Anda di halaman 1dari 26

UPAYA GURU BK dalam MENINGKATKAN SELF CONTROL REMAJA di

SMK BATIK 2 SURAKARTA

Sintia Ratna Dewi

A210150242

A. Latar Belakang Masalah

Istilah pubertas sering dimaknai dengan masa remaja yang pasti dialami oleh setiap orang,
yakni masa perkembangan sifat tergantung (dependence) terhadap orang tua kearah kemandirian
(independence), minat-minat seksual, perenungan diri, perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan
isu-isu moral. Sedangkan menurut Harold Alberty (1967:86) remaja merupakan masa peralihan
antara masa anak dan masa dewasa yakni berlangsung 11-13 tahun sampai 18-20 tahun menurut
umur kalender kelahiran seseorang.

Saat ini banyak remaja yang bertingkah jauh bertolak belakang dari norma-norma yang ada
di tengah masyarakat, bahkan mereka bertindak jauh dari nilai-nilai yang telah diajarkan kepada
mereka sehingga merekapun tidak bisa mengamalkan nilai-nilai yang telah diajarkan kepada
mereka. Hal yang harus dipahami oleh para remaja adalah bagaimana caranya mereka dapat
menyesuaikan diri dengan tingkah lakunya sendiri tetapi dengan harapan sosial yang dilakukan
tanpa adanya bimbingan pengawasan atau motivasi dan ancaman seperti sewaktu mereka kecil.
Selain itu para remaja juga dituntut untuk mampu mengendalikan sikap serta perilakunya dan
mampu bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang mereka kerjakan, karena saat ini
mereka bukan lagi merupakan tanggung jawab dari orang tuanya maupun gurunya.

Berdasarkan penelitian empiris yang dilakukan Kohlberg pada tahun 1958, sekaligus menjadi
disertasi doktornya dengan judul “The Developmental of model of moral Think and choice in the
years 10 to 16”. menyebutkan bahwa tahap-tahap perkembangan moral pada individu dapat
dibagi sebagai berikut:

1. Tingkat Prakonvensional Pada tingkat ini anak tanggap terhadap aturan-aturan


budaya dan mengenai baik atau buruk, benar atau salah. Akan tetapi, hal ini semata-mata
ditafsirkan dari segi sebab akibat fisik atau kenikmatan perbuatan (hukuman, keuntungan,
pertukaran dan kebaikan).

2. Tingkat Konvensional Pada tingkat ini, anak hanyak menurut terhadap keluarga
ataupun sebuah kelompok. Ia memandang bahwa hal tersebut bernilai bagi dirinya
sendiri, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata.

3. Tingkat Pasca-konvensional Pada tingkat ini terdapat usaha yang jelas untuk
merumuskan nilai-nilai dan prinsip moral yang dimiliki keabsahan dan dapat diterapkan,
terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-prinsip itu dan
terlepas pula dari identifikasi individu sendiri dengan kelompok tersebut.

Piaget menyebutkan bahwa masa remaja sudah mencapai tahap pelaksanan formal dalam
kemampuan kognitif. Dia mampu mempertimbangkan segala kemungkinan untuk mengatasi
suatu masalah dari beberapa sudut pandang dan berani mempertanggung jawabkan.

Sehingga kohlberg juga berpendapat bahwa perkembangan moral ketiga, moralitas pasca-
konvensional harus dicapai selama masa remaja. Sejumlah prinsip diterimanya melalui dua
tahap; pertama menyakini bahwa dalam keyakinan moral harus ada fleksibilitas sehingga
memungkinkan dilakukan perbaikan dan perubahan standar moral bila menguntungkan semua
anggota kelompok; kedua menyesuaikan diri dengan standar sosial dan ideal untuk menjahui
hukuman sosial terhadap dirinya sendiri, sehingga perkembangan moralnya tidak lagi atas dasar
keinginan pribadi, tatapi mernghormati orang lain.

Pada kenyataannya saat ini banyak ditemukan remaja yang belumdapat mencapai tingkat
pasca-konvensional bahkan terdapat remaja yang baru mencapai pada tahap prakonvensional.

Kejadian tersebut dapat kita lihat dan kita jumpai terjadi pada remaja yang umumnya masih
duduk dibangku SMA/SMK seperti:

a. Bersikap tidak baik dan tidak sopan kepada yang lebih tua.

b. Mereka bergaya sesuai jamannya dan bersikap boros seta cenderung bergerombol
(nge-gank)
c. Sering melanggar bahkan meremehkan peraturan yang ada, baik itu di rumah atau
di sekolahan, kalaupun mereka menaati hal itu terjadi karena mereka takut pada hukuman
yang akan mereka terima.

Maka tidak asing lagi bagi kita apabila mendengar perkelahian yang terjadi diantara para
remaja atau para genk remaja yang sering menelan korban jiwa, yang justru penyebabnya hanya
masalah sepele bahkan tidak jelas apa masalahnya. Mereka pun membuat alasan bahwa hal yang
mereka lakukan tersebut di bawah kendali atau kontrol diri mereka dan mengapa mereka menjadi
cepat marah dan ikut terprovosi sehingga ikut berkelahi.

Upaya para remaja dalam pencarian jati diri atau keinginan untuk dianggap sebagai orang
yang dewasa membuat mereka bertingkah seakan-akan merekalah yang paling benar dan tidak
mau disalahkan. Menurut Rice (1999), masa remaja adalah masa peralihan, ketika individu yang
memiliki kematangan. Pada masa tersebut, ada dua hal penting menyebabkan remaja melakukan
pengendalian diri. Dua hal tersebut adalah, pertama hal yang bersifat eksternal, yaitu adanya
perubahan lingkungan. Pada saat ini, masyarakat dunia sedang mengalami banyak perubahan
begitu cepat yang membawa berabagai dampak, baik positif maupun negatif bagi remaja. Dan
kedua adalah hal yang bersifat internal, yaitu karakteristik di dalam diri remaja yang membuat
relatif lebih bergejolak dibandingkan dengan masa perkembangan lainnya (storm and stress
period).

Banyak usaha yang dilakukan oleh berbagai pihak seperti orang tua dan guru untuk
membantu para remaja supaya tidak terjerumus kedalam hal-hal yang negativ Salah caranya
adalah dengan mengadakan bimbingan konseling yang membutuhkan peran seorang konselor
untuk mendidik mereka dan membantu para remaja tersebut untuk dapat mencapai tahap
kedewasaan secara optimal (sesui dengan kodrat yang dimiliki oleh murid). Maka dari itu guru
dibantu oleh peran dari orang tua harus memperhatikan aspek kepribadian siswa yang berupa
kematangan, kebutuhan, kemampuan, dan kecakapannya sehingga mereka dapat tumbuh dewasa
secara optimal

Dengan kemampuan pengendalian diri yang baik, diharapkan remaja mampu mengendalikan
dan menahan tingkah laku yang bersifat menyakiti dan merugikan orang lain yang bertentangan
dengan norma-norma sosial yang berlaku. Remaja juga diharapkan dapat mengantisipasi akibat-
akibat negatif yang ditimbulkan pada masa stroom and stress period. Dari fenomena di atas
penulis sangat tertarik untuk meneliti bagaimana peran dari guru BK dalam membantu remaja
untuk mencapai tahap optimal dengan judul “Upaya Guru BK dalam Meningkatkan Self Control
Remaja di SMK Batik 2 Surakarta”

B. Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini peneliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah Upaya-upaya guru BK dalam meningkatkan self control siswa di


SMK Batik 2 Surakarta?

