Anda di halaman 1dari 26

PROPOSAL TUGAS AKHIR

“Modul Rangkaian Motor 3 Fasa Berurutan dan Instalasi Untuk


Mata Kuliah Instalasi Tenaga Dan Instalsi Listrik 1 Dan 2”

Oleh :

BENI MUHARANI (1501031034)

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI PADANG
2018
PROPOSAL TUGAS AKHIR

“Modul Rangkaian Motor 3 Fasa Berurutan dan Instalasi Untuk Mata Kuliah
Instalasi Tenaga Dan Instalsi Listrik 1 Dan 2”

Oleh :

BENI MUHARANI (1501031034)

Proposal Pengajuan Judul Tugas Akhir ini


Diketahui dan Disetujui oleh :

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dasrul Yunus, ST., M.Kom Fibriyanti, SST., MT


NIP. 19611221 198803 1 001 NIP.19760211 200501 2 004
ABSTRAK
Modul Rangkaian Motor 3 Fasa Berurutan dan Instalasi Untuk Mata Kuliah
Instalasi Tenaga Dan Instalsi Listrik 1 Dan 2

Tujuan dari pembuatan proyek akhir ini adalah untuk mengetahui rancang
bangun dari pembuatan unit modul trainer praktik instalsi listrik motor 3 phase
dan instalasi penerangan. Modul praktik ini diharapkan dapat menunjang proses
pembelajaran khususnya untuk memahami prinsip kerja dan fungsi dari sebuah
instalasi motor listrik dan instalasi penerangan.
Modul trainer ini dirancang dengan menggunakan konsep moduler yaitu
masing – masing komponen dibuat secara terpisah, dilengkapi dengan nama
komponen, symbol serta keterangan tentang komponen sehingga dapat dengan
mudah dalam penggunaan, perawatan dan yang utama adalah dapat
mempermudah pemahaman dari konsep instalasi motor 3 phase dan instalasi
penerangan. Proses perancangan dan pembuatan trainer ini melalui beberapa
tahapan yaitu tahap pengumpulan materi dan informasi, perancangan modul
masing-masing komponen, perancangan dan kotak penyimpanan, pembuatan alat,
pengujian alat dan terakhir penulisan laporan tugas akhir.

Kata kunci : Trainer, Media pembelajaran, Instalasi listrik industri, Motor


Listrik.
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Proses merangkai suatu rangkaian listrik sering kita dilakukan dalam suatu

praktikum listrik, baik rangkaian yang berhubungan dengan mikrokontroller,

instalasi listrik tegangan rendah maupun rangkaian listrik dengan tegangan tinggi.

Dalam membuat suatu rangkaian listrik tentunya menginginkan rangkaian

yangdirangkai tersebut dalam kondisi aman dan rapi, sebab meskipun rangkaian

yang dirangkai sudah benar tetapi jika kondisinya berantakan dan tidak rapi

nantinya dapat menimbulkan kecelakaan, kesulitan dalam mencari kesalahan jika

terjadi trouble shooting dan tersengat arus listrik.

Rangkaian suatu sistem proteksi untuk percobaan karakteristik TOR

dimana dalam percobaan tersebut menggunakan banyak komponen seperti MCB 3

Fasa, Pushbutton, kontaktor, motor listrik, lampu indicator, rectifier, Variac 220

VAC dan lampu pijar, dari tujuh buah komponen tersebut dalam proses

perangkaianya untuk melakukan pengujian karakteristik TOR memerlukan kabel

jumper yang sangat banyak, untuk sistem pengontrolan dan juga sistem tenaga

listrik untuk pengoperasian motor induksi 3 fasa. Dengan menggunakan kabel

jumper maupun kabel penghubung yang banyak tentunya akan mengakibatkan

rangkaian menjadi tidak rapi, serta diragukan keamanan rangkaian tersebut.

Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu modul trainer

pengujian untuk mengetahui karakteristik komponen-komponen sistem proteksi.

