Anda di halaman 1dari 101

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN DISUSUN OLEH KELOMPOK II (DUA) : MUH. CAHYA PURNAMA ADI

DISUSUN OLEH KELOMPOK II (DUA) :

MUH. CAHYA PURNAMA ADI

07231411001

IBNU SALMAN

07231411005

ABBAS RAFSANZANI SYIA

07231411054

FAUJAN ABAS

07231411075

AMRIN WANDA

07231411122

M. ALFI B ABIDIN

07231411126

ROFIKA SAKTI

07231411146

MIRNA M SAID

07231411149

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNVERSITAS KHAIRUN TERNATE

2017

LEMBARAN PENGESAHAN

Laporan Praktik um Laboratorium Struktur dan Bahan ini meru pakan salah satu

Fakultas Teknik

Kelompok II (DUA) Nama-nama anggota kelompok II : 07231 411001 07231 411005 07231 411054 07231
Kelompok II (DUA)
Nama-nama anggota kelompok II :
07231 411001
07231 411005
07231 411054
07231 411075
07231 411122
07231 411126
07231 411146

MUH. CAHYA PURNAMA ADI IBNU SALMAN ABBAS RAFSANZANI SYIA FAUJAN ABAS AMRIN WANDA M. ALFI B ABIDIN ROFIKA SAKTI MIRNA M SAID

07231 411149

persyaratan dalam p enyelesaian studi pada Jurusan Teknik Sipil

Universitas Khairun Te rnate. Laporan ini disu sun oleh Kelompok II (DUA ) berdasarkan has il praktikum yang dilaksanakan 1 Novem ber sampai dengan 9 Februari 2017 di Laborato rium Struktur Dan Bahan Jurusan Sipil Fa kultas Teknik Universitas Khairun Ternate. Dikerjakan Oleh :

Struktur Dan Bahan Jurusan Sipil Fa kultas Teknik Universitas Khairun Ternate. Dikerjakan Oleh : Ternate, 3

Ternate,

3 Maret 2017

Struktur Dan Bahan Jurusan Sipil Fa kultas Teknik Universitas Khairun Ternate. Dikerjakan Oleh : Ternate, 3
Struktur Dan Bahan Jurusan Sipil Fa kultas Teknik Universitas Khairun Ternate. Dikerjakan Oleh : Ternate, 3

i

KATA PENGANTAR

kami kelompok II dapat menyelesaikan prakt ikum struktur dan kami ucapkan banyak terima kasih atas
kami
kelompok II dapat menyelesaikan prakt ikum struktur dan
kami ucapkan banyak terima kasih atas seg alah bantuan dan
dapat selama melaksanakan praktikum ini, mula i dari awal hingga
semua pihak yang telah banyak membantu
kami pada saat

Puji syukur ka mi panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha E sa, karena berkat

rahmat-Nya sehingga

bahan beserta laporan nya.

Laporan prakti kum ini disusun sebagai salah satu syarat mut lak kepada setiap

mahasiswa Jurusan Si pil fakultas Teknik Universitas Khairun dalam peny elesaian studi.

Tak lupa pula

bimbingan yang kami

selesai, khususnya ke pada Kepala Laboratorium dan Asisten Laborato rium Struktur dan

Bahan, serta kepada

pelaksanaan praktikum dan menyusun laporan ini.

Besar harapan kami agar kiranya hasil praktikum ini akan berm anfaat khususnya

bagi penyusun maup un pihak-pihak yang lain yang membutuhka n sebagai bahan

perbandingan.

Penyusun me nyadari bahwa setiap manusia ada keterbatasa nnya, maka kami

sangat mengharapkan saran dan kritik yang barmanfaat dari para pemba ca. Akhirnya kami

sampaikan banyak teri ma kasih.

Ternat e, 3 Maret 2017 Ho rmat Kami

K elompok II

iii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN i LEMBAR ASISTENSI ii KATA PENGANTAR iii DAFTAR ISI iv BAB I. PENDAHULUA
LEMBAR PENGESAHAN
i
LEMBAR ASISTENSI
ii
KATA PENGANTAR
iii
DAFTAR ISI
iv
BAB I.
PENDAHULUA N
1
1.1 AGREGA T
1
1.2 AIR
7
1.3 BETON
8
1.4 SEMEN
14
BAB II.
PERCOBAAN AGREGAT HALUS (PASIR)
17
2.1.
Analisa sa ringan Agregat Halus
17
2.2.
Berat jeni s dan penyerapan Agregat Halus
21
2.3.
Berat volu me Agregat Halus
25
2.4.
Kadar air Agregat Halus
29
2.5.
Kadar lum pur
31
.
Rekapitula si Agregat halus
33
BAB III.
PERCOBAAN AGREGAT KASAR (KERIKIL)
34
3.1.
34
3.2.
38
3.3.
41
3.4.
45
3.5.
Analisa sa ringan agregat kasar
Berat jeni s dan penyerapan Agregat kasar
Berat volu me agregat kasar
Kadar air agregat kasar
Kadar lum pur Agregat kasar
Pemeriksa an Abrasi / keausan Agregat
Rekapitula si Agregat kasar
47
3.6.
49
52

BAB IV.

PENGGEBUN GAN AGREGAT

53

2.1 CARA AN ALITIS

53

2.2 CARA GR AFIS

54

BAB V.

PEMERIKSAA N BETON

58

5.1 PENDAH ULUAN

58

5.2 JENIS-JE NIS BETON

59

5.3 TEKNIK P EMBUATAN

59

iv

5.4

KELAS DAN MUTU BETON

60

 

5.5 SIFAT PENGERJAAN BETON

60

5.6 PERCOBAAN CARA PENGUKURAN

60

5.7 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUAT BETON

60

5.8 PERSIAPAN PENGUJIAN

60

BAB VI.

RANCANGAN CAMPURAN BETON

61

6.1

PERANCANGAN

61

6.2

PERHITUNGAN JOB MIX FORMULA (JMF)

66

6.2

PEMERIKSAAN BETON SEGAR

68

6.3

PEMERIKSAAN SLUMP TEST

70

6.4

PENGUJIAN KUAT TEKAN BETON KERAS

72

 

HISTOGRAM

74

 

6.5

PENGUJIAN KUAT TARIK BELAH

77

BAB VII.

KESIMPULAN DAN SARAN

81

7.1 KESIMPULAN

81

7.2 SARAN

81

DOKUMENTASI

 

82-86

v

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 AGREGAT Agregat untuk bahan
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 AGREGAT Agregat untuk bahan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 AGREGAT Agregat untuk bahan campuran beton ada dua macam yaitu agregat halus (pasir)

dab agragat kasar (kerikil). Keduanya dapat diperoleh secara alamiah maupun secara buatan (manual). Secara umum, syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh agregat beton antara lain :

Butiran agregat harus anorganik

Butiran agregat dapat diperoleh dari alam atau buatan (batu pecah). Kegunaan agregat antara lain :

Memberikan kekuatan pada beton

Memperkecil penyusutan

Memberi sifat tertentu pada beton.

Agregat diperoleh dari deposit alam seperti pasir dan kerikil alam ataupun penggalian. Pasir

alam lebih banyak dan ekonomis sebagai sumber deposit. Agregat dari sumber alam dan batuan yang digunakan sebagai agregat antara lain :

1. Deposit aluvial

a. Deposit fluviatile Terdapat di dasar sungai yang mutunya tergantung dari umur dan kondisi sungai tersebut. Agregat dari sungai ini mempunyai umur sedang dan mempunyai kualitas yang baik untuk beton.

b. Deposit fluviatile Agregat ini terdapat di dalam atau di padang es yang telah hancur oleh arus dan

mempunyai kualitas yang baik karena telah mengalami abrasi.

c. Deposit fluviatile Agregat ini terdapat di pinggiran es terdiri dari agregat yang heterogen dan tidak baik digunakan untuk beton karena mengandung banyak lumpur.

2. Deposit marine

Agregat ini terdapat di pesisir pantai sebagai hasil dari kumpulan aliran pasang surut muara sungai. Bentuknya bulat dan pasirnya halus. Secara umum agregat yang baik haruslah agregat yang mempunyai bentuk yang menyerupai kubus atau bundar, bersih, keras, kuat, bergradasi baik dan stabil secara

kimiawi.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Agregat yang digunakan untuk campuran beton, terdiri dari
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Agregat yang digunakan untuk campuran beton, terdiri dari

Agregat yang digunakan untuk campuran beton, terdiri dari 60 % s/d 75 % dari volume

totalnya oleh karena itu sifat-sifatnya sangat mempengaruhi hasil beton. Pemakaian yang

agregat yang banyak dapat mengurangi penyusutan akibat mengerasnya (mengeringnya)

beton, dan dapat mempengaruhi koefisien expansi akibat panas.

Keuntungan digunakannya agregat :

Murah

Menimbulkan sifat volume yang stabil :

- mengurangi susut

- mengurangi rangkak

- memperkecil pengaruh suhu

Acuan yang Digunakan

Agregat untuk beton harus memenuhi salah satu ketentuan berikut:

1. ASTM C 33, Spesifikasi agregat untuk beton.

2. SNI 03-2461-1991, Spesifikasi agregat ringan untuk beton struktur.

Klasifikasi Agregat

Berdasarkan ASTM C-33, agregat dibagi atas dua kelompok, yaitu :

Batas bawah pada ukuran 4.75

mm atau ukuran saringan (ASTM)

no.4

Batas bawah ukuran pasir = 0.075 mm (no. 200) Batas atas ukuran pasir = 4.75 mm (no. 4)

Kasar Agregat (ASTM C-33)
Kasar
Agregat
(ASTM C-33)
Halus
Halus
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan AGREGAT KASAR ( KERIKIL ) Agregat kasar untuk
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan AGREGAT KASAR ( KERIKIL ) Agregat kasar untuk

AGREGAT KASAR ( KERIKIL ) Agregat kasar untuk beton dapat berupa kerikil sebagai hasil desintergrasi dari batuan- batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dapr pecahan batu. Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasat adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm. Agregat harus terdiri dari butir-butir yang keras dan hanya diperbolehkan mengandung butir-butir pipih sebesar 20 % dari agregat seluruhnya. Sgregat kasar harus bersifat kekal, tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca, seperti terik matahari

dan hujan. Tidak boleh mengandung lempur lebih dari 1 % terhadap berat kering. Bila lebih dari 1 % harus dicuci. Tidak diperkenankan mengandung zat-zat yang dapat merusak beton, seperti zat-zat yang reaktif alkali. Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji dari rudeloff fengan beban penguji 20 ton, dengan mana harus dipenuhi syarat-syarat berikut :

- Tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 9,5 – 19 mm lebih dari 24 % berat.

- Tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 19 – 30 mm lebih dari 22 % berat.

