Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN HASIL TUTORIAL

SKENARIO 2
“Trauma Akibat Hewan Laut”

NAMA ANGGOTA KELOMPOK:

1 Anak Agung Ayu Lie Lhianna M P H1A013001


2 Aditya Agung Pratama H1A013002
3 Ahia Zakira Rosmala H1A013003
4 Anabel Cahyadi H1A013006
5 Bayu Firdaus Siradz H1A013012
6 Lalu Ahmad Gamal Arigi H1A013033
7 Ni Komang Ayu Swanitri Wangiyana H1A013044
8 Putu Arthana Putra H1A013051
9 Qisthinadia Hazhiyah Setiadi H1A013053
10 Rosmeiti Emma Auliya H1A013057
11 Sri Rohmayana H1A013061

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN


MUATAN LOKAL KEDOKTERAN KEPULAUAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat
dan hidayah-Nya laporan tutorial skenario 2 ini dapat kami selesaikan dengan sebagaimana
mestinya.
Di dalam laporan ini kami memaparkan hasil kegiatan tutorial yang telah kami
laksanakan yakni berkaitan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi serta metode
pembelajaran berbasis pada masalah yang merupakan salah satu metode dalam Kurikulum
Berbasis Kompetensi.
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan
dukungan serta bantuan hingga terselesaikannya laporan ini. Kami mohon maaf jika dalam
laporan ini terdapat banyak kekurangan dalam menganalisis semua aspek yang menyangkut
segala hal yang berhubungan dengan skenario serta Learning Objective yang kami cari. Oleh
karena itu kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun sehingga dapat
membantu kami untuk dapat lebih baik lagi kedepannya.

Mataram, 20 April 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................................... 2


Daftar Isi .......................................................................................................................... 3
I. Pendahuluan
1.1 Keterangan Pelaksanaan Tutorial ......................................................................... 4
1.2 Skenario 2 ............................................................................................................. 5
1.3 Mind Map .............................................................................................................. 6
1.4 Learning Objective ............................................................................................... 6
II. Pembahasan
2.1 Trauma Akibat Hewan Laut.................................................................................. 7
2.2 Ubur-Ubur……………………………………………… ..................................... 7
2.3 Bulu Babi ……………………………………… ................................................. 13
2.4 Ikan pari ................................................................................................................ 17
2.5 Ular Laut ............................................................................................................... 20
2.6 Ikan Batu ............................................................................................................... 23
2.7 Bulu Seribu ........................................................................................................... 23
III. Penutup
Kesimpulan ........................................................................................................... 26
IV. Daftar Pustaka .......................................................................................................... 27

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 KETERANGAN PELAKSANAAN TUTORIAL


A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
 Tutorial 2 (Step 1-5)
Hari, tanggal : Rabu, 18 April 2018
Waktu : 08.00 – 09.40 WITA
Tempat : Ruang Tramed 5
 Tutorial 2 (Step 7)
Hari, tanggal : Jumat, 20 April 2018
Waktu : 09.40 – 11.20 WITA
Tempat : Ruang Tramed 5

B. Data Kelompok
Tutor : dr. Dian Puspita Sari, MMedEd.
Ketua : Bayu Firdaus Siradz (H1A013012)
Sekretaris : Anak Agung Ayu Lie Lhianna MP (H1A013001)
Scribber : Aditya Agung Pratama (H1A013002)
Anggota : Anabel Cahyadi (H1A013006)
Ahia Zakira Rosmala (H1A013003)
Lalu Ahmad Gamal Arigi (H1A013033)
Ni Komang Ayu Swanitri W (H1A013044)
Putu Arthana Putra (H1A013051)
Qisthinadia Hazhiyah Setiadi (H1A013053)
Rosmeiti Emma Auliya (H1A013057)
Sri Rohmayana (H1A013061)

4
1.2 SKENARIO 2

5
1.3 MIND MAP

Trauma Akibat Hewan Laut

Mekanisme Rujukan Prognosis Komplikasi


Jenis-jenis Hewan Laut
yang Berbahaya

Morfologi Hewan
Laut yang Berbahaya Patofisiologi Hewan
Laut yang Berbahaya

Lokal
Tanda dan Gejala Klinis
Akibat Hewat Laut
Sistemik

Tatalaksana Trauma Akibat


Hewan Laut

Tatalaksana Tatalaksana
Awal Lanjut

Learning Objective

1. Bulu seribu (Crown of thorns starfish)

2. Jenis-jenis ubur-ubur (Jelly fish)

3. Perbandingan efektifitas penggunaan cuka, alkohol, normal saline, air laut, air hangat,

dan air tawar dalam tatalaksana awal ubu-ubur (Jelly fish)

4. Bagaimana cara menilai dan faktor risiko yang mempengaruhi prognosis trauma

akibat hewan laut ?

