Anda di halaman 1dari 12

I.

TUJUAN
Tujuan dari percobaan Batch Chemical Reactor ini adalah untuk
dapat dapat mengaplikasikan konsep kinetika reaksi ke dalam perancangan
reaktor batch.

II. SASARAN
Sasaran dari praktikum Batch Chemical Reactor ini adalah:
a. Menghitung konversi dan yield produk biodiesel.
b. Menghitung kinetika reaksi transesterifikasi (pembuatan biodiesel)
yang meliputi orde dan konstanta kecepatan reaksi.

III. DASAR TEORI


Reaktor batch adalah tempat terjadinya suatu reaksi kimia tunggal,
yaitu reaksi yang berlangsung dengan hanya satu persamaan laju reaksi
yang berpasangan dengan persamaan kesetimbangan dan stoikiometri.
Reaktor jenis ini biasanya sangat cocok digunakan untuk produksi
berkapasitas kecil misalnya dalam proses pelarutan padatan, pencampuran
produk, reaksi kimia, batch distillation, kristalisasi, ekstraksi cair-cair,
polimerisasi, farmasi dan fermentasi. Beberapa ketetapan menggunakan
reaktor batch yaitu; selama reaksi berlangsung tidak terjadi perubahan
suhu, pengadukan dilakukan dengan sempurna, konsentrasi di semua titik
dalam reaktor adalah sama atau homogen pada waktu yang sama, dan
merupakan reaktor ideal.
Kelebihan dari reaktor batch yaitu; harga instrumentasi rendah,
penggunaannya fleksibel, penggunaan yang multifungsi, dapat digunakan
untuk reaksi yang menggunakan campuran kuat dan beracun, mudah
dibersihkan, dapat menangani reaksi dalam fase gas, cair dan cair-padat.
Kelemahan reaktor batch yaitu; biaya buruh dan handling tinggi,
terkadang waktu shut down cukup lama (waktu untuk mengosongkan,
membersihkan dan mengisi kembali), pengendalian kualitas dari produk
cukup susah, skala produksi yang kecil.

1
Neraca massa untuk komponen A dalam suatu reactor batch
dengan volume konstan adalah:
(massa masuk) = (massa keluar) + (massa yang hilang karena reaksi) +
(massa terakumulasi)
dNA
0= 0 + + (rA)V
dt
dNA
(-rA)V = − dt

Untuk volume campuran di dalam reactor tetap selama reaksi, maka:


1 dNA
(-rA) = − V − dt

Integrasi persamaan diatas menyatakan hubungan antara waktu reaksi


dengan konsentrasi :
−dCA
∫ dt = ∫ −rA

atau:
−dXA −dCA
t =CA0 ∫ =∫
−rA −rA

Persamaan diatas adalah persamaan karakteristik untuk reactor batch untuk


sistem isothermal dan volume konstan. Integrasi persamaan diatas dapat
dilakukan secara analitis kalau diketahui hubungan antara –rA dengan CA.
Definisi kecepatan reaksi untuk reactor batch, telah diketahui adalah:
1 dNA
(-rA) = − V dt

Banyaknya mol A pada setiap saat di dalam reactor adalah :


NA= NA0(1 – XA)
Sehingga persaman kecepatan reaksi menjadi:
NA0 dXA
(-rA) = − V dt

Pada dasarnya konsep kecepatan reaksi sangat diperlukan pada


perancangan suatu reaktor. Penentuan konstanta kecepatan reaksi (k)
dihitung berdasarkan data percobaan hubungan k dan konsentrasi (C) atau
konversi pada suhu tertentu.
Kinetika kimia adalah studi tentang kecepatan (speed) atau laju
(rate) reaksi kimia. Salah satu tujuan utama mempelajari kinetika kimia

