Anda di halaman 1dari 31

ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3

UBP SURALAYA

BAB III
Analisa Kerusakan Pada Secondary Air Heater Unit 7 PLTU
Suralaya Serta Pemecahan Masalah

3.1 Pengertian Air Heater


Air heater adalah alat yang berfungsi sebagai pemanas udara, yang mana di
pembangkit PLTU digunakan untuk memanaskan udara pembakaran dan
pembawa serbuk batu bara kedalam ruang pembakaran yang sekaligus
mngeringkan batu bara agar tidak lembap dan basah. Media pemanas yang
digunakan adalah gas buang (flue gas) hasil pembakaran di boiler sebelum
dibuang ke stack melalui Induced Draft Fan. Gas buang hasil pembakaran di
boiler masih memiliki panas yang cukup tinggi (sekitar 500 ) sehingga
panasnya dapat dimanfaatkan sebagai pemanas udara, Pada PLTU Suralaya
Terdapat 3 jenis Air Heater yaitu:
1. Primary Air Heater (PAH).
2. Secondary Air Heater (SAH).
3. Steam Coil Air Heater (SCAH).
Primary Air Heater merupakan pemanas udara yang digunakan sebagai
pemanas udara primer dimana fungsi udara primer adalah membawa batu bara
yang telah dihaluskan di pulverizer ke ruang bakar. Dengan proses dari
dorongan Primary Air Fan (PAF) kemudian dialirkan kesisi dingin (cold end)
Air Heater dan keluarannya langsung masuk ke pulverizer atau mill untuk
membawa dan mengeringkan batu bara halus (berkisar 200 mesh) yang telah
tergiling oleh tire menuju ruang bakar . Suhu batu bara yang dihembuskan
dinaikkan agar menambah efisiensi pembakaran namun suhu batu bara dibatasi
hingga 66 agar batu bara tidak terbakar sebelum masuk di boiler.
Secondary Air Heater merupakan pemanas udara sekunder dimana fungsi
udara sekunder adalah sebagai udara pembakaran di ruang bakar. Dimana
prosesnya dari dorongan Force Draft Fan (FDF) kemudian dialirkan ke sisi
panas (Hot End) Air Heater dan keluarannya masuk ke winbox boiler untuk
meningkatkan atau menambah udara pembakaran dalam boiler sehingga tidak
terjadi ketimpangan suhu udara antara udara yang digunakan untuk membakar

Laporan Kerja Praktek 26


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

dengan proses pembakaran yang sedang terjadi, sehingga pembakaran akan


lebih optimal.
Sedangkan Steam Coil Air Heater adalah pemanas awal (preheat) udara
masuk ke Primary Air Heater dan Secondary Air Heater. Berbeda dengan
Primary Air Heater dan Secondary Air Heater, Steam Coil Air Heater tidak
menggunakan gas buang sebagai media pemanasnya akan tetapi menggunakan
Auxiliary Steam.
Air Heater biasanya ditempatkan dibawah boiler, dimana elemen air heater
dapat menyerap panas gas buang setelah melewati Economizer. Dalam
pemakaian air heater ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan:
1 Faktor Ekonomi
a. Biaya awal (initial cost)
b. Biaya operasi untuk bahan bakar dan tenaga untuk fan
c. Biaya perawatan
2 Faktor Engineering
a. Ruang yang tersedia
b. Karakteristik bahan bakar
c. Temperatur yang diinginkan dari pemanasan udara dan keluaran flue gas,
yaitu gas sisa pembakaran didalam boiler.
Udara menyerap kalor lebih rendah daripada air. Oleh karena itu, Air Heater
memerlukan permukaan pemanas yang lebih besar dan secara otomatis
memerlukan ruang yang lebih besar dari pada economizer. Namun, air heater
dapat di rancang lebih kecil dan ringan jika dibandingkan economizer. Hal ini
dikarenakan.
1. Temperatur udara masuk air heater lebih kecil dari pada air yang masuk
economizer.
2. Economiser beroperasi di bawah tekanan air yang tinggi, sementara itu air
heater hanya pada % psig dari tekanan air. Namun, meskipun

memerlukan permukaan yang lebih besar, konstruksi air heater tidak


terlalu mahal.
Penggunaan air heater pada sistem PLTU tidak lepas dari keuntungan dan
kerugian mekanis. Secara umum, keuntungan penggunaan air heater
diantaranya:

Laporan Kerja Praktek 27


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

1. Efisiensi pembakarannya baik dimana pembakarannya lebih sempurna


dengan excess air yang sedikit.
2. Membantu dalam stabilitas pengapian bahan bakar dan meningkatkan
pembakaran beban rendah.
3. Akselerasi pengapian yang lebih besar.
4. Akselerasi pembakaran membutuhkan furnace yang lebih kecil.
5. Temperature furnace yang lebih tinggi dengan peningkatan laju penyerapan
kalor menghasilkan kapasitas produksi uap yang lebih besar.
6. Meningkatkan efisiensi boiler secara keseluruhan kaena terjadi pembakaran
yang lebih baik dan temperatur flue gas yang lebih rendah.
7. Jika kalor total yang dapat dikembalikan lebih besar daripada yang
digunakan untuk memanaskan feedwater. Maka sisanya dapat digunakan
untuk memanaskan udara pembakaran.
8. Batu bara bisa dikeringkan selama proses pulverization sehinga mudah
dalam pengangkutan, pengisian, dan pembakaran.
9. Semakin besar preheat, maka SO3 didalam flue gas akan semakin berkurang
sehingga menyebabkan temperature stag yang lebih rendah dan kalor yang
dapat dimanfaatkan semakin besar.
10. Pembakaran lebih sempurna sehingga mengurangi penggunaan bahan bakar.
11. Udara panas membantu mengeringkan dan membakar wet waste, misalnya
low grade, bahan bakar yang mudah menguap seperti saw, wood, lignite,
pead, bagasse, dll.
12. Udara panas dapat digunakan sebagai space heating.

Kelemahannya dari air heater yaitu:


1. Kinerja mudah dipengaruhi oleh suhu lingkungan yang berubah-ubah.
2. Pemanasan awal udara meningkatkan biaya perawatan stoker dan furnace
refrectory.
3. Endapan (deposit) yang mudah terbakar bisa menimbulkan kerusakan
serius.
4. Clogging dapat menimbulkan gangguan.
5. Kebutuhan ruang (space) dan berat (weight) untuk preheater, forced draft
fan dan duct harus di desain secara hati-hati.

