Anda di halaman 1dari 16

1.

Why the patient complaining of her vaginal discharge smells like fishy odor since 2
weeks ago?

Penyebab bakterial vaginosis bukan organisme tunggal. Pada suatu analisis dari data
flora vagina memperlihatkan bahwa ada beberapa kategori dari bakteri vagina yang
berhubungan dengan bakterial vaginosis, yaitu :

1. Gardnerella vaginalis

Berbagai kepustakaan selama 30 tahun terakhir membenarkan observasi Gardner dan


Dukes’ bahwa Gardnerella vaginalis sangat erat hubungannya dengan bakterial vaginosis.1
Organisme ini mula-mula dikenal sebagai H. vaginalis kemudian diubah menjadi genus
Gardnerella atas dasar penyelidikan mengenai fenetopik dan asam dioksi-ribonukleat. Tidak
mempunyai kapsul, tidak bergerak dan berbentuk batang gram negatif atau variabel gram. Tes
katalase, oksidase, reduksi nitrat, indole, dan urease semuanya negatif.10 Kuman ini bersifat
anaerob fakultatif, dengan produksi akhir utama pada fermentasi berupa asam asetat, banyak
galur yang juga menghasilkan asam laktat dan asam format. Ditemukan juga galur anaerob
obligat. Untuk pertumbuhannya dibutuhkan tiamin, riboflavin, niasin, asam folat, biotin, purin,
dan pirimidin.11
2. Bakteri anaerob : Mobilincus Spp dan Bacteriodes Spp
Bacteriodes Spp diisolasi sebanyak 76% dan Peptostreptococcus sebanyak 36% pada
wanita dengan bakterial vaginosis. Pada wanita normal kedua tipe anaerob ini lebih jarang
ditemukan. Penemuan spesies anaerob dihubungkan dengan penurunan laktat dan
peningkatan suksinat dan asetat pada cairan vagina. Setelah terapi dengan metronidazole,
Bacteriodes dan Peptostreptococcus tidak ditemukan lagi dan laktat kembali menjadi asam
organik yang predominan dalam cairan vagina. Spiegel menyimpulkan bahwa bakteri
anaerob berinteraksi dengan G.vaginalis untuk menimbulkan vaginosis. Peneliti lain
memperkuat hubungan antara bakteri anaerob dengan vaginosis bakterial. Mikroorganisme
anaerob lain yaitu Mobiluncus Spp, merupakan batang anaerob lengkung yang juga
ditemukan pada vagina bersama-sama dengan organisme lain yang dihubungkan dengan
bakterial vaginosis. Mobiluncus Spp hampir tidak pernah ditemukan pada wanita normal,
85% wanita dengan bakterial vaginosis mengandung organisme ini.1
3. Mycoplasma hominis
Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa Mycoplasma hominis juga harus
dipertimbangkan sebagai agen etiologik untuk vaginosis bakterial, bersama-sama dengan
G.vaginalis dan bakteri anaerob lainnya. Prevalensi tiap mikroorganisme ini meningkat pada
wanita dengan bakterial vaginosis. Organisme ini terdapat dengan konsentrasi 100-1000 kali
lebih besar pada wanita dibandingkan dengan bakterial vaginosis pada wanita normal.1
Pertumbuhan Mycoplasma hominis mungkin distimulasi oleh putrescine, satu dari amin
yang konsentrasinya meningkat pada bakterial vaginosis. Konsentrasi normal bakteri dalam
vagina biasanya 105 organisme/ml cairan vagina dan meningkat menjadi 108-9
organisme/ml pada bakterial vaginosis. Terjadi peningkatan konsentrasi Gardnerella
vaginalis dan bakteri anaerob termasuk Bacteroides, Leptostreptococcus, dan Mobilincus
Spp sebesar 100-1000 kali lipat.9

