Anda di halaman 1dari 10

Kreano9 9(1)

Kreano (1)(2018):
(2018):28-37
29-37

Ju r n a l M a t e m a t i k a K r e a t i f - I n o v a t i f
http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kreano

Efektifitas Model Pembelajaran Learning Cycle 5e


Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa
Kelas VII 

Nerru Pranuta Murnaka1, Nia Yuniarti2

1,2
Pendidikan Matematika, STKIP Surya Tangerang

Email: nerru.pranuta@stkipsurya.ac.id1, nia.yuniarti@students.stkipsurya.ac.id1

DOI: http://dx.doi.org/10.15294/kreano.v9i1.10957
Received : August 2017; Accepted: May 2018; Published: June 2018

Abstrak
Kemampuan komunikasi matematis merupakan kemampuan yang sangat penting untuk dimiliki siswa. Hal ini dika-
renakan dengan memiliki kemampuan tersebut, siswa mampu mengomunikasikan gagasan ataupun ide matema-
tisnya baik secara lisan maupun tertulis. Namun, berdasarkan studi pendahuluan berupa tes kemampuan komu-
nikasi matematis dan observasi kelas yang dilakukan peneliti di salah satu kelas di SMP Negeri 8 Kota Tangerang
Selatan menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa masih tergolong rendah. Upaya yang da-
pat dilakukan adalah dengan menerapkan suatu model pembelajaran yang dapat melatih dan menumbuhkan ke-
mampuan komunikasi matematis siswa yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Learning Cycle 5E. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah besarnya peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa
yang memperoleh pembelajaran model Learning Cycle 5E lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang memper-
oleh pembelajaran konvensional; untuk mengetahui apakah rata - rata kemampuan komunikasi matematis siswa
yang memperoleh pembelajaran model Learning Cycle 5E melampaui dari nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM).
Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Desain penelitian yang digunakan adalah Nonequivalent Control Group
Design. Populasi dalam penelitian adalah siswa kelas VII.1, VII.2, dan VII.3 SMP Negeri 8 Kota Tangerang Selatan dan
sampelnya adalah siswa kelas VII.2 sebagai kelas eksperimen dan kelas VII.3 sebagai kelas kontrol. Teknik pengam-
bilan sampel menggunakan Cluster Random Sampling. Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan uji para-
metrik (uji t). Pada penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa peningkatan kemampuan komunikasi matematis
siswa yang memperoleh pembelajaran model pembelajaran Learning Cycle 5E lebih tinggi dibandingkan dengan
siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional; dan Rata-rata kemampuan komunikasi matematis siswa yang
memperoleh pembelajaran model Learning Cycle 5E melampaui dari nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Abstract
Mathematical communication ability is a important ability to have students. This is because by having these abilities,
students are able to communicate ideas or mathematical ideas both orally and in writing. However, based on preliminary
studies in the form of mathematical communication and class observation, tests conducted by researchers in one class
at SMP Negeri 8 Kota Tangerang Selatan showed that students’ mathematical communication ability is still low. The
efforts that can be done is to apply a model of learning that can train and cultivate students’ mathematical communica-
tion ability by applying the learning cycle 5E model. The purpose of this study is to determine whether the improvement
of mathematical communication skills of students who get learning model Learning Cycle 5E higher than students who
obtain conventional learning; to find out whether the average of mathematical communication ability of students who
get learning model Learning Cycle 5E exceeds the value of minimal mastery criteria (KKM). This type of research is quasi
experiment. The research design used is nonequivalent control group design. The population in this research was the
students of class VII.1, VII.2, and VII.3 SMP Negeri 8 Kota Tangerang Selatan and the sample is the students of class VII.2
as the experimental class and class VII.3 as the control class. The sampling technique used random sampling. Hypothesis
of research was tested by parametric test (t test). In this research, it can be concluded that the improvement of math-
ematical communication ability of students who get learning cycle 5e model is higher than students who get conven-
tional learning; and the average mathematical communication ability of the experimental class has exceeded the KKM.

Keywords: Mathematical communication skill, learning cycle 5e model, quasi experiment.

