Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Program Pemberantasan Penyakit Menular mempunyai peranan dalam

menurunkan angka kesakitan dan kematian. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan

penerapan teknologi kesehatan secara tepat oleh petugas-petugas kesehatan yang

didukung peran serta aktif masyarakat (Depkes. RI, 2005).

Penyakit TB-Paru telah dikenal lebih dari satu abad yang lalu, yakni sejak

ditemukan kuman penyebab TB-Paru oleh Robert Koch tahun 1882, namun sampai

saat ini penyakit TB-Paru tetap menjadi masalah kesehatan ditingkat dunia. Laporan

Badan Kesehatan dunia (WHO) tahun 2001 mengungkapkan sekitar 3,8 juta kasus

baru TB-Paru diseluruh dunia, penyakit ini pun telah merenggut nyawa 1,8 juta jiwa

diseluruh dunia pada tahun 2000. Dalam disribusi beban TB-Paru secara global, pada

tahun 2003 wilayah Asia Tenggara menyumbang kasus TB-Paru sebesar 35 %,

wilayah Afrika sebesar 22 %. Dua puluh dua negara dengan beban TB-Paru tinggi

menyumbang 80 % dari penambahan kasus baru setiap tahunnya, dengan India dan

Cina sebagai penyumbang sebanyak 35 %. (Genis Ginanjar Wahyu, 2008).

TB-Paru memiliki andil sekitar 9 % dari kematian berusia 15-44 tahun,

dibandingkan penyebab kematian lainnya (akibat perang:4%, HIV:3%, dan penyakit

jantung: 3 %). Perempuan dalam usia reproduksi lebih rentan terhadap TB-Paru dan

lebih mungkin terjangkit oleh penyakit TB-Paru dibandingkan pria dari kelompok

1
usia yang sama. Di sebagian negara Afrika, jumlah perempuan yang terjangkit TB-

Paru lebih besar dibandingkan jumlah penderita pria. TB-Paru menyebabkan jumlah

kematian lebih besar bagi wanita dibandingkan kematian akibat melahirkan. Di

beberapa bagian dunia, stigma atau rasa malu akibat TB-Paru menyebabkan

terjadinya isolasi, pengucilan dan perceraian bagi kaum wanita. Dibeberapa bagian

dunia, pergerakan kaum perempuan sedang mengusahakan adanya upaya lebih baik

penanggulangan penyakit TB-Paru. (http://www.infeksi.com/articles.php/22/03/2005)

Awal abad 21 ini penderita TB-Paru setiap hari 20.000 orang jatuh sakit,

setiap jam 833 orang jatuh sakit, setiap menit 13 orang jatuh sakit, setiap detik 1

orang jatuh sakit, setiap hari 5.000 orang meninggal akibat TB-Paru, setiap jam 208

orang meninggal akibat TB-Paru, setiap menit 3 orang meninggal, setiap 20 detik 1

orang meninggal akibat TB-Paru dan setiap detik orang terinfeksi TB-Paru. Penyakit

TB-Paru di Indonesia menduduki peringkat atas setelah ISPA, tepatnya peringkat

ketiga didunia (5,8%), setelah India (21,1%), dan China (14,3%). Di Indonesia

diperkirakan setiap tahunnya 150.000 orang meninggal akibat TB-Paru (Tjandra,

2005).

Di Indonesia setiap tahun ada 1,3 juta anak berumur kurang dari 15 tahun

yang terinfeksi kuman TB dan setiap tahun ada 450 ribu kematian anak akibat

penyakit ini. Tiap 1 orang penderita TB yang aktif, bisa menularkan kumannya

kepada 10 s/d 15 orang lain pertahunnya. Saat ini 1/3 populasi dunia sudah tertular

TB. Sebagian besar penderita adalah usia produktif (15–55 tahun).

(http://inseparfoundation.wordpress.com/2009/05/27/tb-paru-perkembangan-di-tahun-2009 /)

2
Berdasarkan data hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), Depertemen

Kesehatan telah menetapkan dalam pemberantasan TB-Paru. Target prevalensi rate

pada akhir tahun 2003 harus dicapai prevalensi rate 0,13% dengan cakupan penderita

baru sebesar 80% dan pengobatan sebesar 85% (Depkes, RI,2005).

Menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,

Tahun 2007 terdapat 138 unit Puskesmas yang ditunjuk sebagai Puskesmas pelaksana

program pemberantasan TB-Paru dengan jumlah penduduk diwilayah Puskesmas

program TB-Paru yang dilaporkan tahun 2005 adalah 2.651.625 jiwa (Profil Dinkes

NAD, 2007)

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam TB-Paru masih merupakan masalah

kesehatan masyarakat. Pada tahun 2005 ditemukan penderita sebanyak 88.960 orang.

Dari 88.960 orang penderita tersebut positif penderita TB-Paru adalah sebanyak

9.728 orang (10,93%), sedangkan yang lainnya adalah penderita TB-Paru yang BTA

(-) 7.208 (9,10%) dan yang sembuh yaitu 72.024 (80,96%). Dilihat dari indikator

program angka kesembuhan masih dibawah target untuk tahun 2005 yaitu 85%

(Profil Dinkes, NAD, 2005).

Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya merupakan salah satu kecamatan di

Nanggroe Aceh Darussalam yang tertimpa musibah gempa dan tsunami pada tanggal

26 Desember 2004, sudah merupakan Puskesmas pelaksana program TB-Paru,

dengan wilayah kerja Puskesmas mencapai 48 desa dan 51 titik kegiatan, dimana

angka cakupan penemuan penderita masih sangat kurang yaitu (55,1%) dan untuk

3
angka kesembuhan penderita juga masih rendah yaitu (65,6%) jauh dari target

nasional yaitu sebesar (85%) (Profil Dinkes Kab. Aceh Jaya, 2008).

Pada tahun 2008 jumlah kasus TB-Paru diwilayah kerja Puskesmas Lamno

adalah 213 orang, 113 (75,58%) orang dengan kasus suspek TB-Paru, penderita yang

di periksa sputumnya 22 (19,47%) orang yang hasil BTA (+) dan 91 (80,53%) orang

hasil BTA (-) (Laporan Puskesmas Lamno, 2008)

Tahun 2009 di Puskesmas Lamno dengan jumlah penduduk 23.092 jiwa

terdapat 282 penderita TB-Paru, diantaranya 161 (57,09 %) penderita suspek TB-

Paru. Penderita yang diperiksa sputumnya ternyata ditemukan 43 orang (26,71%) yang

hasilnya BTA (+) dan 118 (73,29 %) dengan hasil BTA (-). (Laporan Puskesmas

Lamno, 2009)

Hasil uraian di atas dapat kita lihat bahwa terjadi peningkatan kasus dari tahun

2008 yaitu 22 orang BTA (+) sedangkan pada tahun 2009 mencapai 43 orang BTA

(+). Terjadinya peningkatan tersebut ternyata selain karena ketidak patuhan penderita

TB-Paru menjalani pengobatan, Puskesmas sebagai unit pelaksana program

pengobatan juga ikut bertanggung jawab terhadap masalah tersebut, melihat besarnya

masalah TB-Paru di Puskesmas Lamno, sehingga penulis ingin mengadakan

penelitian tentang Gambaran Partisipasi Penderita Dalam Penanggulangan TB-Paru

di Puskesmas Lamno, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya untuk melihat lebih

rinci partisipasi penderita dalam pelaksanaan program P2TB.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah gambaran apa sajakah yang dapat mempengaruhi

4
partisipasi penderita dalam penanggulangan TB-Paru di Puskesmas Lamno,

Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya tahun 2010.

