Anda di halaman 1dari 17

8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Konsep Teori Keperawatan


II.1.1 Konsep Pengetahuan
A. Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu obyek (Notoatmodjo, 2009).
Penginderaan disini yakin pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan
raba. Pengetahuan mempunyai dua pengertian, pertama adalah segala apa
yang diketahui (Kepandaian), kedua adalah segala apa yang diketahui
berkenaan dengan hal (Kamus besar bahasa Indonesia, 2011). Pengetahuan
adalah segala sesuatu yang diketahui, keseluruhan pemikiran, gagasan, ide,
konsep dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala
isinya termasuk manusia dan kehidupannya (Putriazaka, 2010).

B. Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatdmojo (2009) mengemukakan bahwa pengetahuan
yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat adalah
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall). Oleh sebab itu “tahu“ merupakan tingkat pengetahuan
yang paling rendah.
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara
benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan
materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramal dan lain sebagainya.
3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
9

4. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu obyek kedalam komponen-komponen.
5. Sintesis (syntesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru.
6. Evaluasi (evalution)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk


terbentuknya tindakan seseorang karena dari pengalaman dan penelitian
ternyata perilaku yang tidak disadari oleh pengetahuan akan lebih
langgeng dari pada perilaku yang tidak disadari oleh pengetahuan.
Penelitian Rogers (2008), mengungkapkan bahwa sebelum orang adaptasi
perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan sebagai
berikut
a) Awarenes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui stimulus atau objek terlebih dahulu .
b) Interest (merasa tertarik), terhadap stimulus atau objek tersebut, disini
sikap objek sudah mulai tumbuh.
c) Evalution (menimbang-nimbang), terhadap baik tidaknya stimulus
tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik
lagi.
d) Trial (pemeriksaan), dimana objek mulai mencoba melakukan sesuatu
sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.
e) Adaption (mengambil), diman objek telah berperilakusesuai dengan
pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
(Notoatdmojo, 2009).
10

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan


1. Pendidikan
Rendahnya pengetahuan dan pendidikan dasar merupakan faktor
penyebab mendasar terpenting karena sangat mempengaruhi tingkat
kemampuan individu, keluarga dan masyarakat dalam mengelola
sumber daya yang ada untuk mendapatkan kecukupan bahan makan
seta sejauh mana sarana pelayanan kesehatan, sanitasi lingkungan
yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya (Depkes,
2011).
2. Usia
Di Indonesia penduduk usia muda umur 10-14 tahun sudah dapat
membaca dan menulis huruf latin, sedangkan tingkat buta huruf
paling tinggi terdapat pada penduduk usia lanjut (Sukarni, 2011)
3. Pekerjaan
Banyak pabrik mempekerjakan wanita muda yang belum menikah.
Jelas ini suatu kesempatan yang baik untuk melengkapi dengan
bahan-bahan informasi kesehatan dan keluarga berencana kepada
wanita yang belum menikah (Sukarni, 2011).
4. Informasi
Adanya informasi tentang cara-cara mencapai hidup sehat, cara
memelihara kesehatan, cara-cara menghindari penyakit dan
sebagainya akan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hal
tersebut (Notoatdmojo, 2009)
5. Kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai
pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita.
6. Lingkungan
Lingkungan adalah sangat berpengaruh pada diri individu dalam
berperilaku (Purwanto, 2011).
11

D. Kriteria Pengetahuan
Menurut Ircham (2009) penentuan tingkat pengetahuan dibagi dalam 3
kategori, yaitu baik, cukup dan kurang. Kriterianya seperti berikut
1. Baik bila subjek mampu menjawab dengan benar 76%-100% dari
seluruh pertanyaan
2. Cukup bila subjek mampu menjawab dengan benar 56%-75% dari
seluruh pertanyaan
3. Kurang bila subjek mampu menjawab dengan benar 40%-55%
dari seluruh pertanyaan

