Anda di halaman 1dari 26

1. Bagaimana fisiologi masa nifas ?

SISTEM REPRODUKSI
A. Uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil ( involusi ) sehingga akhirnya kembali
seperti sebelum hamil.
 Bayi lahir fundus setinggi pusat dengan berat uterus 1000 gr.
 Akhir kala III persalinan tinggi fundus uteri teraba 2 jari bawah pusat dengan
berat uterus 750 gr.
 Satu minggu post partum tinggi fundus uteri teraba pertengahan pusat simpisis
dengan berat uterus 500 gr.
 Dua minggu post partum tinggi fundus uteri tidak teraba diatas simpisis dengan
berat uterus 350 gr.
 Enam minggu post partum fundus uteri bertambah kecil dengan berat uterus 50
gr.
( Mochtar, Rustam 1998 : 115 )
B. Lochia
Lochia adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalam masa nifas.
Macam-macam Lochia:
 Lochia Rubra ( Cruenta ): Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel
desidua, verniks kaseosa, lanugo, dan mekonium, selama 2 hari post partum.
 Lochia Sanguinolenta: Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari 3-7
post partum.
 Lochia Serosa: Berwarna kuning, cairan tidak darah lagi, pada hari ke 7-14 post
partum.
 Lochia Alba: Cairan putih, setelah 2 minggu.
 Lochia Purulenta: Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
 Lochiastasis: Lochia tidak lancar keluarnya.
( Mochtar, Rustam, 1998 : 116 )
C. Serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Setelah persalinan, ostium eksterna
dapat dimasuki oleh 2 hingga 3 jari tangan, setelah 6 minggu persalinan serviks menutup.
D. Vulva dan Vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses
melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ
ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali kepada
keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali
sementara labia menjadi lebih menonjol.
E. Perineum
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh
tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada post natal hari ke 5, Perineum sudah
mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap kendur dari pada keadaan
sebelum melahirkan.
F. Payudara
Perubahan pada payudara dapat meliputi :
 Penurunan kadar progesterone secara tepat dengan peningkatan hormone
prolaktin setelah persalinan.
 Kolostrum sudah ada saat persalinan. Produksi ASI terjadi pada hari ke-2 atau
hari ke-3 setelah persalinan.
 Payudara menjadi besar dan keras sebagai tanda mulainya proses laktasi.

SISTEM PERKEMIHAN
Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama. Urin dalam jumlah yang besar akan
dihasilkan dalam waktu 12-36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar
hormon estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan yang mencolok.
Keadaan ini menyebabkan diuresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam
tempo 6 minggu.
SISTEM KARDIOVASKULER
Setelah terjadi diuresis yang mencolok akibat penurunan kadar estrogen, volume darah
kembali kapada keadaan tidak hamil. Jumlah sel darah merah dan haemoglobin kembali
normal pada hari ke-5. Meskipun kadar estrogen mengalami penurunan yang sangat besar
selama masa nifas, namun kadarnya masih tetap lebih tinggi daripada normal. Plasma
darah tidak begitu mengandung cairan dan dengan demikian daya koagulasi meningkat.
Pembekuan darah harus dicegah dengan penangan yang cermat dan penekanan pada
ambulansi dini.

SISTEM GASTROINTESTINAL / PENCERNAAN


Beberapa wanita mengalami konstipasi pada masa nifas, dikarenakan kurangnya makanan
berserat selama proses persalinana dan adanya rasa takut dari ibu karena perineum sakit,
terutama jika terdapat luka perineum. Namaun kebanyakan kasus sembuh secara spontan,
dengan adanya ambulasi dini dan dengan mengonsumsi makanan yang berserat. Jika tidak,
dapat diberikan supositoria biskodil per rektal untuk melunakan tinja. Defakasi harus
terjadi dalam 3 hari post partum.
( Mochtar, Rustam, 1998 : 116 )

