Anda di halaman 1dari 49

PEMERINTAH KABUPATEN TANGERANG

DINAS KESEHATAN

PUSKESMAS KUTABUMI
Jl. Canna Raya No. 1 Perum Pondok Indah Kel. Kutabumi Kec. Pasar Kemis

Telp. (021) 5928094 – email : puskesmas_kutabumi2014@yahoo.co.id

KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS KUTABUMI
Nomor : / /SK-UKP/PKM-KTB/2018

TENTANG

PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS KUTABUMI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

KEPALA PUKESMAS KUTABUMI,

Menimbang : a. bahwa untuk menjamin pelayanan kesehatan dilaksanakan sesuai


kebutuhan pasien dengan memperhatikan mutu dan keselamatan
pasien;
b. bahwa dalam memberikan pelayanan perlu acuan bagi tenaga
kesehatan di PUSKESMAS KUTABUMI;
c. bahwa pasien mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan yang
bermutu dan aman;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, b dan c perlu menetapkan Surat Keputusan Kepala
PUSKESMAS KUTABUMI tentang PELAYANAN KLINIS
PUSKESMAS KUTABUMI;

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 Tentang


Pelayana Publik;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5063);
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014 Tentang
Keperawatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 307);
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2052/Menkes/PER/X/2011
tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 671);
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun
2012 tentang Penyelenggaraan Laboratorium Pusat Kesehatan
Masyarakat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor
1118);
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 26 Tahun
2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktek Tenaga Gizi;
7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun
2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Tenaga Sanitarian;
8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun
2013 tentang Penyelenggaraan Rekam Medis;
9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang
Pelayanan Kesehatan Pada Jaminan Kesehatan Nasional (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 1400);
10. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 5 tahun
2014 tentang Panduan Praktik Klinis bagi dokter di fasilitas
pelayanan kesehatan primer;
11. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 30 tahun
2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 906);
12. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 tahun
2014 tentang Puskesmas;
13. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 13 Tahun
2015 tentang Pelayanan Kesehatan Lingkungan di Puskesmas;
14. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 tahun
2015 tentang Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;
15. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun
2016 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan;
16. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 44 Tahun
2016 tentang Pedoman Manajemen Puskesmas;
17. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun
2017 tentang Keselamatan Pasien;
18. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun
2017 tentang Pengendalian Pencegahan Infeksi;
19. Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Nomor
824 / 337 – Dinkes tentang Pelayanan Yang Dilaksanakan Pada Unit
Pelaksanan Teknis Pusat Kesehatan Masyarakat;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS TENTANG PELAYANAN


KLINIS PUSKESMAS KUTABUMI

Kesatu : Kebijakan pelayanan klinis di Puskesmas Kutabumi


sebagaimana tercantum dalam lampiran surat keputusan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari surat keputusan ini;

Kedua : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan


ketentuan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan akan
diadakan perbaikan/perubahan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di: Kutabumi

Pada tanggal:
KEPALA PUSKESMAS KUTABUMI,
CH Handar Mujati

LAMPIRAN KEPUTUSAN KEPALA


PUSKESMAS KUTABUMI

NOMOR : /
/SK-UKP/PKM-KTB/2018

TENTANG: PELAYANAN KLINIS


PUSKESMAS KUTABUMI

PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS KUTABUMI

BAB I
PENDAHULUAN

Puskesmas Kutabumi adalah penanggung jawab seluruh upaya pembangunan


kesehatan di wilayah Kecamatan pasar kemis. Dalam pelaksanaan teknisnya
Puskesmas Kutabumi memberikan pelayanan klinis dengan Sumber Daya Manusia
Kesehatan di Puskesmas Kutabumi yang dibedakan menurut kelompok yaitu dokter,
perawat, bidan, farmasi, gizi, laboratorium kesehatan masyarakat dan tenaga kesehatan
lainnya.

TUJUAN :

1. Sebagai acuan bagi semua tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan klinis,
2. Berkewajiban menjaga mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien
keselamatan dirinya sendiri dan orang lain dimana mutu pelayanan kesehatan
sangat ditentukan oleh fasilitas kesehatan serta tenaga kesehatan yang berkualitas.
BAB II

STANDAR PELAYANAN KLINIS

Dalam penyusunan Standar Pelayanan Klinis Puskesmas Kutabumi harus memenuhi


indikator antara lain :

1. Dasar hukum, sebagai landasan dasar untuk memberikan pelayanan kepada


masyarakat
2. Persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan
3. Langkah - langkah pelayanan pasien
4. Waktu dan Jam buka pelayanan
5. Jenis dan jadwal pelayanan yang akan diterima oleh pasien
6. Sarana dan prasarana yang disediakan baik untuk pasien maupun untuk
petugas pelayanan dalam proses penyelesaian pelayanan termasuk fasilitas
pelayanan bagi penyandang cacat/disabilitas
7. Kompetensi masing-masing petugas yang terlibat dalam proses pemberian /
penyelesaian pelayanan
8. Pemantauan dan pengawasan internal
9. Penanganan pengaduan/ komplain, saran dan masukan
10. Pelayanan yang sesuai dengan standar prosedur mulai dari pendaftaran
sampai pasien pulang

II.1 DASAR HUKUM

a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 Tentang


Pelayana Publik;
b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor
144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014 Tentang
Keperawatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 307);
d. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2052/Menkes/PER/X/2011
tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 671);
e. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun
2012 tentang Penyelenggaraan Laboratorium Pusat Kesehatan
Masyarakat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor
1118);
f. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 26 Tahun
2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktek Tenaga Gizi;
g. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun
2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Tenaga Sanitarian;
h. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun
2013 tentang Penyelenggaraan Rekam Medis;
i. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang Pelayanan
Kesehatan Pada Jaminan Kesehatan Nasional (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2013 Nomor 1400);
j. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 5 tahun 2014
tentang Panduan Praktik Klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan
kesehatan primer;
k. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 30 tahun 2014
tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 906);
l. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 tahun 2014
tentang Puskesmas;
m. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 13 Tahun
2015 tentang Pelayanan Kesehatan Lingkungan di Puskesmas;
n. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 tahun 2015
tentang Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;
o. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun
2016 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan;
p. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 44 Tahun
2016 tentang Pedoman Manajemen Puskesmas;
q. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun
2017 tentang Keselamatan Pasien;
r. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun
2017 tentang Pengendalian Pencegahan Infeksi;
s. Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Nomor 824 /
337 – Dinkes tentang Pelayanan Yang Dilaksanakan Pada Unit
Pelaksanan Teknis Pusat Kesehatan Masyarakat;

II.2 PERSYARATAN PELAYANAN

Pasien Baru;
a. Pasien BPJS/jaminan
Membawa kartu BPJS/KIS/Kartu Sehat
- Kartu identitas (KTP, Kartu Keluarga)
b. Pasien Umum
-Kartu identitas (KTP, Kartu Keluarga)
c. Pasien lansia/disabilitas
- Kartu identitas (KTP, Kartu Keluarga)
Pasien lama;
a. Pasien BPJS/jaminan
- Kartu tanda berobat
- Kartu BPJS/KIS
- Kartu Sehat
b. Pasien Umum
- Kartu tanda berobat
c. Pasien lansia/disabilitas
- Kartu identitas (KTP, Kartu Keluarga)

II.3 LANGKAH - LANGKAH PELAYANAN PASIEN

Menggunakan SOP dari setiap unit pelayanan dari Pendaftaran sampai Rujukan
/Pemulangan Pasien.

II.4 WAKTU DAN JAM BUKA PELAYANAN


Waktu dan Jam Buka Pelayanan
a. Loket Pendaftaran

Senin- Kamis : 08.00 s/d 13.00 WIB


Jumat : 08.00 s/d 12.00 WIB
Sabtu : 08.00 s/d 11.30 WIB

b. Pelayanan Rawat Jalan


Senin- Kamis : 08.00 s/d 14.00 WIB
Jumat : 08.00 s/d 13.00 WIB
Sabtu : 08.00 s/d 12.00 WIB

c. Pelayanan Laboratorium
Senin -kamis : 08.00 s/d 14.00 WIB
Jumaat : 08.00 s/d 13.00 WIB
Sabtu : 08.00 s/d 12.00 WIB

d. Pelayanan Persalinan & PONED : 7 hari kerja 24 jam


e. Tim reaksi cepat bencana : 7 hari kerja 24 jam

II. 5 JENIS DAN JADWAL PELAYANAN YANG DIBERIKAN

II. 5.1 JENIS PELAYANAN


a.Pelayanan Gawat Darurat
b.Pelayanan Rawat Jalan :

 Pelayanan Anak dan MTBS;


 Pelayanan Immunisasi;
 Pelayanan Umum;
 Pelayanan Lansia
 Pelayanan Gigi;
 Pelayanan Kesehatan Ibu dan anak;
 Pelayanan KB;
 Pelayanan Gizi;
 Pelayanan TB Paru;
 Pelayanan Kefarmasian;
 Pelayanan Laboratorium;
 Pelayanan / Konsultasi :
 Remaja;
 IMS/HIV/IVA

c. Pelayanan Persalinan/PONED;

II.5.2 JADWAL PELAYANAN

 Pelayanan Anak dan MTBS : Setiap hari kerja


 Pelayanan Immunisasi : Senin dan Kamis
 Pelayanan Umum : Setiap hari kerja
 Pelayanan Lansia : Setiap hari kerja
 Pelayanan Gigi : Setiap hari kerja
 Pelayanan Kesehatan Ibu : Setiap hari kerja
 Pelayanan KB : Setiap hari kerja
 Pelayanan Gizi : Setiap hari kerja
 Pelayanan TB Paru : Selasa dan Rabu
 Pelayanan Kusta : Selasa dan Rabu
 Pelayanan Kefarmasian : Setiap hari kerja
 Pelayanan Laboratorium : Setiap hari
 Pelayanan / Konsultasi :
 Remaja : Selasa- Jumaat
 IMS/HIV-AIDS/IVA : Kamis - Sabtu

c. Pelayanan Persalinan/PONED : setiap hari kerja

II.6 SARANA DAN PRASARANA


Mengacu ke standarisasi sarana dan prasarana di Permenkes Nomor 75 tahun
2014 tentang Puskesmas termasuk fasilitas pelayanan bagi penyandang
cacat/disabilitas.

