Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH STABILITAS BAHAN & SEDIAAN FARMASI

“UJI STABILITAS BAHAN BAKU KOSMETIK PADAT, SEMI


PADAT, CAIR”

Disusun oleh:
Ami Rahmawati S (15330032)
Moh. Benny Perdana (15330051)

PROGRAM STUDI FARMASI S1


FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat-Nya, sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Uji Stabilitas Bahan Baku Kosmetik Padat, Semi
Padat, Cair” ini dengan baik. Sekiranya makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan,
petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam proses belajar maupun mengajar.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki isi makalah ini agar kedepannya dapat lebih baik lagi.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman dan pengetahuan yang
kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu, kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan seperti kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, Mei 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................................... ii


DAFTAR ISI......................................................................................................................................... iii
BAB I ...................................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ................................................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................................................... 1
1.3 Tujuan .......................................................................................................................................... 2
BAB II .................................................................................................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................................................ 3
2.1 Kosmetika ................................................................................................................................... 3
2.3 Jenis stabilitas.............................................................................................................................. 5
2.5 Uji Stabilitas Sediaan Gel ..................................................................................................... 8
2.6 Uji Stabilitas Sediaan Krim ....................................................................................................... 8
2.7 Uji Stabilitas Sediaan Salep ....................................................................................................... 9
2.8 Uji Stabilitas Sediaan Pasta ..................................................................................................... 10
2.9 Klasifikasi Kosmetik: Kulit ...................................................................................................... 11
2.10 Karakteristik Mutu Kosmetik ............................................................................................... 11
BAB III................................................................................................................................................. 12
ISI ......................................................................................................................................................... 12
3.1 Karakteristik Dan Aktivitas Antioksidan Sabun Padat Transparan Yang Diperkaya
Dengan Ekstrak Kasar Karotenoid Chlorella Pyrenoidosa ......................................................... 12
3.1.1 Pembuatan sediaan sabun padat transparan .................................................................. 13
3.1.2 Uji Stabilitas Sabun Padat Transparan ........................................................................... 14
3.2 Formulasi dan Uji Sifat Fisik Lulur Body Scrub Arang Aktif Dari Cangkang Sawit (
Elaeis Guineensis Jacg) Sebagai Detoksifikasi ............................................................................. 16
3.2.1 Pembuatan lulur body scrub............................................................................................. 17
3.2.2 Evaluasi Lulur body Scrub ............................................................................................... 17
3.3 Pengaruh Penambahan Lemak Kakao Terhadap Kestabilan, Efek Iritasi, Dan Sifat
Sensori Sampo Rambut .................................................................................................................. 21
3.3.1 Prosedur Pembuatan Sampo Rambut.............................................................................. 21
3.3.2 Hasil Uji Stabilitas ............................................................................................................. 22
BAB IV ................................................................................................................................................. 24
KESIMPULAN ................................................................................................................................... 24
4.1 Kesimpulan ................................................................................................................................ 24

iii
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 25

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Stabilitas produk farmasi dapat didefinisikan sebagai kemampuan suatu produk untuk
bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan,
sifat dan karakteristiknya sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat (Vadas, 2000)..
Banyak faktor yang mempengaruhi stabilitas produk farmasi, seperti stabilitas dari bahan
aktif, interaksi antara bahan aktif dan bahan tambahan, proses pembuatan, proses
pengemasan dan kondisi lingkungan selama pengangkutan, penyimpanan, dan penanganan
serta jangka waktu produk antara pembuatan hingga pemakaian (Vadas, 2000). Stabilitas
produk obat dibagi menjadi stabilitas secara kimia dan stabilitas secara fisika. Faktor-
faktor fisika seperti panas, cahaya, dan kelembapan, mungkin akan menyebabkan atau
mempercepat reaksi kimia, maka setiap menentukan stabilitas kimia, stabilitas fisika juga
harus ditentukan (Vadas, 2000).

Saat ini, kosmetik sudah menjadi bahan kebutuhan sehari-hari baik digunakan oleh
kaum wanita maupun pria. Pada umumnya masyarakat menggunakan kosmetik dengan
tujuan untuk meningkatkan penampilan dan kesehatan. Untuk memenuhi tujuan tersebut
maka diperlukan kosmetik yang mempunyai aktivitas seperti yang diharapkan, satu di
antaranya adalah kosmetik perawatan kulit. Kosmetik yang termasuk dalam perawatan
kulit antara lain kosmetik pembersih, kosmetik pelembab (moisturizer) dan kosmetik
pelindung seperti tabir surya (Draelos dan Thaman, 2006). Adanya peningkatan kesadaran
masyarakat akan penggunaan kosmetik, maka dari tahun ke tahun telah terjadi peningkatan
permintaan akan kosmetik baik di Indonesia maupun di luar negeri. Kondisi ini
menyebabkan perkembangan dunia kosmetik khususnya penelitian dan pembuatan
kosmetik perawatan kulit memiliki prospek yang sangat bagus.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian uji stabilitas sediaan obat dalam bentuk sediaan kosmetik?
2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kestabilan sediaan kosmetik?
3. Apa perbedaan uji stabilitas sediaan menurut ICH, CPO dan WHO?

1
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian uji stabilitas sediaan obat dalam bentuk sediaan kosmetik.
2. Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan sediaan kosmetik.
3. Mengetahui perbedaan uji stabilitas sediaan menurut ICH, CPO dan WHO.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kosmetika

Kosmetika berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti berhias. Bahan yang
digunakan dalam kosmetika dapat menggunakan bahan alam maupun bahan sintetik
selama digunakan secara aman. Pengertian kosmetika adalah sediaan/paduan bahan
yang siap digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir & organ
kelamin luar), gigi dan rongga mulut membersihkan, menambah daya tarik, mengubah
penampilan, melindungi supaya dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi
tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan penyakit (SK MENKES no
140/1991).

Pengertian kosmetika dewasa ini telah mengalami pergeseran dengan


berkembangnya produk kosmetika yang mengandung bahan obat. Dahulu tujuan
penggunaan kosmetika adalah untuk melindungi tubuh dari alam (panas, sinar
matahari, dingin, kekeringan, iritasi, dan gigitan nyamuk). Saat ini kosmetika semakin
berkembang dimana penggunannya digunakan untuk meningkatkan daya tarik (make
up), meningkatkan kepercayaan diri dan ketenangan, melindungi kulit dan rambut dari
sinar UV yang merusak, polutan dan faktor lingkungan lain, dan menghindari penuaan
dini.

