Anda di halaman 1dari 8

JURNAL MKMI, Vol. 14 No.

1, Maret 2018

Etika Kesehatan pada Persalinan Melalui Sectio Caesarea


Tanpa Indikasi Medis

Bioethics in Childbirth through Sectio Caesaria


without Medical Indication
Dumilah Ayuningtyas1*, Ratih Oktarina1, Misnaniarti2, Ni Nyoman Dwi Sutrisnawati1
Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
1

2
Bagian Administrasi Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya
(*dumilah.ayuningtyas@gmail.com)

ABSTRAK
Angka persalinan dengan sectio caesarea di Indonesia terbilang cukup tinggi. WHO menyatakan, angka
sectio caesarea maksimum sekitar 10 sampai 15%. Oleh karena itu, perlu dikaji pengambilan keputusan melaku-
kan tindakan sectio caesarea berdasarkan prinsip-prinsip etika kesehatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif, yang dilaksanakan di rumah sakit dan klinik persalinan di Jakarta. Pengumpulan data melalui wawan-
cara mendalam pada narasumber tenaga medis fungsional, bidan dan manajer rumah sakit. Data dianalisis meng-
gunakan content analysis. Hasil penelitian menunjukkantrend persalinan sectio caesarea sangat tinggi mencapai
70%. Persalinan sectio caesarea hampir seluruhnya disebabkan indikasi medis. Trend persalinan melalui tindakan
sectio caesarea yang sangat tinggi tidak serta merta menunjukkan bahwa terdapat hal yang bertentangan dengan
etika pelayanan kesehatan. Banyak faktor di luar indikasi medis, baik dari sisi ibu maupun bayi, yang menyebab-
kan sectio caesarea dipilih, antara lain faktor psikis ibu, peralatan medis yang tidak siap digunakan untuk per-
salinan normal, hak pasien dalam memilih tindakan medis yang ingin dilakukan, regulasi yang lemah dalam me-
ngendalikan rumah sakit yang menawarkan paket sectio caesarea, serta regulasi yang dipandang merusak sistem
jasa medis yang telah berjalan baik sehingga mendorong moral hazard dari para dokter untuk membiarkan adanya
permintaan persalinan melalui sectio caesarea tanpa indikasi medis yang adekuat.
Kata kunci : Etika medis, deontologi, sectio caesarea

ABSTRACT
The rate sectio caesarea in Indonesia is quite high. World Health Organization states that the number sec-
tio caesarea maximum of about 10 to 15%. Therefore, it is necessary to study the decision-making action sectio
caesarea based on the principles of bioethics. This study used a qualitative approach with descriptive and analytic
analysis, conducted in 2014 in hospitals and maternity clinics in Jakarta. Data collection through interviews on
interviewees such as functional medical workers, midwives and hospital managers. Results showed the trend of
sectio caesarea very high reaching 70%. Sectio caesarea is almost entirely due to medical indications. Trend sectio
caesarea very high does not necessarily indicate that there are things that are contrary to the ethics of health care.
Many factors beyond medical indications, both in the mother and baby, which causes sectio caesarea been, among
others: the maternal psychological, medical equipment that is not ready for normal delivery, the right of patients to
choose medical treatment to do, weak regulation in controlling hospital offers a package sectio caesarea, as well
as regulation is deemed damaging medical services system is already working well so as to encourage moral haz-
ard of the doctors to let their demand for childbirth through sectio caesarea without adequate medical indications.
Keywords : Bioethics, deontologi, Sectio Caesarea

Copyright © 2018 Universitas Hasanuddin. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license
(https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/).
DOI : http://dx.doi.org/10.30597/mkmi.v14i1.2110

