Anda di halaman 1dari 8

MATERI LAS DASAR

Las listrik di sebut juga dengan las ( las busur listrik )


Apa yang di maksud dengan las listrik. (las listrik adalah termasuk suatu proses penyambungan logam
dengan menggunakan tenaga listrik sebagai sumber panas.

 Las busur listrik atau umumnya disebut dengan las listrik adalah termasuk suatu proses
penyambungan logam dengan menggunakan tenaga listrik sebagai sumber panas.
 Jenis sambungan dengan las Iistrik ini adalah merupakan sambungan tetap. Ada beberapa
macam proses yang dapat digolongkan kadalam proses Ias Iistrik antara lain yaitu :
 Las Listrik dengan Elektroda Karbon, Misalnya:
Las listrik dengan elektroda karbon tunggal.
Las listrik dengan elektroda karbon ganda.
 Las Listrik Dengan Elektroda Logam, misalnnya:
Las-listrik dengan elektroda berselaput
Las listrik TIG (Tungsten Inert Gas)
Las Iistrik submerged

2 PRINSIP-PRINSIP LAS LISTRIK

 Pada dasarnya las listrik yang menggunakan elektroda karbon maupun logam menggunakan
tenaga listrik sebagai sumber panas.
 Busur listrik yang terjadi antara ujung elektroda dan benda kerja dapat mancapai temperatur
tinggi yang dapat melelehkan sebagian bahan merupakan perkalian antara tegangan listrik (E)
dengan kuat arus (I) dan waktu (t) yang dinyatakan dalam satuan, panas joule atau kalori seperti
rumus dibawah ini :

H=ExIxt
dimana :
H = panas dalam satuan joule
E = tegangan listrik dalam volt
I = kuat arus dalam amper
t = waktu dalam detik

 Las Listrik Dengan Elektroda Karbon


Busur listrik yang terjadi diantara ujung elektroda karbon dan logam atau diantara dua ujung
elektroda karbon akan memanaskan dan mencairkan logam yang akan dilas. Sebagai bahan
tambah dapat dipakai elektroda dengan fluksi atau elektroda yang berselaput fluksi.
 Las Listrik Dengan Ekktroda Berselaput ( SMAW )
Las tistrik ini menggunakan alektroda berselaput sebagai bahan tambah. Busur listrik yang terjadi
diantara ujung elektroda dan bahan dasar akan mencairkan ujung elektroda dan sebagian bahan
dasar.
Selaput elektroda yang turut terbakar akan mencair dan menghasilkan gas yang melindungi
ujung elektroda, kawah Ias, busur Iistri dan daerah Ias di sekitar busur listrik terhadap pengaruh
udara luar.
Cairan selaput elektroda yang membeku akan menutupi permukaan Ias yang juga berfungsi
sebagai pelindung terhadap pengaruh luar.
 Las Iistrik TIG menggunakan elektroda wolfram yang bukan merupakan bahan tambah.
 Busur listrik yang terjadi antara ujung elektroda wolfram dan bahan dasar adalah marupakan
sumber panas untuk pengelasan.
 Titik cair dari alektroda wolfram sedemikian tingginya sampai 3410of sehingga tidak ikut mencair
pada saat terjadi busur listrik.
 Tangkai Ias dilengkapi dangan nosel keramik untuk penyembur gas pelindung yang melindungi
daerah Ias dari pengaruh luar pada saat pangelasan.
 Sebagai bahan tambah dipakai elektroda tanpa selaput yang digerakkan dan didekatkan ke busur
lirtrik yang terjadi antara elektroda wolfram dengan bahan dasar.
 Sebagai gas pelindung dipakai argon, helium ateau campuran dari kedua gas tersebut yang
pemekaiannya tergantung dari jenis logem yang akan dilas.
 Tangkai las TIG biasanya didinginkan dengan air yang bersirkulasi.
 Las Listrik MIG
Las listrik MIG adalah juga las busur listrik dimana panas yang ditimbulkan oleh busur listrik
antara ujung elektroda dan bahan dasar, karena adanya Arus Listrik
 Elektrodanya adalah merupakan gulungan kawat yang berbentuk rol yang gerakannya diatur oleh
pasangan roda gigi yang digerakkan oleh motor listrik.
Kecepatan gerakan elektroda dapat diatur sesuai dengan keperluan. Tangkai Ias dilengkapi
dengan nosal logam untuk menyemburkan gas pelindung yang dialirkan dari botol gas malalui
selang gas.
 Gas yang dipakai adalah C02 untuk pengelasan baja lunak dan baja, argon atau campuran argon
dan helium untuk pengelasan Aluminium dan baja tahan karat
Proses pengelasan MIG ini dapat secara semi otomatik atau otomatik.
Semi otomatik dimaksudkan pengelasan secara manual sedangkan
otomatik adalah pengelasan di mana seluruh pekerjaan Ias dilaksanakan secara otomatik.