Laporan Kerja Praktek 28


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

Tipe – tipe Air Heater


Dalam system pembangkit listrik, air heater dapat diklasifikasikan dalam 2
tipe:
1. Regenerative Air Heater
a. Rotary regenerative air heater
 Ljungstorm air heater
 Rothemuhle air heater
b. Pebble heater
c. Refractory flue heater
d. Thermal liquid air preheater
2. Recuperative Air Heater
a. Flue gas preheater
 Tubular preheater
 Plate air heater
b. Steam coil heater
c. Separately fired heater
Dari jenis –jenis air heater diatas yang paling popular atau sering digunakan
adalah tipe rotary regenerative air heater selain itu di PLTU suralaya sendiri
menggunakan tipe rotary regenerative air heater yang lebih spesifiknya sering
disebut dengan tipe ljungstorm air heater.

Gambar 3.1 Skema Air Heater


Sumber : http://www.thermalpowerplant.in/air-preheater-2/, 11 Maret 2013

Laporan Kerja Praktek 29


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

3.2 Regenerative Air Heater


Pada Boiler unit 5, 6, dan 7 PLTU Suralaya Air Heater yang digunakan
adalah tipe Ljungstorm Regenerative Air Heater dengan aliran Horizontal
(Horizontal Flow) sebagai pemanas udara utama. Prinsip dasar utama dari
peralatan ini adalah mentransfer kalor hasil pembakaran didalam ruang bakar
(Burner) dalam bentuk Flow Gas (Gas sisa) melalui elemen pemanas yang
berputar didalam air heater untuk memanaskan udara yang masuk air heater
yang akan digunakan sebagai udara pembakaran . Air Heater ini komponen
yang penting dalam proses pembakaran didalam ruang bakar karena proses
didalamnya bergantung pada temperatur udara keluar dari sisi udara panas.
Ljungstorm ini terdapat 4 bagian sisi:
a. Sisi udara dingin
Pada bagian ini perlu mendapat perhatian khusus sebagaimana telah
dijelaskan diatas, yaitu dijaga agar temperatur udara masuk tidak terlalu
rendah yang dapat menyebabkan thermal stress. Temperatur masuk
udara air heater ini berkisar disekitar ambient temperature yaitu sekitar
30 .
b. Sisi udara panas
Air Heater yang bekerja dengan baik harus mampu menaikkan
temperatur udara masuk untuk pembakaran hingga mencapai
temperatur pembakaran sempurna didalam ruang pembakaran. Oleh
karena itu, temperatur udara panas keluar dari air hot element ini harus
mampu mencapai temperatur yang diinginkan tersebut.
c. Sisi gas panas
Gas sisa pembakaran dari ruang bakar akan masuk kedalam sisi ini
setelah melewati economiser guna memanaskan udara pembakaran.
Oleh karena itu, sisi ini sangat rawan terbakar akibat deposit dari
pembakaran yang tidak sempurna pada boiler menempel pada elemen
ini karena terbawa oleh gas buang. Sisa minyak yang tidak terbakar
tersebut akan berakumulasi dan pada suatu saat akan mencapai titik
nyala apinya kemudian terbakar.

Laporan Kerja Praktek 30


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

d. Sisi gas dingin


Bagian ini paling rawan terhadap korosi akibat endapan sulfur yang
menempel pada elemen pemanas air heater. Apabila temperatur keluar
gas out mendekati atau sama dengan titik embun (dew point) dari
sulfur, yaitu sekitar 126-128 maka sulfur akan mengalami korosi
akibat kontak dengan H2O (air). Untuk itu, temperatur keluar pada sisi
gas out ini harus dijaga agar lebih tinggi dari temperatur titik embun
(dew point) sulfur sebagai upaya pencegahan korosi.

3.3 Bagian – bagian utama Air Heater


Adapun bagian – bagian air heater baik primary air heater dan secondary
air heater umumnya sama, namun terdapat perbedaan hanya di elemen
pemanasnya saja (kecuali steam coil air heater) memiliki komponen-komponen
sebagai berikut:

Gambar 3.2 Primary Air Heater Unit 7B


Sumber : Data Pribadi, Maret 2013

3.4 Air Heater


3.4.1 Elemen pemanas (Heating Element)
Elemen pemanas berfungsi memanaskan udara sekaligus pengering
batu bara yang halus dalam pulveizer. Elemen pemanas pada air heater
merupakan susunan plat – plat metal yang terdiri dari 2 bagian terbagi
secara vertical, yaitu hot end layer (sisi panas bagian atas) dan cold End
Layer (sisi dingin bagian bawah). Plat-plat tersebut terbuat dari baja
korten yang mempunyai sifat tahan korosi dan thermal stress tinggi.
Plat-plat metal tersebut dipasang pada suatu poros yang disusun
dalam bentuk kompartimen silindris, yang terbagi-bagi secara radial,

Laporan Kerja Praktek 31


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

selanjutnya disebut rotor. Rotor elemen pemanas ini diputar dalam suatu
ruang yang memiliki sambungan duct pada kedua sisinya. Dimana satu
sisi dialiri gas buang dari boiler dan udara disisi lainnya.
Saat rotor diputar, setengah bagiannya memasuki saluran gas buang
dan menyerap energi panas yang terkandung didalamnya sedangkan
setengah bagian yang lain mentransfer panas dari elemen ke udara pada
sisi saluran udara sehingga menghasilkan udara panas yang selanjutnya
akan di pasok ke furnace.
A. Primary Air Heater
Ukuran tinggi Elemen Primary Air Heater yaitu:
Hot End Layer : 1.016 mm (40”)
Cold End Layer : 305 mm (12”)
Jumlah Elemen yang terpasang pada Primary Air Heater unit 5-7 adalah
6 x 24 set untuk hot end dan 6 x 24 set untuk cold end.
B. Secondary Air Heater
Ukuran tinggi Elemen Secondary Air Heater yaitu:
Hot End Layer : 1.016 mm (40”)
Cold End Layer : 305 mm (12”)
Jumlah Elemen yang terpasang pada secondary Air Heater unit 5-7
adalah 9 x 24 set untuk hot end dan 10 x 24 set untuk cold end.

