Anda di halaman 1dari 13

PEMERINTAH KABUPATEN TANGERANG

DINAS KESEHATAN

PUSKESMAS KUTABUMI
Jl. Canna Raya No. 1 Perum Pondok Indah Kel. Kutabumi Kec. Pasar Kemis
Telp. (021) 5928094 – email : puskesmas_kutabumi2014@yahoo.co.id

KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS KUTABUMI
Nomor: 029/SK/UKP/PKM.KTB/VII/2018

TENTANG
KEAMANAN PERALATAN YANG DIGUNAKAN TERMASUK TIDAK BOLEH
MENGGUNAKAN ULANG (REUSE) PERALATAN YANG DISPOSABLE

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,


KEPALA PUSKESMAS KUTABUMI,

Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan


Puskesmas , maka diperlukan penyelenggaraan pelayanan yang
bermutu tinggi;
b. bahwa penanganan terhadap peralatan yang digunakan yang
meliputi instrumen, linen dan sarung tangan di Puskesmas perlu
mendapat perhatian serius untuk menghindari timbulnya infeksi;
c. bahwa yang baik perlu dilakukan mulai dari proses transportasi,
cleaning dan dekontaminasi, pemeriksaan peralatan,pengemasan,
sterilisasi, penyimpanan hingga pendistribusian kembali;
d. bahwa pemilihan desinfektan yang efektif pada tiap jenis alat
kesehatan, pemilihan jenis metoda sterilisasi yang tepat akan
dapat menjamin produk yang dihasilkan memnuhi persyaratan
yang telah ditentukan;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a,b,c dan d perlu
menetapkan Keputusan Kepala Puskesma tentang Keamanan
Peralatan yang digunakan termasuk Tidak Boleh Menggunakan
Ulang (Reuse) Peralatan yang Disposable
Mengingat : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang
Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan (Lembaran
Negara Republik IndonesiaTahun 1998 Nomor 138, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3781);
2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 116, TambahanLembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4431);
3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009, tentang Kesehatan;
4. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor
153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5072);
5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5/Menkes/PER/2014
tentang Panduan Praktik Klinis Dokter di Fasyankes Primer;
6. Peraturan Menteri Kesehatan No 75 Tahun 2014 tentang
Puskesmas;
7. Peraturan Menteri Kesehatan No 46 tahun 2015 Tentang
Akreditasi Puskesmas, Klinik Pratama, Tempat praktek
Mandiri Dokter, dan Tempat Praktek Mandiri Dokter gigi;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS TENTANG KEAMANAN


PERALATAN YANG DIGUNAKAN TERMASUK TIDAK BOLEH
MENGGUNAKAN ULANG (REUSE) PERALATAN YANG
DISPOSABLE
Kesatu : Kebijakan keamanan peralatan yang digunakan termasuk tidak boleh
menggunakan ulang (reuse) peralatan yang disposable sebagaimana
tercantum dalam lampiran merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari surat keputusan ini.

Kedua : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.Dengan ketentuan


apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diadakan
perbaikan/perubahan sebagaimana mestinya

Ditetapkan di : KUTABUMI
Pada tanggal : 2018
KEPALA PUSKESMAS
KUTABUMI

Ch. Handar Mujati


LAMPIRAN : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS KUTABUMI
NOMOR : / /UKP/PKM-KTB/2018
TENTANG : KEAMANAN PERALATAN YANG DIGUNAKAN
TERMASUK TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN
ULANG (REUSE) PERALATAN YANG DISPOSABLE

KEAMANAN PERALATAN YANG DIGUNAKAN TERMASUK TIDAK BOLEH


MENGGUNAKAN ULANG (REUSE) PERALATAN YANG DISPOSABLE

BAB I
PENDAHULUAN

Puskesmas adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang menyangkut berbagai tingkatan
maupun jenis disiplin. Agar Puskesmas mampu melaksanakan fungsinya, Puskesmas harus
memiliki sumber daya manusia yang profesional baik di bidang teknis, medis maupun
administrasi kesehatan. Untuk menjaga dan meningkatkan mutu, Puskesmas harus
mempunyai suatu ukuran yang menjamin peningkatan mutu di semua tingkatan. Dalam
kegiatan peningkatan mutu pelayanan perlu ada suatu program yang terencana dan
berkesinambungan sebagai pedoman bagi tenaga kesehatan dalam mengevaluasi dan
membuat rencana tindak lanjut sehingga tercapai peningkatan mutu pelayanan yang
diharapkan.