 Las Listrik Submerged yang umumnya otamatik atau semi otomatik menggunakan fluksi serbuk
untuk pelindung dari pengaruh udara luar.
 Busur listrik diantara ujung elektroda dan bahan dasar berada didalam timbunan fluksi serbuk
sehingga tidak terjadi sinar las keluar separti biasanya pada Ias listrik lainnya.
 Dalam hal ini operator Ias tidak perlu menggunakan kaca pelindung mata (helm Ias).
 Pada waktu pengelasan, fluksi serbuk akan mencair dan membeku menutup Iapisan Ias.
Sebagian fluksi serbuk yang tidak mencair dapat dipakai lagi setelah dibersihkan dari terak-terak
Ias. –
 Elektroda yang merupakan kawat tanpa selaput berbentuk gulungan (rol) digerakkan maju oleh
pasangan roda gigi. pasangan roda gigi yang diputar oleh motor listrik dapat diatur kecepatannya
sesuai dengan kebutuhan pengelasan .

 Arus Searah (DC) Pada jenis arus ini, elektron-elektron bergerak sepajang penghantar hanya
dalam satu arah.
 Arus Bolak-Balik (AC) Arah aliran dari arus bolak-balik adalah merupakan gelombang sinusoida
yang memotong garis nol pada interval waktu 1/100 detik untuk mesin dengan frekwensi 50 Hz.
Tiap siklus gelombang terdiri dari setengah gelombang positif dan setengah gelombang. Arus
bolak-balik dapat diubah menjadi arus searah dengan menggunakan pengubah arus (rectifier).
 Pengkutuban Langsung kabel elektroda dipasang Pada terminal negatif dan kabel massa pada
terminal positif. Pengkutuban langsung sering disebut sebegai sirkuit las listrik dengan elektroda
negatif. (DC-).
 Pengkutuban Terbalik kabel elektroda dipasang pada terminal positif dan kabel massa dipasang
pada terminal negative.
Pengkutuban terbalik sering disebut sirkuit las listrik dengan elektroda positif (DC+)
 Pemilihan jenis arus maupun pengkutuban pada pangelasan bergantung kepada :
Jenis bahan dasar yang akan dilas
Jenis elektroda yang dipergunakan
 Pengaruh pengkutuban pada hasil las adalah pada penembusan lasnya.
Pengkutuban langsung akan menghasilkan penembusan yang dangkal sedangkan Pada
pengkutuban terbalik akan terjadi sebeliknya. Pada arus bolak-balik penembusan yang dihasilkan
antara keduanya.
 Pesawat-pesawat las yang dipakai bermacam-macam, tapi bila ditinjau dari jenis arus yang
keluar dapat digolongkan sebagai berikut:
pesawat las arus bolak-balik (AC)
pesawat las arus searah (DC)
pesawat las arus bolak-balik dan searah (AC-DC) yang merupakan gabungan dari pesawat AC
den DC.
 Pesawat Las Arus Bolak-Balik (AC)
Macam-macam pesawat las ini seperti Transformator las, pembangkit listrik motor diesel atau
motor bensin.
Transformator las yang kebanyakan digunakan di industri-industri mempunyai kapasitas 200
sampai 500 amper.
Pesawat las ini sangat banyak dipakai karena biaya operasinya yang rendah disamping harganya
yang relatif murah. Voltase keluar dari pesawat transformator ini antara 38 sampai 70 volt.