2
adalah untuk mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi kimia.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan reaksi kimia dibagi
atas empat kelompok:
a) Sifat kimia molekul pereaksi dan hasil reaksi (produk). Bila semua
faktor lain sama maka susunan kimia molekul atau ion akan
mempengaruhi kecepatan reaksi kimia.
b) Konsentrasi zat-zat yang bereaksi. Bila dua buah molekul bereaksi
satu dengan yang lain, maka kedua molekul tersebut harus bertemu
atau bertumbukan. Kebolehjadian antar molekul untuk
bertumbukan di dalam sistem homogen (satu jenis fasa, biasanya
gas atau larutan) makin besar jika konsentrasi makin besar. Di
dalam sistem reaksi heterogen, dimana pereaksi berada pada fasa
terpisah, kecepatan reaksi tergantung pada luas kontak antar fasa.
Karena luas permukaan makin besar bila ukuran partikel makin
kecil, maka penurunan ukuran partikel akan menaikkan kecepatan
reaksi.
c) Pengaruh temperatur. Hampir semua jenis reaksi kimia
berlangsung lebih cepat bila temperaturnya dinaikkan.
d) Pengaruh zat lain yang disebut katalis. Kecepatan beberapa reaksi
kimia, termasuk hampir semua reaksi biokimia, dipengaruhi oleh
zat yang disebut katalis. Secara keseluruhan selama reaksi, katalis
tidak mengalami perubahan atau pengurangan.
Bagi ahli kimia, salah satu manfaat paling penting yang dapat
diperoleh dalam mempelajari kecepatan reaksi kimia adalah
pengetahuan tentang bagaimana proses lengkap perubahan kimia
itu dapat terjadi. Ternyata, umumnya reaksi kimia tidak
berlangsung hanya satu tahap tetapi merupakan kumpulan dari
serangkaian tahap-tahap reaksi sederhana. Rangkaian reaksi ini
disebut mekanisme reaksi. Jadi, mempelajari kecepatan reaksi
dapat memberi petunjuk tentang mekanisme reaksi yang terjadi.

3
Dalam suatu industri, sebuah reaktor biasanya tidak dirancang
untuk limiting reactant yang terkonversi sempuna (100%), sehingga masih
ada sisa yang bercampur dengan produk yang selanjutnya akan dipisahkan
dalam separator untuk memisahkan produk dan reaktan yang tidak habis
bereaksi dan reaktan yang telah dipisahkan akan dikembalikan ke aliran
masuk (recycle). Konversi fraksional dari reaktan adalah rasio,
mol reaktan yang bereaksi
f= mol reaktan awal

atau
mol reaktan yang bereaksi
%konversi = x 100%
mol reaktan awal

Yield adalah massa atau mol produk akhir yang diharapkan dibagi
massa atau mol reaktan,
mol atau massa produk
Yield = mol yang akan terbentuk jika tidak ada reaksi samping
dan 𝑙𝑖𝑚𝑖𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑟𝑒𝑎𝑐𝑡𝑎𝑛𝑡 bereaksi secara sempurna

Transesterifikasi adalah istilah umum yang digunakan untuk


menjabarkan reaksi organik yang penting di mana ester ditransformasi
menjadi bahan lain melalui interchange dari alkoksi. Jika reaksi terjadi
antara ester original dengan suatu alkohol maka proses transesterifikasi
disebut sebagai alkoholisis. Istilah transesterifikasi digunakan juga sebagai
sinonim dari alkoholisis ester karboksilat. Reaksi transesterifikasi adalah
reaksi setimbang dan transformasinya terjadi oleh adanya pencampuran
reaktan. Keberadaan katalis dapat mempercepat pengaturan
kesetimbangan. Untuk memperoleh yield ester yang tinggi maka
digunakan alkohol berlebih.
Dalam transesterifikasi minyak nabati, trigliserida bereaksi dengan
alkohol dengan adanya asam kuat atau basa kuat sebagai katalis
menghasilkan campuran fatty acid alkyl ester dan gliserol. Reaksi
transesterifikasi merupakan reaksi tiga tahap dan reversibel di mana
monogliserida dan digliserida terbentuk sebagai intermediate. Reaksi
stoikimetris membutuhkan 1 mol trigliserida dan 3 mol alkohol. Dalam hal
ini digunakan alkohol berlebih untuk meningkatkan yield alkyl ester dan

