Anda di halaman 1dari 35

Bagian Ilmu Kedokteran Januari 2016

Keluarga dan Komunitas


Fakultas Kedokteran
Universitas Halu Oleo

LAPORAN KUNJUNGAN RUMAH

PASIEN ISPA

Oleh:

Aulia Fadhilah Tasruddin, S.Ked


K1A1 10 068

Pembimbing:

dr.Hj Syamsiah Pawennai, M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK

PADA BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KELUARGA DAN KOMUNITAS

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HALU OLEO

2016

1
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan di bawah ini, menyatakan bahwa :

Nama : Aulia Fadhilah Tasruddin, S.Ked (K1 A2 10 068)

Judul Laporan : Laporan Kunjungan Rumah Kasus ISPA

Telah menyelesaikan tugas laporan dalam rangka kepaniteraan klinik pada


Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas, Fakultas
Kedokteran, Universitas Halu Oleo.

Kendari, Januari 2016

Mengetahui:

Penulis, Pembimbing,

Aulia Fadhilah Tasruddin,S.Ked dr. Hj. Syamsiah Pawennei, M.Kes

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai upaya untuk mewujudkan visi Indonesia sehat, pemerintah telah


menyusun berbagai program pembangunan dalam bidang kesehatan antara lain
kegiatan pemberantasan Penyakit Menular (P2M) baik yang bersifat promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif di semua aspek lingkungan kegiatan pelayanan
kesehatan.
Untuk dapat mengukur derajat kesehatan masyarakat digunakan beberapa
indikator, salah satunya adalah angka kesakitan dan kematian balita. Angka
kematian balita yang telah berhasil diturunkan dari 45 per 1000 kelahiran hidup
pada tahun 2003 menjadi 44 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007.
World Health Organization (WHO) memperkirakan insidens Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian
balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada
golongan usia balita. Menurut WHO  13 juta anak balita di dunia meninggal setiap
tahun dan sebagian besar kematian tersebut terdapat di Negara berkembang, dimana
pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian dengan membunuh  4 juta
anak balita setiap tahun
Di Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati
urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu
ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Survei
mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan
ISPA/Pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan
persentase 22,30% dari seluruh kematian balita.
Gejala awal yang timbul biasanya berupa batuk pilek, yang kemudian
diikuti dengan napas cepat dan napas sesak. Pada tingkat yang lebih berat terjadi
kesukaran bernapas, tidak dapat minum, kejang, kesadaran menurun dan
meninggal bila tidak segera diobati. Usia Balita adalah kelompok yang paling

3
rentan dengan infeksi saluran pernapasan. Kenyataannya bahwa angka morbiditas
dan mortalitas akibat ISPA, masih tinggi pada balita di negara berkembang.
Penemuan penderita ISPA pada balita di Sulawesi Tenggara, sejak tahun
2006 hingga 2008, berturut–turut adalah 74.278 kasus (36,26 %), 62.126 kasus
(31,45%), 72.537 kasus (35,94%) (Anonim, 2008). Berdasarkan uraian di atas,
penyakit ISPA merupakan salah satu penyakit dengan angka kesakitan dan angka
kematian yang cukup tinggi, sehingga dalam penanganannya diperlukan
kesadaran yang tinggi baik dari masyarakat maupun petugas, terutama tentang
beberapa faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan. Menurut Hendrik Bloom
dalam Notoatmodjo, 1996, faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan
antara lain faktor lingkungan seperti asap dapur, faktor prilaku seperti kebiasaan
merokok keluarga dalam rumah, faktor pelayanan kesehatan seperti status
imunisasi, ASI Ekslusif dan BBLR dan faktor keturunan.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Melakukan pendekatan kedokteran keluarga terhadap pasien ISPA dan
keluarganya di Kecamatan Abeli Kota Kendari tanggal 25 Januari 2016
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui karakteristik (fungsi keluarga, bentuk keluarga, dan
siklus keluarga) keluarga pasien ISPA.
b. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah
kesehatan pada pasien ISPA dan keluarganya.
c. Mendapatkan pemecahan masalah kesehatan pasien ISPA dan
keluarganya
C. Manfaat
1. Bagi Penulis
Menambah pengetahuan penulis tentang kedokteran keluarga, serta
penatalaksanaan ISPA dengan pendekatan kedokteran keluarga.

2. Bagi Tenaga Kesehatan

4
Sebagai bahan masukan kepada tenaga kesehatan agar setiap
memberikan penatalaksanaan kepada pasien ISPA dilakukan secara
holistik dan komprehensif serta mempertimbangkan aspek keluarga
dalam proses penyembuhan
3. Bagi Pasien dan Keluarga
Memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya bahwa keluarga
juga memiliki peranan yang cukup penting dalam kesembuhan pasien.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Defenisi
Infeksi Saluran Pernafasan Akut sering disingkat dengan ISPA, istilah ini
diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI).
Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut,
dengan pengertian sebagai berikut:
1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh
manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
2. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta
organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA
secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan
bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran
pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran
pernafasan (respiratory tract).
3. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14
hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa
penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung
lebih dari 14 hari.

B. Etiologi
Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptococcus,
Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofilus, Bordetella dan Corinebacterium. Virus
penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus,
Koronovirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus, dan lain-lain.
Menurut WHO, penelitian di berbagai negara juga menunjukkan bahwa
dinegara berkembang Streptococcus pneumoniae dan Haemofilus influenzae
merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada 2/3 (dua pertiga) dari hasil isolasi
yaitu 73,9% aspirat paru dan 69,1% hasil isolasi dari spesimen darah. Bakteri
merupakan penyebab utama dari pneumonia pada balita. Diperkirakan besarnya

6
presentase bakteri sebagai penyebabnya adalah sebesar 50%. Sedangkan di negara
maju, saat ini pneumonia pada anak umumnya disebabkan oleh virus.
Sedangkan menurut (Widoyono, 2005) penyebab ISPA terdiri dari :
1. Bakteri : Diplococcus pneumuniae, Pneumococcus, Strepcoccus
pyogenes, Staphylococcus aureu, haemophilus influenza,
dan lai-lain.
2. Virus : Influenza, adenovirus, sitomegalovirus.
3. Jamur : Aspergilus sp, Candida albican, Histoplasma, dan lain-
lain.
4. Aspirasi : Makanan, asap kendaraan bermotor, bahan bakar minyak
(BBM) biasanya minyak tanah, cairan amnion pada saat
lahir, benda asing misalnya biji-bijian, mainan plastik
kecil dan lain-lain.