9
Dumilah Ayuningtyas : Etika Kesehatan pada Persalinan melalui Sectio Caesarea Tanpa Indikasi Medis

PENDAHULUAN na adanya kepercayaan yang berkembang di ma-


Word Health Organization (WHO) mem- syarakat yang mengaitkan waktu kelahiran dengan
pertimbangkan rata-rata tindakan sectio caesarea peruntungan nasib anak dengan harapan apabila
berkisar 5% sampai 15% sebagai range maksi- anak dilahirkan pada tanggal dan jam tertentu akan
mum yang ditargetkan pada intervensi penyela- memperoleh rezeki dan kehidupan yang lebih baik.
matan nyawa dalam hal persalinan.1 Pada tahun Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan di
2004, di Amerika Serikat rata-rata sectio caesarea salah satu RS di Medan menyatakan bahwa fak-
meningkat hingga 29,1%, di Inggris dan Wales tor selain kepercayaan yang dapat mempengaruhi
juga telah mencapai 21,4%, meningkat 5 kali lipat keputusan ibu untuk melakukan sectio caesarea
sejak tahun 1971.2,3 Selain itu, tercatat pula pada antara lain kesepakatan suami istri, pengetahuan,
tahun 2001 hingga 2003, angka kejadian sectio faktor sosial, kecemasan persalinan normal, faktor
caesarea di Kanada adalah 22,5%.4 Data terse- ekonomi dan pekerjaan.8
but menunjukkan bahwa secara global, khusus- Hal tersebut menjadi beberapa faktor yang
nya di negara-negara maju, bahwa angka tindakan menyebabkan jumlah tindakan sectio caesarea
persalinan melalui sectio caesarea terbilang ting- semakin tak meningkat dan mendapat respon dari
gi. Pada tahun 70-an permintaan sectio caesarea akademisi, professional di bidang medis, maupun
adalah sebesar 5%, kini lebih dari 50% ibu hamil pemerintah. Pasalnya, tindakan medis tersebut
menginginkan operasi sectio caesarea.5 lebih berisiko dibandingkan persalinan normal.
Tidak hanya di level dunia, angka persa- Selain itu, dampak sectio caesarea pun tidak ha-
linan dengan sectio caesarea di Indonesia juga nya dirasakan ibu melainkan juga bagi bayi, bah-
terbilang cukup tinggi. Hasil survei Gulardi dan kan ayah dari bayi. Komplikasi yang bisa timbul
Basalamah, terhadap 64 rumah sakit di Jakarta pada sectio caesarea adalah infeksi puerperal,
tahun 1993, menunjukkan dari 17.665 kelahiran, perdarahan, bisa terjadi pada waktu pembedahan
sebanyak 35,7-55,3% melahirkan dengan tinda- cabang-cabang atonia uteria ikut terbuka atau
kan sectio caesarea. Sebanyak 19,5-27,3% di an- karena atonia uteria; komplikasi lain karena luka
taranya karena adanya komplikasi Cephalopelvik kandung kencing, embolisme paru dan deep vein
Disproportion (CPD, ukuran lingkar panggul ibu thrombosis; dan terjadi ruptur uteri pada kehami-
tidak sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin). lan berikutnya.9
Berikutnya, sectio caesarea akibat perdarahan he- Menurut hasil survei global WHO yang
bat yang terjadi selama persalinan sebanyak 11,9- dilakukan di 9 (Sembilan) negara Asia pada tahun
21% dan sectio caesarea karena janin sungsang 2007 dan 2008, di Kamboja, China, Nepal, Fili-
berkisar antara 4,3-8,7%.6 pina, Srilangka, Thailand, dan Vietnam diketahui
Sectio caesarea merupakan tindakan medis bahwa persentase persalinan SC sekitar 27,3%.
yang diperlukan untuk membantu persalinan yang Survei ini meneliti hampir 108.000 persalinan di
tidak bisa dilakukan secara normal akibat masalah 122 rumah sakit. Sectio caesarea dapat mening-
kesehatan ibu atau kondisi janin. Tindakan ini diar- katkan morbiditas dan mortalitas maternal, sehing-
tikan sebagai pembedahan untuk melahirkan janin ga SC seharusnya dilakukan hanya karena adanya
dengan membuka dinding perut dan dinding ute- indikasi medis.10
rus atau vagina atau suatu histerotomi untuk mela- Tenaga medis tentunya paham mengenai
hirkan janin dari dalam rahim. Namun demikian, risiko dilakukannya tindakan sectio caesarea, ter-
tindakan sectio caesarea tidak lagi dilakukan masuk risiko medis akibat tindakan ini. Namun
semata-mata karena pertimbangan medis, tetapi demikian, banyak tenaga medis yang mempermu-
juga termasuk permintaan pasien sendiri atau sa- dah izin tindakan ini hanya karena kemauan pasien
ran dokter yang menangani seperti hasil penelitian atau kondisi medis yang sebenarnya dapat diata-
yang dibahas sebelumnya. Sectio caesarea me- si tanpa sectio caesarea. Hal ini terkait dengan
mang memungkinkan seorang wanita yang akan bioetika atau etika kesehatan yang salah satu prin-
bersalin untuk merekayasa hari persalinan sesuai sipnya adalah benifience, mendahulukan kepen-
keinginan lebih besar.7 Menurut Kasdu,6 proses tingan atau keselamatan pasien, tidak hanya pada
persalinan sectio caesarea kadang dilakukan kare- konteks kekinian melainkan juga pada konteks di

