Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KEGIATAN PPDH

ROTASI KLINIK

Yang dilaksanakan di

DI PRATEK DOKTER HEWAN BERSAMA (PDHB)

DRH. CUCU SAJUTHI JAKARTA UTARA

Kasus Penyakit Dalam 1

Infeksi Panleukopenia Virus pada Kucing Lokal

Oleh:

Sultan Alon Atas Asih, S.KH

150130100011022

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2016
TINJAUAN KASUS

1. SIGNALEMEN

Tanggal : 17 Februari 2016

Nama : Cookie

Ras/Breed : Dosmetic Short Hair

Warna Rambut : Putih

Sex : Jantan

Usia : 2,4 Tahun

Gambar 1. Cookie
Anamnesa : Kucing Cookie datang dengan gejala gatal-gatal di area telinga

hingga mengeluarkan cairan, terkadang muntah dan salvasi berlebihan, kondisi

cookie sangat lemah, nafsu makannya menurun.

2. PEMERIKSAAN FISIK

2.1 Keadaan Umum

Berat Badan : 2,4 kg

Perawatan : Baik

Habitus/Tingkah laku : Lethargy

Gizi : Baik

Pertumbuhan Badan : Baik

Sikap berdiri : Lesu, dapat berdiri dengan 4 kaki

Ekspresi wajah : Tidak responsive

Adaptasi lingkungan : Apatis

Suhu tubuh : 38 oC

Frekuensi nadi : 140x/ menit

Frekuensi napas : 32x/menit

Capillary Refill Time (CRT) : < 2 detik

2.2 Kulit dan Rambut

Aspek rambut : Kotor, kusam

Kerontokan : Tidak ada kerontokan

Kebotakan : Tidak ada kebotakan

Turgor kulit : Baik, <3 detik

Permukaan kulit : Kasar


Bau Kulit : Berbau

2.3 Kepala dan Leher

Ekspresi wajah : Responsif

Pertulangan wajah : Kompak

Posisi tegak telinga : Turun di kedua sisi

Posisi kepala : Tegak diatas bahu

2.4.1 Mata dan Orbita Kiri

Palpebrae : Membuka dan menutup sempurna

Cilia : Melengkung keluar

Konjunctiva : Pucat kekuning-kuningan, basah dan tidak ada

kerusakan

Membran nictitans : Terlihat sedikit

2.4.2Mata dan Orbita Kanan

Palpebrae : Membuka dan menutup sempurna,

Cilia : Melengkung keluar

Konjunctiva : Pucat kekuning-kuningan, basah, tidak ada kerusakan

Membran nictitans : Terlihat sedikit

2.4.3 Bola Mata Kiri

Sclera : Putih

Kornea : Jernih

Iris : Coklat, tidak ada perubahan

Pupil : Tidak ada perubahan

Limbus : Datar
Refleks pupil : Ada

Lensa : Tidak ada kelainan

Vasa injeksio : Ada

2.4.4 Bola Mata Kanan

Sklera : Kekuning-kuningan

Kornea : Jernih

Iris : Coklat, tidak ada perubahan

Pupil : Tidak ada perubahan

Limbus : Datar

Refleks pupil : Ada

Lensa : Tidak ada kelainan

Vasa Injection : Ada

2.5 Hidung dan Sinus

Bentuk pertulangan : Simetris

Aliran udara : Aliran udara lancar pada kedua kavum nasal

Kelembapan : Lembab

Discharge : Terdapat sedikit discharge di kedua lubang hidung

2.6 Mulut dan Rongga Mulut

Defek bibir : Tidak ada perubahan

Mukosa : Ikterus, kekuning-kuningan

Lidah : Ikterus, kekuning-kuningan terdapat ulcer di ujung

lidah sebelah kiri

Gigi geligi : Tidak ada kelainan, terdapat ulcer di gusi kiri

2.7 Telinga
Posisi : Turun di kedua sisi

Bau : Bau khas serumen

Permukaan daun telinga : Terdapat aural hematom dikeduanya

Krepitasi : Ada krepitasi

Reflek panggilan : Ada

2.8 Leher

Perototan : Kompak

Trakea : Teraba, tidak ada refleks batuk saat di palpasi

Esofagus : Teraba dan kosong

2.9 Kelenjar Pertahanan

2.9.1 Ln. Submandibular : Teraba

Ukuran : Kelenjar bagian kiri mengalami perbesaran, sedangkan

kelenjar kanan normal

Lobulasi : Jelas

Konsistensi : Kenyal

Kesimetrisan : Tidak simetris kanan dan kiri

2.9.2 Ln. Femoralis : Teraba

Ukuran : Kecil

Lobulasi : Jelas

Konsistensi : Kenyal

