Anda di halaman 1dari 10

TUGAS PAPER

PRETEST ORAL MEDICINE

Oleh

Agya Nanda Prasetya


NIM 121611101064

BAGIAN ILMU PENYAKIT MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2018
SOAL PRE-TEST ORAL MEDICINE

1. Berikan 4 contoh kelainan dengan lesi berupa ulser di rongga mulut (tulis diagnosis
lengkapnya)!

2. Kasus 1

Pasien laki-laki umur 13 tahun datang diantar orang tuanya ke klinik oral
medicine dengan keluhan sariawan pada seluruh rongga mulutnya sejak 2 hari yang
lalu. Sebelumnya pasien mengeluh 2 hari demam, nyeri pada seluruh tubuh, tidak
enak makan dan tidak bisa tidur nyenyak. Pasien tidak pernah menderita sariawan
sebelumnya. Sampai sekarang rongga mulutnya masih terasa nyeri.
a) Apa diagnosis klinik pada kasus tersebut?
b) Tuliskan deskripsi lesi yang ada pada kelainan tersebut!
c) Apa etiologi pada kasus tersebut?
d) Jelaskan rencana perawatannya!
e) Tuliskan resepnya!

3. Kasus 2

Pasien datang ke lab. Oral Medicine dengan keluhan rasa nyeri pada
lidahnya yang timbul berulang-ulang. Keadaan tersebut diketahui penderita sejak 2
hari yang lalu. Belum pernah diobati dan sekarang masih sakit.
a) Apa diagnosis klinik pada kasus tersebut?
b) Tuliskan deskripsi lesi yang ada pada kelainan tersebut!
c) Apa etiologi pada kasus tersebut?
d) Jelaskan rencana perawatannya!
e) Tuliskan resepnya!

1
PEMBAHASAN

1. Contoh Lesi Ulseratif di Rongga Mulut


a) Stomatitis Aftosa Rekuren / Reccurent Aphtous Stomatitis (SAR)
Stomatitis aftosa rekuren (SAR) merupakan kondisi ulseratif pada rongga
mulut yang paling umum terjadi. SAR ditandai oleh ulser rekuren, tunggal atau
jamak, nyeri, berbentuk bulat atau oval, ditutupi oleh pseudomembran putih sampai
kuning atau abu-abu, berbatas jelas dan halo erythema (Jurge dkk, 2006).
Secara klinis SAR dibedakan atas minor, mayor, dan herpetiformis. SAR
mayor (periadenitis mucosa necrotica recurrent atau Sutton’s disease) jarang
terjadi (sekitar 10%), tapi paling parah. Ulser SAR mayor berdiameter lebih dari 1
cm, lebih dalam daripada SAR minor dan sering memiliki batas eritema ireguler
yang meninggi. SAR mayor sering terjadi pada mukosa labial, palatum lunak, dan
orofaring. Ulser sembuh dalam 6 minggu dan sering menyebabkan sikatrik. Pada
penderita SAR, kesehatan sistemik dapat terganggu karena kesulitan atau rasa sakit
saat makan dan stres psikologis. Meskipun tidak ada penyebab utama atau
spesifiknya, SAR dapat dikaitkan dengan trauma lokal, stres, alergi makanan,
perubahan hormon, defisiensi nutrisi atau vitamin, predisposisi genetik, disregulasi
imun, infeksi lokal, kelainan sistemik, dan paparan bahan kimia. (Scully dan Porter,
2008).
Penatalaksanaan SAR adalah mengatasi atau menghilangkan faktor
predisposisi dan medikasi topikal seperti steroid topikal dan antiseptik topikal
untuk menghilangkan gejala, selain itu juga dapat diberikan vitamin C3. Steroid
topikal yang diberikan adalah Kenalog in Orabase. Kenalog mengandung
Triamcinolone acetonide, yaitu kortikosteroid sintetik yang memiliki efek anti
inflamasi, anti gatal, dan anti alergi. Kenalog merupakan steroid topikal yang
berfungsi sebagai anti inflamasi yaitu mengurangi peradangan yang berhubungan
dengan lesi inflamasi dan lesi ulseratif oral, serta covering agent yang terdapat pada
kenalog, yaitu orabase yang dapat mengurangi rasa sakit. Pemberian antiseptik
topikal berupa betadin kumur yang mengandung providone iodine. Providone
iodine berfungsi sebagai bakterisida dan dapat menjaga kebersihan mulut.
Pemberian vitamin C secara oral berfungsi dalam pembentukan kolagen. Kolagen