II.1.2 Konsep Penyuluhan


Pengertian penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu sosial yang
mempelajari sistem dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar
dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan.
Penyuluhan dapat dipandang sebagai suatu bentuk pendidikan untuk orang
dewasa. Penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan
komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya
memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar (Adrianto,
2009).
Penyuluhan adalah proses perubahan perilaku di kalangan masyarakat agar
mereka tahu, mau dan mampu melakukan perubahan demi tercapainya
peningkatan produksi, pendapatan atau keuntungan dan perbaikan kesejahteraanya
(Subejo, 2008). Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan
kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu
keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat secara
keseluruhan ingin hidup sehat, tahu bagaimana caranya dan melakukan apa yang
bisa dilakukan (Brain, 2008).
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar penyuluhan dapat mencapai
sasaran yaitu sebagai berikut
1. Tingkat Pendidikan
Pendidikan dapat mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap informasi
baru yang diterimanya. Maka dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat
12

pendidikannya, semakin mudah seseorang menerima informasi yang


didapatnya. Pendidikan merupakan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan,
kemajuan dan kemakmuran, karena dengan pendidikan seseorang dapat
menangkap dan menyampaikan informasi yang diperlukan guna
melangsungkan kehidupan. Pendidikan ibu merupakan modal utama dalam
menunjang ekonomi keluarga juga berperan dalam penyusunan menu
makanan keluarga, serta pengasuhan dan perawatan anak. Bagi keluarga
dengan tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah dalam menerima
informasi kesehatan khususnya di bidang gizi sehingga dapat menambah
pengetahuan dan mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari (Depkes
RI, 2010).
2. Tingkat Sosial Ekonomi
Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi seseorang, semakin mudah pula dalam
menerima informasi baru. Pada golongan miskin, keadaan ekonomi
berpengaruh besar pada konsumsi pangan. Hal ini disebabkan karena
penduduk golongan miskin memakai sebagian besar pendapatannya untuk
memenuhi kebutuhan makanannya. Jika tingkat pendapatan naik, maka
jumlah dan jenis makanan cenderung membaik juga (Yayuk, 2009).
3. Adat Istiadat
Masyarakat kita masih sangat menghargai dan menganggap adat istiadat
sebagai sesuatu yang tidak boleh diabaikan.
4. Kepercayaan Masyarakat
Masyarakat lebih memperhatikan informasi yang disampaikan oleh orang-
orang yang sudah mereka kenal, karena sudah ada kepercayaan masyarakat
dengan penyampai informasi.
5. Ketersediaan waktu di masyarakat
Waktu penyampaian informasi harus memperhatikan tingkat aktifitas
masyarakat untuk menjamin tingkat kehadiran masyarakat dalam
penyuluhan.
13

Metode dan Media Penyuluhan


1. Metode Penyuluhan
Menurut Lucie (2009), pilihan seorang agen penyuluhan terhadap suatu
metode atau teknik penyuluhan sangat tergantung kepada tujuan khusus yang
ingin dicapai. Berdasarkan pendekatan sasaran yang ingin dicapai,
penggolongan metode penyuluhan ada tiga yaitu:
a. Metode berdasarkan pendekatan perorangan
Metode penyuluh ini berhubungan secara langsung maupun tidak langsung
dengan sasarannya secara perorangan. Metode ini sangat efektif karena
sasaran dapat secara langsung memecahkan masalahnya dengan
bimbingan khusus dari penyuluh. Sementara itu adapun kelemahan metode
ini adalah dari segi sasaran yang ingin dicapai, kurang efektif karena
terbatasnya jangkauan penyuluh untuk mengunjungi dan membimbing
sasaran secara individu, selain itu ada juga membutuhkan banyak tenaga
penyuluh dan membutuhkan waktu yang lama.
b. Metode berdasarkan pendekatan kelompok
Metode penyuluh ini berhubungan dengan sasaran penyuluhan secara
kelompok. Metode ini cukup efektif karena sasaran dibimbing dan
diarahkan untuk melakukan suatu kegiatan yang lebih produktif atas dasar
kerjasama. Pendekatan dalam kelompok banyak manfaat yang dapat
diambil, disamping dari transfer informasi juga terjadi tukar pendapat dan
pengalaman antara sasaran penyuluhan dalam kelompok yang
bersangkutan. Serta memungkinkan adanya umpan balik dan interaksi
kelompok yang memberi kesempatan bertukar pengalaman maupun
pengaruh terhadap perilaku dan norma anggotanya. Kelemahan metode ini
adalah adanya kesulitan dalam mengkoordinir sasaran karena faktor
geografis dan aktivitas sasaran. Salah satu cara yang efektif dalam metode
pendekatan kelompok adalah dengan metode ceramah, metode ini cocok
digunakan untuk masyarakat yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi
maupun rendah.
14