Kesimetrisan : Simetris

2.10 Thoraks

2.10.1 Sistem Pernafasan


Bentuk rongga thoraks : Simetris

Tipe pernapasan : Thoraco Abdominal

Ritme pernapasan : Ritmis/ teratur

Intensitas : Cepat

Frekuensi : 32 kali/menit

Trakea : Teraba

Refleks batuk : Tidak ada

Penekanan rongga thoraks : Tidak ada reaksi kesakitan

Penekanan M. intercostalis : Tidak ada reaksi kesakitan

Lapangan Paru-Paru : Tidak ada perluasan

Gema Perkusi : Nyaring

2.10.2 Sistem Peredaran Darah

Ictus cordis : Tidak ada

Frekuensi : 140 kali/menit

Intensitas : Normal

Ritme : Ritmis

Suara ikutan : Tidak ada

Sinkron Pulsus dan : Sinkron

Jantung

2.11 Abdomen dan Organ Pencernaan

Ukuran rongga abdomen : Tidak terdapat perbesaran abdomen

Bentuk rongga abdomen : Simetris


Epigastrikus : Tidak respon sakit, tidak ada pembesaran

Mesogastrikus : Tidak ada pembesaran, tidak ada respon sakit

Hipogastrikus : Tidak respon sakit, tidak ada pembesaran

Suara peristaltik usus : Terdengar

Daerah sekitar anus : Kotor

Refleks sphincter ani : Terdapat refleks mengkerut

Kebersihan perianal : kotor

2.12 Sistem Urogenital

Ginjal : Teraba saat dilakukan dipalpasi, terletak di

epigastrikum dan tidak ada reaksi kesakitan saat

dipalpasi.

Vesica Urinaria : Teraba, terletak didaerah hipogastrikum dan tidak ada

reaksi kesakitan saat dipalpasi.

Preputium : tidak ada kerusakan

Penis : pucat, licin, mengkilat, basah, tidak ada kerusakan

Skrotum : Tidak ada kelainan

2.13 Alat Gerak

Perototan kaki depan : Simetris

Perototan kaki belakang : Simetris

Spasmus otot : Tidak ada

Tremor : Tidak ada

Cara berjalan : Kurang Koordinatif, lemah

Bentuk pertulangan : Tidak ada penonjolan


Tuber coxee dan tuber ischii : Simetris

Palpasi Struktur Pertulangan

Kaki kanan depan : Tegas dan kompak

Kaki kanan belakang : Tegas dan kompak

Kaki kiri depan : Tegas dan kompak

Kaki kiri belakang : Tegas dan kompak

Konsistensi pertulangan : Keras

Reaksi saat palpasi : Tidak ada reaksi kesakitan

Panjang kaki depan ka/ki : Sama panjang, simetris

Panjang kaki belakang ka/ki : Sama panjang, simetris

Reaksi saat palpasi otot : Tidak ada rasa sakit

3. Diagnosa Banding

-Gangguan Hepar

-Gangguan Gastro Intestinal

-Calicivirus

D. PEMERIKSAAN LANJUTAN

-Rapid test

Anigen Rapid FPV Aq Test Kit adalah deteksi kualitatif chromatographic

immunoassay untuk deteksi antigen Feline Panleukopenia Virus dengan

menggunakan feces. Anigen Rapid FPV Aq Test Kit memiliki tanda “ I “ dan “C”

sebagai garis test dan garis kontrol. Garis “C” berfungsi sebagai garis kontrol
presedural, garis tersebut akan nampak jika semua prosedur dijalankan dengan

benar. Sedangkan garis pada kolom “I” akan menunjukan garis bewarna ungu

jika terdapat cukup antigen FPV pada spesimen. Prinsip kerja Rapid test ini

adalah ikatan antigen virus Panleukopenia pada Feces suspect FPV akan berikatan

dengan antibody pada kit, yang akan membentuk garis ungu pada kolom “I”. Pada

pengujian feses kucing Cookie didapatkan garis ungu samar pada kolom “I” yang

artinya kucing Cookie positif terserang Virus Panleukopenia seperti yang

ditunjukan gambar 2.

Gambar 2. Rapid Test untuk Feline Panleukopenia Virus

E. DIAGNOSA

Hasil pemeriksaan menunjukan kucing Cookie terserang virus

panleukopenia, dengan disertai ulcer pada gusi dan lidah yang mengindikasikan

terdapat co-infeksi suspect calici virus.