10
JURNAL MKMI, Vol. 14 No. 1, Maret 2018

masa depan dan mengusahakan agar kebaikan atau yang dilakukan oleh dokter apakah sudah sesuai/
manfaat dari tindakan yang diambil itu lebih ban- tidak sesuai dengan etika kesehatan. Selanjutnya
yak dibandingkan dengan suatu keburukannya. intisari jawaban dibuat dalam matriks hasil peneli-
Adanya trend peningkatan tindakan sectio tian, untuk mendapatkan kesimpulan dari jawaban
caesarea (SC) di sejumlah rumah sakit, baik di semua narasumber. Data dianalisis menggunakan
RS swasta maupun RS pemerintah, padahal risiko content analysis dengan cara membandingkan ha-
klinis terhadap ibu yang melahirkan melalui op- sil dengan teori atau konsep yang ada, hasil pene-
erasi SC lebih besar dibandingkan dengan risiko litian sejenis sebelumnya dan justifikasi peneliti.
persalinan normal (pervaginam). Risiko psikolo-
gis juga tidak dapat dihindarkan karena rasa sakit HASIL
pasca operasi caesarea yang lebih lama serta adan- Berdasarkan hasil wawancara pada pihak
ya risiko pada bayi. Risiko akibat pasca SC yang manajerial rumah sakit, diketahui bahwa trend
merugikan ini perlu dikaji lebih jauh dari segi persalinan melalui Sectio Caesarea (SC) terbilang
etika kesehatan, mulai dari proses pengambilan sangat tinggi, seperti kutipan dari informan beri-
keputusan dokter dalam melakukan operasi sec- kut:
tio caesarea. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini “RS ini adalah top level hospital. Kalau
adalah untuk menganalisis tindakan sectio caesar- dilihat dari angka persalinan, sejumlah ku-
rang lebih 4000 persalinan per tahun, 40%
ea berdasarkan prinsip-prinsip etika kesehatan. di antaranya adalah dengan SC”
(Informan 1).
BAHAN DAN METODE
Penelitian menggunakan pendekatan kuali- “Untuk pelayanan SC ini besar propor-
tatif, dengan analisis deskriptif dan analitik. Pen- sinya adalah sekitar 30-32%. Akan tetapi,
gambilan data dilakukan dengan wawancara men- pasien yang dilayani SC di sini pun di an-
dalam terhadap dokter obstetri dan gynekologi di taranya adalah pasien rujukan rumah sakit
atau bidan, atau juga dari rumah sakit yang
rumah sakit dan bidan klinik mandiri. Pendekatan memerlukan back up pelayanan NICU dan
ini digunakan untuk memahami gambaran tinda- PICU”
kan sectio caesarea yang tanpa indikasi medis dan (Informan 2)
mendapatkan materi untuk menganalisis sisi etika
kesehatan dalam tindakan tersebut. “di RS saya SC memang terbilang tinggi
jumlahnya. Bahkan, bisa mencapai 70%,
Penelitian dilaksanakan dari Januari hingga lebih tinggi dari standar Depkes yaitu 40%”
April 2014, di rumah sakit dan klinik persalinan (Informan 3)
di Jakarta (pada 3 RS umum pemerintah dan 3 RS
swasta). Pengumpulan data melalui wawancara Berdasarkan data di RS terlihat grafik ki-
mendalam menggunakan pedoman wawancara saran presentase persalinan SC pada beberapa unit
terhadap 5 (lima) narasumber yang terdiri dari studi menunjukkan trend cukup tinggi. Gambar 1
tenaga medis fungsional (dokter obstetri dan gyne- menunjukkan terdapat 1 RS swasta yang memiliki
kology), bidan dan manajer (direktur) rumah sakit. angka SC sebesar 70% dan 2 RS yang memiliki
Pembahasan tentang etik berdasarkan em- angka SC sebesar 40% dari seluruh persalinan.
pat teori etika antara lain: konsekuensialisme, Beberapa RS lainnya memiliki angka rata-rata
deontologi, etika hak dan intuisionisme.11 Prin- angka SC berkisar 30-35% setiap tahunnya. Selain
sip-prinsip etika dalam persalinan sectio caesarea persentase, trend persalinan SC di setiap RS terse-
(tanpa indikasi medis) berdasarkan pendekatan but juga mengalami kenaikan setiap tahunnya.
‘empat prinsip’ yang dikembangkan oleh Beau- Berdasarkan hasil penelitian diketahui bah-
champ dan Childress dalam bukunya The Prin- wa determinan persalinan SC yang terjadi di RS
ciples of Biomedical Ethics,12 meliputi: 1) prinsip pemerintah, cenderung diakibatkan oleh indikasi
autonomi (berhak menentukan sendiri), 2) prinsip medis karena RS tersebut telah menjadi rujukan
beneficience (berbuat baik), 3) prinsip non-ma- dari berbagai klinik, puskesmas dan rumah sakit
leficence (tidak merugikan), 4) prinsip juctice di sekitar RS vertikal tersebut. Informasi tersebut
(keadilan) untuk menilai tindakan sectio caesarea