Klasifikasi kosmetik berdasarkan tujuan pemberiannya pada kulit digolongkan


menjadi 3 jenis kosmetik yaitu, skin care cosmetics, make up cosmetics, dan body
cosmetics. Skin care cosmetics terdiri dari kosmetik pembersih (krim dan busa
pembersih), kosmetik kondisioner (losion dan krim masage), dan kosmetik pelindung
(krim dan losion pelembab). Make up cosmetics terdiri dari kosmetik dasar (foundation
dan bedak), make up (lipstik, eyeshadow, dan eyeliner), dan perawatan kuku (cat kuku,
pembersih, dan lain-lain). Body cosmetics terdiri dari beberapa jenis antara lain sabun
mandi padat/cair, sunscreen, sun oil, deodorant, insect repellent, dan lain-lain
(Tranggono, Latifah, & Djajadisastra, 2007).

3
2.2 Bahan Dasar Kosmetika

Produk kosmetik diperlukan tidak hanya oleh kaum wanita tetapi juga oleh kaum pria
sejak lahir sampai akhir hayat. Produk kosmetik dapat digunakan setiap hari maupun secara
insidental atau berkala dan dipakai di seluruh tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Tidak semua bahan kosmetika cocok untuk setiap kondisi kulit, jika terjadi
ketidakcocokan, akan timbul iritasi pada kulit. Oleh karena itu, perhatikan kandungan
bahan kimia yang tercantum di kemasan tiap-tiap produk. Dasar kosmetika biasanya terdiri
dari bermacam-macam bahan dasar, bahan aktif dan bahan pelengkap. Bahan-bahan
tersebut mempunyai aneka fungsi antara lain sebagai solvent (pelarut), emulsier
(pencampur), pengawet, adhesive (pelekat), pengencang, absortent (penyerap) dan
desinfektan.

Pada umumnya 95 % dari kandungan kosmetika adalah bahan dasar dan 5 % bahan aktif
atau kadang-kadang tidak mengandung bahan aktif. Hal ini mengandung arti bahwa
kosmetika, sifat dan efeknya tidak ditentukan oleh bahan aktif tetapi terutama oleh bahan
dasar kosmetika tersebut. Bahan dasar kosmetika dikelompokkan sebagai berikut :

1. Solvent (Pelarut) Solvent atau pelarut adalah bahan yang berfungsi sebagai zat pelarut
seperti air, alkohol, eter, dan minyak. Bahan yang dilarutkan dalam zat pelarut terdiri
atas 3 bentuk yaitu padat misalnya garam, cair misalnya gliserin dan gas misalnya
amoniak.

2. Emulsier (Pencampur) Emulsier merupakanbahan yang memungkinkandua zat yang


berbeda jenis dapat menyatu, misalnya lemak atau minyak dengan air menjadi satu
campuran merata (homogen). Emulgator, umumnya memiliki sifat menurunkan
tegangan permukaan antara dua cairan (surfactant). Contoh emulgator yaitu lilin lebah,
lanolin, alkohol atau ester asam-asam lemak.

3. Preservative (Pengawet) Bahan pengawet digunakan untuk meniadakan pengaruh


kumankuman terhadap kosmetika, sehingga kosmetika tetap stabil tidak cepat
kadaluwarsa. Bahan pengawet yang aman digunakan biasanya yang bersifat alami.
Bahan pengawet untuk kosmetikadapat menggunakan senyawa asam benzoat, alkohol,
formaldehida dan lainlain. Jenis pengawet kimia efeknya pada kulit seringkali tidak
baik.

4. Adhesive (Pelekat) Bahan yang biasanya terdapat dalam kosmetika seperti bedak,
dengan maksud agar bedak dapat dengan mudah melekat pada kulit dan tidak mudah
4
lepas. Bahan pelakat dalam bedak antara lain menggunakan seng stearat dan magnesium
stearat.

5. Astringent (Pengencang) Merupakan bahan pengencang yang mempunyai daya untuk


mengerutkan dan menciutkan jaringan kulit. Bahan pengencang biasanya
menggunakan zat-zat yang bersifat asam lemah dalam kadar rendah, alkohol dan zat-
zat khusus lainnya.

6. Absortent (Penyerap). Bahan penyerap mempunyai daya mengabsorbsi cairan, misalnya


kalsium karbonat dalam bedak yang dapat menyerap keringat di wajah.

7. Desinfektan Desinfektan berguna untuk melindungi kulit dan bagian-bagian tubuh lain
terhadap pengaruh-pengaruh mikroorganisme. Desinfektan dalam kosmetika sering
menggunakan ethyl alkohol, propilalkohol, asam borat fenol dan senyawa-senyawa
amonium kuaterner.

2.3 Jenis stabilitas


Jenis stabilitas yang umum dikenal adalah stabilitas kimia, fisika, mikrobiologi, terapi, dan
toksikologi.

1. Stabilitas kimia adalah kemampuan suatu sediaan untuk mempertahnkan keutuhan


kimiawi dan potensi zat aktif yang tertera pada etiket dalam batasan spesifikasi.
2. Stabilitas fisika adalah kemampuan suatu sediaan untuk mempertahankan pemerian,
rasa, keseragaman, kelarutan, dan sifat fisika lainnya.
3. Stabilitas mikrobiologi adalah sterilitas atau resistensi terhadap pertumbuhan mikroba
dipertahankansesuai dengan persyaratan yang dinyatakan.
4. Stabilitas terapi adalah kemampuan suatu sediaan untuk menghasilkan efek terapi yang
tidak berubah selama waktu simpan (shelf life) sediaan.
5. Stabilitas toksikologi adalah mengacu pada tidak terjadinya peningkatan toksisitas yang
bermakna selama waktu simpan.

Ketidakstabilan kimia sediaan ditandai dengan berkurangnya konsentrasi zat aktif karena
terjadi reaksi atau interaksi kimia, terjadi reaksi atau interaksi kimia, rusaknya eksipien
karena hidrolisis dan reaksi sejenis serta oembentukan senyawa lain. Ketidakstabilan fisik
sediaan ditandai dengan adanya pemucatan warna atau munculnya warna, timbul bau,
perubahan atau pemisahan fase, pecahnya emulsi, pengendapan suspensi (caking),
perubahan konsistensi, pertumbuhan kristal atau perubahan bentuk kristal, terbentuknya

5
gas dan perubahan fisik lainnya. Kestabilan fisik emulsi atau suspensi dapat dipengaruhi
oleh faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan kimia dari emulgator, suspending agent,
antioksidan, pengawet dan bahan aktif. Ketidakstabilan mikrobiologi sediaan ditandai
dengan pertumbuhan mikroorganisme yang tampak maupun tidak tampak seperti
Aspergillus niger, Candida albicans, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus,
Escheria coli, yang mencemari produk pada waktu pembuatan.

