Anda di halaman 1dari 3

AKUNTANSI PERPAJAKAN PAJAK TANGGUHAN (PSAK 46)

MODUL 14

Dr.Harnovinsah

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA

2012

‘12

 

Akuntansi Pajak

Pusat Pengembangan Bahan Ajar

1

Dr Harnovinsah Ak

Universitas Mercu Buana http://www.mercubuana.ac.id

Beda waktu akan menimbulkan aset / kewajiban pajak tangguhan, sedangkan beda sementara tidak berpengaruh dengan pajak tangguhan.

Beban Pajak Tangguhan dan Pendapatan Pajak Tangguhan

Beban PPh terdiri atas beban pajak kini dan beban pajak tangguhan / pendapatan pajak tangguhan. Pajak kini (current tax) merupakan jumlah PPh

terutang atas Penghasilan Kena Pajak pada satu periode. Pajak Penghasilan

diperlakukan sebagai biaya bagi perusahaan. Oleh karena itu Pajak Penghasilan

harus diasosiasikan dengan laba dimana pajak penghasilan tersebut dikenakan

atau diperhitungkan. Proses untuk mengasosiasikan Pajak Penghasilan dengan

llaba dimana pajak itu dikenakan disebut Alokasi Pajak.

Beban pajak tangguhan akan menimbulkan kewajiban pajak tangguhan

sedangkan pendapatan pajak tangguhan mengakibatkan aset pajak tangguuhan.

Aset Pajak Tangguhan

Aset pajak tangguhan (defered tax liabilities) timbul apabila beda waktu yang menyebabkan terjadinya koreksi positif sehinggga beban pajak menurut

akuntansi lebih kecil daripada beban pajak menurut peraturan perpajakan. Aset

pajak tangguhan adalah jumlah PPh terpulihkan pada periode mendatang

sebagai akibat adanya perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dan sisa

kompensasi kerugian.

Kewajiban Pajak Tangguhan

Kewajiban pajak tangguhan (defered tax liabilities) timbul apabila beda waktu menyebabkan terjadinya koreksi negatif sehingga beban pajak menururt

akuntansi lebih besar daripada beban pajak menurut peraturan perpajakan.

Kewajiban pajak tangguhan adalah jumlah PPh terutang untuk periode

mendatang sebagai akibat adanya perbedaan temporer kena pajak.

Pencatatan dan Penyajiannya

Pengakuan aset dan kewajiban pajak tangguhan dilakukan terhadap rugi fiskal yang masih dapat dikompensasikan dan beda waktu antara laporan

keuangan komersial dengan laporan keuangan fiskal yang dikenakan pajak,

dikalikan dengan tarif pajak yang berlaku. Karena tarif Pajak Penghasilan

berubah-ubah dari waktu ke waktu, maka diperlukan suatu metode alokasi agar

‘12

3

Akuntansi Pajak

Pusat Pengembangan Bahan Ajar

Dr Harnovinsah Ak

Universitas Mercu Buana http://www.mercubuana.ac.id

7. PPh final:

a) Apabila nilai tercatat aset atau kewajiban yang berhubungan

dengan PPh final berbeda dari Dasar Pengenaan Pajaknya,

maka perbedaan pajak tersebut tidak boleh diakui sebagai aset

atau kewajiban pajak tangguhan.

b) Atas penghasilan yang telah dikenakan PPh final, beban pajak

diakui proporsional dengan jumlah pendapatan menurut

akuntansi yang diakui pada periode berjalan.

c) Selisih antara jumlah PPh final yang terutang dengan jumlah

yang dibebankan sebagai pajak kini pada perhitungan laba rugi

diakui sebagai Pajak Dibayar Dimula dan Utang Pajak.

d) Akun PPh final dibayar dimuka harus disajikan terpisah dari

PPh final yang masih harus dibayar.

8. Perlakuan akuntansi untuk hal khusus:

a) Jumlah tambahan pokok dan denda pajak yang ditetapkan

dalam Surat Ketetapan Pajak harus dibebankan sebagai

pendapatan atau beban lain-lain pada Laporan Laba Rugi

periode berjalan.

b) Apabila diajukan keberatan dan atau banding, pembebanannya

ditangguhkan.

c) Apabila terdapat kesalahan mendasar, perlakuan akuntansinya

mengacu pada PSAK 25 tentang Laba atau Rugi Bersih untuk

periode berjalan, kesalahan mendasar, dan perubahan

kebijakan akuntansi.

Penyajian dalam laporan keuangan:

Laba sebelum PPh

PPh:

xxx

Pajak Kini

xxx

Pajak Tangguhan

xxx

‘12

5

Akuntansi Pajak

Pusat Pengembangan Bahan Ajar

Dr Harnovinsah Ak

Universitas Mercu Buana http://www.mercubuana.ac.id