Anda di halaman 1dari 38

TUGAS KHUSUS

EVALUASI EFISIENSI BOILER PADA BF-652


PLANT PRODUKSI 1 STYRENE MONOMER

PT. STYRINDO MONO INDONESIA

CILEGON- BANTEN

Disusun oleh:
1. Rafi Muhammad Farraz (3335141358)
2. M. Fakhri Baasyir (3335141376)

JURUSAN TEKNIK KIMIA – FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

CILEGON – BANTEN

2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Boiler adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air sampai terbentuk
air panas atau steam. Air panas atau steam pada tekanan tertentu kemudian digunakan untuk
mengalirkan panas ke suatu proses. Air adalah media yang berguna dan murah untuk
mengalirkan panas ke suatu proses. Jika air dididihkan sampai menjadi steam, volume nya akan
meningkat sekitar 1.600 kali, menghasilkan tenaga yang menyerupai bubuk mesiu yang mudah
meledak, sehingga boiler merupakan peralatan yang harus dikelola dan dijaga dengan sangat
baik.
Sistem boiler terdiri dari : sistem air umpan, sistem steam dan sistem bahan bakar.
Sistem air umpan menyediakan air untuk boiler secara otomatis sesuai dengan kebutuhan
steam. Berbagai kran disediakan untuk keperluan perawatan dan perbaikan. Sistem steam
mengumpulkan dan mengontrol produksi steam dalam boiler. Steam dialirkan melalui sistem
pemipaan ke titik pengguna. Pada keseluruhan sistem, tekanan steam diatur menggunakan kran
dan dipantau dengan alat pemantau tekanan. Sistem bahan bakar adalah semua peralatan yang
digunakan untuk menyediakan bahan bakar untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan.
Peralatan yang diperlukan pada sistem bahan bakar tergantung pada jenis bahan bakar yang
digunakan pada sistem.
Gambaran yang dapat menunjukan prestasi kerja boiler ialah efisiensi η. Besaran ini
didefinisikan sebagai angka perbandingan antara energy yang dipindahkan ke atau diserap oleh
fluida kerja di dalam boiler dengan masukan energy kimia dari bahan bakar. Biasanya efisiensi
boiler berkisar antara 70% hingga 90%. Ada dua cara menghitung untuk menghitung efisiensi
boiler yaitu metoda langsung dan metoda tak langsung.
Neraca panas merupakan keseimbangan energi total yang masuk boiler terhadap yang
meninggalkan boiler dalam bentuk yang berbeda. Gambar berikut memberikan gambaran
berbagai kehilangan yang terjadi untuk pembangkitan steam.
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menghitung efisiensi pada boiler BF-652 dan mencari
solusi untuk mengurangi heat loss.
Kehilangan panas karana gas buang kering

Kehilangan panas karena steam dalam gas buang

BOILER Kehilangan panas karena kandungan air dalam


bahan bakar
Bahan bakar
Kehilangan panas karena bahan yang tidak terbakar
dalam residu

Kehilangan panas karena kandungan air dalam udara

Kehilangan panas karena radiasi dan kehilangan yang tidak


terhitung

Panas dalam steam

Gambar 1. rugi-rugi pada boiler


Kehilangan energi dapat dibagi kedalam kehilangan yang tidak dapat dihindarkan
dan kehilangan yang dapat dihindarkan. Tujuan dari pengkajian energi adalah agar rugi-
rugi/kehilangan dapat dihindari, sehingga dapat meningkatkan efisiensi energi. Rugi-rugi
yang dapat diminimalisasi antara lain:
 Kehilangan gas cerobong:
- Udara berlebih (diturunkan hingga ke nilai minimum yang tergantung dari
teknologi burner, operasi (kontrol), dan pemeliharaan).
- Suhu gas cerobong (diturunkan dengan mengoptimalkan perawatan
(pembersihan), beban; burner yang lebih baik dan teknologi boiler).
 Kehilangan karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam cerobong dan abu
(mengoptimalkan operasi dan pemeliharaan; teknologi burner yang lebih baik).
 Kehilangan dari blowdown (pengolahan air umpan segar, daur ulang kondensat)
 Kehilangan kondensat (manfaatkan sebanyak mungkin kondensat)
 Kehilangan konveksi dan radiasi (dikurangi dengan isolasi boiler yang lebih baik)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Proses Pembakaran

Pada proses pembakaran, diperlukan bahan bakar dan udara (sebagai sumber oksigen).
Pembakaran adalah reaksi kimia yang cepat antara oksigen dan bahan yang dapat terbakar,
disertai timbulnya cayaha dan menghasilkan kalor. Dalam suatu pembakaran bahan bakar
akan menjadi reaksi kimia antara komponen bahan bakar dengan oksigen, dimana hasil reaksi
ini akan membentuk gas CO2, H2O dan gas – gas lain. Tujuan dari proses pembakaran adalah
melepaskan seluruh panas yang dihasilkan dengan meminimalkan kerugian – kerugian yang
terjadi. Reaksi pembakran elemen – elemen yang dapat terbakar dalam bahan bakar sehingga
menghasilkan panas merupakan proses yang kompleks, yang memerlukan turbulensi atau
percampuran reaktan yang tepat, temperature yan cukup, dan waktu yang cukup untuk reaktan
terjadi kontak dan bereaksi.

Gambar 2. Prinsip Pembakaran

Pada kondisi yang ideal proses pembakaran akan terjadi proses pencampuran oksigen
dan bahan bakar yang tepat (pembakaran sempurna) dan menghasilkan gas CO2 dan H2O.
Sehingga tidak ada lagi bahan yang dapat terbakar (combustible matter) tersisa. Tetapi kondisi
seperti ini sangat sulit terjadi dan bahkan tidak akan pernah terjadi pada suatu pembakaran di
boiler dengan tingkat exess oksigen nol persen.

Pada kondisi praktis exess oksigen didapatkan dalam bentuk excess udara dari udara
atmosfer dan jumlah excess udara ini bervariasi tergantung dari bahan bakar, boiler load dan
tipe dari perangkat pembakaran. Komponen utama dalam bahan bakar adalah karbon (C) dan
hidrogen (H). contoh reaksi pembakaran adalah sebagai berikut :

C + O2 → CO2 + Panas
2.2 Neraca Panas
Proses pembakaran dalam boiler dapat digambarkan dalam bentuk diagram alir energi.
Diagram ini menggambarkan secara grafis tentang bagaimana energi masuk dari bahan bakar
diubah menjadi aliran energi dengan berbagai kegunaan dan menjadi aliran kehilangan panas
dan energi. Panah tebal menunjukan jumlah energi yang dikandung dalam aliran
masingmasing.
Neraca panas merupakan keseimbangan energi total yang masuk boiler terhadap yang
meninggalkan boiler dalam bentuk yang berbeda. Gambar berikut memberikan gambaran
berbagai kehilangan yang terjadi untuk pembangkitan steam.
Kehilangan energi dapat dibagi kedalam kehilangan yang tidak dapat dihindarkan dan
kehilangan yang dapat dihindarkan. Tujuan dari pengkajian energi adalah agar rugi-
rugi/kehilangan dapat dihindari, sehingga dapat meningkatkan efisiensi energi. Rugi-rugi
yang dapat diminimalisasi antara lain:
 Kehilangan gas cerobong:
- Udara berlebih (diturunkan hingga ke nilai minimum yang tergantung dari
teknologi burner, operasi (kontrol), dan pemeliharaan).
- Suhu gas cerobong (diturunkan dengan mengoptimalkan perawatan
(pembersihan), beban; burner yang lebih baik dan teknologi boiler).
 Kehilangan karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam cerobong dan abu
(mengoptimalkan operasi dan pemeliharaan; teknologi burner yang lebih baik).
 Kehilangan dari blowdown (pengolahan air umpan segar, daur ulang kondensat)
 Kehilangan kondensat (manfaatkan sebanyak mungkin kondensat)
 Kehilangan konveksi dan radiasi (dikurangi dengan isolasi boiler yang lebih baik)