Masa nifas
1. Definisi :
a. Masa nifas atau masa puerperium mulai setelah partus selesai dan berakhir
setelah kira-kira enam minggu (Wiknjosastro, Hanifa, 2002)
b. Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai
sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil, lama masa nifas ini yaitu 6-
8 minggu (Mochtar, Rustam, 1998)
c. Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ
reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu
sekitar enam minggu (Fairer, Helen, 2001)
d. Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika
alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas
berlangsung selama kira-kira enam minggu (Buku Acuan Nasional Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Ne'bnatal, 2001)
e. Menurut Williams 1931 menyebutkan masa puerperium adalah waktu yang
diperlukan untuk kembalinya organ genitalia menuju bentuk semula.
f. Keluarnya darah atau cairan yang khas dimulai setelah partus selesai dan berakhir
setelah kira-kira 6 minggu.
(Wiknjosastro, H., 2006, “Ilmu Kebidanan”, YBP-SP, Jakarta)
2. Pembagian masa nifas
a. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan
berjalan-jalan. Dalam agama islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja
setelah 40 hari
b. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang
lamanya 6-8 minggu
c. Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna
terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu
untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan, atau tahunan. (Mochtar,
Rustam, 1998)
3. Involusi
a. Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali
seperti sebelum hamil.
Tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa involusi.

Proses INVOLUSI UTERI adalah sbb :


• AUTOLYSIS
Autolysis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi didalam otot
uterine. Enzym proteolitik akan memendekkan jaringan otot dan jaringan ikat yang telah
sempat mengendur hingga 10 kali panjangnya dari semula dan 5 kali lebarnya dari semula
selama kehamilan, sehingga uterus akan berangsur – angsur mengecil.
• EFEK OKSITOSIN
Kontraksi dan retraksi otot uterine akan mengkompres pembuluh darah dan oleh karena
itu akan mengurangi suplai darah ke uterus. Proses ini berguna bagi pengurangan situs
atau tempat implantasi plasenta serta pengurangan perdarahan
• Proses Involusi pd bekas Implantasi plasenta “placental bed mengecil krn kontraksi &
menonjol ke kavum uteri dgn diameter 7,5 cm. sesudah 2 mg mjd 3,5 cm, pd mg ke-6 mjd
2,4 cm dan akhirnya pulih”
• Afterpains ‘” krn kontraksi, biasanya berlangsung 2-4 hari pasca salin. Rasa nyeri stlh
melahirkan akan lebih nyata stlh ibu melahirkan bayi besar atau kembar dan pada
multipara”
“Perlu diberikan pengertian pd ibu dan dpt diberikan obat antisakit dan
antimules”

Involusi Tinggi fundus uterus Berat uterus

Bayi Setinggi pusat 1000 gram


lahir 2 jari bawah pusat 750 gram
Uri Pertengahan pusat 500 gram
lahir simfisis 350 gram
1 Tidak terba di atas 50 gram
minggu simfisis 30 gram
2 Bertambah kecil
minggu Sebesar normal
6
minggu
8
munggu