Sehingga jika dilakukan suatu pengujian baik pengujian karaktersitik MCB, TOR
dan OCR maupun berbagai komponen untuk sistem proteksi lainnya, dapat

dengan mudah menemukan berbagai kesalahan jika dalam proses percobaan

terjadi trouble shooting dan terjaminnya keselamatan para praktikan untuk

melakukan proses percobaan. Modul trainer sistem proteksi ini terdiri dari MCB

yang berfungsi sebagai pengaman jika terjadi beban lebih maupun hubung

singkat, Lampu indicator Fasa R, S, T, tersedianya 3 tempat penyimpanan

komponen dibagian bawah modul trainer yang masing-masing tempat tersebut

sudah tersedia komponen-komponen yang dibutuhkan untuk melakukan suatu

proses pengujian sehingga seorang praktikan dapat dengan mudah untuk

melakukan suatu percobaan maupun pengujian karakteristik komponen-komponen

sistem proteksi.

Modul trainer sistem proteksi untuk pengujian karakteristik TOR

merupakan suatu modul trainner yang nantinya sangat bermanfaat untuk

melakukan pengujian karakteristik komponen TOR pada sistem proteksi. Modul

trainer TOR ini sudah dilengkapi dengan komponen pendukung seperti

amperemete, voltmeter , lampu tanda atau indicator, dan sebuah rectifier yang

tersimpan rapi dibagian lemari bawah dari modul trainer tersebut. Dalam hal ini

seorang praktikan tidak mengalami kesulitan lagi untuk meyiapkan alat dan bahan

yang akan digunakan untuk pengujian karakteristik TOR sehingga dapat

mengefektifkan waktu praktikum.


1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka

permasalahan yang dibahas dalam pembuatan alat ini adalah :

1. Bagaimana cara memanfaatkan dan menggunakan alat modul

Rangkaian Motor 3 Fasa Berurutan dan Instalasi?

2. Bagaimana keutungan dan kelemahan dari alat modul trainer

sistem proteksi untuk pengujian karakteristik TOR

1.3 Tujuan

1. Mahasiswa dapat megetahui rangkaian control dan rangkaian daya

motor tiga phasa secara berurutan dengan mudah dengan

menggunakan alat modul trainer ini.

2. Mahasiswa dapat me suatu rangkaian pengujian karakteristik TOR

dengan mudah tanpa mengalami masalah dengan komponen yang

dibutuhkan.

3. Mahasiswa dapat membuat rangkaian pengujian TOR serapi

mungkin dan aman dari bahaya, sehingga rangkaian dapat

dipahami oleh teman sutu tim .

1.4 Manfaat

Adapun manfaat dari alat Modul Trainner Sistem Proteksi Untuk

Pengujian Karakteristik TOR adalah sebagai berikut :

1. Untuk mempermudah mahasiswa untuk melakukan pengujian

karakteristik berbagai komponen Sistem proteksi.


2. Untuk mempermudah mahasiswa dalam melakukan pengujian

karaktersitik TOR tanpa mengalami kendala apapun.

3. Untuk mempermudah mahasiswa dalam menentukan bahan apa

saja yang dibutuhkan untuk melakukan pengujian karakteristik

TOR, karena dalam modul ini sudah tersedia bahan – bahan yang

diperlukan untuk melakukan pengujian karaktersitik TOR.

4. Untuk menciptakan tempat pengujian yang aman dan nyaman bagi

mahasiswa dalam melakukan pengujian karakteristik komponen-

komponen sistem proteksi.

1.5 Batasan Masalah

Dikarenakan luasnya permasalahan di dalam pembahasan dan agar tidak

terjadi kesalahpahaman maksud dari apa yang ada didalam penulisan tugas akhir

ini maka dibutuhkannya pembatasan masalah tersebut antara lain :

1. Membahas komponen yang dibutuhkan untuk melakukan pengujian

karakteristik TOR pada sistem proteksi.

2. Membahas komponen pengaman yang digunakan pada modul

Trainner sistem proteksi untuk pengujian karakteristik TOR (

Thermal Overload Relay).

