Anda di halaman 1dari 34

PANDUAN PRAKTEK KLINIS

FISIOTERAPI

OLAHRAGA

IKATAN FISIOTERAPI INDONESIA


OLAHRAGA

1. Sprain Ankle
a. Sprain Ankle
- Icf : b7150, b7601
- Icd : S93.4
b. Masalah Kesehatan
- Definisi
Sprain ankle juga dikenal sebagai cidera ankle atau cidera ligament ankle,
pada umumnya sprain ankle ini terjdi karena robeknya sebagian dari
ligament (torn partial ligament) atau keseluruhan dari ligament (torn
ligament) dan Hampir 85% sprain ankle terjadi pada struktur jaringan
bagian lateral ankle yaitu ligamen lateral complex. (H. Habib Nasution,
2006)
- Epidemiologi
3.140.132 kasus sprain ankle berisiko terjadi pada populasi 146.1379.599
orang per tahun. untuk tingkat kejadian 2,15 per 1000 orang pertahun di
Amerika Serikat. (Waterman BR, 2010)
c. Hasil Anamnesis
Setelah cedera, penderita mengeluh sakit berlebihan pada aspek anterolateral
pada sendi pergelangan kaki. Perabaan di atas sakit tersebut hanya di bawah
malleolus lateral. Dengan penyebaran terjadi di tempat bengkak yang
berlebihan daerah pergelangan kaki sisi lateral dan anterior, persamaan tes
ditunjukkan adaya ketidakseimbangan, MRI diindikasikan tidak patah tulang.
d. Pemeriksaan fisik dan dasar penunjang
- Pemeriksaan fisik
Tampak oedeme
Gerak plantar maupun dorsal fleksi nyeri. Gerak inversi nyeri.
- Pemeriksaan penunjang
X-ray, MRI
e. Penegakkan diagnosa
- Activity limitation
- Adanya gangguan berlari, loncat, kemampuan berjalan, keseimbangan,
kontrol gerak
- Body structure and body function
- nyeri
- oedema
- Participation restriction
- Tidak dapat melakukan olahraga dengan maksimal
- Diagnosa berdasarkan ICF
- Adanya gangguan stability ankle, adanya ketidakmampuan melakukan
kordinasi gerakan ankle.
f. Rencana Penatalaksanaan
 Tujuan
- Mencegah deformitas
- Meningkatkan movement coordination
- Meningkatkan keseimbangan
- Meningkatkan kemampuan ankle
 Prinsip Terapi
- Istirahat
- Memelihara ROM
- Meningkatkan kemampuan fungsional
 Konseling-Edukasi
- Latihan keseimbangan
- Latihan aktifitas fungsional
 Kriteria Rujukan
- Dokter
- Fisioterapis
g. Prognosis
Pada umumnya sprain ankle dapat sembuh tanpa komplikasi dan pasien dapat
kembali beraktivitas sebagaimana biasanya.
h. Sarana dan prasarana
Wobble board, elastic bandage, taping, tera band
i. Referensi
Sumber :
Nasution, Habib. Rika melianita. 2006. Pengaruh Penambahan Terapi Ultra
Sonik pada Intervensi Mwd Terhadap Penurunan Nyeri Akibat Sprain Ankle.
avalaible at : ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Fisio/article/download/589/552
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20926721
2. Shin Splints ( Tibial Stress Syndrome )
a. Shin splints
- Icf : d4552, d4553, d9201
- Icd : 844.9
b. Masalah Kesehatan
- Definisi
Shin splints adalah peradangan pada otot, tendon, dan jaringan tulang di
sekitar tibia akibat overuse dan cedera berulang pada daerah postero
medial dan antero medial. Nyeri biasanya terjadi di sepanjang
perbatasan bagian dalam tibia, di mana otot melekat ke tulang.
- Epidemiologi
10-15% of running injuries, 60% of leg pain syndromes
c. Hasil Anamnesis
Pasien mengeluh nyeri pada bagian distal dan posteromedial tibia setelah
melakukan hobinya dalam olahraga berlari.
d. Pemeriksaan fisik dan dasar penunjang
- Pemeriksaan fisik
Nyeri profokasi pada plantar fleksi
Thigtness pada tendon achilles
- Pemeriksaan penunjang
MRI
e. Penegakkan diagnosa
Activity limitation
- berjalan, berlari
Body structure and body function
- Poor endurance
- Pain
Participation restriction
- Tidak dapat melakukan olahraga yang mencakup berlari terlalu lama
Diagnosa berdasarkan ICF
- Adanya gangguan stability ankle, adanya ketidakmampuan
melakukan lari dalam batas waktu lebih lama.
f. Rencana Penatalaksanaan
Tujuan:
Menghilangkan/ mengurangi nyeri, pencapaian normal ROM, adaptasi anatomi
dan hipertropi otot, berjalan dan berlari dengan seimbang.
Prinsip terapi:
stretching
Penguatan pada invertors and evertors dari calf
Melatih keseimbangan kaki
Konseling-edukasi :
menjelaskan pencegahan dan kontra indikasi
menjelaskan dan merencanakan program dengan pasien
Kriteria rujukan:
Dokter
Fisioterapi
g. Prognosis
Prognosis pada shin splint tergantung dari jenis dan berat ringannya gejala yang
terjadi, selama fase istirahat pasien akan mengalami pemulihan
h. Sarana dan prasarana
Bed, ice, taping
i. Referensi
Woon, Colin 2014. Tibial Stress Syndrome (Shin Splints).