F. PROGNOSIS

Dubius inFausta

G.TERAPI

Tabel 3. Obat yang digunakan untuk terapi

Terapi Golongan Zat Aktif Keterangan


Terapi - - -

Kausatif

Terapi Antibiotik Cefotaxime 0,10 mg/kg Diberikan tanggal 17-19

Simtomatik Febuari

Histamin(H2) Ranitidin 2,5 mg/kg diberikan tanggal 17-19

antagonist febuari

Antiemetik Ondansentron 0,2 mg/kg diberikan saat terjadi muntah

sehari sekali tanggal 19 febuari

Terapi Ornipural 2,5 mg/kg diberikan sekali sehari

Suportif tanggal 17 febuari

Hematopan B12 0,10 ml/kg Diberikan sekali sehari pada

tanggal 17&19 febuari

Bio-ATP 0,10 ml/kg Diberikan sekali sehari pada

tanggal 17&19 febuari

Vitamin Vitamin K1 0,10 ml/kg diberikan sekali sehari pada

tanggal 17&19 febuari

Vitamin Vitamin C Diberikan sekali sehari 17-19 febuari

Pujimin® Ekstrak ikan gabus Diberikan setiap hari 1 caps

Drontal® Anti helmint ¾ caps diberikan sekali pada tanggal 19

febuari

Observasi Rawat Inap


Tabel 2. Hasil Observasi Rawat Inap Cookie

Tgl Gejala Klinis Makan Minu Defekasi Urinasi Terapi

17 Suhu 360C,Echimosa di (+) (+) (-) (+) R/Cefotaxime

daun telinga, hematoma Makan Pekat R/Ranitidin

pada telinga kanan, otiti sendiri R/Ondansetron

purulenta, stomatitis, Hembio

ulcer pada lidah dan R/Ornipural

jaundice(+++) Vitamin k1

18 Pagi (+) (+) (-) (+) R/Cefotaxime

Suhu 380C, stomatitis, disuap Kuning R/Ranitidin

ulcer kemerahan di Pekat R/Ondanset

ujung lidah, selaput Vitamin K

lendir pucat, Vitamin C

jaundice(+++), tidak R/Yunan baiyo

terlalu lesu, aural R/Fufang

hematoma telinga

kanan, memar di daun

telinga kanan dan

beberapa bagian tubuh.

19 Pagi (++) (+) (+) feses R/Cefotaxime

Suhu: 38,50C, tidak berbentu R/Ranitidin

vomit, pilek membaik, k dan R/Ondansetron

telinga kirim kotor sedikit Hembio Vitamin K1


sekali, ulcus di lidah lembek Vitamin C

dan tidak terlalu lesu, R/Yunan baiyao tabur

jaundice (+++) Treat telinga

R/Drontal ¾ tab

20 Pagi (++) (+) (-) (+) Obat oral

Suhu 38,70C, selaput kuning R/Yunnan baiyo

pucat, turgor kulit Treat mulut

baik,lepas infus, cuping

hidung basah, tidak

pilek, tidak bersin, tidak

muntah, ulcus di lidah

dan perut tidak

kembung.

,jaundice (++)

21 Pagi 38,60C (++) (+) (+) (+) Yunan

aktif, tidak lesu, makan kuning Treat telinga dan mulut

selaput pucat, tidak sendiri Obat oral:

pilek, tidak muntah, R/cefad 50mg,

stomatitis, otitis, pinnae R/pronicy ¼ tab,

nekrotik TF plus ¼ cap

jaundice(+) R/nutriflam ¼ cap

R/surbexz 1/6 tab

R/transanin 1/6 tab


H. PEMBAHASAN

Kucing Cookie datang dengan keadaan terlihat lemas, gatal-gatal di area

telinga hingga mengeluarkan cairan, makan dan minum masih mau namun

terkadang muntah, lemah, berliur, discharge pada hidung. Dari hasil pemeriksaan

fisik didapatkan pembengkakan pada limfonodus submandibular kiri, terdapat

ulcer pada gusi, serta ikhterus pada mukosa mulut dan mata. Dari temuan ini

diagnosa sementaranya adalah suspect virus panleukopenia, suspect calicivirus,

suspect gangguan hepar, dan suspect gangguan saluran gastrointestinal. Adanya

gejala seperti muntah, otitis, jaundice,dan kucing Cookie juga belum pernah

divaksin sehingga mengarahkan diagnosa pada infeksi virus panleukopenia.

Dokter memutuskan untuk melakukan uji cepat anigen rapid test FPV. Dari hasil

diagnosa cepat tersebut menunjukkan kucing Cookie positif terinfeksi virus

panleukopenia. Sehingga disimpulkan kucing Cookie terserang virus

panleukopenia dengan penyakit co-infeksi suspect calicivirus yang ditegaskan

dengan temuan ulcer pada lidah dan gusi,dan diikuti adanya suspect gangguan

sistem hepatik.

Feline Panleukopenia Virus (FPV) adalah suatu penyakit kucing yang

disebabkan oleh virus feline parvo single-stranded DNA yang sangat menular

pada semua anggota felidae (Kruse et al, 2010). Feline Panleukopenia Virus dan

Canine Parvovirus Virus tergolong kedalam genus Protoparvovirus subfamily

Parvovirinae dari family Parvoviridae. CPV-1 dan CPV-2 menyerang anjing,

CPV-2 pertama kali menjadi penyakit emerging pada pertengahan tahun 1970 dan

menyebar keseluruh dunia menyerang anjing pada tahun 1978, selanjutnya variasi

antigen CPV-2a,b,c berkembang dan menginfeksi spesies lain seperti kucing,


namun FPV ini tidak dapat menyerang anjing (Allison, 2014). CPV setiap

tahunnya berevolusi untuk meningkatkan virulensinya, dalam beberapa laporan

mengungkapkan bahwa CPV-2c adalah varian yang memiliki virulensi tertinggi,

namun tidak ditemukan kejadian yang membedakan virulensi antar varian tersebut

(Decaro,2012).

Gambar 3. Bentuk dari Virus Panleukopenia pada kucing (Truyen,2002).

Replikasi genome parvovirus terjadi di nukleus pada fase S, oleh

karena itu FPV dan CPV menginfeksi sel yang memiliki kemampuan pembelahan

yang tinggi yaitu pada sel intestine, bone marrow atau jaringan lymphoid

(Resibois, 2007), sehingga menyebabkan penurunan jumlah leukosit dan enteritis.