2.3 Masalah-masalah pada Boiler


Permasalahan yang kerap timbul pada boiler sehingga dapat menurunkan efisiensi
boiler yaitu sebagai berikut.
1. Pembentukan kerak
Terbentuk kerak pada dinding boiler terjadi akibat adanya mineral-mineral pembentukan
kerak, misalnya ion-ion kesadahan seperti Ca2+ dan Mg2+ dan akibat pengaruh gas
penguapan.
2. Peristiwa korosi
Korosi dapat disebabkan oleh oksigen dan karbon dioksida yang terdapat dalam uap yang
terkondensasi. Korosi merupakan peristiwa logam kembali kebentuk asalnya dalam misalnya
besi menjadi oksida besi, alumunium dan lain-lain.
3. Pembentukan deposit
Deposit merupakan peristiwa penggumpalan zat dalam air umpan boiler yang disebabkan oleh
adanya zat padat tersuspensi misalnya oksida besi, oksida tembaga dan lain-lain. Peristiwa ini
dapat juga disebabkan oleh kontaminasi uap dari produk hasil proses produksi. Sumber deposit
didalam air seperti garam-garam yang terlarut dan zat-zat yang tersuspensi didalam air umpan
boiler.
4. Kontaminasi Uap (steam carryover)
Ketika air boiler mengandung garam terlarut dan zat tersuspensi dengan konsentrasi yang
tinggi, ada kecendrungan baginya untuk membentuk busa secara berlebihan sehingga dapat
menyebabkan steam carryover zat-zat padat dan cairan pengotor kedalam uap. Steam
carryover terjadi jika mineral-mineral dari boiler ikut keluar bersama dengan uap ke alat-alat
seperti superheater, turbin, dan lain-lain.

2.4 Nilai Pembakaran Bahan Bakar


Bahan bakar adalah zat kimia yang apabila direaksikan dengan oksigen (02) akan
menghasilkan sejumlah kalor. Bahan bakar dapat berwujud gas, cair, maupun padat. Selain
itu, bahan bakar merupakan suatu senyawa yang tersusun atas beberapa unsur seperti
karbon (C), hidrogen (H), belerang (S), dan nitrogen (N).
Kualitas bahan bakar ditentukan oleh kemampuan bahan bakar untuk
menghasilkan energi. Kemampuan bahan bakar untuk menghasilkan energi ini sangat
ditentukan oleh nilai bahan bakar yang didefinisikan sebagai jumlah energi yang dihasilkan
pada proses pembakaran per satuan massa atau persatuan volume bahan bakar.
Nilai pembakaran ditentukan oleh komposisi kandungan unsur di dalam bahan
bakar. Dikenal dua jenis pembakaran (ESM, Tambunan, Fajar H Karo 1984:33), yaitu:
1. Nilai Kalor Pembakaran Tinggi
Nilai kalor pembakaran tinggi atau juga dikenal dengan istilah High Heating Value
(HHV) adalah nilai pembakaran dimana panas pengembunan air dari proses
pembakaran ikut diperhitungkan sebagai panas dari proses pembakaran.
Dirumuskan dengan:
HHV = 7986C + 33575(H - O/8) + 2190S…………………………(2.1a)
2. Nilai Kalor Pembakaran Rendah
Nilai kalor pembakaran rendah atau juga dikenal dengan istilah Low Heating Value
(LHV) adalah nilai pembakaran dimana panas pengembunan uap air dari hasil
pembakaran tidak ikut dihitung sebagai panas dari proses pembakaran.
Dirumuskan dengan:
LHV = HHV – 600(9H + Mm)……………………………………...(2.1b)
Dimana Mm merupakan kelembaban bahan bakar.
2.5 Kebutuhan Udara Pembakaran
Pembakaran adalah proses persenyawaan bagian dari bahan bakar dengan O2
dengan disertai kalor. Pembakaran akan terjadi jika titik nyala telah dicapai oleh campuran
bahan bakar dengan udara.
Di dalam teknik pembakaran diperlukan jumlah udara yang memadai (udara
berlebih) sehingga pembakaran yang terjadi akan sempurna. Untuk mengetahui jumlah
keperluan udara pada proses pembakaran harus diketahui kandungan O2 dalam udara.
Komposisi unsur-unsur yang terkandung dalam udara menurut satuan berat (buku STEAM
it’s generation and use, Babcok and Willcox, table 4 hal 9-5) adalah:
- 02 sebanyak 23%
- N2 sebanyak 77%
Reaksi pembakaran yang terjadi dapat dinyatakan dalam satu satuan berat
molekul. Maka reaksi pembakaran dari unsur-unsur bahan bakar adalah sebagai berikut:
1. Zat Belerang terbakar menurut:
𝑆 + 𝑂2 → 𝑆𝑂2
Untuk pembakaran belerang diperlukan
32𝑘𝑔𝑂2 1𝑘𝑔𝑂2

32𝑘𝑔𝑆 𝑘𝑔𝑆
Dalam pembakaran belerang dihasilkan SO2 sebanyak:
64𝑘𝑔𝑆𝑂2 2𝑘𝑔𝑂2

32𝑘𝑔𝑆 𝑘𝑔𝑆

2. Zat Karbon terbakar menurut:


𝐶 + 𝑂2 → 𝐶𝑂2
12𝑘𝑔𝐶 + 32𝑘𝑔𝑂2 → 44𝑘𝑔𝐶𝑂2
Dalam pembakaran karbon diperlukan:
32𝑘𝑔𝑂2 2,66𝑘𝑔𝑂2

32𝑘𝑔𝐶 𝑘𝑔𝐶
Dalam pembakaran karbon dihasilkan CO2 sebesar:
44𝑘𝑔𝐶𝑂2 3,66𝑘𝑔𝐶𝑂2

12𝑘𝑔𝐶 𝑘𝑔𝐶

3. Hidrogen terbakar menurut:


𝐻2 + 1⁄2 𝑂2 → 𝐻2 𝑂
2𝑘𝑔𝐻2 + 16𝑘𝑔𝑂2 → 18𝑘𝑔𝐻2 𝑂
Maka:
16𝑘𝑔𝑂2 8𝑘𝑔𝑂2

2𝑘𝑔𝐻2 𝑘𝑔𝐻2
Pembakaran H2 menghasilkan H2O sebanyak:
18𝑘𝑔𝐻2 𝑂 9𝑘𝑔𝐻2 𝑂

2𝑘𝑔𝐻2 𝑘𝑔𝐻2
Kebutuhan udara pembakaran didefinisikan sebagai kebutuhan oksigen yang
diperlukan untuk pembakaran 1 kg bahan bakar secara sempurna (ESM. Tambunan, Fajar
H karo 1984:34), yang meliputi:
a. Kebutuhan udara teoritis (Ut):
Ut = 11,5C + 34,5(H – O/8) + 4,32 S (kg/kgBB)……………………(2.2a)
b. Kebutuhan udara pembakaran sebenarnya/aktual (Us):
Us = Ut (1+α) (kg/kgBB)…………………………………………….(2.2b)