Available at : http://www.orthobullets.com/sports/3108/tibial-stress-syndrome-
shin-splints
3. Tennis Elbow
a. Tennis Elbow tipe 2
- Icf : b2801, b7300, d92010
- Icd : 726.32
b. Masalah Kesehatan
- Definisi
Tennis elbow timbul karena adanya injuri pada tenno periosteal yang
menimbulkan inflamasi akibat trauma atau pekerjaan atau aktivitas atau
kegiatan yang melibatkan tangan dan pergelangan tangan
secara berlebihan. Umumnya pekerjaan atau olahraga yang
menyebabkan injuri pada ekstensor karpi radialis brevis, tennis elbow
ditandai nyeri siku yang terjadi ketika ekstensi pergelangan tangan
dengan posisi pronasi atau supinasi.
- Epidemiologi
Tennis elbow terjadi 2.4 dari 1000 orang pada tahun 2012 (Sanders TL
Jr, 2015)
c. Hasil Anamnesis
Klien dengan keluhan nyeri pada siku, nyeri meningkat saat mengepal tangan
dan mengangkat beban, nyeri akan bertambah setelah beraktivitas.
d. Pemeriksaan fisik dan dasar penunjang
Pemeriksaan fisik
Thigtness, nyeri tekan pada daerah epicondyle dan ada trigger point pada
wrist muscles.
Pemeriksaan penunjang
MRI
e. Penegakkan diagnosa
 Activity limitation
Adanya gangguan menggenggam dan mengangkat barang
 Body structure and body function
- inflamasi
- thigtness
 Participation restriction
Tidak dapat bermain tennis/ bulu tangkis dengan teman-temannya
 Diagnosa berdasarkan ICF
Penurunan kekuatan otot, nyeri pada saat mengangkat barang, menggapai
benda, keterbatasan dalam olahraga seperti melempar, badminton, tenis.
 Rencana Penatalaksanaan
Tujuan:
Menghilangkan/ mengurangi nyeri dan kaku, pencapaian normal ROM,
elastisitas otot, adaptasi anatomi.
Prinsip terapi:
Eliminasi nyeri
Meningkatkan elastisitas muscle
Meningkatkan kemampuan functional
Konseling-edukasi :
menjelaskan pencegahan dan kontra indikasi
menjelaskan dan merencanakan program dengan pasien
Kriteria rujukan:
Fisioterapi
 Prognosis
Tenis elbow yang tidak ditangani akan berlangsung hingga 6 bulan sampai
2 tahun dan rentan terhadap kekambuhan.
 Sarana dan prasarana
Tennis elbow brace
 Referensi
Miller, John. 2015. Tennis Elbow. Available at :
http://physioworks.com.au/injuries-conditions-1/tennis-elbow
Sanders TL Jr. Et al. 2015. The epidemiology and health care burden of
tennis elbow: a population-based study. Availabe at :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25656546
4. Sprain Anterior Cruciate Ligament (ACL)
a. Anterior Cruciate Ligament (ACL)
- Icf b7150, b7601
- Icd S83.5
b. Masalah Kesehatan
- Definisi
ACL injury adalah putusnya jaringan ligament anterior cruciate
ligament pada sendi lutut yang menghubungkan tulang tibia dengan
tulang femur. ACL adalah salah satu ligament pada sendi lutut yang
sering bermasalah pada para pemain olahraga yang menggunakan kaki
sebagai tumpuan utama dalam permainannya, contohnya sepak bola,
basket, taekwondo dan lain-lain.
- Epidemiologi
Insidensi cedera ACL pada populasi penduduk secara umum di USA
1:3000. Dimana secara gender wanita lebih banyak 2-8x lebih banyak
untuk cedera ACL dibanding laki-laki. Dan lebih banyak pada
populasi atlit olah raga sekitar 80.000 sampai 250.000 setiap tahunnya.
(Bernard R.Bach, 2010)
c. Hasil Anamnesis
Atlet tiba-tiba berhenti, memotong atau loncat, terjadi trauma hiperekstensi dan
terdengar suara pop sound lalu si atlet tidak dapat melanjutkan olah raga saat
itu dan beberapa jam kemudian terjadi bengkak pada lutut
d. Pemeriksaan fisik dan dasar penunjang
 Inspeksi : oedem
 Tes cepat :
- Gerakan ekstensi, fleksi dan external, internal rotasi
 Tes khusus
 Lachman Test
 Anterior drawer test
 Pivot shift test
Pemeriksaan fisik
Tampak oedeme, adanya rasa nyeri, instability movement, valgus/ varus.
Pemeriksaan penunjang
X-Ray, MRI
e. Penegakkan diagnosa
Activity limitation
- Adanya gangguan keseimbangan saat berjalan, berlari
Body structure and body function
- Joint line tenderness
- Bengkak, nyeri
- ROM limitation
Participation restriction
- Tidak dapat melakukan olahraga yang mencakup berlari dan
koordinasi, ibadah
Diagnosa berdasarkan ICF
- Adanya gangguan stability, adanya gangguan koordinasi gerak.
f. Rencana Penatalaksanaan
Tujuan:
Menghilangkan/ mengurangi nyeri dan bengkak, pencapaian normal ROM,
adaptasi anatomi dan hipertropi otot, linear dan lateral stabilisasi, berjalan dan
berlari dengan seimbang, drill untuk kembali ke olah raga.