2.4 Uji Stabilitas

Uji stabilitas sendiri ada 2 jenis, yaitu uji stabilitas dipercepat dan uji stabilitas jangka
panjang. Pada uji stabilitas jangka panjang untuk produk baru biasanya pengujian
dilakukan pada suhu kamar yang dikendalikan (30oC + 2oC ) dengan kelembaban nisbi
ruangan 75% + 5%, kecuali untuk obat yang peka terhadap suhu dilakukan pada suhu
rendah (5oC + 2oC) dengan rentang waktu pengujian pada bulan 0, 3, 9, 12, 18, 24, 36, 48,
dan 60. Biasanya pengujian dilakukan sampai bulan ke-36, tetapi apabila masih memenuhi
syarat pengujian harus diteruskan sampai bulan ke-60. Pada uji stabilitas dipercepat, obat
disimpan pada kondisi ekstrim di suatu lemari uji yang disebut climatic chamber, obat
dalam kemasan aslinya dipaparkan pada suhu 40 ± 2oC dan kelembapan 75 ± 5%
sedangkan uji stabilitas jangka panjang, obat dipaparkan pada suhu 25±20oC dan
kelembaban 60±5%. Pada bulan-bulan tertentu, obat yang disimpan dalam lemari climatic
chamber (pada uji stabilitas dipercepat) maupun pada uji stabilitas jangka panjang, akan
diuji kualitas fisika, kimia maupun mikrobiologinya.

Data hasil pengujian tersebut akan diolah secara statistika, sampai akhirnya kita
menemukan tanggal kadaluarsa (masa edar) secara kuantitatif, dan tanggal tersebutlah
yang akan dijadikan patokan kadaluarsa obat yang nantinya harus dicantumkan dalam
kemasan obat. Sediaan semisolid umumnya berupa suspensi dan emulsi. Untuk uji
stabilitas sistem emulsi secara umum yang termasuk uji dipercepat yang dimaksudkan
untuk mendapatkan informasi yang diinginkan pada waktu sesingkat mungkin dengan cara
menyimpan sample pada kondisi yang dirancang untuk mempercepat terjadinya
perubahanyang biasanya terjadi pada kondisi normal. Pengujian tersebut antara lain:

1. Elevated temperature (indikator kestabilan)


 Uji penyimpanan pada suhu 4oC (kelembapan kamar) selama 1 minggu.
 Uji penyimpanan pada suhu suhu kamar 20oC atau 25oC/kelembapan kamar selama
0, 1, 2, 3, 4 bulan, 1 tahun.

6
 Uji penyimpanan pada suhu -20oC selama 24 jam (pengukuran dilakukan setelah
dilelehkan).
 Uji penyimpanan pada suhu -5oC selama 1 minggu (pengukuran dilakukan setelah
dilelehkan).
 Uji penyimpanan pada suhu 40oC/kelembapan kamar (ICH guideline) selama 3
hari, 1, 2, 3, 4 minngu; 2, 3, 6 bulan.
 Uji penyimpanan pada suhu 45oC/kelembapan kamar (FDA guideline) selama 3
hari, 1, 2, 3, 4 minngu; 2, 3 bulan.
 Uji penyimpanan pada suhu 50oC/80% RH:1, 3 hari; 1 minggu.
2. Elevated humidities (menguji kemasan produk)
3. Cycling test termasuk freeze thaw test (menguji terbentuknya kristal /awan)
 Pada uji cycling test dilakukan dengan siklus antara suhu kamar/suhu 45oC masing-
masing selama 24 jam sebanyak 6 siklus.
 Freeze/thaw antara 4oC dan 40oC atau 45oC.
 Freeze/thaw antara -30oC/suhu kamar selama 24 jam sebanyak minimum 6 siklus
untuk sediaan larutan, emulsi, krim, cairan, dan semisolid lain.

Uji cycling test pada emulsi dilakukan untuk menguji produk terhadap kemungkinan
mengalami kristalisasi atau berawan sebagai indikator kestabilan emulsi, sedangkan
pada gel untuk menguji apakah terjadi sineresis pada gel. Sineresis adalah gejala pada
saat gel mengerut secara alamiah dan sebagian dari cairannya terperas ke luar. Hal ini
terjadi karena struktur matriks serat gel yang terus mengeras dan akhirnya
mengakibatkan terperasnya air ke luar.

4. Pemaparan terhadap cahaya (untuk menguji keadaan di pasaran)


 Dipaparkan pada cahaya siang hari selama 1 tahun (bukan pada matahari
langsung).
 Pemaparan terus menerus selama 1-2 minggu dalam lemari uji cahaya yang berisi
baterai tabung fluorescens dimana sample ditempatkan sejauh 1 kaki dari sumber
cahaya, sumber cahaya biasanya tipe Polarite daylight 40W (Thorn-EMI) dengan
panjang tabung 132cm dan baterai dengan 12 tabung cukup untuk mendapatkan
pencahayaan seperti cahaya siang hari.
 Dengan lampu xenon selama 1-2 minggu.
 Dengan sinar UV selama 1-2 minggu.

7
5. Shaking test dan centrifugal test (untuk menguji pecahnya emulsi)

2.5 Uji Stabilitas Sediaan Gel

a. Organoleptik

Analisis organoleptik dilakukan dengan mengamati perubahan–perubahan bentuk, warna, dan


bau dari sediaan dan sediaan standar selama waktu penyimpanan, pengamatan perubahan–
perubahan bentuk, warna dan bau tersebut dilakukan pada hari ke 1, 3, 7 dan selanjutnya setiap
minggu sampai hari ke 56 penyimpanan.

b. pH
Pengukuran pH dilakukan dengan cara mencelupkan pH meter ke dalam sediaan gel dengan
kitosan dan sediaan gel standar yang diencerkan terlebih dahulu, pH sediaan akan tertera pada
monitor pengukuran dilakukan pada hari ke 1, 3, 7 dan selanjutnya setiap minggu sampai hari
ke 56 penyimpanan.
c. Viskositas
Sediaan dengan kitosan dan sediaan gel standar diukur viskositasnya dengan menggunakan
viscometer dengan spindle yang cocok ( spindel nomor 2 ). Pengukuran dilakukan 3 kali untuk
masing – masing sediaan gel pada hari ke 1, 3, 7 dan selanjutnya setiap minggu sampai hari
ke 56 penyimpanan.
d. Kandungan antioksian