2.6 Gas Asap


Reaksi pembakaran akan menghasilkan gas baru, udara lebih dari sejumlah
energi. Senyawa-senyawa yang merupakan hasil dari reaksi pembakaran disebut gas asap.
(ESM. Tambunan, Fajar H karo 1984:34)
a. Berat gas asap teoriti (Gt)
Gt = Ut + (1 – A)(kg/kgBB)………………………………………..(2.3a)
Dimana A = kandungan abu dalam bahan bakar (ash)
Gas asap yang terjadi terdiri dari:
- Hasil reaksi atas pembakaran unsur-unsur bahan bakar dengan O2 dari udara seperti
CO2, H2O, SO2
- Unsur N2 dari udara yang tidak ikut bereaksi
- Sisa kelebihan udara
Dari reaksi pembakaran sebelumnya diketahui:
1 kg C menghasilkan 3,66 kg CO2
1 kg S menghasilkan 1,996 kg SO2
1 kg H menghasilkan 8,9836 kg H2O
Maka untuk menghitung berat gas asap pembakaran perlu dihitung dulu masing-masing
komponen gas asap tersebut (Ir. Syamsir A. Muin, Pesawat-pesawat Konversi Energi 1
(Ketel Uap) 1988:196):
Berat CO2 = 3,66 C kg/kg
Berat SO2 = 2 S kg/kg
Berat H2O = 9 H2 kg/kg
Berat N2 = 77% Us kg/kg
Berat O2 = 23% Ut
Dari perhitungan di atas maka akan didapatkan jumlah gas asap:
Berat gas asap (Gs) = W CO2 + W SO2 + W H2O + W N2 + W O2
Atau:
b. Berat gas asap sebenarnya (Gs)
Gs = Us + (1 – A) (kg/kg BB)………………………………………(2.3b)
Untuk menentukan komposisi dari gas asap didapatkan:
Kadar gas = (W gas tersebut / W total gas) x 100%

2.7 Karbon Yang Tidak Terbakar


Dari proses pembakaran selama terbentuk gas-gas asap, juga akan terbentuk solid refuse
(Msr) dimana solid refuse ini terdiri dari abu refuse (Ar), dan karbon refuse (Cr). (ESM.
Tambunan, Fajar H karo 1984:35) Persamaannya adalah:
mbb + Us = Gs + Msr………………………………………...…(4.4a)
sedangkan dari perhitungan refuse didapatkan persamaan:
Msr . Ar = mbb . A
Atau
𝑚𝑏𝑏 .𝐴
𝐴𝑟 = × 100%....................................................................(4.4b)
𝑀𝑠𝑟

Maka karbon yang tidak terbakar dalam terak (Cr) adalah:


Cr = 100% - Ar…………………………………………………(4.4c)
Sehingga massa refuse (Mr) yang terjadi tiap jamnya adalah:
Mr = Cr.mbb (kg/jam)…………………………………………..(4.4d)
Dimana:
mbb = massa bahan bakar
Us = massa udara pembakaran sebenarnya (kg/kgBB)
Gs = berat gas asap sebenarnya (kg/kgBB)
Msr = massa solid refuse (kg/kgBB)
Ar = prosentase solid refuse dalam abu
A = prosentase abu dalam bahan bakar
2.8 Karbon Aktual Yang Habis Terbakar (Ct)
Panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar dalam dapur ketel tidaklah
seluruhnya digunakan untuk membentuk uap, karena sebagian panas tersebut ada yang
hilang. (ESM. Tambunan, Fajar H karo 1984:35). Panas yang hilang dari pembakaran
bahan bakar dalam dapur ketel merupakan kerugian-kerugian kalor yang diantaranya
adalah sebagai berikut:
a. Kerugian kalor karena bahan bakar (Q1)
Kerugian ini disebabkan karena adanya kandungan air dalam bahan bakar, dimana
besarnya dapat dirumuskan sebagai berikut:
𝑄1 = 𝑀𝑚 . (ℎ𝑔 − ℎ𝑓 )………………………………………………….(4.6a)
Dimana:
Q1 = kerugian kalor karena kelembaban bahan bakar (btu/lb BB)
Mm = prosentase kelembaban bahan bakar
hg = entalpi uap super panas pada temperatur gas buang (btu/lb)
hf = entalpi pada temperatur udara ruang (btu/lb)

b. Kerugian kalor karena hidrogen (H) yang terdapat dalam bahan bakar (Q2)
Kerugian ini disebabkan karena kandungan unsur hidrogen (H) dalam bahan bakar,
yang bila terbakar akan bereaksi dengan oksigen dari udara dan berbentuk uap air
(H2O).
Besarnya kerugian ini dirumuskan dengan:
𝑄2 = 9𝐻𝑦 (ℎ𝑔 − ℎ𝑓 )………………………………………………….(4.6b)
Dimana Hy = prosentase hidrogen dalam bahan bakar.
c. Kerugian kalor untuk menguapkan air yang terdapat dalam udara pembakaran (Q3)
Karena udara yang masuk ke dalam ruangan pembakaran tidak kering dan masih
mengandung air, maka terdapat panas yang hilang untuk menguapkan air yang
terkandung dalam udara tersebut.
Besarnya kerugian kalor ini dapat dirumuskan dengan:
𝑄3 = 𝑈𝑠 . 𝑀𝑣 . 0,6(𝑡𝑔 − 𝑡𝑎 )……………………………………………(4.6c)
Dimana:
Us = berat udara pembakaran sebenarnya (lb/lb BB)
Mv = prosentase penguapan udara masuk dapur dikalikan dengan nilai
kelembaban udara pada temperatur ruang.
tg = temperatur gas buang (0F)
ta = temperatur ruang (0F)

d. Kerugian kalor karena pembakaran yang tidak sempurna (Q4)


Gas CO yang terdapat dalam gas asap menunjukkan bahwa sebagian bahan bakar ada
yang terbakar tidak sempurna. Hal ini terjadi karena kekurangan udara atau distribusi
udara yang kurang baik.
Kerugian kalor akibat pembakaran yang tidak sempurna ini dirumuskan dengan:
𝐶𝑂
𝑄4 = 𝐶𝑂 × 10160𝐶1……………………………………………(4.6d)
2 +𝐶𝑂

Dimana:
CO = prosentase gas CO dalam asap
CO2 = prosentase gas CO2 dalam asap
C1 = karbon actual yang habis terbakar (lb/lb BB)

e. Kerugian kalor karena terdapat unsur karbon yang tidak ikut terbakar dalam sisa
pembakaran (Q5)
Kerugian ini dapat dirumuskan dengan:
14540𝑀𝑟 𝐶𝑟
𝑄5 = ……………………………………………….............(4.6e)
𝑀𝑏𝑏

Dimana:
Mr = massa refuse (lb/jam)
Cr = prosentase karbon yang tidak terbakar dalam refuse
Mbb = laju aliran massa bahan bakar (lb/jam)
f. Kerugian cerobong (Q6)
Kerugian cerobong ini disebabkan oleh gas asap yang meninggalkan cerobong masih
mengandung energi tinggi.
Kerugian cerobong dirumuskan dengan:
𝑄6 = 𝐺𝑠 . 𝐶𝑝 (𝑡𝑔 − 𝑡𝑎 )………………………………………………....(4.6f)
Dimana:
Gs = berat gas asap sebenarnya (kg/kg)
tg = temperatur gas buang (0K)
ta = temperatur udara ruang (0K)
Cp = panas jenis rata-rata dari gas asap (kJ/kg0K)

g. Kerugian kalor karena radiasi dan lain-lain (Q7)


Terjadi akibat penghantaran dan pemancaran panas dari peralatan ketel, misalnya pada
badan ketel dan lain-lain.
Besarnya kerugian ini dirumuskan dengan:
𝑄7 = 4%. 𝐿𝐻𝑉…………………………………………………….…(4.6g)
Apabila rugi-rugi kalor tersebut di atas dinyatakan dalam prosentase, maka
persamaannya adalah sebagai berikut:
𝑄
𝑄𝑛∗ = 𝐿𝐻𝑉
𝑛
× 100%................................................................................(4.6h)

Dimana Qn merupakan rugi-rugi kalor dari Q1 sampai Q7

2.9 Rumus Perhitungan Efisiensi Ketel Uap


Dengan diketahuinya kerugian-kerugian kalor dari hasil pembakaran pada suatu
ketel, maka dapat dihitung efisiensi dari ketel tersebut, yang besarnya dirumuskan:
𝐿𝐻𝑉−(𝑟𝑢𝑔𝑖2 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙)
η= × 100%
𝐿𝐻𝑉