© 2018 Semarang State University. All rights reserved UNNES JOURNALS


p-ISSN: 2086-2334; e-ISSN: 2442-4218
Kreano 9 (1) (2018): 29-37 | 29

PENDAHULUAN matika, kemampuan komunikasi matematis


Matematika merupakan ilmu universal yang siswa perlu menjadi fokus perhatian, sebab
mendasari perkembangan teknologi modern, melalui komunikasi inilah siswa akan mampu
dan mempunyai peran penting dalam berba- mengatur dan memperkuat berpikir matema-
gai disiplin ilmu serta memajukan daya pikir tisnya (NCTM, 2000). Menurut Baroody, ada
manusia (Depdiknas, 2006). Hal senada juga dua alasan pentingnya kemampuan komuni-
di ungkapkan oleh Suherman (2003) yang me- kasi matematis bagi siswa yaitu: (1) mathema-
nyebutkan bahwa matematika memegang tics as language, itu berarti matematika tidak
peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu, hanya sekedar alat bantu berpikir (a tool to aid
perkembangan sains, dan teknologi. Oleh ka- thinking), alat untuk menemukan pola, atau
rena itu, matematika dijadikan sebagai salah menyelesaikan masalah, namun juga sebagai
satu mata pelajaran yang wajib dipelajari sis- alat untuk mengomunikasikan berbagai ide
wa mulai jenjang sekolah dasar (Depdikbud, dengan jelas, tepat dan ringkas; (2) mathema-
2014; Depdiknas, 2006; Suherman, 2003) tics learning as social activity, sebagai aktivitas
Salah satu tujuan pembelajaran mate- sosial dalam pembelajaran matematika dan
matika untuk satuan pendidikan dasar dan interaksi antar siswa dengan guru (Nerru et
menengah mata adalah siswa memiliki ke- al., 2013).
mampuan mengkomunikasikan gagasan den- Mengingat pentingnya kemampuan
gan simbol, tabel, diagram, atau media lain komunikasi matematis, dalam pembelajaran
untuk memperjelas keadaaan atau masalah matematika, seorang guru diharapkan dapat
(Depdiknas, 2006). Tujuan permendiknas ini, membangun kemampuan komunikasi mate-
sejalan dengan tujuan umum pembelajaran matis siswanya sehingga tujuan pembelaja-
matematika yang dirumuskan National Coun- ran matematika dapat tercapai dengan baik.
cil of Teacher of Mathematics (NCTM). Salah Namun faktanya masih banyak guru yang
satu tujuan pembelajaran matematika me- kurang memperhatikan kemampuan komu-
nurut NCTM adalah belajar untuk berkomu- nikasi siswa –siswa. Sehingga kemampuan
nikasi (mathematical communication) (NCTM, komunikasi siswa tidak berkembang. Ren-
2000). Berdasarkan tujuan pembelajaran di dahnya kemampuan komunikasi siswa Indo-
atas, salah satu aspek yang ditekankan dalam nesia di bandingkan siswa dari negara-negara
NCTM dan Permendikbud adalah agar siswa lain didunia dapat dilihat dari hasil Trends In-
diharapkan memiliki kemampuan komunikasi ternational Mathematics and Science Study
matematis. (TIMSS). Menurut hasil Trends International
Komunikasi matematis adalah kemam- Mathematics and Science Study (TIMSS) pada
puan dalam menggunakan bahasa matemati- tahun 2011 Indonesia berada pada peringkat
ka untuk mengekspresikan ide dan argumen 41 dari 45 negara dengan skor yang diperoleh
matematika (Kaur & Toh, 2012). Menurut siswa kelas VIII SMP yaitu 386 dari skor stan-
Ontario (2010) komunikasi matematis ada- dar internasional 500(Setiadi & Mahdiansyah,
lah proses untuk mengekspresikan ide mate- 2012). Sedangkan pada tahun 2015, negara In-
matis dalam bentuk lisan, visual, dan tertulis donesia tidak megirimkan wakil untuk jenjang
dengan menggunakan angka, simbol, gam- SMP di kegiatan tersebut( http://puspendik.
bar, diagram, dan kalimat. Sehingga, komu- kemdikbud.go.id).
nikasi matematis menjadi bagian penting Dari hasil studi lapangan yang dilakukan
dari matematika dan pendidikan matematika peneliti SMP Negeri 8 Kota Tangerang Selatan
(Hirschfeld-Cotton, 2008). Selain itu, menurut di kelas VII.1. Dengan menggunakan soal yang
Guerreiro, komunikasi matematis juga meru- diujikan oleh TIMSS tahun 2011 pada Gambar
pakan alat bantu dalam transmisi pengeta- 1 hanya 29,7% dari 37 siswa yang bisa men-
huan matematika atau sebagai fondasi dalam jawab dengan benar. Berdasarkan soal pada
membangun pengetahuan matematika (Ner- Gambar 1, sebagian besar siswa menjawab
ru, Mariani, & Cahyono, 2013). pilihan A.
Sehingga dalam pembelajaran mate-

UNNES JOURNALS
30 Nerru P.M., Nia Y., Efektifitas Model Pembelajaran Learning Cycle 5e Terhadap Kemampuan ...

Salah satu dari segi delapan yang diarsir di bawah ini memiliki nilai pecahan uang sama dengan
persegi panjang yang diarsir di atas. Segi delapan manakah itu?. Jelaskan alasanmu!.

a b c. d.

