Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang Reklamasi Tambang Di Suatu Perusahan.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang reklamasi tambang


suatu perusahan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap
pembaca.

Ketapang,28 oktober 2017

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

REKLAMASI merupakan pekerjaan atau usaha dalam pemanfaatan


suatu kawasan atau lahan yang tidak berguna dan berair untuk dijadikan lahan
yang berguna dengan cara dikeringkan. Tempat-tempat yang biasa dijadikan
sebagai tempat untuk melakukan reklamasi seperti kawasan pantai, lepas pantai
atau offshore, danau, rawa-rawa ataupun sungai yang begitu lebar.

Tujuan Reklamasi yaitu menjadikan kawasan yang tidak berguna atau


tidak bermanfaat menjadi kawasan yang mempunyai manfaat. Kawasan yang
sudah direklamasi tersebut biasanya dimanfaatkan untuk kawasan pertanian,
pemukiman, perindustrian, pertokoan/bisnis dan objek wisata. Pekerjaan
reklamasi juga bertujuan untuk memacu pembangunan sarana dan prasarana
pedukung lainnya. Dalam membangun suatu pelabuhan ataupun terminal
pelabuhan yang berada pada perairan maka dapat dilakukanpekerjaan reklamasi

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN REKLAMASI

Dalam pekerjaan reklamasi pasti ada keuntungan ataupun kerugian akibat


pekerjaan tersebut, untuk itu silahkan simak apa saja keuntungan dan kerugian
dalam melakukan pekerjaan reklamasi untuk suatu kawasan berikut ini

KEUNTUNGAN REKLAMASI

1. Dapat membantu suatu negara, kota ataupun daerah-daerah untuk


menyediakan lahan untuk keperluan seperti, penataan suatu daerah pantai,
pengembangan wisata bahari dan lain sebagainya.
KERUGIAN REKLAMASI

1. Akan terjadi perubahan ekosistem pada lingkungan seperti perubahan pada


pola arus erosi pada pantai, Maka perubahan demikian dapat
membahayakan suatu daerah atau lingkungan karena dapat mengakibatkan
banjir
2. Akan berdampak buruk pada sistem drainase dan perubahan
hidrodinamika yang mempunyai dampak negatif kepada lingkungan dan
masyarakat yang ada disekitarnya
3. Akan mengganggu lingkungan sekitar quarry karena adanya galian yang
dilakukan dengan cara pengeprasan bukit maupun pulau-pulau yang tidak
mempunyai [Advertisement] penghuni .
4. Beberapa keanekaragaman hayati akan punah seperti hilangnya spesies
magrove, punahnya spesies ikan, kerang laut dan lain sebagainya akibat
dari proyek reklamasi

KETENTUAN ATAU PRINSIP REKLAMASI SEBAGAI BERIKUT

1. Kebutuhan dalam pengembangan budi daya untuk suatu kawasan yang


berada pada sisi daratan
2. Dapat merupakan kawasan perkotaan yang padat maka membutuhkan
pengembangan wilayah untuk mengakomodasikan kebutuhan

SYARAT UNTUK LOKASI YANG AKAN DILAKUKAN REKLAMASI


ANTARA LAIN

1. Telah memenuhi ketentuan rencana kota yang dituangkan dalam Rencana


Tata Ruang Wilayah Provinsi dan atau Kota/Kabupaten dan Rencana
Detail Tata Ruang Kawasan Reklamasi, dan dituangkan ke dalam Peta
Lokasi laut yang akan direklamasi.
2. Ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur dan atau Walikota/Bupati
(tergantung posisi strategis dari kawasan reklamasi) yang berdasarkan
pada tatanan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan atau
Kota/Kabupaten serta Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Reklamasi
3. Sudah ada studi kelayakan tentang pengembangan kawasan reklamasi
pantai atau kajian/kelayakan properti (studi investasi);
4. Berada di luar kawasan hutan bakau yang merupakan bagian dari kawasan
lindung atau taman nasional, cagar alam, dan suaka margasatwa;Bukan
merupakan kawasan yang berbatasan atau dijadikan acuan batas wilayah
dengan daerah/negara lain.
5. Memenuhi ketentuan pemanfaatan sebagai kawasan dengan ijin bersyarat
6. Dituangkan di dalam Peta Situasi rencana lokasi dan Rencana Teknis
Pelaksanaan Reklamasi dan mendapat persetujuan dari instansi terkait

