Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. ANATOMI HIDUNG
1. Hidung Luar
Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam. Hidung bagian luar menonjol
pada garis tengah di antara pipi dan bibir atas; struktur hidung luar dibedakan atas tiga
bagian, yang paling atas: kubah tulang yang tak dapat digerakkan; di bawahnya terdapat
kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan; dan yang paling bawah adalah lobulus hidung
yang mudah digerakkan. Bentuk hidung luar seperti piramid dengan bagian-bagiannya dari
atas ke bawah: 1) pangkal hidung (bridge), 2) batang hidung (dorsum nasi), 3) puncak hidung
(hip), 4) ala nasi, 5) kolumela, dan 6) lubang hidung (nares anterior). Hidung luar dibentuk
oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa
otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka
tulang terdiri dari: 1) tulang hidung (os nasal), 2) prosesus frontalis os maksila dan 3)
prosesus nasalis os frontal; sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang
tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu: 1) sepasang kartilago nasalis
lateralis superior, 2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai
kartilago ala mayor dan 3) tepi anterior kartilago septum.2

Gambar 1. Anatomi Hidung Luar


2. Hidung Dalam
Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os.internum di
sebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring.
Kavum nasi dibagi oleh septum, dinding lateral terdapat konka superior, konka media, dan
konka inferior. Celah antara konka inferior dengan dasar hidung dinamakan meatus inferior,
berikutnya celah antara konka media dan inferior disebut meatus media dan sebelah atas
konka media disebut meatus superior.2

Gambar 2. Anatomi Hidung Dalam


1) Septum Nasi
Septum membagi kavum nasi menjadi dua ruang kanan dan kiri. Bagian posterior
dibentuk oleh lamina perpendikularis os etmoid, bagian anterior oleh kartilago septum
(kuadrilateral), premaksila dan kolumela membranosa; bagian posterior dan inferior oleh
os vomer, krista maksila, krista palatine serta krista sfenoid.2

Gambar 3. Septum Nasi

1
2) Kavum Nasi
Kavum nasi terdiri dari:2
a. Dasar hidung
Dasar hidung dibentuk oleh prosesus palatine os maksila dan prosesus horizontal
os palatum.
b. Atap hidung
Atap hidung terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior, os nasal,
prosesus frontalis os maksila, korpus os etmoid, dan korpus os sphenoid. Sebagian
besar atap hidung dibentuk oleh lamina kribrosa yang dilalui oleh filament-filamen
n.olfaktorius yang berasal dari permukaan bawah bulbus olfaktorius berjalan menuju
bagian teratas septum nasi dan permukaan kranial konka superior.
c. Dinding Lateral
Dinding lateral dibentuk oleh permukaan dalam prosesus frontalis os maksila, os
lakrimalis, konka superior dan konka media yang merupakan bagian dari os etmoid,
konka inferior, lamina perpendikularis os platinum dan lamina pterigoideus medial.
d. Konka
Fosa nasalis dibagi menjadi tiga meatus oleh tiga buah konka; celah antara konka
inferior dengan dasar hidung disebut meatus inferior; celah antara konka media dan
inferior disebut meatus media, dan di sebelah atas konka media disebut meatus
superior. Kadang-kadang didapatkan konka keempat (konka suprema) yang teratas.
Konka suprema, konka superior, dan konka media berasal dari massa lateralis os
etmoid, sedangkan konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada
maksila bagian superior dan palatum.
3) Meatus Superior
Meatus superior atau fisura etmoid merupakan suatu celah yang sempit antara
septum dan massa lateral os etmoid di atas konka media. Kelompok sel-sel etmoid
posterior bermuara di sentral meatus superior melalui satu atau beberapa ostium yang
besarnya bervariasi. Di atas belakang konka superior dan di depan korpus os sfenoid
terdapat resesus sfeno-etmoidal, tempat bermuaranya sinus sfenoid.2