- Atau dengan mesin LOS ANGELES, dengan mana tidak boleh terjadi kehilangan berat

lebih dari 50 %. Harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya dan apabila diayak dengan susunan ayakan ISO harus memenuhi syarat :

- Sisa diatas ayakan 31,50 mm, harus minimum 0 % berat.

- Sisa diatas ayakan 4,00 mm, harus berkisar antara 90 % dan 95 % berat.

- Selisih antara sisa-sisa komulatif diatas dua ayakan yang berurutan, adalah max 60 % dan min 10 % berat.

Klasifikasi Bentuk dan Tekstur Agregat Karakteristik bagian luar agregat, terutama bentuk partikel dan tekstur permukaan memegang peranan penting terhadap sifat beton segar dan yang sudah mengeras. Menurut BS 812 : Part 1: 1975, bentuk partikel agregat dapat dibedakan atas:

- Rounded

- Irregular

- Flaky

- Angular

- Elongated

- Flaky & Elongated

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Bentuk Partikel Agregat Menurut BS 812 : Part
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Bentuk Partikel Agregat Menurut BS 812 : Part

Bentuk Partikel Agregat Menurut BS 812 : Part 1: 1975

Rounded

Irregular

Angular

Flaky

R o u n d e d I r r e g u l a r

Flaky

and

Elongated

Elongated

e g u l a r Angular Flaky Flaky and Elongated Elongated Partikel dengan ratio luas

Partikel dengan ratio luas permukaan terhadap volume yang tinggi menurunkan workability campuran beton (contoh partikel yang bentuknya flaky dan ellongated) Menurut BS 812 : Part 1 : 1975, tekstur permukaan agregat dapat dibedakan atas:

- Glassy

- Smooth

- Granular

- Rough

- Crystalline

- Honeycombed

Bentuk dan tekstur permukaan agregat sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat beton segar seperti kelecakan. Sifat Mekanik Agregat 1.Gaya lekat (bond)

Semakin kasar tekstur, semakin besar daya lekat antara agregat dengan pasta semen. 2.Mekanisme lekatan (bond) antara Agregat dan Pasta Semen. Ikatan Fisik, Yaitu agregat yang mempunyai permukaan yang kasar dapat mengembangkan ikatan yang baik dengan pasta semen. Ikatan Kimia, Yaitu agregat yang mengandung silica (jenis slag) dapat mengikat dengan pasta semen secara kimiawi (reaksi hidrasi pada permukaan agregat).

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan 3.Kekuatan Informasi mengenai kekuatan partikel agregat
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan 3.Kekuatan Informasi mengenai kekuatan partikel agregat

3.Kekuatan

Informasi mengenai kekuatan partikel agregat harus diperoleh dari pengujian tak langsung antara lain dari pengujian tekan sampel batuan, nilai crushing tumpukan agregat atau performance agregat dalam beton.

4.Toughness

Didefinisikan sebagai daya tahan agregat terhadap kehancuran akibat beban impact.

5.Hardness

Daya tahan terhadap keausan agregat, merupakan sifat yang penting bagi beton yang digunakan untuk jalan atau permukaan lantai yang harus memikul lalu lintas berat. Sifat Fisik Agregat 1.Specific Gravity 2.Apparent Specific Gravity 3.Bulk Specifik Gravity (SSD) 4.Bulk Density 5.Porositas dan Absorpsi Sifat-sifat fisik agregat di atas dibutuhkan dalam perhitungan proporsi agregat dalam campuran beton

Sifat-Sifat Lainnya

1. Gradasi Gradasi dan ukuran maksimum agregat sangat penting karena akan mempengaruhi proporsi agregat dalam campuran, kebutuhan air, jumlah semen, biaya produksi, sifat susut dan durabilitas beton.

2. Kandungan air Perlu diketahui untuk mengontrol besarnya jumlah air didalam suatu campuran beton.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan AGREGAT HALUS ( PASIR) Agregat halus merupakan pengisi
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan AGREGAT HALUS ( PASIR) Agregat halus merupakan pengisi

AGREGAT HALUS ( PASIR)

Agregat halus merupakan pengisi (filler) berupa pasir. Ukurannya bervariasi antara ukuran saringan no.4 sampai no. 100 (saringan standar Amerika). Agregat halus yang baik harus bebas dari bahan organik, lempung, partikel yang lebih kecil dari saringan no. 100 atau bahan-bahan lain yang dapat merusak campuran beton. Kebanyakan agregat masih memerlukan adanya pencucian karena terdapat lumpur dan zat-zat organik didalamnya. Sebagian besar pasir di Indonesia masih banyak mengandung butir-butir halus, sehingga harus dihilangkan dengan mengadakan pencucian yang juga sekaligus untuk menghilangkan kotoran-kotoran lumpur, zat-zat organik dan penyaringan di atas saringan 4,8 mm. Pasir yang baik harus keras, bersih, tajam, kasar dan tidak mengandung bahan organik. Diameter pasir antara 0,063 – 5,00 mm. Pasir yang baik bisa diperoleh dari sungai, kali dan pasir buatan. Pasir buatan haruslah memenuhi syarat sebagai berikut :

1. Butiran-butirannya tajam, tidak dapat dihancurkan dengan tangan

2. Tidak mudah dihancurkan oleh cuaca

3. Kandungan lumpur maksimum 5% terhadap berat kering, jika kandungan lumpurnya

4. lebih besar dari 5% maka pasir harus dicuci.

5. Pasir tidak boleh terlalu banyak mengandung bahan organik, hal ini dapat diketahui dengan percobaan Abrame Harder

6. Pasir harus memenuhi gradasi :

a. Sisa diatas ayakan 4 mm, minimal 2% dari berat kering.

b. Sisa diatas ayakan 1 mm, minimal 10% dari berat kering.

c. Sisa diatas ayakan 0,25 mm, minimal 80-95% dari berat kering

7. Pasir tidak boleh bersifat reaktif terhadap alkali

8. Apabila dicuci dengan larutan Natrium Sulfat, bagian yang hancur harus lebih kecil

dari 10%

9. Pasir laut tidak boleh dipakai, bila terpaksa harus melalui riset di laboratorium.

Ada beberapa jenis pasir yang perlu diketahui, antara lain :

1. Pasir kali Pasir kali tersusun dari bahan yang sama seperti batu kali. Perbedaannya terletak pada ukuran butirnya, dimana pasir adalah fragmen-fragmen batuan yang berukuran 0,016 – 2 mm. Jika ukurannya kurang dari 0,016 mm, maka dinamakan lanau dan demikian pula dengan pasir halus dan pasir kasar. Pasir kali baik digunakan untuk campuran beton maupun untuk pekerjaan urugan.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan 1. Pasir kuarsa putih Pasir ini sehari-hari kita
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan 1. Pasir kuarsa putih Pasir ini sehari-hari kita

1. Pasir kuarsa putih

Pasir ini sehari-hari kita kenal sebagai batu sedimen yang terbentuk dari pelapukan batuan kuarsa dan batuan-batuan lain yang mengandung kristal-kristal kuarsa. Di negara kita lazimnya bahan galian ditemuukan di tepian sungai, pantai dan dasar laut. Kegunaan dari pasir jenis ini antara lain :

a. Untuk pembuatan berbagai macam gelas (kaca) sebagai bahan pokok

b. Untuk pembuatan semen Portland, dan lain-lain.

2. Pasir kuarsa hitam

Pasir ini dapat digunakan untuk bahan bangunan, yang sehari-hari dikenal dengan warnanya yang kehitam-hitaman. Pasir ini terdiri dari kristal-kristal SiO 2 . Asal mula terbentuknya sama dengan pasir kuarsa putih, yaitu dari berbagai macam kotoran yang dapat terdiri dari oksida-oksida logam dan bahan-bahan organik. Kegunaan dari pasir kuarsa hitam ini adalah :

a. Untuk adukan beton, spesi dan sebagainya

b. Untuk pembuatan batu cetak

c. Untuk meningkatkan daya tahan gesek rel kereta api

d. Untuk pembuatan jalan raya

e. Untuk bangunan basah, dan lain-lain.

Pada Laboratorium Struktur dan Bahan ini, dilakukan 6 percobaan agregat halus (pasir) yaitu :

1. Analisa saringan / gradasi agregat halus (pasir)

2. Berat jenis dan penyerapan agregat halus (pasir)

3. Berat volume agregat halus (pasir)

4. Kadar air agregat halus (pasir)

5. Kadar lumpur dan lempung agregat halus (pasir)

6. Kadar bahan organik agregat halus (pasir)

1.2 AIR Sebagai bahan yang berperan dalam proses hidrasi sehingga pasta mengeras. Selain itu jumlah air per satuan volume beton akan mempengaruhi nilai slump yang otomatis akan berpengaruh juga pada workability beton.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Kualitas Air Kualitas air pencampur biasanya disyaratkan
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Kualitas Air Kualitas air pencampur biasanya disyaratkan

Kualitas Air Kualitas air pencampur biasanya disyaratkan sebagai air yang dapat diminum, tapi jika mengandung kadar sodium dan potasium yang tinggi (umum dijumpai pada air tanah) akan menimbulkan bahaya reaksi alkali - agregat. Setiap air dengan pH (derajat keasaman) antara 6.0 dan 8.0 dan rasanya tidak payau dapat digunakan untuk air campuran beton. Air yang mengandung bahan organik (umum dijumpai pada air permukaan) dapat menghambat proses pengerasan beton. Air laut meningkatkan risiko perkaratan tulangan. Air yang mengandung jamur jika digunakan sebagai air pencampur dapat meningkatkan jumlah udara dalam campuran, sehingga dapat menimbulkan reduksi kekuatan beton. Air yang cocok digunakan sebagai air campuran dapat digunakan sebagai air pembersih concrete mixer.

1.3 BETON

Beton merupakan suatu campuran antara air, semen, agregat halus, agregat kasar, dan bahan tambahan jika diperlukan. Perbedaan material pembuat beton dalam :

- Semen adalah bahan ikat hidorlik

- Agregat campuran adalah bahan batu-batuan yang netral (tidak bereaksi) dan merpakan bentuk sebagian besar beton (misalnya : pasir, kerikil, batu pecah, basalt)

- Batuan Semen adalah Campuran antara semen dan air (pasta semen) yang mengeras ;

- Spesi Mortar adalah Campuran antara semen, agegat halus dan air yang telah mengeras ;

- Mortar adalah Campuran antar semen, agregat halus dan air yang telah mengeras;

- Spesi Beton adalah Campuran antara semen, agregat campuran (halus dan kasar) dan air yang belum mengeras ;

- Beton adalah Campuran antara semen, agregat campuran dan air air yang telah mengeras ;

- Bahan Tambahan adalah Bahan kimia tambahan yang ditambahkan ke dalam spesi beton dan/atau beton untuk mengubah sifat beton yang dihasilkan (misalnya accelator, retarder dan sebagainya)

Dalam bidang bangunan, yang dimaksudkan dengan beton merupakan campuran massa yang terbentuk dari agregat halus dan agregat kasar dan pasta semen sebagai pasta pengikat agregat dengan perbandingan – perbandingan tertentu. Beton juga dapat diartikan

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan sebagai bahan bangunan dan konstruksi yang sifat –
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan sebagai bahan bangunan dan konstruksi yang sifat –

sebagai bahan bangunan dan konstruksi yang sifat – sifatnya dapat ditentukan terlebih

dahulu dengan mengadakan perencanaan dan pengawasan yang teliti terhadap bahan –

bahan yang diilih.