Infeksi FPV diawali dengan supresi bone marrow dan mengakibatkan leukopenia

dan lymphopenia pada pemeriksaan darah pasien terduga penyakit tersebut

(Breuer, 1998;Truyen, 2002). Menurut Url (2013) FPV tidak pernah dilaporkan

menyerang jaringan saraf pada kucing dewasa, meskipun begitu hasil pemeriksaan

imunostaining pada CPV menunjukan hasil yang positif pada feline cerebral

neurons. Virus yang sangat cepat penularannya ini biasa disebut juga sebagai

distemper kucing atau enteritis. FPV merupakan penyakit yang menyerang segala
umur kucing dan dapat menimbulkan banyak kematian kucing terutama pada anak

kucing dapat kematian 75%. Prognosis serius / dubius-infausta apabila jumlah

total sel darah putih berkurang sampai dibawah 1000 sel per cc darah. Anak

kucing yang terinfeksi selama 2 minggu sebelum dan setelah lahir akan menderita

hipoplasia serebellum, yang disebabkan infeksi parvovirus pada neuroblas dari

external granular layer (Poncelet, 2013;Resibois, 2007). Saat datang Cookie

berumur 2,4 tahun atau dapat dikatakan sebagai kucing dewasa sehingga

prognosisnya mengarah ke dubius-infausta dan dengan didukung keadaan cookie

yang belum menunjukan gejala diare, nafsu makan terus mengalami peningkatan.

Virus panleukopenia pada kucing paling umum menyerang anakan

kucing pada masa penyapihan , tetapi semua umur kucing rentan terserang virus

ini. Infeksi biasanya lewat mulut, tetapi juga dapat lewat inhalasi. Masa inkubasi

rata-rata 5 hari (kisaran 2-10 hari). Mulai 2-5 hari setelah infeksi, leukopenia

terjadi dan paling hebat pada hari ke 5-6 setelah infeksi, ketika sel darah putihnya

mulai mencapai kurang dari 100 per cc darah. Gejala klinisnya meliputi demam

(>400C) yang bertahan selama lebih kurang 24 jam, dan selama periode ini, pada

bentuk penyakit yang perakut terjadi kematian (Kruse, 2010).

Virus panleukopenia masuk melalui uronasal kucing Cookie

kemudian masuk aliran darah, Infeksi virus panleukopenia akan merangsang

sitokin proinflamasi yang diantaranya yaitu interleukin-1 (IL-1), Tumor Necrosis

Factor (TNF), limfosit yang teraktivasi, interferon (INF), interleukin-2 (IL-2) dan

Granulocyte-macrophage colony-stimulating factor (GM-CSF). Sebagian besar

sitokin ini dihasilkan oleh makrofag yang merupakan akibat reaksi terhadap

pirogen eksogen. Dimana sitokin-sitokin ini merangsang hipotalamus untuk


meningkatkan sekresi prostaglandin, yang kemudian dapat menyebabkan

peningkatan suhu tubuh (Roth,2001), namun dalam kasus kucing Cookie

peningkatan suhu secara signifikan tidak terjadi. Suhu tubuh cookie sejak pertama

datang tanggal 17 sampai 21 febuari 2016 adalah berkisar 360C hingga mencapai

38,70C masih dalam kisaran suhu normal kucing. Penurunan suhu tersebut

dimungkinkan karena adanya shock hipovolemik yang disebabkan kekurangan

cairan atau dehidrasi akibat muntah-muntah pasca infeksi virus Panleukopenia.

Virus panleukopenia akan menginfeksi sel yang memiliki kemampuan

pembelahan yang tinggi yaitu pada bone marrow, sel intestine, atau jaringan

lymphoid (Resibois, 2007), Infeksi FPV pada bone marrow akan menyebabkan

destruksi dari semua prekusor hematopoietik rata-rata setelah 3-4 hari pasca

infeksi. Neutropenia terjadi seiring dengan munculnya gejala klinis. Hal ini

disebabkan karena waktu paruh untuk neutrofil bersirkulasi pendek dan

peningkatan kebutuhan akan sel tersebut pada kasus enteritis sehingga neutropenia

lebih diasosiasikan pada keadaan viral enteritis, endotoxemia, dan prekusor

granulopoietik sel (Duncan, 2003). Namun pada kucing cookie tidak dilakukan

pemeriksaan darah sehingga tidak diketahui perubahan penyusun komponen darah

cookie.

Infeksi FPV pada sumsum tulang akan menyebabkan penurunan White

Blood Cell (WBC) dikarenakan sumsum tulang sebagai panghasil leukosit

produksinya menurun, infeksi dari leukosit yang bersirkulasi pada jaringan atau

sering diasosiasikan limfosit akan mengiduksi terjadinya limpopenia akut dan

neutropenia (Pollock, 1982). Pada fase ini leukosit terus menurun, dengan jumlah

White Blood Cell (WBC) terus menurun dibawah 2000-3000sel/µL (Decaro,


2012). Pada masa-masa ini kucing sangat rentan terserang virus ataupun bakteri

opportunistic atau sering disebut co-infection. Selain menyerang sel intestine dan

