Anda di halaman 1dari 5

Etika Profesi (3 Buah Kasus Etika Enjiniring)

Nama : Christopher Th. P.

Kasus 1:
PT Freeport Indonesia, adalah potret nyata sektor pertambangan Indonesia. Keuntungan ekonomi
yang dibayangkan tidak seperti yang dijanjikan, sebaliknya kondisi lingkungan dan masyarakat
di sekitar lokasi pertambangan terus memburuk dan menuai protes akibat berbagai pelanggaran
hukum dan HAM (salah satu berita dapat diakses dari situs news.bbc.co.uk), dampak lingkungan
serta pemiskinan rakyat sekitar tambang.
WALHI sempat berupaya membuat laporan untuk mendapatkan gambaran terkini mengenai
dampak operasi dan kerusakan lingkungan di sekitar lokasi pertambangan PT Freeport
Indonesia.Hingga saat ini sulit sekali bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang jelas
dan menyeluruh mengenai dampak kegiatan pertambangan skala besar di Indonesia.Ketidak
jelasan informasi tersebut akhirnya berbuah kepada konflik, yang sering berujung pada
kekerasan, pelanggaran HAM dan korbannya kebanyakan adalah masyarakat sekitar
tambang.Negara gagal memberikan perlindungan dan menjamin hak atas lingkungan yang baik
bagi masyarakat, namun dilain pihak memberikan dukungan penuh kepada PT Freeport
Indonesia, yang dibuktikan dengan pengerahan personil militer dan pembiaran kerusakan
lingkungan.
Dampak lingkungan operasi pertambangan skala besar secara kasat mata pun sering membuat
awam tercengang dan bertanya-tanya, apakah hukum berlaku bagi pencemar yang diklaim
menyumbang pendapatan Negara? Matinya Sungai Aijkwa, Aghawagon dan Otomona,
tumpukan batuan limbah tambang dan tailing yang jika ditotal mencapai 840.000 ton dan
matinya ekosistem di sekitar lokasi pertambangan merupakan fakta kerusakan dan kematian
lingkungan yang nilainya tidak akan dapat tergantikan. Kerusakan lingkungan yang terjadi di
sekitar lokasi PT Freeport Indonesia juga mencerminkan kondisi pembiaran pelanggaran hukum
atas nama kepentingan ekonomi dan desakan politis yang menggambarkan digdayanya kuasa
korporasi.

Solusi:
PT. Freeport terlihat tidak professional serta tidak etis. Mereka tidak bijak dalam mengelola
perusahaan. Perbandingan biaya-pemasukan bias dikatakan baik (meskipun tetap beriso),
perusahaan ini lalai dalam memperhitungkan kepentingan masyarakat sekitar. Pengelolaan
limbah batuan, bertanggung jawab atas longsor berulang pada limbah batuan Danau Wanagon
yang berujung pada kecelakaan fatal dan keluarnya limbah beracun yang tak terkendali.
Hendaknya membangun bendungan penampungan tailing yang sesuai standar teknis legal untuk
bendungan, bukan yang sesuai dengan sistem sekarang yang menggunakan tanggul (levee) yang
tidak cukup kuat. Mengandalkan izin yang cacat hukum dari pegawai pemerintah setempat untuk
menggunakan sistem sungai dataran tinggi untuk memindahkan tailing. Perusahaan diminta
untuk membangun pipa tailing ke dataran rendah. Mencemari sistem sungai dan lingkungan
muara sungai, dengan demikian melanggar standar baku mutu air. Membuang Air Asam Batuan
(Acid Rock Drainage) tanpa memiliki surat izin limbah berbahaya, sampai pada tingkatan yang
melanggar standar limbah cair industri, dan gagal membangun pos-pos pemantauan seperti yang
telah diperintahkan.