2
4) Meatus Media
Merupakan salah satu celah yang penting yang merupakan celah yang lebih luas
dibandingkan dengan meatus superior. Di sini terdapat muara sinus maksila, sinus frontal
dan bagian anterior sinus etmoid. Di balik bagian anterior konka media yang letaknya
menggantung, pada dinding lateral terdapat celah yang berbentuk bulan sabit yang
dikenal sebagai infundibulum. Ada suatu muara atau fisura yang berbentuk bulan sabit
yang menghubungkan meatus medius dengan infundibulum yang dinamakan hiatus
semilunaris. Dinding inferior dan medial infundibulum membentuk tonjolan yang
berbentuk seperti laci dan dikenal sebagai prosesus unsinatus. Di atas infundibulum ada
penonjolan hemisfer yaitu bula etmoid yang dibentuk oleh salah satu sel etmoid. Ostium
sinus frontal, antrum maksila, dan sel-sel etmoid anterior biasanya bermuara di
infundibulum. Sinus frontal dan sel-sel etmoid anterior biasanya bermuara di bagian
anterior atas, dan sinus maksila bermuara di posterior muara sinus frontal. Adakalanya
sel-sel etmoid dan kadang-kadang duktus nasofrontal mempunyai ostium tersendiri di
depan infundibulum.2
5) Meatus Inferior
Meatus inferior adalah yang terbesar di antara ketiga meatus, mempunyai muara
duktus nasolakrimalis yang terdapat kira-kira antara 3 sampai 3,5 cm di belakang batas
posterior nostril.2
6) Nares
Nares posterior atau koana adalah pertemuan antara kavum nasi dengan nasofaring,
berbentuk oval dan terdapat di sebelah kanan dan kiri septum. Tiap nares posterior bagian
bawahnya dibentuk oleh lamina horisontalis palatum, bagian dalam oleh os vomer, bagian
atas oleh prosesus vaginalis os sfenoid dan bagian luar oleh lamina pterigoideus. Di
bahgian atap dan lateral dari rongga hidung terdapat sinus yang terdiri atas sinus maksila,
etmoid, frontalis dan sphenoid. Sinus maksilaris merupakan sinus paranasal terbesar di
antara lainnya, yang berbentuk piramid yang irregular dengan dasarnya menghadap ke
fossa nasalis dan puncaknya menghadap ke arah apeks prosesus zygomatikus os maksilla.
Sinus paranasal adalah rongga-rongga di dalam tulang kepala yang berisi udara yang
berkembang dari dasar tengkorak hingga bagian prosesus alveolaris dan bagian lateralnya
berasal dari rongga hidung hingga bagian inferomedial dari orbita dan zygomatikus.

3
Sinus-sinus tersebut terbentuk oleh pseudostratified columnar epithelium yang
berhubungan melalui ostium dengan lapisan epitel dari rongga hidung. Sel-sel epitelnya
berisi sejumlah mukus yang menghasilkan sel-sel goblet.2
7) Kompleks Ostiomeatal (KOM)
Kompleks ostiomeatal (KOM) adalah bagian dari sinus etmoid anterior yang berupa
celah pada dinding lateral hidung. Pada potongan koronal sinus paranasal gambaran
KOM terlihat jelas yaitu suatu rongga di antara konka media dan lamina papirasea.
Struktur anatomi penting yang membentuk KOM adalah prosesus unsinatus,
infundibulum etmoid, hiatus semilunaris, bula etmoid, agger nasi dan ressus frontal.
Serambi depan dari sinus maksila dibentuk oleh infundibulum karena sekret yang
keluar dari ostium sinus maksila akan dialirkan dulu ke celah sempit infundibulum
sebelum masuk ke rongga hidung. Sedangkan pada sinus frontal sekret akan keluar
melalui celah sempit resesus frontal yang disebut sebagai serambi depan sinus frontal.
Dari resesus frontal drainase sekret dapat langsung menuju ke infundibulum etmoid atau
ke dalam celah di antara prosesus unsinatus dan konka media.2

Gambar 4. Kompleks Ostiomeatal


3. Vaskularisasi Rongga Hidung
Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari arteri ethmoidalis anterior dan
posterior sebagai cabang dari arteri oftalmika. Bagian bawah rongga hidung mendapat
pendarahan dari arteri maxilaris interna. Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari
cabang-cabang arteri fasialis. Vena hidung memiliki nama yang sama dan berjalan
berdampingan dengan arterinya. Plexus Kiesselbach merupakan anyaman pembuluh darah
pada septum nasi bagian anterior.3

4
Pembuluh darah yang membentuknya adalah arteri nasalis septum anterior &
posterior, arteri palatina mayor, dan arteri labialis superior. Pecahnya plexus Kiesselbach
biasanya akan menyebabkan epistaksis anterior.3

Gambar 5. Vaskularisasi Rongga Hidung


4. Persarafan Rongga Hidung
Rongga hidung bagian depan dan atas mendapat persarafan sensoris dari nervus
nasalis anterior cabang dari nervus ethmoidalis anterior. Rongga hidung bagian lainnya
mendapat persarafan sensoris dari nervus maxilla. Persarafan parasimpatis rongga hidung
berasal dari nervus nasalis posterior inferior & superior cabang dari ganglion
sphenopalatina. Persarafan simpatis berasal dari ganglion cervical superior. Efek persarafan
parasimpatis pada cavum nasi yaitu sekresi mukus dan vasodilatasi. Dalam rongga hidung,
terdapat serabut saraf pembau yang dilengkapi sel-sel pembau. Setiap sel pembau memiliki
rambut-rambut halus (silia olfaktoria) di ujungnya dan selaput lendir meliputinya untuk
melembabkan rongga hidung.3

Gambar 6. Persarafan Rongga Hidung

5
II. DEFINISI
Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien
atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu
mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut (Von Pirquet,
1986). Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 adalah
kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah
mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.4