C. Epidemiologi
Penyakit ISPA lebih sering diderita oleh anak-anak. Daya tahan tubuh
anak sangat berbeda dengan orang dewasa karena sistem pertahanan tubuhnya
belum kuat. Kalau di dalam satu rumah seluruh anggota keluarga terkena pilek,
anak-anak akan lebih mudah tertular. Dengan kondisi tubuh anak yang masih
lemah, proses penyebaran penyakit pun menjadi lebih cepat. Dalam setahun
seorang anak rata-rata bisa mengalami 6-8 kali penyakit ISPA.

D. Klasifikasi ISPA
Klasifikasi Berdasarkan Umur
1. Kelompok umur < 2 bulan, diklasifikasikan atas :
a. Pneumonia berat: bila disertai dengan tanda-tanda klinis seperti berhenti
menyusu (jika sebelumnya menyusu dengan baik), kejang, rasa kantuk
yang tidak wajar atau sulit bangun, stridor pada anak yang tenang, mengi,
demam (38ºC atau lebih) atau suhu tubuh yang rendah (di bawah 35,5 ºC),
pernafasan cepat 60 kali atau lebih per menit, penarikan dinding dada

7
berat, sianosis sentral (pada lidah), serangan apnea, distensi abdomen dan
abdomen tegang.
b. Bukan pneumonia: jika anak bernafas dengan frekuensi kurang dari 60 kali
per menit dan tidak terdapat tanda pneumonia seperti diatas.
2. Kelompok umur 2 bulan - < 5 tahun, diklasifikasikan atas :
a. Pneumonia sangat berat: batuk atau kesulitan bernafas yang disertai
dengan sianosis sentral, tidak dapat minum, adanya penarikan dinding
dada, anak kejang dan sulit dibangunkan.
b. Pneumonia berat: batuk atau kesulitan bernafas dan penarikan dinding
dada, tetapi tidak disertai sianosis sentral dan dapat minum.
c. Pneumonia: batuk (atau kesulitan bernafas) dan pernafasan cepat tanpa
penarikan dinding dada.
d. Bukan pneumonia (batuk pilek biasa): batuk (atau kesulitan bernafas)
tanpa pernafasan cepat atau penarikan dinding dada.
e. Pneumonia persisten: anak dengan diagnosis pneumonia tetap sakit
walaupun telah diobati selama 10-14 hari dengan dosis antibiotik yang
adekuat dan antibiotik yang sesuai, biasanya terdapat penarikan dinding
dada, frekuensi pernafasan yang tinggi, dan demam ringan.

E. Tanda dan Gejala


Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan
keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit
mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh
dalam keadaan kegagalan pernapasan dan mungkin meninggal. Bila sudah dalam
kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih rumit,
meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu diusahakan agar yang
ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat ditolong dengan
tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan. Tanda-tanda bahaya dapat
dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda laboratoris :
Beberapa tanda klinis ISPA sebagai antara lain :

8
1. Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi
dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang,
grunting expiratoir dan wheezing.
2. Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardi, hypertensi, hypotensi dan
cardiac arrest.
3. Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, kejang
dan coma.
 Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak.
Tanda dan gejala ISPA dibagi atas tiga golongan :
1. Bukan pneumonia yaitu batuk, serak, pilek dan panas atau demam suhu lebih
dari 370C.
2. Pneumonia yaitu pernapasan lebih dari 50 x per menit pada anak yang
berumur < 1 tahun atau > 40 x per menit pada anak berumur 1 tahun atau
lebih, suhu tubuh > 390C, tenggorokan berwarna merah, timbul bercak-bercak
pada kulit menyerupai bercak campak, pernapasan berbunyi menciut-ciut,
pernapasan berbunyi seperti mengorok dan telinga sakit atau mengeluarkan
nanah.
3. Pneumonia berat yaitu bibir atau kulit membiru, anak tidak sadar, napas cepat
> 60 x per menit.

E. Faktor Risiko
Terdapat banyak faktor yang mendasari perjalanan penyakit ISPA pada
balita. Hal ini berhubungan dengan host, agent penyakit dan environment.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kejadian ISPA antara lain :
1. Ventilasi Rumah
Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar dan pengeluaran udara
kotor secara alamiah atau mekanis . Ventilasi disamping berfungsi sebagai
lubang pertukaran udara juga dapat berfungsi sebagai lubang masuknya cahaya
alami atau matahari ke dalam ruangan. Kurangnya udara segar yang masuk ke
dalam ruangan dan kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan
resiko kejadian ISPA. Adanya pemasangan ventilasi rumah merupakan salah

9
satu upaya untuk mencegah terjadinya penyakit ISPA. Ventilasi merupakan
determinan dari kejadian ISPA pada anak balita. Adapun besarnya risiko untuk
terjadinya ISPA pada anak balita yang menempati rumah dengan ventilasi yang
tidak memenuhi syarat sebesar 2,789 kali lebih besar dari pada anak balita yang
menempati rumah dengan ventilasi yang memenuhi syarat.
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah
menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti
keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga.
Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 di dalam rumah yang
berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat.
Sirkulasi udara dalam rumah akan baik dan mendapatkan suhu yang optimum
harus mempunyai ventilasi minimal 10% dari luas lantai.
2. Kepadatan Hunian
Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di
dalamnya. Artinya, luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan
dengan jumlah penghuninya agar tidak menyebabkan overload . Hal ini tidak
sehat karena disamping menyebabkan kurangnya oksigen juga bila salah satu
anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan mudah menular kepada
anggota keluarga yang lain. Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah
biasanya dinyatakan dalam m2/orang. Luas minimum per orang sangat relatif
bergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk rumah
sederhana luasnya minimum 10 m2/orang. Untuk kamar tidur diperlukan luas
lantai minimum 3 m2/orang. Untuk mencegah penularan penyakit pernapasan
jarak antara tepi tempat tidur yang satu dengan yang lainnya minimum 90 cm.
Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni lebih dari dua orang, kecuali untuk suami
istri dan anak di bawah 2 tahun.
3. Pencahayaan
Untuk memperoleh cahaya yang cukup pada siang hari, diperlukan luas
jendela minimum 20% luas lantai. Cahaya ini sangat penting karena dapat
membunuh bakteri patogen di dalam rumah misanya, basil TB. Oleh karena itu,
rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Intensitas

