Anda di halaman 1dari 71

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN

JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Agregat
Agregat untuk bahan campuran beton ada dua macam yaitu agregat halus (pasir) dan agragat
kasar (kerikil). Keduanya dapat diperoleh secara alamiah maupun secara buatan (manual). Secara
umum, syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh agregat beton antara lain :
☻ Butiran agregat harus anorganik
☻ Butiran agregat dapat diperoleh dari alam atau buatan (batu pecah).
Kegunaan agregat antara lain :
☻ Memberikan kekuatan pada beton
☻ Memperkecil penyusutan
☻ Memberi sifat tertentu pada beton.
Agregat diperoleh dari deposit alam seperti pasir dan kerikil alam ataupun penggalian. Pasir alam
lebih banyak dan ekonomis sebagai sumber deposit. Agregat dari sumber alam dan batuan yang
digunakan sebagai agregat antara lain :
1. Deposit aluvial
a. Deposit fluviatile
Terdapat di dasar sungai yang mutunya tergantung dari umur dan kondisi sungai tersebut.
Agregat dari sungai ini mempunyai umur sedang dan mempunyai kualitas yang baik untuk
beton.
b. Deposit fluviatile
Agregat ini terdapat di dalam atau di padang es yang telah hancur oleh arus dan mempunyai
kualitas yang baik karena telah mengalami abrasi.
c. Deposit fluviatile
Agregat ini terdapat di pinggiran es terdiri dari agregat yang heterogen dan tidak baik
digunakan untuk beton karena mengandung banyak lumpur.
2. Deposit marine
Agregat ini terdapat di pesisir pantai sebagai hasil dari kumpulan aliran pasang surut
muara sungai. Bentuknya bulat dan pasirnya halus.Secara umum agregat yang baik haruslah

KELOMPOK VI
1
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

agregat yang mempunyai bentuk yang menyerupai kubus atau bundar, bersih, keras, kuat,
bergradasi baik dan stabil secara kimiawi.
Agregat yang digunakan untuk campuran beton, terdiri dari 60 % s/d 75 % dari volume
totalnya oleh karena itu sifat-sifatnya sangat mempengaruhi hasil beton. Pemakaian yang agregat
yang banyak dapat mengurangi penyusutan akibat mengerasnya (mengeringnya) beton, dan
dapat mempengaruhi koefisien expansi akibat panas.
Keuntungan digunakannya agregat :
 Murah
 Menimbulkan sifat volume yang stabil:
- mengurangi susut
- mengurangi rangkak
- memperkecil pengaruh suhu

Acuan yang Digunakan


Agregat untuk beton harus memenuhi salah satu ketentuan berikut:
1. ASTM C 33, Spesifikasi agregat untuk beton
2. SNI 03-2461-1991, Spesifikasi agregat ringan untuk beton struktur

Klasifikasi Agregat
Berdasarkan ASTM C-33, agregat dibagi atas dua kelompok, yaitu:

Batas bawah pada ukuran 4.75


Kasar mm atau ukuran saringan no.4
(ASTM)
Agregat
(ASTM C-33)
Halus Batas bawah ukuran pasir =
0.075 mm (no. 200) Batas atas
ukuran pasir = 4.75 mm (no. 4)

KELOMPOK VI
2
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Agregat Kasar ( Kerikil )


Agregat kasar untuk beton dapat berupa kerikil sebagai hasil desintergrasi dari batuan-batuan atau
berupa batu pecah yang diperoleh dari pecahan batu.
Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5
mm. Agregat harus terdiri dari butir-butir yang keras dan hanya diperbolehkan mengandung butir-butir
pipih sebesar 20 % dari agregat seluruhnya. Agregat kasar harus bersifat kekal, tidak pecah atau hancur
oleh pengaruh-pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan hujan.
Tidak boleh mengandung lempur lebih dari 1 % terhadap berat kering. Bila lebih dari 1 % harus
dicuci. Tidak diperkenankan mengandung zat-zat yang dapat merusak beton, seperti zat-zat yang reaktif
alkali. Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji dari rudeloff fengan beban
penguji 20 ton, dengan mana harus dipenuhi syarat-syarat berikut :
- Tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 9,5 – 19 mm lebih dari 24 % berat.
- Tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 19 – 30 mm lebih dari 22 % berat.
- Atau dengan mesin LOS ANGELES, dengan mana tidak boleh terjadi kehilangan berat lebih dari
50 %.
Harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya dan apabila diayak dengan susunan ayakan
ISO harus memenuhi syarat :
- Sisa diatas ayakan 31,50 mm, harus minimum 0 % berat.
- Sisa diatas ayakan 4,00 mm, harus berkisar antara 90 % dan 95 % berat.
- Selisih antara sisa-sisa kumulatif diatas dua ayakan yang berurutan, adalah max 60 % dan min 10 %
berat.

Klasifikasi Bentuk dan Tekstur Agregat


Karakteristik bagian luar agregat, terutama bentuk partikel dan tekstur permukaan memegang
peranan penting terhadap sifat beton segar dan yang sudah mengeras.
Menurut BS 812 : Part 1: 1975, bentuk partikel agregat dapat dibedakan atas:
- Rounded - Irregular
- Flaky - Angular
- Elongated - Flaky & Elongated

KELOMPOK VI
3
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Bentuk Partikel Agregat Menurut BS 812 : Part 1: 1975

Flaky
and
Elongated
Rounded Irregular Angular Flaky Elongated

Partikel dengan ratio luas permukaan terhadap volume yang tinggi menurunkan workability
campuran beton (sampel partikel yang bentuknya flaky dan ellongated)
Menurut BS 812 : Part 1 : 1975, tekstur permukaan agregat dapat dibedakan atas:
- Glassy - Smooth
- Granular - Rough
- Crystalline - Honeycombed
Bentuk dan tekstur permukaan agregat sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat beton segar seperti
kelecakan.

Sifat Mekanik Agregat


1. Gaya lekat (bond)
Semakin kasar tekstur, semakin besar daya lekat antara agregat dengan pasta semen
2. Mekanisme lekatan (bond) antara Agregat dan Pasta Semen.
Ikatan Fisik, Yaitu agregat yang mempunyai permukaan yang kasar dapat mengembangkan
ikatan yang baik dengan pasta semen.
Ikatan Kimia, Yaitu agregat yang mengandung silica (jenis slag) dapat mengikat dengan pasta
semen secara kimiawi (reaksi hidrasi pada permukaan agregat)
KELOMPOK VI
4
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

.
3. Kekuatan
Informasi mengenai kekuatan partikel agregat harus diperoleh dari pengujian tak langsung
antara lain dari pengujian tekan sampel batuan, nilai crushing tumpukan agregat atau
performance agregat dalam beton.
4. Toughness
Didefinisikan sebagai daya tahan agregat terhadap kehancuran akibat beban impact.
5. Hardness
Daya tahan terhadap keausan agregat, merupakan sifat yang penting bagi beton yang
digunakan untuk jalan atau permukaan lantai yang harus memikul lalu lintas berat.

Sifat Fisik Agregat


1. Specific Gravity
2. Apparent Specific Gravity
3. Bulk Specifik Gravity (SSD)
4. Bulk Density
5. Porositas dan Absorpsi
Sifat-sifat fisik agregat di atas dibutuhkan dalam perhitungan proporsi agregat dalam campuran beton

Sifat-Sifat Lainnya
1. Gradasi
Gradasi dan ukuran maksimum agregat sangat penting karena akan mempengaruhi proporsi
agregat dalam campuran, kebutuhan air, jumlah semen, biaya produksi, sifat susut dan
durabilitas beton.
2. Kandungan air
Perlu diketahui untuk mengontrol besarnya jumlah air didalam suatu campuran beton.