c. Metode berdasarkan pendekatan massal


Sesuai dengan namanya, metode ini dapat menjangkau sasaran dengan
jumlah banyak. Dipandang dari segi penyampaian informasi, metode ini
cukup baik, namun terbatas hanya dapat menimbulkan kesadaran atau
keingintahuan semata. Beberapa penelitian mengatakan bahwa metode
pendekatan massa dapat mempercepat proses perubahan, tapi jarang dapat
mewujudkan perubahan dalam perilaku. Termasuk dalam metode ini
antara adalah rapat umum, siaran radio, kampanye, pemutaran film, surat
kabar dan lain sebagainya. Berdasarkan uraian di atas peneliti memilih
metode pendekatan kelompok dengan metode ceramah untuk melakukan
penyuluhan gizi, dengan tujuan terjadinya proses perubahan perilaku ke
arah yang diharapkan melalui peran aktif sasaran penyuluhan dalam
memberikan umpan balik terhadap penyuluh serta adanya saling tukar
informasi dan pengalaman sesama peserta penyuluhan.

Media Penyuluhan
Media sebagai alat bantu menyampaikan pesan-pesan kesehatan sangat
bervariasi antara lain (Lucie, 2009) sebagai berikut
1. Leaflet, ialah bentuk penyampaian informasi kesehatan melalui lembaran
yang dilipat. Keuntungan menggunakan media ini sasaran sasaran dapat
menyesuaikan dan belajar mandiri serta praktis karena mengurangi kebutuhan
mencatat, sasaran dapat melihat isinya disaat santai dan sangat ekonomis,
berbagai informasi dapat diberikan atau dibaca oleh anggota kelompok
sasaran, sehingga bisa didiskusikan dapat memberikan informasi yang detail
yang mana tidak diberikan secara lisan, mudah dibuat, diperbanyak dan
diperbaiki serta mudah disesuaikan dengan kelompok sasaran Sementara itu
ada beberapa kelemahan dari leaflet adalah tidak cocok untuk sasaran
individu per individu, tidak tahan lama dan mudah hilang, leaflet akan
menjadi percuma jika sasaran tidak diikutsertakan secara aktif, serta perlu
proses penggandaan yang baik.
15

2. Flitf chart (lembar balik)


Media penyampaian pesan atau informasi kesehatan dalam bentuk buku di
mana tiap lembar berisi gambar peragaan dan lembaran baliknya berisi
kalimat sebagai pesan kesehatan yang berkaitan dengan gambar.
Keunggulan menggunakan media ini mudah dibawa, dapat dilipat maupun
digulung, murah dan efisien, dan tidak perlu peralatan yang rumit.
Sedangkan kelemahannya yaitu terlalu kecil untuk sasaran yang berjumlah
relatif besar, serta mudah robek dan tercabik.
3. Film dan Video
Keunggulan penyuluhan dengan media ini adalah dapat memberikan realita
yang mungkin sulit direkam kembali oleh mata dan pikiran sasaran, dapat
memicu diskusi mengenai sikap dan perilaku, efektif untuk sasaran yang
jumlahnya relatif penting dapat diulang kembali, mudah digunakan dan
tidak memerlukan ruangan yang gelap. Sementara kelemahan media ini
memerlukan sambungan listrik, peralatannya beresiko untuk rusak, perlu
adanya kesesuaian antara kaset dengan alat pemutar, membutuhkan ahli
profesional agar gambar mempunyai makna dalam sisi artistik maupun
materi, serta membutuhkan banyak biaya.
4. Slide
Keunggulan media ini dapat memberikan berbagai realita walaupun
terbatas, cocok untuk sasaran yang jumlahnya relatif besar, dan
pembuatannya relatif murah, serta peralatannya cukup ringkas dan mudah