5. Indikasi dalam rujukan pasien dengan trauma akibat hewan laut

6
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 TRAUMA AKIBAT HEWAN LAUT


Serangan binatang laut berbahaya merupakan salah satu resiko yang dihadapi para
wisatawan dan orang yang berada/bekerja di air laut. Hewan laut berbahaya terdiri dari 2
kelompok yaitu:
1. Hewan laut yang mengigit
Contoh hewan pada kelompok ini adalah ikan hiu, paus pembunuh, barakuda,
belut laut. Kelompok hewan ini mengakibatkan luka dan perdarahan masif hingga
kematian.
2. Hewan laut yang menyengat dan beracun
Contoh hewan pada kelompok ini adalah tentakel laut (ubur-ubur, anemon), bulu
babi, ular laut, ikan pari. Kelompok hewan ini menyebabkan reaksi antigen-
antibodi pada korban.
Terdapat juga pembagian berdasarkan bertulang belakang (stone fish, scorpion fish,
ikan pari, ular laut) dan tidak bertulang belakang (ubur-ubur, anemon laut, bulu babi).
Sebagian besar trauma akibat hewan laut diakibatkan kontak yang tidak disengaja. Trauma
akibat hewan laut sering terjadi, tetapi mayoritas hanya menyebabkan efek kecil dan tidak
memerlukan intervensi medis lebih lanjut. Trauma akibat hewan laut yang beracun dapat
dibagi menjadi trauma sengatan misalnya oleh ubur-ubur karena kontak dengan nematocysts,
dan trauma penetrasi misalnya oleh ikan berduri, ikan pari dan bulu babi. Trauma akibat
hewan laut beracun adalah masalah yang semakin meningkat yang terlihat oleh petugas
layanan kesehatan terutama di wilayah pesisir. Berikut dibahas beberapa hewan laut yang
beracun yang umum dijumpai yaitu ubur-ubur, bulu babi, ikan pari, ular laut, bulu seribu, dan
stone fish.

2.2 UBUR-UBUR (JELLY FISH)


a. Morfologi
Ubur-ubur atau jelly fish termasuk dalam Phylum Cnidaria. Binatang ini hidup
di laut/daerah pantai dengan bentuk seperti bel/lonceng dengan jari-jarinya yang
disebut tentakel. Ubur-ubur termasuk kelompok hewan invertebrata dengan tubuh
bergelatin, sehingga mirip dengan agar-agar/jeli. Tubuhnya mengandung 95% air.
Cnidaria pada tentakelnya memiliki organel yang disebut nematocyst.

7
Gambar 2.1 Phylum Cnidaria

Ubur – ubur atau jellyfish terbagi menjadi beberapa kelas:

1. Kelas Scyphozoa atau Scyphozoan yang merupakan ubur-ubur ‘sejati’, tersebar luas
di seluruh dunia. Ubur-ubur jenis ini mempunyai tentakel (organ tubuh yang dapa
memanjang dan fleksibel) yang muncul dengan interval waktu yang teratur dari
seluruh bagian tubuhnya yang seperti bell/lonceng. Kejadian fatal akibat envenomasi
jenis uburubur ini terjadi di Filipina sebanyak 100 kasus, Australia 66 kasus,
Kalimantan 6 kasus, Jepang 2 kasus dan Malaysia 2 kasus.
2. Kelas Cubozoa (Cubozoans). Bentuknya kubus/kotak dengan tentakel di bagian
sudutsudutnya. Umumnya hidup di perairan Australia Utara dan sepanjang perairan
Indo Pasifik. Tipe ini sangat berbahaya dan menyebabkan ribuan kasus kematian pada
manusia. Tipe ini terdiri dari 2 famili, yaitu: - Carybdeids, tentakelnya hanya di
setiap sudut bagian bawah ‘bell’ - Chirodropids (multitentacled box jelly fish),
mempunyai lebih dari 1 tentakel pada setiap sudut bell
3. Kelas Hydrozoa terdiri dari: - Physalia sp atau Portuguese man-o-war atau
‘bluebottle’ Spesies ini berada di daerah tropis sepanjang Indo Pasifik, memiliki
panjang 33 cm dan panjang tentakelnya 30 m. Biasanya ubur-ubur jenis ini berada di
perairan tropis atlantis3. Ubur-ubur ini beracun, memiliki penyengat berupa tentakel
sebagai alat pertahanan diri dalam keadaan terancam. Physalia physalis banyak
ditemukan di pantai selatan Indonesia, di antaranya di Pantai Papuma Jember.

8
Gambar 2.2 Kelas Phylum Cnidaria

b. Patofisiologi
Pada bagian patofisiologi ini, akan dibahas jenis ubur-ubur yang paling sering
menyebabkan trauma, yaitu Hydrozoa: Physalia physalis, Cubozoa (Carukia barnesi
yang menyebabkan Irukandji Syndrome), Schypozoa (Pelagia Noctiluca).
1. Physalia physalis (Portugese Man-O-War dan Physalia Urticulus/Blue Bottle)

Gambar 2.3 Physalia physalis


Tanda dan gejala dapat berupa: nyeri lokal, kemerahan, sulit bernapas,
anxietas, backpain, dank ram abdominal.
Venomnya memiliki efek neurotoksik dan kardiovaskular toksik. Venomnya
akan merusak membrane plasma sel sehingga menyebabkan influks Ca ke dalam
sel dan pembengkakan sel, sehingga kemudian akan terjadi lisis sel.
Beberapa penelitian mengatakan bahwa ubur-ubur jenis ini dapat
menimbulkan reaksi hipersensitivitas tipe cepat dan lambat. Manifestasi klinis

9
yang timbul segera setelah sengatan, seperti sinkop, hilangnya denyut nadi, dan
pupil tidak reaktif diduga diakibatkan oleh karena rekasi alergi. Manifestasi klinis
lain seperti urtikaria, edema, dan bronkospasme yang timbul segera setelah
sengatan dapat berespon dengan pemberian epinefrin. Manifestasi klinis yang
dapat muncul akibat respon imun tipe lambat adalah pruritus,
Tidak ada terapi spesifik untuk sengatan ubur-ubur jenis ini.
2. Cubozoa