Bakterial vaginosis disebabkan oleh faktor-faktor yang mengubah lingkungan asam


normal di vagina menjadi keadaan basa yang mendorong pertumbuhan berlebihan bakteri-
bakteri penghasil basa. Lactobacillus adalah bakteri predominan di vagina dan membantu
mempertahankan sekresi vagina yang bersifat asam. Faktor-faktor yang dapat mengubah pH
melalui efek alkalinisasi antara lain adalah mukus serviks, semen, darah haid, mencuci vagina
(douching), pemakaian antibiotik, dan perubahan hormon saat hamil dan menopause. Faktor-
faktor ini memungkinkan meningkatnya pertumbuhan Gardnerella vaginalis, Mucoplasma
hominis, dan bakteri anaerob. Metabolisme bakteri anaerob menyebabkan lingkungan menjadi
basa yang menghambat pertumbuhan bakteri lain8,12

Mencuci vagina (douching) sering dikaitkan dengan keluhan disuria, keputihan, dan gatal
pada vagina. Pada wanita yang beberapa kali melakukan douching, dilaporkan terjadi
perubahan pH vagina dan berkurangnya konsentrasi mikroflora normal sehingga
memungkinkan terjadinya pertumbuhan bakteri patogen yang oportunistik. 16
Sekret vagina adalah suatu yang umum dan normal pada wanita usia produktif. Dalam
kondisi normal, kelenjar pada serviks menghasilkan suatu cairan jernih yang keluar, bercampur
dengan bakteri, sel-sel vagina yang terlepas dan sekresi dari kelenjar Bartolini. Pada wanita,
sekret vagina ini merupakan suatu hal yang alami dari tubuh untuk membersihkan diri, sebagai
pelicin, dan pertahanan dari berbagai infeksi. Dalam kondisi normal, sekret vagina tersebut
tampak jernih, putih keruh, atau berwarna kekuningan ketika mengering di pakaian, memiliki
pH kurang dari 5,0 terdiri dari sel-sel epitel yang matur, sejumlah normal leukosit, tanpa jamur,
Trichomonas, tanpa clue cell.11

Pada bakterial vaginosis dapat terjadi simbiosis antara G.vaginalis sebagai pembentuk
asam amino dan kuman anaerob beserta bakteri fakultatif dalam vagina yang mengubah asam
amino menjadi amin sehingga menaikkan pH sekret vagina sampai suasana yang sesuai bagi
pertumbuhan G. vaginalis. Beberapa amin diketahui menyebabkan iritasi kulit dan menambah
pelepasan sel epitel dan menyebabkan duh tubuh berbau tidak sedap yang keluar dari vagina.
Basil-basil anaerob yang menyertai bakterial vaginosis diantaranya Bacteroides bivins, B.
Capilosus dan B. disiens yang dapat diisolasikan dari infeksi genitalia.10

G. vaginalis melekat pada sel-sel epitel vagina in vitro, kemudian menambahkan


deskuamasi sel epitel vagina sehingga terjadi perlekatan duh tubuh pada dinding vagina.
Organisme ini tidak invasif dan respon inflamasi lokal yang terbatas dapat dibuktikan dengan
sedikitnya jumlah leukosit dalam sekret vagina dan dengan pemeriksaan histopatologis.
Timbulnya bakterial vaginosis ada hubungannya dengan aktivitas seksual atau pernah
menderita infeksi Trichomonas.10 Bakterial vaginosis yang sering rekurens bisa disebabkan oleh
kurangnya pengetahuan tentang faktor penyebab berulangnya atau etiologi penyakit ini.
Walaupun alasan sering rekurennya belum sepenuhnya dipahami namun ada 4 kemungkinan
yang dapat menjelaskan, yaitu:9

1. Infeksi berulang dari pasangan yang telah ada mikroorganisme penyebab bakterial
vaginosis. Laki-laki yang mitra seksual wanitanya terinfeksi G. vaginalis mengandung G.
vaginalis dengan biotipe yang sama dalam uretra tetapi tidak menyebabkan uretritis
pada laki-laki (asimptomatik) sehingga wanita yang telah mengalami pengobatan
bakterial vaginosis cenderung untuk kambuh lagi akibat kontak seksual yang tidak
menggunakan pelindung.