3. Membahas keuntungan dan kelemahan dari Modul Trainner Sistem

proteksi untuk pengujian karakteristik TOR (Thermal Overload

Relay).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Proteksi distribusi tenaga listrik sangat penting dalam proses penyaluran

daya dari tempat ke tempat yang lain . Prinsip dalam distribusi tenaga listrik yang

baik adalah aman, andal dan ekonomis. Proteksi tenaga listrik merupakan jaminan

keamanan dalam penyaluran atau distribusi jaringan listrik. Dimana fungsi dari

sistem proteksi tenaga listrik adalah sebagai pengaman dari distribusi tenaga

listrik dari gangguan listrik baik gangguan dalam maupun gangguan dari luar.

Gangguan dalam adalah gangguan yang disebabkan oleh sistem listrik itu sendiri

seperti : korona, tegangan tembus dan flash over. Sedangkan gannguan luar adalah

gannguan listrik yang disebabkan dari pada luar yaitu bencana alam . Perubahan

cuaca dan iklim . Dan sambaran petir ( Bachtiar Hasan. Teknik Tagangan Tinggi

.2003).

Dengan sistem proteksi yang baik maka keamanan suatu sistem dapat

terjamin dari berbagai gangguan. Sistem proteksi tenaga listrik ini mengamankan

tegangan dan arus dai sistem tenaga listrik maksudnya mengamankan suatu sistem

bila terjadi gangguan tegangan dan arus lebih maupun arus hubung singkat yang

mengenai suatu sistem tenaga listrik. Proteksi terhadap sustu sistem tenaga listrik

adalah sistem pengaman yang dilakukan terhadap peralatan-peralatan listrik, yang

terpasang pada sistem tenaga listik. Misalnya generator, Transformator, jaringan

Transmisi atau distribusi dan lain-lain terhadap kondisi abnormal dari sistem itu

sendiri, yang dimaksud dengan kondisi abnormal tersebut antara lain dapat berupa
: hubung singkat, tegangan lebih kurang, beban lebih, frekuensi sistem turun naik

(Anwar. Modul Sistem Proteksi Tenaga.2016).

KOMPONEN UTAMA DAN PENDUKUNG


1. Lampu Indicator
Komponen pada modul trainner sistem proteksi adalah lampu indikator.

Lampu indikator dalam pada modul trainner memiliki fungsi untuk mengetahui

apakah rangkaian bekerja dengan benar atau tidak. Tak hanya itu, lampu indikator

juga berfungsi untuk tanda peringatan jika terjadi sesuatu.

Gambar 2. 1 Lampu Indicator


2. Push Button
Push button switch (saklar tombol tekan) adalah perangkat / saklar

sederhana yang berfungsi untuk menghubungkan atau memutuskan aliran arus

listrik dengan sistem kerja tekan unlock (tidak mengunci). Sistem kerja unlock

disini berarti saklar akan bekerja sebagai device penghubung atau pemutus aliran

arus listrik saat tombol ditekan, dan saat tombol tidak ditekan (dilepas), maka

saklar akan kembali pada kondisi normal.


Gambar 2.2 Push Button
3. Kontaktor
Contactor merupakan komponen listrik yang berfungsi untuk

menyambungkan atau memutuskan arus listrik AC. Contactor atau sering juga

disebut dengan istilah relaycontactor dapat kita temui pada panel kontrol listrik.

Gambar 2.3 Magnetic Contaktor

4. Auxiliary Contact

Pada kontaktor, terdapat auxiliary contact yang bertujuan untuk mengunci

kontaktor agar terus bekerja walau perintah bekerja sudah tidak ada lagi dari

operator (lihat terminal 13-14 (NO)).Selain itu, kontaktor dapat dipasang dengan

auxiliary contact tambahan. Tujuan dari penambahan ini adalah untuk

menyediakansaklar ON-OFF lebih banyak yang bisa dihubungkan ke rangkaian


lain seperti aktivasi timer, lampu indicator atau kontaktor lainnya.Auxiliary

contact ini dipasang diatas dari kontaktor utama. Bentuk fisik dari auxiliary

contact ini dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2. 4 Auxiliry kontaktor

5. TOR (Thermal Overload Relay)

Thermal overload adalah alat pengaman rangkaian dari arus lebih yang

diakibatkan beban yang terlalu besar dengan jalan memutuskan rangkaian ketika

arus yang melebihi setting melewatinya. Thermal overload berfungsi untuk

memproteksi rangkaian listrik dan komponen listrik dari kerusakan karena

terjadinya beban lebih.

