Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

“ PROSER PEMINDAHAN PASIEN KE BRANKAR “

DISUSUN OLEH :
1. Widodo (11409716032)
2. Ismal Fahmi (11409716011)
3. M AfrianNoor (11409716019)
4. Rizal Alanuari (11409715036)
5. Ainun Zairina (11409716037)
6. Jam’ah Juwita (11409716012)
7. Sandy Susanti (11409716059)

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN


AKADEMI KEPERAWATAN
KESDAM VI / TANJUNGPURA
JL MAYJEND SOETOYO S NO 468
BANJARMASIN
2018

1
LEMBAR PERSUTUJUAN ILMIAH

DI RUANG IBS RSUD ULIN BANJARMASIN

KELOMPOK 10 :
1. Widodo (11409716032)
2. Ismal Fahmi (11409716011)
3. M AfrianNoor (11409716019)
4. Rizal Alanuari (11409715036)
5. Ainun Zairina (11409716037)
6. Jam’ah Juwita (11409716012)
7. Sandy Susanti (11409716059)

TINGKAT : 2
SEMESTER : IV [EMPAT]

MENGETAHUI :

PEMBIMBING LAHAN PEMBIMBING AKADEMIK

2
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah berkenan memberi petunjuk
dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “TENTANG
PROSER PEMINDAHAN PASIEN DARI MEJA OPERASI KE BRANKAR “

Dalam menyelesaikan makalah ini penulis banyak sekali mendapat bantuan, dukungan
moril maupun materi dari berbagai pihak dan pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima
kasih kepada dosen pembimbing dan kepada teman-teman yang sudah memberikan bantuan dan
masukan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk
menyajikan yang terbaik, namun penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat
membangun dari pembaca. Semoga ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan dapat
dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

3
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................................................i

KATA PENGANTAR ............................................................................................................. ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1

A. Latar belakang ................................................................................................................ 1


B. Rumusan masalah .......................................................................................................... 1
C. Tujuan ............................................................................................................................ 1
D. Manfaat .......................................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................................... 3

A. Definisi ........................................................................................................................... 3
B. Tujuan ............................................................................................................................ 3
C. Persiapan ........................................................................................................................ 3
D. Penatalaksanaan ............................................................................................................. 3

BAB III PENUTUP .................................................................................................................. 4

A. Kesimpulan .................................................................................................................... 5
B. Saran .............................................................................................................................. 5

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 6

4
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Proses pemindahan pasien adalah suatu kegiatan yang dilakan pada klien dengan
kelemahan kemampuan fungsiaonal untuk berpindah posisi.

Berdasarkan masalah keselamatn, pengangkatan dan pemindahan pasien dibagi menjadi


2 macam, yatu pemindahan darurat dan pemindahan tidak darurat. Pemindahan darurat
adalah pemindahan yang hanya jika ada bahaya segera terhadap pasien maupun
penolong.pemindahan ini juga dapat menimbulkan resiko bertambah parahnya cedera
penderta terutama penderita yang mengalami cedera spinal. Pemindahan biasa adalah
pemindahan yang dapat dilakukan ketika pasien dilakukan penilaian awal, denyut nadi dan
nafas stabil, perdarahan sudah dikendalikan, tidak ada cedera leher.

Oleh karena itu, kami akan membahas kami tertarik untuk membuat makalah tentang
proses pemindahan pasien dari meja operasi ke brankar dan dari brankar ke meja operasi
agar lebih mengetahui tentang tata cara proses pemindahan pasien dan memperluas
pengetahuan tentang proses pemindahan pasien dari meja operasi ke brankar dan dari
brankar ke meja operasi.