2. Kekambuhan disebabkan oleh mikroorganisme bakterial vaginosis yang hanya dihambat


pertumbuhannya tetapi tidak dibunuh.

3. Kegagalan selama pengobatan untuk mengembalikan Lactobacillus sebagai flora normal


yang berfungsi sebagai protektor dalam vagina.

4. Menetapnya mikroorganisme lain yang belum diidentifikasi faktor hostnya pada


penderita, membuatnya rentan terhadap kekambuhan.

2. What is the relation between she is a nulliparous with her vaginal discharge that she
complains ?
Berkaitandenganetiologi, jikasaatsudahmelahirkankemungkinanbisaterjadiinvasibakteri.
Jika yang belumpernahmelahirkanmakabisadikesampingkanuntuketiologi yang
tidakberkaitan.
Kemungkinankarenadiabelumpernahmelahirkan, pakai KB IUD infeksiendoserviks
3. Mengapa pada pasien keluar vaginal discharge setelah berhubungan ?
Faktorresikomungkinsaatberhubunganpadalaki-
lakitidakmelakukankhitanbakterikontakdengan vagina memasukkanbakterike
vagina wanita.
Vagina menghasilkan secret (glikogen)  lactobacillus berkurang pH
basainvasibakteri.
Tidakadaeritema :karenatidakadainfeksitapikarenadisiniterjadinyaperubahankomposisi
flora normal.
Secret vagina basalingkunganjugabasamemicutimbulnya fishy odor

4. What is clinical manifestation of the case scenario ?

Dengan hanya mendapat satu gejala, tidak dapat menegakkan suatu diagnosis, oleh
sebab itu didapatkan kriteria klinis untuk bakterial vaginosis yang sering disebut sebagai
kriteria Amsel (1983) yang berpendapat bahwa terdapat tiga dari empat gejala, yaitu :

1. Adanya sekret vagina yang homogen, tipis, putih, melekat pada dinding vagina dan
abnormal
2. pH vagina > 4,5
3. Tes amin yang positif, yangmana sekret vagina yang berbau amis sebelum atau
setelah penambahan KOH 10% (Whiff test).
4. Adanya clue cells pada sediaan basah (sedikitnya 20 dari seluruh epitel)
Gejala diatas sudah cukup untuk menegakkan diagnosis.

5. What is the relation between the diagnosis and she denied being treated for vaginitis or
sexually transmitted diseases ?
Sebelumnyabelumpernah di diagnosis danterapi vaginitis untukkemungkinan yang
didapatkandarimanifesatasiklinis (VD, fishy odor) yang lebihdari 2 minggu yang
lalubisadikatakanbukaninfeksikronis/rekuren.Kemungkinanbisatimbulsetelah
intercourse.
6. What is the relation between that she has no medication other than an oral
contraceptive agent with clinical manifestation she suffered ?
Kontrasepsi oralesterogenmemicuselepiteluntukmenghasilkan secret
danglikogen.Lactobacillus berkurang pH basalalutimbul fishy odor.
7. Describe the etiology and risk factors from vaginal discharge ?
Etiologi :
Bakteri Neisseria gonorrhoe
BakteriClamidia trachomatis
Bakterivaginalis
Candida albicans
Protozoa (Trichomonasvaginalis)
Faktor resiko :

