Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTEK

VENTILASI TAMBANG

LOBANG JEPANG BUKITTINGGI

Disusun Oleh:

ASEP TRIYANDA
BP/ NIM: 2015/ 151317004

Dosen Pengampu:

Drs. BAMBANG HERIYADI, M.T

S1-TEKNIK PERTAMBANGAN

TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULATS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

PADANG

2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT. Yang telah

memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

Laporan Praktek Ventilasi di Lobang Jepang Bukittinggi, mata kuliah Ventilasi

program studi S1 2015 jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik, Universitas

Negeri Padang.

Penulisan laporan ini merupakan syarat dalam memenuhi mata kuliah

Ventilasi. Dalam penulisan laporan ini, penulis menyadari bahwa laporan ini jauh

dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan masukan baik berupa

kritik dan saran yang bersifat membangun dari seluruh pihak demi kesempurnaan

Tugas Besar ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih. Semoga laporan ini

bermanfaat terutama bagi penulis sendiri, dan bagi pembaca yang memerlukannya.

Padang, Desember 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL .............................................................................. i

KATA PENGANTAR ............................................................................... ii

DAFTAR ISI .............................................................................................. iii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................. iv

BAB I. PENDAHULUAN

A. Sejarah Lobang Jepang Bukittinggi ....................................... 1

B. Geografis ................................................................................ 2

C. Ventilasi ................................................................................. 3

BAB II. PEMBAHASAN

A. Lobang Jepang ....................................................................... 6

B. Ventilasi dan Kenyamanan Manusia ..................................... 10

C. Peralatan dan Prosedur Pengukuran ...................................... 13

BAB III. ANALISIS DATA

A. Perhitungan Data....................................................................

B. Hasil Perhitungan ...................................................................

BAB IV. PENUTUP

A. Kesimpulan ............................................................................

B. Saran ......................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Sejarah Lobang Jepang Bukittinggi

Lobang Jepang (Japanese Tunnel) dibangun pertama kali pada tahun

1942 oleh para tentara Jepang dan pekerja Romusha di Indonesia. Uniknya,

Romusha yang dipekerjakan oleh tentara Jepang dalam pembuatan lobang ini,

tidak ada satupun yang berasal dari tanah Minang. Hal ini sudah diatur

sedemikian rupa oleh Jepang, sehingga apabila ada Romusha yang berhasil

lolos/keluar dari lobang ini, mereka tidak akan bisa berkomunikasi dengan

masyarakat setempat oleh sebab perbedaan bahasa dan ketidaktahuan

Romusha tersebut akan daerah Minang. Berbeda jika yang dipekerjakan

adalah Romusha dari tanah Minang itu sendiri, maka jika berhasil lolos akan

sangat mudah untuk menginformasikan lokasi lobang Jepang ini kepada

penduduk lainnya.

Lobang Jepang dibangun di bawah pemerintahan Komandan Tentara

Pertahanan Sumatera Jenderal Watanabe. Selain itu, fungsi ;ain dari Lobang

Jepang ini adalah sebagai tempat penyimpanan makanan, gudang

persenjataan milik Jepang, dan aktivitas tentara Jepang yang tidak

diperkenankan untuk diketahui oleh orang lain. Terbukti dari adanya

penemuan ruang-ruang seperti ruang makan, dapur, ruang sidang, ruang

penyiksaan, ruang pengintaian, ruang penyergapan, dan ruang amunisi. Ada

sekitar kurang lebih 16 ruangan yang terdapat di dalam lobang Jepang ini.

Dinamakan lobang Jepang oleh penduduk setempat, karena banyaknya

lorong atau ruangan yang terdapat di dalam lobang ini. Lobang Jepang

1
2

sebenarnya lebih tepat jika dinamakan sebagai terowongan (bunker) Jepang.