bone marrow FPV juga menyerang jaringan limpoid yang berfungsi untuk

memproduksi limfosit sebagai pertahanan tubuh. Jaringan limfoid berdasar kan

fungsinya dibedakan menjadi jaringan limfoid primer dan jaringan limfoid

sekunder. Jaringan limfoid primer berfungsi sebagai tempat diferensiasi limfosit

yang berasal dari jaringan myeloid. Terdapat dua jaringan limfoid primer, yaitu

kelenjar thymus yang merupakan diferensiasi limfosit T dan sumsum tulang yang

merupakan diferensiasi limfosit B. Jaringan limfoid sekunder berfungsi sebagai

tempat menampung sel-sel limfosit yang telah mengalami diferensiasi. Rusaknya

jaringan limpoid akan sangat berpengaruh pada imunitas tubuh dan meningkatkan

kemungkinan adanya co-infection yang mengikuti infeksi FPV.

Pada kucing Cookie dicurigai terdapat virus calici virus sebagai co-

infection dari FPV, temuan ini ditegaskan dengan adanya ulcer pada gusi dan

ujung lidah dari Cookie yang merupakan gejala patognomonis untuk infeksi

Feline Calicivirus (FCV). Calici virus adalah RNA virus genus vesivirus pada

family calicivirus single stranded, tidak memiliki envelope, FCV dapat terisolasi

dari sekitar 50% kucing dengan infeksi saluran pernafasan atas. Gejala klinis pada

kucing yang terinfeksi FCV dapat terjadi secara akut, kronis, atau tidak sama

sekali. Infeksi laten atau subklinis sering menjadi gejala ketika kucing stres,

seperti saat adopsi. Gejala akut FCV termasuk demam, konjungtivitis, discharge

pada hidung, bersin dan ulserasi dari mulut (stomatitis) (Litster, 2005).

Pada kucing Cookie terlihat jaundice, gejala ini kemungkinan

mengarah ke infeksi Virulent Systemic Calicivirus (VS-FCV) yang telah


menyerang sel hati kucing Cookie, seperti yang teleh dilaporkan oleh Coyne et al,

(2006) yang menemukan antigen calicivirus pada sebagian besar liver kucing

dengan gejala jaundice di USA, hal ini menunjukan beberapa strain calicivirus

telah meningkatkan virulentnya, yang sering dinamakan Virulent Systemic

Calicivirus (VS-FCV). Calicivirus mampu menginfeksi multiple organ salah

satunya sel hati, sehingga terjadi peningkatan bilirubin dalam darah. Peningkatan

kadar bilirubin dapat terjadi secara intra hepatic, prehepatic, post hepatic yang

dapat diketahui melalui pemeriksaan kimia darah, namun dalam kasus kucing

Cookie yang menunjukan gejala jaundice pemeriksaan ini tidak dilakukan.

Gangguan intra hepatic terjadi saat sel hepatosit mengalami infeksi virus dan

menyebabkan inflamasi sehingga terjadi hambatan kanalikuli hepar sehingga

terjadi regurgitasi bilirubin ke darah, Gangguan pre hepatic dapat terjadi karena

adanya pemecahan haemoglobin disebabkan oleh infeksi ataupun proses katabolik

hemoglobin, dalam proses penghancuran eritrosit oleh RES (Retikulo Endositial

System) di limpa. Gangguan intra hepatic disebabkan adanya refluk bilirubin dari

hati kedalam darah karena inflamasi pada jaringan parenkim hepar yang

menyebabkan hambatan kanalikuli hepar sehingga terjadi regurgitasi bilirubin ke

darah (Duncan, 2003).

Kucing Cookie juga mengalami otitis purulent sebagai akibat sistem

imun yang turun sehingga bakteri opportunistic ataupun ear mites pada telinga

akan meningkatkan infeksinya dan menyebabkan otitis. Melalui pengujian kotoran

telinga dibawah mikroskop tidak dijumpainya infestasi ear mites, dengan

demikian dapat disimpulkan adanya exsudat purulent pada telinga kucing Cookie

disebabkan oleh bakteri opportunistic, menurut Louis (2004) membran mukosa


yang melapisi bulla tympanic akan bereaksi dengan substansi asing seperti

infeksi organism, rambut, sel, serumen dari kanal eksternal, bahan kimia, akan

menyebabkan produksi exudate purulent dan meningkatnya sekresi mukos yang

diaktifkan oleh sel goblet. Pada kucing dan anjing bakteri yang paling sering

menjadi penyebab otitis adalah Stapylococcus sp, Pseudomonas sp, Bordetella

sp, Fusobacterium sp, Mycoplasma sp.

Infeksi FPV pada sumsum tulang akan menyebabkan terjadinya

trombositopenia, yaitu penurunan kadar trombosit dalam darah. Adanya infeksi

virus dan bakteri pada pembuluh darah akan menyebabkan vaskulitis (Truyen,

2010). Pada keadaan tersebut menyebabkan permeabilitas kapiler menurun, saat

terjadi trauma maka akan memudahkan pendarahaan, dalam keadaan normalnya

gejala ini akan memacu trombosit untuk melakukan penyumbatan dan pembekuan

darah, namun karena jumlah trombosit rendah maka akan menyebabkan darah

mudah keluar dari pembuluh darah, adanya otitis pada kedua telinganya akan

menyebabkan respon gatal pada kucing Cookie dan meningkatkan resiko trauma

pada telinga. Saat terjadi trauma akan mempermudah darah keluar dari pembuluh

darah dan menyebabkan terjadinya ekimosa dan aural hematoma.