1. Aktivitas seksual
Dikatakan VB lebih jarang pada wanita paska pubertas tanpa pengalaman seksual
dibandingkan yang mempunyai pengalaman seksual. Amsel dan kawan- kawan
menemukan pada wanita tanpa pengalaman seksual tidak menderita VB dari 18 orang
yang diperiksa, sedangkan pada wanita yang mempunyai pengalaman seksual
didapatkan sebanyak 69 (24%) menderita VB.11Studi kohort longitudinal memberikan
bukti bahwa wanitayang memiliki banyak pasangan seksual pria pasangan seksual pria
dalam 12 bulan terakhir berkaitan dengan terjadinya vaginosis bakterial.11,14,17 VB juga
meningkat pada wanita yang melakukan hubungan seksual dengan wanita (women sex
women/WSW ) dan berkaitan dengan wanita yang memiliki satu atau lebih pasangan
seksual wanita dalam 12 bulan terakhir Studi pada lesbian memberikan bukti lebih jauh
tentang peranan hubungan seksual dalam penularan VB. Sekitar 101 lesbian yang
mengunjungi klinik ginekologi sebesar 29 % menderita VB begitu juga pasangan
seksualnya. Kemungkinan wanita menderita VB hampir 20 kali, jika pasangannya juga
menderitaVB. Patogenesi terjadinya VB pada WSW ini masih belum jelas. Salah satu
penjelasan yang mungkin adalah adanya persamaan antara bakteri anaerob yang
berkaitan dengan gingivitis dan VB.17 Kebiasaan seksual melalui anus dikatakan juga
memegang peranan dalam terjadinya VB, transfer perineal atau bakteri pada rektum ke
vagina, telah diketahui menjadi konsekuensi pada hubungan seksual melalui anal.
Bakteri yang sering, yaitu Echerria coli dan Streptococcus , dan hal ini memungkinkan
bahwa VB dapat ditimbulkan atau dicetuskan oleh hubungan seksual yang tidak
terlindungi , sehingga terjadi translokasi bakteri dari rektum ke vagina.11

2. Douching
Faktor epidemiologi lain juga penting dalam terjadinya VB. Studi
kohort terbaru dari 182 wanita menunjukkan terjadinya VB tidak hanya
berhubungan dengan pasangan seksual baru, tetapi juga berhubungan dengan
penggunaan douching vagina. Pemakaian douching vagina yang merupakan
produk untuk menjaga hiegene wanita bisa menyebabkan VB.4,11,12 Kebiasaan
douching dikatakan dapat merubah ekologi vagina, penelitian yang dilakukan
oleh Onderdonk dan kawan – kawan menyatakan douches yang mengandung
povidon iodine lebih mepunyai efek penghambatan terhadap laktobasilus
vagina dibandingkan yang mengandung air garam atau asam asetat.4

3. Merokok
Merokok dikatakan berkaitan dengan VB dan penyakit IMS lainnya, dari penelitian yang
dilakukan di Inggris dan Swedia, dikatakan merokok dapat menekan sistem imun,
sehingga memudahkan terjadinya infeksi serta dapat menekan pertumbuhan
laktobasilus yang menghasilkan hydrogen peroksidase. Mekanisme lain yang
menghubungkan antara merokok dan VB adalah, dikatakan rokok mengandung berbagai
zat kimia, nikotin, kotinin, dan benzopirenediolepoxide, yang mana zat – zat kimia ini ada
pada cairan mukosa servik perokok dan secara langsung dapat merubah mikroflora
vagina atau merusak sel langerhan pada epitel servik yang menyebabkan terjadinya
imunosupresi lokal. Penelitian yang dilakukan oleh Smart dan kawan – kawan (2003)
menyatakan resiko terjadinya VB sebanding dengan jumlah rokok yang dihisap tiap hari,
yang mana jika jumlah rokok yang dihisap makin banyak (> 20 batang/perhari) maka
resiko terkena VB juga makin besar.