Gambar 2.5 TOR(Thermal Overload Relay)


6. Miniatur Circuit Breaker (MCB)

MCB (Miniature Circuit Breaker) atau Miniatur Pemutus Sirkuit adalah

sebuah perangkat elektromekanikal yang berfungsi sebagai pelindung rangkaian

listrik dari arus yang berlebihan. Dengan kata lain, MCB dapat memutuskan arus

listrik secara otomatis ketika arus listrik yang melewati MCB tesebut melebihi

nilai yang ditentukan. Namun saat arus dalam kondisi normal, MCB dapat

berfungsi sebagai saklar yang bisa menghubungkan atau memutuskan arus listrik

secara manual.

Gambar 2.6 MCB 3 fasa

7. Voltmeter

Voltmeter adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengukur tegangan

listrik. Dengan ditambah alat multiplier akan dapat meningkatkan kemampuan

pengukuran alat voltmeter berkali-kali lipat.Gaya magnetik akan timbul dari

interaksi antar medan magnet dan kuat arus. Gaya magnetic tersebut akan mampu

membuat jarum alat pengukur voltmeter bergerak saat ada arus listrik. Semakin

besar arus listrik yang mengelir maka semakin besar penyimpangan jarum yang

terjadi.Voltmeter dapat dibuat dari sebuah galvanometer dan sebuah hambatan


eksternal Rx yang dipasang seri. Adapun tujuan pemasangan hambatan Rx ini

tidak lain adalah untuk meningkatkan batas ukur galvanometer, sehingga dapat

digunakan untuk mengukur tegangan yang lebih besar dari nilai standarnya.

Gambar 2.7 alat ukur voltmeter

8. Amperemeter

Amperemeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kuat arus

listrik. Umumnya alat ini dipakai oleh teknisi elektronik dalam alat multi tester

listrik yang disebut avometer gabungan dari fungsi amperemeter, voltmeter dan

ohmmeter.Amper meter dapat dibuat atas susunan mikroamperemeter dan shunt

yang berfungsi untuk deteksi arus pada rangkaian baik arus yang kecil, sedangkan

untuk arus yang besar ditambhan dengan hambatan shunt.Amperemeter bekerja

sesuai dengan gaya lorentz gaya magnetis. Arus yang mengalir pada kumparan

yang selimuti medan magnet akan menimbulkan gaya lorentz yang dapat

menggerakkan jarum amperemeter. Semakin besar arus yang mengalir maka

semakin besar pula simpangannya.


Gambar 2,.8 Alat Ukur Amperemeter
SKETSA GAMBAR RANCANGAN MODUL TRAINNER

MCB TOR OCR

Gambar 2.9 Tampak dari depan


Gambar 2.10 Tampak Dari samping
Gambar 2.11 Tampak Dari Samping
BAB III

METODOLOGI PENYELESAIAN MASALAH

3.1 Metodologi Penyelesaian Masalah

Untuk mendapatkan sistem yang baik, tentu tidak terlepas dari cara atau

metode yang ada saat melakukan proses penelitian, yang mencakup keberadaan

penulisan tugas akhir ini. Dalam penulisan ini digunakan metode penelitian antara

lain :

1. Penelitian Perpustakaan (Library Research)

Dalam metode ini dilakukan kajian literatur untuk melakukan pendekatan

terhadap konsep-konsep yang digunakan. Dan untuk lebih meningkatkan

pemahaman terhadap aspek-aspek teori yang mendukung pembuatan modul

trainner ini.

2. Pengumpulan data.

Dalam metode ini dilakukan pengumpulan data – data yang diperlukan

sebagai arahan pembuatan tugas akhir ini yang bersumber dari literatur dan

pembimbing.

