Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KEPANITERAAN

MODUL OPERATIVE DENTISTRY


ONLAY

Operator : Ikhsan Masyhuri


NIM : 20110340099
Pembimbing : drg. Erma Sofiani, Sp.KG

PROGRAM STUDY PENDIDIKAN DOKTER GIGI


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER GIGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2017

1
BAB I
Identitas Pasien dan pemeriksaan
A. Identitas Pasien
Nama : Khoirurijaludin
Alamat : Yogyakarta
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Mahasiswa
Agama : Islam

B. Pemeriksaan Subjektif,Objektif,Penunjang,Diagnosa dan Treatment Planing


Kunjungan I

Pemeriksaan Subjektif :
Pasien datang dengan keluhan gigi kiri belakang bawah berlubang dan berwarna
kehitaman. Pasien baru menyadari hal tersebut sejak 1 tahun terakhir. Pasein
mengatakan tidak ada keluhan linu ketika mendapat rangsangan dingin seperti ketika
minum air dingin dan spontan.
Pemeriksaan Objektif :
Gigi 37 : Terdapat kavitas bagian oklusal kedalaman dentin
Sondasi :-
Perkusi :-
Palpasi :-
CE : + (linu)
Diagnosis : Karies media disertai pulpa vital
Treatment Planing : Restorasi Onlay

2
Foto Klinis

Keterangan :
Terdapat kavitas kedalaman dentin pada oklusal dan distal gigi 37

Foto Rontgen

3
BAB II
Dasar Teori

1. Inlay
Tumpatan yang dibentuk di luar mulut dengan cara membuat model malam
terlebih dahulu, kemudian restorasi dibuat dari logam maupun bukan logam dan
disemenkan pada kavitas yang telah dipreparasi.
Indikasi Inlay :
a. Karies luas tidak mungkin direstorasi amalgam, kavitas kurang dari 1/3-1/2 antar
tonjol gigi
b. Resistensi tonjol gigi yang masih kuat
c. Prosedur restorasi tidak merubah oklusi
d. Bukan merupakan abutment fixed/removable partial denture

2. Onlay
Restorasi tumpatan tuang yang terdiri dari sebagian intra koronal dan
sebagian ekstra koronal dengan tujuan untuk melindungi tonjol gigi.
Indikasi Onlay :
a. Lebar kavitas lebih dari 1/3 - ½ jarak antar tonjol gigi dan perlindungan tonjol
diperlukan.
b. Pengganti restorasi amalgam yang rusak
c. Bila restorasi dibutuhkan sebagai penghubung tonjol bukal dan lingual.
d. Restorasi karies interproksimal gigi posterior.
e. Restorasi gigi posterior yang menerima tekanan oklusal yang kuat.

3. Tahap Pembuatan Inlay,Onlay dan Overlay


a. Preparasi
Preparasi kavitas sesuai bahan restorasi yang akan dilakukan. Untuk inlay
dan onlay emas dan logam menggunakan bevel chamfer, sedangkan inlay atau
inlay porselin dan komposit menggunakan bevel selain chamfer.

4
b. Pencetakan
Ada dua macam pencetakan, direct dan indirect. Direct dilakukan memakai
malam yang dipanaskan (kavitas diolesi vaselin dan varnish terlebih dahulu) atau
menggunakan self cured resin akrilik. Untuk indirect menggunakan double
impression.
c. Tumpatan sementara
Lebih baik menggunakan seng oksid eugenol, untuk pembuatan direct
komposit tidak dilakukan penumpatan sementara.
d. Insersi dan sementasi
Sebelum dilakukan sementasi, dilakukan try in terlebih dahulu. Kemudian
dilakukan insersi atau sementasi dengan semen polikarboksilat atau semen seng
fosfat untuk bahan emas atau logam. Sedangkan SIK tipe 1 untuk porselin dan
semen resin untuk komposit.

4. Keuntungan Metode Indirect


a. Inlay dan onlay dapat dibuat pada die sehingga semua margin diselesaikan
dengan baik sebelum disemenkan pada gigi. Biasanya tidak mungkin untuk
membetulkan bagian margin pada metode direct.
b. Mengurangi ketegangan pasien dan operator.
c. Dapat melihat model malam karena inlay/onlay dibuat di lab. dengan model dan
articulator, mudah mengukir malam.
d. Pengepasan dan pemolesan inlay/onlay dikerjakan di lab, sehingga pada pasien
hanya dilakukan pemasangannya.
e. Inlay/onlay indirect lebih mudah dipasang pada kavitas dibandingkan
inlay/onlay direct. Menghilangkan bahaya pada waktu pengepasan inlay/onlay
secara direk, dengan kekuatan pada gigi yang rapuh. Bila inlay hasilnya gagal,
pasien tidak perlu dipanggil kembali karena masih ada die.