11
Dumilah Ayuningtyas : Etika Kesehatan pada Persalinan melalui Sectio Caesarea Tanpa Indikasi Medis

Gambar 1. Presentase Persalinan Sectio caesarea di Institusi Rumah Sakit


Pemerintahan dan Swasta Tahun 2014

Tabel 1. Determinan Persalinan Sectio caesarea


Pasien 1 Pasien 2 Pasien 3 Pasien 4
Masalah Kehamilan Ketuban Pecah Dini “kehamilan air” Kegemukan, dan 4 Penurunan volume
(KPD) tahun yang lalu juga air ketuban
melalui operasi SC
Saran dokter Masih disarankan Sectio caesarea Sectio caesarea/partus Sectio caesarea
Partus Normal normal

Keputusan akhir Sectio caesarea Partus normal Sectio caesarea Sectio caesarea

diringkas dari beberapa informan seperti pada Ta- salinan SC dilaksanakan secara terencana
bel 1. tetapi untuk pelaksanaan yang dilakukan
Selanjutnya pada aspek prosedur medis, secara mendadak, baru diputuskan setelah
di kamar bersalin, juga selalu ada informed
dari hasil wawancara dengan narasumber, didapa- consent tapi tidak banyak penjelasan”
tkan informasi bahwa prosedur medis sebelum SC (Informan 2).
meliputi informed consent dan edukasi tentang
manfaat dan risiko SC pada pasien telah dijalank- Berdasarkan kutipan hasil wawancara
an. Namun, teknis pelaksanaan informed consent diketahui bahwa teknis pelaksanaan dan hasil
dan edukasi tersebut dapat berbeda-beda, tergan- edukasi serta informed consent dipengaruhi oleh
tung pada kondisi pasien dan jenis rumah sakit. kondisi pasien. Jika kondisi pasien diindikasikan
memiliki kelainan atau masalah persalinan serta
“(edukasi dan informed consent pada pa- direncanakan untuk melakukan persalinan dengan
sien) berjalan karena PPDS memiliki kewa-
jiban untuk hal tersebut. Lagipula RSX ini SC maka informed consent dijalankan dengan ter-
adalah RS tersier jadi tidak ada pelayanan tib, artinya dengan melalui proses diskusi antara
bidan. Jadi pasti dokter (PPDS) yang men- dokter dengan pasien (calon ibu melahirkan) dan
jelaskan walaupun tidak bisa dipungkiri pasangan atau orang tua sehingga pihak pasien fa-
pasti ada yang ‘lolos’ karena jumlah pasien ham. Sebaliknya, dalam kondisi pasien yang tidak
yang sangat banyak”
(Informan 1) direncanakan bersalin dengan SC maka informed
consent tidak berjalan melalui diskusi melainkan
“(Penjelasan tentang sectio caesarea dan in- sebuah kesepakatan yang singkat diambil oleh
formed consent) selalu dijelaskan, jika per- kedua pihak, dokter dan pihak pasien.