A. LATAR BELAKANG
Kejadian infeksi di Puskesmas adalah infeksi yang didapat atau timbul pada waktu pasien
dilayani di Puskesmas. Bagi pasien di Puskesmas hal ini merupakan persoalan serius yang
dapat menjadi penyebab langsung atau tidak langsung terhadap keselamatan pasien. Beberapa
kejadian infeksi Puskesmas dapat terjadi akibat peralatan yang dipakai pada waktu melayani
pasien tidak steril menjadi penyebab penting kuman yang berada di lingkungan Puskesmas
atau oleh kuman yang sudah dibawa oleh pasien sendiri, dapat menimbulkan kejadian infeksi.
Salah satu hal yang perlu disadari bersama bahwa kualitas pencegahan dan pengendalian
infeksi di Puskesmas masih sangat rendah, berdampak pada rendahnya mutu pelayanan
Puskesmas. Pencegahan dan pengendalian infeksi di Puskesmas semakin hari semakin
penting untuk dapat dilaksanakan oleh semua petugas yang ada di Puskesmas Untuk itu
Puskesmas dituntut untuk mampu memberikan pelayanan yang bermutu, akuntabel,
transparan terhadap masyarakat khususnya terhadap jaminan keselamatan pasien (patient
safety).

B.TUJUAN
1.TUJUAN UMUM
Peningkatkan keselamatan pasien, petugas dan keluarga, pengunjung melalui setiap aktifitas
yang berpotensi atau berisiko penyebaran infeksi oleh petugas kesehatan melalui keamanan
peralatan yang digunakan.

2.TUJUAN KHUSUS
Menjamin keamanan peralatan yang digunakan termasuk tidak boleh menggunakan ulang
(reuse) peralatan yang disposable

BAB II
KONSEP DASAR PERALATAN STERIL

A. Jenis-jenis peralatan steril reusable


Peralatan steril secara garis besar terbagi atas dua kategori yaitu :
1. Peralatan steril reusable
Peralatan steril reusable merupakan peralatan steril yang dapat disterilisasi ulang,
melipuri :
− Alat kesehatan / berupa instrumen seperti : pisau operasi . gunting operasi
(surgical scissors), pinset operasi, doek klem, kocher, peart, kogel tang.
− Linen (kain) untuk keperluan operasi, seperti : baju bedah, kam doek. −
Gloves (sarung tangan)
2. Peralatan steril disposable use
Perbekalan steril disposable use merupakan alat kesehatan steril yang bersifat sekali
pakai, contohnya : jarum suntik , alat semprit (spuit / syringes), cateters (iv cateters,
foley cateters, stomach tube), alat-alat untuk mengambil / memberikan cairan atau
darah (blood administration set, solution administration set).

B. SIKLUS PENGGUNAAN PERALATAN STERIL REUSABLE


Penggunaan peralatan steril reusable mempakan suatu siklus yang terdiri dari :
1. Transportasi
Siklus berawal dari transportasi peralatan steril reusable yang telah digunakan
(peralatan kotor) dari beberapa user seperti kamar operasi , bagian gawat darurat
kebagian sterilisasi sentral di Puskesmas dengan menggunakan trolley (kereta
dorong ) atau wadah lain yang layak.