1.3 Ruang Lingkup Penelitian

Mengingat terbatasnya waktu, biaya dan tenaga maka penulis membatasi

ruang lingkup penelitian ini dengan hanya membahas tentang, tatalaksana

pemeriksaan BTA, pengobatan penderita TB-Paru, penyuluhan TB-Paru pada

penderita, peran serta Pengawas Menelan Obat (PMO) di Puskesmas Lamno,

Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya tahun 2010.

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan umum

Untuk mengetahui gambaran partisipasi penderita dalam penanggulangan TB-

Paru yang sudah dilakukan di Puskesmas Lamno, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh

Jaya tahun 2010

1.4.2 Tujuan khusus

1. Untuk mengetahui gambaran tatalaksana pemeriksaan BTA penderita TB-Paru

di Puskesmas Lamno, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya tahun 2010

2. Untuk mengetahui gambaran pengobatan penderita TB-Paru di Puskesmas

Lamno, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya tahun 2010

3. Untuk mengetahui gambaran penyuluhan TB-Paru pada penderita di

Puskesmas Lamno, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya tahun 2010

5
4. Untuk mengetahui gambaran peran serta Pengawasan Menelan Obat (PMO) di

Puskesmas Lamno, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya tahun 2010

5. Untuk mengetahui gambaran kepatuhan penderita di Puskesmas Lamno,

Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya tahun 2010.

1.5 Manfaat Penelitian

Dengan dilaksananya penelitian ini maka diharapkan dapat

memberikan manfaat bagi yang membutuhkan antara lain :

1.5.1. Manfaat Teoritis

Tujuannya adalah dapat membantu dalam penyusunan proposal dan dapat di

gunakan sebagai pedoman untuk melakukan penelitian selanjutnya.

1.5.2. Bagi Aplikasi

1. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh Dinas Kesehatan

Kabupaten dan Puskesmas sebagai bahan evaluasi atas pelaksanaan

kegiatan penanggulangan TB-Paru yang dilaksanakan tahun 2010

2. Bagi Puskesmas memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka

peningkatan keberhasilan program kesehatan, khususnya kegiatan

penanggulangan TB-Paru di Puskesmas Lamno.

1.6 Sistematika Penulisan

6
BAB I : Merupakan pendahuluan yang menjelaskan mengenai latar belakang

masalah, masalah penelitian, ruang lingkup, tujuan penelitian,

manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : Merupakan tinjauan kepustakaan yang berisikan teori-teori yang

berkaitan dengan penelitian

BAB III : Merupakan kerangka konsep yang menerangkan tentang konsep

pemikiran, variable penelitian, definisi operasional dan cara

mengukur variable

BAB IV : Merupakan metodelogi penelitian yang menjelaskan tentang metode

penelitian yang akan menguraikan tentang jenis penelitian, populasi

dan sample, jenis data, lokasi penelitian, pengumpulan data,

pengolahan data, analisis data dan penyajian data.

BAB V : Merupakan gambaran umum yang memuat gambaran umum wilayah

penelitian

BAB VI : Merupakan hasil penelitian dan pembahasan yaitu memaparkan hasil

yang telah didapat serta pembahasannya

BAB VII : Merupakan kesimpulan dan saran, pada bab ini memuat kesimulan

dan saran-saran dari hasil penelitian.

BAB II

7
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1. TB – PARU

2.1.1. Definisi TB-Paru

Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit infeksi yang menyerang parenkim

paru yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis (Somantri, 2008).

TB-Paru pada manusia dapat dijumpai dalam 2 bentuk yaitu :

1. Tuberkolosis Primer

Merupakan penyakit TB yang timbul dalam 5 tahun pertama setelah terjadinya

infeksi basil TB untuk pertama kalinya.

2. Tuberkolosis Sekunder

Merupakan penyakit TB yang baru timbul setelah lewat 5 tahun sejak

terjadinya infeksi primer. Dengan demikian, mulai sekarang apa yang sebut

TB post-primer, secara internasional diberi nama TB sekunder. Di Indonesia

penyakit TB-Paru merupakan penyakit yang endermis dengan prevalensi yang

cukup tinggi ( 0,3 – 0,6 % ) dengan BTA positif 3,4 % yang ditemukan secara

radiologik ( Danusantoso Halim, 2000 ).

Adapun sifat-sifat penting tuberculosis adalah: Kuman ini berbentuk batang,

mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu

disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TB-Paru cepat mati dengan

8
sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang

gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat didominant, tertidur lama

setelah beberapa tahun.

2.1.2. Penyebab penyakit

Tuberculosis disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis. Kuman ini

berbentuk batang mempunyai sifat tahan asam pada perwarnaan. Oleh karena itu,

disebut sebagai basil tahan asam (Somantri, 2008)

2.1.3. Cara penularan

Sumber penularan adalah penderita TB-Paru BTA positif. Pada waktu batuk

atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (Percikan

Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar

selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam

saluran pernafasan. Setelah kuman TB-Paru masuk kedalam tubuh manusia melalui

pernafasan, kuman TB-Paru tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh

lainnya., melalui system peredaran darah, system saluran limfe, saluran nafas, atau

penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.

Daya penularan dari seseorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman

yang dikeluarkan oleh parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak,

makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negative (tidak

terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Kemungkinan

seseorang terinfeksi TB-Paru ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan

lamanya menghirup udara tersebut. (Depkes. RI, 2005)

9
2.1.4. Tanda-tanda dan gejala penyakit

1. Gejala utama TB-Paru adalah :

Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih.

2. Gejala tambahan yang sering dijumpai :

Dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas dan rasa nyeri dada,

badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak

badan (Malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam

meriang lebih dari sebulan.

3. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda-tanda :

a. Tanda-tanda infiltrat (Ronki Basah), tanda-tanda penarikan

paru, diafragma dan mediastinum serta secret disaluran nafas.

b. Suara nafas amforik karena adanya kavitas yang

berhubungan langsung dengan bronkus. (Hadidjaja, 2005).