Prinsip terapi:
Eliminasi nyeri dan bengkak
Meningkatkan aktif ROM (cascio et al 2004)
Functional Strengthening (Gale and Richdmon 2006, Mc carthy and bach
2005)
Konseling-edukasi :
menjelaskan pencegahan dan kontra indikasi
menjelaskan dan merencanakan program dengan pasien
Kriteria rujukan:
Dokter ortopedi
Fisioterapi
g. Prognosis
Pada cedera acl bisa dilakukan non operative treatment jika keadaan dengan
indikasi tua dan sedentary dilakukan modifikasi aktivitas sehingga mengurangi
gejala-gejala yang ditimbulkan, namun rekonstruksi acl sangat diperlukan pada
atlet dan penuh aktivitas.
h. Sarana dan prasarana
Bed, wobel board, ball, cone, box jump
i. Referensi
Bernard R.Bach J, T.Provencher M: ACL Surgery: SLACK Incorporated, 2010,
pp 39-54.
H.Fu F, B.Cohen S: Current Concept in ACL Reconstruction: SLACK
Incorporated, 2008, pp 21-61.
Available at : http://orthopaeditrauma.blogspot.co.id/2015/12/cidera-lutut-
anterior-cruciate-ligament.html
David S, Logerstedt. Et al. Knee Stability and Movement Coordination
Impairments: Knee Ligament Sprain. 2011.
Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3158982/
5. Sprain Posterior Cruciate Ligament (PCL)
a. Posterior Cruciate Ligament (PCL)
- Icf b7150, b7601
- Icd S83.5
b. Masalah Kesehatan
- Definisi
Posterior Cruciate Ligament sprain adalah injury yang terjadi akibat
misssteps, dan mendarat yang tidak tepat dari melompat. Namun,
mekanisme yang paling umum dari sprain PCL adalah dikarenakan
kecelakaan kendaraan bermotor. Hal ini biasanya disebut "dashboard
injury" ligamen injury akibat membentur tibia ke dashboard setelah
berhenti mendadak atau dampak mendorong tibia posterior ketika lutut
fleksi.
- Epidemiologi
Kejadian sprain posterior cruciate ligament (PCL) cedera 0,65% hingga
44% dari semua cedera lutut ligamen. Penyebab paling umum untuk
cedera PCL adalah kecelakaan kendaraan bermotor dan atletik.
kecelakaan sepeda motor dan cedera yang berhubungan dengan sepak
bola sebagai penyumbang penyebab utama cedera yang spesifik. Dalam
kecelakaan lalu lintas, 63,8% yang terluka mengalami cedera PCL
dengan kerusakan ligamen tambahan, sedangkan, cedera atletik, luka
kombinasi mewakili 47,5% dari cedera.
c. Hasil Anamnesis
Atlet tiba-tiba terjatuh setelah loncat, terjadi trauma benturan pada tibia ada
suara pop sound lalu si atlet tidak dapat melanjutkan olah raga saat itu dan
beberapa jam kemudian terjadi bengkak.
d. Pemeriksaan fisik dan dasar penunjang
Pemeriksaan fisik
Tampak oedeme, adanya rasa nyeri, instability movement, valgus/ varus
 Tes cepat :
- Gerakan ekstensi, fleksi dan external, internal rotasi
 Tes khusus
 Lachman Test
 posterior drawer test
 Pivot shift test
Pemeriksaan penunjang
X-Ray, MRI
e. Penegakkan diagnosa
Activity limitation
- Adanya gangguan keseimbangan saat berjalan, berlari
Body structure and body function
- Joint line tenderness
- Bengkak, nyeri
- ROM limitation
Participation restriction
- Tidak dapat melakukan olahraga yang mencakup berlari, loncat dan
koordinasi, ibadah
Diagnosa berdasarkan ICF
- Adanya gangguan stability, adanya gangguan koordinasi gerak.
f. Rencana Penatalaksanaan
Tujuan:
Menghilangkan/ mengurangi nyeri dan bengkak, pencapaian normal ROM,
adaptasi anatomi dan hipertropi otot, linear dan lateral stabilisasi, berjalan dan
berlari dengan seimbang, drill untuk kembali ke olah raga.
Prinsip terapi:
Eliminasi nyeri dan bengkak
Meningkatkan aktif ROM
Functional Strengthening
Konseling-edukasi :
menjelaskan pencegahan dan kontra indikasi
menjelaskan dan merencanakan program dengan pasien
Kriteria rujukan:
Dokter ortopedi
Fisioterapi
g. Prognosis
Pada sprain PCL bisa dilakukan non operative treatment jika keadaan dengan
indikasi tua dan sedentary dilakukan modifikasi aktivitas sehingga mengurangi
gejala-gejala yang ditimbulkan, namun rekonstruksi PCL sangat diperlukan
pada atlet dan penuh aktivitas.
h. Sarana dan prasarana
Knee bracing, Bed, wobel board, ball, cone, box jump, leade drill.
i. Referensi
David S, Logerstedt. Et al. Knee Stability and Movement Coordination
Impairments: Knee Ligament Sprain. 2011.
Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3158982/
http://elitesportstherapy.com/mcl-lcl-sprain-or-tear/
Stryker, Sandra. 2015. Knee Ligament Injuries – Acl, Pcl, Mcl, Lcl Injuries.
Available at : http://lifesworkpt.com/2015/02/knee-ligament-injuries-acl-pcl-
mcl-lcl-injuries/
6. Sprain Medial Collateral Ligament (MCL)
a. Medial Collateral Ligament (MCL)
- Icf : b7150, b7601
- Icd : S83.41
b. Masalah Kesehatan
- Definisi
Sprain Medial Collateral Ligament (MCL) adalah robekan atau
putusnya ligamen pada bagian medial (dalam) aspek lutut. Bagian
dalam dari ligamentum ini melekat pada meniskus medial dan garis
lurus dengan tibialis, MCL bertindak untuk membatasi pemisahan
berlebihan dalam sendi lutut, agar tidak valgus..
- Epidemiologi
Karena penurunan terkait usia dalam elastisitas ligamen, orang dewasa
lebih rentan terhadap cedera MCL dari pada anak-anak atau remaja.
Karena cedera MCL biasanya terkait dengan aktivitas atletik. Biasanya
pada dewasa berusia 20 sampai 35 tahun. Meskipun demikian, cedera
MCL juga diamati pada orang tua karena jatuh. Insiden cedera MCL
tertinggi dalam olahraga seperti sepak bola Amerika (55%), ski (15%
sampai 20% dari semua cedera dan 60% dari semua cedera lutut), dan
rugby (29%), di mana valgus (memutar ke arah luar dari pertengahan-
line) dan pasukan rotasi eksternal pada lutut biasanya dialami. MCL
terkait juga dengan ligamen anterior cruciate, posterior cruciatum
ligamen, meniskus, tulang, dan / atau kompleks lateral.
c. Hasil Anamnesis
Atlet terjatuh dengan posisi kaki valgus/ lateral, terjadi trauma benturan pada
tibia lalu si atlet tidak dapat melanjutkan olah raga saat itu dan beberapa jam
kemudian terjadi bengkak.
d. Pemeriksaan fisik dan dasar penunjang
Pemeriksaan fisik
 Tes cepat :
Gerakan ekstensi, fleksi dan external, internal rotasi, valgus
 Tes khusus
Valgus stress test
Pemeriksaan penunjang
X-Ray, MRI
e. Penegakkan diagnosa
Activity limitation
- Adanya gangguan keseimbangan saat berjalan, berlari, loncat
Body structure and body function
- Joint line tenderness
- Bengkak, nyeri
- ROM limitation
Participation restriction
- Tidak dapat melakukan olahraga yang mencakup berlari dan
koordinasi,rekreasi, ibadah
Diagnosa berdasarkan ICF
- Adanya gangguan stability, adanya gangguan koordinasi gerak.
f. Rencana Penatalaksanaan
Tujuan:
Menghilangkan/ mengurangi nyeri dan bengkak, pencapaian normal ROM,
adaptasi anatomi dan hipertropi otot, linear dan lateral stabilisasi, berjalan dan
berlari dengan seimbang, drill untuk kembali ke olah raga.
Prinsip terapi:
Eliminasi nyeri dan bengkak
Meningkatkan aktif ROM
Functional Strengthening
Konseling-edukasi :
menjelaskan pencegahan dan kontra indikasi
menjelaskan dan merencanakan program dengan pasien
Kriteria rujukan:
Dokter ortopedi
Fisioterapi
g. Prognosis
Pada cedera MCL bisa dilakukan non operative treatment jika keadaan dengan
indikasi tua dan sedentary dilakukan modifikasi aktivitas sehingga mengurangi
gejala-gejala yang ditimbulkan, namun rekonstruksi MCL sangat diperlukan
pada atlet dan penuh aktivitas.
h. Sarana dan prasarana
Knee bracing, Bed, wobel board, ball, cone, box jump
i. Referensi
Bernard R.Bach J, T.Provencher M: ACL Surgery: SLACK Incorporated, 2010,
pp 39-54.
H.Fu F, B.Cohen S: Current Concept in ACL Reconstruction: SLACK
Incorporated, 2008, pp 21-61.
Available at : http://orthopaeditrauma.blogspot.co.id/2015/12/cidera-lutut-
anterior-cruciate-ligament.html
David S, Logerstedt. Et al. Knee Stability and Movement Coordination
Impairments: Knee Ligament Sprain. 2011.
Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3158982/
bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/828/basics/epidemiology.html
7. Sprain Lateral Collateral Ligament (LCL)
a. Lateral Collateral Ligament (LCL)
- Icf : b7150, b7601
- Icd : S83.42
b. Masalah Kesehatan
- Definisi
Sprain Lateral Collateral Ligament adalah putusnya jaringan ligament
Lateral pada sendi lutut yang menghubungkan tulang tibia dengan
tulang femur. LCL berada di seberang MCL pada bagian lateral aspek
lutut. LCL jauh lebih tipis dari MCL, dan memberikan gaya varus yang
akan meregangkan bagian luar dari sendi lutut. Hal ini juga menjaga
lateral, atau eksternal, rotasi sendi lutut.