3.4.2 Penggerak Rotor Air Heater


a. Motor Drive
Pada kondisi operasi normal, rotor air heater diputar oleh motor
listrik yang dihubungkan speed reducer. Penggerak rotor air heater
diletakkan pada bagian sisi luar dari elemen pemanas. Motor listrik yang
digunakan memiliki kapasitas satu unit 15 HP untuk primary air heater
dan dua unit (normal operasi 1 unit) 5 HP dipergunakan untuk secondary
air heater kecepatan putar motor 1500 rpm.

Laporan Kerja Praktek 32


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

Gambar 3.3 Motor Drive Untuk PAH

Sumber : Buku Babcock & Wilcox, 1996

b. Motor Udara (Auxiliary Drive)


Motor udara digunakan sebagai penggerak cadangan untuk rotor air
heater. Penggerak ini akan beroperasi secara otomatis jika penggerak
utama motor listrik mengalami gangguan. Selain motor udara juga dapat
dipergunakan untuk memutar rotor air heater secara manual saat proses
pembilasan elemen pemanas air heater maupun saat pemeliharaan.
Motor udara ini digerakkan oleh udara bertekanan 0,33 kg/ yang di
pasok dari unit service air compressor (SAC).
Baik motor penggerak motor listrik maupun udara dihubungkan
dengan rotor air heater melalui speed reducer, berfungsi untuk
mengurangi kecepatan putaran motor speed reducer ini memiliki gear
ratio 1800:16.4 rpm.

Gambar 3.4 Auxiliary Drive Untuk PAH


Sumber : Buku Babcock & Wilcox, 1996

Laporan Kerja Praktek 33


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

3.4.3 Rotor Bearing


Rotor air heater ditopang dibagian bawah oleh support bearing yang
terdiri dari thrust bearing kingsbury yang diletakkan pda sebuah trunnion
pada sisi bagian bawah air heater dan radial bearing yang berfungsi untuk
menahan beban radial akibat adanya perbedaan tekanan dari kedua sisi gas
maupun udara.
Pada sisi bagian atas rotor ditahan oleh guide bearing radial. Sistem
lubrikasi yang dipergunakan untuk melumasi support dan guide bearing ini
menggunakan bak penampung oli (oil bath) dengan filter dan pendingin
oli.
Sistem sirkulasi oli bearing berfungsi untuk memasok oli pelumas
bearing dengan oli bersih dan memiliki tingkat viskositas yang
direkomendasikan. Komponen utama dari sistem sirkulasi oli bearing ini
adalah pompa oli, motor penggerak, thermometer, indicator tekanan, filter
dan heat exchanger. Pada guide bearing ini dipergunakan sistem sirkulasi
oli internal, sedangkan pada support bearing dipergunakan sistem sirkulasi
oli eksternal.

a. Bearing Pendukung Rotor (Rotor support Bearing)


Merupakan bearing atau bantalan penahan shaft rotor yang terpasang
dibawah rotor.
Spesifikasi support Bearing :
 Trust Bearing : Kingsbury
 Series : 290
 Radial Bearings : 23226
 Thermostat : Burling

Laporan Kerja Praktek 34


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

Gambar 3.5 Rotor Support Bearing Air Heater


Sumber : Buku Babcock & Wilcox, 1996

b. Bearing Pemandu Rotor (Rotor Guide Bearing)


Merupakan bearing yang mengatur shaft rotor jika terjadi gaya aksial dan
terpasang di atas rotor.
Spesifikasi Rotor Guide Bearing:
 Rotor Guide Bearing : SKF
 Bearing : 2360

Gambar 3.6 Rotor Guide Bearing Air Heater


Sumber : Buku Babcock & Wilcox, 1996

3.4.4 Rotor Seal


Saat operasi air heater, terdapat perbedaan tingkat tekanan aliran fluida
(udara dan gas buang) yang melewati elemen pemanas saat rotor berputar.
Pada kondisi normal aliran udara memiliki tekanan yang lebih tinggi dari
aliran gas sehingga akan terjadi kebocoran udara kedalam saluran gas. Hal

Laporan Kerja Praktek 35


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

ini terjadi baik pada sisi cold end maupun hot end dari air heater. Aliran
udara dan gas pada air heater dipisahkan oleh sector plate baik pada sisi
hot end maupun cold end.
Untuk mengendalikan kebocoran udara pada gas tersebut, air heater
dilengkapi dengan sealing sistem yang terdiri dari:
1. Seal Radial
Seal radial dipasang pada tiap-tiap diafragma rotor baik pada sisi hot
end dan cold end. Seal ini diset dengan jarak tersebut akan
dipertahankan dengan menggerakkan sector plate mendekati rotor air
heater sesuai dengan ekspansi rotor akibat perubahan temperatur.

Gambar 3.7 Seal Radial


Sumber : Buku Babcock & Wilcox, 1996 dan Data Pribadi, Maret 2013

2. Seal axial
Seal axial dipasang pada sisi luar dari rotor segaris dengan difragma,
memanjang dari sisi hot end ke cold end. Plate seal axial yang dapat
diubah posisinya dipasang didalam pedestal yang menjadi bagian dari
sisi rotor housing dan segaris dengan sisi luar dari sector plate
memanjang dari sisi hot end ke cold end.

Gambar 3.8 Seal Axial


Sumber : Buku Babcock & Wilcox, 1996 dan Data Pribadi, Maret 2013

3. Seal by-pass
Seal by-pass dipasang stasioner pada sudut ujung hot end dan cold end
dengan T bars pada sisi luar dari rotor air heater. Fungsi seal ini untuk
Laporan Kerja Praktek 36
Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

membatasi aliran udara atau gas yang langsung melewati ruang kosong
antara rotor dan housing tanpa melalui elemen pemanas.

Gambar 3.9 Seal by-pass


Sumber : Buku Babcock & Wilcox, 1996 dan Data Pribadi, Maret 2013

4. Seal rotor post


Seal rotor post atau seal poros dipasang disekeliling ujung poros rotor
air heater baik pada sisi cold end maupun hot end.