B. Rumusan masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah “Bagaimana proses pemindahan pasien dari
meja operasi ke berankar dan dari brankar ke meja operasi dengan baik dan benar”

C. Tujuan
Tujuan penulis membuat makalah ini adalah :
1. Diketahuinya definisi proses pemindahan pasien
2. Diketahhuinya proses pemindahan pasien dari meja operasi ke brankar dan dari
brankar ke meja operasi dengan baik dan benar

5
D. Manfaat
1. Bagi pembaca
a. Pembaca dapat mengetahui, memahami konsep dasar penulisan karya ilmiah.
b. Pembaca dapat mengetahui dan memahami naskah ilmiah, jenis – jenis dan ciri –
ciri serta syarat – syarat dalam penulisan karya ilmiah.
c. Pembaca dapat mengetahui memahami dan mampu mengimplementasikan teori,
konsep dan langkah – langkah penuisan karya ilmiah dan unsur – unsur nya
d. Pembaca mengetahui, memahami tentang kajian kepusatakaan ntuk
meimplementasikan dan penulisan karya ilmiah.
2. Bagi penulis
a. Penulis dapat terlatih mengembangkan keterampilan membaca yang efektif sebelum
menulis karya ilmiah.
b. Penulis dapat terlatih menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber,
mengambil sarinya, dan mengembangkannya ketingkat pemikiran yang lebih
matang.
c. Penulis dapat meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasi dan menyajikan
data dan fakta secara jelas dan sistematis.
d. Penulis dapat memperoleh kepuasan intelektual
e. Penulis turut memperluas cakrawala ilmu pengetahuan masyarakat.

6
BAB II
PEMBAHASAN

1. Proses pemindahan pasien dari meja operasi ke brankar


A. Definisi
Proses pemindahan pasien adalah suatu kegiatan yang dilakukan pada klien dengan
kelemahan kemampuan fungsional untuk berpindah posisi dari brankar ke meja operasi dan
dari meja operasi ke brankar.

Berdasarkan masalah keselamatn, pengangkatan dan pemindahan pasien dibagi menjadi


2 macam, yatu pemindahan darurat dan pemindahan tidak darurat. Pemindahan darurat
adalah pemindahan yang hanya jika ada bahaya segera terhadap pasien maupun
penolong.pemindahan ini juga dapat menimbulkan resiko bertambah parahnya cedera
penderta terutama penderita yang mengalami cedera spinal. Pemindahan biasa adalah
pemindahan yang dapat dilakukan ketika pasien dilakukan penilaian awal, denyut nadi dan
nafas stabil, perdarahan sudah dikendalikan, tidak ada cedera leher.

B. Tujuan
a. Mengurangi/menghindarkan pergerakan pasien sesuai dengan keadaan fisiknya
b. Memberikan rasa nyaman dan aman kepada pasien
c. Mengurangi resiko cedera terhadap pasien

C. Persiapan
Alat :
a. Brankar
b. Selimut
c. Baju pasien

D. Penatalaksanaan
Tata cara proses pemindahan pasien dari meja operasi ke brankar atau sebaliknya
a. Jelaskan prosedur

7
b. Atur brankar dalam kondisi terkunci
c. Silangkan kan tangan pasien di atas dada
d. Petugas pertama berdiri dibagian kepala
e. Petugas kedua dan ketiga berdiri dibagian pinggang dan sebelah kanan dan kiri pasien
f. Petugas keempat dan keima berdiri di bagian kaki pasien di sebelah kanan dan kiri
g. Tangan petugas 1 memegang kedua bahu pasien dan menjepit kepala/leher dengan
menggunakan lengan petugas agar tidak terjadi benturan
h. Petugas 2 dan petugas 3 memegang selimut/kain yang ada dibelakang pasien dan
diangkat sesuai instruksi
i. Petugas 4 dan petugas 5 memegang selimut/kain yang ada di bawah kaki pasien dan
diangkat sesuai instruksi
j. Setelah siap, maka salah seorang petugas memberi aba – aba untuk bersama – sama
mengangkat pasien.
k. Dengan langkah bersamaan, berjalan menuju ketempat tidur/brankar yang telah
disiapkan
l. Setelah pasien berada diatas brankar, posisi pasien diatur, selimut dipasang atau
dirapikan

