Anda di halaman 1dari 13

LEMBAR PENGESAHAN

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BUDI MULYO


NOMOR…………………....

TENTANG
PEDOMAN KOMUNIKASI EFEKTIF

TINDAKA TANDA
NAMA JABATAN TANGGAL
N TANGAN
Partiningsih, Amd,
Disiapkan Marketing
Keb
Authorized
Diperiksa Niken Larasati, SE
Person

dr. H. Dwi Prasetya Manajer


Diperiksa
Okta A,W YANMED

Disetujui Direktur

Pedoman Komunikasi Rumah Sakit


KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BUDI MULYO
NOMOR : ………../SK/DIR/IV/2018

TENTANG
PEDOMAN KOMUNIKASI EFEKTIF

Menimbang 1. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di Rumah


Sakit Budi Mulyo Kesamben perlu di buat peraturan
tentang bagaimana mendorong keterlibatan pasien dan
keluarga dalam proses pelayanan.

2. Bahwa Penyelenggaraan untuk mewujudkan visi dan misi


Rumah Sakit Budi Mulyo dan upaya menghadapi tuntutan
akan pelayanan Rumah Sakit yang berkualitas serta
mendapatkan akses pelayanan yang kontuinitas pelayanan
pedoman komunikasi yang efektif dalam pemberian
informasi dan edukasi

Mengingat 1. Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah


Sakit

2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009


Tentang Kesehatan
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan
Rumah Sakit

4. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor


129/MENKES/ SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit

5.
Keputusan Direktur Rumah Sakit Budi Mulyo Tentang
Pengangkatan Pedoman Komunikasi Efektif

Pedoman Komunikasi Rumah Sakit


MEMUTUSKAN

MENETAPKAN KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BUDI MULYO


TENTANG PEDOMAN KOMUNIKASI EFEKTIF

PERTAMA : Pedoman Komunikasi Efektif yang dimaksud dalam diktum


pertama sebagaimana tercantum dalam Lampiran
keputusan ini

KEDUA : Pedoman Komunikasi Efektif digunakan sebagai acuan


tata cara berkomuniasi dengan masyarakat, dengan
pasien dan keluarga serta antar staf klinis

KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan;

Ditetapkan di : Kesamben
Tanggal : ….. April 2018

Direktur,
Rumah Sakit Budi Mulyo,

NIK.

Pedoman Komunikasi Rumah Sakit


Lampiran
Peraturan Direktur Rumah Sakit Budi Mulyo
Nomor : 002/SK/DIR/IV/2018
Tentang : Pedoman Komunikasi Efektif
BAB I Tanggal :
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pada dasarnya, setiap orang memerlukan komunikasi sebagai salah satu alat bantu
dalam kelancaran bekerja sama dengan orang lain dalam bidang apapun.
Komunikasi berbicara tentang cara menyampaikan dan menerima pikiran-pikiran,
informasi,perasaan, dan bahkan emosi seseorang, sampai pada titik tercapainya
pengertian yang sama antara penyampai pesan dan penerima pesan. Komunikasi
adalah keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dimana dapat
kita lihat komunikasi dapat terjadi pada setiap gerak langkah manusia. Manusia
adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama lain serta saling terkait dengan
orang lain dilingkungannya. Satu-satunya alat untuk dapat berhubungan dengan
orang lain dilingkungannya adalah dengan komunikasi, baik komunikasi secara
verbal maupun non verbal ( bahasa tubuh dan isyarat yang banyak dimengerti oleh
suku bangsa). Komunikasi efektif di Rumah Sakit Wava Husada Kesamben dilakukan
pada saat : Komunikasi rumah sakit dengan masyarakat, Komunikasi petugas rumah
sakit kepada pasien dan atau keluarga pasien, Komunikasi efektif dokter kepada
pasien, Komunikasi antar pemberi pelayanan di rumah sakit, Komunikasi antar
pemberi pelayanan di luar rumah sakit.

B. TUJUAN
Tujuan dari buku pedoman ini adalah sebagai acuan kepada petugas Rumah Sakit
mengenai cara berkomunikasi dengan masyarakat, pasien dan atau keluarga pasien,
dan antar pemberi layanan sehingga tercipta keterbukaan dan kepercayaan.

