Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Sexual transmitted disease (STD) atau disebut juga dengan infeksi menular

seksual (IMS) merupakan infeksi yang dapat menular dari satu orang ke orang

yang lain melalui kontak seksual. Semua teknik hubungan seksual baik lewat

vagina, dubur, atau mulut baik berlawanan jenis kelamin maupun dengan sesama

jenis kelamin bisa menjadi sarana penularan penyakit kelamin. Meskipun infeksi

menular seksual (IMS) terutama ditularkan melalui hubungan seksual, namun

penularan dapat juga terjadi dari ibu kepada janin dalam kandungan atau saat

kelahiran, melalui produk darah atau transfer jaringan yang telah tercemar,

kadang-kadang dapat ditularkan melalui alat kesehatan. Kelompok umur yang

memiliki risiko paling tinggi untuk tertular IMS adalah kelompok remaja sampai

dewasa muda sekitar usia (15-24 tahun). IMS sendiri dapat dibagi berdasarkan

penyebabnya bakteri, yaitu Gonore, infeksi genital non spesifik, Sifilis, ulkus

mole, limfogranuloma venerum, bakterial vaginosis (BV); IMS yang disebabkan

virus, yaitu Herpes genetalis, kondiloma akuminata, Infeksi HIV, dan AIDS,

Hepatitis B, Moluskus Kontagiosum; IMS yang disebabkan jamur, yaitu

Kandidiosis genitalis; IMS yang disebabkan protozoa dan ektoparasit, yaitu:

Trikomoniasis, Pedikulosis Pubis, Skabies.1–3

Bakterial Vaginosis (BV) yang termasuk dalam infeksi menular seksual

diakibatkan oleh bakterial merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering

1
dihadapi oleh wanita yang berada dalam masa reproduksi dimana terjadi ketidak

seimbangan flora normal yang terdapat di vagina. Kondisi tersebut yaitu

pertumbuhan flora bakteri anaerob terutama Bacteroides sp., Mobilicus sp.,

Gardnerellavaginalis, dan Mycoplasma hominis yang lebih banyak sehingga,

menggantikan flora Lactobacilus yang pada hakikatnya merupakan flora normal

vagina.4

Berdasarkan The Centers for Disease Control and Prevention (CDC)

terdapat sekitar 20 juta kasus baru IMS dilaporkan per-tahun. Kelompok remaja

dan dewasa muda (15-24 tahun) adalah kelompok umur yang memiliki risiko

paling tinggi untuk tertular IMS, dimana 3 juta kasus baru tiap tahun adalah dari

kelompok ini.5 Diperkirakan angka kejadian sesungguhnya jauh lebih besar dari

angka yang ada, hal ini akibat banyaknya kasus yang tidak dilaporkan.Sedangkan

untuk BV, Kejadian BV cukup sering terjadi di negara-negara berkembang

termasuk Indonesia. Beberapa penelitian telah melaporkan adanya risiko

prevalensi yang tinggi, berkisar antara 20-49% diantara wanita yang berkunjung

ke klinik penyakit menular seksual yang biasanya mengeluh adanya discharge

vagina.6,7 Lebih dari 30 jenis bakteri, virus dan patogen parasit sangat menular

melalui hubungan seksual dimana hal ini mendorong adanya pemeriksaan

laboraturium yang potensial adekuat secara spesifik dalam manajemen kontrol

terhadap IMS sesuai etiologinya.8 Prevalensi dan distribusi BV sendiri bervariasi

di antara seluruh populasi dunia. Beberapa penelitian melaporkan prevalensi BV

tinggi pada populasi ras Afrika, Afro-Amerika, dan Afro-Karibia. 9 Prevalensi BV

didapatkan sebesar 32% di antara wanita Asia di India dan Indonesia.4

2
Tanda klinis infeksi BV ditandai dengan adanya produksi sekret vagina yang

banyak, berwarna abu-abu, tipis, homogen, berbau amis dan terdapat peningkatan

pH.6,1 Diagnosis infeksi BV saat ini dapat ditegakkan dengan beberapa metode

diagnostik, yaitu Kriteria Nugent, Kriteria Amsel, Kriteria Spiegel, kultur bakteri

dan GLC. Dari beberapa metode diatas Kriteria Nugent menjadi gold standard

dalam mendiagnosis infeksi BV.10 Pada kasus IMS, masih belum meratanya

jumlah pelaporan, fasilitas diagnostik yang masih kurang, kasus-kasus yang

asimptomatik, dan kontrol penyakit yang tidak berjalan menyebabkan sulitnya

mendapatkan angka pasti penderita penyakit menular seksual. Dalam

mengantisipasi hal tersebut, maka perlunya dilakukan penanganan kasus IMS

berdasarkan pendekatan sindrom dilaksanakan melalui identifikasi sekelompok

keluhan dan gejala sebagai sindrom yang mudah dikenali, dan selanjutnya

ditetapkan pengobatannya terhadap sebagian besar atau hampir semua mikro-

organisme yang diyakini sebagai penyebab sindrom tersebut. World Health

Organization (WHO) telah mengembangkan satu perangkat yang sudah

disederhanakan dan mudah dimengerti (dalam bentuk bagan alur atau algoritme)

untuk memandu para petugas kesehatan dalam melakukan penatalaksanaan kasus

IMS dengan pendekatan sindrom serta pemeriksaan aspek laboraturium dalam

masing-masing penyebab penyakit IMS tersebut yang akan lebih dibahas pada

tinjauan pustaka ini, sehingga diharapkan dapat memberikan wawasan kepada

para teman sejawat di dalam bidang patologi klinik.

3
1.2 Tujuan penulisan

Memberikan wawasan mengenai aspek laboraturium sexual transmitted

disease (STD) dan bakterial vaginosis (BV).

1.3 Manfaat Penulisan

Memberikan manfaat bagi praktisi laboratorium terkait pemeriksaan sexual

transmitted disease (STD) dan bakterial vaginosis (BV).

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI STD (SEXUAL TRANSMITTED DISEASE)

STD (Sexual Transmitted Disease) atau Infeksi menular Seksual (IMS)

merupakan berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang ke orang yang

lain melalui kontak seksual, lebih dari 30 jenis pathogen dapat ditularkan dengan

manifestasi klinis bervariasi menurut umurdan jenis kelamin.8 Meskipun IMS

dapat ditularkan melalui hubungan seksual, namun penularan dapat terjadi dari ibu

ke janin dalam kandungan atau saat kelahiran. Salah satu gejala dari IMS adalah

Leukore (Vaginal discharge). Misalnya, gonore, infeksi genital nonspesifik,

trikomoniasis, bacterial vaginosis, dan kandidiasis vulvovagina.3

Berdasarkan penyebabnya, infeksi menular seksual dapat dibagi menjadi

empat kelompok sebagai berikut:1–3

1. IMS yang disebabkan bakteri, yaitu: Gonore, infeksi genital non spesifik,

Sifilis, Ulkus Mole, Limfomagranuloma Venerum,Vaginosis bakterial

2. IMS yang disebabkan virus, yaitu: Herpes genetalis, Kondiloma

Akuminata, Infeksi HIV, dan AIDS, Hepatitis B, Moluskus Kontagiosum.

3. IMS yang disebabkan jamur, yaitu: Kandidiosis genitalis

4. IMS yang disebabkan protozoa dan ektoparasit, yaitu: Trikomoniasis,

Pedikulosis Pubis, Skabies.

5
Berdasarkan cara penularannya, infeksi menular seksual dibedakan menjadi

dua, yaitu IMS mayor ( penularannya dengan hubungan seksual ) dan IMS minor

(Penularannya tidak harus dengan hubungan seksual ).

2.2 INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) MAYOR

2.2.1 Gonore

Gonore adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae,

merupakan diplokokus gram negatif yang reservoir pada manusia. Infeksi ini

hampir selalu ditularkan melalui aktifitas seksual.3


1. Etiologi
Gonore disebabkan oleh Neisseria Gonorrhoeae, Gonokokus termasuk

golongan diplokokus berbentuk biji kopi dengan lebar 0,8 u, panjang 1,6 u, dan

bersifat tahan asam. Kuman ini juga bersifat gram negatif, tampak di luar dan di

dalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati pada keadaan kering,

tidak tahan suhu di atas 39o C, dan tidak tahan zat desinfektan. Daerah yang paling

mudah terinfeksi adalah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis skuamosa yang

belum berkembang (imatur), yakni pada vagina wanita sebelum pubertas.3

Gambar 1. Infeksi genital akibat gonore


2. Epidemiologi
Sekitar 820,000 orang dilaporkan terinfeksi gonore dari 19,7 miliar infeksi

menular seksual setiap tahunnya yang terjadi di Amerika Serikat dan 70%

penderita gonore berusia 15 – 24 tahun.11


3. Gejala klinis

6
1) Masa inkubasi pada pria sekitar 2-5 hari, pada wanita sulit untuk

ditemukan karena pada umumnya asimtomatik,


2) Pada wanita, penyakit akut atau kronik jarang ditemukan gejala subjektif

dan objektifnya.
3) Infeksi pada wanita, pada mulanya hanya mengenai serviks uteri. apabila

ada duh tubuh serviks purulen atau mukopurulen, kadang-kadang disertai

eksudat purulen dari uretra atau kelenjar Bartholini.