2.1.5. Diagnosis Tuberkulosis (TB-Paru)

Diagnosis penderita TB-Paru ditegakkan dengan :

1. Anamnesis dan pemeriksaan fisik.

2. Laboraturium darah rutin (LED normal atau meningkat, limfositosis).

3. Foto thoraks.

4. Pemeriksaan Sputum BTA

Pemeriksaan sputum BTA memastikan diagnosis TB-Paru, namun

pemeriksaan ini tidak sensitif karena hanya 30 – 70 % pasien TB yang

dapat didiagnosis berdasarkan pemeriksaan ini.

10
5. Tes PAP (Peroksidas Anti Peroksidasi)

Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai histogen

imunoperoksidase staining untuk menentukan adanya IgG spesifik

terhadap basil TB.

6. Tes Mantoux / Tuberkulin.

7. Teknik poly merase chain reaction

Deteksi DNA kuman secara spesifik melalui amplifikasi dalam berbagai

tahap sehingga dapat mendeteksi adanya resistensi.

8. Becton Dickinson Diagnostic Instrument System (BACTEC)

Deteksi growth index berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme

asam lemak oleh M. Tuberkulosis.

9. Enzyme Linked Immunosorbent Assay

Deteksi respon humoral, berupa proses antigen – antibody yang terjadi.

10. Mycodot

Deteksi antibody memakai antigen lipoarabinomannah yang diretakkan

pada suatu alat berbentuk seperti sisir plastic, kemudian dicelupkan dalam

serum pasien. Bila terdapat antibody spesifik dalam jumlah memadai

maka warna sisir akan berubah.

Diagnosa TB-Paru pada orang dewasa didasarkan atas pemeriksaan

mikroskopik dahak, sebaliknya diagnostik TB-Paru pada anak sulit,

sehingga sebagian besar didasarkan pada beberapa kriteria. (Mansjoer,

2000)

11
2.1.6. Usaha pencegahan dan penanggulangannya

Pada pencegahan dan penanggulangan TB-Paru dijalankan dengan

usaha-usaha :

1. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang penyakit TB-Paru,

bahaya-bahayanya, cara penularannya, serta usaha-usaha pencegahannya.

2. Pencegahan dengan :

a. Vaksinasi B.C.G pada anak-anak umur 0 – 14 tahun.

b. Chemoprophylactic dengan I.N.H pada keluarga penderita atau orang-

orang yang pernah kontak dengan penderita.

3. Menghilangkan sumber penularan dengan mencari dan mengobati semua

penderita dalam masyarakat. (Indan Entjang, 2005).

2.2. Indikator Program P2TB Paru

Indikator program yang digunakan dalan P2TB paru dapat dibedakan menjadi

dua yaitu untuk evaluasi jangka panjang dan evaluasi jangka pendek.

2.2.1. Evaluasi jangka panjang

Untuk evaluasi jangka panjang indikator program yang digunakan

adalah angka prevalensi.

2.2.2. Evaluasi jangka pendek

12
Evaluasi jangka pendek indikator program yang digunakan adalah :

1. Cakupan penemuan Penderita (P)

Cara perhitungan :

Angka ini bisa digunakan untuk menilai besarnya masalah tuberkulosis paru

dalam satu wilayah dan untuk menilai kegiatan pelaksanaan program tingkat

unit pelayanan kesehatan setempat.

2. Cakupan Pengobatan (O)

Cara perhitungan :

Angka ini digunakan untuk menilai masalah persediaan obat dan kebenaran

distribusi obat.

3. Angka Kesembuhan (S).

Cara perhitungan :

13
Angka ini digunakan untuk menilai kemampuan pengendalian pengobatan

dan untuk menilai hasil akhir pelaksanaan pengobatan (Depkes. RI, 2005).

2.3. Faktor-Faktor Yang Mendukung Pelaksanaan Penanggulangan TB-Paru di

Puskesmas.

Menurut Depkes RI (1991), puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi

kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat

yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan secara

menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk

kegiatan pokok (Nasrul, 2006).

Pemberantasan penyakit menular merupakan salah satu dari 18 pokok

upaya yang harus dijalankan oleh puskesmas, tujuan dari program ini adalah

mencegah penularan dan usaha mengurangi terjadinya kesakitan dan kematian.

Adapun kegiatan pokok yang dilakukan di Puskesmas yang mendukung

pelaksanaan penanggulangan TB-Paru terdiri dari :

2.3.1. Penemuan penderita

Penemuan penderita adalah pencarian penderita tersangka di tengah-tengah

masyarakat, secara pasif, aktif dan pasif promotif.

a. Penemuan pasif adalah menunggu kedatangan penderita tersangka yang

datang atas kemauan sendiri ke Puskesmas untuk mendapatkan pengobatan.

Tidak ada upaya-upaya yang dilakukan Puskesmas.

14
b. Penemuan aktif adalah mencari penderita tersangka tanpa menunggu

kedatangan mereka ke Puskesmas seperti survey dari rumah ke rumah.

c. Penemuan pasif promotif adalah dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan

agar penderita dengan kesadaran sendiri datang ke Puskesmas, untuk

diperiksa / berobat. (Depkes. RI, 2004)

Menunggu penderita tersangka TB-Paru datang atas kemauan sendiri ke

Puskesmas untuk mendapatkan pengobatan tanpa ada upaya-upaya yang dilakukan

pihak Puskesmas akan menyebabkan pelaksanaan pengobatan tidak berhasil dengan

baik. Kadang-kadang walaupun penyakitnya agak berat, penderita tidak merasa sakit,

sehingga tidak mencari pengobatan. Orang ini akan lebih berbahaya lagi sebagai

sumber penularan karena bebas bercampur dengan masyarakat.

Seorang petugas kesehatan diharapkan menemukan tersangka penderita sedini

mungkin, mengingat Tuberkulosis adalah penyakit menular yang dapat

mengakibatkan kematian.

Adapun cara menumukan tersangka penderita sedini mungkin yaitu dengan :

a. Memeriksa penderita dengan gejala batuk 3 minggu atau lebih, kira-kira

5 – 15% dari pengunjung dewasa atau 15 tahun keatas.

b. Memeriksa mereka yang tinggal serumah dengan penderita tuberkulosis

positif (terutama anak-anak dan orang dewasa muda).

c. Memeriksa mereka dengan kelainan radiologi paru dan gambaran mengarah

tuberkulosis.

15
d. Memberi latihan kepada petugas poliklinik, dokter, perawat, bidan dan kepada

masyarakat tentang tanda-tanda gejala tuberkulosis dan tentang perlunya

memeriksa orang yang mempunyai gejala batuk yang menetap dan lama ke

Puskesmas terdekat.(Depkes. RI, 2005)

2.3.2. Penegakan diagnosa

Sebagian besar penyakit TB adalah TB-Paru. Diagnose TB menular

ditegakkan berdasarkan pemeriksaan dahak 3 x di laboratorium (sewaktu, pagi,

sewaktu). (Depkes. RI, 2005)

Penemuan BTA dalam sputum (dahak), mempunyai arti yang sangat penting

dalam menegakkan diagnosa TB-Paru, namun kadang-kadang tidak ditemukan BTA

tersebut pada pemeriksaan laboratorium.

