Anda di halaman 1dari 7

Permasalahan Perencanaan Tata Ruang

Wilayah Kabupaten
Posted on October 30, 2012by Musnanda

Kapasitas Perencanaan
Kapasitas menjadi isu utama yang harus dicari permasalahannya karena
perencanaan yang baik akan tergantung pada kemampuan perencana dalam
melakukan kegiatan perencanaan.

Dalam banyak pengamatan saya banyak staff perencana di tingkat kabupaten yang
tidak memiliki kapasitas mengenai perencanaan. Sementara aspek perencanaan
sendiri terdiri atas aspek-aspek beragam mulai dari kebijakan, program, dan aspek
teknis seperti kemampuan analisis keruangan. Pengamatan saya di beberapa
kabupaten staff perencana datang dari bidang-bidang lain selain perencana. Paling
banyak dari bidang ekonomi dan bidang sosial dengan sedikit atau tidak ada yang
memiliki latar belakang regional planning.

Dalam prakteknya penataan ruang memerlukan keahlian bidang-bidang seperti


regional planning, geografi, lingkungan hidup, infrastruktur, dll. Tetapi yang utama
tentunya kemampuan di regional planning dan geografi dimana aspek utama yang
dikaji terkait dengan wilayah.

Training Jangka Pendek


Ada banyak training yang dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas
perencanaan, tetapi sayangnya training dilakukan dalam jangka waktu pendek dan
terputus-putus.

PU sendiri memberikan training secara regular mengenai perencanaan tata ruang,


selain PU juga terdapat lembaga-lembaga pendidikan seperti Universitas yang
memberikan training-training mengenai perencanaan dan bisa diakses oleh
pemerintah daerah. Tetapi pertanyaan lanjutannya adalah; apakah Pemda
menganggarkan training tersebut secara regular.

Beberapa lembaga diluar pemerintah banyak yang memberikan panduan mengenai


perencanaan dengan memberikan training. Ada banyak lembaga development
organization yang bekerja dengan memberikan training mengenai perencanaan.
Inipun belum memberikan dampak yang cukup besar. Intensitas pelatihan yang
terbatas serta tidak dibarengi dengan pelaksanaan langsung menyisakan PR dalam
peningkatan kapasitas perencanaan.

Guidance Yang Terbatas


Pada tingkat kabupaten terbatas sekali adanya panduan-panduan perencanaan,
bahkan regulasi-regulasi formal perencanaan yang sudah tersusun melalui UU, PP,
Permen sulit didapatkan didaerah.

Meskipun department terkait mengatakan bahwa semua guidance ini ada dalam
website, tetapi harus diketahui bahwa banyak wilayah tidak memiliki akses ke
internet.

Ada beberapa wilayah yang memiliki akses website tetapi mencari document inipun
tidak mudah tanpa adanya sosialisasi dimana peraturan serta panduan tersebut bisa
diunduh.

Mutasi
Perpindahan posisi satu dalam kepegawaian menjadi hambatan lain dalam kaitan
perencanaan ruang. Perpindahan staff dan posisi satu intitusi atau berbeda intitusi
menyebabkan hilangnya kapasitas.

Rolling yang dilakukan dalam kaitan dengan perencanaan menyebabkan siapapun


yang menempati posisi baru dalam bidang perencanaan ruang harus memulai dari
awal lagi.
PERMASALAHAN DALAM PROSES PENYUSUNAN RENCANA TATA
RUANG DI DAERAH 3

1Untuk mengetahui permasalahan apa saja yang terjadi dalam proses


penyusunan rencana tata raung terlebih dahulu perlu diketahui dan
dipahami proses penyusunan rencana tata ruang tersebut.  Proses
Penyusunan Rencana Tata Ruang diatur dalam PP No. 15 Tahun 2010
tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, Pasal 19,20,21 dan 22 4

.
2.Pelaksanaan Perencanaan Tata Ruang Prosedur Penyusunan Rencana
Tata Ruang Prosedur Penetapan Rencana tata Ruang. Tahap Persiapan
Tahap Pengumpulan Data Tahap Pengolahan Data dan Analisis Tahap
Perumusan Konsepsi Rencna Tahap Penyusunan Raperda 1 2 3 4 5 Tahap
Pengajuan Raperda ke DPRD Tahap Penyampaian Raperda untuk
persetujuan Substansi Tahap Persetujuan bersama DPRD setelah
persetujuan substansi Tahap Penyampaian Raperda untuk di evaluasi
Tahap Penetapan Raperda menjadi Perda 1 2 3 4 5 PP No. 15 Tahun 2010
tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, Pasal 19,20,21 dan 22 5