= 100% − (𝑄1 + 𝑄2 + 𝑄3 + 𝑄4 + 𝑄5 + 𝑄6 + 𝑄7 )……………………..(4.7)


(w. Culp, Archie. Jr.1989:211)
2.10 Rumus Perhitungan Kapasitas Produksi Ketel Uap (Mu)
Dirumuskan dengan:
𝑀𝑢 = 𝑄𝑎𝑖𝑟 . 𝜌𝑎𝑖𝑟 . 𝐹…………………………………………………….(4.8)
Dimana:
Qair = debit air (m3/jam)
ρair = massa jenis air (kg/m3)
F = faktor koreksi terhadap kotoran dan endapan
2.11 Perhitungan Efisiensi Berdasarkan Neraca Kalor
Dikenal juga sebagai ‘metode input-output’ karena kenyataan bahwa metode ini
hanya memerlukan keluaran/output (steam) dan panas masuk/input (bahan bakar) untuk
evaluasi efisiensi.
Efisiensi ini dapat dievaluasi dengan menggunakan rumus:
𝑝𝑎𝑛𝑎𝑠 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟
Efisiensi Boiler ( ) = 𝑝𝑎𝑛𝑎𝑠 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘x 100%.......................................(4.9a)
𝑄(ℎ𝑔 −ℎ𝑓 )
Efisiensi Boiler ( ) = x 100%............................................(4.9b)
𝑞×𝐿𝐻𝑉

Parameter yang dipantau untuk perhitungan efisiensi boiler dengan metode


langsung adalah:
- Jumlah steam yang dihasilkan per jam (Q) dalam kg/jam
- Jumlah bahan bakar yang digunakan per jam (q) dalam kg/jam
- Tekanan kerja (dalam kg/cm2(g)) dan suhu lewat panas (0C), jika ada
- Suhu air umpan (0C)
Dimana:
- hg = Entalpi steam jenuh dalam kkal/kg steam
- hf = Entalpi air umpan dalam kkal/kg air

2.12 Rumus Perhitungan Efisiensi Boiler Menurut ASME


Standar acuan untuk Uji Boiler di Tempat dengan menggunakan metode tidak
langsung adalah British Standard, BS 845:1987 dan USA Standard ASME PTC-4-1 Power
Test Code Steam Generating Units.
Metode tidak langsung juga dikenal dengan metode kehilangan panas. Efisiensi
dapat dihitung dengan mengurangkan bagian kehilangan panas dari 100 sebagai berikut:
Efisiensi boiler (n) = 100 - (i + ii + iii + iv + v + vi + vii)
Dimana kehilangan yang terjadi dalam boiler adalah kehilangan panas yang
diakibatkan oleh:
i = Gas cerobong yang kering
ii = Penguapan air yang terbentuk karena H2 dalam bahan bakar
iii = Penguapan kadar air dalam bahan bakar
iv = Adanya kadar air dalam udara pembakaran
v = Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu terbang/ fly ash
vi = Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu bawah/ bottom ash
vii = Radiasi dan kehilangan lain yang tidak terhitung
Kehilangan yang diakibatkan oleh kadar air dalam bahan bakar dan yang
disebabkan oleh pembakaran hidrogen tergantung pada bahan bakar, dan tidak dapat
dikendalikan oleh perancangan.
Data yang diperlukan untuk perhitungan efisiensi boiler dengan menggunakan
metode tidak langsung adalah:
- Analisis ultimate bahan bakar (H2, O2, S, C, kadar air, kadar abu)
- Persentase oksigen atau CO2 dalam gas buang
- Suhu gas buang dalam 0C (Tf)
- Suhu ambien dalam 0C (Ta) dan kelembaban udara dalam kg/kg udara kering
- Nilai kalor bahan bakar dalam kkal/kg
- Persentase bahan yang dapat terbakar dalam abu (untuk bahan bakar padat)
Prosedur rinci untuk perhitungan efisiensi boiler menggunakan metode tidak
langsung diberikan dibawah. Biasanya, manager energi di industri lebih menyukai prosedur
perhitungan yang lebih sederhana.
Tahap 1: Menghitung kebutuhan udara teoritis
= [(11,43 x C) + {34,5 x (H2 – O2/8)} + (4,32 x S)]/100 kg/kg bahan bakar

Tahap 2: Menghitung persen kelebihan udara yang dipasok (EA)


persen O2 × 100
=
(21 − persen O2 )
Tahap 3: Menghitung massa udara sebenarnya yang dipasok/ kg bahan bakar (AAS)
= {1 + EA/100} x udara teoritis
Tahap 4: Memperkirakan seluruh kehilangan panas
 Persentase kehilangan panas yang diakibatkan oeh gas buang yang kering
𝑚 × 𝐶𝑝 × (𝑇𝑓 − 𝑇𝑎 ) × 100
=
𝐿𝐻𝑉
Dimana, m = massa gas buang kering dalam kg/kg bahan bakar
m = (massa hasil pembakaran kering / kg bahan bakar) + (massa N2 dalam bahan
bakar pada basis 1 kg) + (massa N2 dalam massa udara pasokan yang sebenarnya).
Cp = Panas jenis gas buang (kkal.K/kg )
 Persen kehilangan panas karena penguapan air yang terbentuk karena adanya H2
dalam bahan bakar
9 × 𝐻2 × {584 + 𝐶𝑝 (𝑇𝑓 − 𝑇𝑎 )} × 100
=
𝐿𝐻𝑉
Dimana,H2 = persen H2 dalam 1 kg bahan bakar
Cp = panas jenis steam lewat jenuh/superheated steam (kkal.K/kg )
 Persen kehilangan panas karena penguapan kadar air dalam bahan bakar
M{584 + Cp(Tf − Ta) × 100
=
𝐿𝐻𝑉
Dimana, M – persen kadar air dalam 1 kg bahan bakar
Cp = panas jenis steam lewat jenuh/superheated steam (kkal.K/kg )
 Persen kehilangan panas karena kadar air dalam udara
AAS × faktor kelembabanxCp(Tf − Ta)} × 100
=
𝐿𝐻𝑉
Dimana, Cp = panas jenis steam lewat jenuh/superheated steam (kkal.K/kg )
 Persen kehilangan panas karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu terbang/
fly ash
Total abu per kg bahan bakar yang terbakar × GCV abu terbang × 100
=
𝐿𝐻𝑉
 Persen kehilangan panas karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu bawah/
bottom ash
Total abu terkumpul per kg bahan bakar yang terbakar × GCV abu bawah
=
𝐿𝐻𝑉
 persen kehilangan panas karena radiasi dan kehilangan lain yang tidak terhitung
Kehilangan radiasi dan konveksi aktual sulit dikaji sebab daya emisifitas
permukaan yang beraneka ragam, kemiringan, pola aliran udara, dll. Pada boiler yang
relatif kecil, dengan kapasitas 10 MW, kehilangan radiasi dan yang tidak terhitung dapat
mencapai 1 hingga 2 persen nilai kalor kotor bahan bakar, sementara pada boiler 500 MW
nilainya 0,2 hingga 1 persen. Kehilangan dapat diasumsikan secara tepat tergantung pada
kondisi permukaan.
Tahap 5: Menghitung efisiensi boiler dan rasio penguapan boiler
Efisiensi boiler (n) = 100 - (i + ii + iii + iv + v + vi + vii)
Rasio Penguapan = Panas yang digunakan untuk pembangkitan steam/ panas yang
ditambahkan ke steam
Rasio penguapan yaitu kilogram steam yang dihasilkan per kilogram bahan bakar
yang digunakan. Contohnya adalah:
 Boiler berbahan bakar batubara: 6 (yaitu 1 kg batubara dapat menghasilkan 6 kg
steam)
 Boiler berbahan bakar minyak: 13 (yaitu 1 kg batubara dapat menghasilkan 13 kg
steam)
Walau demikian, rasio penguapan akan tergantung pada jenis boiler, nilai kalor
bahan bakar dan efisiensi.
BAB III
METODE PERHITUNGAN
3.1 Metode Pengambilan Data
Metode penulisan yang digunakan dalam mendapatkan data untuk penyusunan laporan
kerja praktek ini adalah:
1. Metode Studi Literatur dan Studi Pustaka
Metode ini dilakukan dengan membaca buku manual operasional perusahaan dan buku
pendukung tentang Boiler pada PT. STYRINDO MONO INDONESIA untuk mendapatkan
data spesifikasi desain Boiler BF-652.