2. Proses memindahkan pasien dari tempat tidur ke brankar atau sebaliknya


1. Pengertian:
Adalah memindahkan pasien yang mengalami ketidakmampuan, keterbatasan, tidak
boleh melakkukan sendiri, atau tidak sadar dari tempat tidur ke brankar yang dilakukan
oleh dua atau tiga orang perawat.
2. Tujuan:
memindahkan pasien antar ruangan untuk tujuan tertentu (misalnya pemeriksaan
diagnostik, pindah ruangan, dll.)
3. Alat dan Bahan :
a. Brankar
b. Bantal bila perlu

4. Prosedur :

8
a. Ikuti protokol standar
b. Atur brankar dalam posisi terkunci dengan sudut 90 derajat terhadap tempat tidur
c. Dua atau tiga orang perawat menghadap ke tempat tidur/pasien
d. Silangkan tangan pasien ke depan dada
e. Tekuk lutut anda , kemudian masukkan tangan anda ke bawah tubuh pasien
f. Perawat pertama meletakkan tangan dibawah leher/bahu dan bawah pinggang,
perawat kedua meletakkan tangan di bawah pinggang dan panggul pasien, sedangkan
perawat ketiga meletakkan tangan dibawah pinggul dan kaki.
g. Pada hitungan ketiga, angkat pasien bersama-sama dan pindahkan ke brankar
h. Atur posisi pasien, dan pasang pengaman.
b. Lengkapi akhir protokol

3. Proses pemindahan pasien cedera


a. Cedera Kepala, Leher, dan Tulang Belakang
Cedera tulang belakang terutama mempengaruhi orang dewasa muda, dengan cedera
yang paling tinggi terjadi antara usia 16 dan 30. Namun, jumlah cedera tulang belakang
pada orang dewasa yang lebih tua adalah jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun
terakhir. Lebih dari 80% dari cedera tulang belakang terjadi pada laki-laki (NSCISC,
2009).

Tanda dan Gejala Cedera


Pasien tidak menunjukkan tingkat kesadaran yang berubah dan mereka yang tidak
mengganggu cedera atau defisit neurologis mungkin menunjukkan kelembutan atau nyeri
pada palpasi atau dengan gerakan. Jangan pernah memindahkan pasien atau meminta
mereka untuk bergerak atau melakukan rentang gerak (ROM) latihan untuk mendapatkan
respon nyeri. Nyeri yang independen dari gerakan atau palpasi dapat terwujud tidak
hanya di tulang belakang tetapi juga di kaki apakah ada pembengkakan atau cedera pada
saraf di sepanjang tulang belakang. Nyeri juga dapat disebabkan oleh kontraksi otot yang
dapat berubah di alam.
Deformitas tulang belakang yang jelas untuk dapat dicatat pada palpasi. Tergantung pada
derajat kelainan bentuk, ini dapat menimbulkan masalah ketika menempatkan pasien

9
terlentang pada papan tulang panjang. Masalah ini biasanya dapat diatasi dengan padding
papan untuk mengakomodasi deformitas.

Tanda-tanda cedera neurologis:

Mati rasa, kelemahan atau kesemutan pada ekstremitas


Kelumpuhan dalam satu atau lebih ekstremitas atau di bawah tingkat cedera
Hilangnya sensasi pada satu atau lebih ekstremitas atau di bawah tingkat cedera
Inkontinensia
Priapisme
Pernapasan kesulitan