 Pesawat Las Arus Searah (DC)


Pesawat las arus searah ini dapat berupa pesawat transformator rectifier, pembangkit listrik
motor diesel atau motor bensin, maupun pesawat pembangkit listrik yang digerakkan oleh motor
listrik.
Salah satu jenis dari pesawat las arus searah yaitu pesawat pembangkit listrik yang digerakkan
oleh motor tistrik (motor generator)
 Pesawat Las AC-DC.
Pesawat las ini merupakan gabungan dari pesawat las arus bolak-balik dan arus searah.
Dengan, pesawat ini akan lebih banyak kemungkinan pemakaiannya karena arus yang keluar
dapat arus searah maupun arus bolak-balik.
Pesawat las jenis ini misalnya transformator-rectifier maupun pembangkit listrik motor diesel.
 ALAT-ALAT BANTU LAS
Kabel las biasanya dibuat dari tembaga yang dipilih dan dibungkus dangan karet isolasi Yang
disebut kabel las ada tiga macam yaitu :
kabel elektroda
kabel massa
kabel tenaga
 Kabel elektroda adalah kabel yang menghubungkan travo las/mesin las ke pemegang elektroda.
 Kabel massa adalah kabel yang menghubungkan masa dari mesin las ke benda kerja.
 Kabel tenaga adalah kabel yang menghubungkan mesin las ke generator atau ke PLN. Kabel ini
biasanya terdapat pada pesawat las AC atau AC - DC.
 Pemegang Elektroda Ujung yang tidak berselaput dari elektroda dijepit dengan pemegang
elektroda.
Pemegang elektroda terdiri dari mulut penjepit dan pegangan yang dibungkus oleh bahan
penyekat.
Pada waktu berhenti atau selesai mengelas, bagian pegangan yang tidak berhubungan dengan
kabel digantungkan pada gantungan dari bahan fiber atau kayu.

 Palu Las
Palu Ias digunakan untuk melepaskan dan mengeluarkan terak las pada jalur Ias dengan jalan
memukulkan atau menggoreskan pada daerah las.
Berhati-hatilah membersihkan terak Ias dengan palu Ias karena kemungkinan akan memercik ke
mata atau ke bagian badan lainnya.
 Sikat Kawat
Diperg unakan untuk :
membersihkan benda kerja yang akan dilas
membersihkan terak Ias yang sudah lepas dari jalur las oleh pukulan palu las.
 Klem Massa adalah suatu alat untuk menghubungkan kabel massa ke benda kerja.
Biasanya klem massa dibuat dari bahan dengan penghantar listrik yang baik seperti Tembaga
agar arus listrik dapat mengalir dengan baik, klem massa ini dilengkapi dengan pegas yang kuat.
Yang dapat menjepit benda kerja dengan baik .
Walaupun demikian permukaan benda kerja yang akan dijepit dengan klem massa harus
dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran-kotoran seperti karat, cat, minyak.
 Tang (penjepit ) Penjepit (tang) digunakan untuk memegang atau memindahkan benda kerja
yang masih panas

 PERLENGKAPAN KESELAMATAN KERJA.