II.7 KOMPETENSI PETUGAS

No Jabatan Standar Kompetensi


1. Kepala Puskesmas a. Pangkat Golongan: Pembina/ IV a
b. Pendidikan:
S1 Kedokteran/kedokteran gigi
c. Pelatihan-pelatihan:
- Manejemen Puskesmas
- Pengelolaan KB
- Peningkatan Mutu Pelayanan
d. Pengalaman Kerja: 1 tahun,
e. Ketrampilan:

2. Dr Puskesmas a. Pangkat Golongan: Penata Muda Tk I/ III/b.


b. Pendidikan: S1 Kedokteran
c. Pelatihan-pelatihan
1.PPGD Dokter
2.ATLS.
3.EKG
4. PONED
5. TB MDR
d. Pengalaman Kerja: 1 tahun,
e. Ketrampilan

3. Dokter Gigi a. Pangkat Golongan: Penata Muda Tk I/ III/b.


b. Pendidikan: S1 Kedokteran Gigi.
c. Pelatihan-pelatihan
d. Pengalaman Kerja: 1 tahun,
e. Ketrampilan:

4. Perawat BP Umum a. Pangkat Golongan Pengatur / IIc


b. Pendidikan : D3 Kepeerawatan
c. Pelatihan-pelatihan :
1.
2’
3.
d. Pengalaman Kerja : 1 tahun
e. Ketrampilan
Mampu melaksanakan pemeriksaan Umum,
Pengobatan Dasar,
5. Perawat Gigi a. Pangkat Golongan Pengatur / IIc
b. Pendidikan : D3
c. Pelatihan-pelatihan :
1.TOT Kes Gigi
d. Pengalaman Kerja : 1 tahun

e. Ketrampilan
1.Menumpat gigi permanen/ susu satu bidang.
2.Pencabutan gigi susu dg topical & infiltrasi anestesi

3.Pencabutan gigi permanen satu akar


4.UKGS & UKGMD
6. Bidan Puskesmas a. Pangkat Golongan: Pengatur II/ c
b. Pendidikan: D3 Kebidanan.
c. Pelatihan-pelatihan:
1) APN,
2) MTBS,
3) Pengelolaan KB,
4) Desa siaga
d. Pengalaman Kerja: 1 tahun,
e. Keterampilan: Penanganan Bumil, Bufas, dan balita.

7. Bidan Desa a. Pangkat Golongan : Pengatur / IIc


b. Pendidikan : D3 Kebidanan
c. Pelatihan-pelatihan:
1. APN
2. MTBS
3. Pengelolaan KB
4. Desa SIAGA
5. PONED
d. Pengalaman Kerja :1 tahun
e. Ketrampilan :
Penangan Bumil, Bufas dan Balita.

8. Pelaksana P2P a. Pangkat Golongan:


Pengatur / IIc
b. Pendidikan : D3 Kep
c. Pelatihan-pelatihan
1. TB MDR
d. Pengalaman Kerja : 1 tahun
e. Ketrampilan
1. Penyuluhan Penyakit Menular.
2. Screening.
3. Pemeriksaan kontak
4. Survey
5. Pemeriksaan dan pengobatan.
10. Pelaksana Laboratorium a. Pangkat Golongan Pengatur / IIc
b. Pendidikan : D3 Analis
c. Pelatihan-pelatihan :
d. Pengalaman Kerja : 1 tahun
e. Ketrampilan
11. Asisten Apoteker a. Pangkat Golongan Pengatur / IIc
b. Pendidikan : D3 Farmasi
c. Pelatihan-pelatihan
d. Pengalaman Kerja : 1 tahun
e. Ketrampilan
1. Pengelolaan dan pelayanan kefarmasian.

12. Petugas Pendaftaran a. Pangkat Golongan : Pengatur / IIc


b. Pendidikan : D3 Rekam Medik.
c. Pelatihan-pelatihan:
1. SIM PUS
2. Rekam Medik
d, Pengalaman Kerja : 1 tahun
e. Ketrampilan:

13 Satpam Pelatihan Keamanan


Pelatihan Damkar

II.8 PEMANTAUAN DAN PENGAWASAN INTERNAL


II.8.1 PEMANTAUAN DAN PENGAWASAN HARIAN

Pemantauan dan pengawasan harian dilakukan terhadap:

a. Indikator Mutu Klinis


b. Indikator Keselamatan Pasien
c. Kebersihan unit pelayanan
d. Pembuangan sampah medis/non medis
e. Sterilisasi alat
f. Jadwal kalibrasi (pemeliharaan)
g. Perilaku petugas
h. Penggunaan APD untuk pencegahan infeksi
i. Reuse (peralatan yang tidak dipakai ulang)
II.8.2 PEMANTAUAN DAN PENGAWASAN BULANAN

Audit Klinis dilakukan untuk pemantauan dan pengawasan bulanan dengan prosedur
dan jadwal yang telah ditetapkan. Pemantauan dan pengawasan terhadap
a. Capaian Indikator Mutu Klinis
b. Capaian Indikator Keselamatan Pasien
c. Kepatuhan petugas terhadap Prosedur pelayanan
d. Perilaku petugas
e. Survey Kepuasan Pelanggan
f. Ketersediaan Sarana dan Prasarana yang sesuai standar dalam
memberi pelayanan.

II.9 PENANGANAN KELUHAN / PENGADUAN /KOMPLAIN, SASARAN DAN


MASUKAN
Penanganan keluhan pelanggan dilakukan melalui:
1. Pengelolaan Survey Kepuasan Pelanggan
2. Penggelolaan Komplain Pelanggan melalui kotak saran

Tujuan :

a. Sebagai pedoman bagi semua tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan


klinis sesuai dengan standar prosedur untuk memenuhi kebutuhan pelanggan,
b. Berkewajiban menjaga mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien juga
keselamatan dirinya sendiri dan orang lain dimana mutu pelayanan kesehatan
sangat ditentukan oleh fasilitas kesehatan serta tenaga kesehatan yang berkualitas.

II.10 PELAYANAN YANG SESUAI STANDAR PROSEDUR MULAI DARI


PENDAFTARAN SAMPAI PASIEN PULANG

II.10.1 PENDAFTARAN PASIEN


Pendaftaran pasien harus dipandu dengan langkah - langkah yang jelas
dimana proses pendaftaran dilakukan oleh petugas yang kompeten dan
pendaftaran pasien memperhatikan keselamatan pasien. Identitas pasien harus
dipastikan minimal dengan tiga (3) cara dari cara identifikasi variable sebagai
berikut: nama pasien bin/binti, umur pasien, alamat/tempat tinggal.
Pendaftaran pasien adalah suatu unit pelayanan di puskesmas yang
melayani masyarakat atau pasien yang memerlukan pelayanan kesehatan dengan
melengkapi persyaratan antara lain pasien online, pasien bpjs / umum, pasien
usia < 5 thn dan pasien hamil dan gigi, lansia/disabilitas. Untuk memberikan
pelayanan awal sebelum pasien mendapatkan tindakan medis dalam bentuk
kartu status, rekam medis dan data pasien dalam bentuk Pcare.

Langkah – langkah Pendaftaran Pasien:

1. Pasien dateng mengambil nomor antrian loket pasien Umum / BPJS


2. Petugas memanggil pasien dengan cara memanggil nomor urut pendaftaran,

Pendaftaran Pasien baru tanpa jaminan


a. Petugas membuatkan data identitas pasien yang bersangkutan (nama pasien,
umur, jenis kelamin, hubungan kekeluargaan, pasien umum/Askes/keluarga
miskin dan nomor KTP/ASKES/Jamkesmas)
b. Petugas membuatkan rekam medis dengan no rekam medis baru
c. Pasien membayar tarif retribusi sesuai perda Rp 3.000
d. Petugas memasukan no rekam medis kedalam buku register

Pendaftaran pasien baru dengan jaminan


e. Petugas membuatkan data identitas pasien yang bersangkutan (nama pasien,
umur, jenis kelamin, hubungan kekeluargaan, pasien umum/Askes/keluarga
miskin dan nomor KTP/ASKES/Jamkesmas)
f. Petugas membuatkan rekam medis dengan no rekam medis baru
g. Petugas memasukan no rekam medis kedalam buku register

Pendaftaran pasien lama tanpa jaminan


a. Petugas mencarikan data sesuai nomor rekam medis
b. Petugas mendaftarkan sesuai no rekam medis
c. Pasien mebayar tarif retribusi susuai perda Rp 3.000
Pendaftaran pasien lama dengan jaminan
d. Petugas mencarikan data sesuai nomor rekam medis
e. Petugas mendaftarkan sesuai no rekam medis

Pendaftaran pasien dengan kartu hilang tanpa jaminan


a. Petugas menanyakan identitas pasien yang akan dicari datanya di SIMPUS
b. Dibuatkan kartu baru dengan no rekam medis lama
c. Petugas mencari sesuai family folder sesuai no rekam medis
d. pasien mebayar retribusi sesuai perda Rp 3.000
Pendaftaran pasien dengan kartu tanpa jaminan
a. Petugas menanyakan identitas pasien yang akan dicari datanya di SIMPUS
b. Dibuatkan kartu baru dengan no rekam medis lama
c. Petugas mencari sesuai family folder sesuai no rekam medis

3. petugas menyampaikan kepada pasien agar menunggu di poli yang dituju


4. Petugas menginput data sesuai rekam medis yang sudah didaftarkan ke dalam
SIMPUS
5. Petugas mengantar rekam medik pasien ke unit pelayanan dan jumlah Rekam
Medis yang diserahkan dicatat di buku ekspedisi.

II.10.2 IDENTIFIKASI PASIEN


Identifikasi pasien adalah pengumpulan data dan pencatatan segala keterangan
tentang bukti-bukti pasien sehingga kita dapat menetapkan dan menyamakan
keterangan tersebut dengan pasien, dengan kata lain bahwa dengan identifikasi kita
dapat mengetahui identitas pasien dan dengan identitas tersebut kita dapat
membedakan pasien yang satu dengan pasien yang lain untuk menjamin keselamatan
dan mencegah terjadinya kesalahan identifikasi.

Langkah-langkah Identifikasi Pasien :

a. Petugas menanyakan data pribadi pasien, dengan 3 identifikasi verbal yang berlaku
untuk mengidentifikasi pasien di semua unit antara lain: Nama bin/binti, Umur,
Alamat.
b. Petugas mengecek kesamaan data pribadi pasien dengan KTP, KK, Kartu BPJS,
Kartu Berobat.
c. Petugas mengisi data identitas pasien pada rekam medis untuk pasien baru.
d. Petugas mencocokan data pasien dengan data yang ada direkam medis pada pasien
lama.