Pada dinding lobang Jepang ini terdapat semacam spasi/jarak berupa celah

hampir di setiap satu meter. Fungsi celah ini adalah sebagai peredam suara

(Jepang tidak ingin para Romusha yang disiksa akibat kelalaian dalam

pekerjaan berteriak keras hingga terdengar oleh Romusha lain sehingga

mengganggu ritme kerjanya), tempat menaruh obor, dan mengetahui seberapa

lama para Romusha mengerjakan pembangunan lobang ini (setiap satu meter,

dibuat satu celah).

Lobang Jepang ini diresmikan pertama kali oleh Menteri Pendidikan

Fuad Hasan, pada 11 Maret 1986. Pembangunan lobang Jepang ini hanya

dilakukan selama kurang lebih 2 tahun 8 bulan oleh para tentara Jepang dan

pekerja Romusha Indonesia, termasuk proses pembanguna yang cukup cepat

di kala itu.Bunker Jepang atau yang lebih dikenal dengan Lobang Jepang

merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Sumatera Barat.Bunker bawah

tanah ini memiliki panjang 1.470 meter dan berjarak 40 meter di bawah Ngarai

Sianok. Terdapat 21 terowongan di dalam bunker, yang dulunya digunakan

untuk menyimpan amunisi, tempat tinggal, ruang pertemuan, ruang tahanan,

ruang makan, dapur, ruang sidang, ruang penyiksaan, ruang mata-mata, ruang

penyergapan, dan pintu gerbang untuk melarikan diri.

B. Geografis

Secara geografis keberadaan Goa Jepang atau Lubang Jepang ini terletak

di Bukit Sihanok Bukittinggi yang berada dalam kawasan objek wisata

Taman Panorama Bukittinggi, Sumatera Barat. Taman Panorama dan Goa


3

Jepang berada di Jl. Panorama Bukittinggi, Sumatera Barat, hanya beberapa

meter dari Pical Sikai

Gambar 1.2 Geografis Lobang Jepang

C. Ventilasi

Ventilasi tambang merupakan suatu usaha pengendalian terhadap

pergerakan udara atau aliran udara tambang termasuk. Parameter yang

harus dipenuhi pada ventilasi adalah jumlah, mutu dan arah alirannya.

Adapun tujuan utama dari ventilasi tambang adalah menyediakan udara segar

dengan kuantitas dan kualitas yang cukup baik, kemudian mengalirkan serta

membagi udara segar tersebut ke dalam tambang sehingga tercipta kondisi

kerja yang aman dan nyaman bagi para pekerja tambang maupun proses

penambangan.

Jenis-jenis ventilasi berdasarkan metode pembangkitan daya ventilasi

antara lain :

1. Ventilasi Alami (natural ventilation)

Jika suatu tambang memiliki dua shaft yang saling berhubungan

pada kedalaman tertentu, sejumlah udara akan mengalir masuk ke dalam


4

tambang meskipun tanpa alat mekanis. Ventilasi alam disebabkan udara

pada downcast shaft lebih dingin dari udara pada upcast shaft. Dan juga

dipengaruhi oleh perbedaan tekanan dan densitas udara antara dua shaft

yang saling berhubungan tersebut.

Ventilasi alami terjadi karena perbedaan temperatur di dalam dan

luar stope. Temperatur di dalam stope akan mempengaruhi terjadinya

ventilasi alami. Apabila terdapat perbedaan temperatur intake airway dan

return airway yang ketinggian mulut pit intake dan Outakenya berbeda,

akan timbul perbedaan kerapatan udara di dalam dan di luar stope atau

udara di intake airway dan return airway yang berbeda temperaturnya,

yang akan membangkitkan aliran udara.