 Helm Las
Helm Ias maupun tabir las digunakan untuk melindungi kulit muka dan mata dari sinar las (sinar ultra
violet dan ultra merah) yang dapat merusak kulit maupun mata,
Sinar Ias yang sangat terang/kuat itu tidak boleh dilihat dangan mata langsung sampai jarak 16 meter.
Helm las ini dilengkapi dengan kaca khusus yang dapat mengurangi sinar ultra violet dan ultra merah
tersebut. Ukuran kaca Ias yang dipakai tergantung pada pelaksanaan pengelasan.Umumnya
penggunaan kaca las adalah sebagai berikut:
No. 6. dipakai untuk Ias titik
No. 6 dan 7 untuk pengelasan sampai 30 amper.
No. 6 untuk pengelasan dari 30 sampai 75 amper.
No. 10 untuk pengelasan dari 75 sampai 200 amper.
No. 12. untuk pengelasan dari 200 sampai 400 amper.
No. 14 untuk pangelasan diatas 400 amper.
Untuk melindungi kaca penyaring ini biasanya pada bagian luar maupun dalam dilapisi dengan
kaca putih.
 Sarung Tangan dibuat dari kulit atau asbes lunak untuk memudahkan memegang pemegang
elektroda. Pada waktu mengelas harus selalu dipakai sepasang sarung tangan.
 Baju Las/Apron dibuat dari kulit atau dari asbes. Baju las yang lengkap dapat melindungi badan
dan sebagian kaki. Bila mengelas pada posisi diatas kepala, harus memakai baju las yang
lengkap. Pada pengelasan posisi lainnya dapat dipakai apron.
 Sepatu Las berguna untuk melindungi kaki dari semburan bunga api, Bila tidak ada sepatu las,
sepatu biasa yang tertutup seluruhnya dapat juga dipakai.
 Kamar Lasdibuat dari bahan tahan.api. Kamar las penting agar orang yang ada disekitarnya
tidak terganggu oleh cahaya las.
Untuk mengeluarkan gas, sebaiknya kamar las dilengkapi dangan sistim ventilasi: Didalam kamar
las ditempatkan meja Ias. Meja las harus bersih dari bahan-bahan yang mudah terbakar agar
terhindar dari kemungkinan terjadinya kebakaran oleh percikan terak las dan bunga api.
 Masker Las
 Jika tidak memungkinkan adanya kamar las dan ventilasi yang baik, maka gunakanlah masker
las, agar terhindar dari asap dan debu las yang beracun.
 ELEKTRODA (filler atau bahan isi)
Elektroda Berselaput yang dipakai pada Ias busur listrik mempunyai perbedaan komposisi
selaput maupun kawat Inti. Pelapisan fluksi pada kawat inti dapat dengah cara destrusi, semprot
atau celup. Ukuran standar diameter kawat inti dari 1,5 mm sampai 7 mm dengan panjang antara
350 sampai 450 mm. Jenis-jenis selaput fluksi pada elektroda misalnya selulosa, kalsium
karbonat (Ca C03), titanium dioksida (rutil), kaolin, kalium oksida mangan, oksida besi, serbuk
besi, besi silikon, besi mangan dan sebagainya dengan persentase yang berbeda-beda, untuk
tiap jenis elektroda.
Tebal selaput elektroda berkisar antara 70% sampai 50% dari diameter elektroda tergantung dari
jenis selaput. Pada waktu pengelasan, selaput elektroda ini akan turut mencair dan menghasilkan
gas CO2 yang melindungi cairan las, busur listrik dan sebagian benda kerja terhadap udara luar.
Udara luar yang mengandung O2 dan N akan dapat mempengaruhi sifat mekanik dari logam Ias.
Cairan selaput yang disebut terak akan terapung dan membeku melapisi permukaan las yang
masih panas.
 Klasifikasi Elektroda
Elektroda baja lunak dan baja paduan rendah untuk las busur listrik manurut klasifikasi AWS
(American Welding Society) dinyatakan dengan tanda E XXXX yang artInya sebagai berikut :
E menyatakan elaktroda busur listrik
XX (dua angka) sesudah E menyatakan kekuatan tarik deposit las dalam ribuan Ib/in 2 lihat table.
X (angka ketiga) menyatakan posisi pangelasan.
angka 1 untuk pengelasan segala posisi. angka 2 untuk pengelasan posisi datar di bawah tangan
X (angka keempat) menyataken jenis selaput dan jenis arus yang cocok dipakai untuk
pengelasan lihat table.
 Contoh : E 6013
Artinya:
Kekuatan tarik minimum den deposit las adalah 60.000 Ib/in2 atau 42 kg/mm2
Dapat dipakai untuk pengelasan segala posisi
Jenis selaput elektroda Rutil-Kalium dan pengelasan dengan arus AC atau DC + atau DC -
 Elektroda Baja Lunak
Dan bermacam-macam jenis elektroda baja lunak perbedaannya hanyalah pada jenis selaputnya.
Sedang kan kawat intinya sama.
 E 6010 dan E 6011
Elektroda ini adalah jenis elektroda selaput selulosa yang dapat dipakai untuk pengelesan
dengan penembusan yang dalam.
Pengelasan dapat pada segala posisi dan terak yang tipis dapat dengan mudah dibersihkan.
Deposit las biasanya mempunyai sifat sifat mekanik yang baik dan dapat dipakai untuk pekerjaan
dengan pengujian Radiografi.
Selaput selulosa dengan kebasahan 5% pada waktu pengelasan akan menghasilkan gas
pelindung. E 6011 mengandung Kalium untuk mambantu menstabilkan busur listrik bila dipakai
arus AC.