Kekuatan yang Mempengaruhi Penyuluhan


Penyuluhan adalah sebagai proses perubahan perilaku melalui suatu kegiatan
pendidikan non formal, oleh karena itu selalu saja ada berbagai kendala dalam
pelaksanaanya di lapangan. Secara umum ada beberapa faktor atau kekuatan yang
memengaruhi proses perubahan keadaan yang disebabkan karena penyuluhan di
antaranya adalah sebagai berikut (Lucie, 2009) :
1. Keadaan pribadi sasaran
Beberapa hal yang perlu diamati pada diri sasaran penyuluhan adalah ada
tidaknya motivasi pribadi sasaran penyuluhan dalam melakukan suatu
16

perubahan. Berikutnya adanya ketakutan atau trauma di masa lampau yang


berupa ketidakpercayaan pada pihak lain karena pengalaman ketidakberhasilan
atau kegagalan, kekurangsiapan dalam melakukan perubahan karena
keterbatasan pengetahuan, keterampilan dana, sarana dan pengalaman serta
adanya perasaan puas dengan kondisi yang dirasakan sekarang tanpa harus
melakukan perubahan.
2. Keadaan lingkungan fisik
Lingkungan fisik dalam hal ini adalah lingkungan yang berpengaruh, baik
secara langsung maupun tidak langsung dalam keberhasilan penyuluhan.
3. Keadaan sosial dan budaya masyarakat
Sebagai pola perilaku sudah sewajarnya apabila kondisi sosial budaya di
masyarakat akan memengaruhi efektivitas penyuluhan, karena kondisi sosial
budaya merupakan suatu pola perilaku yang dipelajari, dipegang teguh oleh
setiap warga masyarakat dan diteruskan secara turun temurun, dan akan sangat
sulit merubah perilaku masyarakat jika sudah berbenturan dengan keadaan
sosial budaya masyarakat.
4. Keadaan dan macam aktivitas kelembagaan yang tersedia dan menunjang
kegiatan penyuluhan. Ada tidaknya peran serta lembaga terkait dalam proses
penyuluhan akan menentukan efektivitas penyuluhan . Lembaga ini berfungsi
sebagai pembuat keputusan yang akan ditetapkan sehingga harus dilaksanakan
oleh masyarakat.

II.1.3 Konsep Tumbuh Kembang


Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya
berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan
perkembangan. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan
dalam besar jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu,
yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang
(cm, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan
nitrogen tubuh); sedangkan perkembangan (development) adalah bertambahnya
kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam
17

pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan
(Potter & Perry, 2009).
Perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat
dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem
neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Kesemua fungsi ersebut
berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh (Depkes, 2008).
Perkembangan proses transmisi dari konstitusi psiko fisik yang herediter,
dirangsang oleh faktor–faktor lingkungan yang menguntungkan dalam
perwujudan proses aktif menjadi secara kontinyu (Suryani dan Widyasih, 2008).
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur
dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur sebagai hasil dari
proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses referensasi sel–sel tubuh,
jaringan tubuh, organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa
sehingga masing–masing dapat memenuhi fungsinya termasuk perkembangan
emosi, intelektual, dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan
(Ngastiyah, 2009).
Perkembangan adalah keseluruhan proses perubahan dari potensi yang
dimiliki individu yang tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri–ciri yang
baru. Menurut Chaplin perkembangan adalah perubahan yang berkesinambungan
dan progresif dalam organisme dari lahir sampai mati. Perkembangan tidak
terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan
didalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara
terus menerus dan bersifat tetap dalam sifat jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki
individu menuju ketahap kematangan melalui pertumbuhan, pematangan, dan
belajar (Mar’at, 2008).
Pertumbuhan adalah bertambah banyak dan besarnya sel seluruh bagian
tubuh yang bersifat kuantitatif dan dapat diukur; sedangkan perkembangan adalah
bertambah sempurnanya fungsi dari alat tubuh. Pertumbuhan berkaitan dengan
masalah perubahan dalam besar, jumlah ukuran atau dimensi tingkat sel, organ
maupun individu; perkembangan lebih menitikberatkan aspek perubahan bentuk
atau fungsi pematangan organ atau individu, termasuk perubahan aspek sosial atau
emosional akibat pengaruh lingkungan (Depkes RI).
18

Pra sekolah (3-6 tahun). Anak usia pra sekolah adalah anak yang berusia
antara 3-6 tahun, anak usia prasekolah memiliki karakteristik tersendiri dalam segi
pertumbuhan dan perkembangannya. Pertumbuhan secara fisik anak pada tahun
ketiga terjadi penambahan BB 1,8 s/d 2,7 kg dan rata-rata BB 14,6
kg.penambahan TB berkisar antara 7,5 cm dan TB rata-rata 95 cm. Kecepatan
pertumbuhan pada tahun keempat hampir sama dengan tahun sebelumnya. Berat
badan mencapai 16,7 kg dan TB 103 cm sehingga TB sudah mencapai dua kali
lipat dari TB saat lahir. Frekuensi nadi dan pernafasan turun sedikit demi sedikit.
Pertumbuhan pada tahun kelima sampai akhir masa pra sekolah BB rata-rata
mencapai 18,7 kg dan TB 110 cm, yang mulai ada perubahan adalah pada gigi
yaitu kemungkinan munculnya gigi permanent sudah dapat terjadi (Mar’at, 2008).

II.2. Konsep Teori Terkait KPSP


KPSP merupakan suatu daftar pertanyaan singkat yang ditujukan kepada
para orang tua dan dipergunakan sebagai alat untuk melakukan skrining
pendahuluan perkembangan anak usia 3 bulan sampai dengan 6 tahun. KPSP
dapat dipakai untuk mengetahui ada atau tidak adanya hambatan, kemungkinan
adanya penyimpangan dalam perkembangan anak (Dinkes, 2007).
Cara Menggunakan KPSP adalah petugas kesehatan membaca KPSP terlebih
dahulu. Kemudian memberi kesempatan kepada orang tua untuk menjawab
kelompok pertanyaan yang sesuai dengan usia anak. Hasil dicatat di dalam kartu
data tumbuh kembang anak (Dinkes, 2007).
Cara menghitung usia anak adalah usia anak ditetapkan menurut tahun dan
bulan. Kelebihan 16 hari dibulatkan menjadi 1 bulan. Contoh nya pada anak usia
3 bulan 16 hari, dibulatkan menjadi 4 bulan. Anak usia 5 bulan 15 hari, dibulatkan
menjadi 5 bulan (Dinkes, 2007).
Cara memilih pertanyaan KPSP adalah pertanyaan diajukan kepada para
orang tua dan dipilih kelompok pertanyaan yang sesuai dengan usia anak. Lalu
cara menilai KPSP sebagai berikut
1. Meneliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.
2. Menghitung jumlah jawaban Ya.
19