Gambar 2.4 Cubozoa


Ubur-ubur jenis ini memiliki venom yang dapat diabsorpsi dengan cepat
kedalam otot dan jaringan saraf, sehingga dapat menimbulkan kegagalan sistem
kardiovaskular dengan manifestasi klinis henti jantung dalam waktu kurang dari 3
menit setelah sengatan. Venom dari ubur-ubur ini dapat merusak membran miosit
dengan menyebabkan terbentuknya pori-pori sehingga menyebabkan influks Ca
ke dalam sel sehingga menyebabkan kegagalan sistem kardiovaskular.
Calcium Channel Blocker (CCB) dapat menjadi salah satu alternatif terapi
untuk mencegah influks Ca ke dalam otot jantung.
Carukia Barnesi

Gambar 2.5 Carukia Barnesi

10
Irukanji syndrome merupakan manifestasi klinis yang dapat ditimbulkan oleh
ubur ubur jenis ini. irukandji sindrom ditandai dengan berkeringat, anxietas, kram
otot, hipertensi berat yang kemudian dapat berlanjut menjadi hipotensi. Venom
dari ubur ubur jenis Carukia barnesii ini akan menyebabkan peningkatan
pelepasan katekolamin sehingga menyebabkan vasokonstriksi arteriola. Hal ini
akan menyebabkan timbulnya hipertensi berat dan nyeri akibat vasokonstriksi
arteriola. Nyeri yang timbul disebabkan oleh iskemia jaringan karena
vasokonstriksi arteriola.
Tatalaksana yang dapat diberikan adalah pemberian MgSO4 intravena untuk
menurunkan pelepasan katekolamin sehingga dapat segera mengatasi gejala
hipertensi berat dan nyeri yang timbul.
3. Pelagia noctiluca

Gambar 2.6 Pelagia noctiluca


Gejala yang dapat ditimbulkan berupa pruritus dan wheezing. Selain itu juga
dapat menimbulkan anafilaksis, hal ini disebabkan karena basofil segera
melepaskan histamine sebagai respon terhadap venom yang berasal dari tentakel
ubur-ubur.
c. Tanda dan Gejala Klinis
 Hydrozoa (Physalia species)
Physalia memiliki dua spesies yang cukup terkenal yaitu Physalia physalis
(Portuguese Man-O’-War) banyak ditemukan di north atlantic, berukuran lebih besar
dengan tentakel berukuran 10m – 30m sering menimbulkan gejala sistemik yang lebih
berat dan Physalia utriculus (The Blue Bottle) banyak ditemukan di indo-pacific,
indian ocean, south atlantic, memiliki tentakel berukuran 2m – 5m jarang
menimbulkan gejala sistemik, hanya sebatas nyeri lokal saja. Manifestasi klinik yang
umum dari bisa atau racun Physalia physalis adalah rasa sakit yang hebat, bullae,
nekrosis kulit. Sebagian korban pernah merasakan kelumpuhan dan mati rasa pada

11
daerah yang tersengat. Gejala sistemiknya adalah badan lemas, mati rasa, cemas, sakit
kepala, nyeri perut dan punggung, diaforesis, vertigo, hemolisis, sianosis, gagal ginjal,
syok dan kematian (jarang). Gejala dari spesies ini muncul secara cepat dan hilang
dalam hitungan jam hingga hari. Gejala umum yang ditimbulkan adalah:
- Gastrointestinal : nyeri perut, mual dan muntah
- Muscular spasm
- Neurologi : sakit kepala hingga hilang kesadaran
- Cardio-respiratory syndrome : dispnea
 Cubozoa
Kelas cubozoa memiliki komponen toksik yang dapat bekerja langsung di otot dan
saraf. Venomnya memiliki protein sitolitik yang banyak.
- Carukia barnesi
Spesies ini adalah salah satu yang paling sering menimbulkan Irukandji
syndrome. Karakter dari sindrom tersebut adalah berkeringat, kecemasan, spasme
muskular, hipertensi berat hingga hipotensi dan gagal jantung. Reaksi lokal yang
ditimbulkan minimal. Gejala sistemik muncul dalam hitungan 20 – 30 menit,
dapat berlanjut hitungan jam hingga hari.
- Chironex fleckeri
Gejala sistemik yang ditimbulkan sangat berat hingga dapat menyebabkan
kematian dalam hitungan menit. Toksinnya berefek langsung pada otot jantung.
Gejala yang ditimbulkan seperti dispnea, hipotensi, hilang kesadaran, aritmia
hingga gagal jantung.
d. Tatalaksana Awal Sengatan Ubur-ubur (Jelly fish)
Tatalaksana secara umum yang dapat dilakukan untuk mengatasi envenomasi
akibat ubur-ubur:
1. Stabilisasi pasien (basic life support, dan injeksi epinefrin)
2. Korban harus tenang dan tidak boleh banyak bergerak , untuk mencegah
penyebaran venom ke sirkulasi
3. Berikan analgesik oral
4. Siram menggunakan air laut, jangan gunakan air tawar
5. Jika tersengat oleh Carybdea marsupialis (Cubozoa) dan Chrysaora hysoscella
(Sychphozoa) berikan cuka selama 30 detik
6. Ambil tentakel menggunakan pinset atau tangan yang telah menggunakan
pelindung
12
7. Oleskan baking soda slurry (50% sodium bikarbonat dan 50% air laut) selama
beberapa menit, kemudian bilas dengan air laut
8. Rendam area kontak dengan air hangat bersuhu 42-25C selama 30 menit atau
sampai nyeri hilang
9. Jika nyeri persisten atau timbul gejala sistemik segera bawa korban ke fasilitas
kesehatan yang lebih memadai
10. Tatalaksana simptomatis: antihistamin, steroid topikal