10
pencahayaan minimum yang diperlukan 10 kali lilin atau kurang lebih 60 lux.
Semua jenis cahaya dapat mematikan kuman hanya berbeda dari segi lamanya
proses mematikan kuman untuk setiap jenisnya. Cahaya yang sama apabila
dipancarkan melalui kaca tidak berwarna dapat membunuh kuman dalam
waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan kaca berwarna .
4. Kebiasaan merokok
Merokok diketahui mempunyai hubungan dalam meningkatkan resiko
untuk terkena penyakit kanker paru-paru, jantung koroner dan bronkitis kronis.
Dalam satu batang rokok yang dihisap akan dikeluarkan sekitar 4.000 bahan
kimia berbahaya, di antaranya yang paling berbahaya adalah Nikotin, Tar, dan
Carbon Monoksida (CO). Asap rokok merupakan zat iritan yang dapat
menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan. Asap rokok mengandung ribuan
bahan kimia beracun dan bahan-bahan yang dapat menimbulkan kanker
(karsinogen). Bahkan bahan berbahaya dan racun dalam rokok tidak hanya
mengakibatkan gangguan kesehatan pada orang yang merokok, namun juga
kepada orang-orang di sekitarnya yang tidak merokok yang sebagian besar
adalah bayi, anak-anak dan ibu-ibu yang terpaksa menjadi perokok pasif oleh
karena ayah atau suami mereka merokok di rumah. Kebiasaan merokok di
dalam rumah dapat meningkatkan resiko terjadinya ISPA sebanyak 2,2 kali.
5. Berat badan lahir rendah (BBLR)
Berat badan lahir memiliki peran penting terhadap kematian akibat
ISPA. Di negara berkembang, kematian akibat pneumonia berhubungan dengan
BBLR. Sebanyak 22% kematian pada pneumonia di perkirakan terjadi pada
BBLR. Meta-analisis menunjukkan bahwa BBLR mempunyai RR kematian 6,4
pada bayi yang berusia di bawah 6 bulan, dan 2,9 pada bayi berusia 6-11 bulan.
6. Imunisasi
Campak, pertusis dan beberapa penyakit lain dapat meningkatkan
resiko terkena ISPA dan memperberat ISPA itu sendiri, tetapi sebetulnya hal
ini dapat di cegah. Di india, anak yang baru sembuh dari campak, selama 6
bulan berikutnya dapat mengalami ISPA enam kali lebih sering dari pada anak
yang tidak terkena campak. Campak, pertusis, dan difteri bersama-sama dapat

11
menyebabkan 15-25% dari seluruh kematian yang berkaitan dengan ISPA.
Vaksin campak cukup efektif dan dapat mencegah kematian hingga 25%
usaha global dalam meningkatkan cakupan imunisasi campak dan pertusis
telah mengurangi angka kematian ISPA akibat kedua penyakit ini. Vaksin
pneomokokus dan H. Influenzae type B saat ini sudah di berikan pada anak
anak dengan efektivitas yang cukup baik.
7. Status gizi
Status gizi anak merupakan faktor resiko penting timbulnya
pneumonia. Gizi buruk merupakan faktor predisposisi terjadinya ISPA pada
anak. Hal ini di karenakan adanya gangguan respon imun. Vitamin A sangat
berhubungan dengan beratnya infeksi. Grant melaporkan bahwa anak dengan
defisiensi vitamin A yang ringan mengalami ISPA dua kali lebih banyak
daripada anak yang tidak mengalami defisiensi vitamin A. Oleh karena itu,
selain perbaikan gizi dan perbaikan ASI, harus di lakukan pula perbaikan
terhadap defisiensi vitamin A untuk mencegah ISPA
8. Penggunaan Anti Nyamuk
Penggunaan Anti nyamuk sebagai alat untuk menghindari gigitan
nyamuk dapat menyebabkan gangguan saluran pernafasan karena
menghasilkan asap dan bau tidak sedap. Adanya pencemaran udara di
lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan paru-paru sehingga
mempermudah timbulnya gangguan pernafasan.
9. Bahan Bakar Untuk Memasak
Bahan bakar yang digunakan untuk memasak sehari-hari dapat
menyebabkan kualitas udara menjadi rusak. Kualitas udara di 74% wilayah
pedesaan di China tidak memenuhi standar nasional pada tahun 2002, hal ini
menimbulkan terjadinya peningkatan penyakit paru dan penyakit paru ini telah
menyebabkan 1,3 juta kematian.
10. Status Ekonomi dan Pendidikan
Persepsi masyarakat mengenai keadaan sehat dan sakit berbeda dari
satu individu dengan individu lainnya. Bagi seseorang yang sakit, persepsi
terhadap penyakitnya merupakan hal yang penting dalam menangani penyakit

12
tersebut. Untuk bayi dan anak balita persepsi ibu sangat menentukan tindakan
pengobatan yang akan diterima oleh anaknya. Berdasarkan hasil penelitian
Djaja, dkk (2001), didapatkan bahwa bila rasio pengeluaran makanan dibagi
pengeluaran total perbulan bertambah besar, maka jumlah ibu yang membawa
anaknya berobat ke dukun ketika sakit lebih banyak. Bedasarkan hasil uji
statistik didapatkan bahwa ibu dengan status ekonomi tinggi 1,8 kali lebih
banyak pergi berobat ke pelayanan kesehatan dibandingkan dengan ibu yang
status ekonominya rendah.Ibu dengan pendidikan lebih tinggi, akan lebih
banyak membawa anak berobat ke fasilitas kesehatan, sedangkan ibu dengan
pendidikan rendah lebih banyak mengobati sendiri ketika anak sakit ataupun
berobat ke dukun. Ibu yang berpendidikan minimal tamat SLTP 2,2 kali lebih
banyak membawa anaknya ke pelayanan kesehatan ketika sakit dibandingkan
dengan ibu yang tidak bersekolah, hal ini disebabkan karena ibu yang tamat
SLTP ke atas lebih mengenal gejala penyakit yang diderita oleh balitanya.