Beton sebagai bahan konstruksi mempunyai kelebihan dibandingkan dengan bahan

konstruksi lainnya karena dibuat dalam campuran air maka dapat dibentuk sesuai dengan

cetakan dan setelah dingin memiliki nilai kekuatan yang besar. Campuran beton dikatakan

baik jika memenuhi syarat kekuatan, syarat keaweran, kedap air dan syarat workability.

Mutu beton sangat dipengaruhi oleh kwalitas bahan pembentuk, komposisi

campuran dan metode pelaksanaan. Mutu beton dinyatakan dalam bentuk Kp (PBI 1971)

yang berarti beton dengan karakteristik p kg/cm 2 , yaitu : kekuatan tekan , dimana dari

sejumlah besar hasil pemeriksaan benda uji kubus beton ukuran 15 x 15 x 15 cm 3

kemungkinan adanya kekuatan hancur yang kurang dari p kg/cm 2 itu terbatas sampai 5%

saja. Bentuk lain symbol mutu beton dinyatakan dalam bentuk f’c (SK SNI T-15-1991-03),

yaitu kuat tekan beton yang disyaratkan oleh perencanaan struktur (benda uji silinder dengan

diameter 150 mm dan tinggi 300 mm), dipakai dalam perencanaan struktur beton dan

dinyatakan dalam satuan Mpa (Mega Pascal).

Campuran untuk suatu mutu beton tertentu dapat diterntukan dalam bentuk

perbandingan berat atau volume, jika diinginkan campuran yang baik utamanya untuk mutu

beton tinggi, maka sebaiknya komposisi campuran dibuat dalam perbandingan berat (takaran

berat) untuk pelaksanaan. Metode yang sering digunakan untuk membuat suatu rancangan

campuran beton antara lain dengan metode Development of Environment (DOE) dan metode

PCA ACI.

Ada beberapa sifat dasar beton sebagai berikut ;

Kekuatan Beton Beton sangat tahan terhadap gaya tekan dibanding gaya-gaya lainnya, sehingga kuat tekan

merupakan ciri yang umum untuk menggambarkan kekuatan suatu beton.

Kuat tekan beton tergantung pada aktiva semen, water cement ratio, kualitas agregat, waktu,

kondisi pengerasan, dsb.

Semen yang memiliki aktiva tinggi sudah jelas menghasilkan beton yang lebih baik, namun

hal tersebut juga tergantung dengan jumlah air yang ditambahkan pada campuran beton.

Bila kekuatan agregat semakin menurun maka kekuatan beton juga semakin rendah.

Kasarnya permukaan agregat juga mempengaruhi kekuatan beton.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Untuk berbentuk: mengetahui kekuatan beton biasanya
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Untuk berbentuk: mengetahui kekuatan beton biasanya

Untuk

berbentuk:

mengetahui

kekuatan

beton

biasanya

dilakukan

1. Kubus ukuran 15 x 15 x 15 cm

2. Silinder ukuran:

Diameter : 15 cm

Tinggi

: 30 cm

uji

kuat

tekan

dengan

beton

Workability

Pengertian praktisnya adalah kemudahan dalam mengolah beton sejak masih berada dalam proses pengadukan atau pencampuran sampai selesai dipadatkan. Pengertian sebenarnya adalah sejumlah kerja internal yang diperlukan untuk menghasilkan tingkat pemadatan yang penuh. Kekuatan beton sangat dipengaruhi adanya void pada massa yang dipadatkan, jadi sangat penting untuk mencapai densitas maksimumnya.

Hubungan Rasio Densitas dan Rasio Kekuatan

maksimumnya. Hubungan Rasio Densitas dan Rasio Kekuatan Sumber : Modul pelatihan teknologi beton (LSB), Beton Segar

Sumber : Modul pelatihan teknologi beton (LSB), Beton Segar

Pentingnya tingkat pemadatan ditunjukkan pada grafik di atas, dimana ditunjukkan hubungan pertumbuhan kekuatan dengan tingkat kepadatan beton. Dari grafik tampak, bahwa adanya void dalam beton akan mengurangi tingkat kepadatan dan kekuatan beton tersebut. Faktor yang Mempengaruhi Workability

1. Jumlah kandungan air

2. Tipe dan gradasi dari agregat

3. Perbandingan agregat dan semen

4. Kehalusan semen

5. Adanya bahan tambahan (admixtures)

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan 6. Waktu dan Temperatur Metoda pengukuran workability yang
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan 6. Waktu dan Temperatur Metoda pengukuran workability yang

6. Waktu dan Temperatur

Metoda pengukuran workability yang paling umum digunakan adalah uji slump.

Pengujian slump diatur dalam ASTM C-143-78

Faktor-faktor yang mempengaruhi workability Bahan-bahan Waktu Kondisi campuran Lingkungan Sekeliling Semen Air
Faktor-faktor yang
mempengaruhi workability
Bahan-bahan
Waktu
Kondisi
campuran
Lingkungan
Sekeliling
Semen
Air
Additive
Agregat
Kelembaban
Suhu
Kecepatan
Angin
Ukuran
Bentuk
Gradasi
Maksimum
Rasio
Kasar : Halus
Susunan
Absorpsi
Permukaan

Kohesi dan Segregasi

Segregasi dapat didefinisikan sebagai pemisahan unsur-unsur campuran yang

heterogen sehingga distribusinya menjadi tidak seragam.

Pada beton, perbedaan ukuran partikel merupakan sebab utama terjadinya segregasi,

tetapi hal ini dapat dikontrol dengan cara pemilihan gradasi agregat dan penanganan

beton yang lebih hati-hati.

Kondisi Terjadinya Segregasi

1. Campuran kurus (kurang semen)

2. Campuran basah (terlalu banyak air)

3. Campuran “undersanded” (kurang pasir)

4. Gradasi agregat kurang baik

5. Agregat yang digunakan terlalu ringan atau berat

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Bleeding Salah satu bentuk segregasi dimana sejumlah air
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Bleeding Salah satu bentuk segregasi dimana sejumlah air

Bleeding

Salah satu bentuk segregasi dimana sejumlah air dari campuran cenderung naik ke

permukaan beton yang baru dicor.

Bleeding disebabkan ketidakmampuan dari partikel solid untuk memegang seluruh air

campuran ketika partikel tersebut mengendap.

Kecenderungan terjadinya bleeding dipengaruhi oleh :

1. Kandungan air dalam campuran

2. Rasio air-semen

3. Sifat semen

4. Suhu (meningkatkan laju bleeding)

Kecenderungan terjadinya bleeding menurun dengan penggunaan :

1. Semen yang mempunyai kandungan alkali yang tinggi atau kandungan C3A yang

tinggi.

2. Semen yang diberi tambahan kalsium klorida (CaCl2)

3. Campuran yang “rich” dari pada campuran yang “lean”

4. Pozzolan atau bubuk aluminium

5. “air entrainment agent”

Klasifikasi Beton

Beton dapat diklasifikasikan berdasarkan bermacam-macam kriteria, seperti berdasarkan

berat satuannya, kekuatannya, pemakaian, dan sebagainya.

Klasifikasi yang umum digunakan adalah berdasarkan berat satuannya dan kekuatannya.

a. Klasifikasi Beton Berdasarkan Berat Satuannya

Mempunyai berat satuan 2200 kg/m 3 sampai 2500 kg/m3 dan dibuat menggunakan agregat alam yang
Mempunyai berat satuan
2200 kg/m 3 sampai 2500
kg/m3 dan dibuat
menggunakan agregat alam
yang dipecah atau tanpa
dipecah
Mengandung agregat ringan dan mempunyai berat satuan tidak lebih dari 1900 kg/m 3
Mengandung agregat ringan
dan mempunyai berat satuan
tidak lebih dari 1900 kg/m 3
Beton Normal
Beton
Normal
Beton Ringan
Beton
Ringan

Klasifikasi

Beton

Berdasarkan

Berat

Satuannya

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan b. Klasifikasi Beton Berdasarkan Kekuatannya Beton Mutu
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan b. Klasifikasi Beton Berdasarkan Kekuatannya Beton Mutu

b. Klasifikasi Beton Berdasarkan Kekuatannya

Beton Mutu Normal

(Normal Strength Concrete)

Memiliki kekuatan 200-500 kg/cm 2
Memiliki kekuatan
200-500 kg/cm 2
Strength Concrete) Memiliki kekuatan 200-500 kg/cm 2 Klasifikasi Beton Berdasarkan Kekuatannya Beton Mutu Tinggi
Strength Concrete) Memiliki kekuatan 200-500 kg/cm 2 Klasifikasi Beton Berdasarkan Kekuatannya Beton Mutu Tinggi

Klasifikasi Beton Berdasarkan Kekuatannya

Beton Mutu Tinggi Memiliki kekuatan > 800 kg/cm 2 (High Strength Concrete) Beton Mutu Sangat
Beton Mutu
Tinggi
Memiliki kekuatan
> 800 kg/cm 2
(High Strength
Concrete)
Beton Mutu
Sangat Tinggi
Memiliki kekuatan
> 800 kg/cm 2
(Very High
Strength
Concrete)
kekuatan > 800 kg/cm 2 (Very High Strength Concrete) Material Pembentuk Beton Secara umum komposisi unsur

Material Pembentuk Beton

Secara umum komposisi unsur pembentuk beton adalah sebagai berikut:

 

Unsur

 

Beton

Air (14% - 21%) Semen (7% - 15%) Udara (1% - 8%)
Air (14% - 21%)
Air
(14% - 21%)
Semen (7% - 15%)
Semen
(7% - 15%)
Udara (1% - 8%)
Udara
(1% - 8%)

Agregat Kasar

dan

Agregat Halus

Campuran material pembentuk beton harus ditentukan sedemikian rupa, sehingga

terpenuhi syarat-syarat :

1. Kekenyalan tertentu yang memudahkan adukan beton ditempatkan pada

cetakan/bekisting (workability) dan kehalusan muka semen (finishability) beton

basah yang ditentukan dari:

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan a. Volume pasta adukan b. Keenceran pasta adukan
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan a. Volume pasta adukan b. Keenceran pasta adukan

a. Volume pasta adukan

b. Keenceran pasta adukan

c. Perbandingan campuran agregat halus dan kasar

2. Kekuatan Rencana dan ketahanan (durability) beton setelah mengeras

3. Ekonomis dan optimum dalam pemakaian semen

1.4 SEMEN

Semen Portland atau kadang disebut semen adalah bahan pengikat hidrolis berupa

bubuk halus yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker (bahan ini terutama terdiri dari silikat – silikat kalsium yang berdifat hidrolis), dengan batu gips sebagai bahan tambahan. Bahan baku pembuatan semen adalah bahan – bahan yang mengandung kapur, silica, alumina, oksida besi, dan oksida – oksida lainnya. Jika bubuk halus tersebut dicampurkan dengan air, maka akan menjadi pasta dan dalam waktu beberapa saat dapat menjadi keras. Jika pasta semen tersebut dicampurkan dengan pasir, maka akan menghasilkan mortar semen. Dari segi kekuatan yang dihasilkan pada beton, semen Portland dapat digolongkan terhadap :

a. Semen Portland mutu S-400, yaitu semen Portland dengan kuat tekan pada umur 28 hari sebesar 400 kg/cm 2

b. Semen Portland mutu S-475, yaitu semen Portland dengan kuat tekan pada umur 28 hari sebesar 475 kg/cm 2

c. Semen Portland mutu S-550, yaitu semen Portland dengan kuat tekan pada umur 28 hari sebesar 550 kg/cm 2

d. Semen Portland mutu S-S, yaitu semen Portland dengan kuat tekan pada umur 1 hari sebesar 225 kg/cm 2 dan pada umur 7 hari sebesar 525 kg/cm 2

e. Ukuran kehalusan butir semen Portland mempengaruhi mutu semen Portland

tersebut. Jika semen Portland diberi air, maka air akan berangsur – angsur mengadakan persenyawaan dengan senyawa – senyawa semen. Sebagian dari senyawa semen akan larut membentuk senyawa dengan air, yaitu membentuk gel (agar – agar). Suatu semen yang baru saja bercampur dengan air (pasta semen), merupakan suatu massa plastis yang terdiri dari butiran semen dan air. Setelah pasta semen mulai mengeras, tampaknya bervolume tetap. Hasil pengerasan ini terdiri dari hidrat senyawa – senyawa semen yang ada yang berupa agar – agar, Kristal – Kristal kapur padam, sedikit senyawa lain, dan butiran semen yang tidak bersenyawa dengan air.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Kualitas Semen Semen harus memenuhi salah satu ketentuan
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Kualitas Semen Semen harus memenuhi salah satu ketentuan

Kualitas Semen

Semen harus memenuhi salah satu ketentuan berikut:

1.

SNI-15-2049-1994, Semen portland

2.

ASTM C 595, Spesifikasi semen blended hidrolis, kecuali tipe S dan SA yang tidak

diperuntukkan sebagai unsur pengikat utama beton

3.

ASTM C 845, Spesifikasi semen hidrolis ekspansif

Penyimpanan semen di tempat lembab akan mengakibatkan penurunan kekuatan.

Sebaiknya menimbun karung semen rapat satu sama lain, diatas ganjalan-ganjalan kayu dan

tidak dirapatkan ke dinding. Penyimpanan yang lama seharusnya mempunyai tutup kedap

air.

Jenis-Jenis Semen

Semen Tipe I (semen biasa/normal)

Kehalusan 350 - 400 m2/kg

Semen Tipe I (Semen Biasa/Normal)

Penggunaan umum pada semua jenis bangunan dan konstruksi

Penggunaan umum pada semua jenis bangunan dan konstruksi  Semen Tipe II (semen panas sedang) -

Semen Tipe II (semen panas sedang)

- Kehalusan 300 m2/kg

- Ketahanan terhadap sulfat cukup baik

- Panas hidrasi tidak tinggi

Semen Tipe II

Semen Tipe III (semen cepat mengeras)

Digunakan untuk pencegahan serangan sulfat dari lingkungan, seperti sistem drainase dengan sifat kadar konsentrasi sulfat tinggi di dalam air tanah

sifat kadar konsentrasi sulfat tinggi di dalam air tanah - Kehalusan  500 m2/kg - Laju

- Kehalusan 500 m2/kg

- Laju pengerasan awal tinggi

- Untuk rasio air semen yang sama, penggunaan semen tipe III akan menghasilkan

kuat tekan 28 hari yang lebih rendah dibandingkan penggunaan semen tipe I

- Tidak baik untuk beton mutu tinggi

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Semen Tipe III Digunakan pada aplikasi yang memerlukan
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Semen Tipe III Digunakan pada aplikasi yang memerlukan

Semen Tipe III

Digunakan pada aplikasi yang memerlukan kekuatan awal beton yang tinggi, misalnya pada pembukaan bekisting yang dipercepat, pekerjaan perbaikan dan lain- lain

yang dipercepat, pekerjaan perbaikan dan lain- lain  Semen Tipe IV (semen panas rendah) - Kehalusan

Semen Tipe IV (semen panas rendah)

- Kehalusan butirnya lebih kasar dari tipe I

- Digunakan bila menginginkan panas hidrasi yang rendah

Semen Tipe IV

Digunakan pada aplikasi yang membatasi peningkatan temperatur yang tinggi untuk menghindari timbulnya tegangan termal pada beton, contoh pada pengecoran masal dan pengecoran dalam cuaca yang panas

pada pengecoran masal dan pengecoran dalam cuaca yang panas  Semen Tipe V (semen tahan sulfat)

Semen Tipe V (semen tahan sulfat)

- Kehalusan 300 m2/kg

- Panas hidrasi rendah

- Ketahanan terhadap sulfat tinggi

- Laju pengerasan rendah

Semen Tipe V

Pada bangunan yang membutuhkan ketahanan sulfat yang tinggi, seperti pada bangunan laut atau bangunan yang berada di atas tanah yang mengandung sulfat

ketahanan sulfat yang tinggi, seperti pada bangunan laut atau bangunan yang berada di atas tanah yang
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan BAB II PERCOBAAN AGREGAT HALUS ( PASIR )
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan BAB II PERCOBAAN AGREGAT HALUS ( PASIR )

BAB II

PERCOBAAN AGREGAT HALUS ( PASIR )

PERCOBAAN

2.1.

ANALISA SARINGAN / GRADASI AGREGAT HALUS (PASIR)

A. TUJUAN PERCOBAAN

Untuk mengetahui susunan butir agregat dari yang besar sampai halus untuk keperluan

desain beton.

B. ALAT DAN BAHAN

1. Mesin pengguncang saringan (sieve shaker)

2. Saringan untuk agregat halus dengan ukuran;

no. 4, no. 8, no. 16, no. 30, no. 50, no. 100 dan no. 200

3. Pan dan cover

4. Timbangan

5. Oven

6. Pasir 2000 gram

200 3. Pan dan cover 4. Timbangan 5. Oven 6. Pasir 2000 gram Gambar satu set

Gambar satu set analisa saringan

C. PROSEDUR PERCOBAAN

a. Persiapan Bahan

1. Ambil contoh agregat halus dengan cara perempat sebanyak 500 gram

2. Oven selama 24 jam.

3. Timbang pasir kering oven sebanyak 500 gr. Kondisi suhu kamar.

pasir kering oven sebanyak 500 gr. Kondisi suhu kamar. Memasukkan agregat ke dalam talam Agregat sebelum

Memasukkan agregat ke dalam talam

gr. Kondisi suhu kamar. Memasukkan agregat ke dalam talam Agregat sebelum dioven Agregat dikeringkan dengan oven
gr. Kondisi suhu kamar. Memasukkan agregat ke dalam talam Agregat sebelum dioven Agregat dikeringkan dengan oven

Agregat sebelum dioven

Memasukkan agregat ke dalam talam Agregat sebelum dioven Agregat dikeringkan dengan oven pada suhu (110+5) 0

Agregat dikeringkan dengan oven pada suhu (110+5) 0 C sampai berat menjadi tetap

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan b. Analisis Saringan Memasukkan benda uji yang sudah
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan b. Analisis Saringan Memasukkan benda uji yang sudah

b. Analisis Saringan

Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan b. Analisis Saringan Memasukkan benda uji yang sudah dioven ke dalam saringan

Memasukkan benda uji yang sudah dioven ke dalam saringan (berat contoh harus sesuai dengan tabel saringan)

saringan (berat contoh harus sesuai dengan tabel saringan) Menyiapkan perangkat saringan agregat yang sudah disusun

Menyiapkan

perangkat saringan

agregat yang

sudah disusun

berdasarkan no.

saringan

saringan agregat yang sudah disusun berdasarkan no. saringan Saringan + benda uji digoyang dengan mesin selama

Saringan + benda uji digoyang dengan mesin selama 15 menit

Saringan + benda uji digoyang dengan mesin selama 15 menit Benda uji yang tertahan pada tiap

Benda uji yang tertahan pada tiap no. saringan dituangkan ke talam

uji yang tertahan pada tiap no. saringan dituangkan ke talam Benda uji + talam ditimbang, lalu
uji yang tertahan pada tiap no. saringan dituangkan ke talam Benda uji + talam ditimbang, lalu

Benda uji + talam ditimbang, lalu dihitung berat benda uji tersebut

1. Timbang saringan satu persatu, lalu susun menurut ukuran saringan. Mulai dari pan, lubang saringan terkecil dan seterusnya sampai lubang saringan terbesar.

2. Masukkan benda uji pada saringan teratas kemudian tutup. Pasang saringan pada mesin saringan lalu hidupkan motor pengguncang selama 15 menit.

3. Biarkan selama 5 menit untuk memberi kesempatan debu-debu mengendap.

4. Buka saringan tersebut, kemudian timbang masing-masing saringan beserta isinya.

5. Hitung berat agregat yang tertahan pada masing-masing saringan.

6. Hitung persentase berat tertahan, kumulatifkan untuk mendapatkan faktor kehalusan.

7. Hitung persentase lolos.

8. Plot ke dalam grafik hasil perhitungan lolos.

9. Finess Modulus adalah jumlah kumulatif persen dari suatu perhitungan analisa ayakan agregat pada seri lubang #0,15 mm, #0,30 mm, #0,60 mm sampai dengan # saringan maksimum pada seri ayakan berbanding 1:2 dibagi dengan

100.

D. ANALISA PERHITUNGAN % tinggal kumulatif

F pasir

dimana :

=

F pasir

=

100

modulus kehalusan pasir

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk tabel.
KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk tabel.

E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk tabel.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 2.2. BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AGREGAT HALUS
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 2.2. BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AGREGAT HALUS

PERCOBAAN

2.2.

BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AGREGAT HALUS (PASIR)

A. TUJUAN PERCOBAAN Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan bulk apparent spesific gravity dan absorbsi dari agregat halus (pasir) menurut ASTM C-127. Nilai ini diperlukan untuk menetapkan besarnya komposisi volume agregat dalam adukan beton

B. ALAT DAN BAHAN

1. Pasir 1500 gram

2. Talang (wadah)

3. Aquades

4. Piknometer dengan kapasitas 500 gram

5. Timbangan dengan ketelitian 0.5 gram yang mempunyai kapasitas minimum sebesar 1000 gram

6. Oven

7. Cetakan Kerucut kuningan

8. Penumbuk

C. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Timbang pasir seberat 1500 gram.