2. Metode Wawancara
Metode ini dilakukan dengan tanya jawab atau diskusi dengan tenaga kerja perusahaan
untuk mendapatkan informasi tentang performans pada Boiler BF-652 dan juga untuk
mendapatkan data operasional Boiler BF-652.
3. Metode Observasi
Metode ini dilakukan dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap parameter
yang akan digunakan untuk menghitung efisiensi boiler BF-652.

Dari pengambilan data yang dilakukan didapatkan data-data yang kemudian diolah untuk
mencari nilai Kapasitas produksi uap, entalpi uap, entalpi feedwater, konsumsi bahan bakar,
nilai kalor pembakaran.

3.2 Dasar Perhitungan


3.2.1 Teori Perhitungan Efisiensi Metode Langsung
Energi yang didapat dari fluida kerja (air dan steam) dibandingkan dengan energi yang
terkandung dalam bahan bakar boiler. Metodologi ini dikenal juga sebagai metode input-
output’ karena kenyataan bahwa metode ini hanya memerlukan keluaran/output (steam) dan
panas masuk/input (bahan bakar) untuk evaluasi efisiensi. Efisiensi ini dapat dievaluasi dengan
menggunakan rumus :
Panas Pembentukan Uap
Efisiensi Boiler (η) = Panas Masuk

Panas masuk merupakan energi yang dibutuhkan oleh boiler untuk menghasilkan energi.
Energi masuk Boiler didapat dari hasil pembakaran batubara. Sedangkan Panas Pembentukan
Uap merupakan energi yang dihasilkan oleh Boiler yaitu merupakan jumlah keseluruhan energi
dari superheater dan reheater. Adapun untuk mencari nilai keduanya disajikan dalam rumus
dibawah ini :

Ws ∗ hmain steam − hfeedwater


Efisiensi Boiler (η) = Wf ∗ HHV

Dimana :

Ws = Kapasitas Produksi Uap (kg/h)

hmain steam = Entalpi Uap (kkal/kg)

hfeedwater = Entalpi Feedwater (kkal/kg)

Wf = Konsumsi Bahan Bakar (kg/h)

HHV = Nilai Kalor Pembakaran. (kkal/kg)

3.2.2 Metode Tidak Langsung

Standar acuan untuk Uji Boiler di Tempat dengan menggunakan metode tidak langsung
adalah British Standard, BS 845:1987 dan USA Standard ASME PTC-4-1 Power Test Code
Steam Generating Units.
Metode tidak langsung juga dikenal dengan metode kehilangan panas. Efisiensi dapat
dihitung dengan mengurangkan bagian kehilangan panas dari 100 sebagai berikut:
Efisiensi boiler (n) = 100 - (i + ii + iii + iv + v + vi + vii)
Dimana kehilangan yang terjadi dalam boiler adalah kehilangan panas yang diakibatkan oleh:
i = Gas cerobong yang kering
ii = Penguapan air yang terbentuk karena H2 dalam bahan bakar
iii = Penguapan kadar air dalam bahan bakar
iv = Adanya kadar air dalam udara pembakaran
v = Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu terbang/ fly ash
vi = Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu bawah/ bottom ash
vii = Radiasi dan kehilangan lain yang tidak terhitung
Kehilangan yang diakibatkan oleh kadar air dalam bahan bakar dan yang disebabkan oleh
pembakaran hidrogen tergantung pada bahan bakar, dan tidak dapat dikendalikan oleh
perancangan.
Data yang diperlukan untuk perhitungan efisiensi boiler dengan menggunakan metode
tidak langsung adalah:
- Analisis ultimate bahan bakar (H2, O2, S, C, kadar air, kadar abu)
- Persentase oksigen atau CO2 dalam gas buang
- Suhu gas buang dalam 0C (Tf)
- Suhu ambien dalam 0C (Ta) dan kelembaban udara dalam kg/kg udara kering
- Nilai kalor bahan bakar dalam kkal/kg
- Persentase bahan yang dapat terbakar dalam abu (untuk bahan bakar padat)
Prosedur rinci untuk perhitungan efisiensi boiler menggunakan metode tidak langsung
diberikan dibawah. Biasanya, manager energi di industri lebih menyukai prosedur perhitungan
yang lebih sederhana.
Tahap 1: Menghitung kebutuhan udara teoritis
= [(11,43 x C) + {34,5 x (H2 – O2/8)} + (4,32 x S)]/100 kg/kg bahan bakar
Tahap 2: Menghitung persen kelebihan udara yang dipasok (EA)
persen O2 × 100
=
(21 − persen O2 )
Tahap 3: Menghitung massa udara sebenarnya yang dipasok/ kg bahan bakar (AAS)
= {1 + EA/100} x udara teoritis
Tahap 4: Memperkirakan seluruh kehilangan panas
 Persentase kehilangan panas yang diakibatkan oeh gas buang yang kering
𝑚 × 𝐶𝑝 × (𝑇𝑓 − 𝑇𝑎 ) × 100
=
𝐿𝐻𝑉
Dimana:
m = massa gas buang kering dalam kg/kg bahan bakar
m = (massa hasil pembakaran kering / kg bahan bakar) + (massa N2 dalam bahan bakar pada
basis 1 kg) + (massa N2 dalam massa udara pasokan yang sebenarnya).
Cp = Panas jenis gas buang (kkal.K/kg )
 Persen kehilangan panas karena penguapan air yang terbentuk karena adanya H2
dalam bahan bakar
9 × 𝐻2 × {584 + 𝐶𝑝 (𝑇𝑓 − 𝑇𝑎 )} × 100
=
𝐿𝐻𝑉
Dimana:
H2 = persen H2 dalam 1 kg bahan bakar
Cp = panas jenis steam lewat jenuh/superheated steam (kkal.K/kg )
 Persen kehilangan panas karena penguapan kadar air dalam bahan bakar
M{584 + Cp(Tf − Ta) × 100
=
𝐿𝐻𝑉
Dimana:
M – persen kadar air dalam 1 kg bahan bakar
Cp = panas jenis steam lewat jenuh/superheated steam (kkal.K/kg )
 Persen kehilangan panas karena kadar air dalam udara
AAS × faktor kelembabanxCp(Tf − Ta)} × 100
=
𝐿𝐻𝑉
Dimana, Cp = panas jenis steam lewat jenuh/superheated steam (kkal.K/kg )
 Persen kehilangan panas karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu terbang/
fly ash
Total abu per kg bahan bakar yang terbakar × GCV abu terbang × 100
=
𝐿𝐻𝑉
 Persen kehilangan panas karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu bawah/
bottom ash
Total abu terkumpul per kg bahan bakar yang terbakar × GCV abu bawah
=
𝐿𝐻𝑉
 persen kehilangan panas karena radiasi dan kehilangan lain yang tidak terhitung
Kehilangan radiasi dan konveksi aktual sulit dikaji sebab daya emisifitas
permukaan yang beraneka ragam, kemiringan, pola aliran udara, dll. Pada boiler yang
relatif kecil, dengan kapasitas 10 MW, kehilangan radiasi dan yang tidak terhitung dapat
mencapai 1 hingga 2 persen nilai kalor kotor bahan bakar, sementara pada boiler 500 MW
nilainya 0,2 hingga 1 persen. Kehilangan dapat diasumsikan secara tepat tergantung pada
kondisi permukaan.
Tahap 5: Menghitung efisiensi boiler dan rasio penguapan boiler
Efisiensi boiler (n) = 100 - (i + ii + iii + iv + v + vi + vii)
Rasio Penguapan = Panas yang digunakan untuk pembangkitan steam/ panas yang
ditambahkan ke steam. Rasio penguapan yaitu kilogram steam yang dihasilkan per kilogram
bahan bakar yang digunakan. Contohnya adalah:
 Boiler berbahan bakar batubara: 6 (yaitu 1 kg batubara dapat menghasilkan 6 kg
steam)
 Boiler berbahan bakar minyak: 13 (yaitu 1 kg batubara dapat menghasilkan 13 kg
steam)
Walau demikian, rasio penguapan akan tergantung pada jenis boiler, nilai kalor bahan bakar
dan efisiensi.
3.3 Data Pendukung