- Epidemiologi
Cedera lateral ligamen kolateral (LCL) mewakili sekitar 8 persen dari
semua cedera lutut, Dari cedera lutut diperlakukan dalam penelitian ini,
LCL terlibat dalam 2,5 persen dari kasus. Dalam satu studi retrospektif
besar, sekitar 48,9 persen dari kasus yang melibatkan cedera LCL
diobati dengan operasi, tetapi setengah dari kasus ini melibatkan
beberapa injury. Data yang berkaitan dengan epidemiologi cedera lutut
sudut posterolateral sangat terbatas, tetapi cedera tersebut sering
berkaitan dengan cedera ligamen lutut yang lain.
c. Hasil Anamnesis
Atlet tiba-tiba berhenti, memotong atau loncat, terjadi trauma pada bagian
dalam dan lalu si atlet tidak dapat melanjutkan olah raga saat itu dan beberapa
jam kemudian terjadi bengkak pada lutut
d. Pemeriksaan fisik dan dasar penunjang
Pemeriksaan fisik
Tampak oedeme, adanya rasa nyeri, instability movement, varus.
 Tes cepat :
Gerakan ekstensi, fleksi dan external, internal rotasi, varus
 Tes khusus
Varus stress test
Pemeriksaan penunjang
X-Ray, MRI
e. Penegakkan diagnosa
Activity limitation
- Adanya gangguan keseimbangan saat berjalan, berlari, loncat
Body structure and body function
- Joint line tenderness
- Bengkak, nyeri
- ROM limitation
Participation restriction
- Tidak dapat melakukan olahraga yang mencakup berlari dan
koordinasi, ibadah
Diagnosa berdasarkan ICF
- Adanya gangguan stability, adanya gangguan koordinasi gerak.
f. Rencana Penatalaksanaan
Tujuan:
Menghilangkan/ mengurangi nyeri dan bengkak, pencapaian normal ROM,
adaptasi anatomi dan hipertropi otot, linear dan lateral stabilisasi, berjalan dan
berlari dengan seimbang, drill untuk kembali ke olah raga.
Prinsip terapi:
Eliminasi nyeri dan bengkak
Meningkatkan aktif ROM
Functional Strengthening
Konseling-edukasi :
menjelaskan pencegahan dan kontra indikasi
menjelaskan dan merencanakan program dengan pasien
Kriteria rujukan:
Dokter ortopedi
Fisioterapi
g. Prognosis
Pada cedera LCL bisa dilakukan non operative treatment jika keadaan dengan
indikasi tua dan sedentary dilakukan modifikasi aktivitas sehingga mengurangi
gejala-gejala yang ditimbulkan, namun rekonstruksi LCL sangat diperlukan
pada atlet dan penuh aktivitas.
h. Sarana dan prasarana
Knee bracing, Bed, wobel board, ball, cone, box jump
i. Referensi
Bernard R.Bach J, T.Provencher M: ACL Surgery: SLACK Incorporated, 2010,
pp 39-54.
Majewski M, Susanne H, Klaus S. Epidemiology of athletic knee injuries: A
10-year study. Knee 2006; 13:184.
Ranawat A, Baker CL 3rd, Henry S, Harner CD. Posterolateral corner injury of
the knee: evaluation and management. J Am Acad Orthop Surg 2008; 16:506.
LaPrade RF, Wentorf FA, Fritts H, et al. A prospective magnetic resonance
imaging study of the incidence of posterolateral and multiple ligament injuries
in acute knee injuries presenting with a hemarthrosis. Arthroscopy 2007;
23:1341.
Available at : http://www.uptodate.com/contents/lateral-collateral-ligament-
injury-and-related-posterolateral-corner-injuries-of-the-knee
David S, Logerstedt. Et al. Knee Stability and Movement Coordination
Impairments: Knee Ligament Sprain. 2011.
Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3158982/
8. Jumper’s Knee (Tendinitis patellaris)
a. Jumper’s Knee /Tendinitis patellaris
- Icf : d 9201, d4552, d4552, d 4351
- Icd : M76.5
b. Masalah Kesehatan
- Definisi
Jumper’s knee / Tendinitis patellaris adalah peradangan pada tendon
patella yang disebabkan penggunaan tendon yang berlebih selama
beraktivitas. Kontraksi otot yang berulang dapat menyebabkan
ketegangan tendon sehingga tendon mengalami peradangan (Darrow,
2002).
- Epidemiologi
Berdasarkan survei pada tahun 2006-2007 oleh Utomo dan Damayanti
cidera sendi lutut 62% disebabkan karena kecelakaan lalu lintas dan
38% disebabkan cidera olahraga. Dalam artikel yang dimuat dari sebuah
pelatihan fisioterapi Afrika tahun 2005 oleh Mike Hagen, salah satu
cidera olahraga yang sering terjadi adalah tendinitis patellaris atau
sering disebut jumper’s knee dengan prosentase sebanyak 25-31%,
sedangkan sisanya adalah cidera ligament. Jurnal sport medic tahun
2001 menyatakan nyeri tendon pada atlet khususnya jumping athletes
paling sering terjadi di atas patella sebanyak 25%, tepat dibawah patella
65%, dan 10% pada insertio tendon di tuberositas tibia.
c. Hasil Anamnesis
Pasien datang dan mengeluhkan nyeri pada lutut sisi depan bagian bawah, nyeri
diam saat pasien dalam posisi berdiri, nyeri tekan pada tendon patella, nyeri
gerak saat berjalan, keterbatasan lingkup gerak sendi aktif knee untuk gerakan
fleksi, penurunan kemampuan aktivitas fungsional.
d. Pemeriksaan fisik dan dasar penunjang
Pemeriksaan fisik
Tampak oedeme, adanya rasa nyeri, instability movement
Pemeriksaan penunjang
MRI
e. Penegakkan diagnosa
Activity limitation
- Adanya nyeri saat berlari, melompat, menendang
Body structure and body function
- Joint line tenderness
- Bengkak, nyeri
- ROM limitation
Participation restriction
- Tidak dapat melakukan olahraga yang mencakup berlari, melompat dan
menendang
Diagnosa berdasarkan ICF
- Adanya nyeri saat berlari, meloncat dan menendang. adanya gangguan
koordinasi gerak.