2.3 BULU BABI (SEA URCHIN)


a. Morfologi
Bulu babi atau sea urchins merupakan salah satu jenis hewan laut. Dikatakan
Ada 6000 spesies bulu babi dan dari jumlah tersebut 80 spesies dianggap berbisa atau
berbahaya ke manusia. Berbentuk bulat dan berlengan pendek. Habitatnya di Laut
dan kadang dijumpai di pesisir.Berbentuk Simetris radikal. Dinding tubuh berupa
kepingan kapur. Tubuh dilengkapi oleh duri spina yang digunakan untuk bergerak.
Barnes, (1987:815) mengklasifikasikan bulu babi sebagai berikut :
 Kingdom : Animalia
 Phylum : Echinodermata

13
 Class : Echinoidea
 Ordo : Temnopleuroida, Diademotoida, Euchinoida
 Family : Toxopneustidae, Diadematidae
 Genus : Diadema, Salmacis, Tripneustes, Echinometra

Gambar 2.7 Anatomi Bulu Babi (Sea urchin)


Nontji, (2005:208) menyatakan bahwa bulu babi adalah salah satu jenis hewan
yang termasuk dalam filum Echinodermata. Bulu babi (Echinoidea) tidak mempunyai
lengan.Tubuh bulu babi umumnya berbentuk seperti bola dengan cangkang yang
keras berkapur, dan dipengaruhi dengan duri-duri, ada pula yang tubuhnya agak pipih.
Secaramorfologi kelas Echinoidea dibagi dalam dua subkelas utama, yaitu bulu babi
beraturan (regular sea urchin) dan bulu babi tidak beraturan (irregular sea urchin).
Bentuk tubuh bulu babi regularia adalah simetri pentaradial hampir berbentuk bola
sedangkan bulu babi iregularia memperlihatkan bentuk simetri bilateral yang
bervariasi. tubuh bulu babi berbentuk bulat atau pipih bundar, tidak bertangan,
mempunyai duri-duri panjang yang dapat digerakkan, bulu babi tidak mempunyai
lengan tubuh berbentuk seperti cangkang berkapur. Bulu babi dipenuhi dengan duri.
Duri melekat pada otot yang menyerupai bongkol (tuberkel).
 Jenis-Jenis Bulu Babi
Menurut Jasin (1984) dalam Kambey (2015:11) bahwa di Indonesia dan
sekitarnya terdapat 84 jenis bulu babi hewan ini sangat umum di jumpai di daerah
pantai terutama di daerah terumbu karang. seperti Diadema setosum, Tripneustes
gratilla, Toxopneustes pileolus, Echinotrix calamaris, Mespilia globules,
Heterocentrotus mammilatus, Salmacis belli dan Echinometra sp.Terdapat

14
beberapa tipe dari bulu babi yaitu tipe A, B, C dan cangkang bulu babi
Echinometra mathaei tipe A berukuran lebih besar dari pada tipe C. Perbedaan ini
berhubungandengan strategi hidup dan mencari makan dari bulu babi. Tipe C
mempunyai kebiasaan meliang dan menunggu makanan yang terperangkap dalam
liang, sedangkan tipe A mempunyai kebiasaan aktif mencari makan pada daerah
goba yang ditumbuhi alga dan lamun.

Gambar 2.8 Jenis-jenis Echinoidea. A. Diadema setosum, B.Tripneustes gratilla, C.


Echinotrix calamaris, D.Mespilia globules, E. Heterocentrotus mammilatus, F. Salmacis
belli, G. Echinometra mathaei.

b. Patofisiologi
Bulu babi dapat menyebarkan racunnya ke manusia dengan 2 cara, yaitu
melalui durinya (panjang dan pendek) dan pediselaria. Tidak semua bulu babi
memiliki kedua struktur tersebut, kebanyakan hanya memiliki salah satunya. Dan
meskipun bulu babi memiliki keduanya, hanya salah satu struktur tersebut yang
memiliki racun.

15
Pada spesies long-spine, trauma disebabkan lebih karena bentuk duri dari bulu
babi yang panjang dan rapuh. Sehingga ketika tertusuk ke tubuh manusia, durinya
sangat mudah patah menyebabkan semakin sulit bulu babi untuk ditarik dari lokasi
tusukan.
Pada spesies short-spine, trauma lebih disebabkan karena racun pada
pediselaria dari bulu babi. Hanya saja, untuk mengeluarkan racun dari pediselaria ini,
harus diberi tekanan kuat terhadap permukaan tubuh bulu babi. Selanjutnya
pediselaria akan menempel pada tubuh pemangsanya/manusia. Ini adalah salah satu
mekanisme pertahanan dari bulu babi.
c. Tanda dan Gejala Klinis
Terdapat 2 mekanisme dari bulu babi :
- Yang pertama mencakup efek mekanik tertanam duri rusak dan injeksi racun bersama
dengan reaksi inflamasi.
- Mekanisme kedua adalah karena pedicellariae. Organ-organ ini ditemukan pada
permukaan landak dan duri dan bertindak sebagai rahang untuk menjepit ke mangsa
Gejala dan Tanda:
- Nyeri;
- Edema dan pembengkakan;
- Kelumpuhan parsial dari
anggota tubuh;
- Pembengkakan wajah;
- Kejang otot;
- Dyspnea;
- Kelemahan
- Aritmia jantung; dan
- Collapse
d. Tatalaksana Awal
Tatalaksana awal jika terkena sengatan bulu babi :
1. Cuci luka dengan air bersih
2. Cabut spine bulu babi sesegera mungkin
3. Hilangkan pedicelaria dengan krim cukur dioleskan pada area tusukan
kmudian cukur dgn pisau cukur
4. Cuci daerah tusukan dengan sabun atau betadine dan air bersih
5. Jangan menutup luka dengan perban atau apapun