C. DEFINISI
Komunikasi adalah sebuah proses penyampaian pikiran-pikiran atau informasi dari
seseorang kepada orang lain melalui suatu cara tertentu sehingga orang lain
tersebut mengerti betul apa yang dimaksud oleh penyampai pikiran-pikiran atau
informasi (komaruddin, 1994; schermerhorn, hunt & osborn, 1994; koontz &
weihrich, 1988).
Komunikasi adalah sebuah proses penyampaian pikiran-pikiran atau informasi dari
seseorang kepada orang lain melalui suatu cara tertentu sehingga orang lain
tersebut mengerti betul apa yang dimaksud oleh penyampain pikiran-pikiran atau
informasi. Komunikasi dapat efektif apabila pesan diterima dan dimengerti
sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan, pesan ditindaklanjuti dengan sebuah
perbuatan oleh penerima pesan dan tidak ada hambatan untuk hal itu. Untuk
sampai pada tahap tersebut, diperlukan berbagai pemahaman seperti pemanfaatan
jenis komunikasi (lisan, tulisan/verbal, non-verbal), menjadi pendengar yang baik
(active listener), adanya penghambat proses komunikasi (noise), pemilihan alat
penyampai pikiran atau informasi yang tepat (channel), dan mengenal
mengekspresikan perasaan dan emosi.
Komunikasi efektif adalah pertukaran informasi, ide, perasaan yang menghasilkan
perubahan sikap sehingga terjalin sebuah hubungan baik antara pemberi pesan da
n penerima pesan. Dan pengukuran efektifitas dari suatu proses komunikasi dapat
dilihat dari tercapainya tujuan si pengirim pesan.

BAB II RUANG LINGKUP

Pedoman Komunikasi Rumah Sakit


A. PENANGGUNG JAWAB
1. Unit Pemasaran
2. Unit Humas

B. UNIT TERKAIT
Unit-unit terkait yang berhubungan dengan Komunikasi, dan Informasi yang
diberikan ke komunitas Rumah Sakit, meliputi :
1. Unit Rawat Jalan
2. Unit Rawat Inap
3. Unit Gawat Darurat
4. Unit Penunjang Medik
5. Unit Penunjang Pelayanan

C. SASARAN
1. Pasien, keluarga, pengunjung
2. Masyarakat
3. Staf klinis
4. Insitusi Pemerintah dan Swasta

BAB III TATA LAKSANA

Pedoman Komunikasi Rumah Sakit


A. TATA LAKSANA IDENTIFIKASI KOMUNITAS DAN POPULASI
1. Rumah Sakit melakukan identifikasi komunitas dan populasi internal dan
eksternalnya yang menjadi pusat perhatian dalam pemberian informasi.
2. Rumah sakit menjalankan dan mengimplementasikan strategi komunikasi dengan
populasinya.
3. Rumah sakit menyediakan informasi tentang mutu pelayanan
4. Identifikasi komunitas dan populasi rumah sakit secara internal dan eksternal
didapatkan dari data-data kunjungan layanan dan data sebaran wilayah yang ada.
5. Pengolahan data dan penentuan sasaran/target dari hasil identifikasi harus
memberikan gambaran dalam pola pemberian informasi yang tepat dan cepat.
6. Proses identifikasi terhadap komunitas dan populasi dilakukan oleh bagian
humas dan pemasaran rumah sakit dengan pengambilan data dari unit rekam
medis sebagai pusat informasi.

B. TATA LAKSANAN PENENTUAN METODE DAN CARA KOMUNIKASI


1. Rumah Sakit menentukan bentuk/metode komunikasi dan informasi yang dapat
disampaikan ke komunitas dan populasinya.
2. Penentuan metode dan materi komunikasi mengacu pada visi dan misi Rumah
Sakit yang sudah ditetapkan oleh Direktur serta berdasarkan data penunjang
dan data sebaran wilayah jangkauan komunitas yang dilingkupinya.
3. Proses penyampaian bentuk komunikasi dibedakan sesuai dengan sasaran yang
menjadi komunitasnya, dalam bentuk sasaran komunikasi, dan informasi secara
internal maupun secara eksternal.
4. Pemilihan bentuk materi dikomunikasikan kepada seluruh pimpinan dan kepala
unit di Rumah Sakit untuk mendapatkan target dan sasaran yang tepat sesuai ke
komunitas.
5. Penyampaian metode komunikasi dan informasi perlu dipertimbangkan
kebutuhan SDM, sarana prasarana dan fasilitas pendukung yang menunjang
tercapainya komunikasi.
6. Melakukan upgrade/perubahan bentuk komunikasi yang ada sesuai dengan
Tingkat kebutuhan dan trend yang terjadi dimasyarakat serta peraturan
pemerintah yang ada.
7. Dilakukan evaluasi secara berkala oleh seluruh tim yang terlibat tentang proses
dan implementasi program yang sudah berjalan dan mengadakan perbaikan
secepatnya bila diketemukan ketidaksesuaian.