2. Cleaning dan dekontaminasi


Peralatan steril yang kotor akan dibersihkan dari kotoran yang nampak seperti
darah, cairan tubuh pasien. Proses ini dilakukan di ruang kotor.
3. Pemeriksaan alat
Penyiapan peralatan instrumen maupun linen yang diperlukan dalam bentuk paket.
Peralatan instrumen yang tidak lengkap atau tidak layak pakai dalam suatu paket
akan menghambat kelancaran jalannya suatu pelayanan. Sebagai contoh
pemeriksaan terhadap instrumen meliputi kebersihan instrumen dari kotoran,
ketajaman gunting, dll
4. Packaging (Pengemasan)
Untuk mencegah rekontaminasi selama penyimpanan maka alat-alat tersebut
dikemas terlebih dahulu sebelum memasuki proses sterilisasi. Pengemas harus
dapat menjamin sterilitas produk hingga waktu penggunaannya. Pengemas yang
rusak maupun tidak layak dapat menyebabkan proses cleaning pengemasan dan
sterilisasi tidak bermanfaat.
5. Sterilisasi
Instrumen dan linen yang telah dikemas siap memasuki proses Sterilisasi. Diantara
metoda Sterilisasi biasa digunakan seperti : panas basah, panas kering, etylen
oksid, formaldehid metoda panas basah merupakan metoda Sterilisasi instrumen
dan linen yang paling sering dijumpai di Puskesmas.
6. Penyimpanan
Setelah proses Sterilisasi selesai, instrumen dan linen dikeluarkan dari alat
Sterilisasi. Setelah pemeriksaan terhadap indicator sterlisasi selesai, maka
dilakukan penyimpanan.
7. Penggunaan produk steril
Produk steril memerlukan cara-cara penggunaan yang benar untuk
mempertahankan sterilitasnya. Sebagai contoh cara membuka kemasan produk
steril yang salah dapat mengakibatkan produk steril yang tersimpan di dalamnya
menjadi terkontaminasi. Dengan menggunakan prosedur yang aseptik, maka
rekontaminasi terhadap produk steril akan dapat dikurangi semaksimal mungkin
C. Cleaning, dekontaminasi dan desinfektan
Konsep dasar cleaning adalah bahwa kotoran yang menempel pada instrument dan
linen tidak hanya merupakan media bagi pertumbuhan mikroorganisma tetapi juga
menyebabkan proses Sterilisasi menjadi kurang efektif
Terdapat tiga tujuan utama proses Cleaning :
1.Menghilangkan kotoran yang nampak terlihat, seperti bercak darah
2.Menghilangkan kotoran yang tidak terlihat, seperti cairan tubuh pasien
3.Menghilangkan semaksimal mungkin mikroorganisma yang mengkontaminasi.

Cleaning meliputi beberapa langkah penting yaitu :


-Pemeriksaan kelengkapan alat
-Proses peredaman
-Pencucian
-Pembilasan
-Pengeringan
Proses dimulai setelah instrumen digunakan oleh pasien atau terkena kontaminasi.
Setelah diterima oleh petugas dan diperiksa kelengkapannya, peralatan tersebut harus
dicegah terhadap terjadinya proses pengeringan darah, komponen protein sehingga
nantinya mudah dihilangkan. Hal ini dapat dilakukan dengan menempatkan sejumlah
larutan peredam kedalam wadah tertutup.
Produk berikut dapat digunakan sebagai larutan peredam :
-Air
- Larutan enzymatic yang dapat melarutkan senyawa-senyawa protein
- Air dan larutan deterget
-Desinfektan
Proses cleaning dapat dilakukan :
- Secara manual, cara ini dilakukan apabila Puskesmas tidak mempunyai
peralatan Ulrosonic cleaning atau Washer-sterilize / washer-
decontaminator Ulrosonic cleaning Washer-sterilizer washer-decontam
inator
Dalam proses cleaning penggunaan desinfektan merupakan salah satu hal penting
yang harus diperhatikan . Desinfektan digunakan untuk membersihkan alat kesehatan
dan benda-benda dengan permukaan yang keras seperti meja, almari, lantai dan
dinding. Bagian farmasi biasanya bertugas menyiapkan desinfektan. Dalam
menyiapkan suatu desinfektan farmasi perlu mengetahui hal-hal yang berhubungan
dengan aktivitas suatu desinfektan serta hal-hal yang dapat menyebabkan inaktivasi
suatu desinfektan. Untuk mencegah inaktivasi desinfektan maka berikut ini diberikan
beberapa petunjuk penggunaan desinfektan :
a. Instruksi penggunaan desinfektan oleh pabrik yang membuatnya harus
dipatuhi
b.Perlu diperiksa tanggal kadaluwarsa
c. Perhatikan pelarutan desinfektan dengan kadar yang optimal
d. Selalu cuci bersih benda-benda sebelum desinfeksi, sebab desinfektan
dapat menjadi tidak aktif oleh bahan organic.
e. Jangan mengisi kembali tempat desinfektan bekas tanpa dilakukan
sterilisasi terlebih dahulu
f. Disinfektan tidak boleh digunakan untuk sterilisasi peralatan (kecuali jika
telah diatur dalam kebijakan desinfektan, misalnya endoskopi)
g.Tempat desinfektan harus tertutup rapat untuk menghindari terjadinya
kontaminasi oleh bakter yang resisten terhadap antibiotika, misalnya
pseudomonas dan spora

Beberapa desinfektan yang digunakan Puskesmas adalah :