G. Penatalaksanaan
Hampir seluruh kematian karena ISPA pada anak kecil disebabkan oleh
ISPA, paling sering adalah pneumonia. Bayi baru lahir dan bayi berusia satu
bulan atau disebut ’bayi muda’ yang menderita pneumonia dapat tidak
mengalami batuk dan frekuensi pernfasannya secara normal sering melebihi
50 kali permenit. Infeksi bakteri pada kelompok usia ini dapat hanya
menampakkan tanda klinis yang spesifik, sehingga sulit untuk membedakan
pneumonia dari sepsis dan meningitis. Infeksi ini dapat cepat fatal pada bayi
muda yang telah diobati dengan sebaik-baiknya di rumah sakit dengan
antibiotik parenteral. Cara yang paling efektif untuk mengurangi angka
kematian karena pneumonia adalah dengan memperbaiki manajemen kasus
dan memastikan adanya penyediaan antibiotik yang tepat secara teratur
melalui fasilitas perawatan tingkat pertama dokter praktik umum. Langkah
selanjutnya untuk mengurangi angka kematian karena pneumonia dapat
dicapai dengan menyediakan perawatan rujukan untuk anak yang mengalami

13
ISPA berat memerlukan oksigen, antibiotik lini II, serta keahlian klinis yang
lebih hebat.

H. Penggunaan Antibiotik Pada Infeksi Saluran Pernapasan


Tabel 1. Antibiotik pada terapi pokok otitis media
Antibiotik Dosis Keterangan
Lini Pertama
Amoksisilin Anak : 20-40 mg/kg/hari Untuk pasien risiko
terbagi dalam 3 dosis rendah yaitu : Usia > 2
Dewasa : 40 mg/kg/hari tahun, tidak mendapat
terbagi dalam 3 dosis antibiotik selama 3 bulan
terakhir
Anak 60 mg/kg/hari Untuk pasien risiko tinggi
terbagi dalam 2 dosis
Dewasa : 80 mg.kg/hari
terbagi dalam 2 dosis
Lini Kedua
Amoksisilin-Klavulanat Anak : 25-45 mg/kg/hari
terbagi dalam 2 dosis
Dewasa : 2 x 875 mg
Kotrimoksazol Anak : 6-12 mgTMP/30-
60 SMX/kg/hari terbagi
dalam 2 dosis
Dewasa : 2 x 1-2 tab
Cefuroksim Anak : 40 mg/kg/hari
terbagi dalam 2 dosis
Dewasa : 2 x 250-500 mg
Ceftriaxone Anak : 50 mg/kg, max 1 1 dosis untuk otitis media
g. i.m yang baru
3 hari terapi untuk otitis

14
yang resisten
Cefprozil Anak : 30/mg/kg/hari
terbagi dalam 2 dosis
Cefixime Anak : 8 mg/kg/hari
terbagi dalam 1-2 dosis
Dewasa : 2 x 200 mg

Tabel 2. Antibiotik yang dapat dipilih pada terapi sinusitis


Agen Antibiotika Dosis
SINUSITIS AKUT
Lini Pertama
Amoksisilin/amoksisilin-clav Anak : 20-40 mg/kg/hari terbagi dalam
3 dosis /25-45 mg/kg/hari terbagi dalam
2 dosis
Dewasa : 3 x 500 mg/ 2 x 875 mg
Kotrimoxazol Anak : 0-12 mg TMP/30-60 mg
SMX/kg/hari terbagi dalam 2 dosis
Dewasa : 4 x 250-500 mg
Doksisiklin Dewasa : 2 x 100 mg
Lini Kedua
Amoksi-clavulanat Anak : 25-45 mg/kg/hari terbagi dalam
2 dosis
Dewasa : 2 x 875 mg
Cefuroksim 2 x 500 mg
Klaritromisin Anak : 25-45 mg/hari terbagi dalam 2
dosis
Dewasa : 2 x 250 mg
Azitromisin 1 x 500 mg, kemudian 1 x 250 selama 4
hari berikutnya
Dewasa : 1 x 250-500 mg

15
SINUSITIS KRONIK
Amoksi-clavulanat Anak : 25-45 mg/kg/hari terbagi dalam
2 dosis
Levofloxacin Dewasa : 2 x 875 mg
Azitromisin Anak : 10 mg/kg/hari pada hari 1
diikuti 5 mg/kg selama 4 hari
berikutnya
Dewasa : 1 x 500 mg, kemudian 1 x
250 mg selama 4 hari
levofloxacin Dewasa : 1 x 250-500 mg

Tabel 3. Antibiotik pada terapi Faringitis oleh karena streptococcus Grup A


Lini Pertama Penisilin G untuk 1 x 1,2 juta U i.m 1 dosis
pasien yang tidak dapat
menyelesaikan terapi
oral selama 10 hari
Penisilin VK Anak : 2-3 x 250 mg 10 hari
Dewasa : 2-3 x 500 mg
Amoksisilin Anak : 3 x 250 mg 10 hari
(klavulanat) 3 x 500 mg Dewasa : 3 x 500 mg
selama 10 hari
Lini Kedua Eritromisin (untuk Anak : 4 x 250 mg 10 hari
pasien alergi Penicilin) Dewasa : 4 x 500 mg
Azitromisin atau 5 hari
Klaritromisin (lihat
dosis pada Sinusitis)
Cefalosporin generasi Bervariasi sesuai agen 10 hari
satu atau dua
Levofloksasin (hindari
untuk anak maupun

16
wanita hamil)

Tabel 4. Pilihan antibiotik pada faringitis yang gagal


Rute Pemberian Antibiotik Dosis Lama terapi
Oral Klindamisin Anak : 20-30 mg/kg/hari 10 hari
terbagi dalam 3 dosis
Dewasa : 600 mg/hari 10 hari
terbagi dalam 2-4 dosis
Amoksisilin-cluvalanat Anak : 40 mg/kg/hari 10 hari
acid terbagi dalam 3 hari
Dewasa : 3 x 500 mg/2 10 hari
kali sehari
Parenteral dengan atau 1 x 1,2 juta U i.m 1 dosis
tanpa oral
Benzathine penicillin G Rifampicin : 20 4 hari
mg/kg/hari terbagi dalam
2 dosis
Benzathine penicillin G
with rifampin

