Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS

ILMU PENYAKIT MULUT

PENATALAKSANAAN GEOGRAPHIC TONGUE DISERTAI SCROTAL


TONGUE

Disusun oleh :

Umil Syifa Kuluba (141611101011)

Dosen Pembimbing :

drg. Dyah Indartin Setyowati, M.Kes


Praktikum Putaran IV
Semester genap ajaran 2017/2018

ILMU PENYAKIT MULUT

RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS JEMBER

2018
Laporan Kasus

PENATALAKSAAN GEOGRAPHIC TONGUE DISERTAI SCROTAL


TONGUE

Umil Syifa Kuluba (141611101011)

Pembimbing drg. Dyah Indartin Setyowati, M. Kes


Bagian Ilmu Penyakit Mulut Rumah Sakit Gigi danMulut Universitas Jember
Jln. Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto, Jember
Juli 2018

Abstrak

Pendahuluan : Geographic tongue merupakan kelainan yang bersifat jinak,


melibatkan permukaan dorsal lidah dan ditandai dengan daerah depapilasi dengan
tepi yang jelas dan meninggi berwarna putih kekuningan atau keabu-abuan namun
kadang-kadang dapat memiliki batas tidak jelas. Faktor etiologi geographic
tongue adalah genetik, defisiensi nutrisi, psikologi dan atopi. Kasus : Pasien laki-
laki berumur 23 tahun dengan penampilan klinis terdapat fissure multiple pada
bagian lateral lidah dan dorsum lidah. Pada lidah terdapat pula gambaran atropi
papila, dengan dasar kemerahan, sakit, tepi hiperkeratosis, berbatas jelas.
Kesimpulan : Diagnosa terakhir adalah geographic tongue disertai dengan scrotal
tongue pada lidah. Terapi yang diberikan untuk pasien adalah antiinflamasi
berupa aloclair oral rinse dan multivitamin becomzet.
PENDAHULUAN

Lidah adalah salah satu organ muskular yang dilapisi oleh lapisan epitel
skuamosa. Fungsi utama dari lidah adalah membantu pengunyahan, merasakan
dan berbicara. Bagian dorsum lidah memiliki banyak tonjolan mukosa yang
berbentuk papila, yaitu papila filiformis, fungiformis, sirkumvalata dan foliata.
Papila filiformis berukuran paing keci tetapi memiliki jumlah yang paling banyak.
Papia filiformis memiliki fungsi abrasif saat pengunyahan dan jumalahnya
bertambah seiring bertambahnya usia (Danser dan Weijden, 2003). Papila
fungiformis berjumlah lebih sedikit dan berukuran lebih besar dibandingkan
dengan filiformis. Papila sirkumvalata merupakan papila yang berukuran paling
besar. Papila ini dikelilingi oleh cekungan dan juga memiliki ujung pengecap.
Pada lidah, terdapat 8-12 papilla sirkumvalata (Langlais dan Miller,2002).

Gambaran klinis lidah normal adalah berwarna pink dengan lapisan putih
tipis. Lidah memiliki tingkat oksigen yang rendah sehingga dapat menjadi tempat
berkembangnya bakteri anaerob. Proses pelepasan epitel dari permukaan lidah
terjadi terus menerus, tetapi permukaan dorsum lidah tidak akan lepas dari
keadaan bakteri ( Paritusia dan Budiardjo, 2009).

Gambar 1 Anatomi Lidah


Geographic Tongue

Geographic tongue merupakan kelainan yang bersifat jinak, melibatkan


permukaan dorsal lidah dan ditandai dengan daerah depapilasi dengan tepi yang
jelas dan meninggi berwarna putih kekuningan atau keabu-abuan namun kadang-
kadang dapat memiliki batas tidak jelas. Lesi ini juga dapat terjadi pada
vestibulum bukal dan mukosa labial yang dikenal dengan geographic stomatitis
namun hal tersebut jarang terjadi. Lesi ini dapat menghilang pada suatu daerah
lidah dan dapat muncul kembali di daerah lain dengan sangat cepat, oleh karena
itu lesi ini juga disebut benign migratory glossitis (Greenberg dkk., 2008).