C. TATA LAKSANA PEMBUATAN KOMUNIKASI DAN INFORMASI


1. Komunikasi, dan informasi yang disampaikan dalam bentuk poster, standing
banner, baliho, leaflet, brosur dan sebagainya.
2. Isi dan format bentuk komunikasi menginformasikan tentang akses dan mutu
pelayanan rumah sakit yang disediakan.
3. Proses pembuatan di lakukan oleh unit humas dan pemasaran selaku coordinator
pelaksana.
4. Pengajuan pembuatan melalui mekanisme yang berlaku sesuai ketentuan Rumah
Sakit dan disetujui oleh Direktur.
5. Penempatan informasi pada tempat/lokasi yang strategis mendekati sasaran
komunitas dan populasinya
6. Alokasi dan budget anggaran direncanakan dalam perhitungan tahun
sebelumnya, atau dapat diambilkan budget rutin bagian humas/pemasaran.

D. TATA LAKSANA PENYAMPAIAN KOMUNIKASI DAN INFORMASI


1. Penyampaian materi informasi dilakukan oleh staf/sumber daya manusia di unit
unit rawat jalan, penunjang, layanan rawat inap dan instalasi gawat darurat yang
melakukan pelayanan kepada pasien secara langsung, berkompeten dan sesuai
dengan bidangnya.

Pedoman Komunikasi Rumah Sakit


2. Penyampaian informasi dapat berupa informasi tertulis ataupun secara lisan oleh
petugas yang berwenang.
3. Isi informasi dapat berupa informasi layanan rumah sakit, mutu dan kualitas
layanan, cara dan prosedur mendapatkan layanan, asuhan dan rencana
komunikasi/layanan berkelanjutan, dsb.
4. Memberikan panduan, arahan, dan materi yang terkait kepada staf yang ditunjuk
dalam penyampaian informasi kepada pasien, keluarga dan pengunjung.
5. Pemahaman penyampaian materi yang diberikan merupakan target/sasaran
utama dalam keberhasilan pemberi informasi.
6. Penyampaian informasi dilakukan pada saat proses pendaftaran pasien (TPP),
tempat informasi layanan dan ditempat penerimaan pasien di masing unit
pelayanan.
7. Memastikan informasi yang disampaikan dimengerti dan dipahami oleh pasien
dan keluarga pasien, berikan kesempatan untuk bertanya tentang sesuatu yang
belum jelas.
8. Pergunakan bahasa yang mudah dimengerti, tidak dianjurkan menggunakan
istilah kedokteran, sesuaikan dengan tingkat pemahamannya (usia, latar belakang
pendidikan dan sosial budaya)
9. Penyampaian informasi agar menghindarkan dari kata-kata yang bersifat
mengancam, gunakan kalimat yang menimbulkan semangat atau meyakinkan.
10.Berikan nomer kontak (telepon) unit/bagian atau perorangan orang yang dapat
memberikan edukasi/informasi tambahan apabila dibutuhkan.