Tabel 5. Terapi awal bronkhitis


Kondisi Klinik Patogen Terapi Awal
Bronkhitis akut Biasanya virus Lini I : tanpa antibiotic
Lini II : Amoksisilin, amoksi-klav,
makrolida
Bronkhitis H. Influenza Lini I : Amoksisilin, Quinolon
kronik Moraxella cafarrhalis Lini II : Quinolon, amoksi-klav,
S. Pneumoniae azitromisin, kotrimoksazol
Bronkhitis s.d.am M. Pneumoniae, P. Lini I : Quinolon
kronik dengan aeruginosa, Gram (-) Lini II : Ceftazidime, Cefepime

17
komplikasi batang lain
Bronkhitis s.d.a Lini I : Quinolon oral atau parenteral,
kronik dengan Meropenem atau
infeksi bakteri Ceftazidime/Cefepime+Ciprofloksasin
oral

 Pencegahan

Penyelenggaraan Program P2M ISPA dititik beratkan pada penemuan


dan pengobatan penderita sedini mungkin dengan melibatkan peran serta aktif
masyarakat terutama kader, dengan dukungan pelayanan kesehatan dan rujukan
secara terpadu di sarana kesehatan yang terkait.

1. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)


Intervensi yang ditujukan bagi pencegahan faktor risiko dapat dianggap
sebagai strategi untuk mengurangi kesakitan (insiden) pneumonia. Termasuk
disini ialah :
a. Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini
diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-
hal yang dapat meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA. Kegiatan
penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISPA, penyuluhan ASI
Eksklusif, penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi seimbang pada ibu dan
sanak, penyuluhan kesehatan lingkungan rumah, penyuluhan bahaya
rokok.
b. Imunisasi, yang merupakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi
angka kesakitan (insiden) pneumonia.
c. Usaha di bidang gizi yaitu untuk mengurangi malnutrisi, defisiensi
vitaminA.
d. Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir
rendah.
e. Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang menangani
masalah polusi di dalam maupun di luar rumah.

18
2. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Upaya penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan sedini
mungkin. Upaya pengobatan yang dilakukan dibedakan atas klasifikasi ISPA
yaitu :
a. Untuk kelompok umur < 2 bulan, pengobatannya meliputi :
- Pneumonia Berat: rawat dirumah sakit, beri oksigen (jika anak
mengalami sianosis sentral, tidak dapat minum, terdapat penarikan
dinding dada yang hebat), terapi antibiotik dengan memberikan
benzilpenisilin dan gentamisin atau kanamisin.
- Bukan Pneumonia: terapi antibiotik sebaiknya tidak diberikan,
nasihati ibu untuk menjaga agar bayi tetap hangat, memberi ASI
secara sering, dan bersihkan sumbatan pada hidung jika sumbatan itu
menggangu saat memberi makan.
b. Untuk kelompok umur 2 bulan - <5 tahun, pengobatannya meliputi :
- Pneumonia Sangat Berat: rawat di rumah sakit, berikan oksigen, terapi
antibiotik dengan memberikan kloramfenikol secara intramuskular
setiap 6 jam. Apabila pada anak terjadi perbaikan (biasanya setelah 3-
5 hari), pemberiannya diubah menjadi kloramfenikol oral, obati
demam, obati mengi, perawatan suportif, hati-hati dengan pemberian
terapi cairan, nilai ulang dua kali sehari.
- Pneumonia Berat: rawat di rumah sakit, berikan oksigen, terapi
antibiotik dengan memberikan benzilpenesilin secara intramuskular
setiap 6 jam paling sedikit selama 3 hari, obati demam, obati mengi,
perawatan suportif, hati-hati pada pemberian terapi cairan, nilai ulang
setiap hari.
- Pneumonia: obati di rumah, terapi antibiotik dengan memberikan
kotrimoksasol, ampisilin, amoksilin oral, atau suntikan penisilin
prokain intramuskular per hari, nasihati ibu untuk memberikan
perawatan di rumah, obati demam, obati mengi, nilai ulang setelah 2
hari.

19
- Bukan Pneumonia (batuk atau pilek): obati di rumah, terapi antibiotik
sebaiknya tidak diberikan, terapi spesifik lain (untuk batuk dan pilek),
obati demam, nasihati ibu untuk memberikan perawatan di rumah.
- Pneumonia Persisten: rawat (tetap opname), terapi antibiotik dengan
memberikan kotrimoksasol dosis tinggi untuk mengobati
kemungkinan adanya infeksi pneumokistik, perawatan suportif,
penilaian ulang.
3. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita penderita ISPA agar
tidak bertambah parah dan mengakibatkan kematian.
- Pneumonia Sangat Berat: jika anak semakin memburuk setelah pemberian
kloramfenikol selama 48 jam, periksa adanya komplikasi dan ganti dengan
kloksasilin ditambah gentamisin jika diduga suatu pneumonia
stafilokokus.
- Pneumonia Berat: jika anak tidak membaik setelah pemberian
benzilpenisilin dalam 48 jam atau kondisinya memburuk setelah
pemberian benzipenisilin kemudian periksa adanya komplikasi dan ganti
dengan kloramfenikol. Jika anak masih menunjukkan tanda pneumonia
setelah 10 hari pengobatan antibiotik maka cari penyebab pneumonia
persistensi. Pneumonia: Coba untuk melihat kembali anak setelah 2 hari
dan periksa adanya tanda-tanda perbaikan (pernafasan lebih lambat,
demam berkurang, nafsu makan membaik. Nilai kembali dan kemudian
putuskan jika anak dapat minum, terdapat penarikan dinding dada atau
tanda penyakit sangat berat maka lakukan kegiatan ini yaitu rawat, obati
sebagai pneumonia berat atau pneumonia sangat berat. Jika anak tidak
membaik sama sekali tetapi tidak terdapat tanda pneumonia berat atau
tanda lain penyakit sangat berat, maka ganti antibiotik dan pantau secara
ketat.