KELOMPOK VI
5
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Agregat Halus ( Pasir)


Agregat halus merupakan pengisi (filler) berupa pasir. Ukurannya bervariasi antara ukuran saringan
no.4 sampai no. 100 (saringan standar Amerika). Agregat halus yang baik harus bebas dari bahan
organik, lempung, partikel yang lebih kecil dari saringan no. 100 atau bahan-bahan lain yang dapat
merusak campuran beton. Kebanyakan agregat masih memerlukan adanya pencucian karena terdapat
lumpur dan zat-zat organik didalamnya. Sebagian besar pasir di Indonesia masih banyak mengandung
butir-butir halus, sehingga harus dihilangkan dengan mengadakan pencucian yang juga sekaligus untuk
menghilangkan kotoran-kotoran lumpur, zat-zat organik dan penyaringan di atas saringan 4,8 mm.
Pasir yang baik harus keras, bersih, tajam, kasar dan tidak mengandung bahan organik. Diameter
pasir antara 0,063 – 5,00 mm. Pasir yang baik bisa diperoleh dari sungai, kali dan pasir buatan. Pasir
buatan haruslah memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Butiran-butirannya tajam, tidak dapat dihancurkan dengan tangan
2. Tidak mudah dihancurkan oleh cuaca
3. Kandungan lumpur maksimum 5% terhadap berat kering, jika kandungan
lumpurnya lebih besar dari 5% maka pasir harus dicuci.
4. Pasir tidak boleh terlalu banyak mengandung bahan organik, hal ini dapat diketahui dengan
percobaan Abrame Harder
5. Pasir harus memenuhi gradasi :
a. Sisa diatas ayakan 4 mm, minimal 2% dari berat kering.
b. Sisa diatas ayakan 1 mm, minimal 10% dari berat kering.
c. Sisa diatas ayakan 0,25 mm, minimal 80-95% dari berat kering
6. Pasir tidak boleh bersifat reaktif terhadap alkali
7. Apabila dicuci dengan larutan Natrium Sulfat, bagian yang hancur harus lebih kecil dari 10%
8. Pasir laut tidak boleh dipakai, bila terpaksa harus melalui riset di laboratorium.
Ada beberapa jenis pasir yang perlu diketahui, antara lain :
1. Pasir kali
Pasir kali tersusun dari bahan yang sama seperti batu kali. Perbedaannya terletak pada ukuran
butirnya, dimana pasir adalah fragmen-fragmen batuan yang berukuran 0,016 – 2 mm. Jika ukurannya
kurang dari 0,016 mm, maka dinamakan lanau dan demikian pula dengan pasir halus dan pasir kasar.
Pasir kali baik digunakan untuk campuran beton maupun untuk pekerjaan urugan.

KELOMPOK VI
6
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

2. Pasir kuarsa putih


Pasir ini sehari-hari kita kenal sebagai batu sedimen yang terbentuk dari pelapukan batuan kuarsa dan
batuan-batuan lain yang mengandung kristal-kristal kuarsa. Di negara kita lazimnya bahan galian
ditemuukan di tepian sungai, pantai dan dasar laut. Kegunaan dari pasir jenis ini antara lain :
a. Untuk pembuatan berbagai macam gelas (kaca) sebagai bahan pokok
b. Untuk pembuatan semen Portland, dan lain-lain.

3. Pasir kuarsa hitam


Pasir ini dapat digunakan untuk bahan bangunan, yang sehari-hari dikenal dengan warnanya yang
kehitam-hitaman. Pasir ini terdiri dari kristal-kristal SiO2. Asal mula terbentuknya sama dengan pasir
kuarsa putih, yaitu dari berbagai macam kotoran yang dapat terdiri dari oksida-oksida logam dan
bahan-bahan organik. Kegunaan dari pasir kuarsa hitam ini adalah :
a. Untuk adukan beton, spesi dan sebagainya
b. Untuk pembuatan batu cetak
c. Untuk meningkatkan daya tahan gesek rel kereta api
d. Untuk pembuatan jalan raya
e. Untuk bangunan basah, dan lain-lain.

Pada Laboratorium Struktur dan Bahan ini, dilakukan 6 percobaan agregat halus (pasir) yaitu
1. Analisa saringan / gradasi agregat halus (pasir)
2. Berat jenis dan penyerapan agregat halus (pasir)
3. Berat volume agregat halus (pasir)
4. Kadar air agregat halus (pasir)
5. Kadar lumpur dan lempung agregat halus (pasir)
6. Kadar bahan organik agregat halus (pasir)

KELOMPOK VI
7
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

1.2. AIR
Sebagai bahan yang berperan dalam proses hidrasi sehingga pasta mengeras. Selain itu jumlah
air per satuan volume beton akan mempengaruhi nilai slump yang otomatis akan berpengaruh juga
pada workability beton.

Kualitas Air
Kualitas air pencampur biasanya disyaratkan sebagai air yang dapat diminum, tapi jika
mengandung kadar sodium dan potasium yang tinggi (umum dijumpai pada air tanah) akan menimbulkan
bahaya reaksi alkali - agregat. Setiap air dengan pH (derajat keasaman) antara 6.0 dan 8.0 dan rasanya
tidak payau dapat digunakan untuk air campuran beton. Air yang mengandung bahan organik (umum
dijumpai pada air permukaan) dapat menghambat proses pengerasan beton. Air laut meningkatkan risiko
perkaratan tulangan
Air yang mengandung jamur jika digunakan sebagai air pencampur dapat meningkatkan jumlah
udara dalam campuran, sehingga dapat menimbulkan reduksi kekuatan beton. Air yang cocok digunakan
sebagai air campuran dapat digunakan sebagai air pembersih concrete mixer.

1.3. BETON
Beton merupakan suatu campuran antara air, semen, agregat halus, agregat kasar, dan bahan
tambahan jika diperlukan.
Perbedaan material pembuat beton dalam :
- Semen adalah bahan ikat hidorlik
- Agregat campuran adalah bahan batu-batuan yang netral (tidak bereaksi) dan merupakan bentuk
sebagian besar beton (misalnya : pasir, kerikil, batu pecah, basalt)
- Batuan Semen adalah Campuran antara semen dan air (pasta semen) yang mengeras ;
- Spesi Mortar adalah Campuran antara semen, agegat halus dan air yang telah mengeras ;
- Mortar adalah Campuran antar semen, agregat halus dan air yang telah mengeras;
- Spesi Beton adalah Campuran antara semen, agregat campuran (halus dan kasar) dan air yang
belum mengeras ;
- Beton adalah Campuran antara semen, agregat campuran dan air yang telah mengeras ;

KELOMPOK VI
8
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

- Bahan Tambahan adalah Bahan kimia tambahan yang ditambahkan ke dalam spesi beton
dan/atau beton untuk mengubah sifat beton yang dihasilkan (misalnya accelator, retarder dan
sebagainya).
Dalam bidang bangunan, yang dimaksudkan dengan beton merupakan campuran massa yang
terbentuk dari agregat halus dan agregat kasar dan pasta semen sebagai pasta pengikat agregat dengan
perbandingan – perbandingan tertentu. Beton juga dapat diartikan sebagai bahan bangunan dan
konstruksi yang sifat – sifatnya dapat ditentukan terlebih dahulu dengan mengadakan perencanaan dan
pengawasan yang teliti terhadap bahan – bahan yang diilih.
Beton sebagai bahan konstruksi mempunyai kelebihan dibandingkan dengan bahan konstruksi lainnya
karena dibuat dalam campuran air maka dapat dibentuk sesuai dengan cetakan dan setelah dingin
memiliki nilai kekuatan yang besar. Campuran beton dikatakan baik jika memenuhi syarat kekuatan, syarat
keaweran, kedap air dan syarat workability.
Mutu beton sangat dipengaruhi oleh kwalitas bahan pembentuk, komposisi campuran dan metode
pelaksanaan. Mutu beton dinyatakan dalam bentuk Kp (PBI 1971) yang berarti beton dengan karakteristik
p kg/cm2, yaitu : kekuatan tekan , dimana dari sejumlah besar hasil pemeriksaan benda uji kubus beton
ukuran 15 x 15 x 15 cm3 kemungkinan adanya kekuatan hancur yang kurang dari p kg/cm2 itu terbatas
sampai 5% saja. Bentuk lain symbol mutu beton dinyatakan dalam bentuk f’c (SK SNI T-15-1991-03), yaitu
kuat tekan beton yang disyaratkan oleh perencanaan struktur (benda uji silinder dengan diameter 150 mm
dan tinggi 300 mm), dipakai dalam perencanaan struktur beton dan dinyatakan dalam satuan Mpa (Mega
Pascal).
Campuran untuk suatu mutu beton tertentu dapat diterntukan dalam bentuk perbandingan berat
atau volume, jika diinginkan campuran yang baik utamanya untuk mutu beton tinggi, maka sebaiknya
komposisi campuran dibuat dalam perbandingan berat (takaran berat) untuk pelaksanaan. Metode yang
sering digunakan untuk membuat suatu rancangan campuran beton antara lain dengan metode
Development of Environment (DOE) dan metode PCA ACI.