16
6. Antibiotik
7. Anti nyeri

2.4 IKAN PARI (STRINGRAY)


a. Morfologi
Envenomasi dapat juga diakibatkan dari luka tusukan atau laserasi yang ditimbulkan
oleh duri ikan berbisa. Terdapat lebih dari 200 spesies ikan berbisa di dunia yang dapat
menyebabkan luka pada manusia. Salah satunya yang paling terkenal adalah ikan
pari/stingray. Ikan ini merupakan kelompok ikan bertulang rawan non agresif yang
memiliki tubuh yang pipih dan ekor yang panjang (Gambar 1) yang mengandung sampai
dengan 4 duri beracun, digunakan untuk membela diri. Stinger dapat mencapai panjang
sekitar 35 cm, dan bagian bawahnya memiliki dua taring dengan kelenjar berisi racun.
Stinger ditutupi dengan lapisan tipis kulit selubung yang menutupi, dimana racun
terkonsentrasi.

Gambar 2.9 Ikan Pari


Ikan pari adalah salah satu penyebab paling umum sengatan ikan berbisa yang
dihadapi manusia, dengan sebanyak 1.500 hingga 2.000 serangan ikan pari dilaporkan
setiap tahun di Amerika Serikat saja. Ikan ini dikelompokkan menjadi empat kategori:
(1) gymnurid (butterfly rays), (2) urolophid (round stingrays), (3) myliobatid (bat atau
eagle rays), and (4) dasyatid (true stingrays). Pengelompokan didasarkan pada
kemampuan menyengat mereka, yang tergantung pada ukuran, jumlah, dan lokasi dari
stinger pada ekor mereka. Kelompok yang paling berbahaya, ikan dasyatid, memiliki
stinger terbesar yang terletak lebih jauh di ekor mereka, yang membuatnya menjadi
senjata yang paling kuat.
17
b. Patofisiologi
Sebagian besar cedera ikan pari terjadi ketika para wisatawan atau nelayan di laut
secara tidak sengaja menginjak ikan pari yang sedang berbaring di dasar perairan laut
yang dangkal. Laserasi parah dan luka tusukan ditimbulkan oleh ikan saat mencambukan
ekornya ke atas dan ke kaki atau pergelangan kaki seseorang ketika terinjak atau merasa
terancam. Oleh karena itu mayoritas luka terletak di dorsum kaki atau tungkai bawah.
Luka tembus ke lokasi lain dapat terjadi pada nelayan ketika mencoba untuk melepaskan
ikan dari jaring mereka. Kematian mungkin dapat terjadi jika perikardium, peritoneum,
atau rongga pleura yang terkena. Ketika ekor ikan ini menembus korban, selubung yang
membungkus stinger dapat robek dan kelenjar racun melepaskan racunnya ke dalam
luka. Racun ikan pari mengandung enzim 5-nucleotidase phosphodiesterase dan
serotonin, yang bersifat heat-labile dan larut dalam air. Racun yang dikeluarkan
memiliki efek kardiotoksik pada manusia dan hewan percobaan tetapi tidak ada efek
hemolitik atau neuromuskular. Efek kardiotoksis racun ikan pari mengarah langsung
pada toksisitas miokard. Namun demikian, mekanisme molekuler yang tepat dari efek
kardiotoksik dari venom ikan pari tetap tidak diketahui.
Meskipun ikan pari memiliki racun di ekornya, trauma cedera biasanya lebih penting
daripada efek yang ditimbulkan oleh racun. Efek utama dari racun ini adalah rasa sakit
lokal yang hebat dan perlahan-lahan berkembang menjadi nekrosis. Efek sistemik jarang
terjadi dan kemungkinan besar disebabkan oleh nyeri yang parah. Komplikasi yang
paling penting adalah infeksi sekunder, terutama pada luka yang menembus ruang sendi
atau selubung tendon, atau luka yang tidak dibersihkan.
c. Tanda dan Gejala Klinis
 Nyeri tajam dan hebat, segera setelah tertusuk dalam waktu 1-2 jam
 Perdarahan pada luka tusuk
 Pembengkakan pada luka tusuk
 Pembengkakan kelenjar limfa
 Sistemik: mual, muntah, demam, kram otot, tremor, paralisis, pingsan, kejang,
takikardi, penurunan tekanan darah, kematian
d. Tatalaksana Awal
 Melakukan pemeriksaan luka, jangan lupa melakukan pemeriksaan cermat
kemungkinan luka lain, apabila terjadi perlukaan pada region thorakoabdominal,