20
BAB III

HASIL KUNJUNGAN RUMAH

A. Tinjauan Kasus
Tanggal kunjungan : 25 Januari 2016 di kelurahan Tobimeita,
Kecamatan Abeli
B. Identitas Pasien
Nama : An. Ld. Safar
Umur : 9 bulan
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat : kelurahan Tobimeita, Kecamatan Abeli
Pekerjaan :-
Suku : Muna
Agama : Islam

Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal Serumah


Hub. Pendidikan
No Nama Umur/JK Pekerjaan Ket.
Keluarga Terakhir
1 Tn. Gunawan Ayah 28 th/ L Wiraswasta SMA sehat
2 Ny. Hardiana Ibu 35 th / P IRT SMP sehat
3 An. Ld. Safar Anak 9 bln/ L - - sakit
Sumber : data primer, 2016

C. Genogram Keluarga

Keterangan :
Laki-Laki : Perempuan : Penderita :

21
D. Anamnesis

Dilakukan anamnesis dengan penderita pada pukul 10.30 WITA di Rumah Pasien
 Keluhan utama : Batuk
 Anamnesis Terpimpin : Seorang anak laki-laki usia 9 bulan datang ke
Puskesmas diantar Ibunya dengan keluhan batuk berlendir yang dialami
sejak ± 2 hari yang lalu. Orang tua pasien juga mengeluh anaknya pilek
dan hidung tersumbat sehingga susah untuk tidur di malam hari. Keluhan
lain nyeri kepala (-), sakit tenggorokkan (-), demam (+) sesak napas (-),
mual (-), muntah (-) BAB dan BAK kesan normal.

Keluhan baru pertama kali dirasakan, dan belum diberikan obat sebelumnya.
Riwayat kontak dengan orang yang bergejala sama (-). Riwayat keluhan yang
sama dalam keluarga (-). Riwayat ayah merokok di dalam rumah (+).

E. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : sakit ringan


Tanda Vital
Tekanan darah : - mmHg
Frekwensi nadi : 112 x/mnt
Frekwensi nafas : 24 x/mnt
Suhu : 37,8 oC
Kepala : Normosefal,
Kulit : Tidak ada kelainan
Mata : konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-)
Telinga : serumen (-)
Hidung : sekret (-)
Tenggorok : T1T1 , hiperemis (-)
Leher : pembesara KGB (-)
Thorax :

22
Pulmo :
Inspeksi : simetris ki = ka
Palpasi : vokal fremitus ki = ka
Perkusi : sonor (+)
Auskultasi : vesikuler (+/+) , BT : (-/-), Rh (-/-), Whe (-/-)
Cor
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba
Perkusi : pekak (+)
Auskultasi : BJ I/II reguler, bising (-)
Abdomen :
Inspeksi : datar, ikut gerak napas (-)
Palpasi : massa tumor (-), pembesaran hepar dan lien (-),
Perkusi : timpani (+)
Auskultasi : bising usus (+), 6 x/ menit
Genito Urinaria : tidak diperiksa
Ekstremitas :
Edema : (-)
Akral dingin : (-)
Cap refill : 2 detik

1 Pemeriksaan penunjang yang diperlukan, ditulis dengan lengkap


- Darah rutin
- Pemeriksaan biakan kuman (swab)
2 Alasan mengapa diperlukan pemeriksaan penunjang tersebut, ditulis
dengan lengkap
- Pemeriksaan darah rutin (Hb, Leukosit, dan LED) untuk memastikan
terjadinya infeksi
- Pemeriksaan biakan dilakukan untuk mengetahui kuman penyebab
dari ISPA
3 Hasil laboratorium, atau prakiraan hasil laboratorium, ditulis dengan

23
lengkap
4 Diagnosis kerja (cantumkan kode penyakit menurut ICPC 2)
ISPA
Diagnosis Banding (cantumkan kode penyakit menurut ICPC 2)
5 - Difteri
- Mononukleosis infeksiosa
- Agranulositosis
6 Penyelesaian masalah yang dihadapi pasien, ditulis dengan lengkap
- Penyelesaian masalah pasien ini adalah dengan meminum obat yang
didapat dari Puskesmas
- Tidak mengkonsumsi makanan ringan / snack
- Membiasakan cuci tangan sebelum dan setelah beraktivitas
- Menggunakan masker
- Kurangi kontak dengan bapak pasien ketika sedang merokok
7 Kapan menurut anda pasien ini perlu dirujuk, ditulis dengan lengkap
Pasien ini dirujuk apabila penyebab ISPA adalah pneumonia.
8 Penjelasan yang anda sampaikan pada pasien dan keluarganya tentang
penyakit yang di derita. Ditulis dengan lengkap.
- Penjelasan bahwa ISPA merupakan penyakit infeksi akut pada saluran
napas, mulai dari hidung sampai alveoli paru - paru.
- ISPA merupakan masalah kesehatan yang masih banyak ditemukan,
dan merupakan penyakit menular melalui droplet atau percikan dahak,
sehingga perlu keaktifan dari keluarga untuk mencegah terjadinya
ISPA
- Pencegahan ISPA dapat dilakukan dengan membiasakan diri hidup
sehat seperti mencuci tangan sebelum dan setelah beraktivitas, mandi
2 kali sehari, mengkonsumsi makanan yang sehat dan bersih, dan
menggunakan masker bila ada orang yang batuk.
9 Penjelasan yang anda sampaikan tentang peranan pasien dan keluarganya
dalam proses penyembuhan penyakit yang diderita, ditulis dengan

24
lengkap.
Kesembuhan pasien sangat bergantung dari peranan keluarga dalam
memotivasi dan memberikan semangat serta mengingatkan pasien untuk
menjalani pola hidup sehat.
10 Penyuluhan yang anda lakukan pada pasien dan keluarganya.
- Edukasi Ibu dan Ayah pasien tentang ISPA
- Memberikan ASI Esklusif
- Menghindari asap rokok
- Istirahat yang cukup
- Mengurangi aktivitas di luar rumah
- Menggunakan masker
11 Upaya pencegahan yang anda sampaikan pada keluarganya (pencegahan
primer, pencegahan sekunder dan pencegahan tertier)
Primordial prevention
- Pendidikan kesehatan, penyuluhan
- Gizi yang cukup sesuai dengan perkembangan
- Penyedian rumah yang sehat
- Pemeriksaan kesehatan berkala
- Imunisasi
- Kerbersihan perorangan
- Sanitasi lingkungan
Primer:
- Edukasi kepada keluarga bahwa mencegah terjadinya penyakit
lebih baik daripada mengobati.
- Edukasi kepada keluarga pasien pentingnya mencuci tangan
sebelum dan setelah beraktivitas
- Edukasi ASI Esklusif
- Edukasi kepada pasien dan keluarga agar rajin mengkonsumsi
makanan yang mengandung gizi seimbang dan menghindari
makanan yang berpengawet
Sekunder:

25
- Mencegah timbulnya komplikasi dengan memotivasi pasien untuk
rajin berobat dan kontrol ke pelayanan kesehatan
- Penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang gejala,
penatalaksanaan dan pencegahan komplikasi.
Tersier:
- Jika ada keluhan segera melakukan konstultasi ke pelayanan
kesehatan

A. Kegiatan yang dilakukan saat kunjungan rumah

Melakukan kunjungan rumah, memantau kondisi pasien, melakukan


diagnosis holistik, melakukan pengobatan dan tindakan holistik :

Perjalanan penyakit saat ini :


1
(Uraikan perjalanan penyakit sejak gejala mulai dirasakan, obat-obatan yang
telah diminum, kondisi yang dirasakan saat ini setelah berobat diklinik, sikap
dan perilaku pasien dan keluarganya terhadap masalah kesehatan yang
dialami)
Seorang anak laki-laki usia 9 bulan datang ke Puskesmas diantar Ibunya
dengn keluhan batuk berlendir yang dialami sejak ± 2 hari yang lalu.
Orang tua pasien juga mengeluh anknya pilek dan hidung tersumbat
sehingga susah untuk tidur di malam hari. Keluhan lain nyeri kepala (-),
sakit tenggorokkan (-), demam (+) sesak napas (-), mual (-), muntah (-)
BAB dan BAK kesan normal.
Keluhan baru pertama kali dirasakan (+), riwayat kontak dengan orang yg
bergejala sama (-). Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga (-).
2 Riwayat penyakit keluarga :

Dalam keluarga yang menderita keluhan yang sama (-), riwayat penyakit
asma (-)

26
B. Diagnosis holistik

1 Aspek personal
Pasien datang berobat dengan harapan rasa sakit yang dirasakan dapat
berkurang dengan bantuan dokter di puskesmas.

2 Aspek risiko internal


Faktor internal yang mempengaruhi masalah kesehatan pasien yaitu:
terpapar dengan asap rokok, tidak menjaga kebersihan dan kesehatan
lingkungan rumah.

3 Aspek psikososial keluarga


- Hubungan antar anggota keluarga baik, terutama ibu pasien yang sangat
peduli untuk kesembuhan pasien. Semua masalah yang ada selalu
dibicarakan dengan baik-baik dan keputusan diambil berdasarkan hasil
musyawarah atau kesepakatan bersama
- Faktor eksternal yang mempengaruhi masalah kesehatan pasien yaitu
faktor lingkungan
C. Diagnosis sosial, ekonomi, pencarian pelayanan kesehatan dan perilaku

1 Sosial Hubungan dengan keluarga dan


Adalah sikap dan perilaku keluarga masyarakat sekitar sangat baik.
selama ini dalam mempersiapkan
anggota keluarga untuk terjun ke
tengah masyarakat termasuk di
dalamnya pendidikan formal dan
informal untuk dapat mandiri.
2 Ekonomi Ayah : sebagai nelayan namun
Adalah sikap dan perilaku keluarga pendapatan nya tidak menentu
selama ini dalam usaha pemenuhan Ibu : IRT
kebutuhan primer, sekunder dan
tertier.
3 Penggunaan pelayanan kesehatan Pasien apabila sakit maka akan

27
Perilaku keluarga apakah datang ke datang ke puskesmas untuk
posyandu, puskesmas dsb untuk mendapatkan pengobatan
preventif atau hanya kuratif, atau
kuratif ke pengobatan komplementer
dan alternatif, sebutkan jenisnya dan
keseringannya.
4 Perilaku yang tidak menunjang Perilaku yang tidak menunjang
kesehatan. kesehatan pada keluarga ini
Merokok, alkohol, begadang, narkoba, adalah asap rokok
dll

D. Data sarana pelayanan kesehatan dan lingkungan kehidupan keluarga

Kesimpulan tentang
Faktor Keterangan faktor pelayanan
kesehatan
Sarana pelayanan Puskesmas Memuaskan
kesehatan yang
digunakan oleh keluarga
Cara mencapai sarana Menggunakan motor Memuaskan
pelayanan kesehatan tsb
Tarif pelayanan (sangat mahal,mahal, Terjangkau
kesehatan yang dirasakan terjangkau, murah, gratis)
Kualitas pelayanan (sangat baik, baik, biasa, Baik
kesehatan yang dirasakan kurang baik, buruk)

E. Lingkungan tempat tinggal.

Karakteristik rumah dan lingkungan Kesimpulan tentang


faktor lingkungan tempat
tinggal

28
Luas rumah : 5x4 m2

Bertingkat / tidak Tidak bertingkat


Jumlah penghuni rumah : 3 orang
Kondisi halaman : Kotor(Got tergenang
sampah)
Lantai rumah dari : Lantai semen
Dinding rumah dari : Papan
Kondisi dalam rumah : Tidak rapi
Kepemilikan rumah : Milik sendiri
(milik sendiri, kontrak, menumpang.)
Daerah perumahan : Padat
(kumuh, padat, berjauhan, bersih, mewah,)

F. Intervensi pada keluarga

Hari / tanggal Intervensi yang dilakukan dan rencana tindak lanjut


Kunjungan Edukasi ke pasien tentang ISPA mulai dari penyebab, gejala
pertama, Senin / klinis, dan manajemen penatalaksanaan dan pencegahan.
25 Januari 2016 Metode edukasi yang diberikan berupa penyuluhan dan diskusi
dengan pasien
Tindak lanjut, Menyarankan kepada pasien untuk kembali memeriksakan diri
Selasa / 26 ke pelayanan kesehatan jika penyakitnya bertambah buruk atau
Januari 2016 tidak sembuh.
Hindari faktor pencetus