2. Hasil apa yang di capai dalam meningkatkan self control siswa di SMK Batik 2
Surakarta?

3. Apa faktor pendukung dan penghambat terhadap peningkatan self control siswa di
SMK Batik 2 Surakarta?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

i. Tujuan

Berdasarkan latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka tujuan penelitian
yang ingin dicapai adalah:

1. Untuk mendiskripsikan dan menjelaskan upaya-upaya guru BK dalam


meningkatkan self control siswa di SMK Batik 2 Surakarta

2. Untuk mendiskripsikan dan menjelaskan hasil yang dicapai dalam


meningkatkan self control siswa di SMK Batik 2 Surakarta

3. Untuk mendiskripsikan dan menjelaskan faktor pendukung dan


penghambat terhadap peningkatan self control siswa di SMK Batik 2
Surakarta
ii. Manfaat

Penelitian ini dapat berguna sebagai masukan dalam menentukan


kebijakan lebih lanjut bagi SMK Batik 2 Surakarta mengenai peranan guru BK
dalam membantu siswa siswa membentuk self control yang baik.

D. Tinjauan Pustaka

Untuk memperkuat masalah yang akan diteliti maka penulis mengadakan tela’ah pustaka
dengan cara mencari dan menemukan teori-teori yang akan dijadikan landasan penelitian,
dan mebantu penulis dalam mendapatkan hasil yang maksimal dalam penelitian ini, berikut
adalah beberpa teori yang bersangkutan dengan tujuan dari penelitian:

Self control (kontrol diri) adalah kemampuan untuk membimbing tingkah laku sendiri,
kemampuan untuk menekan atau merintangi impuls-impuls atau tingkah laku impulsif.

Averill (dalam, Herlina Siwi, 2000) menyebut kontrol diri dengan sebutan kontrol
personal, yang terdiri dari tiga jenis kontrol, yaitu:

1. Behavior Control (kontrol perilaku), yang terdiri dari dua komponen, yaitu
kemampuan mengatur pelaksanaan (regulated administration) dan kemampuan
memodifikasi stimulus (stimulus modifiability).

2. Cognitive control (kontrol kognitif), yang terdiri dari dua komponen, yaitu
memperoleh informasi (information gain) dan melakukan penilaian (appraisal).

3. Decisional Control merupakan kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau


suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya, kontrol diri
dalam menentukan pilihan akan berfungsi baik dengan adanya suatu kesempatan,
kebebasan atau kemungkinan pada diri individu untuk memilih berbagai
kemungkinan tindakan.
Untuk mengukur kontrol diri digunakan aspek-aspek sebagai berikut:

 Kemampuan mengontrol perilaku

 Kemampuan mengontrol stimulus.


 Kemampuan mengantisipasi suatu peristiwa atau kejadian.

 Kemampuan menafsirkan peristiwa atau kejadian.

 Kemampuan mengambil keputusan.

Tiga langkah orang dewasa dalam membangun kontrol diri pada anak, yaitu:

1. Langkah pertama adalah memperbaiki perilaku anda, sehingga dapat memberi


contoh control diri yang baik bagi anak dan menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan
prioritas.

2. Langkah kedua adalah membantu anak menumbuhkan sistem regulasi internal


sehingga dapat menjadi motivator bagi diri mereka sendiri.

3. Langkah ketiga mengajarkan cara membantu anak menggunakan kontrol diri


ketika menghadapi godaan dan stres, mengajarkan untuk berfikir sebelum bertindak
sehingga mereka akan memilih sesuatu yang aman dan baik.

Self control remaja juga harus dapat dilakukan oleh keluarga, karena keluarga dalah tempat dari
siswa untuk mendapatkan banyak pengalam, lalu bagaimana mengendalikan emosi negatif pada
remaja di dalam keluarga?. Keluarga Indonesia mengajarkan remaja untuk mengendalikan emosi
negatifnya bisa menjadi salah satu cara agar remaja tidak rentan melakukan kekerasan. Berikut
ini beberapa tips untuk mengendalikan emosi negatif remaja.

1. Menerima emosi negative


Jadikan kebiasaan untuk bisa menerima emosi negatif, seperti perasaan sedih, kecewa,
marah, tertekan dan sebagainya. Stop mengabaikan, menghindari, dan memperbaiki
emosi negatif.
2. Cari penyebab emosi negative
Tanyakan kepada remaja, apa yang membuatnya merasakan emosi negatif, tanpa
menyalahkan. Dengan bertanya remaja seperti merasa dipahami.
3. Ajak remaja untuk take five
Berikan contoh jika Anda mengalami emosi negatif untuk melakukan take five, atau tarik
dan keluarkan nafas lima kali. Ketika mengeluarkan nafas, bayangkan emosi negatif
dikeluarkan dari tubuh kita.

4. Ajarkan untuk melakukan satu hal positif


Tanyakan kepada anak ketika sudah tenang, satu hal apa yang bisa dilakukan untuk bisa
merasa lebih baik, hindari memberikan instruksi utnuk anak melakukan apa yan gkita
minta.
5. Stop menjadi helper
Seringkali orang tua ingin selalu melihat anaknya happy, sehingga ketika anak
mengalami masalah atau tantangan selalu ingin membantu. Beri kesempatan anak untuk
mencari jalan keluar sendiri dan hindari untuk selalu menyelesaikan masalah anak.

E. Metode Penelitian

1. Metode, dan Alasan Menggunakan Metode

Dalam penelitian ini digunakan Metodologi dengan pendekatan kualitatif, yang memiliki
karakteristik alami (natural setting) sebagai sumber data lansung, deskriptif, proses lebih
dipentingkan dari pada hasil, analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara
analisa induktif.

Ada 6 (enam) macam metodologi penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu:
etnografis, studi kasus, grounded theory, interaktif, partisipatories, dan penelitian tindakan kelas.
Dalam hal ini penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus (case study), yaitu: suatu
penelitian yang dilakukan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan
sekarang, dan interaksi lingkungan suatu unit sosial: individu, kelompok, lembaga, atau
masyarakat.

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini berlokasi di SMK Batik 2 Surakarta karena didasarkan pada beberapa
pertimbangan: SMK adalah Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki konotasi perilaku yang
tidak begitu baik menurut pandangan masyarakat. sehingga konselor di SMK sangat berperan
dalam memantau penyimpangan perilaku para siswa.

3. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini, yang menjadi instrumen utama adalah peneliti sendiri.

4. Sampel Sumber Data


Sumber data utama dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah
tambahan, seperti dokumen dan lainnya. Dengan demikian sumber data dalam penelitian ini
adalah kata-kata dan tidakan sebagai sumber utama, sedangkan sumber data tertulis, foto dan
catatan tertulis adalah sumber data tambahan.

5. Teknik Pengumpulan Data

Tehnik pengumpulan data pada penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi.
Sebab bagi peneliti kualitatif fenomena dapat dimengerti maknanya secara baik, apabila
dilakukan interaksi dengan subyek melalui wawancara mendalam dan observasi pada latar,
dimana fenomena tersebut berlansung dan disamping itu untuk melengkapi data diperlukan
dokumentasi (tentang bahan-bahan yang ditulis oleh atau tentang subyek).