Sumber : Setiadi dkk., 2012
Gambar 1 Salah Satu Soal yang Diujikan dalam TIMSS Tahun 2011

Berikut sebagian besar alasan yang di- pembelajaran yang dilakukan di kelas masih
berikan oleh siswa pada Gambar 2. berpusat kepada guru (Teacher Centered).
Guru menjelaskan dan sebagian besar siswa
hanya memperhatikan dan mencatat materi
saja. Oleh karena itu, upaya pengembangan
proses kegiatan pembelajaran yang dapat
melatih kemampuan komunikasi matematis
siswa dapat dilakukan dengan penggunaan
pembelajaran yang mengikutsertakan parti-
sipasi aktif siswa, yaitu melalui model pem-
belajaran Learning Cycle 5E.
Model pembelajaran Learning Cycle
5E merupakan salah satu model pembela-
jaran dengan pandangan konstruktivisme
(Wina, 2009). Menurut Bybee (2002) fase-fase
pada model pembelajaran Learning Cycle 5E
terdiri atas fase engagement (pembangkitan
minat), fase exploration (eksplorasi), fase exp-
Sumber : Dokumen pribadi lanation (penjelasan), fase elaboration (elabo-
Gambar 2. Hasil Pengerjaan Siswa Pada Salah Satu rasi) dan fase evaluation (evaluasi). Selain itu,
Soal yang Diujikan
model pembelajaran Learning Cycle 5E meng-
haruskan siswa untuk ikut serta dalam pem-
Di sisi lain, penelitian yang dilakukan belajaran, menyelidiki permasalahan yang
oleh Nuriadin di salah satu SMP di kota Tange- terkait materi, memberikan definisi berkaitan
rang menunjukkan bahwa hasil tes kemampu- pengalaman mereka, memperoleh informasi
an komunikasi matematis siswa masih tergo- detail tentang pembelajaran, dan mengeva-
long rendah dengan nilai rata-ratanya adalah luasinya (Ardina & Sa’dijah, 2016). Fase-fase
9,14 dari skor ideal yaitu 24 (Nuriadin, 2015). dalam model pembelajaran Learning Cycle
Penyebab rendahnya kemampuan komunikasi 5E ini selalu menuntut siswa untuk berkomu-
matematis siswa salah satunya adalah proses nikasi baik secara lisan maupun tulisan. Dari
pembelajaran yang masih berpusat pada guru fase-fase model pembelajaran Learning Cycle
sehingga siswa kurang diberikan kesempatan 5E, kemampuan komunikasi matematis siswa
untuk mengomunikasikan gagasan ataupun secara lisan dioptimalkan pada fase explora-
ide matematisnya selama proses pembelaja- tion dan explanation. Untuk meningkatkan
ran (Oktaviarini, 2015). Selain itu, berdasar- kemampuan komunikasi matematis siswa se-
kan hasil pengamatan (observasi kelas) yang cara tertulis, lebih dioptimalkan pada fase ex-
dilakukan peneliti di kelas VII.1 SMP Negeri 8 ploration, elaboration dan evaluation. Model
Kota Tangerang Selatan menunjukkan bahwa pembelajaran Learning Cycle 5E dapat menja-
UNNES JOURNALS
Kreano 9 (1) (2018): 29-37 | 31

di cara untuk meningkatkan kemampuan ko- sing-masing kelas diberi tes sebanyak dua kali
munikasi matematis siswa. Hal ini didukung yaitu pretest (sebelum perlakuan) dan posttest
dengan hasil penelitian (Agustyaningrum, (setelah perlakuan). Kemudian dilihat pening-
2011)menunjukkan bahwa pembelajaran ma- katan kemampuan komunikasi matematis an-
tematika menggunakan model pembelajaran tara dua kelas.
Learning Cycle 5E dapat meningkatkan ke-
mampuan komunikasi matematis. Populasi dan Sampel
Berdasarkan uraian di atas, maka Populasi adalah kelompok yang peneliti in-
tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ginkan untuk menggeneralisasikan hasil pen-
keefektifitas model pembelajaran learning elitiannya (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 1993).
Cycle 5E terhadap kemampuan komunikasi Populasi yang digunakan dalam penelitian ini
matematis siswa. keefektifan tersebut akan adalah siswa kelas VII.1, VII.2, dan VII.3 di SMP
ditunjukkan melalui dua hal berikut ini : 1) Be- Negeri 8 Kota Tangerang Selatan. Sampel
sarnya peningkatan kemampuan komunikasi adalah sebagian dari populasi. Sampel yang
matematis siswa yang memperoleh pembe- digunakan dalam penelitian ini adalah dua
lajaran model Learning Cycle 5E lebih baik di- kelas yang kelasnya dipilih secara acak dari
bandingkan dengan siswa yang memperoleh populasi yaitu kelas VII.2 dan VII.3. Kelas VII.2
pembelajaran konvensional; 2) Rata-rata ke- sebagai kelas eksperimen dan kelas VII.3 se-
mampuan komunikasi matematis siswa yang bagai kelas kontrol. Adapun teknik pengambi-
memperoleh pembelajaran model Learning lan sampel dalam penelitian ini adalah random
Cycle 5E melampaui dari nilai kriteria ketunta- sampling. Pemilihan sampel dilakukan dengan
san minimal (KKM). pengacakan kelas yang dilihat berdasarkan
hasil uji perbedaan rata-rata nilai UAS siswa.
METODE PENELITIAN Hasil yang didapat adalah tidak terdapat per-
Penelitian ini merupakan penelitian kuanti- bedaan secara signifikan kemampuan mate-
tatif. Desain yang digunakan dalam peneli- matis di tiga kelas, sehingga bisa dilakukan
tian ini adalah kuasi eksperimen. Tipe desain pengacakan.
yang digunakan dalam penelitian ini adalah
nonequivalent control group design. Berikut ini Prosedur Penelitian
adalah gambaran desain penelitian yang akan Pada penelitian ini terdapat empat tahap
digunakan. yang dilakukan, yaitu:
Tahap Persiapan. Pada tahap ini peneliti
terlebih dahulu menentukan judul berdasar-
Time 1 Time 2 Time 3
kan permasalahan yang dihadapi siswa dan
Pretreat- Posttreat-
Experi- menyusun abstrak. Kemudian menentukan
ment Treat- ment
mental sekolah yang akan dijadikan lokasi penelitian.
response ment response
group Selanjutnya mempersiapkan instrumen pen-
measure measure
Pretreat- Posttreat- elitian yang meliputi soal, lembar observasi,
Control ment ment dan perangkat pembelajaran lainnya.
------- Tahap Pelaksanaan. Pada tahap kedua
group response response
measure measure ini dilakukan pengambilan sampel dengan
(Sheskin, 2004). menggunakan teknik random sampling. Soal
pretest diberikan sebelum pembelajaran di-
Pada desain penelitian ini peneliti mulai. Selanjutnya proses pembelajaran dila-
menggunakan dua kelas yaitu kelas ekspe- kukan berdasarkan rencana yang telah dibuat
rimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen yaitu menggunakan model pembelajaran
akan mendapatkan pembelajaran menggu- Learning Cycle 5e pada materi sifat-sifat, ke-
nakan model pembelajaran Learning Cycle 5E liling dan luas dari bangun datar persegi dan
(Kelas VII.2), sedangkan kelas kontrol akan persegi panjang. Setelah proses pembelaja-
mendapatkan pembelajaran menggunakan ran selesai dilakukan, peneliti mengumpulkan
pembelajaran konvensional (kelas VII.3). Ma- data hasil tes kemampuan komunikasi mate-
UNNES JOURNALS
32 Nerru P.M., Nia Y., Efektifitas Model Pembelajaran Learning Cycle 5e Terhadap Kemampuan ...