3. Apabila jumlah jawaban Ya = 9 atau 10 berarti perkembangan anak yang


diperiksa sesuai.
4. Apabila jumlah Ya = kurang dari 9, maka perlu diteliti kembali mengenai :
a) Cara menghitung usia anak.
b) Cara memilih pertanyaan KPSP, apakah sesuai dengan usia anak.
c) Apakah jawaban orang tua atau pengasuh anak sesuai dengan yang
dimaksudnya.
d) Apabila jumlah jawaban Ya = 7 atau 8, tentukan jadwal untuk dilakukan
pemeriksaan ulang 1 minggu kemudian.
e) Apabila pada pemeriksaan ulang jumlah jawaban Ya tetap 7 atau 8, maka
anak tersebut memerlukan pemeriksaan lebih lanjut atau dirujuk.
f) Catatan : Pertanyaan KPSP yang dipakai pada pemeriksaan ulang
disesuaikan dengan usia anak pada tanggal pemeriksaan ulang tersebut.
5. Apabila jumlah jawaban Ya = 6 atau kurang, maka anak tersebut memerlukan
pemeriksaan lebih lanjut atau dirujuk.

Pemeriksaan ulang KPSP dilaksanakan pada 3 keadaan dibawah ini sebagai


berikut
1. Hasil KPSP negatif atau jumlah jawaban Ya = 9 atau 10, pemeriksaan ulang
dapat dilakukan.
2. Tiap 3 bulan untuk usia dibawah 12 bulan.
3. Tiap 6 bulan untuk usia 12 sampai 72 bulan
Walaupun demikian pemeriksaan yang lebih sering akan lebih baik.
4. Hasil KPSP dengan jumlah Ya = 7 atau 8, pemeriksaan ulang dilakukan 1
minggu kemudian sebelah pemeriksaan pertama.
5. Hasil KPSP dengan jawaban Ya = kurang atau pemeriksaan ulang tetap 7-8,
anak perlu dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih lengkap.

Cara mencatat hasil KPSP dengan cara hasil KPSP dicatat dalam kartu data
tumbuh kembang anak. Tulis jawaban umur Ya, atau Tidak pada kotak yang
disediakan untuk tiap pertanyaan menurut golongan umur anak. Kemudian
hitunglah jawaban Ya. Apabila penilaian KPSP = 9 atau 10 jawaban Ya, berarti
20

perkembangan anak sesuai (S). Apabila penilaian KPSP = 7 atau 8, berarti


meragukan (M) dan anak perlu diperiksa ulang 1 minggu kemudian. Apabila
penilaian KPSP = kurang dari 6, berarti kemungkinan ada penyimpangan(Dinkes,
2007).
Alat Atau Instruman Yang Digunakan yaitu :
1. Formulir KPSP menurut umur. Formulir ini berisi 9–10 pertanyaan tentang
kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak. Sasaran KPSP anak umur
36 bulan – 72 bulan.
2. Alat bantu pemeriksaan berupa pensil, kertas, bola sebesar bola tenis,
kerincingan, kubus berukuran sisi 2,5 cm sebanyak 6 buah, kismis, kacang
tanah, potongan biskuit kecil berukuran 0,5–1 cm.
Hal yang harus dilakukan apabila terjadi penyimpangan perkembangan
yaitu dengan melakukan rujukan ke Rumah Sakit dengan menuliskan jenis dan
jumlah penyimpangan perkembangan (gerak kasar, gerak halus, bicara dan
bahasa, sosialisasi dan kemandirian).
Petugas yang dapat melakukan pemeriksaan yaitu pada tenaga kesehatan,
guru TK, dan petugas PAUD terlatih

II.3 Konsep Evidence based Nursing (EBN)


Penelitian yang dilakukan Prasida, Maftuchah, Mayangsari (2015)
menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah dilakukan
penyuluhan terhadap perubahan pengetahuan tentang KPSP pada guru di PAUD
Taman Belia Candi Semarang. Rata-rata pengetahuan sebelum penyuluhan adalah
9.77 dan SD 1.998. Sedangkan rata-rata pengetahuan setelah penyuluhan adalah
16 dengan SD 2.045, terlihat perbedaaan nilai mean antara pengukuran sebelum
dan sesudah penyuluhan. Hasil Uji statistik t-berpasangan dengan p value 0.000 <
0.05, maka terdapat perbedaan pengetahuan yang bermakna antara pengetahuan
sebelum dan sesudah penyuluhan tentang KPSP.
Penelitian Jannah (2013) menunjukkan sebagian besar (76,92%) responden
memiliki pengetahuan kurang sebelum dilakukan pendidikan kesehatan, setelah
dilakukan pendidikan kesehatan didapatkan setengahnya atau (50,00%) responden
memiliki pengetahuan cukup, hampir setengahnya atau (34,62%) responden
21