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Maksud digunakannya wawancara


anatara lain adalah mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan organisasi, perasaan,
motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain dan untuk mengetahui kejadian-kejadian yang telah
dialami pada masa lalu. Dalam penelitian ini teknik wawancara yang peneliti gunakan adalah
wawancara mendalam artinya peneliti mengajukan beberapa pertanyaan secara mendalam yang
berhubungan dengan fokus permasalahan. Sehingga data-data yang dibutuhkan dalam penelitian
dapat terkumpul secara maksimal sedangkan subjek peneliti dengan teknik Purposive Sampling
yaitu pengambilan sampel bertujuan, sehingga memenuhi kepentingan peneliti.

Sedangkan jumlah informan yang diambil terdiri dari:

a. Guru bimbingan dan konseling SMK Batik 2 Surakarta

b. Beberapa wali kelas SMK Batik 2 Surakarta

Teknik Observasi, dalam penelitian kualitatif observasi dibadi menjadi tiga cara. Pertama,
pengamat dapat bertindak sebagai partisipan atau non partisipan. Kedua, observasi dapat
dilakukan secara terus terang atau penyamaran. Ketiga, observasi yang menyangkut latar
penelitian dan dalam penelitian ini digunakan tehnik observasi yang pertama di mana pengamat
bertindak sebagai partisipan.

Tehnik dokumentasi, digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber non insani, sumber
ini terdiri dari dokumen dan rekaman.
“Rekaman” sebagai setiap tulisan atau pernyataan yang dipersiapkan oleh atau untuk
individual atau organisasi dengan tujuan membuktikan adanya suatu peristiwa atau memenihi
accounting. Sedangkan “dokumen” digunakan untuk mengacu atau bukan selain rekaman, yaitu
tidak dipersiapkan secara khusus untuk tujuan tertentu, seperti: surat-surat, buku harian, catatan
khusus, foto-foto dan sebagainya.

6. Teknik Analisis Data

Setelah semua data terkumpul, maka langka berikutnya adalah pengelolahan dan analisa data.
Yang di maksud dengan analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data
yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara
mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa,
menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari, dan membuat
kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh dirinya sendiri atau orang lain.

Analisis data dalam kasus ini menggunakan analisis data kualitatif, maka dalam analisis data
selama di lapangan peneliti menggunakan model spradley, yaitu tehnik analisa data yang di
sesuaikan dengan tahapan dalam penelitian, yaitu:

1) Pada tahap penjelajahan dengan tehnik pengumpulan data grand tour question,
yakni pertama dengan memilih situasi sosial (place, actor, activity),

2) Kemudian setelah memasuki lapangan, dimulai dengan menetapkan seseorang


informan “key informant” yang merupakan informan yang berwibawa dan dipercaya
mampu “membukakan pintu” kepada peneliti untuk memasuki obyek penelitian. Setelah
itu peneliti melakukan wawancara kepada informan tersebut, dan mencatat hasil
wawancara.

3) Setelah itu perhatian peneliti pada obyek penelitian dan memulai mengajukan
pertanyaan deskriptif, dilanjutkan dengan analisis terhadap hasil wawancara. Berdasarkan
hasil dari analisis wawancara selanjutnya peneliti melakukan analisis domain.

4) Pada tahap menentukan fokus (dilakukan dengan observasi terfokus) analisa data
dilakukan dengan analisis taksonomi.
5) Pada tahap selection (dilakukan dengan observasi terseleksi) selanjutnya peneliti
mengajukan pertanyaan kontras, yang dilakukan dengan analisis komponensial.

6) Hasil dari analisis komponensial, melalui analisis tema peneliti menemukan tema-
tema budaya. Berdasarkan temuan tersebut, selanjutnya peneliti menuliskan laporan
penelitian kualitatif.

F. Hasil Penelitian dan Analisis Data


1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
a) Sejarah Singkat SMK Batik 2 Surakarta

SMK Batik 2 Surakarta berdiri pada tahun 1989 berdasarkan SK No. 420/103/1989
tanggal 1 Maret 1989 yang dikeluarkan oleh Kepala Kanwil Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. SMK Batik didirikan oleh tim pendiri yang dikeyuaioleh H.
Iskiyat (Alm) dengan anggota Atmanto B. A.(Alm), H. Ali Atmojo, Sumedi, B. Sc, dan Abdullah
Afandi (Alm). Tim pendiri SMK Batik 2 Surakarta dibentuk atas dasar surat Yayasan Pendidikan
Batik (YPB) Surakarta No. 363/V/YPB/10/1989 tanggal 12 Oktober 1988. Latar belakang
pendidikan SMK batik 2 Surakarta adalah semakin meningkatnya jumlah penerimaan siswa baru
di SMK Batik 2 Surakarta yang mana dulu SMEA Batik 1 Surakarta dari tahun ke tahun,
sehingga pengurus yayasan pendidikan Batik (YPB) Surakarta memberikan pertimbangan untuk
mendirikan SMK Batik 2 Surakarta.
Pada tahun ajaran pertama 1989/1990, SMK Batik 2 Surakarta terdiri dari lima kelas
dengan jumlah siswa 206 orang dengan tenaga pengajar/ tenaga edukativ sebagian besar dari
SMK Batik 1 Surakarta. Pada tahun ajaran pertama siswa-siswi SMK Batik 2 Surakarta
menempati gedung SMK Batik 1 Surakarta, dengan cara masuk siang hari karena belum memiliki
gedung sendiri. Pada tahun ajaran 1998/1999 siswa- siswi SMK Batik 2 Surakarta sudah
menempati gedung sendiri untuk proses belajar mengajar. Dikarenakan ruang kelas belum dapat
mencukupi maka pelaksanaaan mempelajaran dilakukan dengan membagi menjadi beberapa sesi,
diantaranya yaitu: kelas 1 dan kelas 2 masuk pada pagi hari, sedangkan untuk kelas 3 masuk pada
siang hariya. SMK Batik 2 Surakarta mempunyai beberapa program keahlian, diantaranya yaitu:
Sekretaris, Pemasaran, Akuntansi.
Kepala Sekolah pertama di SMK Batik 2 Surakarta adalah Bapak Soemedi, B. A. Dimana
beliau mengundurkan diri karena menjalankan tugas sebagai Kepala Sekolah SMK Batik 1
Surakarta.Kemudian, posisi Kepala Sekolah dijabat oleh Drs. Sumarjatmo yang dilantik oleh
Kepala Kanwil Provinsi Jawa Tengah dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
No.35239/A2.12/ C/1991 tanggal 19 Juni 1991 sampai dengan pension tanggal 7 Agustus 2003.
Selanjutnya jabatan Kepala Sekolah diganti oleh Bapak Drs. Yusuf berdasarkan SK Pengangkatan
dari pengurus Yayasan Pendidikan Batik (YPB) Surakarta No. 266/F2/YPB/II/2004 tanggal 28
Februari 2004 sampai tahun 2012, kemudian Bapak Drs. Bambang Kandiawan menjadi Kepala
Sekolah SMK Batik 2 Surakarta hingga sekarang.
Pada tahun ajaran 2010/ 2011 SMK Batik 2 Surakarta terus mengembangkan mutu
pendidikannya, dan memeperluas kejuruannya. Semula mempunyai 3 program kejuruan, sekarang
dikembangkan menjadi 5 program kejuruan, yaitu:
1. Akuntansi
2. AdministrasiPerkantoran
3. Pemasaran
4. Multimedia
5. KecantikanKulit

