Anda di halaman 1dari 3

RS Dr.

Hafiz
SOP INERSIA UTERI

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/1
Ditetapkan
Tanggal diterbitkan
STANDAR Direktur RS Dr. Hafiz
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Renyta Amelia, MARS

Pengertian Inersia uteri merupakan his yang sifatnya lebih lemah, lebih singkat,
dan lebih jarang dibandingkan dengan his yang normal. Inersia uteri
terjadi karena perpanjangan fase laten dan fase aktif atau kedua-
duanya dari kala pembukaan.

A. Inersia di bagi menjadi dua :


1. Inersia uteri primer : jika His lemah dari awal persalinan
2. Inersia uteri sekunder : jika mula-mula His baik, tetapi kemudian
menjadi lemah karena otot-otot rahim lelah akibat persalinan
berlangsung lama.

B. Pembagian inersia yang sekarang berlaku ialah :


1. Inersia uteri hipotonis : kontraksi terkoordinasi, tetapi lemah.
Dengan CTG, terlihat tekanan yang kurang dari 15 mmHg, dengan
palpasi, His jarang dan pada puncak kontraksi dinding rahim
masih dapat ditekan kedalam.
2. Inersia uteri hipertonis : kontraksi tidak terkoordinasi, misalnya
kontraksi segmen tengah lebih kuat dari segmen atas. Inersia uteri
ini sifatnya hifertonis, sering disebut inersia spastis.
Tujuan Untuk mengatasi kelainan his (Inersia hipotonik atau Inersia
hipertonik pada ibu dalam proses persalinan.
RS Dr. Hafiz
SOP Pemasangan Water Seal Drainage (WSD)

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/1
Ditetapkan
Tanggal diterbitkan
STANDAR Direktur RS Dr. Hafiz
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Renyta Amelia, MARS
Kebijakan Semua Dokter spesialis kandungan dan bidan melakukan tindakan
kebidanan harus sesuai dengan prosedur kerja yang berlaku.

Prosedur 1. Keadaan umum pasien harus diperbaiki.


2. Pasien di siapkan untuk menghadapi persalinan dan menjelaskan
tentang kemungkinan – kemungkinan yang ada.
3. Pada inersia Primer:
 Pastikan pasien masuk dalam persalinan.
 Evaluasi persalinan dengan melakukan pemeriksaan dalam
apabila hasilnya pembukaan masih 3 cm dengan porsio tebal 1
cm pasien di istirahatkan apabila setelah 12 jam di lakukan
pemeriksaan dalam tidak terdapat kenaikan pembukaan di
berikan cairan oksitosin dan apabila ketuban masih positif
lakukan amniotomi dan dinilai apa terdapat kontraksi dan
terdapat kenaikan pembukaan. apabila tidak terdapat
pembukaan lebih dari 24 jam pada nulipara dan 18 jam pada
multipara dan terdapat gejala gawat janin segera lakukan
tindakan sectio cesarean.
RS Dr. Hafiz

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2
Ditetapkan
Tanggal diterbitkan
STANDAR Direktur RS Dr. Hafiz
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Renyta Amelia, MARS
Prosedur 4. Pada inersia uteri Sekunder :
 Menilai dengan cermat apa ada CPD atau tidak kalau terdapat
CPD segera dilakukan sectio cesarean.
 Kalau tidak didapatkan CPD segera dilakukan pemecahan
ketuban atau amniotomi dan di berikan infusan oksitosin.
 Bila ada keajuan persalinan selama 2 jam setelah his baik
persalinan di lanjutkan. Apabila tidak ada kemajuan persalinan
selama 2 jam segera dilakukan sectio cesarean.
5. Apabila selama persalinan terdapat tanda gawat janin, infeksi dean
tanda pasien dehidrasi ( nadi cepat dan lemah, napas cepat, suhu
meninggi dan turgor berkurang segera lakukan sectio cesarean.

Unit Terkait Ruang VK


Ruang OK