2. Rendam selama ± 24 jam.

3. Setelah direndam ± 24 jam, keringkan pasir hingga mencapai keadaan kering permukaan (SSD). Untuk mengetahui kondisi SSD tercapai, ambil kerucut kuningan tempatkan di tempat yang rata kemudian masukkan sampel 1/3 bahagian, gunakan penumbuk untuk memadatkan tumbuk 8 kali dengan tinggi jatuh kurang lebih 5 cm. Untuk lapis kedua ditumbuk 8 kali dan lapis ketiga 7 kali.

4. Timbang kondisi SSD sebanyak 500 gr, ambil 2 sampel.

5. Timbang piknometer (dalam keadaan kosong).

6. Isi piknometer dengan aquades, lalu timbang piknometer yang berisi aquades tersebut, tuangkan kembali aquades apabila sudah ditimbang.

7. Masukkan pasir kondisi SSD sebanyak 500 gram tadi ke dalam piknometer, lalu tambahkan aquades, kocok selama ± 5 menit.

8. Diamkan selama 24 jam untuk mengeluarkan gelembung udara didalamnya.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan 9. Setelah 24 jam, timbang piknometer + pasir
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan 9. Setelah 24 jam, timbang piknometer + pasir

9. Setelah 24 jam, timbang piknometer + pasir + aquades.

10. Timbang talang (wadah) kosong

11. Tuangkan pasir dari piknometer ke dalam talang (wadah) tersebut lalu oven selama 24 jam.

12. Keluarkan sampel dari oven, dinginkan lalu timbang untuk mendapatkan berat kering.

Dilakukan seperti gambar dibawah ini ;

berat kering. Dilakukan seperti gambar dibawah ini ; Mengeringkan agregat halus sampai kondisi tercurah dengan
berat kering. Dilakukan seperti gambar dibawah ini ; Mengeringkan agregat halus sampai kondisi tercurah dengan

Mengeringkan agregat halus sampai kondisi tercurah dengan baik

Sebagian dari contoh dimasukan dalam metal sand cone mold. Benda uji dipadatkan dengan tongkat pemadat (tamper). Jumlah tumbukan adalah 25 kali. Kondisi SSD diperoleh, jika cetakan diangkat, butir-butir pasir longsor/runtuh

Mengisi piknometer dengan air, kemudian menimbangnya

Mengisi piknometer dengan air, kemudian menimbangnya Menimbang benda uji yang telah dikeringkan Menimbang berat
Mengisi piknometer dengan air, kemudian menimbangnya Menimbang benda uji yang telah dikeringkan Menimbang berat

Menimbang benda uji yang telah dikeringkan

menimbangnya Menimbang benda uji yang telah dikeringkan Menimbang berat pikno+contoh Memisahkan benda uji dari
menimbangnya Menimbang benda uji yang telah dikeringkan Menimbang berat pikno+contoh Memisahkan benda uji dari
menimbangnya Menimbang benda uji yang telah dikeringkan Menimbang berat pikno+contoh Memisahkan benda uji dari
menimbangnya Menimbang benda uji yang telah dikeringkan Menimbang berat pikno+contoh Memisahkan benda uji dari

Menimbang berat

pikno+contoh

Memisahkan benda uji dari piknometeruji yang telah dikeringkan Menimbang berat pikno+contoh Mengeringkan benda uji pada suhu (213-230) F dalam waktu

berat pikno+contoh Memisahkan benda uji dari piknometer Mengeringkan benda uji pada suhu (213-230) F dalam waktu

Mengeringkan benda uji pada suhu (213-230) F dalam waktu 24 jam

benda uji pada suhu (213-230) F dalam waktu 24 jam Sebanyak 500 gr pasir dalam kondisi

Sebanyak 500 gr pasir dalam kondisi SSD dimasukkan dalam piknometer berisi air digoyangkan lalu didiamkan selama 24 jam

D. ANALISA PERHITUNGAN

Apparent spesific gravity

Bulk spesific gravity on dry basic

=

=

E

E + D – C

E

B + D – C

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Bulk spesific gravity SSD basic = B B
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Bulk spesific gravity SSD basic = B B

Bulk spesific gravity SSD basic

=

B

B + D – C

Absorption (penyerapan)

Dimana :

=

B – E

E

A berat flask (gram)

B berat contoh kondisi SSD di udara (gram)

C berat flask + air + contoh SSD (gram)

D berat flask + air (standar)

E berat contoh kering di udara (gram)

=

=

=

=

=

X 100%

E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk tabel

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 2.3. BERAT VOLUME AGREGAT HALUS (PASIR) A.
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 2.3. BERAT VOLUME AGREGAT HALUS (PASIR) A.

PERCOBAAN

2.3.

BERAT VOLUME AGREGAT HALUS (PASIR)

A. TUJUAN PERCOBAAN Untuk menentukan berat isi/volume agregat halus (pasir) baik dalam kondisi lepas maupun kondisi padat.

B. ALAT DAN BAHAN

1. Agregat halus (pasir)

2. Kontainer/wadah baja

3. Timbangan dengan ketelitian 0.1 % dari berat contoh

4. Tongkat pemadat diameter 15 mm, panjang 60 cm yang ujungnya bulat, terbuat dari baja tahan karat

C. PROSEDUR PERCOBAAN

Kondisi Lepas

1. Ukur volume kontainer.

2. Timbang kontainer dalam keadaan kosong.

3. Isi kontainer dengan pasir sampai penuh.

4. Ratakan permukaan kontainer dengan alat perata.

5. Timbang berat kontainer + pasir.

Kondisi Padat

1. Ukur volume kontainer.

2. Timbang berat kontainer

3. Masukkan agregat halus (pasir) ke dalam kontainer ± 1/3 bagian lalu tumbuk dengan tongkat pemadat sebanyak 25 kali.

4. Ulangi prosedur (3) untuk lapis ke-2.

5. Untuk lapisan terakhir, masukkan agregat hingga melebihi permukaan atas kontainer lalu tusuk kembali sebanyak 25 kali.

6. Ratakan permukaannya dengan alat perata.

7. Timbang berat kontainer + pasir.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Lakukan prosedur percobaan diatas seperti gambar dibawah ini
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Lakukan prosedur percobaan diatas seperti gambar dibawah ini

Lakukan prosedur percobaan diatas seperti gambar dibawah ini ;

Persiapan bahan

diatas seperti gambar dibawah ini ; Persiapan bahan Masukkan Agregat ke dalam talam Siapkan agregat secukupnya

Masukkan Agregat ke dalam talam

ini ; Persiapan bahan Masukkan Agregat ke dalam talam Siapkan agregat secukupnya Talam diisi agregat sebanyak

Siapkan agregat

secukupnya

Masukkan Agregat ke dalam talam Siapkan agregat secukupnya Talam diisi agregat sebanyak kapasitas wadah baja silinder

Talam diisi agregat sebanyak kapasitas wadah baja silinder

Talam diisi agregat sebanyak kapasitas wadah baja silinder Agregat dikeringkan dengan oven pada suhu (110+5) C

Agregat dikeringkan dengan oven pada suhu (110+5) C sampai berat menjadi tetap

Berat isi dalam kondisi lepas

C sampai berat menjadi tetap Berat isi dalam kondisi lepas Wadah ditimbang pada timbangan dengan ketelitian

Wadah ditimbang

pada timbangan

dengan ketelitian

0.1% (W1)

Wadah ditimbang pada timbangan dengan ketelitian 0.1% (W1) Meratakan benda uji dengan mistar perata Menyiapkan wadah
Meratakan
Meratakan

benda uji

dengan mistar

perata

0.1% (W1) Meratakan benda uji dengan mistar perata Menyiapkan wadah baja kosong Menimbang berat wadah +

Menyiapkan

wadah baja

kosong

benda uji dengan mistar perata Menyiapkan wadah baja kosong Menimbang berat wadah + benda uji (W2),

Menimbang berat wadah + benda uji (W2), jadi didapat berat benda uji

(W3=W2-W1)

+ benda uji (W2), jadi didapat berat benda uji (W3=W2-W1) Benda uji yang sudah di oven

Benda uji yang sudah di oven dimasukkan kedalam wadah dengan hati-hati agar tidak terjadi pemisahan butiran, dari ketinggian 5 cm di atas wadah sampai penuh

Berat isi dalam kondisi Padat

cm di atas wadah sampai penuh Berat isi dalam kondisi Padat Meratakan benda uji dengan mistar
Meratakan
Meratakan

benda uji

dengan mistar

perata

dalam kondisi Padat Meratakan benda uji dengan mistar perata Wadah telah terisi oleh 3 lapis benda

Wadah telah terisi oleh 3 lapis benda uji yang masing- masing telah ditumbuk 25 kali

3 lapis benda uji yang masing- masing telah ditumbuk 25 kali Menyiapkan wadah baja kosong Wadah

Menyiapkan

wadah baja

kosong

masing telah ditumbuk 25 kali Menyiapkan wadah baja kosong Wadah ditimbang pada timbangan dengan ketelitian 0.1%

Wadah ditimbang

pada timbangan

dengan ketelitian

0.1% (W1)

Wadah ditimbang pada timbangan dengan ketelitian 0.1% (W1) Menimbang berat wadah + benda uji (W2), jadi

Menimbang berat wadah + benda uji (W2), jadi didapat berat benda uji (W3=W2-W1)

+ benda uji (W2), jadi didapat berat benda uji (W3=W2-W1) 1/3 h wadah Mengisi wadah dengan

1/3 h

wadah

Mengisi wadah dengan benda uji dengan 3 lapis yang sama tebal. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat, ditusukkan 25 kali secara merata setiap lapisnya

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan D. ANALISA PERHITUNGAN   W 2 - W
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan D. ANALISA PERHITUNGAN   W 2 - W

D. ANALISA PERHITUNGAN

 

W 2

-

W 1

Berat volume agregat

=

 

V

Dimana :

W 1

W 2

=

=

berat kontainer (kg)

berat

kontainer + pasir (kg)

E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk tabel.

V

=

volume kontainer (cm 3 )

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 2.4. KADAR AIR AGREGAT HALUS (PASIR) A.
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 2.4. KADAR AIR AGREGAT HALUS (PASIR) A.

PERCOBAAN

2.4.

KADAR AIR AGREGAT HALUS (PASIR)

A. TUJUAN PERCOBAAN Untuk menentukan kadar air agregat halus (pasir) dengan cara pengeringan. Kadar air agregat adalah perbandingan antara berat air yang dikandung agregat dalam keadaan kering. Percobaan ini digunakan untuk menyesuaikan berat kadar air beton apabila terjadi perubahan kadar kelembaban beton.