Gambar 7. Rinitis Alergi

III. EPIDEMIOLOGI
Prevalensi rinitis alergika di berbagai negara berkisar antara 3-19%. Angka kejadian
rinitis alergika di beberapa negara seperti Amerika Utara sebesar 10-20%, di Eropa sekitar 10-
15%, Thailand sekitar 20%, di Jepang sekitar 10%, dan di Indonesia sendiri sebanyak 10-26%.
Rinitis alergika yang muncul pada usia di bawah 20 tahun ditemukan sebanyak 80% dari
keseluruhan kasus. Gejala rinitis alergika muncul 1 dari 5 anak pada usia 2-3 tahun dan sekitar
40% pada anak usia 6 tahun. Sebanyak 30% pasien akan menderita rinitis pada usia remaja.
Walaupun semua kelompok usia dapat terkena rinitis alergika, tetapi rinitis alergika ini biasanya
lebih sering muncul pada usia kanak-kanak awal setelah terpapar atau tersensitisasi alergen
tertentu. Rinitis alergika sering terjadi pertama kali pada kelompok anak-anak antara usia 5-10
tahun dengan puncaknya pada usia remaja antara 10-20 tahun dan cenderung menurun sesuai
dengan pertambahan usia. Rinitis alergika biasanya didapat pada penderita atopi.4

6
IV. ETIOLOGI
Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi dari pasien yang secara
genetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. Genetik secara jelas memiliki peran
penting. Pada 20-30% semua populasi dan pada 10-15% anak semuanya atopi. Apabila kedua
orang tua atopi, maka risiko atopi menjadi 4 kali lebih besar atau mencapai 50%. Peran
lingkungan dalam rinitis alergi yaitu sebagai sumber alergen, yang terdapat di seluruh
lingkungan, terpapar dan merangsang respon imun yang secara genetik telah memiliki
kecenderungan alergi.1
1. Sumber Pencetus
Rinitis alergi jenis musiman muncul disebabkan oleh reaksi alergi terhadap partikel
udara seperti:
a. Ragweed – Bulu-bulu rumput yang paling umum terdapat sebagai pencetus (di musim
gugur)
b. Serbuk sari rumput (di akhir musim semi dan musim panas)
c. Serbuk sari pohon (di musim semi)
d. Jamur (berbagai jamur yang tumbuh di daun-daun kering, umumnya terjadi di musim
panas)
Rinitis alergi jenis sepanjang tahun muncul disebabkan oleh reaksi alergi terhadap
partikel udara seperti:
a. Bulu binatang peliharaan
b. Debu dan tungau rumah
c. Kecoa
d. Jamur yang tumbuh di dinding, tanaman rumah, karpet, dan kain pelapis
2. Faktor Risiko
a. Sejarah keluarga alergi
b. Setelah ada riwayat pernah terkena alergi lain, seperti alergi makanan atau ice cream
c. Paparan bekas asap roko
d. Gender laki-laki.

7
V. PATOFISIOLOGI
Rhinitis alergi diawali dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan tahap provokasi/reaksi
alergi. Reaksi alergi terdiri dari dua fase, Immediate phase allergic reaction atau reaksi alergi
fase cepat yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan Late
phase allergic reaction atau reaksi alergi fase lambat yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak
6-8 jam setelah paparan dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam.4
Pada tahap sensitisasi, makrofag atau monosit yang berperan sebagai Antigen Presenting
Cell (APC) akan mengangkap allergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. Antigen
akan membentuk fragmen peptide pendek dan bergabung dengan molekul HLA kelas II
membentuk komplek peptide MHC kelas II (Major Histocompatibility Complex) yang
kemudian dipresentasikan pada sel T helper (Th 0). APC akan melepas sitokin seperti IL-1 yang
akan mengaktifkan Th0 untuk berproloferasi menjadi Th1 dan Th2. Th 2 akan menghasilkan
sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5, dan IL-13. IL-4 dan IL-13 dapat diikat oleh reseptornya di
permukaan sel limfosit B, sehingga limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi
Immunoglobulin E (IgE). IgE di sirkulasi darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor
IgE di permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif.
Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar dengan allergen yang sama, maka kedua rantai
IgE akan mengikat allergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan
basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk, termasuk histamin,
prostaglandin D2, leukotrien D4, leukotrien C4, bradikinin, platelet activating factor, sitokin
IL-3, IL-4, IL-5, IL-6, granulocyte macrophage colony stimulating factor.4
Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan
rasa gatal pada ujung hidung serta bersin-bersin. Histamine menyebabkan peningkatan
permeabilitas kapiler dan hipersekresi kelenjar mukosa dan sel goblet sehingga terjadi rinore.
Gejala lain adalah hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Rangsangan mukosa hidung
oleh histamine menyebabkan pengeluaran Inter Cellular Ahedsion Molecule 1 (ICAM 1). Sel
mastosit akan melepaskan molekul kemotatik yang menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan
netrofil di jaringan target. Respon ini tidak berhenti, dan gejala akan berlanjut dan mencapai
puncak 6-8 jam setelah pemaparan.4