II.10.3 PENYAMPAIAN INFORMASI DI LOKET PENDAFTARAN


Penyampaian informasi diloket pendaftaran antara lain memberikan
informasi tentang jenis pelayanan klinis yang tersedia dan informasi lain yang
dibutuhkan masyarakat yang meliputi: tarif pelayanan, jenis pelayanan,
ketersediaan tempat tidur, dan informasi tentang kerjasama dengan fasilitas
kesehatan lain termasuk pemberian informasi tentang Hak dan Kewajiban
Pasien.

Langkah-langkah Penyampaian Informasi:

1. Pasien datang ke bagian informasi di loket pendaftaran


2. Petugas memberi salam pada pasien dengan ramah,
3. Petugas menanyakan tentang kebutuhan informasi yang dibutuhkan pasien,
4. Petugas menyampaikan informasi yang dibutuhkan pasien,
5. Petugas memberitahukan informasi tentang ketersediaan informasi lainnya yg ada
pada papan informasi,
6. Petugas menyampaikan informasi tentang tarif pelayanan, jenis pelayanan dan
informasi tentang kerjasama dengan fasilitas kesehatan lain termasuk pemberian
informasi tentang hak dan kewajiban pasien dan informasi lainnya dengan
menggunakan brosur informasi Puskesmas kepada pasien baru sedangkan untuk
pasien lama pemberian informasi sesuai kebutuhan pasien

7. Petugas melanjutkan pelayanan pada pasien tersebut sesuai dengan kebutuhannya..

II.10.4 PENYAMPAIAN INFORMASI HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN

Hak dan kewajiban pasien harus diperhatikan pada keseluruhan proses


pelayanan yang dimulai dari pendaftaran sampai pemulangan pasien.
Hak Pasien adalah sesuatu yang diperoleh setelah pasien melaksanakan
kewajiban sedangkan Kewajiban pasien adalah sesuatu yang harus dilakukan
sebelum menerima haknya yang seharusnya diperoleh agar pasien mendapatkan
haknya dan melaksanakan kewajibannya sesuai dengan ketentuan.

Hak-hak pasien berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang


Kesehatan meliputi :

a. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan;


b. Memperoleh pelayanan yang manusiawi, adil, jujur dan tanpa
diskriminasi;
c. Memilih tenaga medis sesuai dengan keinginannya (bila
memungkinkan);
d. Meminta konsultasi mengenai penyakit yang di derita kepada dokter
lain baik di dalam maupun diluar Puskesmas;
e. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang di derita;
f. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan/pengobatan yang
akan dilakukan oleh tenaga medis;
g. Mendapatkan informasi yang meliputi diagnosa dan tata cara tindakan
medis, tujuan tindakan medis, alternative tindakan, resiko dan
komplikasi;
h. Mengajukan usul, saran dan perbaikan atas pelayanan puskesmas;
i. Mendapatkan keamanan dan keselamatan selama dalam perawatan;
j. Mendapatkan pendampingan oleh keluarga (dalam keadaan kritis);
k. Mendapatkan informasi tentang kandungan pada rekam medis.

Kewajiban pasien meliputi


a. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah
kesehatannya;
b. Mematuhi nasihat dan petunjuk petugas medis;
c. Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana kesehatan Puskesmas
Kutabumi

Langkah-langkah Penyampaian Informasi Hak dan Kewajiban Pasien


a. Petugas memberi salam,senyum dan sapa
b. Petugas meminta pasien untuk membaca standing banner tentang hak
dan kewajiban pasien yang tersedia di puskesmas (di depan Ruang loket
pendaftaran)
c. Bila pasien tidak bisa membaca (buta huruf ) petugas wajib menjelaskan
hak dan kewajiban Pasien

II.10.5 KOORDINASI DAN KOMUNIKASI


II.10.5. A UNIT PENDAFTARAN DENGAN UNIT PELAYANAN LAINNYA
Suatu upaya pelayanan kesehatan yang berupa penyerahan rekam medis pasien
setelah pasien mendaftar dari loket pendaftaran yang dilakukan oleh petugas
pendaftaran kepada petugas unit-unit yang melakukan pelayanan pasien

Langkah – langkah Koordinasi dan Komunikasi unit pendaftaran dengan unit


pelayanan lainnya:
a. Petugas pendaftaran membawa rekam medis
b. Petugas pendaftaran menyerahkan rekam medis ke petugas
pelayanan
c. Petugas pendaftaran menyampaikan kebutuhan pasien kepada
petugas pelayanan
d. Setelah selesai pelayanan petugas pendaftaran mengambil rekam
medis kembali

II.10.5.B KOORDINASI KOMUNIKASI ANTAR UNIT PELAYANAN


Koordinasi adalah kegiatan mengarahkan, mengintegrasikan, dan
mensinkronisasikan unit – unit pelayanan dan antar praktisi klinis di Puskesmas dalam
mencapai tujuan. Komunikasi adalah hubungan antara seorang dengan lainnya dimana
keduanya mempunyai peranan dalam menciptakan saling mengerti. Koordinasi dan
komunikasi antara unit pelayanann adalah proses pemberian layanan terpadu kepada
masyarakat yang berkunjung ke Puskesmas

Langkah-langkah koodinasi dan komunikasi antar unit pelayanan:


1. Petugas memeriksa pasien
2. Apabila diperlukan konsultasi dengan unit lain maka petugas mencatat di Rekam
Medis pasien dan mengisi form rujukan internal/ form permintaan pemeriksaan
laboratorium
3. Petugas mencatat buku konsul pelayanan
4. Petugas mengantarkan rekam medis dan rujukan internal ke unit yang dituju,
kecuali untuk pemeriksaan laboratorium hanya di berikan form permintaan
pemeriksaan
5. laboratorium saja tanpa Rekam Medis.
6. Petugas unit yang menerima rujukan mencatat hasil pemeriksaan di Rekam Medis
7. Petugas menandatangani buku konsul pelayanan dan meminta tanda tangan
petugas yang menerima konsul
8. Petugas laboratorium menyerahkan hasil pemeriksaan laboratorium ke unit
pelayanan
9. Perujuk sesuai ketentuan berlaku.
10. Petugas mencatat hasil pemeriksaan laboratorium di Rekam Medis.

II.10.7 ALUR PELAYANAN PASIEN


Alur pelayanan pasien adalah proses urutan pelayanan pasien di Puskesmas
Kutabumi mulai dari pendaftaran sampai pemulangan pasien sesuai kebutuhan pasien
berdasarkan dengan ketentuan yang berlaku, agar pasien/keluarga memperoleh
informasi dan paham terhadap tahapan dan prosedur pelayanan klinis
Langkah-langkah prosedur Alur Pelayanan Pasien
1. Petugas memanggil nomor antrian
2. Petugas pendaftaran meminta pasien yang dating untuk mengambil nomor urut dan
meminta pasien untuk menunggu di ruang tunggu,
3. Petugas pendaftaran memanggil pasien sesuai nomor urut dan mendaftarkan pasien,
4. Petugas menyerahkan rekam medik pada unit pelayanan yang dituju,
5. Petugas pada unit pelayanan memeriksa pasien,
6. Petugas pada unit pelayanan merujuk pasien ke unit terkait sesuai dengan
kebutuhan pasien jika memerlukan pemeriksaan penunjang,
7. Petugas tersebut menegakkan diagnosa dan membuat resep untuk pasien rawat
jalan, dan memberikan inform consent untuk pasien rawat inap, setelah petugas
dalam unit pelayanan tersebut menerima hasil pemeriksaan penunjang,
8. Petugas meminta pasien menyerahkan resep pada bagian obat / apotik,
9. Petugas pada bagian obat menerima resep dan menyiapkan obat,
10. Petugas memberikan obat pada pasien dan menjelaskan prosedur
mengkonsumsinya jika pasien merupakan pasien rawat jalan,

II.10.8 PENGKAJIAN AWAL KLINIS (SCREENING)


Pengkajian awal klinis adalah wawancara yang dilakukan terhadap pasien
untuk mengumpulkan data mengenai keadaan pasien secara paripurna yang
meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang serta kajian
sosial pasien. Untuk mengidentifikasi berbagai kebutuhan dan harapan pasien
dan keluarga pasien mencakup pelayanan medis, penunjang medis dan
keperawatan. Kajian awal dilakukan secara paripurna dan dilakukan oleh
tenaga yang kompeten yang melakukan pengkajian. Kajian awal meliputi kajian
medis, kajian keperawatan, kajian kebidanan, dan kajian oleh tenaga profesi
kesehatan lainnya sesuai dengan kebutuhan pasien. Proses kajian dilakukan
mengacu pada standar profesi dan standar asuhan. Proses kajian dilakukan
dengan memperhatikan tidak terjadinya pengulangan yang tidak perlu.
Informasi kajian baik medis, keperawatan, kebidanan, dan profesi kesehatan
lain wajib diidentifikasi dan dicatat dalam rekam medis. Pasien dengan kondisi
gawat atau darurat harus diprioritaskan dalam pelayanan. Pengkajian dan
perencanaan asuhan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional yang
kompeten.

Langkah - langkah Pengkajian Awal Klinis:

a. Petugas memanggil pasien sesuai nomor urut.


b. Petugas mencocokkan identitas pasien dengan rekam medis pasien.
c. Apabila tidak cocok, petugas mengembalikan rekam medis ke
pendaftaran.
d. Apabila cocok, petugas mulai melakukan pengkajian awal klinis,
diawali dengan menanyakan keluhan utama.
e. Petugas menanyakan kebutuhan keluhan pasien.
f. Petugas menanyakan keluhan tambahan.
g. Petugas menanyakan riwayat penyakit terdahulu.
h. Petugas menanyakan riwayat penyakit dalam keluarga.
i. Petugas menanyakan riwayat alergi.
j. Petugas menanyakan keadaan kehidupan sosial pasien.
k. Petugas memberitahukan kepada pasien bahwa akan dilakukan
pemeriksaan fisik.
l. Petugas mencuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan fisik.
m. Petugas menjelaskan maksud dilakukan pemeriksaan fisik.
n. Petugas melakukan pemeriksaan fisik lengkap dari kepala hingga
kaki (head to toe) yang meliputi inspeksi, palpasi, perkusi,
auskultasi.
o. Petugas menjelaskan kepada pasien hasil pemeriksaan.
p. Petugas memberitahukan kepada pasien jika diperlukan
pemeriksaan penunjang.
q. Petugas merujuk ke laboratorium Puskesmas jika pemeriksaan
penunjang yang diperlukan tersedia.
r. Petugas merujuk fasilatas kesehatan yang ber PKS dengan
Puskesmas jika pemeriksaan penunjang tidak tersedia di Puskesmas.
s. Petugas menulis rujukan internal jika diperlukan.
t. Petugas menginformasikan semua hasil pemeriksaan kepada pasien
antara lain hasil anamnesis, hasil pemeriksaan fisik pasien dan hasil
pemeriksaan penunjang
u. Petugas mencatat hasil anamnesis, pemeriksaan fisik pasien dan
pemeriksaan penunjang ke dalam rekam medis untuk mencegah
pengulangan yang tidak perlu.
v. Petugas mencuci tangan.