Gambar 3.10 Seal Rotor Post


Sumber : Buku Babcock & Wilcox, 1996

3.4.5 Leakage Control Sistem


Untuk mengurangi kebocoran pada sisi hot end, air heater dilengkapi
dengan control otomatis penggerak sektor plate. Pada saat operasi, sektor
plate ini akan bergerak secara periodik menuju rotor untuk mengurangi gap
antara sektor plate dan radial seal sehingga mengurangi area kebocoran.
Kebocoran tersebut terjadi karena adanya kenaikan temperatur yang tidak
seimbang antara sisi hot end dan cold end sehingga ekspansi rotor tidak
merata. Hal ini menyebabkan rotor turun atau melebar kearah sisi cold end
dan memperlebar gap antara seal radial dan sektor plate sehingga
memperbesar area kebocoran.
LCS melalui rotor position sensor secara periodik akan mendeteksi gap
yang terjadi antara sektor plate dengan radial seal pada rotor. Jika gap yang

Laporan Kerja Praktek 37


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

ada lebih besar dari set point maka LCS akan menggerakkan sektor plate
mendekati, tetapi tidak menyentuh radial seal hingga jarak minimum
tercapai. Hal ini akan memberikan keuntungan untuk operasi unit dimana
power untuk fan udara akan lebih optimal, meningkatkan tekanan udara
dan secara tidak langsung akan meningkatkan kapasitas pembangkitan.
Gerakkan sektor plate turun maju mendekati posisi rotor disebut Extend,
sedangkan naik mundur menjauhi rotor disebut Extract. Perjalanan sektor
plate tersebut masing-masing dibatasi oleh limit switch maximum extend
dan minimum ectract.
Sistem sektor plate ini terdiri dari motor penggerak listrik, gear reducer,
linear actuator, kopling pembatas torsi, kopling poros penggerak, dan limit
switch electric. Sensor posisi rotor membutuhkan aliran udara bersih
bertekanan untuk mengisolasi area antara tube penopang luar dengan
batang penggerak sektor plate.

3.4.6 Termocouple Temperatur Monotoring Drive


TTMD digunakan untuk mengukur temperature udara keluar dari air
heater dan mengirimkan sinyal ke control room jika terjadi temperatur
lokal udara tinggi. Temperatur yang tinggi pada sisi keluar udara dapat
mengindikasikan terjadinya kebakaran pada elemen air heater.
TTMD terdiri dari 17 termocouple, 1 untuk temperatur air inlet, 1 untuk
temperatur gas inlet, 15 untuk temperatur air inlet. Termocouple yang
mengukur temperatur air outlet diletakkan sedekat mungkin pada
permukaan elemen pemanas di posisi sekeliling rotor dengan jarak antar
termocouple kurang lebih 1 kaki.

3.5 Sistem Pengoperasian Air Heater


Air Heater di start pada sebelum dengan start Forced Draft Fan (FDF)
dan Induced Draft Fan (IDF). Semua unit air heater pada masing-masing jalur
yang sama (jalur A: PAH A dan SAH A atau jalur B: PAH B dan SAH B) harus
di start pada saat yang bersamaan, walaupun hanya satu unit air heater yang
dialiri oleh udara dan gas buang. Damper udara harus dibuka terlebih dahulu

Laporan Kerja Praktek 38


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

sebelum damper gas buang untuk mencegah overheating dan terkuncinya posisi
rotor karena ekspansi thermal yang berlebihan.
Tampilan kontrol operasi untuk air heater dan peralatan pendukungnya
pada DCIS terdapat dibagian Primary Air, Forced Draft dan Air Heater. Fitur
kontrol air heater yang tersedia di DCIS akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Kontrol Motor Utama Penggerak Listrik
Penggerak motor listrik air heater di operasikan di kontrol room melalui
kotak tampilan perintah start/stop. Tombol reset dipergunakan untuk
mereset gangguan pada peralatan motor listrik yang telah kembali di
normalkan.
2. Kontrol Motor Auxiliary Drive
Penggerak motor udara di operasikan baik secara remote dari kontrol room
unit melalui kotak tampilan perintah start/stop/standby maupun secara lokal
pada peralatan langsung.

Perintah Lokasi Operasi


START DCIS (Control Panel) Motor udara start
START Lokal Motor udara start
JOG Lokal Motor udara start/stop secara jogging
STOP DCIS (Control Panel) Motor udara stop
STOP Lokal Motor udara stop/reset gangguan
peralatan motor udara
STANDBY DCIS (Control Panel) Motor udara otomatis start jika motor
litrik utama mengalami gangguan
Sumber : Control Room, Maret 2013

3. Kontrol Support dan Guide Bearing Lube Oil Pump


Kontrol untuk pompa oli, baik untuk support bearing maupun guide bearing
bersifat otomatis pada kondisi normal. Dan pompa akan otomatis stop jika
penggerak air heater stop atau temperatur oli bearing rendah. Pompa ini
juga dapat dioperasikan secara manual dari kontrol room melalui perintah
soft key start/stop.

Laporan Kerja Praktek 39


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

Perintah Lokal Operasi


START DCIS Pompa oli operasi
STOP DCIS Pompa oli stop/reset gangguan pada peralatan
pompa.
Aux Logic Pompa akan otomatis jika:
Motor listrik/udara start; dan
Temperatur oli pelumas tinggi (sesuai set temperature
kontroler)
Pompa akan stop otomatis jika:
Temperatur oli pelumas dibawah set point.
Sumber : Control Room, Maret 2013

4. Kontrol Damper Isolasi Air Inlet dan Outlet


Damper isolasi Air Inlet dan Outlet pada sisi saluran udara bersifat non-
modulating dan di kontrol secara manual dari kontrol room melalui perintah
soft key open/close. Mode kontrol besar pembukaan damper hanya
dipergunakan pada saat maintenance. Pada kondisi normal, baik damper air
inlet maupun outlet berada dalam kondisi open (terbuka).
Perintah Lokasi Operasi
OPEN DCIS Damper akan terbuka/reset gangguan pada peralatan
damper
CLOSE DCIS Damper akan tertutup
Tombol ditekan → Inst. Air disuplai → Damper tertutup
Sumber : Control Room Maret, 2013

5. Kontrol Damper Isolasi Gas Inlet


Damper gas inlet pada sisi saluran gas juga bersifat non-modulating dan
dikontrol secara manual dari kontrol room melalui perintah soft key
open/close. Kontrol besar pembukaan damper hanya dilakukan saat
maintanance. Pada kondisi normal, damper gas inlet berada dalam kondisi
terbuka (normally open).