Faktor Etiologi Geographic Tongue

a. Genetik

Telah diyakini bahwa faktor genetik merupakan faktor etiologi primer sedangkan
faktor lain merupakan faktor etiologi sekuder. Separuh dari kasus geographic
tongue dapat dikaitkan dengan faktor keturunan atau herediter yang mempunyai
latar belakang geographic tongue, yang akan diturunkan pada generasi -generasi
berikutnya dengan faktor pencetus adanya kondisi sistemik tertentu (Syafitri,
2002)

b. Defisiensi Nutrisi

Faktor defisiensi nutrisi juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab dari
geographic tongue. Beberapa kondisi seperti defisiensi zat besi, asam folat dan
vitamin B12 dapat mengakibatkan depapilasi lingua dan kondisi ulseratif
(Syafitri,2002)

c. Psikologi

Banyak peneliti yang mencoba menghubungkan geographic tongue dengan


keadaan psikosomatik penderita. Menurut Redman dkk., (1972) mengungkapkan
lesi ini sering ditemukan pada penderita yang dalam keadaan stres, gugup dan
temperamen emosional. Pelajar yang menderita geographic tongue memiliki
kecenderungan untuk mengalami lesi yang lebih parah apabila mereka sedang
dalam kondisi stres emosional daripada mereka dalam keadaan tenang. Diantara
penderita psikiatri terdapat prevalensi geographic tongue enam kali lebih tinggi
pada mereka yang menderita gangguan jiwa daripada diantara pelajar (Pindborg,
1994).

d. Atopi

Geographic tongue merupakan suatu kondisi inflamasi rekuren yang


dikarakteristikkan cenderung mudah teriritasi oleh kontak dengan iritan dari
lingkungan luar seperti panas, makanan, asam dan lain - lain. Menurut Regezzi
dkk, (1999) terjadi peningkatan prevalensi geographic tongue pada pasien atopy
yang mempunyai asma dan rhinitis dimana ada pengaruh dari faktor antigen
HLA-15.

Gambaran Klinis Geographic tongue

Geographic tongue biasanya terdiri dari beberapa daerah yang mengalami


deskuamasi papilla filiformis dan berbentuk lingkaran tak beraturan. Bagian
tengah lesi tersebut kadang - kadang terlihat mengalami inflamasi dan dibatasi
oleh suatu garis tipis berwarna putih kekuning - kuningan. Daerah yang
mengalami inflamasi menjadi merah dan sedikit perih (Regezzi dkk., 1999). Rasa
sakit atau terbakar merupakan salah satu simptom. Hal ini lebih sering terjadi
ketika lesi memiliki komponen inflamasi yang menonjol. Ketidaknyamanan dapat
bertambah ketika memakan makanan yang berbumbu, saos salad, minuman
berkarbonasi atau ketika merokok. Lesi yang menetap dan menimbulkan rasa
sakit pada dorsum lidah ini sangat mengganggu penderita. (Regezi dkk., 1999).
Sumber lain mengatakan geographic tongue tidak memberikan keluhan apapun
pada pasien, walaupun dapat menimbulkan sensasi terbakar ringan pada lidah,
pedih dan sakit ketika memakan makanan pedas atau ketika meminum minuman
berkarbonasi, alkohol serta ketika merokok. Tingkat keparahan keluhan bervariasi
pada waktu yang berbeda, tergantung pada aktivitas penyakit. (Honarmand dkk.,
2013).

Gambar 2 Geographic Tongue

Scrotal / Fissured Tongue

Fissured tongue adalah salah satu variasi normal lidah yang membentuk
celah pada lidah. Penyebab banyaknya fissured tongue termasuk juga adanya
faktor hiposalivasi, diabetes melitus, kandidiasis dan kekurangan vitamin B, yang
dapat berkontribusi dalam perkembangan fissured tongue. Fissured tongue
umumnya terjadi pada penderita sindrom down, acromegaly, psoriasis, sindrom
sjögren dan sindrom Melkersson - Rosenthal yang ditandai oleh fissuring parah,
edema orofacial dan kelumpuhan saraf wajah. Sebagian besar penderita fissured
tongue tidak mengalami gejala, namun gejala seperti nyeri saat makan asam dan
minum dapat terjadi jika celah fissured dalam. Celah tersebut dapat berperan
sebagai tempat penumpukan partikel makanan dan bakteri yang dapat
menyebabkan peradangan di lidah (Asih dkk., 2014)
Gambar 3 Fissured Tongue

Penatalaksanaan

Sebelum dilakukan perawatan, hal yang paling penting adalah untuk


mengedukasi pasien bahwa walaupun kondisi geographic tongue nya kronis atau
merupakan kondisi yang terus-menerus berulang terjadi, geographic tongue
bukanlah suatu penyakit kelainan sel, infeksi, atau penyakit yang menular. Jika
geographic tongue yang timbul tanpa disertai gejala, maka tidak dibutuhkan
perawatan yang lebih lanjut. Tetapi ketika ditemukan adanya geographic tongue
disertai rasa tidak nyaman dan timbulnya sensasi perih di lidah, maka perlu
dihindari faktor-faktor iritannya seperti mengonsumsi makanan pedas, minuman
berkarbonasi, alkohol, stress dan rokok. Untuk pengobatan awal dapat diberikan
vitamin, obat kumur, anti-anxietas, dan anti-inflamasi. Dan jika diperlukan maka
pemberian obat anti-inflamasi non-steroid (NSAIDs) dan topikal kotikosteroid
atau kortikosteroid sistemik bisa menjadi pilihan. Pada beberapa kasus obat
analgesik mungkin perlu diberikan (Honarmand dkk.,2013)
LAPORAN KASUS