4
untuk memudahkan pemisahan fasanya dari gliserol yang terbentuk.
Proses transesterifikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu suhu,
kecepatan pengadukan, jenis dan konsentrasi katalis, dan perbandingan
etanol-asam lemak.
Proses transesterifikasi akan berlangsung lebih cepat bila suhu
dinaikkan mendekati titik didih alkohol yang digunakan. Semakin tinggi
kecepatan pengadukan akan menaikkan pergerakan molekul dan
menyebabkan terjadinya tumbukan. Pada awal terjadinya reaksi,
pengadukan akan menyebabkan terjadinya difusi antara minyak atau
lemak sampai terbentuk metil ester. Pemakaian alkohol berlebih akan
mendorong reaksi ke arah pembentukan etil ester dan semakin besar
kemungkinan terjadinya tumbukan antara molekul-molekul metanol dan
minyak yang bereaksi. Proses transesterifikasi memerlukan katalis untuk
mempercepat laju pembentukan ester. Biasanya katalis yang digunakan
berupa asam (HCl, H2SO4) atau katalis basa/alkali (NaOCH3, KOH dan
NaOH).
Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk
pada golongan lipid, yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta
tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar,misalnya
dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform(CHCl3), benzena dan hidrokarbon
lainnya. Lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di
atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama dengan
pelarut tersebut. Bahan-bahan dan senyawa kimia akan mudah larut dalam
pelarut yang sama polaritasnya dengan zat terlarut.
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang berasal dari
trigliserida. Rumus kimia trigliserida adalah CH2COOR-CHCOOR’
CH2COOR”, dimana R, R’, dan R” masing-masing adalah sebuah rantai
alkil yang panjang. Trigliserida merupakan penyusun utama minyak nabati
dan lemak hewani. Terdapat tiga rute dasar dalam proses alkoholis untuk
menghasilkan biodiesel atau alkil ester yaitu transesterifikasi minyak
dengan alkohol melalui katalis basa, esterifikasi minyak dengan methanol

5
melalui katalis asam secara langsung, konversi dari minyak ke fatty acid,
kemudian dari fatty acid ke alkyl ester melalui katalisis asam.

6
IV. METODOLOGI

a. Perangkat dan alat ukur yang akan digunakan

 Hot plate stirrer

 Magnetic Stirrer Bar

 Labu leher tiga

 Termometer

 Cooling Water System

 Kondensor alihn

 Rubber stock

 Stopwatch

 Statif dan klem holder

 Corong pemisah

 Viscometer Micro Ostwald

 Piknometer

 Corong Kaca

 Beaker Glass

 Pipet ukur

 Gelas ukur

 Cake klem

 Gelas arloji

7
 Pengaduk Besi

b. Bahan yang digunakan

 Etanol teknis 96%

 NaOH

 RBD Olein

c. Alat eksperimen

Gambar 3.1. Alat eksperimen Batch Reactor

8
d. Variabel eksperimen

 Katalis = 1%

 Volume total reaktan = 150 ml

 Rasio volume RBD Olein : etanol = 1 : 1

 Waktu Reaksi = 20, 40, 60, dan 80 menit

e. Prosedur kerja eksperimen


Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum batch reactor yang pertama
yaitu, mempersiapkan alat dan bahan percobaan lalu merangkai alat.
Kemudian mengambil ethanol sebanyak 75 ml menggunakan gelas ukur.
Selanjutnya mengambil katalis (NaOH) berupa padatan dan menimbangnya.
Lalu melarutkan katalis yang sudah ditimbang kedalam ethanol yang telah
dipindahkan ke beaker glass. Kemudian mengaduk katalis dan ethanol
didalam beaker glass dengan kecepatan pengadukan level menengah,
sehingga katalis terlarut sempurna. Setelah itu masukkan RBD Olein sebanyak
75 ml, ethanol, katalis yang sudah terlarut, dan magnetic stirrer bar kedalam
labu leher tiga.