E. TATA LAKSANA STRATEGI KOMUNIKASI INTERNAL


1. Rumah Sakit menentukan strategi komunikasi internalnya untuk mengetahui
komunitas dan populasi pasien yang melakukan kunjungan pelayanan kesehatan
di rumah sakit.
2. Komunikasi internal lebih di fokuskan pada komunitasi yang berada di
lingkungan/internal Rumah Sakit
3. Identifikasi komunitas dan populasi internal lebih di fokuskan pada penyampaian
informasi tentang peningkatan mutu, kualitas dan kuantitas layanan yang sudah
ada.
4. Penyampaian informasi internal dilaksanakan oleh masing-masing unit pelayanan
yang berinteraksi dengan komunitas dan populasi.
5. Penyampaian informasi kepada komunitas dan populasi berupa penyampaian
pelayanan, jam pelayanan, proses mendapatkan pelayanan, kualitas pelayanan
tentang Rumah Sakit
6. Penyampaian informasi dapat dilakukan secara individual maupun secara
berkelompok sesuai dengan kebutuhan akan layanan informasi yang dibutuhkan.
7. Strategi komunikasi yang dibangun harus berdasarkan data real dan kenyataan
yang ada, baik disampaikan melalui visual maupun verbal.
8. Komunitas dan populasi yang mendapatkan perhatian khusus karena adanya
keterbatasan secara diakomodasi oleh Rumah Sakit dalam pemberian informasi
yang dibutuhkan.
Komunikasi Internal Sebagai Berikut :
1. Komunikasikan visi, misi dan Rencana Strategi Rumah Sakit Budi Mulyo
2. Sosialisasikan Rencana Strategi dan program Rumah Sakit Budi Mulyo
3. Komunikasi melalui telepon antar petugas (dokter, perawat/bidan, petugas
lainnya)
4. Rapat rutin yang diadakan di lingkungan Rumah Sakit Budi Mulyo seperti :
a. Rapat Komisaris
b. Rapat Umum Pemegang Saham
c. Rapat Struktural
d. Rapat Komite Komite
e. Rapat masing masing Pokja

Pedoman Komunikasi Rumah Sakit


f. Rapat masing masing unit
g. Pertemuan Keperawatan
5. Buat jadwal rapat umum seluruh Rumah Sakit Budi Mulyo
6. Undangan, Absensi dan Notulen
7. Laporan laporan
8. Lembar edukasi yang berisikan tanggal, Materi, tanda tangan
9. Komunikasi efektif harus tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, mudah
dipahami oleh penerima sehingga dapat mengurangi kesalahpahaman.

F. TATA LAKSANA STRATEGI KOMUNIKASI EKSTERNAL


1. Identifikasi komunitas dan populasi eksternal lebih difokuskan pada pemberian
informasi tentang keberadaan dan ruang lingkup pelayanan yang dimiliki.
2. Rumah Sakit menerapkan strategi komunikasi eksternalnya melalui media dan
layanan publik.
3. Melakukan implementasi strategi komunikasi dengan komunitas dan populasi
dengan cara langsung berinteraksi.
4. Strategi komunikasi eksternal di lakukan untuk menjangkau informasi yang lebih
luas, khususnya diluar lingkungan Rumah Sakit.
5. Sasaran yang dijangkau adalah masyarakat luas/umum, institusi
pemerintah/swasta/BUMN, dsb
6. Pencapaian strategi dititik beratkan pada informasi dalam bentuk promosi yang
berfokus pada ketersediaan pelayanankesehatan yang dapat dilakukan di rumah
sakit.

Tata cara komunikasi eksternal yang diterapkan di Rumah Sakit Budi Mulyo antara
lain :
1. Penerimaan tamu secara langsung
2. Bekerja sama dengan pihak ketiga dengan cara membuat Kesepakatan
Kerjasama ( MoU )
3. Melakukan surat menyurat
4. Brosur, leaflet, spanduk, poster, standing banner, majalah, radio, surat kabar.

G. TATA LAKSANA PENYAMPAIAN ASUHAN DAN PELAYANAN RUJUKAN


1. Disusunnya parameter/strategi komunikasi berkelanjutan oleh staf medis atau
yang terkait dengan pelayanan pasien.
2. Penyampaian komunikasi dan informasi asuhan dan pelayanan rujukan diberikan
oleh staf medis ahli yang sesuai dengan bidang dan kompetensinya.
3. Komunikasi berkelanjutan dimungkinkan karena kebutuhan pasien, staf medis
dan penegakkan diagnosis penyakit pasien.
4. Pemberian komunikasi dan informasi dilakukan setelah staf medis mengetahui
dan memahami kondisi/diagnosis dari kebutuhan pasien yang sedang menjalani
layanan kesehatan.
5. Informasi yang diberikan harus dipahami dan dimengerti oleh pasien, pasien
diberikan haknya dalam proses tersebut.
6. Penyampaian informasi harus terdokumentasi dalam berkas rekam medis pasien
dan adanya pernyataan tertulis dari pasien akan pemahamam mengenai
informasi yang telah disampaikan.
7. Komunikasi dan informasi berlangsung selama proses pelayanan yang melibatkan
antara staf medis dengan pasien dan keluarganya.
8. Pemberian komunikasi berkelanjutan tetap mengikuti prosedur dan aturan medis
dan institusi pemberi komunikasi.