3. Perancangan atau perencanaan.

Dalam metode ini dilakukan perencanaan pembuatan konstruksi dari modul

trainer sistem proteksi yang sesuai dengan kenyaman mahasiswa untuk melakukan

praktikum sistem proteksi. Dalam modul trainner ini sudah tersedia 3 buah lemari

yang terdiri dari perlengkapan pengujian MCB 3 Fasa, OCR(over current relay),
dan terlebih khususnya TOR(Thermal Overload Relay), dan berbagai komponen

pengukuran serta pengaman.

4. Mengevaluasi dan menguji

Tujuan dari dilakukannya evaluasi maupun pengujian adalah agar nantinya

dapat diketahui nilai ketahanan alat dari modul trainer dan juga prinsip kerja dari

sistem pengaman yang terdapat pada modul trainer sistem proteksi pengujian

karakteristik TOR, untuk mencapai hasil yang diinginkan.

5. Pengujian dan Analisa

Jika dalam pengujian terdapat kekurangan dari hasil yang diinginkan maka

selanjutnya dilakukan penganalisaan yang nantinya akan dilakukan

pengidentifikasian masalah serta solusinya dan juga perbaikan pada bagian-bagian

yang dirasa mengalami kendala dalam suatu pengujian.

3.2 Alat dan Bahan yang Digunakan

3.2.1 Alat

 Kunci ring : 1 set

 Bor listrik : 1 buah

 Gerinda botol : 1 buah

 Ganggang PakuTembak : 1 buah

 Obeng + dan - : 1 buah

 Tang : 1 set

 Gergaji : 1 buah

 Pisau Catter : 1 buah

 Solder : 1buah
3.2.2 Bahan

 Lampu indicator : 3 buah

 Push button NO : 2 buah

 Push Button NC : 2 buah

 Mcb 3 Fasa : 1 buah

 Kontaktor : 1 buah

 Kontak Auxiliry : 1 buah

 TOR : 1 buah

 Ampermeter : 3 buah

 Voltmeter : 2 buah

 Terminal merah : 50 buah

 Terminal hitam : 50 buah

 Besi baja siku : 10 Meter

 Papan mika : 2 x 3 Meter

 Papan Akrilik : 3 x 2 meter

 Paku tembak : secukupnya

 Kikir bulat : 3 buah

 Amplas kasar : 5 meter

 Kabel NYA Fasa : 1 rol ( Merah )

 Kabel NYAF Fasa :1 Rol ( Merah)

 Kabel NYY (4 kawat) : 7 Meter

 Lem besi : 1 botol


3.3 Jadwal TA

Adapun jadwal kegiatan yang akan dilakukan untuk menyelesaikan alat

ini kami uraikan sebagai berikut :

1. Mendesaign kerangka meja pada modul trainner

Bahan yang digunakan untuk proses pembuatan kerang modul trainner ini

adalah besi siku baja dengan ketebalan 3 mm. Panjang besi siku baja yang

digunakan untuk proses pembuatan kerangka modul trainner ini sekitar 10 meter,

diharapkan besi siku baja mampu menahan beban sekitar 35-40 kg karena pada

modul trainner ini menggunakan output berupa motor induksi 3 fasa dan

generator. Disamping itu modul trainner sistem proteksi untuk pengujian

karaktersitik TOR ini menggunakan roda pada setiap sisi-sisinya untuk

mempermudah sistem pemindahan.

2. Melakukan pemotongan besi baja siku sesuai dengan ukuran dari

rancangan yang telah di desaign.

3. Melakukan pengelasan terhadap besi baja siku yang telah melalui

tahapan pemotongan, yang berpatokan terhadap gambar rancangan

modul.

4. Melakukan pemotongan papan akrilik untuk menutupi sisi modul

trainner serta untuk pembuatan modul komponen disesuaikan dengan

ukuran yang telah dirancang atau didesaign

5. Membuat desaign rangkaian untuk proses penyamblonan

Pada modul trainner ini menggunakan modul-modul kecil dari komponen

yang digunakan sebanyak 7 komponen modul kecil. Untuk menandakan terminal


dari komponen, dibuatlah desaign dari terminal komponen yang nantinya desaign

tersebut dipindahkan ke papan akrilik melalui proses penyablonan.