Nyeri pada bagian lutut sisi depan bagian bawah, penurunan LGS, serta
penurunan kemampuan fungsional.
f. Rencana Penatalaksanaan
Tujuan:
Menghilangkan/ mengurangi nyeri, pencapaian normal ROM, adaptasi anatomi
dan hipertropi otot, stabilisasi, berjalan dan berlari dengan seimbang, latihan
drill untuk kembali ke olah raga.
Prinsip terapi:
Eliminasi nyeri
Meningkatkan aktif ROM
Functional Strengthening
Konseling-edukasi :
menjelaskan pencegahan dan kontra indikasi
menjelaskan dan merencanakan program dengan pasien
Kriteria rujukan:
Dokter ortopedi
Fisioterapi
g. Prognosis
Pada atlet dengan jumper’s knee akan terus mengalami gejala ringan
berkepanjangan setelah karir atletiknya.
h. Sarana dan prasarana
Taping, Es, Bola, wobble board
i. Referensi
Darrow, Marc. 2002. The knee sourcebook. Amarika: McGrew-Hill
Companies.
NVvP. Artsenwijzer podotherapie, Jumper’s knee, Amersfoort 2004.
Available at :
http://www.podotherapiezeeland.nl/files/podomedics/pathologieen_podowijzer
_maart_2015/jumpers_knee.pdf
David S. Logerstedt, et al. 2011. Knee Stability and Movement Coordination
Impairments: Knee Ligament Sprain.
Available at : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3158982/
9. Iliotibial Band Syndrome
a. Iliotibial band Syndrome
- Icf : 313t, 307-310f, 308t, 309t
- Icd : M76.3, 728.89
b. Masalah Kesehatan
- Definisi
Gejala pada iliotibial band syndrome dapat dirasakan pada sisi luar lutut
tepatnya pada sisi lateral lutut pada daerah epycondilus femur/tonjolan
tulang paha akibat tendinitis iliotibial band. Nyeri biasanya timbul saat
aktivitas berlari dimulai dan nyeri akan bertambah hebat bila aktivitas
lari terus dilanjutkan. Nyeri akan berkurang bila posisi istirahat dan
nyeri akan timbul kembali bila memulai aktivitas berlari.
- Epidemiologi
Iliotibial band syndrome paling sering terjadi pada atlet yang
berpartisipasi dalam lari jarak jauh. Penelitian telah menunjukkan
tingkat kejadian 4,3-7,5% di pelari jarak jauh. Iliotibial band syndrome
kurang umum terjadi di-pelari jarak pendek.
c. Hasil Anamnesis
Seorang pelari jarak jauh mengeluh nyeri pada bagian lateral lutut
d. Pemeriksaan fisik dan dasar penunjang
 Hasil pemeriksaan fisik
- Nyeri
- Tightness
- Weakness
 Pemeriksaan penunjang
MRI menunjukan sebagian penebalan dari jaringan ikat yang merupakan
akibat dari peradangan.
e. Penegakkan diagnosa
- Activity limitation
Tidak bisa berjalan/ berlari jarak jauh
- Body structure and body function
- Pain
- Tights
- Participation restriction
bermain, olahraga, rekreasi
- Diagnosa berdasarkan ICF
Adanya antalgic gait, nyeri ringan lateral lutut saat ekstensi, nyeri ringan
pada akhir gerakan ekstensi lutut dan abduksi panggul.
f. Rencana Penatalaksanaan
- Tujuan
Mengurangi nyeri dan mengembalikan kemampuan kontraksi
- Prinsip Terapi
Menurunkan nyeri, meningkatkan sirkulasi, meningkatkan ROM dan
meningkatkan kemampuan fungsional
- Kriteria Rujukan
Dokter
Fisiterapi
g. Prognosis
Prognosis pada iliotibial band syndrome tergantung dari jenis dan berat
ringannya gejala yang terjadi, selama fase istirahat pasien akan mengalami
pemulihan
h. Sarana dan prasarana
-
i. Referensi
John M Martinez, 2016. Physical Medicine and Rehabilitation for Iliotibial
Band Syndrome
Available at : http://emedicine.medscape.com/article/307850-overview#a6
10.Condromalacie patella
a. Condromalacie patella
- Icf : b.28016
- Icd : M22.40
b. Masalah Kesehatan
- Definisi
Kerusakan pada tulang rawan di bawah tempurung lutut.
