Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang


termasuk di Indonesia, dan merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan
tertinggi pada anak, terutama usia dibawah 5 tahun.1,2 Perkiraan konservatif
menempatkan angka kematian global dari penyakit diare sekitar dua juta kematian
pertahun (1,7 juta-2,5 juta kematian), merupakan peringkat ketiga diantara semua
penyebab kematian penyakit menular di seluruh dunia.2

Sebagai gambaran 17% kematian anak di dunia disebabkan oleh diare


sedangkan di Indonesia hasil Riskesdas 2007 diperoleh bahwa diare masih
merupakan penyebab kematian bayi yang terbanyak yaitu 42% dibanding pneumonia
24%, untuk golongan 1-4 tahun penyebab kematian karena diare 25,2% dibanding
pneumonia 15,5%.1 Dari daftar urutan penyebab kunjungan Puskesmas atau Balai
pengobatan, hampir selalu termasuk dalam kelompok 3 penyebab utama ke
puskesmas. Angka kesakitannya adalah sekitar 200-400 kejadian diare diantara 1000
penduduk setiap tahunnya. Dengan demikian di Indonesia diperkirakan ditemukan
penderita diare sekitar 60 juta kejadian setiap tahunya, sebagian besar (70-80%) dari
penderita ini adalah anak dibawah umur 5 tahun (+ 40 juta kematian). Kelompok ini
setiap tahunnya mengalami lebih dari satu kali kejadian diare. Sebagian dari penderita
(1-2%) akan jatuh dalam dehidrasi dan kalau tidak segera ditolong 50-60%
diantaranya dapat meninggal.3

Menurut data Riskesdas 2013, insiden diare balita di Indonesia adalah 6,7
persen. Lima provinsi dengan insiden diare tertinggi adalah Aceh (10,2%), Papua
(9,6%), DKI Jakarta (8,9%), Sulawesi Selatan (8,1%), dan Banten (8,0%).
Karakteristik diare balita tertinggi terjadi pada kelompok umur 12-23 bulan (7,6%),
laki-laki (5,5%), tinggal di daerah pedesaan (5,3%).4

1
Laporan epidemiologi menunjukkan bahwa 600.000 dari 140 juta pasien
shigellosis meninggal setiap tahun di seluruh dunia. Data di Indonesia
memperlihatkan 29% kematian diare terjadi pada umur 1 sampai 4 tahun disebabkan
oleh Disentri basiler. Laporan dari di Amerika Serikat memperkirakan sebanyak 6000
dari 450.000 kasus diare per tahun dirawat di rumah sakit, di Inggris 20.000-50.000
kasus per tahun, sedangkan di Mediterania Timur dilaporkan kematian ± 40.000 kasus
(rata rata case fatality rate 4%)5.

Diare juga erat hubununganya dengan kejadian kurang gizi. Setiap episode
diare dapat menyebabkan kekurangan gizi oleh karena adanya anorexia dan
berkurangnya kemampuan menyerap sari makanan, sehingga apabila episodenya
berkepanjangan akan berdampak pada pertumbuhan dan kesehatan anak.1

1.2 Batasan Masalah

Karya tulis ini membahas tentang definisi, klasifikasi, epidemiologi, etiologi,


patogenesis, gambaran klinis, penegakan diagnosis dan tatalaksana diare akut

1.3 Tujuan Penulisan

Penulisan karya tulis ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai


definisi, klasifikasi, epidemiologi, etiologi, patogenesis, gambaran klinis, penegakan
diagnosis dan tatalaksana diare akut

1.4. Metode Penulisan

Karya tulis ini disusun berdasarkan tinjauan kepustakaan yang merujuk


kepada berbagai sumber.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Diare adalah penyakit yang ditandai dengan betambahnya frekuensi defekasi


lebih dari biasanya (>3x perhari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair),
dengan atau tanpa darah dan atau lendir.3

Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari,
disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah
yang berlangsung kurang dari satu minggu. Pada bayi yang minum ASI sering
frekuensi buang air besar lebih dari 3-4 kali perhari, keadaan ini tidak dapat disebut
diare, tetapi masih bersifat fisiologis atau normal. Selama berat badan bayi meningkat
normal, hal tersebut tidak tergolong diare , tetapi merupakan intoleransi laktosa
sementara akibat belum sempurnanya perkembangan saluran cerna. Untuk bayi yang
minum ASI secara eksklusif definisi diare yang praktis adalah meningkatnya
frekuensi buang air besar atau konsistesinya menjadi cair yang menurut ibunya
abnormal atau tidak seperti biasanya. Kadang-kadang pada seorang anak buang air
besar kurang dari 3 kali perhari, tetapi konsistesinya cair, keadaaan ini sudah dapat
disebut diare.1

2.2 Epidemiologi

Menurut data Riskesdas 2013, insiden diare balita di Indonesia adalah 6,7
persen. Lima provinsi dengan insiden diare tertinggi adalah Aceh (10,2%), Papua
(9,6%), DKI Jakarta (8,9%), Sulawesi Selatan (8,1%), dan Banten (8,0%).
Karakteristik diare balita tertinggi terjadi pada kelompok umur 12-23 bulan (7,6%),
dengan angka kejadian laki-laki lebih banyak dari pada perempuan yaitu 5,5%.
Daerah yang banyak insiden diare yaitu anak yang tinggal di daerah pedesaan (5,3%),
dan dari kalangan ekonomi menengah ke bawah (6,2%).4

3
Laporan epidemiologi menunjukkan bahwa 600.000 dari 140 juta pasien
shigellosis meninggal setiap tahun di seluruh dunia. Data di Indonesia
memperlihatkan 29% kematian diare terjadi pada umur 1 sampai 4 tahun disebabkan
oleh Disentri basiler. Laporan dari di Amerika Serikat memperkirakansebanyak 6000
dari 450.000 kasus diare per tahun dirawat di rumah sakit,12 di Inggris 20.000-50.000
kasus per tahun, sedangkan di Mediterania Timur dilaporkan kematian ± 40.000 kasus
(rata rata case fatality rate 4%).7 Tingginya insidens dan mortalitas dihubungkan
dengan status sosial ekonomi yang rendah, kepadatan penduduk, dan kebersihan yang
kurang.6