matis siswa dari hasil posttest yang telah dibe- data normalized change secara statistik infe-
rikan. rensial dalam penelitian ini dapat dilihat pada
Tahap Analisis Data. Pada analisis pe- Gambar 3.
ningkatan kemampuan komunikasi matema-
tis, data yang dianalisis adalah nilai normalized
change. Data yang telah diperoleh dari hasil
pelaksanaan pembelajaran dianalisis dengan
menggunakan uji parametrik (uji t).
Tahap Penulisan Laporan. Penulisan la-
poran dilakukan setelah semua data terkum-
pul dan telah dianalisis.

Teknik Analisis Data


Teknik analisis data pada penelitian ini meli-
puti analisis data tes (pretest dan posttest)
dan analisis data non tes. Analisis data tes
yaitu uji normalitas, uji homogenitas, uji per-
bedaan dua rata-rata. Perhitungan dalam
pengujian dilakukan secara manual. Analisis
data non tes yaitu lembar observasi. Hasil tes
kemampuan komunikasi matematis diolah
menggunakan analisis secara statistik des-
kriptif dan inferensial. Analisis data kuantitatif
dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu Gambar 3. Skema Analisis Data
analisis data tes awal (pretest) dan analisis pe-
ningkatan kemampuan komunikasi matema- HASIL DAN PEMBAHASAN
tis. Analisis data pretest bertujuan untuk men- Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VII di
getahui kemampuan komunikasi matematis SMP Negeri 8 Kota Tangerang Selatan. Peneli-
siswa pada materi sifat-sifat, keliling dan luas ti menggunakan dua kelas yaitu kelas VII.2 se-
dari bangun datar persegi dan persegi pan- bagai kelas eksperimen kelas yang pembela-
jang di awal pembelajaran pada kedua kelas. jarannya menggunakan model pembelajaran
Pada analisis peningkatan kemampuan komu- Learning Cycle 5E dan kelas VII.3 sebagai kelas
nikasi matematis, data yang dianalisis adalah kontrol dengan pembelajaran konvensional.
nilai normalized change. Data nilai normalized Penelitian berlangsung dari tanggal 21 Maret
change tersebut digunakan untuk melihat pe- 2017 sampai tanggal 11 April 2017. Proses pen-
ningkatan kemampuan komunikasi matema- elitian dilakukan sebanyak 5 kali pertemuan.
tis siswa dari kelas eksperimen dan kelas kont- Pada pertemuan ke-1 dilakukan pretest pada
rol setiap individu siswa. Adapun rumus nilai kelas eksperimen dan kelas kontrol pada tang-
normalized change (Marx & Cummings, 2007). gal 21 Maret 2017. Soal yang diberikan dalam
pretest ini sebanyak 4 soal tipe essay dalam
waktu 80 menit dengan setiap soal mewakili
indikator yang diujikan. Pertemuan ke-2, ke-
3, dan ke-4 pada tanggal 27 Maret 2017, 29
Maret 2017, dan 3 April 2017 untuk kelas eks-
perimen, sedangkan untuk kelas kontrol di
tanggal 27 Maret 2017, 3 April 2017, dan 4 April
2017. Pada pertemuan ke-2, ke-3, dan ke-4 di-
Keterangan: nilai normalized change lakukan proses pembelajaran menggunakan
model Learning Cycle 5E untuk kelas eksperi-
Adapun skema dalam menganalisis men dan pembelajaran konvensional di kelas
UNNES JOURNALS
Kreano 9 (1) (2018): 29-37 | 33