4. Pengunaan AKDR
Amsel dkk, dan Holst dkk menemukan VB lebih sering ditemukan pada wanita yang
menggunakan AKDR dibandingkan yang tidak menggunakannya (18,8 % vs 5,4% dengan
p <0,0001 dan 35 % vs 16 % dengan p <0,03). BV meningkat diantara pengguna AKDR
dibandingkan kontrasepsi oral hal ini mungkin disebabkan oleh bagian ekor dari AKDR
yang ada pada endoservik atau vagina menyebabkan lingkungan untuk berkembangnya
bakteri anaerob dan G.vaginalis , yang mungkin memegang peranan dalam terjadinya
VB pada wanita yang menggunakan AKDR

8. What is diagnosis and differential diagnosis of the scenario ?


Cara penegakan diagnosis
Bakterial vaginosis

Penegakan diagnosis ( ada 3 kriteria dari 4 kriteria Amsel):

a. Sekret vagina putih, homogen

b. pH>4,5

c. Fishy odor sebelum dan setelah ditetesi KOH 10% (Whiff test)

d. Mikroskopik ditemukan clue cells

Kriteria Nugent

Berdasarkan Jumlah bakteri

Gram negatif

- G. vaginalis >30/lpg pandang  4

- 6-30  3

- 1-52

- <11

- Tidak ada0

Gram positif (Lactobacillus sp)

- Tidak ada  4

- <1  3

- 1-5  2

- 6-30 1

- >30  0
Kuman batang berlekuk (Mobiluncus sp)

- 5/> 2

- <5  1

- Tidak ada  0

Dari ketiga kuman dijumlahkan dan di score

BV : minimal 7 atau lebih

Intermediet : 4-6

Normal : 0-3

Kandidiosis

- Kertas lakmus ditempelin di vagina, pH <4,5 candidiosis, >4,5 bakteri


anaerob lain

- Pengecatan KOH 10-20% ada budding cell dan psudohifa sel ragi dan
blastosoma

- Kultur dengan Sabouroud Dextrose Agar tanpa cyclohexamide

Trikomoniasis

Swab fornix anteriorDengan sediaan basah ditetesi NaCl 0,9%


dihangatkantampak T. Vaginalis

Dengan garam fisiologis terlihat jelas parasit berbentuk lonjong dengan


flagela dan gerakan cepat

Bakterial Chlamydia Candidiosis Trikomoniasis


Vaginosis atau GO
Sekret keruh, Tidak Menggumpal Sangat banyak,
homogen, putih bergejala, putih kental spt berbusa, bau busuk,
keabu2an hingga sekret kuning susu, gatal kuning kehijauan
kekuningan, bau seperti pus, kemerahan,
busuk, amis, sering kencing rasa terbakar,
terutama setelah yang ada bengkak genital
senggama darah dr
vagina

Clue cells Ektropion Pseudohifa, Strawberry


budding cell appearance

pH >4,5 pH<4,5 pH >4,5

Tanda tampak: Gatal, panas, sakit, vulva Akut dan kronik


oedem OUE, gatal, (Wanita):
- Discharge di
kencing dispareunia
dinding Kronik  gejala
vagina bernanah. superficial,
ringan, tidak
- Non disuri, tanda
berbusa
inflamasi visibel: vulva
- Tidak gatal eritem, oedem, Akutseropurulen,
fissura, satelit berbusa, abses
lession kecil, kuning
kehijauan,
strawberry
appearance,
dispareunia,
perdarahan stlh
coitus

(laki-laki)

Yg diserang urethra,
kelenjar prostat,
terkadang
preputium, vesicula
seminalis,
epididimis

Akutspt
urethritis non
gonore: disuri,
poliuri, secret
urethra
mukopurulen, urin
jernih tp ada
benang halus