2.3 Cara penularan dan faktor resiko

Cara penularan diare pada umumnya melalui fekal oral yaitu melalui
makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung
tangan dengan penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau
tidak langsung melalui lalat 1

Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara lain:


tidak memberikan ASI secara penuh selama 4-6 bulan pertama kehidupan bayi, tidak
memadainya penyediaan air bersih, pencemaran air oleh tinja, kurangnya sarana
kebersihan atau MCK, kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk, penyiapan dan
penyimpanan makanan yang tidak higienis dan cara penyapihan yang tidak baik.
Selain hal-hal tersebut, beberapa faktor pada penderita dapat meningkatkan
kecenderungan untuk dijangkiti diare antara lain: gizi buruk, imunodefisiensi,
berkurangnya keasaman lambung, menurunya motilitas usus, menderita campak
dalam 4 minggu terakhir dan faktor genetik. 1

2.4 Etiologi

Penyebab infeksi utama timbulnya diare umumnya adalah golongan virus,


bakteri dan parasit. dua tipe dasar dari diare akut oleh karena infeksi adalah non-
inflamatory dan inflammatory.1,7

4
Enteropatogen menimbulkan non-inflamatory diare melalui produksi
enterotoksin oleh bakteri, destruksi sel permukaan villi oleh virus, perlekatan oleh
parasit, perlekatan dan/ atau translokasi dari bakteri. Sebaliknya inflammatoyi diare
biasanya disebabkan oleh bakteri yang menginvasi usus secara langsung atau
memproduksi sitotoksin.1

Tabel 1. Penyebab diare akut yang dapat menyebabkan diare pada manusia1

GOLONGAN BAKTERI GOLONGAN VIRUS GOLONGAN PARASIT


Aeromonas Astrovirus Balantidiom coli
Bacillus cereus Calcivirus (Norovirus, Sapovirus) Blastocystis homonis
Canpilobacter jejuni Enteric adenovirus Crytosporidium parvum
Clostridium perfringens Corona virus Entamoeba histolytica
Clostridium defficile Rotavirus Giardia lamblia
Eschercia coli Norwalk virus Isospora belli
Plesiomonas shigeloides Herpes simplek virus Strongyloides stercoralis
Salmonella Cytomegalovirus Trichuris trichiura
Shigella
Staphylococcus aureus
Vibrio cholera
Vibrio parahaemolyticus
Yersinia enterocolitica

Tabel 2. Frekuensi Enteropatogen penyebab diare pada angka usia <5 tahun

5
Tabel 3. Tabel Enteropatogen pathogen penyebab diare yang tersering berdasarkan
umur 7

Disamping itu penyebab diare nonifeksi yang dapat menimbulkan daire pada anak
antara lain:

Tabel 4. Penyebab diare nonifeksi pada anak


Kesulitan makanan Neoplasma
 Neuroblastoma
 Phaeochromocytoma
 Sindroma Zollinger Ellison
Defek anatomis Lain-lain:
 Malrotasi  Infeksi non gastrointestinal

6
 Penyakit Hirchsprung  Alergi susu sapi
 Short Bowel Syndrome  Penyakit Crohn
 Atrofi mikrovilli  Defisiensi imun
 Stricture  Colitis ulserosa
 Ganguan motilitas usus
 Pellagra
Malabsorbsi Keracunan makanan
 Defesiensi disakaridase  logam berat
 Malabsorbsi glukosa dan  Mushrooms
galaktosa
 Cystic fibrosis
 Cholestosis
 Penyakit celiac
Endokrinopati
 Thyrotoksikosis
 Penyakit Addison
 Sindroma Androgenital

Shigellosis atau disentri basiler merupakan penyakit infeksi saluran


pencernaan yang ditandai dengan diare cair akut atau dan disentri (tinja bercampur
darah, lendir, dan nanah), pada umumnya disertai demam dan nyeri perut. Penyakit
ini ditularkan melalui jalan fekal-oral dengan masa inkubasi 1-7 hari, untuk terjadinya
penularan tersebut diperlukan dosis minimal penularan 100 bakteri Shigella sp.
Berdasarkan aspek biokimia dan serologi, Shigella sp. dibagi menjadi 4 spesies, yaitu
S.dysentriae (serogroup A), S.flexneri (serogroup B), S.boydii (serogroup C) dan
S.sonei (serogroup D). Golongan Shigella yang sering menyerang manusia ialah
S.dysenteriae, S.flexneri, S.boydii dan S.sonnei. Di daerah tropis yang sering
ditemukan ialah S.dysenteriae dan S.flexneri, sedangkan S.sonnei lebih sering
dijumpai di daerah sub tropis atau daerah industry.8

7
2.5 Patofisiologi

Ada 2 prinsip mekanisme terjadinya diare cair, yaitu sekeretorik dan osmotik.
Meskipun dapat melalui kedua mekanisme tersebut, diare sekretorik lebih sering
ditemukan pada infeksi saluran cerna. begitu pula kedua mekanisme tersebut dapat
terjadi bersamaan pada satu anak.1,9