KELOMPOK VI
9
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Ada beberapa sifat dasar beton sebagai berikut ;

Kekuatan Beton
Beton sangat tahan terhadap gaya tekan dibanding gaya-gaya lainnya, sehingga kuat tekan
merupakan ciri yang umum untuk menggambarkan kekuatan suatu beton. Kuat tekan beton tergantung
pada aktiva semen, water cement ratio, kualitas agregat, waktu, kondisi pengerasan, dsb. Semen yang
memiliki aktiva tinggi sudah jelas menghasilkan beton yang lebih baik, namun hal tersebut juga tergantung
dengan jumlah air yang ditambahkan pada campuran beton. Bila kekuatan agregat semakin menurun
maka kekuatan beton juga semakin rendah. Kasarnya permukaan agregat juga mempengaruhi kekuatan
beton
Untuk mengetahui kekuatan beton biasanya dilakukan uji kuat tekan dengan beton berbentuk:
1. Kubus ukuran 15 x 15 x 15 cm
2. Silinder ukuran:
Diameter : 15 cm
Tinggi : 30 cm

Workability

Pengertian praktisnya adalah kemudahan dalam mengolah beton sejak masih berada dalam
proses pengadukan atau pencampuran sampai selesai dipadatkan.
Pengertian sebenarnya adalah sejumlah kerja internal yang diperlukan untuk menghasilkan tingkat
pemadatan yang penuh.
Kekuatan beton sangat dipengaruhi adanya void pada massa yang dipadatkan, jadi sangat penting untuk
mencapai densitas maksimumnya.

KELOMPOK VI
10
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Hubungan Rasio Densitas dan Rasio Kekuatan

Sumber : Modul pelatihan teknologi beton


(LSB), Beton Segar
Pentingnya tingkat pemadatan ditunjukkan pada grafik di atas, dimana ditunjukkan hubungan
pertumbuhan kekuatan dengan tingkat kepadatan beton.
Dari grafik tampak, bahwa adanya void dalam beton akan mengurangi tingkat kepadatan dan kekuatan
beton tersebut.
Faktor yang Mempengaruhi Workability
1. Jumlah kandungan air
2. Tipe dan gradasi dari agregat
3. Perbandingan agregat dan semen
4. Kehalusan semen
5. Adanya bahan tambahan (admixtures)
6. Waktu dan Temperatur

Metoda pengukuran workability yang paling umum digunakan adalah uji slump.
Pengujian slump diatur dalam ASTM C-143-78

KELOMPOK VI
11
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kohesi dan Segregasi


Segregasi dapat didefinisikan sebagai pemisahan unsur-unsur campuran yang heterogen sehingga
distribusinya menjadi tidak seragam.
Pada beton, perbedaan ukuran partikel merupakan sebab utama terjadinya segregasi, tetapi hal ini
dapat dikontrol dengan cara pemilihan gradasi agregat dan penanganan beton yang lebih hati-hati.
Kondisi Terjadinya Segregasi
1. Campuran kurus (kurang semen)
2. Campuran basah (terlalu banyak air)
3. Campuran “undersanded” (kurang pasir)
4. Gradasi agregat kurang baik
5. Agregat yang digunakan terlalu ringan atau berat

KELOMPOK VI
12
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Bleeding
Salah satu bentuk segregasi dimana sejumlah air dari campuran cenderung naik ke permukaan beton
yang baru dicor.
Bleeding disebabkan ketidakmampuan dari partikel solid untuk memegang seluruh air campuran
ketika partikel tersebut mengendap.
Kecenderungan terjadinya bleeding dipengaruhi oleh :
1. Kandungan air dalam campuran
2. Rasio air-semen
3. Sifat semen
4. Suhu (meningkatkan laju bleeding)

Kecenderungan terjadinya bleeding menurun dengan penggunaan :


1. Semen yang mempunyai kandungan alkali yang tinggi atau kandungan C3A yang tinggi.
2. Semen yang diberi tambahan kalsium klorida (CaCl2)
3. Campuran yang “rich” dari pada campuran yang “lean”
4. Pozzolan atau bubuk aluminium
5. “air entrainment agent”

Klasifikasi Beton
Beton dapat diklasifikasikan berdasarkan bermacam-macam kriteria, seperti berdasarkan berat
satuannya, kekuatannya, pemakaian, dan sebagainya.
Klasifikasi yang umum digunakan adalah berdasarkan berat satuannya dan kekuatannya.

KELOMPOK VI
13
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

a. Klasifikasi Beton Berdasarkan Berat Satuannya

Mempunyai berat satuan


Beton 2200 kg/m3 sampai 2500
Normal kg/m3 dan dibuat
Klasifikasi
menggunakan agregat alam
Beton
yang dipecah atau tanpa
Berdasarkan
dipecah
Berat
Satuannya
Beton
Mengandung agregat ringan
Ringan
dan mempunyai berat satuan
tidak lebih dari 1900 kg/m3

b. Klasifikasi Beton Berdasarkan Kekuatannya

Beton Mutu Memiliki kekuatan


Normal 200-500 kg/cm2
(Normal
Strength
Concrete)
Klasifikasi Memiliki kekuatan
Beton Mutu
Beton > 500 dan < 800 kg/cm2
Tinggi
Berdasarkan
(High Strength
Kekuatannya
Concrete)

Memiliki kekuatan
Beton Mutu > 800 kg/cm2
Sangat Tinggi
(Very High
Strength
Concrete)

KELOMPOK VI
14
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Material Pembentuk Beton


Secara umum komposisi unsur pembentuk beton adalah sebagai berikut:
Unsur
Beton

Agregat Kasar Air Semen Udara


dan
Agregat Halus (14% - 21%) (7% - 15%) (1% - 8%)

Campuran material pembentuk beton harus ditentukan sedemikian rupa, sehingga terpenuhi syarat-
syarat :
1. Kekenyalan tertentu yang memudahkan adukan beton ditempatkan pada cetakan/bekisting
(workability) dan kehalusan muka semen (finishability) beton basah yang ditentukan dari:
a. Volume pasta adukan
b. Keenceran pasta adukan
c. Perbandingan campuran agregat halus dan kasar

2. Kekuatan Rencana dan ketahanan (durability) beton setelah mengeras


3. Ekonomis dan optimum dalam pemakaian semen

1.4. SEMEN
Semen Portland atau kadang disebut semen adalah bahan pengikat hidrolis berupa bubuk halus
yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker (bahan ini terutama terdiri dari silikat – silikat
kalsium yang berdifat hidrolis), dengan batu gips sebagai bahan tambahan. Bahan baku pembuatan
semen adalah bahan – bahan yang mengandung kapur, silica, alumina, oksida besi, dan oksida –
oksida lainnya. Jika bubuk halus tersebut dicampurkan dengan air, maka akan menjadi pasta dan
dalam waktu beberapa saat dapat menjadi keras. Jika pasta semen tersebut dicampurkan dengan
pasir, maka akan menghasilkan mortar semen.
Dari segi kekuatan yang dihasilkan pada beton, semen Portland dapat digolongkan terhadap :
KELOMPOK VI
15
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

a. Semen Portland mutu S-400, yaitu semen Portland dengan kuat tekan pada umur 28 hari sebesar
400 kg/cm2
b. Semen Portland mutu S-475, yaitu semen Portland dengan kuat tekan pada umur 28 hari sebesar
475 kg/cm2
c. Semen Portland mutu S-550, yaitu semen Portland dengan kuat tekan pada umur 28 hari sebesar
550 kg/cm2
d. Semen Portland mutu S-S, yaitu semen Portland dengan kuat tekan pada umur 1 hari sebesar
225 kg/cm2 dan pada umur 7 hari sebesar 525 kg/cm2
e. Ukuran kehalusan butir semen Portland mempengaruhi mutu semen Portland tersebut.
Jika semen Portland diberi air, maka air akan berangsur – angsur mengadakan persenyawaan
dengan senyawa – senyawa semen. Sebagian dari senyawa semen akan larut membentuk senyawa
dengan air, yaitu membentuk gel (agar – agar). Suatu semen yang baru saja bercampur dengan air (pasta
semen), merupakan suatu massa plastis yang terdiri dari butiran semen dan air. Setelah pasta semen
mulai mengeras, tampaknya bervolume tetap. Hasil pengerasan ini terdiri dari hidrat senyawa – senyawa
semen yang ada yang berupa agar – agar, Kristal – Kristal kapur padam, sedikit senyawa lain, dan butiran
semen yang tidak bersenyawa dengan air.