8
Gambar 8. Fase 1: Sensitisasi

Gambar 9. Fase 2: Klinis Penyakit

Reaksi alergi fase lambat ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi
seperti eosinofil, limfosit, netrofil, basofil, dan mastosit di permukaan mukosa hidung serta
peningkatan sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5, dan Granulocyte Macrophage Colony Stimulating
Factor (GM-CSF) dan ICAM1 pada sekret hidung. Timbulnya gejala hiperaktif atau
hiperresponsif hidung adalah akibat peranan eosinofil dengan mediator inflamasi dari granulnya
seperti Eosinophilic Cationic Protein (ECP), Major Basic Protein (MBP), Eosinophillic
Derived Protein (EDP), dan Eosinophillic Peroxide (EPO). Pada fase ini, selain factor allergen,

9
iritasi oleh factor non spesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok, bau yang
merangsang, perubahan cuaca, dan kelembapan udara yang tinggi.4

VI. DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Anamnesa sangat penting karena sering kali serangan tidak terjadi di hadapan
pemeriksa. Hampir 50% diagnosis dapat ditegakkan dengan anamnesis. Gejala khas rhinitis
alergi yaitu bersin-bersin, hidung tersumbat, rasa gatal pada hidung dan mata, kemerahan
atau keluar air mata yang banyak. Terkadang hidung tersumbat atau bersin-bersin menjadi
keluhan utama atau satu-satunya gejala yang dikeluhkan pasien.4,5
2. Pemeriksaan Fisik
a. Hidung
Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak mukosa edema, basah, berwarna
pucat, kebiruan-abu-abu disertai sekret tipis encer yang banyak. Bila gejala persisten,
mukosa inferior tampak hipertrofi. Deviasi atau perforasi septum nasi dapat timbul dan
berkaitan dengan rhinitis kronik. Tampak anak menggosok-gosok hidung dengan
punggung tangan karena gatal, yang disebut allergic salute. Dengan menggosok hidung
terus menerus akan timbul garis melintang di dorsum nasi bagian 1/3 bawah, yang disebut
nasal crease/allergic crease.4,6

10
b. Telinga
Pada pemeriksaan dengan menggunakan otoskop akan tampak retraksi membrane
timpani dan gangguan pergerakan membran timpani.6
c. Mata
Pada mata akan tampak pembengkakan konjungtiva palpebra dengan produksi air
mata berlebih dan kemerahan pada mata. Terdapat gambaran Garis Dennie-Morgan
(lipatan menonjol di bawah kelopak mata inferior) dan terdapat bayangan gelap di bawah
mata oleh karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung yang disebut allergic
shiner.4,6

d. Tenggorok
Mulut tampak sedikit terbuka dengan lengkung langit-langit yang tinggi sehingga
menyebabkan ganggung pertumbuhan gigi-geligi (facies adenoid). Dinding posterior
faring tampak granuler dan edema (cobblestone appearance), dan dinding lateral faring
menebal. Lidah tampak seperti gambaran peta (geographic tongue). Tampak hipertrofi
tonsil. 4,6

11
3. Pemeriksaan Penunjang 4,6
a. Tes alergi pada kulit (tes hipersensitivitas langsung)
Metode in vivo untuk menentukan hipersensitivitas langsung (IgE-mediated)
terhadap alergen spesifik. Allergen dapat dicari dengan skin prick test, uji intrakutan atau
intradermal tunggal atau berseri (skin end-point titration/SET). SET dilakukan untuk
allergen inhalan dengan menyuntikkan allergen dalam berbagai konsentrasi yang
bertingkat kepekatannya. Keuntungan SET yaitu selain dapat mengetahui allergen
penyebab, dapat juga mengetahui derajat alergi serta dosis inisial untuk desentisasi.
Untuk alergi makanan dapat dilakukan diet eliminasi dan provokasi (challenge test)
sebagai gold standart. Allergen ingestan dieliminasi dari tubuh dalam kurun waktu 2
minggu sehingga pada challenge test makanan yang dicurigai diberikan setelah
berpantang 5 hari, selanjutnya diamati reaksinya. Pada diet eliminasi, jenis makanan
setiap kali dihilangkan dari menu makanan sampai suatu ketika gejala menghilang dengan
mendiadakan suatu jenis makanan.
b. Total serum IgE
Tidak sensitif atau tidak spesifik untuk rinitis alergi, tetapi hasilnya dapat
membantu dalam beberapa kasus ketika dikombinasikan dengan faktor lain. Hasil yang
ditunjukkan sering kali normal, kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu
macam penyakit misalnya selain rhinitis alergi juga menderita asma bronchial atau
urtikaria.
c. Pemeriksaan sitologi dari sekret hidung
Walaupun pemeriksaan ini tidak dapat memastikan diagnosis, tetapi tetap berguna
sebagai pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak
menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil > 5 sel/lp, kemungkinan
disebabkan oleh alergi makanan, sedangkan jika ditemukan sel PMN menunjukan adanya
infeksi bakteri.
d. Jumlah eosinofil darah total
Tidak sensitif atau spesifik untuk diagnosis, tetapi, seperti IgE serum total, kadang-
kadang dapat membantu bila dikombinasikan dengan faktor lain. Hitung eosinofil dalam
darah tepi dapat normal atau meningkat.
e. Fluorescynme enzyme immunoassay (FEIA)