Trombositopenia adalah salah satu faktor yang disebabkan oleh DIC

(Disseminated Intravascular Coagulation) merupakan diagnosis kompleks yang

melibatkan komponen pembekuan darah akibat penyakit lain yang

mendahuluinya. Pembentukan fibrin yang terus menerus disertai jumlah trombosit

yang terus menurun menyebabkan perdarahan dan terjadi efek antihemostatik dari

produk degradasi fibrin, pasien akan mudah berdarah di mukosa saat terjadi

trauma (Corrigan, 2005). Kucing Cookie virus panleukopenia yang menyerang


bone marrow yang menimbulkan trombositopenia, dengan menurunnya produksi

trombosit akibat infeksi virus panleukopenia pada kucing Cookie akan

menyebabkan menurunnya koagulasi darah sehingga dapat dikatakan kucing

Cookie mengalami suatu keadaan yang dinamakan DIC.

Setelah FPV menyerang bone marrow, selanjutnya leukosit yang

terinfeksi menuju epithelium germinal pada crypts small intestine yang

menyebabkan kerusakan pada crypts small intestine (Pollock, 1982). Sebagian

besar penderita FPV akan mengalami gejala diare. Diare dapat terjadi diawali

dengan parvovirus mengenali jaringan target untuk melakukan replikasi pada

crypts dan organ limpoid, virus ini juga dapat menyebar keseluruh jaringan tubuh

(Pollock,1982), termasuk otak (Elia et al., 2007; Decaro et al., 2009a). Pada kasus

kucing Cookie tidak terjadi diare dikarenakan kemungkinan virus belum sampai

bereplikasi pada small intestine. Penurunan total protein termasuk hipoalbunemia

terjadi akibat infeksi pada crypte small intestine yang menyebabkan penurunan

intake protein dan keluar ke saluran gastrointestinal karena lesi mukosa parah

(Kruse, 2010). Menurut Decaro.,et al(2009) Infeksi pada organ gastrointenstinal

akan menyebabkan hemorrhagic enteritis pada kucing yang berujung pada

dehidrasi. Dehidrasi yang disebabkan enteritis yang cukup parah merupakan

faktor utama penyebab kematian. Pada kucing Cookie saat awal datang

mengalami muntah-muntah beberapa kali, ini merupakan gejala umum pada

penderita FPV. Penyakit virus panleukopenia juga dapat menyebabkan respon

muntah karena adanya kerusakan pada fili gastrointestinal sehinga akan

menyebabkan rasa mual dan muntah saat dilewati makanan.


Keaadan fisiologis lebih lengkap seharusnya dapat diketahui dari hasil

pemeriksaan hematologi dan kimia darah sehingga dapat diketahui sejauh mana

tingkat keparahan FPV dan adanya penyakit ikutan lainnya serta untuk

menentukan penanganan yang sesuai keadaan fisiologis kucing Cookie pada saat

itu, namun pemeriksaan tersebut tidak dilakukan. Hasil analisa hematologi dan

kimia darah yang ditunjukan pada penderita FPV secara umum menurut literature

berupa penurunan White Blood Cell (WBC), penurunan kadar hematokrit,

trombositopenia, penurunan limfosit, penurunan granulosit, peningkatan

AST/SGOT, dan ALT/SGPT, penurunan total protein, peningkatan bilirubin dan

glukosa. Virus ini akan menyebabkan destruksi dari semua prekusor

hematopoietik rata-rata setelah 3-4 hari pasca infeksi. Neutropenia terjadi seiring

dengan munculnya gejala klinis. Hal ini disebabkan karena waktu paruh untuk

neutrofil bersirkulasi pendek dan peningkatan kebutuhan akan sel tersebut pada

kasus enteritis sehingga neutropenia lebih diasosiasikan pada keadaan viral

enteritis, endotoksemia, dan prekusor granulopoietik sel (Duncan, 2003).

Tata laksana pengobatan untuk kucing Cookie hanya menggunakan

pengobatan simptomatif dan suportif, sedangkan untuk mengeliminasi virus

sebagai penyebab utamanya dengan meningkatkan kekebalan kucing itu sendiri

sendiri. Antibiotik broad spectrum wajib diberikan sebagai langkah mencegah

bakterimia karena pada FPV terjadi neutropenia yang akan memfasilitasi

terjadinya sepsis. Penggunaan antibiotik broad spectrum yang spesifik terhadap

gram negatif dan anaerob sangatlah direkomendasikan, diantaranya

amoxicillin/clavulanic acid, piperacilin yang dikombinasikan dengan

aminoglicosides, fluoroquinolones, cephalosporin atau piperacillin/tazobactam


namun harus diperhatikan pula efek samping dari obat-obat tersebut. Antibiotik

tersebut harus diberikan secara parental lebih disarankan melalui intravena

(Marian, 2006). Pengobatan pada Cookie di Cat Klinik PDHB sunter

memberikan antibiotik Cefotaxim sebagai antibiotik utama untuk FPV.