1. Diare osmotik

Mukosa usus halus adalah epitel berpori, yang dapat dilalui oleh air dan
elektrolit dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara lumen usus
dengan cairan ekstrasel. Adanya bahan yang tidak diserap, menyebabkan bahan
intraluminal pada usus halus bagian proksimal tersebut bersifat hipertoni dan
menyebabkan hiperosmolaritas. Akibat perbedaan tekanan osmose antara lumen usus
dan darah maka pada segmen usus jejunum yang bersifat permeable, air akan
mengalir kea arah jejunum, sehingga akan banyak terkumpul air dalam lumen usus.
Na akan mengikuti masuk ke dalam lumen, dengan demikian akan terkumpul cairan
intraluminal yang besar dengan kadar Na normal. Sebagian kecil cairan ini akan
dibawa kembali, akan tetapi lainya akan tetap tinggal di lumen oleh karena ada bahan
yang tidak dapat diserap seperti Mg, glukosa, sucrose, lactose, maltose di segmen
ileum dan melebihi kemampuan absorbs kolon, sehinga terjadi diare. Bahan-bahan
seperti karbohidrat dan jus buah, atau bahan yang mengandung sorbitol dalam jumlah
berlabihan akan memberikan dampak yang sama.1

2. Diare Sekretorik

Diare sekterik disebabkan oleh sekresi air dan elektrolit ke dalam usus halus
yang terjadi akibat gangguan absorbs natrium oleh vilus saluran cerna, sedangkan
sekresi klorida tetap berlangsung atau meningkat. Keadaan ini menyebabkan air dan
elektrolit keluar dari tubuh sebagai tinja cair. Diare sekretorik ditemukan diare yang
disebabkan oleh infeksi bakteri akbat rangsangan pada mukosa usus halus oleh toksin
E.coli atau V. cholera.01.7

8
Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebakan diare pada beberapa
keadaan. Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction, tekanan
hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfatik menyebabkan air, elektrolit, mucus,
protein dan seringkali sel darah merah dan sel darah putih menumpuk dalam lumen.
Biasanya diare akibat inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lainya seperti diare
osmotik dan sekretorik.1

Shigella termasuk dalam famili Enterobacteriacae, gram negatif berbentuk


batang, tidak bergerak, tidak berkapsul, dan lebih tahan asam dibanding
enteropatogen lain. Shigella mampu menginvasi permukaan sel epitel kolon, jarang
menembus sampai melewati mukosa, sehingga tidak ditemukan pada biakan darah
walaupun ada gejala hiperpireksia dan toksemia. Setelah menginvasi enterosit kolon,
terjadilah perubahan permukaan mikrovili dari brush border yang menyebabkan
pembentukan vesikel pada membran mukosa. Selanjutnya dapat menghancurkan
vakuola fagositik intraselular, memasuki sitoplasma untuk memperbanyak diri dan
menginvasi sel yang berdekatan. Kemampuan menginvasi sel epitel ini dihubungkan
dengan adanya plasmid besar (120-140 Mdal) yang mampu mengenali bagian luar
membran protein seperti plasmid antigen invasions (Ipa). Sel epitel akan mati dan
terjadi ulserasi serta inflamasi mukosa. Dari bagian yang mengalami inflamasi
tersebut shigella menghasilkan ekso-toksin yang berdasarkan cara kerja toksin
dikelompokkan menjadi neurotoksik, enterotoksik, dan sitotoksik. Toksin yang
terbentuk inilah yang menimbulkan berbagai gejala shigellosis, seperti demam,
malaise, dan nyeri otot.10,11

2.6 Manifestasi klinis

Infeksi usus menimbulkan tanda dan gejala gastrointestinal serta gejala lainya
bila terjadi komplikasi ekstraintestinal termasuk manifestasi neurologic. Gejala
gastrointestinal bisa berupa diare, kram perut, dan muntah. Sedangkan manifestasi
sistemik bervariasi tergantung pada penyebabnya.1

9
Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah
ion natrium, klorida dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila
ada muntah dan kehilangan air juga akan meningkat bila ada panas. Hal ini dapat
menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolic, dan hipokalemia. Dehidrasi merupakan
keadaan yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps
kardiovaskular dan kematian bila tidak diobati dengan tepat. Dehidrasi yang terjadi
menurut tonisistas plasma dapat berupa dehidrasi isotonic, dehidrasi hipertonik
( hipernatremik) atau dehidrasi hipotonik. Menurut derajat dehidrasinya bias tanpa
dehidrasi, dehidrasi ringan, dehidrasi sedang, dehidrasi berat.1.

Bila terdapat demam dimungkinkan karena proses peradangan atau akibat


dehidrasi. Demam umum terjadi pada penderita dengan inflammatory diare. Nyeri
perut yang lebih hebat dan tenesmus terjadi pada perut bagian bawah serta rectum
menunjukan terkenanya usus besar. Mual dan muntah adalah simptom yang
nonspesifik akan tetapi muntah mungkin disebabkan oleh karena mikroorganisme
yang menginfeksi saluran cerna bagian atas seperti: enteric virus, bakteri yang
memproduksi enteroroksin, giardia, dan cryptosporidium.

2.7 Diagnosis

1. Anamnesis

Pada anamnesis perlu ditanyakan hal-hal sebagai berikut : lama diare,


frekuensi, volume, konsistensi tinja, warna, bau, ada/tidak lendir dan darah, disertai
muntah, adakah demam atau penyakit lain yang menyertai seperti: batuk, pilek, otitis
media, campak.1

Pada disentri atau shigellosis sering ditemukan cerak-berak encer dengan


darah merah yang terlihat. Temuan lain pada pemeriksaan meliputi1:
- Nyeri perut
- Demam
- Kejang

10
- Letargi
- Dehidrasi
- Prolaps rektum

2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa : berat badan, suhu tubuh, frekuensi
denyut jantung dan pernapasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tanda-
tanda tambahan lainya: ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata: cekung atau tidak,
ada atau tidak adanya air mata, bibir, mukosa mulut dan lidah kering atau basah.1
Pernapasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asiodosis metabolic. Bising
usus yang lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemia. Pemeriksaan ekstremitas
perlu karena perfusi dan capillary refill dapat menentukan derjat dehidrasi yang
terjadi. Penilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat ditentukan dengan cara:
objektif yaitu dengan membandingkan berat badan sebelum dan sesudah diare1

