

pasal-pasal kebebasan individu, ternyata berbeda dengan pemikiran Hatta yang

45
memandang perlu masuknya pasal-pasal hak-hak asasi manusia kedalam

rancangan UUD, yang kemudian meluas menjadi ajang perdebatan. Walaupun

pada akhirnya terjad;’kompromis’ antara kelompok pro dan kontra HAM masuk

dalam RUU, hal ini masih nampak dalam ke[emimpinan soekarno. Kurangnya

kemauan politok soekarno untuk menghormati HAM,termasuk meratifikasi

instrument HAM internasional pada masademokrasi terpimin(1959-1965). Pada

masa itu, pemerintah melakukan tindakan yang melanggar HAM. Warga Negara

yang tidak loyal dengan kebijakan pemerintah, dianggap sebagai perbuatan yang

‘kontra revolusi’ disamping juga terjadi penahanan lawan lawan politik tanpa

melalui proses pengandilan.

Lebih parah lagi, pada massa orde baru dibawah pemrerintahan soeharto,

tidak hanya kurang mempunyai political will namun juga terbukti sering

melakukan pelanggaran HAM. Pemerintah telah melukan pelanggaran HAM

kepada siapa saja yang tidak mendukung kebijakannya, dengan lebel ‘anti

pancasila’ dan ‘anti pembangunan’ ,’subyektif’,’OTB’ disamping tindakan lain

setelah eksekusi dan penahanan PKI, kasus aceh, kasus irja, kasus tanjung

priok,pembredelan pers, pembatasan gerak mahasiswa dan buruh,dan sebagainya,

semakin menambah sederetan tindakan yang justru mencemarkan HAM di

Indonesia.

Political will pemerintah diatas, berpengaruh terhadap kebijakan dalam

meratifikasi instrument HAM internasional ke dalam pemerintahan Negara

Indonesia. Dari kurang lebih 50 instrumen HAM internasional yang di keluarkan

46
PBB, nampak sangat minim(saptomo,2001)yang sudah teratifikasi ke Indonesia,

yaitu:

a. konvensi mengenai Hak Politik Perempuan tahun1952(UU No. 68 tahun 1958);

b. konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap

perempuan tahun 1979(UU No. 7 tahun 1984)

c. konvensi menentang apartheid dalambidang olahraga 1985;

d. konvensi mengenai hak anak 1989(Kepres No, 36 tahun 1990);

e. konvensi menentang penyiksaan dan perlakuan atau hukuman lainnya yang

kejam, Tidak Manuisawi atau Merendahkan Martabat Manusia 1987 (UU No, 7

tahun 1998);

f. konvensi tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi Rasial1965 (UU No.

5 tahun 1998);

g. sejumlah konvensi ILO (UU No. 29 1999)

perhatian terhadap permajuan HAM mulai meningkat pada tahun 1991,

dimana pemrintah indoesia telah membentuk panitia tetap (pantap) yang

berkedudukan di departemen luar negri dan bertugas memberi rekomendasi

mengenai pemajuan HAM di Indonesia. Pantap ini mempunyai andil besar dalam

mendorong pembentukan komnas HAM tahun 1993 dan menyusun rencan aksi

Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) tahun 1998-2003. Sehubungan dengan

adanya kendala dalam proses ratifikasi, ditambah dengan tuntutan masyarakat

47
untuk memprioritaskan instrument HAM internasional, maka kegiatan itu baru

dapat di jadwalkan sebagai berikut:

Tahun 2001:

a. kovenan internasional tentang Hak Ekonomi Sosial dan Budaya;

b. kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dengan protokolya;

c. kovenan pencegahan dan penghukuman Kejahatan Genocide.