6. Persiapan •KAK •Metodologi •Penganggaran Pengumpulan Data


•Pengumpulan Data dan Informasi, Peta •Data Skunder dan Primer
•Wawancara •Observasi •Kuisioner Pengolahan Data dan Analisis •Analisis
data dan Informasi •Potensi •Masalah •Peluang •Hambatan •Kecendrungan
Perumusan Konsepsi Rencana •Perumusan Konsep/ alternatif •Penilaian
Konsep/ alternatif •Konsep/ rencana terpilih Penyusunan Ranperda
•Penyusunan Naskah Raperda Keterbatasan anggaran untuk perencanaan
Ketersediaan, Keakuratan dan Integrasi Data termasuk Peta Kemampuan
SDM, Ketersediaan Perangkat analisis Konflik kepentingan dan kualitas
rencana Kurangnya koordinasi antar instansi Permasalahan Inti yang sering
timbul 1. Tahapan dalam penyusunan Rencana Tata Ruang 6

7. ANGGARAN  Belum adanya standar tentang anggaran/ biaya untuk


penyusunan suatu produk rencana tata ruang.  Kemampuan penyediaan
anggaran masing-masing daerah berbeda untuk membiayai penyusunan
rencana tata ruang dan ketersediaannyapun cendrung terbatas DATA 
Ketersediaan data regional/ wilayah dalam lingkup kabupaten baik data umum
maupun data sektoral sulit diperoleh  Kualitas dan kuantitas data berbeda
untuk jenis data yang sama karena sumber keluaran yang berbeda  Tidak
adanya sinkronisasi dan koordinasi antar intansi mengenai data masing-
masing/ Ego sektoral masih mendominasi Keakuratan data yang selalu
dipertanyakan terkait dengan cara perolehan data yang cendrung berdasarkan
asumsi  Ketersediaan Peta Citra satelit di daerah yang terbatas  Citra satelit
dan peta yang dibuat dalam rencana tata ruang harus melalui proses
persetujuan peta di BIG  Penggunaan Foto Udara dan Drone yang merupakan
teknologi yang masih sangat mahal, masih belum dapat dijangkau bagi
sebagain besar Pemda, meskipun ada Pemda yang telah memiliki.
Permasalahan dalam Proses Penyusunan Rencana Tata Ruang

1. 8. Permasalahan dalam Proses Penyusunan Rencana Tata Ruang SDM 


Keterbatasan kemampuan sumber daya manusia baik dari pemerintah
maupun pihak ketiga dalam hal: - melakukan pengolahan dan analisis data
- merumuskan konsep rencana - menggunakan perangkat analisis terutama
berteknologi tinggi - membuat dan menyajikan peta  Keterbatasan sumber
daya di daerah yang berlatar belakang pendidikan perencanaan wialayah
dan kota  Penempatan pejabat yang tidak sesuai dengan kemampuannya
dibidang tata ruang  Pimpinan dan pejabat daerah tidak menguasai
persoalan dan kebutuhan ruang di daerahnya  Ketidakpahaman
masyarakat akan pentingnya tata ruang serta perannya dalam penataan
ruang  Masih minimnya jumlah Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bidang Tata
Ruang  Rendahnya kualitas pemahaman stakeholders terhadap penataan
ruang 8

9. Permasalahan dalam Proses Penyusunan Rencana Tata Ruang.............


KONFLIK  Tarik ulur kepentingan politik/ penguasa/ pribadi/ kelompok dalam
merumuskan dan menetapkan rencana tata ruang  Perencanaan tata ruang
saat ini masih cenderung berorientasi pada pencapaian tujuan ideal jangka
panjang yang sering meleset akibat banyaknya ketidak-pastian.  Rencana
yang disusun cendrung menggunakan pendekatan pemikiran sekadar untuk
memecahkan masalah secara ad hoc yang berjangka pendek dan kurang
berwawasan luas.  Perencanaan tata ruang cendrung terlalu ditekankan pada
aspek penataan ruang dalam arti fisik dan visual tanpa memperhatikan aspek-
aspek yang berkaitan dengan perencanaan komunitas (sosial-budaya) dan
perencanaan sumber daya  Kota dan daerah masih hampir selalu dilihat
dalam bentuk hirarki pohon yang tampaknya saja sederhana, padahal dalam
kehidupan sesungguhnya berbentuk hirarki-jaring yang sangat kompleks. 
Peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang dan
pengelolaan lingkungan hidup pun masih sangat terbatas