b) Visi, Misi, Tujuan yang ingin dicapai

 Visi:
Menjadi lembaga diklat yang menghasilkan Sumber Daya Manusia unggul
dibidang Bisnis Manajemen, Informatika dan Pariwisata yang berkarakter dan
beraklak mulia.
 Misi:
1) Mempersiapkan siswa yang berkarakter, cerdas dan berakhlak mulia,
memiliki jiwa wirausaha menguasai IPTEK dan unggul dalam bahasa serta
memiliki daya saing global.
2) Menyelenggarakan pendidikan profesional yang bernuansa kualitas
berorientasi keunggulan sumber daya manusia.
3) Mewujudkan pelayanan prima dan menjaga keharmonisan lingkungan
dan selalu mengadakan inovasi
 Tujuan:
1) Menyiapkan peserta didik yang cakap, mampu memahami dan
menerapkan budi pekerti luhur.
2) Menyiapkan peserta didik untuk memasuki dunia kerja serta
mengembangkan sikap profesional.
3) Menyiapkan peserta didik mampu memilih karier, berkompetisi dan
mengembangkan sikap mandiri.
4) Menyiapkan tenaga kejra untuk mengisi kebutuhan dunia usaha/ industri
dan bersikap.
5) Menyiapkan peserta didik agar mampu bersaing untuk melanjutkan ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
6) menyiapkan dan melaksanakan komponen – komponen persyaratan
sekolah berstandart internasional.
7) Merumuskan dan melaksanakan kebutuhan dan harapan pelanggan

c) Keadaan Lingkungan Belajar Murid dan Latar Belakang Siswa


Keadaan lingkungan belajar murid sudah kondusif, inventarisnya sudah lengkap, respon
siswa terkait pelajaran dinilai sudah aktif karena didukung oleh lingkungan yang bersih dan
nyaman. Hanya saja di SMK Batik 2 Surakarata sangat minim ruang yang tersedia, sehingga
semua ruang sebisa mungkin dimanfaatkan.
Siswa siswi yang menempuh jenjang pendidikan tingkat menengah di SMK Batik
2 Surakarta berasal dari dalam kota dan karesidenan Surakarta. Latar belakang
keluarga dari para siswa adalah golongan ekonomi menengah kebawah.
d) Komite Sekolah

Di SMK Batik 2 Surakarta memiliki komite sekolah di Sekolah. Komite sekolah


sangat memiliki peran penting bagi keberlangsungan sekolah. Perkembangan dan
kemajuan sekolah juga bergantung dari peran Komite Sekolah tersebut. Susunan
pengurus komite di SMK Batik 2 Surakarta:

Ketua 1 : Soemarno

Ketua 2 : Drs. Muh Pujianto

Sekretaris : Ahmad Turmudzi


Bendahara : Dra. Hariningsih
Anggota : - Drs. Jimo - Mukhamad, S.Pd, M.Pd
- Sahrial Amri, ST - Budiarsi, S.Pd
- Hendrawan, SE

d) Fasilitas Sekolah
Sekolah terletak di dalam Kota Surakarta di Komplek persekolahan/di lingkungan
persekolahan, lokasi sangat strategis. Guna menunjang Pendidikan dan Pelatihan, Sekolah
mempunyai fasilitas antara lain :
a) Laboratorium Multimedia
b) Laboratorium Bahasa Inggris
c) Digital LIberary ( Perpustakaan Digital )
d) Gedung berlantai tiga
e) Fasilitas Pembelajaran Teori ( 25 Ruang Teori )
f) Fasilitas Pembelajaran Praktik:
 Laboratorium Komputer
 Laboratorium Mengetik
 Laboratorium Akuntansi
 Laboratorium Perkantoran
 Laboratorium Pemasaran
 Laboratorium Bahasa Multimedia
 Laboratorium Multimedia
 Bank Mini
 Lab Tata Kecantikan Kulit
 Fasilitas Olah Raga dsb.

e) Jumlah Murid

SMK Batik 2 Surakarta merupakan sekolah menengah kejuruan yang memiliki 5 jurusan,
yaitu akuntansi, administrasi perkantoran, pemasaran, multimedia, dan tata kecantikan kulit.
Masing-masing kelas memiliki jumlah murid yang berbeda-beda. Adapun perincian jumlah murid
per kelas adalah sebagai berikut:

NO KELAS JURUSAN JUMLAH MURID

1 MULTIMEDIA 1 39

2 MULTIMEDIA 2 38

3 MULTIMEDIA 3 40

4 AKUNTANSI 1 41

5 X AKUNTANSI 2 42

6 ADMINISTRASI PERKANTORAN 1 43

7 ADMINISTRASI PERKANTORAN 2 43

8 PEMASARAN 1 32

9 PEMASARAN 2 34

10 KECANTIKAN KULIT 36

11 MULTIMEDIA 1 35

12 MULTIMEDIA 2 35

13 MULTIMEDIA 3 35

14 AKUNTANSI 1 33
XI
AKUNTANSI 2 32

13 ADMINISTRASI PERKANTORAN 1 39

14 ADMINISTRASI PERKANTORAN 2 40

15 PEMASARAN 33
16 KECANTIKAN KULIT 31

17 MULTIMEDIA 1 34

18 MULTIMEDIA 2 37

19 AKUNTANSI 1 38
XII
21 ADMINISTRASI PERKANTORAN 1 26

22 ADMINISTRASI PERKANTORAN 2 26

23 PEMASARAN 19

TOTAL KESELURUHAN SISWA 881

2. Penyajian data

Penyajian data ini akan dikelompokkan sesuai dengan rumusan masalah yang telah dibuat
sebelumnya. Agar mempermudah dalam penyajian dan menganalisisnya. Berdasarkan hasil
wawancara yang peneliti lakukan dengan 1 orang konselor sekolah atau guru bimbingan
konseling, perwakilan satu orang siswa yang mengikuti setiap kegiatan dan juga dilengkapi
dengan hasil observasi dan dokumentar. Dalam penelitian ini peneliti mengadakan observasi dan
wawancara kepada subjek yang ditentukan dalam penelitian ini serta didukung oleh media
dokumentar, maka dapatlah dikemukakan data mengenai tentang langkah-langkah yang harus
dilakukan dalam layanan bimbingan di SMK Batik 2 Surakarta maka data tersebut dapat
disajikan dengan urutan masalah yang dirumuskan. Agar mempermudah dalam menyajikan dan
menganalisisnya, dari hasil riset yang telah peneliti lakukan di SMK Batik 2 Surakarta diketahui
bahwa guru bimbingan dan konseling disana berjumlah satu orang, yaitu ibu Murliyanti, SE.
untuk lebih jelasnya mengenai penyajian data ini dapat dilihat pada uraian berikut.

a. Peran Guru BK dalam Meningkatkan Self Control Siswa di SMK Batik 2


Surakarta

Berdasarkan wawancara peneliti dengan guru bimbingan konseling pada tanggal 23 mei 2018
di SMK Batik 2 Surakarta, bahwa layanan bimbingan konseling di sekolah ini memang benar
ada dan guru BK memang melakukan tugas beliau melalui pelaksanaan layanan pendekatan
kepada siswa-siswa, membuat siswa merasa nyaman berdekatan dengan sang guru dan mencari
sumber permasalahan yang dialami siswa. Sesuai dengan wawancara yang dilakukan dengan
guru BK ibu Murliyanti, SE pada tanggal 20 mei 2018 jam istirahat (10:15-10:35) bahwasanya
yang telah disebutkan beliau, “setelah dilakukannya beberapa kali bimbingan terhadap siswa dan
Alhamdulillah layanan bimbingan sudah terlaksana dengan baik karena siswa tersebut
menunjukkan perubahan sikap yang lebih baik dari sebelumnya”. Adapun peran yang dilakukan
guru BK di sekolah itu yaitu:

1. Pemberian Layanan Preventif dalam Rangka Membentuk Self Control


Siswa.
a) Mengadakan layanan bimbingan kelompok.