4) Keluhan: kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada panggul

bawah, demam,keluarnya cairan dari vagina, nyeri ketika

berkemih dan desakan untuk berkemih,perdarahan antara masa haid

dan menoragia.
5) Pada pemeriksaan serviks tampak merah dengan erosi dan sekret

mukopurulen, duhtubuh akan terlihat lebih banyak, bila terjadi servitis

akut.
4. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis,dan

pemeriksaan pembantu yang terdiri atas 5 tahapan: 12

i. Sediaan langsung
Pada sediaan langsung dengan pewarnaan gram akan ditemukan

gonokokus gram negatif, intraseluler dan ekstraseluler. Sampel dapat

diambil dari daerah fosa navikularis, sedangkan pada wanita diambil dari

uretra, muara kelenjar bartholin, serviks, dan rectum.


ii. Kultur
Untuk identifikasi perlu dilakukan pembiakan (kultur). Dua macam media

yang dapat digunakan : media transport dan media pertumbuhan.


iii. Tes definitif2,8
a) Tes oksidasi
Reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-p-

fenilendiamin hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni gonokok.

7
Semua Neisseria memberi reaksi positif dengan perubahan warna

koloni yang semula bening berubah menjadi merah muda sampai

merah lembayung. 2,8


b) Tes fermentasi
tes oksidasi positif dilanjutkan dengan tes fermentasi memakai

glukosa, maltose, dan sukrosa. 2,8


c) Tes beta – lactamase
Menggunakan cefinase yang mengandung chromogenic

cephalosporin akan menyebabkan perubahan warna dari kuning

menjadi merahapabila kuman mengandung enzim beta-laktamase.2,8


d) Tes Thomson
Untuk mengetahui dimana infeksi berlangsung. Dengan syarat :

dilakukan setelah bangun pagi, urin dibagi dalam 2 gelas, dan tidak

boleh menahan kencing dari gelas 1 ke gelas 2.2,8


5. Pengobatan
Pengobatan dapat diberikan sefiksim 400 mg dosis tunggal atau

levofloksasin 500 mg dosis tunggal, dengan pilihan obat lain yaitu kanamisin 2

gram, injeksi IM dosis tunggal atau tiamfenikol 3,5 gram peroral dengan dosis

tunggal atau seftriakson 250 mg injeksi IM, dosis tunggal. Pada ibu hamil boleh

diberikan kecuali levofloksasin karena termasuk antibiotik golongan

floroquinolone. Dalam penggunaannya pada wanita hamil, golongan ini termasuk

ke dalam kategori C.3


Menurut CDC (2015) terapi kombinasi dengan mekanisme yang berbeda

sangat dianjurkan karena dapat meningkatkan efektivitas dalam pengobatan, yaitu

dengan ceftriakson 250 mg IM dalam dosis tunggal dengan kombinasi azitromisin

1 gram oral dalam dosis tunggal. Dengan alternatif sefiksim 400 mg peroral dalam

dosis tunggal dengan kombinasi azitromisin 1 gram oral dalam dosis tunggal.

8
Ibu hamil yang terinfeksi N. gonorrhoeae tetap diobati dengan terapi ganda

yang terdiri dari ceftriakson 250 mg dalam dosis IM tunggal dan azitromisin 1

gram peroral sebagai dosis tunggal, untuk alternatifnya atau jika sefalosporin bisa

diberikan spektinomisin.13

2.2.2 Sifilis

1. Etiologi

Etiologi Sifilis : Treponema Palidum. Merupakan penyakit menahun dengan

remisi dan ekserbasi,dapat menyerang seluruh organ tubuh. Mempunyai

periode laten tanpa manifestasi lesi pada tubuh,dan dapat di tularkan dari ibu

kepada janinnya.1,2,14 Sifilis di bagi menjadi sifilis akuisita (di dapat) dan sifilis

kongenital.

Gambar 2. Sifilis15

2. Stadium sifilis

Sifilis akuisita di bagi menjadi 3 stadium sebagai berikut :

1) Stadium I : erosi yang selanjutnya menjadi ulkus durum

9
2) Stadium II : dapat berupa roseola, kondiloma lata, bentuk varisela atau

bentuk plak mukosa atau alopesia

3) Stadium III : bersifat destruktif, berupa guma di kulit atau alat – alat

dalam dan kardiovaskuler serta neurosifilis.16,15

3. Diagnosis dan pemeriksaan laboraturium

Diagnosis ditegakan dengan diagnosis klinis di konfirmasi dengan

pemeriksaan labolatorium berupa pemeriksaan lapangan gelap (pemeriksaan

lapangan gelap, mikroskop fluorensi) menggunakan bagian dalam lesi guna

menemukan T.pallidum. Selain itu menggunkan penentuan antibodi dalam serum

(tes menentukan anti bodi nonspesifik, tes menentukan antibodi spesifik, antibody

terhadap kelompok antigen yaitu tes Reiter Protein Complement Fixation).16,15

2.2.3 Ulkus Mole

1. Etiologi dan gejala klinis


Etiologi: Haemophillus ducreyi gram negatif streptobacillus, biasa disebut

chancroid merupakan penyakit infeksi genentalia akut. Gejala klinis : Ulkus

multipel, bentuk tidak teratur, dasar kotor, tepi bergaung, sekitar ulkus eritema dan

edema, sangat nyeri. Kelenjar getah bening inguinal bilateral atau unilateral

membesar, nyeri, dengan eritema di atasnya, seringkali disertai tanda-tanda

fluktuasi, biasanya tidak disertai gejala sistemik.8,16,17

Gambar 3. Ulkus mole16


2. Diagnosis dan pemeriksaan penunjang

10
Diagnosis ulkus mole ditegakkan berdasarkan riwayat pasien, keluhan dan

gejala klinis,serta pemeriksaan labolatorium. Pemeriksaan langsung bahan ulkus

dengan pengecatan gram memperlihatkan basil kecil negatif gram yang berderat

berpasangan seperti rantai di intersel atau ekstrasel. Dengan menggunakan kultur

H.ducreyi, pemeriksaan yang di peroleh lebih akurat. Bahan di ambil dari dasar

ulkus yang di peroleh lebih akurat. Bahan di ambil dari dasar ulkus yang purulen

atau pus. Selain itu bisa dengan tes serologi ito-Reenstierma ,tes ELISA,

presipitin, dan aglutinin.8,15 Komplikasi : Luka terinfeksi dan menyebabkan

nekrosis jaringan. Pencegahan : Tidak berhubungan intim sebelum menikah, setia

pada pasangan, dan menggunakan kondom

2.2.4 Limfogranuloma Venerum

1. Definisi dan etiologi

Limfogranuloma Venerum adalah infeksi menular seksual yang mengenai

sistem saluran pembuluh limfe dan kelenjar limfe, terutama pada daerah genital,

inguinal, anus, dan rectum. Penyebabnya adalah Clamydia trachomatis, yang

merupakan organisme dengan sifat sebagian seperti bakteri dalam hal pembelahan

sel, metabolisme, struktur, maupun kepekaan terhadap antibiotika dan kemoterapi,

dan sebagian lagi bersifat seperti virus yaitu memerlukan sel hidup untuk

berkembang biaknya.2,18

2. Diagnosis dan pemeriksaan penunjang

Dari anamnesis pada pasien didapatkan adanya gejala penyakit berupa

malaise, nyeri kepala, athralgia , anoreksia, nausea, dan demam. Kemudian timbul

pembesaran kelenjar getah bening inguinal medial dengan tanda – tanda radang.

11
Penyakit ini dapat berlanjut memberikan gejala – gejala kemerahan pada saluran

kelenjar dan fistulasi. Diagnosis dapat di tegakan berdasarkan gambaran klinis, tes

GPR, tes Frei, tes serologi, pengecatan giemsa dari pus bubo,dan kultur jaringan.

