Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM

ANALISA BATUBARA

Disusun Oleh :
NAMA MAHASISWA :
1. AGUS IRAWAN SAPUTRA NPM. 061640411588
2. ANGGUN PRATIWI NPM. 061640411589
3. AYU DWI HARLIYANI NPM. 061664041590
4. BAIRUNI HIMANTANDRA NPM. 061640411591
5. ELBI ZALITA PRAMADANI NPM. 061640411593
6. FATHUL WAHAB NPM. 061640411594
7. FEBRY VERONICA NPM. 061640411595
8. HERI YANSYAH NPM. 061640411596
9. ICA MONIKA NPM. 061640411597
10. LEILA UTARINA NPM. 061640411599
11. MITHA PRATIWI NPM. 061640411600
12. MUHAMAD AZWAR NPM. 061640411601

KELAS/KELOMPOK : 3 EGB/ 1
JUDUL PRAKTIKUM : PENENTUAN TITIK LELEH ABU
BATUBARA (AFT)
TANGGAL PRAKTIKUM : 19 DESEMBER 2017
INSTRUKTUR :Ir. Hj. SUTINI PUJIASTUTI, M.T.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK ENERGI
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TAHUN AJARAN 2017/2018
PENENTUAN TITIK LELEH ABU BATUBARA
(ASH FUSION TEMPERATURE)

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mahasiswa dapat mengetahui titik leleh abu batubara.
2. Mahasiswa dapat mengoperasikan alat AP-4000 dengan baik.

II. ALAT DAN BAHAN


1. Alat yang digunakan
 AF-4000
 Carousel
 Penjepit
 Spatula
 Cetakan Piramid
 Gelas kimia
 Pipet tetes
2. Bahan yang digunakan
 Abu batubara
 Glukol
 Dextrin
 Air

III. DASAR TEORI


Ash Fusion Temperature (AFT) merupakan kondisi dimana ash batubara
meleleh pada temperature tertentu. Biasanya AFT batubara berkisar antara 1000-
1400 oC. Proses melelehnya ash ini tentunya menggangu proses operasi terhenti
untuk melakukan pembersihan di area tersebut. Pada suatu operasi dimana
temperature operasi melebihi nilai AFT batubara, ash akan meleleh, lalu
menumpuk dan mengeras. Bentuknya biasanya padat, porous, mengkilat karena
high silika dan bau sulfur khas untuk batubara kadar rendah. Biasanya kondisi ini
ditemukan di PLTU dibagian heat exchanger. Makanya boiler-boiler dilengakpi
dengan fasilitas sootblower untuk meniup ash yang menempel sehingga tidak
menumpuk.
Ash fusion temperature (AFT) adalah titik leleh abu batubara yang
dinyatakan dalam temperature dalam berbagai kondisi pelelehan yaitu: Deformasi,
Spherical, Hemispherical, dan flow. Berdasarkan kondisi atmosphere pada
pengujiannya yaitu reduksi dan oksidasi.
Sifat-Sifat Titik Leleh Abu Batubara

Ash fusion dalam batubara sangat bervariasi, ada yang homogen dalam
satu seam, ada juga yang sangat heterogen baik secara vertical maupun secara
lateral. Nilai AFT tergantung pada material matter yang dikandung oleh batubara.
Pada batubara produksi nilai AFT dapat dipengaruhi oleh dilusi atau material
yang terbawa pada saat penambangan.
Titik leleh abu batubara merupakan data yang sangat bergun untuk
mengevaluasi hal-hal yang berhubungan dengan slagging dan penumpkan abu.
Apabila temperature gas lebih tinggi dari ash softening maka akan terjadi
pembentukan kerak.
Untuk nilai AFT rendah tidak diinginkan didalam untirisasinya karena
dianggap dapat menyebabkan slagging atau fouling pada pipa-pipa boiler.

1. Slagging
Slagging merupakan fenomena menempelnya partikel abu batubara baik
yang berbentuk padat maupun leburan permukaan dinding penghantar
panas yang terletak dizona gas pembakaran suhu tinggi (High Temperature
Combustion Gas Zone), sebagai akibat dari proses pembakaran batubara.
Terkait hal ini, percobaan penting yang perlu mendapat perhatian terutama
dinding penghantar panas konveksi pada bagian outlet dari tungku
(Furnace) bila suhu gasnya melebihi temperature melunak abu (Ash
Softening Temperature).
2. Fouling
Fouling merupakan fenomena menempel pada menumpuknya abu pada
dinding penghantar panas (Super Heater maupun Re- Heater) yang
dipasang dilingkaran dimana suhu melunak abu (Ash Softening
Temperature).
Unsur yang paling berpengaruh pada penempelan abu ini material basa
terutama Na, yang dalam hal ini adalah kadar NO2O.
Bila kadar abu batubara banyak, kemudian unsur basa dalam abu juga
banyak, ditambah kadar NO2O yang tinggi maka foullingkan mudah
terjadi
IV. LANGKAH KERJA