Berdasarkan hasil wawancara pada hari rabu tanggal 23 mei 2018 jam 10:15-12:10
dengan guru bimbingan konseling di SMK Batik 2 Surakarta, yaitu ibu Murliyanti, SE
perencanaan bimbingan konseling yang mencakup tentang pemberian layanan mengenai Self
Control pada siswa. Hasil wawancara dengan guru bimbingan konseling yaitu ibu Murliyanti,
SE, beliau mengatakan: Bahawa kasus Self Control pada siswa ini lumayan banyak terjadi
disekolah ini, siswa yang merasa minder, kurang bisa mengontrol diri atau mengontrol sikap saat
proses belajar mengajar, dan hal ini yang sering dikeluhkan oleh guru-guru mata pelajaran dan
guru-guru yang lain. Dan hal ini perlu bantuan dan keterlibatan oleh guru BK dalam mengatasi
problema yang dialami sang siswa, kurangnya fokus siswa saat proses belajar mengajar atau
kurangnya minat dalam mendengarkan pembelajaran yang berlangsung sehingga membuat siswa
tidak bisa mengendalikan Self Control nya bisa disebabkan oleh faktor lingkungan maupun
faktor di rumah. Oleh sebab itu maka guru BK berinisiatif untuk mengadakan layanan bimbingan
kelompok di dalam kelas, selain itu guru BK juga memberikan motivasi dan nasehat kepada para
siswa. Biasanya pemberian layanan ini dilakukan saat jam istirahat, atau jam kosong, dan
biasanya 3 minggu satu kali setiap minggu akhir pada hari jum’at atau sabtu, hal ini memakan
waktu 5 atau 15 menit.

Materi yang disampaikan pada hari sabtu 26 mei 2018 jam 11:00-12:10 WIB di ruangan
kelas XI Pemasaran SMK Batik 2 Surakarta, berupa informasi tentang self control siswa, fungsi
layanannya yaitu guru BK memberikan pemahaman kepada para murid tentang bagaimana
mengontrol diri, sikap, dan perilaku dengan baik. Tujuannya agar para siswa mampu mengontrol
emosional yang ada di dalam diri dengan baik. Agar perilaku yang tidak diinginkan bisa
dikontrol dengan baik, sehingga terciptalah pribadi yang sehat pribadi yang ramah tamah, sopan
santun dengan semua guru, kepala sekolah dan semua orang yang ada dilingkungannya.

2. Pemberian layanan curratif dalam Rangka Meningkatkan Self Control


Siswa

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan guru bimbingan konseling


didapatkan ada beberapa cara yang dilakukan dalam hal currratif (penyembuhan).

a. Konseling Kelompok.
Konseling Kelompok merupakan salah satu cara yang dipakai oleh guru
bimbingan konseling dalam hal pemberian layanan yang dipakai sesuai dengan
kebutuhan anak, yaitu disesuaikan dengan situasi dan kondisi. layanan bimbingan ini
biasa nya dilakukan setiap 1 bulan sekali. Sesuai dengan hasil wawancara dengan guru
bimbingan konseling yaitu ibu Murliyanti, SE pada tanggal 26 mei 2018 jam 08:30-
10:40. Setiap bimbingan yang dilaksanakan sesuai dengan program layanan bimbingan
yang sudah disusun dan ditentukan seperti program layanan bimbingan tahunan, semester
dan mingguan. Secara teknis guru bimbingan konseling masuk ke dalam kelas kemudian
memberikan berbagai jenis layanan bimbingan, seperti layanan klasikal/kelompok,
layanan individu dan layanan informasi. Dengan menggunakan metode ceramah, Tanya
jawab, penugasan dan bertukar pendapat, diskusi pengalaman baik tentang diri dan
permasalahan permasalahan yang sedang dihadapi, metode ini dipakai setiap masuk
kelas.
b. Bimbingan Pribadi
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang peneliti lakukan dengan guru
BK ibu Murliyanti, SE pada tanggal 28 mei 2018 hari senin jam 09:00-10:45 bahwa
bimbingan pribadi ini lumayan sering diberikan kepada siswa, apalagi siswa yang
mengalami masalah Self Control, penanganan ini sering dilakukan pada saat jam-jam
tertentu dan penanganannya sering diberikan di dalam ruangan BK agar siswa lebih enak
dan santai untuk menceritakan permasalahan yang sedang dialaminya. Dan
mempermudah guru BK untuk melakukan pendekatan kepada siswa tersebut tentang
permasalahan apa yang sedang di hadapi anak didik sampai-sampai membawa dampak
kurang baik terhadap Self Control nya. Bimbingan pribadi ini dilaksanakan bagi siswa
yang dianggap perlu penanganan khusus yang berkenaan dengan masalah pribadi,
masalah Self Control nya yang kurang baik dan pengajaran yang dapat menghambat
proses belajar mengajar di sekolah, seperti pelaksanaan bimbingan pribadi atau
pelaksanaan konseling individu.

b. Faktor Pendukung dan Penghambat Peran Guru BK dalam Meningkatkan


Self Control Siswa di SMK Batik 2 Surakarta.

Ada beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam pemberian layanan Self Control
terhadap siswa di SMK Batik 2 Surakarta yaitu sebagai berikut.

1) Faktor pendukung
“untuk faktor pendukung allhamdulillah dari kepala sekolah, guru kelas, guru
bidang studi, staf tata usaha dan semua yang terkait didalam instansi medukung penuh
dengan adanya layanan bimbingan konseling ini”. Berdasarkan hasil wawancara di atas
dengan guru bimbingan konseling secara umum didapat untuk layanan bimbingan
konseling sudah mendapatkan dukungan penuh dari semua pihak yang terkait. dan
berdasarkan beberapa kali wawancara dan observasi didapatkan ada beberapa faktor
pendukung dalam bimbingan konseling yaitu, sebagai berikut:
a. Faktor Intern