2.6 Uji Stabilitas Sediaan Krim

2.4.1 Evaluasi Secara Fisika

a. Uji Organoleptis

Analisis organoleptik dilakukan dengan mengamati perubahan–perubahan bentuk,


warna, dan bau dari sediaan

b. Uji Homogenitas

Pengujian homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah pada saat proses


pembuatan krim bahan aktif obat dengan bahan dasarnya dan bahan tambahan lain yang
diperlukan tercampur secara homogen. Persyaratanya harus homogen, sehingga krim
yang dihasilkan mudah digunakan dan terdistribusi merata pada kulit. Alat yang
digunakan untuk pengujian homogenitas adalah roller mill, colloid mill, homogenizer
tipe katup. Dispersi yang seragam dari obat yang tak larut dalam basis maupun

8
pengecilan ukuran agregat lemak dilakukan dengan melalui homogenizer atau mill
pada temperatur 30 – 40oC. Krim harus tahan terhadap gaya gesek yang timbul akibat
pemindahan produk maupun akibat aksi dari alat pengisi (Anief, 1997).

c. Uji Daya Sebar

Sebanyak 0,5 gram krim diletakkan dengan hati-hati di atas kertas grafik yang
dilapisi plastik transparan, dibiarkan sesaat (15 detik) dan luas daerah yang
diberikan oleh sediaan dihitung kemudian tutup lagi dengan plastik yang diberi beban
tertentu masing-masing 1, 2, dan 5 g dan dibiarkan selama 60 detik pertambahan
luas yang diberikan oleh sediaan dapat dihitung (Voigt, 1994).

d. Uji Daya Lekat

Uji daya lekat dilakukan dengan cara kerja sebagai berikut: krim dengan berat 0,25 g
diletakkan di atas dua gelas objek yang telah ditentukan kemudian ditekan dengan
beban 1 kg selama 5 menit. Setelah itu gelas objek dipasang pada alat tes. Alat tes diberi
beban 80 g dan kemudian dicatat waktu pelepasan krim dari gelas objek (Syarifah,
2007).
e. Uji Pengukuran Viskositas Sediaan
Viskositas formula krim diukur dengan menggunakan viscometer Brookfield
menggunakan spindel CP-52 pada kecepatan dan shear rates yang bervariasi.
Pengukuran dilakukan pada kecepatan 0,10, 0,20, 0,30, 0,40, dan 0,50 rpm dalam 60
detik diantara dua kecepatan yang berurutan sebagai equilibration dengan rentang
shear rate dari 0,2 s-1 hingga 1.0 s-1. Penentuan viskositas dilakukan pada suhu ruangan.
Data viskositas diplot pada rheogram (Purushothamrao et al., 2010).

2.4.2 Evaluasi Secara Kimia


a. Pengukuran pH
Alat pH meter dikalibrasi menggunakan larutan dapar pH 7 dan pH 4. Satu gram
sediaan yang akan diperiksa diencerkan dengan air suling hingga 10 mL. Elektroda pH
meter dicelupkan ke dalam larutan yang diperiksa, jarum pH meter dibiarkan bergerak
sampai menunjukkan posisi tetap, pH yang ditunjukkan jarum pH meter dicatat
(Depkes RI, 1995).

2.7 Uji Stabilitas Sediaan Salep

a. Organoleptis
Pemeriksaan dilakukan terhadap bentuk, warna, bau, dan suhu lebur (Depkes RI, 1995).

9
b. pH
Harga pH adalah harga yang ditunjukkan oleh pH meter yang telah dibakukan dan mampu
mengukur harga pH sampai 0,02 unit pH menggunakan elektroda indikator yang peka
terhadap aktivitas ion hidrogen, elektroda kaca, dan elektroda pembanding yang sesuai seperti
elektroda kalomel dan elektroda perak-perak klorida. Pengukuran dilakukan pada suhu ±250
C, kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi (Dirjen POM, 1995). pH salep
mendekati pH kulit yaitu sekitar 6-7.
c. Konsistensi
Konsistensi merupakan suatu cara menentukan sifat berulang, seperti sifat lunak dari setiap
sejenis salap atau mentega, melalui sebuah angka ukur. Untuk memperoleh konsistensi dapat
digunakan metode sebagai berikut:

• Metode penetrometer.

• Penentuan batas mengalir praktis

d. Termoresistensi
Dihasilkan melalui tes berayun. Dipergunakan untuk mempertimbangkan daya simpan salep
di daerah dengan perubahan iklim (tropen) terjadi secara nyata dan terus-menerus.
e. Distribusi ukuran partikel
Untuk melakukan penelitian orientasi, digunakan grindometer yang banyak dipakai dalam
industri bahan pewarna. Metode tersebut hanya menghasilkan harga pendekatan, yang tidak
sesuai dengan harga yang diperoleh dari cara mikroskopik, akan tetapi setelah dilakukan
peneraan yang tepat, metode tersebut daat menjadi metode rutin yang baik dan cepat
pelaksanaannya.

2.8 Uji Stabilitas Sediaan Pasta


a. Pemeriksaan organoleptis

Keadaan pasta harus lembut, serba sama (homogen) tidak terlihat adanya gelembung udara,
gumpalan, dan partikel yang terpisah dan benda asing yang ada tidak tampak.
b. Homogenitas
Pasta yang dihasilkan harus homogen (serba sama) , tidak ada fase-fase yang terpisah.
c. Viskositas
Pemeriksaan viskositas dilakukan dengan alat Viskometer Brookfield tipe RV dengan spindel
no. 7, kecepatan 2 rpm.
d. pH

10
Uji pH dilakukan menggunakan pH-meter dimana pH untuk sediaan pasta gigi yang
dipersyaratkan adalah 4,5-10,5, pH sediaan diamati selama penyimpanan pada suhu kamar
selama 6 minggu.
e. Pengukuran tinggi busa
Parameter pada pengukuran tinggi busa sangat bergantung pada konsentrasi surfaktan, selain
itu juga dipengaruhi oleh kesadahan air, suhu ruang saat pengukuran, dan waktu pendiaman.
f. Stabilitas penyimpanan siklus freeze thaw
Uji stabilitas fisik dengan metode penyimpanan pada siklus frezee thaw dilakukan untuk
melihat pengaruh suhu terhadap pemisahan fase pasta yang terjadi selama penyimpanan pada
dua suhu yang berbeda yaitu siklus frezee pada suhu 4°C dan thaw pada suhu 45°C.
g. Sentrifugasi
Ditandai dengan adanya lapisan cair berwarna coklat di atas permukaan sediaan.