II.10.9. PENYUSUNAN RENCANA LAYANAN MEDIS


Pelayanan Medis adalah proses pemberian asuhan kepada pasien sesuai
dengan masalah kesehatan yang dihadapi pasien. Petugas harus memberikan
pelayanan optimal bagi setiap pasien sesuai standard pelayanan kesehatan di
layanan primer sehingga pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan pasien.
Penyusunan rencana layanan medis adalah kegiatan menyusun terapi atau
pengobatan yang akan dilakukan untuk pasien sesuai dengan masalah kesehatan
yang dihadapi pasien.
Langkah – langkah Penyusunan Rencana Layanan Medis:

1. Petugas menerima rekam medis pasien dari petugas pendaftaran,


2. Petugas memanggil pasien masuk ke ruang periksa,
3. Petugas melakukan anamnesa,
4. Petugas melakukan pemeriksaan fisik,
5. Petugas merumusan diagnosa pasien,
6. Petugas menyusun rencana asuhan pasien sesuai dengan masalah kesehatan pasien,
7. Petugas berkolaborasi dengan tim kesehatan lain bila pasien membutuhkan
penanganan tim kesehatan lain,
8. Petugas melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana layanan yang telah di
susun,
9. Petugas mengevaluasi tindakan yang sudah dilakukan,
10. Petugas menyusun rencana tindak lanjut bila masalah kesehatan pasienbelum
teratasi
11. Petugas mendokumentasikan kegiatan dalam Rekam Medis

II.10.9 ASUHAN KEPERAWATAN


Merupakan serangkaian proses yang terorganisir/terstruktur untuk
mengidentifikasi keluhan, kebutuhan permasalahan pasien serta menyelesaikan
permasalahan yang dihadapi. Sebagai acuan pelaksanaan dokter/dokter gigi ,
perawat dan bidan dalam melaksanakan pemberian pelayanan Puskesmas
Kutabumi.
Langkah - langkah :
a. Dokter/Dokter Gigi, Perawat, Bidan mengucapkan salam pada pasien
b. Dokter/Dokter Gigi, Perawat, Bidan melakukan urutan pemeriksaan
sesuai prosedur pemeriksaan penyakit sesuai kebutuhan pasien

II.10.10 PENGKAJIAN MENCERMINKAN PENCEGAHAN PENGULANGAN


YANG TIDAK PERLU
Pengkajian, pencegahan pengulangan yang tidak perlu adalah proses tindakan
pencegahan berulang yang sudah dilaksanakan,dengan cara memasukan / mencatat
dalam dokumen rekam medis supaya tidak terjadi pengulangan yang tidak perlu.
Pelaksana pelayanan dilaksanakan oleh semua petugas dan dilaksanakan setiap hari
kerja didalam gedung.

Langkah-langkah prosedur pengkajian mencerminkan pencegahan pengulangan yang


tidak perlu:
1. Petugas pelayanan klinis menerima rekam medis dari petugas pendaftaran,
2. Petugas memanggil pasien dan mempersilahkan pasien masuk,
3. Petugas menganamnesa atau mengkaji keluhan pasien,
4. Petugas mengukur tanda – tanda vital,
5. Petugas menuliskan hasil anamnesa dan tanda – tanda vital pasien di dalam RM
pasien,
6. Petugas melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien,
7. Petugas mengidentifikasi masalah kesehatan pasien,
8. Petugas menjelaskan kepada pasien mengenai masalah kesehatan yang sedang
dialami
9. Pasien dan menjelaskan mengenai rencana terapi,
10. Petugas melakukan terapi sesuai dengan yang direncanakan,
11. Petugas membuatkan suratrujukan ke unit pelayanan lain jika memerlukan
konsultasi unit lain,
12. Petugas menuliskan resep dan meminta pasien untuk menebus resep di pelayanan
Farmasi Puskesmas,
13. Petugas mencatat semua hasil anamnesa dan tindakan di Rekam Medis pasien
untuk menghindari pengulangan yang tidak perlu

II.10.11 PENANGANAN KASUS SECARA TIM ANTAR PROFESI


Penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang membutuhkan penanganan oleh
tim kesehatan antar profesi yang disusun dengan tujuan jelas dan terkoordinasi
Langkah - langkah :
a. Dokter atau petugas medis melakukan kajian terhadap keluhan dan
kebutuhan pasien
b. Rencana layanan ditetapkan berdasarkan hasil kajian yang dinyatakan
dalam bentuk diagnosa dalam menyusun rencana layanan dipandu oleh
kebijakan dan langkah - langkah yang jelas sesuai dengan kebutuhan pasien
dan sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan
c. Dokter atau petugas medis memberikan rujukan ke ruang pemeriksaan lain
yang jika di dalam rencana layanan pasien memerlukan kolaborasi dangan
tim kesehatan lain
d. Penanganan pasien secara tim antar profesi meliputi :
1. Penanganan pasien HT
2. Penanganan pasien DM
3. Penanganan pasien TB
4. Penanganan pasien IMS
5. Penanganan pasien balita gizi buruk/kurang
6. Penanganan pasien BUMIL dengan keluhan medis
7. Penanganan pasien BUMIL dengan anemia
8. Penanganan pasien BUMIL dengan KEK
9. Penanganan pasien jiwa
10. Penanganan pasien secara tim antar profesi dan di integrasikan
dengan penanganan kunjungan rumah ( home care).
e. Penanganan yang dilakukan oleh setiap profesi dicatat di RM dan ditanda
tangani oleh timantar profesi.

II.10.12 PENDELEGASIAN WEWENANG


Pendelegasian wewenang adalah suatu proses penyerahan kewenangan
tugas kepada petugas yang kompetensinya tidak sesuai dengan kewenangan
tugas pemberi wewenang. Agar proses pelayanan terhadap pasien tidak
terhambat meskipun petugas yang berwenang tidak bisa melaksanakan
tupoksinya dan bisa dilaksanakan oleh petugas yang diberi wewenang.

Langkah – langkah Pendelegasian Wewenang:


1. Dokter mengidentifikasi kebutuhan untuk pendelegasian wewenang
2. Dokter menganalisa kompetensi petugas yang akan diserahi wewenang
3. Dokter membuat daftar petugas yang sudah terlatihyang bisa diserahi wewenang
4. Dokter merencanakan jenis kompetensi apa saja yang bisa didelegasikan kepada
petugas
5. Dokter membuat surat pernyataan pendelegasian wewenang yang didalamnya
berisi juga mengenai nama petugas dan jenis kompetensi yang didelegasikan
kepada petugas yang sudah terlatih.
6. Dokter menandatangani surat pendelegasian wewenang
7. Dokter menyerahkan surat pernyataan pendelegasian wewenang kepada kepala
8. Puskesmas untuk diketahui KepalaPuskesmas, melalui koordinator UKP
KepalaPuskesmas mensosialisasikan pendelegasian wewenang kepada petugas
yang diserahi wewenang
9. Petugas yang diserahi wewenang menerima tugas yang diberikan
10. Petugas melaksanakan kompetensi sesuai yang didelegasikan
11. Petugas melaporkan via telepon biladokter yang memberi pendelegasian
wewenang tidak ada di tempat
12. Petugas melaporkan secara lisan kepada dokter sebagai pemberi wewenang bila
masih ada di tempat,
13. Jenis jenis pendelegasian
a. Dokter keperawat/bidan yang terlatih
b. Analis Laboratorium kepada perawat, bidan
c. Apoteker kepada perawat, bidan
d. Dokter gigi kepada perawat gigi

II.10.13 PELIHARAAN PERALATAN

Pemeliharaan alat adalah kegiatan melaksanakan pemeliharaan


peralatan medis dengan cara membersihkan, mensterilkan serta
menyimpannya.

Langkah - langkah :
a. Petugas mencatat semua alat kedalam buku inventaris barang
b. Petugas membuat dan memasang cek list keadaan alat per ruangan
c. Petugas membuat dan memasang kartu inventaris alat per ruangan
d. Petugas membuat dan memasang kartu pemeliharaan barang
e. Petugas membuat jadwal pemeliharaan
f. Petugas membersihkan alat setiap kali habis digunakan
g. Petugas mensterilkan alat dan menyimpan sesuai karakteristik alat
h. Petugas menempatkan peralatan sesuai kebutuhan pada tiap unit
i. Petugas memantau dan mengecek secara berkala alat-alat yag perlu
diperbaiki atau kalibrasi alat sesuai jadwal yang direncanakan
j. Petugas melakukan pemantauan dan pencatatan alat-alat yang perlu
dihapus dan perlu diusulkan pergantian alat
k. Petugas membuat pengajuan usulan pengadaan barang, pemeliharaan
dan perbaikan alat

II.10.14 STERILASI PERALATAN YANG PERLU DISTERILISASI

Sterilisasi peralatan adalah Suatu tindakan untuk membunuh kuman


patogen dan apatogen beserta sporanya pada peralatan perawatan dan
kedokteran.
Langka-langkah
a. Petugas membereskan alat – alat medis setelah digunakan,
b. Petugas memisahkan alat – alat medis sesuai dengan bahan dan perlu tidaknya
disterilkan,
c. Petugas merendam alat – alat medis di dalam klorin 0,5% selama 15 menit,
d. Petugas mencuci alat – alat medis yang sudah direndam dalam air mengalir,
e. Petugas mengeringkan alat – alat yang sudah dicuci hingga benar – baenar
kering,
f. Petugas menyimpan alat – alat yang tidak perlu disterilakn pada tempatnya
masing – masing
g. Petugas mensterilkan alat – alat yang harus disterilkan ke dalam sterilisator
selama 60 menit,
h. Petugas mengambil alat – alat yang sudah disterilkan dengan korentang yang
direndam dalam alcohol 70%
i. Petugas meletakkan alat – alat yang sudah disterilkan dalam bak instrument
(set alat),
j. Petugas menyimpan alat dalam lemari yang sudah disiapkan,
k. Petugas mendokumentasikan kegiatan.

II.10.15 PEMELIHARAAN SARANA/GEDUNG


Pemeliharaan sarana adalah kegiatan menjaga dan membersihkan gedung
agar aman digunakan untuk pemberian pelayanan klinis kepada pasien.