18
segera lakukan rujukan ke fasilitas kesehatan tersier yang memiliki peralatan dan
staf medis yang lengkap.
 Pastikan kondisi pasien stabil, keluarkan pasien dari air, lakukan pembilasan luka
untuk membuang serpihan duri ekor ikan pari, jaringan kelenjar ikan pari, namun
jika luka yang dihasilkan hanya berupa laserasi superfisial, bukan luka yang
menyebabkan penetrasi ke dada, perut ataupun leher, serta pada duri yang
menancap dalam pada ekstremitas.
 Jika mengalami perdarahan, lakukan tekanan langsung pada luka, jangan
memberikan ikatan atau torniket untuk menghentikan perdarahan.
 Bersihkan luka dengan menggunakan larutan irigasi steril atau dengan air bersih,
beberapa rekomendasi lain antara lain dengan merendam luka ke dalam air hangat (
maksimal 43,3 0C, atau pada suhu yang dapat ditolerir oleh kulit dan tidak
menyebabkan luka bakar) antara 30-90 menit, hal ini karena racun pada duri ekor
ikan pari bersifat heat labile, sehingga racun dari duri ekor ikan pari dapat
mengalami denaturasi dan dapat mengurangi nyeri yang timbul, namun pada
percobaan pada kontrol acak tidak terlalu efektif dan beresiko menimbulkan
perlukaan tambahan akibat panas yang ditimbulkan.
 Gunakan pinset untuk mencabut duri ekor yang masih menancap, basuh luka
dengan menggunakan air bersih. Lakukan debridemen luka, untuk membersihkan
luka yang ada, untuk menghindari kerusakan jaringan dan infeksi. Debridemen
luka menggunakan larutan salin atau air yang bersih serta penanganan jaringan
nekrosis segera dan secepat mungkin memberikan hasil penyembuhan yang lebih
cepat.
 Beberapa rekomendasi lain adalah pemberian anastesi lokal dengan lidokain
ataupun bupivakain untuk mengurangi nyeri, lalu selanjutnya memberikan serum
anti tetanus untuk pencegahan. Pemberian anti nyeri juga dapat dipertimbangkan.
 Penggunaan antibiotik rutin tidak direkomendasikan pada luka akibat sengatan ikan
pari, antibiotik dapat dipertimbangkan untuk diberikan pada luka-luka yang
berpotensi menjadi infeksi. Antibiotik yang dapat diberikan antara lain
kloramfenikol, trimetropim/sulfamethoxazole, golongan quinolon, golongan
aminoglikosida ataupun cefalosforin. Biasanya pemberian antibiotik profilaksis
diberikan secara oral dengan jangka waktu minimal 5 hari.

19
2.5 ULAR LAUT (SEA SNAKE)
a. Morfologi

Gambar 2.10 Ular Laut (Sea Snake)


Ular laut adalah hewan reptil yang sangat berbisa yang beradaptasi dengan
baik dengan lingkungan laut. Mereka memiliki ekor yang berbentuk seperti dayung,
dan ular laut dewasa dapat mencapai panjang 3-4,5 kaki (90-110 cm). Mereka adalah
perenang yang mahir dan anggun dan telah dikenal untuk mencapai kedalaman hingga
130 kaki (40 meter) atau lebih. Namun, tidak seperti belut, ular laut memiliki sisik
tetapi tidak memiliki insang atau sirip. Meskipun mereka menghabiskan banyak
waktu di bawah air, mereka harus muncul secara teratur untuk bernapas. Habitat
mereka terutama di perairan tropis dan subtropis di Samudra Hindia dan Pasifik.
Umumnya, ular laut tidak agresif dengan disposisi yang lembut. Mereka tidak
berpikir untuk menggigit manusia kecuali diprovokasi, dan mereka biasanya tidak
aktif mengejar mangsa berenang. Ular laut telah dicatat menjadi sangat agresif, ketika
mereka dikeluarkan dari air, menunjukkan gerakan yang tidak menentu dan
menyerang apa saja di dekat mereka yang bergerak. Ular laut dapat menghasilkan
rata-rata 10 hingga 15mg racun, ketika 1,5mg cukup untuk membunuh manusia
dewasa rata-rata.
b. Patofisiologi
Ular laut dapat menghasilkan rata-rata 10 hingga 15mg racun, ketika 1,5mg
cukup untuk membunuh manusia dewasa rata-rata. Racun ular laut jarang
mengandung senyawa racun jaringan dalam jumlah besar, oleh karena itu gigitan
jarang akan menyebabkan nyeri lokal. Racun yang secara klinis relevan dalam racun
ular laut adalah neurotoksin dan myotoxins. Neurotoxin primer menyebabkan
paralisis perifer dengan mengikat secara kompetitif pada reseptor nicotinic
acetylcholine postsynaptic pada sambungan neuromuskuler. Myotoxins yang poten
dapat menyebabkan nekrosis otot yang signifikan, dengan konsekuensi

20
myoglobinemia dan hiperkalemia yang mungkin terjadi setelah envenomation. Racun
ular laut tidak mempengaruhi koagulasi darah hingga tingkat yang signifikan.
Gejala biasanya muncul dalam dua jam setelah gigitan, keracunan yang lebih
serius bisa terjadi lebih cepat. Korban gigitan harus diobservasi di fasilitas kesehatan.
Jika korban gigitan tetap bebas gejala selama lebih dari delapan jam, envenomation
mungkin tidak terjadi, tetapi pengawasan medis lanjutan mungkin masih diperlukan.
Korban kematian terkait Snakebite tidak diketahui di antara para penyelam,
tetapi gigitan fatal telah terjadi di antara nelayan Asia Tenggara selama upaya untuk
memisahkan ular laut yang terperangkap dari jaring ikan.
c. Tanda dan Gejala Klinis
 Laserasi kecil atau tusukan
 Berdarah
 Situs gigitan tanpa rasa sakit
 Retained material pada luka
Tanda-tanda gejala neurologis dini
• Kesulitan menelan (disfagia)
• Mengantuk kelopak mata bagian atas (ptosis)
• Dilatasi pupil (midriasis)
• Penglihatan ganda (diplopia)
• Pidato yang sulit atau menyakitkan (dysphonia)
• Twitch lidah (fasikulasi lingual)
d. Tatalaksana Awal
Perawatan awal bersifat simptomatis, dan responden pertolongan pertama harus
fokus pada tiga tugas utama:
 Teknik tekanan immobilisasi dianjurkan untuk anggota badan yang terkena.
Membatasi semua gerakan sebanyak mungkin juga disarankan.