2.9 Klasifikasi Kosmetik: Kulit


• SKIN CARE COSMETICS

Kosmetik pembersih: krim dan busa pembersih muka

Kosmetika konditioner : lotion, krim masage

Kosmetika pelindung: krim dan lotion pelembab

• MAKE UP COSMETICS

Kosmetika dasar: foundation, bedak

Make up : lipstik, blusher, eyeshadow, eyeliner

Perawatan kuku : cat kuku, pembersih cat kuku

• BODY COSMETICS

Sabun mandi padat-cair, perlengkapan mandi

Suncares dan suntan:krim sunscreen, sun oil

Antiperspirant & deodoran:deodorant spray-stick-roll on

Bleaching,Depilatory

Insect repellent

2.10 Karakteristik Mutu Kosmetik


mencapai kepuasan konsumen yang terdiri dari design, manufaktur,sales. Persyaratan kualitas
dasar meliputi safety,stability,efficacy,usability

11
• Safety:tdk ada iritasi kulit,sensitivitas kulit,toksisitas oral,bercampur dgn bahan lain,tidak
berbahaya

• Stability:stabil thd perubahan mutu,warna,bau,kontaminasi bakteri

• fficacy:efek melembabkan,melindungi terhadap uv,membersihkan,mewarnai

•Usability:feeling (sensibility,moisturizing, smoothness), kemudahan menggunakan


(bentuk,ukuran,bobot,komposisi, penampilan, portability), preference(bau,warna,design)

Jaminan mutu kosmetika:

jaminan mutu produk untuk mencapai kepercayaan dan kepuasan konsumen (mutu mencapai
longterm usage): jaminan safety,stability, efficacy, usability

• Safety:uji keamanan,patch test,uji racun logam berat

•Stability:uji kestabilan warna, fotoresisten, bau,uji thd panas dan lembab, pengawetan,
kestabilan zat aktif,kestabilan fisiko-kimia

• Usability:Uji kebergunaan (Sensory test), pengukuran fisikokimia(reologi)

• Efficacy:uji efikasi untuk setiap produk

Jaminan Mutu Kemasan Kosmetika

• Jaminan perlindungan isi (uji perlindungan thd cahaya, permeabilitas, perlindungan bau)

• Jaminan kecocokan bahan (uji ketahanan kimia, terhadap matahari, uji anti korosi)

• Jaminan keamanan bahan (bahan yang memerlukan perhatian:formalin)

• Jaminan fungsi(terhadap manusia,fungsi fisik)

• Keamanan penggunaan (lingkungan,metode)

• Jaminan Disposability (mudah dibuang,aman dimusnahkan)

BAB III

ISI

3.1 Karakteristik Dan Aktivitas Antioksidan Sabun Padat Transparan Yang Diperkaya
Dengan Ekstrak Kasar Karotenoid Chlorella Pyrenoidosa

Sabun padat transparan merupakan salah satu inovasi produk kosmetik, pembersih
tubuh yang dapat menjadikan sabun menjadi lebih menarik dengan daya tembus pandang,

12
menghasilkan busa lebih lembut, serta kenampakan lebih berkilau dibandingkan dengan
jenis sabun lainnya. Sabun yang baik bukan hanya dapat membersihkan kulit dari kotoran
saja, tetapi juga memiliki kandungan zat yang tidak merusak kulit serta dapat melindungi
kulit, salah satunya adalah dari efek radikal bebas. Efek radikal bebas pada kulit ditandai
dengan adanya keriput sehingga kulit cepat mengalami proses penuaan, adanya noda hitam,
telihat lebih kusam, kering, bahkan dapat menimbulkan kanker kulit. Senyawa yang dapat
menangkal radikal bebas adalah antioksidan.

Salah satu jenis antioksidan alami yaitu karotenoid. Karotenoid adalah pigmen
terpenoid berwarna kuning hingga oranye-merah dan disintesis oleh organisme fotosintetik
seperti mikroalga. Ada dua kelompok besar karotenoid yaitu xantofil (karotenoid yang
membawa atom oksigen)dan karotena (karotenoid yang murni hidrokarbon, tidak memiliki
atom oksigen).

3.1.1 Pembuatan sediaan sabun padat transparan


Proses pembuatan sabun diawali dengan mereaksikan asam stearat dalam
minyak zaitun, minyak kelapa, minyak jarak dan butil hidroksitoluen (yang telah
dilarutkan didalam minyak) di atas penangas air pada suhu 60-80 ºC selama 5 menit,
kemudian ditambahkan NaOH 30% sampai terbentuk massa kental yang
menunjukkan terbentuknya massa sabun. Gliserin ditambahkan ke dalam campuran
massa sabun, dan diaduk sampai homogen pada suhu 60-80 ºC. Setelah itu, massa
sabun ditambah metil paraben dan propil paraben (yang telah dilarutkan dalam etanol
96%) dan diaduk sampai homogen pada suhu 60 ºC, kemudian sisa etanol dimasukkan
dan diaduk sampai homogen. Ekstrak karotenoid mikroalga C. pyrenoidosa
dimasukkan ke dalam campuran yang sudah terbentuk sambil terus diaduk sampai
homogen. Selanjutnya dilakukan penambahan larutan sukrosa 50%, NaCl dan
akuades sampai homogen pada suhu 60 ºC. Trietanolamin dan cocoamide DEA (yang
telah dilarutkan dalam air) dimasukkan ke dalam campuran, diaduk sampai homogen.
Lemon grass oil dimasukkan ke dalam campuran pada suhu 40 ºC dan diaduk sampai
homogen. Campuran dituang ke dalam cetakan sabun dan didiamkan pada suhu kamar
sampai mengeras. Sabun yang terbentuk selanjutnya dievaluasi yang meliputi sifat
sensori, fisik, kimia dan stabilitasnya selama penyimpanan.