1. Alkohol
2. Golongan Phenol (Intermediate to Low Level Desinfectan)
3. Klorin aktif (intermidiate level desinfectan)
4. Glutaraldehyde (Might Level Desinfectan/sterilant)
5. Hydrogen pyroksida (High Level Desinfectan )
6. Formaldehide (Formalin)
7. Amonium quarterner (Low Level Desinfectan )

D. PACKAGING
Untuk mencegah rekontaminasi pada instrumen dan linen, maka alat-alat tersebut
dikemas terlebih dahulu sebelum memasuki proses sterilisasi. Bahan pengemas yang
digunakan harus mempunyai syarat dapat ditembus oleh bahan pensterilisasi sehingga
instrumen maupun linen yang ada didalamnya steril. Syarat lain setelah proses
sterilisasi, pengemas harus dapat berfungsi sebagai penghalang masuknya
mikroorganisma kedalam instrumen maupun linen yang dikemas. Dengan demikian
pengemas harus dapat menjamin sterilitas produk hingga waktu penggunaannya.
Pengemas yang rusak maupun tidak layak dapat menyebabkan proses cleaning,
pengemasan dan sterilisasi tidak bermanfaat.
Terdapat beberapa macam packaging (pengemas), yaitu :
1. Pengemas primer
Contoh pengemas primer : kertas 2 lapis, kain 2 lapis, single atau double
laminated film pouch, wadah yang disertai penyaring, dll.
Syarat-syarat pengemas primer:
- Mampu menjaga sterilitas produk setelah proses sterilisasi
- Kompatibel dengan proses sterilisasi
- Pembungkus dapat ditembus oleh udara atau bahan pensteril
- Kuat
- Tidak melepaskan bahan kimia tertentu atau partikel kedalam produk
sehingga keamanan pasien terjamin
-Mudah dibuka
2. Pengemas sekunder
Pengemas sekunder selain melindungi produk steril dari debu juga
melindungi secara mekanik dan memudahkan dalam transportasi alat
kesehatan steril disposable use.
3. Pengemas selama distribusi instrumen dan linen steril
Merupakan trolley tertutup beroda unruk mendistribusikan produk-produk
steril yang telah dikemas dengan pengemas primer ataupun sekunder ke
ruangan-ruangan di rumah sakit yang membutuhkannya.
Beberapa bahan yang digunakan unruk pengemas adalah :
-Kain.
Terdapat beberapa keuntungan penggimaan kain : kuat, dapat
digunakan berulang kali serta fleksibel
-Kertas
Kertas merupakan alternatif pengganti kain. Pori-porinya lebih kecil
dari tekstil dan hanya digunakan untuk sekali pakai.
- Laminated film pouch
Untuk pengemas instrumen dalam bentuk tunggal atau sejumlah
intrumen dengan ukuran yang relatif kecil. Laminated film pouch
terdiri atas kertas disatu sisi dan plastik transparan pada sisi yang lain
yang direkatkan melalui proses laminating. Udara maupun nap air
dapat masuk ke dalam kemasan melalui bagian yang terlapisi oleh
kertas . Pengemas ini tersedia dalam berbagai ukuran.

4. Sterilizing drums
Sterilizing drums terbuat dari logam stainlesteel, sebagai pengemas sekunder.
Tidak dapat digunakan sebagai pengemas primer. Pada model pengemas ini,
uap air dapat masuk ke dalam produk melalui lubang-lubang kecil yang
terdapat disekeliling pengemas. Lubang-lubang ini dapat dibuka dan ditutup,
sebelum sterilisasi lubang dibuka dan setelah sterilisasi lubang akan ditutup
kembali.
5. Sterilizing Containers
Digunakan sebagai pengemas primer pada sterlisasi kain atau instrumen. Pada
pengemas jems ini udara akan bergerak masuk memalui filter yang terdapat
pada penutupnya.
Terdapat dua macam cara melipat pengemas instrumen dan linen , yaitu :
- Envelope fold
- Parcel fold
Model envelope fold digunakan untuk mengemas peralatan dengan ukuran
kecil, sedangkan model parcel fold untuk mengemas linen serta sekumpulan
instrument yang telah dimasukkan dalam tempat instrumen (instrumen trays).
Cara pengemasan dapat dilakukan dengan hanya menggunakan satu model
saja atau menggunakan kombinasi kedua model tersebut. Instrumen dan linen
yang telah dikemas siap disterilisasi.