Data yang diperlukan untuk menghitung efisiensi boiler dengan metode langsung dan tidak
langsung adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Data metode langsung

Parameter Nilai

P steam (kPa) 2157,46


T steam (°C) 276
Flow steam (kg/jam) 6470
T BFW (°C) 120
GCV Tar (kkal/kg) 8747,62
Flow Tar (kkal/kg) 547,962

Tabel 2. Data metode tidak langsung

Parameter Nilai
Analisa ultimate Tar:
C (%) 97,215
H₂ (%) 2,72
S (%) 0,065
O₂ (%) 0
N₂ (%) 0
H₂O (%) 0
Abu (%) 0

GCV Tar (kcal/kg) 8747,6196


O₂ buang (%) 13,64
T gas buang, Tf (°C) 300
T ambien, Ta (°C) 27
Kelembaban (kg/kg
0,024
udara kering)
Cp gas buang
(kcal.K/kg) 0,248
Cp steam (kcal.K/kg) 1,577
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Perhitungan lapangan

4.1.1 Metode Langsung

Panas Pembentukan Uap


Efisiensi Boiler (η) = 𝑥100%
Panas Masuk

Ws x ( hmain steam − hfeedwater)


Efisiensi Boiler (η) = 𝑥100%
Wf x HHV

6470 kg/jam x (714,74 kcal/kg − 120,38 kcal/kg)


Efisiensi Boiler (η) = kg 𝑥100%
547,96 x 8747,62 kcal/kg
jam

Efisiensi Boiler (η) = 80,225 %

4.1.2 Metode Tidak Langsung

Tahap 1: Menghitung kebutuhan udara teoritis


= [(11,43 x C) + {34,5 x (H2 – O2/8)} + (4,32 x S)]/100 kg/kg bahan bakar
= [(11,43 x 97,215) + {34,5 x (2,72 – 0/8)} + (4,32 x 0,065)]/100 kg/kg bahan bakar
= 12,052 kg/kg bahan bakar
Tahap 2: Menghitung persen kelebihan udara yang dipasok (EA)
persen O ×100
2
EA= (21−persen O 2)

13,64×100
EA= (21−13,64)

EA= 185,32%
Tahap 3: Menghitung massa udara sebenarnya yang dipasok/ kg bahan bakar (AAS)
= {1 + EA/100} x udara teoritis
= {1 + 185,32/100} x 12,052 kg/kg bahan bakar
= 34,39 kg udara/kg bahan bakar
Tahap 4: Memperkirakan seluruh kehilangan panas
a. Persentase kehilangan panas yang diakibatkan oeh gas buang yang kering
𝑚 × 𝐶𝑝 × (𝑇𝑓 − 𝑇𝑎 ) × 100
=
𝐿𝐻𝑉
Dimana, m = massa gas buang kering dalam kg/kg bahan bakar
 m = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐶𝑂₂ + 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑆𝑂₂ + 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑁₂ + 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑂₂
𝑀𝑟.𝐶𝑂₂ 𝑀𝑟.𝑆𝑂₂ %𝑁₂𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎
m= (%𝐶 ∗ ) + (%𝑆 ∗ ) + (𝐴𝐴𝑆 ∗ ) + (%𝑂₂𝑔𝑎𝑠 𝑏𝑢𝑎𝑛𝑔 ∗ %𝑂₂𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎)
𝐴𝑟.𝐶 𝑀𝑟.𝑂₂ 100
44 64 77
m= (0,97 ∗ 12) + (0,00065134 ∗ 32) + (34,39 ∗ 100) + (0,1364 ∗ 32)

m= 34,41
 Cp gas buang:
Sesuai dengan tabel 41.13 Combustion Gases E.Hugot 1986 hal 932

Tabel 1. Panas Jenis Gas Buang Boiler

Temperatur Gas Spesifik Heat (Cp)


( 0C ) (kkal/kg.0C)
0 0,199
50 0,207
100 0,215
150 0,224
200 0,232
250 0,240
300 0,248
350 0,256

Maka Cp gas buang = 0,248 (kkal/kg.0C)

 Persentase kehilangan panas yang diakibatkan oeh gas buang yang kering:
34,41 × 0,2 × (300 − 27) × 100
=
8747,61
= 26,633 %
b. Persen kehilangan panas karena penguapan air yang terbentuk karena adanya
H₂ dalam bahan bakar
9 × 𝐻2 × {584 + 𝐶𝑝 (𝑇𝑓 − 𝑇𝑎 )} × 100
=
𝐿𝐻𝑉
9 × 2,72 × {584 + 1,69(300 − 27)} × 100
=
8747,61
= 2,839 %
c. Persen kehilangan panas karena uap air dalam udara
AAS × faktor kelembabanxCp(Tf − Ta)} × 100
=
𝐿𝐻𝑉
34,39 × 0,024x1,69(300 − 27)} × 100
=
8747,61
= 4,063%
d. Persen kehilangan panas karena penguapan kadar air dalam bahan bakar
M{584 + Cp(Tf − Ta) × 100
=
𝐿𝐻𝑉
= 0%

e. Persen kehilangan panas karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu
terbang/ fly ash
Total abu per kg bahan bakar yang terbakar × GCV abu terbang × 100
=
𝐿𝐻𝑉
= 0%
f. Persen kehilangan panas karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu
bawah/ bottom ash
Total abu terkumpul per kg bahan bakar yang terbakar × GCV abu bawah
=
𝐿𝐻𝑉
= 0%
g. Persen kehilangan panas karena radiasi

Gambar 4. Garfik radiasi dan konveksi loss


Diketahui:
 steam capacity (efisiensi saat 100%)
100% 𝑥 6,47 𝑇/ℎ
80,266%
𝑇 𝐼𝑏
= 8,064 = 16.129,3
ℎ ℎ
 Efisiensi/boiler load (berdasarkan perhitungan langsung) = 80,266%
 Dengan menggunakan grafik dari The American Boiler Manufacturers’ Association
(ABMA) didapat nilai hilang radiasi dan konveksi= 1,3%
Tahap 5: Menghitung efisiensi boiler
Efisiensi boiler (n) = 100% - (21,478 + 2,925 + 4,353 + 2,5)%
Efisiensi boiler (n) = 65,164 %

4.2 Hasil Perhitungan Evaluasi


Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)
300 13,64 20 65,95379615
250 71,7088014
200 77,93863373
150 83,85376592
100 89,48291435
50 94,74897751

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 13,64 40 68,84457868
250 74,61808561
200 80,12037945
150 85,35146021
100 90,33607608
50 95,00777986

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 13,64 60 72,05655927
250 77,15715569
200 82,02449225
150 86,65856894
100 91,08067072
50 95,23364893

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 13,64 80 75,26853987
250 79,69622578
200 83,92860505
150 87,96567766
100 91,82526536
50 95,45951801