b. Bekas implantasi uri: Placental bed mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum
uteri dengan diameter 7,5 cm. Sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm, pada minggu keenam
2,4 cm, dan akhirnya pulih.
c. Luka-luka pada jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari.
d. Rasa sakit, yang disebut after pains, (merian atau mules-mules) disebabkan kontraksi
rahim, biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan Perlu diberikan pengertian pada
ibu mengenai hal ini dan bila terlalu mengganggu dapat diberikan obat-obat antisakit dan
antimules.
e. Lochia adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas.
 Lochia rubra (cruenta): berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel
desidua, verniks kaseosa, lanugo, dan mekoneum, selama 2 hari pasca persalinan.
 Lochia sanguinolenta: berwarna merah kuning berisi darah dan lendir; hari ke 3-7
pasca persalinan.
 Lochia serosa: berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14 pasca
persalinan.
 Lochia alba: cairan putih, setelah 2 minggu.
 Lochia purulenta: terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
 Lochiostasis: Lochia tidak lancar keluarnya.
f. Serviks: Setelah persalinan, bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna
merah kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan
kecil. Setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk rongga rahim; setelah 2 jam dapat
dilalui oleh 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari.
g. Ligamen-ligamen: Ligamen, fasia, dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu
persalinan, setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali
sehingga tidak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi, karena
ligamentum rotundum menjadi kendor.
Setelah melahirkan, kebiasaan wanita Indonesia melakukan "berkusuk" atau "berurut", di
mana sewaktu dikusuk tekanan intra- abdomen bertambah tinggi. Karena setelah
melahirkan ligamenta, fasia, dan jaringan penunjang menjadi kendor, jika dilakukan
kusuk/urut, banyak wanita akan mengeluh "kandungannya turun" aatau "terbalik". Untuk
memulihkan kembali sebaiknya dengan latihan-latihan dan gimnastik pasca persalinan.
(Mochtar, Rustam, 1998)
h. Hemokonsentrasi : pada wanita hamil di kenal shunt sebagai hubungan sirkulasi ibu
dan plasenta, setelah melahirkan shunt akan hilang, sehingga volume darah ibu relatif
bertambah, sehingga menimbulkan beban pada jantung, bisa mengakibatkan
dekompensasi kordis pada penderita vitium kordis. Dan semua itu bisa diatas dengan
timbulnya hemokonsentrasi hingga volume darah kembali seperti sedia kala. Terjadi
pada hari ke 3 sampai 15 postpartum
i. Sesudah partus, suhu tubuh wanita dapat naik 0,5 0C dari keadaan normal, tapi tidak
melebihi 380C. sesudah 12 jam pertama post partum, umumnya suhu kembali normal.
Bila suhu > 380C, maka mungkin ada infeksi.
j. Segera setelah partus terjadi bradikardi. Bila terdapat takikardi sedangkan badan
tidak panas, mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada vitium kardis. Pada masa
nifas umumnya denyut nadi lebih labil dibandingkan dengan suhu badan
k. Laktasi (Perubahan yang terdapat pada kedua mamma pada sejak kehamilan muda )
i. Proliferasi jaringan, terutama kelenjar-kelenjar & alveolus & lemak.
ii. Pada duktus laksiferus terdapat colostrum.
iii. Hipervaskularisasi terdapat pada permukaan maupun pada bagian dalam
mamma.
iv. Setelah partus, pengaruh menekan dari esterogen & progresteron
terhadap hipofisis hilang. Timbul pengaruh hormon-hormon hipofisis
kembali, antara lain lactogenic hormone (prokeksin). Pengaruh oksitosin
mengakibatkan mioepitelium kelenjar-kelenjar susu berkontraksi,
sehingga pengeluaran ASI dilaksanakan. Umumnya produksi asli
berlangsung betul pada hari ke-2-3 post partum. Pada hari-hari I ASI
mengandung colostrum, mengandung protein albumin dan globulin & benda-
benda kolostrum dengan diameter 0,001-0,025 mm dan mudah dicerna.
Rangsangan terbaik untuk mengeluarkan ASI adalah dengan menyusui bayi
itu sendiri. Kadar prolaktin meningkat dengan perangsangan fisik pada
putting mamma. Rangsangan psikis merupakan refleks dari mata ibu ke
otak, mengakibatkan oksitosin
v. Laktasi dihasilkan, sehingga ASI dapat dikeluarkan dan sebagai efek
sampingan, memperbaiki involusi uterus. Keuntungan lain menyusui :
menjelma rasa kasih sayang antara ibu dan anak. ASI dapat melindungi
bayi terhadap infeksi seperti : Gastroenteris, Radang jalan nafas & paru-
paru, Otitis media, karena ASI mengandung lactoferin, lysozyme &
imunogbulin A. (Wiknjosastro, Hanifa, 2002)
l. Fundus uteri
i. Setinggi pusat setelah janin dilahirkan.
ii. Setinggi 2 jari bawah pusat segera setelah plasenta lahir.
iii. Setinggi 7 cm atas simfisis ossis pubis atau setengah simfisis-pusat pada
hari ke-5.
iv. Tidak dapat diraba diatas simfisis ossis pubis setelah 12 hari.
m. Bekas implantasi plasenta
i. Merupakan luka kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri yang
berdiameter 7,5 cm.
ii. Sering disangka sebagai bagian plasenta yang tertinggal.
iii. Diameternya menjadi 3,5 cm sesudah 2 minggu
iv. Diameternya mencapai 2,4 cm pada 6 minggu.
n. Berat uterus
i. Berat uterus normal kira-kira 30 gram.
ii. Berat uterus gravidus aterm kira-kira 1000 gram.
iii. Beratnya menjadi 500 gram, 1 minggu pasca persalinan.
iv. Beratnya menjadi 300 gram, 2 minggu pasca persalinan.
v. Beratnya menjadi 40-60 gram setelah 6 minggu pasca persalinan.
o. Pembukaan serviks
i. Serviks agak terbuka seperti corong pada pasca persalinan dan
konsistensinya lunak.
ii. Tangan pemeriksa masih dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri segera
setelah melahirkan.
iii. 2-3 jari tangan pemeriksa masih dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri
setelah 2 jam pasca persalinan.
iv. 1 jari tangan pemeriksa hanya dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri
setelah 1 minggu.
p. Endometrium
i. Timbul trombosis, degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi plasenta.
q. Ligamen, diafragma pelvis, fasia, otot, dan dinding vagina
i. Ligamen, diafragma pelvis dan fasia yang meregang sewaktu kehamilan
dan partus berangsur-angsur kembali seperti semula.
ii. Ligamentum rotundum dapat mengendor sehingga pada hari kedua pasca
persalinan harus dilakukan latihan senam.
iii. Otot-otot dinding perut akan berinvolusi pada 6-7 minggu pasca
persalinan.
iv. Dinding vagina yang teregang akan kembali seperti sebelumnya kira-kira
setelah 3 minggu.
r. Luka dan infeksi
i. Luka jalan lahir, seperti bekas episiotomi yang telah dijahit, luka pada
vagina dan serviks yang tidak luas akan sembuh primer.
ii. Infeksi dapat timbul dan dapat menyebabkan selulitis dan bila berlanjut
dapat menimbulkan sepsis.
s. Suhu Badan Pasca Persalinan
i. Dapat naik lebih dari 0,5 derajat selsiuus dari keadaan normal tetapi
tidak lebih dari 39 derajat selsius.
ii. Umumnya suhu badan kembali normal sesudaah 12 jam pertama
melahirkan.
iii. Bila suhu lebih dari 38 derajat selsius,, mungkin ada
infeksi.(Wiknjosastro, Hanifa, 2002)