Cefotaxime adalah antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga yang bersifat

bakterisidal dan bekerja dengan menghambat sintesis mukopeptida pada dinding

sel bakteri. Cefotaxime sangat stabil terhadap hidrolisis beta laktamase, maka

cefotaxime digunakan sebagai alternatif lini pertama pada bakteri yang resisten

terhadap penisilin. Cefotaxime memiliki aktivitas spektrum yang lebih luas

terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Aktivitas cefotaxime lebih besar

terhadap bakteri gram negatif sedangkan aktivitas terhadap bakteri gram positif

lebih kecil, tetapi beberapa streptococus sangat sensitif terhadap cefotaxime.

Diharapkan antibiotik cefotaxim akan mengeliminasi infeksi sekunder pada

kucing Cookie seperti adanya bakteri penyebab otitis dan bakteri patogen lainnya,

terutama bakteri gram negatif disaluran pernafasan dan pencernaan. Antibiotik

cefotaxime ini dapat diberikan secara i.v. dan i.m. karena absorpsi di small

intestine. Masa paruh eliminasi pendek sekitar 1 jam dan dosis yang digunakan

adalah 30-80mg/kg diberikan selama 3 hari (Tennant, 2007).

@Ranitidin sebagai Histamin(H2) antagonist menjadi pilihan untuk

mengurangi produksi asam lambung, obat ini biasa digunakan untuk mengatasi

ulcer pada duodenal, ranitidine 4-10 kali lebih poten dari cimetidine dan memiliki

efek minimal pada enzim-enzim hepar, dosis untuk ranitidine 2mg/kg/hari

(Tennant, 2007). Dosis yang diberikan kepada Cookie sebesar 3,5 mg/kg BB.

Ranitidin merupakan suatu histamin antagonis H2 yang menghambat kerja


histamin secara kompetitif pada reseptor H2, antagonis reseptor H2 dapat

menghambat produksi asam sehingga mengurangi sekresi asam lambung

Untuk anti muntah cat clinik PDHB mempergunakan Ondansetron.

Ondansetron adalah antagonis serotonin dan memliki anti muntah, dosisnya

sebesar 0,5 mg/kg i.v.

Sebagian besar kematian akibat infeksi panleukopenia disebabkan

karena dehidrasi dan infeksi bakteri sekunder, oleh karena itu pemberian cairan

infus sangat penting untuk menunjang penyembuhan. Infeksi virus panleukopenia

akan menyebabkan gejala vomit, dan diare oleh karena itu pemberian cairan

pengganti harus sesegera mungkin diberikan dengan dosis yang tepat dan cairan

infuse yang tepat. Keadaan Cookie saat pertama kali datang terlihat dehidrasi

tingkat moderat atau sedang (7%) ditandai dengan CRT dan turgor kulit turun,

CRT 2-3 detik, depresi, enapthalmus. Perhitungan jumlah cairan yang diberikan

menggunakan rumus “Tingkat dehidrasi (%) X BB (kg) X 1000 ml” , dengan

berat badan kucing Cookie 2,4 kg, dan tingkat dehidrasi 7% sehingga cairan yang

harus masuk selama 24 jam adalah sebesar 168 ml. Kucing Cookie mengalami

muntah-muntah sebanyak 2 sekali sehingga volume yang ditambahkan akibat

muntah sebesar 2 kali (10-15 ml) sekali muntah. Total pemberian cairan adalah

188 ml diberikan dalam waktu 24 jam. Dengan pemilihan cairan RL, larutan RL

adalahlarutan alkalin karena mengandung laktat sebagai precursor bicarbonate,

yang mengandung sejumlah chlor sebagai pengganti laktat yang berfungsi sebagai

penetral asam. RL mengandung kalium dalam jumlah kecil.


Pengobatan suportif yang digunakan diantaranya Bio-ATP® yang

diberikan untuk memberikan tambahan energi bagi Cookie sehingga kalori dalam

tubuh meningkat dan mempercepat recovery dan sebagai penguat otot.

Selain itu diberikan pula Drontal® yang berfungsi mengeliminasi

cacing, yang bertujuan mencegah perkembangan cacing lebih lanjut disaat terjadi

penupunan sistem imun. Karena semakin hari rambut Cookie semakin terlihat

kusam yang mengindikasikan terdapat infestasi cacing. Drontal mengandung 20

mg praziquantel dan 80 mg Pyrantel. Praziquantel mampu mengeliminasi

tapeworm termasuk Taenia sp, Dipylidium caninum, Echsinococcus granulosus,

dan Mesocestoides corti, Paragonimus sp. Drontal hanya diberikan sekali dengan

¾ kapsul sesuai berat badan Cookie.

. Antiemetik yang diberikan untuk Cookie adalah Ondansentron yang

merupakan obat untuk mencegah muntah yang disebabkan oleh serotonin.

Serotonin merupakan hormon yang terdapat pada sistem pencernaan dan saraf

selain itu juga merupakan neurotransmitter yang merangsang reseptor pada usus,

serotonin akan bereaksi terhadap reseptor 5HT3 yang berada di usus.

Ondansentron akan mengahambat serotonin bereaksi dengan reseptor tersebut.