5. Kerugian Teknik Indirek


a. Jika mengambil afdruk tidak baik, maka baru diketahui setelah inlay selesai dan
dicobakan pada pasien.
b. Proses pembuatan lebih lama.

5
6. Macam-macam Bevel dan Kegunaan
Kegunaan bevel : Untuk kekuatan tepi, melindungi prisma email dan mendapatkan
hubungan tepi yang baik.
Macam bevel :
a. Slight bevel : pengurangan sedikit pada email biasanya untuk restorasi
resin komposit.
b. Short bevel : pengurangan pada email dengan sudut 45˚ untuk restorasi
onlay.
c. Long bevel : pengurangan sampai dentoenamel junction sudut kurang dari
45˚ untuk inlay logam.
d. Full bevel : pengurangan sampai dentin pada dasar kavitas untuk inlay
akrilik dan porselin.

7. Bahan Restorasi
a. Amalgam
Merupakan campuran beberapa logam dengan merkuri. Biasanya disebut
tambalan perak karena warnanya menyerupai perak. Umumnya digunakan pada
gigi belakang. Amalgam berbahaya untuk kesehatan, ini karena kandungan
merkuri pada tambalan yang sifatnya terikat dengan logam meskipun dalam
jumlah yang sangat kecil. Paling murah diantara bahan tumpat yang lain.
Membutuhkan banyak pengambilan jaringan gigi yang sehat sehingga cenderung
melemahkan struktur gigi yang tersisa. Dapat ditambal pada keadaan lembab,
sehingga cocok digunakan pada anak-anak dan pasien dengan kebutuhan khusus.
Perbaikan tambalan membutuhkan perlakuan khusus untuk menghindari bahaya
merkuri yang mungkin terlepas pada saat pembongkaran tumpatan.
i. Kelebihan : Kuat, tahan lama dan tahan terhadap tekanan kunyah
ii. Kekurangan : Menyebabkan perubahan warna pada gigi karena
bersifat korosi
b. Resin komposit
Merupakan campuran resin akrilik dengan partikel kaca yang
menghasilkan warna serupa gigi. Proses pengerasan tambalan biasanya diaktivasi
oleh sinar biru. Bahan ini menggunakan sistem adhesive untuk melekat pada gigi.

6
Sekarang bisa juga digunakan sebagai tumpatan tidak langsung, dalam bentuk
veneer, inlay, dan onlay. Tidak korosi. Paling sulit pengaplikasiannya dibanding
tambalan lain. Kuat, tahan lama dan tahan terhadap tekanan kunyah yang tidak
terlalu besar. Lebih mahal dibanding amalgam. Dapat digunakan untuk gigi
anterior dan posterior. Lebih mudah terjadi kebocoran dan dapat menyebabkan
sensitivitas gigi akibat penambalan dengan prosedur yang tidak tepat.
Membutuhkan lebih sedikit pengambilan jaringan gigi yang sehat dan mudah
diperbaiki
i. Kelebihan : Warna sangat mirip dengan gigi
ii. Kekurangan : lebih mudah pecah dan dapat terjadi abrasi
dibandingkan dengan amalgam
c. Porselen
Digunakan dalam bentuk tambalan veneer, inlay, onlay, crown dan
bridge. Terdiri dari dua macam bahan yaitu all porselen dan metal porselen untuk
menambah kekuatan Tidak mudah abrasi namun dapat menyebabkan abrasi pada
gigi lawan. Cukup mahal. Tidak menyebabkan alergi. Membutuhkan banyak
pengambilan jaringan gigi.
i. Kelebihan : Mirip sekali dengan warna gigi, dengan bentuk
anatomi menyerupai gigi
ii. Kekurangan : Rapuh, getas dan mudah retak
d. Campuran Logam Emas
Merupakan campuran emas, tembaga dan logam lainnya. Digunakan
dalam bentuk inlay, onlay, crown dan bridge. Tahan korosi, resiko kebocoran
minimal karena bentuk dapat dengan mudah dimanipulasiDapat menyebabkan
reaksi alergi walaupun jarang.
i. Kelebihan : Kekuatan dan ketahan paling baik dibandingkan
dengan tambalan lain Paling mahal dibandingkan dengan tambalan
lain
ii. Kekurangan : Lebih sedikit pengambilan jaringan gigi dibandingkan
porselen. Tidak sewarna dengan gigi
e. PFM (Porcelain Fused to Metal)
Terdiri dari beberapa lapisan yang difusikan secara kimiawi pada dasar
kerangka metal. Substruktur metal mengandung keramik dan membuatnya tahan