Organ Sub Organ Keterangan

Uterus  Pembuluh darah tertutup sehingga berwarna pucat.


 Terjadi kontraksi-retraksi sehingga membantu menghindari
perdarahan.

Inplantasi  Luas semula sekitar 15-18 cm² segera menjadi 10 cm² post
Plasenta partum
- Bakteria
- Darah sisa plasenta
- Sel desidua
 Lapisan desiduanya menjadi lokia yang bercampur
- Dari tepi implantasi plasenta
- Endometrium basalis
 Epithelisasi bekas implantasi dari dua tempat
 Minggu ke tiga : 4-5 cm²
- Keenam: tertutup seluruhnya

Pengeluaran  Lokia rubra pada hari ke 1 sampai ke 5


Lokia  Pada hari ke 6 sampaike 8
 Pada hari ke 10

Berat Uterus  Segera setelah persalinan 1000gr


 Terjadi involusi uterus oleh jaringan ikat
 Berat uterus dan tingginya semakin kecil:
- Hari ke 7: 500gr
- Hari ke 14: 300gr
- Hari ke 28: 50gr
 Setelah satu bulan praktis fundus uteri tidak teraba lagi di atas
simfisis

Segmen Bawah  Ototnya tidak terlalu banyak sehingga tetap merupakan


suborgan pasif
 Kontraksi dan retraksi otot uterus mengembalikan segment
bawah rahim menjadi isthmus

Serviks Uteri  Sangat sedikit mengandung otot polos sehingga selama


puerperium tetap terbuka sebagai saluran jalannya lokia
 Serviks mengalami perlukaan dan dapat membelah serviks
menjadi bibir atas/baawah
 Pada serviks yang luka perlu dilakukan pemeriksaan bakteria dan
PAP smear
 Luka-luka kecil serviks dapat diobati dengan termokauter atau
cyosurgery
 Bila hubungan seksual segera dilakukan sebelum luka serviks
sembuh sepenuhnya maka serviks yang luka akan menjadi
sembuh.
- Infeksi asenden
- Infeksi HIV 16-18 dan akhirnya menuju karsinoma serviks

Vesika Urinaria  Dapat mengalami gangguan fungsi akibat persalinan yang lama
atau akibat kateterisasi sebelumnya.
 Dapat terjadi disuria/distensi yang memerlukan penanganan
lebih lanjut
 Pada kasus yang sedang dengan distensi vesika urinaria perlu
dipasang dauer kateter
 Pengobatan antibiotika diperlukan, tetapi sebaliknya
dikonsultasikan dulu pada ahli uroligi
 Sebagian besar persalinan normal, tidak menimbulkan gangguan
pada vesika urinaria
 Gangguan terjadi akibat:
 Episiotomi
 Persalinan yang lama
 Bayi yang besar
 Terjadi diuresis akibat hemodilusi pada saat kehamilan untuk
mencapai keseimbangan hemodinamik dan volume darah kembali.