Tahun 2002

a. konvensi penghentian perdagangan dan eksploitasi prostitusi;

b. konvensi menentang perbudakan;

c. konvensi perlindungan hak pekerja migram dan anggota keluarganya;

Tahun 2003

a. konvensi persetujuan perkawinan, usia minimum untuk menikah dan regitrasi

perkawinan;

b. konvensi tentang status pengungsi

Draf penyempurnaan RAN-HAM tersebut telah disampaikan kepada ketua

panitia nasional RAN-HAM (menlu RI) untuk proses berikutnya, yaitu dibuat

keputusan presiden repuklik Indonesia.

48
5. Sosialisasi HAM dan Peran Universitas

Dalam berbagai pertemuan internasional yang di prakarsai UNESCO sejak

decade abad 20, universitas di harapkan senantiasa propokatif dalam merespon

tangtangan demokrasi, globalisasi, regionalisasi, polarisasi, marginalisasi dan

pragmentasi. Unversitas yang prpokatif itu di gambarkan oleh UNESCO (sebagai

mana di kutib Abbas, 2001)

Berkaitan dengan it, maka unversitas sebagai lembaga pendidikan yang

memiliki tugas Tri Darmanya (pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat)

diharapkan dapat berfungsi sebagai layanan informasi, sosialisasi dan pendidikan

HAM bagi semua pihak yang membutuhkannya. Selain itu, sebagai bagian dari

rencana Aksi Nasional Sosialisasi HAM Departemen Kehakiman dan HAM dan

Puslit HAM dapat membangun sekaligus memperkuat jalinan kemitraan, untuk

melakukan misi bersama dalam penegakan, perlindungan dan pemajuan HAM di

semua jenjang, jenis dan jalur pendidikan. Pada jejnjang pendidikan tinggi

diharapkan terdorong untuk membentuk pusat studi HAM secara lebih meluas,

pembentukan perpustakaan HAM, pembentukan program studi bergelar bergelar

dan non gelar dengan spesialisasi HAM.

Selanjutnya jalur pendidikan sekolah dapat di upayakan bersama, antra

lain adalah: (1) penyiapan kurikulum dan buku pengajaran HAM yang menganut

pendekatan integratif dalam mata pelajaran atau bidang studi yang relevan pada

jenjang pendidikan dasar dan menengah, termasuk di lingkunagan pergruan

49
agama; (2) menerjemahkan bahan-bahan pegajaran mengenai HAM ; (3)

menyelenggarakan pelatihan para guru di budang HAM ; dan sebagainya.

6. Penegakan Hak Asasi Manusia

a. Perjuangan dan Penegakan Hak asasi manusia di indonesia

1) Pembentukan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)

Komnas HAM dibentuk pada tanggal 7 Juni 1993 melalui Kepres

Nomor 50 tahun 1993. keberadaan Komnas HAM selanjutnya diatur

dalam UndangUndang RI Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi

Manusia pasal 75 sampai dengan pasal 99. Komnas HAM merupakan

salah satu upaya penegakan HAM dengan membentuk lembaga negara

mandiri setingkat lembaga negara lainnya yang berfungsi sebagai lembaga

pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi HAM.

Komnas HAM beranggotakan 35 orang yang dipilih oleh DPR

berdasarkan usulan Komnas HAM dan diresmikan oleh Presiden. Masa

jabatan anggota Komnas HAM selama lima tahun dan dapat dianggkat lagi

hanya untuk satu kali masa jabatan. Komnas HAM mempunyai wewenang

sebagai berikut:

1. Melakukan perdamaian pada kedua belah pihak yang bermasalah.

2. Menyelesaikan masalah secara konsultasi maupun negosiasi.

3. Menyampaikan rekomendasi atas suatu kasus pelanggaran hak

asasi manusia kepada pemerintah dan DPR untuk ditindak lanjuti.