2. Ventilasi Mekanis (artificial / mechanical ventilation)

Ventilasi mekanis adalah jenis ventilasi dimana aliran udara

masuk ke dalam tambang disebabkan oleh perbedaan tekanan yang

ditimbulkan oleh alat mekanis. Yang dimaksud peralatan ventilasi

mekanis adalah semua jenis mesin penggerak yang digunakan untuk

memompa dan menekan udara segar agar mengalir ke dalam lubang

bawah tanah. Yang paling penting dan umum digunakan adalah fan atau

mesin angin. Mesin angin adalah pompa udara, yang menimbulkan

adanya perbedaan tekanan antara kedua sisinya, sehingga udara akan

bergerak dari tempat yang tekanannya lebih tinggi ke tempat yang lebih

rendah. Pada proses menerus dapat dilihat bahwa mesin angin


5

menerima udara pada tekanan tertentu dan dikeluarkan dengan tekanan

yang lebih besar.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Lobang Jepang

Selain lokasinya yang strategis di kota yang dahulunya merupakan

pusat pemerintahan Sumatera Tengah, tanah yang menjadi dinding

terowongan ini merupakan jenis tanah yang jika bercampur air akan semakin

kokoh. Bahkan gempa yang mengguncang Sumatera Barat tahun 2009 lalu

tidak banyak merusak struktur terowongan.Diperkirakan puluhan sampai

ratusan ribu tenaga kerja paksa atau romusha dikerahkan dari pulau Jawa,

Sulawesi dan Kalimantan untuk menggali terowongan ini. Pemilihan tenaga

kerja dari luar daerah ini merupakan strategi kolonial Jepang untuk menjaga

kerahasiaan megaproyek ini. Tenaga kerja dari Bukittinggi sendiri dikerahkan

di antaranya untuk mengerjakan terowongan pertahanan di Bandung dan

Pulau Biak

Karena alasan keamanan, lorong yang mengarah persis ke sisi jurang

Ngarai Sianok, ditutup dengan terali besi. Mulut lorong tersebut hanya

berjarak beberapa meter dari sisi jurang. Ada juga lorong yang menuju ke

pintu darurat (emergency exit). Sepanjang kiri dan kanan dalam lorong-lorong,

terdapat ruangan-ruangan yang jumlah keseluruhannya hingga 21 ruang,

terdiri dari:

1. Ruang Amunisi

2. Dapur

3. Penjara

4. Ruang Makan

6
7

5. Barak tentara, dll

Pemerintah Kota Bukittinggi berencana untuk memanfaatkan

beberapa ruangan di lorong-lorong ini untuk dijadikan sebagai kafe, mini

teater, museum dan lain sebagainya. Tanpa mengalih fungsikan dari keadaan

semula, ruangan-ruangan tersebut akan memberi gambaran yang cenderung

lebih natural. Sehingga setiap pengunjung bisa mengetahui dengan jelas

fungsi awal dari masing-masing ruangan ini.

Gambar 2.1 Pintu Masuk Lobang Jepang

Gambar 2.2 Jalan Mauk Lobang Jepang


8

Gambar 2.3 Ruang Amunisi

Gamabar 2.4 Dapur Penjara

Gambar 2.5 Ruang Penjara


9

Gambar 2.6 Ruang Sidang

Gamabar 2.7 Pintu Kecil Dalam Lorong

Gambar 2.8 Lorong 1 dan 2


10

Gambar 2.9 Lorong 3 dan 4

Gambar 2.10 Lorong 5

B. Ventilasi Alami dan KenyamananManusia

Mengalirnya udara di dalam suatu terowongan dapat disebabkan dua

faktor. Pertama adalah udara yang mengalir secara alami (natural), dan

berikutnya adalah udara mengalir dengan bantuan kipas angin. Ventilasi alami

terjadi akibat adanya perbedaan tekanan udara antara mulut terowongan dan

bagian dalam terowongan yang menyebabkan udara mengalir. Sedangkan

ventilasi buatan menggunakan prinsip yang sama dengan bantuan alat yang

dinamakan kipas angin yang bertujuan untuk menimbulkan perbedaan tekanan

antara dua titik di depan dan dibelakang kipas angin. Agar udara di dalam suatu
11

terowongan dapat mengalir secara alami ada beberapa kondisi yang harus

dipenuhi dalam hubungannya dengan konstruksi yang dibuat.