Kasus 2:
Kasus lumpur lapindo adalah bencana nasional bahkan mungkin internasional. Kasus ini
telah menggangu perekonomian negara ini. Banyak kerugian yang didapat baik dari masyarakat
maupun pemerintah. Tidak heran kasus ini mendapat perhatian dunia. Berbagai spekulasi muncul
menyatakan teori tentang asal muasal lumpur ini diantaranya :
1. Menurut lapindo-brantas.co.id. Pasca penyidikan, para peneliti menyimpulkan bahwa tidak
ada hubungan antara kegiatan pengeboran dan semburan lumpur dan bahwa kegiatan pengeboran
telah dilakukan sesuai dengan peraturan pemerintah dan prosedur operasional yang telah
disepakati oleh rekan perusahaan. Para ahli geologi Lapindo Brantas Inc. meyakini bahwa
semburan lumpur tersebut memiliki kaitan dengan kegiatan seismik akibat gempa yang terjadi
dua hari sebelumnya, yang juga berkaitan dengan aktifnya kembali Gunung Semeru yang
terletak 300 km dari episentrum gempa bumi di Yogyakarta.
2. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang telah melakukan investigas lapangan menggunakan
para ahli dari PT Exploration Think Tank Indonesia (ETTI) menjelaskan kronologi sebagai
berikut: Pada tanggal 27 Mei 2006 atau hari ke-80 telah mencapai kedalaman 9.297 kaki. Pada
kedalaman tersebut terjadi total loss circulation (hilangnya lumpur pemboran) dan kemudian
LBI/PT. MCN (PT. MCN = PT. Medici Citra Nusa, pen) mencabut pipa bor. Pada saat mencabut
pipa bor, terjadi kick dan pipa terjepit (stuckpipe) pada kedalaman 4.241 kaki. Pipa tidak dapat
digerakkan ke atas dan ke bawah maupun berputar/berotasi.
Hal ini sesuai dengan analisis yang dilakukan oleh Rudi Rubiandini, ahli geologi dan
pemboran perminyakan dari ITB, ditugaskan pemerintah selaku Ketua Tim Investigasi
Independen Semburan Lumpur Sidoarjo. Menurutnya, penyebab utama semburan lumpur ini ada
dua secara teknis. Pertama, terjadinya kick yaitu luapan tekanan dari bawah yang tidak
terkontrol. Kedua, tidak terpasangnya casing dari kedalaman 3.580 sampai 9.200, karena kedua
penyebab ini terjadilah sebuah keretakan kemudian terjadi semburan.
Diperkirakan bahwa Lapindo, sejak awal merencanakan kegiatan pemboranini dengan
membuat prognosis pengeboran yang salah. Mereka membuat prognosis dengan mengasumsikan
zona pemboran mereka di zona Rembang dengan target pemborannya adalah formasi Kujung.
Padahal mereka membor di zona Kendeng yang tidak ada formasi Kujung-nya.
Pendapat tentang gempa sebagai penyebab lumpur lapindo telah ditolak oleh para ahli
dalam konferensi di cape town, afrika selatan yang dilaksanakan oleh 90 orang ahli geologi
dunia. 42 ahli geologi menyimpulkan PT Lapindo Brantas melakukan kesalahan prosedur
pengeboran sehingga mengakibatkan munculnya lumpur ke permukaan. Sedangkan faktor gempa
bumi di Yogyakarta yang terjadi dua hari sebelum munculnya semburan lumpur hanya didukung
oleh tiga geolog. Ahli lain tidak berpendapat atau menyebut semburan lumpur dipicu dua faktor,
yakni kesalahan pengeboran dan gempa bumi. Adanya teori gempa sepertinya hanya alasan yang
dijadikan lapindo brantas atau tepatnya para engineer di lapindo untuk menutupi kesalahan yang
telah mereka buat. Isu itu digembar-gemborkan agar mereka tidak terkena dampak hukum
maupun sosial dari masyarakat.
Usaha ini membuahkan hasil tidak ada satupun yang dinyatakan bersalah Hal ini
memperlihatkan kurang tegasnya penerapan etika engineering dan hukum di negara kita.
Walaupun sudah terlihat jelas bahwa penyebabnya adalah pengeboran oleh lumpur lapindo dan
bukan karena faktor alam. Disini terlihat bagaimana pemerintah masih patuh dan tunduk
terhadap ekonomi yang berkuasa. Kasus ini ditutup dengan faktor alam sebagai kambing
hitamnya.
Etika engineering yang masih dipandang sebelah mata di negara kita mungkin berperan
besar dalam menyumbang tragedi ini. Faktor terlambatnya dipasang casing pada kedalaman 3580
sampai 9200 meter menyebabkan terjadinya keretakan kemudian menghasilkan semburan. Peran
seorang rekayasawan sangat terlihat disini, bagaimana pengambilan keputusan seorang
rekayasawan dapat menentukan berapa keuntungan dan kerugian yang akan negara dan
masyarakat dapat.
Namun sayangnya dikasus ini yang kita dapat adalah sebuah kerugian sangat besar baik
materi maupun moril. Banyak warga yang kehilangan rumah, infrastruktur milik pemerintah
yang rusak dan lain sebagainya. Kesalahan dalam pengambilan keputusan Aktivitas pengeboran,
teknik apa yang digunakan, serta lokasi pengeboran yang dilakukan oleh manusia telah
mengakibatkan kegagalan pengoperasian sistem teknologi. Seperti yang dipaparkan James Chiles
dalam Inviting Disaster: Lessons from the Edge of Technology (2002) banyak kasus kegagalan
teknologi yang tidak hanya merugikan secara ekonomis tetapi juga menelan ribuan nyawa. Tidak
jarang bencana teknologi terjadi hanya karena satu kesalahan kecil yang tadinya dianggap remeh.
Kasus Three Miles Island di Pennsylvania, Union Carbide di Bhopal, dan kebocoran nuklir di
Chernobyl adalah contoh-contoh mengerikan bagaimana teknologi mampu menjadi mesin
pembunuh massal. Bencana lumpur Lapindo memiliki karakter yang sama karena berawal dari
keputusan teknis yang sepele namun ceroboh.