4. Memberi saran kepada pihak yang bermasalah untuk

menyelesaikan sengketa di pengadilan

50
2) Pembentukan Pengadilan Ham

Pengadilan HAM dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik

Indonesia Nomor 26 tahun 2000. Pengadilan HAM adalah pengadilan

khusus terhadap pelanggaran HAM berat yang diharapkan dapat

melindungi hak asasi manusia baik perseorangan maupun masyarakat dan

menjadi dasar dalam penegakan, kepastian hukum, keadilan dan perasaan

aman, baik perseorangan maupun masyarakat. Pengadilan HAM bertugas

dan berwenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi

manusia yang berat. Disamping itu, berwenang memeriksa dan memutus

perkara pelanggaran HAM yang dilakukan oleh warga negara Indonesia

dan terjadi di luar batas teritorial wilayah Indonesia.

3) Pendidikan Ham

Dalam pendidikan hak asasi manusia tidak hanya diberikan materi

tentang hak asasi manusia dan kovenan hak sipil, sosial, ekonomi, dan

budaya, melainkan dibicarakan juga hak buruh hak atas tanah, hak atas

lingkungan sampai hak-hak konsumen. Oleh karena pendidikan HAM

mutlak diberikan disekolah.

b. Hambatan dan Tantangan dalam Penegakan HAM

Meskipun bangsa Indonesia telah membuat beberapa dokumen hak asasi

manusia untuk menjamin pelaksanaan hak asasi manusia, namun dalam

perjalanannya masih ada pelanggaran hak asasi. Pelanggaran hak asasi manusia di

51
Indonesia terjadi karena makin meningkatnya gejala individualistik, materialistik,

dan eksklusif. Pelanggaran ini dapat diatasi atau dikurangi jika ada penegakan hak

asasi manusia. Bangsa Indonesia pun telah berusaha melakukan upaya penegakan

hak asasi manusia, namun banyak hambatan dan tantangan dalam penegakan hak

asasi manusia itu.

Hambatan utama dalam penegakan hak asasi manusia di Indonesia adalah

masalah ketertiban dan keamanan nasional, rendahnya kesadaran hak asasi

manusia, dan minimnya perangkat hukum dan perundang-undangan. Namun,

secara umum hambatan tersebut dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu secara

ideologis, ekonomis, dan teknis.

1. Secara Ideologis

Perbedaan ideologi sosialis dengan liberalis membuat perbedaan yang tajam

dalam memandang hak asasi manusia. Pandangan ideologi liberal lebih

mengutamakan penghormatan terhadap hak pribadi, sipil, dan politik. Pandangan

sosialis mengutamakan peran negara dan masyarakat.

2. Secara Ekonomis

Penegakan hak asasi manusia memiliki hubungan dengan kondisi ekonomi

masyarakat. Makin tinggi ekonomi masyarakat, maka makin tinggi pula upaya

penegakan hak asasi manusia.

3. Secara Teknis

52
Penegakan hak asasi manusia secara teknis mengalami kendala karena belum

diratifikasinya berbagai instrumen hak asasi manusia internasional.

Dengan banyaknya hambatan penegakan hak asasi manusia maka bangsa

Indonesia berupaya keras untuk melakukan proses penegakan hak asasi manusia.

Proses penegakan hak asasi manusia di Indonesia dilakukan dengan beberapa

langkah dan upaya dengan harapan dapat menegakkan asasi manusia di Indonesia.

Pada dasarnya, pengertian HAM adalah keyakinan bahwa manusia lahir ke dunia

bahwasanya makhluk ciptaan Tuhan adalah sama dan sederajat dengan hak-

haknya yang sama.