2.3.3. Pemeriksaan Secara Mikroskopis

Dalam program penanggulangan TB-Paru, diagnose ditegakkan melalui

pemeriksaan sputum secara mikroskopis langsung. Diagnose pasti TB-Paru melalui

pemeriksaan kultur atau biakan dahak. Namun, pemeriksaan kultur memerlukan

waktu lebih lama (paling cepat sekitar 6 minggu) dan mahal. Pemeriksaan 3 spesimen

(SPS) dahak secara mikroskopis langsung nilainya identik dengan pemeriksaan dahak

secara kultur atau biakan. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis merupakan

pemeriksaan yang paling efisien, mudah dan murah, dan hamper semua unit

laboratorium dapat melaksanakan. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis bersifat

spesifik dan cukup sentifik.

16
Kuman Mycobacterium Tuberculosis baru dapat dilihat dibawah mikroskop

bila jumlah paling sedikit 5.000 kuman dalam satu mili-liter dahak. Dahak yang baik

untuk diperiksa adalah dahak kental dan purulen (mucapurulent) bewarna hijau

kekuning- kuningan, dengan volume 3 – 5 ml tiap pengambilan.

Petugas kesehatan memberitahukan kepada pasien, sebelum pengobatan harus

ada pemeriksaan dahak secara SPS. Adapun pelaksanaan pengumpulan dahak SPS

dilakukan sebagai berikut :

1. S (sewaktu)

Dahak dikumpulkan pada saat penderita TB-Paru datang berkunjung pertama

kali. Pada saat pulang, penderita membawa sebuah pot dahak mengumpulkan

dahak hari kedua.

2. P (pagi)

Dahak dikumpulkan dirumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun

tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di Unit Pelayanan

Kesehatan (UPK).

3. S (sewaktu)

Dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi.

(Depkes. RI, 2005).

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan hasil bakteriologis negative adalah :

1. Cara mengumpulkan sputum (dahak) kurang baik (BTA) lebih banyak

ditemukan pada pagi hari.

17
2. Penyimpanan specimen kurang baik.

3. Kegagalan dalam memilih sputum (dahak) yang dibuat untuk sediaan

hapus.

4. Pengecatan yang kurang tepat dilaksanakannya.

5. Kesalahan pemeriksaan di bawah mikroskop.

Seorang penderita tersangka dinyatakan sebagai penderita TB-Paru menular

bila paling sedikit 3 kali pemeriksaan berturut-turut positif dalam (2) hari. Apabila

dari 3 pemeriksaan dahak hasil BTA (-) sedangkan secara klinis mendukung sebagai

TB, perlu dilakukan pemeriksaan Rontgen. Kelainan-kelainan yang dijumpai pada

foto rontgen thorax mungkin disebabkan tuberkulosis atau oleh sejumlah keadaan

lain, dimana gambaran pada foto rontgen tersebut tidak selalu spesifik untuk

tuberculosis (Depkes. RI, 2002).

2.3.4. Pengobatan penderita

Pengobatan penderita adalah suatu upaya yang dilakukan oleh petugas

puskesmas/petugs TB-Paru dengan menggunakan obat program atau OAT demi

mencapai kesembuhan bagi penderita dan memutuskan rantai penularan (Depkes. RI,

2006).

2.3.4.1. Paduan OAT di Indonesia

Untuk mendapatkan pengobatan yang baik, penderita harus berobat selama

6 – 8 bulan terus-menerus tanpa terputus. Oleh karena itu persediaan paduan OAT

18
harus selalu cukup untuk menjamin kelangsungan pengobatan penderita (satu paket

OAT untuk satu penderita).

Tujuan pengobatan tuberculosis dengan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) jangka

pendek adalah memutuskan rantai penularan dengan menyembuhkan penderita

tuberculosis paling sedikit 85 % dari seluruh kasus tuberculosis BTA (+) yang

ditemukan dan mencegah resistensi.

Adapun obat-obat yang paling penting dalam pengobatan tuberculosis adalah :

 Isoniazid (H)

 Rifampisin (R)

 Pirasinamid (Z)

 Streptomisin (S)

 Etambutol (E)

Dalam program pemberantasan TB-Paru panduan OAT yang dipakai program

sesuai dengan rekomendasi WHO berupa paduan OAT jangka pendek yang terdiri

dari :

a) Kategori I : 2 HKZE / 4 H3R3

b) Kategori II : 2 KRZES / HRZE / 5 H3R3E3

c) Kategori III : 2 HRZ / 4 H3R3 dan OAT sisipan HRZE

Disamping ketiga kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE).

Kategori I : (2 HRZE / 4 H3R3)

19
a. 2 bulan minum Isoniazid, Rifampicin, Pyrazinamid dan Etambutol setiap

harinya.

b. 4 bulan minum Isoniazid dan Rifampicin seminggu tiga

kali.

Obat ini diberikan untuk :

1. Penderita baru TB-Paru BTA positif.

2. Penderita baru TB-Paru BTA negative Rontgen positif yang “sakit berat”dan

3. Penderita TB Ekstra Paru Berat.

Lamanya pengobatan 6 bulan, 2 bulan pada fase awal dan 4 bulan fase
lanjutan.

Tabel 1 : Paduan OAT Kategori 1

Dosis per hari / kali Jumlah


Tablet Tablet Tablet
hari/kali
Tahap Lamanya Tablet Isoniazid
Rifampisin @. 450 Pirasinimid @. Etambutol @.
menelan
Pengobatan Pengobatan @. 300 mg
mg 500 mg 250 mg
obat

2 bulan 1 1 3 3 60
Tahap Intensif

(dosis harian)

Tahap lanjutan
4 bulan 2 1 - - 54
(dosis 3 x

seminggu)
Keterangan : Dosis tersebut untuk penderita dengan BB antara 33 – 50 kg.

Kategori II : (2 HRZES / HRZE / 5H3R3E3)

20
a) 2 bulan minum Isoniazid, Rifampisin, Pyrazinamid, Etambutol dan injeksi

Steptomycin setiap harinya.

b) 1 bulan Isoniazid, Rifampicin, Pyrazinamid, dan Etambotol.

c) 5 bulan minum Isoniazid, Rifampicin, dan Etambotol seminggu tiga kali.

Obat ini diberikan untuk :

1. Penderita Kambuh (Relaps)

2. Penderita gagal (Failure)

3. Penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default).

Tabel 1 : Paduan OAT Kategori 1

Tahap Lamanya Tablet Table Tablet Etambutol Strepto Jumlah


Tablet Tablet
t pirasinimi mesin
@. 250 @. 500

Tahap 2 bulan 1 1 3 mg
3 mg
- 0,75 60

intensif

(dosis 1 bulan 1 1 3 3 - gr 30
Tahap
harian)
lanjutan 5 bulan 2 1 - 1 2 - 66

(dosis Keterangan: dosis tersebut untuk penderita dengan BB antara 33-50 kg.