Faktor guru BK yang meliputi latar belakang pendidikan, kualifikasi, profesional, dan
pengalaman Kerja. Dalam melaksanakan tugasnya agar berhasil dengan baik perlu ditunjang
dengan adanya pendidikan yang sesuai dengan tugasnya, keprofesionalan yang baik dan
pengalaman kerja yang memadai. Guru bimbingan konseling latar belakangnya adalah S1
bimbingan konseling di Universitas Sebelas Maret. Untuk menambah pengetahuan serta
meningkatkan kualitas kerjanya guru bimbingan konseling mengikuti pelatihan-pelatihan tentang
BK, seperti MGBK pelatihan kurikulum 2013 dan peelatihan-pelatihan lainnya. Pengalaman
kerja Guru bimbingan dan konseling, sejak menyelesaikan studi konselor bekerja sebagai guru
bimbingan dan konseling dan pernah menjadi guru bantu tahun 2005 selain guru BK juga
merangkap tugas menjadi guru bidang studi agama, kemuhammadiyahan, pelajaran Al-Qur’an,
seni, geografi, agama. Dan sekarang hanya menjadi guru bimbingan dan konseling dan guru
bidang studi kemuhammadiyahan. Dan beliau memulai sebagai konselor di SMK Batik 2
Surakarta itu sejak tahun 2005 dan sampai sekarang. Berdasarkan hasil observasi serta
wawancara yang telah dilakukan dengan guru bimbingan konseling di SMK Batik 2 Surakarta
bahwa beliau memang merupakan ahli dalam bidangnya. Sebab beliau adalah yang telah
menyelesaikan pendidikan bimbingan konseling. Disamping itu juga ditunjang dengan
pengalaman kerja yang puluhan tahun telah bekerja sebagai tenaga bimbingan konselling
disekolah serta telah mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan seputaran bimbingan konseling.

b. Faktor Ekstern

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan peneliti faktor yang sering
mempengaruhi kurang sesuai nya aktivitas guru BK dalam pemberian layanan ialah faktor sikap
siswa yang kadang kurang memberikan respon baik terhadap upaya guru BK dalam membantu
siswa agar bisa mengontrol sikapnya dengan baik. Sesuai dengan wawancara yang telah
dilakukan dengan guru BK, bahwasanya: “Adapun kesulitan yang dihadapi ialah ketika
menghadapi siswa yang pasif, siswa yang tertutup, itu sangat sulit karena kita susah untuk
mencari data siswa itu untuk melakukan bimbingan”. Serta faktor keterbatasan nya waktu juga
sering menjadi penghambat guru BK dalam pemberian layanan kepada anak didik, situasi yang
kurang bersahabat dengan bawaan hati siswa juga menjadi salah satu faktor penghambat guru
BK dalam pemberian layanan siswa yang kurang senang dengan adanya layanan bimbingan
konseling ini cenderung lebih banyak diam dan tertutup. Berdasarkan hasil observasi dan
wawancara dengan guru BK bahwa sarana prasarana yang dapat menunjang berlangsungnya
kegiatan bimbingan konseling. Dan dari hasil observasi dan wawancara yang telah didapat
bahwa sarana prasarana yang berhubungan dengan pelaksanaan bimbingan konseling yaitu
fasilitas fisik yang berupa ruangan bimbingan konseling. Dimana ruangan tersebut dilengkapi
dengan 1 lemari tempat penyimpanan data-data siswa, meja dan kursi untuk melakukan
bimbingan pribadi, kalender matriks, program BK, kipas angin, Program BK yang bertempel
didinding, buku-buku, dan kursi panjang (Tamu). Fasilitas teknis berupa angket, problem ceklist,
sosiometri, data pribadi dan sebagainya.

3. Analisi Data

Setelah peneliti menyajikan data yang terkumpul, berikut ini akan diadakan analisis data
sesuai dengan penemuan data dari hasil penelitian yang menjawab dari kedua rumusan masalah
penelitian ini. Sebagai lokasi penelitian, SMK Batik 2 Surakarta yang bertempat Jalan Slamet
Riyadi, Kleco, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Kode Pos 57146, Propinsi Jawa
Tengah, Sekolah ini dimulai pada pukul 07:00-14:30 WIB, jam itu sudah ditentukan sesuai
dengan keputusan rapat antara kepala sekolah dan guru-guru, pada dasarnya siswa yang
bersekolah disini memang harus mentaati semua peraturan dan tata tertib yang ada disekolah ini
tapi pada kenyataannya masih banyak siswa yang melanggar peraturan dan tata tertib sekolah
siswa yang memiliki Self Control kurang baiklah yang sering melakukan pelanggaran di sekolah
seperti datang telat atau melanggar peraturan dengan cara berpakaian tidak rapi, atau
menggunakan sendal kesekolah, dan sering keluar kelas pada saat jam pelajaran, sering berbicara
dan tidak konsentrasi pada saat jam pelajaran berlangsung dll. Berdasarkan fakta yang
didapatkan sebagai hasil observasi, wawancara dan dokumentasi, sebagaimana yang terangkum
pada penyajian data dari hasil riset penelitian, adapun analisis data yang peneliti kemukakan
tentang peran guru BK dalam meningkatkan Self Control siswa di SMK Batik 2 Surakarta tahun
pelajaran 2017-2018 adalah sebagai berikut:

a. Peran Guru BK dalam Meningkatkan Self Control Siswa di SMK Batik 2


Surakarta

i. Pemberian Layanan Preventif Dalam Rangka Membentuk Self Control


Siswa.
1) Mengadakan layanan bimbingan kelompok.

Untuk membantu siswa dalam membentuk Self Control siswa guru bimbingan dan
konseling terus berusaha memberikan hal-hal yang positif untuk siswanya. Berdasarkan hasil
wawancara dengan 1 orang guru BK pada tanggal 23 mei 2018 jam 10:15-12:10 dan dibenarkan
oleh guru, karyawan tata usaha dan kepala sekolah serta dibuktikan dengan wawancara melalui
dokumen oleh peneliti dapat dianalisis bahwa guru BK sudah melakukan perannya sebagai guru
BK dengan baik. Ini terlihat dalam hal tindakan, contoh yang nyata atau bahasa dan juga saat
proses mengajar berlangsung maupun melalui penjelasan penjelasan di kelas.

Pemberian layanan bimbingan kelompok yang dilakukan guru BK agar siswa tidak
mengalami masalah pada Self Control nya ialah dengan cara melakukan pendekatan dulu kepada
seluruh siswa serta memberikan pemahaman kepada seluruh siswa bahwa guru BK disini
berfungsi bukan untuk mencari-cari masalah yang ada didiri siswa tetapi membantu siswa dalam
mengatasi problem atau permasalahan yang sedang dihadapinya, setelah siswa mulai merasa
nyaman untuk dekat atau bahkan curhat dengan guru BK tentang masalah yang dihadapinya
maka saat itulah penggalian data tentang siswa mudah untuk didapatkan, biasanya siswa yang
memiliki masalah pada Self Control ini kebanyakan berada pada saat proses belajar mengajar
dikelas, siswa kebanyakan melamun kebanyakan berbicara dengan teman disampingnya dan hal
lainnya yang sering dikeluhkan oleh guru mata pelajaran.