12
Secara tidak langsung mengukur kuantitas imunoglobulin E (IgE) yang berfungsi
sebagai antibodi terhadap antigen tertentu.
f. Radiologis
Penggunaan pencitraan diagnostik rutin tidak dianjurkan untuk pasien dengan
rinitis alergika karena tidak ada temuan radiologis spesifik untuk mengkonfirmasikan
diagnosis. Biaya dan kemungkinan efek buruk pencitraan melebihi kegunaan apa pun.
Penggunaan radiologis dapat membantu mengevaluasi kemungkinan kelainan struktural
atau untuk membantu mendeteksi komplikasi atau kondisi komorbiditas, seperti sinusitis
atau hipertrofi adenoid. Pemeriksaan CT Scan dan MRI dapat membantu untuk evaluasi
sinusitis akut dan kronis.

VII. DIAGNOSA BANDING 10,11

1. Rinitis Vasomotor
Rinitis vasomotor dianggap tidak berhubungan dengan alergen, infeksi, atau
penyebab tertentu. Rhinitis vasomotor terjadi dikarenakan adanya ketidakseimbangan
sistem saraf otonom, biasanya ada hubungannya dengan kelembaban udara tinggi dan
udara dingin.
Gejala klinis:
a. Pilek encer
b. Bersin-bersin paroksismal
c. Buntu hidung
d. Kambuh pada waktu pagi (dingin), mendung (kelembaban tinggi)
Rinitis vasomotor didiagnosis melalui eksklusi; Ketika terjadi serangan hasil
pemeriksaan fisik didapatkan edema konka, secret seromukus, warna mukosa merah tua
atau merah gelap, tetapi dapat pula pucat, permukaan konka dapat licin ataupun
berbenjol-benjol. Pada pemeriksaan penunjang pasien harus memiliki tingkat serum IgE
yang normal, tes kulit negatif atau RAST, dan tidak ada inflamasi pada sitologi hidung.
2. Rinitis Medikamentosa
Penggunaan berulang semprotan dekongestan alpha-adrenergic topikal (selama
lima sampai tujuh hari berturut-turut) dapat menginduksi rebound hidung tersumbat
setelah penarikan (rinitis medikamentosa). Penggunaan secara luas dapat menyebabkan

13
hipertrofi mukosa inflamasi dan kongesti kronis. Mukosa menjadi merah dan meradang
dengan pendarahan sesekali. Penghentian dekongestan topikal menyelesaikan masalah,
meskipun banyak pasien merasa proses ini sulit.
3. Rinitis Hormonal
Penyebab rhinitis hormonal termasuk kehamilan, penggunaan kontrasepsi oral,
dan hipotiroidisme. Rinitis yang diinduksi oleh kehamilan umumnya membaik setelah
melahirkan. Perbaikan gejala setelah pengobatan hipotiroidisme masih belum jelas.
Jenis-jenis rinitis ini sulit untuk didiagnosis, dan literatur medis yang
mendokumentasikannya terbatas. Banyak obat telah dikaitkan dengan rinitis; ini
termasuk angiotensin-converting enzyme inhibitor, reserpin, guanethidine,
phentolamine (Rogitine, tidak tersedia di Amerika Serikat), methyldopa (Aldomet),
prazosin (Minipress), beta blockers, chlorpromazine (Thorazine), dekongestan hidung
artritis, aspirin, dan obat anti-inflamasi non-steroid.
4. NARES (non allergic rhinitis with eosinophilia syndrome)
Rinitis non alergi dengan sindrom eosinofilia adalah eosinofilia secret nasal tanpa
sumber alergi yang jelas terdeteksi pada tes kulit atau RAST. Penyebab eosinofilia tidak
jelas; Namun, prevalensi rinitis non alergi dengan eosinofilia pada orang dewasa
mungkin 15 hingga 33 persen. Kondisi ini mungkin terkait dengan asma non-IgE-
mediated, intoleransi aspirin, dan polip hidung. Rhinitis nonalergi dengan eosinofilia
ditandai dengan infiltrasi eosinofilik pada sitologi hidung.
Subtipe dari kondisi ini adalah darah eosinofilia sindrom rinitis nonalergi. Tidak
jelas apakah kedua kondisi ini berbeda dari sindrom rinitis non-alergi lainnya atau jika
mereka hanya varian rinitis alergi tanpa alergen yang dapat diidentifikasi .