2
merupakan senyawa protein yang mempengaruhi integritas struktur di semua
jaringan ikat sehingga berperan dalam penyembuhan luka. Selain itu, mencegah
infeksi karena dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi, dan
meningkatkan absorpsi serta metabolisme Fe. Vitamin C pada umumnya terdapat
dalam sayur dan buah-buahan (Thantawi dkk., 2014).

b) Behcet’s Disease
Behçet’s Disease (BD) merupakan suatu peradangan multisistem kronis
yang ditandai oleh ulserasi yang hilang timbul pada rongga mulut, alat kelamin,
mata dan umumnya melibatkan sendi, kulit, sistem saraf pusat dan saluran
pencernaan. Behçet’s disease (BD) atau behçet’s syndrome tergolong penyakit
vaskulitis sistemik, karena terjadi keterlibatan pembuluh arteri dan vena di berbagai
organ tubuh. Manifestasi BD dapat terjadi pula pada berbagai sistem organ di
antaranya trombosis, gangguan neurologis (keterlibatan sistem saraf pusat parenkim
dan hipertensi intrakranial), gangguan kardiovaskular (aneurisma arteri dan
vaskulitis pembuluh darah kecil), ulserasi intestinal serta polikondritis. Hingga kini
Etiopatogenesis BD belum jelas dan masih dilakukan penelitian untuk mengetahui
hal ini, namun agen infeksius (infeksi virus dan bakteri), mekanisme imun (proses
autoimun) dan faktor genetik (HLAB*51) dianggap memiliki peran penting dalam
patogenesis BD. Perawatan BD meliputi perawatan lokal, sistemik atau tindakan
bedah. Obat yang diberikan diantaranya kortikosteroid, tetrasiklin, Anti Inflamasi
Non Steroid (AINS), kolkisin, siklosporin A, siklofosfamid, interferon alfa-2a,
metotreksat, antibiotika, talidomid, dapson, levamisol dan pentoxifyline. Tindakan
bedah dilakukan jika timbul aneurisma arteri (Sari dkk, 2008).

c) Traumatic Ulseratif
Ulkus traumatikus didefinisikan sebagai suatu kelainan yang berbentuk
ulkus pada mukosa rongga mulut yang disebabkan oleh paparan trauma. Ulkus
traumatikus merupakan lesi sekunder yang berbentuk ulkus, yaitu hilangnya lapisan
epitelium hingga melebihi membrana basalis dan mengenai lamina propria oleh
karena trauma. Trauma merupakan penyebab tersering terjadinya ulkus pada
membran mukosa. Biasanya pasien dapat memperkirakan kejadian yang

3
menimbulkan ulkus. Pada umumnya ulkus terjadi setelah beberapa kali paparan
trauma (Greenberg, 2008).
Ulkus traumatikus dapat terjadi pada mukosa rongga mulut, antara lain:
pada lidah, bibir, lipatan mukosa bukal (buccal fold), gingiva, palatum, mukosa
labial, mukosa bukal dan dasar mulut, ulkus traumatikus sering terjadi pada mukosa
labial dan bukal karena terletak berdekatan dengan daerah kontak oklusi geligi
sehingga lebih mudah mengalami gigitan pada waktu gerakan pengunyahan. Ulkus
traumatikus tersebut dapat berupa ulkus yang tunggal atau multipel, berbentuk
simetris atau asimetris, ukurannya tergantung dari trauma yang menjadi penyebab,
dan biasanya nyeri. Kebanyakan merupakan keadaan akut, sedangkan lainnya
adalah kronis. Ulkus traumatikus akut memiliki karakter adanya kerusakan pada
mukosa dengan batas tepi eritema dan di tengahnya berwarna putih kekuningan,
serta menimbulkan rasa nyeri. Sedangkan ulkus traumatikus kronis bisa tanpa
disertai rasa nyeri dengan dasar induratif dan tepi yang meninggi. (Sonis dkk.,
2005).
Menurut sumber, penggunaan topikal kortikosteroid dianjurkan untuk
pengobatan terhadap ulserasi pada mukosa mulut. Topikal kortikosteroid berfungsi
sebagai agen anti-inflamasi. Topikal kortikosteroid dapat berupa triamcinolone
acetonide 0,1%, kenalog in orabase, salep hydrocortisone acetate 1% dan salep
bethamethasone dipropionate 0,05% (Regezi dan Sciuba, 2008).