PERSYARATAN DALAM MEMENUHI KETENTUAN PEMANFAATAN


KAWASAN REKLAMASI

1. Penyusunan dokumen AMDAL


2. Penyusunan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya
Pemantauan Lingkungan (UPL)
3. Penyusunan Analisis Dampak Lalu Lintas (ANDALIN)
4. Mengenakan biaya dampak pembangunan (development impact fee), dan
atau aturan disinsentif lainnya.

1.2 Tujuan
1. Supaya lokasi bekas tambang dapat di manfaatkan lagi.
2. Supaya dapat memberikan penghasilan alternatip bagi masyarakat
setempat.
BAB II

DASAR TEORI

2.1 Profil PT.Refined Bangka Tin

September 1, 2017 Lusia Arumingtyas, Bangka Hutan

Gubernur Babel, Erzaldi Rosman Djohan bersama dengan Dirut PT RBT,


Suparta dan Direkturnya, Reza Andriansyah melakukan penanaman pohon jambu
di wilayah bekas tambang timah, sebagai upaya reklamasi. Foto: Lusia
Arumingtyas/ Mongabay Indonesia

Sinar mentari terik menyengat kulit. Sepanjang jalan, hamparan tanah


putih kecoklatan. Tampak satu dua pepohonan kecil dan ilalang tumbuh. Terlihat
juga lubang bak danau bekas galian timah. Air berwarna hijau dan kebiru-biruan.
Ada juga berwarna coklat. Gundukan-gundukan pasir sisa tailing bak di gurun
juga terlihat.

Itulah lahan bekas tambang timah PT Refined Bangka Tin (RBT) di


Sungailiat, Bangka Belitung. Lokasi ini akan jadi proyek percontohan yang
disebut-sebut reklamasi berkelanjutan itu mengusung nama ”Green for Good,”
berada di Desa Penyamun, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka.RBT sendiri,
sebagai penambang timah, telah menjangkau pasar-pasar besar dunia seperti
Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Spanyol, Tiongkok, Taiwan, Hongkong, dan
Pakistan.

Dalam kegiatan itu, Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman, hadir.


Dia menilai, reklamasi pasca tambang sangat minim, hingga menambah deret
angka luas lahan kritis dan peningkatan tambang ilegal.”Penghijauan (bekas
tambang) itu sudah terus-menerus, namun kecepatan masih kalah
dibandingkanproses penambangan. Ini tantangan utama dihadapi Bangka
Belitung,” katanya, pertengahan Agustus lalu di Sungailiat.

Setiap perusahaan tambang, katanya, berkewajiban reklamasi pasca


tambang, sesuai Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor
34/2017 soal perizinan bidang pertambangan mineral dan batubara.Sayangnya,
implementasi di lapangan belum menunjukkan hasil signifikan. Kata Erzaldi,
banyak perusahaan reklamasi setengah-setengah dan tak sunggung-sungguh
karena gagal di tengah jalan.”Hari ini, reklamasi, tahun depan gundul lagi, gundul
bukan karena kenapa-kenapa tapi karena tidak diurus,” katanya.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, saat ini


lahan kritis karena pertambangan timah tercatat 275.500 hektar, terdiri dari 27 izin
usaha pertambangan (IUP) di kawasan hutan seluas 5.500 hektar dan 470 IUP di
luar kawasan hutan seluas 270.000 hektar.Tarmizi, Bupati Kabupaten Bangka
menguatkan perkataan Erzaldi. Dia bilang, masih banyak lahan kritis karena lahan
bekas tambang tak tereklamasi.”Lahan kritis di Bangka, 26.000 hektar dari
302.000 hektar. Dari 26.000 hektar itu, baru 2.000-3000 hektar reklamasi,”
katanya.