VIII. PENATALAKSANAAN 7,8

1. Menghindari alergen spesifik


Langkah pertama dalam pengelolaan rinitis alergik adalah mengidentifikasi penyebab
masalah, dan kemudian menghapus atau menghindari penyebab alergi jika memungkinkan.
Baik obat maupun imunoterapi bukan digunakan sebagai pengganti, tetapi sebagai tambahan
untuk mengurangi paparan pemicu alergi. Dalam beberapa kasus, penyebabnya mungkin
jelas (misalnya alergi hewan peliharaan). Dalam kasus lain mungkin perlu mencari nasihat

14
medis untuk membantu mengidentifikasi alergen. Skin Prick Tests atau hasil tes RAST harus
ditafsirkan oleh dokter yang terlatih dalam alergi. Jika diagnosis diragukan dan alergen yang
mengganggu tidak diidentifikasi, rujukan ke spesialis alergi mungkin diperlukan. Setelah
penyebab diidentifikasi, langkah-langkah dapat diambil untuk menghindari atau
meminimalkan paparan.
2. Obat topikal
a. Semprotan hidung kortikosteroid (misalnya. Rhinocort, Rhinocort HayFever,
Nasonex, Budamax, Beconase, Allermax, Aldecin) telah terbukti efektif dalam
pengelolaan rinitis alergi, terutama pada orang dengan gejala berat dan
berkepanjangan dan ketika tersumbat merupakan gejala penting. Kortikosteroid
meredakan sumbatan hidung, lendir, bersin, hidung gatal, post-nasal drip dan
gejala mata. Semprotan hidung kortikosteroid bertindak sebagai agen profilaksis
dan tidak dimaksudkan untuk meredakan gejala akut, maka mereka perlu
digunakan secara teratur. Pendidikan pasien yang cermat diperlukan untuk
memastikan penggunaan obat yang benar. Setelah kontrol gejala telah tercapai,
dosis harus dikurangi secara progresif ke dosis minimum untuk mengontrol gejala.
Penggunaan sehari-hari diperlukan pada sebagian besar pasien. Terapi yang lama
jika diperlukan dan dapat digunakan jangka panjang dengan aman tetapi di bawah
pengawasan medis. Sementara antihistamin umumnya dianggap sebagai terapi lini
pertama untuk anak-anak, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kortikosteroid
intra-nasal harus dipertimbangkan untuk terapi lini pertama mengingat profil
keamanan dan efektivitas biaya mereka. Ketika digunakan, hati-hati perlu diambil
untuk memastikan bahwa jumlah berlebihan kortikosteroid topikal tidak diberikan
(misalnya dalam manajemen asma).
b. Semprotan hidung antihistamine dan tetes mata (misalnya Rhinolast, Livostin,
Azep) bertindak cepat (dalam beberapa menit) untuk meredakan bersin atau gatal
dan umumnya ditoleransi dengan baik. Secara umum, mereka kurang efektif dalam
mengurangi hidung tersumbat parah.
c. Semprotan hidung dekongestan atau tetes memberikan bantuan cepat, tetapi hanya
boleh digunakan dalam jangka pendek (hingga maksimal 5 hari) untuk
membersihkan sumbatan hidung yang berlebihan. Pada pasien dengan obstruksi

15
nasal berat, mereka dapat digunakan selama beberapa hari untuk membuka saluran
udara untuk memungkinkan akses ke mukosa hidung oleh semprotan hidung
corticosteroid. Penggunaan semprotan dekongestan hidung yang berulang atau
jangka panjang dapat menyebabkan pembengkakan mukosa hidung dengan
kebutuhan untuk menggunakan jumlah obat yang terus meningkat. Kondisi ini
dikenal sebagai rhinitis medicamentosa dan akhirnya dapat menyebabkan rhinitis
atrofi.
d. Semprotan antikolinergik - (misalnya Atrovent aqueous) sangat efektif dalam
mengurangi rhinorrhoea berair.
e. Mast cell stabilising nasal sprays or eye drops (misalnya semprotan hidung
Rynacrom, tetes mata Patanol, tetes mata Opticrom, tetes mata Lomide)
mengurangi peradangan dengan penggunaan teratur.
3. Terapi Oral
a. Antihistamin adalah lini pertama pengobatan pada rinitis alergi, terutama pada anak -
anak, yang mungkin lebih memilih obat oral dibandingkan semprotan hidung
topikal. Memiliki efek sistemik mereka sangat berguna di mana ada keterlibatan
beberapa organ, misalnya konjungtivitis alergi dan eksim atopik bersama dengan
rinitis alergi. Obat ini berguna dalam membantu mengontrol bersin, gatal, hidung
tersumbat dan hidung meler karena alergi, tetapi tidak berhasil mengendalikan
penyumbatan dan meler hidung yang parah. Keuntungan dari antihistamin adalah
fleksibilitasnya. Mereka dapat digunakan sesuai kebutuhan, secara teratur atau untuk
mencegah gejala sebagai antisipasi setelah paparan alergen. Antihistamin yang lebih
baru (loratadin, cetirizine) secara signifikan kurang sedatif dibandingkan antihistamin
yang terdahulu (difenhidramin, klorfeniramin, siproheptadin.)
b. Tablet Dekongestan (Pseudoephedrine atau Phenylephrine) akan membuka blokir
dan mengeringkan hidung. Mereka harus digunakan dengan hati-hati pada pasien
dengan hipertensi, angina, prostatisme dan tirotoksikosis. Mereka kontra-indikasi
pada pasien yang memakai antidepresan inhibitor monoamine oksidase. Efek
samping termasuk gelisah, insomnia, dan takiaritmia.
c. Obat kombinasi yang mengandung antihistamin dan dekongestan (misalnya Telfast
Decongestant, Clarinase) memberikan bantuan gejala yang lebih besar daripada