Pasien laki-laki berumur 23 tahun, suku Jawa dengan berat badan 69 kg


dan tinggi 170 cm datang ke klinik bagian Oral Medicine RSGM Universitas
Jember pada tanggal 16 Juli 2018 dengan keluhan lidah terasa sakit. Berdasarkan
penjelasan pasien, lidah terasa sakit kurang lebih 4 tahun yang lalu. Lidah terasa
lebih sakit jika memakan makanan yang pedas. Pasien juga melihat lidahnya
berbentuk bercak-bercak putih. Keluhan tersebut belum pernah diobati. Pasien
menyatakan bahwa ayahnya memiliki keluhan yang sama. Pasien saat ini
merasakan banyak pikiran karena sedang menempuh tugas akhir skripsi.

Pemeriksaan ekstraoral tidak ditemukan kelainan. Pemeriksaan intraoral


pasien p8jada mukosa bukal terdapat papula sejajar oklusal dengan tinggi kurang
lebih 2 mm, berwarna pucat, tidak dapat dikerok dan tidak sakit. Pada lidah
terdapat fissure multiple pada bagian lateral lidah dengan kedalaman kurang lebih
2 mm dan dorsum lidah. Pada lidah terdapat pula gambaran atropi papila, dengan
dasar kemerahan, sakit, tepi hiperkeratosis, berbatas jelas.
KONDISI PASIEN SAAT PERTAMA KALI BERKUNJUNG

KE RSGM UNEJ

TANGGAL 16 JULI 2018

Gambar 4 Dosum Lidah Pasien


Gambar 5 Linea Alba Bukalis pada Pasien

PENATALAKSAAN KASUS

Terapi yang diberikan kepada pasien adalah pemberian obat antiinflamasi


aloclair oral rinse dan pemberian multivitamin becomzet dengan kandungan B
complex, vitamin A, C, E, dan Zinc, serta memberikan instruksi-instruksi pada
pasien untuk diterapkan di rumah. Adapun terapi yang dilakukan di RSGM UNEJ
saat kunjungan pertama adalah terapi geographic tongue dengan cara sebagai
berikut :

1. Pasien diinstruksikan untuk berkumur.


2. Mengeringkan daerah kerja dengan tampon atau cotton roll.
3. Dilakukan pengobatan dengan mengoleskan aloclair oral rinse pada daerah
kerja dengan menggunakan cotton roll.
4. Pasien diinstruksikan untuk tidak makan, minum atau berkumur selama
20-30 menit.
Setelah dilakukan terapi diatas, pasien diinstruksikan untuk menggunakan aloclair
oral rinse dan multivitamin sesuai dengan yang dianjurkan, menjagaa kebersihan
rongga mulut, istirahat yang cukup, makan makanan bergizi dan kontrol minggu
kemudian.

KONDISI PASIEN SAAT KONTROL KE RSGM UNEJ TANGGAL 23


JULI 2018

PERBEDAAN PADA SAAT PERTAMA KALI DATANG (GAMBAR B)


DAN SETELAH PERAWATAN 1 MINGGU KEMUDIAN (GAMBAR A)

Gambar B Gambar A
PENATALAKSANAAN PADA SAAT KONTROL

Berdasarkan anamnesa, setelah dilakukan perawatan selama 1 minggu,


bercak-bercak putih berkurang dibandingan dengan 1 minggu lalu, tidak sakit,
aloevera oral rinse masih ada tinggal sedikit dan multivitamin masih ada tinggal
sedikit (3 buah). Pemeriksaan ekstraoral tidak ada abnormalitas. Pemeriksaan
intraoral terdapat atropi papila berbentuk bulat, berbatas jelas, tidak sakit,
hiperkeratosis. Terdapat fissure multiple pada bagian lateral lidah.

Terapi yang diberikan adalah dengan pemberian kembali antiinflamasi


aloevera oral rinse pada lidah dan memberikan instruksi pada pasien untuk
menjaga kebersihan ronggga mulut, menggunakan obat sesuai dengan yang
dianjurkan, istirahat yang cukup dan kontrol 1 minggu kemudian.
PEMBAHASAN

Kasus diatas dapat didiagnosa akhir geographic tongue disertai


scrotal/fissured tongue berdasarkan dari anamnesa, pemeriksaan klinis ektraoral
dan intraoral. Pada pemeriksaan intraoral terdapat lidah fissure multiple pada
bagian lateral lidah dan dorsum lidah. Pada lidah terdapat pula gambaran atropi
papila, dengan dasar kemerahan, sakit, tepi hiperkeratosis, berbatas jelas sehingga
dapat disimpulkan bawa diagnosis pasien adalah geographic tongue dengan
scrotal/fissured tongue.