Tujuanya pemeliharaan sarana/ gedung

1. Agar sarana (gedung) tetap terpelihara dan tidak cepat rusak


2. Untuk menjamin keamanan pasien, petugas dan fasilitas yang ada di dalam
Puskesmas.

Langkah-langkah pemeliharaan gedung

1. Petugas pemelihara sarana membuat perencanaan pemeliharaan gedung,


2. Petugas menyampaikan rencana pemeliharaan gedung yang telah disusun kepada
Kepala Puskesmas,
3. Kepala Puskesmas menyetujui perencanaan yang telah disusun,
4. Petugas pemelihara sarana mensosialisasikan pemeliharaan gedung kepada semua
karyawan Pukesmas,
5. Semua karyawan Puskesmas melaksanakan pemeliharaan gedung sesuai dengan
rencana pemeliharaan,
6. Petugas pemelihara sarana gedung melakukan pemantauan keamanan gedung
setiap 6 bulan sekali,
7. Karyawan Puskesmas melaporkan kepada petugas pemelihara sarana jika ada
kerusakan gedung,
8. Petugas pemelihara sarana mencatat laporan kerusakan gedung yang disampaikan
oleh tiap karyawan,
9. Petugas pemelihara sarana melaporkan kepada Kepala Puskesmas tentang
kerusakan gedung yang terjadi,
10. Kepala Puskesmas menindaklanjuti laporan dari petugas pemeliharaan sarana,
11. Kepala Puskesmas dan petugas pemelihara sarana mendiskusikan penanganan
terhadap kerusakan yang terjadi.

II.10.16 PENYUSUNAN RENCANA LAYANAN


Penyusunan rencana layanan medis adalah kegiatan menyusun terapi
atau pengobatan yang akan dilakukan untuk pasien sesuai dengan masalah
kesehatan yang dihadapi pasien agar pasien menjapatkan pengobatan yang
tepat dan maksimal
Langkah-langkah
1. Petugas menerima rekam medis pasien dari petugas pendaftaran,
2. Petugas memanggil pasien masuk ke ruang periksa,
3. Petugas melakukan anamnesa,
4. Petugas melakukanpemeriksaan fisik,
5. Petugas merumuskan diagnose pasien,
6. Petugas menyusun rencana asuhan pasien sesuai dengan masalah kesehatan pasien,
7. Petugas berkolaborasi dengan tim kesehatan lain bila pasien membutuhkan
penanganan tim kesehatan lain,
8. Petugas melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana layanan yang telah disusun,
9. Petugas mengevaluasi segera (formatif) untuk tindakan yang sudah dilakukan,
10. Petugas menyusun rencana tindak lanjut bila masalah kesehatan pasien belum
teratasi,
11. Petugas mendokumentasikan kegiatan.

II.10.17 PENYUSUNAN RENCANA LAYANAN TERPADU JIKA


DIPERLUKAN PENANGANAN SECARA TIM
Rencana layanan terpadu adalah rencana layanan kesehatan yang dilakukan
untuk mengatasi masalah kesehatan pasien dengan melibatkan tim kesehatan
secara komprehensif sehingga tercapai hasil yang diharapkan agar l ayanan yang
dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan pasien dilaksanakan secara
paripurna untuk mencapai hasil yang diinginkan oleh tenaga kesehatan dan
pasien/keluarga pasien
Langkah - langkah
a. Dokter atau petugas medis melakukan kajian terhadap keluhan dan
kebutuhan pasien
b. Rencana layanan ditetapkan berdasarkan hasil kajian yang
dinyatakan dalam bentuk diagnosa dalam menyusun rencana
layanan dipandu oleh kebijakan dan langkah - langkah yang jelas
sesuai dengan kebutuhan pasien dan sesuai dengan setandar
pelayanan yang ditetapkan
c. Dokter atau petugas medis memberikan rujukan ke pelayanan lain
yang jika didalam rencana layanan pasien memerlukan kolaborasi
dengan tim kesehatan lain.
II.10.18 Audit klinis
Audit klinis adalah suatu proses penilaian pelaksanaan layanan klinis,
dibandingkan dengan rencana terapi atau rencana asuhan yang sudah
direncanakan.
Langkah - langkah:
a. Membentuk tim PMKP yang akan melaksanakan audit klinis
b. Membuat rencana dan jadwal audit klinis stidaknya 2-4 unit tiap bulannya
c. Menginformasikan rencana audit klinis pada unit yang akan diaudit
d. Melaksanakan audit klinis sesuai jadwal dengan menggunakan metode audit
atara lain: wawancara, observasi, periksa dokumen (sop), telusur rekam
kegiatan, inspeksi kondisi fasilitas, meminta peragaan, mengukur(comlience
rate)
e. Auditor mengisi instrument audit klinis dari hasil pemantauan audit
f. Membuat laporan hasil audit klinis
g. Melaporkan hasil audit klinis kepada tim PMKP
h. Ketua tim PMKP mengadakan pertemuan klinis untuk membahas hasil hasil
audit
i. Koordinator UKP bersama tim PMKP membuat rencana tindaklanjut
perbaikan
j. Melakukan monitoring terhadap tindak lanjut perbaikan
k. Hasil tindaklanjut yang belum dilakukan perbaikan akan dijadikan area
prioritas penilaian audit internal.

II.10.19 PENYAMPAIAN INFORMASI TENTANG EFEK SAMPING DAN


RISIKO PENGOBATAN
Pemberian informasi tentang efek samping dan resiko pengobatan adalah
kegiatan memberikan penjelasan mengenai pengobatan yang akan dilakukan
termasuk didalamnya penjelasan mengenai efek samping dan resiko dari
pengobatan yang akan dilakukan baik pada saat pengobatan berlangsung atau
setelah pengobatan selesai.
Tujuaanya adalah pasien memahami mengenai efek samping dan resiko
dari pengobatan yang dilakukan sehingga pasien siap menerima kemungkinan
resiko yang akan terjadi saat pengobatan berlangsung atau setelah selsai
pengobatan.
Langkah-langkah penyampaian informasi tentang efek samping dan resiko
pengobatan
a. Petugas menerima rekam medis pasien dari petugas pendaftaran,
b. Petugas memanggil pasien masuk ke ruang periksa,
c. Petugas melakukan anamnesa,
d. Petugas melakukanpemeriksaan fisik,
e. Petugas merumuskan diagnose pasien dan rencana asuhan pasien,
f. Petugas memberitahukan pada pasien tentang penyakit dan pengobatan yang akan
dilakukan,
g. Petugas menjelaskan mengenai efek samping dan resiko pengobatan yang akan
dilakukan,
h. Petugas member kesempatan untuk bertanya mengenai pengobatan yang akan
dilakukan,
i. Petugas menyiapkan form informed consent,
j. Petugas menjelaskan isi informed consent,
k. Petugas memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengambil keputusan
mengenai persetujuan terhadap pengobatan yang akan dilakukan,
l. Petugas meminta pasien untuk menandatangani informed consent,
m. Petugas menandatangani informed consent yang telah ditandatangani pasien,
n. Petugas mendokumentasikan kegiatan

II.10.20 PENDIDIKAN/PENYULUHAN PASIEN


Pendidikan atau Penyuluhan pasien adalah : Kegiatan untuk menyampaikan
informasi atau pengetahuan secara luas kepada pasien guna menanamkan sikap dan
perilaku sesuai dengan informasi yang diberikan
Tujuanya agar merubah dan meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan cara
pandang pasien tentang kesehatan
Langkah-langkah
o. Petugas membuat satuan acara penyuluhan,
p. Petugas mempersiapkan sarana dan prasarana,
q. Petugas memberikan salam dan perkenalan,
r. Petugas menyampaikan maksud dan tujuan penyuluhan,
s. Petugas mengidentifikasi tingkat pengetahuan pasien terhadap materi penyuluhan,
t. Petugas menyampaikan materi penyuluhan sesuai kebutuhan pasien,
u. Petugas memberikan kesempatan kepada pasien untuk menanyakan materi yang
kurang dipahami,
v. Petugas mengadakan evaluasi terhadap materi yang diberikan,
w. Petugas mendokumentasikan hasil kegiatan penyuluhan,
x. Petugas membereskan sarana dan prasarana

11.10.21 INFORMED CONCENT


informed Consent adalah persetujuan tindakan kedokteran yang diberikan oleh
pasien atau keluarga terdekatnya setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap
mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut
Tujuan
1. Memberikan perlindungan kepada pasien terhadap tindakan dokter yang

sebenarnya tidak diperlukan dan secara medic tidak ada dasar pembenarannya

yang dilakukan tanpa sepengetahuan pasiennya.

2. Memberi perlindungan hukum kepada dokter terhadap suatu kegagalan dan bersifat
negatif, karena prosedur medik modern bukan tanpa resiko, dan pada setiap tindakan
medic ada melekat suatu resiko
Langkah-langkah
a. Petugas menyiapkan lembar inform consent,

b. Petugas kesehatan menginformasikan mengenai prosedur tindakan yang akan

dilakukan, tujuan, manfaat, dampak kalau tidak dilakukan dan resiko dari tindakan

tersebut kepada pasien dan keluarga


c. Petugas memastikan tingkat pemahaman pasien dan keluarga terhadap informasi

yang diberikan,

d. Petugas menjelaskan kembali mengenai informasi yang belum dimengerti pasien

dan keluarga,

e. Pasien diberi kesempatan untuk menerima atau menolak tindakan yang diberikan

f. Petugas kesehatan memberikan form inform consent kepada pasien atau

keluarga,

g. Pelanggan diberi kesempatan untuk membaca isi dari inform consent,

h. Pelanggan menanda tangani form inform consent beserta saksi,

i. Petugas kesehatan menandatangani form inform concent yang sudah ditanda

tangani pasien dan saksi,

j. Petugas menyimpan form inform consent yang telah ditanda tangani pasien atau

keluarga di dalam rekam medis pasien,

k. Petugas kesehatan mendokumentasikan kegiatan.