b. Evakuasi, Stabilisasi, dan Transportasi pada Trauma Kepala, Leher, dan Tulang
Belakang
Kebanyakan para penolong yang tidak tahu cara-cara pengangkatan dan pemindahan
akan membuat cedera semakin parah pada saat pemindahan korban. Beberapa hal yang
harus diperhatikan oleh penolong saat melakukan pemindahan adalah:
 Kenali kemampuan diri dan kemampuan pasangan kita, jika tidak mampu jangan
paksakan
 Kedua kaki berjarak sebahu kita, satu kaki sedikit di depan kaki sebelahnya
 Berjongkok, jangan membungkuk saat mengangkat
 Tubuh sedekat mungkin dengan beban yang harus diangkat
Pada pasien dengan trauma servikal dan tulang belakang, pemindahan penderita harus
dilakukan dengan hati-hati dan tidap dapat dilakukan sendirian. Tiga penolong dengan
masing-masing penyangga bagian atas, tengah, dan bawah akan mengurangi
kemungkinan cedera lebih parah. Dalam memiringkan juga perlu dilakukan secara
bersama yang disebut dengan teknik log roll. Untuk menghindari cedera sekunder
gunakan bidai, long spine board dan neck colar untuk menstabilkan posisi
penderita.
Pemilihan sarana transportasi yang salah juga bisa menimbulkan cedera yang lebih parah
pada pasien. Idealnya transportasi pasien cedera kepala adalah menggunakan ambulan

10
dengan peralatan trauma. Tetapi untuk daerah yang akses pertolongan pertama oleh
ambulan tidak bisa cepat, jangan berlama-lama untuk menunggu datangnya ambulan.
Pilih mobil dengan kriteria sebagai berikut:
· Pilih mobil yang bisa membawa pasien dengan tidur terlentang
tanpa memanipulasi pergerakan tulang belakang, penolong leluasa bergerak
untuk memberikan pertolongan bila selama perjalanan terjadi sesuatu. Hal
yang juga penting selama perjalanan adalah komunikasi dengan pihak rumah sakit.
Dengan melaporkan kondisi korban, penanganan yang telah dan sedang
dilakukan termasuk meminta petunjuk dari petugas pelayanan gawat darurat rumah
sakit tentang apa yang harus dikerjakan bila menemui kesulitan. Pihak unit gawat darurat
juga dapat mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pertolongan korban
sesampainya di rumah sakit.

Prinsip Terapi Bagi Penderita Trauma Kepala, Leher, dan Tulang Belakang
1. Perlindungan terhadap trauma lebih lanjut
Penderita yang diduga mengalami cedera tulang belakang harus dilindungi terhadap
trauma lebih lanjut. Perlindungan ini meliputi, pemasangan kolar servikal semi
rigid dan long back board, melakukan modifikasi teknik log roll untuk mempertahankan
kesegarisan bagi seluruh tulang belakang, dan melepaskan long spine board secepatnya.
Imobilisasi dengan long spine board pada penderita yang mengalami paralisis akan
meningkatkan resiko terjadinya ulcus dekubitus pada titik penekanan. Karenanya , long
spine board harus dilepaskan secepatnya setelah diagnosa cedera tulang belakang
ditegakkan, contoh, dalam waktu 2 jam.
2. Resusitasi Cairan dan Monitoring
a. Monitoring CVP
Cairan intravena yang dibutuhkan umumnya tidak terlampau banyak, hanya
untuk maintenance saja, kecuali untuk keperluan pengelolaan syok. CVP harus dipasang
untuk memonitor pemasukan cairan secara hati hati.
b. Kateter urin
Pemasangan kateter dilakukan pada primary survey dan resusitasi, untuk memonitor
output urine dan mencegah terjadinya distensi kandung kencing.

11
c. Kateter Lambung
Kateter lambung harus dipasang pada seluruh penderita dengan paraplegia dan
kuadriplegia untuk mencegah distensi gaster dan aspirasi.

3. Penggunaan Steroid
Penggunaan kortikosteroid, bila memungkinkan dipergunakan bagi penderita dengan
defisit neurologist yang disebabkan bukan karena luka tembus kurang dari 8 jam pasca
trauma. Obat pilihan adalah metilprednisolon (30 mg/kg), diberikan secara intravena
dalam waktu kurang lebih 15 menit. Dosis awal dilanjutkan dengan dosis maintenance
5,4 mg/kg per jam untuk 24 jam berikutnya dimulai antara 3 jam pasca trauma, atau
untuk 48 jam bila pemberian awal antara 3 dan 8 jam pasca trauma, kecuali jika
ditemukan adanya komplikasi.