Komplikasi : Elefantiasis genital atau sindroma anorektal Pencegahan : Tidak

berhubungan intim sebelum menikah, setia pada pasangan, menggunakan

kondom.

2.2.5 Granuloma Inguinal

Granuloma Inguinal merupakan penyakit yang timbul akibat proses

granuloma pada daerah anogenital dan inguinal. Etiologinya adalah: Donovania

granuloma ( Calymatobacterium granulomatosis ). Lebih banyak menerang usia

aktif ( 20 – 40 tahun ) . Dan lebih sering terdapat pada pria dari pada wanita. 1,2

Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan, awalnya

timbul lesi bentuk papula atau vesikel yang berwana merah dan tidak nyeri,

perlahan berubah menjadi ulkus granulomatosa yang bulat dan mudah berdarah,

mengeluarkan sekret yang berbau amis.

Diagnosis granuloma inguinale dengan pemeriksaan laboraturium

mikroskopis dengan spesimen dari tepi granulomatus/lesi yg aktif, pemeriksaan

Wright / Giemsa : basil bipolar dlm sel mononuklear

2.3 INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) MINOR

2.3.1 Infeksi Genital Nonspesifik (IGNS)

1. Definisi

12
Infeksi Genital Nonspesifik (IGNS) dimana infeksi genital ini merupakan

infeksi menular seksual berupa peradangan di uretra (Non spesifik uretritis),

rectum, atau serviks yang disebabkan oleh kuman nonspesifik.12

2. Etiologi
Chlamidya trachomatis (30- 50 %) - Ureaplasma urealyticum ( 10 -40 %) -

Lain – lain ( 20 – 30 %) : Trichomonas vaginalis, ragi,virus Herpes simpleks,

adenovirus, Haemophylus sp, Bacteroides ureolyticus, Mycoplasma geniculatum,

dan bakteri lain.12


3. Epidemiologi
Di dunia, WHO memperkirakan terdapat 140 juta kasus yang terjadi akibat

infeksi C.trachomatis. Terdapat 1,1 juta kasus dilaporkan di Amerika Serikat

dengan prevalensi tertinggi terjadi pada wanita diusia 15 sampai 24 tahun pada

tahun 2007.18
4. Gejala klinis
Menurut Pedoman Penatalaksanaan Infeksi Menular Seksual Kemenkes RI,

infeksi melalui hubungan seksual ini pada pria muncul sebagai uretritis dan pada

wanita sebagai servisitis mukopurulen. Manifestasi klinis dari uretritis kadang

sulit dibedakan dengan gonorrhea dan termasuk adanya discharge mukopurulen

dalam jumlah sedikit atau sedang, terutama pada pagi hari (morning drops) dan

dapat pula berupa bercak di celana dalam, gatal pada uretra dan rasa panas ketika

buang air kecil. Infeksi tanpa gejala bisa ditemukan pada 1- 25% pria dengan

aktivitas seksual aktif. Pada wanita, manifestasi klinis mungkin sama dengan

gonorrhea, dan seringkali muncul sebagai discharge endoservik mukopurulen,

disertai dengan pembengkakan, eritema dan mudah mengakibatkan perdarahan

endoservik disebabkan oleh peradangan dari epitel kolumner endoservik. Namun,

70 % dari wanita dengan aktivitas seksual aktif yang menderita klamidia,

13
biasanya tidak menunjukkan gejala. Infeksi kronis tanpa gejala dari endometrium

dan saluran tuba bisa memberikan hasil yang sama. Manifestasi klinis lain namun

jarang terjadi seperti bartolinitis, sindroma uretral dengan disuria dan pyuria,

perihepatitis (sindroma Fitz-Hugh-Curtis) dan proktitis. Infeksi yang terjadi

selama kehamilan bisa mengakibatkan ketuban pecah dini dan menyebabkan

terjadinya kelahiran prematur, serta dapat menyebabkan konjungtivitis dan radang

paru pada bayi baru lahir.3


5. Diagnosis
Diagnosis secara klinis sukar untuk membedakan infeksi karena gonore atau

nongonore. Untuk mendeteksi antigen ada beberapa cara :8


i. Direct Fluorescent Antibody (DFA)
ii. Enzime Linked Immuno Sorbent Assay (ELISA)

Metode terbaru dengan mendeteksi asam nukleat C. trachomatis :

i. Hibridinase DNA probe, dikenal dengan istilah gen probe


ii. Amplifikasi asam nukleat
6. Pengobatan
Pengobatan dapat diberikan azitromisin 1 gram dosis tunggal peroral atau

doksisiklin 2x100 mg/hari, peroral selama 7 hari, dengan alternatif pengobatan

lain yaitu eritromisin 4x500 mg/hari, peroral selama 7 hari. Doksisiklin tidak

dianjurkan kepada ibu hamil dan menyusui.3


Menurut CDC (2015) azitromisin 1 gram oral dengan dosis tunggal atau

doksisiklin 2x100 mg/hari selama 7 hari sangat efektif dalam mengobati

nongonokokus, dengan alternatif pengobatan eritromisin 4x500 mg/hari selama 7

hari atau eritromisin etilsusilat 4x800 mg/hari selama 7 hari atau levofloksasin

1x500 mg/hari selama 7 hari atau ofloksasin 2x300 mg selama 7 hari.13

2.3.2 Trikomoniasis Vaginalis

1. Definisi

14
Trikomoniasis adalah infeksi pada wanita yang mengenai saluran urogenital

bagian bawah, disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.19


2. Etiologi
T. vaginalis merupakan protozoa yang menginfeksi vagina, epitel uretra dan

menyebabkan mikroulserasi.19 Parasit Trichomonas vaginalis tersebar melalui

hubungan seksual yaitu hubungan penis dengan vagina atau vulva dengan vulva

(daerah kelamin luar vagina) jika kontak dengan pasangan yang terinfeksi. Wanita

dapat terkena penyakit ini dari infeksi pria atau wanita, tetapi pria biasanya hanya

mendapatkan dari wanita yang terinfeksi.13


3. Epidemilogi
Penelitian yang dipublikasi oleh UNAIDS dan WHO (1997) yaitu Sexual

Transmitted Disease Policies dan Principles for Prevention and Care,

memperkirakan insidens terjadi trikomononiasis pada tahun 1995 di seluruh dunia

adalah sebanyak 170 juta. Publikasi WHO (2001) di Geneva tentang Global

Prevalence Incidence of Selected Curable STI, penyakit menular seksual akibat

trikomoniasis yang terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara adalah sebanyak

75.43 juta pada 1995. Publikasi yang sama juga menunjukkan angka kejadian

trikomoniasis di Asia Selatan dan Asia Tenggara pada 1999 meningkat yaitu ke

76.42 juta. Sangat sulit memperkirakan jumlah pria yang terkena, karena

memberikan gejala asimtomatis. 30-40% dari data yang dicatat terdeteksi

memiliki organisme ini.8,20


4. Patogenesis
T. vaginalis menyebabkan perdangan pada vagina dan uretra dengan

menginvasi bagian epitel dan subepitel.19 Inkubasi dari T. vaginalis adalah 4-28

hari. Pada wanita gejala dapat asimtomatis hingga vaginitis. Biasanya meningkat

15
pada saat terjadinya peningkatan keasaman dari vagina timbul selama atau

sesudah menstruasi.20
5. Gejala Klinis
Wanita yang terinfeksi mungkin mengeluh malodorus, discharge vagina

yang kuning kehijauan, vulva yang gatal dan kemerahan, perut bawah yang tidak

nyaman, dan disuria.20 Kadang terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan

serviks, tampak sebagai granulasi merah yang disebut strawberry appearance.19


Pada pria, trikomoniasis tidak menimbulkan gejala atau asimtomatis.

Beberapa mengeluhkan gejala discharge uretra dan rasa terbakar saat buang air

kecil. Balanitis, epididimitis dan prostatitis kadang juga terjadi pada pria.20

Gambar 4. Trikomoniasis15,16
6. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan, pH vagina mungkin bisa meningkat di bawah 5.