Berikut ini adalah beberapa persyaratan agar udara dapat mengalir

secara alami di dalam suatu terowongan:

1. Terowongan bukan merupakan terowongan buntu

2. Adanya perbedaan elevasi antara mulut terowongan dan bagian dalam

tambang serta mulut udara keluar

3. Adanya perbedaan temperatur di dalam dan di luartambang

Suhu tubuh manusia normal berdasarkan prinsip pengontrolan

thermostatik menjaga kondisi suhu tubuh berkisar pada 37oC. Dalam proses

menjaga suhu tubuh ini manusia akan berkeringat bila terlalu panas dan akan

mengigil bila terlalu dingin. Lippsmeier 2003, menunjukkan beberapa

penelitian mengenai suhu yang nyaman untuk orang-orang yang berada di

daerah tropis dalam tabel1.

Kenyamanan manusia di daerah tropis menurut Karsono, 2007,

berkisar dalam rentang suhu ruangan 23,40C sd 19,40C dengan kelembaban

berkisar antara 30-70%. Sedangkan dalam survei yang dilakukan pada pekerja

di perkantoran Jakarta didapatkan angka kenyamanan dapat di rasakan bila

suhu berkisar pada 26,4 0C. Kenyamanan manusia dalam kondisi ruang juga

berhubungan dengankelembaban udara yang berlangsung dalam lingkungan

tersebut. Sebagaimana terlihat dari tabel 1 di atas, berdasarkan penelitian

(Mom 194, dalam Karsono) di daerah Bandung pada tahun 1936- 1940
12

terlihat bahwa kenyamanan dapat dicapai pada temperatur efektif

antara20-260C.

Untuk mengetahui kenyamanan pengunjung di dalam Gua Jepang

Bukittinggi, maka temperatur yang sebaiknya di gunakan adalah temperatur

efektif. Hal ini dikarenakan udara yang ada di dalam terowongan ventilasi

merupakan udara bergerak yang bersumber dari ventilasi alami.

Tabel 1. Temperatur Efektif Untuk Beberapa Daerah Iklim Tropis diDunia

Pengarang Tempat Kelompok Manusia Batas Kenyamanan

ASHRAE USA Selatan Peneliti 20,50C - 24,50C TE

Rao (300LU) Calcutta India 20,00C - 24,50C TE

Webb (220LU) Malaysia, China 25,00C - 27,50C TE

Mom Singapura Indonesia 20,00C - 26,00C TE

Ellis (Khatulistiwa) Eropa 22,00C - 26,00C TE

Indonesia

(Khatulistiwa)

Singapura (Khatulistiwa)

Temperatur efektif adalah kondisi dimana manusia merasa lingkungan

tempatnya berada yang berhubungan dengan temperatur terasa nyaman.

Untuk menghitung temperatur efektif selain temperatur cembung kering dan

temperatur cembung basah, maka diperlukan juga data kecepatan udara yang

mengalir. Temperatur efektif dapat dicari dengan melakukan ploting ke dalam

nomograph temperatur efektif pada gambar 2.12.


13

Gambar 2.12 Nomograph Temperatur Efektif (Mc Elroy dalam Hartman


1997)

C. Peralatan danProsedur Pengukuran

Peralatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut :

1. Pengukuran kecepatan udara

Menggunakan anemometer digital untuk kecepatan di atas 0,4 m/s

dan smoke detektor ntuk kecepatan udara di bawah 0,4 m/s

a. Prosedur pengukuran menggunakan smoketube

1) Pengukuran dilakukan dengan metode fixed point (dengan

membagi terowongan menjadi beberapa titik dan mengambil

data pada titik yang mewakili bidang-bidang khayaltadi).

2) Smoke tube di posisikan di ujung penggaris yang memiliki skala

1-30cm
14

3) Smoke tube disemprotkan sehingga asap dari tube keluar

(stopwatch distart)

4) Bila ujung asap telah sampai pada skala 30 cm, stopwatch

dimatikan

5) Kalkulasi waktu yang terbaca apabila jarak yang ditempuh hingga

1meter.

b. Prosedur pengukuran menggunakananemometer

1) Pengukuran dilakukan dengan metode fixed point (dengan

membagi terowongan menjadi beberapa titik dan mengambil

data pada titik yang mewakili bidang-bidang khayaltadi).