d) Herpes Zooster
Virus herpes simpleks termasuk jenis patogen yang dapat menyesuaikan diri
dengan tubuh host. Ada dua jenis yaitu virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) dan
tipe 2 (HSV-2). Keduanya berkaitan erat tetapi berbeda dalam gambaran
epidemiologinya. HSV-1 dikaitkan dengan penyakit orofacial, sedangkan HSV-2
dikaitkan dengan penyakit genital, namun lokasi lesi tidak selalu menunjukkan
virus type. Sekitar 80% dari infeksi herpes simpleks tidak menunjukkan gejala.
Gejala infeksi dapat dicirikan dengan rekurensi yang sering terjadi dimana pada
host yang immunocompromised, infeksi dapat menyebabkan komplikasi yang
mengancam jiwa (Kusumastuti, 2016).

4
Herpes simpleks virus (HSV) adalah virus DNA yang patogen pada
manusia yang secara intermitten dapat teraktivasi kembali. Setelah replikasi di kulit
atau mukosa, virus menginfeksi ujung saraf lokal dan menuju ke ganglion yang
kemudian menjadi laten hingga teraktivasi kembali. Prevalensi infeksi HSV di
seluruh dunia telah meningkat selama beberapa dekade terakhir, membuatnya
menjadi permasalahan kesehatan masyarakat. Sehingga deteksi dini infeksi herpes
simpleks dan inisiasi awal dari terapi adalah sangat penting dalam pengelolaan
penyakit ini (Kusumastuti, 2016).

2. Kasus Primary Herpetic Gingivostomatitis


Gingivostomatitis Herpetika Primer adalah infeksi yang ditandai dengan
timbulnya luka yang disertai rasa nyeri pada bibir atau bagian lain dari mulut di
sebabkan oleh Herpes Simplex Virus tipe I (HSV tipe I). Umumnya infeksi Herpes
labialis terbagi dalam 4 tahap yang berlangsung selama 2-3 minggu. Tahap pertama
ditandai dengan rasa tidak nyaman, gatal, dan sensasi terbakar di sekitar bibir atau
hidung selama 1-2 hari. Selain itu, gejala tersebut dapat disertai demam dan dengan atau
tanpa pembengkakan kelenjar getah bening di bagian leher (Kusumastuti, 2016).
Ketika masuk tahap kedua, muncul bintik-bintik berisi cairan dalam bentuk
tunggal atau multiple yang seringkali disertai rasa nyeri. Tahap ketiga, bintik-bintik
tersebut akan pecah dan membentuk luka yang basah. Cairan yang keluar dalam vesikel
akan menular pada bagian tubuh atau orang lain yang melakukan kontak langsung
dengan bagian yang terluka. Tahap terakhir ditandai dengan luka yang mulai mengering
dan sembuh. Lesi dapat kambuh kembali secara berulang pada berbagai interval waktu
(Kusumastuti, 2016).
Lebih dari 15-30 persen penderita Gingivostomatitis Herpetika Primer mengalami
infeksi rekuren, terutama pada usia dewasa dengan rasio laki-laki dan perempuan adalah
sama. Mekanisme patogenesis Herpes Labialis belum diketahui secara pasti namun
kemungkinan infeksi tersebut terjadi karena virus bermigrasi ke bagian distal melalui
selubung epineural saraf trigeminal. Virus selanjutnya mengalami proliferasi dan
menginfeksi jaringan epitel pada terminal nerve ending. Obat antivirus dapat digunakan
dalam pengobatan Gingivostomatitis Herpetika Primer. Obat tersebut terbukti efektif
melawan infeksi HSV dengan menghambat sintesis DNA virus sehingga