4.3.2. E 6012 dan E 6013


Kedua elektroda ini termasuk jenis selaput rutil yang dapat manghasilkan penembusan sedang.
Keduanya dapat dipakai untuk pengelasan segala posisi, tetapi kebanyakan jenis E 6013 sangat baik
untuk posisi pengelesan tegak arah ke bawah. Jenis E 6012 umumnya dapat dipakai pada ampere yang
relatif lebih tinggi dari E 6013. E 6013 yang mengandung lebih benyak Kalium memudahkan pemakaian
pada voltage mesin yang rendah. Elektroda dengan diameter kecil kebanyakan dipakai untuk
pangelasan pelat tipis.

4.3.3. E 6020
Elektroda jenis ini dapat menghasilkan penembusan las sedang dan teraknya mudah dilepas dari
lapisan las. Selaput elektroda terutama mengandung oksida besi dan mangan. Cairan terak yang terlalu
cair dan mudah mengalir menyulitkan pada pengelasan dengan posisi lain dari pada bawah tangan atau
datar pada las sudut.

4.3.4. Elektroda dengan Selaput Serbuk Besi


Selaput elektroda jenis E 6027, E 7014. E 7018. E 7024 dan E 7028 mengandung serbuk besi
untuk meningkatkan efisiensi pengelasan. Umumnya selaput elektroda akan lebih tebal dengan
bertambahnya persentase serbuk besi. Dengan adanya serbuk besi dan bertambah tebalnya selaput
akan memerlukan ampere yang lebih tinggi.

4.3.5. Elektroda Hydrogen Rendah


Selaput elektroda jenis ini mengandung hydrogen yang rendah (kurang dari 0,5 %), sehingga
deposit las juga dapat bebas dari porositas. Elektroda ini dipakai untuk pengelasan yang memerlukan
mutu tinggi, bebas porositas, misalnye untuk pengelasan bejana dan pipa yang akan mengalami
tekanan
Jenis-jenis elektroda hydrogen rendah misalnya E 7015, E 7016 dan E 7018.

4.3.6. Kondisi Pengelasan


Berikut ini diberikan daftar kondisi pengelasan untuk elektroda Philips baja lunak dan baja
paduan rendah.
4.3.7. Elektroda Untuk Besi Tuang
Elektroda yang dipekai untuk mengelas besi tuang adalah sebagei berikut :

 elektroda baja
 elektroda nikel
 elektrode perunggu
 elektroda besi tuang

Elektroda nikel
Elektroda jenis ini dipakai untuk mengelas besi tuang, bila hasil las masih dikerjakan lagi dengan
mesin. Elektroda nikel dapat dipakai dalam sagala posisi pengelasan. Rigi-rigi las yang dihasilkan
elektroda ini pada besi tuang adalah rata dan halus bila dipakai pada pesawat las DC kutub terbalik.
Karakteristik elektroda nikel dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Elektroda baja
Elektroda jenis ini bila dipakai untuk mengelas besi tuang akan menghasilkan deposit las yang
kuat sehingga tidak dapat dikerjakan dengan mesin. Dengan demikian elektroda ini dipakai bila hasil las
tidak dikerjakan lagi. Untuk mengelas besi tuang dengan elektroda baja dapat dipakai pesawat las AC
atau DC kutub terbalik.