Pemeriksaan vaginal swab wet mount adalah pemeriksaan yang biasanya

dilakukan. Pemeriksaan mikroskop medan gelap merupakan pemeriksaan terbaik

untuk melihat protozoa. Pemeriksaan kultur merupakan pemeriksaan sensitif bagi

trikomoniasis. Biasanya positif dalam 48 jam dan merupakan pemeriksaan yang

dianjurkan bagi pria.20


7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada Trikomoniasis adalah dengan menggunakan

Metronidazol oral 2 gram dosis tunggal atau bisa juga dengan Metronidazol oral

500 miligram 2 kali sehari selama 7 hari.3 Alternatif terapi lainnya adalah dengan

menggunakan preparat Tinidazole oral 2 gram dosis tunggal.20 Penatalaksaan

terhadap pasangan juga sangat dibutuhkan agar tidak terjadi infeksi yang

berulang.13 Trikomoniasis dapat menyebabkan kelahiran prematur dan berat bayi

16
lahir rendah. Terapi dengan menggunakan metronidazol diketahui tidak

menyebabkan kematian pada janin. Beberapa penelitian melaporkan bahwa

metronidazol dapat meningkatkan resiko kelahiran prematur, namun hal tersebut

belum terbukti dalam penelitian yang lebih banyak. Terapi metronidazol oral 2

gram dosis tunggal dapat digunakan pada berbagai tahapan kehamilan. Menurut

penelitian yang telah dilakukan, metronidazol tidak memiliki efek teratogenik,

sedangkan tinidazol belum dievaluasi secara maksimal. Metronidazol juga aman

bagi ibu menyusui, karena akan menurun jumlahnya 12-24 jam setelah

pemberian.13

2.3.3 Bakterial Vaginosis

1. Definisi
Bakterial vaginosis adalah suatu kelainan klinis akibat ketidakseimbangan

bakteri normal di vagina yang menyebabkan kelainan berupa discharge vagina

yang berbau (malodorus).20


2. Etiologi
Bakterial vaginosis terjadi ketika terdapat ketidakseimbangan bakteri

normal pada vagina. Pergeseran yang terjadi karena hidrogen peroksida

memproduksi lactobacili dengan jumlah yang besar dari bakteri lain termasuk

Gardnerella vaginalis, Mobiluncus sp., M. hominis, dan gram negatif Prevotella,

Porphyromonas, dan Bacteroides, dan Peptostreptococcus sp.20


3. Epidemiologi
Bakterial vaginosis merupakan penyebab yang paling sering dari discharge

vagina yang berbau (malodorus) pada usia reproduktif. Tingkat pengetahuan yang

rendah tentang penyakit ini menyebabkan banyak yang salah dalam

mengobatinya.21 Sebanyak 16 % wanita hamil di Amerika Serikat dilaporkan

terinfeksi bakterial vaginosis. Menurut beberapa penelitian, terjadi peningkatan

17
terhadap wanita yang berhubungan seks dengan wanita. Angka kejadian sangat

sulit untuk diperkirakan karena tingginya infeksi dengan gejala asimtomatis dan

rendahnya metode deteksi.20

4. Faktor Resiko
Menurut Cherpes et al dalam Gillet (2011) terdapat beberapa faktor resiko

bagi bakterial vaginosis yaitu : penggunaan alat kontrasepsi intra-uterina, sering

menyiram vagina, bergonta ganti pasangan, berusia muda saat hubungan seksual

pertama.22
Gonzalez dkk,2004 dari 968 pasien dengan kehidupan seksual aktif yang

tidak menerima antibiotik selama minimal 15 hari sebelum studi dan yang tidak

menstruasi pada saat mengambil swab, 859 diantaranya memiliki diagnosis

cervico-vaginitis dan 109 tidak memiliki gejala apapun. Kriteria Amsel digunakan

untuk membuat diagnosis vaginosis bakteri. Didapatkan 32,9% prevalensi infeksi

BV dari populasi. Ada hubungan yang signifikan secara statistik dengan faktor-

faktor seperti usia, mulai dari kehidupan seksual yang aktif, jumlah hubungan

seksual per minggu, jumlah pasangan seksual, dan kehamilan. Octaviany, dkk

melakukan penelitian pada 492 perempuan yang berusia 15- 50 tahun. Prevalensi

infeksi BV pada penelitian ini adalah 30,7% sesuai dengan skor Nugent. Usia >40

tahun dan pasangan yang tidak disirkumsisi merupakan faktor determinan yang

secara signifikan berpengaruh terhadap kejadian BV. 23


Wanita seksual aktif merupakan karier Gardnerella vaginalis lebih tinggi

dibandingkan dengan wanita yang belum pernah berhubungan seks sebelumnya.

Data lain menunjukan pada wanita heterokseksual faktor predisposisi infeksi BV

18
meliputi frekuensi hubungan seksual yang tinggi, jumlah pasangan seks pria yang

banyak, serta penggunaan IUD, kontrasepsi hormonal dan kontrasepsi.24,25

5. Patogenesis
Patogenesis bakterial vaginosis hingga saat ini belum jelas. Mungkin

terdapat hubungan yang menguntungkan antara G. vaginalis dengan bakteri

anaerob yang mengubah asam amino menjadi amin sehingga menaikan pH vagina

dan menjadi tempat berkembang biaknya G. vaginalis. Beberapa amin diketahui

menjadi penyebab discharge vagina yang berbau karena menyebabkan iritasi kulit

dan mengikatkan pelepasan epitel vagina.22


Sekelompok kuman harus bekerja secara sinergistik untuk menimbulkan

kejadian vaginosis. Flora campuran kuman anaerob dapat tumbuh secara

berlebihan sebagai akibat adanya peningkatan substrat, peningkatan pH, dan

hilangnya dominasi flora normal laktobasili yang menghambat pertumbuhan

kuman lain. Pada wanita normal dijumpai kolonisasi strain Laktobasili yang

mampu memproduksi H2O2, sedangkan pada penderita vaginosis terjadi

penurunan jumlah populasi laktobasili secara menyeluruh, sementara populasi

yang tersisa tidak mampu menghasilkan H2O2. Diketahui bahwa H2O2 dapat

menghambat pertumbuhan kuman-kuman yang terlibat dalam vaginosis, yaitu

oleh terbentuknya H2O-halida karena pengaruh peroksidase alamiah yang berasal

dari serviks. Dengan meningkatnya pertumbuhan kuman, produksi senyawa amin

oleh kuman anaerob juga bertambah, yaitu berkat adanya dekarboksilase

mikrobial. Senyawa amin yang terdapat pada cairan vagina yaitu putresin,

kadaverin, metilamin, isobutilamin, fenetilamin, histamin, dan tiramin.24,26


Bakteri anaerob dan enzim yang bukan diproduksi oleh Gardnerella dalam

suasana pH vagina yang meningkat akan mudah menguap dan menimbulkan bau

19
amis, bau serupa juga dapat tercium jika pada sekret vagina yang diteteskan KOH

10%. Senyawa amin aromatik yang berkaitan yang berkaitan dengan timbulnya

bau amis tersebut adalah trimetilamin, suatu senyawa amin abnormal yang

dominan pada BV. Bakteri anaerob akan memproduksi aminopeptida yang akan

memecah protein menjadi asam amino dan selanjutnya menjadi proses

dekarboksilasi yang akan mengubah asam amino dan senyawa lain menjadi amin,

yaitu dekarboksilasi ornitin (metabolit arginin) akan menghasilkan putresin,

dekarboksilasi lisin akan menghasilkan kadaverin dan dekarboksilasi betain

(metabolit kolin) akan menghasilkan trimetilamin. Poliamin asal bakteri ini

bersamaan dengan asam organik yang terdapat dalam vagina penderita infeksi BV,

yaitu asam asetat dan suksinat, bersifat sitotoksik dan menyebabkan eksfoliasi

epitel vagina. Hasil eksfoliasi yang terkumpul membentuk sekret vagina. Dalam

pH yang alkalis Gardnerella vaginalis melekat erat pada sel epitel vagina yang

lepas dan membentuk clue cells. Secara mikroskopik clue cellsnampak sebagai sel

epitel yang sarat dengan kuman, terlihat granular dengan pinggiran sel yang

hampir tidak tampak.6,24,26


6. Gambaran Klinis
Dalam studi cross sectional pasien, BV dengan kriteria Gram-stain secara

bermakna dikaitkan dengan gejala malodor vagina (49% pasien dengan BV dan

20% tanpa BV) dan vaginal discharge (50% dengan BV dan 37% tanpa BV) dan

dengan keluhan sekret putih kental homogen, (69% dengan BV dan 3% tanpa

BV).24,26 Eschenbach DA, dkk, Dari 293 wanita dengan vaginosis bakteri yang

didiagnosis menggunakan pengecatan gram sederhana, 65% memiliki gejala

peningkatan keputihan dan/atau bau tak sedap pada vagina, sedangkan 74%

20
memiliki tanda-tanda keputihan karakteristik homogen atau bau seperti amina.