II.10.22 EVALUASI INFORMED CONCENT


Evaluasi Informed consent adalah suatu kegiatan untuk menilai efektifitas
dari inform consent yang diberikan kepada pasien.
Tujuan
Menilai efektifitas dari inform consent yang telah diberikan
Langkah-langkah
l. Kepala Puskesmas dan Koordinator pelayanan klinis menentukan standar

penilaian inform consent,

m. Koordinator pelayanan klinis membuat form penilaian evaluasi inform consent

sesuai standart yang telah ditentukan,

n. Koordinator pelayanan klinis menentukan jadwal pelaksanaan evaluasi inform

consent,
o. Koordinator pelayanan klinis menyampaikan rencana evaluasi inform consent

kepada seluruh petugas kesehatan,

p. Koordinator pelayanan klinis melakukan penilaian/menganalisa inform consent

sesuai dengan form penilaian,

q. Koordinator pelayanan klinis mencatat hasil penilaian inform consent,

r. Koordinator pelayanan klinis membuat laporan untuk Kepala Puskesmas,

s. Kepala Puskesmas menerima laporan hasil evaluasi inform consent,

t. Kepala Puskesmas dan koordinator pelayanan medis membuat rencana tindak

lanjut,

u. Koordinator pelayanan klinis beserta petugas kesehatan melaksanakan tindak

lanjut,

v. Koordinator pelayanan klinis mencatat hasil dari tindak lanjut yang dilakukan.

II.10.23 RUJUKAN
Rujukan pasien adalah suatu proses pengiriman pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan
yang lebih tinggi untuk mendapatkan penanganan yang tepat
Tujuan
Agar pasien yang tidak bisa ditangani di Puskesmas mendapatkan penangan dari
fasilitas kesehatan yang lebih tinggi
Langkah-langkah
a. Petugas menerima rekam medis dari petugas pendaftaran,
b. Petugas memanggil pasien masuk ke ruang periksa,
c. Petugas melakukan anamnesa,
d. Petugas melakukan pemeriksaan fisik,
e. Petugas mengidentifikasi masalah kesehatan yang terjadi pada pasien,
f. Petugas memberikan informasi kepada pasien mengenai kondisi kesehatan yang
dialami pasien,
g. Petugas menjelaskan bahwa masalah kesehatan yang dihadapi pasien tidak mampu
ditangani di Puskesmas,
h. Petugas menjelaskan bahwa pasien harus dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan
yang lebih tinggi/ mampu mengatasi masalah pasien,
i. Petugas melengkapi inform consent,
j. Petugas menyiapkan dan mengisi surat rujukan,
k. Petugas mendokumentasikarsiapan pasien rujukan adalah langkah – langkah
yang harus dilakukan sebelum pasien dikirim ke fasilitas pelayanan kesehatan
yang lebih tinggi
a. Petugas menjelaskan alasan pasien dirujuk,

b. Petugas menyiapkan lembar inform consent,

c. Petugas menjelaskan isi inform consent kepada pasien dan keluarga,

d. Petugas meyakinkan pasien dan keluarga bahwa setuju untuk dirujuk,

e. Petugas meminta pasien atau keluarga untuk menandatangani inform consent,

f. Petugas menandatangani inform consent yang telah ditandatangani pasien dan


keluarga,

g. Petugas menyiapkan surat rujukan,

h. Petugas melengkapi surat rujukan berupa nomor, identitas pasien, diagnose,


tanda tangan petugas dan stempel Puskesmas,

i. Petugas memastikan pasien dalam kondisi stabil,

j. Petugas memastikan alat - alat kesehatan yang terpasang pada pasien dalam
keadaan baik,

k. Petugas menyiapkan alat kesehatan dan obat – obat yang diperlukan dalam
proses rujukan

l. Petugas menyiapkan ambulance,

m. Petugas mengantarkan pasien


.
II.10.23 PELAYANAN KLINIS
Pelayanan klinis adalah proses pemberian asuhan kepada pasien sesuai dengan
masalah kesehatan yang dihadapi pasien
Langkah-langkah
1. Petugas menerima rekam medis dari petugas pendaftaran,
2. Petugas memanggil masuk pasien ke ruang pemeriksaan,
3. Petugas melakukan anamnesa kepada pasien,
4. Petugas melakukan pemeriksaan fisik,
5. Petugas mengidentifikasi masalah kesehatan yang dihadapi pasien,
6. Petugas menentukan rencana tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan
standar atau evidence base terbaru,
7. Petugas menjelaskan mengenai rencana tindakan yang akan dilakukan kepada
pasien,
8. Petugas memastikan bahwa pasien mengerti tentang penjelasan yang diberikan
petugas,
9. Petugas melengkapi inform consent,
10. Petugas melakukan tindakan kepada pasien sesuai dengan rencana,
11. Petugas memperhatikan respon klien,
12. Petugas mengevaluasi tindakan yang diberikan,
13. Petugas mendokumentasikan kegiatan

II.10.24 PENANGANAN PASIEN GAWAT DARURAT


Penanganan pasien gawat darurat adalah suatu pertolongan yang cepat dan
tepat pada psien untuk mencegah kematian maupun kecacatan
Lanngkah-langkah
1. petugas menerima pasien datang
2. Petugas mencuci tangan
3. Petugas menggunakan alat perlindungan ( handscoon, masker, alas kaki)
4. Petugas menempatkan pasien pada tempat yang disediakan
5. Jika pasien lebih dari satu, petugas mengidetifikasi pasien berdasarkan
prioritas penanganan ( pasien gawat tidak darurat, pasien darurat tidak gawat,
pasien gawat darurat )
6. Petugas mengidentifikasi masalah kesehatan pasien
7. Petugas mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan
pasien
8. Petugas menilai kesadaran pasienGCS
9. Petugas mengecek airway dan melakukan tindakan bila terjadi sumbatan
jalan nafas
10. Petugas memastikan bahwa pernafasan tidak terganggu, apabila
terganggu, petugas memberikan bantuan pernapasan
11. Petugas meperbaiki peredaran darah. Jika ada perdarahan petugas
melakukan tindakan untuk menghentikan perdarahan
12. Petugas memasang IV line jika terdapat tanda-tanda kekurangan cairan
pada pasien
13. Petugas memberikan obat sesuai kebutuhan pasien
14. Petugas melakuka resusitasi jantung paru jika terjadi henti jantung
15. Petugas memastikan pasien bahwa pasien dalam kondisi stabil
16. Petugas melakukan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih
mampu apabila diperlukan
17. Petugas mendokumentasi alat-alat yang telah digunakan dan habis pakai
18. Petugas mencuci alat-alat yang telah digunakan
19. Petugas mensterikan alat0alat yang telah digunakan
20. Petugas membuang bahan habis pakai pada temoat sampah medis
21. Petugas mencuci tangan
22. Petugas mendokumentasi kegiatan di dalam rekam medis.

DAFTAR KASUS GAWAT DARURAT YANG DITANGANI

1. Luka Bakar
2. Vulnus
3. Cidera kepala
4. Diare dengan dehidrasi berat
5. Syok Hipovolemi
6. Keracunan
7. Hiperemesis gravidarum
8. Pre eklamsi
9. Perdarahan Post Partum (Atonia, Retensio Plasenta)
10. Asfiksia Neonatus

II.10.25 PENANGANAN PASIEN BERESIKO TINGGI


Penanganan pasien resiko tinggi adalah proses memberikan pelayanan klinis
kepada pasien dengan penyakit yang bisa menimbulkan kematian ataupun
pasien dengan penyakit yang bisa menularkan penyakitnya baik pada petugas
maupun pasien lainnya.
Langkah - langkah :
a. Petugas menerima status pasien dari petugas pendaftaran,
b. Petugas memanggil pasien masuk ke ruang pemeriksaan,
c. Petugas melakukan anamnesa terhadap masalah yang dihadapi pasien,
d. Petugas melaksanakan pemeriksaan fisik,
e. Petugas mengidentifikasi masalah yang dihadapi pasien (diagnosa),
f. Petugas menentukan rencana tindakan yang akan dilakukan sesuai
kebutuhan pasien,
g. Petugas melakukan tindakan sesuai rencana,
h. Petugas melakukan stabilisasi pada pasien,
i. Petugas memberikan informasi pada pasien dan keluarga mengenai kondisi
kesalahan pasien,
j. Petugas memberikan informasi pada pasien dan keluarga bahwa pasien
harus dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi,
k. Petugas menyiapkan perlengkapan rujukan,
l. Petugas merujuk pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu,
m. Petugas mendokumentasikan kegiatan ke rekam medis.

II.10 26 KEWASPADAAN UNIVERSAL


Kewaspadaan universal adalah suatu cara untuk mencegah penularan
penyakit dari cairan tubuh yang keluar dari tubuh pasien/penderita penyakit
baik dari pasien ke petugas kesehatan ataupun dari pasien satu ke pasien lain.
Untuk mencegah penularan penyakit infeksi baik dari pasien ke petugas
ataupun dari pasien ke pasien lain melalui cairan tubuh pasien.

Langkah – Langkah :
a. Petugas memanggil pasien sesuai nomor urut pada rekam medis pasien
b. Petugas mengidentifikasi pasien dengan mencocokkan identitas pasien dengan
yang tertulis di rekam medis
c. Petugas menganamnesa pasien,menanyakan riwayat penyakitnya
d. Petugas mencuci tangan dengan cara 6 langkah mencuci tangan
e. Petugas mengenakan APD ( masker,sarung tangan steril)
f. Petugas melakukan pemeriksaan fisik
g. Petugas melakukan tindakan medis ke pasien dengan menggunakan alat-alat
yang steril.
h. Selesai melakukan pemeriksaan fisik dan tindakan medis,petugas
mendekontaminasikan alat dan bahan habis pakai dengan menggunakan cairan
chlorin 0,5 % selama 10 menit
i. Petugas mencuci alat-alat yang sudah didekontaminasi dengan air mengalir
j. Petugas mensterilkan alat yang sudah dicuci
k. Petugas membuang alat dan bahan habis pakai pada tempat sampah medis
l. Petugas mencuci tangan dengan cara 6 langkah mencuci tangan.

II.10.27 PEMBERIAN ANASTESI LOKAL DAN SEDASI DI PUSKESMAS


Pemberian anestesi lokal adalah tindakan menghilangkan rasa sakit atau nyeri
secara lokal tanpa disertai hlangnya kesadaran.
Pemberian anestesi lokal dapat dengan tekhnik:
 Anestesi permukaan adalah pengolesan atau penyemprotan analgetik lokal
diatas selaput mukosa seperti mata,hidung,faring.

 Anestesi infiltrasi adalah penyuntikan larutan analgetik lokal langsung


diarahkan disekitar tempat lesi,luka atau insisi.cara infiltrasi yang serng
digunakan adalah blokade lingkar dan larutan obat disuntikan intradermal atau
subcutan.

 Anestesi blok adalah penyuntikan analgetik lokal langsung ke saraf utama atau
pleksus saraf.

 Anestesi regional intravena adalah penyuntikan larutan analgetik lokal


intravena.