Tabel 5. Penetuan derajat dehidrasi menurut WHO

3. Pemeriksaan Laboratorium

11
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut pada umumnya tidak
diperkukan, hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan misalnya penyebab
dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau pada
penderita dengan dehidrasi berat. Contoh: pemeriksaan darah lengkap, kultur
urine dan tinja pada sepsis atau infeksi saluran kemih. Pemeriksaan laboratorium
yang kadang-kadang diperlukan pada diare akut:1

 darah : darah lengkap, serum eleketrolit, analisa gas darah, glukosa darah, kultur
dan tes kepekaan terhadap antibiotika

 urine: urine lengkap, kultur dan test kepekaan terhadap antibiotika

 tinja:

a. Pemeriksaan makroskopik

Pemeriksaan makroskopik tinja perlu dilakukan pada semua penderita


dengan diare meskipun pemeriksaan labotarium tidak dilakukan. Tinja yang
watery dan tanpa mucus atau darah biasanya disebabkan oleh enteroksin virus,
prontozoa, atau disebabkan oleh infeksi diluar saluran gastrointestinal. Tinja
yang mengandung darah atau mucus bias disebabkan infeksi bakteri yang
menghasilkan sitotoksin bakteri enteronvasif yang menyebabkan peradangan
mukosa atau parasit usus seperti : E. hystolitica, B.coli , T.trichiura. Apabila
terdapat darah biasanya bercampur dalam tinja kecuali pada infeksi dengan
E.hystolitica darah sering terdapat pada permukaan tinja dan pada infeksi
dengan Salmonella, Giardia, Cryptosporidium dan Strongyloides.

Pemeriksaan makroskopik mencakup warna tinja, konsistesi tinja, bau


tinja, adanya lendir, adanya darah, adanya busa.

b. Pemeriksaan mikroskopik

Infeksi bakteri invasive ditandai dengan ditemukannya sejumlah besar


leukosit dalam tinja yang menunjukan adanya proses inflamasi:12

12
 bila terdapat 1-5 leukosit perlapang pandang besar disebut negative

 bila terdapat 5-10 leukosit per lapang pandang besar disebut (+)

 bila terdapat 10-20 leukosit per lapang pandang besar disebut (++)

 bila terdapat leukosit lebih dari ½ lapang pandang besar disebut (+++)

 bila leukosit memenuhi seluruh lapang pandang besar disebut (++++)

2.8 Tatalaksana
Prinsip tatalaksana diare pada anak adalah terapi rehidrasi oral, pemberian
makanan, suplemen zinc, medikamentosa yang tepat dan edukasi. Dehidrasi harus
segera dikoreksi dalam 4-6 jam sesuai derajat dehidrasi dan perkirakan kebutuhan
hariannya. Pada anak diare dengan dehidrasi berat bahkan syok, atau tidak bisa
dengan rehidrasi oral, membutuhkan rehidrasi inisial melalui intravena.

Pemberian cairan pada dehidrasi harus disesuaikan dengan derajat dehidrasi,


yaitu:
a. Tanpa dehidrasi  oralit baru 5-10cc/kg setiap muntah atau diare, atau
pada umur < 1 tahun sebanyak 50-100cc, umur 1-5 tahun sebanyak 100-
200cc, umur >5 tahun semaunya. ASI terus diberikan.
Pasien dapat dirawat dirumah, kecuali bila ada komplikasi (tidak mau
minum, muntah terus menerus, diare frekuen)
b. Dehidrasi ringan-sedang  oralit baru (hipoosmolar) 75cc/kg dalam 3
jam untuk mengganti cairan yang hilang dan sebanyak 5-10cc/kg setiap
muntah dan diare. Cairan intravena diberikan bila anak tetap muntah
setiap deberi cairan oral. Cairan yang diberikan adalah ringer laktat atau
KaEN 3B atau NaCl, dengan jumlah cairan sesuai dengan berat badan ,
yaitu:
- Berat badan 3-10 kg : 200cc/kg/hari
- Berat badan 10-15 kg : 175 cc/kg/hari
- Berat badan >15 kg : 135 cc/kg/hari
Pada anak dengan dehidrasi ringan-sedang harus dipantau di pojok
Upaya Rehidrasi Oral (URO) untuk meningkatkan pengetahuan dan

13
berperan aktif dalam penanggulangan diare pada anak, promosi upaya
rehidrasi oral dan pemberian pelayanan bagi penderita. Penderita
diobservasi selama minimal 3 jam.
c. Dehidrasi berat  Rehidrasi parenteral RL 100cc/kg dengan cara
pemberian:
- Umur < 12 bulan: 30cc/kg dalam 1 jam pertama, 70cc/kg dalam 5 jam
berikutnya
- Umur > 12 bulan: 30 cc/kg dalam 30 menit pertama, 70cc/kg dalam 2,5
jam berikutnya.
- Berikan cairan peroral bila pasien mau minum, dimulai dengan 5cc/kg
selama proses rehidrasi.

Larutan rehidrasi oral yang direkomendasikan WHO atau dikenal juga


dengan oralit baru menjadi pilihan untuk mengatasi dehidrasi. Oralit baru ini adalah
oralit dengan osmolaritas yang rendah yang dapat menurunkan kebutuhan cairan
intravena dan mengurangi pengeluaran tinja hingga 20% serta mengurangi kejadian
muntah hingga 30%. Oralit baru ini mengandung natrium 75 mmol/L, klorida
65mmol/L, kalium 20mmol/L, dan glukosa 75mmol/L, sitrat 10mmol/L, dengan
osmolaritas total 245mOsm/L.
Pemberian larutan rehidrasi oral harus diberikan perlahan, terutama apabila
ada muntah. Ketentuan pemakaian oralit formula baru:1
a. Beri ibu 2 bungkus oralit
b. Larutkan 1 bungkus oralit dalam 1 liter air matang untuk persediaan 24 jam.
c. Berikan larutan oralit pada anak setiap kali buang air besar, dengan
ketentuan sebagai berikut:
 Untuk anak dengan berat badan < 10 kg, berikan 60-120 cc setiap
buang air besar atau muntah
 Untuk anak dengan berat badan > 10 kg, berikan 120-240 cc setiap
buang air besar atau muntah
d. Jika dalam waktu 24 jam persediaan larutan oralit masih tersedia, maka sisa
larutan harus dibuang.
Pemberian zinc dapat mengurangi lama dan beratnya diare, serta dapat
meningkatkan nafsu makan anak. Zinc diberikan selama 10-14 hari dengan dosis
untuk anak dibawah umur 6 bulan 10mg (½ tablet) per hari, dan untuk anak diatas