1. Menyiapkan sampel abu batubara


2. Membuat larutan dekstrin dengan takaran 100 ml aquades dan 1 gram
dekstrin.
3. Menambahkan abu dengan larutan dekstrin setetes demi setetes. Usakan
jangan terlalu encer dan terlalu kering.
4. Memasukkan sampel yang telah bercampur dengan dekstrin kedalam
cetakan.
5. Memindahkan sampel yang telah dicetak keatas carousel.
6. Memilih metode gas pada layar monitor.
7. Memindahkan carousel yang telah terdapat sampel kedalam instrumen AF-
4000.
8. Mengklik start. Analisa akan berlangsung selama 4-5 jam.
VI. ANALISIS DATA

Pada praktikum kali inipercobaan yang dilakukan yaitu menentukan titik


leleh abu batubara atau ash fusion temperature. Ash fusion temperature
merupakan kondisi dimana ash batubara meleleh pada temperature tertentu.
Penentuan temperature titik leleh abu batubara ini guna memprediksi abu pada
temperature elevasi menggunakan ASTM standar D1857 “Publishing of Coal and
Coke Ash”. Proses melelehnya ash atau abu berdampak pada operasi yang
menyebabkan operasi terhenti untuk melakukan pembersihan diarea pelelehan abu
atau ash.
Dari percobaan yang dilakukan didapatkan hasil (DT) Deformation
Temperature yang merupakan temperature awal pembentukan dimana puncak dari
piramid mulai terbentuk atau menunjukkan tanda pembentukan yaitu pada suhu
1486 oC. Softening Temperature (ST) merupakan temperature dimana sampel
telah terbentuk melengkung. Titik ini merupakan suhu atau titik leleh dari abu
batubara tersebut adapun suhunya yaitu 1526 oC. Hemespherical Temperature
(HT) merupakan temperature dimana segitiga telah berbentuk menjadi gumpalan
hemespherical dan tingginya sama dengan setengah lebarnya. Pada sampel ini
hemespherical temperature terjadi pada suhu 1540 oC. Dan proses terakhir yaitu
fluid temperature. Fluid Temperature merupakan temperature dimana segitiga abu
atau ash telah mencair. Hal ini terjadi karena temperature operasi telah melebihi
nilai AFT batubara sehingga ash akan meleleh, lalu menumpuk dan mengeras.
Bentuknya yaitu padat, porous dan mengkilap yang dikarenakan high silika.
Pengamatan sifat pelelehan ini dilakukan pada suhu 900 oC- 1600 oC. Pengamatan
dicatat dan dilaporkan pada saat contoh abu/ash meleleh dan menjadi cair.
Batubara yang abunya memiliki AFT yang tinggi (Initial Deformation
Temperature 107 > 1350 oC), cocok dipergunakan pada operasi dengan sistem
penangana atau pembuangan abu berupa padatan kering sedangkan pada abu
batubara yang abunya memiliki AFT rendah < 1350 oC cocok dipergunakan pada
operasi dengan sistem penangan atau pembuangan abu berupa lelehan. Dari data
yang didapatkan sampel yang digunakan memilliki suhu deformasi >1350 oC
sehingga batubara ini cocok dipergunakan pada operasi sistem penanganan atau
pembuangan abu berupa padatan kering.
VII. KESIMPULAN

Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:


1. Ash fusion temperature merupakan kondisi dimana ash batubara meleleh
pada temperature tertentu.
2. Dari percobaan yang dilakukan didapatkan data:
 Deformation temperature (DT) : 1486 oC
 Softening temperature (ST) : 1526 oC
 Hemispherical temperature (HT) : 1540 oC
 Fluid temperatre (FT) : 1543 oC
3. Initial deformation temperature > 1350 oC, sehingga cocok digunakan
pada operasi dengan sistem penanganan atau pembuangan abu berupa
padatan kering.
DAFTAR PUSTAKA

Penuntun Praktikum Analisis Batubara. 2018. Penentuan Titik Leleh Abu


Batubara. Politeknik Negeri Sriwijaya: Palembang.
LAMPIRAN (GAMBAR ALAT)

AF- 4000 Corousel

Spatula Labu Ukur

Cetakan Piramid
Neraca Analitik Pipet Ukur

Kaca Arloji Gelas Kimia

Bola Karet