Elektroda perunggu
Hasil las dengan memakai elektroda ini tahan terhadap retak, sehingga panjang las dapat
ditambah. Kawat inti dari elektroda dibuat dari perunggu fosfor dan diberi selaput yang menghasilkan
busur stabil.

Elektroda dengan Hydrogen rendah


Elektroda jenis ini pada dasarnya dipakai untuk baja yang mengandung karbon kurang dari 1,5%. Tetapi
dapat juga dipakai pada pengelasan besi tuang dengan hasil yang baik. Hasil lasnya tidak dapat
dikerjakan dengan mesin.

4.3.8. Elektroda Untuk Aluminium.


Aluminium dapat dilas listrik dengan elektroda yang dibuat dari logam yang sama. Pemilihan
elektroda aluminium yang sesuai dengan pekerjaan didasarkan pada tabel keterangan dari pabrik yang
membuatnya. Elektroda aluminium AWS-ASTM AI-43 untuk las busur listrik adalah dengan pasawat las
DC kutub terbalik dimana pemakaian arus dinyatakan dalam tabel berikut

4.2.9. Elektroda untuk palapis Keras


Tujuan pelapis keras dari segi kondisi pemakaian yaitu agar alat atau bahan tahan terhadap kikisan,
pukulan dan tahan aus. Untuk tujuan itu maka Elektroda untuk pelapis keras dapat diklasifikasikan
dalam tiga macam Yaitu :

 elektroda tahan kikisan


 elektroda tahan pukulan
 elektroda tahan aus.

Elektroda tehan kikisan.


Elektroda jenis ini dibuat dari tabung chrom karbida yang diisi dengan serbuk-serbuk karbida.
Elektroda dengan diameter 3,25 mm - 6,5 mm dipakai peda pesawat las AC atau DC kutub terbalik.
Elektroda ini dapat dipakai untuk pelapis keras permukaan pada sisi potong yang tipis, peluas
lubang dan beberapa type pisau.

Elektroda tahan pukulan.


Elektroda ini dapat dipakai pada pesawat las AC atau DC kutub terbalik. Dipakai untuk pelapis
keras bagian pemecah dan palu.

Elektroda tahan keausan.


Elektroda ini dibuat dari paduan-paduan non ferro yang mengandung Cobalt, Wolfram dan
Chrom. Biasanya dipakai untuk pelapis keras permukaan katup buang dan dudukan katup dimana
temperatur dan keausan sangat tinggi.

1. MEMILIH BESARNYA ARUS LISTRIK

Besarnya arus listrik untuk pengelasan tergantung pada ukuran diameter dan macam elektroda
las.
Pada prakteknya dipilih empere pertengahan. Sabagai contoh; untuk elektroda. E 6010, ampere
minimum dan maximum adalah 80 amp. sampai 120 amp. Sehingga dalam hal ini ampere pertengahan
100 amp.
1.2. Cara-cara Menyalakan Busur
Untuk mamperoleh busur yang baik di perlukan pangaturan arur (ampere) yang tepat sesuai dengan
type dan ukuran elektroda, Menyalahkan busurd apat dilakukan dengan 2 (dua) cara.

 Bila pesawat Ias yang dipakai pesewat Ias AC, menyalakan busur dilakukan dengan
menggoreskan elektroda pada benda kerja lihat Gbr.
 Untuk menyalakan busur pada pesawat Ias DC, elektroda disentuhkan seperti pada Gbr

Bila elektroda harus diganti sebelum pangelasan selesai, maka untuk melanjutkan pengelasan,
busur perlu dinyalakan lagi. Menyalakan busur kembali ini dilakukan pada tempat kurang lebih 26 mm
dimuka las berhenti seperti pada gambar. Jika busur berhenti di B, busur dinyalakan lagi di A dan
kembali ke B untuk melanjutkan pengelasan. Bilamana busur sudah terjadi, elektroda diangkat sedikit
dari pekerjaan hingga jaraknya ± sama dengan diameter elektroda. Untuk elektroda diameter 3,25 mm,
jarak ujung elektroda dengan permukaan bahan dasar ± 3,25 mm.