kontrol. Kegiatan pembelajaran selama tiga matematis siswa


kali pertemuan tersebut dilakukan sesuai den- Data pretest menunjukkan kemampuan ko-
gan RPP yang telah dibuat. Aktivitas guru se- munikasi matematis siswa pada materi si-
lama proses pembelajaran diamati oleh satu fat-sifat, keliling dan luas dari bangun datar
observer. Selain itu, kegiatan pembelajaran persegi dan persegi panjang sebelum dila-
didalam kelas didokumentasikan berupa vi- kukannya proses pembelajaran Berdasarkan
deo dan foto. Pada pertemuan ke-5 dilakukan hasil pretest dari kedua kelas diperoleh data
posttest pada kelas eksperimen di tanggal 5 pretest yang kemudian diolah secara statistik
April 2017 dan kelas kontrol di tanggal 11 April deskriptif. Pengolahan data secara statistik
2017. Materi yang diajarkan yaitu sifat-sifat, deskriptif dilakukan untuk memperoleh nilai
keliling dan luas dari bangun datar persegi minimal, nilai maksimal, rata-rata, dan stan-
dan persegi panjang. Berikut ini adalah proses dar deviasi dari kedua kelas. Hasil analisis des-
pembelajaran di kelas eksperimen. kriptif nilai pretest dapat dilihat pada Tabel 1.
Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bah-
wa rata-rata pretest kedua kelas berbeda teta-
pi tidak terlalu jauh. Selain itu, standar deviasi
data pretest kelas kontrol lebih kecil daripada
standar deviasi kelas eksperimen. Hal ini me-
nunjukkan bahwa sebaran nilai-nilai siswa
pada kelas kontrol lebih dekat dengan nilai ra-
ta-rata yang artinya sebaran kemampuan ko-
munikasi matematis tertulis siswa pada kelas
kontrol relatif sama satu dengan yang lainnya.
Setelah dilakukan pengolahan data
dengan statistik deskriptif dilanjutkan dengan
pengolahan data dengan statistik inferen-
sial. Langkah pertama yang dilakukan dalam
pengolahan data statistik inferensial adalah
uji normalitas. Adapun hasil uji normalitas
Gambar 4. Pembelajaran di Kelas Eksperimen data pretest menunjukkan bahwa sampel ber-
distribusi normal. Hal ini menunjukkan bahwa
Adapun pengolahan data pretest, banyak siswa yang mendapat nilai di bawah
posttest, dan normalized change dijelaskan di rata-rata relatif sama dengan banyak siswa
bawah ini. yang mendapat nilai di atas rata-rata.
Data Pretest kemampuan komunikasi Setelah diketahui bahwa data pretest
kedua kelas berdistribusi normal, selanjutnya

Tabel 1. Data Nilai Pretest Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa


Banyak
Kelas Min Mak Rata-rata Std. Deviasi
Sampel
Kelas Eksperimen (Kelas VIII.2) 30 0 50 17,50 10,93
Kelas Kontrol (Kelas VIII.3) 30 0 37,5 13,12 9,47
Keterangan: nilai maksimum adalah 100 dan nilai minimum 0

Tabel 2. Uji Homogenitas Data Pretest

Kelas FMax FMax Keputusan Kesimpulan


Tabel

Eksperimen Data
1,331 2,109 Terima Ho homogen
Kontrol
H0 : Varians data homogen
H1 : Varians data tidak homogen

UNNES JOURNALS
34 Nerru P.M., Nia Y., Efektifitas Model Pembelajaran Learning Cycle 5e Terhadap Kemampuan ...

dilakukan uji homogenitas. Uji homogenitas dilakukan untuk memperoleh nilai minimal,
dilakukan untuk melihat apakah data pretest nilai maksimal, rata-rata, dan standar deviasi
kedua kelas memiliki varians yang homogen dari kedua kelas. Hasil analisis deskriptif nilai
atau tidak. Berikut hasil uji homogenitas data posttest dapat dilihat pada Tabel 4.
pretest pada Tabel 2.
Berdasarkan Tabel 2, didapat Fmax se- Tabel 4. Data Nilai Posttest Kemampuan Komuni-
besar 1,331 dan Fmax-tabel sebesar 2,109. Dapat kasi Matematis Siswa
dilihat bahwa Fmax < Fmax-tabel sehingga Ho di- Banyak Rata- Std. De-
Kelas
terima dan dapat disimpulkan bahwa varians Sampel rata viasi
data pretest kedua kelas homogen. Setelah di- Kelas
peroleh informasi bahwa varians data pretest 30 75,62 11,76
Eksperimen
kedua kelas homogen, selanjutnya dilakukan Kelas Kontrol 30 60,20 12,00
uji perbedaan dua rata-rata yaitu uji t. Berikut Keterangan: nilai maksimum adalah 100 dan
hasil uji t data pretest pada Tabel 3. nilai minimum 0