12
JURNAL MKMI, Vol. 14 No. 1, Maret 2018

Persalinan melalui operasi SC pada ke- Apabila kondisi tersebut yang terjadi maka
sempatan tertentu dilakukan tanpa indikasi medis perlu dipertimbangkan kembali bagaimana kon-
yang kuat berdasarkan permintaan pasien. Kepu- sekuensi yang akan terjadi nantinya. Dalam bebe-
tusan ini dilakukan tenaga medis dengan alasan rapa literatur disebutkan bahwa proses persalinan
karena memilih cara persalinan adalah hak pasien, merupakan proses yang kompleks, tidak hanya
berbuat baik terhadap pasien, mempertimbangan membutuhkan kondisi fisik yang kuat melainkan
kondisi psikis pasien, berniat adil terhadap pasien. pula psikologis yang siap.
Menghadapi hal ini tenaga medis akan membe-
rikan edukasi kepada pasien dengan menjelaskan PEMBAHASAN
kelebihan dan kekurangan atau risiko tindakan SC Berdasarkan hasil penelitian diketahui bah-
dan komplikasinya, termasuk rencana kehamil- wa trend persalinan melalui SC terbilang tinggi.
an berikutnya. Tenaga medis tetap menghormati Rentangnya hanya sedikit lebih rendah dari standar
keputusan pasien dan keluarga, selanjutnya pasien Kementerian Kesehatan, tetapi angka tertingginya
akan membuat permohonan tertulis untuk dilaku- jauh lebih tinggi dari standar tersebut. Persentase
kan tindakan SC yang ditandatangani oleh pasien persalinan SC berkisar antara 30%-70% setiap
dan keluarga sebagai saksi, seperti kutipan infor- tahunnya. Sementara, standar jumlah persalinan
man berikut : melalui SC menurut Kementerian Kesehatan dan
WHO adalah masing-masing 40% dan 5-15%.
“…Keputusan pasien dan keluarga terse- Hasil penelitian di 3 RS di Jakarta diketahui
but kita hormati karena itu merupakan hak
autonomi pasien, tapi sebelum pasien dan persentase SC sekitar 55,9% di RSUD dan 59,9%
keluarga memutuskan meminta tindakan SC di RS Swasta.13 Selaras dengan data di RSUPN
kita harus menjelaskan segala risiko dan Cipto Mangunkusumo, tahun 1999 sampai 2000,
komplikasi dari tindakan SC tersebut. disebutkan bahwa dari sekitar 404 persalinan per
(Informan 4). bulan, 30% diantaranya merupakan sectio caesa-
“…Permintaan mesti disampaikan secara rea. Berdasarkan persentase sectio caesarea terse-
tertulis, ditandatangani juga oleh keluar- but, 13,7% disebabkan oleh gawat janin (denyut
ga sebagai saksi, dan dokter penanggung jantung janin melemah menjelang persalinan) dan
jawab. Kita bisa menerima dan akan men- 2,4% karena ukuran janin terlalu besar sehingga ti-
jalankan keputusan pasien dan keluarga dak dapat melewati panggul ibu, sementara sekitar
tersebut, yang sebelumnya kita sudah be-
rikan edukasi yang jelas. 13,9 % sectio caesarea dilakukan tanpa pertim-
(Informan 5) bangan medis.6
Penelitian Suryati14 yang menyatakan bah-
Persalinan melalui SC tanpa indikasi me- wa angka tindakan operasi caesar di Indonesia
dis yang terjadi karena keinginan calon ibu juga sudah melewati batas maksimal standar WHO
ba-nyak yang disebabkan oleh masalah psikologis yaitu 5-15 %. Berdasarkan hasil Riskesdas 2010
sebelum melahirkan, misalnya karena ibu mera- tercatat bahwa jumlah persalinan melalui bedah
sakan kekhawatiran yang berlebih jika melalui caesarea secara nasional sekitar 15,3% dari jum-
persalinan secara normal sehingga secara tidak lah total persalinan (dari 20.591 sampel ibu yang
terencana menginginkan operasi sectio caesarea. melahirkan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir
Berdasarkan hasil wawancara diketahui be- yang diwawancarai di 33 provinsi). Jumlah tin-
berapa pertimbangan pasien dan keluarga memu- dakan sectio caesarea yang cukup tinggi dan me-
tuskan memilih SC antara lain karena tidak ingin ngalami peningkatan setiap tahunnya patut men-
merasakan sakit atau nyeri persalinan, tidak mau jadi perhatian. Hal ini tidak hanya terjadi pada
lama menjalani proses persalinan, tidak ingin rumah sakit swasta melainkan juga di rumah sakit
mengalami luka atau trauma pada jalan lahir, trau- pemerintah. Secara umum di Indonesia, jumlah
ma pada persalinan pervaginam (riwayat obstetri persalinan caesarea di rumah sakit pemerintah
buruk sebelumnya seperti keguguran berulang, 25% dari total persalinan, sedangkan di rumah
IUFD), suami atau keluarga tidak tega melihat sakit swasta jumlahnya sangat tinggi yaitu sekitar
nyeri persalinan yang dialami oleh pasien. 30-80% dari total persalinan.