Kronik tidak
khas: gatal urethra,
disuria, urin keruh
pd pagi hari

Diagnosis: Bakterial Vaginosis

9. Explain about the pathogenesis the case of scenario ?


Asam laktat seperti organic acid lanilla yang dihasilkan oleh Lactobacillus, memegang
peranan yang penting dalam memelihara pH tetap di bawah 4,5 (antara 3,8 - 4,2),
dimana merupakan tempat yang tidak sesuai bagi pertumbuhan bakteri khususnya
mikroorganisme yang patogen bagi vagina. Kemampuan memproduksi H2O2 adalah
mekanisme lain yang menyebabkan Lactobacillus hidup dominan daripada bakteri
obligat anaerob yang kekurangan enzim katalase. Hidrogen peroksida dominan terdapat
pada ekosistem vagina normal tetapi tidak pada bakterial vaginosis. Mekanisme ketiga
pertahanan yang diproduksi oleh Lactobacillus adalah bakteriosin yang merupakan
suatu protein dengan berat molekul rendah yang menghambat pertumbuhan banyak
bakteri khususnya Gardnerella vaginalis.(8)
G. vaginalis sendiri juga merupakan bakteri anaerob batang variabel gram yang
mengalami hiperpopulasi sehingga menggantikan flora normal vagina dari yang tadinya
bersifat asam menjadi bersifat basa. Perubahan ini terjadi akibat berkurangnya jumlah
Lactobacillus yang menghasilkan hidrogen peroksida. Lactobacillus sendiri merupakan
bakteri anaerob batang besar yang membantu menjaga keasaman vagina dan
menghambat mikroorganisme anaerob lain untuk tumbuh di vagina.(3,8,9)
Sekret vagina adalah suatu yang umum dan normal pada wanita usia produktif. Dalam
kondisi normal, kelenjar pada serviks menghasilkan suatu cairan jernih yang keluar,
bercampur dengan bakteri, sel-sel vagina yang terlepas dan sekresi dari kelenjar
Bartolini. Pada wanita, sekret vagina ini merupakan suatu hal yang alami dari tubuh
untuk membersihkan diri, sebagai pelicin, dan pertahanan dari berbagai infeksi. Dalam
kondisi normal, sekret vagina tersebut tampak jernih, putih keruh, atau berwarna
kekuningan ketika mengering di pakaian, memiliki pH kurang dari 5,0 terdiri dari sel-sel
epitel yang matur, sejumlah normal leukosit, tanpa jamur, Trichomonas, tanpa clue
cell.(10)
Pada bakterial vaginosis dapat terjadi simbiosis antara G.vaginalis sebagai pembentuk
asam amino dan kuman anaerob beserta bakteri fakultatif dalam vagina yang mengubah
asam amino menjadi amin sehingga menaikkan pH sekret vagina sampai suasana yang
sesuai bagi pertumbuhan G. vaginalis. Beberapa amin diketahui menyebabkan iritasi
kulit dan menambah pelepasan sel epitel dan menyebabkan duh tubuh berbau tidak
sedap yang keluar dari vagina.(3,7,8) Basil-basil anaerob yang menyertai bakterial
vaginosis diantaranya Bacteroides bivins, B. Capilosus dan B. disiens yang dapat
diisolasikan dari infeksi genitalia.(7)
G. vaginalis melekat pada sel-sel epitel vagina in vitro, kemudian menambahkan
deskuamasi sel epitel vagina sehingga terjadi perlekatan duh tubuh pada dinding vagina.
Organisme ini tidak invasive dan respon inflamasi lokal yang terbatas dapat dibuktikan
dengan sedikitnya jumlah leukosit dalam sekret vagina dan dengan pemeriksaan
histopatologis. Timbulnya bakterial vaginosis ada hubungannya dengan aktivitas seksual
atau pernah menderita infeksi Trichomonas.(7)
Bakterial vaginosis yang sering rekurens bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan
tentang faktor penyebab berulangnya atau etiologi penyakit ini.(6) Walaupun alasan
sering rekurennya belum sepenuhnya dipahami namun ada 4 kemungkinan yang dapat
menjelaskan yaitu :

1. Infeksi berulang dari pasangan yang telah ada mikroorganisme penyebab bakterial
vaginosis. Laki-laki yang mitra seksual wanitanya terinfeksi G. vaginalis mengandung G.
vaginalis dengan biotipe yang sama dalam uretra tetapi tidak menyebabkan uretritis
pada laki-laki (asimptomatik) sehingga wanita yang telah mengalami pengobatan
bakterial vaginosis cenderung untuk kambuh lagi akibat kontak seksual yang tidak
menggunakan pelindung.
2. Kekambuhan disebabkan oleh mikroorganisme bakterial vaginosis yang hanya
dihambat pertumbuhannya tetapi tidak dibunuh.
3. Kegagalan selama pengobatan untuk mengembalikan Lactobacillus sebagai flora
normal yang berfungsi sebagai protektor dalam vagina.
4. Menetapnya mikroorganisme lain yang belum diidentifikasi faktor hostnya pada
penderita, membuatnya rentan terhadap kekambuhan.
10. What is the clinical examination for the case ?
1. Pemeriksaan preparat basah