Kategori III : (2 HRZ / 4 H3R3)

- 2 bulan minum isoniazid, rifampisin dan pyrazinamid yaitu setiap harinya

- 4 bulan minum obat isoniazid dan rifampisin seminggu tiga kali.

Obat ini diberikan untuk:

21
1. Penderita baru TBA negatif dan rontgen positif sakit ringan

2. Penderita ekstra paru ringan.

Tabel 3 : Paduan OAT kategori 3.

Tahap Lamanya Tablet Tablet Tablet Jumlah hari


pengobatan pengobatan isoniazid Rifempisin pirasinimid menelan
Tahap intensif @. 450 @. 500 mg
2 bulan 1 1 3 60
(dosis harian)
Tahap lanjutan
4 bulan 2 1 - 54
(dosis 3x

Keterangan: dosis tersebut di atas untuk penderita dengan BB antara 33-50 kg.

OAT sisipan (HRZE) diberikan bila penderita pengobatan kategori I dan

kategori II pada akhir fase awal / intensif masih BTA (+) diberikan obat sisipan

selama I bulan setiap hari.

OAT yang digunakan pada umumnya harus memenuhi ketentuan sebagai

berikut:

1. Obat yang digunakan harus dalam kombinasi (paling sedikit 2 macam obat)

2. Obat harus dimakan teratur selama masa pengobatan untuk masing-masing fase

pengobatan.

3. Lama pengobatan perlu diperhatikan untuk mencapai penyembuhan yang sangat

bergantung pada kombinasi obat yang digunakan.

4. Apabila seorang penderita yang baru saja selesai menjalani pengobatan dan kambuh

kembali harus diasumsikan bahwa kuman tuberkulosis resistens terhadap OAT yang telah

digunakan sampai di terima hasil pemeriksaan tes resistensi.

22
5. Selama OAT diberikan dalam blister kemasan harian, ditelan sehari sekali secara

bersama-sama. Sebaiknya sebelum tidur malam atau 1 jam sebelum makan pagi

(Depkes. RI, 2005).

Pelaksanaan pengobatan terhadap penderita harus memenuhi prinsip sebagai

berikut:

1. Pelayanan pengobatan harus mudah dicapai oleh penderita secara Cuma-Cuma, tidak

diperkenankan memungut biaya pengobatan dari penderita tuberkulosis.

2. Pelayanan pengobatan harus dapat diterima dan digunakan oleh masyarakat. Petugas

kesehatan harus dapat berkomunikasi dengan penderita secara baik dalam bahasa

mereka serta mampu mengatasi masalah mereka.

3. Panduan obat harus tersedia sesuai dengan yang telah direncanakan dan diterima dalam

jumlah yang cukup untuk menjamin keteraturan pengobatan hingga sembuh.

4. Pengobatan harus berada dalam pengawasan baik dosis maupun waktu

pelaksanaan hingga keteraturan berobat dapat dilakukan dengan baik agar dicapai

angka kesembuhan yang tinggi (Mansjoer, 2006).

2.3.4.2 DOTS (Directly Observed Treatment Short-course)

Untuk mencapai hasil kesembuhan yang maksimal, pengobatan TB memerlukan

waktu 6 bulan, namun kurangnya kepatuhan penderita TB dalam minum obat, menyebabkan

angka kesembuhan penderita rendah, angka kematian tinggi, kekambuhan meningkat dan

terjadi resistensi kuman terhadap beberapa obat anti tuberculosis.

Untuk mengatasi hal tersebut, setelah dilaksanakannya Indonesia-WHO joint

evaluation pada tahun 1994, sesuai dengan rekomendasi WHO untuk penanggulangan

23
Tuberkulosis, disepakati untuk merubah kebijaksanaan operasional program, termasuk

diadopsinya strategi DOTS {Directly Observed Treatment Short-course) yang merupakan

strategi kunci dalam menghentikan penyebaran TB di dunia. Titik berat pelaksanaan program

tersebut adalah kesembuhan penderita. Sumber langsung DOTS (Directly Observed

Treatment Short-Course) adalah suatu strategi yang dilaksanakan di pelayanan kesehatan

dasar di dunia dengan pengawasan secara langsung untuk mendeteksi dan

menyembuhkan pasien TB secara cepat.

DOTS (Directly Observed Treatment Short-Course) menekankan pentingnya

pengawasan terhadap penderita TBC agar menelan obatnya secara teratur sesuai

ketentuan sampai dinyatakan sembuh. Strategi DOTS (Directly Observed Treatment

Short-Course) memberikan angka kesembuhan yang tinggi, bias sampai 95 %.

Strategi DOTS {Directly Obsen'ed Treatment Short-Course) terdiri dari

5 komponen, yaitu :

1. Komitmen politis dari pengambil keputusan, termasuk dukungan dana.

2. Diagnosis TB dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis.

3. Kesinambungan persediaan OAT j angka pendek untuk penderita.

1. Pengobatan dengan panduan OAT jangka pendek dengan pengawasan

langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO).

2. Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan

Evaluasi program TB. (Hadidjaja, 2006)

Untuk menjamin keberhasilan penanggulangan TB kelima komponen tersebut di

atas harus dilaksanakan secara bersamaan.

24
2.3.4.3 Hasil pengobatan

Hasil pengobatan seorang penderita TB dapat dikategorikan sebagai berikut:

1. Sembuh

Penderita dinyatakan sembuh, bila penderita telah menyelesaikan

pengobatannya secara lengkap, dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up)

paling sedikit 2 (dua) kali berturut-turut hasilnya negatif.

2. Pengobatan lengkap

Adalah penderita yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap,

tapi tidak ada hasil pemeriksaan ulang dahak 2 (dua) kali berturut-turut

negatif. Tindak lanjut; penderita diberitahu apabila gejala muncul kembali

supaya memeriksa diri dengan mengikuti prosedur tetap.

3. Meninggal

Adalah penderita yang dalam masa diketahui meninggal karena sebab

apapun.

4. Pindah

Adalah penderita yang pindah berobat ke daerah kabupaten / kota. Tindak

lanjut; penderita yang ingin pindah, dibuat surat pindah (form TB. 09) dan

bersama sisa obat dikirim ke UPK yang baru. Hasil pengobatan penderita

dikirim kembali ke UPK asal, dengan formulir TB. 10.

5. Defaulted atau Drop out / lalai

Adalah penderita yang tidak mengambil obat 2 (dua) bulan berturut-turut

atau lebih sebelum masa pengobatan selesai. Tindak lanjut; lacak penderita

25
tersebut dan beri penyuluhan tentang pentingnya berobat secara teratur. Apabila

penderita akan melanjutkan pengobatan, lakukan pemeriksaan dahak. Bila

positif mulai pengobatan dengan kategori 2 (dua), bila negatif sisi

pengobatan ketegori 1 (satu) dilanjutkan.