Makin banyaknya kasus pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi

adalah tantangan penegakan hak asasi manusia di Indonesia. Sebagian kasus

pelanggaran hak asasi manusia telah diselesaikan, sedangkan yang lainnya masih

diusahakan. Meskipun banyak kasus pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia,

bukan berarti masalah penegakan hak asasi manusia dikatakan lemah atau tidak

ada penegakan hukum. Akan tetapi, memang masih banyak persoalan yang

menjadi tantangan dalam pelaksanaan penegakan HAM di negeri ini. Tantangan-

tantangan dalam penegakan HAM di Indonesia meliputi:

1. rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat kepada aparat pemerintah dan

lembaga-lembaga penegak hukum;

53
2. masih ada pihak-pihak yang berusaha menghidupkan kekerasan dan

diskriminasi sistematis terhadap kaum perempuan ataupun kelompok masyarakat

yang dianggap minoritas;

3. budaya kekerasan seringkali masih menjadi pilihan berbagai kelompok

masyarakat dalam menyelesaikan persoalan yang ada di antara mereka;

4. belum adanya komitmen pemerintah yang kuat terhadap upaya penegakan

HAM dan kemampuan melaksanakan kebijakan HAM secara efektif sebagaimana

diamanatkan oleh konstitusi;

5. terjadinya komersialisasi media massa yang berakibat pada semakin minimnya

keterlibatan media massa dalam pemuatan laporan investigatif mengenai HAM

dan pembentukan opini untuk mempromosikan HAM;

6. masih lemahnya kekuatan masyarakat (civil society) yang mampu menekan

pemerintah secara demokratis sehingga bersedia bersikap lebih peduli dan serius

dalam menjalankan agenda penegakan HAM;

7. desentralisasi yang tidak diikuti dengan menguatnya profesionalitas birokrasi

dan kontrol masyarakat di daerah potensial memunculkan berbagai pelanggaran

HAM pada tingkat lokal;

8. budaya feodal dan korupsi menyebabkan aparat penegak hukum tidak mampu

bersikap tegas dalam menindak berbagai pelanggaran HAM yang dilakukan oleh

pejabat atau tokoh masyarakat;

9. dalam beberapa tahun terakhir, perhatian masyarakat dan media massa lebih

terarah pada persoalan korupsi, terorisme, dan pemulihan ekonomi daripada

penanganan kasus-kasus HAM;

54
10. ada sebagian warga masyarakat dan aparat pemerintah yang masih

berpandangan bahwa HAM merupakan produk budaya Barat yang individualistik

dan tidak sesuai dengan budaya Indonesia;

11. berbagai ketidakadilan pada masa lalu telah menyebabkan luka batin dan

dendam antarkelompok masyarakat tanpa terjadi rekonsiliasi sejati.

7. Pelanggaran hak asasi manusia dimasa lalu

Menurut pasal 1 Angka 6 No 39 Tahun 1999 yang dimaksud dengan

pelanggaran Hak Asasi Manusia yaitu setiap perbuatan seseorang atau kelompok

orang termasuk aparat negara, baik disengaja atau kelalaian yang secara hukum

mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut Hak Asasi Manusia

seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang dan tidak

mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyesalan hukum yang

adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Pelanggaran Hak

Asasi Manusia (HAM) sesungguhnya merupakan ancaman besar terhadap

perdamaian, keamanan dan kestabilitas suatu negara. Yang menjadi titik tekan

dalam pelanggaran Hak Asasi Manusia adalah negara, bahwa negara

berkewajiban untuk mengambil langkah-langkah pencegahan agar tidak terjadi

pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia. Negara juga berperan penting serta

mempunyai tanggung jawab yang besar dalam upaya penyelesaian pelanggaran

HAM. Meskipun sudah ada undang-undang yang mengatur tentang Hak Asasi

55
Manusia (HAM) dan sudah ada lembaga penegak HAM tetapi masih saja ada

pelanggaran-pelanggaran HAM.