Tabel 3. Uji Data Pretest Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bah-


t ttabel Keputusan Kesimpulan wa rata-rata posttest kelas eksperimen lebih
tinggi dibandingkan kelas kontrol. Selain itu,
1,664 2,002 Terima Ho Ho diterima.
H0: Tidak terdapat perbedaan rata-rata skor pre- standar deviasi data posttest kelas eksperi-
test antara kedua kelas yang diberi perlakuan men lebih kecil daripada standar deviasi kelas
yang berbeda. kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa sebaran
H1: Terdapat perbedaan rata-rata skor pretest nilai-nilai siswa pada kelas eksperimen lebih
antara kedua kelas yang diberi perlakuan yang dekat dengan nilai rata-rata yang artinya se-
berbeda. baran kemampuan komunikasi tertulis siswa
pada kelas eksperimen relatif sama satu den-
Berdasarkan Tabel 4, didapat sebesar gan yang lainnya.
1,664 dan ttabel sebesar 2,002. Dapat dilihat
bahwa t < ttabel sehingga H0 diterima. Hal ini Data Peningkatan Kemampuan Ko-
menunjukkan bahwa siswa di kelas eksperi- munikasi Matematis Siswa
men dan kelas kontrol memiliki kemampuan
Setelah itu data pretest dan posttest diolah
komunikasi matematis yang sama pada awal
dan menghasilkan data normalized change.
pembelajaran khususnya pada materi sifat-si-
Data normalized change digunakan untuk me-
fat, keliling dan luas dari bangun datar persegi
nunjukkan peningkatan kemampuan komu-
dan persegi panjang. Artinya, apabila terda-
nikasi matematis siswa. Berikut hasil analisis
pat perbedaan kemampuan komunikasi ma-
statistik deskriptif data normalized change da-
tematis siswa pada kedua kelas di akhir pem-
pat dilihat pada Tabel 5 sebagai berikut.
belajaran disebabkan oleh perlakuan yang
diberikan.
Tabel 5. Data Nilai Normalized Change Kemam-
puan Komunikasi Matematis Siswa
Data Posttest kemampuan komuni- Banyak Rata- Std.
kasi matematis siswa Kelas
Sampel rata Deviasi
Data posttest menunjukkan kemampuan Kelas Eksperimen 30 0,71 0,136
komunikasi matematis siswa pada materi Kelas Kontrol 30 0,54 0,134
sifat-sifat, keliling dan luas dari bangun da- Keterangan: nilai maksimum adalah 1 dan nilai
tar persegi dan persegi panjang setelah dila- minimum 0
kukannya proses pembelajaran. Berdasarkan
hasil posttest dari kedua kelas yaitu kelas VIII.2 Berdasarkan Tabel 5 rata-rata nilai nor-
sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII.3 se- malized change kelas eksperimen yaitu 0,71
bagai kelas kontrol diperoleh data posttest dan rata-rata nilai normalized change kelas
yang kemudian diolah secara statistik deskrip- kontrol yaitu 0,54. Hal ini menunjukkan bah-
tif. Pengolahan data secara statistik deskriptif wa, secara analisis deskriptif peningkatan ke-
UNNES JOURNALS
Kreano 9 (1) (2018): 29-37 | 35