10. Permasalahan dalam Proses Penyusunan Rencana Tata Ruang.............


Koordinasi  Kurangnya koordinasi antar instansi dalam penyusunan Rencana
Tata Ruang dan Rancangan Peraturannya  Kurang optimalnya peranan
BKPRD dalam melaksanakan tugas dan fungsinya  Regulasi/ peraturan
hukum yang kurang sinkron antara satu dengan yang lain, contohnya antara
Permendagri dengan Permen PU  Tidak adanya keseragaman

11. Penyampaian Raperda ke DPRD Permasalahan Inti yang sering timbul


2. Tahapan dalam penetapan Raperda Rencana Tata Ruang Pengajuan
Raperda ke Menteri untuk persetujuan substansi Evaluasi Muatan Rencana
Tata Ruang oleh Menteri Persetujuan Substansi Pembahasan dan
Penetapan Raperda dengan DPRD Permasalahan dalam mendapat
Persetujuan Substansi Permasalahan dalam penetapan Ranperda dengan
DPRD

12. 1.  Prosedur mendapatkan persetujuan substansi yang terlalu rumit dan


memakan waktu yang lama  Citra satelit dan peta yang dibuat dalam rencana
tata ruang harus melalui proses persetujuan peta di BIG dan memakan waktu
yang lama  Proses evaluasi muatan materi teknis rencana tata ruang yang 
Kebiasaan DPRD yang melakukan studi banding pada saat pembahasan
raperda dan ini membutuhkan biaya  Pemilihan lokasi studi banding DPRD
yang tidak tepat  Keterbatasan kemampuan SDM anggota DPRD dalam
memahami penataan ruang Dalam Proses Persetujuan Substansi Dalam
Proses Penetapan Ranperda di DPRD Permasalahan dalam Proses
Penyusunan Rencana Tata Ruang

13. PERMASALAHAN DALAM IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG DI


DAERAH 13
14.  Untuk mengetahui permasalahan apa saja yang terjadi dalam
implementasi rencana tata ruang di daerah, terlebih dahulu perlu diketahui
tentang bagaimana implementasi tata ruang  Implementasi Rencana Tata
Ruang diatur dalam PP No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang, Bab V, VII dan VII 14

16. Permasalahan dalam Pemanfaatan Ruang  Ketidaksesuaian antara


perencanaan yang dibuat dengan dinamika perkembangan kota/ daerah 
Meningkatnya kebutuhan tanah untuk kegiatan pembangunan  Pemanfaatan
ruang tidak mengacu pada peruntukan/ fungsi ruang yang telah ditetapkan
dalam rencana  Penyusunan Program sektoral dan pelaksanaan
pembangunan tidak sinkron dan tidak mengacu pada rencana tata ruang yang
telah disusun  Adanya Konflik kepentingan antar sektor (kehutanan,
pertambangan, lingkungan, prasarana wialyah)  Menurunnya luas kawasan
yang berfungsi lindung, kawasan resapan air dan meningkatnya DAS kritis 
Keterbatasan daya dukung dan daya tampung lingkungan 16

17. Permasalahan dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang  Masih


sedikitnya daerah yang memilki peraturan zonasi  Pemberian izin
pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan rencana pemanfaatan ruang  Belum
diterapkannya pemberian Insentif / disinsentif  Lemahnya penegakan hukum
(aparat dan perangkat) untuk pengenaan sanksi terhadap pemanfaatan ruang
yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang.  Tidak adanya sanksi bagi
pemerintah yang tidak melaksnaakan pembangunan sesuai dengan rencana
yang telah ditetapkan  Belum optimalnya peranan BKPRD  Keterbatasan
anggaran dalam melaksanakan instrumen pengendalian pemanfaatan ruang 
Konflik kepentingan politik dan kebijakan para penguasa 17
18. Permasalahan dalam Pengawasan  Pemantauan, evaluasi dan pelaporan
tidak terlaksanaka secara berkala, cendrung hanya pelaksanaan secara
administrasi  Ketersediaan/ keterbatasan anggaran daerah untuk melakukan
pengawasan  Lemahnya wibawa hukum (aparat dan perangkatnya) terhadap
pengenaan sanksi pada pihak yang melakukan penyimpangan
penyelenggaraan penataan ruang  Masyarakat tidak berperan dalam
melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan penatan ruang 
Pemerintah/ pemerintah daerah tidak menyediakan sarana penyampaian hasil
pengawasan penataan ruang.  Terbatasnya jumlah PPNS di daerah 
Rendahnya komitmen perangkat daerah termasuk BKPRD dalam
melaksanakan pengawasan bidang tata ruang