Peningkatan pH vagina merupakan tanda paling spesifik dan bau seperti amina

menjadi tanda yang paling sensitif pada vaginosis bakteri.27


7. Diagnosis Bakterial Vaginosis
Dari anamnesis didapatkan Sebagian besar wanita yang terkena bakterial

vaginosis memiliki keluhaan asimtomatis. Beberapa wanita mengeluh vagina yang

berbau dengan discharge yang putih atau abu-abu.20 Kriteria diagnostik bakterial

vaginosis berdasarkan gejala yang dipakai adalah kriteria Amsel, yaitu : pH

vagina >4,5, discharge vagina yang homogen, tipis dan keputihan, sel-sel yang

menjadi petunjuk pada pemeriksaan mikroskopis cairan vagina (misal : sel-sel

epitel vagina yang diikuti coccoobacilli), vagina dischare yang berbau amis.

Diagnosis ditegakkan dengan memenuhi 3 dari 4 kriteria, kriteria amsel akan

diuraikan pada subbab dibawah ini.21 Adapun kriteria lain yang mendukung

diagnosis bakterial vaginosis seperti kriteria Spiegel dan kriteria Nugent.


i. Kriteria Spiegel
Metode pemeriksaan Spiegel merupakan penilaian yang berdasar pada

jumlah kuman Lactobacillus, Gardnerella dan flora campuran dalam

menegakkan diagnosis apakah seseorang terdiagnosis BV atau tidak.

Kriteria Spiegel bersifat lebih tegas karena hanya terdapat 2 kriteria aja,

yaitu normal dan BV positif,sehingga lebih memudahkan dalam

menentukan perlu atau tidaknya dilakukan terapi. 10,28 Jika pada

pengecatan Gram menunjukkan predominasi (3+ - 4+) Lactobacillus,

dengan atau tanpamorfotipe Gardnerella, diinterpretasikan normal. Jika

pada pengecatan Grammenunjukkan flora campuran meliputi bakteri

Gram positif, bakteri Gram negatif,atau bakteri Gram variabel dan

21
morfotipe Lactobacillus menurun atau tidak ada (0-2+), diinterpretasikan

infeksi BV. Setiap morfotipe bakteri diamati pada pemeriksaan dibawah

mikroskop dengan pembesaran objektif 100 kali kemudian dijumlahkan

(darirerata 10 lapangan pandang). Skoring untuk morfotipe kuman terdiri

atas 4 kelas,yaitu 1+ jika ditemukan sebanyak < 1 per lapangan pandang;

2+ jika ditemukansebanyak 1-5 per lapangan pandang; 3+ jika ditemukan

sebanyak 6-30 per lapanganpandang; dan 4+ jika ditemukan sebanyak

>30 per lapangan pandang.10,28

ii. Kriteria Nugent


Kriteria Nugent atau juga dikenal sebagai skor Nugent merupakan

metode diagnosis infeksi BV dengan pendekatan berdasarkan jumlah

bakteri yang ada sekret vagina. Kriteria Nugent merupakan modifikasi dari

metode Spiegel dalam penghitungan jumlah kuman pada preparat basah

sekret vagina. Kriteria Nugent dinilai dengan adanya gambaran

Lactobacillus, Gardnerella vaginalis dan Mobiluncus spp. (skor dari 0

sampai 4 tergantung pada ada atau tidaknya pada preparat). Kuman batang

Gram negatif/Gram variable kecil (Garnerella vaginalis) jika lebih dari 30

bakteri per lapangan minyak imersi (oil) diberi skor 4; 6-30 bakteri per oif

diberi skor 3; 1-5 bakteri per oif diberi skor 2; kurang dari 1 per oif diberi

skor 1; dan jika tidak ada diberi skor 0.Kuman batang Gram-positif besar

(Lactobacillus) skor terbalik, jika tidak ditemukan kuman tersebut pada

preparat diberi skor 4; kurang dari 1 per oif diberi skor 3; 1-5 per oif diberi

skor 2; 6-30 per oif diberi skor 1; dan lebih dari 30 per oif diberi skor 0.

Kuman batang Gram berlekuk-variabel (Mobiluncus sp.) , jika terdapat

22
lima atau lebih bakteri diberi skor 2 , kurang dari 5 diberi skor 1 , dan jika

tidak adanya bakteri diberi skor 0. Semua skor dijumlahkan hingga

nantinya menghasilkan nilai akhir dari 0 sampai 7 atau lebih. Kriteria

untuk infeksi BV adalah nilai 7 atau lebih tinggi; skor 4-6 dianggap

sebagai intermediate, dan skor 0-3 dianggap normal.10,29

iii. Kriteria Amsel


Kriteria Amsel dalam penegakan diagnosis BV harus terpenuhi 3 dari 4

kriteria berikut:
a. Adanya peningkatan jumlah cairan vagina yang bersifat homogen.
Keluhan yang sering ditemukan pada wanita dengan BV adalah

adanya gejala cairan vagina yang berlebihan,berwarna putih yang

berbau amis dan menjadi lebih banyak setelah melakukan hubungan

seksual. Pada pemeriksaan spekulum didapatkan cairan vagina yang

encer, homogen, dan melekat pada dinding vagina namun mudah

dibersihkan. Pada beberapa kasus, cairan vagina terlihat berbusa yang

mana gejala hampir mirip dengan infeksi trikomoniasis sehingga

kadang sering keliru dalam menegakan diagnosis.6


b. pH cairan vagina yang lebih dari 4,5 .
pH vagina ditentukan dengan pemerikasaan sekret vagina yang

diambil dari dinding lateral vagina menggunakan cotton swab dan

dioleskan pada kertas strip pH.(2,5,7). Pemeriksaan ini cukup

sensitif, 90% dari penderita BV mempunyai pH cairan vagina lebih

dari 5; tetapi spesitifitas tidak tinggi karena PH juga dapat

meningkat akibat pencucian vagina, menstruasi atau adanya

sperma. pH yang meningkat akan meningkatkan pertumbuhan flora

vagina yang abnormal.6

23
c. Whiff test Positif
Whiff test diuji dengan cara meneteskan KOH 10% pada sekret

vagina, pemeriksaan dinyatakan positif jika setelah penentesan

tercium bau amis.6,10,17 Peningkatan pH vagina menyebabkan asam

amino mudah terurai dan menegeluarkan putresin serta kadaverin

yang berbau amis khas. Bau amis ini mudah tercium pada saat

melakukan pemeriksaan spekulum, dan ditambah bila cairan

vagina tersebut kita tetesi KOH 10% . Cara ini juga memberikan

hasil yang positif terhadap infeksi trikomoniasis.6,17


d. Ditemukan clue cells pada pemeriksaan mikroskopis.
Menemukan clue cells di dalam sekret vagina merupakan hal yang

sangat esensial pada kriteria Amsel. Clue cells merupakan sel-sel

epitel vagina yang dikelilingi oleh bakteri Gram variabel

coccobasilli sehingga yang pada keadaan normal sel epitel vagina

yang ujung-ujungnya tajam, perbatasanya menjadi tidak jelas atau

berbintik. Clue cells dapat ditemukan dengan pengecatan gram

sekret vagina dengan pemeriksaan laboratorium sederhana dibawah

mikroskop cahaya. Jika ditemukan paling sedikit 20% dari

lapangan pandang.29

24
Gambar 5. Gambaran clue cells dengan pengecatan salin.24
8. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan clue cells telah dijelaskan pada pembahasan di atas

pemeriksaan mikroskopis cairan vagina, clue cell (sel epitel yang ditutupi oleh

bakteri) merupakan indikator bakterial vaginosis. Setidaknya 20 persen sel epitel

pada pemeriksaan mikroskopis dengan garam wet mount. Pemeriksaan lain adalah

dengan kultur bakteri yang ada di vagina, namun pemeriksaan tersebut tidak bisa

dilakukan secara cepat sehingga jarang dilakukan.20,2


Usap vagina dikultur baik anaerob maupun aerobik pada permukaan brain

heart infusion plate agar dilengkapi dengan vitamin K (0,5mg/l) dan Haemin

(5mg/l), agar darah dan agar coklat. Sebagai tambahan Bacteroides Bile Esculin

agar, Neomycin Vancomycin Chocolate agar diinokulasi untuk kultur anaerob.