Prinsip Melakukan Imobilisasi Tulang Belakang Dan Log Roll


Penderita dewasa
Empat orang dibutuhkan untuk melakukan prosedur modifikasi log roll dan imobilisasi
penderita, seperti pada long spine board:
(1) satu untuk mempertahankan imobilisasi segaris kepala dan leher penderita;
(2) satu untuk badan (termasuk pelvis dan panggul);
(3) satu untuk pelvis dan tungkai; dan
(4) satu mengatur prosedur ini dan mencabut spine board.

Prosedur ini mempertahankan seluruh tubuh penderita dalam kesegarisan, tetapi masih
terdapat gerakan minimal pada tulang belakang. Saat melakukan prosedur ini, imobilisasi
sudah dilakukan pada ekstremitas yang diduga mengalami fraktur.
1) Long spine board dengan tali pengikat dipasang pada sisi penderita. Tali pengikat ini
dipasang pada bagian toraks, diatas krista iliaka, paha, dan diatas pergelangan kaki.
Tali pengikat atau plester dipergunakan untuk memfiksasi kepala dan leher penderita
ke long spine board.
2) Dilakukan in line imobilisasi kepala dan leher secara manual, kemudian dipasang
kolar servikal semirigid.

12
3) Lengan penderita diluruskan dan diletakkan di samping badan.
4) Tungkai bawah penderita diluruskan secara hati-hati dan diletakkan dalam posisi
kesegarisan netral sesuai dengan tulang belakang. Kedua pergelangan kaki diikat satu
sama lain dengan plester.
5) Pertahankan kesegarisan kepala dan leher penderita sewaktu orang kedua memegang
penderita pada daerah bahu dan pergelangan tangan. Orang ke tiga memasukkan
tangan dan memegang panggul penderita dengan satu tangan dan dengan tangan yang
lain memegang plester yang mengikat ke dua pergelangan kaki.
6) Dengan komando dari penolong yang mempertahankan kepala dan leher,
dilakukan log roll sebagai satu unit ke arah ke dua penolong yang berada pada sisi
penderita, hanya diperlukan pemutaran minimal untuk meletakkan spine board di
bawah penderita. Kesegarisan badan penderita harus dipertahankan sewaktu
menjalankan prosedur ini.

7) Spine board diletakkan dibawah penderita, dan dilakukan log roll ke arah spine
board. Harap diingat, spine board hanya digunakan untuk transfer penderita dan
jangan dipakai untuk waktu lama.

13
8) servikal untuk menjamin tidak adanya gerakan pada kepala dan leher. Untuk
mencegah terjadinya hiperekstensi leher dan kenyamanan penderita, maka diperlukan
bantalan yang diletakkan dibawah kepala penderita.
9) Bantalan, selimut yang dibulatkan atau alat penyangga lain ditempatkan di kiri dan
kanan kepala dan leher penderita, dan kepala penderita diikat ke long spine
board. Juga dipasang plester di atas kolar

Penderita Anak-anak
Untuk imobilisasi anak diperlukan long spine board pediatrik. Bila tidak ada, maka dapat
menggunakan long spine board untuk dewasa dengan gulungan selimut diletakkan di seluruh sisi
tubuh untuk mencegah pergerakan ke arah lateral.
 Proporsi kepala anak jauh lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa, oleh karena itu
harus dipasang bantalan dibawah bahu untuk menaikkan badan, sehingga kepala yang besar
pada anak tidak menyebabkan fleksi tulang leher, sehingga dapat mempertahankan
kesegarisan tulang belakang anak. Bantalan dipasang dari tulang lumbal sampai ujung bahu
dan kearah lateral sampai di ujung board.