6. Gagal

Adalah penderita BTA positif (+) yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap

positif (+) atau kembali menjadi positif pada satu bulan sebelum akhir

pengobatan. Tindak lanjut penderita BTA positif baru dengan kategori satu

diberi kategori dua dari awal. Penderita BTA positif pengobatan ulang

dengan kategori dua dirujuk ke UPK spesialistik atau berikan INH seumur

hidup. Penderita BTA negatif yang hasil pemeriksaan dahaknya pada akhir

bulan kedua menjadi positif. Tindak lanjut; berikan pengobatan kategori dua

mulai dari awal (Depkes. RI, 2005).

2.3.5. Penyuluhan TB-Paru kepada penderita

Penyuluhan kesehatan kepada masyarakat dilakukan terutama untuk

memberikan pengertian kepada penderita agar berobat secara teratur supaya

penyakitnya bisa sembuh dengan cepat dalam waktu 6 bulan. Untuk itu pengertian

seluruh anggota keluarga perlu ditingkatkan untuk membantu keteraturan berobat

serta untuk mencegah penularan diantara keluarga (Sarwono, 2006).

Makin rendah pengetahuan penderita tentang bahaya penyakit TB-Paru untuk

dirinya, keluarga dan masyarakat di sekitarnya, makin besar pulalah bahaya

sipenderita sebagai sumber penularan, baik di rumah mauun di tempat pekerjaannya,

untuk keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya pengetahuan yang baik

26
tentang penyakit ini akan menolong masyarakat dalam menghincarinya. Untuk itu

tugas utama seorang petugas TB-Paru adalah menjelaskan pada pasien kapan dan

bagaimana caranya mengambil dahak untuk diagnosa, menganjurkan penderita untuk

melakukan pemeriksaan status TB-Paru pada orang-orang terdekatnya, dan

menjelaskan pentingnya pengobatan yang teratur.

Penyuluhan kesehatan yang merupakan bagian dari promosi kesehatan adalah

rangkaian kegiatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu

keadaan dimana individu, kelompok, atau masyarakat secara keseluruhan dapat hidup

sehat dengan cara memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatannya.

Penyuluhan TB-Paru perlu dilakukan karena masalah TB-Paru banyak berkaitan

dengan masalah pengetahuan dan perilaku masyarakat. Tujuan penyuluhan adalah

untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan peran serta masyarakat dalam

penanggulangan TB-Paru. Penyuluhan TB-Paru dapat dilaksanakan dengan

menyampaikan pesan penting secara langsung ataupun menggunakan media.

(Depkes. RI, 2005).

Pendekatan utama dalam strategi melaksanakan penyuluhan kesehatan

diawali dengan advokasi, dilanjutkan dengan bina suasana atau dukungan sosial

(social Support) dan pemberdayaan masyarakat sejarah (empowerment).

1. Advokasi

Advokasi adalah suatu upaya pendekatan (lobby) untuk mempengaruhi para

pemimpin atau pengambil keputusan, organisasi masyarakat / swasta, pimpinan

media massa yang memiliki kebijakan dan berpengaruh pada kesehatan

masyarakat.

27
2. Bina suasana dalam rangka program penanggulangan TB.

Bina suasana adalah upaya untuk mewujudkan lingkungan yang mendukung

masyarakat dalam penanggulangan tuberkulosis. Baik dalam bentuk kesepakatan atau

kerja sama lintas sektor, termasuk organisasi kemasyarakatan, keagamaan, pemuda,

wanita dan kelompok media massa guna mencapai tujuan program penanggulangan

TB.

3. Pemberdayaan masyarakat sasaran.

Pemberdayaan masyarakat adalah usaha untuk mengembangkan peran serta masyarakat

sesuai dengan yang diinginkan. Pemberdayaan masyarakat sasaran, sangat penting

untuk mendapatkan keterampilan, dengan tujuan menemukan kiat dan kecepatan

bertindak dalam rangka mengembangkan peran serta masyarakat, yang diharapkan

tumbuh optimal dan terarah (Depkes, 2005).

2.3.6 Peran Serta Pengawas Menelan Obat (PMO)

Peran utama PMO adalah sejauh mana keterlibatan langsung PMO dalam

mengawasi pemberian OAT kepada penderita untuk menjamin keteraturan

pengobatan penderita TB-Paru.

Yang menjadi PMO sebaiknya petugas kesehatan misalnya Bidan desa,

perawat, juru immunisasi dan Iain-lain. Bila tidak ada petugas yang memungkinkan

bisa juga dari kader, guru, anggota PPTI, PKK atau tokoh masyarakat lain atau

anggota keluarga untuk menjamin kepatuhan dan keteraturan penderita menelan

obat.

Syarat PMO adalah :

28
1. Seseorang yang dikenal, dipercaya, dan disetujui baik oleh petugas kesehatan

maupun penderita, selain itu harus disegani dan dihormati oleh penderita.

2. Seseorang yang tinggal dekat dengan penderita.

3. Bersedia membantu penderita dengan sukarela.

4. Bersedia ditaati dan atau mendapat penyuluhan bersama dengan penderita

(Depkes, 2005).

Adapun tugas seorang PMO adalah :

1. Mengawasi penderita TB-Paru agar menelan obat secara teratur sampai selesai

pengobatan.

2. Memberi dorongan kepada penderita agar mau berobat teratur.

3. Meningkatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada waktu-waktu yang telah

ditentukan.

4. Memberikan penyuluhan pada anggota keluarga penderita TBC yang mempunyai

gejala tersangka TB-Paru untuk segera memeriksa diri ke unit pelayanan kesehatan.

(Depkes. RI, 2005).

2.3.7. Kepatuhan penderita

Tenaga kesehatan dan PMO hams mengawasi proses peminuman obat serta

perkembangan pasien. Ini sangat penting karena ada kecenderungan pasien berhenti

minum obat karena gejalanya telah hilang. Setelah minum obat TB-Paru bisa hilang

dalam waktu 2-4 minggu. Walaupun demikian, untuk benar-benar sembuh dari TB-

Paru, penderita diharuskan untuk patuh dalam mengkonsumsi obat minimal selama 6

bulan. Efek negatif yang muncul jika penderita berhenti minum obat adalah

munculnya kuman TB-Paru yang kebal terhadap obat. Kepatuhan penderita disini

29
adalah bila penderita dengan kesadaran sendiri menjalani dengan taat serangkaian

program pengobatan yang telah dianjurkan oleh petugas, secara benar (Myrnawati,

2006).