6. Melakukan proses penyablonan

Setelah melakukan tahapan desaign terminal dari komponen selanjutnya

memindahkan gambar rangkaian tersebut ke papan akrilik melalui proses

penyablonan

7. Melakukan pemasangan komponen serta tahap perangkaian pada

modul.

Untuk pemasangan komponen pada modul menggunakan kabel jenis NYA

dan NYAF. Penghantar kabel NYA digunakan untuk perakitan modul kontaktor

dan TOR ( Thermal Overload Relay ) sedangkan penghantar kabel NYAF

digunakan untuk perakitan modul lampu indicator, Push Button, Mcb, dan

komponen instrument ukur.

8. Melakukan pemasangan MCB utama pada alat modul trainner serta

perangakaiannya.

MCB utama yang digunakan pada alat modul trainner ini adalah dengan

rating 16 Ampere yang berfungsi sebagai pengaman terhadap beban lebih.

9. Memastikan semua komponen telah dirangkai dengan benar.

Setelah semua komponen telah terpasang dan dirangkai pada modul

selanjutnya melakukan pengecekan untuk memastikan semua kaki terminal

terhubung dengan kuat dan benar dengan menggunakan multimeter.


10. Melakukan pengecekan secara keseluruhan

Pengecekan secara keseluruhan ini bertujuan untuk memastikan semua

komponen telah terpasang dengan benar dan juga untuk memastikan modul

trainner sistem proteksi untuk pengujian TOR telah siap untuk digunakan.

11. Melakukan pengujian serta analisa data

Melakukan pengujian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan modul

trainner, apakah sudah bekerja sesuai dengan yang diharapkan atau tidak , jika

pada tahap pengujian terjadi trouble shooting maka selanjutnya dilakukan tahap

penganalisaan dan perbaikan terhadap bagian yang mengalami kegagalan fungsi .


3.4 Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Anggaran biaya yang dibutuhkan untuk proses pembuatan alat ini
diuraikan sebagai berikut :
NO NAMA KOMPONEN JUMLAH HARGA

1. LAMPU INDICATOR 3 Rp.30.000,-

2. MCB 3 FASA 2 Rp.600.000,-

3 PUSH BUTTON NC 2 Rp.33.000,-

4. PUSH BUTTON NO 2 Rp.33.000

5. KONTAKTOR 1 Rp.160.000,-.

6. THERMAL OVERLOAD. R 1 Rp.210000,-

7. AUXILIRY 1 RP.50.000,-

8. AMPEREMETER 3 RP.180.000,-

9 VOLTMETER 2 Rp.120.000,-

10. TERMINAL 60 RP.30.000

11. BESI BAJA SIKU 3X3M 10 M Rp.100.000,-

12. PAPAN MIKA 8 mm 3X2M Rp.250.000,-

13. PAPAN AKRILIK 3 MM 3x2M Rp.300.000,-

14. PAKU TEMBAK 4 KOTAK Rp.28.000,-

15. KIKIR 1 SET 1 SET Rp.55.000,-

16. AMPLAS KASAR 5 METER Rp.25.000,-

17. KABEL NYA FASA 1 ROL Rp.325.000,-

18. KABEL NYAF FASA 1 ROL Rp.300.000,-

19. KABEL NYY 7 METER Rp.105.000,-

20. LEM BESI 1 BOTOL Rp.50.000,-

21. SEKRUP 6 X 1” 1 KOTAK Rp.60.000,-

18 TIMAH SOLDER 1 Rp.5.000,-

19. BAHAN - Rp.100.000,-


PENDUKUNG LAINNYA

JUMLAH RP.3.149.000,-

DAFTAR PUSTAKA

1. .jurnal.polines.ac.id [ diakses tanggal 23 November 2017 ]


2. https://duniaberbagiilmuuntuksemua.blogspot.com[diakses tanggal 23
Novembe 201 ]
3. egatek.com/ketahui-komponen-komponen-pada-panel-listrik [ diakses
tanggal 24 November 2017 ]