7
lama terhadap beban dari kekuatan tekanan pengunyahan. Kekuatan tinggi, dapat
digunakan untuk pasien dengan tekanan kunyah yang besar. Dapat sebabkan
reaksi alergi dan korosi. Ketahanan terhadap abrasi atau keausan dan tahan lama.
Tensile strength rendah sehingga menyebabkan kerapuhan, retak dan bunyi
kliking saat berkontak dengan gigi antagonisnya.
i. Kelebihan : Restorasi yang mengutamakan estetik
ii. Kekurangan : Harga relatif mahal

8. Onlay Resin Komposit


a. Indikasi
a. Lebar kavitas lebih dari 1/3 - ½ jarak antar tonjol gigi dan perlindungan
tonjol diperlukan.
b. Pengganti restorasi amalgam yang rusak
c. Bila restorasi dibutuhkan sebagai penghubung tonjol bukal dan lingual.
d. Restorasi karies interproksimal gigi posterior.
e. Restorasi gigi posterior yang menerima tekanan oklusal yang kuat.
b. Kontra Indikasi
i. Gigi yang membutuhkan kekuatan oklusal yang besar
ii. Daerah operasi yang tidak mudah untuk dikeringkan (dalam kondisi
kering) atau hipersalivasi
iii. Preparasi pada subgingiva yang dalam
c. Keuntungan Onlay Resin Komposit
i. Estetik bagus
ii. Area kontak dengan gigi anatgonisnya leboh mudah dikontrol
iii. Proses adaptasinya bagus/cepat
iv. Bisa diperbaiki dalam mulut
v. Karena tidak berikatan langsung dengan gigi sehingga mudah dlepas
jika perlu pergantian bahan atau tumpatan.
vi. Dengan penyinaran di luar mulut, resiko pengkerutan akibat
polimerisasi dapat terkomposensasi.
vii. Kekuatan resin komposit lebih besar jika dilakukan dengan
perebusan.

8
BAB III
Alat, Bahan dan Prosedur Kerja
a. Alat dan Bahan
Alat :
1. Alat diagnostik Bahan :
2. Sendok cetak 1. Cavity cleanser
3. Bur preparasi (bur bulat, 2. Alginat, gips stone, Bahan
fisur, cakram, bur finishing/ cerak elastomer(exaflek),
pear shape, enhanced) cavit
4. Rubber bowl dan spatula 3. Cavity cleanser
5. Glassplate dan spatula agate 4. Dentin Conditioner
6. Plastis instrument 5. SIK type I (Fuji 1)
7. Mikrobrush 6. Articulating paper

b. Prosedur Kerja
Onley/Overlay Indirect Resin Komposit
a. Outline form meliputi seluruh bagian yang mengalami kerusakan.
Bagian proximal sebelah distal meliputi tonjol disto linguo sampai ke
batas tonjol mesio linguo dikurangi 2 mm, serta ke arah bukal meliputi
tonjol mesio bucall dan disto buccal dikurangi 2mm.
b. Resistence form didapat dengan pulpal wall yang datar dan
cavosurface angle di bevel dengan bur torpedo. Serta Outer bevel dan
Iner bevel pada tonjol mesio buccal dengan bur torpedo atau bur
tapered sebagai resistensi tambahan.
c. Retention form didapat dengan dinding yang sejajar menggunakan bur
fissure.
d. Convenience form didapat tanpa adanya undercut
e. Pencetakan RA menggunakan sendok cetak yang telah diisi alginat.
Pada RB menggunakan double impression,merupakan bahan cetak
elastomer pada bagian gigi yang akan direstorasi onlay agar lebih