Obat anestesi lokal/regional adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila
dikenakan secara lokal.anestesi lokal idealnya adalah yang tidak mengiritasi atau
merusak jaringan secara permanen,batas keamanan lebar,mula kerja singkat,masa kerja
cukup lama,larut dalam air,stabil dalam larutan,dapat disterilkan tanpa mengalami
perubahan dan efeknya reversibel.
Contoh obat anestesi lokal
 Lidokain (liqnikaon,xylocain) adalah anestesi lokal kuat yang digunakan secara
topikal dan suntikan.Efek anestesi lebih kuat,cepat,ekstensif dibanding prokain

Bupivakain adalah anestetik golongan amida dengan mula kerja lambat dan masa kerja
panjang.Pemberian anestesi lokal adalah tindakan menghilangkan rasa sakit atau nyeri
secara lokal tanpa disertai hlangnya kesadaran.
a. Langkah-langkah
b. Petugas mengidentifikasi pasien ,mencocokkan identitas pasien dengan rekam
medis.
c. Petugas menganamnesa pasien
d. Petugas mencatat anamnesa pasien ke rekam medis
e. Petugas menidurkan pasien di ruang tindakan,memposisikan luka yang akan
dilakukan anestesi terlihat kasat mata
f. Petugas memberikan informed consent pada pasien dan keluarga tentang tindakan
anestesi yang akan dilakukan
g. Pasien menandatangani lembar informed consent setelah diberi informed consent
oleh petugas
h. Petugas mempersiapkan alat dan bahan steril untuk melakukan tindakan anestesi
i. Petugas mencuci tangan dengan 6 langkah mencuci tangan
j. Petugas menggunakan sarung tangan steril
k. Petugas mengambil obat anestesi dengan menggunakan spuit dibantu dengan
petugas lain yang membukakan obat anestesi
l. Petugas memberikan informasi kalau akan segera dilakukan penyuntikan
pembiusan untuk menghilangkan rasa sakit
m. Petugas menyuntikkan obat anestesi lokal langsung ke lesi,luka dan sekitarnya
secara blokade lingkar dan obat disuntikan intradermal atau subcutan
n. Petugas menunggu 1-2 menit sampai obat anestesi bereaksi dan pasien sudah tdak
merasakan sakit pada luka dan sekitarnya
o. Petugas menanyakan pada pasien dengan memberikan rangsangan nyeri pada
sekitar luka apakah masih nyeri atau tidak dan sudah merasa baal/kesemutan pada
kulit sekitar luka.
p. Setelah pasien tidak merasa nyeri petugas membersihkan luka yang terkena
kotoran dengan larutan NaCl 0,9 %
q. Petugas melakukan tindakan

II.10.28 IDETIFIKASI PENANGANAN KELUHAN


Identifikasi dan penanganan keluhan adalah proses pengumpulan keluhan
dan cara mengatasi keluhan yang ada dari pasien di Puskesmas Kutabumi
Langkah-langkah
a. Pelaksana pelayanan klinis dan petugas pendaftaran menerima keluhan dari pasien,
baik secara langsung, melalui sms, melalui kotak saran ataupun melalui pengisian
instrumen,

b. b. Petugas pelayanan klinis dan petugas pendaftaran mencatat keluhan dari


pelanggan di dalam buku keluhan pelanggan,

c. Petugas pelayanan klinis dan petugas pendaftaran melaporkan keluhan dari pasien
kepada coordinator pelayanan klinis,

d. Koordinator pelayanan klinis menerima laporan dari pelaksana pelayanan klinis


dan dari petugas pendaftaran,

e. Koordinator pelayanan klinis mengidentifikasi keluhan pasien juga dari kotak


saran yang dibuka tiap bulan,

f. Koordinator pelayanan klinis melaporkan semua keluhan yang diperoleh kepada


Kepala Puskesmas,

g. Kepala Puskesmas menerima laporan dari koordinator pelayanan klinis,

h. Kepala Puskesmas memberikan instruksi untuk melakukan pembahasan terhadap


penanganan keluhan yang dilaporkan coordinator layanan klinis,

i. Kepala Puskesmas, koordinator layanan klinis dan semua petugas membahas


mengenai penanganan keluhan pasien

j. Kepala Puskesmas, koordinator pelayanan klinis dan semua petugas membuat


rencana penanganan terhadap keluhan pasien

k. Koordinator pelayanan klinis mencatat hasil pembahasan penanganan keluhan


pelanggan,

l. Koordinator pelayanan klinis dan semua petugas melaksanakan hasil rencana


penangan terhadap keluhan pelanggan,

m. Koordinator pelayanan klinis mengevaluasi pelaksanaaan keluhan pasien dengan


mengidentifikasi keluhan kembali bulan depan.

II.10.29 MENGHINDARI PENGULANGAN YANG TIDAK PERLU


Pengkajian, pencegahan pengulangan yang tidak perlu adalah proses tindakan
pencegahan berulang yang sudah dilaksanakan,dengan cara memasukan / mencatat
dalam dokumen rekam medis supaya tidak terjadi pengulangan yang tidak perlu.
Pelaksana pelayanan dilaksanakan olehsemua petugas.Dilaksanakan setiap h
Langkah - langkah :
n. Petugas pelayanan klinis menerima rekam medis dari petugas pendaftaran,
o. Petugas memanggil pasien dan mempersilahkan pasien masuk,
p. Petugas menganamnesa atau mengkaji keluhan pasien,
q. Petugas mengukur tanda – tanda vital,
r. Petugas menuliskan hasil anamnesa dan tanda – tanda vital pasien di dalam RM
pasien,
s. Petugas melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien,
t. Petugas mengidentifikasi masalah kesehatan pasien,
u. Petugas menjelaskan kepada pasien mengenai masalah kesehatan yang sedang
dialami pasien dan menjelaskan mengenai rencana terapi,
v. Petugas melakukan terapi sesuai dengan yang direncanakan,
w. Petugas membuatkan surat rujukan ke ruang pemeriksaan lain jika memerlukan
konsultasi unit lain,
x. Petugas menuliskan resep dan meminta pasien untuk menebus resep di apotek
Puskesmas,
y. Petugas mencatat semua hasil anamnesa dan tindakan di RM pasien untuk
menghindari pengulangan yang tidak perlu

II.10.30 LAYANAN KLINIS YANG MENJAMIN KESINAMBUNGAN


LAYANAN

Agar pelayanan klinis yang dilakukan untuk menangani masalah


kesehatan pasien dapat dilakukan secara paripurna.
Langkah - langkah

a. Petugas menerima rekam medis pasien dari petugas pendaftaran,


b. Petugas memanggil pasien masuk ke ruang periksa,
c. Petugas melakukan anamnesa,
d. Petugas melakukan pemeriksaan fisik,
e. Petugas merumuskan diagnosa pasien,
f. Petugas menyusun rencana asuhan pasien,
g. Petugas berkolaborasi dengan tim kesehatan lain sesuai masalah
kesehatan pasien,
h. Petugas memberitahukan pasien mengenai layanan yang akan diberikan
untuk mengatasi masalah kesehatan pasien,
i. Petugas meyakinkan bahwa pasien memahami penjelasan petugas,
j. Petugas mengidentifikasi persetujuan atau penolakan pasien terhadap
tindakan yang akan dilakukan,
k. Petugas melakukan tindakan untuk mengatasi masalah kesehatan pasien
sesuai rencana asuhan,
l. Petugas melakukan evaluasi formatif terhadap tindakan yang dilakukan,
m. Petugas menyusun rencana tindak lanjut bila masalah kesehatan pasien
belum teratasi,
n. Petugas memberi pesan pada pasien untuk melakukan kunjungan ulang
(control) sesuai kriteria waktu yang ditentukan,
o. Petugas mendokumentasikan hasil kegiatan di dalam rekam medis pasien.

II.10.31 HAK PASIEN MENOLAK ATAU TIDAK MELANJUTKAN


PENGOBATAN

Hak menolak atau tidak melanjutkan pengobatan adalah kegiatan


menjelaskan kepada pasien mengenai haknya dalam memutuskan pengobatan
yang akan dilakukan terhadap dirinya, pasien berhak memutuskan menerima atau
menolak melakukan pengobatan serta berhak menghentikan pengobatan saat
pengobatan berlangsung.
Langkah – langkah hak penolakan pasien untuk tidak melanjutkan pengobatan :

a. Dokter memeriksa pasien


b. Dokter merumuskan diagnosa pasien
c. Dokter memberikan advis pada petugas
d. Petugas menerima advis dokter tentang rencana asuhan
e. Petugas memberitahu tentang penyakit pasien serta rencana asuhan yang akan
dilaksanakan
f. Petugas memberitahu bahwa pasien harus dirujuk bagi pasien yang tidak bisa
ditangani di Puskesmas
g. Petugas memberitahu pasien atau keluarga tentang hak untuk menolak atau tidak
melanjutkan pengobatan
h. Petugas menyiapkan lembar persetujuan atau penolakan terhadap tindakan medis
yang akan dilakukan (Form Persetujuan/Penolakan)
i. Petugas menjelaskan isi Form Persetujuan/Penolakan
j. Petugas menyakinkan bahwa pasien atau keluarga paham dengan penjelasan
tersebut
k. Petugas memberikan kesempatan kepada pasien atau keluarga untuk mengambil
keputusan berkenaan dengan kelanjutan pengobatan pasien
l. Petugas memberitahukan pasien dan keluarga tentang konsekwensi atau hal yang
terjadi berkaitan dengan penolakan tersebut dan Puskesmas tidak
bertanggungjawab
m. Petugas menganjurkan pasien untuk menandatanganin Form Penolakan
n. Petugas membubuhkan tanda tangan pada Form Penolakan yang telah di
tandatangani pasien dan saksi
o. Petugas memberikan informasi tentang pengobatan alternative lainnya
p. Petugas mendokumentasikan hasil kegiatan

II.10.30 PEMBERIAN EDUKASI BILA KELUARGA MENYEDIAKAN


MAKANAN
Pemberian Edukasi adalah merupakan pemberian materi- materi edukasi gizi
kepada pasien dan atau keluarga berkaitan dengan kondisi kesehatan pasien dan
penyediaan makanan pasien. Untuk memberikan informasi tentang hal- hal yang
harus diperhatikan pasien dan atau keluarga terkait gizi berhubungan dengan
kondisi kesehatan pasien. Sebagai pedoman dalam pemberian edukasi tentang
gizi bila keluarga menyediakan makanan.
Langkah – langkah :
a. Pelajari masalah gizi pasien yang tertulis dalam rekam medic atau formulir
hasil skrining gizi atau formulir konsul gizi sesuai permintaan dan hasil
wawancara dengan pasien dan atau keluarga
b. Tentukan diagnosa gizi pasien
c. Tulis identitas pasien, diagnose gizi, rencana intervensi gizi dalam formulir
asuhan gizi pasien rawat jalan, poned ataupun rawat inap
d. Hitung dan susun kebutuhan gizinya terjemahkan dalam pembagian
makanan dan tuliskan dalam leaflet diet
e. Gunakan masker pada pasien yang dapat menularkan infeksi lewat udara
f. Jelaskan dan diskusikan pelaksanaan diet dengan pasien dan atau keluarga
g. Berikan penjelasan makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan
h. Buat evaluasi hasil konsultasi dengan memberikan pertanyaan kepada
pasien dan atau keluarga.
i. Lakukan pencataan pemberian edukasi direkam medic yang ditanda tangani
pasien.