Perubahan  Segera setelah post partum, kontraksi otot uterus


Hemodinamik menyebabkan aliran balik vena semakin meningkatsehingga
terjadi kompensasi berupa peningkatan curah jantung yang
berlangsung 48 jam
 Setelah 14 hari keseimbangan terjadi dan fungsi kardiovaskuler
menjadi normal.

Perubahan  Dasar panggul akan mengalami pengenduran dan memerlukan


dasar panggul waktu untuk kembali normal.
 Untuk mengurangi kemungkinan pengenduran dasar panggul
segera setelah plasenta lahir dapat dilakukan pengembalian
uterus ke posisi semula yaitu dengan memijat perut ke arah
fundus dan diikuti dengan memakai ikat pinggang kira-kira
selama 7 hari.
 Kendurnya dasar panggul disebabkan
- Episiotomi yang tidak dijahit dengan baik
- Persalinan yang lama
- Bayi yang besar

Dinding  Memerlukan waktu untuk kembali normal


Abdomen  Agar dinding abdomen kembali ke keadaan normal, dapat
dilakukan hal berikut ini
 Membubuhi ramuan tertentu/tradisional
 Melakukan senam post partum
 Akan tetapi, usaha tersebut tidak 100% mengembalikan dinding
abdomen ke keadaan semula. Dinding abdomen masih sedikit
longgar meskipun semua usaha tersebut sudah dilakukan.

Berat Badan  Segera setelah persalinan, dengan keluarnay bayi, air ketuban,
Ibu plasenta, berat badan sudah berkurang sekitar 5-6 kg
 Berat badan akan turun seiring dnegan upaya pengembaliannya
di antaranya sehingga cairan intra dan ekstra seluller kembali
seimbang
 Berat badan sebaiknya tidak diturunkan dulu karena ibu harus
memberikan laktasi sehingga diet laktasi diperlukan dalam
jumlah berlebih.

Payudara  Saat hamil payudara dipersiapkan untuk memberikan ASI


melalui pengaruh hormonal
 Lobus kelenjar mamae, sekitar 15-25 buah dan akan terus
bercabang sehingga terdapat asinus sebagai tempat produksi
ASI
 Saat hamil sudah dapat dibentuk ASI, tetapi pengeluarannya
dihalangi oleh hormon plasenta
 Setelah plasenta lahir maka terdapat dua komponen dominan
yang dapat mengeluarkan ASI yaitu:
- Isapan langsung bayi dari puting
- Hormon hipofisis posterior yaitu prolaktin dan oksitosin.

(Manuaba, I.B.G., 2007)

PERUBAHAN SISTEM ENDOKRIN

 Hormon plasenta

Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan. Human Chorionic


Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga
hari ke-7 postpartum dan sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke-3 postpartum

 Hormon pituitary
Prolaktin darah meningkat dengan cepat, pada wanita tidak menyusui menurun dalam
waktu 2 minggu. FSH dan LH meningkat pada fase konsentrasi folikuler pada minggu ke-
3, dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.

 Hipotalamik Pituitary Ovarium

Untuk wanita yang menyusui dan tidak menyusui akan mempengaruhi lamanya ia
mendapatkan menstruasi. Seringkali menstruasi pertama itu bersifat anovulasi yang
dikarenakan rendahnya kadar estrogen dan progesteron. Diantara wanita laktasi sekitar
15% memperoleh menstruasi selama 6 minggu dan 45% setelah 12 minggu. Diantara
wanita yang tidak laktasi 40% menstruasi setelah 6 minggu, 65% setelah 12 minggu dan
90% setelah 24 minggu. Untuk wanita laktasi 80% menstruasi pertama anovulasi dan
untuk wanita yang tidak laktasi 50% siklus pertama anovulasi
2. Apa hubungan uterus teraba lembek dan kasus i skenario ?
- Setelah ibu melahirkan di suntik oksitosin, seharusnya uterus mengeras untuk
berkontraksi. Sehingga menyebabkan penekanan pada a. Spiralis untuk
mengurangi pendarahan.
- Pada kasus di skenario uterus teraba lembek, sehingga a. Spiralis tidak dapat
menutup untuk mengurangi pendarahan dan karena kurangnya kontraksi
uterus
- Uterus lembek karena pada ibu tersebut P6 (multipara) sehingga terjadi
perenggangan pada uterus  kurangnya kontraksi uterus