13
Dumilah Ayuningtyas : Etika Kesehatan pada Persalinan melalui Sectio Caesarea Tanpa Indikasi Medis

Faktor risiko ibu saat melahirkan untuk di- sien tidak dapat lagi menuntut pihak tenaga medis
operasi caesarea menurut Riskesdas 2010 diketa- atau dokter yang melakukan operasi SC.
hui adalah karena ketuban pecah dini (13,4%), Membahas suatu isu dari aspek etika diper-
preeklampsiaa (5,49%),perdarahan (5,14%), jalan lukan teori etika sebagai acuan dalam proses mem-
lahir tertutup (4,40%), rahim sobek (2,3%).14 benarkan suatu keputusan etis tertentu, atau untuk
Adanya komplikasi persalinan ini 6,63 kali lebih menyusun informasi yang kompleks dan nilai-nilai
cenderung ibu melahirkan secara sesar dibanding- serta kepentingan-kepentingan yang bersaing satu
kan ibu yang tidak memiliki komplikasi persali- sama lain, dan mencari jawaban atas pertanyaan
nan.15 Penelitian lain menunjukkan bahwa faktor tentang tindakan yang diperlukan dalam kondisi
yang berhubungan dengan tindakan persalinan SC tertentu. Ada empat teori etika yang dapat men-
adalah karena alasan medis yaitu gawat janin yang jadi alternatif pembahasan isu etika, antara lain:
berisiko hampir 12 kali lebih besar untuk persa- konsekuensialisme, deontologi, etika hak dan in-
linan SC.16 Faktor lain yang berhubungan dengan tuisionisme.11
keputusan SC antara lain adalah usia ibu, paritas, Teori etika “konsekuensialisme” meman-
dan kejadian anemia,17 serta perubahan demografi, dang bahwa tindakan yang dianggap etis adalah
pilihan wanita pada melahirkan, dan saran dokter.3 tindakan dengan konsekuensi yang membawa
Dokter sebaiknya memahami aspek eti- keuntungan yang lebih banyak, melebihi sega-
ka kesehatan dalam persalinan sectio caesarea. la hal yang merugikan.11 Dengan menggunakan
Dokter harus mematuhi etika dalam praktek kli- cara pandang pada teori ini, persalinan melalui SC
nis dan berhati-hati dalam mengevaluasi indikasi tanpa indikasi medis bisa saja dapat disimpulkan
setiap CS dan mengambil keputusan yang tidak sebagai tindakan medis yang tidak etis mengingat
bias sebelum melakukan CS atas permintaan. Se- tindakan medis tersebut masih dianggap tidak le-
lain risiko dan manfaat, perlu pemahaman potensi bih aman dan lebih berisiko meski teknologi ke-
risiko jangka panjang berulang CS, termasuk his- dokteran atau medis telah berkembang pesat dan
terektomi dan kematian ibu dan janin.18 lebih aman.
Berdasarkan teori deontologi (kewajiban) Berdasarkan ‘etika hak’, untuk menganali-
maka fokus analisis etika suatu tindakan dilakukan sis suatu tindakan perlu ditentukan terlebih dahu-
terhadap pelaksana tindakan tersebut.11 Oleh kare- lu hak dan tuntutan moral yang akan terpicu dari
na itu dalam persalinan, aspek etika yang dibahas tindakan yang akan dilakukan. Hal yang menjadi
fokus pada dokter atau tenaga medis yang melak- fokus pada teori ini adalah bahwa tuntutan moral
sanakan. Persalinan melalui SC tanpa indikasi atau hak seseorang terpenuhi. Etika hak populer di
medis dapat dikatakan etis apabila dokter telah Amerika Serikat, terutama dalam isu abortus. Teo-
melakukan kewajibannya, antara lain menjelaskan ri hak pantas dihargai terutama karena tekanan-
kondisi janin/bayi pada orang tua, risiko-risiko nya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan
yang kemungkinan terjadi saat dan setelah melalui moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Di sisi
operasi SC, serta hal-hal lain yang perlu diketahui lain, teori ini tidak menjelaskan tentang konflik
calon ibu dan pasangannya pasca operasi SC, men- hak antara individu-individu harus dipecahkan.11
jalankan prosedur informed consent dan melaku- Di persalinan sectio caesarea, teori etika hak ini
kan operasi SC sesuai dengan prosedur medis yang memecahkan dilema-dilema moral dengan ter-
berlaku, tanpa kesalahan sedikit pun. Sebagaima- lebih dahulu menentukkan hak dan tuntunan moral
na yang telah dijelaskan mengenai kelebihan ini mana yang terlibat di dalamnya.
bahwa apabila pelaksana tindakan yang memicu Adapun pada teori intuisionisme, berdasar-
dilema etis ini telah menjalankan kewajiban sesuai kan dugaan setiap individu terhadap suatu tin-
peran dan tanggungjawabnya maka tindakan ini dakan yang memicu dilema etis,11 maka teori ini
tidak lagi menjadi pembahasan dalam dilema etis. tidak dapat digunakan dalam pembahasan etika
Namun, kekurangannya bahwa deontologi tidak kesehatan pada persalinan melalui SC tanpa indi-
peka terhadap konsekuensi-konsekuensi tindakan, kasi medis. Hal ini dikarenakan tindakan tersebut
maka apabila di waktu mendatang risiko akibat merupakan tindakan medis yang telah memiliki
persalinan SC dirasa merugikan pasien maka pa- standar tersendiri dan pelakunya tidak lain adalah