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 13,64 100 78,48052046
250 82,23529587
200 85,83271785
150 89,27278639
100 92,56986
50 95,68538708
Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)
300 11 20 72,30148222
250 77,37903255
200 82,21354203
150 86,80501066
100 91,17561592
50 95,2658128

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 11 40 74,95068982
250 79,47323069
200 83,78403411
150 87,8831001
100 91,7897497
50 95,45210722

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 11 60 77,16595659
250 81,22439867
200 85,09727922
150 88,78459824
100 92,30328821
50 95,60788657

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 11 80 79,38122336
250 82,97556666
200 86,41052433
150 89,68609638
100 92,81682673
50 95,76366592

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 11 100 81,59649012
250 84,72673465
200 87,72376944
150 90,58759452
100 93,33036525
50 95,91944527

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 9 20 75,80929506
250 80,16509135
200 84,3134062
150 88,2542396
100 92,00652424
50 95,51942717

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 9 40 78,02728767
250 81,91841411
200 85,62826723
150 89,15684701
100 92,52069466
50 95,6753982

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 9 60 79,89914233
250 83,39811489
200 86,73793222
150 89,91859432
100 92,9546241
50 95,80702854

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 9 80 81,77099698
250 84,87781566
200 87,84759721
150 90,68034162
100 93,38855354
50 95,93865887

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 9 100 83,64285164
250 86,35751644
200 88,9572622
150 91,44208893
100 93,82248298
50 96,0702892

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 7 20 78,45640171
250 82,26700967
200 85,89720805
150 89,34699686
100 92,63283846
50 95,71053252

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 7 40 80,40176512
250 83,8048191
200 87,05045019
150 90,13865839
100 93,08380855
50 95,84733205

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 7 60 82,11677919
250 85,16053742
200 88,0671376
150 90,83657975
100 93,48137953
50 95,96793322

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 7 80 83,83179326
250 86,51625574
200 89,08382502
150 91,53450111
100 93,87895052
50 96,0885344

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 7 100 85,54680733
250 87,87197405
200 90,10051243
150 92,23242247
100 94,2765215
50 96,20913557

Temperatur Gas Buang


O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)
(°C)
300 5 20 80,56556698
250 83,94134018
200 87,15847095
150 90,21695931
100 93,13128136
50 95,86256973

Temperatur Gas Buang


O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)
(°C)
300 5 40 82,33741731
250 85,34198755
200 88,2088518
150 90,93801006
100 93,54202801
50 95,98716768

Temperatur Gas Buang


O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)
(°C)
300 5 60 84,012198
250 86,66590139
200 89,20168823
150 91,61955853
100 93,93027218
50 96,10493961

Temperatur Gas Buang


O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)
(°C)
300 5 80 85,68697869
250 87,98981522
200 90,19452466
150 92,301107
100 94,31851634
50 96,22271154

Temperatur Gas Buang


O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)
(°C)
300 5 100 87,36175937
250 89,31372906
200 91,18736109
150 92,98265547
100 94,7067605
50 96,34048347

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 3 20 82,31610467
250 85,33061215
200 88,20470789
150 90,93839189
100 93,54447672
50 95,98856151

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 3 40 83,98051934
250 86,64633165
200 89,19139918
150 91,61572193
100 93,93031786
50 96,1056045

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 3 60 85,69280478
250 87,99989299
200 90,20646902
150 92,31253288
100 94,3272563
50 96,22601379

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 3 80 87,40509022
250 89,35345432
200 91,22153886
150 93,00934383
100 94,72419473
50 96,34642309

Temperatur Gas Buang (°C) O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)


300 3 100 89,11737565
250 90,70701566
200 92,2366087
150 93,70615477
100 95,12113317
50 96,46683238

Temperatur Gas Buang


O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)
(°C)
300 1 20 83,81560305
250 86,52034315
200 89,10042665
150 91,55585356
100 93,8979988
50 96,09632149

Temperatur Gas Buang


O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)
(°C)
300 1 40 85,41883625
250 87,78769871
200 90,0508486
150 92,20828593
100 94,26965698
50 96,20906215

Temperatur Gas Buang


O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)
(°C)
300 1 60 87,22304313
250 89,21392393
200 91,12041092
150 92,94250412
100 94,68790445
50 96,33593543

Temperatur Gas Buang


O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)
(°C)
300 1 80 89,02725002
250 90,64014915
200 92,18997325
150 93,6767223
100 95,10615192
50 96,46280872

Temperatur Gas Buang


O₂ buang(%) O₂ udara (%) Efisiensi (%)
(°C)
300 1 100 90,8314569
250 92,06637437
200 93,25953557
150 94,41094049
100 95,5243994
50 96,58968201

4.3 Pembahasan
Pada dasarnya efisiensi boiler merupakan parameter performa kerja boiler pada setiap
pembangkitan, banyak faktor yang mempengaruhi efisiensi boiler, dan akan dibahas pada
analisa dibawah ini. Efisiensi boiler BF-652 mengalami total rugi panas sebesar 34,835%.
Hilang panas ini dikatakan sangat besar, penurunan ini juga bisa diakibatkan oleh banyak hal,
berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi boiler tersebut.

Pembakaran di dalam sistem boiler selalu membutuhkan udara lebih dengan maksud untuk
mencapai pembakaran sempurna. Untuk meningkatkan efisiensi boiler, besarnya excess air
dapat diatur. Excess air yang rendah menyebabkan pembakaran kurang sempurna sehingga
terbentuk gas CO dan O2. Sedangkan excess air yang terlalu tinggi dapat meningkatkan
kerugian panas yang terbawa oleh gas buang yang keluar melalui cerobong. Terdapat
perbandingan tertentu antara udara pembakaran dengan bahan bakar sehingga boiler akan
bekerja dengan efisiensi terbaiknya. Tar adalah jenis bahan bakar Black Liquor. Berdasarkan
tabel di bawah ini, boiler BF-652 kurang optimum karena memiliki excess air 185% dan %O2
pada stack gas sebesar 13%.
Hasil simulasi menunjukkan Semakin rendah %O2 pada stack gas maka efisiensi semakin
besar.
120

100

80 13,64 O₂ buang(%)
11 O₂ buang(%)
% Efisiensi

60 9 O₂ buang(%)
7 O₂ buang(%)
40 5 O₂ buang(%)
3 O₂ buang(%)
20 1 O₂ buang(%)

0
0 50 100 150 200 250 300 350
Temperatur Gas Buang (°C)

Faktor selanjutnya yaitu temperatur gas buang/flue gas. Tingginya temperatur gas buang
berarti bahwa tingginya panas yang dibawa gas buang. Jika panas tersebut terbawa keluar
cerobong oleh flue gas, maka hal ini merupakan suatu kerugian. Hasil simulasi menunjukkan
Semakin rendah temperatur gas buang pada stack gas maka efisiensi semakin besar.
30

Hilang Panas Gas kering cerobong (%) 25

20
300°C gas buang
250°C gas buang
15
200°C gas buang
150°C gas buang
10
100°C gas buang
50°C gas buang
5

0
0 0.5 1 1.5 2
Rasio udara berlebih

Berdasarkan grafik di atas, rasio udara yang semakin besar maka hilang panas gas kering
juga semakin meningkat. Pada boiler BF-652, rasio udara yang digunakan yaitu 1,8 dengan
temperatur gas buang sebesar 300°C. Maka, persen hilang panas gas kering yaitu sekitar 21%.
Angka ini sesuai dengan perhitungan hilang panas pada gas kering. Solusinya yaitu dengan
menurunkan rasio udara dan menurunkan temperatur gas buang. Rasio udara dapat diturunkan
dengan mengatur laju udara yang masuk. Temperatur gas buang dapat diturunkan dengan
membersihkan boiler secara berkala karena jelaga dapat meningkatkan temperatur gas buang.
Jelaga timbul pada sisi api bidang pemanas boiler menghalangi perpindahan panas. Jika
perpindahan panas ke air boiler berkurang, panas yang terbawa gas buang ke cerobong menjadi
bertambah.
Faktor laju udara bersih yang disuplai melewati air heater. Boiler harus dioperasikan
dengan laju aliran udara yang lebih dari kebutuhan udara teoritis yang dihitung berdasarkan
analisa gas asap. Tetapi udara berlebih yang terlalu banyak juga akan mengakibatkan terjadinya
losses karena pengambilan panas sendiri oleh udara berlebih untuk dibawa bersama gas buang.