Dari provinsi maupun kabupaten dan kota berjanji memberikan dukungan


penuh terhadap upaya reklamasi sebagai langkah pelestarian lingkungan. ”Kami
akan awasi ketat reklamasi lahan bekas tambang,” kata Erzaldi yang baru terpilih
tahun ini.

Danau bekas lubang tambang timah di konsesi PT RBT. Foto: Lusia


Arumingtyas/ Mongabay Indonesia Libatkan masyarakat

Erzaldi berencana mewajibkan perusahaan memberikan lahan bekas


tambang kepada masyarakat sekitar, tak hanya mengelola, juga bermitra bersama
masyarakat. ”Saya usahakan sertifikat langsung. Kita kaitkan ini dengan program
TORA (tanah obyek reforma agraria-red),” katanya.
Tujuannya, pasca tambang mampu berkesinambungan dan bermanfaat
langsung bagi masyarakat. Dia bilang, 20% lahan eks tambang akan mendapatkan
sertifikasi hak pengelolaan lahan (HPL) dan dikelola pemerintah daerah untuk
membangun fasilitas umum dan fasilitas sosial.Reza Adriansyah, Direktur PT
RBT menyebutkan, akan reklamasi 50 hektar, dan jadi area konservasi lahan,
agrikultur, agrowisata maupun pendidikan lingkungan.

awal, akan mereklamasi lahan luas 10 hektar di Desa Pemali, dengan


ditanami buah-buahan, seperti kunci, lada, tomat, nanas, semangka hingga padi.
Bersama konsultan, mereka uji coba ini dengan bantuan bioteknologi dengan
mengupayakan kandungan mineral lahan bekas tambang rusak subur
kembali.Perusahaan menargetkan, lahan 10 hektar selesai 17 bulan. Sisanya,
selesai dalam lima tahun. Reklamasi ini, katanya, sebagai kewajiban perusahaan
pasca tambang untuk pemulihan tanah dan lingkungan hidup.

Pemanfaatan lahan eks tambang, katanya, menggandeng masyarakat


sekitar dengan mengelola lahan, melalui budidaya tanaman pangan dan hutan
yang bernilai ekonomi dan aman konsumsi.

Langkah ini, katanya, sebagai dukungan terhadap pemerintah dalam menjaga


pelestarian lingkungan dan ketahanan pangan. Baginya, bisnis tak hanya
mengelola sumber daya alam juga menjaga lingkungan.

”Kami serius memulai reklamasi berkelanjutan agar warisan bisnis timah di Babel
memiliki peninggalan manfaat yang dapat dimanfaatkan anak cucu di masa
mendatang,” katanya.Menyangkut reklamasi ini, katanya, RBT, akan sosialisasi
terpadu, identifikasi, dan verifikasi sosial mencakup masyarakat lokal melalui
kepala desa dan lembaga pemangku kepentingan lain. Nantinya, masyarakat akan
membentuk koperasi dan RBT sebagai supervisi.

”Dukungan masyarakat lokal, dan pemda jadi kunci suksesnya program ini,”
katanya.
Lahan bekas tambang timah PT RBT. Rencananya wilayah ini direklamasi dan
menggandeng masyarakat untuk turut serta mengelolanya. Adapun komoditi yang
akan ditanam, yakni tanaman pangan dan pohon-pohon keras. Akan berhasilkan?
Foto: Lusia Arumingtyas/ Mongabay Indonesia

Mungkinkah?