14
umur 6 bulan 20 mg (1 tablet) per hari. Tablet zinc dapat dilarutkan dalam ASI air
matang atau oralit13.
ASI dan makanan harus tetap diberikan sesuai dengan umur pasien, untuk
mencegah kehilangan berat badan dan sebagai pengganti nutrisi yang hilang. Anak
tidak boleh dipuasakan, makanan diberikan sedikit-sedikit tapi sering (±6 kali sehari),
rendah serat.
Antibiotik harus diberikan sesuai dengan indikasi seperti diare berdarah atau
kolera. Pemberian antibiotik yang tidak rasional akan memperpanjang lamanya diare,
karena mengganggu keseimbangan flora normal usus dan menyebabkan resistensi
obat. Agen antimotilitas seperti loperamid kontraindikasi diberikan pada anak-anak
dengan diare berdarah karena akan menunda eliminasi agen infeksius dari saluran
cerna, selain itu tidak memiliki peran yang penting dalam mengatasi diare akut pada
anak. Antiemetik perlu diberikan untuk mengoptimalkan terapi rehidrasi, obat yang
aman adalah ondansentron13.

Gambar 2.1 Antibiotik Empiris untuk Diare Infeksi Bakteri14


2.9 Edukasi
Beberapa edukasi yang dapat diberikan kepada ibu atau pengasuh adalah
sebagai berikut:1
a. ASI dan makan tetap dilanjutkan.
b. Apabila anak diare dan tidak tersedia oralit, maka dapat diberikan air tajin,
larutan gula dan garam, kuah sayur-sayuran, dan sebagainya (bila tidak ada
tanda dehidrasi).

15
c. Lengkapi imunisasi
d. Tingkatkan sanitasi dan kebersihan lingkungan, penyediaan air bersih, serta
cuci tangan yang benar sebelum makan.
e. Harus segera membawa anak ke rumah sakit apabila anak demam, buang air
besar berdarah, makan atau minum sedikit, sangat haus, diare semakin sering,
belum membaik dalam 3 hari.

2.10 Komplikasi
1. Gangguan elektrolit
 Hipernatremia
 Hiponatremia
 Hiperkalemia
 Hipokalemia
2. Edema/overhidrasi
Terjadi bila penderita mendapat cairan terlalu banyak. Tanda dan gejala
yang tampak biasnya edema kelopak mata, kejang-kejang dapat terjadi bila
ada edema otak. Edema paru-paru dapat terjadi pada penderita dehidrasi berat
yang diberi larutan garam faali. Pengobatan dengan pemberian cairan
intravena dan atau oral dihentikan, kortikosteroid jika kejang.3
3. Ileus paralitik
Komplikasi yang penting dan sering fatal, terutama terjadi pada anak
kecil sebagai akibat penggunaan obat antimotilitas. Tanda dan gejala berupa
perut kembung, muntah, peristaltik usus berkurang atau tidak ada. Pengobatan
dengan cairan per oral dihentikan, beri cairan parenteral yang mengandung
banyak kalium.3
4. Muntah
Muntah dapat disebabkan oleh dehidrasi, iritasi usus atau gastritis yang
menyebabkan gangguan fungsi usus atau mual yang berhubungan dengan
infeksi sistemik. Muntah dapat juga disebabkan karena pemberian cairan oral
terlalu cepat. Tindakan: berikan oralit sedikit-sedikit tetapi sering (1 sendok

16
makan tiap 2-3 menit), antiemetic sebaiknya tidak diberikan karena sering
menyebabkan penurunan kesadaran.3
5. Akut kidney injury
Mungkin terjadi pada penderita diare dengan dehidrasi berat dan syok.
Didiagnosis sebagai AKI bila pengeluaran urin belum terjadi dalam waktu 12
jam setelah hidrasi cukup.3
2.11 Pencegahan
1. Mencegah penyebaran kuman patogen penyebab diare
Kuman-kuman patogen penyebab diare umumnya disebarkan secara
fekal oral. Pemutusan penyebaran kuman penyebab diare perlu difokuskan
pada cara penyebaran ini. Upaya pencegahan diare yang terbukti efektif
meliputi9:
a. Pemberian ASI yang benar
b. Memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan pendamping ASI
c. Menggunakan air bersih yang cukup
d. Membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis buang
air besar dan sebelum makan
e. Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota
keluarga
f. Membuang tinja bayi yang benar

2. Memperbaiki daya tahan tubuh pejamu


Cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh
anak dan dapat juga mengurangi resiko diare antara lain:
a. Memberi ASI paling tidak sampai usia 2 tahun
b. Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI dan member makan
dalam jumlah yang cukup untuk memperbaiki status , gizi anak.
c. Imunisasi campak. Pada balita 1-7% kejadian diare behrunbungan dengan
campak, dan diare yang etrjadi umunya lebih berat dan lebih lama (susah
diobati, cenderung menjadi kronis) karena adanya kelainan pada epitel
usus. Diperkirakan imunisasi campak yang mencakup 45-90% bayi

17
berumur 9-11 bulan dapat mencegah 40-60% kasus campak, 0,6-3,8%
kejadian diare dan 6-25% kematian karena diare pada balita.1,3
d. Vaksin rotavirus, diberikan untuk meniru respon tubuh seperti infeksi
alamiah, tetapi infeksi pertama oleh vaksin tidak menimbulkan,
manifestasi diare. Di dunialah beredar 2 vaksin rotavirus oral yang
diberikan sebelum usia 6 bulan dalam 2-3 kali pemberiian dengan interval
4-6 minggu. 1,9