Dilakukan dengan meneteskan satu atau dua tetes cairan NaCl 0,9% pada sekret
vagina diatas objek glass kemudian ditutupi dengan coverslip. Dan dilakukan
pemeriksaan mikroskopik menggunakan kekuatan tinggi (400 kali) untuk melihat
clue cells, yang merupakan sel epitel vagina yang diselubungi dengan bakteri
(terutama Gardnerella vaginalis). 6,10 Pemeriksaan preparat basah mempunyai
sensitifitas 60% dan spesifitas 98% untuk mendeteksi bakterial vaginosis. Clue cells
adalah penanda bakterial vaginosis.9,10,12

Gambar 2. Clue cell14


2. Whiff test
Whiff test dinyatakan positif bila bau amis atau bau amin terdeteksi dengan
penambahan satu tetes KOH 10-20% pada sekret vagina. Bau muncul sebagai akibat
pelepasan amin dan asam organik hasil alkalisasi bakteri anaerob. Whiff test positif
menunjukkan bakterial vaginosis.
3. Tes lakmus untuk pH
Kertas lakmus ditempatkan pada dinding lateral vagina. Warna kertas dibandingkan
dengan warna standar pH vagina normal (3,8 - 4,2). Pada 80-90% bakterial vaginosis
ditemukan pH > 4,5.
4. Pemarnaan gram sekret vagina
Pewarnaan gram sekret vagina dari bakterial vaginosis tidak ditemukan Lactobacillus
sebaliknya ditemukan pertumbuhan berlebihan dari Gardnerella vaginalis dan atau
Mobilincus Spp dan bakteri anaerob lainnya.
5. Kultur vagina
Kultur Gardnerella vaginalis kurang bermanfaat untuk diagnosis bakterial vaginosis.
Gardnerella vaginalis dapat ditemukan pada hampir seluruh penderita bakterial
vaginosis, tapi juga dapat ditemukan lebih dari 58% pada perempuan tanpa bakterial
vaginosis.
6. Deteksi hasil metabolik :
- Tes proline aminopeptidase: G.vaginalis dan Mobilincus Spp menghasilkan Proline
aminopeptidase, dimana Laktobasilus tidak menghasilkan enzim tersebut.
- Permainan Suksinat/ Laktat: batang gram negatif anaerob menghasilkan suksinat
sebagai hasil metabolik. Perbandingan suksinat terhadap laktat dalam sekret vagina
ditunjukkan dengan analisa kromotografik cairan-gas meningkat pada bakterial
vaginosis dan digunakan sebagai tes skrining untuk bakterial vaginosis dalam
penelitian epidemiologik klinik.
11. What is the treatment for the case in scenario ?

a. Terapi sistemik4,9

1. Metronidazol 400-500 mg, 2 x sehari selama 7 hari. Dilaporkan efektif dengan


kesembuhan 84-96%. Metronidasol dapat menyebabkan mual dan urin menjadi gelap.
Konsumsi alkohol seharusnya dihindari selama pengobatan dan 48 jam setelah terapi
oleh karena dapat terjadi reaksi disulfiram. Metronidasol 200-250 mg, 3x sehari
selama 7 hari untuk wanita hamil. Metronidazol 2 gram dosis tunggal kurang efektif
daripada terapi 7 hari untuk pengobatan vaginosis bakterial oleh karena angka
rekurensi lebih tinggi.