mampuan komunikasi matematis siswa kelas dilihat bahwa Fmax < Fmax-tabel sehingga H0 dite-
eksperimen yang pembelajarannya menggu- rima dan dapat disimpulkan bahwa varians
nakan model Learning Cycle 5E lebih tinggi data normalized change kedua kelas homo-
dibandingkan kemampuan komunikasi mate- gen. Setelah diperoleh informasi bahwa vari-
matis kelas kontrol yang belajar secara kon- ans data normalized change kedua kelas ho-
vensional. Selain itu, standar deviasi nilai nor- mogen, selanjutnya dilakukan uji perbedaan
malized change kelas ekperimen yaitu 0,136 dua rata-rata yaitu uji t. Berikut hasil uji t data
dan standar deviasi nilai normalized change normalized change pada Tabel 9.
untuk kelas kontrol yaitu 0,134 tidak jauh ber-
beda. Hal ini menunjukkan bahwa sebaran Tabel 7. Uji Data Normalized Change
nilai-nilai siswa pada kelas kontrol lebih dekat
dengan nilai rata-rata. t ttabel Kesimpulan
Setelah data normalized change diolah 5,451 1,672 Ho ditolak.
secara statistik deskriptif, selanjutnya data
diolah secara statistik inferensial untuk men- H0: Peningkatan kemampuan komunikasi
jawab hipotesis dalam penelitian ini yaitu matematis siswa kelas eksperimen tidak lebih
peningkatan kemampuan komunikasi mate- tinggi kelas kontrol.
H1: Peningkatan kemampuan komunikasi
matis antara siswa yang memperoleh pembe-
matematis siswa kelas eksperimen lebih tinggi
lajaran model Learning Cycle 5E lebih tinggi di- dari kelas kontrol.
bandingkan dengan siswa yang memperoleh
pembelajaran konvensional. Adapun pengola- Berdasarkan Tabel 7, didapat sebesar
han data secara statistik inferensial yang dila- 5,451 dan ttabel sebesar 1,672. Dapat dilihat
kukan pertama kali adalah uji normalitas. Hal bahwa t ttabel sehingga H1 diterima dan dapat
ini dilakukan untuk mengetahui apakah data disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan
yang diperoleh berasal dari populasi yang ber- komunikasi matematis kelas eksperimen le-
distribusi normal atau tidak. Hasil pengujian bih tinggi daripada kelas kontrol. Berdasarkan
data menunjukkan bahwa sampel berdistribu- analisis statistik inferensial yang sudah dilaku-
si normal. Hal ini menunjukkan bahwa banyak kan didapat bahwa peningkatan kemampuan
siswa yang mendapat nilai di bawah rata-rata komunikasi matematis kelas eksperimen yang
relatif sama dengan banyak siswa yang men- menggunakan model Learning Cycle 5E lebih
dapat nilai di atas rata-rata. tinggi daripada kelas kontrol yang menggu-
Setelah diketahui bahwa data norma- nakan pembelajaran konvensional.
lized change sampel berdistribusi normal, se- Peningkatan kemampuan komunikasi
lanjutnya dilakukan uji homogenitas. Uji ho- matematis di kelas eksperimen lebih ting-
mogenitas dilakukan untuk melihat apakah gi daripada kelas kontrol dikarenakan pada
data normalized change kedua kelas memiliki model pembelajaran Learning Cycle 5E lebih
varians yang homogen atau tidak. Berikut ha- memberikan kesempatan kepada siswa un-
sil uji homogenitas data normalized change tuk mengomunikasikan ide ataupun gagasan
pada Tabel 6. matematisnya. Hal ini dikarenakan proses
pembelajaran pada model Learning Cycle 5E
Tabel 6. Uji Homogenitas Data Normalized
yang berpusat pada siswa (Wina, 2009). Pada
Change
model pembelajaran Learning Cycle 5E terdiri
Kesimpu-
Kelas Fmax Fmax-tabel Keputusan
lan
dari lima fase yaitu fase engagement (pem-
Eksperimen Data ho-
bangkitan minat), fase exploration (eksplora-
1,040 2,109 Terima Ho si), fase explanation (penjelasan), fase elabo-
Kontrol mogen.
H0 : Varians data homogen; H1 : Varians data tidak ration (elaborasi), fase evaluation (evaluasi).
homogen Selain itu siswa terlibat secara langsung da-
lam mengkonstruksi atau membangun sendiri
Berdasarkan Tabel 6, didapat Fmax se- pengetahuan yang mereka dapatkan dengan
besar 1,040 dan Fmax-tabel sebesar 2,109. Dapat melewati kelima fase dari model tersebut. Hal
UNNES JOURNALS
36 Nerru P.M., Nia Y., Efektifitas Model Pembelajaran Learning Cycle 5e Terhadap Kemampuan ...