II.10.32 ASUHAN GIZI


Adalah serangkaian kegiatan yang terorganisir / terstruktur yang
memungkinkan untuk mengindentifikasi penyediaan asuhan gizi untuk
memenuhi kebutuhan gizi pasien. Agar setiap pasien dapat terpenuhi kebutuhan
zat gizinya secara optimal.
Langkah – langkah :

a. Petugas gizi mempersilahkan pasien yang datang ke ruangan konseling gizi


untuk masuk dan duduk di tempat yang telah disediakan
b. Petugas gizi melakukan pengkajian status gizi pasien meliputi tinggi badan,
berat badan, umur,kebiasaan makan, serta riwayat gizi, alergi makanan
c. Petugas gizi menentukan kebutuhan gizi sesuai dengan status gizi dan
penyakit yang diderita pasien.
d. Petugas gizi menentukan macam dan jenis diet sesuai dengan status gizi dan
penyakitnya serta cara pemberian makanan kepada pasien.
e. Petugas gizi melakukan konseling gizi kepada pasien dan keluarganya
f. Petugas gizi melakukan pemantauan, monitoring, evaluasi serta tindak
lanjut terapi gizi dengan menyarankan kepada pasien untuk melakukan
kunjungan ulang dan bila diperlukan petugas gizi melakukan kunjungan ke
rumah pasien
II.10.33 PEMULANGAN PASIEN DAN TINDAK LANJUT PASIEN
Pemulangan pasien dan tindak lanjut pasien adalah kegiatan
mempersiapkan pasien pulang meliputi perawatan selama di tumah, informasi
perubahan pola hidup, obat untuk diteruskan di rumah dan tindak lanjut pasien
untuk periksa kembali ke Puskesmas atau perlunya pemeriksaan lain/ dirujuk ke
fasilitas pelayanan yang lebih tingg i

Langkah-langkah
1. Dokter menyatakan bahwa pasien sudah saatnya bisa meninggalkan puskesmas
baik karena sembuh, harus dirujuk ataupun karena sudah meninggal,
2. Petugas memberikan informasi kepada pasien jika psien sadar bahwa pasien bisa
meninggalkan puskesmas baik karena sembuh atau harus dirujuk,
3. Petugas memberikan informasi kepada keluarga bahwa pasien sudah bisa pulang
karena sembuh, harus dirujuk ataupun memberikan informasi pada pasien dan atau
keluarga tentang beberapa alternative tindakan/ penanganan setelah proses
pemulangan,
4. Petugas membicarakan dengan keluarga tentang proses pemulangan termasuk
transportasi,
5. Petugas mempersiapkan lembar informed consent untuk ditandatangani pasien atau
keluarga,
6. Petugas mempersiapkan proses pemulangan,
7. Petugas membuat surat rujukan dan form umpan balik rujukan untuk pasien yang
dirujuk,
8. Petugas mempersiapkan alat – alat yang perlu disertakan dalam proses pemulangan,
9. Petugas mempersiapkan transportasi yang akan digunakan,
10. Petugas menganjurkan pada pasien untuk control pada waktu yang sudah
ditentukan bila perlu,
11. Petugas menganjurkan pada pasien untuk menyerahkan surat umpan balik rujukan
dari rumah sakit ke puskesmas pada pasien yang dirujuk.
12. Petugas mendokumentasikan kegiatan di rekam medis pasien
II.10.34 TINDAK LANJUT TERHADAP UMPAN BALIK DARI FASILITAS
RUJUK

Umpan balik adalah upaya mengumpulkan informasi berupa komentar positif


atau negatif dari pemberi pelayanan yang bertujuan menggali informasi internal
atau eksternal untuk memperbaiki kinerja pemberi pelayanan.

Langkah – langkah :

a. Pasien datang ke petugas kesehatan dengan memberikan umpan balik yang


diberikan dari sarana kesehatan rujukan.

b. Petugas memeriksa umpan balik ;


 Apabila pasien masih perlu dilakukan pengobatan, pemeriksaan atau
tindakan lanjutan ke sarana kesehatan rujukan maka petugas
memberikan kembali rujukan yang baru dengan diagnosa yang sesuai
dengan umpan balik kepada pasien;
 Apabila pasien cukup dilanjutkan pengobatan di Puskesmas, maka
petugas melanjutkan pengobatan nya di Puskesmas;

II.10.35 ALTERNATIF PENANGANAN PASIEN YANG MEMERLUKAN


RUJUKAN
Jika pasien tidak mungkin dirujuk, puskesmas wajib memberikan alternatif
pelayanan. Alternatif penanganan yang diberikan digunakan dengan memperhatikan
lingkaran dinamis proses keperawatan dan kemandirian pasien atau keluarga. Untuk
menjamin kesinambungan pelayanan pasien dengan menawarkan alternatif
penanganan pada pasien yang memerlukan rujukan tapi tidak dapat dilakukan.
Langkah-langkah :

a. Petugas menerima rekammedis dari petugas pendaftaran


b. Petugas memanggil pasien masuk kedalam ruang pemeriksaan
c. Petugas melakukan anamnesa
d. Petugas melakukan pemeriksaan fisik
e. Petugas mengidentifikasi maslah kesehatan yang terjadi pada pasien
f. Petugas memberikan informasi kepada pasien mengenai kondisi kesehatan
yang dialami pasien
g. Petugas menjelaskan bahwa masalah kesehatan pasien tidak mampu
ditangani di puskesmas
h. Jika pasien menolak menandatangani surat penolakan rujukan
i. Petugas menjelaskan alternative penaganan yang diberikan jika rujukan
tidak mungkin dilakukan dengan memperhatikan lingkaran dinamis proses
keperawatan, dan kemandirian pasien/keluarga
j. Petugas menjelaskan bahwa pasien harus dirujuk kefasilitas kesehatan yang
lebih tinggi/mampu mengatasi masalah pasien
i. Petugas mendokumentasikan kegiatan dalam rekammedis

II.10.36 PEMULANGAN PASIEN DAN TINDAK LANJUT

Pemulangan pasien dan tindak lanjut pasien adalah kegiatan


mempersiapkan pasien pulang meliputi perawatan selama di rumah,
informasi perubahan pola hidup, obat untuk diteruskan di rumah seperti
cara minum obat, memandikan bayi, merawat tali pusat, memandikan bayi
dan kapan control ulang ke puskesmas. Dokter yang menangani bertanggung
jawab untuk melaksanakan proses pemulangan/rujukan pasien sesuai dengan
kriteria pemulangan pasien.

Langkah - langkah :
a. Petugas menyatakan bahwa pasien sudah saatnya bisa meninggalkan
puskesmas sesuai dengan kriteria pemulangan pasien,
b. Petugas memberikan informasi kepada pasien bahwa pasien bisa
meninggalkan puskesmas
c. Petugas memberikan informasi kepada keluarga bahwa pasien sudah bisa
pulang karena sembuh, dan informasi perawatan yang harus dilakukan
dirumah
d. Petugas membicarakan dengan keluarga tentang proses pemulangan serta
jadwal control ulang
e. Petugas menyediakan Resume klinis/resume keluar dan form persetujuan
untuk ditandatangani,
f. Petugas mempersiapkan proses pemulangan,
g. Petugas mendokumentasikan kegiatan di rekam medis pasien

II.10.37 EVALUASI TERHADAP PROSEDUR PENYAMPAIAN INFORMASI


Evaluasi terhadap kejelasan informasi yang disampaikan petugas pelayanan
klinis adalah penilaian terhadap kejelasan informasi petugas pelayanan klinis yang
diterima oleh pasien selama pelayanan klinis

Langkah-langkah
a. Penanggung jawab pelayanan klinis menyiapkan instrumen evaluasi kejelasan
informasi yang disampaikan,

b. Penanggung jawab pelayanan klinis menentukan sasaran kegiatan, yaitu pasien


yang diberikan pendidikan kesehatan,

c. Penanggung jawab pelayanan klinis membagikan instrument evaluasi kepada


petugas di tiap – tiap poli,

d. Petugas memberikan informasi sesuai dengan rencana asuhan,

e. Petugas member kesempatan kepada pasien untuk menanyakan informasi yang


kurang dimengerti,

f. Petugas meminta pasien yang diberi informasi mengulangi informasi yang


diberikan,

g. Petugas mengisi instrument evaluasi terhadap penyampaian informasi,

h. Petugas mengakhiri penjelasan,

i. Petugas mendokumentasikan kegiatan,

j. Petugas menyerahkan instrument yang telah diisi kepada penanggung jawab


pelayanan klinis,

k. Penanggung jawab pelayanan klinis merekap hasil evaluasi,

l. Penanggung jawab layanan klinis melaporkan hasil kepada Puskesmas,

II.10.38 IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PASIEN SELAMA PROSES


RUJUKAN, ANTARA LAIN TRANPORTASI RUJUKAN
Transportasi rujukan adalah proses pengangkutan pasien dari Puskesmas
menuju tempat rujukan
Langkah-langkah
1. Petugas menyiapkan pasien yang akan dirujuk termasuk inform consent dan surat
rujukan,

2. Petugas menyiapkan alat kesehatan dan obat yang diperlukan selama perjalanan,

3. Petugas menghubungi sopir ambulance untuk menyiapkan ambulance,

4. Petugas menghubungi tempat tujuan rujukan bahwa akan mengirimkan pasien,

5. Petugas memastikan pasien dalam kondisi stabil,

6. Petugas memindahkan pasien ke ambulance dengan memperhatikan safety pasien,

7. Petugas mendampingi pasien menuju tempat rujukan,

8. Selama perjalan, petugas selalu mengobservasi kondisi pasien,

9. Petugas menyerahkan pasien ke tempat rujukan,

10. Petugas melakukan serah terima kepada petugas tempat rujukan, meliputi identitas,
riwayat penyakit dan terapi yang telah dilakukan,

11. Petugas mendokumentasikan kegiatan