Walhi Bangka Belitung angkat bicara. Ratno Budi, Direktur Eksekutif


Walhi Bangka Belitung pesimis rencana reklamasi pasca tambang RBT ini. ”Ini
omong kosong. Ini jadi cara atau alat untuk menutupi banyak perilaku dan
praktik-praktik jahat mereka di sektor perusahaan tambang timah terhadap
tanggung jawab lingkungan,” katanya.Dia bilang, informasi riset tak ada
penjelasan detail termasuk pengukuran spesifik, seperti pembiayaan dan
pelaksanaan reklamasi pada karakteristik wilayah-wilayah tertentu. “Misal, lubang
yang sudah digali hingga kedalaman 40 meter, bagaimana?”

Luasan 50 hektar ini, katanya, sangat kecil kalau dikatakan percontohan


pemulihan reklamasi berbanding ribuan bahkan ratusan hektar luasan daerah
mereka yang bopeng-bopeng kena lubang tambang.Ratno mendapatkan laporan
tahun sebelumnya, perusahaan gagal reklamasi dengan tanam bambu dan pangan
di Bangka Tengah dan Belitung Timur.Sejatinya, pemulihan pasca tambang
memang tanggung jawab sosial, ekonomi, dan lingkungan perusahaan di sektor
pertambangan, dan amanat UU.

”Hingga tak ada relevansi jika mereka fokus pada pengelolaan lingkungan,
malahan tetap berproduksi dan memasok timah-timah ilegal,” katanya.Ratno
menilai, reklamasi sebagai pola tanggung jawab sosial banyak tak serius dan tak
terencana baik.

”Kami menantang, jika memang ini terjadi, tunjukkan pada kami lahan konsesi ini
koordinatnya di titik mana.”

Tetap beroperasi

Sejak Agustus 2016, Artha Graha Network, melepas bisnis pertambangan


timah RBT. Kepemilikan saham telah dikuasai konsorsium. ”Kini RBT yang
memegang pengusaha dengan latar belakang dan keahlian berbeda. Ada
kontraktor ataupun trader timah,” ucap Reza.RBT hingga kini masih tetap
memproduksi timah batangan. Sebelumnya, perusahaan swasta dengan produksi
timah terbesar ini memiliki kapasitas produksi mencapai 2.000 ton setiap bulan
atau 24.000 ton setahun.
Pada 2016, perusahaan ini pun sempat anjlok hingga berada di angka
4.000 ton per tahun karena ada penghentian tambang selama enam bulan.Kini,
Reza menargetkan, produksi timah di angka 10.000-12.000 ton per tahun. Hingga
Agustus, RBT sudah memproduksi timah batangan hingga 5.000 ton

2.2 Masalah Yang Dihadapi PT Refaned Tin

2.3 Tahap Reklamasi

PT Refined Bangka Tin Reklamasi Lahan Bekas Tambang

Reklamasi dilakukan agar lahan bekas tambang dapat memberikan sumber


penghasilan alternatif bagi masyarakat setempat.

Lahan bekas galian di Desa Penyamun, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka.

PT RBT meluncurkan program Reklamasi Berkelanjutan Green for Good


untukmerevitalisasi lahan bekas tambang semacam ini agar bisa menjadi mata
pencaharian alternatif bagi masyarakat setempat. (Lutfi Fauziah/National
Geographic Indonesia)

PT Refined Bangka Tin (RBT) meluncurkan program Reklamasi Berkelanjutan


"Green for Good" di Desa Penyamun, Kabupaten Bangka, Selasa (15/8/2017).

Program ini bertujuan untuk merevitalisasi lahan bekas tambang agar dapat
memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitarnya.
"Kami ingin jadi inisiator Reklamasi Berkelanjutan dengan merevitalisasi lahan
dan membuat lahan tersebut bermanfaat bagi masyarakat setempat, " kata Direktur
PT RBT, Reza Andriansyah di Sungailiat, Selasa (15/8).

Dalam program tersebut, lahan bekas tambang seluas 50 hektar akan ditanami
dengan tanaman hutan dan pangan. Nantinya, area tersebut diharapkan akan
menjadi kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan pendidikan
lingkungan.