21
 Jagalah agar korban terhidrasi.
 Mengangkut korban ke rumah sakit yang mampu mendukung kehidupan lanjut dan
mungkin pemberian antivenom.
 Hindari insisi, es, atau tindakan pendinginan lainnya.

Perawatan Departemen Gawat Darurat


Perawatan awal adalah sebagai berikut :
 Stabilisasi jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi (ABC)
 Akses intravena
 Pemantauan jantung dan oksimeter denyut kontinu
 Profilaksis tetanus
Kelola semua envenomasi ular laut simtomatik secara rawat inap. Mengingat sifat
envenomation yang berpotensi serius dan risiko yang terkait dengan pemberian
antivenom, sebagian besar pasien memerlukan masuk ke unit perawatan intensif.
Pemberian antivenom diindikasikan untuk setiap pasien dengan tanda-tanda
envenomation. Agen pilihan adalah antivenom ular laut polivalen (Commonwealth
Serum Laboratories, Melbourne, Australia).
Indikasi untuk penggunaan antivenom termasuk syok, gangguan pernapasan atau
kegagalan, mialgia menyeluruh, trismus, nyeri sedang hingga berat dengan gerakan pasif
ekstremitas, mioglobinuria, peningkatan tingkat kreatin kinase (> 600 IU/l), tingkat
kesadaran yang berubah, hiperkalemia, atau leukositosis.

22
Berikan antivenom sesegera mungkin. Manfaat dapat diamati hingga 36 jam
setelah gigitan. Untuk envenomation ringan hingga sedang, gunakan satu ampul
antivenom (1000 U). Enestiasi lambat atau parah biasanya membutuhkan 3-10 ampul
(3000-10.000 U) antivenom, masing-masing. Jika antivenom tidak tersedia,
pertimbangkan dialisis.

2.6 IKAN BATU (STONE FISH)


a. Morfologi
Biasanya stone fish berkamuflase menyerupai batu sehingga sulit terlihat dan tidak
bergerak ketika didekati. Mekanisme terkena stone fish biasanya akibat terinjak,oleh
penyelam. Venom terletak di dorsal fine spine dan mengandung proteinaceous toxin
yang disebut verrucotoxin (VTX).
b. Tanda dan Gejala Klinis
Tanda dan Gejala lokal Gejala Sistemik
Bengkak dan kemerahan pada area yang terkena Mual, muntah
Nyeri tajam Sesak
Perdarahan Gangguan irama jantung
Pingsan hingga kematian

c. Tatalaksana Awal
1. Pindahkan pasien ke tempat aman
2. Primary survey
3. Bersihkan area yang terkena dan beri analgetik
4. Merendam daerah yang terkena dengan air hangat sekitar 45ºC
5. Pemberian antibiotic jika perlu
6. Khusus envenomisasi stone fish, terdapat anti venom di Australia
7. Rujuk ke fasilitas kesehatan terdekat

2.7 BULU SERIBU (CROWN OF THORNS STARFISH)


Bulu seribu atau yang dikenal juga dengan istilah Acanthaster planci, merupakan
hewan dari kelompok echinodermata, yang merupakan salah satu bintang laut paling
besar yang ditemukan di kawasan terumbu karang perairan tropis seperti Indonesia.

23
a. Morfologi

Gambar 2.11 Acanthaster planci (Crown of Thorns Starfish)


Bulu seribu mempunyai warna yang bermacam-macam, di Thailand warna bulu
seribu adalah merah dan abu-abu, di Hawaii berwarna hijau dan merah, dan Indonesia
sendiri berwarna abu-abu, ungu, hijau dan biru.
Lengan bulu seribu berjumlah antara 8-21 buah, dan di atas permukaan kulitnya
terdapat duri yang berjumlah sangat banyak dan menyelimuti hampir seluruh permukaan
kulit. Pada bagian duri, tepatnya dibawah selapis kulit terdapat racun. Racun tersebut
merupakan suatu bentuk protein yang dinamakan sebagai zat saponin.
Panjang duri sangat bervariasi dan dapat mencapai panjang 4 - 5 cm dengan
kecepatan tumbuh rata-rata 1,3 mm per bulan. Pertumbuhannya memanjang, dan yang
bertambah panjang adalah pangkalnya. Pertambahan panjang diikuti dengan penimbunan
pigment yang berwarna hitam. Penimbunan pigment ini terjadi pada konsentrasi yang
berbeda, sehingga terlihat adanya lapisan gelap dan terang sepanjang duri tersebut.
Temperatur optimal untuk pertumbuhan bulu seribu berkisar antara 26 — 28 °C. Batas
toleransi suhu maximum dan minimum adalah 33 °C dan 14 °C. Di atas suhu 33 °C bulu
seribu akan mati begitu juga di bawah suhu 14 °C.
b. Tanda dan Gejala Klinis
Pada manusia yang tidak sengaja menginjak atau terkena duri bulu seribu ini akan
menimbulkan rasa sakit yang hebat disekiar lokasi yang terkena duri, gatal-gatal, mual,
muntah, hingga melepuh pada bagian kulit yang tertusuk oleh duri tersebut. Gejala
sistemik berat yang dapat ditimbulkan adalah syok anafilaksis hingga kematian.
c. Tatalaksana Awal
Jika peratalan medis tidak tersedia, pedoman berikut ini direkomendasikan sebagai
tatalaksana tertusuk duri bulu seribu :