5
perkembangbiakan herpes virus terhambat. Obat topikal berupa salep/ krim yang
mengandung preparat idoksuridin (stoxil, viruguent, virunguent-P) atau preparat
asiklovir (zovirax) dapat digunakan pada lesi dini. Pengobatan oral dapat menggunakan
preparat asiklovir yang efektif menyembuhkan penyakit akibat HSV. Parenteral
acyclovir atau preparat adenine arabinosid (vitarabin) dapat diberikan pada penderita
penyakit yang lebih berat atau apabila terjadi komplikasi pada organ dalam. Pencegahan
kekambuhanbisa dilakukan dengan menghilangkan atau mengurangi faktor pencetus
dengan memberikan pengarahan sertapengobataninfeksidan meningkatkan daya tahan
tubuh penderita dengan perbaikan kondisi tubuh (Kusumastuti, 2016).

Gambar 2.1 : (a) ulser pada bagian atas, (b) ulser pada bagian bawah (Kusumastuti, 2016).

Penatalaksanaan Gingivostomatitis Herpetika Primer antara lain :


1. Pemeriksaan berkala pada kunjungan hari pertama, keempat, dan hari keempat
belas.
2. Terapi obat berupa tablet acyclovir 200 mg 5x sehari sebanyak 1 tablet,
multivitamin yang berisi vitamin B dan vitamin C (B Comp C), serta obat kumur
Benzidamin HCl 0,2% 3-4x sehari, dikumur setelah makan dan salep acyclovir
untuk dioleskan pada bibir atas dan bibir bawah. Terapi yang dianjurkan pada
kunjungan kedua (hari keempat) sama dengan kunjungan pertama, hanya saja
multivitamin yang diberikan cukup dikonsumsi 1x sehari.
3. Selain obat-obatan tersebut, pasien juga dianjurkan menghindari makanan pedas
dan berbumbu tajam, serta istirahat yang cukup dan mengkonsumsi makanan
lunak tinggi kalori dan protein seperti susu, roti, dan jus buah. Pada hari ke-10
pasien tidak datang tetapi dipantau melalui telpon. Pasien melaporkan kondisinya

6
sudah baik dan obat sudah habis. Selama terapi pasien mematuhi pengobatan dan
edukasi dengan baik dan pasien sembuh pada hari ke-14 (Kusumastuti, 2016).

3. Kasus Geographic Tongue


Geographic tongue atau benign migratory Geographic tongue atau benign
migratory glossitis atau erythema migrains adalah suatu lesi inflamasi pada lidah yang
bersifat jinak dan tidak memiliki kecenderungan berubah menjadi ganas. Kelainan ini
sesuai dengan namanya, terjadi pada lidah khususnya pada bagian dorsum atau pada
bagian lateral lidah. Lesi pada GT bersifat asimptomatik karena terdapat atrofi papilla
atau depapilasi dari papilla filiformis yang mampu mengubah sensasi. Etiologi dari lesi
ini masih belum diketahui secara pasti, meskipun banyak penelitian dan studi yang
meneliti tentang geographic tongue. Beberapa peneliti menyebutkan bahwa faktor
genetik atau herediter berperan besar dalam lesi ini. Faktor predisposisi juga
mendukung terjadinya kelainan ini seperti defisiensi nutrisi, stress, dan lain-lain.
Geographic tongue merupakan sebuah kelainan yang mampu sembuh tanpa
pengobatan, tetapi adanya lesi ini dapat menganggu aktifitas penderita apabila terlalu
sering timbul. Lesi geographic tongue akan mengganggu fungsi mastikasi dan fungsi
bicara dari penderita yang nantinya bisa menurunkan kualitas hidup penderita dan
asupan gizi bagi penderita itu sendiri (Musaad dkk, 2015; Burket dkk, 2008).

Gambar 3.1 : kasus geographic tongue (Musaad dkk, 2015)

Geographic tongue ditandai dengan periode eksaserbasi dan remisi. Periode


eksaserbasi merupakan suatu periode dimana lesi kambuh setelah periode remisi atau
masa penyembuhan. Pada periode remisi biasanya lesi jarang atau hanya sedikit tampak,
karena sedang dalam proses penyembuhan. Dengan adanya periode eksaserbasi dan