Mendengar laporan dari para guru maka guru BK akan melakukan survei kepada anak
tersebut. Pertama mengidentifikasi masalah Self Control. Mengidentifikasi masalah Self Control
disini yaitu mengidentifikasi apakah anak itu pada saat mata pelajaran/guru tertentu saja si anak
memiliki prilaku seperti itu atau memang ada masalah lain yang membuat peserta didik kurang
fokus dalam pembelajaran dikelas, dan selain itu guru BK juga melakukan survei dulu kepada
teman-temannya kenapa anak itu, atau sedang ada masalahkah anak jadi kehilangan konsentrasi
dikelas, dan guru BK pun langsung mencari tahu kepada teman-teman terdekatnya di luar
sepengetahuan anak. Kedua melaksanakan bimbingan setelah dilakukan survei beberapa hari dan
data pun sudah didapat maka guru BK akan melakukan tindakan langsung dengan cara
melakukan konseling kelompok di rembukkan dan dicarilah jalan keluar yang tepat untuk para
siswa yang sedang bermasalah, ditanya dengan baik-baik kenapa pada saat proses belajar
mengajar si anak sering tidak fokus dalam memperhatikan pelajaran. Ketiga evaluasi melakukan
pengamatan konselor memantau peserta didik selama proses belajar mengajar berlangsung,
apabila setelah melakukan pelaksanaan bimbingan tentang Self Control siswa masih berprilaku
seperti itu maka akan ada pemanggilan kedua, untuk diberikan pemahaman yang lebih dalam
sampai peserta didik betul-betul memahami dengan apa yang sudah disampaikan oleh guru BK.

ii. Pemberian Layanan Kuratif Dalam Rangka Meningkatkan Self Control


Siswa
1) Konseling Kelompok

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru BK di SMK Batik 2 Surakarta
ibu Murliyanti, SE pada hari senin 28 mei 2018 jam 08:30-10:40 dalam melaksanakan peran
beliau sebagai guru BK yang membantu siswa dalam memperbaiki Self Control nya sudah
berjalan dengan baik, dan ketika proses pemberian layanan (RPL) berlangsung ada siswa yang
fokus (berbicara dengan teman) maka tahapan pertama yang dilakukan guru BK ialah menegur
agar siswa itu tidak berbicara lagi, dan ketika peserta didik ini berbicara lagi untuk kedua kalinya
maka guru BK dengan tegas menegur dan memberikan peringatan kepada siswa tersebut apabila
dalam teguran ketiga ini peserta didik masih saja berbicara maka akan diberikan teguran tegas
yang terakhir yaitu peserta didik akan diminta berdiri didepan kelas selama proses belajar
mengajar berlangsung, selang beberapa waktu kemudian peserta didik berbicara lagi maka sesuai
perjanjian yang kedua tadi maka resiko yang akan diterima para peserta didik ialah berdiri di
depan kelas selama proses belajar mengajar berlangsung, dan guru BK akan memberikan
pemahaman langsung kepada para peserta didik yang ada di ruangan bahwa sikap yang seperti
ini sangat tidak baik untuk dicontoh, dan sekaligus memberikan pemahaman kepada sang siswa
yang kena sangsi (M. Rasya Al-Firdaus siswa kelas XI Pemasaran) bahwa cara seperti ini bukan
bermaksud apa-apa, hanya saja ingin memberikan pemahaman kepada peserta didik yang kena
sanksi bahwa berbicara di dalam ruangan kelas pada saat proses belajar sangat tidak baik dan
tidak sopan, mengganggu konsentrasi teman dan juga sangat tidak bermanfaat untuk si anak
karena akibat dari dia berbicara berulang kali maka dia akan ketinggalan pemahaman dengan
mata pelajaran yang sudah dijelaskan oleh guru.

Berdasarkan hasil dari pengumpulan data dari observasi, wawancara, dan dokumentasi
tentang program layanan Self Control, layanan Self Control sangatlah penting dilaksanakan di
sekolah karena dengan layanan ini sangat membantu siswa agar bisa paham dan tahu bagaimana
caranya agar bisa mengontrol sikapnya dengan baik.

2) Bimbingan Pribadi

Peran guru BK merupakan suatau posisi atau kedudukan dimana memiliki kewajiban dan
tanggung jawab. Guru BK yang ditempatkan di sekolah bertugas melakukan berbagai kegiatan
seputar BK termasuk dalam hal Self Control (mengontrol sikap) siswa agar menjadi pribadi yang
lebih baik lagi, dan layanan ini dilakukan untuk mengetahui apakah program yang telah
dijalankan dapat membawa nilai-nilai yang positif pada diri siswa atau sebaliknya. Berdasarkan
data yang didapat dari guru BK melalui wawancara tanggal 30 mei 2018 hari rabu jam 09:00-
10:45 dan dokumentasi bahwa bimbingan pribadi akan diberikan kepada siswa di ruangan BK
agar siswa itu sendiri merasa nyaman dan lebih leluasa dalam menceritakan permasalahan yang
dialami nya, dan guru BK jadi lebih mudah dalam pendekatan serta memberikan pemahaman
kepada siswa tentang Self Control yang baik itu seperti apa. Berdasarkan penyajian data di atas
dapat diambil kesimpulan bahwa peran guru BK dalam proses penyembuhan Self Control siswa
sudah dilaksanakan dengan baik.

a. Data yang berkenaan dengan faktor pendukung dan penghambat

Peran guru BK dalam meningkatkan Self Control siswa di SMK Batik 2 Surakarta. Faktor
internal dan eksternal siswa sedikit banyaknya mempunyai pengaruh dalam usaha guru BK untuk
meningkatkan Self Control siswa. Berdasarkan pernyataan diatas melalui wawancara dan
dokumentasi dapat dianalisis bahwa usaha murid dan bantuan guru BK dalam meningkatkan Self
Control siswa melalui faktor internal dan eksternal ini dengan metode pendekatan.

i. Faktor pendukung
1) Faktor Intern.

Dalam menjalankan tugasnya seorang guru BK hendaknya didukung dengan pendidikan


yang memadai dan sesuai dengan bidang yang digelutinya sehingga ia dapat menjalankan
tugasnya sesuai dengan harapan yang diinginkan yaitu membantu siswa siswi dalam
menyelesaikan masalahnya. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara bahwa guru BK
disekolah ini berlatar belakang pendidikan bimbingan konseling. Dari hal tersebut diketahui
bahwa pendidikan yang dimiliki guru BK telah sesuai. Dan menaggapi hal tersebut maka guru
BK di sekolah SMK Batik 2 Surakarta mengatakan bahwa beliau memang lulusan dari jurusan
Bimbingan Konseling (s1) di Universitas Sebelas Maret. Dan sudah bertahun-tahun mengajar
sebagai guru BK, selain itu beliau juga sering mengikuti pelatihan dan seminar atau pengalaman-
pengalaman lainnya seputar bimbingan konseling. Jadi beliau sudah memahami karakter anak itu
seperti apa.

Bagaimanapun sumber daya manusia yang kurang profesional akan menghambat


pelaksanaan sistem pendidikan. penataan SDM yang tidak sesuai dengan latar belakang
pendidikan dan keahliannya menyebabkan pendidikan tidak profesional. Banyak tenaga
kependidikan yang latar belakang pendidikannya tidak relevan ditempatkan didunia kerja yang
ditekuninya. Dengan demikian dinyatakan dengan tegas bahwa untuk dapat menunaikan tugas
dengan baik, maka latar belakang pendidikan yang sesuai kualifikasinya. Berdasarkan
pernyataan diatas melalui wawancara, dapat dianalisis bahwa pengalaman bertugas dan latar
belakang pendidikan para guru bimbingan dan konseling sudah baik dan memenuhi syarat
perundang undangan yang berlaku dan sesuai profesi yang dipegang sehingga akan berperan
penting terhadap peningkatan siswa-siswinya. Pengalaman kerja juga salah satu faktor yang
mempengaruhi cara kerja guru BK, karena pengalaman kerja merupakan syarat penting yang
tidak bisa diabaikan oleh siapapun.