2.12 Prognosis

Bila kita menatalaksanakan diare sesuai dengan 4 pilar diare, sebagian


besar (90%) kasus diare pada anak akan sembuh dalam waktu kurang dari 7 hari,
sebagian kecil (5%) akan melanjut dan sembuh dalam kurang dari 7 hari, sebagian
kecil (5%( akan menjadi diare persisten.9

18
BAB 3
LAPORAN KASUS

1. Identitas
Nama : An. AF
No. MR : 01.00.91.83
Usia : 10 bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Kerinci

2. Keluhan Utama
Buang air besar berdarah sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit

3. Riwayat Penyakit Sekarang


• Pasien berak-berak encer sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Berak-
berak encer berwarna kuning dan terdapat ampas, frekuensi 5x dengan jumlah
setengah gelas per kalinya. Berak mulai berlendir dan berdarah sejak I hari
sebelum masuk rumah sakit.
• Demam 2 hari sebelum masuk rumah sakit, hilang timbul, tidak tinggi, tidak
menggigil dan tidak berkeringat.
• Kejang 1 hari sebelum masuk rumah sakit, kejang terjadi seluruh tubuh
dengan mata melirik ke atas dan ke-4 ekstremitas kelonjotan. Kejang
berlangsung selama 5 menit dengan frekuensi 1x, pasien sadar setelah kejang.
Kejang berhenti sendiri tanpa mengonsumsi obat dan merupakan episode
kejang yang pertama.
• Muntah sejak 1 hari yang lalu, sebanyak 2x per hari dengan jumlah ¼ - ½ gels
per kali, berisi sisa ASI, dan muntah tidak menyemprot.
• Batuk dan pilek tidak ada
• Anak menyusu kuat.
• BAK warna dan jumlah biasa

19
• Riwayat trauma kepala tidak ada.
• Pasien merupakan rujukan dari RSUD HA Thalib, Kerinci. Telah dilakukan
pemeriksaan laboratorium dengan hasil Hb 10,7 gr/dl, leukosit 35.500/mm3,
Ht 34,8%, trombosit 1.127.000/mm3, Na 131 Mmol/L, K 4,1 Mmol/L. Pasien
telah diberikan IVFD RL, injeksi ranitidine, injeksi ondansetron, cefotaxime
3x500mg IV, zinc 1x1 cth, paracetamol 3x1 cth, Lbio 2x1 sachet. Pasien
kemudian dirujuk dengan keterangan disentri amoeba dengan electrolit
imbalance DD ensefalitis

4. Riwayat Penyakit Dahulu


Anak tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya

5. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga mengeluhkan keluhan yang sama
Anak kakak ayah pasien pernah mengalami kejang demam

6. Riwayat Kelahiran
Lahir spontan, cukup bulan, ditolong bidan, lahir langsung menangis, berat
badan lahir 3300 gram, panjang badang ibu tidak ingat.

7. Riwayat Makanan dan Minuman


Makanan Bulan
ASI 10 bulan
Susu Formula Belum ada
Buah Biskuit Belum ada
Bubur Susu Belum ada
Nasi Tim Belum ada

Makanan x/minggu
Daging -
Ikan -
Telur -
20
Sayur -
Buah -
Kesan: kualitas baik, kuantitas kurang

8. Riwayat Imunisasi
• BCG : 1 kali
• DPT : 3 kali
• Polio : 3 kali
• Hepatitis B : 3 kali
• Campak : 1 kali
Kesan : imunisasi dasar lengkap

9. Riwayat Perkembangan
 Tertawa : 2 bulan
 Miring : 3 bulan
 Tengkurap : 5 bulan
 Duduk : 8 bulan
 Merangkak : Belum bisa
 Berdiri : Belum bisa
 Lari : Belum bisa
 Gigi pertama : 9 bulan
Kesan : perkembangan terlambat

10. Riwayat Keluarga

Riwayat Keluarga Ayah Ibu


Nama Harry Cici Kuriniati
Umur 34 thn 20 thn
Pendidikan SMA SMP
Pekerjaan Petani IRT
Peghasilan 1.500.000/bln -
Perkawinan I I
Penyakit yang diderita - -
11. Ri
wayat Perumahan dan Lingkungan

21
 Rumah tinggal : Permanen
 Sumber air minum : PDAM
 Buang air besar : WC didalam rumah, namun sisa pembuangan
ke sungai di depan rumah
 Pekarangan : Luas
 Sampah : dibakar
 Kesan : sanitasi dan higiene kurang

PEMERIKSAAN FISIK
 Keadaan umum:
– Keadaaan : sedang
– Kesadaran : sadar
– Frekuensi nadi : 120x/i
– Frekuensi nafas : 35x/i
– Suhu : 36,7 0C
– Status Gizi:
• BB : 11 kg
• TB : 74 cm
• BB/U : 0<SD<2 Z-score
• TB/U : 0<SD<2 Z-score
• BB/TB : -2<SD< 2 Z-score
• Kesan : status gizi baik
– Edema : tidak ada
– Ikterus : tidak ada
– Anemia : tidak ada
– Sianosis : tidak ada
– Kulit : teraba hangat, turgor kulit baik
 KGB : tidak ada pembesaran KGB
 Kepala : bulat, simetris, ubun-ubun tidak cekung
 Rambut : hitam, tidak mudah rontok
 Mata : konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, mata tidak cekung,
pupil isokor d 3mm/3mm, refleks cahaya positif
 Telinga: tidak ada kelainan
 Hidung : napas cuping hidung tidak ada