Setiap media diperiksa setelah 48 jam, 96 jam dan 7 hari,hasil kultur yang telah

diisolasi diidentifikasi dengan menggunakan teknik mikrobiologi yang telah

distadarisasi.30 Kultur merupakan metode yang menjadi gold standard untuk

diagnosis sebagian besarpenyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun,

kultur tidak bisa menjadi gold standarduntuk diagnosis vaginosis bakteri. Hal ini

25
dikarenakan organisme yang terlibat dalam infeksi BV tidak dapat dipisahkan

dengan mudah dan bakteri–bakteri yang berperan dalam terjadinya infeksi BV

tetap ada dengan jumlah yang sedikit pada kondisi normal sehingga pada hasil

kultur akan selalu terdiagnosis sebagai infeksi BV.10 Bakteri Gardnerella

vaginalis ditemukan sebanyak 60% pada kultur vagina normal.10,26


Pemeriksaan lainnya adalah dengan metode gas liquid chromatography

(GLC). GLC merupakan salah satu metode diagnosis infeksi BV secara tidak

langsung, yaitu dengan cara mendeteksi adanya hasil metabolisme mikro

organisme sekret vagina. Pada infeksi BV salah satu gejala yang menjadi

karakteristik yang khas yaitu didapatkan bau amis pada sekret vagina. Bau ini

berhubungan dengan adanya hasil matabolisme bakteri yaitu diamin, putresin dan

kadaverin. Pada infeksi BV juga didapatkan tingginya konsentrasi asam suksinat

yang merupakan hasil metabolisme dari bakteri anaerob. Laktobasilus juga

merupakan flora dominan pada kondisi normal yang menghasilkan asam laktat.

Spiegel, dkk melaporkan bahwa rasio suksinat dan laktat yang lebih besar dari 0,4

pada analisis GLC cairan vagina mempunyai korelasi dengan diagnosis klinik

vaginosis bakterial. Namun cara diagnosis ini tidak dikerjakan secara luas pada

pusat pelayanan kesehatan di Indonesia.6,8


9. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada bakterial vaginosis adalah dengan menggunakan

preparat metronidazol oral dengan dosis 2 gram dosis tunggal. Pengobatan

alternatif lain bisa dengan menggunakan metronidazol oral 500 mg dua kali sehari

selama 7 hari, atau klindamisin oral 300 mg dua kali sehari selama 7 hari. 3

Menurut Center for Disease Control (2015), penggunaan Klindamisin topikal 2 %

sebanyak 5 gram penuh sebelum tidur selama 7 hari juga dapat dipakai dalam

26
pengobatan bakterial vaginosis.13 Bakterial vaginosis pada ibu hamil dapat diobati

dengan metronidazol. Metronidazol telah diteliti, dan tidak memiliki efek

teratogenik dan mutagenik terhadap janin. Data yang didapat dari penelitian juga

mendapatkan bukti bahwa metronidazol tidak berbahaya bagi kehamilan. Belum

ada bukti bahwa terapi menggunakan rejimen oral lebih unggul dibanding rejimen

topikal. Maka dari itu, terapi dapat dilakukan dengan pemilihan salah satu rejimen

tersebut. Trapi metronidazol juga aman bagi ibu yang menyusui karena kadarnya

akan menurun lebih rendah dibanding kadar dalam plasma darah.5


10. Prognosis
Bakterial vaginosis memiliki prognosis yang baik dengan dilakukan terapi

yang adekuat. Beberapa infeksi dapat sembuh dengan sendiri. Sebagian besar

infeksi memberi gejala asimtomatis dan jarang memiliki komplikasi.1,20

2.3.4 Kandidiasis Vulvovagina

1. Definisi
Kandidiasis vulvovagina merupakan sekumpulan keluhan dan gejala

inflamasi pada vulva dan vagina yang disebabkan oleh Candida Sp.31
2. Etiologi
Candida albicans merupakan oraganisme tersering dalam kandidiasis

vulvovagina yakni sebesar 80 hingga 90 persen. Sisanya adalah C. glabrata.5,20,2

C. albicans merupakan organisme normal yang berada di vagina, dan dapat

menjadi patogen oportunis.32


3. Epidemilogi
Penyakit Kandidiasis ini dapat menyerang berbagai kelompok usia dan

terdapat diberbagai belahan dunia. Penyebab Kandidiasis merupakan organisme

normal yang terdapat pada orang sehat sehingga sulit diketahui penyebarannya

secara tepat. Dari sebuah penelitian di Amerika Serikat didapatkan 56 % pernah

27
mengalami kandidiasis vulvovaginalis dan 8 % diantaranya mengalami infeksi

berulang.31
4. Patogenesis
Candida albicans adalah mikroorganisme eukariotik dengan kemampuan

yang luar biasa untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda. Sifat unik ini

memungkinkan C. albicans untuk mempunyai dua peran yakni, yang baik sebagai

komensal dan juga sebagai patogen bagi manusia dan mamalia lainnya. Dualitas

ini memiliki korespondensi morfologi dalam kapasitas C. albicans untuk

menjalani perubahan morfogenetik dari round-ovoid typical yeast cell (Y) dengan

miselium hifa (H) Transisi ini adalah relevansi terbaik bagi patogenitas dari C.

Albicans.
Terdapat bukti yang cukup bahwa bentuk Y dominan terkait dengan

komensalisme, sedangkan Bentuk H dikaitkan dengan patogenisitas. Dalam

bentuk Y, C. albicans dapat ditemukan di usus dan vagina dan > 50% dari subyek

yang sehat, sedangkan bentuk H ini selalu ditemukan dalam spesimen patologis

yang diperoleh dari jaringan yang terinfeksi, termasuk wanita dengan Kandidiasis

Vulvovagina. Sel Y ditoleransi oleh host dan dipertahankan pada angka rendah

pada permukaan epitel vagina dengan berbagai mekanisme yang menghambat

transisi ke bentuk H. Hal ini masih harus ditentukan apakah kehadiran C. albicans

mempunyai manfaat bagi host dalam hal komposisi mikrobiota yang seimbang

dan pemeliharaan homeostasis imun lokal. Namun, ketika mekanisme toleransi

menjadi rusak, bentuk Y berubah menjadi bentuk H. Hifa ini membentuk lapisan

biofilm yang kuat dan kemudian menyerang lapisan terluar epitel vagina.

Pelepasan bentuk H dari epitel, dengan memicu sel-sel inflamasi, puing-puing dari

28
sel yang lisis dan cairan vagina membentuk discharge vagina yang merupakan

salah satu klinik tanda-tanda dan gejala yang khas kandidiasis vulvovagina.32
5. Gejala Klinis
Pasien mengeluhkan discharge vagina yang kental dan bersamaan dengan

rasa panas, gatal saat buang air kecil dan kadang disuria. 32 Pada pemeriksaan fisik

didapatkan vulva dan vagina yang eritem, edema, terdapat fisura dan discharge

vagina yang kental.31

6. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan KOH atau pemeriksaan gram dari discharge vagina

didapatkan tunas, hifa atau pseudohifa. Alternatif lain adalah dengan pemeriksaan

kultur dan didapatkan spesies dari Candida Sp.13


7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Kandidiasis vulvovaginalis di Indonesia adalah

menggunakan preparat mikonazol atau klotrimazol 200 mg intravagina atau

klotrimazol 500 mg intravagina dosis tunggal. Terapi lain yang dapat digunakan

adalah dengan terapi sistemik yaitu flukonazol oral 150 mg dosis tunggal atau

itrakonazol oral 200 mg dosis tunggal.3 Kandidiasis vulvovagina juga sering

terjadi pada wanita hamil. Terapi yang diperbolehkan adalah dengan

menggunakan preparat azol topikal selama paling lama 7 hari. Terapi sistemik

tidak dianjurkan pada ibu hamil.13

2.3.5 Herpes Genitalis

1. Definisi dan manifestasi klinis

Herpes genitalis adalah infeksi genital yang disebabkan oleh Herpes

simpleks virus dengan gejala khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar

eritema dan bersifat rekurens.33 Hubungan resiko yang beresiko tinggi dengan

29
seseorang penderita herpes dapat meningkatkan resiko terkena virus herpes

simpleks. Manifestasi klinis di pengaruhi oleh faktor hospes, pajanan HSV

sebelumnya, episode terdahulu dan tipe virus. Daerah predileksi pada pria

biasanya di preputium, gland penis, batang penis, dapat juga di uretra dan daerah

anal (homoseksual).Sedangkan pada wanita biasanya di dareah labia mayor atau

labia minor, klitoris, introitus vagina, serviks.

Gambar 5. Herpes genitalis.15,16

2. Diagnosis

Anamnesis didapatkan adanya gejala klinis diawali dengan papul – vesikel.