Laporan Kerja Praktek 40


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

Perintah Lokasi Operasi


OPEN DCIS Damper akan
terbuka/reset gangguan
pada peralatan damper.
CLOSE DCIS Damper akan tertutup
Tombol ditekan → Inst. Air disuplai → Damper tertutup
Sumber : Control Room, Maret 2013

6. Kontrol Damper Isolasi Gas Outlet


Damper gas outlet pada sisi saluran gas air heater dapat di modulasi untuk
mengatur temperatur outlet dari udara primer (Primary Air) maupun
sekunder (Socondary Air) yang keluar dari air heater. Semakin besar
permukaan damper gas outlet, semakin tinggi pula temperatur udara primer
yang keluar dari air heater. Besarnya pembukaan damper gas outlet ini
dapat diatur secara manual dari kontrol room melalui PAH Master Control
Station dan SAH Regulating Damper Control Station atau dimodulasi
secara otomatis memasukkan nilai set point temperatur PAH dan SAH yang
diinginkan.

3.6 Pemantauan Operasi


Pemeriksaan Air Heater sebelum operasi
1. Pemeriksaan Rotor
Periksa kedua sisi rotor (cold dan hot end) sebelum start dari keberadaan
benda-benda yang dapat menganggu operasi air heater dengan memutar
rotor menggunakan motor udara atau putaran tangan. Periksa juga
terhadap kelainan suara yang terjadi saat rotor berputar. Pastikan juga
bahwa rotor berputar dengan arah yang benar.
2. Level Oli Pelumas
Periksa semua indikator level oli pelumas untuk speed reducer, motor
penggerak dan bearing. Tambahkan oli pelumas dengan jenis atau tipe
dan volume yang tepat.

Laporan Kerja Praktek 41


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

3. Seal Rotor
Periksa seal rotor terhadap kemungkinan terjadinya kerusakan serta
pastikan bahwa gap yang ada telah memenuhi toleransi yang diizinkan.
4. Sistem Sirkulasi Oli
Periksa semua komponen yang menyangkut sistem sirkulasi dan filter
oli pelumas baik pada guide maupun support bearing terhadap kelainan.
5. Sistem Air Pendingin
Periksa temperatur air pendingin yang memasok jaket bearing, cooler,
dan sistem pendinginan lain.
6. Cold Run
Setelah melakukan pemeriksaan tersebut, jalankan rotor kira-kira 1 jam
pada kecepatan normal untuk melihat operasi air heater secara general.
7. Temperatur Motor Penggerak Listrik
Jika motor membangkitkan panas yang berlebihan (overheat), periksa
arus motor, stop motor kemudian periksa kelainan yang terjadi. Pada
kondisi normal, kenaikan temperatur motor akan menjadi konstan
setelah 15-30 menit operasi. Kenaikan temperatur motor penggerak
dapat disebabkan karena gesekan seal rotor. Apabila arus motor tidak
melebihi setting pada thermal relay maka kondisi ini akan menjadi
normal sendirinya setelah seal rotor mengalami erosi alami. Namun
apabila kenaikan temperatur terlalu tinggi (overheating) dan
menyebabkan motor overload, maka perlu dilakukan pemeriksaan dan
penyesuaian terhadap gap seal rotor. Penyebab lain terjadinya overload
motor adalah kopling yang terlalu kuat antara gear rack pada rotor
dengan pinion drive gear pada speed reducer pada saat rotor
berekspansi akibat kenaikan temperatur. Hal ini dapat diatasi dengan
menggeser posisi dari unit penggerak.

3.7 Air Heater Cleaning


Elemen pemanas dari Air Heater harus dijaga agar tetap bersih dari tumpukan
abu terutama saat start up. Penumpukan abu pada elemen pemanas akan
menyebabkan turunnya kemampuan heat transfer, menghalangi aliran udara
atau gas dan menimbulkan potensi bahaya kebakaran. Untuk membersihkan

Laporan Kerja Praktek 42


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

elemen pemanas tersebut, Air Heater dilengkapi dengan peralatan soot blower
dan water washing, sedangkan untuk memadamkan kebakaran, Air Heater
dilengkapi dengan Spray Pemadam Kebakaran.
 Air Heater Sootblower
Setiap Air Heater dilengkapi dengan Sootblower tipe Retrackable yang
dipasang pada sisi cold end gas outlet duct dan hot end pada gas inlet
duct untuk mengendalikan pembentukan tumpukan abu pada elemen Air
Heater. Rectracable Sootblower memiliki konstruksi pipa multinozzle
yang bergerak dalam arah radial terhadap permukaan elemen pemanas.

Gambar 3.11 Proses Soot blowing Air Heater


Sumber : Data Pribadi, Maret 2013

 Water Washing
Ketika penumpukan abu sudah tidak dapat diatasi lagi oleh sootblower,
diperlukan pembersihan abu dengan menggunakan water washing.
water washing digunakan pada saat Air Heater stop operasi dengan
menggunakan 4 buah line pipa, 2 pada sisi hot end dan 2 pada cold end.
Pipa water washing dilengkapi dengan Spray Nozzle. Tekanan air yang
direkomendasikan sebesar 5,27 kg/ dengan besar aliran 1.666
liter/mnt.

Gambar 3.12 Water washing


Sumber : Data Pribadi, Maret 2013

Laporan Kerja Praktek 43


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

 Pemadam Api
Air Heater dilengkapi dengan sistem pemadam api yang dioperasikan
secara manual. Sistem terdiri dari sebuah manifold dan spray nozzle
yang diletakkan pada setiap duct gas inlet dan air outlet. Air yang
dibutuhkan oleh sistem ini memiliki tekanan 5,5 kg/ dan rate flow
568 ltr/mnt.