2) Faktor Ekstern

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan kepada guru BK faktor ekstern juga
berpengaruh penting dalam Self Control siswa bagaimana sikap siswa terhadap guru BK. Peserta
didik yang memiliki respon kurang baik atau pasif dan kurang senang terhadap guru BK itu
sendiri sedang mengalami masalah pada Self Control nya karena Self Control mereka sedang
dalam masalah dan egonya yang tinggi, faktor keterbatasan waktu juga menjadi faktor
penghambat bagi guru BK dalam memberikan layanan dan pendekatan kepada siswa.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SMK Batik 2 Surakarta bahwa sarana dan
prasarana yang dimiliki untuk pelaksanaan BK atau kegiatan layanan akan semakin sukses bila
ditunjang dengan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.

Kegiatan layanan dan konseling banyak dipengaruhi oleh lengkap tidaknya fasilitas yang
dimiliki bukanlah jaminan sebuah keberhasilan. Yang terpenting adalah bagaimana
memanfaatkan fasilitas yang dimiliki tersebut semaksimal mungkin secara efektif dan efesien.
Fasilitas yang dimaksud disini baik fisik maupun teknis, serta biaya fasilitas teknik seperti
angket, data pribadi, problem ceklist, sosiometri, papan BK dan sebagainya, serta anggaran biaya
yang dimiliki untuk pelaksanaan layanan bimbingan konseling sudah ada dan tersedia.
Alhamdulillah sudah memenuhi standar yang cukup untuk melaksanakan layanan bimbingan
konseling.

G. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang pelaksanaan Self Control siswa di SMK Batik 2
Surakarta dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Peran guru BK dalam meningkatkan Self Control siswa di SMK Batik 2


Surakarta.
a) Pemberian layanan preventif yang sudah konselor lakukan dalam rangka
membentuk Self Control siswa sudah baik namun di SMK Batik 2 Surakarta masih
lumayan banyak kasus Self Control yang terjadi, ini dikarenakan para peserta didik yang
merasa minder, kurang bisa mengontrol diri atau mengontrol sikap saat proses belajar
mengajar di sekolah. Akibatnya pada saat proses belajar mengajar para peserta didik menjadi
kurang fokus saat pembelajaran sedang berlangsung. Akan tetapi itu semua sudah diatasi
guru BK langsung dengan pemberian layanan bimbingan kelompok.

b) Pemberian layanan curratif dalam meningkatkan Self Control siswa


sudah sangat baik, namun kurangnya konselor di SMK Batik 2 Surakarta ini
mengakibatkan peningkatan Self Control peserta didik di sekolah tersebut menjadi sedikit
terhambat. Baik dari segi Klasikal ataupun dari segi konseling pribadi. Tetapi dengan
tindakan langsung yang sudah diberikan guru BK kepada peserta didik itu sudah cukup
untuk memberikan pemahaman kepada anak didik bahwa perilaku yang telah
dilakukannya itu sangat tidak baik, baik untuk dirinya pribadi maupun orang (teman-
teman) disekitarnya.

2. Faktor pendukung dan penghambat peran guru BK dalam meningkatkan


Self Control siswa di SMK Batik 2 Surakarta dilihat dari:
a. Faktor intern dan ekstern sesuai dengan teori yang mencakup tentang faktor guru
BK, latar belakang pendidikan guru, pengalaman kerja, dan keahlian guru BK sudah
sangat mendukung. Hal ini sudah dapat dilihat dari kinerja guru BK itu sendiri dalam
mengatasi permasalahan-permasalahan yang dialami siswa. Dan memang beliau latar
belakangnya dari bimbingan konseling. Serta beliau pernah beberapa kali mengikuti
pelatihan, seminar dan sejenisnya.
b. Sarana (fasilitas) dan prasarana yang ada di sekolah ini sangat mendukung dengan
kelancaran pelayanan bimbingan konseling. Terlihat dari tersedianya ruangan khusus
untuk kegiatan pelaksanaan bimbingan konseling. Serta sarana teknis berupa alat
pengumpulan data serta perlengkapan administrasi lainnya yang berhubungan dengan
kegiatan pelaksanaan layanan bimbingan.

H. SARAN-SARAN

Sesuai dengan penyajian data, analisis, dan kesimpulan penelitian di atas maka
disarankan:
1. Peran guru BK dalam meningkatkan Self Control siswa yang sudah ada
dilaksanakan, diharapkan bisa lebih ditingkatkan lagi, lebih berpariasi dalam pemberian
layanan dan lebih baik lagi dalam rangka membentuk Self Control siswa di SMK Batik 2
Surakarta. Akan lebih baik hal-hal yang positif lebih ditanamkan kepada siswa, baik itu
berupa praktik atau materi.
2. Kepala sekolah, wali kelas, guru pengajar, staf TU, dan orang tua agar bersama-
sama membantu untuk meningkatkan kerjasama dalam membantu mengentaskan
permasalahan yang dialami siswa khususnya masalah tentang Self Control siswa di SMK
Batik 2 Surakarta .
3. Kepada guru bimbingan konseling agar lebih ditingkatkan lagi dalam program
layanan bimbingan konseling khususnya Self Control, yaitu dengan lebih sering lagi
mengikuti seminar dan pelatihan-pelatihan program bimbingan konseling yang efektif di
sekolah.
4. Saran untuk para peneliti selanjutnya yang ingin meneliti hal serupa dengan
penelitian ini, diharapkan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman khususnya
yang berkenaan dengan masalah Self Control.

I. Daftar Pustaka

Arifin, Zaenal. 2010. Metodologi penelitian pendididkan. Surabaya: Lentera Cendekia.

Borba, Michele. Membangun Kecerdasan Moral; Tujuh Kebajikan Utama Agar Anak Bermoral
Tinggi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.

E.B, Hurlock. 2004. (Alih Bahasa Istiwidayanti & Soedjarwo) Psikologi Perkembangan Suatu
Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Fatimah, Enung. 2006. Psikologi Perkembangan; Perkembangan Peserta Didik. Bandung:


pustaka setia.

Ghufron, M. Nur.” Hubungan Kontrol diri, persepsi remaja terhadap penerapan disiplin orang tua
dengan prokrastinasi akademik.” Tesis Ilmu Psikologi UGM Yogyakarta, 2003.
http://www.damandiri.or.id/file/mnurgufronugmbab2.pdf, diakses pada 10 Juni 2018.
Gunarsa, D. Singgih. Bunga rampai Psikologi Perkembangan; Dari anak sampai usia lanjut.
Jakarta: Gunung Mulia, 2006.

Kartono, Kartini. 2008. Kamus Lengkap Psikologi (terjemah). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Latipun. 2015. Psikologi Konseling, Malang: Universitas Muhamadiyah Malang Press.

Mappiare AT, Andi. 2004. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.

Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002.

Salahudin, Anas, M.Pd. 2016. Bimbingan & Konseling. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Sugiyono, Metodologi Penelitian kuantitatif kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta, 2006.

Yusuf, Syamsul L.N. 2001. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:Rosda Karya.