22
 Tenggorok : tonsil T1-T1, tidak hiperemis, uvula ditengah
 Gigi dan mulut: mukosa mulut dan bibir basah, gigi sudah tumbuh
 Leher : JVP 5-2 cmH2O, kaku kuduk tidak ada
 Paru-paru :
– Inspeksi : simetris kiri dan kanan
– Palpasi : fremitus kiri = kanan
– Perkusi : sonor
– Auskultasi : vesikuler, Rh -/- , Wh -/-
 Jantung
– Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
– Palpasi : iktus kordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V
– Perkusi : batas jantung normal
– Auskultasi : reguler, bising negative

 Abdomen
– Inspeksi : distensi (-)
– Palpasi : hepar dan lien tidak teraba, turgor baik
– Perkusi : timpani
– Auskultasi : bising usus (+) normal
 Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik

PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Laboratorium (7/3/2018):
– Hb : 9,3 gr/dL
– Ht : 31%
– Leukosit : 29.000/mm3
– Trombosit : 925.000/mm3
– Hitung Jenis : 0/0/0/42/53/5
– Retikulosit : 1,2%

23
– Eritrosit : 4,96 juta
– GDR : 109mg/dl
– Na : 138 Mmol/L
– K : 3,7 Mmol/L
– Ca : 9,6 mg/dl
– MCV : 62,5 fl
– MCH : 18,7 pg
– MCHC : 30%
– Indeks Mentzer : 13
Kesan : Leukositosis, trombositosis, anemia mikrositik
hipokrom ec defisiensi fe
DIAGNOSIS
Diare akut tanpa dehidrasi ec susp. Disentri basiler
Kejang demam simplek
Anemia mikrositik hipokrom ec defisiensi Fe
RENCANA PEMERIKSAAN
• Pemeriksaan feses rutin dan tes benzatin
• Kultur feses
• Parasitologi feses
• Urinalisis

TATALAKSANA
• Kegawatdaruratan
-
• Nutrisi
– ASI OD
– Nasi tim saring 2x/hari
– IVFD 2A 14 tpm (makro)
• Medikamentosa
– Ceftriakson (dalam NaCl 0,9% 50cc habis dalam 1 jam)

24
– Paracetamol syr 120mg/5ml (T>38.50C)
– Diazepam 3x1 mg (PO) (T>38.50C)
– Zinc 1 x 20 mg (PO)
– Oralit 110 cc/BAB encer/muntah
• Edukasi
- Banyak minum

FOLLOW UP (8/3/2018)
S/ - Demam tidak ada
- BAB encer warna kuning kehijauan, frekuensi 2x sejak pagi
- Muntah tidak ada
- Bayi menyusu kuat
- Kejang tidak ada
- BAK warna dan jumlah biasa

O/ HR / 110X/i, RR/ 30x/i, T/ 37,2 0C


- Ubun-ubun tidak cekung
- Mata tidak cekung, konjungtiva anemis
- Cor dan pulmo dalam batas normal
- Abdomen supel, turgor baik
- Ekstremitas hangat, CRT< 2dt
- Parasitologi feses : tidak ditemukan telur cacing
- Urinalisis : dalam batas normal
- Feses rutin : dalam batas normal
A/ - Diare akut tanpa dehidrasi ec. Susp disentri basiler
- Kejang demam simplek
- Anemia mikrositik hipokrom ec defisiensi Fe
P/ - IVFD 2A 14 tpm
- ASI OD
- Nasi tim saring 2x

25
- Ceftriakson 2x500 mg iv (dalam NaCl 0,9% dalam 50cc habis dalam 1
jam)
- Paracetamol syr 120mg/5ml (T>38,5 0C)
- Oralit 110cc/BAB encer/muntah
- Zink 1x20 mg po
- Diazepam 3x 1 mg po (T>38,5 0C)

26
BAB IV
DISKUSI

Telah dirawat seorang pasien anak laki-laki berusia 10 bulan di Bangsal Anak
RSUP M.Djamil Padang pada tanggal 7 Maret 2018 dengan diagnosis diare akut
tanpa dehidrasi ec susp. Disentri basiler dengan kejang demam simplek dan anemia
mikrositik hipokrom ec defisiensi Fe. Diagnosis ditegakan berdasarkan hasil
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Pada anamnesis ditemukan adanya berak- berak encer berlindir dan berdarah,
muntah, kejang, demam hilang timbul , dan kuantitas makanan tidak sesuai dengan
usia dan tahap perkembangan. Berak-berak encer dan muntah merupakan gejala dari
gangguan pencernaan yang dapat disebabkan adanya infeksi pada saluran pencernaan.
Adanya infeksi pada saluran cerna akan menimbulkan manifestasi seperti mual,
muntah, nyeri perut dan diare.
Diare dinyatakan sebagai peningkatan frekuensi buang air besar,
meningkatnya volume buang air besar dan atau perubahan konsistensi buang air
besar. Diare ditandai dengan meningkatnya eksrekresi cairan pada tinja lebih dari
150-200 ml dalam 24 jam. Diare disebabkan oleh adanya infeksi pada saluran cerna
yang menyebabkan terjadinya inflamasi pada mukosa saluran cerna, inflamasi ini
dapat bersifat ringan ataupun berat, pada inflamasi berat dapat terjadi ulserasi pada
saluran cerna. Empat mekanisme yang terjadi pada diare adalah peningkatan
osmolaritas lumen usus, penurunan absoripsi cairan di usus, peningkatan sekresi usus
dan peningkatan motilitas usus. Mekanisme patogen spesifik pada diare meliputi
invasi bakteri ke jaringan, produksi enterotoksin dan adhesi agen infeksius dengan sel
epitel. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya keluhan buang air besar cair dengan
frekuensi yang banyak pada pasien dengan diare.
Diare yang disebabkan oleh ingesti toksin ditandai dengan mual dan muntah
yang bersifat prominen dan seringkali tidak disertai demam. Muntah yang terjadi 6
jam setelah konsumsi suatu makanan meningkatkan dugaan terhadap keracunan
makanan yang pada umumnya disebabkan oleh bakteri S. aureus atau B.cereus.