Gambar 3.13 Sistem pemadam api di Air Heater


Sumber : Data Pribadi, Maret 2013

3.8 Faktor-faktor yang mempengaruhi Kerja Air Heater


Kerja dari air heater dipengaruhi oleh beberapa faktor utama diantaranya:
a) Kecepatan laju fluida, laju masa fluida.
Fluida yang dimaksud meliputi udara atmosfer maupun flue gas,
karena laju masa ini akan mempengaruhi transfer kalor.
b) Temperatur pada sisi air in, air out, gas in, dan gas out.
Temperature pada tiap sisi tersebut pada dasarnya dipengaruhi oleh
kemampuan transfer kalor dari air heater itu sendiri.
c) Temperature keluar air preheat coil.
Meskipun kenaikan temperature yang dihasilkan dari APC kecil,
tetapi pengaruhnya sangat besar dalam aktifitas.
d) Kemampuan soot blower dalam membersihkan air heater.
Soot blower mempunyai pengaruh dalam 2 hal:
I. Membersihkan air heater secara berkala dari kotoran-
kotoran yang dibawa oleh flue gas terutama material-material
korosif dari proses pembakaran.
II. Mencegah timbulnya endapan sisa bahan bakar MFO yang
tidak terbakar sempurna dan terbawa bersama flue gas yang

Laporan Kerja Praktek 44


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

digunakan untuk mentransfer kalor guna menaikkan


temperature udara pembakaran. Sisa bahan bakar yang tidak
terbakar tersebut biasanya diakibatkan karena proses start
firing yang gagal. Jika proses tersebut gagal, api yang
dihasilkan mati, tetapi bahan bakar tetap menyembur
sehingga keluar terbawa flue gas dan sebagian besar akan
menempel pada air heater. Jika start firing sampai gagal,
maka komponen air heater inilah yang dikorbankan, dalam
artian komponen/elemen air heater ini bisa terbakar jika
temperature gas in mencapai titik dew point dari endapan
bahan bakar MFO tersebut.

3.9 Pengertian Perawatan


Perawatan adalah suatu konsepsi dari semua aktifitas yang diperlukan untuk
menjaga atau mempertahankan kualitas peralatan agar tetap berfungsi dengan
baik seperti dalam kondisi sebelumnya.
Dari pengertian tersebut diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan, bahwa :
 Fungsi perawatan sangat berhubungan erat dengan proses produksi.
 Peralatan yang dapat digunakan terus untuk berproduksi adalah hasil adanya
perawatan.
 Aktifitas perawatan banyak berhubungan erat dengan pemakaian peralatan,
bahan pekerjaan, cara penanganan dan lain-lain.
 Aktifitas perawatan harus dikontrol berdasarkan pada kondisi yang terjaga.

Kegiatan perawatan dilakukan untuk perbaikan yang bersifat kualitas,


meningkatkan suatu kondisi ke kondisi lain yang lebih baik. Banyaknya
pekerjaan perawatan yang dilakukan tergantung pada :
 Batas kualitas terendah yang dijinkan dari suatu komponen.
Sedangkan batas kualitas yang lebih tinggi dapat dicapai dari hasil
pekerjaan perawatan.
 Waktu pemakaian atau lamanya operasi yang menyebabkan berkurangnya
kualitas peralatan.

Laporan Kerja Praktek 45


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

Dalam hal ini komponen (peralatan) dapat menjadi sasaran untuk terkena
tekanan-tekanan, beban pakai, korosi dan pengaruh-pengaruh lain yang bisa
mengakibatkan menurunnya atau kehilangan kualitas lain yang mengakibatkan
menurunnya atau kehilangan kualitas, sehingga kemampuan komponen
berkurang ketahanannya.
Istilah perawatan dapat diartikan sebagai pekerjaan yang dilakukan untuk
menjaga atau memperbaiki setiap fasilitas, seperti bagian dari pabrik, peralatan,
gedung beserta isinya, sehingga mencapai standar yang dapat diterima. Dalam
hal ini gabungan dari istilah “perawatan” dan “perbaikan” (maintenance and
repair) sering digunakan karena sangat erat hubungannya. Maksud dari
penggabungan tersebut ialah:
 Perawatan sebagai aktivitas untuk mencegah kerusakan.
 Perbaikan sebagai aktivitas untuk memperbaiki kerusakan.
Tujuan dilakukannya kegiatan perawatan (maintenance) adalah sebagai berikut
a. Memungkinkan tercapainya mutu produk dan kepuasan pelanggan melalui
penyesuaian, pelayanan (service) dan pengoperasian peralatan secara tepat.
b. Meminimalkan biaya total produksi yang secara langsung dapat
dihubungkan dengan pelayanan dan perbaikan.
c. Memperpanjang waktu pakai suatu mesin atau peralatan.
d. Meminimumkan frekuensi dan kuatnya gangguan-gangguan terhadap proses
operasi.
e. Menjaga agar sistem aman dan mencegah berkembangnya gangguan
keamanan.
f. Meningkatkan kapasitas, produktivitas, dan efisiensi dari sistem yang ada.
Untuk dapat menjaga/mempertahankan kondisi mesin-mesin dalam keadaan
siap pakai, pada umumnya langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah :
 Mengadakan pemeriksaan yang teratur untuk mencegah terjadinya
kerusakan.
 Mendesain mesin dan peralatan yang dapat menunjang kemudahan
pemeriksaan dan perbaikan mesin-mesin tersebut.
 Menyediakan perlengkapan perawatan yang cukup bagi petugas teknisi.
 Menggunakan kebijakan perawatan pencegahan dengan mengganti
komponen-komponen yang kritis sebelum mengalami kerusakan total.

Laporan Kerja Praktek 46


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

 Memelihara suku cadang sehingga selalu berada dalam kondisi baik dan
siap pakai.

Secara umum, ditinjau dari saat pelaksanaan pekerjaan perawatan dapat


dibagi menjadi dua cara :
1. Perawatan yang direncanakan (Planned Maintenance).
Pengorganisasian pekerjaan perawatan yang dilakukan dengan
pertimbangan ke masa depan, terkontrol dan tercatat.
2. Perawatan yang tidak direncanakan (Unplanned Maintenance).
Cara pekerjaan perawatan darurat yang tidak direncanakan (Unplanned
emergency maintenance).

Bentuk-bentuk perawatan dibagi kedalam beberapa kelompok yaitu:


a. Perawatan Preventif (Preventive Maintenance).
Pekerjaan perawatan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kerusakan,
atau cara perawatan yang direncanakan untuk pencegahan (preventif).
Perawatan preventif dimaksudkan juga untuk mengefektifkan pekerjaan
inspeksi, perbaikan kecil, pelumasan dan set up sehingga peralatan atau
mesin-mesin selama beroperasi dapat terhindar dari kerusakan. Perawatan
preventif dilaksanakan sejak awal sebelum terjadi kerusakan. Perawatan
preventif ini penting diterapkan pada industri-industri yang proses
produksinya kontinyu atau memakai sistem otomatis, misalnya :
 Pabrik kimia, industri pengerolan baja, kilang minyak, produksi massal,
dan sebagainya.
 Apabila terjadi kemacetan produksi karena adanya kerusakan dapat
menimbulkan biaya yang sangat tinggi.
 Apabila terjadi kerusakan kecil pada bagian fasilitas yang vital dapat
mengakibatkan kegagalan seluruh proses.
 Apabila kegagalan atau kerusakan yang terjadi sangat membahayakan,
seperti pada ketel, bejana bertekanan, alat pengangkat dan sebagainya.