9
akurat. Bahan cetak elastomer yang digunakan yaitu merek exaflex,
merupakan putty yang memiliki berbagai tingkatan visikositas serta
akurasai(detail) yang akurat.. Pertama material yang memiliki
konsistensi rendah( injection type) yang dilakukan pengadukan base
dan catalystnya di glass plate dengan menggunakan spatula
stainlestell, aplikasikan dengan spet syringe ke gigi yang akan di
Onlay . Kemudian bahan kedua yaitu hydrocolloid silicone
polysiloxane (reguller type ) juga disiapkan dengan cara mencampur
base dan catalyst menggunakan tangan sampai warnanya bercampur
sehingga homogen, dengan waktu < 30 detik dan diletakkan kedalam
sendok cetak. Kemudian lakukan pencetakkan, marterial konsistensi
rendah akan menyatu dengan material cetak konsistensi tinggi.
Tunggu sampai bahan telah setting, lepaskan sendok cetak secara
perlahan.
f. Tutup kavitas dengan tumpatan sementara (Cavit).
g. Pengisian cetakan, cetakan RB region gigi yang akan dionlay diisi
dengan gips stone merah,cetakan RA sebagai kunci oklusi diisi
dengan gips biru..
h. Pembuatan onlay setelah cetakan positif dilepas, aplikasi pembuatan
onlay dilakukan di dental lab.
i. Try in. Bongkar tumpatan sementara , bersihkan menggunakan cavity
cleanser. Try in dan cek oklusi menggunakan artikulating paper.
Kurangi tumpatan bila ada traumatik oklusi menggunakan bur
finishing. Lakukan hingga tidak ada traumatik oklusi.
j. Sementasi dengan Resin
Ada 2 macam untuk sementasi yang berasal dari resin yaitu :

a. Self Adhesive Resin Cement  ex : Rely X U100


b. Adhesive Resin Cement (ARC)  ex : Rely X ARC
Rely X yang digunakan adalah rely x arc yang memiliki dual cure
system dengan waktu kerja perkiraan 2 menit, dan secara permanent

10
digunakan untuk sementasi crown, inlay, onlay, Maryland (adhesive)
bridge, serta post sementasi endodontic. Self cure dapat setting dengan
waktu 10 menit, dan juga dapat dipercepat menggunakan LC. RelyX
ARC semen resin menawarkan material dengan kekuatan fisik yang
tinggi, ketahanan aus yang tinggi, perekat kekuatan tinggi untuk
berbagai substrat dan ketebalan film gabungan yang rendah bila
digunakansebagai sementasi restorasi. Rely X ARC semen resin
tersedia dalam Transparan (A1) dan Universal (A3) shade guide.
Komposisi dari Rely X ARC ini adalah semen resin berbahan dasar
luting methylmetacrylate resin yang di design khusus digunakan
dengan single bond system dari 3M. Resin terdiri dari bisphenol-A-
diglycidylether dimethacrylate (BisGMA) dan triethylene glycol
dimethacrylate (TEGDMA) polymer. Juga terkandung Zirconia/silica
filler yang digunakan untuk radiopacity, ketahanan terhadap
pengikisan dan kekuatan fisik.

1. LANGKAH KERJA (RELY X ARC)


2. Step 1 - Etchant:
a. Aplikasi 3M™ Scotchbond™ Etchant pada enamel dan dentin
selama 15 detik.
b. Cuci dan keringkan (moist) selama 10 detik.
3. Step 2 - Adhesive:
a. Aplikasi Single Bond Adhesive pada enamel dan dentin yang
sudah dietsa.
b. Angin-angini selama 5 detik.
Hindari kelebihan dari bahan adhesive pada seluruh kavitas dan tepi.

4. Step 3 - Light-Cure:
Sinar selama 10 detik pada permukaan preparasi gigi yang sudah
dibonding.

11
5. Pengaplikasian Rely X ceramic Primer
a. Aplikasi rely x ceramic primer pada permukaan dalam inlay.
b. Angin-angini selama 5 detik.
6. Step 4 - Aplikasi sementasi:
a. Aduk cement pada mixing pad sampai tercampur selama 10 detik.
b. Aplikasi selapis tipis sement pada permukaan dalam inlay.
7. Step 5 - Placement:
a. Perlahan-lahan tempatkan inlay/onlay.
b. Dengan menekan dan menahan pada kavitas, hilangkan kelebihan
cement setelah bahan diletakkan pada kavitas.
8. Step 6 - Light-Cure:
a. Sinar selama 40 detik.

12
BAB IV
Kesimpulan

Setelah mempertimbangkan indikasi, kontraindikasi, preparasi,


bahan dan sementasi, maka restorasi yang akan digunakan adalah
Onlay/Overlay indirect Resin Komposit dan sementasi menggunakan
Rely X.

Yogyakarta, 11 Januari 2017

Mengetahui,
Operator Pembimbing

Ikhsan Masyhuri drg. Erma Sofiani, Sp.KG

13
Daftar Pustaka

Restorasi Rigid Resin Komposit Pada Gigi Posterior, 2006, FKG USU, Skripsi.
Setyawati, Ani. 2014. Modul Profesi Penyakit Jaringan Keras Gigi. Yogyakarta :
PSPDG UMY

Sturdevant’s. 2009. Art and science of Operative Dentistry.India : Elsevier

14

Anda mungkin juga menyukai