27
Apabila diare mulai dialami 8-14 jam setelah konsumsi makanan, dapat diduga
disebabkan oleh C. Perfringens dan apabila masa inkubasi lebih dari 14 jam disertai
dengan keluhan muntah yang signifikan disertai diare, virus dapat dipertimbangkan
sebagai penyebabnya. Infeksi bakteri invasive akan menimbulkan keluhan nyeri perut
berat dan diare berdarah. Pasien mengeluhkan adanya nyeri perut yang juga
disebabkan oleh adanya infeksi dari saluran cerna. Pada pasien ini diare diserta berak
berlendir dan berdarah. Hal ini dapat kita pikirkan ke arah infeksi shigella, dimana
gejala khas ini mengarah ke infeksi disentri basiler.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan anak tampak sakit sedang, vital sign dalam
batas normal, dan tidak ditemukan adanya kelainan yang berkaitan dengan gejala
dehidrasi. Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik ditegakan diagnosis diare akut
tanpa dehidrasi ec susp disentri basiler. Diare akut dinyatakan sebagai diare yang
berlangsung selama kurang dari 14 hari. Pada anak ini diare dialami sejak 2 hari
sebelum masuk rumah sakit, sehingga dapat dikatakan sebagai diare akut.
Permasalahan lain pada pasien ini yaitu terjadi kejang dengan frekuensi 1x,
mata melirik ke atas, kelonjotan seluruh tubuh, berlangsung 5 menit, berhenti tanpa
konsumsi obat dan anak sadar setelah kejang. Kejang yang terjadi pada anak yaitu
khas gejala kejang demam dengan tipe kejang simplek. Selain itu, pada hasil
laboratorium ditemukan anemia mikrositik hipokrom karena defisiensi besi. Hal ini
diduga terkait dengan kurangnya asupan nutrisi pada anak.
Tatalaksana yang diberikan yakni IVFD 2A 14 tpm (makro), ASI OD, nasi tim
saring 2x/hari, oralit 110 cc setiap kali BAB cair, tablet Zinc 1x20 mg, ceftriakson
dalam 50 cc NaCl 0,9% habis dalam 1 jam, paracetamol sirup 120mg/5ml bila suhu
>38,5 0C, dan diazepam 3x1 tab bila suhu >38,5 0C . Tujuan tatalaksana diare yakni
mencegah dehidrasi, mengatasi dehidrasi yang telah ada, mencegah kekurangan
nutrisi dengen pemberian makanan selama dan setelah diare serta pemberian tablet
zinc guna mengurangi lama dan beratnya diare, serta berulangnya episode diare.
Pemberian cairan 2A bertujuan untuk mengganti cairan yang hilang serta mencegah
dehidrasi, pemberian oralit setiap BAB cair bertujuan untuk mencegah dehidrasi,
nutrisi yang diberikan yakni ASI on demand dan nasi tim saring, dan diberikan tablet

28
zinc 1x20mg untuk mengurangi lama dan beratnya diare serta berulangnya episode
diare pada anak. Paracetamol dan diazepam diberikan sebagai terapi simptomatik jika
terjadi demam dan kejang akibat demam. Ceftriakson merupaka antibiotik pilihan
disentri pada anak menurut WHO.

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Subagyo B dan Santoso NB. Diare akut. Dalam: Juffrie M. Buku Ajar
Gastroenterologi-Hepatologi Jilid 1. Edisi 1. Jakarta: Badan penerbit UKK
Gastroenterologi-Hepatologi IDAI; 2009. hlm 87-110.
2. WHO. Diarrhoeal Disease (diunduh 27 Februari 2018). Tersedia dari
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs330/en/
3. Suraatmaja Sudaryat. Diare. Dalam: Sugeng S. Kapita Selekta
Gastroenterologi Anak. Jakarta: Media Aesculapius; 2007. hlm 1-24.

4. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan RI. Penyakit Menular. 2013;


pp: 76

5. Sinuharji, Anta B. Nafianti Selvi. Resistensi Sulfametoksazol terhadap


Shigellosis. Sumatera Utara: Bagian Anak FK USU. 2006.
6. Nafianti S, Sinuhaji AB. Resisten Trimetoprim – Sulfametoksazol terhadap
Shigellosis. Sari Pediatri, Vol. 7, No. 1.2005: 39-44.
7. Gaurino et al. European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology
and Nutrition/European Society for Paediatric Infectious disease Evidenced
Based Guidelines for Management of Acute Gastroenteritis in Children in
Europe. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition .2008. 46: S81-
184.
8. Tickel KD, Brander RL, Atlas RE, Pernica JM, Walson JL, Pavlinac PB.
Identification and management of Shigella infection in children with
diarrhoea: a systematic review and meta-analysis. Lancet Glob Health. 2017.
5: e1235–48
9. WHO. Diare dalam Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit
Pedoman Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten Kota.
Jakarta: WHO Indonesia.2009.
10. Krugman S, Katz SL, Gershon AA, Wilfert CM. Infectious disease of
children. Edisi ke-9. St.Louis: Mosby Year Book; 1992. h. 109-19.
11. Guerrant RL, Lima AAM. Inflammatory Enteritides. Dalam: Mandell GL,
Bennet JE, Dolin R, penyunting. Principles and Practice of Infectious

30
Diseases. Bagian pertama. Edisi ke-5. New york: Churchill Livingstone;
2000. h. 1126-31.
12. Suraatmaja Sudaryat. Masalah Rehidrasi Oral. Dalam: Sugeng S. Kapita
Selekta Gastroenterologi Anak. Jakarta: Media Aesculapius; 2007. hlm 44-53.
13. Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati
ED. Diare Akut. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia.
2009; pp : 6
14. Ciesla WP, Guerrant RL. Infectious Diarrhea. In: Wilson WR, Drew WL,
Henry NK, et al editors. Current Diagnosis and Treatment in Infectious
Disease. New York: Lange Medical Books, 2003. 225 - 68.

31