ini akan membuat pembelajaran lebih ber- Pada pertemuan pertama catatan yang dibe-
makna (Shoimin, 2014). rikan observer yaitu tulisan dipapan tulis harus
diperbesar dikarenakan ada tulisan yang ku-
Uji Ketuntasan rang terlihat untuk siswa yang duduk dibela-
Untuk menjawab tujuan penelitian yang kang. Pada pertemuan kedua catatan yang
kedua, digunakan Uji One Sample t Test. Data diberikan oleh observer yaitu penggunaan
yang diperoleh dari hasil posttest kelas eks- durasi waktu yang belum sesuai untuk setiap
perimen dibandingkan dengan nilai Kriteria tahap pembelajaran sehingga pembelajaran
Ketuntasan Minimal (KKM). Adapun besarnya yang seharusnya sudah selesai harus mundur
KKM yang berlaku disekolah tersebut adalah beberapa menit. Pada pertemuan ketiga ob-
70,00. Adapun Hipotesis statistiknya sebagai server tidak memberikan catatan.
berikut: Ho : μ ≤ 70, H1 : μ >70, Dengan : μ =
rata-rata kemampuan komunikasi matematis SIMPULAN
siswa pada kelas uji coba perangkat; Ho ar- Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan
tinya rata-rata kemampuan komunikasi ma- yang telah dilakukan sebelumnya, dapat dis-
tematis siswa tidak melampaui KKM, dan H1 impulkan bahwa: 1) peningkatan kemampuan
artinya rata-rata kemampuan komunikasi ma- komunikasi matematis antara siswa yang
tematis siswa telah melampaui KKM. memperoleh pembelajaran model Learn-
ing Cycle 5E lebih baik dibandingkan dengan
Tabel 8. Uji One Sample t Test Data Postest siswa yang memperoleh pembelajaran kon-
t ttabel Kesimpulan vensional, dan 2) rata-rata kemampuan ko-
2.619 1,672 ditolak. munikasi matematis kelas eksperimen telah
melampaui KKM.
Berdasarkan Tabel 8, didapat sebesar
DAFTAR PUSTAKA
2.619 dan ttabel sebesar 1,672. Dapat dilihat Agustyaningrum, N. (2011). Implementasi Model Pem-
bahwa t ttabel sehingga H1 diterima dan dapat belajaran Learning Cycle 5E Untuk Meningkat-
disimpulkan bahwa rata-rata kemampuan ko- kan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa
munikasi matematis kelas eksperimen telah Kelas IX B SMP Negeri 2 Sleman. Matematika
dan Pedidikan Karakter dalam Pembelajaran.
melampaui KKM.
Ardina, F. R., & Sa’dijah, C. (2016). Studi Komparasi Ket-
Hasil lembar observasi erampilan Komunikasi Matematis Siswa Dengan
Lembar observasi yang digunakan dalam Pembelajaran Kooperatif 5E Dan STAD.
penelitian ini adalah lembar observasi guru. Bybee, R. W. (2002). Learning science and the science
of learning: Science educators’ essay collection:
Lembar observasi guru ini digunakan untuk
NSTA press.
kesesuaian antara pelaksanaan pembelajran Depdikbud. (2014). Peraturan Menteri Pendidikan dan
dengan rencana pembelajaran yang telah di- Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 58 Ta-
validasi. Yang menjadi observer disini adalah hun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Sekolah
guru matematika SMP Negeri 8 Kota Tange- Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah.
Berita Negara Republik Indonesia. Jakarta: Men-
rang Selatan. teri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indone-
Berdasarkan hasil observasi guru yang sia.
dilakukan oleh observer di kelas eksperimen Depdiknas. (2006). Peraturan Menteri Pendidikan Nasi-
selama tiga kali pertemuan, secara umum onal Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006
tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan
dapat disimpulkan bahwa guru sudah mela-
Dasar dan Menengah. Lampiran: Standar Keter-
kukan pengajaran di kelas eksperimen meng- ampilan dan Keterampilan Dasar Mata Pelajaran
gunakan model pembelajaran Learning Cycle Matematika untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah
5E sesuai dengan rencana pelaksanaan pem- Ibtidaiyah (MI). Jakarta: Departemen Pendidikan
belajaran yang telah dirancang sebelumnya. Nasional.
Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (1993). How
Persentase keterlaksanaan pembelajaran ber- to design and evaluate research in education (Vol.
dasarkan lembar observasi sebesar 100%. 7): McGraw-Hill New York.
Selain itu, observer juga memberikan Hirschfeld-Cotton, K. (2008). Mathematical communi-
catatan untuk guru saat mengajar di kelas. cation, conceptual understanding, and students’
attitudes toward mathematics.

UNNES JOURNALS
Kreano 9 (1) (2018): 29-37 | 37

Kaur, B., & Toh, T. L. (2012). Reasoning, Communication Oktaviarini, A. (2015). Penerapan model pembelajaran
and Connections in Mathematics: Yearbook 2012, berbasis masalah untuk meningkatkan kemam-
Association of Mathematics Educators (Vol. 4): puan komunikasi matematis, Prosiding Semnas
World Scientific. Matematika dan pendidikan matematika UNY.
Marx, J. D., & Cummings, K. (2007). Normalized change. Ontario, M. o. E. (2010). Communication in the math-
American Journal of Physics, 75, 87-91. ematics classroom: Ontario: The Literacy and
NCTM. (2000). Principles and standards for school math- Numeracy Secretariat.
ematics (Vol. 1): National Council of Teachers of. Setiadi, H., & Mahdiansyah, R. R. (2012). Kemampuan
Nerru, P., Mariani, S., & Cahyono, E. (2013). Pembe- Matematika Siswa SMP Indonesia Menurut
lajaran Metode Reciprocal Teaching Berban- Benchmark Internasional TIMSS 2011: Jakarta:
tuan Cabri Untuk Meningkatkan Komunikasi Puspendik.
Matematik Siswa Kelas X. Unnes Journal of Math- Shoimin, A. (2014). model pembelajaran inovatif dalam
ematics Education Research, 2(1). kurikulum 2013: Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Nuriadin, I. (2015). Pembelajaran Kontekstual Berban- Suherman, E. (2003). Strategi pembelajaran matema-
tuan Program Geometer’s Sketchpad Dalam tika kontemporer. Bandung: Jica.
Meningkatkan Kemampuan Koneksi Dan Ko- Wina, M. (2009). Strategi Pembelajaran Inovatif Kon-
munikasi Matematis Siswa SMP. Infinity Journal, temporer Suatu Tinjauan Konseptual Operasion-
4(2), 168-181. al. Jakarta: Bumi Aksara.

UNNES JOURNALS