Ulkus/erosi multipel berkelompok, di atas dasar eritematosa, sangat nyeri, nyeri

dan edema di inguinal, limfadenopati bilateral, dan kenyal, disertai gejala sistemik

umumnya lesi tidak sebanyak seperti pada lesi primer, dan keluhan tidak seberat

lesi primer, timbul bila ada faktor pencetus. Herpes genital dapat kambuh apabila

ada faktor pencetus daya tahan menurun, faktor stress pikiran, senggama

berlebihan, kelelahan dan lain-lain. Umumnya lesi tidak sebanyak dan seberat

30
pada lesi primer. Pencegahannya tidak berhubungan intim sebelum menikah, setia

pada pasangan, menggunakan kondom, dan hindari faktor pencetus.7,33

3. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan Tzank tes, biakan jaringan, deteksi Ag : Elisa,

imunoperoksidase, deteksi Ab : Elisa, Penentuan DNA virus : PCR (Polymerase

Chain Reaction), Pemeriksaan Ab monoklonal dari kerokan lesi ( mikroskop

elektron indirek ).1,8

4. Pengobatan

a. Lesi primer - Infeksi berat maka diperlukan rawat inap dengan

pemeberian asiklovir 5 mg/kg BB/kali IV ( 5-10 hari ). Bila Infeksi

sedang : asiklovir 5 x 200 mg tablet ( 10 hari )

b. b. Infeksi rekuren - Bila timbul jarang & ringan : asiklovir 5 % cream

(5x/hari ). Bila lesi sedang – berat, timbul jarang maka diberikan

asiklovir 5 x 200 mg ( 5 hari ) dan bila timbul sering diperlukan

pemberian supresi kronik : asiklovir oral 2 – 5 x 200 mg atau 2 x 9 400

– 800 mg) sampai 1 tahun.

2.3.6 Kondiloma Akuminata

Kondiloma Akuminata ialah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh

human papiloma virus (HPV) dengan kelainan berupa fibroepitelioma pada kulit

dan mukosa. Sinonim genital warts,kutil kelamin, penyakit jengger ayam. Untuk

kepentingan klinis maka KA dibagi menjadi 3 bentuk: bentuk papul, bentuk

akuminata, bentuk datar. Meskipun demikian tidak jarang di temukan bentuk

31
peralihan.16,33 Diagnosis ditegakan berdasarkan gejala klinis. Untuk lesi yang

meragukan bisa menggunakan asam asetat 5 % yang di bubuhkan ke lesi selama

3-5 menit,lesi kondiloma akan berubah menjadi putih.Dapat juga dilakukan

pemeriksaan Identifikasi partikel virus dengan : Mikroskop elektron, Ag virus

dengan tehnik peroksidase, DNAvirus dengan metode hibridasi histopatologis.16,33

Penatalaksanaan umum dilakukan dengan menjaga kebersihan genital untuk

mencegah infeksi sekunder, mencari kemungkinan PMS lain, pemeriksaan

pasangan seksual , abstinensia. Pengobatan spesifik diantaranya kemoterapi

dengan podofilin 20-25%, seminggu 2x, asam triklor asetat 50%,5 fluorourasil 1 –

5%, podofiloyoksin 0,5%, Interferon, bedah skalpel, bedah listrik, bedah beku,

laser CO2, imunoterapi,dan hingga radioterapi.16,33

2.3.7 Moluskum Kontagiosum

Moluskum Kontagiosum merupakan neoplasma jinak pada jaringan kulit dan

mukosa yang di debabkan oleh virus moluskum kontagiosum. Terutama

menyerang anak – anak, orang dewasa dengan aktif berhubungan seksual,serta

orang yang mengalami gangguan imunitas.15,16,33 Lesi MK berupa papul milier,ada

lekukan (delle), permukaan halus, konsistensi kenyal, dengan umbilikasi pada

bagian sentral. Lesi berwarna putih, kuning muda, atau seperti warna kulit. Bila di

tekan akan keluar masa putih seperti nasi. Jumlah lesi biasanya berkisar 30

buah,tetapi bisa lebih kemiudian membentuk plakat dan kulit di sekitar lesi dapat

mengalami esktimatisasi (dermatitis moluskum). Prinsip penatalaksanaannya

32
adalah mengeluarkan masa putih di dalamnya dengan alat seperti ekstrator

komedo,jarum suntik , bedah beku, dan elektrocauterisasi.

2.3.8 . Skabies

Penyakit kulit yang disebebkan oleh infestasi dan sensitisasi Sarcoptes

Scabies Var. Hominis.15,16,33 Gambaran klinisnya terjadi pada malam hari karena

aktifitas tungau meningkat padasuhu kulit yang lembab dan hangat. Lesi khas

adalah papul yang gatal sepanjang terowongan yang berisi tungau . Lesi pada

umumnya simetrik dan berbagai tempat predileksinya adalah sela jari tangan,

fleksor siku dan lutut, pergelangan tangan, aerola mammae, umbilicus, penis,

aksila, abdomen, bagian bawah, dan pantat.15,16,33

2.3.9 Hepatitis Virus

Hepatitis dapat menyebabkan peradangan pada hepar dengan gejala klinik

berupa penyakit kuning yang akut di sertai malaise,mual,dan muntah, serta dapat

pula disertai peningkatan suhu badan. Virus hepatitis yang saat ini di temukan dan

patogen pada manusia adalah : Virus hepatitisA, Virus hepatitis B, Virus hepatitis

C, Virus hepatitis D dan Virus hepatitis E.1,8

2.3.10 AIDS (Acquired Imunodeficiency Syndrome)

AIDS (Acquired Imunodeficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala yang

timbul akibat menurunnya kekebalan tubuh yang di peroleh,disebabkan oleh

human imunodeficiency virus ( HIV ).8,16,33 AIDS disebabkan oleh masuknya HIV

33
kedalam tubuh manusia. Jika sudah masuk dalam tubuh, HIV akan menyerang sel-

sel darah putih yang mengatur sistem kekebalan tubuh, yaitu sel –sel

penolong,”sel T Helper”.8,16,33 Gejala mayor pada AIDS yaitu:

 Penurunan BB yang mencolok/ pertumbuhan abnormal

 Diare kronik lebih dari 1 bulan

 Demam lebih dari 1 bulan

Gejala minor: limfadenopati generalisata, kandidiasis orofaring, infeksi umum

berulang, batuk lebih 1 bulan, dermatitis generalisata dan Infeksi HIV

maternal.8,16,33 Berdasarkan gejala tersebut menurut WHO dapat dilakukan

penegakkan diagnosis pada orang dewasa: 2 gejala mayor dengan minimal 1

gejala minor dengan tidak ditemukan penyebab lain supresi imun tubuh.8,33

Diagnosis dengan pemeriksaan laboraturium dapat dilakukan secara

langsung: deteksi antigen virus dan PCR, sementara pemeriksaan tidak langsung:

respon zat anti spesifik seperti elisa, Western Blot, IFA, RIPA, dimana yang lazim

dipakai : pemeriksaan ELISA : sensitivitas meningkat setelah 2-3 bulan terkena

infeksi. Bila positif harus dikonfirmasi dengan Western Blot. Pemeriksaan

Western Blot memiliki spesifisitas tinggi dan mahal, pemeriksaan lain yang lazim

dilakukan adalah PCR.1,8

34
. BAB III

RINGKASAN

Infeksi menular Seksual ( IMS ) adalah berbagai infeksi yang dapat menular

dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual. Kelainan ditimbulkan

tidak hanya terbatas pada daerah genital saja, tetapi dapat juga di daerah ekstra

genital. IMS sendiri dapat dibagi berdasarkan penyebabnya bakteri, virus, jamur,

protozoa dan ektoparasit. Bakterial Vaginosis (BV) yang termasuk dalam infeksi

menular seksual diakibatkan oleh bakterial merupakan salah satu masalah

kesehatan yang sering dihadapi oleh wanita yang berada dalam masa reproduksi

dimana terjadi ketidak seimbangan flora normal yang terdapat di vagina. Kondisi

tersebut yaitu pertumbuhan flora bakteri anaerob terutama Bacteroides sp.,

Mobilicus sp., Gardnerellavaginalis, dan Mycoplasma hominis yang mengganggu

flora normal Lactobacillus sp.