2) Anemometer diatur dalam mode pengambilan kecepatan

udaramaximum.

3) Anemometer di posisikan hingga pembacaan pada alat

menjadistabil.

4) Bila angka kecepatan udara sudah tidak berubah dalam waktu

kurang lebih 1 menit, cata angka terakhir yangdibaca.

2. Pengukuran elevasi dantekanan

Elevasi diukur dengan menggunakan peralatan GPS.

Prosedur :

a. Hidupkan GPS sebelum mulai masuk ke dalamterowongan

b. Tunggu hingga pembacaan alat menjadistabil

c. Catat angka yang terbaca untuk evelasi dantemperatur


15

3. Pengukuran temperatur dan kelembaban

Temperatur dan kelembaban diukur dengan menggunakan

hygometer merk Dekko 642 N.

Prosedur :

a. Letakkan atau gantung hygrometer di tempat yang akan diukur

temperatur dan kelembapan udaranya

b. Tunggulah tiga sampai lima menit

c. Amati skala yang ada pada hygrometer, skala bagian atas

menunjukkan temperatur udara dan skala bagian bawah

menunjukkan nilai kelembapannya


BAB III
ANALIS DATA

A. Perhitungan Data

Setelah pengukuran selesai dilakukan didapatkan data sebagai berikut :

1. Kelompok 1

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 9,399 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,12 m/s

c. Temperatur kering ( td ) = 24,9 0C

d. Temperatur basah ( tw ) = 23,4 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 81 %

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 0,12 m/s . 9,399 m2 = 1,127 m3/s

b. Temperatur efectif ( te ) = 23,80C

2. Kelompok 2

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 8,465 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,039 m/s

c. Temperatur kering ( td ) =24 0C

d. Temperatur basah ( tw ) = 23 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 86 %

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

16
17

Debit (Q ) = 0,039 m/s . 8,465 m2 = 0,33 m3/s

b. Temperatur efectif ( te ) = 23,3 0C

3. Kelompok 3

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 7,578 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,042 m/s

c. Temperatur kering ( td ) = 24,2 0C

d. Temperatur kering ( td ) = 22,9 0C

e. Temperatur basah ( tw ) = 21,50C

f. Temperatur basah ( tw ) = 21,50C

g. Kelembapan relatif ( Rh ) = 76 %

h. Kelembapan relatif ( Rh) = 74 %

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 0,042 m/s . 7,578 m2 = 0,318 m3/s

b. Temperatur efectif ( te ) = 24,5 0C

c. Temperatur efectif ( te ) = 22,5 0C

4. Kelompok 4

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 5,35 m2

Luas terowongan ( A ) = 5,38 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,137 m/s

Kecepatan ( V ) = 0,147 m/s


18

c. Temperatur kering ( td ) = 22,9 0C

Temperatur kering ( td ) = 23,1 0C

d. Temperatur basah ( tw ) = 21,60C

Temperatur basah ( tw ) = 220C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 82%

Kelembapan relatif ( Rh ) = 85%

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) = V . A

Debit (Q ) = 0,137 m/s . 5,35 m2 = 0,732 m3/s

Debit (Q ) = 0,147 m/s . 5,38 m2 = 0,791 m3/s

b. Temperatur efectif ( te ) = 220C

Temperatur efectif ( te ) = 22,50C

5. Kelompok 5

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 5,31 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,4 m/s

c. Temperatur kering ( td ) = 22,6 0C

d. Temperatur basah ( tw ) = 21,7 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 86 %

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 0,4 m/s . 5,31 m2 = 2,12 m3/s

b. Temperatur efectif ( te ) = 19,5 0C


19

6. Kelompok 6

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 4,52 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,2 m/s

c. Temperatur kering ( td ) = 23,4 0C

d. Temperatur basah ( tw ) =21,9 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 72 %

f. Koordinat tunnnel = S 00053’57”

E 100020’54,2”