Solusi:
Enjiner harus jujur. Terlihat enjiner dan aspek lain pada Lapindo tidak bekerja profesional
ataupun etis. Kepentingan bisnis terlalu diutamakan serta lalai akan dampak terhadap masyarakat
sekitar. Kasus ini mirip Freeport sebelumnya namun memiliki akibat lebih fatal dari seluruh segi
seperti social, ekonomi, lingkungan, dll. Kalau memang lumpur lapindo yang terjadi karena
faktor kesalahan, seharusnya tidak akan menggemar-gemborkan isu lain seperti gempa.
Kemudian melakukan konferensi pers yang isinya meminta maaf kepada semua pihak yang telah
merasa dirugikan karena adanya kejadian ini termasuk di dalamnya pemerintah. Mengundang
para ahli di bidangnya untuk meneliti cara penanggulangan lumpur lapindo ini serta
membeberkan fakta dan kronologi yang selengkapnya demi membantu proses penanggulangan
bencana ini. Intinya, professional tersebut harus bersikap professional, yakni berusaha dengan
maksimal untuk mengganti kerugian yang didapat oleh masyarakat.
Kasus 3:

Pada tahun 1983, pertama kalinya FBI menangkap kelompok kriminal komputer The 414s(414
merupakan kode area lokal mereka) yang berbasis di Milwaukee AS. Kelompok yang kemudian
disebut hacker tersebut melakukan pembobolan 60 buah komputer-komputer milik Pusat Kanker
Memorial Sloan-Kettering hingga komputer milik Laboratorium Nasional Los Alamos. Salah
seorang dari antara pelaku tersebut mendapatkan kekebalan karena testimonialnya, sedangkan 5
pelaku lainnya mendapatkan hukuman masa percobaan.
Alasannya: Seiring perkembangan internet yang benar-benar pesat dan diiringi perkembangan
security dan underground,ada banyak kemungkinan yang terjadi diantaranya adalah:
1. Wanna Be A Hacker ( ingin menjadi seorang hacker ).
2. Mendapatkan popularitas.
3. Ingin mendapat pujian.

Solusi:
Hal ini tidak sesuai etika moralitas yang seharusnya dimiliki setiap ahli atau profesi. Mereka
mementikan etika pribadi demi kepuasan tertentu. Melalui sosialisasi yang tepat dan strategi
yang baik, keberadaan para individu hacker yang berkembang di masyarakat dapat dijadikan
sebagai sebuah kesempatan untuk meningkatkan kinerja keamanan beraneka ragam sistem
komputer yang dimiliki oleh masyarakat, agar tidak terhindar dari serangan dan penetrasi pihak
luar yang dapat merugikan bangsa dan negara.