7
remisi dari kelainan ini, maka hasil dari penelitian, prevalensi geographic tongue
sebesar 4,3% diduga dapat berubah karena pada saat penelitian penderita sedang dalam
masa remisi. Selain itu didukung oleh ketidaktahuan penderita terhadap kelainan yang
muncul pada lidahnya sehingga membuat lesi tidak terlihat pada saat dilakukan
penelitian. Hal tersebut mungkin terjadi karena geographic tongue merupakan suatu
kelainan yang bersifat asimptomatik dan jarang menimbulkan keluhan atau simptom.
Geographic tongue lebih sering muncul atau terjadi pada perempuan dibandingkan laki-
laki (Jainkittivong dan Langlais, 2005).
Pasien dengan lidah geografik biasanya tidak membutuhkan pengobatan, namun
mebutuhkan kepastian diagnosis karena banyak pasien yang menaktukan kanker pada
lidahnya. Beberapa pengobatan simptomatik sudah dicoba termasuk acetaminofen, obat
kumur dengan anestesi topikal, antihistamin, anxiolitik, dan steroid. Helfman
mengatakan adanya hasil memuaskan setelah mengobati tiga pasien dengan tretinoin
topikal. Terapi vitamin A menghasilkan perbaikan parsial pada beberapa pasien. Faktor
topikal yang eksaserbasi gejala pasien seperti makanan panas, pedas, dan asam perlu
dihindari. Abe et al. mengatakan adanya perbaikan juga pada pasien wanita 54 tahun
dengan lidah geografik yang sakit dengan pemberian sistemik siklosporin selama 5
tahun. Pengobatan sistemik dari mikroemulsi siklosporin pre-konsentrat sebanyak 3
mg/kg/hari menghasilkan perbaikan yang memuaskan. Dua bulan kemudian, pasien
dberikan terapi pemeliharaan berupa obat yang sama dengan dosis 1,5 mg/kg/hari
(Assimakopoulos dkk, 2002). Apabila pasien merasakan rasa sakit dan tidak nyaman,
dokter gigi lebih baik memberikan resep pereda rasa nyeri topikal, anti-inflamasi, obat
kumur dengan anestetikum, kortikosteroid topikal, suplemen zinc. Dokter gigi juga
perlu membatasi beberapa makanan atau konsumsi seperti tembakau dan pasta gigi
dengan aditif, pasta pemutih, atau rasa yang terlalu kuat (Goregen dkk, 2010).

8
DAFTAR PUSTAKA

Assimakopoulos D, Patrikakos G, Fotika C, Elisaf M. Benign migratory glossitis or


geographic tongue: an enigmatic oral lesion. Am J Med 2002; 113:751-5.

Burket, Greenberg, Glick, dan Ship. 2008. Burket’s Oral Medicine Elevent Edition.
Canada: BC Decker Inc.

Goregen M, Melikoglu M, Miloglu O, Erdem T. Predisposition of allergy in patients


with bening migratory glossitis. Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol
Endod 2010; 110: 470-4.

Greenberg, M.S., Glick, M., Ship, J.A., 2008, Burket’s Oral Medicine, 11th Edition, BC
Decker Inc., Hamilton.

Jurge S, Kuffer R, Scully C, Porter SR. Recurrent Aphthous Stomatitis. Oral Dis 2006;
12: 1-21.

Kusumastuti, Endah. 2016. Gingivostomatitis Herpetika Primer Pada Ny. N Usia 32


Tahun. Jurnal Wiyata. vol 3(2).

Musaad, A. H, Abuaffan, A. H, dan Khier E. 2015. Prevalence of Fissured and


Geographic Tongue abnormalities among University Students in Khartoum State,
Sudan. Enz Eng, 5:1.

Regezi, J. dan Sciubba,J., 2008, Oral Pathology: Clinical Pathology Correlations, WB.
Saunders, USA

Scully C, Porter S. Oral mucosal disease: Recurrent aphthous stomatitis. Br J Oral


Maxillofac Surg 2008; 46: 198-206.

Sonis,S.T., Fazio, R.C. dan Fang, 2005, Principle and Practice of Oral Medicine, 2nd
Edition, W.B.Saunders, Philadelphia

Thantawi, Amelia., Khairiati., Nova, Mela Meri., Marlisa, Sri., dan Bakar, Abu. 2014.
Stomatitis Apthosa Rekurenn (SAR) Minor Multiple PreMenstruasi. Odonto
Denta Journal. vol 1 (2).