H. TATA LAKSANA KOMUNIKASI ANTAR PEMBERI PELAYANAN DI DALAM DAN DI LUAR


RUMAH SAKIT

Pedoman Komunikasi Rumah Sakit


1. Komunikasi efektif terjalin antar pemberi pelayanan didalam rumah sakit dalam
memberikan informasi yang relevan dan tepat waktu.
2. Informasi terjalin antara pemberi pelayanan didalam rumah sakit dengan pasien
beserta keluarga, antara departemen klinis dan non klinis, kelompok professional
dengan manajemen, antara profesional dan keluarga, dsb.
3. Rumah sakit menjamin adanya komunikasi efektif dan koordinasi antar individu
dan departemen yang bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan klinik.
4. Mengkoordinasikan dan mengintegrasikan komunikasi efektif dengan
menekankan kerjasama, komunikasi dan mengembangkan metode baik secara
formal maupun informal.
5. Saluran komunikasi yang terbentuk/terjalin yang bersifat klinis maupun
nonklinis ditetapkan oleh Direktur Rumah Sakit
6. Bentuk komunikasi dan penyampaian informasi dalam pelayanan klinis dengan
melalui pertemuan, diskusi ilmiah dan ronde,dsb.
7. Dilakukan penetapan jenis informasi yang seragam yang akan dikomunikasikan
oleh satu praktisi kesehatan kepada sesamanya secara kontinue atau secara
berkelanjutan.
8. Praktisi profesional kesehatan dapat memberikan pelayanan diluar rumah sakit
atas permintaan ataupun sebab lain karena permintaan pasien dan keluarganya
9. Rumah sakit memfasilitasi proses pelayanan yang dilakukan pasien diluar
rumah sakit, dengan cara memberikan informasi kesehatan yang dapat
dipergunakan pasien nantinya.

I. TATA LAKSANA KOMUNIKASI DENGAN MASYARAKAT


A. Identifikasi komunitas dan populasi berdasar data demografi seluruh pengunjung
RS yang telah dianalisi tentang : penyakit, jenis kelamin, umur, ras/etnis, agama
dan bahasa yg digunakan,tempat domisili dll yg terkait untuk :
1. Komunikasi lanjutan tentang informasi pelayanan, jam pelayanan dan proses
mendapatkan pelayanan;
2. Informasi tentang kualitas pelayanan, yang diberikan kepada publik dan kepada
sumber rujukan.
3. Bentuk dan Strategi komunikasi :
a. PKRS = Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit melalui individu maupun
kelompok
b. Seminar seminar seputar masalah kesehatan
c. Melalui leaflet, brosur, spanduk, poster, majalah, Koran, radio
d. Website, email

B. Komunikasi dengan masyarakat menggunakan perantara media :


a. Buku dan CD Profile Rumah Sakit Budi Mulyo
b. Hotline ke Informasi Rumah Sakit
c. Website
d. Media leaflet, banner, spanduk, poster oleh Unit PKRS dan Humas
e. Koran, majalah, radio

J. TATA LAKSANA KOMUNIKASI DENGAN PASIEN DAN KELUARGA


1. Humas & Marketing dengan menghubungi
2. Hotline ke Informasi
3. Nomor faximile :
4. Email :
5. Kotak saran /komplain
6. Pemberian informasi kepada pasien dan keluarga tentang edukasi kesehatan
7. Media leflet, banner, spanduk, poster, Koran, majalah oleh PKRS & Humas

Komunikasi efektif dengan pasien dan keluarga memuat :