13
3.1.2 Uji Stabilitas Sabun Padat Transparan
Stabilitas sabun padat transparan dapat dilihat setelah penyimpanan produk selama
waktu simpannya (shelf-life). Namun demikian, cara ini membutuhkan waktu yang
lama sedangkan siklus pengembangan produk kosmetik relatif singkat, sehingga
digunakan pengujian stabilitas dipercepat untuk memperkirakan stabilitas jangka
panjang. Uji stabilitas dipercepat adalah uji yang dirancang untuk meningkatkan laju
degradasi kimia dan perubahan fisika suatu sediaan dengan membuat suatu kondisi
penyimpanan yang dilebihkan. Menurut CTFA (2004) uji stabilitas dipercepat
dilakukan untuk memprediksikan seberapa jauh produk tahan terhadap tekanan dan
temperatur ekstrim. Tujuan uji stabilitas untuk menentukan parameter kinetik
sehingga waktu kadaluarsa dapat diprediksi. Pada studi ini, uji stabilitas dipercepat
dilakukan dengan cara teknik manipulasi suhu yang dilakukan selama 3 minggu

a. Kekerasan sabun
Pada penelitian ini digunakan 3 sabun transparan komersial sebagai
pembanding yang memiliki tingkat kekerasan yang berbeda. Hasil uji stabilitas
selama 3 minggu menunjukkan bahwa sabun formula 1, 2 dan 3 yang disimpan
pada suhu kamar (25-30 °C) mengalami kenaikan tingkat kekerasan sabun
berkisar 1,43%-3,4%. Hal yang sama juga terjadi pada sabun pembanding yang
mengalami tingkat kekerasan sabun antara 1,25%-3,8%. Hasil pengamatan pada
suhu 60 oC menunjukkan bahwa kenaikan tingkat kekerasan pada sabun formula
1, 2 dan 3 berkisar antara 26,4 - 32,1% dan pada sabun pembanding berkisar
antara 36-47%. Kenaikan kekerasan sabun atau penurunan nilai kekerasan yang
terdapat pada alat penetrometer menunjukkan bahwa kadar air dalam sabun terus

14
menyusut sehingga sabun menjadi lebih keras. Berdasarkan hasil tersebut maka
sabun berformula karotenoid 5%, 10% dan 15% memiliki kekerasan sesuai
dengan kriteria dengan sabun komersial

b. Nilai pH
Hasil pemeriksaan terhadap pH sabun padat transparan pada formula 1, 2 dan
3 pada suhu kamar (25-30°C) setelah 21 hari relatif tidak mengalami perubahan
yaitu berkisar antara 9,25±0,01-10,54±0,01. Demikian pula halnya pada suhu 60
°C, setelah 21 hari pengamatan pH sabun tidak mengalami perubahan yaitu
berkisar 9,23±0,09-10,52±0,01. Nilai pH yang diperoleh masih dalam persyaratan
pH sabun padat transparan yaitu 9-11 sehingga sabun padat transparan stabil
dalam penyimpanan

c. Kadar air
Analisa kadar air dilakukan untuk mengetahui kadar air dan zat yang
menguap yang terdapat di dalam sabun. Pengukuran kadar air dan zat menguap
perlu dilakukan karena akan berpengaruh terhadap kualitas sabun. Banyaknya air
yang ditambahkan pada produk sabun akan mempengaruhi kelarutan sabun
(Hambali et al., 2005). Menurut SNI (1994), persyaratan kadar air pada sabun
padat transparan tidak lebih dari 15%. Kadar air pada uji stabilitas penyimpanan
suhu kamar (25-30 °C) dan suhu 60 °C berubah seiring dengan bertambahnya hari
pengamatan (Gambar 5). Setelah 21 hari pengamatan, sabun trasnparan formula
1 dan 2 memiliki kadar air sebesar 14,05%±0,01 dan 14,11%±0,01. Berdasarkan
hasil tersebut, sabun formula 1 dan 2 memenuhi persyaratan baku mutu sabun
padat (SNI, 1994), sedangkan formula 3 memiliki kadar air yang tinggi (>15%)
yaitu 15,81%±0,00 sehigga tidak memenuhi persyaratan

Uji stabilitas sabun padat transparan pada suhu 60 °C formula 1 sampai


3 setelah hari ke 21 memiliki kadar air berkisar 6,22%±0,01-10,68%±0,02.
Menurunnya kadar air pada suhu 60 °C disebabkan adanya penguapan air karena
penyimpanan suhu yang relatif tinggi. Penurunan kadar air mengakibatkan nilai
kekerasan sabun semakin kecil, hal ini berarti sabun menjadi semakin keras.
Berdasarkan hasil uji stabilitas dipercepat, penyimpanan sabun pada suhu 60 °C

15
selama tiga minggu menunjukkan sabun stabil selama pengujian suhu dipercepat
tersebut, sehingga diperkirakan sabun tahan dalam suhu kamar selama 2 tahun
(Lachman et al., 1994). Uji stabilitas ini memberikan indikasi bahwa sabun padat
transparan dengan tambahan ekstrak kasar karotenoid dengan sifat
antioksidannya dapat direkomendasikan sebagai alternatif tambahan variasi
produk kosmetika. Sediaan sabun padat transparan berformulasi ekstrak kasar
karotenoid dari mikroalga Chlorella pyrenoidosa stabil dalam penyimpanan suhu
kamar selama 2 tahun karena sabun relatif stabil pada penyimpanan suhu 60 °C
selama 3 minggu.

3.2 Formulasi dan Uji Sifat Fisik Lulur Body Scrub Arang Aktif Dari Cangkang Sawit (
Elaeis Guineensis Jacg) Sebagai Detoksifikasi
Cangkang sawit (Elaeis guineensis Jacg) dahulu hanya di anggap sebagai limbah yang
tidak dapat di manfaatkan dan hanya dipakai oleh pabrik kelapa sawit sebagai pengeras
jalan. Namun seiring dengan perkembangan zaman lambat laun cangkang sawit ternyata
bisa dipergunakan sebagai bioenergi untuk industri semen dan tekstil, industri pembuatan
arang maupun arang aktif serta industri kosmetik.

Arang aktif adalah arang yang konfigurasi atom karbonnya dibebaskan dari ikatan
dengan unsur lain, serta pori dibersihkan dari senyawa lain sehingga permukaan dan pusat
aktif menjadi luas akibatnya daya adsorbsi terhadap cairan atau gas akan meningkat
(Sudrajat R et. al., 1994). Arang aktif banyak digunakan sebagai adsorben, pemurnian gas,
penjernihan air dan sebagainya.. Sekarang ini banyak industri kosmetik yang
memproduksi berbagai macam produk kecantikan dengan maksud untuk perawatan dan
melindungi masyarakat dari bahaya toksin atau racun. Salah satunya adalah lulur body
srub

Lulur body scrub arang aktif salah satu sediaan kosmetik yang dapat dimanfaatkan
sebagai detoksifikasi atau menghilangkan racun atau toksin yang tidak diperlukan oleh
tubuh.Tubuh manusia kini sangat rentan terhadap racun atau toksin yang berasal dari bahan
pengawet makanan dan polusi udara seperti asap kendaraan bermotor. Racun tersebut akan
terakumulasi dalam jumlah besar dan menyerang sel-sel tubuh sehingga dapat
mengakibatkan kerusakan sel tubuh, reaksi alergi, sistem imun tidak seimbang dan
penuaan lebih cepat

16
3.2.1 Pembuatan lulur body scrub
Alat dan bahan dipersiapkan, cetyl alkohol dan asam stearat dilebur bersamaan diatas
penangas air pada suhu 70 derajat (massa 1), propilen glikol, gliserin, TEA
dilarutkan dalam air bersuhu 80 derajat diaduk hingga homogen (massa 2) kemudian
massa 1 dan massa 2 dicampur sambil aduk perlahan hingga membentuk basis lulur
body scrub (massa 3). Kemudian ditambahkan arang aktif, silica, madu dan parfum
pada massa 3 kemudian diaduk homogen. Dibiarkan dingin dan dimasukkan
kedalam wadah beri etiket.