- Epidemiologi
Menurut penelitian pada 1242 pengemudi taksi di Taipei tahun
2000, menemukan prevelensi nyeri lutut sebesar 22% pada yang
mengemudi dari 10 jam/hari. Pada tahun yang sama, Anderson dan
Raanas yang dikutip oleh Chen, melakukan survei keluhan nyeri lutut
yang berhungungan dengan kerja pada 703 pengemudi taksi profesional
di Norwegia, dengan menggunakan Nordic Musculoskeletal
Questionnaire. Didapat prevelensi nyeri lutut pada pengemudi taksi
adalah 29%, dibandingkan pada masyarakat umum yang hanya 25%.
Survei di Taiwan yang menggunakan modifikasi dari Nordic
Musculoskeletal Questionnair, menemukan bahwa para pengemudi
profesional mengeluh nyeri lutut lebih tinggi dibandingkan rata-rata
prevelensi nasional 11% berbanding 8,6%. Sedangkan pada tahun 2011
di RS Cipto Mangunkusumo kasus nyeri lutut mencapai 56,7% dari
seluruh pasien yang berobat kedevisi Reumatologi Depertemen Ilmu
Penyakit Dalam, insidensi pada usia kurang dari 20 tahun hanya sekitar
10% dan meningkat menjadi lebih dari 80% pada usia diatas 55 tahun
c. Hasil Anamnesis
Pasien datang dengan nyeri daerah patellofemoral biasanya menyebabkan rasa
nyeri di bagian lutut, nyeri ini bisa diperparah ketika berjalan naik atau turun
tangga, berlutut atau jongkok, duduk dengan lutut ditekuk untuk jangka waktu
yang lama.
d. Pemeriksaan fisik dan dasar penunjang
 Hasil pemeriksaan fisik
- Nyeri
- Weakness
 Pemeriksaan penunjang
X-Ray, MRI
e. Penegakkan diagnosa
- Activity limitation
Nyeri saat berjalan, naik tangga, jongkok duduk dengan kaki ditekuk
- Body structure and body function
- Mal alignment gerak patella
- Nyeri lutut depan
- Knee deformity
- Participation restriction
Olahraga, bekerja,rekreasi
- Diagnosa berdasarkan ICF
nyeri pada sendi anggota gerak bagian bawah dan gangguan gerak, nyeri
pada satu sendi.
f. Rencana Penatalaksanaan
- Tujuan
Meningkatkan kemampuan fungsional
- Prinsip Terapi
 Meningkatkan kekuatan otot-otot sekitar lutut akan mengurangi
tekanan pada lutut. Juga, latihan tertentu mungkin membantu masalah
yang benar dengan keselarasan dan keseimbangan otot sekitar lutut.
- Edukasi
Mengajarkan anda bisa diajarkan untuk melakukan latihan yang
memperkuat bagian dalam otot paha depan.
- Kriteria Rujukan
Dokter
Fisiterapi
g. Prognosis
Chondromalacia dilihat sebagai cedera akibat berlebihan dalam olahraga dan
memutuskan untuk istirahat dari pelatihan dapat menghasilkan hasil yang baik.
h. Sarana dan prasarana
i. Referensi
Kim, Steven. 2016. Chondromalacia
Available at : http://www.healthline.com/health/chondromalacia-
patella#Treatment6
Dian Mardhiyah, 2011 “nyeri lutut”. available at
http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/download/667/664
11. Meniscus tears
a. Meniscus tears
- Icf : b28016, b7100, b770
- Icd : S83.2
b. Masalah Kesehatan
- Definisi : Robekan pada meniskus karena gerakan fleksi,
rotasi, lutut terkunci
- Epidemiologi : Injuri pada meniscus dengan angka insiden dari
12% ke 14% dan prevalensi dari 61 kasus per 100.000 orang (Majewski
M, 2006)
c. Hasil Anamnesis
Pasien datang dengan cedera pada area lutut insiden terjadi pada aktivitas
olahraga dimana posisi lutut terpelintir dan sedikit menekuk.
d. Pemeriksaan fisik dan dasar penunjang
 Hasil pemeriksaan fisik
Palpasi nyeri, Knee valgus/ varus
 Tes khusus
Rotasi medial, lateral, valgus/varus
 Pemeriksaan penunjang
MRI, X-Ray
e. Penegakkan diagnosa
- Activity limitation
Nyeri fleksi maupun ekstensi, naik tangga
- Body structure and body function
- Nyeri
- Gangguan mobilisasi
- Participation restriction
Olahraga, bekerja
- Diagnosa berdasarkan ICF
Adanya nyeri sekitar sendi, mobilitas single joint terbatas, gait pattern
fuction.
f. Rencana Penatalaksanaan
- Tujuan
Meningkatkan kemampuan stabilisasi kaki dan penguatan kaki yang lemah
- Prinsip Terapi
 Stabilisasi
 Strengthning
- Edukasi
Mengajarkan latihan strengthning, manipulasi meniscus
- Kriteria Rujukan
Dokter
Fisioterapi
g. Prognosis
Meniscus dibagi menjadi dua area berdasarkan cara penyembuhannya, dalam
dunia medis disebut RED zone dan White zone. Pada red zone terdapat aliran
darah yang mensuplay makannan sedangkan white zone tidak ada, jadi
meniscus pada white zone tidak bisa sembuh secara alami (harus operasi).
h. Sarana dan prasarana
Knee support, taping.
i. Referensi
Sumber:
Logerstedt, David S. 2010. Knee Pain and Mobility Impairments: Meniscal
and Articular Cartilage Lesions. Journal Orthop Sports PT.