Di negara Indonesia juga sering terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia

baik berupa pelanggaran HAM biasa seperti pemukulan, penganiayaan,

pencemaran nama baik dan pelanggaran HAM berat seperti halnya pembunuhan

masal, pembunuhan sewenang-wenang atau diluar putusan pengadilan,

penyiksaan, penghilangan orang secara paksa, perbudakan atau diskriminasi yang

dilakukan secara sistematis. Pelanggaran Hak Asasi Manusia dapat terjadi dalam

interaksi antara warga masyarakat dan antara masyarakat dengan aparat

pemerintahan. Apabila dilihat dari perkembangan sejarah Hak Asasi Manusia

bangsa Indonesia masih banyak kasus pelanggaran yang belum dapat diselesaikan

dalam hal ini contohnya yaitu masalah trisakti. Tragedi trisakti ini telah

menewasan 4 mahasiswa universitas trisakti dan menyebabkan puluhannya luka-

luka. Dalam kasus tragedi trisakti, para anggota polisi dan militer yang terlibat

dalam kasus itu telah merenggut hak hidup dari mahasiswa Universitas Trisakti

dengan cara menginjak-nginjaknya, memukuli, dan menembaki

mahasiswa.Tragedi trisakti ini merupakan salah satu contoh kasus pelanggaran

HAM dimana jaminan Hak Asasi Manusia yang telah dilanggar adalah jaminan

hak untuk hidup, sedangkan jaminan hak asasi tersebut sudah jelas tercantum pada

Undang-Undang Dasar 1945pasal 28A. Kasus trisakti ini sudah terjadi beberapa

tahun yang lalu akan tetapi sampai saat ini pemerintah belum dapat menyelesikan

kasus trisakti, padahal penyelesaiaan pelanggaran Hak Asasi Manusia merupakan

kewajiban dan tanggung jawab dari negara. Selain kasus dari tragedi trisakti yang

56
belum terselesaikan masih ada lagi kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia lainnya

yang terjadi di Indonesia yang belum dapat terselesaikan oleh pemerintah, kasus-

kasus tersebut antara lain kasus meninggalnya marsinah seorang aktivis buruh

yang bekerja pada PT Catur Putra Surya (CPS) yang tewas pada tanggal 8 Mei

1993. Selain dari kasus tragedi trisakti dan tewasnya marsinah dengan misterius

masih banyak lagi kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia dimasa lalu yang belum

terselesaikan sampai saat ini.

Tragedi trisakti merupakan salah satu kasus palanggaran Hak Asasi Manusia yang

dijanji oleh jokowi akan diselesaikan akan tetapi sampai sejauh ini jokowi belum

memberikan instruksi untuk menindak lanjuti kasus tersebut. Tidak mungkin kan

jika pemerintah lupa dalam menyelesaikan kasus dari tragedi trisakti, padahal

tragedi trisakti sendiri setiap tahunnya selalu diperingati bersama. Adanya

penyelesasian dari masalah pelanggaran HAM tersebut sesungguhnya bukan

hanya penting bagi para korbannya saja akan tetapi penting juga untuk negeri ini

agar tidak terulang kembali pelanggaran yang serupa di masa yang akan datang.

Seharusnya ada langakah tegas dari pemerintah agar kasus-kasus pelanggaran

HAM masa lalu dapat segera terselesaikan, bukan hanya sebagai wacana belaka

saja dari dulu. Kalau penyelesaiaan pelanggaran HAM masa lalu hanya dijadikan

sebagai wacana saja nanti bisa jadi kepercayaan dari warga negara kepada

pemerintah bisa hilang karena tidak adanya tindakan nyata dari janji-janjinya.

57
8. Pelanggaran hak asasi manusia

Menurut UU no 26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM, Pelanggaran

HAM adalah setiapperbuatan seseorang atau kelompok orng termasuk aparat

negara baik disengaja atau kelalaian yangsecara hukum mengurangi,

menghalangi, membatasi, dan atau mencabut Hak Asasi Manusia

seseorangatau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-Undang ini, dan

tidak didapatkan, atau dikhawatirksntidak akan memperoleh penyelesaian

hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum

yangberlaku.Dengan demikian pelanggaran HAM merupakan tindakan

pelanggaran kemanusiaan baikdilakukan oleh individu maupun oleh institusi

negara atau institusi lainnya terhadap hak asasi individu laintanpa ada dasar

atau alasan yuridis dan alasan rasional yang menjadi pijakanya. Bentuk

pelanggaran hak asasi manusia dikategorikan dalam dua jenis, yaitu Kasus

pelanggaran HAM yang bersifat berat dan Kasus pelanggaran HAM

yang biasa, meliputi :