3.2.2 Evaluasi Lulur body Scrub

17
a. Uji organoleptis
Pengamatan organoleptis yang dilakukan terhadap sediaan lulur body scrub yang telah
dibuat meliputi pengamatan warna, tekstur, bau. Hasil pengamatan organoleptis
terhadap lulur body scrub yang mengandung arang aktif cangkang kelapa sawit dengan
konsentrasi 15 % dan 30 % tidak menunjukkan perubahan warna dan bau setelah
kondisi penyimpanan dipercepat. Berarti tidak ada pengaruh pengemulsi non ionik
terhadap perubahan organoleptis terhadap kedua lulur body scrub yang dibuat.
Berdasarkan hasil pengamatan tidak terbentuknya globul -globul akibat emulsi yang
pecah, hal ini menunjukkan bahwa bahan-bahan yang digunakan terlarut dan tercampur
sempurna. Penggunaan emulgator trietanolamin (TEA) bersifat netral, tidak toksik,
mudah bercampur dengan bahan lain serta tidak dipengaruhi pH dan adanya elektrolit
(Lachman L, 1994).

b. Uji homogenitas

18
Pada pengujian homogenitas yang diamati secara visual dengan menggunakan dua buah
kaca objek, dimana salah satu kaca dioleskan lulur body scrub secara tipis dan merata,
kemudian diamati dibawah sinar ultraviolet atau dibawah cahaya matahari langsung.
Hasil homogenitas kedua formula menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat homogen,
karena tidak terdapat butiran-butiran saat digosokkan pada tangan dan kaca objek.

c. Pengukuran pH
Pada pengujian derajat keasaman dan kebasaan (pH) menunjukkan bahwa kedua
formula mengalami peningkatan pH, hasil pengukuran pH dari kedua sediaan seblum
dan sesudah penyimpanan tetap berada dalam kisaran pH yang diharapkan untuk
sediaan kulit (dermal). Apabila sediaan bersifat basa (tidak masuk dalam rentang pH
4,5- 6,5) akan mempengaruhi elastisitas kulit, namun apabila sediaan bersifat asam
dengan rentang pH dibawah rentang pH kulit akan mengakibatkan kulit mudah
teriritasi. Berdasarkan SNI 16-4399-1996 bahwa nilai pH produk kosmetik kulit
disyaratkan berkisar antara 4,5-8,0. Berdasarkan hasil penelitian, pH sediaan
mengalami penurunan setelah penyimpanan dipercepat, tetapi masih dalam rentang
yang memenuhi persyaratan.

d. Uji Daya sebar


Uji daya sebar bertujuan untuk mengetahui kelunakan masa lulur body scrub sehingga
dapat dilihat kemudahan pengolesan sediaan ke kulit. Hasil uji daya sebar menunjukkan
bahwa semakin tinggi konsentrasi arang aktif cangkang sawit dalam lulur body scrub,
maka semakin kecil daya sebarnya. Hal ini dapat dilihat bahwa daya sebar yang
dihasilkan sangat kecil 1,5 cm dan 1,8 cm, karena konsentrasi arang aktif dari cangkang
sawit sangat besar yaitu 15% dan 30%. Meskipun demikian, semua sediaan lulur body
scrub tidak memenuhi syarat. Daya sebar dari lulur body scrub tersebut lebih rendah
dari standar daya sebar sediaan topikal yang baik.

e. Uji daya lekat


Uji daya lekat bertujuan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan krim tersebut untuk
melekat pada kulit. Daya lekat yang baik memungkinkan obat tidak mudah lepas dan
semakin lama melekat pada kulit, sehingga dapat menghasilkan efek yang diinginkan.
Persyaratan daya lekat yang baik untuk sediaan topikal adalah lebih dari 4 detik. Hasil
pengujian daya lekat menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi arang aktif

19
cangkang sawit, maka semakin kecil daya lekatnya. Akan tetapi, daya lekat dari semua
sediaan lulur body scrub yang dibuat lebih kecil yaitu 0,95 detik dan 0,70 detik
dibandingkan syarat sediaan topikal yang baik. Daya sebar dan daya lekat lulur body
scrub tipe M/A yang tidak memenuhi syarat sediaan topikal.

f. Uji konsistensi
Konsistensi lulur body scrub kedua formula merupakan sediaan yang stabil hal ini dapat
dilihat pada hasil setelah sentrifugasi tidak memperlihatkan pemisahan antara zat aktif
dengan pembawa, walaupun tipe dari sediaan adalah M/A , hal ini dapat dilihat bahwa
setelah penyimpanan 6 bulan lulur body scrub arang aktif masih utuh, konsistensi tetap
dan tidak mengalami pemisahan selama penyimpanan.

20
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa formula 1 memberikan sifat fisik lulur body scrub
arang aktif cangkang sawit yang paling baik dengan konsentrasi 15 % dari pada formula 2
dengan konsentrasi 30 % dan kedua formula memiliki efektifitas sebagai detoksifikasi.