Available at : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3204363/
12. Delayed onset muscle soreness (DOMS)
a. Delayed onset muscle soreness
- Icf : b7401, b7800
- Icd : M79.1
b. Masalah Kesehatan
- Definisi
DOMS juga disebut muscle fever, adalah rasa sakit dan kekakuan di
otot beberapa jam sampai beberapa hari setelah latihan yang tidak biasa
atau berat. nyeri yang dirasakan paling kuat 24 sampai 72 jam setelah
latihan Hal ini diduga disebabkan oleh latihan dengan gerakan
eksentrik, yang menyebabkan microtrauma pada serat otot. Setelah
latihan tersebut, otot beradaptasi dengan cepat untuk mencegah
kerusakan otot, dan dengan demikian nyeri, jika latihan diulang. DOMS
adalah salah satu gejala kerusakan otot akibat olahraga.
- Epidemiologi
-
c. Hasil Anamnesis
Pasien datang dengan nyeri dan kaku disekitar tubuh setelah melakukan olah
raga dengan intensitas tinggi setelah lama beristirahat.
d. Pemeriksaan fisik dan dasar penunjang
 Hasil pemeriksaan fisik
- Inspeksi
- Palpasi
Tonus otot cenderung spasme
Nyeri
Contrax relax stretching
 Pemeriksaan penunjang
-
e. Penegakkan diagnosa
- Activity limitation
Nyeri saat bergerak dan aktivitas
- Body structure and body function
- Nyeri
- Spasme
- Participation restriction
Bekerja, olahraga
- Diagnosa berdasarkan ICF
Adanya kekakuan pada otot, nyeri pada otot
f. Rencana Penatalaksanaan
- Tujuan
Mengurangi/ menghilangkan nyeri
Mengembalikan kemampuan fungsional
- Prinsip Terapi
Rest
Contrax relax stretching
- Edukasi
Memberikan edukasi treatment pada pasien terhadap indikasi dan kontra
indikasi
- Kriteria Rujukan
Fisioterapi
Dokter
g. Prognosis
Pasien dengan DOMS akan mengalami pemulihan baik dengan sendirinya
h. Sarana dan prasarana
-
i. Referensi
Sumber:

Costello, Joseph T.; Baker, Philip Ra; Minett, Geoffrey M.; Bieuzen, Francois;
Stewart, Ian B.; Bleakley, Chris (2015-09-18). "Whole-body cryotherapy
(extreme cold air exposure) for preventing and treating muscle soreness
after exercise in adults". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 9:
CD010789. doi:10.1002/14651858.CD010789.pub2

Nosaka, Ken (2008). "Muscle Soreness and Damage and the Repeated-Bout
Effect". In Tiidus, Peter M. Skeletal muscle damage and repair
13. Leg Cramps (Kram)
a. Leg Cramps
- Icf : b7401, b7800
- Icd : M79.1
b. Masalah Kesehatan
- Definisi
Kram otot adalah kontraksi yang terus menerus yang dialami oleh otot
atau sekelompok otot dan mengakibatkan rasa nyeri. Otot terlalu lelah
pada waktu berolahraga terjadi proses pembakaran yang menghasilkan
sisa metabolik yang menumpuk berupa asam laktat kemudian
merangsang otot/ saraf hingga terjadi kram.
- Epidemiologi
Kram kaki terjadi pada 33% sampai 95% dari orang dewasa. Wanita
(32% sampai 56%) mengalami kram lebih sering daripada laki-laki
(26% sampai 40%). Sebagian besar melibatkan otot betis (83%), diikuti
oleh otot-otot kaki (40%).
c. Hasil Anamnesis
Pasien datang dengan nyeri dan kaku ketika melakukan olahraga dan aktivitas
berat dan tiba-tiba.
d. Pemeriksaan fisik dan dasar penunjang
 Hasil pemeriksaan fisik
- Inspeksi
- Palpasi
Tonus otot cenderung tightness
Nyeri
Contrax relax stretching
 Pemeriksaan penunjang
-
e. Penegakkan diagnosa
- Activity limitation
Nyeri saat bergerak dan aktivitas
- Body structure and body function
- Nyeri
- Tightness
- Participation restriction
Bekerja, olahraga
- Diagnosa berdasarkan ICF
Adanya kekakuan pada otot, nyeri pada otot
f. Rencana Penatalaksanaan
- Tujuan
Mengurangi/ menghilangkan nyeri
Mengembalikan kemampuan fungsional
- Prinsip Terapi
Rest
Contrax relax stretching
Latihan dengan bertingkat dimulai dari ringan
- Edukasi
Memberikan edukasi treatment pada pasien terhadap indikasi dan kontra
indikasi
- Kriteria Rujukan
Fisioterapi
Dokter
g. Prognosis
Pasien dengan kram akan mengalami pemulihan baik dengan sendirinya
h. Sarana dan prasarana
-
i. Referensi
Sumber:
bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/569/basics/epidemiology.html
E. Allen, Richard. 2012 Nocturnal Leg Cramps.
Available at : http://www.aafp.org/afp/2012/0815/p350.html
Abdulla AJ, Jones PW, Pearce VR. Leg cramps in the elderly: prevalence,
drug and disease associations. Int J Clin Pract. 1999