3. Apa hubungannya wanita dengan P6A0 dengan usia 40 tahun pada kasus di
skenario ?
 Infeksi ini terjadi setelah persalinan, kuman masuk dalam tubuh pada saat berlangsungnya proses
persalinan. Diantaranya, saat ketuban pecah sebelum maupun saat persalinan berlangsung sehingga
menjadi jembatan masuknya kuman dalam tubuh lewat rahim. Jalan masuk lainnya adalah dari
penolong persalinan sendiri, seperti alat-alat yang tidak steril digunakan pada saat proses persalinan.

Dukun bayi adalah seorang anggota masyarakat, pada umumnya seorang wanita yang mendapat
kepercayaan serta memiliki ketrampilan menolong persalinan secara tradisional, dan memperoleh
ketrampilan tersebut dengan: secara turun temurun, belajar secara praktis, atau cara lain yang
menjurus ke arah peningkatan ketrampilan tersebut serta melalui petugas kesehatan (Depkes RI,
1994: 1). Di Indonesia persalinan dukun sebesar 75% sampai 80% terutama di daerah pedesaan.
Pertolongan persalinan oleh dukun menimbulkan berbagai masalah dan penyebab utama tingginya
angka kematian dan kesakitan ibu dan perinatal. Dapat dipahami bahwa dukun tidak dapat
mengetahui tanda-tanda bahaya perjalanan persalinan (Manuaba,1998).
1. Dukun terlatih
Dukun terlatih adalah dukun yang telah mendapatkan latihan oleh tenaga kesehatan yang dinyatakan
lulus (Syafrudin, 2007: 184).
2. Dukun tidak terlatih
Dukun tidak terlatih adalah dukun bayi yang belum pernah dilatih oleh tenaga kesehatan atau dukun
bayi yang sedang dilatih dan belum dinyatakan lulus. Peranan dukun beranak sulit ditiadakan karena
masih mendapat kepercayaan masyarakat dan tenaga terlatih yang masih belum mencukupi. Dukun
beranak masih dapat dimanfaatkan untuk ikut serta memberikan pertolongan persalinan (Manuaba,
1998: 21).

 Faktor resiko infeksi nifas:


1. F. Status Sosioekonomi
2. F. Proses Persalinan
3. F. Tindakan Persalinan
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. ILMU KEBIDANAN. Jakarta: PT Bina Pustaka.

b. Cara terjadinya infeksi nifas


Infeksi dapat terjadi sebagai berikut:
1) Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau
operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Kemungkinan lain ialah
bahwa sarung tangan atau alat-alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya
bebas dari kuman-kuman.
2) Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari
hidung atau tenggorokan dokter atau petugas kesehatan lainnya. Oleh karena itu, hidung dan
mulut petugas yang bekerja di kamar bersalin harus ditutup dengan masker dan penderita infeksi
saluran pernafasan dilarang memasuki kamar bersalin.
3) Dalam rumah sakit terlalu banyak kuman-kuman patogen, berasal dari penderita-penderita
dengan berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh aliran udara kemana-mana
termasuk kain-kain, alat-alat yang suci hama, dan yang digunakan untuk merawat wanita dalam
persalinan atau pada waktu nifas.
4) Koitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting, kecuali apabila
mengakibatkan pecahnya ketuban.
1. Factor resiko
Faktor predisposisi
Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, seperti perdarahan yang
banyak, pre eklampsia; juga infeksi lain seperti pneumonia, penyakit jantung, dsb.
Partus lama, terutama partus dengan ketuuban pecah lama.
Tindakan bedah vaginal yang menyebabkan perlukaan jalan lahir.
Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah.
Partus lama, partus terlantar, dan ketuban pecah lama
Tindakan obstetric operatif baik pervaginam maupun perabdominal
Tertinggalnya sisa-sisa uri, selaput ketuban, dan bekuan darah dalam rongga rahim
Keadaan-keadaan yang menurunkan daya tahan seperti perdarahan, kelelahan, malnutrisi, pre-
eklamsi, eklamsi, dan penyakit ibu lainnya (penyakit jantung, tuberculosis paru, pneumonia, dan lain2)
Faktor yang memyebabkan predisposisi atas terjadinya infeksi nifas saluran genital
a. Nutrisi dan kesehatan yang buruk
b. Anemia
c. Rupture membrane premature
d. Pemanjangan masa rupture membrane
e. Pemanjangan masa persalinan
f. Pemeriksaan vagina yang sering selama persalinan
g. Seksio caesaria
h. Kelairan operatif
i. Laserasi serviks atau vagina
j. Pembuangan plasenta secara manual
k. Fragmen plasenta atau membrane janin yangterus bertahan
Ilmu Kedkteran Ibu dan Janin, Bagian II