16
antihistamin saja, terutama ketika hidung tersumbat merupakan gejala yang
menonjol. Namun, karena mengandung dekongestan, peringatan yang sama,
kontraindikasi dan efek samping berlaku bagi mereka seperti pada dekongestan yang
digunakan sendiri.
d. Kortikosteroid sistemik diindikasikan untuk rinitis alergi hanya dalam keadaan l uar
biasa, di mana ada iritabilitas intens hidung atau obstruksi berat. Mereka seharusnya
hanya digunakan jangka pendek di bawah pengawasan medis. Tidak ada pembenaran
untuk penggunaan suntikan steroid.
e. Antagonis leukotrien (misalnya Singulair) telah digunakan dalam beberapa
penelitian dengan keberhasilan terbatas, baik sendiri atau dalam kombinasi dengan
antihistamin. Sementara steroid nasal topikal muncul untuk memberikan kontrol
gejala yang superior, obat ini dapat memberikan bantuan tambahan pada pasien yang
dipilih.
4. Non-Farmakologi
Pasien harus didorong untuk memberikan informasi tentang perawatan 'non -
farmakologi (misalnya suplemen makanan, herbal) yang mereka pakai, karena beberapa
dapat menyebabkan efek samping yang merugikan dan interaksi dengan obat-obatan.
Penting untuk menekankan kepada pasien bahwa obat-obatan alternatif belum
dikenakan studi yang ketat tentang efektivitas dan efek samping yang ditimbulkan oleh
obat-obatan konvensional.
a. Semprotan uap dan air asin (salin) yang digunakan secara teratur dapat membantu
meredakan sumbatan hidung dan sekresi yang kental.
b. Echinacea harus digunakan dengan hati-hati, terutama pada orang yang alergi
terhadap serbuk sari, karena beberapa reaksi merugikan telah dilaporkan. Informasi
tentang ini diperoleh di situs web ASCIA.
c. Diet dan Rhinitis
Diet hanya memiliki pengaruh kecil pada gejala pada kebanyakan orang. Hasil
dari "diet eliminasi" yang ketat biasanya mengecewakan dan dapat memengaruhi
nutrisi. Meskipun mitologi umum, tidak ada bukti yang baik bahwa “susu membuat
lendir”, atau bahwa susu memperburuk demam atau asma. Gejala-gejala hidung
kadang-kadang terjadi setelah makan makanan atau alkohol panas atau pedas. Ini

17
disebut "rhinitis gustatory". Tampaknya menjadi fenomena refleks, yang dihasilkan
dari stimulasi ujung saraf yang memicu kelenjar untuk mengeluarkan lebih banyak
lendir. Obat semprot hidung antikolinergik (Atrovent) sering efektif, terutama jika
digunakan sebelum makan.
5. Imunoterapi
Imunoterapi (desensitisasi) adalah hal yang paling dekat dengan obat untuk rinitis
alergi dan tambahan yang efektif untuk terapi obat pada pasien tertentu. Ini harus
diresepkan hanya oleh spesialis alergi dan hanya setelah penghindaran alergen dan
terapi obat telah dilembagakan. Imunoterapi melibatkan pemberian jumlah bahan alergi
yang meningkat secara bertahap, biasanya diberikan kepada pasien melalui suntikan
selama beberapa tahun. Suntikan alergi ini mengubah di mana sistem kekebalan bereaksi
terhadap alergen, dengan "mematikan" alergi. Hasil akhirnya adalah bahwa pasien
menjadi "kebal" terhadap alergen, sehingga mereka dapat mentoleransi mereka dengan
gejala yang lebih sedikit atau tidak ada sama sekali.
Imunoterapi sering direkomendasikan untuk pengobatan rinitis alergi (dan
kadang-kadang asma) ketika:
a. gejalanya berat
b. penyebabnya sulit dihindari (misalnya serbuk sari rumput)
c. obat-obatan tidak membantu atau menyebabkan efek samping
d. pasien membutuhkan obat hampir setiap hari.