.3. Pengaruh panjang busur pada hasil las. Panjang busur (L) Yang normal adalah kurang lebih sama
dengan diameter (D) kawat inti elektroda.

1. Bila panjang busur tepat (L = D), maka cairan elektroda akan mengalir dan mengendap
dengan baik.
Hasilnya :

 rigi-rigi las yang halus dan baik.


 tembusan las yang baik
 perpaduan dengan bahan dasar baik
 percikan teraknya halus.

2. Bila busur terlalu panjang (L > D), maka timbul bagian-bagian yang berbentuk bola dari
cairan elektroda.
Hasilnya :

 rigi-rigi las kasar


 tembusan las dangkal
 percikan teraknya kasar dan keluar dari jalur las.

3. Bila busur terlalu pendek, akan sukar memeliharanya, bisa terjadi pembekuan ujung elektroda
pada pengelasan (lihat gambar 158 c).
Hasilnya :

 rigi las tidak merata


 tembusan las tidak baik
 percikan teraknya kasar dan berbentuk bola.

1.4. Pengaruh Besar Arus.


Besar arus pada pengelasan mempengaruhi hasil las. Bila arus terlalu rendah akan menyebabkan
sukarnya penyalaan busur listrik dan busur listrik yang terjadi tidak stabil. Panas yang terjadi tidak cukup
untuk melelehkan elektroda dan bahan dasar sehingga hasilnya merupakan rigi-rigi las yang kecil dan
tidak rata serta penembusan yang kurang dalam.
Sebaliknya bila arus terlalu besar maka elektroda akan mencair terlalu cepat dan menghasilkan
permukaan las yang lebih lebar dan penembusan yang dalam.
Besar arus untuk pengelasan tergantung pada jenis kawat las yang dipakai, posisi pengelasan
serta tebal bahan dasar.
1.5. Gerakan Elektroda.
Gerakan elektroda pada saat pengelesan ada tiga macam yaitu :

1. Gerakan arah turun sepanjang sumbu elektroda. Gerakan ini dilakukan untuk mengatur jarak
busur listrik agar tetap.
2. Gerakan ayunan elektroda. Gerakan ini diperlukan untuk mengatur lebar jalur las yang
dikehendaki.
Ayunan keatas menghasilkan alur las yang kecil, sedangkan ayunan kebawah menghasilkan jalur
las yang lebar. Penembusan las pada ayunan keatas lebih dangkal daripada ayunan kehawah.
Ayunan segitiga dipakai pada jenis elektroda Hydrogen rendah untuk mendapatkan penembusan
las yang baik diantara dua celah pelat.
Beberapa bentuk-bentuk ayunan diperlihatkan pada gambar dibawah ini. Titik-titik pada ujung
ayunan menyatakan agar gerakan las berhenti sejenak pada tempat tersebut untuk memberi
kesempatan pada cairan las untuk mengisi celah sambungan.
Tembusan las yang dihasilkan dengan gerekan ayun tidak sebaik dengan gerakan lurus
elektroda. Waktu yang diperlukan untuk gerakan ayun lebih lama, sehingga dapat menimbulkan
pemuaian atau perubahan bentuk dari bahan dasar. Dengan alasan ini maka penggunaan gerakan ayun
harus memperhatikan tebal bahan dasar.

Alur Spiral
Alur Zig-zag
Alur Segitiga
1.6. Pengaruh Kecepatan Elektroda Pada Hasil Las.
Kecepatan tangan menarik atau mendorong elektroda waktu mengelas harus stabil, sehingga
menghasilkan rigi-rigi las yang rata dan halus. Tidak dibolehkan rigi-rigi las yang berbentuk gergaji
Jika elektroda digerakkan tarlalu lambat, akan dihasilkan jalur yang kuat dan lebar. Hal ini dapat
pula menimbulkan kerusakan sisi las, terutama bila bahan dasar tipis.
Bila elektroda digerakkan terlalu cepat, tembusan lasnya dangkal oleh karena kurang waktu
pemanasan bahan dasar dan kurang waktu untuk cairan elektroda monembus bahan dasar
Bila kecepatan gerakan elektroda tepat, daerah perpaduan dengan bahan dasar dan tembusan lasnya
baik