24
- Rendam area yang terkena dalam air hangat selama 30 - 90 menit. Ulangi seperlunya
untuk mengontrol rasa sakit
- Anestesi lokal dapat digunakan untuk menghilangkan rasa sakit
- Gunakan pinset untuk menghilangkan duri pada luka, karena gejala mungkin tidak
hilang sampai semua duri telah dihilangkan. Terkadang duri dapat tetap berada di
lukanya, sehingga dapat dilakukan insisi untuk mengambil duri yang masih tertinggal
di dalam.
- Jangan menutup luka karena dapat meningkatkan risiko infeksi. Anti tetanus serum
(ATS) sering direkomendasikan untuk pasien dengan jenis luka ini.
- Oleskan krim hidrokortison 2 hingga 3 kali sehari sesuai kebutuhan untuk gatal.
Hentikan pemakaian jika ada tanda-tanda infeksi.
- Antibiotik oral biasanya direkomendasikan untuk mengobati infeksi.

25
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Trauma akibat hewan laut merupakan salah satu resiko yang dihadapi oleh para
wisatawan dan orang yang berada/bekerja di air laut. Disamping itu, resiko karena sifat
alamiah laut seperti arus, pasang surut, ombak, suhu air laut, kondisi didasar laut dan jenis
pekerjaan/kegiatan yang dilaukan di laut juga menimbulkan resiko trauma di air laut.
Salah satu trauma di laut yaitu tertusuk atau tersengat hewan laut. Hewan laut yang
paling sering menimbulkan trauma, diantaranya ubur-ubur, bulu babi, ikan pari, ikan batu,
bulu seribu, dan ular laut. Untuk mencegah terjadinya serangan hewan laut berbahaya, kita
harus mengetahui jenis hewan laut berbahaya diperairan tersebut, pola hidupnya, pola
perilakunya saat mau menyerang manusia, serta jenis alat pelindung diri yang tepat.
Pertolongan pertama yang tepat serta terapi definitif sedini mungkin dan mengatasi
kedaruratan akibat trauma (perdarahaan, syok, reaksi antigen-antibodi) dan kecepatan
evakuasi kefasilitas medis terdekat sangat menentukan kehidupan korban.

26
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Bahaya di balik keindahan ubur–ubur. Available at:


http://ik.pom.go.id/v2016/artikel/Bahaya%20Dibalik%20Keindahan%20Ubur-
Ubur.pdf
Cegolon L, Heymann WC, Lange JH, Mastrangelo G. Jellyfish Sting and Their Management:
A Review. Marine Drugs, 11, pp.523-550.
Feel Scoot D. 2017. Starfish (Sea Stars) and Crown of Thorns Puncture Wounds Treatment.
Medically Reviewed. Avalable at: https://www.emedicinehealth.com. [Accessed:
2018, 17rd April].
Ihama Y., Miyazaki T., Ninomiya K., et al. 2014. Anaphylactic shock caused by sting of
crown of thorns starfish (Acanthaster planci). Vol. 236. Department of Legal
Medicine, University of the Ryukyus. Okinawa: Japan.
Junior et al. Injuries by marine and freshwater stingrays: history, clinical aspects of the
envenomations and current status of a neglected problem in Brazil. Journal of
Venomous Animals and Toxins including Tropical Diseases 2013 19:16.
http://images.biomedsearch.com/23895313/1678-9199-19-
16.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAIBOKHYOLP4MBMRGQ&Expires=1524355200&
Signature=1gqOx8EcgH7HyROIpyVuSTmEM3U%3D
Montgomery L, Seys J, Mees J. To Pee or Not to Pee: A Review on Envenomation and
Treatment in European Jellyfish Species. Marine Drugs, 14(127), pp.1-21.
Nochetto M, Bird M., 2016. First Aid for Hazardous Marine Life Injuries Students
Handbook 5th Edition. Divers Alert Network.
Papanagnou D., 2016. Sea Snake Envenomation. Department of Emergency Medicine,
Bellevue Hospital Center. Available at :
https://emedicine.medscape.com/article/771804-overview
Suharsono. 1991. Bulu Seribu (Acanthaster planci). Vol. 16. No. 3. Balai Penelitian dan
Pengembangan Biologi Laut. Puslitbang Oseanologi: Jakarta
Tibballs J, Yanagihara AA, Turner HC, Winkel K. Immunological and Toxinological
Responses to Jellyfish Sting. National Institute of Health, 10(5), pp.438-446.
Tibbals, J. 2011. Immunological and Toxinological Responses to Jellyfish Stings. Available
at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3773479/

27
Yazawa K, et al. 2007. Verrucotoxin, a stonefish venom, modulates calcium channel acivity
in guinea-pig ventricular myocytes. British Journal of Pharmacology. Available at:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2189832/pdf/151-0707340a.pdf

28