E.STERILISASI
Adalah suatu proses dengan metoda tertentu yang bertujuan mematikan semua
organisme hidup (vegetatif dan rion vegetatif) termasuk spora bakteri yang
lebih
resisten terhadap desinfektan. Terdapat bennacam-macam metoda Sterilisasi,
yaitu :
1. Sterilisasi panas kering
2. Sterilisasi dengan uap .
3. Sterilisasi dengan Ultraviolet
4. Sterilisasi dengan sinar pengion
5. Sterilisasi dengan gas kimia
6. Sterilisasi dengan filter
7. Sterilisasi dengan bahan kimia

F. PENYIMPANAN DAN DISTRIBUSI

Setelah proses Sterilisasi selesai, maka perbekalan steril tersebut akan


disimpan hingga waktu digunakan. Penyimpanan barang steril memegang
peranan panting guna menjaga mutu sterilitas, agar barang yang sudah steril
tidak terkena kontaminasi. Untuk itu diperlukan ruangan khusus untuk
menyimpan barang steril serta almari/tempat penyimpanan khusus di unit
pemakai .

Berikut ini beberapa persyaratan yang diperlukan :


1. Dirancang untuk tidak menahan debu, yaitu dengan mengurangi adanya
celah-celah atau tonjolan-tonjolan tempat debu dapat bersarang
2. Ruangan harus kering
3. Ruangan haras bertekanan positif
4. Pintu dan jendela harus berlapis dengan ruangan transisi diantaranya
5. Rak tempat barang steril dirancang sedemikian rapa untuk memudahkan
system FIFO (First In First Out), artinya barang yang telah lebih dahulu
steril akan dapat dipergunakan lebih dahulu
6. Pembersihan ruangan / tempat diusahakan tidak dengan sapu melainkan
dengan mesin penghisap debu.

Adapun persyaratan almari penyimpanan barang steril :


1. Harus ditempatkan dalam ruangan yang bersih, tidak bercampur atau
berdekatan dengan tempat/rak disposal
2. Harus kering
3. Minimal sekali seminggu dibersihkan
Untuk pengangkatan barang steril dari ruang penyimpanan ke unit pemakai
diperlukan almari beroda yang tertutup rapat, bersih dan kering.

G. EVALUASI PERBEKALAN STERIL REUSABLE


Evaluasi (kontrol kualitas) terhadap perbekalan steril reusable diperlukanuntuk
menjamin kemanan baik bagi pasien maupun para petugasnya.

Kontrolkualitas meliputi :
1. Kontrol kualitas administrative
Semua petugas yang terlibat dalam penanganan peralatan steril harus
merupakan tenaga terlatih dan berdisiplin tinggi

2. Kebijakan dan prosedur


Seluruh kebijakan danprosedur penanganan perbekalan steril harus tertulis
serta dapat dijalankan oleh petugas.

3. Kontrol kualitas kepuasan pelanggan didapatkan melalui:


-Survey terhadap pemakai perbekalan steril
-Pengumpulan laporan serta keluhan dari para pengguna.

4. Kontrol kualitas tehnis


Dilakukan untuk mengetahui keandalan suatu metoda dan proses sterilisasi.
Kontrol kualitas tehnis dilakukan selama proses sterilisasi maupun sesudah
proses sterilisasi berlangsung

Kontrol selama proses


Dilakukan dengan menggunakan indikator :
1. Indikator kimia
Yaitu suatu indikator yang menggunakan bahan kimia yang pada
suhu akan berabah warnanya, misalnya indikator tape. Indikator tape
diletakkan didalam dan di luar packaging .
2. Indikator fisik
Contohnya adalah grafik yang terdapat pada High Prevacuum
Autoclave. Grafik ini menunjukkan hubungan antara tekanan dan
temperatur yang konstan pada waktu tertentu.

Kontrol sesudah proses


Dilakukan terhadap sterilitas barang serta keadaan fisik barang
(keutuhan, kelengkapan)

BAB III
PENUTUP

Penanganan terhadap perbekalan steril reusable yang meliputi instrumen, linen dan sarung
tangan di rumah sakit perlu mendapat perhatian serius untuk menghindari timbulnya infeksi .
Penanganan yang baik perlu dilakukan mulai dari transport dari user, proses cleaning dan
dekontaminasi, pemeriksaan peralatan, pengemasan, sterilisasi, penyimpanan hingga
pendistribusian kembali ke unit pelayanan. Pemilihan desinfektan yang efektif pada tiap jenis
alat kesehatan. Pemilihan jenis pengemas serta pemilihan metoda sterilisasi yang tepat akan
dapat menjamin produk yang dihasilkan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.