G. Upaya program 6 kesehatan dasar pada keluarga


1. Upaya promosi kesehatan dalam keluarga
Upaya promosi kesehatan yang diberikan pada keluarga tersebut yaitu:

29
Memberi penyuluhan tentang ISPA mulai dari pengertian, penyebab
dan faktor risiko, gejala-gejala, komplikasi, dan pencegahan dari
rhinitis alergi.
2. Upaya kesehatan lingkungan keluarga
Dalam meningkatkan kesehatan lingkungan pada keluarga tersebut
maka disarankan untuk selalu menghindari paparan asap rokok dan
menjaga agar lantai rumah tetap bersih serta membersihkan perabot
agar bersih dari debu.
3. Upaya P2M dalam keluarga
-Persalinan yang ditolong oleh petugas kesehatan/Bidan
4. Upaya perbaikan gizi dalam keluarga
Status gizi penderita ini masih dalam batas normal maka disarankan
kepada pasien agar selalu memilih makanan yang sehat untuk
dikonsumsi keluarga
5. Upaya KIA dan KB dalam keluarga
-Ibu pasien mengkonsumsi Pil KB
6. Upaya pengobatan dasar dalam keluarga
Dalam upaya pengobatan dasar maka pasien dianjurkan segera ke
puskesmas jika timbul keluhan atau selalu menjaga daya tahan tubuh
dengan mengkonsumsi multivitamin.

H. Data Pola Hidup Keluarga


1. Pola kesehatan
a) Bila anggota keluarga sakit berobat ke puskesmas
b) Persalinan ditolong oleh bidan di puskesmas
c) Olah raga 2-3 kali seminggu
2. Pola kebiasaan sehari-hari
a) Pola makan dan makanan
1. Semua anggota keluarga makan 3x sehari
- Sarapan: bubur, kue, roti,
- Makan siang: nasi putih, ikan, sayur, tempe, tahu

30
- Makan malam: ikan, nasi putih dan sayur
2. Penyediaan makanan : Goreng dan rebus (lebih sering merebus)
3. Air minum (air galon dan dimasak)
b) Pola kebersihan
1. Mandi 1-2x/ hari. Ganti baju dan pakaian dalam 1-2x/ hari.
2. Keluarga sering cuci tangan dengan sabun saat mau makan
3. Sering mencuci pakaian satu kali seminggu
4. Sumber air untuk mencuci dan mandi yaitu sumur bor
I. Identifikasi fungsi-fungsi keluarga
1. Fungsi biologis dan reproduksi
Dari hasil wawancara didapatkan informasi bahwa saat ini semua
anggota keluarga dalam keadaan sehat kecuali pasien.
2. Fungsi psikologis
Hubungan dengan keluarga baik. Waktu luang digunakan untuk
menonton tv, acara kumpul keluarga.
3. Fungsi pendidikan
Pasien saat ini belum bersekolah. Pendidikan terakhir Ayah SMA,
pendikakan terakhir Ibu SMA.
4. Fungsi sosial
Penderita tinggal di kawasan pemukiman yang padat penduduk.
Hubungan dengan lingkungan sekitar pasien baik. Menurut Ibunya,
pasien sering berinteraksi dengan lingkungan rumah mereka.
5. Fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan
Ayah: Bekerja sebagai wiraswasta yaitu nelayan, namun
pendapatannya tidak menentu
Ibu: Kegiatan sehari-hari sebagai ibu rumah tangga.

31
BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
1. Masalah kesehatan yang dialami keluarga disebabkan karena kurangnya
pengetahuan orang tua mengenai penyakit ISPA sehingga orang tua lalai
dalam menjaga kesehatan keluarga.
2. Kurangnya pemahaman ibu tentang sanitasi lingkungan yang bersih dan
sehat, merupakan faktor berpengaruh dalam terjadinya penyakit ISPA.
3. Kebiasaan merokok yang dimiliki ayah dapat berpengaruh terhadap
kesehatan keluarga misalnya pada anak yang menderita ISPA.
B. Saran
1. Petugas Kesehatan
- Meningkatkan peranan dokter Puskesmas dalam fungsinya sebagai dokter
keluarga untuk lebih meningkatkan pengetahuannya. Dokter Puskesmas
harus memberikan penjaringan, penyuluhan dan pengobatan terutama
berkaitan dengan penyakit yang terbanyak dilingkungan puskesmas tersebut.
2. Kader Kesehatan
- Lebih meningkatkan wawasan dan kerjasama yang baik dengan
masyarakat dan petugas kesehatan sehingga mampu memberikan
pelayanan yang baik bagi masyarakat dan mampu memotifasi masyarkat
untuk menuju kearah yang lebih baik.
3. Keluarga
 Agar keluarga lebih peduli terhadap kesehatan lingkungan baik di dalam
maupun di luar rumah dan lebih meningkatkan pengawasan terhadap
aktivitas, kebersihan, serta lingkungan bermain pada anak.
 Keluarga dapat menghindari factor-faktor yang dapat menyebabkan
gangguan kesehatan. Misalnya : menghindari kebiasaan merokok serta
menghidari kontak langsung asap rokok dengan anggota keluarga lain nya.
 Melakukan konsultasi dengan kader dan petugas kesehatan jika ada
masalah yang berhubungan dengan kesehatan keluarga.

32
LAMPIRAN DOKUMENTASI KUNJUNGAN

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Kemenkes RI. Pneumonia balita. [Serial online] 2010. [cited 2016 Januari 24].
Available from: http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/buletin/
BULETIN%20PNEUMONIA.pdf.
2. Rahajoe Nastiti dkk. Respirologi anak. Jakarta: IDAI. 2010.
3. Depkes RI. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan.
Jakarta: Depkes RI. 2005.
4. SIBI. Surveilans ISPA berat di Indonesia. [Serial online] 2013. [cited 2016
Januari 24]. Available from:
http://mirror.warneter.net/unduh/SIBI%20Buletin_Oktober% 202013.pdf.
5. Depkes. Profil kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara. [Serial online] 2012.
[cited 2016 Januari 24]. Available from: http://www.depkes.go.id/downloads/
KUNKER %20BINWIL/27%20 Ringkasan%20 Eksekutif%20 Prov%20
Sulawesi%20 Tenggara.pdf.
6. Menkes RI. Pedoman pengendalian infeksi saluran pernafasan akut. [Serial
online] 2012. [cited 2016 Januari 24]. Available from:
http://ispa.pppl.depkes.go.id/ unduh/PEDOMAN% 20 PENGENDALIAN%20
ISPA.pdf.

34
LAMPIRAN

35