14
Imobilisasi untuk penderita dengan kemungkinan cedera tulang belakang
Penderita umumnya datang ke bagian gawat darurat dengan alat perlindungan tulang
belakang. Alat ini menyebabkan pemeriksa harus memikirkan adanya cedera tulang vertebra
servikal atau torakolumbal, berdasarkan dari mekanisme cedera. Pada penderita dengan
cedera multipel dengan penurunan tingkat kesadaran, alat perlindungan harus dipertahankan
sampai cedera pada tulang belakang disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan radiologis.
Bila penderita diimobilisasi dengan spine board dan paraplegia, harus diduga adanya
ketidakstabilan tulang belakang dan perlu dilakukan pemeriksaan radiologis untuk
mengetahui letak dari cedera tulang belakang. Bila penderita sadar, neurologis normal, tidak
mengeluh adanya nyeri leher atau nyeri pada tulang belakang, dan tidak terdapat nyeri tekan
pada saat palpasi tulang belakang, pemeriksaan radiologis tulang belakang dan imobilisasi
tidak diperlukan.
Penderita yang menderita cedera multipel dan dalam keadaan koma harus tetap
diimobilisasi pada usungan dan dilakukan tindakan log roll untuk mengetahui foto yang
diperlukan untuk menyingkirkan adanya suatu fraktur. Kemudian penderita dapat ditransfer
secara hati-hati dengan menggunakan prosedur tersebut di atas ke tempat tidur untuk bantuan
ventilasi yang

15
4. Proses pemindahan pasien menggunakan EASY MOVE
a. Pengertian
Easy Move pasien adalah sebagai alat pasien agar mudah dipindahkan dari bed pasien ke
brangkar atau ke meja operasi dengan cara menggeser tanpa mengangkat pasien , cukup
di lakukan oleh 2 orang atau bahkan dapat di lakukan oleh 1 orang

b. Keuntungan menggunakan Easy Move

 Mampu menopang berat beban pasien 200 Kg


 Meringankan kerja pasien
 mengurangi resiko terjadinya HNP & LBP
 Menjadi landasan proses RJP

16
GAMBAR 1
CARA MEMINDAHKAN PASIEN KE BRANKAR DENGAN 2 ORANG

17
GAMBAR 2
CARA MEMINDAHAN PASIEN KE BRANKAR DENGAN 2 ORANG

CARA MEMINDAHKAN PASIEN KE BRANKAR DENGAN 3 ORANG

18
19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Proses pemindahan pasien adalah suatu kegiatan yang dilakan pada klien dengan
kelemahan kemampuan fungsional untuk berpindah posisi dari brankar ke meja operasi dan
dari meja operasi ke brankar.

Berdasarkan masalah keselamatn, pengangkatan dan pemindahan pasien dibagi menjadi


2 macam, yatu pemindahan darurat dan pemindahan tidak darurat. Pemindahan darurat
adalah pemindahan yang hanya jika ada bahaya segera terhadap pasien maupun
penolong.pemindahan ini juga dapat menimbulkan resiko bertambah parahnya cedera
penderta terutama penderita yang mengalami cedera spinal. Pemindahan biasa adalah
pemindahan yang dapat dilakukan ketika pasien dilakukan penilaian awal, denyut nadi dan
nafas stabil, perdarahan sudah dikendalikan, tidak ada cedera leher.

B. Saran
Agar setiap perawat dapat mengenal dan mengetahui tata cara pemindahan pasien dari
meja operasi ke brankar atau sebaiknya dengan baik. Dalam praktek dimanapun berada
khususnya diruang Instalasi Bedah Sentral.

20
DAFTAR PUSTAKA

Perry,peterson,potter; Buku Saku Keterampilan dan Prosedur Dasar


Azis Alimul Hidayat, S.Kp; Buku Saku Praktikum KDM
WHO.2005. Pedoman Perawatan Pasien. Jakarta:EGC
Http://andaners.wordpress.com/2009/06/19/memindahkan-pasien-dari-tempat-
tidur-ke-brankar/
Http://Tiaralupitasari.blogspot.com/2012/01/teknik-memindahkan-dan-
transportasi.html

21