19. - Anggaran - Data &Teknologi - SDM - Regulasi Ketepan perumusan


tujuan, sasaran dan konsepsi rencana serta kualitas rencana terpilih
Implementasi Pemanfaatan Ruang Kualitas dan kedalaman analisis Penetapan
peraturan Penyusunan indikasi program dalam rangka mewujudkan kegiatan
pemanfaatan ruang kawasan Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan
Pengawasan Ketersedaan dan kualitas data Ketepatan dalam mengkaji
potensi, masalah, hambatan, tantangan, kecendrungan 19Keterkaitan
anggaran, data, SDM dan regulasi dalam penataan ruang

20.
1. Penataan ruang belum sepenuhnya menjadi alat keterpaduan program
dalam mendorong terselenggaranya pembangunan yang efisien dan efektif.
2. Penataan ruang belum sepenuhnya dijadikan instrumen yang mampu
menjawab issue-ssue dan permasalahan pembangunan wilayah dan kota.
3. Penataan ruang belum didukung sistem informasi yang memadai sebagai
infrastruktur pendukung penyelenggaraan penataan ruang.
4. Penataan ruang belum didukung oleh kelembagaan yang dapat
mengkoordinasi berbagai sektor termasuk pembiayaan pembangunan
. 5. Belum efektifnya kelembagaan penataan ruang di daerah (SDM,
knowledge, organisasi, peran serta masyarakat).
6. Lemahnya pengendalian pemanfaatan ruang dan belum efektifnya
penegakan hukum dalam mengatasi penyimpangan pemanfaatan ruang.
7. Masih rendahnya pelibatan masyarakat dalam penyelenggaraan penataan
ruang

1. Tidak adanya ketegasan hukum bagi seorang yang melanggar


tata ruang.

Setiap orang yang melakukan penyimpangan perencanaan tata


ruang tidak pernah atau jarang mendapatkan sanksi. Akibatnya,
penyimpangan penggunaan tata ruang dianggap biasa dan tidak
punya arti apa-apa. Kondisi ini berakibat pada kesemrawutan
pelaksanaan tata ruang wilayah.

2. Perencanaan tata ruang selalu disatukan dengan rencana


pengembangan.

Perencanaan tata ruang yang disatukan dengan rencana


pembangunan berakibat kesimpangsiuran karena seharusnya
perencanaan tata ruang dijadikan acuan dalam rencana
pembangunan.

3. Perencanaan tata ruang lebih banyak didominasi oleh


keputusan politik.

Tidak bisa dipungkiri bahwa stabilitas politik di Indonesia masih kurang


baik. Banyak pengambil kebijakan dan keputusan memutuskan atau
mengeluarkan kebijakan yang tidak objektif. Terutama dalam bidang
tata ruang. Seharusnya perencanaan tata ruang mengacu pada
objektivitas karakteristik wilayah, bukan kebijakan politik. Jika ini
terjadi, maka akan menghasilkan pemanfaatan lahan yang tidak
maksimal. Biasanya hal ini terjadi dengan kesepakatan serta
pemberian uang secara sembunyi-sembunyi.

4. Belum semua daerah di Indonesia mempunyai Rencana Tata


Ruang Wilayah (RTRW) yang sesuai dengan RTRW Nasional.

Menurut catatan kementerian pekerjaan umum, pada tahun 2015


baru 51% dari 34 provinsi di Indonesia yang mempunyai
Peraturan Daerah (perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW). Tanpa peraturan daerah yang jelas, pemerintah daerah akan
mengalami kesulitan dalam mengatur peruntukkan suatu wilayah dan
mengambil tindakan jika terjadi pelanggaran RTRW di daerahnya.