Pedoman Komunikasi Rumah Sakit


1. Pasien dan keluarga diberi informasi tentang asuhan dan pelayanan melalui
brosur, leaflet, spanduk, biner atau melalui media masa seperti koran, majalah,
radio dan melalui perantara media website dan diberi informasi bagaimana
mengakses pelayamam di Rumah Sakit Budi Mulyo.
2. Pasien dan keluarga diberi informasi bahwa Rumah Sakit Budi Mulyo
memberikan pelayanan rawat inap dan rawat jalan meliputi ruang lingkup IGD,
Obstetri, Interna, Paru, Gigi, Penunjang Medis antara lain USG, Radiologi,
Laboratorium dll.
3. Apabila asuhan pasien didapatkan kasus diluar pelayanan Rumah Sakit Budi
Mulyo dan membutuhkan penanganan lebih lanjut maka pasien dan keluarga
diberikan informasi tentang sumber alternative ( dirujuk ) ke rumah sakit yang
lebih tinggi.
4. Menggunakan informasi dengan bahasa Indonesia yang benar dan apabila
pasien dan keluarga menggunakan bahasa yang tidak dimengerti maka Rumah
Sakit Budi Mulyo meminta bantuan anggota keluarga sebagai penterjemah
apabila terpaksa dan sebagai upaya akhir maka anak bisa dijadikan penterjemah

K. PRINSIP KOMUNIKASI EFEKTIF


1. Write back, read back, verifikasi pemberi pesan dan klarifikasi ulang bagi
penerima pesan.
2. Komunikasi lewat telepon dengan prinsip Write Back, Read Back.
Setiap pesan yang dilaksanakan melalui telepon, perlu di baca ulang (readback)
ringkasan informasi oleh penerima berita ( receiver ) untuk mengecek akurasi
berita dan kejelasan isi informasi tersebut. Hal ini diperlukan untuk menyakinkan
bahwa penerima informasi mengerti dan jelas tindakan yang akan dilakukan
sesuai dengan informasi yang diterimanya. Setiap informasi yang diterima, harus
ditulis dalam catatan medic ( Rekam Medik ).
RECORDING SBAR
Komunikasi efektif harus dicatat dengan akurat pada rekam medis atau catatan
pasien. Catatan tersebut harus dapat dibaca ( Legible ), ditanda tangani ( signed ),
diberi tanggal ( dated ), dituliskan waktu serta ditulis dengan menggunakan tinta
warna hitam.

L. BENTUK STRUKTUR KOMUNIKASI


Komunikasi efektif dapat terjadi dengan menggunakan suatu format baku agar
komunikasi terstandar dan berlangsung secara efektif dan efisien. Salah satu format
baku yang di pergunakan oleh JAHCO adalah format SBAR

DEFINISI SBAR
Komunikasi verbal atau komunikasi tulis yang kurang adekuat merupakan sumber
kesalahan yang serius pada pusat pelayanan kesehatan. Analisis akar masalah
ditemukan sebagai sumber kesalahan yang terjadi secara umum di sebabkan dari
kedua macam komunikasi ini. Terdapat beberapa hambatan dalam komunikasi antar
petugas pemberi pelayanan karena factor hirarki, gender, suku, perbedaan gaya
komunikasi antar disiplin ilmu dan gaya komunikasi individual.
SBAR merupakan kerangka komunikasi yang mempermudah mengatasi hambatan
dalam komunikasi. SBAR merupakan bentuk struktur mendasari komunikasi antara
pemberi informasi dengan penerima informasi. SBAR mudah diingat yang praktis
untuk komunikasi atau percakapan. SBAR tersusun sebagai berikut :
S = Situation
B = Background
A = Assessment
R = Recommendation
Tujuan dan keuntungan menggunakan SBAR ( Byred et al, 2009 ) ,yaitu :
a) Meningkatkan keamanan keselamatan pasien ( patient safety ).

Pedoman Komunikasi Rumah Sakit


b) Memberikan standar untuk penyebaran atau berbagi informasi.
c) Meningkatkan kekuatan atau penjelasan dari para pemberi pelayanan kesehatan
dalam mengajukan permintaan perubahan perawatan pasien atau untuk
menyelesaikan informasi dalam keadaan kritis dengan benar dan akurat.
d) Meningkatkan efektivitas kerja tim.
e) Dapat dipergunakan pada daerah spesifik COPD.