Dosis yang digunakan sebesar 0,22 mg/kg BB diberikan satu kali dalam sehari

saat terjadi muntah.

Ornipural diberikan pada Cookie untuk menstimulai hepatodigestive dan

gangguan ginjal. Sehingga meningkatkan fungsi kerja hati dan ginjal, terlihat

kucing Cookie mengalami penurunan fungsi hati akibat infeksi virus

panleukoopenia dan co-infeksi suspect calici virus ditandai dengan kondisi

ihkterus. Selain itu mencegah kegagalan fungsi hati, dan ginjal akibat pemberian
obat-obatan secara intensif pada terapi kucing Cookie. Ornipural mengandung

betain 15mg, Arginin (hydrochloride) 33,3 mg, 11,8 mg, Citruline 10 mg, Sorbitol

200mg,metacresol 3 mg. dengan dosis 2-5 ml pada kucing dan anjing tergantung

ukurannya, diberikan melaului I.V, I.M, maupun SC.

Setelah terapi selama 4 hari terlihat adanya peningkatan kualitas hidup

kucing Cookie dengan gejala berkurang seperti tidak muntah, tidak pilek, jaundice

mengalami penurunan, hematoma aurikularis pada telinga Cookie juga sudah

mengering, nafsu makan meningkat, dengan adanya penurunan gejala tersebut

diputuskan pada hari ke 4 tepatnya tanggal 20 febuari pemberian obat pariental

dihentikan dan diganti dengan pemberian obat oral diantaranya cefad 50mg

adalah antibiotik dengan kandungan cefadroxil didalamnya, pronicy ¼ tab dengan

kandungan siproheptadin HCL, pronicy bersifat sebagai antihistamin dan juga

meningkatkan nafsu makan, sehingga dalam kasus ini nafsu makan Cookie

diharapkan meningkat dengan pemberian pronicy ini. Proncy diberikan ¼ tabs 1

kali sehari.

TF plus ¼ cap

nutriflam ¼ cap.

surbexz 1/6 tab dan

transanin 1/6 tab.

Pemberian pronicy

KESIMPULAN
Dapat disimpulkan dari pemeriksaan kucing cookie terserang penyakit

virus panleukopenia yang ditegaskan oleh pemeriksaan cepat rapid test anigen

FPV, disertai adanya co-infeksi suspect calicivirus, dan suspect gangguan hepar.

Pengobatan kucing cookie menggunakan terapi suportif dengan antibiotik

Cefotaxim, antimuntah ondansentron, Histamin(H2) antagonist berupa ranitidine,


DAFTAR PUSTAKA

Allison AB, Kohler DJ, Ortega A, Hoover EA, Grove DM, Holmes EC, Parrish

CR. Host- specific parvovirus evolution in nature is recapitulated by

in vitro adaptation to different carnivore species. PLoS Pathog.

2014;10, e1004475.

Breuer W, Stahr K, Majzoub M, et al. Bone-marrow changes in infectious

diseases and lymphohaemopoietic neoplasias in dogs and cats—a

retrospective study. J Comp Pathol 1998;119:57–66.

Decaro. N, Bounavoglia. C.2012. Canine parvovirus-A review of epidemiological

and diagnostic aspect with amphasis on type 2c.

Elia, G., Cavalli, A., Desario, C., Lorusso, E., Lucente, M.S., Decaro, N.,

Martella, V., navoglia, , 2007. Detection of infectious canine

parvovirus type 2 by mRNA real-time RT-PCR. J. Virol. Methods

146, 202–208.

Marian. H. ABCD (European Advisory Board on Cat Disease). Europe. 2004.

Prognostic Factors in Cats with Feline Panleukopenia. B.D Kruse,S. Ureter, K.

Horlacher, S. Saunter-Louis, and K. Hartman, 2010;24:1271-1276.

Pollock, R.V., 1982. Experimental canine parvovirus infection in dogs. Cornell.

Vet. 72, 103–119.

Resibois A, Coppens A, Poncelet L. Naturally occurring parvovirus-associated

feline hypogranular cerebellar hypoplasia– A comparison to

experimentallyinduced lesions using immunohistology. Vet Pathol.

2007;44:831–41. 7. Poncelet L, Heraud C, Springinsfeld M, Ando K,

Kabova A, Beineke A, Peeters D, Op De Beeck A, Brion J-P.


Identification of feline panleukopenia virus proteins expressed in

Purkinje cell nuclei of cats with cerebellar hypoplasia. Vet J. 2013;

196:381–7.

Truyen U. Canine Parvovirus. Recent Advances in Canine Infectious Diseases,

2000. www.ivis.org.<diakses tangal 26 febuari 2016 pukul 02.00

WIB)

Url A, Truyen U, Rebel-Bauder B, Weissenbock H, Schmidt P. Evidence of

parvovirus replication in cerebral neurons of cats. J Clin Microbiol.

2003;41: 3801–5

Coyne K.P., Jones B.R., Kipar A., Chantrey J., Porter C.J., Barber P.J., Dawson

S., Gaskell R.M., Radford A.D., Lethal outbreak of disease associated

with feline calicivirus infection in cats, Vet. Rec. (2006) 158:544–550