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 0,2 m/s . 4,52 m2 = 0,905 m3/s

b. Temperatur efectif ( te ) = 21,5 0C

7. Kelompok 7

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A1 ) = 5,321 m2

Luas terowongan ( A2 ) = 6,543 m2

Luas terowongan ( A3 ) = 5,756 m2

b. Kecepatan ( V1 ) = 0,23 m/s

Kecepatan ( V2 ) = 0,169m/s

Kecepatan ( V3 ) = 0,188 m/s

c. Temperatur kering ( td ) = 22,3 0C


20

Temperatur kering ( td ) = 22,2 0C

Temperatur kering ( td ) = 22,2 0C

d. Temperatur basah ( tw ) = 21,5 0C

Temperatur basah ( tw ) = 21,4 0C

Temperatur basah ( tw ) = 21,3 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 87 %

Kelembapan relatif ( Rh ) = 91 %

Kelembapan relatif ( Rh ) = 89 %

f. Koordinat tunnnel = S 00018’07,6”

E 100021’56,2”

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 0,23 m/s .5,321 m2 = 1,223 m3/s

Debit (Q) = 0,169m/s . 6,543 m2 = 1,105 m3/s

Debit (Q) = 0,188 m/s . 5,756 m2 = 1,082 m3/s

b. Temperatur efectif ( te ) = 22,7 0C

Temperatur efectif ( te ) = 22,4 0C

Temperatur efectif ( te ) = 22,3 0C

8. Kelompok 8

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 6,325 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,17 m/s

c. Temperatur kering ( td ) = 22,5 0C


21

d. Temperatur basah ( tw ) = 21,3 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 82 %

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 0,17 m/s.6,325 m2 = 1,07 m3/s

b. Temperatur efectif ( te ) =22,7 0C

9. Kelompok 9

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 5,75 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,35 m/s

c. Temperatur kering ( td ) = 22,7 0C

d. Temperatur basah ( tw ) = 21,7 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 86 %

f. Koordinat tunnnel = S 0650604

E 9900723

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 0,35 m/s .5,75 m2 = 2,086 m3/s

b. Temperatur efectif ( te ) = 20,5 0C

10. Kelompok 10

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 9,676 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,245 m/s


22

c. Temperatur kering ( td ) = 28,6 0C

d. Temperatur basah ( tw ) = 25,6 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 63 %

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 0,245 m/s . 9,676 m2 = 2,37 m3/s

b. Temperatur efectif ( te ) = 25,9 0C

11. Kelompok 11

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 6,412 m2

Luas terowongan ( A ) = 7,375 m2

Luas terowongan ( A ) = 7,593 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,25 m/s

Kecepatan ( V ) = 0,17 m/s

Kecepatan ( V ) = 0,14 m/s

c. Temperatur kering ( td ) = 22,8 0C

Temperatur kering ( td ) = 22,6 0C

Temperatur kering ( td ) = 22,7 0C

d. Temperatur basah ( tw ) = 21,5 0C

Temperatur basah ( tw ) = 21,5 0C

Temperatur basah ( tw ) = 21,3 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 81 %

Kelembapan relatif ( Rh ) = 83 %
23

Kelembapan relatif ( Rh ) = 79 %

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 0,25 m/s . 6,412 m2 = 1,603 m3/ s

Debit (Q ) = 0,17 m/s . 7,375 m2 = 1,253 m3/ s

Debit (Q ) = 0,14 m/s . 7,593 m2 = 1,063 m3/ s

b. Temperatur efectif ( te ) = 23 0C

Temperatur efectif ( te ) = 22,6 0C

Temperatur efectif ( te ) = 22,8 0C

12. Kelompok 12

a. Luas terowongan ( A1 ) = 7,5 m2

Luas terowongan ( A2 ) = 7,187m2

Luas terowongan ( A3 ) = 7,5 m2

b. Kecepatan ( V1 ) = 0,142 m/s

Kecepatan ( V2 ) = 0,076 m/s

Kecepatan ( V3 ) = 0,0798 m/s

c. Temperatur kering ( td ) =22,7 0C

Temperatur kering ( td ) = 22,8 0C

Temperatur kering ( td ) = 22,3 0C

d. Temperatur basah ( tw ) = 21,6 0C

Temperatur basah ( tw ) = 21,5 0C

Temperatur basah ( tw ) = 21,6 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 82 %
24