2.4 Kerangka Teoritis

Banyak teori yang mengungkapkan tentang keberhasilan dalam pelaksanaan

pengobatan terhadap penyakit TB-Paru, dalam penelitian ini lebih dititik beratkan pada

teori berikut ini:


Depkes. RI, 2005
- Cara penemuan penderita
- Tata laksana pemeriksaan BTA
- Pengobatan penderita TB-Paru
- Peran serta PMO
- Kepatuhan penderita

Myrnawati, 2000 Depkes. RI, 2005


- Kualitas Pelayanan - Cara penemuan penderita
- OAT - Tata laksanaan pemeriksaan
Partisipasi Penderita
dalam Penanggulangan laboratorium
- Penyuluhan
TB-Paru - DOTS
- DOTS
- Penyuluhan
- Supervisi
- Supervisi
- Logistik
- Logistik
- BAB III

KERANGKA KONSEP

3.1. Konsep Pemikiran

30
Pelaksanaan penanggulangan TB-Paru dipengaruhi oleh beberapa faktor

antara lain : tatalaksana pemeriksaan BTA, pengobatan penderita TB-Paru,

penyuluhan TB-Paru pada penderita peran serta pengawas minum oban dan

kepatuhan penderita (Depkes. (2005), Myrnawati (2000), Depkes (2005)).

Berdasarkan tujuan penelitian dan permasalahan diatas maka konsep

pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen

Tatalaksana pemeriksaan
BTA

Pengobatan penderita TB-


Paru
Partisipasi Penderita dalam
Penanggulangan TB-Paru Penyuluhan TB-Paru pada
penderita

Peran serta PMO

Kepatuhan penderita

3.2. Variabel Penelitian

a. Tatalaksana pemeriksaan BTA

b. Pengobatan penderita TB-Paru

31
c. Penyuluhan TB-Paru pada penderita

d. Peran serta Pengawasan Menelan Obat (PMO)

e. Kepatuhan penderita

f. Pelaksanaan penanggulangan TB-Paru

3.3. Definisi Operasional

Skala
No Variabel Definisi operasional Cara ukur Alat ukur Hasil ukur
ukur
1. Partisipasi Partisipasi/upaya yang dilakukan

penderita dalam penderita, demi tercapainya

penanggulangan penanggulangan TB Paru yang

TB-Paru. mencakup, tatalaksana pemeriksaan

BTA, pengobatan penderits TB-Paru,

penyuluhan TB-Paru pada penderita,

peran serta PMO, kepatuhanpenderita.

Cara Skala
No Variabel Definisi operasional Alat ukur Hasil ukur
ukur ukur

1. Tatalaksana Partisipasi penderita dalam Wawancar Kuisioner - Baik Ordinal

pemeriksaan nenempuh langkah-langkah a - Kurang

BTA sewaktu menjalani

pemeriksaan dahak di

32
laboratorium.

2. Pengobatan Partisipasi penderita TB-Paru Wawancar Kuisioner - Baik Ordinal

penderita TB- terhadap penggunaan OAT a - Kurang

Paru demi mencapai kesembuhan

bagi penderita dan

memutuskan rantai penularan

dan diharapkan penderita tidak

terputus minum obat selama

pengobatan.
3. Penyuluhan TB- Partisipasi penderita TB-Paru Wawancar Kuisioner - Baik Ordinal

Paru pada dalam usaha merubah perilaku a - Kurang

penderita. ke arah yang lebih baik

sehingga kesembuhan dapat

tercapai.
4. Peran serta PMO Partisipasi penderita terhadap Wawancar Kuisioner - Ada Ordinal

keterlibatan petugas pengawas a - Tidak Ada

menelan obat secara langsung

untuk menjamin keteraturan

pengobatan TB-Paru.
5. Kepatuhan Partisipasi penderita terhadap Wawancar Kuisioner - Patuh Ordinal

penderita ketaatan dan kesadaran a - Tidak Patuh

penderita dalam menjalani

pengobatan dimana mau

menelan obat seluruhnya

sesuai waktu yang telah

ditentukan oleh petugas

3.4. Cara Pengukuran Variable

33
Cara pengukuran variabel-variabel dengan mengkatagorikan yaitu :

3.4.1. Tatalaksana pemeriksaan BTA

- Baik : Apabila responden mampu menjawab pertanyaan

yang diajukan ≥ 50% dari keseluruhan pertanyaan

yang diajukan.

- Kurang : Apabila responden tidak mampu menjawab

pertanyaan yang diajukan < 50% dari keseluruhan

pertanyaan yang diajukan.

3.4.2. Pengobatan penderita TB-Paru

- Baik : Apabila responden mampu menjawab pertanyaan


yang diajukan ≥ 50% dari keseluruhan pertanyaan
yang diajukan.

- Kurang : Apabila responden tdk mampu menjawab pertanyaan


yang diajukan < 50% dari keseluruhan pertanyaan
yang diajukan.

3.4.3. Penyuluhan TB-Paru pada penderita

- Baik : Apabila responden mampu menjawab pertanyaan

yang diajukan ≥ 50% dari keseluruhan pertanyaan

yang diajukan.

- Kurang : Apabila responden tidak mampu menjawab

pertanyaan yang diajukan < 50% dari keseluruhan

pertanyaan yang diajukan.

3.4.4. Peran Serta PMO

34
- Ada : Apabila responden ada diawasi / ditunggui langsung

oleh PMO pada saat minum obat.

- Tidak Ada : Apabila responden tidak ada diawasi / ditunggui oleh

PMO pada saat minum obat.

3.4.5. Kepatuhan penderita

- Patuh : Apabila responden mampu menjawab pertanyaan

yang diajukan ≥ 50% dari keseluruhan pertanyaan

yang diajukan.

- Tidak Patuh : Apabila responden tidak mampu menjawab

pertanyaan yang diajukan < 50% dari keseluruhan

pertanyaan yang diajukan

BAB IV

METODELOGI PENELITIAN

Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu untuk mengetahui gambaran

pelaksanaan penanggulangan penderita TB-Paru di Puskesmas Lamno, Kecamatan

Jaya, Kabupaten Aceh Jaya yang meliputi, tatalaksana pemeriksaan BTA, pengobatan

penderita TB-Paru, penyuluhan TB-Paru, peran serta pengawas menelan obat (PMO)

dan kepatuhan penderita.

4.1 Populasi dan Sampel

35
4.1.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien penderita TB Paru

yang telah berobat selama 6 bulan terakhir yang berada pada wilayah

kerja Puskesmas Lamno Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya tahun

2009. Berdasarkan laporan 2009, penderita TB sebanyak 43 orang.

4.1.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi yaitu seluruh populasi

dijadikan sampel yaitu sebanyak 43 orang penderita TB paru yang

berada pada wilayah kerja Puskesmas Lamno Kecamatan Jaya

Kabupaten Aceh Jaya pada tahun 2010.

4.2 Alat pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner, pertanyaan yang

ada pada kuesiner ini bersumber dari penelitian yang pernah dilakukan oleh

Yurmalis Fitria dengan judul Tinjauan Pelaksanaan Pengobatan Penderita TB-

Paru, tahun 2007. Kuesioner ini penulis jadikan sebagai pedoman untuk

penelitian dengan memodifikasi pertanyaan tersebut.