Kasus pelanggaran HAM yang bersifat berat meliputi :

1.Pembunuhan masal (genosida). Genosida adalah setiap perbuatan yang

dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan ataumemusnahkan seluruh atau

sebagian kelompok bangsa, ras, etnis, dan agama dengan cara melakukantindakan

kekerasan (UUD No.26/2000 Tentang Pengadilan HAM).

2.Kejahatan KemanusiaanKejahatan kemanusiaan adalah suatu perbuatan yang

dilakukan berupa serangan yang ditujukansecara langsung terhadap penduduk

58
sipil seperti pengusiran penduduk secara paksa,pembunuhan,penyiksaan,

perbudakkan dll

Kasus pelanggaran HAM yang biasa, meliputi :

a. Pemukulan

b. Penganiayaan

c. Pencemaran nama baik

d. Menghalangi orang untuk mengekspresikan pendapatnya

e. Menghilangkan nyawa orang lain

9. Penyebab Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Adapun penyebab dari pelanggaran Hak Asasi Manusia adalah sebagai berikut:

1.masih belum adanya kesepahaman pada tataran konsep hak asasi manusia antara

paham yangmemandang HAM bersifat universal (universalisme) dan paham yang

memandang setiap bangsamemiliki paham HAM tersendiri berbeda dengan

bangsa yang lain terutama dalam pelaksanaannya(partikularisme);

2.adanya pandangan HAM bersifat individulistik yang akan mengancam

kepentingan umum(dikhotomi antara individualisme dan kolektivisme);

3.kurang berfungsinya lembaganlembaga penegak hukum (polisi, jaksa dan

pengadilan); dan4.pemahaman belum merata tentang HAM baik dikalangan sipil

maupun militer.

59
10. Prosedur penyelesaian Pelanggaran HAM

Dalam upaya menegakkan pengadilan HAM telah dibentuk pengadilan khusus

terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Pelanggaran hak asasi

manusia yang berat meliputi kejahatan genosida dan kejahatan terhadap

kemanusiaan. Dengan munculnya pengadilan hak asasi manusia diharapkan akan

dapat melindungi hak-hak dasar manusia, baik perorangan maupun masyarakat.

Hal ini didasarkan pada pelanggaran hak asasi manusia yang dibuat merupakan

Extra Ordinary Crimes dan berdampak secara luas, baik pada tingkat nasional

maupun internasional. Selain itu, pengadilan HAM ad hoc digunakan untuk

memeriksa, memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi sebelum

diundangkannya undang-undang pengadilan HAM.

Dalam UU No.26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM, permasalahan

mengenai pertanggung jawaban pidana diatur dalam pasal 36 sampai dengan pasal

40 yaitu :

 Mengenai kejahatan Genocida dengan cara 1 sampai 5 yang diatur pada

pembahasan jenis tindak pidana HAM mengenai kejahatan Genocida diatas yaitu

dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau

pertanggungjawabannya dipidana penjara paling lama 25 (dua puluh lima) tahun

dan paling singkat 10 (sepuluh) tahun.

 Mengenai kejahatan kemanusiaan dengan cara 1 sampai 5 dan 10 yang diatur

pada pembahasan jenis tindak pidana HAM mengenai kejahatan kemanusiaan

diatas yaitu pertanggunjawabannya dipidana dengan pidana mati atau pidana

60
penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 25 (dua puluh lima) tahun

dan paling singkat 10 (sepuluh) tahun.