Kelembapan relatif ( Rh ) = 79 %

Kelembapan relatif ( Rh ) = 79 %

f. Koordinat tunnnel = S 065640

E 990072

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 0,142 m/s . 7,5 m2 = 1,071 m3/ s

Debit (Q ) = 0.076 m/s . 7,18 m2 = 0,573 m3/ s

Debit (Q ) = 0,0798 m/s .7,5 m2 = 0,598 m3/ s

b. Temperatur efectif ( te ) = 22,6 0C

Temperatur efectif ( te ) = 22,9 0C

Temperatur efectif ( te ) = 23,4 0C

13. Kelompok 13

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 8,44 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,25 m/s

c. Temperatur kering ( td ) = 22,4 0C

d. Temperatur basah ( tw ) = 21,3 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 83 %

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 0,25 m/s . 8,44 m2 = 2,11 m3/s

b. Temperatur efectif ( te ) = 22,6 0C


25

14. Kelompok 14

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 4,83 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,185 m/s

c. Temperatur kering ( td ) =23,1 0C

d. Temperatur basah ( tw ) = 21,4 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 80 %

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 4,83 m/s . 0,185 m2 = 0,893 m3/s

b. Temperatur efectif ( te ) = 25,6 0C

15. Kelompok 15

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 5,67 m2

Luas terowongan ( A ) = 8,96 m2

Luas terowongan ( A ) = 8,42 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,15 m/s

Kecepatan ( V ) = 0,175 m/s

Kecepatan ( V ) = 0,23 m/s

c. Temperatur kering ( td ) = 23,1 0C

Temperatur kering ( td ) = 22,9 0C

Temperatur kering ( td ) = 22,8 0C

d. Temperatur basah ( tw ) = 21,5 0C


26

Temperatur basah ( tw ) = 21,3 0C

Temperatur basah ( tw ) = 21,3 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 86 %

Kelembapan relatif ( Rh ) = 83 %

Kelembapan relatif ( Rh ) = 83 %

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 0,15 m/s . 5,67 m2 = 0,85 m3/s

Debit (Q ) = 0,175 m/s . 8,96 m2 = 1,56 m3/s

Debit (Q ) = 0,23 m/s . 8,42 m2 = 1,93 m3/s

b. Temperatur efectif ( te ) = 25 0C

Temperatur efectif ( te ) = 24 0C

Temperatur efectif ( te ) = 24 0C

16. Kelompok 16

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 4,989 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,15m/s

c. Temperatur kering ( td ) = 22,2 0C

d. Temperatur basah ( tw ) = 21,7 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 87 %

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 0,15 m/s .4,989 m2 = 0,748 m3/s


27

b. Temperatur efectif ( te ) = 22,5 0C

17. Kelompok 17

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 4,5 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,09 m/s

c. Temperatur kering ( td ) = 22,8 0C

d. Temperatur basah ( tw ) = 21,5 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 75 %

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 0,09 m/s . 4,5 m2 = 0,405 m3/s

b. Temperatur efectif ( te ) = 23,2 0C

18. Kelompok 18

Data-data yang didapatkan di terowongan

a. Luas terowongan ( A ) = 7,3 m2

b. Kecepatan ( V ) = 0,08 m/s

c. Temperatur kering ( td ) = 22,8 0C

d. Temperatur basah ( tw ) = 21,9 0C

e. Kelembapan relatif ( Rh ) = 76 %

Hasil pengolahan data yang didapatkan

a. Debit (Q) =V.A

Debit (Q ) = 0,08 m/s . 7,3 m2 = 0,6 m3/s

b. Temperatur efectif ( te ) = 23,8 0C


28

B. Hasil Perhitungan

Setelah dilakukan perhitungan dapat kita ketahui panjang, tinggi, luas,

temperatur basah, temperatur kering, temperatur efektif, kelembapan relatif

serta kecepatan aliran udara pada lobang jepang. Arah aliran udara dapat kita

lihat seperti pada gambar 3.1.