B. ALAT DAN BAHAN

1. Pasir 2000 gram

2. Timbangan dengan ketelitian 0.1 % dari berat contoh

3. Talang (wadah)

4. Oven

C. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Timbang talang kosong yang digunakan.

2. Pasir ditimbang untuk memperoleh berat basah (kondisi lapangan).

3. Setelah itu dioven selama 24 jam dengan suhu 100 0 C.

4. Setelah ± 24 jam, dinginkan lalu timbang kembali untuk mendapatkan berat kering.

Dilakukan percobaan seperti gambar dibawah ini ;

kering. Dilakukan percobaan seperti gambar dibawah ini ; Menimbang dan mencatat berat talam (W1) Memasukan benda

Menimbang dan

mencatat berat

talam (W1)

gambar dibawah ini ; Menimbang dan mencatat berat talam (W1) Memasukan benda uji ke dalam talam

Memasukan benda uji ke dalam talam yang telah ditimbang

(W2)

Memasukan benda uji ke dalam talam yang telah ditimbang (W2) Hitung berat benda uji (W3=W2-W1) Benda

Hitung berat

benda uji

(W3=W2-W1)

yang telah ditimbang (W2) Hitung berat benda uji (W3=W2-W1) Benda uji dioven sampai mencapai bobot tetap

Benda uji dioven sampai mencapai bobot tetap

uji (W3=W2-W1) Benda uji dioven sampai mencapai bobot tetap Setelah kering benda uji ditimbang (W4) lalu

Setelah kering benda uji ditimbang (W4) lalu dihitung berat kering (W5)

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 2.5. KADAR LUMPUR AGREGAT HALUS (PASIR) A.
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 2.5. KADAR LUMPUR AGREGAT HALUS (PASIR) A.

PERCOBAAN

2.5.

KADAR LUMPUR AGREGAT HALUS (PASIR)

A. TUJUAN PERCOBAAN Untuk mengetahui kadar lumpur (lempung) pada pasir dengan cara pencucian.

B. ALAT DAN BAHAN

1. Pasir dengan berat kering 1000 gram

2. Talang (wadah)

3. Oven

4. Timbangan dengan ketelitian 0.1 % dari berat contoh

5. Aquades

6. Saringan no. 200

C. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Oven pasir sebanyak 1000 gram selama 24 jam.

2. Setelah 24 jam timbang kembali pasir tersebut untuk mendapatkan berat kering.

3. Setelah ditimbang cucilah pasir dengan cara :

a. Masukkan kedalam saringan no. 200 dan diberi air pencuci secukupnya, sehingga benda uji terendam.

b. Guncang-guncangkan saringan tadi selama ± 5 menit.

c. Ulangi prosedur 3a dan 3b diatas, hingga air pencuci menjadi jernih (lumpur

hilang).

4. Setelah dicuci dikeringkan lagi dengan oven selama 24 jam dengan suhu 100 o C.

5. Setelah dioven, timbang kembali pasir tersebut untuk mendapatkan berat kering.

D. ANALISA PERHITUNGAN

Kadar lumpur

=

(A – B)

B

X

100%

Dimana :

A berat kering sebelum dicuci (gram)

B berat kering setelah dicuci (gram)

=

=

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan BAB III PERCOBAAN AGREGAT KASAR ( KERIKIL )
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan BAB III PERCOBAAN AGREGAT KASAR ( KERIKIL )

BAB III

PERCOBAAN AGREGAT KASAR ( KERIKIL )

PERCOBAAN 3.1.

ANALISA SARINGAN / GRADASI AGREGAT KASAR (KERIKIL)

A. TUJUAN PERCOBAAN Untuk mengetahui susunan butir agregat kasar dari yang besar sampai halus untuk keperluan desain beton.

B. ALAT DAN BAHAN

1. Mesin pengguncang saringan (sieve shaker)

2. Saringan untuk agregat kasar dengan ukuran; 37,5; 25,4; 19,05; 9,60; 4,75.

3. Pan dan cover

4. Timbangan

5. Oven

6. Kerikil 1000 gram

C. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Ambil contoh agregat dengan cara perempat sebanyak 1000 gram.

2. Oven selama 24 jam.

3. Timbang agregat kering oven sebanyak 1000 gr. Kondisi suhu kamar.

4. Timbang saringan satu persatu, lalu susun menurut ukuran saringan. Mulai dari pan, lubang saringan terkecil dan seterusnya sampai lubang saringan terbesar.

5. Masukkan benda uji pada saringan teratas kemudian tutup. Pasang saringan pada mesin saringan lalu hidupkan motor pengguncang selama 15 menit.

6. Biarkan selama 5 menit untuk memberi kesempatan debu-debu mengendap.

7. Buka saringan tersebut, kemudian timbang masing-masing saringan beserta isinya.

8. Hitung berat agregat yang tertahan pada masing-masing saringan.

9. Hitung persentase berat tertahan, kumulatifkan untuk mendapatkan faktor kehalusan.

10. Hitung persentase lolos.

11. Plot ke dalam grafik hasil perhitungan lolos.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Prosedur pelaksanaan seperti gambar dibawah ini ; Agregat
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Prosedur pelaksanaan seperti gambar dibawah ini ; Agregat

Prosedur pelaksanaan seperti gambar dibawah ini ;

Selatan Prosedur pelaksanaan seperti gambar dibawah ini ; Agregat sebelum dioven Memasukkan agregat ke dalam talam

Agregat sebelum dioven

seperti gambar dibawah ini ; Agregat sebelum dioven Memasukkan agregat ke dalam talam Agregat dikeringkan dengan
seperti gambar dibawah ini ; Agregat sebelum dioven Memasukkan agregat ke dalam talam Agregat dikeringkan dengan

Memasukkan agregat ke dalam talam

; Agregat sebelum dioven Memasukkan agregat ke dalam talam Agregat dikeringkan dengan oven pada suhu (110+5)

Agregat dikeringkan dengan oven pada suhu (110+5) 0 C sampai berat menjadi tetap

oven pada suhu (110+5) 0 C sampai berat menjadi tetap Memasukkan benda uji yang sudah dioven

Memasukkan benda uji yang sudah dioven ke dalam saringan (berat contoh harus sesuai dengan tabel saringan)

saringan (berat contoh harus sesuai dengan tabel saringan) Menyiapkan perangkat saringan agregat yang sudah disusun

Menyiapkan

perangkat saringan

agregat yang

sudah disusun

berdasarkan no.

saringan

saringan agregat yang sudah disusun berdasarkan no. saringan Saringan + benda uji digoyang dengan mesin selama

Saringan + benda uji digoyang dengan mesin selama 15 menit

Saringan + benda uji digoyang dengan mesin selama 15 menit Benda uji yang tertahan pada tiap

Benda uji yang tertahan pada tiap no. saringan dituangkan ke talam

uji yang tertahan pada tiap no. saringan dituangkan ke talam Benda uji + talam ditimbang, lalu
uji yang tertahan pada tiap no. saringan dituangkan ke talam Benda uji + talam ditimbang, lalu

Benda uji + talam ditimbang, lalu dihitung berat benda uji tersebut

D. ANALISA PERHITUNGAN

% tinggal kumulatif ≥ saringan 0,15 mm

F kerikil

=

dimana :

F kerikil

=

100

modulus kehalusan kerikil

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk table
KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk table

E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk table

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 3.2. BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AGREGAT KASAR
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 3.2. BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AGREGAT KASAR

PERCOBAAN

3.2.

BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AGREGAT KASAR (KERIKIL)

A. TUJUAN PERCOBAAN Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan bulk apparent spesific gravity dan absorbsi dari agregat kasar (kerikil) menurut ASTM C-128.

B. ALAT DAN BAHAN

1. Kerikil 1500 gram

2. Talang (wadah)

3. Aquades

4. Piknometer berkapasitas 500 mililiter

5. Lap kain

6. Timbangan

7. Keranjang besi

8. Oven

C. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Ambil kerikil sebanyak 1500 gram.

2. Rendam selama ± 24 jam.

3. Setelah ± 24 jam, keringkan kerikil hingga mencapai keadaan kering permukaan (SSD).

4. Timbang kondisi SSD sebanyak 1500 gram di udara.

5. Timbang keranjang kosong dalam air.

6. Timbang keranjang + sampel SSD dalam air.

7. Keluarkan sampel dari keranjang lalu dikeringkan permukaan sampel (agregat kasar) dengan kain lap dan oven selama ± 24 jam.

8. Keluarkan sampel dari oven, dinginkan lalu timbang untuk mendapatkan berat kering.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Percobaan dilakukan seperti gambar dibawah ini ; Menghitung
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Percobaan dilakukan seperti gambar dibawah ini ; Menghitung

Percobaan dilakukan seperti gambar dibawah ini ;

Selatan Percobaan dilakukan seperti gambar dibawah ini ; Menghitung berat benda uji di dalam air Menyiapkan

Menghitung berat benda uji di dalam air

gambar dibawah ini ; Menghitung berat benda uji di dalam air Menyiapkan benda uji berupa agregat

Menyiapkan

benda uji

berupa agregat

kasar

uji di dalam air Menyiapkan benda uji berupa agregat kasar Merendam benda uji selama 24 jam,

Merendam benda uji selama 24 jam, setelah itu keringkan benda uji dengan handuk dan ditimbang

setelah itu keringkan benda uji dengan handuk dan ditimbang Keringkan benda uji di oven pada temp
setelah itu keringkan benda uji dengan handuk dan ditimbang Keringkan benda uji di oven pada temp

Keringkan benda uji di oven pada temp (212- 130) F

ditimbang Keringkan benda uji di oven pada temp (212- 130) F D. ANALISA PERHITUNGAN   C

D. ANALISA PERHITUNGAN

 

C

Apparent spesific gravity

=

 

C

-

B

 

C

Bulk spesific gravity on dry basic

=

 

A

-

B

A

Bulk spesific gravity SSD basic

=

 

A

-

B

A

-

C

Absorption (penyerapan)

=

X 100%

 

C

 

Dimana :

A berat contoh kondisi SSD di udara (gram)

B berat contoh kondisi SSD dalam air (gram)

C berat contoh kering di udara (gram)

=

=

=

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk table Nomor
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk table Nomor

E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk table

Nomor contoh

     

Berat contoh kering oven

A

1465

1465

Berat contoh jenuh air, kering permukaan

B

1500

1500

Berat contoh dalam air

C

924

929

berat jenis bulk kering oven

A/(B-C)

2,543

2,566

 

rata-rata

2,555

berat jenis bulk jenuh air, kering permukaan

B/(B-C)

2,604

2,627

 

rata-rata

2,616

Berat jenis semu

A/(A-C)

2,708

2,733

 

rata-rata

2,721

 

(B-A)/A x

   

Penyerapan air

100%

2,389

2,389

 

rata-rata

2,389

F. KESIMPULAN

Hasil pengamatan berat jenis agregat kasar sebagai berikut ;

Berat jenis Semu

= 2,721%

Berat Bulk Kering Oven

= 2,555%

Berat Jenis Bulk Jenuh Air, Kering Permukaan

= 2,616%

Penyerapan Air

= 2,389%

Dari hasil diatas maka dapat disimpulkan bahwa agregat tersebut dapat memenuhi

spesifikasi agregat beton menurut ASTM yaitu 1.60 – 3.20 % sedangkan untuk penyerapan adalah 0.20 – 4.00 %

Asisten

beton menurut ASTM yaitu 1.60 – 3.20 % sedangkan untuk penyerapan adalah 0.20 – 4.00 %

Zulham S Lambado

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 3.3. BERAT VOLUME AGREGAT KASAR (KERIKIL) A.
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 3.3. BERAT VOLUME AGREGAT KASAR (KERIKIL) A.