 Mengenai kejahatan kemanusiaan dengan cara no. 3 yang diatur pada

pembahasan jenis tindak pidana HAM mengenai kejahatan kemanusiaan diatas

yaitu pertanggunjawabannya dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima

belas) tahun dan paling singkat 5 (lima) tahun.

 Mengenai kejahatan kemanusiaan dengan cara no. 6 yang diatur pada

pembahasan jenis tindak pidana HAM mengenai kejahatan kemanusiaan diatas

yaitu pertanggunjawabannya dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima

belas) tahun dan paling singkat 5 (lima) tahun.

 Mengenai kejahatan kemanusiaan dengan cara 7 sampai 9 yang diatur pada

pembahasan jenis tindak pidana HAM mengenai kejahatan kemanusiaan diatas

yaitu pertanggunjawabannya dipidana dengan pidana penjara paling lama 20 (dua

puluh) tahun dan paling singkat 10 (sepuluh) tahun.

Selain beberapa pertanggung jawaban yang diatur pada pasal yang

diuraikan diatas, terdapat juga pengaturan mengenai pertanggung jawaban pidana

bagi seorang atasan baik militer ataupun sipil, dan kepolisian atas pelanggaran

HAM yang dilakukan oleh bawahannya, pengaturan ini tercantum dalam pasal 42

dengan ketentuan yaitu :

(1) Komandan militer atau seseorang yang secara efektif bertindak sebagai

komandan militer dapat dipertanggungjawabkan terhadap tindak pidana

yang berada di dalam yurisdiksi Pengadilan HAM, yang dilakukan oleh

61
pasukan yang berada di bawah komando dan pengendaliannya yang

efektif, atau di bawah kekuasaan dan pengendaliannya yang efektif dan

tindak pidana tersebut merupakan akibat dari tidak dilkukan pengendalian

pasukan secara patut, yaitu :

a. komandan militer atau seseorang tersebut mengetahui atau atas

dasar keadaan saat itu seharusnya mengetahui bahwa pasukan

tersebut sedang melakukan atau baru saja melakukan pelanggaran

hak asasi manusia yang berat; dan

b. komandan militer atau seseorang tersebut tidak melakukan

tindakan yang layak dan diperlukan dalam ruang lingkup

kekuasaannya untuk mencegah atau menghentikan perbuatan

tersebut atau menyerahkan pelakunya kepada pejabat yang

berwenang untuk dilakukan penyelidikan, penyidikan, dan

penuntutan.

(2) Seorang atasan, baik polisi maupun sipil lainnya, bertanggung jawab

secara pidana terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang

dilakukan oleh bawahannya yang berada di bawah kekuasaan dan

pengendaliannya yang efektif, karena atasan tersebut tidak melakukan

pengendalian terhadap bawahannya secara patut dan benar yakni :

a. atasan tersebut mengetahui atau secara sadar mengabaikan

informasi yang secara jelas menunjukkan bahwa bawahan sedang

melakukan atau baru saja melakukan pelanggaran hak asasi

manusia yang berat; dan

62
b. atasan tersebut tidak mengambil tindakan yang layak dan

diperlukan dalam ruang lingkup kewenangannya untuk mencegah

atau menghentikan perbuatan tersebut atau menyerahkan

pelakunya kepada pejabat yang berwenang untuk dilakukan

penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan.

Kedua ketentuan diatas mendapat pertanggung jawaban pidana sama

seperti yang diatur dalam pasal 36, 37, 38, 29, dan 40, UU No.26 Tahun

2000.

63
BAB 3 PENUTUP

A. Kesimpulan

Sebagai Negara yang berdiri secara berdaulat NKRI memiliki kedaulatan

akan wilayah yang jelas serta pengaturan penyelenggaraan pemerintahan

secara berdaulat tanpa pengaruh dari negara lain. Dinamika NKRI

mengharuskan seluruh potensi bangsa untuk bertekad mempertahankan

keutuhan NKRI dari berbagai ancaman dan gangguan yang membahayakan

eksistensi NKRI sebagai negara yang berdaulat.