Setelah itu mengalirkan air pendingin kedalam kondensor lalu menyalakan


hot plate dan mengatur kecepatan pengadukannya, agar larutan yang berisi
ethanol serta katalis dan RBD Olein teraduk sempurna oleh magnetic stirrer
dan reaksi dapat terjadi. Pemanasan dan pengadukan berlangsung selama 20
menit kemudian larutan di dalam labu leher tiga dikeluarkan dan dipindahkan
kedalam corong pemisah. Lakukan pengulangan prosedur untuk variabel 40,
60, dan 80 menit sehingga diperoleh 4 larutan dengan variabel waktu yang
telah ditentukan. Larutan di corong pemisah diberi aquades sebanyak 50 ml.
Kemudian larutan didiamkan selama 12 jam. Setelah 12 jam, larutan
dipisahkan sesuai layernya kedalam beaker glass.

9
Massa pikno kosong ditimbang kemudian mengambil biodiesel dan
gliserol masing-masing 10 ml tiap variabel dengan pipet ukur dan dimasukkan
ke piknometer. Setelah itu menimbang massa biodiesel dan gliserol untuk
mengetahui densitasnya. Kemudian mengukur viskositas biodiesel dan gliserol
dengan viscometer. Selanjutnya menyiapkan wadah berisi air yang dipanaskan
dengan hot plate dan meletakkan viscometer berisi biodiesel didalamnya,
kemudian catat lama waktu yang diperlukan saat biodiesel pada viscometer
turun hingga batas garis sehingga diperoleh viscositasnya. Ulangi prosedur
pengukuran viskositas pada biodiesel dan gliserol dengan variable waktu yang
telah ditentukan.

 Flowchart

Mulai

Mempersiapkan alat dan bahan


percobaan

Merangkai alat seperti gambar 3.1

Mengambil ethanol sebanyak 75 ml dengan gelas ukur

Mengambil katalis (NaOH) padatan dan menimbangnya

Melarutkan katalis (NaOH) ke dalam ethanol pada beaker


glass

Mengaduk katalis (NaOH) dan ethanol selama 15 menit


dengan pengadukan level menengah hingga terlarut sempurna

Memasukkan RBD Olein 75 ml, ethanol dan katalis NaOh


yang telah terlarut serta magnetic stirrer bar ke dalam labu
leher tiga
10
Mengalirkan air pendingin kedalam kondensor
A

Menyalakan hot plate dan mengatur kecepatan pengaduk

Memanaskan dan mengaduk larutan berisi ethanol dan katalis


Memasukkan
NaOH magnetic
serta RBD stirer 20 menit
Olein selama

Mengalirkandan
Mengeluarkan air pendingin kedalam
memindahkan kondensor
larutan dari labu leher tiga
ke dalam corong pemisah

Menyalakan pemanas (hot plate) dan mengatur kecepatan


Melakukan
pengadukan agarpengulangan prosedur
larutan ethanol untuk variabel
serta katalis 40, 60, dan
NaOH dengan
80 menit
RBD Olein teraduk sempurna oleh magnetic stirer

Terdapat 4 larutan dengan variable waktu yang telah


B
ditentukan

Menambahkan aquades 50 ml ke dalam masing-masing corong


pemisah

Larutan dalam corong pemisah di diamkan selama 12 jam

Larutan dipisahkan sesuai layernya kedalam beaker glass.

Mengambil larutan dengan layer biodiesel pada masing-


masing variabel dengan beaker glass
11
Menimbang massa kosong piknometer
B

Menimbang massa piknometer biodiesel dan gliserol pada


masing-masing variabel waktu

Mencatat data densitas yang diperoleh

Mengukur viskositas biodiesel dan gliserol dengan viscometer

Menyiapkan wadah berisi air yang dipanaskan dengan hot


plate

Meletakkan viscometer berisi biodiesel didalamnya

Mencatat lama waktu penurunan biodiesel pada viscometer


dengan stopwatch hingga batas garis

Diperoleh data viskositasnya

Mengulangi prosedur pengukuran viskositas pada


biodiesel dan gliserol dengan variable waktu yang telah
ditentukan.
12

Selesai