14
JURNAL MKMI, Vol. 14 No. 1, Maret 2018

profesi kesehatan, dokter, yang juga telah memili- si caesar, maka dokter harus mempertimbangkan
ki etika profesi. Dengan demikian, setiap tindakan untuk menyetujui kehendak pasien (dengan tetap
medis yang dilakukan tidak dapat dinilai hanya mempertimbangkan keamanan bagi pasien) kare-
dengan intuisi melainkan perlu dipertimbangkan na pasien mempunyai haknya sendiri untuk me-
secara cermat, dapat melalui aspek konsekuensi nentukan tindakan medis yang akan dilakukan.
atau akibat dari tindakan tersebut, dari aspek ke- Selain itu alasan yang mendasari terbitnya
wajiban pelaku (dokter) yang telah terikat etika revisi kode etik POGI adalah Undang-Undang
profesi, serta dapat pula mempertimbangkan hak Praktik Kedokteran yang memuat mengenai hak
dari penerima atau penentu tindakan tersebut yang pasien atas pilihan pengobatan pada dirinya, hak
dalam hal ini adalah pasien atau calon ibu yang mendapatkan penjelasan atas tindakan medik (di-
akan melahirkan. jelaskan untung rugi, risiko yang dihadapi selama
Beauchamp dan Childress menyebutkan pembedahan dan masa mendatang), serta hak un-
bahwa terdapat 4 poin prinsipal dalam moral dan tuk menolak tindakan medis pada dirinya. Dalam
etik kesehatan yaitu Autonomy, Beneficience, hal ini pasien memilih untuk dilakukan persalinan
Non-maleficence, dan Justice.12 Keempat poin secara SC.
tersebut harus seimbang, dan pada suatu kondisi Perlu menjadi perhatian bersama jika terja-
mungkin saja terjadi jika salah satu poin etik akan di malpraktik akibat SC ini antara lain bahwa ru-
kontra dengan poin yang lainnya. mah sakit bertanggung jawab atas kelalaian tenaga
Di Indonesia, dalam Pertemuan Ilmiah Ta- medis di rumah sakit akibat dari perbuatan tenaga
hunan (PIT) POGI yang terakhir di Jakarta, Juli medis yang merugikan pasien atas dasar yuridis
2011 telah disepakati untuk dilakukan perubahan mormatif sesuai ketentuan Pasal 1367 KUH Per-
pada standar kode etik POGI yang menyatakan data, dan Pasal 46 UU rumah sakit, dan standar
bahwa tindakan sectio caesarea atas perminta- profesi dan akreditasi pelayanan kesehatan secara
an pasien bukanlah merupakan suatu bentuk pe- internasional. Akan tetapi tindakan tenaga medis
langgaran etik selama dilakukan suatu informed dalam bentuk criminal malpractice, maka akan
consent khusus, yaitu adanya surat persetujuan tetap dipertanggungjawabkan pada tenaga medis
tindakan medik bedah caesar dengan format khu- tersebut.20 Oleh karena itu, semua pihak diharap-
sus dan dijelaskan langsung oleh dokter yang akan kan dapat mengutamakan tanggung jawab profe-
melakukan tindakan, didampingi saksi dari pihak sionalisme di bidang kesehatan, khususnya bagi
dokter, dan saksi dari pihak pasien, yang berisi: tenaga medis yang berhubungan langsung dengan
1) Permintaan secara eksplisit tertulis bahwa de- pasien
ngan ini pasien meminta untuk dilakukan tindakan
seksio sesarea, 2) Bahwa pasien telah dijelaskan KESIMPULAN DAN SARAN
oleh dokter yang membedah tentang; persali- Dapat disimpulkan bahwa trend persalinan
nan secara caesar akan dilakukan walaupun telah melalui sectio caesarea sangat tinggi yakni ber-
dilakukan pemeriksaan oleh dokter bahwa pasien kisar antara 30% sampai 70%, baik di rumah sakit
dapat melahirkan per vaginam, persalinan melalui pemerintah maupun swasta. Persalinan sectio
caesar tidak lebih baik jika dibandingkan dengan caesarea hampir seluruhnya disebabkan indikasi
persalinan per vaginam, adanya risiko yang dapat medis. Trend yang tinggi pada persalinan melalui
timbul pada ibu dan janin berkaitan dengan tindak- tindakan sectio caesarea tidak serta merta menun-
an bedah caesar.19 jukkan bahwa terdapat hal yang bertentangan
Berdasarkan Kode Etika Kedokteran In- dengan etika pelayanan kesehatan. Banyak faktor
donesia (KODEKI) yang berpedoman dari Surat di luar indikasi medis, baik dari sisi ibu maupun
Keputusan PB IDI No 221/PB/A-4/04/2002, Pasal bayi yang menyebabkan dipilihnya tindakan sectio
7c berbunyi “Seorang dokter harus menghormati caesarea. Berdasarkan teori etika konsekuensia-
hak-hak pasien, hak-hak sejawat, dan hak tenaga lisme, persalinan melalui SC tanpa indikasi me-
kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan dis bisa dinilai sebagai tindakan medis yang tidak
pasien.” Oleh karena itu, jika pasien mengingin- etis mengingat tindakan medis tersebut masih di-
kan dan memutuskan untuk dilakukannya opera- anggap tidak lebih aman dan lebih berisiko mes-