1.7. Las Catat (Las Ikat)


Las catat (tack weld) adalah las kecil (pendek) yang digunakan-untuk semua pakerjaan las
permulaan sebagai pengikat bagian-bagian yang akan dilas, untuk mempertahankan posisi benda kerja.
Panjang las catat :

 Untuk las catat pada ujung-ujung sambungan biasanya tiga sampai empat kali tebal pelat dan
maximum 35 mm.

 Untuk las catat yang berada diantara ujung ujung sambungan, biasanya dua sampai tiga kali
tebal pelat dan maximum 35 mm.

Jarak normal, las catat :

 Untuk pelat baja lunak (mild steel) dengan tebal 3,0 mm, jaraknye adalah 160 mm.
 Jarak ini bertambah 25 mm untuk setiap pertambahan tebal satu milimeter hingga jarak maximum
800 mm untuk tebal pelat diatas 33,0 mm.
Bila panjang las kurang dari dua kali jarak normal diatas, cukup dibuat las catat pada kedua
ujungnya. Pada sambungan las T, jarak las catat dibuat dua kali jarak normal diatas.

Diposkan oleh PENGELASAN di 03:07 1 komentar


Posting Lama Beranda
Langgan: Entri (Atom)
STAINLESS apa MONEL
Bahan Dasar
Logam yang paling banyak digunakan sebagai bahan dasar dari keperluan industri atau non
indudtri kebanyakan adalah besi, mengapa menggunakan besi ?, disamping ditentukan oleh nilai
ekonomisnya juga yang paling penting adalah karena sifat-sifatnya yang bervariasi, yaitu bahan tersebut
mempunyai berbagai sifat dari yang paling lunak dan mudah dibuat sampai yang paling keras dan
tajampun untuk pisau pemotong atau dapat dibentuk apapun dengan berbagai cara pembentukan dan
perlakuan.
Besi-Karbon adalah bahan dasar dari besi-baja (Pengetahuan Bahan Teknik. PT. Pradnya
Paramita. 1999), inilah yang sering diperdebatkan oleh masyarakat tentang keduanya, yaitu “Besi itu
sendiri” dan “Baja itu sendiri”, artinya tidak ada hubungan antara keduanya, dan dapat pula diartikan
“baja itu bukan dari besi”. Menurut penulis (penulis artikel) inilah yang perlu diluruskan, yaitu hubungan
antara besi dan baja tidak bias dipisahkan, karena baja terbuat dari bahan dasar besi-karbon. Maka
berawal dari bahan besi itulah macam-macam baja akan dibuat.
Stainless Steel atau Monel
Juga salah satu pemahaman yang sering diperdebatkan adalah antara Stainless steel dengan
Monel, masih banyak yang beranggapan bahwa monel itu adalah stainless steel yang kurang bagus,
atau stainless steel yang kurang tajam. Sebelumnya marilah kita lihat dulu bahan-bahan logam yang
tahan karat, antara lain : Cr = Chrom; Ni = Nikel; Zn = seng; timbale dan masih banyak yang lain, jika
dilihat dari unsur paduan Stainless steel adalah: Fe-Cr-Ni (dan beberapa paduan lain untuk keperluan
tertentu) sedangkan unsur paduan dari Monel adalah Ni-Cu. Dapat kita lihat dari unsur paduan diatas
bahwa bahan dari keduanya jelas berbeda dan akan menghasilkan bahan paduan yang berbeda pula.
Stainless Steel dibuat untuk keperluan yang dalam penerapannya diharapkan tidak mudah aus, kuat,
tahan korosi dapat dipergunakan dalam jangka waktu yang lama. Monel dengan nama lain Tembaga
Putih lebih dipilih untuk keperluan komponen-komponen yang berhubunngan dengan kelistrikan.