SBAR TERSUSUN ATAS :


S = Situation
a. Tanyakan kondisi pasien (Situation)
b. Identitas pasien, diagnose medis dan masalah yang belum maupun sudah
teratasi.
c. Mengawali suatu komunikasi di perlukan pengenalan antara penyampai
berita dan penerima berita. Dalam hal ini identitas saudara ( petugas ) dan
unit pelayanan kesehatan diinformasikan. Selain itu juga perlu disampaikan
kepada siapa ( penerima ) informasi yang petugas ajak berkomunikasi.
Dalam situasi ini perlu petugas menjelaskan permasalahan yang
dihadapinya misalnya pasien serta kekhawatiran bila tidak di lakukan
tindakan. Dalam hal menginformasikan pasien disebutkan identitas pasien.
B = Background
a. Tanyakan latar belakang pasien (Background)
b. Keluhan utama, intervensi yang telah dilakukan, respon pasien, diagnose
keperawatan, riwayat alergi, riwayat pembedahan, pemasangan alat infasif
dan obat atau infuse
c. Berilah informasi riwayat medis pasien,atau informasi yang berkaitan
dengan permasalahan yang ditemukan. untuk pasien perlu dijelaskan
riwayat medisnya, perlu dijelaskan atau digaris bawahi riwayat medis yang
bermakna.
d. Bila permasalahan di bidang lain misalnya sampel darah atau permasalahan
obat maka poin penting dari permasalahan tersebut ditonjolkan
A = Assessment
Pengkajian kondisi pasien terkini (Assesment)
a. Sebutkan tanda vital, pain score, GCS, status restrain, Resiko jatuh, Status
nutrisi, eliminasi hal yang kritis dan lain lain.
b. Hasil pemerikasaan penunjang yang abnormal
c. Informasi lain yang mendukung
d. Penilaian terhadap masalah yang di temukan terkait dengan apa yang
menjadi masalah pada pasien.
e. Berilah kesan pasien secara klinis serta hal yang terkait dengan hal tersebut.
f. Jelaskan pula tindakan apa yang sudah di berikan kepada pasien untuk
mengatasi permasalahan tersebut sambil menunggu rekomendasi yang
diterima petugas
R = Recommendation
a. Usulan pemeriksaan atau tindakan atas kondisi pasien saat ini.
b. Tindakan apa yang direkomendasikan untuk memperbaiki masalah
c. Apa yang dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi pasien
d. Kapan waktu yang di harapkan tindakan ini terjadi
e. Jelaskan kepada petugas rekomendasi yang diberikan untuk mengatasi
permasalahan tersebut.
f. Saran disampaikan dengan jelas, bagaimana cara melaksanakan saran serta
tentukan waktu pelaksanaannya serta tindak lanjutnya.
g. Terakhir, rekomendasi yang diberikan, apakah sudah sesuai dengan harapan
pada akhir pembicaraan dengan klinisi atau petugas tersebut.

PENGGUNAAN SBAR

Pedoman Komunikasi Rumah Sakit


SBAR dipergunakan sebagai landasan menyusun komunikasi verbal, tertulis lewat
menyusun surat , dari berbagai keadaan perawatan pasien antara lain :
1. Pasien rawat jalan dan pasien rawat inap.
2. Komunikasi pada kasus urgent dan non urgent.
3. Komunikasi dengan pasien, perorangan atau lewat telepon
4. Keadaan khusus antara dokter dan perawat.
5. Membantu konsultasi antara dokter dengan dokter.
6. Mendiskusikan dengan konsultan professional lain misal terapi respirasi,
fisioterapi.
7. Komunikai dengan mitra bestari.
8. Komunikasi pada saat perubahan shift jaga.
9. Meningkatkan perhatian
10. Serah terima dari petugas ambulans kepada staf rumah sakit.

BAB IV DOKUMENTASI

Pedoman Komunikasi Rumah Sakit


A. BUKTI PELAKSANAAN
Bukti pelaksanaan kegiatan yang dilakukan untuk memberikan komunikasi dan
informasi kepada komunitas baik secara individu maupun kelompok, berupa :
1. Materi pelaksanaan kegiatan, notulen, daftar hadir
2. MOU kerjasama dengan media public dalam proses memberikan komunikasi dan
informasi
3. Brosur, leaflet, spanduk, standing banner, dsb

B. EVALUASI PELAKSANAAN
1. Berupa hasil evaluasi dari seluruh rangkaian kegiatan yang sudah dilakukan.
2. Laporan kepada Direktur Rumah Sakit akan pelaksanaan program, dan tindak lanjut

Pedoman Komunikasi Rumah Sakit