NKRI ibarat sebuah rumah besar yang terdiri dari berbagai kamar.Ada

kamar partai, kamar provinsi, kamar etnik, dan beragam kamar kepentingan

lainnya.Demi bangsa dan negara, semua anak bangsa harus mau keluar dari

sket-sket kamar tesebut untuk menyatu dalam kamar atau ruang keluarga

besar.

HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sesuai dengan

kiprahnya. Setiap individu mempunyai keinginan agar HAM-nya terpenuhi,

tapi satu hal yang perlu kita ingat bahwa Jangan pernah melanggar atau

menindas HAM orang lain.Dalam kehidupan bernegara HAM diatur dan

dilindungi oleh perundang-undangan RI, dimana setiap bentuk pelanggaran

HAM baik yang dilakukan oleh seseorang, kelompok atau suatu instansi atau

bahkan suatu Negara akan diadili dalam pelaksanaan peradilan HAM,

pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui hukum acara

peradilan HAM sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang pengadilan

HAM.

64
Tuntutan untuk menegakkan HAM kini sudah sedemikian kuat, baik dari

dalam negeri maupun melalui tekanan dari dunia internasional, namun masih

banyak tantangan yang harus dihadapi. Untuk itu perlu adanya dukungan dari

semua pihak, seperti masyarakat, politisi, akademisi, tokoh masyarakat, dan pers,

agar upaya penegakan HAM bergerak ke arah positif sesuai harapan kita bersama.

Penghormatan dan penegakan terhadap HAM merupakan suatu keharusan dan

tidak perlu ada tekanan dari pihak mana pun untuk melaksanakannya.

Pembangunan bangsa dan negara pada dasarnya juga ditujukan untuk memenuhi

hak-hak asasi warga negaranya. Diperlukan niat dan kemauan yang serius dari

pemerintah, aparat penegak hukum, dan para elite politik agar penegakan HAM

berjalan sesuai dengan apa yang dicita-citakan dan memastikan bahwa hak asasi

warga negaranya dapat terwujud dan terpenuhi dengan baik. Dan sudah menjadi

kewajiban bersama segenap komponen bangsa untuk mencegah agar pelanggaran

HAM di masa lalu tidak terulang kembali di masa kini dan masa yang akan

datang.

B. Saran

Sebagai makhluk sosial kita harus mampu mempertahankan dan

memperjuangkan HAM kita sendiri. Di samping itu kita juga harus bisa

menghormati dan menjaga HAM orang lain jangan sampai kita melakukan

pelanggaran HAM. Dan jangan sampai pula HAM kita dilanggar dan dinjak-injak

oleh orang lain.

65
Jadi dalam menjaga HAM kita harus mampu menyesuaikan dan mengimbangi

antara HAM kita dengan orang lain. Dan kita juga harus membantu negara dalam

mencari upaya untuk mengatasi atau menanggulangi adanya pelanggaran-

pelanggaran HAM yang ada di Indonesia.

66
DAFTAR PUSTAKA

Al Hakim, suparlan Dkk. 2016. Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Konteks

Indonesia. Malang : Madani

Saafroedin Bahar. 1994. Konteks Kenegaraan Hak Asasi Manusia. Miriam

Budiardjo, Introduction

T.Mulya Lubis. 2007. Catatan hukum Todung Mulya Lubis: mengapa saya

mencintai negeri ini?. Jakarta. Penerbit Buku Kompas

T. Mulya Lubis. 1993.In Search of Human Rights: Legal-Political Dilemmas of

Indonesia’s New Order. Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Wiryotenoyo, Broto Sumedi. 1983. Manusia Dan Hak-hak Asasi Manusia.

Semarang : penerbit Satya Wacana

67