2. Klindamisin 300 mg, 2 x sehari selama 7 hari. Sama efektifnya dengan metronidazol
untuk pengobatan bakterial vaginosis dengan angka kesembuhan 94%.

3. Amoklav (500 mg amoksisilin dan 125 mg asam klavulanat) 3 x sehari selama 7 hari.

4. Tetrasiklin 250 mg, 4 x sehari selama 5 hari

5. Doksisiklin 100 mg, 2 x sehari selama 5 hari

6. Eritromisin 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari

7. Cefaleksia 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari

b. Terapi Topikal9

1. Metronidazol gel intravagina (0,75%) 5 gram, 1 x sehari selama 5 hari.

2. Klindamisin krim (2%) 5 gram, 1 x sehari selama 7 hari.

3. Tetrasiklin intravagina 100 mg, 1 x sehari.

4. Triple sulfonamide cream.(3,6) (Sulfactamid 2,86%, Sulfabenzamid 3,7% dan Sulfatiazol


3,42%), 2 x sehari selama 10 hari, tapi akhir-akhir ini dilaporkan angka
penyembuhannya hanya 15 – 45 %.

c. Pengobatan bakterial vaginosis pada masa kehamilan

Terapi secara rutin pada masa kehamilan tidak dianjurkan karena dapat muncul
masalah.9 Metronidazol tidak digunakan pada trimester pertama kehamilan karena
mempunyai efek samping terhadap fetus.9,14 Dosis yang lebih rendah dianjurkan selama
kehamilan untuk mengurangi efek samping (Metronidazol 200-250 mg, 3 x sehari selama
7 hari untuk wanita hamil). Penisilin aman digunakan selama kehamilan, tetapi ampisilin
dan amoksisilin jelas tidak sama efektifnya dengan metronidazol pada wanita tidak hamil
dimana kedua antibiotik tersebut memberi angka kesembuhan yang rendah. 9

Pada trimester pertama diberikan krim klindamisin vaginal karena klindamisin


tidak mempunyai efek samping terhadap fetus. Pada trimester II dan III dapat digunakan
metronidazol oral walaupun mungkin lebih disukai gel metronidazol vaginal atau
klindamisin krim. Selain itu, amoklav cukup efektif untuk wanita hamil dan intoleransi
terhadap metronidazol9

d. Pengobatan vaginosis bakterial rekuren9

Vaginosis bakterial yang rekuren dapat diobati ulang dengan:

- Rejimen terapi
Metronidazol 500 mg 2x sehari selama 7 hari.
Merupakan obat yang paling efektif saat ini dengan kesembuhan 95%. Penderita
dinasehatkan untuk menghindari alkohol selama terapi dan 24 jam sesudahnya.
- Rejimen alternatif
 Metronidazol oral 2 gram dosis tunggal.
 Kurang efektif bila dibandingkan rejimen 7 hari; kesembuhan 84%.
 Mempunyai aktivitas sedang terhadap Gardnerella vaginalis, tetapi sangat aktif
terhadap bakteri anaerob, efektifitasnya berhubungan dengan inhibisi
anaerob.
 Metronidazol gel 0,75% intravaginal, aplikator penuh (5gr), 2 kali sehari untuk 5
hari.
 Klindamisi krim 2% intravaginal, aplikator penuh (5gr), dipakai saat akan tidur
untuk 7 hari atau dua kali sehari untuk lima hari
 Klindamisi 300mg 2 kali sehari untuk 7 hari
 Augmentin oral (500mg amoksilin + 125 mg asam clavulanat) 3 kali sehari selama 7
hari.
 Sefaleksin 500mg 4 kali sehari semala 7 hari
Jika cara ini tidak berhasil untuk vaginosis bakterial rekuren, maka dilakukan
pengobatan selama seminggu sebelum permulaan menstruasi dan begitupun pada
menstruasi berikutnya, dengan pengobatan selama 3-5 hari dengan metronidazol
oral dan anti jamur yaitu clotrimazol intravaginal atau flukonazol.