Kualitas Semen
Semen harus memenuhi salah satu ketentuan berikut:
1. SNI-15-2049-1994, Semen portland
2. ASTM C 595, Spesifikasi semen blended hidrolis, kecuali tipe S dan SA yang tidak diperuntukkan
sebagai unsur pengikat utama beton
3. ASTM C 845, Spesifikasi semen hidrolis ekspansif
Penyimpanan semen di tempat lembab akan mengakibatkan penurunan kekuatan. Sebaiknya menimbun
karung semen rapat satu sama lain, diatas ganjalan-ganjalan kayu dan tidak dirapatkan ke dinding.
Penyimpanan yang lama seharusnya mempunyai tutup kedap air.

KELOMPOK VI
16
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Jenis-Jenis Semen
 Semen Tipe I (semen biasa/normal)
Kehalusan  350 - 400 m2/kg

Semen Tipe I Penggunaan umum pada


(Semen Biasa/Normal) semua jenis bangunan
dan konstruksi
 Semen Tipe II (semen panas sedang)
- Kehalusan  300 m2/kg
- Ketahanan terhadap sulfat cukup baik
- Panas hidrasi tidak tinggi

Semen Tipe II Digunakan untuk pencegahan


serangan sulfat dari lingkungan,
seperti sistem drainase dengan sifat
kadar konsentrasi sulfat tinggi di
dalam air tanah

 Semen Tipe III (semen cepat mengeras)


- Kehalusan  500 m2/kg
- Laju pengerasan awal tinggi
- Untuk rasio air semen yang sama, penggunaan semen tipe III akan menghasilkan kuat tekan 28
hari yang lebih rendah dibandingkan penggunaan semen tipe I
- Tidak baik untuk beton mutu tinggi

Semen Tipe III Digunakan pada aplikasi yang memerlukan


kekuatan awal beton yang tinggi, misalnya
pada pembukaan bekisting yang
dipercepat, pekerjaan perbaikan dan lain-
lain

KELOMPOK VI
17
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

 Semen Tipe IV (semen panas rendah)


- Kehalusan butirnya lebih kasar dari tipe I
- Digunakan bila menginginkan panas hidrasi yang rendah

Semen Tipe IV Digunakan pada aplikasi yang membatasi


peningkatan temperatur yang tinggi untuk
menghindari timbulnya tegangan termal pada
beton, sampel pada pengecoran masal dan
pengecoran dalam cuaca yang panas

 Semen Tipe V (semen tahan sulfat)


- Kehalusan  300 m2/kg
- Panas hidrasi rendah
- Ketahanan terhadap sulfat tinggi
- Laju pengerasan rendah

Semen Tipe V Pada bangunan yang membutuhkan


ketahanan sulfat yang tinggi, seperti pada
bangunan laut atau bangunan yang
berada di atas tanah yang mengandung
sulfat

KELOMPOK VI
18
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

BAB II
PERCOBAAN AGREGAT HALUS

2.1. Pemeriksaan Kadar Air (Pasir)

A. Maksud Percobaan
Untuk menentukan kadar air agregat halus (pasir) dengan cara pengeringan. Kadar air agregat
adalah perbandingan antara berat air yang dikandung agregat dalam keadaan kering. Percobaan
ini digunakan untuk menyesuaikan berat kadar air beton apabila terjadi perubahan kadar
kelembaban beton.
B. Alat Dan Bahan
1. Agregat halus (pasir) 500 gram
2. Timbangan
3. Talang (wadah)
4. Oven
C. Prosedur Percobaan
1. Timbang talang kosong yang digunakan.
2. Letakkan benda uji dalam wadah, kemudian timbang wadah + benda uji
3. Setelah itu dioven selama 24 jam
4. Setelah ± 24 jam, dinginkan lalu timbang kembali untuk mendapatkan berat kering.
D. Pengolahan Data
C–D
Kadar air (%) = X 100%
C
Dimana :
C = berat contoh mula - mula
D = berat contoh kering

KELOMPOK VI
19
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

E. Data Pengamatan
Kadar Air Agregat Halus
Tabel 1.4
PEMERIKSAAN KADAR AIR AGREGAT
Pekerjaan : Dikerjakan :
Material : Agregat Halus Tanggal : 17 - 03 - 2017
Lokasi : Diperiksa : Zulham S. Lambado

Nomor Contoh 1 2
Berat Contoh Pasir ( gram ) A 500 500
Berat Contoh Kering Oven ( gram ) B 483 475
( A - B ) / A x 100 % 3.400 5.000
Kadar Air (%)
Rata - rata 4.200

F. Kesimpulan
Dari Hasil pengamatan kadar air agregat halus sebesar 1%, maka memenuhi spesifikasi agregat
beton menurut ASTM yaitu 0,5% - 2%.

KELOMPOK VI
20
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

2.2. Pemeriksaan Kadar Lumpur (Pasir)

A. Maksud Percobaan
Percobaan ini dimaksudkan untuk mengetahui kadar lumpur agregat halus (halus)

B. Alat Dan Bahan


1. Pasir dengan berat kering 500 gram
2. Talang (wadah)
3. Oven
4. Timbangan dengan ketelitian 0.1 % dari berat sampel
5. Aquades
6. Saringan no. 50 no. 200

C. Prosedur Percobaan
1. Timbang wadah (talam) dalam keadaan kosong
2. Ambil benda uji yang telah dikeringkan sebanyak 500 gram
3. Cuci benda uji sampai bersih di atas saringan No. 50 dan No. 200
4. Oven selama 24 jam
5. Dinginkan benda uji yang telah di oven, kemidian timbang kembali

D. Pengolahan Data
(A – B)
Kadar lumpur = X 100%
B
Dimana :
A = berat kering sebelum dicuci (gram)
B = berat kering setelah dicuci (gram)

E. Data Pengamatan

KADAR LUMPUR AGREGAT HALUS


Tabel 1.5

KELOMPOK VI
21
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

KELOMPOK VI
22
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

B. Kesimpulan
Dari Hasil pengamatan kadar lumpur agregat halus (pasir) yaitu 4 %, maka dapat memenuhi
spesifikasi agregat beton menurut ASTM yaitu 0,2% - 5,0%.

2.3. Pemeriksaan Berat Volume (Pasir)

A. Maksud Percobaan
Untuk menentukan berat isi/volume agregat halus (pasir) baik dalam kondisi lepas maupun kondisi
padat.
B. Alat Dan Bahan
1. Agregat halus (pasir)
2. Timbangan
3. Container pengukur volume
4. Batang pemadat
C. Prosedur Percobaan
☻ Kondisi Lepas
1. Ukur volume kontainer dan timbang dalam keadaan kosong.
2. Masukkan contoh agregat halus ke dalam container maksimum 5 cm dari atas permukaan
denga hati – hati menggunakan sendok/skop sampai penuh
3. Ratakan permukaan kontainer dengan alat perata.
4. Timbang berat container yang berisi benda uji
☻ Kondisi Padat
1. Ukur volume kontainer dan timbang dalam keadaan kosong
2. Masukkan agregat halus (pasir) ke dalam kontainer ± 1/3 bagian lalu tumbuk dengan tongkat
pemadat sebanyak 25 kali.
3. Ulangi prosedur (2) untuk lapis ke-2.
4. Untuk lapisan terakhir, masukkan agregat hingga melebihi permukaan atas kontainer lalu
tumbuk kembali sebanyak 25 kali.
5. Ratakan permukaannya dengan alat perata.
6. Timbang berat kontainer yang berisi benda uji
KELOMPOK VI
23
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

D. Pengolahan Data
W2 - W1
Berat volume agregat =
V

Dimana :
W1 = berat kontainer (gram) V = volume kontainer (cm3)
W2 = berat kontainer + pasir (gram)

E. Data Pengamatan
Pekerjaan : Praktikum Struktur dan bahan
Jenis Material : Pasir
Dikerjakan : Kelompok VI
Tanggal Pengujian : 07 November 2016
Asisiten : Zulham S. Lambado

KELOMPOK VI
24
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Berat Volume Agregat Halus


Tabel 1.3

F. Kesimpulan
Hasil pengamatan berat volume pasir, dalam kondisi lepas dan kondisi padat digabungkan (dirata-
ratakan) maka diperoleh berat volume pasir adalah 1,67 kg/liter, masuk dalam spesifikasi agregat
beton menurut ASTM yaitu 1,6 – 1,9 kg/liter

2.4. Pemeriksaan Analisa Saringan (Pasir)


A. Maksud Percobaan
Untuk mengetahui susunan butir agregat dari yang besar sampai halus untuk keperluan desain
beton.

KELOMPOK VI
25
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

B. Alat Dan Bahan


1. Mesin pengguncang saringan (sieve shaker)
2. Saringan untuk agregat halus dengan ukuran;
no.4, no.8, no.16, no.30, no.50, no.100 dan no.200
3. Pan dan cover
4. Timbangan
5. Oven
6. Agregat halus (pasir) ±1500 gram
C. Prosedur Percobaan
a. Persiapan Bahan
1. Ambil contoh agregat halus (pasir) sebanyak 1500 gram dengan cara perempat bagian
2. Oven selama 24 jam.
3. Timbang pasir kering oven sebanyak 500 gram sebanyak 2 sampel. Kondisi suhu kamar.
b. Analisis Saringan
1. Timbang saringan satu persatu, lalu susun menurut ukuran saringan. Mulai dari pan,
lubang saringan terkecil dan seterusnya sampai lubang saringan terbesar.
2. Masukkan benda uji pada saringan teratas kemudian tutup. Pasang saringan pada mesin
saringan lalu hidupkan motor pengguncang selama 15 menit.
3. Biarkan selama 5 menit untuk memberi kesempatan debu-debu mengendap.
4. Buka saringan tersebut, kemudian timbang masing-masing saringan beserta isinya.