3.3 Pengaruh Penambahan Lemak Kakao Terhadap Kestabilan, Efek Iritasi, Dan Sifat
Sensori Sampo Rambut
Sampo termasuk sediaan kosmetika yang digunakan sehari-hari untuk membersihkan
rambut, sehingga rambut dan kulit kepala menjadi lembut, bersih, sehat, berkilau dan
untuk meningkatkan percaya diri seseorang. Komposisi formula sampo terdiri atas bahan
utama dan bahan tambahan. Bahan utama terdiri atas surfactant dan cosurfactant sebagai
agen surface-active. Surfaktan merupakan kunci dari pembersih rambut, karena struktur
molekulnya terdiri dari bagian hidrofilik dan lipofilik, memiliki kemampuan menurunkan
tegangan permukaan antara air dan kotoran sehingga kotoran tersuspensi dalam fase air

Kriteria sampo yang baik, minimal harus dapat membersihkan, memiliki emulsi minyak
dalam air (m/a) yang stabil, aroma dan warna yang konsisten, viskositas yang baik (kental),
pH mendekati pH fisiologis kulit kepala, menghasilkan busa kecil yang stabil dan
melimpah, tidak mengiritasi kulit,

Penambahan lemak kakao dalam formulasi sediaan sampo dimaksudkan untuk


menggantikan lemak dari kulit kepala yang hilang pada saat keramas, karena Sodium
lauryl sulfat (SLS) merupakan pembersih yang kuat, sehingga tidak hanya mengangkat
kotoran pada rambut dari kulit kepala, tetapi juga mengangkat lemak yang berguna bagi
tubuh. Lemak pada kulit berguna untuk melindungi kulit dari radikal bebas, sengatan sinar
UV, dan menjaga kelembaban kulit

3.3.1 Prosedur Pembuatan Sampo Rambut


Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan sampo rambut terdiri atas 2 fase yaitu
fase air dan fase minyak. Persiapan bahan-bahan untuk fase air antara lain : NaCl
dilarutkan dengan air destilat yang telah dipanaskan pada suhu 1000 C selama 10 menit,
lalu larutan tersebut disisihkan. Sodium lauril sulfat dan gliserin dilarutkan dengan
larutan NaCl, kemudian ditambahkan novenmer yang telah dilarutkan dengan air destilat
o
sedikit demi sedikit diatas penangas air pada suhu 60 - 70 C. Pemanasan dan
pengadukan dilakukan sampai larutan homogen selama ± 10 menit (larutan a). Metil
paraben dilarutkan dengan air destilat kemudian disisihkan.

Persiapan bahan–bahan fase minyak antara lain : setil alkohol, lemak kakao, cocamid
DEA, dan asam stearate dimasukkan ke dalam gelas kimia kemudian dilarutkan di atas

21
penangas pada suhu 60 - 700 C (larutan b). Propil paraben dilarutkan dengan propilen
glikol kemudian disisihkan. Selanjutnya (larutan b) dimasukan ke dalam (larutan a)
sedikit demi sedikit sambil pemanasan dan pengadukan diatas penangas air pada suhu
60 - 700 C selama ± 10 menit. Setelah larutan larut sempurna dan homogeny, larutan
metil paraben dan propil paraben ditambahkan ke dalam larutan tersebut sambil diaduk
selama ± 5 menit. Setelah adonan sampo larut sempurna didinginkan pada suhu ruang
kemudian ditambahkan fragrance oil lalu dimasukkan ke dalam botol sampel. Formulasi
pembuatan sampo rambut dapat dilihat pada Tabel 1.

3.3.2 Hasil Uji Stabilitas

22
Hasil uji stabilitas sediaan sampo rambut dengan metode sentrifugasi dengan
kecepatan 3800 rpm (Tabel 2) menunjukkan semua sediaan jenis formula sampo rambut
stabil hingga 5 jam, demikian halnya dengan metode dipercepat, semua sediaan stabil
hingga penyimpanan 4 minggu

Uji stabilitas dipercepat bertujuan untuk mendapatkan informasi yang diinginkan


pada waktu yang sesingkat mungkin, dengan cara menyimpan sediaan pada kondisi
yang telah dirancang untuk mempercepat terjadinya perubahan yang biasanya sering
terjadi pada kondisi normal. Jika hasil pengujian suatu sediaan pada uji dipercepat
selama 3 bulan diperoleh hasil yang stabil, maka hal tersebut menunjukan bahwa
sediaan dapat stabil pada suhu ruang selama 1 tahun (Martin, et al., 1983).

Penambahan lemak kakao (0 %, 1 %, dan 1.5 % ) ke dalam formula menghasilkan


produk sampo rambut yang tetap stabil dan homogen hingga penyimpanan 4 minggu
yang berarti bahwa ketiga jenis formula sampo tidak mengalami creaming, sedimentasi,
flokulasi, dan crecking atau koalesen. Emulsi dikatakan stabil apabila tidak mengalami
creaming, sedimentasi, flokulasi dan crecking atau koalesen

Kestabilan dari ketiga jenis formula sampo ini sesuai dengan hasil penelitian,
dimana penambahan minyak kelapa murni ( VCO) ke dalam formula sediaan sampo
dengan konsentrasi (0 %, 1 %, dan 1.5 %) juga tetap stabil selama penyimpanan 8
minggu.

23
BAB IV

KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan

24
DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 1997. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.N

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik

Indonesia

Djajadisastra, J. 2004. Cosmetic Stability. Seminar Setengah Hari Hiki. Jakarta.

Kasim R, Lullung A. 2017. Pengaruh Penambahan Lemak Kakao Terhadap Kestabilan, Efek
Iritasi, Dan Sifat Sensori Sampo Rambut. Makassar. Jurnal Industri Hasil Perkebunan Vol 12.
No. 2: 40-52.

Lachman, L., Lieberman, A. H., & Kanig, L. J., (1994) The Theori and Practise of Industrial
Pharmacy. Lea&Febiger 600. Washington Square, USA. 1530-1531

Lestari U, dkk. 2017. Formulasi dan Uji Sifat Fisik Lulur Body Scrub Arang Aktif Dari
Cangkang Sawit ( Elaeis Guineensis Jacg) Sebagai Detoksifikasi. Jambi. Jurnal Sains dan
Teknologi Farmasi Vol. 19 Suplemen 1.

Lieberman HA, Lachman, Schwartz, 1989, Pharmaceutical Dosage Form: Tablet, Volume 1
and 2, Marcel Dekker, New York

Martin. EL. 1971. Dispensing of Madication 7 th ed. Mack Publishing Company. Easton
Pennysylvania p 528-529.

25
Parrot E. 1974. Pharmaceutical Technology Burgess Publishing Company University of
Lowa.Lowa City p 310-313.

Purushothamrao K, Khaliq K., Sagare P., Patil S. K., Kharat S. S., Alpana.K. 2010. Formulation and
evaluation of vanishing cream for scalp psoriasis. Int J Pharm Sci Tech Vol-4,Issue-1, 2010. ISSN:
0975-0525
Wayan, Ni, H Agustina. 2017. Karakteristik Dan Aktivitas Antioksidan Sabun Padat
Transparan Yang Diperkaya Dengan Ekstrak Kasar Karotenoid Chlorella Pyrenoidosa.
Jakarta. JPB Kelautan dan Perikanan Vol. 12 No. 1 Tahun 2017: 1-12.

26