memiliki pengetahuan baik dan sebagian kecil atau (15,38%) responden masih
memiliki pengetahuan kurang. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada pengaruh
pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan ibu tentang perkembangan balita usia
1-5 tahun di Posyandu Desa Paringan Jenangan Ponorogo, dengan T hitung 84,15.
Penelitian Marisa (2006) menunjukkan didapatkan data bahwa ibu dengan
tingkat pengetahuan tinggi sebesar 72,5 % perkembangan anaknya baik,
sedangkan ibu dengan pengetahuan rendah perkembangan anaknya kurang yaitu
50,0 %. Hal ini menunjukan bahwa ada kecenderungan semakin tinggi tingkat
pengetahuan ibu tentang stimulasi kinetik semakin baik pula tingkat
perkembangan motorik kasar anak usia prasekolah. Analisis hubungan antara
tingkat pengetahuan ibu tentang stimulasi kinetik dengan tingkat perkembangan
motorik kasar anak usia prasekolah (3-5 tahun) didapatkan bahwa ada hubungan
yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu tentang stimulasi kinetik dengan
tingkat perkembangan motorik kasar anak usia prasekolah.
Penelitian Prasetya (2013) menujukkan bahwa pendidikan kesehatan
memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap tingkat pengetahuan
ibu dalam deteksi dini gangguan tumbuh kembang anak usia balita di posyandu 1
kasihan Bantul, Yogyakarta (pValue 0,020 < 0,05). Ada pengaruh antara
pendidikan kesehatan dengan peningkatan tingkat pengetahuan ibu sehingga
disarankan agar pendidikan kesehatan tentang
gangguan tumbuh kembang pada balita perlu diberikan kepada ibu yang
mempunyai anak balita agar ibu dapat melakukan deteksi dini dan apabila
menemukan gangguan tumbuh kembang pada balitanya, dapat segera dilakukan
penanganan.
Penelitian Kosegeran, Amatus, Abraham (2013) menunjukkan bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan orang tua tentang
stimulasi dini dengan perkembangan anak usia 4-5 tahun (p=0,005). Pengetahuan
orang tua yang baik tentang stimulasi dini mempengaruhi pemberian stimulasi
terhadap perkembangan anak, sehingga anak mencapai perkembangan optimal
sesuai usianya. Saran melalui penelitian ini yaitu deteksi dini tumbuh kembang
anak dan penyuluhan tentang pentingnya stimulasi dini terhadap perkembangan
anak dapat dilakukan.
22

ANALISIS
PICO
Populasi
Populasi pada EBN adalah guru PAUD An-Nida dan PAUD Pelangi di kelurahan
Gandul, Kecamatan Cinere, Kota Depok.
Problem
Pada studi pendahuluan ditemukan terdapat guru PAUD An-Nida dan PAUD
Pelangi yang tidak mengenal KPSP, belum mendapatkan sosialisasi tentang KPSP,
dan tidak dapat melakukan skrining perkembangan anak.