Laporan Kerja Praktek 47


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

Kegiatan preventive maintenance dibagi menjadi dua kelompok :


1. Subjective Monitoring
Monitoring yang dilakukan dengan menggunakan indera seperti
mendengarkan, melihat, menyentuh, merasakan, dan membaui,
kemudian mengestimasi kondisi berdasarkan indera tersebut. Perawatan
ini bersifat subjektif karena bergantung pada keahlian operator dalam
memonitor kondisi mesin.
2. Objective Condition Monitoring
Monitoring yang dilakukan berdasarkan hasil yang ditunjukkan oleh alat
ukur. Pada metode ini perawatan dilakukan dengan cara memasangkan
alat ukur pada peralatan/mesin yang tidak sedang beoperasi, kemudian
sensor dari alat ukur tersebut akan memberikan informasi bila terjadi
penyimpangan.

b. Perawatan Korektif (Corrective Maintenance).


Pekerjaan perawatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan
meningkatkan kondisi fasilitas sehingga mencapai standar yang dapat
diterima. Perawatan korektif termasuk dalam cara perawatan yang
direncanakan untuk perbaikan. Dalam perawatan ini dapat mengadakan
peningkatan-peningkatan sedemikian rupa, seperti melakukan
perubahan atau modifikasi rancangan peralatan agar lebih baik.
Menghilangkan problema yang merugikan untuk mencapai kondisi
operasi yang lebih ekonomis.

c. Perawatan Berjalan (Running Maintenance).


Perawatan yang dilakukan pada saat fasilitas atau peralatan dalam
keadaan bekerja. Perawatan berjalan ini termasuk cara perawatan yang
direncanakan untuk diterapkan pada peralatan dalam keadaan operasi.
Perawatan dalam kondisi berjalan diterapkan pada mesin-mesin yang
harus beroperasi terus menerus dalam proses produksi. Kegiatan
perawatan monitoring secara aktif. Diharapkan dari hasil dari perbaikan
yang dilakukan secara cepat dan terencana ini dapat menjamin kondisi

Laporan Kerja Praktek 48


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

proses produksi tanpa adanya gangguan yang mengakibatkan


kerusakan.

d. Perawatan Prediktif (Predictive Maintenance)


Perawatan prediktif dilakukan untuk mengetahui terjadinya perubahan
atau kelainan dalam kondisi fisik maupun fungsi dari sistem peralatan.
Biasanya perawatan prediktif dilakukan dengan bantuan panca indera
atau dengan alat-alat monitor canggih. Teknik-teknik dan alat bantu
yang dipakai dalam memonitor kondisi ini adalah untuk efisiensi kerja
agar kelainan yang terjadi dapat diketahui dengan cepat dan tepat.
Perawatan dengan sistem monitoring sangat penting dilakukan untuk
mendapatkan hasil yang realistis tanpa melakukan pembongkaran total
untuk menganalisisnya

e. Perawatan Setelah Terjadi Kerusakan (Breakdown Maintenance)


Perawatan ini dilakukan setelah terjadi kerusakan, dan untuk
memperbaikinya harus disiapkan suku cadang, material, alat-alat dan
tenaga kerjanya. Beberapa peralatan pabrik yang beroperasi pada unit
tersendiri atau terpisah dari proses yang lainnya, tidak akan langsung
mempengaruhi seluruh proses produksi apabila terjadi kerusakan. Untuk
peralatan tersebut tidak perlu diadakan perawatan , karena biaya
perawatan lebih besar daripada biaya kerusakannya. Dalam kondisi
khusus ini peralatan dibiarkan beroperasi sampai terjadi kerusakan,
sehingga waktu untuk produksi tidak berkurang. Penerapan sistem
perawatan ini dilakukan pada mesin-mesin industri yang ringan, apabila
terjadi kerusakan dapat diperbaiki dengan cepat.

f. Perawatan Darurat (Emergency Maintenance)


Perbaikan yang segera dilakukan karena terjadi kemacetan atau
kerusakan yang tak terduga. Perawatan darurat ini termasuk cara
perawatan yang tidak direncanakan. (unplanned maintenance).

Laporan Kerja Praktek 49


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

Gambar 3.14 Hubungan antara berbagai bentuk perawatan


Sumber : Supandi (1990)

Pelaksanaan kegiatan perawatan tidak terlepas dari penjadwalan perawatan.


Penjadwalan perawatan untuk tiap komponen pada setiap mesin dapat
berbeda, bergantung pada lamanya selang waktu kerusakan dan kapasitas
kerja yang dimiliki mesin atau komponen yang bersangkutan.

3.10 Permasalahan Pada SAH Unit 7 (Define The Problem)


Untuk menyelesaikan dan melakukan perawatan (Secondary Air Heater) SAH
unit 7, maka kita harus menentukan permasalahan (Define The Problem) yang
sering terjadi/dominan pada SAH unit 7 tersebut. Kegagalan –
kegagalan/permasalahan yang sering terjadi pada SAH unit 7 yaitu:
 Elemen rusak/rontok
 Guide Bearing oil luber dari poros SAH 7

3.11 Kerugian/fatal dari kegagalan – kegagalan pada SAH unit 7


Dari hasil pengamatan dan wawancara yang telah dilakukan oleh penulis,
maka dapat di jelaskan seberapa fatal dan seberapa besar kerugian dari
kegagalan tersebut (Measure). Berikut merupakan penjelasan tentang
pengukuran kerugian dari kegagalan – kegagalan yang terjadi berdasarkan
beberapa kerugian yang dialami dari kegagalan pada SAH unit 7 yang dapat
merugikan perusahaan secara langsung mau pun tidak langsung.