4.2 Jenis Data

4.2.1 Data Primer

Data primer diperoleh dengan cara survey lapangan yang dilakukan oleh

peneliti sendiri melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner yang

ada berdasarkan tujuan penelitian.

36
4.2.2 Data Sekunder

Data sekunder berupa gambaran umum wilayah penelitian yaitu

Puskesmas Lamno dan data khusus lainnya diperoleh dari Dinas Kesehatan

Kabupaten Aceh Jaya, serta referensi buku-buku perpustakaan yang ada

hubungannya dengan penelitian.

4.3 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Puskesmas Lamno, Kecamatan Jaya,

Kabupaten Aceh Jaya.

4.4 Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei 2010.

4.5 Pengumpulan Data

Data diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara langsung dengan

rospenden. Teknik pengambilan data adalah semua penderita yang melakukan

pengobatan TB-Paru ke Puskesmas.

4.6 Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

4.6.1 Editing

Data yang telah dikumpulkan diperiksa kelengkapaninformasi yang

ingin dicari.

4.6.2 Coding

Mengklasifikasikan jawaban menurut macamnya dengan memberi

kode tertentu.

4.6.3 Tabulating

37
Data yang telah terkumpulkan ditabulasi dalam bentuk tabel

distribusi frekuensi.

4.6.4 Transfering

Data yang telah diberi kode disusun secara berurutan dari responden

pertama sampai responden terakhir.

4.7 Analisa Data

Analisa yang digunakan dalam penelitian ini dengan menjabarkan secara

deskriptif distribusi frekuensi variabel-variabel yang diteliti, baik variabel

terikat maupun variabel bebas. Analisis dibuat dalam bentuk proporsi dengan

skala ukur ordinal.

4.8 Penyajian Data

Data yang telah dikumpulkan akan diolah secara komputerisasi kemudian disajikan

dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, tabel silang dan narasi.

Kuesioner

Gambaran Partisipasi Penderita dalam Penanggulangan TB-Paru

Di Puskesmas Lamno, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya

Tahun 2010

A. Keterangan wawancara

1. Nomor Urut Kuesioner :

2. Nomor Kartu berobat :

3. Tanggal Wawancara :

4. Waktu Wawancara :

38
5. Hasil Wawancara : lengkap/tidak lengkap

B. Identitas Responden

1. Umur :

2. Jenis Kelamin :

3. Status Perkawinan :

C. Data Khusus

I. Tatalaksana Pemeriksaan BTA

1. Berapak kali Bapak/Ibu memeriksa dahak ke Puskesmas?

a. 3 kali

b. 2 kali

c. 1 kali

2. Apakah Bapak/Ibu pernah diminta untuk mengambil dahak yang

pertama kali dipagi hari?

a. Pernah

b. Tidak pernah

3. Sewaktu diberi pot dahak, apakah ada dijelaskan kapan waktu

pengambilan dahak oleh petugas?

a. Ada

b. Tidak ada

4. Jika ada, apakah Bapak/Ibu melaksanakannya?

a. Ya

b. Tidak

II. Pengobatan Penderita TB-Paru

39
1. Keluhan/sakit apa sehingga mendorong Bapak/Ibu berobat ke

Puskesmas pertama kali?

a. Batuk-batuk lebih dari 3 minggu

b. Berat badan terus menurun

2. Bagaimana perasaan Bapak/Ibu mengetahui bahwa Bapak/Ibu

menderita TB-Paru?

a. Berusaha berobat sampai sembuh

b. Biasa saja

3. Apakah Bapak/ibu menunggu sampai obat habis baru datang berobat

lagi ke Puskesmas?

a. Tidak, kira-kira obat hampir habis, langsung berobat lagi

b. Ya, menunggu obat habis dulu

4. Ada berapa macam obat yang diberikan petugas kesehatan?

a. 1-5 macam

b. 1-2 macam

5. Apakah Bapak/Ibu yakin dengan minum obat tersebut Bapak/Ibu akan

sembuh dari penyakit TB-Paru?

a. Yakin

b. Tidak begitu yakin

III. Penyuluhan TB-Paru Pada Penderita

1. Apakah petugas kesehatan pernah menberikan penyuluhan kepada

Bapak/Ibu dan anggota keluarga Bapak/Ibu yang mempunyai gejala

TB-Paru untuk pemeriksaan diri ke Puskesmas?

40
a. Pernah

b. Tidak pernah

2. Setelah Bapak/Ibu mendengarkan penyuluhan tentang pentingnya

pengobatan terhadap penyakit TB-Paru, apakah Bapak/Ibu

bersungguh-sungguh berobat demi mencapai kesembuhan?

a. Ya

b. Biasa saja

3. Setiap petugas Puskesmas memberikan obat pada Bapak/Ibu, apakah

ada dijelaskan tentang cara penggunaan obat tersebut?

a. Ada

b. Tidak

IV. Peran Serta PMO

1. Pada saat Bapak/Ibu minum obat, apakah ada PMO

disamping Bapak/Ibu yang menunggui sampai obat benar-benar telah

Bapak/Ibu minum?

a. Ada

b. Tidak ada

2. Jika tidak ada, apakah Bapak/Ibu tetap minum obat

meskipun tanpa didampingi petugas PMO?

a. Ya

b. Tidak

41
2. Selama masa pengobatan, apakah petugas PMO selalu ada

menasehati/mengingatkan Bapak/Ibu agar meminum obat secara

teratur?

a. Selalu dinasehati

b. Tidak selalu

V. Kepatuhan Penderita

1. Kapan Bapak datang periksa

ulang dahak ke laboratorium?

a. Sesuai tanggal yang

dianjurkan petugas

b. Tidak periksa lagi bila

sudah merasa sehat

2. Bagaimana cara Bapak/Ibu minum obat?

a. Sesuai anjuran petugas

b. Kadang-kadang bila teringat

3. Bila gejala sakit kurang, apakah Bapak/Ibu tetap

minum obat?

a. Ya

b. Tidak

c. Kadang-kadang

42
DAFTAR PUSTAKA

Myrnawati, Epidemiologi, Jakarta, FK Universitas Yarsi, 2000

Wahyu Genis Ginanjar, Panduan Praktis Mencegah dan Menagkal TBC pada Anak,
Jakarta, penerbit Dian Rakyat, 2008

Sarwono, S, Beberapa Konsep beserta Aplikasinya Sosiologi Kesehatan,Yogyakarta,


Gajah Mada Press, 2005

43
Mansjoer. A, dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ke 3, Jilid ke II, Jakarta, Media
Eascupalis, 2000

Depkes RI, Pedoman Penyakit Tuberkulosis dan Penanggulangannya, Jakarta, Dirjen


P2M & PLP, 2005

Tjandra, Yoga, Masalah Tuberkulosis paru dan Penanggulangannya, Jakarta,


Universitas Indonesia, 2005

Somantri, Irman. 2008. Keperawatan Medical Bedah; Asuhan Keperawatan Pada


Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Salemba Medika : Jakarta

44
.

45
46
47