D. Pengolahan Data
% tertahan kumulatif
Fpasir =
100

dimana : Fpasir = modulus kehalusan pasir

E. Data Pengamatan
Pekerjaan : Praktikum Struktur dan bahan Dikerjakan : Kelompok VI
Jenis Material : Pasir Tanggal Pengujian : 31 Oktober 2016
Berat Agregat (A) : 1000 gram Asisiten : Zulham S.
Lambado
Berat Agregat (B) : 1000 gram
KELOMPOK VI
26
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Analisa Saringan Agregat Halus


Tabel 1.1
ANALISA SARINGAN
Pekerjaan : Dikerjakan : Kelompok VI
Jenis Material : Pasir Tanggal Pengujian : 31 – 10 - 2016
Lokasi Sumber Material : Diperikasa oleh :
Berat Contoh ( A ) : Berat Contoh ( B ) :

Lengkung Gradasi

120 Batas Bawa


Hasil Percobaan
100 Batas Atas
% Jumlah Lolos Saringan

80

60

40

20

0
1 2 3 4 5 6 7 8
Ukuran Saringan (Skala Logaritmik)

KELOMPOK VI
27
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

F. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan gradasi agregat halus masuk dalam lengkung gradasi 2 dan nilai modulus
kehalusan pasir adalah 3,09%, maka nilai ini masuk dalam spesifikasi agregat beton menurut
ASTM yaitu 2,2% – 3,1%

2.5. Pemeriksaan Berat Jenis Dan Penyerapan (Pasir)


A. Maksud Percobaan
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan bulk apparent spesific gravity dan absorbsi dari
agregat halus (pasir) menurut ASTM C-127. Nilai ini diperlukan untuk menetapkan besarnya
komposisi volume agregat dalam adukan beton
B. Alat Dan Bahan
1. Agregat halus (pasir) ±1 kg
2. Talang (wadah)
3. Aquades
4. 2 buah piknometer
5. Timbangan
6. Oven
7. Cetakan Kerucut kuningan dan penumbuk
8. Lap kain
C. Prosedur Percobaan
1. Ambil sampel agregat halus (pasir) sebanyak ± 1500 gram dan cuci untuk menghilangkan
debu, kemudian rendam selama ±24 jam
2. Setelah 24 jam, cari kondisi SSD (Saturated Surface Dry) dari agregat halus (pasir)
dengan mengangingkan
3. Ambil kerucut kuningan dan letakkan di tempat yang rata kemudian masukkan bahan uji
hingga mencapai 1/3 bagian, padatkan dengan menumbuk sebanyak 8 kali pada
ketinggian jatuh ±5 cm
4. Ulangi untuk lapisan kedua dengan jumlah tumbukkan 7 kali
5. Ambil 2 sampel bahan uji dalam kondisi SSD sebanyak 500 gram
6. Timbang piknometer dalam keadaan kosong
7. Masukkan air suling (aquades) kedalam piknometer dan timbang, kemudia tuangkan
kembali aquades tadi
KELOMPOK VI
28
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

8. Masukkan sampel agregat halus dalam kondisi SSD tadi kedalam piknometer dan
tambahkan aquades lalu kcok selama 10 menit untuk mengeluarkan udara dalam
piknometer kemudian diamkan selama 24 jam
9. Setelah 24 jam kembalikan posisi aquades pada batas standard an timbang piknomter
yang berisi benda uji dan aquades
10. Keluarkan benda uji dari piknometer dan keringkan dalam oven selama 24 jam dan
timbang kembali piknometer
11. Setelah di oven selama 24 jam timbang kembali benda uji
D. Pengolahan Data
E
Apparent spesific gravity =
E+D–C

E
Bulk spesific gravity on dry basic =
B+D–C
B

Bulk spesific gravity SSD basic =


B+D–C

B–E
Absorption (penyerapan) = X 100%
E
Dimana :
A = berat flask (gram)
B = berat sampel kondisi SSD di udara (gram)
C = berat flask + air + sampel SSD (gram)
D = berat flask + air (standar)
E = berat sampel kering di udara (gram)

E. Data Pengamatan

KELOMPOK VI
29
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Pekerjaan : Praktikum Struktur dan bahan


Jenis Material : Pasir
Berat Agregat (A) : 500 gram

Berat Agregat (B) : 500 gram


Dikerjakan : Kelompok VI
Tanggal Pengujian : 7 November 2016
Asisiten : Zulham S. Lambado

KELOMPOK VI
30
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Berat Jenis Dan Penyerapan Air Agregat Halus


Tabel 1.2
Material : Pasir Alam
Lokasi :

F. Kesimpulan
Hasil pengamatan berat jenis dan penyerapan agregat halus sebagai berikut ;
Berat jenis kering oven = 2,216 %
Berat jenis kering permukaan = 2,250 %
Berat jenis semu = 2,292 %
Penyerapan air = 1,525 %
Dari hasil diatas maka dapat disimpulkan bahwa agregat tersebut dapat memenuhi
spesifikasi agregat beton menurut ASTM yaitu 1.60 – 3.20 % sedangkan untuk penyerapan
adalah 0.20 – 2.00 % maka dapat memenuhi.

KELOMPOK VI
31
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

BAB III
PERCOBAAN AGREGAT KASAR

3.1. Pemeriksaan Kadar Air Kerikil


A. Maksud Percobaan
Untuk menentukan kadar air agregat kasar (kerikil) dengan cara pengeringan. Kadar air
agregat adalah perbandingan antara berat air yang dikandung agregat dalam keadaan kering.
Percobaan ini digunakan untuk menyesuaikan berat kadar air beton apabila terjadi perubahan
kadar kelembaban beton.
B. Alat Dan Bahan
1. Kerikil ±1000 gram
2. Timbangan
3. Talam (wadah)
4. Oven
C. Prosedur Percobaan
1. Timbang talam kosong yang digunakan.
2. Letakkan benda uji dalam wadah, kemudian timbang wadah + benda uji
3. Oven benda uji selama 24 jam
4. Dinginkan benda uji yang telah di oven, kemudian timbang kembali
D. Pengolahan Data
A–B
Kadar air (%) = X 100%
A

Dimana :
A = berat basah (kondisi lapangan)
B = berat kering (setelah dioven)

KELOMPOK VI
32
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

E. Data Pengamatan
Pekerjaan : Praktikum Struktur dan bahan
Jenis Material : Batu pecah
Lokasi Sumber Material : Kalumata
Berat agregat (A) : 1000 gram

Berat agregat (B) : 1000 gram


Dikerjakan : Kelompok VI
Tanggal Pengujian : 31 Oktober 2016
Asisiten : Zulham S. Lambado

KELOMPOK VI
33
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kadar Air Agregat Kasar


Tabel 2.4
PEMERIKSAAN KADAR AIR
Pekerjaan : Dikerjakan : Kelompok VI
Material : Batu pecah Tanggal : 31 – 10 - 2016
Lokasi : Diperiksa :

Nomor contoh 1 2
Berat Contoh Pasir (gram) A 1.000 1.000
Berat Contoh Kering Oven (gram) B 990 985
(𝐴−𝐵)
𝑋 100 % 1% 1,5 %
Kadar Air 𝐴
Rata – rata 1,25 %

F. Kesimpulan
Hasil pengamatan kadar air agregat kasar sebesar 1,25 %, dapat memenuhi spesifikasi agregat
beton menurut ASTM yaitu 0,5% - 5,0%.