15
Dumilah Ayuningtyas : Etika Kesehatan pada Persalinan melalui Sectio Caesarea Tanpa Indikasi Medis

ki teknologi kedokteran telah berkembang pesat. 10. Lumbiganon P, Laopaiboon M, Gülmezoglu


Menurut teori deontologi (kewajiban), persalinan AM, Souza JP, Taneepanichskul S, Ruyan P,
melalui SC tanpa indikasi medis dapat dikatakan et al. Method of Delivery and Pregnancy Out-
etis apabila dokter telah melakukan kewajibannya, comes in Asia: the WHO Global Survey on
jika telah menjalankan prosedur informed consent Maternal and Perinatal Health 2007-08. The
dan melakukan operasi SC sesuai dengan prosedur Lancet. 2010;375(9713):490-9.
medis yang berlaku, tanpa kesalahan sedikit pun. 11. Shannon TA. Pengantar Bioetika (diterjemah-
kan oleh K. Bertens). Jakarta: Gramedia Pus-
UCAPAN TERIMA KASIH taka Utama; 1995.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada 12. Beauchamp TL, Childress JF. Principles of
Novi Dwi Istanti dan Putri Kurniasari dari FKM Biomedical Ethics. New York: Oxford Uni-
Universitas Indonesia serta kepada semua pihak versity Press; 1994.
yang terlibat dan membantu dalam penelitian ini. 13. Sihombing M, Andayasari L. Determinan Per-
salinan Seksio Sesarea Pasien Kelas Tiga Di
DAFTAR RUJUKAN Dua Rumah Sakit Di Jakarta Tahun 2011. Jur-
1. Chu K, Cortier H, Maldonado F, Mashant T, nal Kesehatan Reproduksi. 2015;6(3):173-81.
Ford N, Trelles M. Cesarean Section Rates 14. Suryati T. (Analisis lanjut data Riskesdas
and Indications in Sub-Saharan Africa: a 2010) Persentase Operasi Caesaria di Indone-
Multi-country Study from Medecins Sans sia Melebihi Standard Maksimal, Apakah Se-
Frontieres. PLOS one. 2012;7(9 e44484):1-6. suai Indikasi Medis. Buletin Penelitian Sistem
2. Sur S, Mackenzie I. Does Discussion of Possi- Kesehatan. 2013;15(4):331-8.
ble Scar Rupture Influence Preferred Mode of 15. Sihombing N, Saptarini I, Putri DSK. Deter-
Delivery After a Caesarean Section? Journal of minan Persalinan Sectio Caesarea di Indonesia
Obstetrics and Gynaecology. 2005;25(4):338- (Analisis Lanjut Data Riskesdas 2013). Jurnal
41. Kesehatan Reproduksi. 2017;8(1):63-75.
3. Dobson R. Caesarean Section Rate in England 16. Andayasari L, Muljati S, Sihombing M, Arlin-
and Wales Hits 21. BMJ: British Medical da D, Opitasari C, Mogsa DF, et al. Proporsi
Journal. 2001;323(7319):951. Seksio Sesarea dan Faktor yang berhubungan
4. Wagner VV, Young D. Choosing a Caesarean dengan Seksio Sesaria di Jakarta. Buletin Pe-
Birth - A Forum to Discuss the Issues. Atlan- nelitian Kesehatan. 2015;43(2):105-16.
tic Centre of Excellence for Women’s Health; 17. Mulyawati I, Azam M, Ningrum DNA. Faktor
June 16th 2002; Canada 2002. Tindakan Persalinan Operasi Sectio Caesarea.
5. Juditha I, Cynthia I. Tips Praktis bagi Wanita Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2011;7(1):14-
Hamil. Jakarta: Forum Kita; 2009. 21.
6. Kasdu D. Operasi Caesar: Masalah dan 18. Mukherjee S. Rising cesarean section rate. J
solusinya. Jakarta: Puspa Swara; 2003. Obstet Gynecol India. 2006;56(4):298-300.
7. Elizabeth. Menyambut Kehadiran Buah Hati. 19. POGI. Tindakan Caesar atas Permintaan
Jakarta: Openup Publishing; 2005. Sendiri. Jakarta: Himpunan Kedokteran Feto
8. Salfariani I, Nasution SS. Faktor Pemilihan Maternal POGI; 2011.
Persalinan Sectio Caesarea Tanpa Indikasi 20. Wahyudi S. Tanggung Jawab Rumah Sakit
Medis Di RSU Bunda Thamrin Medan. Jurnal Terhadap Kerugian Akibat Kelalaian Tenaga
Keperawatan. 2012;1(1):7-12. Kesehatan dan Implikasinya. Jurnal Dinamika
9. Mochtar R. Sinopsis Obstetri Jilid II. Jakarta: Hukum. 2011;11(3):505-21.
EGC; 2002.

16