Pemeriksaan lengkap dari anamnesis dan pemeriksaan fisik dalam

menentukan diagnosis jenis penyakit dari IMS diperlukan dengan adanya

pemeriksaan laboraturium secara spesifik. Pada IMS Mayor seperti Gonore,

pemeriksaan laboratorium yang biasa dilakukan adalah pemeriksaan sediaan

langsung dengan pewarnaan gram, test biakan (kultur), tes definitif (tes oksidasi,

test fermentasi, tes beta laktamase dan tes Thomson). Pada Sifilis pemeriksaan

labolatorium berupa pemeriksaan lapangan gelap (pemeriksaan lapangan gelap,

mikroskop fluorensi) menggunakan bagian dalam lesi guna menemukan

T.pallidum. Selain itu menggunkan penentuan antibodi dalam serum (tes

35
menentukan anti bodi nonspesifik, tes menentukan antibodi spesifik, antibody

terhadap kelompok antigen yaitu tes Reiter Protein Complement Fixation). Pada

Ulkus Mole pemeriksaan langsung bahan ulkus dengan pengecatan gram

memperlihatkan basil kecil negatif gram yang berderat berpasangan seperti rantai

di intersel atau ekstrasel. Pada IMS Minor seperti Trikomoniasis Vaginalis

pemeriksaan vaginal swab wet mount adalah pemeriksaan yang biasanya

dilakukan. Pemeriksaan mikroskop medan gelap merupakan pemeriksaan terbaik

untuk melihat protozoa. Pemeriksaan kultur merupakan pemeriksaan sensitif bagi

trikomoniasis.

Pada Bakterial Vaginosis terdapat kriteria diagnostik salah satunya kriteria

Amsel, yaitu : pH vagina >4,5, discharge vagina yang homogen, tipis dan

keputihan, sel-sel yang menjadi petunjuk pada pemeriksaan mikroskopis cairan

vagina (misal : sel-sel epitel vagina yang diikuti coccoobacilli), dan vagina

dischare yang berbau amis. Pemeriksaan spesifik akan membantu menegakkan

diagnosis IMS dan pemilihan pengobatan yang tepat dan akurat.

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Merchant R. Update on Emerging Infections : News From the Centers for

Disease Control and Prevention. YMEM. 2010;58(1):67-68.

2. Melissa W. Sexually Transmitted Diseases: A Practical Guide for Primary

Care. 2009:9523.

3. Kemenkes RI, 2011. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular

Seksual 2011. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan

Lingkungan.

4. Sexually Transmited Diseases (STDs): Bacterial Vaginosis (BV) Statistic. In:

Koumans EH SM, Bruce C, McQuillan G, Kendrick J, Sutton M,

Markowitz LE, ed. 1600 Clifton Rd. Atlanta, GA 30333, USA: Centers for

Disease Control and Prevention (CDC), 2004; v.2.

5. CDC. 2010. Sexually transmitted Diseases. Available at:

http://www.cdc.gov/std/pregnancy/stdfactpregnancy. htm.

6. Umbara PJA. Hubungan antara Derajat Vaginosis Bakterial Sesuai Kriteria

Nugent dengan Partus Prematurus Iminen. Program Pendidikan Dokter

Spesialis I Obstetri dan Ginecologi. Semarang: Universitas Diponegoro,

2009.

7. Moran GJ. Update on Emerging Infections : News From the Centers for

Disease Control and Prevention. 2006:5-7.

8. Unemo M, Ballard R, Ison C, Lewis D, Ndowa F, Peeling R. WHO

Laboratory diagnosis of sexually transmitted infections , including human

immunodeficiency virus. 2013

37
9. Sharon H, Jeanne M, Holmes KK. Bacterial vaginosis. In: Holmes KK,

Sparling PF, Stamm WE, Piot P, Wasserheit JN,Corey L, et al., editors.

Sexually transmitted disease. 4th ed. New York: McGraw Hill; 2008. p.737-

68.

10. Udayalaxmi GB, Subbannayya Kotigadde, Shalini Shenoy. Comparison of

the Methods of Diagnosis of Bacterial Vaginosis. Journal of Clinical and

Diagnostic Research 2011 June;5(3):498-501.

11. Center for Disease Control and Prevention, 2013. Incidence, Prevalence,

and Cost of Sexually Transmitted Infections in the United States. Available

from http://www.cdc.gov/std/stats/sti-estimates-fact-sheet-feb-

2013.accessed 18th Des 2017.

12. Djuanda, Adhi, dkk., 2011. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia.

13. Center for Disease Control., 2015. Diseases Characterized by Vaginal

Discharge. Dalam Sexually Transmitted Disease Treatment Guidelines

2015. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), U.S. Department

of Health and Human Services. Vol. 64 : 3 P 69-78.

14. Nyoman A, Luh A. Infeksi menular seksual dan kehamilan. 2013:304-310.

15. Siregar RS.Atlas Bewena Saripati Penyakit Kulit: EGC 2005.

16. Bag/SMF Ilmu Kesehtan Kuliit dan Kelamin FK UNAIR/RSU Dr.Soetomo

Surabaya. Atlas Penyakit Kulit dan kelamin Surabaya : Air langga

University press 2007.

17. Kantida Chaijareenont MD KSM, Dittakarn Boriboonhirunsarn MD M,

38
PhD, Orawan Kiriwat MD. Accuracy of Nugent’s Score and Each Amsel’s

Criteria in the Diagnosis of Bacterial Vaginosis. J Med Assoc Thai

2004;87(11):1270 - 4.

18. Struble, K. & Lutwick, L.I., 2010. Chlamydial Genitourinary Infections.

University of Oklahoma College of Medicine. Available from:

http://emedicine.medscape.com/article/214823-overview [18 Desember

2017].

19. Daili, S.F., 2010. Trikomoniasis. Dalam Adhi Djuanda, Mochtar Hamzah,

Siti Aisyah, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi VI. Jakarta : Badan

Penerbit FK UI. P 383-4.

20. Garcia, et al., 2008. Gonorrhea and Other Veneral Disease. Dalam Klaus

Wolf, Lowell Goldsmith, Stephen Katz, Barbara Gilchres, Amy Paller,

David Leffel, Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine edisi VII.

USA : McGraw-Hill Companies. P 1993-2000.

21. Menard et al., 2011. Antibacterial treatment of bacterial vaginosis: current

and emerging therapies. International Journal of Women’s Health. Vol. 3.

Diakses : tanggal 16 Desember 2017.

22. Gillet et al., 2011. Bacterial vaginosis is associated with uterine cervical

human papillomavirus infection: a meta-analysis. BMC Infectious Diseases

2011, 11:10.

23. Gonzalez-Pedraza Aviles A, Mota Vazquez R, Ortiz Zaragoza C, Ponce

Rosas RE. [Factors of risk of bacterial vaginosis]. Aten Primaria

2004;34(7):360-5.

39
24. Bacterial Vaginosis. In: King K. Holmes M, PhD, ed. Sexually Transmited

Diseases, 3rd ed: McGraw-Hill, 1999.

25. Octaviany D. Risk Factors for Bacterial Vaginosis among Indonesia Women

Med J Indones 2010;19:130-5.

26. Filho DSC. Bacterial vaginosis: clinical, epidemiologic and microbiological

features. HU Revista, Juiz de Fora, 2010;36(3):223-30.

27. Eschenbach DA, Hillier S, Critchlow C, et al. Diagnosis and clinical

manifestations of bacterial vaginosis. Am J Obstet Gynecol

1988;158(4):819-28.

28. Bayu IP. Reliabilitas Interna Pemeriksaan Smear Vagina dengan Kriteria

Spiegel dalam Mendiagnosis Bacterial Vaginosis pada Ibu Hamil. Fakultas

Kedokteran. Semarang: Universitas DIponegoro, 2008.

29. Tamonud Modak PA, Charan Agnes, Raja Ray, Sebanti Goswami, Pramit

Ghosh, Nilay Kanti Das. Diagnosis of bacterial vaginosis in cases of

abnormal vaginal discharge: comparison of clinical and microbiological

criteria. J Infect Dev Ctries 2011;5(5):353-60.

30. Goyal R. Diagnosis of Bacterial Vaginosis in Women in Labour. JK Science

2005;7(1):1-4.

31. Achkar, J. M., & Fries, B. C., 2010. Candida Infections of the Genitourinary

Tract. Dalam Clinical Microbiology Reviews. New York : American Society

for Microbiology. P 253-273.

32. Cassone. A., 2014. Vulvovaginal Candida albicans infections: pathogenesis,

immunity and vaccine prospects. BMC Infectious Diseases 2011, 11:10.

40
33. Wolf K.Johnshon RA. Fitzpatrick’s Color Atlas & Synopsis of Clinical

Dermatology

41