Faktor predisposisi yang diperkirakan berperan dalam keluhan pasien


adalah stress yang dialami pasien. Hantaran sinyal stres ini menyebabkan
pengeluaran Corticotropin Releasing Factor (CRF) dari hipotalamus. CRF
melalui HPA akan memicu sekresi dan pelepasan hormon lain, yaitu
adrenocorticotropin (ACTH) dari kelenjar pituitary. Hormon ini akan mengikuti
aliran darah dan mencapai kelenjar adrenal serta memicu sekresi hormon stres,
yaitu glukokortikoid (Hokardi, 2013). Glukokortikoid mempunyai peranan
terhadap kompensasi tubuh terhadap stres dengan mempengaruhi kerja sistem
imun (Tarigan, 2003). Efek glukokortikoid dalam sistem imun lebih dahulu
dikenal sebagai imunosupresi dan anti inflamasi. Akan tetapi pada praktek
pengobatan dengan kortikosteroid sebagai imunosupresi dan antiinflamasi sering
mengalami kegagalan. Terdapat sebuah paradigma tentang sel Th1 dan sel Th 2
serta peran besar sel Th terhadap respon imun secara keseluruhan. Paradigma
tersebut telah membuktikan bahwa efek glukokortikoid dapat merubah perilaku
sel Th 1 lebih mengarah ke sel Th 2 (Sulistyani, 2003). Terbentuknya sel Th 2 ini
dapat memproduksi peningkatan glikoprotein IL-4. Peran IL-4 dalam sistem imun
mampu memicu aktivitas dari basofil/mast cell serta memicu produksi IgE oleh
sel plasma yang bertanggung jawab terhadap respon yang sama. Adanya
peningkatan IgE bersama - sama dengan peningkatan aktivitas dari basofil/mast
cell akan menimbulkan gangguan respon imun berupa reaksi hipersensitivitas tipe
anafilaksis. Jaringan yang mengalami hipersensitivitas anafilaksis akan rentan
terhadap berbagai macam jejas serta sel-sel dalam jaringan bisa lisis dengan
sendirinya.
DAFTAR PUSTAKA

Asih, Ayu, Maharani L. Apriasari, Siti Kaidah.2014. Gambaran Klinis Kelainan


Mukosa Rongga Mulut Pada Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Budi
Sejahtera Banjarbaru. Dentino Jurnal Kedokteran Gigi Vol Ii. No 1

Danser M, Gomez dan Weidjen Gdv.2003. Tongue coating and tongue brushing ;
a literature review. J Dent Hygiene

Greenbreg M, Glick M, Ship J. 2008. Burkets Oral Medicine. Ed 12th. India: BC


Deker Inc.

Hokardi, Cindy Aryani. 2013. Pengaruh Stress Akademik Terhadap Kondisi


Jaringan Periodontal dan Kadar Hormon Kortisol dalam Cairan Krevikular
Ginggiva. Tesis. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

Honarmand M, Mollashahi LF, Shirzaiy M, Sehhatpour M. 2013. Geographic


Tongue and Associated Risk Factors among Iranian Dental Patients. Iranian J
Publ Health; 42 (2) 215-219.

Langlais RP dan Miller CC. 2002. Atlas Oral Desease. Lippincott Willian &
Wilkins

Paritusia, Lindi dan Budiardjo, Sarworini. 2009. Penatalaksaan Geographic


Tongue pada Pasien Anak setelah diobati Antituberkulosa. MIKGI vol 11 No 1

Pindborg, J.J. 1994. Atlas Penyakit Mukosa Mulut. Ed 4th. Alih Bahasa : Kartika
Wangsaraharja. Jakarta: Binarupa Aksara

Redman R.S, Shapiro B. L, Gorlin R J. 1972. Hereditary Component in the


Etiology of Benign Migratory Glositis. Amer J Hum Genet 24:124-133, 1972

Regezi, A Joseph. James J Sciuba. 1999. Oral Pathology : Clinical Pathologic


Correlation, 3rd Ed. USA: W.B Saunders Company

Sulistyani, Erna. 2003. "Mekanisme Eksaserbasi Recurrent Aphthous Stomatitis


Yang Dipicu Oleh Stressor Psikologis". Dalam Majalah Kedokteran Gigi Dental
Jurnal Edisi Khusus Temu Ilmiah Nasional II 6-9/8 2003. Surabaya:FKG UNAIR

Syafitri, Nina. 2002. Geographic tongue. Skripsi; Universitas Sumatera.

Tarigan, Citra. 2003. Perbedaan Depresi Pada Pasien Dispepsia Fungsional Dan
Dispepsia Organik. http://www.cerminduniakedokteran.com