Riwayat hemorraghe postpartum pada persalinan sebelumnya merupakan faktor resiko paling besar
untuk terjadinya hemorraghe postpartum sehingga segala upaya harus dilakukan untuk menentukan
keparahan dan penyebabnya. Beberapa faktor lain yang perlu kita ketahui karena dapat
menyebabkan terjadinya hemorraghe postpartum :
1. Grande multipara
2. Perpanjangan persalinan
3. Chorioamnionitis
4. Kehamilan multiple
5. Injeksi Magnesium sulfat
6. Perpanjangan pemberian oxytocin

4. Apa hubungan Tanda-Tanda Vital dengan PPP ?


ATLAS PATHOFISIOLOGI
5. Apa gejala & tanda PPP ?

6. Apa pemeriksaan penunjang terkait masalah i skenario ?


- Kadar Hb < 8 gr%
- APTT ( ativated tromboplastin)
- CT ( clotting time)
- Hitung trombosit
- Fibrinogen
- Swab vagina atau kultur : menyingkirakan adanya infeksi
- USG : untuk megatahui hasil konsepsi yang masih tertinggal di uterus
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan :
 Pemeriksaan Laboratorium
 Kadar Hb, Ht, Masa perdarahan dan masa pembekuan
 Pemeriksaan USG
 Hal ini dilakukan bila perlu untuk menentukan adanya sisa jaringan konsepsi intrauterin
 Kultur uterus dan vaginal
 Menentukan efek samping apakah ada infeksi yang terjadi
 Urinalisis
 Memastikan kerusakan kandung kemih
 Profil Koagulasi
 Menentukan peningkatan degradasi kadar produk fibrin, penurunan fibrinogen, aktivasi
masa tromboplastin dan masa tromboplastin parsial
Cunningham, dkk . 1995 . Obstetri Williams . Jakarta : EGC
-
7. Apa definisi, & etiologi pada PPP ?

Gejala dan tanda yang selalu Gejala dan tanda yang kadang- Diagnosis kemungkinan
ada kadang ada
 Uterus tidak berkontraksi  Syok Atonia uteri
dan lembek
 Perdarahan segera
setelah anak lahir
(Perdarahan
Pascapersalinan Primer
(P3))
 Perdarahan segera  Pucat Robekan jalan lahir
 Darah segar yang  Lemah
mengalir segera setelah  Menggigil
bayi lahir
 Uterus kontraksi baik
 Pasenta lengkap
 Plasenta belum lahir  Tali pusat putus akibat Retensio plasenta
setelah 30 menit traksi berlebihan
 Perdarahan segera  Inversio uteri akibat tarikan
 Uterus kontraksi baik  Perdarahan lanjutan
 Plasenta atau sebagian  Uterus berkontraksi tetapi Tertinggalnya sebagian
selaput (mengandung tinggi fundus uteri tidak plasenta
pembuluh darah) tidak berkurang
lengkap
 Perdarahan segera
 Uterus tidak teraba  Syok neurogenik Inversio uteri
 Lumen vagina terisi  Pucat dan limbung
massa
 Tampak tali pusat (jika
plasenta belum lahir)
 Perdarahan segera
 Nyeri sedikit atau berat
 Sub involusi uterus  Anemia Perdarahan terlambat
 Nyeri tekan perut bawah  Demam Endometritis atau sisa plasenta
 Perdarahan > 24 jam (terinfeksi atau tidak)
setelah persalinan.
Perdarahan sekunder
atau P2S. perdarahan
bervariasi (ringan atau
berat, terus-menerus
atau tidak teratur ) dan
berbau (jika disertai
infeksi)