Reza Andriansyah, Direktur PT Refined Bangka Tin (RBT) memaparkan upaya-


upaya perusahaan dalam Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”.
(Redefined Bangka Tin)

"Dengan menggunakan bioteknologi, kami akan menanam tanaman hutan dan


tanaman pangan yang bernilai ekonomis dan aman dikonsumsi, seperti jeruk
kunci, lada, pisang, tomat, melon, nanas, jagung dan semangka," katanya.

Reza menekankan, karena masih berupa program percobaan (pilot program),


Reklamasi Berkelanjutan ini akan dilakukan secara bertahap selama beberapa
tahun.

"Untuk 10 hektar pertama, kami harapkan dalam 1,5 sampai 2 tahun ini bisa
kelihatan hasilnya, lalu tahap berikutnya setelah tahun 2018 bisa dimulai lagi,"
ujarnya.

Hasil penanaman tahap pertama akan menjadi bahan pertimbangan untuk


penanaman selanjutnya.
Terkait pengelolaan lahan, Reza mengatakan bahwa masyarakat setempat yang
akan melakukannya melalui koperasi desa. Nantinya, status lahan akan berubah
dari Wilayah Pertambangan Negara (WPN) menjadi Hak Guna Usaha (HGU)
Koperasi Desa, agar program reklamasi bisa berkelanjutan.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Kabupaten Bangka, Tarmizi, mengatakan


bahwa sudah menjadi kewajiban bagi para pelaku usaha tambang untuk
melakukan reklamasi terhadap lahan bekas galiannya. Pasalnya, jika tak
direklamasi, lahan bekas tambang akan menyumbang jumlah lahan krisis yang
ada di Kabupaten Bangka.

"Lahan kritis di Kabupaten Bangka saat ini, seluas 26.000 hektar dari 302.000
hektar. Dari 26.000 hektar itu, baru 2.000-3.000 yang sudah direklamasi," ujarnya.

Erzaldi Rosman Djohan, Gubernur Provinsi Kep.Bangka Belitung; Suparta,


Direktur Utama PT Refined Bangka Tin (RBT); Reza Andriansyah, Direktur PT
Refined Bangka Tin (RBT) melakukan prosesi penanaman pohon pertama
Program Reklamasi Berkelanjutan ”Green For Good” di Sungailiat, Bangka
Belitung. (Redefined Bangka Tin)

Lebih lanjut Tarmizi mengatakan, upaya-upaya reklamasi terhadap lahan kritis


bekas galian yang dilakukan oleh perusahaan tambang, akan mendapat dukungan
penuh dari pemerintah daerah.

"Kami siap mendukung dan memfasilitasinya, tentu dengan melibatkan kepala


desa, camat, dan sekda," kata Tarmizi.
Dukungan terhadap program Green for Good juga datang dari Gubernur
Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan.

Ia menuturkan, selama ini banyak reklamasi telah dilakukan tetapi selalu


mangkrak di tengah jalan.

"Hari ini reklamasi, tahun depan gundul lagi. Gundul bukan karena kenapa-
kenapa tapi karena tidak diurus," katanya.

Ia juga berpesan pada seluruh perusahaan tambang yang melakukan reklamasi,


harus disinergikan dengan kegiatan pertanian dan peternakan.

"Program reklamasi ini harus kita tekadkan dengan cara-cara yang benar sehingga
dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat," pungkas Erzaldi.

Daftar Pustaka

http://www.mongabay.co.id/2017/09/01/reklamasi-berkelanjutan-bekas-tambang-
timah-mungkinkah/

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170815141134-85-234876/refined-
bangka-tin-mulai-reklamasi-berkelanjutan-50-hektare/

http://m.kontan.co.id/news/refined-bangka-tin-mulai-reklamasi-pasca-tambang

http://www.perkapalan.net/2014/11/pengertian-dan-tujuan-reklamasi-untuk.html