Laporan Kerja Praktek 50


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

NO. Jenis Kegagalan Kerugian Waktu


1. Elemen rusak/rontok Dapat mengurangi 2 Minggu
efisiensi Air Heater untuk
perbaikannya

2. Guide Bearing oil Dapat menimbulkan 2 Hari untuk


luber dari poros SAH kerusakan perbaikannya
unit 7 material/kebakaran jika oli
bocor terkena isolasi.
Sumber : Data Pribadi, Maret 2013

3.12 Root Causes Analysis


Root cause analysis yang akan penulis jelaskan untuk mendapatkan penyebab
kegagalan/permasalahan pada Secondary Air Heater Unit 7 menggunakan
metode 5why

1. Elemen Rusak

Laporan Kerja Praktek 51


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

5 why : penyebab 1
why
Elemen Rusak

cause why
Sistem udara dan gas bocor
bocor
cause why
Sektor Plate Terganggu

cause
Sensor instrument tidak bekerja

penyebab 2:
why
Elemen Rusak

cause why
elemen penuh endapan abu

cause
Sisa gas pembakaran

Penyebab 3:
why
Elemen Rusak

cause why
Kecepatan flow dari gas lebih besar dari ketentuan

cause why
Damper tidak bekerja

cause why
Seal piston bocor dan carbon bearing retak

cause
Terkikis dan tumpuan poros tidak stabil

Laporan Kerja Praktek 52


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

2. Guide Bearing Rembes

5 why: Penyebab 1
why
Guide bearing luber

cause why
Aluminium shill voil bocor

cause
Gesekan antara poros dan aluminium shill voil

cause
Benda asing yang masuk

Penyebab 2:
why
Guide bearing luber

cause why
Terkena air hujan

cause why
Belum dilindungi

Laporan Kerja Praktek 53


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

3.13 Penyelesaian permasalahan (Problem Solving)


Setelah menganalisa penyebab – penyebab dari setiap masalah yang ada,
maka kita bisa menyelesaikan permasalahan secara cepat dan tepat. Setiap
penyelesaian yang ada harus di kaji berdasarkan kepada 2 faktor yaitu biaya
dan waktu. Berikut adalah beberapa penyelesaian permasalahan dari masing –
masing kegagalan dan penyebabnya.
Permasalahan: Elemen rusak
Penyebab : Kecepatan flow gas melebihi batas, sisa gas pembakaran,
bearing pecah retak dan seal piston bocor.
No. Problem Solving Waktu Biaya
1. Mengontrol terus setiap kecepatan flow gas in dan Sedang Sedang
cek sektor plate nya
2. Membersihkan Endapan yang berada di Elemen Sedang Sedang
3. Mengganti bearing, seal piston dan elemen yang Lama Mahal
rusak
Permasalahan : Guide Bearing oil luber dari poros SAH
Penyebab : benda asing yang masuk, terkena air hujan, Aluminium shill
voil bocor
No. Problem Solving Waktu Biaya
1. Mengontrol terus kebersihan dan pengawasan dari Cepat Murah
sekitar guide bearing
2. Membuat pelindung diatas guide bearing Lama sedang
3. Mengganti dan memperbaiki chubing dan seal Lama Sedang
yang rusak
Sumber : Data Pribadi, Maret 2013

→ Elemen Rusak
No. Problem Solving
1. Mengontrol terus kecepatan flow gas buang yang masuk dan
selalu periksa sektor platenya
2. Membersihkan Endapan sulfur yang berada di elemen
3. Mengganti seal piston yang bocor, bearing dan elemen yang
rusak
Sumber : Data Pribadi, Maret 2013

Laporan Kerja Praktek 54


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

Problem solving Elemen


Difficult To Do Easy To Do
Rusak
Major Improvement 2&3 1
Minor Improvement

Keterangan
= Aksi yang harus dilakukan dengan segera
= Aksi yang juga harus dilakukan dengan segera
= Aksi yang membutuhkan perencanaan
= Aksi yang harus dibuang

→ Guide bearing oil rembes dari SAH Unit 7


No. Problem Solving
1. Mengontrol terus kebersihan dan pengawasan dari sekitar guide
bearing
2. Membuat pelindung diatas guide bearing
3. Mengganti seal yang rusak dan mengganti aluminium Shill Voil
Sumber : Data Pribadi, Maret 2013

Problem solving Guide bearing oil Difficult To Easy To


rembes Do Do
Major Improvement 2&3
Minor Improvement 1

Keterangan

= Aksi yang harus dilakukan dengan segera


= Aksi yang juga harus dilakukan dengan segera
= Aksi yang membutuhkan perencanaan
= Aksi yang harus dibuang

Laporan Kerja Praktek 55


Program Studi Teknik Mesin
ISO 9001:2000 ISO14001:2004 SMK3
UBP SURALAYA

3.14 Pemeliharaan/Pemeriksaan (Control) pada Peralatan Air Heater

3.14.1 Pemeliharaan Harian Meliputi:

 Pemeliharaan dan pembersihan kotoran yang menempel pada


peralatan Air Heater secara visual.
 Pemeriksaan level pelumas bearing dan gear box, jenis pelumas untuk
bearing yaitu omala 680 dan untuk gear box omala 220.
Pemeriksaan kebocoran minyak pelumas.
Pemeriksaan kebocoran gas buang dan udara pembakaran.
3.14.2 Pemeliharaan mingguan, meliputi:
 Pemeriksaan filter pelumas.
 Pemeriksaan level pelumas gear box sector plate.
3.14.3 Pemeliharan bulanan, meliputi:
 Pemeriksaan baut-baut pengencang peralatan akibat vibrasi.
 Pemeriksaan kelainan suara dan vibrasi pada peralatan, pengukuran
vibrasi dilakukan 3 bulan sekali dan jika terjadi fibrasi yang
mengkhawatirkan maka dilakukan pengukuran secara khusus.
 Pemeriksaan bearing gear box dan sektor plate.
 Pemeriksaan kebocoran Duct dan manhole dari gas buang.

3.14.4 Pemeliharaan tahunan, meliputi:

 Pemeriksaan dan penggantian minyak pelumas bearing dan gear box.


 Pemeriksaan dan perbaikan kondisi support bearing dan guide bearing.
 Pemeriksaan dan penyetelan pedestal.
 Pemeriksaan dan perbaikan sektor plate.
 Pemeriksaan dan penyetelan seal axial, radial, by-pass.
 Pemeriksaan dan perbaikan elemen-elemen yang rusak.
 Pembersihan abu didalam air heater.

Laporan Kerja Praktek 56


Program Studi Teknik Mesin