 Perdarahan segera  Syok Robekan dinding uterus


(perdaran inraabdominal  Nyeri tekan perut (Ruptura uteri)
dan/vaginum)  Denyut nadi ibu cepat
 Nyeri perut berat (kurangi
dengan ruptur)

(Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirodhardjo)
8. Apa saja klasifikasi pada PPP ?

DEFINISI

Perdarahan yang terjadi segera setelah persalinan melebihi 500 cc

Bila terjadi syok hipovolemik maka jumlah perdarahan telah mencapai 2000-
2500 ml

KLASIFIKASI

A.Perdarahan Post Partum Primer

 Perdarahan berlangsung dalam 24 jam pertama dengan jumlah 500 cc atau


lebih.

 Penyebab :

- Atonia uteri Uterus


tidakberkontraksidanlembek,perdarahansegerasetelahanaklahir

- Retensio plasenta Plasentabelumlahirsetelah 30


menit,perdarahansegera, uterus berkontraksidankeras

- Robekan jalan lahir Darahsegar yangmengalirsegerasetelahbayilahir,


uterus berkontraksikerasdanplasentalengkap.
B. Perdarahan Post Partum Sekunder

 Perdarahan postpartum setelah 24 jam pertama dengan jumlah 500 cc


atau lebih.

 Penyebab :

- Tertinggalnya sebagian plasenta atau membrannya

- Perlukaan terbuka kembali dan menimbulkan perdarahan

- Infeksi pada tempat implantasi plasenta

Ilmukebidanan

9. Bagaimana Diagnosis dan DD dari kasus di skenario ?


DIAGNOSIS

ATONIA UTERI

Atonia uteri merupakan kegagalan miometrium untuk


berkontraksi setelah persalinan sehingga uterus dalam keadaan
relaksasi penuh, melebar, lembek dan tidakmampu menjalankan
fungsi oklusi pembuluh darah. Akibat dari atonia uteri ini
adalahterjadinya perdarahan.
Perdarahan pada atonia uteri ini berasal dari pembuluh
darahyang terbuka pada bekas menempelnya plasenta yang lepas
sebagian atau lepaskeseluruhan (Faisal, 2008)
Miometrium terdiri dari tiga lapisan dan lapisan tengah
merupakanbagian yang terpenting dalam hal kontraksi untuk
menghentikan perdarahan pascapersalinan. Miometrum lapisan
tengah tersusun sebagai anyaman dan ditembus olehpembuluh
darah. Masing-masing serabut mempunyai dua buah lengkungan
sehinggatiap-tiap dua buah serabut kira-kira berbentuk angka
delapan. Setelah partus, denganadanya susunan otot seperti
tersebut diatas, jika otot berkontraksi akan menjepitpembuluh
darah. Ketidakmampuan miometrium untuk berkontraksi ini
akanmenyebabkan terjadinya pendarahan pasca persalinan
(Faisal, 2008).
Atonia uteri dapat terjadi sebagai akibat :
 Partus lama
 Pembesaran uterus yang berlebihan pada waktu hamil,
seperti pada hamil kembar, hidramnion atau janin besar
 Multiparitas
 Anestesi yang dalam
 Anestesi lumbal

Selain karena sebab di atas atonia uteri juga dapat timbul


karena salah penanganan kala III persalinan,yaitu memijat
uterus dan mendorongnyake bawah dalam usaha melahirkan
plasenta, dimana sebenarnya plasenta belum terlepas dari
dinding uterus (Wiknjosastro, 2005).

DD
10. Apa Komplikasi dari skenario ?

11. Bagaimana penatalaksanaan dari kasus di skenario ?


tidak ya

Evaluasi bersihkan Evaluasi


bekuan darah rutin

Uterus
Kontraksi

tidak
ya

Lakukan KBE suntik Pertahankan KBI 1-2


ergometrin 0,1 im menit
Pasang infus +20 iu

Lakukan KBI lagi