Efisiensi boiler juga dapat ditingkatkan dengan menaikkan % oksigen yang terkandung
dalam udara. Hasil simulasi menunjukkan semakin besar kanungan oksigen yang terdapat
dalam udara, maka efisiensi boiler semakin meningkat. Teknologi pembakaran yang
ditingkatkan dengan oksigen dapat membantu meningkatkan kinerja boiler, dengan
menggantikan udara pembakaran dengan oksigen. Pertambahan konsentrasi oksigen yang kecil
pun dapat berdampak besar pada operasi boiler dan kontrol zona pembakaran, terutama saat
menggunakan bahan bakar dengan nilai kalor rendah. Dengan mengurangi atau meniadakan
nitrogen inert yang masuk ke dalam tungku, pembakaran yang ditingkatkan dengan oksigen
berdasarkan hasil simulasi menunjukkan peningkatan efisiensi boiler.

120

100

80
20 O₂ udara (%)
% Efisiensi

60 40 O₂ udara (%)
60 O₂ udara (%)
40 80 O₂ udara (%)
100 O₂ udara (%)
20

0
0 50 100 150 200 250 300 350
Temperatur Gas Buang (°C)

Berbagai penelitian yang telah ada (Pricier, 2015; Ming dkk., 2013; Lalovic dkk., 2011;
Wang dkk., 2011) mengindikasikan bahwa pcnambahan komposisi oksigen dalam proses
pembakaran dapat menigkatkan suhu nyala dalam reaksi pembakaran, yang berkaitan dengan
energi panas yang akan dimanfaatkan dalam proses industri. Untuk kebutuhan energi yang
sama, maka dengan peningkatan komposisi oksigen dalam udara ini dapat menurunkan
konsumsi bahan bakar yang digunakan. Namun untuk memperoleh udara dengan komposisi
oksigen yang tinggi, memerlukan biaya yang lebih tinggi pula. Oleh karena itu diperlukan
perhitungan yang optimal yang dapat mempertimbangkan biaya penghematan konsumsi bahan
bakar dalam penerapan pengayaan oksigen ini. Pada suatu tinjauan termodinamika,
peningkatan kadar oksigen dalam udara pembakaran berarti menurunkan kadar nitrogen dalam
udara pembakaran tersebut. Hal ini terkait dengan terselamatkannya panas pembakaran dari
serapan nitrogen dalam udara pembakaran tersebut, sehingga suhu nyala adiabatis pada proses
pembakaran dapat dipertahankan dalam nilai yang tinggi.
Metode lancing oksigen adalah salah satu cara penggunaan oksigen yang paling hemat
biaya untuk melengkapi pembakaran udara-bahan bakar. Dengan injeksi oksigen yang strategis
di samping, di bawah, atau melalui api udara-bahan bakar, makan dapat meningkatkan efisiensi
bahan bakar. Manfaat lancing oksigen berasal dari pencampuran oksigen dan bahan bakar di
tempat yang paling membutuhkannya; yaitu di area ruang pembakaran yang kekurangan
oksigen, atau di sisi bawah (sisi permukaan kaca) api udara-bahan bakar, yaitu tempat suhu api
berdampak paling besar pada transfer panas ke peleburan.
Selain itu, efisiensi boiler dapat dinaikkan dengan menaikkan temperatur feedwater.
Dengan menaikkan temperatur feedwater, berarti jumlah panas yang diserap oleh feedwater
dari flue gas untuk membentuk uap jadi berkurang. Dengan demikian, pemakaian bahan bakar
menjadi berkurang. Cara untuk menaikkan temperatur feedwater yaitu dengan menggunakan
ekonomiser.

Gambar. Mekanisme economizer


Biro Efisiensi Energi (2004) menyatakan bahwa sebuah economizer dapat dipakai
untuk memanfaatkan panas gas buang untuk pemanasan awal air umpan boiler. Setiap
penurunan 220°C suhu gas buang melalui economizer atau pemanas awal terdapat 1%
penghematan bahan bakar dalam boiler. Setiap kenaikan 60°C suhu air umpan melalui
economizer atau kenaikan 200°C suhu udara pembakaran melalui pemanas awal udara, terdapat
1% penghematan bahan bakar dalam boiler.
apabila suatu boiler menggunakan economizer dan beberapa heater pemanas pembantu
lainnya di dalam proses pemanasan air sebelum dibakar, maka akan lebih meningkatkan
efisiensi dari kerja boiler itu sendiri, karena suhu air sebelum dibakar di dalam boiler sudah
cukup tinggi, berarti pemanasan air menjadi steam di dalam boiler tidak memakan waktu lama
dan tidak menggunakan bahan bakar yang banyak untuk mencapai standar suhu yang telah
ditentukan, maka biaya operasional dapat lebih di efisienkan dan secara tidak langsung dapat
menguntungkan bagi pabrik. Berikut ini adalah keuntungan-keuntungan menggunakan
ekonomiser:
1. Ada penghematan bahan bakar 15 sampai 20%.
2. Meningkatkan kapasitas menghasilkan uap karena memperpendek waktu yang
diperlukan untuk merubah air ke uap.
3. Mencegah pembentukan kerak di dalam pipa air ketel, sebab kerak sekarang
mengendap di pipa ekonomiser yang bisa dengan mudah dibersihkan.
4. Karena air umpan memasuki ketel panas, sehingga regangan karena ekspansi yang tidak
sama bisa diminimasi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan dan analisa efisiensi boiler BF-652, maka dapat
diambil beberapa poin penting yaitu:
a. Efisiensi biler BF-652 dengan metode langsung sebesar 80% dan dengan metode
tidak langsung sebesar 71%.
b. Rasio udara/bahan bakar boiler BF-652 sebesar 1,8 dan udara berlebih 185%.
c. Rugi panas paling besar terjadi pada gas kering dengan nilai 21%/
5.2 Saran

Saran yang dapat diberikan untuk meningkatan efisiensi boiler BF-652 yaitu:

a. Faktor kelebihan udara/excess air


Dengan menurunkan excess air, maka konsumsi bahan bakar akan menjadi lebih sedikit.
Dengan demikian, efisiensi boiler akan meningkat. Pengaturan draft fan dibuat auto
disesuaikan dengan target persen oksigen yang keluar dicerobong asap agar selalu kurang
dari 5 %.
b. Temperatur flue gas
Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi boiler adalah dengan menurunkan
temperatur flue gas serendah mungkin sampai pada batas yang diijinkan, karena
temperatur flue gas yang terlalu rendah akan mengakibatkan korosi pada cerobong.
terdapat dua hal yang dapat menyebabkan tingginya temperatur flue gas, yaitu tidak
cukupnya pemukaan perpindahan panas dan buruknya permukaan perpindahan panas.
Permukaan perpindahan panas dapat ditingkatkan dengan menginstalasi air preheater
atau ekonomiser. Air preheater digunakan untuk meningkatkan temperatur udara
pembakaran dengan memanfaatkan panas flue gas. Ekonomiser digunakan untuk
meningkatkan temperatur air pengisi boiler dan juga menyerap panas dari flue gas. Untuk
memperbaiki permukaan perpindahan panas dapat dilakukan dengan pembersihan pipa-
pipa air dari kotoran.
c. Memasang ekonomizer dengan memanfaatkan gas buang untuk meningkatan
temperatur BFW sehingga mengurangi pemakaiamn bahan bakar.