Gambar 3.1 Arah Aliran Udara


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Lobang Jepang (Japanese Tunnel) dibangun pertama kali pada tahun

1942 oleh para tentara Jepang dan pekerja Romusha di

Indonesia.Sebelumnya, Lubang Jepang dibangun sebagai tempat

penyimpanan perbekalan dan peralatan perang tentara Jepang, dengan

panjang terowongan yang mencapai 1400 m dan berkelok-kelok serta

memiliki lebar sekitar 2 meter. Sejumlah ruangan khusus terdapat di

terowongan ini, di antaranya adalah ruang pengintaian, ruang

penyergapan, penjara, dan gudang senjata.

2. Ventilasi alam disebabkan udara pada downcast shaft lebih dingin dari

udara pada upcast shaft. Dan juga dipengaruhi oleh perbedaan tekanan

dan densitas udara antara dua shaft yang saling berhubungan tersebut.

3. Ventilasi alami terjadi karena perbedaan temperatur di dalam dan luar

stope. Temperatur di dalam stope akan mempengaruhi terjadinya

ventilasi alami. Apabila terdapat perbedaan temperatur intake airway dan

return airway yang ketinggian mulut pit intake dan Outake berbeda, akan

timbul perbedaan kerapatan udara di dalam dan di luar stope atau udara

di intake airway dan return airway yang berbeda temperaturnya, yang

akan membangkitkan aliran udara.

4. Konstruksi terowongan-terowongan ini dirancang dengan menerapkan

prinsip-prinsip pengaliran udara secara alami. Dengan adanya kontur yang

berbeda elevasi, beberapa mulut terowongan dibangun untuk mendukung

29
30

mengalirnya udara secara alami ke terowongan bagian dalam yang berisi

ruangan-ruangan untuk berbagai keperluan.Untuk mengetahui

kenyamanan pengunjung di dalam Gua Jepang Bukittinggi, maka

temperatur yang sebaiknya di gunakan adalah temperatur efektif. Hal ini

dikarenakan udara yang ada di dalam terowongan ventilasi merupakan

udara bergerak yang bersumber dari ventilasi alami.

5. Temperatur efektif yang tercatat dari hasil pengukuran yang dilakukan

berkisar antara 19,50C hingga 25,90C. Range ini masih berada di antara

rentang nyaman berdasarkan penelitian Mom. Dan tercatat satu lokasi

dengan temperatur efektif di bawah standar yaitu di lubang pelarian yang

memang dirasa cukup dingin bila berada di daerah ini dalam waktu agak

lama.

B. Saran

Dari hasil pengukuran yang didapatkan, maka perlu dilakukan

penelitian lebih lanjut dengan memperhitungkan lebih akurat mengenai

data-data elevasi, dimensi terowongan dengan menggunakan peralatan dan

metode yang lebih sesuai dan presisi. Sehingga akan didapatkan keakuratan

data yang lebih tinggi. Dengan diketahuinya data yang lebih akurat, perilaku

udara yang mengalir di dalam terowongan terowongan dapat disimulasikan

dengan lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA

Yulianingsih, T.M.; Ratino. Jelajah wisata Nusantara: berbagai pilihan tujuan


wisata di 33 provinsi. Niaga Swadaya. ISBN 979-788-166-0.

Yono, Tri Harso, 2007, “Dari Kenyamanan Termis Hingga Pemanasan Bumi :
Suatu Tinjauan Arsitektur Dan Energi”, Pidato Pengukuhan Guru Besar
Tetap, Universitas Tarumanegara, Jakarta

Prata, Agung Darius. 2014. “Aplikasi Pengukuran Ventilasi Alami”, Widyaiswara


Muda Balai Pendidikan Dan Pelatihan Diklat Tambang Bawah Tanah.
Sawahlunto http://bdtbt.esdm.go.id/index.php/file/file/ventilasi.pdf.
Diakses pada tanggal 30 Desember 2017.
LAMPIRAN