PERCOBAAN

3.3.

BERAT VOLUME AGREGAT KASAR (KERIKIL)

A. TUJUAN PERCOBAAN Untuk menentukan berat isi / volume agregat kasar (kerikil) baik dalam kondisi lepas maupun kondisi padat.

B. ALAT DAN BAHAN

1. Agregat kasar (kerikil)

2. Kontainer

3. Timbangan

4. Tongkat pemadat

C. PROSEDUR PERCOBAAN

Kondisi Lepas

1. Ukur volume kontainer.

2. Timbang kontainer dalam keadaan kosong.

3. Isi kontainer dengan kerikil sampai penuh.

4. Ratakan permukaan kontainer dengan alat perata.

5. Timbang berat kontainer + kerikil.

Kondisi Padat

1. Ukur volume kontainer.

2. Timbang berat kontainer

3. Masukkan agregat kasar (kerikil) ke dalam kontainer ± 1/3 bagian lalu tumbuk dengan tongkat pemadat sebanyak 25 kali.

4. Ulangi prosedur (3) untuk lapis ke-2.

5. Untuk lapisan terakhir, masukkan agregat hingga melebihi permukaan atas kontainer lalu tusuk kembali sebanyak 25 kali.

6. Ratakan permukaannya dengan alat perata.

7. Timbang berat kontainer + kerikil.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Prosedur pekerjaan dilakukan seperti gambar dibawah ini; a.
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan Prosedur pekerjaan dilakukan seperti gambar dibawah ini; a.

Prosedur pekerjaan dilakukan seperti gambar dibawah ini;

a. Pada Kondisi Lepas

dilakukan seperti gambar dibawah ini; a. Pada Kondisi Lepas Benda uji yang sudah di oven dimasukkan

Benda uji yang sudah di oven dimasukkan kedalam wadah dengan hati-hati agar tidak terjadi pemisahan butiran, dari ketinggian 5 cm di atas wadah sampai penuh

Meratakan
Meratakan

benda uji

dengan mistar

perata

wadah sampai penuh Meratakan benda uji dengan mistar perata Menyiapkan wadah baja kosong Wadah ditimbang pada

Menyiapkan

wadah baja

kosong

benda uji dengan mistar perata Menyiapkan wadah baja kosong Wadah ditimbang pada timbangan dengan ketelitian 0.1%

Wadah ditimbang

pada timbangan

dengan ketelitian

0.1% (W1)

Wadah ditimbang pada timbangan dengan ketelitian 0.1% (W1) Menimbang berat wadah + benda uji (W2), jadi

Menimbang berat wadah + benda uji (W2), jadi didapat berat benda uji

(W3=W2-W1)

+ benda uji (W2), jadi didapat berat benda uji (W3=W2-W1) b. Pada Kondisi Padat Meratakan benda

b. Pada Kondisi Padat

didapat berat benda uji (W3=W2-W1) b. Pada Kondisi Padat Meratakan benda uji dengan mistar perata Wadah
Meratakan
Meratakan

benda uji

dengan mistar

perata

Pada Kondisi Padat Meratakan benda uji dengan mistar perata Wadah telah terisi oleh 3 lapis benda

Wadah telah terisi oleh 3 lapis benda uji yang masing- masing telah ditumbuk 25 kali

3 lapis benda uji yang masing- masing telah ditumbuk 25 kali Menyiapkan wadah baja kosong Wadah

Menyiapkan

wadah baja

kosong

masing telah ditumbuk 25 kali Menyiapkan wadah baja kosong Wadah ditimbang pada timbangan dengan ketelitian 0.1%

Wadah ditimbang

pada timbangan

dengan ketelitian

0.1% (W1)

Wadah ditimbang pada timbangan dengan ketelitian 0.1% (W1) Menimbang berat wadah + benda uji (W2), jadi

Menimbang berat wadah + benda uji (W2), jadi didapat berat benda uji (W3=W2-W1)

+ benda uji (W2), jadi didapat berat benda uji (W3=W2-W1) 1/3 h wadah Mengisi wadah dengan

1/3 h

wadah

Mengisi wadah dengan benda uji dengan 3 lapis yang sama tebal. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat, ditusukkan 25 kali secara merata setiap lapisnya

D. ANALISA PERHITUNGAN

 

W 2

-

W 1

Berat volume agregat

=

 

V

Dimana :

W 1

W 2

=

=

berat kontainer (kg) berat kontainer + kerikil (kg)

V

=

volume kontainer (cm 3 )

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk tabel
KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk tabel

E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk tabel

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan F. KESIMPULAN Hasil pengamatan berat volume kerikil dalam
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan F. KESIMPULAN Hasil pengamatan berat volume kerikil dalam

F.

KESIMPULAN Hasil pengamatan berat volume kerikil dalam kondisi lepas dan kondisi padat dirata- ratakan maka didapat hasil sebesar 1,472 kg/liter maka dapat memenuhi spesifikasi agregat beton menurut ASTM yaitu 1,60 – 1,90 kg/liter.

Asisten

maka dapat memenuhi spesifikasi agregat beton menurut ASTM yaitu 1,60 – 1,90 kg/liter. Asisten Zulham S

Zulham S Lambado

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 3.4. KADAR AIR AGREGAT KASAR (KERIKIL) A.
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 3.4. KADAR AIR AGREGAT KASAR (KERIKIL) A.

PERCOBAAN

3.4.

KADAR AIR AGREGAT KASAR (KERIKIL)

A. TUJUAN PERCOBAAN Untuk menentukan kadar air agregat kasar (kerikil) dengan cara pengeringan. Kadar air agregat adalah perbandingan antara berat air yang dikandung agregat dalam keadaan kering. Percobaan ini digunakan untuk menyesuaikan berat kadar air beton apabila terjadi perubahan kadar kelembaban beton.

B. ALAT DAN BAHAN

1. Kerikil 2000 gram

2. Timbangan

3. Talang (wadah)

4. Oven

C. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Timbang talang kosong yang digunakan.

2. Kerikil ditimbang untuk memperoleh berat basah (kondisi lapangan).

3. Setelah itu dioven selama 24 jam dengan suhu 100 o C.

4. Setelah ± 24 jam, dinginkan lalu timbang kembali untuk mendapatkan berat kering.

Prosedur pelaksanaannya seperti gambar dibawah ini ;

kering. Prosedur pelaksanaannya seperti gambar dibawah ini ; Menimbang dan mencatat berat talam (W1) Memasukan benda

Menimbang dan

mencatat berat

talam (W1)

gambar dibawah ini ; Menimbang dan mencatat berat talam (W1) Memasukan benda uji ke dalam talam

Memasukan benda uji ke dalam talam yang telah ditimbang

(W2)

Memasukan benda uji ke dalam talam yang telah ditimbang (W2) Hitung berat benda uji (W3=W2-W1) Benda

Hitung berat

benda uji

(W3=W2-W1)

yang telah ditimbang (W2) Hitung berat benda uji (W3=W2-W1) Benda uji dioven sampai mencapai b o

Benda uji dioven sampai mencapai bobot tetap

uji dioven sampai mencapai b o b o t t e t a p Setelah kering

Setelah kering benda uji ditimbang (W4) lalu dihitung berat kering (W5)

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan D. ANALISA PERHITUNGAN C – D Kadar air
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan D. ANALISA PERHITUNGAN C – D Kadar air

D. ANALISA PERHITUNGAN C – D

Kadar air (%)

=

C

X

100%

Dimana :

C berat basah (kondisi lapangan)

D berat kering (setelah dioven)

=

=

E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk table

Nomor contoh

 

1

2

Berat contoh

(gr)

A

1000

1000

Berat contoh kering oven

(gr)

B

995

990

   

(A-B)/Ax100%

0,5

1,0

Kadar Air

(%)

rata-rata

0,75

F. KESIMPULAN Hasil pengamatan kadar air agregat kasar sebesar 0,75%, dapat memenuhi spesifikasi agregat beton menurut ASTM yaitu 0,5% - 2,0%.

Asisten

kasar sebesar 0,75%, dapat memenuhi spesifikasi agregat beton menurut ASTM yaitu 0,5% - 2,0%. Asisten Zulham

Zulham S Lambado

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 3.5. KADAR LUMPUR \ AGREGAT KASAR (KERIKIL)
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 3.5. KADAR LUMPUR \ AGREGAT KASAR (KERIKIL)

PERCOBAAN

3.5.

KADAR LUMPUR \ AGREGAT KASAR (KERIKIL)

A. TUJUAN PERCOBAAN Untuk mengetahui kadar lumpur ( lempung ) pada agregat kasar ( kerikil ).

B. ALAT DAN BAHAN

1. Kerikil 500 gram

2. Talang (wadah)

3. Oven

4. Timbangan

5. Aquades

6. Saringan no.4 dan no. 200

C. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Oven kerikil sebanyak 500 gram selama 24 jam.

2. Setelah 24 jam, timbang kembali kerikil tersebut untuk mendapatkan berat kering.

3. Setelah ditimbang cucilah kerikil dengan cara :

a. Masukkan kedalam saringan no. 4 dan no. 200 dan diberi air pencuci secukupnya, sehingga benda uji terendam.

b. Guncang-guncangkan saringan tadi selama ± 5 menit.

c. Ulangi prosedur 3a dan 3b diatas, hingga air pencuci menjadi jernih (lumpur

hilang).

4. Setelah dicuci dikeringkan lagi dengan oven selama 24 jam dengan suhu 100 o C.

5. Setelah dioven, timbang kembali kerikil tersebut untuk mendapatkan berat kering.

D. ANALISA PERHITUNGAN (A – B)

Kadar lumpur

Dimana :

=

A

X

100%

A berat kering sebelum dicuci (gram)

B berat kering setelah dicuci (gram)

=

=

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk table Nomor
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk table Nomor

E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk table

Nomor contoh

 

1

2

Berat contoh kering sebelum di cuci

A

500

500

Berat contoh kering setelah di cuci

B

498

495

 

(A-

   

Kadar Lumpur

B)/Ax100%

0,4

1,0

rata-rata

0,7

F. KESIMPULAN Dari Hasil pengamatan didapat kadar lumpur agregat kasar yaitu 0,70%, sesuai dengan spesifikasi agregat beton menurut ASTM yaitu 0,2% - 1,0%, maka kadar lumpur agregat kasar (kerikil) dapat memenuhi spesifikasi agregat beton.