IX. KOMPLIKASI 9
1. Polip Hidung
Polip hidung adalah pembengkakan yang tumbuh di lapisan di dalam hidung atau
sinus, lubang-lubang kecil di atas dan di belakang hidung. Hal ini disebabkan oleh
radang selaput hidung dan kadang-kadang berkembang sebagai akibat dari rinitis.
Polip hidung berbentuk seperti air mata ketika mereka tumbuh dan terlihat seperti
anggur di batang saat sudah dewasa. Polip bervariasi dalam ukuran dan bisa berwarna
kuning, abu-abu atau merah muda. Polip dapat tumbuh sendiri atau dalam kelompok,
dan biasanya mempengaruhi kedua lubang hidung. Jika polip hidung tumbuh cukup
besar, atau dalam kelompok, mereka dapat mengganggu pernapasan, mengurangi indra

18
penciuman dan memblokir sinus, yang dapat menyebabkan sinusitis. Polip hidung kecil
dapat menyusut menggunakan semprotan hidung steroid sehingga tidak menyebabkan
obstruksi di hidung. Polip besar mungkin perlu diangkat secara operasi.
2. Sinusitis
Sinusitis adalah komplikasi umum rinitis. Di sinilah sinus menjadi meradang atau
terinfeksi. Sinus secara alami menghasilkan lendir, yang biasanya mengalir ke hidung
Anda melalui saluran kecil. Namun, jika saluran drainase meradang atau tersumbat,
misalnya, karena rhinitis atau polip hidung-lendir tidak dapat mengalir dan dapat
menjadi terinfeksi.
Gejala umum sinusitis meliputi:
a. hidung tersumbat, sehingga sulit untuk bernapas lewat hidung
b. pilek
c. lendir yang menetes dari belakang hidung Anda ke tenggorokan (post-nasal drip)
d. rasa penciuman atau perasa yang berkurang
e. perasaan kenyang, tekanan atau rasa sakit di wajah
f. stridor
g. obstructive sleep apnea (OSA)
Obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas, seperti parasetamol, ibuprofen atau
aspirin, dapat digunakan untuk membantu mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan
di wajah.
Namun, obat-obat ini tidak cocok untuk semua orang, jadi periksa selebaran yang
menyertainya sebelum menggunakannya. Misalnya, anak-anak di bawah usia 16 tahun
tidak boleh mengonsumsi aspirin, dan ibuprofen tidak dianjurkan untuk penderita asma
atau riwayat sakit maag. Bicaralah dengan dokter atau apoteker jika tidak yakin.
Antibiotik juga dapat direkomendasikan jika sinus terinfeksi bakteri. Jika memiliki
sinusitis jangka panjang (kronis), pembedahan mungkin diperlukan untuk memperbaiki
drainase sinus.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Hilger PA. Penyakit Hidung. In: Highler, AB. BOIES Buku Ajar Penyakit THT. 6th ed. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1997. P. 210-7.
2. Anatomi dan fisiologi hidung dan sinus paranasal. Available from:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25985/4/Chapter%20II.pdf. Accesed at:
November 25, 2011.
3. Anatomi Hidung. Available from : http://www.scribd.com/doc/38904487/Anatomi-Hidung.
Accesed at : November 25, 2011.
4. Irawati N, Kasakeyan E, Rusmono N. Rinitis Alergi. In: Soepardi EA, Iskandae N, Ed. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok. 6th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2007.
5. American Academy of Family Physicians. 2015. Clinical Practice Guidelines: Allergic
Rhinitis. Diunduh dari: https://www.aafp.org/afp/2015/1115/p942.pdf
6. Sheikh J. 2018. Allergic Rhinitis. Diunduh dari:
https://emedicine.medscape.com/article/134825-overview
7. Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy (ASCIA). 2017. Allergic rhinitis
treatment plan. (Diakses tanggal: 18 Juli 2018, Diunduh dari:
www.allergy.org.au/patients/allergic-rhinitis-hay-fever-and-sinusitis/allergic-rhinitis-
treatment-plan )
8. Dana V. Wallace., Mark S. Dykewicz., et al. 2008. The diagnosis and management of rhinitis:
An updated practice parameter. American Academy of Allergy, Asthma & Immunology.
(Diakses tanggal: 18 Juli 2018, Diunduh dari:
https://www.aaaai.org/Aaaai/media/MediaLibrary/PDF%20Documents/Practice%20and%20
Parameters/rhinitis2008-diagnosis-management.pdf )
9. David P. Skoner. 2000. Complications of allergic rhinitis, J Allergy Clin Immunol vol 105.
Pittsburgh. (Diakses tanggal: 18 Juli 2018, Diunduh dari: https://sci-
hub.tw/https://doi.org/10.1067/mai.2000.106150)
10. Soemantri R D, Mulyarjo, Pawarti D R. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi: Rinitis Non
Alergi. Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo. Surabaya.
11. David M.Q, David B.F. 2006. Journal American Family Physician Diagnosing Rhinitis:
Allergic vs. Nonallergic. Vol. 73, Number 9. University of Florida Family Medicine Residency

20
Program, Gainesville, Florida. (Diakses tanggal: 18 Juli 2018, Diunduh dari:
https://pdfs.semanticscholar.org/b9f4/e3363e478fe2c659a24c7c8557563fb02753.pdf )

21