3.2. Pemeriksaan Kadar Air Lumpur Kerikil

A. Maksud Percobaan
Untuk mengetahui kadar lumpur ( lempung ) pada agregat kasar ( kerikil ).
B. Alat Dan Bahan
1. Kerikil ±1000 gram
2. Talam (wadah)
3. Oven
4. Timbangan
5. Aquades
6. Saringan no.4 dan no. 200
C. Prosedur Percobaan
1. Timbang wadah (talam) dalam keadaan kosong
2. Ambil benda uji yang telah dikeringkan sebanyak 500 gram
3. Cuci benda uji sampai bersih diatas saringan no. 4 dan no. 200
4. Oven selama 24 jam
5. Dinginkan benda uji yang telah dioven, kemudian timbang kembali

KELOMPOK VI
34
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

D. Pengolahan Data
(A – B)
Kadar lumpur = X 100%
A
Dimana :
A = berat kering sebelum dicuci (gram)
B = berat kering setelah dicuci (gram)
E. Data Pengamatan
Pekerjaan : Praktikum Struktur dan bahan
Jenis Material : Batu pecah
Berat agregat (A) : 1000 gram

Berat agregat (B) : 1000 gram


Dikerjakan : Kelompok VI
Tanggal Pengujian : 31 Oktober 2016
Asisiten : Zulham S. Labado

KELOMPOK VI
35
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Kadar Lumpur Agregat Kasar


Tabel 2.5

PEMERIKSAAN KADAR LUMPUR AGGREGAT


Pekerjaan : Dikerjakan : Kelompok VI
Material : Batu pecah Tanggal : 31 – 10 - 2016
Lokasi : Diperiksa :

Nomor contoh 1 2
Berat Contoh Kering sebelum dicuci (gram) A 1.000 1.000
Berat Contoh Kering setelah dicuci
B 995 990
(gram)
(𝐴−𝐵)
𝑋 100 % 0,5 % 1%
Kadar Lumpur 𝐴
Rata - rata 0,75 %

F. Kesimpulan
Dari Hasil pengamatan didapat kadar lumpur agregat kasar yaitu 0,75 %, sesuai dengan
spesifikasi agregat beton menurut ASTM yaitu 0,2% - 1,0%, maka kadar lumpur agregat kasar
(kerikil) dapat memenuhi spesifikasi agregat beton.

3.3. Pemeriksaan Berat Volume Kerikil


A. Maksud Percobaan
Untuk menentukan berat isi / volume agregat kasar (kerikil) baik dalam kondisi lepas maupun
kondisi padat.
B. Alat Dan Bahan
1. Agregat kasar (kerikil)
2. Kontainer
3. Timbangan
4. Tongkat pemadat
C. Prosedur Percobaan
☻ Kondisi Lepas
1. Ukur volume kontainer dan timbang dalam keadaan kosong.
2. Masukkan contoh agregat kasar ke dalam container maksimum 5 cm dari atas
permukaan dengan hati – hati menggunakan sendok/skop sampai penuh
3. Ratakan permukaan container
4. Timbang berat container yang berisi benda uji

KELOMPOK VI
36
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

☻ Kondisi Padat
1. Ukur volume kontainer dan timbang berat kontainer
2. Masukkan contoh agregat kasar ke dalam container hingga mencapai ketinggian 1/3
bagian lalu tusuk dengan batang pemadat sebanyak 25 kali
3. Ulangi prosedur (2) untuk lapis ke-2.
4. Untuk lapisan terakhir, masukkan agregat hingga melebihi permukaan atas kontainer
lalu tusuk kembali sebanyak 25 kali.
5. Ratakan permukaannya dengan alat perata.
6. Timbang berat kontainer yang berisi benda uji

D. Pengolahan Data
W2 - W1
Berat volume agregat =
V
Dimana :
W1 = berat kontainer (gram) V = volume kontainer (cm3)
W2 = berat kontainer + kerikil (gram)

E. Data Pengamatan
Pekerjaan : Praktikum Struktur dan bahan
Jenis Material : Batu pecah
Dikerjakan : Kelompok VI
Tanggal Pengujian : 7 November 2016
Asisiten : Zulham S. Lambado

KELOMPOK VI
37
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Berat Volume Agregat Halus


Tabel 2.3
PEMERIKSAAN BERAT VOLUME AGREGAT
Pekerjaan : Dikerjakan : Kelompok VI
Material : Batu pecah kondisi lepas Tanggal : 07 – 11 - 2016
Lokasi : Diperiksa :

Diameter Wadah : 15 cm Tinggi Wadah : 30 cm

F. Kesimpulan
Hasil pengamatan berat volume kerikil dalam kondisi lepas dan kondisi padat dirata-ratakan maka
didapat hasil sebesar 1.7 kg/liter maka dapat memenuhi spesifikasi agregat beton menurut ASTM
yaitu 1,40 – 1,90 kg/liter.

KELOMPOK VI
38
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

3.4. Pemeriksaan Analisa Saringan Kerikil


A. Maksud Percobaan
Untuk mengetahui susunan butir agregat kasar dari yang besar sampai halus untuk keperluan
desain beton.
B. Alat Dan Bahan
1. Mesin pengguncang saringan (sieve shaker)
2. Saringan No.37,5 ; No.19,05 ; No.9,60
3. Pan dan cover
4. Wadah (talam)
5. Timbangan
6. Oven
7. Kerikil 2500 gram
C. Prosedur Percobaan
1. Ambil sampel agregat dengan cara perempat sebanyak 2500 gram.
2. Oven selama 24 jam.
3. Timbang agregat kering oven sebanyak 500 gram sebanyak 2 sampel. Kondisi suhu
kamar.
4. Timbang saringan satu persatu, lalu susun menurut ukuran saringan. Mulai dari pan,
lubang saringan terkecil dan seterusnya sampai lubang saringan terbesar.
5. Masukkan benda uji pada saringan teratas kemudian tutup. Pasang saringan pada mesin
saringan lalu hidupkan motor pengguncang selama 15 menit.
6. Biarkan selama 5 menit untuk memberi kesempatan debu-debu mengendap.
7. Buka saringan tersebut, kemudian timbang masing-masing saringan beserta isinya.
D. Pengolahan Data
% tertahan kumulatif
Fkerikil =
100

dimana : Fkerikil = modulus kehalusan kerikil

KELOMPOK VI
39
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

E. Data Pengamatan
Pekerjaan : Praktikum Struktur dan bahan
Jenis Material : Batu pecah
Berat Agregat (A) : 1000 gram

Berat Agregat (B) : 1000 gram


Dikerjakan : Kelompok VI
Tanggal Pengujian : 31 Oktober 2016
Asisiten : Zulham S. Lambado

KELOMPOK VI
40
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Analisa Saringan Agregat Kasar


Tabel 2.1

Lengkung Gradasi
120
Hasil Percobaan
Batas Bawah
100 Batas Atas

80
% Jlh Lolos Saringan

60

40

20

0
1 2 3 4 5
Ukuran Saringan (Skala Logaritmik)

KELOMPOK VI
41
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

F. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan ukuran butir maksimum agregat kasar 40 mm, nilai modulus kehalusan
kerikil adalah 7.8% . Nilai ini masuk dalam spesifikasi agregat beton menurut ASTM yaitu 5,5% –
8,5%.

3.5. Pemeriksaan Keausan Kerikil dengan Mesin Los Angeles (LA)


A. Maksud Percobaan
Untuk mengetahui keausan agregat kasar ( kerikil ) yang diakibatkan oleh faktor-faktor
mekanis.
B. Alat Dan Bahan
1. Mesin Los Angeles Abrassion Machine
2. Stopwatch
3. Bola baja 11 buah
4. Timbangan
5. Saringan no. 12
6. Oven
7. Kerikil ±5000 gram
C. Prosedur Percobaan
1. Ambil benda uji (kerikil) yang akan diperiksa, lalu cuci sampai bersih.
2. Keringkan dalam oven selama 24 jam pada suhu 110oC.
3. Ambil sampel sebanyak 5000 gram, diambil 2 sampel.
4. Masukkan sampel pada drum abrasi beserta bola baja.
5. Tutup kembali drum abrasi.
6. Atur angka pada counter sesuai jumlah putaran yang diinginkan.
7. Tekan tombol start, sehingga drum berputar.
8. Setelah drum berhenti, pasang talang dibawah drum.
9. Buka tutup tekan tombol inching sehingga drum terbalik, sehingga agregat dan bola baja
tertampung pada talang.
10. Saring agregat dengan saringan no. 12 dan agregat yang tertahan dicuci sampai bersih.
11. Keringkan dengan oven selama 24 jam.
12. Timbang berat keringnya.
KELOMPOK VI
42
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

D. Pengolahan Data
(A – B)
Keausan = X 100%
A
Dimana :
A = berat kering setelah dicuci (gram)
B = berat kering setelah abrassion test (gram)

E. Data Pengamatan
Pekerjaan : Praktikum Struktur dan bahan
Jenis Material : Batu pecah
Berat agregat (A) : 5000 gram

Berat agregat (B) : 5000 gram


Dikerjakan : Kelompok VI
Tanggal Pengujian : 19 November 2016
Asisiten : Zulham S. Lamboda

KELOMPOK VI
43
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Keausan Agregat Kasar


Tabel 2.6

F. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan didapat Keausan/abrasi dari agregat kasar sebesar 24,7 %, maka dapat
memenuhi spesifikasi agregat beton menurut ASTM yaitu <50%.