Asisten

- 1,0%, maka kadar lumpur agregat kasar (kerikil) dapat memenuhi spesifikasi agregat beton. Asisten Zulham S

Zulham S Lambado

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 3.6 PEMERIKSAAN ABRASI/KEAUSAN A. TUJUAN PERCOBAAN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PERCOBAAN 3.6 PEMERIKSAAN ABRASI/KEAUSAN A. TUJUAN PERCOBAAN

PERCOBAAN

3.6

PEMERIKSAAN ABRASI/KEAUSAN

A. TUJUAN PERCOBAAN Untuk mengetahui keausan agregat kasar ( kerikil ) yang diakibatkan oleh faktor-faktor mekanis.

B. ALAT DAN BAHAN

1. Mesin Los Angeles Abrassion Machine

2. Talang (wadah)

3. Bola baja 8 buah

4. Pan

5. Saringan no. 12

6. Kerikil 5000 gr

7. Timbangan dengan ketelitian 0.1 % dari berat contoh

C. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Ambil benda uji (kerikil) yang akan diperiksa, lalu cuci sampai bersih.

2. Keringkan dalam oven selama 24 jam pada suhu 110 o C.

3. Ambil sampel sebanyak 5000 gram.

4. Masukkan sampel pada drum abrasi beserta bola baja.

5. Tutup kembali drum abrasi.

6. Atur angka pada counter sesuai jumlah putaran yang diinginkan.

7. Tekan tombol start, sehingga drum berputar.

8. Setelah drum berhenti, pasang talang dibawah drum.

9. Buka tutup tekan tombol inching sehingga drum terbalik, sehingga agregat dan bola baja tertampung pada talang.

10. Saring agregat dengan saringan no. 12 dan agregat yang tertahan dicuci sampai bersih.

11. Keringkan dengan oven selama 24 jam.

12. Timbang berat keringnya.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan D. ANALISA PERHITUNGAN Keausan = (A – B)
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan D. ANALISA PERHITUNGAN Keausan = (A – B)

D. ANALISA PERHITUNGAN

Keausan

=

(A – B)

A

X

100%

Dimana :

A berat kering setelah dicuci (gram)

B berat kering setelah abrassion test (gram)

=

=

E. DATA PENGAMATAN Terlampir dalam bentuk table

Ukuran Saringan

Contoh ( A )

Contoh ( B )

 
   

Berat tertahan (gr)

Berat tertahan (gr)

Spesifikasi

ASTM

( mm )

Sebelum

Sesudah

Sebelum

Sesudah

3/4" - 1/2"

19,05

2500

955

2500

945

 

1/2" -3/8"

12,70

2500

1495

2500

1360

 

12"

2,36

0

1450

0

1495

 

Jumlah Berat (gr)

5000

3900,00

5000

3800,00

 

Berat Lolos No.12"

1100,00

1200,00

 

K e a u s a n

(%)

 

22

 

24

 

Rata - rata

 

23

< 40 %

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan F. KESIMPULAN Dari hasil pengamatan didapat Keausan/abrasi
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan F. KESIMPULAN Dari hasil pengamatan didapat Keausan/abrasi

F.

KESIMPULAN Dari hasil pengamatan didapat Keausan/abrasi dari agregat kasar sebesar 23,00%, maka dapat memenuhi spesifikasi agregat beton menurut ASTM yaitu <40%.

Asisten

sebesar 23,00%, maka dapat memenuhi spesifikasi agregat beton menurut ASTM yaitu <40%. Asisten Zulham S Lambado

Zulham S Lambado

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan REKAPITULASI HASIL PENGAMATAN AGREGAT KASAR (KERIKIL) NO
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan REKAPITULASI HASIL PENGAMATAN AGREGAT KASAR (KERIKIL) NO

REKAPITULASI HASIL PENGAMATAN AGREGAT KASAR (KERIKIL)

NO

 

Karakteristik

Spesifikasi /

Hasil

Keterangan

Agregat

Interval

Pengamatan

1

Kadar Air

0,5% - 2%

0,75%

Memenuhi

2

Kadar Lumpur

0,2% - 1%

0,70%

Memenuhi

3

Berat Volume

   
 

a.

Kondisi Lepas

1,6 - 1,9 kg/ltr

1,42 kg/ltr

Memenuhi

 

b.

Kondisi Padat

1,6 - 1,9 kg/ltr

1,52 kg/ltr

Memenuhi

4

Berat Jenis Spesifikasi

   
 

a.

Bj. Bulk Kering Oven

1,6 - 3,2%

2,555%

Memenuhi

 

b.

Bj. Bulk SSD

1,6 - 3,2%

2,616%

Memenuhi

 

c.

Bj. Semu

1,6 - 3,2%

2,721%

Memenuhi

 

d.

Penyerapan Air

0,9 - 3%

2,389%

Memenuhi

5

Modulus Keausan

5- 8 %

6,380%

Memenuhi

6

Keausan

< 40%

23,000%

Memenuhi

Asisiten

Laboratorium

8 % 6,380% Memenuhi 6 Keausan < 40% 23,000% Memenuhi Asisiten Laboratorium Zulham S Lambado 52

Zulham S Lambado

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan BAB IV PENGGABUNGAN AGREGAT Umumnya agregat alam maupun
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan BAB IV PENGGABUNGAN AGREGAT Umumnya agregat alam maupun

BAB IV

PENGGABUNGAN AGREGAT

Umumnya agregat alam maupun batu pecah, gradasinya tidak masuk dalam

spesifikasi untuk campuran beton, sehingga diperlukan suatu kombinasi dari beebrapa agregat untuk mendapatkan agregat beton yang gradasinya memenuhi spesifikasi. Ada beberapa cara untuk mendapatkan prosentase masing-masing agregat sehingga membentuk agregat yang gradasinya memenuhi standar (persyaratan) antara lain :

Cara analitis

Cara grafik

Umumnya lengkung gradasi agregat yang belum dikombinasi bersifat cembung sedangkan

yang dikehendaki adalah cekung. Untuk mendapatkan hasil kombinasi yang gradasi gabungannya bersifat cekung maka digunakan standar gabungan yang bersifat cekung.

4.1. CARA ANALITIS

Cara menggabung agregat dengan cara analitis adalah dengan menggunakan rumus penggabungan sebagai berikut :

Dimana :

Y gabungan

a

b

Y

Y

pasir

kerikil

=

=

=

=

=

Untuk

Y gabungan

=

a . Y pasir

+

b . Y kerikil

prosentase lolos gabungan yang sesuai standar spesifikasi

prosentase gabungan dari pasir

prosentase gabungan dari kerikil (100% - a) prosentase lolos pasir dari analisa saringan (laboratorium) prosentase lolos pasir dari analisa saringan (laboratorium)

C,

penggabungan

tiga

macam

agregat

A,

B

dan

penggabungan :

Y gabungan

=

a . Y A

+

b . Y B

+

c . Y C

Dimana :

a

+

b

+

c

= 100%

=

1

maka

rumus

Gabungan antara agregat kasar dengan agregat halus pada umumnya dilakukan dengan batu pecah antara fraksi-fraksi tertentu. Untuk menggunakan rumus diatas, maka dicari nilai a pada tiap lobang ayakan yang standar, disini ada dua nilai yaitu a 1 dan a 2 , dimana :

a 1 = nilai prosentase untuk batas atas dari spesifikasi

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan a 2 = Nilai a 1 dan a
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan a 2 = Nilai a 1 dan a

a 2 =

Nilai a 1 dan a 2 dapat digambarkan secara barchart seperti contoh berikut :

nilai prosentase untuk batas bawah dari spesifikasi

nilai a 1 dan a 2

LOBANG NO. SARINGAN 20% 40% 60% 80% 100% URT. (mm) 1 38,10 2 19,00 3
LOBANG
NO.
SARINGAN
20%
40%
60%
80%
100%
URT.
(mm)
1
38,10
2
19,00
3 4,75
4 0,60
5 0,15
a
a
kn
kr
daerah terbaik

Gambar 2.1 Barchart nilai a 1 dan a 2

Sebagai nilai a diambil rata-rata dari a :

a kn

+

a kr

a

=

2

b 100% - a%

=

4.2. CARA GRAFIS

Mencari prosentase gabungan dengan cara grafis hasilnya agak kasar jika

dibandingkan dengan cara analitis. Cara penggambarannya dapat diuraikan sebagai

berikut :

1.

Gambarkan lengkung gradasi semua agregat yang akan digabungkan, misalnya

agregat A dan B seperti gambar 2.2 berikut ini :

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan GRAFIK GRADASI AGREGAT A B 120 x 100
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan GRAFIK GRADASI AGREGAT A B 120 x 100

GRAFIK GRADASI AGREGAT

A B 120 x 100 80 60 40 x 20 A 0 0,15 0,3 0,6
A
B
120
x
100
80
60
40
x
20
A
0
0,15
0,3
0,6
1,2
2,4
4,75
9,6
% lolos

Ukuran saringan (mm)

x 100 80 60 40 x 20 A 0 0,15 0,3 0,6 1,2 2,4 4,75 9,6

Agregat A

x 100 80 60 40 x 20 A 0 0,15 0,3 0,6 1,2 2,4 4,75 9,6

Agregat B

Gambar 2.2 Grafik penentuan persentase agregat gabungan dengan cara grafis

2. Tarik garis vertikal A-A sedemikian sehingga jarak antara nilai axis y maksimum dan grafik atas sama dengan jarak antara nilai axis y minimum (sumbu X) dan grafik bawah sama panjang.

3. Tarik garis diagonal grafik.

4. Tarik garis horisontal dari perpotongan antara garis vertikal A-A dan garis diagonal hingga membagi dua sumbu Y.

5. Bagian bawah dari sumbu Y adalah nilai a dan bagian atas adalah nilai b.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KHAIRUN Kampus II Gambesi Jl.

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PENGGABUNGAN AGREGAT Rumus :   a 1 =
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PENGGABUNGAN AGREGAT Rumus :   a 1 =
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan PENGGABUNGAN AGREGAT Rumus :   a 1 =

PENGGABUNGAN AGREGAT

Rumus

:

 

a 1 = ( Y izin(1) . Y kerikil ) / ( Y pasir . Y kerikil )

 

a 2 = ( Y izin(2) . Y kerikil ) / ( Y pasir . Y kerikil )

NO.

           

SARINGAN

Y

izin(1)

Y

izin(2)

Y

pasir

Y

kerikil

a

1

a

2

1"

 

100

 

100

100,00

100,00

100,00%

100,00%

3/4"

 

100

 

100

100,00

 

98,48

100,00%

100,00%

3/8"

 

45

 

75

100,00

53,535

-18,37%

46,20%

No. 4