Intervensi
Intervensi berupa penyuluhan tentang KPSP pada guru PAUD An-Nida dan
PAUD Pelangi di Gandul. Langkah awal yang dilakukan adalah peneliti
mengajukan surat permohonan izin penelitian yang dilakukan oleh institusi
pendidikan. Peneliti menyerahkan surat izin kepada Kepala Sekolah PAUD An-
Nida dan PAUD Pelangi. Peneliti dan responden menjadwalkan waktu untuk
melaksanakan penyuluhan. Sesuai dengan waktu dan tempat yang telah
dijadwalkan, peneliti melakukan informed consent penelitian dengan menjelaskan
tujuan penelitian, yaitu agar guru PAUD dapat menilai perkembangan anak-anak
muridnya. Menjelaskan manfaat penelitian yaitu diharapkan dapat memberi input
pada guru terkait dalam perkembangan anak sehingga dapat digunakan untuk
menyusun langkah awal mengetahui ada tidaknya keterlambatan perkembangan
pada anak. Setiap responden yang ditemui diberi penomeran secara berurutan dari
nomor 1 hingga nomor 10. Pemilahan responden didasarkan pada nomor urut,
setelah dipilah responden yang belum mendapatkan sosialisasi tentang KPSP
diberikan kuesioner pretest. Setelah pembagian kuisioner didapatkan data awal
dan dilakukan pemberian penyuluhan KPSP kepada guru PAUD. Setelah
dilakukan perlakuan penyuluhan tentang KPSP di lakukan kembali pembagian
kuisioner untuk menilai apakah ada pengaruh tentang pengetahuan setelah
mendapat penyuluhan.

Comparison
23

Kegiatan ini membandingkan pengetahuan guru PAUD An-Nida dan PAUD


Pelangi tentang KPSP sebelum dilakukan penyuluhan dan setelah dilakukan
penyuluhan.

Outcome
Menganalisis adakah pengaruh penyuluhan tentang KPSP terhadap pengetahuan
guru di PAUD An-Nida dan PAUD Pelangi Kelurahan Gandul, Kecamatan Cinere,
Kota Depok.

II.4 Peran Perawat


II.4.1 Pemberi Perawatan
Merupakan peran utama perawat yaitu memberikan pelayanan
keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat sesuai dengan
masalah yang terjadi mulai dari masalah yang bersifat sederhana sampai
kompleks. Contoh peran perawat dalam memberi perawatan adalah peran ketika
perawat memenuhi kebutuhan dasar seperti memberi makan, membantu pasien
melakukan ambulasi dini.
II.4.2 Sebagai Advokat Keluarga
Sebagai client advocate, perawat bertanggung jawab untuk membantu
klien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi
pelayanan dan informasi yang diperlukan untuk mengambil persetujuan
(informed concent) atas tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya.
Peran perawat sebagai advocate dapat ditunjukkan dengan memberikan
penjelasan tentang mengenai suatu prosedur yang akan dilakukan.
II.4.3 Pendidik
Perawat bertanggung jawab dalam hal pendidikan dan pengajaran ilmu
keperawatan kepada klien, tenaga keperawatan maupun tenaga kesehatan
lainnya. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam keperawatan adalah
aspek pendidikan, karena perubahan tingkah laku merupakan salah satu
sasaran dari pelayanan keperawatan. Perawat harus dapat berperan sebagai
pendidik bagi individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. Memberi
penyuluhan kesehatan tentang penanganan diare merupakan contoh peran
perawat sebagai pendidik (health educator).
24

II.4.4 Kolaborator
Perawat bersama guru PAUD berupaya mengidentifikasi pelayanan
kesehatan yang diperlukan termasuk tukar pendapat terhadap pelayanan yang
diperlukan klien, pemberian dukungan, paduan keahlian dan keterampilan dari
berbagai profesional pemberi pelayanan kesehatan. Sebagai contoh lainnya
perawat berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan diet yang tepat pada
anak dengan nefrotik syndrome. Perawat berkolaborasi dengan dokter untuk
memberikan antibiotik pada anak yang menderita infeksi.
II.4.5 Peneliti
Seorang perawat diharapkan dapat menjadi pembaharu (innovator)
dalam ilmu keperawatan, karena ia memiliki kreatifitas, inisiatif, cepat tanggap
terhadap rangsangan dari lingkungannya. Kegiatan ini dapat diperoleh melalui
penelitian.