3.6. Pemeriksaan Berat Jenis Kerikil


A. Maksud Percobaan
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan bulk apparent spesific gravity dan absorbsi dari
agregat kasar (kerikil) menurut ASTM C-128.
B. Alat Dan Bahan
1. Kerikil ±1500 gram
2. Keranjang besi
3. Kain lap yang mudah meresap air
4. Alat penggantung keranjang
5. Talang (wadah)
6. Ember
7. Timbangan
8. Saringan No.4
9. Oven

KELOMPOK VI
44
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

C. Prosedur Percobaan
1. Ambil sampel agregat kasar (kerikil) sebanyak ±1500 gram yang tertahan saringan No.4
dan cuci untuk memghilangkan debu, kemudian rendam selama ±24 jam untuk
memastikan kerikil jenuh air
2. Setelah 24 jam, cari kondisi SSD (Saturated Surface Dry) dari agregat kasar (kerikil)
dengan menggunakan lap
3. Timbang kerikil dalam kondisi SSD
4. Timbang keranjang kosong dalam ember yang berisi air
5. Masukkan benda uji dalam keranjang dan masukkan ke dalam ember yang air kemudian
timbang
6. Keluarkan benda uji dan letakkan pada Loyang/talam kemudian oven selama 24 jam
7. Dinginkan benda uji setelah 24 jam hingga pada suhu kamar
8. Timbang benda uji dalam keadaan dingin
D. Pengolahan Data
A
Apparent spesific gravity =
B - C

B
Bulk spesific gravity on dry basic =
B - C

Bulk spesific gravity SSD basic =


A - C

B - A
Absorption (penyerapan) = X 100%
A

Dimana :
B = berat sampel kondisi SSD di udara (gram)

KELOMPOK VI
45
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

C = berat sampel kondisi SSD dalam air (gram)


A = berat sampel kering di udara (gram)

E. Data Pengamatan
Pekerjaan : Praktikum Struktur dan bahan
Jenis Material : Batu pecah
Berat Agregat (A) : 1500 gram

Berat Agregat (B) : 1500 gram


Dikerjakan : Kelompok VI
Tanggal Pengujian : 7 November 2016
Asisiten : Zulham S. Lamboda

KELOMPOK VI
46
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Berat Jenis Dan Penyerapan Air Agregat Kasar


Tabel 2.2

F. Kesimpulan
Hasil pengamatan berat jenis dan penyerapan air agregat kasar sebagai berikut ;
Berat jenis kering oven = 2,632 %
Berat jenis kering permukaan = 2,658 %
Berat jenis semu = 2,703 %
Penyerapan air = 1%
Dari hasil diatas maka dapat disimpulkan bahwa agregat tersebut dapat memenuhi spesifikasi
agregat beton menurut ASTM yaitu 1.60 – 3.20 % sedangkan untuk penyerapan adalah 0.20 – 4.00
% juga memenuhi.

KELOMPOK VI
47
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

PERHITUNGAN PENGGABUNGAN AGREGAT KASAR DAN HALUS

Rekapitulasi Hasil Pengamatan Agregat Halus


Krakteristik Hasil
NO Interval Keterangan
Agregat Pengamatan
1 Kadar Air 3 %– 5% 4,5 % Memenuhi
2 Kadar Lumpur 0,2-5% 4% Memenuhi
3 Berat Volume
1,6 – 1,9
a. Kondisi Padat 1,710 Kg/ltr Memenuhi
Kg/ltr
1,6 – 1,9
b. Kondisi Lepas 1,608 Kg/ltr Memenuhi
Kg/ltr
4 Penyerapan 0,2 - 3% 1.525% Memenuhi
5 Berat Jenis Spesifik
a. Berat Jenis Nyata 1,6 – 3,2% 2,292% Memenuhi
b. Berat Jenis Kering 1,6 – 3,2% 2,216% Memenuhi
c. Berat Jenis Kering Permukaan 1,6 – 3,2% 2,250% Memenuhi
6 Modolus Kehausan 1,5 – 3,8% 3,09% Memenuhi

Rekapitulasi Hasil Pengamatan Agregat Kasar

Krakteristik Hasil
NO Interval Keterangan
Agregat Pengamatan
1 Kadar Air 0,5 – 2% 1,25% Memenuhi
2 Kadar Lumpur 0,2-1% 0,75% Memenuhi
3 Berat Volume
1,6 – 1,9
a. Kondisi Padat 1,71Kg/ltr Memenuhi
Kg/ltr
1,6 – 1,9
b. Kondisi Lepas 1,61Kg/ltr Memenuhi
Kg/ltr
4 Penyerapan 0,9 - 3% 1% Memenuhi
5 Berat Jenis Spesifik
a. Berat Jenis Nyata 1,6 – 3,2% 2,703% Memenuhi
b. Berat Jenis Kering 1,6 – 3,2% 2,63% Memenuhi
c. Berat Jenis Kering Permukaan 1,6 – 3,2% 2,66% Memenuhi
6 Keausan Agregat < 40% 24,7 % Memenuhi
7 Modolus Kehausan 5-8% 7,81% Memenuhi

KELOMPOK VI
48
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

TABEL PERHITUNGAN PENGGABUNGAN AGREGAT

Penggabungan Agregat

KELOMPOK VI
49
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Grafik Gradasi Gabungan Agregat


120

100

80

60

40

20

0
No. 100 No. 50 No. 30 No. 16 No. 8 No. 4 3/8" 3/4" 1"

batas atas kombinasi Batas bawah

KELOMPOK VI
50
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

4.2. Pemeriksaan Nilai Slump (Slump test)


A. Maksud Percobaan
Untuk mengukur nilai slump adukan beton segar sehingga diketahui tingkat kemudahan dalam
pengerjaannya (workability).
B. Alat Dan Bahan
1. Corong slump
2. Talang
3. Batang pemadat
4. Mistar
5. Sekop
6. Sendok semen
C. Prosedur Percobaan
1. Ambil adukan beton dari mixer.
2. Letakkan corong slump di atas talang injak kedua kakinya.
3. Masukkan adukan beton ke dalam corong slump ± 1/3 bagiannya, lalu tusuk-tusuk dengan
batang pemadat secara merata sebanyak 25 kali perlapis.
4. Lakukan hal yang sama untuk lapis kedua dan lapis ketiga atau tiap 1/3 bagian silinder.
5. Ratakan permukaan corong.
6. Angkat corong dengan hati-hati dalam posisi tegak lurus, lalu ukur penurunan yang terjadi
(selisih antara tinggi awal dan akhir). Besarnya penurunan ini disebut nilai slump.
D. Data Pengamatan
Pekerjaan : Praktikum Struktur dan bahan
Dikerjakan : Kelompok VI
Tanggal Pengujian : 7 Februari 2017
Asisiten : Zulham S. Lamboda

KELOMPOK VI
51
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Pemeriksaan Nilai Slump

Pengecoran Slump (cm) Rata-rata


1 8
2 8 8
3 8

E. Kesimpulan
Nilai slump pengecoran rata-rata yang diperoleh adalah 8 cm, nilai ini tidak memenuhi batas slump
yang ditargetkan sebesar 10 cm.

4.3. Pengujian Kuat Tekan Beton Keras


A. Maksud Percobaan
Untuk mengetahui kuat tekan karakteristik beton
B. Alat
1. Mesin tekan hidrolik
2. Timbangan
3. Cetakan slinder
4. Capping set
C. Prosedur Percobaan
1. Ambil benda uji dari bak perendaman.
2. Keringkan hingga mencapai kondisi SSD (kering permukaan).
3. Timbang benda uji.
4. Panaskan capping compound dalam melting pot sampai mencair kemudian tuangkan pada
alas cetak dan segera letakkan beton uji diatasnya sehingga ujung permukaan beton uji
terlapisi capping copuond yang mengeras.
5. Letakkan benda uji pada meja penekan. Periksa manometer yang akan digunakan pada skala
nol.
6. Bundel distel pada posisi penekanan lalu hidupkan mesinnya.

KELOMPOK VI
52
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

7. Amati pergerakan manometer, catat nilai maksimum beban yang dapat ditahan oleh benda uji.
Setelah dibagi dengan luas penampang benda uji, diperoleh nilai kuat tekan karakteristik
beton tersebut.
D. Pengolahan Data

Kekuatan tekan beton = fci = P/A.k …… (N/mm2)

di mana : P = beban maksimum (N)


A = luas penampang bidang (mm2)

a. Kuat Tekan Beton rata-rata


 f ' ci
f ' cm  .......( Mpa )
n

b. Penentuan Standar Deviasi

( f ' ci  f ' cm ) 2
S .......( Mpa )
( n 1 )

c. Penentuan Kuat Tekan Karakteristik Beton


f ' c  f ' cm  S.( k ) .......( Mpa )

dimana : f’cm = Kuat tekan beton rata-rata (Mpa)


f’ci = Kuat tekan masing-masing benda uji (Mpa)
f’c = Kuat tekan karakteristik beton (Mpa)
n = Jumlah benda uji
S = Standar deviasi
k = kemungkinan gagal 5 % gunakan 1,64
E. Data Pengamatan
Pekerjaan : Praktikum Struktur dan bahan
Dikerjakan : Kelompok VI
Tanggal Pengujian : 7 Februari 2017
Asisiten : Zulham S. Lambado

KELOMPOK VI
53
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Hasil Pengujian Kuat Tekan Beton Slinder

KELOMPOK VI
54
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

KELOMPOK VI
55
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

Histogram
5

2 4 4
Frekuensi

1 2
0 1
0
178-199 220-241 241-262 262-283

F. Kesimpulan
a. Kuat beton rata-rata yang diperoleh adalah
f’cm = 17,112 Mpa
b. Standar deviasi yang diperoleh adalah
S = 3,283 Mpa
Hasil ini menunjukan standar deviasi yang diperoleh tidak melebihi standar deviasi yang
targetkan yaitu 5 Mpa.
c. Kuat tekan karakteristik beton yang diperoleh dengan target umur 28 hari adalah
f’c = 17,112 –.3,283 1,64 = 11,728 Mpa
Hasil ini menunjukan kuat tekan karakteristik beton yang diperoleh tidak memenuhi kuat tekan
karakteristik beton yang ditargetkan yaitu 30 Mpa.

KELOMPOK VI
56
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

BAB V
METODE PENGUJIAN KUAT TARIK BELAH BETON

4.1. Perhitungan Kuat Tarik Belah


A. Maksud Percobaan
Untuk menentukan nilai kuat tarik belah karakteristik beton keras dalam Mpa.
B. Alat
1. Mesin tekan hidrolik ( Compression Strength Test )
2. Cetakan beton (mould) silinder
3. Tongkat pemadat
4. Plat atau batang penekan tambahan
5. Triplex 6 mm atas bawah, panjang 31 cm dan lebar 3 cm. Sebagai bantalan benda uji
6. Spidol hitam 1 buah
7. Mistar siku 1 buah
C. Prosedur Percobaan
1. Ambil benda uji dari bak perendaman.
2. Buat adukan campuran beton sesuai dengan perencanaan JMF (Job Mix Formula).
3. Masukkan campuran beton tersebut pada cetakan (mould) yang tersedia sambil tusuk-
tusuk dengan tongkat pemadat.
4. Untuk mendapatkan kapadatan yang lebih sempurna, gunakan meja penggetar atau
mesin vibrator.
5. Ratakan permukaan beton lalu haluskan dengan sendok semen dari label.
6. Diamkan selama 24 jam untuk mengeringkan campuran beton
7. Keluarkan beton kering dari (mould) beton dan rendam beton kering uji sampai umur
pengetasan yang dinginkan.
8. Keluarkan beton uji dan timbang lalu diukur diameter beton uji apabila sudah kering.
9. Buat garis tengah beton uji pada posisi memanjang.
10. Letakkan beton uji pada plat atau batang penekanan tambahan yang sudah di alas dengan
triplex.
11. Kemudian letak beton uji dengan pelat atau batang penekan pada alat compression strength
test.

KELOMPOK VI
57
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

12. Periksa manometer dalam keadaan nol.


13. Hidupkan mesin pengeraknya dan bundel diset dalam posisi menekan.
14. Amati pergerkan manometer, catat nilai maksimum beban yang dapat ditahan oleh benda uji
(sampai benda uji pecah).
D. Pengolahan Data
fct = 2P / LD

Dimana :
fct = Kuat tarik belah beton (Mpa)
P = Beban maksimum (kN)
L = Panjang benda uji (mm)
D = Diameter benda uji (mm)
E. Data Pengamatan
Pengujian Kuat Tarik Belah Beton Umur 28 Hari

F. KESIMPULAN
Kuat tarik belah rata-rata yang diperoleh pada umur 28 hari adalah 5,80 Mpa

KELOMPOK VI
58
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

BAB VI
PENUTUP

6.1. Kesimpulan
Dari berbagai Pengujian Laboratorium Struktur dan Bahan yang kami lakukan, maka dengan
ini kami menarik kesimpulan bahwa :
1. Material dalam pengujian dapat dipakai dalam pelaksanaan struktur bangunan
2. Rancangan campuran dilaboratorium ini dilakukan sesuai dengan material saat
pengujian berlangsung
3. Dari hasil pengujian yang dilakukan dapat diketahui bahwa mutu beton akan
mengalami peningkatan sesuai dengan umur rendaman.

6.2. Saran
1. Laboratorium struktur dan bahan di fakultas Teknik Unkhair agar melakukan
Penambahan alat di Laboratorium, sehingga dalam setiap pengujian lebih teliti
2. Sebaiknya lakukan kalibrasi alat secara berkala untuk ketelitan dalam pengujian
3. Material dalam pengujian laboratorium agar digantikan dengan yang baru, karna
dapat mengganggu saat pengujian kadar air dan kadar lumpur.

KELOMPOK VI
59
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

DOKUMENTASI

LABORATORIUM
STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE

Kepala Laboratorium

Imran.ST.,M.Eng

Asisten

Zulham S. Lambado

Gambar

Analisa Saringan

Kelompok VI
Paraf

KELOMPOK VI
60
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

LABORATORIUM
STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE

Kepala Laboratorium

Imran.ST.,M.Eng

Asisten

Zulham S. Lambado

Gambar

Berat Jenis

Kelompok VI
Paraf

KELOMPOK VI
61
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

LABORATORIUM
STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE

Kepala Laboratorium

Imran.ST.,M.Eng

Asisten

Zulham S. Lambado

Gambar

Keausan

Kelompok VI
Paraf

KELOMPOK VI
62
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

LABORATORIUM
STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE

Kepala Laboratorium

Imran.ST.,M.Eng

Asisten

Zulham S. Lambado

Gambar

Kadar Air Dan Kadar


Lumpur

Kelompok VI
Paraf

KELOMPOK VI
63
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

LABORATORIUM
STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE

Kepala Laboratorium

Imran.ST.,M.Eng

Asisten

Zulham S. Lambado

Gambar

Mix Desaign

Kelompok VI
Paraf

KELOMPOK VI
64
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

LABORATORIUM
STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE

Kepala Laboratorium

Imran.ST.,M.Eng

Asisten

Zulham S. Lambado

Gambar

Uji Slump

Kelompok VI
Paraf

KELOMPOK VI
65
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

LABORATORIUM
STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE

Kepala Laboratorium

Imran.ST.,M.Eng

Asisten

Zulham S. Lambado

Gambar

Pengujian Kuat Tekan

Kelompok VI
Paraf

KELOMPOK VI
66
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

LABORATORIUM
STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE

Kepala Laboratorium

Imran.ST.,M.Eng

Asisten

Zulham S. Lambado

Gambar

Pengujian Tarik Belah

Kelompok VI
Paraf

KELOMPOK VI
67
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

KELOMPOK VI
68
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

KELOMPOK VI
69
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

KELOMPOK VI
70
LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHAN
JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
Kampus II Gambesi Jl. Pertamina Kel.Gambesi Ternate Selatan

KELOMPOK VI
71